Of Abnormal Things – Happy Ending Version

Sungmin hanya mendengar sayup-sayup suara bibi Jung yang mencoba menenangkannya, disusul suara pintu yang membanting terbuka. Lalu terdengar sayup-sayup suara seseorang yang familiar. Tidak terdengar begitu jelas, karena dunia Sungmin terfokus pada rasa sakit yang sudah kembali menjalar di seluruh bagian tubuhnya.

Title                 : Of Abnormal Things

Pairing            : KyuMin

Genre              : Horror/Supernatural

Rating             : NC-17 (For the horror side)

Warning         : MPreg, Anak dibawah umur ga boleh baca! *author ga ngaca*

Summary : Kyuhyun menginginkan seorang keturunan dari Sungmin. Dan ia mendapatkan caranya. Hanya saja… Kyuhyun tidak pernah memperhitungkan konsekuensi dari semua hal diluar nalar ini.

a/n : Hueeeeee, author ga ada maksud apa-apa soal anceman yeoja mandul sama namja keguguran di chapter sebelumnya. Itu cuma bercandaan doang, jangan dianggep serius dong T___T Mian yah, miaaaaaaaan, hueeee TT_TT

Terus, nama saya bukan ‘Af’ please, my name is Sun –Lee SunMiina. Sedih banget sih pada ga inget nama author. T___T

Yasudahlah, daripada kebanyakan oceh nanti readers pada bosen.

Let’s cekidot aja ya~

oOoOoOo

Sungmin mengatur nafas dan memberanikan diri untuk bertanya. “Me-memangnya untuk apa?”

“Tentu saja untuk membantu persalinanmu.”

Sungmin tercekat.

Kyuhyun berpaling, ia memandang Sungmin bingung saat Bunnyboy itu menangis makin keras.

Sungmin menarik rambutnya frustasi, sakit dikepalanya terasa makin kuat setelah mendengar jawaban Kyuhyun. Kyuhyun tidak pernah berpesan padanya untuk menyimpan botol menyeramkan itu.

“A-aku membuangnya, Kyu..”

Kyuhyun tertegun. Gerakan tangannya terhenti. Ia berpaling menatap Sungmin yang terus tergugu dan sedikit berharap kalau Sungmin hanya bercanda. Tapi tidak! Kalau untuk berbicara pun Sungmin harus berusaha susah payah, tidak mungkin Sungmin menyia-nyiakan tenaganya untuk bercanda tentang hal tidak lucu seperti ini.

Kyuhyun masih membeku ditempatnya, sekarang ia tidak tahu harus berbuat –atau berkata apa. Kali ini iblis benar-benar sudah mematahkan kedua kaki Kyuhyun. Ia tersuruk. Berada diambang paksa untuk menyerah.

“Kau tidak bilang ap-pa-apa pad-daku, so-soal botol it-tuh,” ucap Sungmin tersendat di sela isak. Matanya terpejam. Sungmin berada di tengah batas sadarnya. Di antara bertahan mati-matian untuk tetap terjaga, atau menyerah pada rasa sakit dan terhempas –mungkin untuk selama-lamanya.

Kyuhyun menarik nafas panjang. Ia berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya dan mencoba untuk tampak tenang. “Kenapa dibuang hyung??” tanyanya dengan nada lemah.

Sungmin menggeleng kesakitan. Kedua tangannya meremas bantal. Ia menggigit bibir sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Berharap itu akan mengusir sedikit rasa sakitnya yang makin menjadi-jadi –dan membantunya untuk bertahan, sebentar lagi.

“—rumah sakit, Kyuhyun..” rintih Sungmin. Mengharap sedikit iba Kyuhyun atas penderitaannya. Bahkan terlintas ide putus asa di benak Sungmin. Mati. Mungkin itu jauh lebih baik –daripada berapa dalam posisi tersiksa seperti ini.

Namun Kyuhyun menggeleng, rumah sakit adalah pilihan terakhir—yang paling buruk. Yang paling dihindari Kyuhyun. “Aku akan kerumah bibi Jung sekarang, aku akan memohon padanya untuk membantu.” Kyuhyun bangkit, bermaksud untuk bersiap-siap, namun ia lebih tampak seperti orang yang ling-lung dan kehilangan tempat berpegang. “Kau tidak boleh ke rumah sakit hyung, tidak boleh,” racau Kyuhyun ketakutan. Ia sudah memegang kunci mobilnya, bersiap untuk pergi.

Sungmin ingin menangis sekuat-kuatnya mendengar ucapan Kyuhyun. Bibi Jung?! Jarak antara SEOUL dengan desa terpencil itu hampir 3 jam perjalanan!! Dan Kyuhyun bilang ia akan pergi kesana sekarang??

Hah! Tidak akan!

Lebih baik mati daripada harus bertahan dengan keadaan begini sampai 3 jam kedepan!

“Jangan kemana-mana Kyuhyun. Sejengkal saja kau mencoba keluar, aku akan bunuh diri disini,” bisikan Sungmin yang terdengar serius dan mengancam berhasil menghentikan langkah Kyuhyun saat itu juga. Mau tidak mau, Kyuhyun memutar langkah dan kembali duduk disisi Sungmin yang masih meringkuk kesakitan.

Kyuhyun menggigit bibirnya, ia tidak tega melihat Sungmin menderita seperti ini. Tapi ia juga tidak mau pergi ke rumah sakit. Bagaimana jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi??

“Hyung—“ Kyuhyun baru akan mengatakan sesuatu saat suara bel depan memotong ucapannya. Awalnya Kyuhyun bermaksud menghiraukannya, tapi orang diluar sana memencet bel berkali-kali seolah ia memang berkepentingan dengan sang pemilik rumah.

Kyuhyun menghela nafas. “Aku mau lihat siapa yang datang, hyung.. Sebentar saja.” Kyuhyun mengecup kening dan meremas tangan Sungmin, meyakinkan kalau ia pasti kembali –hanya sebentar—, lalu Kyuhyun pergi untuk membukakan pintu.

Kyuhyun menarik kenop pintu depan, ia siap menghajar siapapun yang iseng atau orang tidak berkepentingan yang memencet bel rumahnya.

“Cho..”

Kyuhyun tercekat melihat orang yang berdiri di depan pintu rumahnya. Ia membeku di tempatnya berdiri.

“Bibi Jung..” Mulut Kyuhyun mengaga lebar. Ia dan Sungmin baru saja berdebat soal bibi Jung, dan kini wanita tua ini sudah berdiri –begitu nyata— di depan pintu rumahnya. Bukan. Kyuhyun bukan tidak suka dengan kehadiran bibi Jung yang begitu tiba-tiba. Ia hanya shock, sangat shock.

“Apa kau mau membiarkan aku berdiri di sini sampai tengah malam?? Dasar pemuda Cho tidak sopan!” hardikan bibi Jung menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya. Kyuhyun segera menyingkir dari ambang pintu dan mempersilahkan bibi Jung masuk ke rumahnya.

Sejenak Kyuhyun berdebat dengan hatinya. Apakah kedatangan bibi Jung bermaksud untuk membantunya? Atau justru ingin memperkeruh suasana?? Apa Kyuhyun harus percaya pada wanita tua ini?? Mengingat masa lalu dan dendamnya terhadap keluarga Cho.. Mungkin saja kan..

“Berhenti berfikir buruk tentang aku, pemuda Cho..” Bibi Jung melirik sinis ke arah Kyuhyun.  Kata-kata bibi Jung yang sesuai dengan isi pikiran Kyuhyun membuat pemuda itu terenyak. Apa wanita ini bisa membaca pikirannya??

“Aku memang membenci keluarga Cho.. Tapi aku tidak akan membiarkan orang lain menjadi korban keegoisan kalian untuk kesekian kalinya.” Penjelasan dari bibi Jung seolah menjawab semua pertanyaan di dalam benak Kyuhyun. Kyuhyun hanya diam, tapi ia menyimak dengan seksama.

“Mana pemuda manis itu?”

Kyuhyun membimbing bibi Jung menuju kamarnya. “Lewat sini..”

“Kau pasti bertanya-tanya darimana aku bisa tahu alamat rumahmu, kan?” tebak bibi Jung tanpa memandang Kyuhyun. Ia berjalan dengan tatapan lurus ke depan.

Kyuhyun bergeming, lalu mengangguk. “Ya..”

Bibi Jung mengangkat tangannya, ia menunjukkan sebuah botol bambu berwarna hitam yang tidak asing lagi bagi Kyuhyun. ”Benda ini yang membawaku kemari..” kata bibi Jung lagi.

Mata Kyuhyun membulat kaget. “Da-dari mana bibi mendapatkan botol itu??”

“Benda ini kembali padaku, setelah kekasihmu membuangnya…”

Kyuhyun tidak mengatakan apapun setelah itu. Melihat botol yang selama ini ia cari ada di tangan bibi Jung, sebersit rasa lega menyelinap dihatinya. Tapi apa benda itu benar-benar bisa membantu??

Kyuhyun terkejut saat bibi Jung memekik begitu pintu kamarnya terbuka. Ia menduga kalau bibi Jung sudah memperkirakan kondisi Sungmin. Tapi nampaknya tidak..

“Demi Tuhan! Apa yang kau lakukan padanya, Cho?!” pekik bibi Jung lagi. Bibi Jung bergegas menghampiri Sungmin yang masih meringkuk di atas tempat tidur. Ia duduk di sisi Sungmin, dan dengan gerakan keibuan mengusap keringat yang mengucur deras di dahi itu.

Kyuhyun tidak menjawab. Bibirnya kelu. Kyuhyun membeku melihat pemandangan Sungmin yang bergetar di bawah belaian tangan bibi Jung. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Memangnya ia harus berbuat apa?? Yang bisa dilakukannya hanya memperhatikan, dan berharap wanita tua ini tidak berbuat macam-macam.

Kyuhyun hanya mematung saat bibi Jung memakinya sesekali.

“Kenapa kau diam saja, Cho?! Kemari! Dasar bodoh!” Seruan bibi Jung membuat Kyuhyun spontan mendekat.

“Kemarikan tanganmu!” ucap wanita tua itu sambil mengeram kesal.

Tanpa berfikir, Kyuhyun menyodorkan tangannya kepada bibi Jung. Kyuhyun tidak tahu setan apa yang merasukinya. Tapi ia tidak bisa menolak. Ia merasa kalau ia harus menuruti semua yang dikatakan bibi Jung. Seolah tubuhnya bergerak sendiri, memenuhi semua kehendak dan perintah wanita tua itu.

Kyuhyun menahan nafas saat bibi Jung menggenggam pergelangan tangannya. Ia hanya bisa meringis tertahan saat wanita tua itu menyayat telapak tangannya dengan ujung silet –meninggalkan segaris luka cukup dalam yang menyakitkan.

Kyuhyun tidak bergeming, ia menahan rintih pedih yang mulai menjalar saat darah merembes dari luka itu. Kyuhyun menahannya, karena sakit yang dialami Sungmin masih berpuluh kali lipat dari pedih luka ini..

Bibi Jung bergerak cepat. Ia mengatup talapak tangan Kyuhyun dan meletakannya di atas botol bambu hitam –dengan teliti ia membiarkan darah Kyuhyun mengisi botol kosong itu.

Merasa cukup, bibi Jung menghempas tangan Kyuhyun. “Tutup lukamu, lalu pergilah. Carikan teratai putih, ayam hitam, dan burung gagak yang masih hidup!” perintah bibi Jung mutlak.

Namun Kyuhyun tidak bergeming. Ia masih berdiri diam di sisi bibi Jung. Apa ia harus melaksanakan perintah bibi Jung? Apa ia harus percaya pada wanita tua ini?? Bagamana kalau –bagaimana kalau ia mencelakakan Sungmin??

Melihat Kyuhyun yang tidak langsung bergerak, bibi Jung mengerti apa yang sedang dipikirkan Kyuhyun. Pemuda ini masih belum percaya padanya.

“Apa yang kau pikirkan?! Kalau aku memang mau membunuhnya, aku pasti sudah melakukannya sejak tadi!” Bibi Jung melotot marah ke arah Kyuhyun. “Cepat bergerak bodoh! Makin lama kau berdiri disini, makin dekat anak ini dengan kematian!” desisnya kesal.

Mendengar kata ‘Mati’, Kyuhyun tidak bisa berpikir dua kali. Ia berbalik, dan melesat keluar kamar.

“Jangan lupa, Cho! Teratai putih! Ayam hitam dan burung gagak yang masih hidup!” seru bibi Jung dari dalam kamar. “Dan gunting yang bersih!” tambahnya lagi. Kalau pemuda Cho itu sampai lupa satu hal saja, bibi Jung bersumpah untuk mencekik lehernya sampai mati.

Bibi Jung menunduk. Bibirnya bergerak-gerik aneh di atas botol bambu yang digenggamnya. Ia tampak seperti ‘memantrai’ botol kecil berisi darah Kyuhyun itu.

Sungmin berusaha mengalihkan pandangannya, –ia takut melihat pemandangan bibi Jung yang sedang memejamkan mata sambil berkomat-kamit di bibir botol itu. Botol yang tidak akan pernah bisa dilupakan Sungmin. Botol menyeramkan yang membuatnya berada di posisi menderita seperti ini..

Selesai membacakan ‘sesuatu’ ke dalam botol itu, bibi Jung beralih ke Sungmin. Tubuh pemuda ini bergetar. Sungmin masih memandang bibi Jung dengan raut ketakutan. Tapi ia tidak bisa bebuat apa-apa. Tidak ada tempat untuk lari kalau untuk menggerakkan tubuhnya pun Sungmin tidak sanggup.

Wanita itu mengusap kepala Sungmin sekali lagi. “Apa yang kau takutkan, hmm? Walau kau sangat manis, aku tidak akan memakanmu..” Bibi Jung tersenyum lembut. Wanita itu berbicara dengan nada yang tidak pernah Sungmin dengar. Lembut dan –menenangkan. Seolah bermaksud menghapus semua ketakutan dan prasangka dalam hati Sungmin.

“Kau bisa bangun sedikit? Biar kubantu..” Bibi Jung menyelipkan tangannya ke bawah leher Sungmin, bermaksud menopangnya untuk bangun.

“Minumlah, habiskan.” Bibi Jung mendekatkan botol kecil itu ke bibir Sungmin. Namun Sungmin hanya bergeming. Ia menatap botol itu ragu.

“Kau ingin semua ini segera selesai kan?”

Sungmin mengangguk.

“Kalau begitu minumlah..” Bibi Jung mengelus punggung Sungmin.

Perlahan pemuda itu mendekatkan bibirnya hingga menyentuh bibir botol. Sekarang Sungmin hanya bisa menuruti apa yang dikatakan wanita tua ini. Ia ingin semua ini segera selesai. Tidak peduli kata ‘selesai’ itu mengarah kepada hal yang baik atau buruk. Sungmin hanya ingin semua penderitaannya segera selesai.

Sungmin memejamkan matanya saat cairan dalam botol itu masuk ke mulutnya. Rasa kental, pahit, aneh, dan amis yang bercampur mengingatkan Sungmin pada malam purnama kala itu. Rasa yang tidak jauh berbeda. Sungmin tahu cairan dalam botol ini adalah darah Kyuhyun –dengan beberapa tambahan.

Sungmin mengelap setetes darah yang lolos di sudut bibirnya. Dengan wajah pucat dan mata sayu –kecuali di bagian perut, ia pasti tampak seperti vampire –undead..

Bibi Jung membaringkan Sungmin kembali ke tempat tidurnya. Lalu mereka berdua hanya diam. Tidak ada yang berbicara. Sungmin tergeletak di tempat tidurnya, dan bibi Jung duduk disisi pemuda itu –menunggu reaksi Sungmin.

“Engghh!” Sungmin mengerang pelan. Tampaknya ramuan itu mulai bekerja. Sungmin menangis tertahan saat rasa sakit di tubuhnya meningkat intens. Rasa sakit itu berpusat di perut, pinggul, dan sekitar pelipisnya. Menekan dan mengerat setiap inci daging di dalam tubuhnya. Sungmin mengejang sesekali, dadanya naik-turun kesakitan. Tuhan, sulit sekali baginya untuk bernafas. Sungmin menebak, mungkin seperti ini rasanya dikuliti hidup-hidup. Sungmin membayangkan apakah rasa sakit orang yang sekarat seperti ini? Lalu, apa sekarang ia sedang sekarat?

Sungmin mencengkeram seprai dan bantalnya sebagai pelampiasan. Tidak ada Kyuhyun disini yang bisa memeluknya, yang bisa menggenggam tangannya dan membisikkan kata-kata manis untuk mengusir sedikit rasa sakitnya. Hanya suara gemertak gigi dan erangan Sungmin yang mengisi kesunyian kamar itu. Sungmin merasa seolah ia berada di ambang kematian. Apakah ini yang dimaksud bibi Jung sebagai ‘Penyelesaian’? Dengan kematian?

“Tahan, Sungmin! Bersabarlah, semua akan berubah menjadi lebih baik..”

Sungmin tidak mengerti apa maksud kata-kata bibi Jung tadi, tapi firasatnya mengatakan itu memang sesuatu yang baik. Benar-benar baik dalam artiannya.

“Baru akan dimulai..” bisik bibi Jung lirih. Ia membuka kaus Sungmin hingga ke batas dada, lalu tangannya mengusap perut Sungmin dengan gerakan memutar. Bayi di dalam perut Sungmin merespon dengan berputar ke arah yang berlawanan. Gerakan bayi itu tampak jelas, Sungmin bisa melihat kulit perutnya mengerat dan muncul sesuai dengan gerakan bayinya. Ia tidak tahu harus merasa senang atau takut melihat semua itu. Tapi setidaknya itu menandakan kalau anaknya baik-baik saja kan?

Sekilas Sungmin menangkap tatapan khawatir dari sepasang mata tua bibi Jung. Ia ingin tersenyum tapi rasa sakit sudah menyergapnya lebih dulu, memaksa ia untuk meringis dan meringkuk kesakitan.

Tak berdaya. Menderita. Mimpi buruk Sungmin di malam purnama itu kembali terulang. Namun kali ini semua rasa sakit itu semakin berlipat-lipat.

Sungmin ingin memejamkan matanya. Namun kali ini tidak bisa.. Sungmin terbelalak, matanya membulat saat rasa sakit di bagian bawah tubuhnya perlahan mendominasi.

Sungmin tidak mau menduga-duga apa yang terjadi di bawah sana. Tapi sungguh! Rasa sakit itu tidak lagi bersarang di perut dan punggungnya, tapi berpindah tempat ke bagian ‘private’ miliknya.

Terakhir kali Sungmin merasakan sakit dari ramuan itu –saat malam purnama dulu—, organ-organ abnormal bertambah di dalam tubuhnya. Apa mungkin sekarang…

“Arrrggh!!” Sungmin mengerang tertahan, ia tidak sanggup lagi menahan semua rasa sakit itu di tubuhnya yang kurus kecil. Bukan setetes-dua-tetes, kini Sungmin tergugu tanpa suara. Airmatanya mengalir deras bersama dengan nafas yang makin menghimpit. Kenapa tidak kunjung berakhir?? Apa bibi Jung berbohong padanya?!

Sungmin mengejang. Ia tidak sanggup memikirkan apapun setelah itu.

Sungmin bisa merasakan tangan keriput itu membelai perutnya sesekali. Berinteraksi dengan makhluk kecil yang tumbuh dalam dirinya.

“Ssshh.. Jangan takut, semua akan berubah ke arah yang baik..”

Sungmin hanya mendengar sayup-sayup suara bibi Jung yang mencoba menenangkannya, disusul suara pintu yang membanting terbuka. Lalu terdengar sayup-sayup suara seseorang yang familiar. Tidak terdengar begitu jelas, karena dunia Sungmin terfokus pada rasa sakit yang sudah kembali menjalar di seluruh bagian tubuhnya.

Mulut Kyuhyun menganga lebar dan nafasnya seolah terhenti. Kyuhyun terlalu shock. Ia tidak sanggup melihat, tapi Kyuhyun tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Sungmin yang mengejang di atas tempat tidur.

“Bibi Jung?! Apa yang kau lakukan pada istriku?!” seru Kyuhyun shock. Ia meninggalkan Sungmin satu jam yang lalu bersama wanita ini. Namun keadaan BunnyBoy itu bukan membaik, tapi tampak makin memburuk –sangat buruk.

“Bicara apa kau, bocah?! Aku tidak akan mencelakakan anak ini!” Bibi Jung benar-benar marah kini. Disaat segenting ini, sempat-sempatnya pemuda ini masih meragukan kebaikannya??

“Letakkan bunga, ayam, dan burung itu ke kamar mandi. Lalu carikan handuk dan air hangat! Sekarang! Cepat!”

Kyuhyun tidak menuruti kata-kata bibi Jung kali ini. Bukan karena ia sepenuhnya tidak percaya pada wanita ini. Tapi melihat Sungmin seperti itu.. Airmata Kyuhyun membuncah. Dadanya terasa makin menyesak.

Seolah mengerti perasaan Kyuhyun. Bibi Jung hanya mendengus dan merebut semua benda pesanannya dari tangan Kyuhyun. Dengan kaki dan sayap yang terikat, ayam dan burung yang malang itu hanya bisa menggelepar dan memberontak saat bibi Jung melempar mereka ke lantai kamar mandi.

“Kau temani saja dia. Sebentar lagi prosesnya akan selesai. Biar aku yang mencari air hangat dan handuk.” Setelah mengatakan itu, bibi Jung melangkah keluar kamar.

Kyuhyun membeku ditempatnya berdiri –space out— selama beberapa saat sampai ia benar-benar sadar dan melangkah ke sisi Sungmin.

“Min..” bisik Kyuhyun lirih. Kyuhyun ikut berbaring disisi Sungmin. Ia mengusap kening Sungmin. Dingin. “Mana yang sakit, hyung? Kita berbagi rasa sakitnya ya?” Kyuhyun tahu itu hanya omong kosong, tapi Sungmin selalu bilang kalau omong kosong dan rayuan murahan seorang Kyuhyun bisa menenangkan hatinya.

Kyuhyun tidak mengharapkan jawaban. Ia tahu Sungmin hanya akan merespon dengan rintihan dan erang kesakitan. “Mana yang sakit, hyung?” Kyuhyun mengecup kening Sungmin yang basah oleh keringat. Sungmin gemetar. Ia mencengkeram kaus dibagian depan dadanya sambil terisak pelan –seolah ingin menunjukkan pada Kyuhyun kalau rasa sakit itu ada disana.

“Disini?” tanya Kyuhyun lembut sambil mengusap dada Sungmin sayang. Sungmin mengangguk sekali, matanya masih terpejam rapat.

“Ssshh~” Kyuhyun memeluk Sungmin hati-hati –takut kalau-kalau gerakannya akan melukai Sungmin. Ia menggumamkan lagu kesukaan BunnyBoy’nya sambil mengusap dada Sungmin perlahan –lembut. Cara ini selalu ampuh untuk menenangkan istrinya yang sedang menangis atau marah padanya. Mungkin saja cara ini juga bisa meluruhkan sedikit sakit di dada Sungmin?

Kyuhyun berhenti bernyanyi. Ia tertegun sesaat. Kyuhyun tidak mungkin salah mengusap kan? Kyuhyun mengusap dada, bukan mengusap perut Sungmin. Tapi ia merasakan sesuatu bergerak-gerak di bawah tangannya.

Kyuhyun menunduk. Wajah Sungmin masih mengisyaratkan penderitaan dan kesakitan yang amat dalam. Sebelah tangannya mencengkeram dada. Rasa sakit itu terlalu besar hingga Sungmin tidak sadar ia tengah menangis terisak.

Kyuhyun melotot shock melihat dada Sungmin bergejolak –bergejolak dalam artian yang sesungguhnya. Kulit dadanya bergerak seolah ada sesuatu yang hidup di balik sana.

“Min??” Kyuhyun menahan nafas, ngeri. Ia tidak mau melihat ke arah dada Sungmin, terlalu mengerikan. Tapi Kyuhyun juga tidak mungkin meninggalkan istrinya sendirian dan kesakitan di kamar ini, kan?

Akhirnya Kyuhyun hanya memeluk Sungmin dan ikut menangis bersamanya.

“Min.. Min..”

Sungmin merintih setiap kali dadanya makin naik dan membengkak, dan Kyuhyun menangis karena mendengar isak Sungmin sedang ia tidak bisa melakukan apapun untuk mengurangi penderitaan BunnyBoy itu.

Kyuhyun mengusap kening Sungmin saat BunnyBoy itu mengerang lagi.

“Min, sssh~”

Kyuhyun menggesekkan kakinya ke bed cover. Kenapa agak lengket dan.. basah??

Dada Kyuhyun berdegup kencang, ia takut melihat ke bawah kakinya. Tapi Kyuhyun tetap bangun dan duduk di sisi Sungmin. Ia harus memastikan sesuatu!

Kyuhyun tercengang. Tempat tidurnya basah oleh air –bercampur darah— tepat di bagian bawah tubuh Sungmin.

Celana Sungmin basah. Kyuhyun tidak berani berfikir macam-macam. Tapi apa mungkin itu…

Ketuban?

Kalau memang iya, darimana keluarnya??!

“Ketubannya sudah pecah, bayinya akan lahir sebentar lagi.”

Kyuhyun terkejut mendengar suara bibi Jung. Wanita itu sudah berdiri di dalam kamarnya, membawa handuk dan bajan berisi air hangat.

“Apa yang kau tunggu Cho! Cepat buka celananya!”

Kyuhyun bergegas melaksanakan perintah bibi Jung. Ia membuka semua pakaian bawah Sungmin. Sebenarnya Kyuhyun tidak suka kalau orang lain sampai melihat tubuh Sungmin –sifat posesif dan overprotective yang turun temurun ada dalam keluarga Cho. Tapi Kyuhyun tidak mempermasalahkannya –tidak disaat segenting ini.

Bagian bawah tubuh Sungmin sudah terekspos sepenuhnya. Ia hanya mengenakan kaus maternity yang diangkat sampai ke dada.

Kyuhyun seperti kehilangan jiwa. Ia melongo tanpa suara. Shock –terlalu shock.

Kyuhyun memang tidak berhubungan badan dengan Sungmin selama 4 bulan terakhir. Tapi, walau dalam jangka waktu selama itu, Kyuhyun tidak terlalu bodoh untuk melupakan gender pasangannya sendiri.

Walau dengan perawakan mungil langsing dan wajah yang cantik. Kyuhyun masih ingat Sungmin memiliki satu penis dan dua testis. Organ sempurna seorang namja. –dulu.  Sekarang organ-organ yang membuktikan Sungmin adalah seorang namja sudah menghilang entah kemana.

Dan ini..

Vagina??

 

Kyuhyun kehilangan kata-kata. Ia makin shock melihat dada Sungmin yang membengkak. Membentuk sesuatu yang tampak seperti –WTF!!— payudara!

“Cho! Kenapa kau ini seperti orang bodoh, hah?! Pegang tangannya!” Suara teriakan bibi Jung membangunkan Kyuhyun dari menerawang jauh.

Sungmin merintih. Sekarang nyeri dan sakit sepenuhnya terpusat di perut, pinggul, dan selangkangannya. Otot-otot diperutnya mengencang dan mengendur. Sungmin bisa merasakan perutnya terus bergerak turun –membuka jalan keluar. Bayi di perutnya juga terus berputar, berusaha mencari posisi yang tepat.

“Sebentar lagi. Bersabarlah sedikit..” ucap Bibi Jung menenangkan. Masih 7cm, vagina baru Sungmin belum terbuka cukup luas untuk dilalui bayi yang pasti berukuran besar ini.

Bibi Jung mengusap perut Sungmin dengan gerakan memutar. Kulit perut Sungmin bergerak –dan berdenyut. Wanita tua itu memeriksa Sungmin sekali lagi. Ia menghela nafas lega. Sudah 10cm. Bayi ini sudah siap untuk keluar.

“Arrrggh!!” Sungmin meremas tangan Kyuhyun saat satu kontraksi hebat menghantam tubuhnya. Ia refleks melebarkan dan melipat kedua kakinya untuk memberi jalan. Kyuhyun menghapus bulir airmata yang mengalir di pipi Sungmin. Ia tidak peduli kalau tangannya akan memerah memar atau berdarah karena diremas sekuat tenaga oleh Sungmin.

“Tarik nafas, anak manis. Dorong perlahan.”

Sungmin tidak mendengar ucapan bibi Jung. Tanpa di bimbing pun tubuhnya seolah bekerja secara otomatis. Menggiring bayi itu turun melalui leher rahim. Sungmin menarik nafas dalam, tubuhnya seolah memberi perintah untuk mengedan, dan mendorong bayi itu keluar.

“Aku melihat kepalanya. Rambutnya lebat, dan coklat!” seru bibi Jung senang. Kyuhyun tidak pernah melihat raut bibi Jung yang seperti itu sebelumnya. Kini ia tampak seperti seorang nenek –pada umumnya.

“Nggghhh!!” Sungmin mengedan sekuat tenaga. Sakit, Sungmin nyaris kehilangan kesadaran namun ia menahan dirinya untuk bertahan lebih lama. Ia ingin bayi itu segera keluar dari tubuhnya. Dan semuanya akan selesai.

“Dorong, nak! Dorong yang kuat!”

Sungmin melakukannya. Ia mendorong lebih kuat saat kontraksi datang. Namun ujung kepala bayi itu berhenti di bibir vagina. Sungmin menarik nafas panjang dan mengedan lagi. Sungmin mengulanginya hingga tiga kali.

Rasanya ingin menangis. Tidak terjadi apa-apa, bayi itu tidak bergerak. Seperti tersangkut di tengah pinggulnya. Sungmin tidak bisa mendorong kepala bayi itu keluar. Kepalanya terlalu besar, dan itu membuat Sungmin nyaris frustasi.

Sungmin menarik nafas. Ia mencoba sekali lagi. Tapi itu yang terakhir, karena bayi itu tetap tidak bergerak. Sungmin benar-benar menangis sekarang, kepalanya jatuh terkulai di lengan Kyuhyun. Sungmin sudah terlalu lelah –dan putus asa.

“Kenapa berhenti, hyung?? Coba lagi, please.” Kyuhyun memeluk kepala Sungmin.

Sungmin menangis, ia menggeleng lemah sambil berbisik lirih “Aku ga bisa Kyu.. I can’t do it..”

“Hyung, please. Jangan menyerah…” Kyuhyun mengecup punggung tangan Sungmin. Sungmin tidak boleh menyerah. Itu sama artinya Sungmin menyerah atas nyawanya sendiri –dan nyawa anak mereka.

Sungmin masih menggeleng. Batinnya benar-benar menjerit dan memaksanya untuk menyerah. Ia sudah tidak kuat lagi. Terlalu lelah –lemas. Sungmin bahkan tidak bisa merasakan bagian bawah tubuhnya lagi. Entah itu karena tubuhnya yang benar-benar sudah mati rasa atau karena rasa sakit yang terlalu melewati batas.

“Dengar yang dikatakan bibi Jung tadi? Rambutnya coklat dan lebat.. Dia pasti cantik sekali, hyung..” Kyuhyun menatap ke dalam mata Sungmin. “…Aku berjanji untuk menjagamu, hyung. Sebentar lagi semuanya akan selesai, kita sudah melaluinya sejauh ini hyung. Jangan menyerah, kumohon.” Ia harus meyakinkan Sungmin, mereka sudah melangkah terlalu jauh untuk menyerah.  “Kau tidak mau melihat anak kita?”

Sungmin menggigit bibir, berusaha menahan tangis. Benar kata Kyuhyun. Ia tidak boleh menyerah disini.. Ini sudah terlalu jauh. Dan –dan bayinya pasti cantik sekali. Sungmin bisa membayangkan tubuh mungil itu ada di pelukannya. Sungmin sudah melalui banyak penderitaan dan rasa sakit, karena itu ia harus bertahan! Setidaknya ia harus melihat wajah anaknya.

Sungmin mencoba mengatur nafasnya, ia mengangkat kepalanya.

Hanya tinggal sedikit lagi..

“Aaarrrgggghhh!!”

“Kepalanya sudah keluar!” seru bibi Jung senang. Bibi Jung segera membersihkan hidung bayi itu. Ia mengelap cairan ketuban dan darah yang mengotori wajah mungil itu dengan tangannya.

Kepala Sungmin terkulai lagi. Ia memejamkan matanya yang terasa makin memberat. Apa sudah selesai? Kening Sungmin mengerut, kepalanya seperti berputar. Pusing. Lelah. Dan ia sudah sangat mengantuk.. Rasanya ia ingin tidur, namun seseorang mengguncang tubuhnya. Melarangnya untuk jatuh terlelap.

“Hyung? Hyung? Jangan tutup matamu!” Kyuhyun menepuk wajah Sungmin, panik. Bagaimana kalau Sungmin tidak bisa bertahan?? “Sedikit lagi, hyung. Sedikit lagi..”

“Hiks.. Aku ngantuk Kyu..” rajuk Sungmin manja. Kesadarannya mulai berkurang sedikit demi sedikit.

“Hyung – hyung, please..” Kyuhyun mengiba. Jangan sampai Sungmin benar-benar tertidur sebelum bayi itu lahir. Bagaimana kalau Sungmin tidak bangun lagi setelah itu??? Kyuhyun tidak mau itu terjadi.

Bibi Jung menghela nafas melihatnya. Pemuda manis ini benar-benar tidak memiliki sisa tenaga lagi. Ia terpaksa melakukannya.

Sungmin membuka matanya ingin tahu. Tangan bibi Jung bergerak di atas perutnya. Menekan dan mengusap di sana-sini. Bibir wanita itu bergerak tanpa suara. Sungmin tidak tahu apa yang sedang dilakukan nenek ini, tapi sedikit demi sedikit kesadarannya kembali.

“Sudah.” Bibi Jung mengangkat tangannya, sekarang ia menahan kedua kaki Sungmin. “Ayo berjuang lagi, nak!”

Sungmin tidak tahu, tapi bibirnya melengkung membentuk senyum. Ia merasa seperti sedang berhadapan dengan ibunya sendiri. Semua amarah dan bentakan nenek tua ini terdengar seperti amarah seorang ibu yang menyayangi anaknya.

Sungmin mengangkat kepalanya lagi. Ia mengambil nafas dalam-dalam. Entah darimana datangnya energi itu..

Dalam dorongan pertama bahu kanan bayi itu keluar, disusul dengan bahu kiri dan sisa tubuh bayi itu keluar dengan mudah mengikuti kedua bahunya.

Bibi Jung menangkap tubuh bayi itu dengan sigap. Ia meraih gunting yang disediakan Kyuhyun dan memotong tali ari yang menghubungkan bayi itu dengan ibunya. Bibi Jung segera membalut sosok mungil itu dengan handuk.

Sungmin terkulai lemas. Ia benar-benar lelah dan jatuh tidak sadarkan diri.

“Hyung?” panggilnya pelan. Kyuhyun menggesekkan ujung hidungnya ke hidung Sungmin. Ia menghela nafas lega saat hembusan nafas Sungmin menerpa wajahnya. Setidaknya Sungmin masih ada di sini, itu lebih dari cukup untuknya.

Kening Kyuhyun mengerut. Ia menyadari sesuatu.

“Bibi Jung? Kenapa bayinya tidak menangis??” tanyanya khawatir. Harusnya bayi akan menangis saat hidung dan mulutnya sudah dibersihkan, kan??

Kyuhyun melihatnya. Bayi itu membuka matanya dan berkedip lembut, namun ia tidak menangis atau bergeming.

“Bawakan bajan air hangat itu kemari, Cho!” Seru bibi Jung dari dalam kamar mandi. Kyuhyun menurutinya. Ia meletakkan bajan itu di dekat kaki bibi Jung.

Wanita tua itu duduk di pinggir bathup sambil memangku bayi KyuMin dan menahannya dengan sebelah tangan. Ia meraih ayam hitam yang masih mencoba melawan di dekat kakinya. Dan dengan sebelah tangan, bibi Jung mematahkan leher ayam malang itu.

Kyuhyun bergidik ngeri. Tapi ia tidak berani protes. Sejauh ini bibi Jung tidak melakukan sesuatu yang buruk. Setidaknya Kyuhyun masih mempercayai wanita tua ini. Hatinya yang menyuruh Kyuhyun untuk mempercayai bibi Jung.

Kyuhyun hanya diam memperhatikan, saat bibi Jung menekan dada ayam yang sudah mati itu tepat di atas tubuh putrinya. Darah unggas itu menetes dan lumer ke atas dada mungil anaknya. Bibi Jung melakukan hal yang sama pada gagak yang dibawanya tadi.

Setelah darah ayam hitam dan gagak itu tercampur, bibi Jung mengolesnya dengan hati-hati. Merata ke seluruh tubuh dan wajah bayi yang masih belum bergeming itu.

“Kemarikan bajan dan teratainya.” perintah bibi Jung. Kyuhyun melakukan perintahnya dengan sigap.

“Rontokkan teratainya ke dalam bajan.”

Kyuhyun menurutinya tanpa bertanya atau protes. Ia mundur sedikit dan memberi ruang untuk bibi Jung.

Wanita itu memasukkan tubuh bayi itu ke dalam bajan sambil menahan leher mungilnya. Lalu membasuh darah dan noda di tubuh bayi itu dengan hati-hati. Tangan bibi Jung tampak begitu ahli.

Kyuhyun heran. Wanita ini tidak pernah memiliki keturunan kan?

“Aku sudah sering menolong wanita melahirkan.” Seperti yang diduga Kyuhyun, bibi Jung menjawab pertanyaannya yang bahkan tidak terucapkan.

“Kau pasti heran kenapa aku mau menolong kalian..”

“Ya..” Kyuhyun mengangguk. Tentu saja ia bingung kenapa wanita tua ini tiba-tiba mau menolongnya. Bukankah ia mendendam pada keluarga Cho selama puluhan tahun? apa dendam itu sudah lenyap? Atau bibi Jung memiliki maksud lain?

“Aku –tidak pernah mendendam soal kakekmu yang membatalkan pernikahannya denganku.”

Kyuhyun mendengarkan. Tapi ia juga memperhatikan putrinya. Bayi itu mulai menggeliat, lalu terdengar tangisan. Kyuhyun tidak bisa menahan senyum lega. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini. Sungmin dan bayinya selamat. Dan semua ini karena bibi Jung..

Bibi Jung membalut putri Kyuhyun dengan handuk bersih. Ia berdiri dan menyerahkan bayi itu pada ayahnya.

“Lalu? Kenapa kau membenci keluarga Cho? Kukira karena kau marah kakek lebih memilih Cho Naara..” Kyuhyun menerima bayi itu ke dalam gendongannya.

Bibi Jung terkekeh mendengar ucapan Kyuhyun.

“Tampaknya mereka tidak menceritakan kisah yang sebenarnya..”

Kyuhyun mendongkak. Ia menatap bibi Jung dengan raut bingung. Apa maksud wanita ini?

“Nama adikku bukan Naara. Namanya JaeJoong. Ia pemuda yang manis dan baik hati seperti Sungmin..”

Kyuhyun tercekat.

Pemuda?? Jadi maksudnya??

“Kakekmu tidak meyukai wanita.” ucap Bibi Jung getir. “Ia melamar Jae secara paksa. Sebagai keluarga yang derajatnya berada jauh dibawah keluarga Cho, orang tuaku tidak bisa menolak.” Bibi Jung memijat perut Sungmin, mengeluarkan sisa ari dan plasenta pasca melahirkan. Sesekali ia menatap wajah tenang Sungmin yang tertidur. Sekelebat memori melintas dalam angannya. Wajah ini mengingatkannya pada sang adik. Kecantikannya, suaranya yang lembut, dan segalanya.

“Meski hubungan sesama jenis pada masa itu merupakan hal yang tabu dan dilarang, pernikahan kakekmu dan Jae tetap berlangsung, dengan adikku yang menyamar sebagai wanita –selama sisa hidupnya. Awalnya aku tidak marah. Tapi kakekmu berulah.” Gigi bibi Jung gemertak bertemu, seolah memutar sebuah memori pahit yang memancing emosinya.

Kyuhyun mendengarkan dengan seksama. Ia ingin tidak percaya, tapi semua hal yang sudah dilaluinya bersama Sungmin, seolah membuka mata Kyuhyun. Juga memorinya tentang sebuah nama ‘Cho Naara’ yang begitu asing. Kyuhyun tidak pernah melihat wajah neneknya sendiri. Tidak ada foto neneknya yang tersisa. Mungkin inilah jawabannya..

“Kakekmu menginginkan seorang keturunan –dari JaeJoong. Dia sama sepertimu, kan?”

Mendengar itu, seolah sesuatu menampar wajah Kyuhyun saat itu juga. Ia menunduk malu.

“Tentu saja aku melarangnya mati-matian. Aku tidak mau kehilangan adikku hanya karena ego pemuda Cho yang sombong. Ramuan yang kau gunakan pada malam purnama itu sudah ada saat itu. Tapi ramuan penetral untuk membantu proses kelahirannya belum ditemukan..” Bibi Jung menutup tubuh Sungmin yang terekspos.

“Karena aku menentang keinginannya, kakekmu menyuruh antek-anteknya untuk menyingkirkan aku. Sejak saat itu aku hidup terasing…” ucap bibi Jung lirih. Ia tampak menerawang. “Dan seperti yang kuperkirakan. Nyawa adikku menjadi ganti dari kelahiran seorang penerus yang diinginkan kakekmu..”

Kyuhyun menatap wajah putrinya dalam-dalam. Beruntung ramuan penetral itu sudah ditemukan. Kalau tidak.. Mungkin bayi ini sudah jadi piatu sejak detik pertama ia lahir ke dunia..

“Dan penerus yang lahir dari kematian adikku itu adalah ayahmu…”

Kyuhyun sudah menduga kalau bibi Jung akan mengatakannya. Anak yang lahir dari kematian adiknya, adalah ayahnya sendiri..

“Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi pada pemuda manis ini.. Aku menolong kalian, karena aku melihat cinta yang tulus di antara kalian..  Kau tampak sangat mencintai pemuda ini, eh?” Bibi Jung terkekeh lagi. Tapi ia tampak lebih cantik seperti itu. Dengan satu senyuman, ia tampak lebih muda.. Kyuhyun masih bisa menemukan gores-gores sisa kecantikannya saat muda dulu.

“Aku melihatnya dalam matamu.. Bukan mata seorang pemuda Cho yang angkuh dan selalu memaksakan kehendaknya. Kaulah yang bisa menghapus predikat buruk yang merekat pada Cho. Mulailah dari sekarang..”

Kyuhyun tersenyum, dan mengangguk. Rasanya semuanya sudah jelas sekarang.

“Kau sudah memutuskan nama untuknya?” Bibi Jung melirik bayi dalam rengkuhan Kyuhyun. Kyuhyun menggangguk, seulas senyum bahagia terlukis di wajahnya.

“Aku sudah memutuskan sejak jauh-jauh hari. Kalau laki-laki, namanya Cho Jino. Tapi kalau aku mendapatkan seorang putri, namanya..” Kyuhyun menatap putrinya dengan segenap kasih sayang. “Cho SunMiina.. Itu nama dari Sungmin.”

“Cho SunMiina.. Hmm, nama yang indah…” puji bibi Jung seraya tersenyum tulus.

Bibi Jung berbalik, ia berjalan mendekati jendela. “Sekarang panggil dokter. Biar paramedis yang mengerjakan sisanya.” Bibi Jung melirik ke arah Sungmin sekali lagi. Ia menatap wajah itu dalam-dalam, seolah berusaha mengingatnya sebagai memori yang terlupakan.

Kyuhyun segera membuka flip handphonenya untuk menghubungi paramedis. Sungmin harus segera ditangani.

“Sekarang aku bisa pergi dengan tenang…” bisik bibi Jung. Kyuhyun tidak mendengarnya. Ia sibuk menelpon sambil menggendong putrinya sayang.

“Mereka akan sampai 5 menit lagi…” ucap Kyuhyun, namun tidak ada yang merespon. Kyuhyun berbalik. Kemana bibi Jung?

“Bibi Jung?” panggilnya. Bibi Jung tidak ada di kamarnya. Kyuhyun melangkah ke kamar mandi. Tidak ada siapa-siapa. Hanya sisa-sisa darah, bangkai, dan kelopak bunga berceceran di lantai kamar mandi.

“Bibi Jung?” panggil Kyuhyun lebih keras. Ia melangkah mendekati jendela kamar yang terbuka. Tidak mungkin bibi Jung keluar dari sana kan?

Kyuhyun berdiri di depan jendela. Angin malam bercampur aroma mawar menerpa wajahnya. Kyuhyun buru-buru menutup jendela begitu ia ingat ia sedang menggendong seorang bayi.

SunMiina menggeliat. Bayi itu tertidur pulas dalam dekapan ayahnya.

“Mungkin nenek Jung sudah pergi… Dengan caranya…” Kyuhyun tersenyum. Ia berbicara pada putrinya yang sedang tertidur lelap. “Padahal aku belum mengucapkan terima kasih..” Kyuhyun mendesah kecewa. Ia memandang keluar jendela.

Di luar sana, meski jarak tidak dekat, Kyuhyun yakin bibi Jung bisa mendengarnya.

“Terima kasih, bibi Jung..”

oOoOoOoOo

EEEEEEEEENNNNNNNDDDDDDD!!!!!

Ya ampun, bikin happy ending itu lima kali lebih susah dari pada bikin sad end! #sigh

Yang udah baca, komen dong? Tapi kalo ga komen ga bakal mandul atau keguguran kok. Cuma, dianggap punya utang sama author. Wkwk.

Udah, ah. kebanyakan oceh nih..

Bu Bey… *lambai-lambai*

28 thoughts on “Of Abnormal Things – Happy Ending Version

  1. NikenESC says:

    Hoooaaa komen d akhir dulu ya! Speechless.. Sun, kamu pernah melahirkan ya? apa pernah liat org lahiran? Itu detail banget. Great Fic! Do u really 16 yo now?

  2. Baca yang happy ending rupanya juga memuaskan banget…
    Maaf nggak bisa komen di tiap chapter, udah keburu penasaran sih!

    Yang jelas saya suka baca karya anda… :3

  3. Dian EunhyukieYesungie kyumineunhaelforeverSuju says:

    ahhhhh…happy endingnya bgus bangeeettttt………
    uminnya kok g di critaiin sih di akhir”nya… * umin:aku cpe o’on _ me: (nyengir)*
    anaknya trnyata si author toh..kekeke…
    mantep deh critanya…
    lanjut ke epilog>>>>>>>>>>>>>>.

  4. silverwook says:

    hwaaah bguz” untung min gg napa”^^
    mv ia thor gg bza kmen di stiap chapter,,Q komen dsini z iaa^^
    sngaja baca ianx happy end dlu..cz gg tega bca ianx sad end,,huuhuu~~
    biz ni siapin mental bwt bca ianx sad end x(((
    jempol bwt author ^o^b

  5. Kyurind Cho says:

    Akhirnyaaa..
    Happy ending.
    Suka bnget.
    Eh, it min jdi cewe y? Wkwkwk. Coba ramuanx bner2 ada. KyuMin pasti udh nikah. Hahaha

  6. Jujur, aku udah berkali-kali baca ini ..
    Tapi, feel tiap baca ga pernah berubah!😀
    Tegang, sedih, bahagia-nya kerasa banget!!!!😉
    Ya ampun , tetep speechless bacanya😄
    Makasih ya eon udah di kirimin PW-nya😉
    Oh ya , Curse kapan di lanjut?🙂
    Aku pembaca setia OAT & Curse😀

  7. Kya~~ Setelah sekian lama akhirnya bisa membaca ff keren ini juga.. Kya~~ Onni, gomawo for passwordnya^^ ff nya juga keren, ceritanya kaya beneran nyata, aku Suka banget!! itu badan Umin terekspos tuh?? wkwkwk😛

  8. Done!! Ok..this is really abnormal but still good nonetheless.. i like ur writing style…It would be good if u can translate this fic into english ad i’m sure a lot of kyumin shippers out there will like it..I’m glad i can read indonesian.. (from watching too much sinetron maybe?)…hahahahaha..

    Anyway good job…now i’m gonna sit in the corner and wait until u give me the PW for The Concubine…/run

  9. busyet dah tu syarat na buanyak mamad yahk(~_~)

    ga bisa kebayang law sungmin jadi youja
    weleh2(~_~”)

    hadah da golok ga biar mira golok sch yunho ck berani na dia bertindak tnp berpikir dulu

    lanjut ke ff selanjut na
    hehehehehhe

  10. pumpkins says:

    eh? Yg ini to? Berarti aq dah baca… tp dulu kn gak d protect thor?
    By the way ikut bahagia bareng kyumin n bibi jung atas kelahiran cho sunmiina…

  11. lidya21 says:

    dih, si fiqooh, jd anaknya mereka itu elo gitu? XP
    ehh, btw.. MANA NCNYAAAA? katanya diatas ada nc-17 hadooohh –“

  12. fairylee says:

    gomawo bibi jung…
    gomawo author ahirnya my bunnyming bsa selamat…aq lgsg k hepi end bcanya cz klo sad end spertnya aq ga bkal saggup :(…
    ne detail bgt ming nglahirinnya mpe ikut hrap2 cmas mnanti prosesnya slese…
    really greaaaatttt…
    n gomawo for pw’y..

  13. 137joy says:

    jadi ramuan yg ke 2(?) bikin sungmin jadi yeoja?? aaaeeee…… -__,-
    keren ya di waktu umur author yg segitu udh tau gimaa caranya proses melahirkan!…….salut’-‘)b

  14. via says:

    ini endingnya umin jadi perempuan?
    Hehehe maaf yah author aku bacanya gk dari awal cuma endingnya doang
    gak da waktu bnyak bwt baca ff
    tapi ceritanya seru kok
    maaf yah baru bisa comment skrang
    aku nunggu kelanjutan ff yang umin jadi kucing *lupa judul* -_-v
    di ffn dah sampe chap 7 yah
    cpet dilanjut ff itu yah
    please~

  15. guixianstan says:

    O.O kyaaaaaa happy ending ‘3’ x’D kyu susah banget ya percaya sama bibi Jung .-. Ming oppa jadi perempuan? O.o😮 kkkk keren banget kak😀 udah kayak beneran kereeeeen >///< kkk oh iya gomawo kak udah dikasih pwnya:) kkk ini ada epilog kan?😄 aku mau baca epilog-nya kkkk

    keep writting!! ^.^

  16. Wuihh.. Proses kelahirannya jelas dan detail banget.. >_<
    smpe aku jadi kayak bisa ngerasain gimana sakitnya mau ngelahirin.. Sun beneran udah kayak orang yang pengalaman ngelahirin.. Hahaa ^^v *digebuk sun*
    makasih Sun ya buat pw nya..

  17. farida says:

    Supernatural banget. Konsep ritual yang khas asia tenggara walaupun setnya Korea. Proses kelahiran yang detail ^^. Banyak dapet referensi dari bidan ya hehehe….

    Over all good job ^^

  18. baik banget bibi jung mau nolongin mereka, dan terbongkarlah masa lalu kakek kyuhyun yg ternyata namja
    juara lah bibi jung, padahal udah meninggal tapi masih mau berbaik hati

  19. Wow_aprili says:

    AIGO… mengerikan…
    gak kebayang sakitnya ming,,, syukur deh anaknya lahir selamat,,,
    kyu salut,,, dah mau setia ma ming, bibi jung … no coment
    emang jago deh nulis ff yang sampe bikin jantung dag dig dug….

  20. Terselubung says:

    Ternyata bibi jung baik :* tapi sayang dia penyihir kkkkk~ dia benar2 (y). Jadi ming jadi cewekniih :O gpp yg penting masih cinta ama ming ^^

    Perjuangan sungmin bener2 daebaaak, gue ngilu bacanya.. Kerasa banget sakitnya thor..

    Dan itu apa?? Authornya narsiss

  21. hanacho says:

    happy endnya bagus…gak kalah sma sad endnya….
    penggambaranya detail..rsanya q msuk kdlm crita…merasakan sendiri ap yg drsakan sungmin…

    #authornya ikut eksis…hahahah

  22. Wifeleeteuk says:

    Aku baru baca FF ini dan hasil nya deg-degan sendiri … OMg detail sekali…ampe ikut ngeDen –” pas sungmin ngelahirin xD Ehhh itu nama anak nya ←_← gga rela tapi mau apalagi HAHHAHAHA xD Good jod Sun🙂

  23. Aku baru tau ada happy endingnyaaaaaaaaa
    Tapi lebih seru yang sad ending ah jadi puas bikin cho kyuhyun nangis hahahaha. Tapi gasuka juga sih tau sungminnya mennggal u.u
    Gatau kenapa lebih suka kalau konflik di kyumin itu sungminnya kenapa napa dan kyuhyun yang ngerasa bersalah wakakakak berasa puas baca bagian kyuhyun yang sedih. Aku nunggu Cursed Crown dan the concumbine~ ayooayoooo semangat lanjutinnyaaaaaaa

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s