SEDLUPUS – Chapter 2

Pairing : Kyumin
Genre : Fantasy, Romance
Rate : T/PG untuk chapter ini.
Warning : Mpreg, YAOI
Disclaimer : Kyumin milik KYUMIN SHIPPER!

*.-.-.-.-.-.-*

SEDLUPUS 

*.-.-.-.-.-.-*

Sungmin mematung, shock. Di atasnya kini… adalah wajah berbulu dan sorot mata merah mengancam. Deret gigi runcing itu cukup membuat Sungmin bungkam gemetar.

Makhluk menyeramkan ini sekarang tepat berada di atasnya, menimpa tubuh Sungmin sambil menyeringai lebar.

“Jangan pernah membentakku. Kau tidak boleh melakukan itu, Mate…”

Sungmin gemetar, ia ingin berteriak namun suaranya tercekat di kerongkongan. Wajah di atasnya ini berubah bentuk secara perlahan. Bulu-bulu bermunculan, hidung dan rahang makhluk itu bergerak membesar, membentuk wajah sempurna seekor serigala hitam.

Ini adalah mimpi paling mengerikan yang pernah dialami oleh seorang Lee Sungmin. Terjebak di bawah cengkraman monster anjing bertubuh manusia, tanpa tahu bagaimana dan kenapa ia bisa ada di sini.

Sungmin berusaha memalingkan kepalanya yang tiba-tiba terasa kaku. Ia menggigil saat nafas panas makhluk itu berhembus menyapu wajahnya. Hidung besar serupa anjing itu mulai mengendus-endus Sungmin. Sungmin membuka mulutnya, mencoba berteriak namun gagal. Tidak ada suara yang keluar. Ketakutan ini membuatnya bisu tiba-tiba. Ia bahkan tidak sanggup berkedip saat sesuatu yang basah dan hangat menyapu lehernya.

Oh, Tuhan! Jangan bilang…

Anjing ini menjilati lehernya!

Sungmin termegap menahan nafas. Seolah dengan menahan nafas dapat mengusir makhluk ini segera. Tanpa sadar Sungmin mengikuti sugesti tolol yang didapatnya dari film-film vampire, tidak peduli vampire dan werewolf adalah dua makhluk asral yang berbeda. Sungmin tidak sempat memusingkannya karena ia sendiri tidak bisa berpikir sekarang.

Mate…” suara makhluk itu berbisik dari moncongnya yang panjang. “Mine…”

“T-tidak!” Sungmin menjerit dalam hati. Ia berusaha mengelak saat moncong basah itu mengendus wajahnya makin intens. Tangan manusia yang semula terasa lembut mencengkeram bahunya, kini berubah kasar dan berbulu. Sungmin meringis saat kuku-kuku tajam mencengekram belakang bahunya, nyaris mengoyak kulit punggung Sungmin kalau saja tidak ada yang menginterupsi mereka.

“KYUHYUN!” Pintu kamar membanting terbuka. Sosok jangkung berambut pirang muncul dari sana. “Prohibere! Te occidere eum!”

Monster itu berhenti mengendus Sungmin. Cengkramannya melonggar. Sungmin bisa melihat serigala itu seolah memasang ekspresi terkejut, lalu dengan cepat, bulu-bulu menyusut dari wajah dan tangannya.

Sungmin bernapas tersendat-sendat, buru-buru ia merangkak menjauhi monster itu. Pemuda tampan berambut pirang yang menyelamatkannya barusan sedang berusaha menarik sosok ‘Kyuhyun’ keluar kamar. Sungmin masih sempat mendengar keduanya berkomunikasi dengan bahasa asing, sampai pintu ditutup dari luar dan Sungmin ikut jatuh tidak sadarkan diri.

*.-.-.-.-.-.-*

Sungmin melempar seluruh bantal di atas tempat tidur, lalu diacaknya seprai yang terpasang rapi di sana. Tempat tidur yang semula bersih, rapi, dan tampak nyaman untuk berbaring kini berubah bentuk menjadi tidak layak sentuh dan tidak layak pandang.

Sungmin menyeringai. Belum puas mengacak tempat tidur, ia bangkit meraih tombak besar yang terpajang di dinding. Diliriknya sinis guci-guci dan benda-benda indah yang terpajang di sekeliling kamar, –kamar yang sudah menjadi penjara baginya selama seminggu ini, kamar sialan yang nyaris membuat Sungmin mati karena bosan.

Jeongmal mianhaeyo benda mahal…” Sungmin bergumam sinting. Lalu dengan satu ayunan sekuat tenaga…

DUAKH!
PRANGGG!

Satu guci tumbang.

PRANGG!
PRANGGG!

PRANGGGGG!

Habis sudah guci utuh di kamar itu, semua sudah hancur menjadi pecahan-pecahan yang berserakan mengotori lantai. Pemandangan masih diperburuk lagi saat Sungmin merusak, mencincang, dan mengoyak semua yang bisa dihancurkannya di kamar ini. Sungmin baru berhenti saat benar-benar tidak ada yang tersisa, kamar ini sudah berubah bentuk seperti tempat yang baru diserang badai topan.

Merasa puas dengan hasil kerjanya, Sungmin menepuk-nepuk tangannya lalu melirik ke arah pintu. Suara riuh keributan akibat ulahnya barusan pasti terdengar sampai keluar kamar. Semoga satu dari pelayan itu masuk, agar Sungmin bisa menjalankan rencananya. Sudah seminggu Sungmin terkurung seperti orang bodoh di sini, pintu hanya dibuka saat waktu makan tiba, itu pun pelayan yang membawa makanannya masuk. Sungmin sama sekali tidak dibiarkan keluar, dengan alasan apapun, terlebih saat di kamar ini sudah tersedia kamar mandi.

Tapi sudah cukup! Kesabaran Sungmin sudah habis. Sungmin akan berbuat nekat kali ini. Perlu mereka tahu, meskipun wajah cantik nan feminim ini tampak lemah, Sungmin tetap seorang lelaki sejati. Ia tidak sudi memasrahkan diri disekap oleh siluman psikopat berwajah serigala itu. Bagaimanapun caranya, Sungmin akan kabur dari sini, cepat atau lambat.

Sungmin sudah mengangkat tombaknya tinggi-tinggi di depan dada. Naasnya, sepuluh menit Sungmin berdiri seperti patung pahlawan malang yang menenteng tombak, namun tidak tampak seorang pun muncul dari balik pintu. Sungmin masih menunggu sampai dua puluh menit berlalu, dan harapannya benar-benar pupus karena tidak seorang pun masuk ke kamar ini.

“Cih! Sialan!” Sungmin melempar tombaknya kesal. Rencananya untuk kabur sepertinya lebih sulit dari yang diperkirakan.

Sungmin memandang sekelilingnya, entah kenapa sedikit merasa menyesal saat melihat keadaan kamar yang luar biasa berantakan. Sepertinya ia berbuat ceroboh. Bagaimanapun juga, kalau rencana kabur itu sedikit terulur, Sungmin harus tinggal di kamar ini sembari menunggu. Sialnya kamar yang awalnya nyaman sekarang berubah mengerikan, sekali lagi karena kecerobohan Sungmin sendiri.

Sungmin merengut kesal, tanpa sadar ia menghentakkan kaki beberapa kali, kebiasaan buruknya saat marah yang dipandang imut oleh semua orang. Tapi bukan saatnya memikirkan imut sekarang…

Seolah mendapat ilham, Sungmin kembali memutar pandangannya ke sekeliling kamar ini. Dan saat pandangannya bertemu dengan tirai lebar yang menutupi celah transparan berbingkai besar –jendela, mata Sungmin membulat seketika.

“Aigo!” Sungmin berlari mendekat, ekspresi sepenuhnya bahagia. Dipeluknya sayang bingkai jendela itu. Betapa bodohnya Sungmin tidak menyadari jendela berukuran sebesar ini saat nyaris selama seminggu ia terkurung di sini.

Sungmin menyikap tirai itu dengan khidmat. Sesuai harapannya, dibalik jendela raksasa ini, pemandangan di luar kamar tampak sangat jelas. Taman luas seolah menyambutnya di luar sana. Di ujung taman tanpa pagar itu, hutan dan pohon-pohon menjulang menyeramkan lah yang seolah menjadi pembatasnya. Langit di luar juga tampak redup, Sungmin tidak bisa memastikan sekarang senja atau subuh hari. Ia bahkan tidak tahu sekarang ini jam berapa, tampaknya siluman psikopat itu memang sengaja tidak meletakkan jam dinding atau jam meja. Entah apa modusnya.

Sungmin meraba-raba kaca jendela itu, berusaha mencari celah atau alat pembuka yang mungkin terselip di pinggir-pinggirnya. Namun nihil, sepertinya jendela ini memang didesain tanpa pembuka. Namun Sungmin tidak kehabisan cara, ia ingat masih ada jimat yang tersisa. Dengan gesit, Sungmin berbalik memungut tombak yang baru saja ia sia-siakan.

Kaca jendela ini tampak seperti kaca normal pada umumnya, tidak terlalu tebal dan pasti rapuh. Runcing tombak ini pasti lebih dari cukup untuk menghancurkannya.

Sungmin melangkah mundur, memberi jarak agar pecahan kaca nanti tidak melukai dirinya. Dengan satu tangan, Sungmin memposisikan tombak itu di atas kepala. Ia akan melemparnya dari jauh. Asal kekuatan lemparan lumayan kuat, kaca ini pasti hancur dengan sekali hentak. Sungmin yakin itu, jangan remehkan wajah cantiknya karena diam-diam, Sungmin adalah seorang karateka bersabuk hitam. Perkara memecahkan kaca, semudah memecahkan keperawanan gadis orang.

“Haha,” Sungmin terkekeh sendiri pada pengandaian mesum yang melintas di otaknya barusan.

Sungmin menarik napas. Dengan kuda-kuda sempurna, ia bersiap menarik tombak kuat-kuat ke belakang kepala. Dan… Hup!

DUK!

Eh?

Sungmin melongo. Matanya ikut turun ke lantai ke tempat tombaknya jatuh tak berdaya setelah gagal menghantam kaca jendela.

Loh, kok?

Sungmin memungut tombaknya kecewa. Ia mengetuk kaca jendela itu beberapa kali, memastikan. Suara yang ditimbulkan cukup kuat, kaca ini pasti tipis. Sungmin memandang heran pucuk tombak yang runcing terbuat dari besi. Kenapa kaca ini tidak pecah saat ia melemparnya dengan tombak?

Sungmin memegang kaca itu dengan telapak kirinya, kali ini bermaksud berbuat lebih nekat. Dari dekat, tanpa aba-aba Sungmin menghantam kaca itu dengan bantuan bagian tombak yang runcing.

DUKH! DUKH! DUKH!

Sekali, dua kali, sepuluh kali… NIHIL.

Sungmin nyaris menangis saking kesalnya.

“Sudahlah, kaca itu tidak akan pecah walaupun kau hantam dengan palu…”

Sungmin melempar tombaknya karena kaget. Kalau ia punya penyakit jantung, ia pasti sudah pingsan sekarang.

Dengan segala kenekatan yang masih dimilikinya, Sungmin menengok perlahan-lahan ke arah datangnya suara.

Sosok itu berdiri di pintu. Tubuh tinggi menjulang dan wajah tampan yang nyaris sama seperti malam itu. Namun kali ini ada yang berbeda. Wajah itu tidak berbulu, begitu mulus dan tampan. Lalu tubuhnya…

Errr… Tidak terlalu kekar.

Eh?

Sungmin melongo. Ia mengawasi sosok yang berdiri di pintu itu dari pucuk rambut hingga ke ujung kaki. Aneh, rasanya sama tapi tidak mirip. Apa orang ini saudara siluman yang kemarin? Atau ia kembarannya? Atau mungkin kloning gagal? Aish.

Sungmin makin bingung. Meskipun diam-diam rasa takutnya berkurang. Sungmin sebenarnya tidak yakin untuk menyamai sosok ini dengan monster kemarin. Namun ada satu hal yang membuat Sungmin tertegun.

Sorot matanya… Setajam dan semisterius sorot mata monster seminggu kemarin.

“Ada apa, Sungmin-ah? Sedang membandingkan sesuatu?”

Sungmin terkesiap. Suara ini terdengar familiar, mendengarnya membuat degub jantung berdetak kencang.

“Sudah kubilang, aku pada malam bulan purnama dan aku yang biasanya berbeda, Sungmin-ah. Kau sudah melihatnya sendiri.”

Sosok itu melangkah maju. Sungmin melotot, dengan sigap meraih tombak dan diacungkannya ke arah sosok itu. “Jangan mendekat! Apa maumu, hah?” Sungmin melangkah makin mundur, ia terjebak saat punggungnya menyentuh jendela. Sungmin mengacungkan tombaknya makin tinggi, wajahnya mengancam. Namun tampaknya itu tidak berpengaruh, karena sosok itu berjalan santai, makin mendekat.

“Apa mauku? Aku mau dirimu, mate…”

Bulu kuduk Sungmin meremang, sosok itu melempar seringai mengerikan ke arahnya.

“JANGAN MENDEKAT BODOH!” bentak Sungmin murka. Sebisa mungkin menguatkan dirinya saat kakinya seolah menyerah. Sungmin tidak bisa mengingkarinya, kakinya gemetar. Sosok itu sekarang melempar ekspresi datar yang entah kenapa terasa makin menakutkan. Sungmin mendadak bisu dan persendiannya keram. Sosok itu sudah sedekat ini namun ia tidak sejengkal pun Sungmin sanggup melempar tombak yang ada di tangannya.

“Panggil namaku. Panggil Kyuhyun. Kau tidak boleh membentakku, melarangku, dan mengacungkan senjata tajam ke arahku,” desisnya dengan suara berat. Kyuhyun merebut tombak itu dengan mudah. Dilemparnya jauh-jauh hingga sekarang tidak ada benda yang menghalangi jaraknya dengan Sungmin. “Kau tidak boleh bertindak tidak sopan padaku, mate…” Kyuhyun berbisik seduktif di depan wajah Sungmin. Dadanya berdesir dan hasratnya menguat justru saat sosok mungil pemuda manusia di bawahnya ini gemetar ketakutan.

‘A-apa maumu? Lepaskan aku!” Sungmin masih memberanikan diri untuk memberontak, meskipun ia nyaris menyerah karena kakinya terlalu lemas.

“Tidak boleh! Setahun aku harus menunggu untuk membawamu kemari. Tidak akan kubiarkan kau pergi, mate. Kau milikku!”

“Siapa yang kau panggil mate, setan! Kalau begitu aku akan pergi sendiri! Kau pikir aku anak gadis, hah? Minggir!” Sungmin mendorong tubuh di hadapannya ini, sekuat mungkin berusaha tegar. Kyuhyun tampaknya tidak berniat menahan Sungmin. Karena itu Sungmin merasa ia memiliki celah untuk keluar lewat pintu.

Belum dua langkah Sungmin memijak keluar kamar, sepasang lengan melingkar di pinggangnya, menahan kemanapun gerakan Sungmin.

“Kau begitu ingin keluar, biar kuantar. Akan kutunjukkan hal apa yang menantimu di luar sana…”

Setelah mendengar itu, Sungmin merasa persendiannya melemas. Hasrat untuk kabur itu tiba-tiba memburam.

Apa yang menantinya di luar sana?

*.-.-.-.-.-.-*

Mereka sudah memijak tanah di luar kastil sekarang. Sungmin baru sadar selama seminggu ini ia tinggal di sebuah kastil suram, besar, dan menyeramkan. Seperti tempat tinggal kumpulan vampire yang ada di film-film.

Sungmin berusaha mengimbangi langkah jenjang Kyuhyun yang mulai menapaki bunga-bunga taman. Sungmin baru menyadarinya saat berada di luar kamar. Dari dalam kamar taman ini tampak indah, namun ketika berada sedekat ini, Sungmin menyadari kalau bunga-bunga dan tanaman ini tidak terurus, tumbuh tidak teratur dan beberapa layu.

Sungmin sibuk memperhatikan sekelilingnya, saat tiba-tiba ia tersentak dan menabrak punggung Kyuhyun yang berhenti mendadak. Mereka tiba di pinggir taman. Seperti yang dilihatnya dari dalam kamar, pohon-pohon besar dan hutan gelap lah yang menyambut Sungmin sekarang.

“Lihat! Kau tidak takut?” Kyuhyun menunjuk ke arah hutan dengan dagunya, sedikit menantang keberanian Sungmin.

Sungmin menatap Kyuhyun dan ke arah hutan gelap itu bergantian. Ia menelan ludah. Keberaniannya yang menggebu-gebu tadi seolah surut tiba-tiba. Tapi dengan harga diri tinggi, Sungmin menggeleng berdusta. Ia menguatkan diri, di balik hutan gelap ini pasti ada hunian manusia.

“Tidak takut! Sekarang lepaskan aku! Aku mau pulang!” Sungmin menampik genggaman Kyuhyun, namun baru dua langkah berjalan maju, lagi-lagi Kyuhyun menarik bahunya.

“Biar kutunjukkan sesuatu dulu, Sungmin-ah…” Kyuhyun merangkul Sungmin mendekat. “Hal macam apa yang menantimu di luar sana.”

Sungmin buru-buru menunduk, seringai Kyuhyun terlalu menakutkan. Sungmin bergerak risih saat Kyuhyun mengeratkan rangkulannya. Ia tidak mengerti apa yang di maksud Kyuhyun. Menunjukkan apa? Hutan gelap ini?

Sungmin baru akan melepaskan diri dari Kyuhyun. Namun ia tercekat dan berhenti bergerak.

Kyuhyun membuka mulutnya dan mengaum seperti seekor serigala. Dicampur gonggongan nyalak khas anjing hutan.

Sungmin menutup mulutnya kaget. Antara takut dan shock. Entah bagaimana caranya pemuda ini sanggup mengaum kuat. Rasanya melebihi serigala sungguhan. Belum sampai di situ, Sungmin terhenyak kembali saat terdengar nyalak gonggongan dan auman bersahut-sahutan dari dalam hutan. Kyuhyun mengaum lagi, dan suara dari dalam hutan balas mengaum. Seolah terjadi komunikasi antara Kyuhyun dengan entah apapun itu yang ada di dalam hutan.

Sungmin melongo, terlalu terkejut. Suara auman yang saling sahut-menyahut itu sudah berhenti. Namun gonggongan anjing dari dalam hutan terdengar mendekat.

Sungmin bisa melihat kilat-kilat mata malam dari balik gelapnya pepohonan. Mata-mata yang bersinar mendekat, lalu menunjukkan sosok penuh kepala-kepala dari sekumpulan serigala raksasa yang tengah memandang Sungmin kelaparan.

“Kau lihat? Mereka kelaparan, Sungmin-ah. Dan kau yang cantik ini pasti tampak sangat lezat di mata mereka,” goda Kyuhyun sembari menyeringai. Ia menggoda, namun yang dikatakannya barusan adalah sungguhan. Serigala-serigala ini kelaparan. Sangat mungkin mereka menginginkan Sungmin sebagai santapan, karena itu sepertinya Kyuhyun harus buru-buru menandai Sungmin.

Sungmin terlalu terperangah, tidak sanggup menyanggah. Kyuhyun mengangkat satu tangannya, seolah memberi isyarat dan satu serigala yang paling bersar merangkak mendekati mereka.

Sungmin gemetar. Refleks ia menggenggam tangan Kyuhyun karena takut, lalu perlahan ia beringsut untuk bersembunyi di belakang Kyuhyun. Serigala itu memandangnya buas, liur menetes dari taring besarnya yang berderet tajam menakutkan. Dilihat dari ekspresinya, harusnya makhluk itu sudah menerkam Sungmin sejak tadi. Namun entah kenapa, setelah berada sedekat ini, serigala itu justru duduk dengan jinak di hadapan Kyuhyun. Seperti seekor anjing setia yang berada di dekat majikannya, serigala itu menjulurkan lidahnya jinak saat Kyuhyun mengusap kepala dan menggaruk lehernya.

“Dengar Sungmin-ah. Jangan pernah coba-coba berjalan selangkah pun keluar kastil tanpa aku…”

*.-.-.-.-.-.-*

TBC

Ket : “Prohibere! Te occidere eum!” = “Berhenti! Kau bisa membunuhnya!”

Yay! Chapter 2 update!

Buat yang nanya apa itu SEDLUPUS, itu bahasa Latin dari SED dan LUPUS, artinya Gubuk Serigala. Mate itu istilah untuk nyebut pasangan yang biasanya binatang (werewolf, centaur, merman, etc), baik untuk submissive atau dominan.

Hehe, minta review, komentar, kritik, atau sarannya yap! ^^

 

 

 

15 thoughts on “SEDLUPUS – Chapter 2

  1. Amaterasu Uchiha says:

    Wah~ aku suka SAma ceritanya
    aku suka Sama kyu di sini

    Lanjut and Update Kilat ya !

    Ayo Semangat !
    😀

  2. vyan says:

    cuma 2 kata yang bisa g bilang KEREN BANGET
    g suka banget ni cerita vampire, wereworlf gini hahahaha…
    n kyu is so possessive.. lov that side so much..

  3. Anisaaa says:

    Udah ming gausah pulang, sama kyuhyun aja disini
    kyuhyun nggak bakalan makan kamu dalam arti yang sebenarnya kok, muahaha~

  4. evasyndrome says:

    ini sebenernya ff serius (?) atau komedi sih? kata2nya konyol bgt. lol
    memecahkan keperawanan? what??????
    keren deh. lanjutin lg deh bacanya xD

  5. Ommona, ming ngamuk, hbis smua benda d kmar tu,
    Kyu tega bnar ngurung ming d kmr slama +- seminggu.
    Itu kaca jnis apaan y, gak pecah kna tombk,
    Ckckck, ming terpesona pd pesona kyu b’ wujud manusia, blum apa2 dah dag dig dug aj ni jantug (bkan hati kan spt yg d blang bling) ming,
    Mate, kyu manggil ming mate (jd ingat sukira*kyu manggl ming roommate*)
    d akhr y rada menegang kan, itu benern mrk mau memangsa ming atau akal2n kyu aj biar ming gak kabur ya?

  6. oh ternyata itu tuh kyuhyun . . , sungmin ampe brusaha sekuat mu9kin untk kbur tpi sya9’y gk bsa . . Kyu kau j9an terlalu di9in donk

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s