SEDLUPUS – Chapter 5

Semilir angin malam berhembus masuk melalui jendela yang terbuka lebar. Gelap di luar sana sedikit tersamar oleh sinar lampu kamar. Jungmo mengusap tengkuknya lagi, matanya menyipit, napasnya menderu. Sinar bulan yang meredup di atas sana membuatnya menggigil, menekan batas sadarnya untuk segera berubah wujud. Namun darah campuran yang mengalir dalam tubuhnya, dalam nadinya, dan dalam otaknya, sedikit memudahkan Jungmo untuk mengendalikan semua itu.

Meski taringnya meruncing, kuku-kuku jemarinya tumbuh memanjang, dan bulu-bulu di tubuhnya bermunculan tanpa dapat ditahan. Jungmo tetap berdiri di kamarnya, berdiri di depan jendela dengan kewarasan yang masih utuh tersisa.

Aroma mangsa yang berlarian di luar sana tidak lantas membuat liurnya menetes begitu saja. Lolongan melengking werewolfs dari berbagai kastayang saling bersahutan juga tidak membuatnya bergeming sama sekali. Berbeda dengan wolf demon dewasa berdarah murni pada umumnya, Jungmo mampu menguasai segenap kewarasannya, tidak peduli di saat marah atau di malam-malam khusus seperti ini, Jungmo bisa mengendalikan diri dari tekanan hewani yang membuncah dalam dadanya.

Meskipun umumnya, hanya werewolf golongan rendah yang akan kehilangan kewarasan mereka secara total pada saat purnama, werewolf yang serata dengan hewan buas tak berakal di lingkungan manusia. Karena itu wolf demon ada untuk mengatur mereka. Hampir seluruh Wolf demon mampu mengendalikan emosi hewani mereka di saat purnama tiba.

Namun khusus malam ini…

Jungmo menelan ludah. Sesak. Perubahan demi perubahan kecil yang terjadi pada tubuhnya muncul begitu saja tanpa dapat ditahan. Akal sehatnya tetap terasa utuh, namun naluri hewani ini juga terasa lebih kuat dari biasanya.

Gerhana bulan…

Jungmo mendongak memandangi gerhana penuh yang terjadi di atas sana. Bulu kuduknya meremang. Tidak peduli di kasta mana mereka berada, entah wolf demon atau low-class werewolfs, tidak ada satupun bangsa serigala yang sanggup melawan naluri hewani mereka saat gerhana terjadi. Tidak satupun. Termasuk Alpha terkuat di kerajaan ini. Cho Kyuhyun.

“Maafkan aku, Yang Mulia… Semua ini demi kebaikanmu. Kulakukan ini untuk dirimu.”

Jungmo berbisik lirih lalu memejamkan matanya, menyembunyikan kilau perak pupil yang berkilat di bawah gerhana.

.
.
.

oOoOoOo

.
.
.

Kyuhyun bergerak maju dan mundur, keluar dan masuk mengabaikan Sungmin yang mengejang beberapa saat, lalu tubuh mungil itu terdiam.

Mata Sungmin tetap terbuka. Tuhan terlalu jahat untuk tidak membiarkannya mati malam itu.

Pemuda itu bergeming dan memandang kosong ke atas. Sungmin tidak lagi menangis, tidak lagi bersuara, dan tidak lagi bergerak. Bahkan saat Kyuhyun mengeluarkan spermanya tepat di prostat Sungmin, saat Kyuhyun menunduk untuk menggigit lehernya, saat nyeri merambat dari memar gigitan itu. Sungmin hanya membeku. Tidak bisa merasakan apapun selain kelu.

Secara naluri, Kyuhyun menandai Sungmin dekat di bahu, di bawah ceruk lehernya. Meninggalkan jejak keunguan disana lalu menjilatinya tanpa sadar. Sejak awal pun kesadarannya sudah melayang entah kemana. Kewarasan Kyuhyun dicuri, oleh sinar gerhana yang meredup di luar sana.

Kyuhyun menggerung lagi, mengendus tanda ‘mate’ di leher mulus itu untuk yang terakhir kali. Napas beratnya berubah melambat. Seiring dengan bergesernya sinar gerhana, Kyuhyun jatuh tak sadarkan diri. Menindih Sungmin yang masih memandang kosong ke atap kamar.

.
.
.

oOoOoOo

.
.
.

Kyuhyun menghela napas berat, sebelah lengannya masih menyilang menutupi mata. Meski merasa kesadarannya kembali perlahan-lahan, Kyuhyun masih enggan untuk membuka mata apalagi beranjak dari tempat tidurnya. Suasana pagi ini terasa berbeda dari biasanya. Sekujur tubuhnya pegal, tengkuknya kelu. Apapun tugas yang menantinya hari ini, Kyuhyun hanya ingin mengabaikan semua itu dan tidur seharian dengan memeluk Sungmin. Sungmin…

Kyuhyun mendengus senang dan refleks memeluk pinggang kenyal seseorang yang tengah berbaring di sampingnya. Hidung mancungnya mengerut, mengendus aroma yang tentu saja sudah begitu familiar baginya. Aroma manis tubuh Sungmin, bercampur dengan aroma lain yang rasa-rasanya ia kenali namun Kyuhyun tidak terlalu ingin menggubrisnya. Hmmm, rasanya sudah lama sekali ia tidak memeluk tubuh lain sembari berbaring seperti ini. Ah, bukan lama. Tapi Kyuhyun memang tak pernah melakukannya. Orang terakhir yang pernah tidur satu ranjang dengan Kyuhyun adalah ibunya sendiri. Hmm… Mungkin dua ratus tahun yang lalu… Atau lebih? Sejak Sungmin datang kemari pun, Kyuhyun belum pernah mengizinkan dirinya sendiri untuk tidur seranjang bersama pemuda manusia itu. Belum pernah.

Kening Kyuhyun mengerut.

Sebentar.

Tunggu dulu.

Kyuhyun menggerung. Ia memang tidak pernah tidur satu ranjang dengan siapapun, lalu… Kenapa Sungmin ada di kamarnya?

Kesadaran seakan menghantam kepala Kyuhyun saat itu juga. Spontan ia membuka matanya lalu beringsut menjauh. Napas paginya yang semula tenang kini berubah menderu.

“Oh…” Kyuhyun tersedak. Ia mendelik seakan hidupnya berakhir di depan mata. “…Tuhan.”

Tubuh Sungmin tergeletak di sana. Tanpa sehelai benang pun untuk melindungi tiap jengkal kulit putihnya, biru dan ungu menghiasi sekujur tubuh pemuda itu. Pinggir bibirnya memar dan jejak darah kering tersisa dimana-mana. Pemuda itu tergeletak di sana, dengan posisi yang menyakiti mata siapapun yang melihatnya. Kakinya tertekuk ke atas, ke arah abnormal yang tidak seharusnya. Mungkin patah. Hanya dengan melihatnya saja Kyuhyun ingin ikut mematahkan kakinya sendiri. Rasanya tubuh itu tak utuh, Kyuhyun seakan melihat sebongkah boneka rusak.

Mungkin Kyuhyun sudah akan bunuh diri di atas ranjang itu, kalau saja ia tidak menyadari napas berat Sungmin dan dadanya yang bergerak lemah naik dan turun.

“S-Sungmin-ah…” Kyuhyun bergumam lirih, bola matanya bergerak nanar. Gugup. Tangannya terangkat namun ia tak kuasa menyentuh tubuh itu.

Bagaimana mungkin ia bisa melakukan ini pada Sungmin? Rasanya Kyuhyun tidak bisa percaya, berbulan-bulan terakhir ia mampu menguasai diri. Bagaimana mungkin ia bisa lepas kendali? Ingin rasanya Kyuhyun menyalahkan orang lain. Tapi tidak mungkin. Tidak mungkin orang lain yang melakukan ini saat Kyuhyun menemukan Sungmin berada di sisinya pagi tadi.

Kyuhyun menelan ludah. Menatap lirih pada kening Sungmin dengan satu garis luka yang memanjang, begitu dalam dan masih basah. Ia menunduk memandangi jemari panjangnya dengan kuku yang terpotong rapi, mulai menduga-duga. Luka itu pasti karena goresan kukunya sendiri. Kyuhyun ingin mengusap kening itu, namun tangannya mengambang di atas kepala Sungmin. Ia sungguh-sungguh tak kuasa. Dengan panik Kyuhyun berbalik dan turun dari ranjang. Tidak peduli lagi kalau dirinya juga tak mengenakan apapun.

Kyuhyun sudah akan melangkah keluar kamar, namun sekali lagi hatinya berpaling ke belakang. Diliriknya Sungmin sekali lagi, dan seketika itu juga, langkahnya berbalik kembali. Setelah meraih kain dan segelas air di atas meja, Kyuhyun beringsut mendekati Sungmin sembari menahan napas. Sesaat, tangannya terasa mengambang. Kyuhyun menggigit bibir, tak sekalipun matanya sanggup mengerjap.

Ia ingin segera mencari tabib kerajaan, namun tidak. Ia tidak bisa membiarkan Sungmin ditemukan dalam keadaan mengenaskan seperti ini.

.
.
.

oOoOoOo

.
.
.

Tangan gempal itu bergerak, menggerayangi dada dan sekujur wajah Sungmin. Kyuhyun mengawasinya tanpa berkedip. Mungkin kalau ia tidak ingat orang ini adalah tabib yang tengah menangani keadaan kritis Sungmin, Kyuhyun sudah akan menelannya hidup-hidup.

“Tulang kakinya sudah kembali seperti semula.” Tabib itu tiba-tiba berbicara, dengan suara pelan. Kyuhyun buru-buru mendongak memperhatikan. “Meskipun kita menggunakan sihir untuk mempercepat penyembuhannya, pemuda manusia ini tetap membutuhkan istirahat selama beberapa hari lagi untuk pulih.” Ujarnya lagi sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh Sungmin hingga ke dada.

Tabib itu mengecek denyut nadi di leher Sungmin untuk yang terakhir kalinya. Fisik Sungmin tentu sudah pulih, dengan bantuan sihir tubuh fana pemuda manusia ini dengan mudahnya diperbaiki seperti menjahit ulang kaki boneka yang terputus. Selama ia tidak mati, darah dan luka bisa ditiup menghilang. Meski akan sedikit lebih sulit masalahnya jika luka itu mencapai organ dalam atau merusak tulang, tapi siapa yang peduli? Ia bahkan tak sedikitpun menyebutkan tentang trauma. Meski tabib tua itu tahu dengan jelas, luka yang lebih parah membekas nanti ada di dalam memori Sungmin. Ia tidak akan memberitahukannya kepada Kyuhyun, lebih baik menyimpannya sendiri jika itu bisa membuat sang Alpha tenang dan berhenti mengkhawatirkan keadaan pemuda manusia ini.

“Tenang saja tuanku, pemuda ini hanya membutuhkan istirahat. Hanya itu.”

Kyuhyun bahkan tidak menggubrisnya, matanya lekat memandangi wajah pulas Sungmin. Ia duduk di pinggir tempat tidur, tepat di sisi Sungmin meski tak sejengkalpun Kyuhyun berani menyentuh tubuh rapuh itu. Alpha itu hanya duduk membisu, mengawasi dengan telaten kalau-kalau ada sejengkal bagian kulit Sungmin yang masih perlu diobati.

Tubuh Sungmin sudah bersih dan terbalut pakaian baru yang digantikan oleh Kyuhyun sendiri. Posisi tidurnya juga sudah berubah sempurna. Meski wajah pucat itu tetap membuat Kyuhyun gelisah, namun setidaknya memar dan darah sudah menghilang dari sana.

“Satu berita baiknya, tuanku…”

Kyuhyun mendongak. Berita baik?

“Pemuda ini sudah menjadi mate Anda, Yang Mulia.”

Ah.

Kyuhyun menelan ludah mendengarnya. Ia tidak terkejut, ia malah sudah menduganya. Tapi tidak, bukan seperti ini yang ia mau. Kyuhyun ingin semuanya berjalan sempurna, ia sedang berusaha membuat Sungmin membalas perasaannya. Tapi setelah apa yang terjadi semalam, Kyuhyun tidak yakin Sungmin akan mau berada di dalam satu ruangan yang sama dengannya lagi.

“Dan mohon maaf, satu hal lagi yang perlu hamba peringatkan. Karena mate ini memberat di pihak Anda tuanku, Anda harus berhati-hati lagi dan—”

“Aku sudah tahu. Keluarlah tabib Hong. Aku ingin berdua saja dengan Mate-ku.”

Tabib Hong refleks membungkuk mendengar perintah itu. Mulutnya terbuka sedikit, ada beberapa kalimat yang begitu mendesak dan ingin disampaikannya. Tapi sepertinya Alpha muda ini sedang tidak ingin menerima pendapat apapun tentang Mate-nya. Karena itu Tabib Hong hanya membungkuk lagi dan berbalik melangkah keluar. Dua pelayan kembar yang setia mengikutinya juga ikut berbalik, namun sebelum keduanya melangkah keluar, Kyuhyun berpaling dan memanggil mereka.

“Kalian tinggal lah sebentar disini, bersihkan meja itu.” Kyuhyun menunjuk meja rias di sisi tempat tidur itu dengan dagunya, kapas dan kain yang kotor oleh bercak darah bertumpuk di atas sana. Kyuhyun tak yakin ia akan sanggup mempertahankan sikap tenangnya lebih lama lagi jika ruangan ini terus dipenuhi aroma darah Sungmin.

Mendengar perintah sang Alpha, kedua pelayan kembar itu membungkuk patuh, lalu dengan mulai membersihkan meja itu. Meski sesekali mereka bergerak gugup, dengan ceroboh menjatuhkan kain atau gelas kosong. Mengusik suasana hening kamar ini yang jelas-jelas juga ikut mengusik Kyuhyun.

Kyuhyun hanya melirik mereka dari sudut matanya, sedikit kesal namun memilih untuk diam dan mengusap keringat di kening Sungmin. Di satu sisi, mata Kyuhyun fokus mengawasi Sungmin, namun tentu indra pendengarannya yang tajam mampu menangkap bisik perbincangan kedua pelayan muda itu. Kyuhyun tetap mengabaikannya, ia akan menegur mereka nanti, kalau sampai dua menit ke depan mereka tidak juga menyelesaikan pekerjaan kecil itu.

Youngmin melotot saat lagi-lagi Kwangmin menjatuhkan benda lain. Deting kecil itu memang tidak mengusik, bahkan tubuh Alpha tidak bergeming sedikitpun. Tapi hal itu justru membuatnya semakin takut. Bernapas di dalam satu ruangan yang sama dengan Alpha Cho saja sudah membuatnya gugup.

Dengan khawatir werewolf remaja itu melirik Kyuhyun yang masih serius dalam dunianya sendiri. Youngmin menelan ludah, ia mencubit lengan adik kembarnya sebagai peringatan.

Hati-hati.”

Mianhae!”

Kenapa dengan tanganmu, kau ini ish—”

Kyuhyun mengusap punggung tangan Sungmin yang masih terasa dingin. Obrolan kecil dua pelayan itu terasa masuk dari telinga kirinya dan langsung pergi lewat telinga kanannya.

M-maaf, tanganku masih gemetar. Efek gerhana semalam…”

Kyuhyun tertegun mendengarnya, kali ini kalimat itu terhenti dan langsung terekam di dalam otaknya.

“Gerhana?”

Youngmin dan Kwangmin tercekat saat Alpha tiba-tiba berbalik dan memandang tajam ke arah mereka. Keduanya saling bertukar pandang, lalu menelan ludah.

“Y-ye, Yang Mulia?” Youngmin menjawab sendirian.

“Semalam gerhana?” selidik Kyuhyun lagi, kedua matanya sudah membulat kaget. Hanya satu kata ‘gerhana’ itu dan jantungnya berdegup kencang. Tidak, tolong bilang kalau kedua pelayan ini salah bicara.

Pelayan kembar itu kembali bertukar pandang, bingung dengan pertanyaan itu namun alih-alih dengan polos keduanya mengangguk.

“Y-ye. Semalam gerhana, tuanku.”

Kyuhyun tercekat, refleks menahan napas dan menunduk memandangi wajah pucat Sungmin. Satu kata ‘Gerhana’ itu cukup untuk menjawab semuanya. Kyuhyun mengeram, semakin lama memandangi wajah pucat itu semakin membuatnya marah.

“Keluar, tinggalkan kami. Bawa semua sampah itu dan tutup pintu kamar ini.”

Youngmin dan Kwangmin tidak menunggu lagi, hanya dengan mendengar suara geraman tertahan itu… mereka tahu untuk tidak mengusik sang Alpha lebih jauh. Keduanya buru-buru mengangkat kain dan kapas yang sudah mereka kumpulkan, lalu membungkuk dalam-dalam meskipun Kyuhyun mengabaikannya, dan keluar tanpa lupa menutup pintu kamar itu lagi.

Kyuhyun menelan ludah, hatinya semakin terasa sakit saat ia mengusap perban dan jejak luka yang masih membekas di lengan Sungmin. Tidak ingin percaya, namun gerhana adalah satu-satunya jawaban kenapa tubuh Sungmin nyaris hancur seperti ini. Kalau saat purnama saja ia tidak berani berada di sekitar kamar Sungmin, Kyuhyun tidak sanggup mengira-ngira, hal seperti apa yang sudah terjadi semalam. Tepat menjelang gerhana dan dirinya berada di satu ruangan yang sama dengan Sungmin-nya. Kyuhyun tidak ingin membayangkannya. Namun wajah sekarat dan erang kesakitan Sungmin seakan tergambar di dalam benaknya.

Kyuhyun merunduk, mengendus harum tubuh matenya, mengendus tanda mate yang masih ungu dan segar di leher putih itu. Ia meringis, ingin menangis kalau saja hal itu bisa mengurangi sedikit nyeri di dadanya. Namun sayang sekali tidak ada airmata yang leleh kecuali erangan tertahan dari bibir Kyuhyun yang gemetar.

Kyuhyun mendongak, matanya memerah. Tidak. Ada satu orang yang harus ikut bertanggung jawab atas insiden gerhana semalam. Tidak peduli apapun alasannya, Kyuhyun tidak akan membiarkannya begitu saja.

.
.
.

oOoOoOo

.
.
.

“Mo!” Kyuhyun berteriak geram, ia menggebrak pintu kamar Jungmo tanpa mempedulikan wajah-wajah ketakutan beberapa pelayan yang lewat di belakangnya.

Kim Jungmo hanya mendongak dengan santai, meskipun dalam hati ia sempat kaget melihat kedatangan Kyuhyun yang sepertinya… tengah dipenuhi amarah. Tidak, Jungmo bukan tidak mengetahuinya, ia sudah menduga dan memperkirakan. Kyuhyun terlalu jenius untuk dikelabui, hanya tinggal menunggu waktu dan Alpha itu pasti tahu kalau Jungmo menyembunyikan sesuatu darinya. Hanya saja, Jungmo tidak menyangka kalau Kyuhyun akan mengetahuinya secepat ini.

“Apa yang kau lakukan pada Sungminku!” teriak Kyuhyun sembari membanting pintu itu kembali, menutup kamar ini dari pandangan ingin tahu orang-orang di luar sana. Ia melangkah menghentak, wajah dan matanya merah. Tidak, tidak biasanya emosi Kyuhyun lepas kendali seperti ini. Tapi Kyuhyun juga tidak peduli, ia menggebrak meja kerja Jungmo hingga tumpukan buku dan barang di atasnya jatuh berserakan di lantai.

“Apa yang kulakukan?” Jungmo memasang wajah bingung, “Aku tidak melakukan apa-apa pada mate-mu. Menyentuhnya pun tidak pernah.” Elak Jungmo lalu kembali berpura-pura sibuk dengan tumpukan kertas di bawah tangannya.

Kyuhyun mengeram. Mate. Jungmo bahkan tahu kalau Sungmin sudah menjadi mate-nya.

“Semalam gerhana.” Suara Kyuhyun merendah, namun tidak dengan deru napasnya. Ia menunduk, berusaha bersabar meladeni sikap sahabat kecilnya itu. Namun sepertinya, Jungmo memang sengaja ingin memancing amarahnya. Semua tampak dari sikap acuh Jungmo dan ekspresi tak bersalah itu.

“Ya, lalu?”

“KAU MEMBIARKAN AKU BERADA DI KAMARNYA SIAL!” Kyuhyun berteriak murka.

Jungmo sempat tersentak mendengar teriakan itu, ini pertama kalinya Kyuhyun membentaknya dengan begitu kasar. Alpha Cho yang dikenal tenang dan berkepala dingin, bisa bersikap serendah ini hanya karena seorang pemuda manusia. Jungmo benar-benar tersinggung dibuatnya. “Lalu apa yang harus kulakukan? Sebelumnya pun selalu seperti ini, kau punya caramu saat gerhana tiba dan aku tidak pernah mengusiknya.”

Kyuhyun mendengus, semakin kecewa dan sakit hati. Oh, padahal Kyuhyun merasa kalau Kim Jungmo adalah satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya di atas Bumi ini. Tapi hal ini membuatnya ragu.

“Kau sengaja.” Kyuhyun menggeleng tidak percaya. “Kau ingin aku membunuhnya, begitu?”

“Tapi buktinya kau tidak membunuhnya, kan?”

“Aku NYARIS membunuhnya, Kim Jungmo!”

Jungmo menelan ludah, getir. Hatinya ikut berdenyut namun sebisa mungkin ia tidak ingin memasang ekspresi masam. “Aku tidak tahan, melihat harga dirimu diinjak oleh pemuda manusia itu. Orang-orang juga berbicara buruk tentangmu.” Itu benar, Jungmo tidak tahan lagi mendengar ejekan demi ejekan ditujukan pada Kyuhyun. Ia tidak suka saat beberapa pelayan dan tetua mulai beranggapan kalau sahabatnya adalah Alpha yang lemah, jatuh hati pada anak manusia. Padahal dulu ia sempat menyelamatkan Sungmin dari amukan Kyuhyun, tapi semakin lama melihat sikap kurang ajar pemuda itu, Jungmo semakin percaya kalau menggunakan cara paksa padanya jauh lebih baik.

“Anggota Dewan bahkan mulai membicarakan hal itu di belakangmu.”

“Sudah kubilang, orang-orang tua itu urusanku! Dan kau cukup menuruti apa perintahku, apa begitu sulit mengikuti perintahku!” Kyuhyun menarik rambutnya frustasi.

“Maaf, kupikir hal ini akan memudahkanmu. Kupikir dengan cara apapun, semakin cepat pemuda itu menjadi matemu, akan lebih baik. Maaf.”

Jungmo menunduk, berpikir dalam-dalam dengan wajah yang berubah sendu. Kyuhyun juga mulai tidak tega untuk membentak sahabatnya terus-terusan, kalau dipikir kembali, alasan Jungmo sedikit membuat hatinya luluh. Ia berbalik, tidak ingin bertengkar lagi tapi juga tidak ingin memaafkan sahabatnya dengan begitu mudah.

“Ini yang terakhir. Jangan pernah ikut campur lagi, Mo.” Ujar Kyuhyun dingin sembari menghilang di balik pintu.

.
.
.

oOoOoOo

.
.
.

“Halo…” Kyuhyun memasang senyum seramah mungkin saat ia membuka pintu kamar itu, namun sosok di dalam ruangan berjengit dan refleks mendorong kursinya menjauh. Kyuhyun meringis, berniat untuk tersenyum namun hanya itu yang mampu diberikannya saat hatinya berdenyut begitu sakit.

Sebulan berlalu sejak insiden gerhana itu, dan sejak saat itu keadaan di antara mereka seakan memburuk. Sungmin tidak pernah protes atau cerewet seperti dulu. Jujur sikap rusuh dan kebawelan Sungmin memang seringkali membuat Kyuhyun kesal, namun melihat keadaan kali ini… Kyuhyun merasa lebih sedih lagi. Sungmin bahkan tidak mau memandang wajahnya, terlebih merespon apapun yang ia katakan. Pemuda itu hanya duduk di atas kursinya seperti biasa, sembari membaca buku atau memandang keluar jendela. Saat-saat ia tertidur adalah satu-satunya kesempatan Kyuhyun untuk mendekat lebih dari satu meter. Selain dari saat itu, Kyuhyun tidak bisa mendekat atau Sungmin akan menjerit histeris.

“Kubawakan buku-buku baru. Salah satunya menggunakan bahasa bangsaku, kudengar dari tabib kau sudah mulai belajar sedikit demi sedikit. Itu bagus.” Puji Kyuhyun tulus sembari meletakkan buku-buku itu di atas meja. Alpha itu tersenyum tipis melihat potongan pie di atas piring yang tersisa sedikit.

“Kau menyukai pie apel suku, kami?”

Tidak ada jawaban. Sungmin diam-diam menarik kursinya menjauh dan Kyuhyun berpura-pura tidak menyadarinya.

“Aku akan menyuruh pelayan membawakan satu piring pie lagi.” Ujarnya ramah sembari berbalik. Sungmin buru-buru menunduk begitu tatapan Kyuhyun beralih padanya. Pemuda manusia itu mengerat buku di tangannya kuat-kuat, bahu dan kakinya gemetar.

“Kau butuh sesuatu? Apa kau ingin baju yang baru? Ah, bunga di vas itu sepertinya harus diganti. Kau suka mawar, kan? Aku sudah menyuruh pelayan untuk merapikan taman depan.”

Kyuhyun bermonolog dengan senyum sendu, merasa mengasihani dirinya sendiri namun ia tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal itu. Ia suka berbicara dengan Sungmin meskipun pemuda itu tidak menjawabnya sedikitpun. Meski tidak bisa mendekat, rasanya berada di ruangan yang sama, menghirup oksigen yang bercampur dengan aroma tubuh mate-nya sudah cukup membuatnya tenang.

“Hmm… Sebenarnya aku ingin sekali mendengarmu berbicara dengan bahasaku.” Kyuhyun bergumam cukup kuat. Ia memandang Sungmin dengan penuh harap, namun melihat pemuda itu gemetaran dan mengerat buku di pangkuannya dengan segenap jiwa, cukup memberikan jawaban pada Kyuhyun kalau ia tidak bisa berlama-lama di ruangan ini. Kyuhyun berbalik dengan kecewa.

“Tapi sepertinya kau belum mau, ya?” ujarnya sendu. “Baiklah, hafalkan lebih banyak kosakata. Lain kali kalau kau ingin sesuatu, kau harus memintanya dengan bahasaku, deal?” Kyuhyun tersenyum, menghibur dirinya sendiri sebelum melangkah menuju pintu dengan tidak rela.

Sodesi…”

Kyuhyun membeku. Langkahnya terkunci mendengar kata yang begitu memelas itu. Ia buru-buru berbalik dan memasang senyum ramahnya lagi.

“Ya? Kau ingin sesuatu?” tanya Kyuhyun bersemangat. Akhirnya! Setelah sebulan, ini adalah pertama kalinya Sungmin bicara padanya lagi!

P-please…” Sungmin menggigit bibirnya, tidak sanggup menahan isak yang sejak tadi tertahan di kerongkongan. Kini sekujur tubuhnya gemetar, Sungmin semakin kesulitan mempertahankan keseimbangan duduknya dan pada akhirnya membiarkan tubuhnya merosot ke lantai.

“S-Sungmin-ah!” Kyuhyun yang panik sudah tidak ingat lagi pada peraturan jarak yang dibuatnya sendiri. Ia bermaksud merengkuh tubuh Sungmin, namun pemuda itu juga dengan tak kalah paniknya mulai mendorong-dorong dada Kyuhyun agar menjauh. Dan Kyuhyun juga semakin ngotot untuk memegangi mate-nya.

“S-Sungmin-ah? Ada apa? Apa ada yang sakit?” Kyuhyun ingin memeriksa tubuh Sungmin, namun baru saja ia merangkul lengan pemuda itu, Sungmin memberontak lagi.

“Aku ingin pulang. H-hiks.”

Kyuhyun tertegun. Baru sadar kalau sejak tadi Sungmin memejamkan matanya rapat-rapat. Tentu dengan jelas ia mendengar permintaan yang begitu memelas itu, namun sebulan terakhir ia sudah melatih diri untuk berpura-pura. Berpura-pura tidak mendengar permohonan itu juga bukan hal yang sulit. Kyuhyun hanya cukup mengabaikannya dan menyibukkan diri dengan membimbing mate-nya untuk berdiri.

“P-pulang. Pulang…” Sungmin meracau, tubuhnya gemetar makin hebat dan Kyuhyun semakin mengeratkan rengkuhannya, memapah Sungmin untuk berbaring di atas tempat tidur. Racauan kata ‘pulang’ itu terus meluncur dari bibir pucat Sungmin dan Kyuhyun semakin tidak tahan mendengarnya.

“Akan kupanggilkan tabib,” ujar Kyuhyun sembari menyelimuti Sungmin hingga ke dada. Ia mampu mengabaikan kata-kata Sungmin namun jauh di dalam benaknya, ketakutan yang sudah lama menghilang itu kembali lagi. Ia tidak ingin Sungmin pergi, ia tidak akan membiarkan Sungmin pergi meninggalkannya. Tidak akan.

“Lepaskan aku, Kyuhyun-sshi. Aku ingin pulang.” Bisik Sungmin lemah, kedua matanya yang sembab terbuka sedikit. Bibirnya gemetar dan wajahnya pasi. Sedikit lagi, Kyuhyun nyaris menyerah, namun tekadnya sudah kuat. Kyuhyun mengusap kening Sungmin, menutupi nyeri di dadanya dengan memasang wajah datar.

Sungmin terus meracau, dan Kyuhyun dengan tega berbalik keluar. Mengabaikan tangis histeris Sungmin di belakang sana tanpa lupa menutup pintu kamarnya.

Kyuhyun menghela napas, ia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan saat Sungmin memberontak tadi. Begitu keluar dari kamar, wajah Kyuhyun berubah tenang seperti biasanya. Alpha itu melangkah dan menangguk sesekali saat bertemu sapa dengan pelayan yang membungkuk padanya. Ingin sekali Kyuhyun berlari mencari tabib, namun ia tidak ingin penghuni istana memandang aneh ke arahnya. Karena itu sebisa mungkin Kyuhyun melangkah dengan santai. Namun semakin ia mendekati balai istana, kening Kyuhyun semakin mengerut. Suara melengking bergema hingga ke lorong utama, bercampur dengan suara Jungmo.

Aku ingin bertemu Kyuhyun-oppa!”

Kyuhyun mengernyit. Rasa-rasanya familiar dengan suara itu.

Tunggu saja disini tuan putri, biar saya carikan Alpha Cho sebentar.”

Itu suara Jungmo, terdengar sedikit tidak sabar. Kyuhyun mendengus, rasanya mulai bisa menduga-duga.

Aku saja yang menemuinya! Antarkan aku ke tempat Kyuhyun-oppa sekarang!”

Kyuhyun melangkah masuk ke balai istana. Jungmo berdiri di depan seorang gadis bergaun hijau yang tengah membelakangi Kyuhyun. “Ada yang mencariku?” sela Kyuhyun tiba-tiba.

Gadis berambut ikal itu berbalik, senyumnya berubah cerah saat melihat Kyuhyun berdiri disana. Kyuhyun juga ikut menggeleng dengan kening berkerut, senyum tipisnya mulai mengembang.

“Sunny?”

“Oppa!” Sunny menghambur memeluk Kyuhyun, sedangkan Kyuhyun mau tidak mau balas memeluk gadis itu sembari terkekeh.

Kyuhyun tersenyum ramah. Putri dari kerajaan seberang ini memang sering bermain kemari sejak kecil. Mungkin usia mereka terpaut lima atau enam puluh tahun. Kyuhyun tidak akan berdusta, ia tahu kalau putri remaja ini menaruh hati padanya. Namun Kyuhyun tidak pernah bisa menganggapnya lebih, Sunny sudah seperti adik kecil baginya. Ia juga mengenal dekat ayah Sunny yang sudah dianggapnya seperti paman sendiri. “Whoaa! Kau sudah besar sekarang, ne!” ujar Kyuhyun sembari menepuk-nepuk kepala Sunny dengan sayang.

“Tentu saja, aku calon ratu di istana ini!” ujar Sunny dengan percaya diri.

“H-huh?” Kyuhyun melongo, bingung. Dan jawaban ambigu itu seketika membuat Sunny merengut kesal.

“Aku sudah dengar soal pemuda manusia itu!” selanya ketus, ia tidak ingin melepas pelukan mereka namun Kyuhyun memaksa untuk melepaskan diri.

“Oh, begitu?” Kyuhyun berpura-pura memasang wajah berpikir. Tapi ia sungguh-sungguh kaget, apa berita tentang Sungmin begitu cepat menyebar hingga ke kerajaan lain?

“Oppa jahat! Kau bilang aku yang akan jadi mate-mu!”

“Huh?” Kyuhyun melempar pandangan bingung ke arah Jungmo, dan Jungmo hanya mengedikkan bahu dan memasang wajah malas. “Kapan aku bilang begitu?”

“Ish!” Sunny menghentakkan kakinya, tidak bisa menjawab karena Kyuhyun memang tidak pernah mengatakan itu. Tapi ia sering mengatakannya sejak dulu, ia selalu berusaha menjadi gadis terbaik di seluruh kerajaan Demon, hanya untuk Kyuhyun! Untuk menjadi istri yang sempurna bagi raja se-sempurna Kyuhyun! Lalu kenapa Kyuhyun malah memilih manusia dan menandainya sebagai mate!

“Padahal harusnya aku yang jadi istrimu!”

“Kenapa bisa begitu?” Kyuhyun menyeringai geli, ia hanya berkacak pinggang dan bersabar menghadapi sikap childish Sunny.

“Aku perempuan, aku bisa memberimu keturunan!”

Mate-ku juga bisa memberiku keturunan, Sunny-ah.”

“Tapi dia manusia!” Sunny ngotot.

“Kenapa kalau dia manusia?” Kyuhyun mengerutkan kening, berpura-pura bingung.

“Dia akan mencemarkan darah murni pangeran! Kau harus menikah dengan Pure-Demon seperti aku, aku akan memberikan keturunan terbaik untukmu, Kyuhyun-oppa! Aku sudah siap!” Sunny menjawab dengan semangat. Ia merangkul tangan Kyuhyun dan berjinjit berusaha menyejajarkan tinggi mereka. Namun Kyuhyun malah tertawa dan menepuk-nepuk kepalanya.

“Sungmin tidak akan merusak darah murni keturunanku. Dan dengar sayang, kau itu adikku. Bagaimana bisa aku menikahi adikku sendiri?”

Sunny menghentakkan kakinya lagi, semakin kesal dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia menampik tangan Kyuhyun di atas kepalanya.

“Kau bukan kakakku!” hardiknya kesal, Sunny menghapus airmatanya kasar lalu sembari berbalik dan berlari keluar dari balai. Kyuhyun tidak mengejarnya, ia hanya bertukar pandang dengan Jungmo lagi lalu menggeleng memandangi pintu yang dilalui Sunny tadi. Kyuhyun menghela napas dan melirik Jungmo lagi, nyaris lupa dengan niat awalnya berjalan hingga kemari.

“Jungmo-ah.”

“Ye?”

“Tolong cari tabib Hong untuk mate-ku.”

.
.
.

oOoOoOo

tebeseeeeh!

oOoOoOo

.
.
.

KET:

Sodesi: Please

Perbedaan Werewolfs dan Wolf Demon.

Werewolf mencangkup semua jenis manusia serigala, dari semua kasta dan tingkatan. Sedangkan Wolf Demon adalah sebutan khusus untuk Werewolf yang berada di kasta tertinggi. Werewolf kelas rendah tidak bisa mengendalikan mental dan jiwa manusia mereka selama purnama apalagi gerhana, sedangkan Wolf Demon bisa dengan mudah berubah wujud tanpa harus merasakan tekanan fisik saat purnama tiba. Hanya hal-hal tertentu yang menyebabkan Wolf Demon kehilangan akal sehatnya, seperti Gerhana, amarah, mating, dll.

 

17 thoughts on “SEDLUPUS – Chapter 5

  1. Ming kayakx trauma berat~~mudah”an Ming cepet pulih trus bisa jatuh cinta jga ma Kyu,,aduhhh neng Sunny gak usah tepe2 deh ma Kyu gak bkalan mempan,,hehehehe,,,gak sabar pengen bca next partx ^____^,,
    oh iya sist boleh minta PW buat TC part 20 gak?? ^^

  2. haha, sebenernya udah baca di ffn, tapi mau baca yg disini lagi ahhh😀

    ohh, jadi jungmo ikut andil toh disini~
    ughhh, lagi2 di part itu ikut nyesek ngliat ming memohon sama kyu untuk bebas TT-TT
    mudah2an ming bisa nerima kyu lebih cepet dehhh, gak kuat ngliat dy trauma sampai segitunya😥

    eungg, itu yg mereka gunakan bahasa apa eon?? memang asli ada yaa??

  3. ninaa ^^ says:

    kyaaa kasian umin sun, tapi lebih kasian lagi kyuhyun mati-matian bersikap ramah malah dikacangin sama umin😦 tapi kasihan juga umin minta pulang mulu gak diturutin sama kyu, suatu saat pasti dia bakal ngerti perasaan kyu ke dia😉 suka deh kalo kyu udah bersikap manis sama umin, lanjuuutt!!

  4. Yool LeeMinmin says:

    Sumfaaaah! Chapter ini berasa nyesek banget. Aaaaang~ ga tega bacanya, ini kayanya bakalan lebih menyedihkan daripada TC deh.
    Saat bulan purnama dateng, Kyuhyun bener-bener ilang kendali dan parahnya dia ga ngeh klo dia yg udah memperkosa Sungmin, gimana klo bulan purnama dateng lagi? Sungmin bakal diapain lagi?😦

    Sunny dateng, mudah-mudahan dengan datengnya Sunny yg deketin Kyuhyun, Sungmin bakalan cemburu.

  5. ini diluar cerita minna, usul aja untuk cerita lainnya sebenernya aku sangat2 pengen tau finishnya.tapi minna malah buat baru lagi terus2 an.jd kapan fokus nyelesaiin cerita2 lamanya?yah sbg fans epep kamu, aku dukung apapun yg kmu lakuin, ak jg nikmatin.tp usulku mohon dipertimbangkan.buat cerita ini,hmmm aku malah terus2 an bayangin posisi kaki yg upnormal tuh kayak apa?waktu minnieny uda kaya boneka rusak?pasti miris bgt…

  6. Ganyangka keadaan Ming di pagi hari tragis luar binasa! Ini lebih parah dibandingkan sekedar babak belur di badan sana-sini.

    Tapi keadaan mental Sungmin lebih parah dibanding fisiknya. Mungkin ada baiknya Kyu pulangin Ming, tetapi secara diam2 atau frontal atau apalah, Kyu juga ngawasin Ming. Atau engga kasih Ming waktu untuk balik ke rumah. Kasian atuh, neng, dikurung di dalem kamar terus ._.

    Sunny mungkin harus membedakan mana rasa sayang sesungguhnya dari seorang kaka dan mana rasa sayang dari seorang lelaki :3

    Maaf baru ripiu. Lebih suka ripiu di WP dibanding FFn….hehehe~

  7. Ahrin says:

    tuh kan, sungmin.jadi trauma. yaaa
    tp kyuhyun yang sbar yah ngadapin.y, ntar pst author bkalan lluhin hati.y sungmin..hahaha
    keep writing author.

  8. Yenny Christanty says:

    Sun, thank you for the new chapter.. Tapi tetep… chapter 4-nya aku ga bisa buka.. gatau knp.. For this chapter.. it still a nice story.. but I hope Min will accept Kyu’s feeling… It’s so sad that Kyu is always rejected by Minnie..

    ________________________________

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s