The Host – Part 1

THE HOST

By Miinalee

.

.

.

.

.

Klik!

Sungmin menarik kunci dan memutar kenop pintu rumahnya. Hening dan gelap menyambutnya saat ia melangkah masuk. Senyap. Sepi. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan saat Sungmin meraba dinding dan berhasil menyalakan lampu, suasana rumah ini tetap sama seperti saat ia meninggalkannya pagi tadi.

Sekali, pemuda itu menghela nafas.

Kyuhyun benar-benar tidak pulang. Sejak kemarin sampai—

Sungmin melirik arloji yang melingkar di lengannya.

—22.30

“Bocah sial.” umpat Sungmin sembari melempar sepatunya ke sembarang arah. Persetan soal kerapihan.

Padahal Sungmin selalu dijuluki sebagai Mr. Perfectionist, segala yang berhubungan dengan dirinya harus terlihat sempurna. Tapi tidak hari ini. Rasanya Sungmin ingin melucuti semua pakaiannya dan menghamburkannya ke segala arah. Kesal setengah mati.

Sembari melepas kaitan dasi dari lehernya, Sungmin meletakkan tasnya ke atas meja di ruang TV. Lalu ia melangkah menuju dapur, melesakkan sekotak onigiri, steak, dan strawberry cheesecake ke dalam kulkas lalu membanting pintunya dengan emosi. Mengingat betapa ia repot-repot mampir ke supermarket dan restoran untuk membeli makanan —selarut ini! Demi Kyuhyun!

Teringat ini, Sungmin jadi kesal lagi.

“Awas saja kalau dia pulang! Bocah setan!” geram Sungmin sembari melempar diri ke atas sofa. Lelah setengah mati. Bekerja dari pagi hingga selarut ini, lebih-lebih saat ia menemukan Kyuhyun yang tak kunjung pulang sejak hari kemarin. Rasanya lelah di tubuhnya semakin bertambah beberapa kali lipat.

Sungmin berbaring di atas sofa sambil menyilangkan lengannya menutupi mata, ia sudah terlalu malas untuk pindah ke kamar. Kamar itu terasa begitu sepi, tanpa Kyuhyun. Menyeramkan bahkan.

Padahal rumah ini adalah rumah baru mereka. Kyuhyun dan Sungmin bahkan baru menempatinya selama dua minggu. Rumah yang mereka pilih karena jaraknya yang cukup dekat dari kantor Kyuhyun dan Sungmin. Rumah yang awalnya ia kira dapat mengembalikan waktu bersama dan keharmonisan mereka…

Tapi nihil.

Kalau di apartemen lama mereka Kyuhyun akan pulang antara jam 9 sampai 11 malam di setiap harinya… Kini di rumah ini Kyuhyun malah makin asik bekerja dan bahkan jarang pulang sampai 3 hari berturut-turut.

Apa yang dikerjakan bocah itu sih?

Sungmin merengut. Kecewa bercampur kesal pada tingkah kekasihnya. Ini terjadi bukan satu-dua kali. Dua bulan terakhir Kyuhyun mulai bersikap acuh padanya. Pulang larut, jarang sarapan bersama, jarang mengirim e-mail, apalagi menelpon. Huh. Sungmin ingin sekali mencaci-maki Kyuhyun, namun di saat bersamaan juga ia merindukan kekasih jahilnya itu.

Dua bulan lamanya, Sungmin menahan diri. Ia hanya akan mengeluh manja. Beberapa kali meminta perhatian Kyuhyun saat mereka tengah bersama. Tidak sekalipun ia menuduh macam-macam, meskipun ada kalanya prasangka-prasangka buruk berdatangan. 7 tahun mereka berpacaran dan selama 5 tahun mereka hidup satu atap, baru kali ini Kyuhyun benar-benar bersikap acuh. Tidak benar-benar acuh seperti kisah cinta di dalam telenovela, sih. Tapi, kau pasti tahu dan bisa merasakan perbedaannya saat kekasihmu yang sudah berhubungan selama 7 tahun lamanya tiba-tiba bersikap ganjil.

Satu-dua kali Sungmin sempat menyangka kalau Kyuhyun berselingkuh di belakangnya. Namun sebanyak itu pula Sungmin akan segera menghapus prasangkanya. Sepertinya ia terlalu mencintai pemuda jangkung itu, dan hanya untuk berfikiran macam-macam saja Sungmin sudah merasa sakit. Lagipula ia tidak mungkin menuduh kekasihnya tanpa bukti. Mungkin saja Kyuhyun memang benar-benar sibuk akhir-akhir ini.

Pemuda itu terus berbaring disana, masih menutupi wajahnya dengan lengan saat sebulir hangat menetes dari matanya.

“Kyuhyun sial!” umpat Sungmin untuk yang kesekian kalinya.

Lihat saja kalau bocah itu pulang nanti! Akan kurendam di mesin cuci dan kugantung di pintu kamar!

Sungmin bangkit dengan kesal. Ia duduk dan meraih remote yang tergeletak di atas meja. Ia mengucek matanya berkali-kali. Kantuknya sudah menghilang. Kini wajahnya malah kuyup oleh tetes-tetes airmata.

“Huh! Awas saja dia!” kecam Sungmin lagi. Ia baru bermaksud menyalakan TV saat sesuatu—

Treeek—

Sungmin tertegun. Gerakan jarinya terhenti. Ia berpaling ke arah dapur. Entah kenapa bulu kuduknya merinding. Apa ia salah dengar? Baru saja terdengar—

Prang!

Sungmin tersentak kaget, genggamannya mengendur dan remote TV di tangannya terselip jatuh. Pemuda itu melotot dan matanya masih terus mengawasi ke arah dapur. Apa ada seseorang disana?

“Kyuhyun?” panggil Sungmin pelan, ragu-ragu. Sebenarnya ia takut. Namun ia tidak mungkin membiarkan kejadian barusan dan berpura-pura tidak tahu. Bagaimana kalau ternyata ada perampok masuk ke rumahnya?

Sungmin mengeluarkan handphone yang selalu sedia di saku celananya. Ia sudah siap men-dial nomor Siwon. Lalu tidak lupa meraih revolver mini yang disimpannya di laci meja TV, Sungmin melangkah hati-hati menuju dapur. Jantungnya berdegup tidak karuan kala Sungmin makin mendekat ke pintu dapur. Posisi revolvernya sudah siap di depan dada, meskipun tidak bisa dipungkiri Sungmin merasa takut setengah mati. Bahkan tangannya gemetar dan keringat dingin mengalir dari pelipisnya.

Sungmin melangkah. Dekat. Dekat. Mengumpulkan segenap keberanian yang tersisa. Lalu—

“Yah! Siapa disana?!” Sungmin melompat tepat ke depan pintu dapur dengan kaki gemetar. Revolvernya teracung ke depan. Namun—

“Nyao—” sosok mungil berbulu orange dan berkaki empat itu melompat dari wastafel. Gelas coklat kesayangan Sungmin sudah pecah berkeping-keping, pecahannya berserakan di atas lantai –tak jauh di bawah wastafel.

Sungmin nyaris menangis. Antara terkejut, senang, dan tenang.

“Yah! Kau mengagetkanku, Sen!” bentaknya sebal. Ia meraih sapu, bermaksud membersihkan kepingan gelas itu saat—

“Krieeeet—”

Sungmin mendongak. Terkejut saat dilihatnya jendela dapur bergerak kecil tertiup angin. Betapa cerobohnya ia! Pasti jendela ia lupa mengunci jendela saat ia membersihkan kacanya minggu kemarin! Aih! Untung tidak ada perampok!

“Krieeeet—” Jendela itu berbunyi lagi. Sungmin merinding mendengarnya. Pasti jendela ini sudah sangat tua. Ia akan menyuruh Kyuhyun untuk menggantinya saat bocah itu pulang nanti. Awas saja, Sungmin tidak akan menerima penolakan!

Sungmin menarik jendela itu, menguncinya rapat-rapat dan begitu disadarinya—

“Loh?”

Sungmin memandang heran ke jemarinya. Penuh debu. Rasanya kemarin ia sudah membersihkan jendela itu. Atau jangan-jangan ini perbuatan—

“Sen?” Sungmin melirik kucingnya dengan pandangan menuding. Namun kucing itu malah melenggang santai menuju ruang TV.

“Huh. Sen dan Kyuhyun sama saja, tidak ada yang peduli padaku!” keluh Sungmin sembari melanjutkan pekerjaannya—membersihkan pecahan gelas.

Sambil bersenandung, dibuangnya pecahan kaca itu dengan hati-hati ke dalam kotak sampah. Sungmin bahkan berjongkok lagi untuk memastikan tidak ada pecaha kaca yang tertinggal. Lagi-lagi, ia jadi teringat untuk menyuruh Kyuhyun membeli vacuum cleaner.

Atau lebih bagus lagi kalau mereka berdua pergi berbelanja bersama! Sungmin terkikik bahagia. Membayangkan kembali saat-saat mereka pergi bersama setiap weekend. Ahh. What a good memories.

Sungmin sibuk bersenandung dan tersenyum-senyum sendiri, namun kening pemuda itu mengerut saat ia menemukan bercak di bawah kitchen set.

Sungmin menundukkan kepalanya untuk melihat lebih dekat. Ia bahkan menyentuh bercak itu dengan telunjuknya. Merah dan kental. Kenapa ini terlihat seperti…

–darah?!

Sungmin mendelik. Buku kuduknya kembali meremang. Buru-buru ia bilas bercak merah di ujung jarinya dan dilapnya bersih bercak yang tersisa di lantai. Ini benda apa? Atau jangan-jangan—

Uh!

Sungmin menggeleng. Mengusir semua pikiran-pikiran buruk dalam kepalanya. Kenapa ia jadi ingin berpikir macam-macam ya? Sepertinya ia kebanyakan menonton film horror.

Selesai membersihkan dapur. Sungmin bangkit dan bermaksud kembali ke kamarnya, namun belum sampai ia keluar dari pintu dapur—

Langkah Sungmin terhenti. Bukan, bukan ia yang menghentikan langkahnya. Rasanya ia membeku dan tidak bisa bergerak dari posisinya. Sungmin mendelik, hawa dingin seolah mengelilingi sekujur tubuhnya. Ia terus berada di posisi itu, bahkan untuk membuka mulut pun ia tak sanggup. Dingin dan lemas sekali, bahkan ia merasa mungkin dirinya akan pingsan kapan saja. Sampai—

WHOSSSH!

Sungmin tersentak. Nyaris jatuh terduduk saat angin kencang menerpa tubuhnya. Pemuda itu melotot horror, ia melirik ke kanan, ke kiri, mencari tahu ke segala arah. Namun hanya kesunyian yang ditemukannya. Kini ia sudah bisa menggerakkan tubuhnya. Tapi bukan itu masalahnya…

Barusan itu… angin dari mana?

Sungmin memeluk tubuhnya, rasanya dingin angin itu masih terasa dipermukaan kulitnya. Namun lagi, Sungmin menggeleng kuat-kuat. Dipijatnya lembut tengkuknya, sembari bergumam samar ia melangkah menuju kamarnya.

Sepertinya Sungmin benar-benar harus mengurangi tontonan horrornya dan memperbanyak istirahat. Parah sekali ia sampai berhalusinasi seperti ini.

.

.

.

“Aaah! Panaaas!” Sungmin bergumam sambil mengibas-ngibas tangannya untuk mengipasi leher –meski itu benar-benar tidak berguna. Keringatnya mengucur deras sampai-sampai piyamanya basah kuyup dan makin tidak nyaman untuk dikenakan.

Sungmin terlalu malas untuk bangkit. Awalnya ia berniat untuk kembali tidur dan mengabaikan semua itu. Tapi tidak sampai lima menit dan—

“HAAAH!”

Sungmin bangun, terduduk di atas tempat tidurnya sambil terus mengibas-ngibaskan tangannya ke arah leher. Ia melirik ke atas, AC masih bergerak dan menyala. Diraihnya remote di atas meja dan betapa terkejutnya ia melihat angka 32 di layar remote itu.

“Pasti AC-nya rusak juga!” keluh Sungmin jengah. Kali ini ia mengibaskan kerah piyamanya. Namun itu pun tidak bertahan lama. Sungmin benar-benar tidak tahan sampai akhirnya ia melucuti atasan piyamanya. Sempat diliriknya jam dinding yang berdetak pelan.

Pukul 02.15.

Masih ada 3 jam untuk beristirahat.

Sungmin bangun, bermaksud mencari wifebeater yang setidaknya lebih dingin saat digunakan. Namun belum juga ia mengangkat satu langkah dari tempat tidur—

“U-uh!” Sungmin kembali terduduk. Diremasnya perutnya yang entah kenapa tiba-tiba terasa mulas di tambah nyeri di ulu hatinya. Sungmin meringis-ringis kesakitan.

Sungmin membawa tubuhnya kembali berbaring di atas tempat tidur. Lalu pemuda itu mulai menggeliat sambil memeluk perutnya. Rasa sakit di sekujur perutnya bertambah intens. Belum pernah ia merasakan sakit yang seperti ini.

“Aaaah! Hhh!” Sungmin nyaris menangis. Kini tubuhnya melengkung dan menggigil, keringat dingin mengucur hingga seprai pun terasa basah. Sungmin meremas perutnya, lagi dan lagi.

“Ahh!” Sungmin tersentak dan refleks melepaskan tangannya karena takut. Ia melotot kaget dan memandang ke arah perutnya lekat, terkesiap saat ia merasakan gejolak gerakan dari dalam sana.

“A-apa ini?” desis Sungmin setengah menggigil, giginya gemertak beradu. Menahan rasa sakit yang tak juga reda sekaligus ketakutan yang tiba-tiba menerpanya. Sungmin beringsut mundur dan bersandar di mahkota bed.

Sembari terus menunduk menatapi perutnya, tangan Sungmin melengkung di depan dada.

Blub.

Sungmin mendelik. Dua gelembung mencuat di kulit perutnya.

Blub. Blub.

Semakin banyak.

Blub. Blub. Blub.

Kini bukan lagi gelembung-gelembung yang mencuat muncul di permukaan perut Sungmin. Seolah ada dorongan kuat bercampur rasa sakit, perut Sungmin kian membuncit. Terus membesar dengan kecepatan mengerikan.

“T-tidak— Tidak!” Sungmin menekan perutnya, berusaha mengembalikannya ke ukuran semula. Namun dorongan dari dalam perutnya jauh lebih kuat, semakin ia menekannya semakin terasa sakit dan akan semakin membuncit.

“T-TIDAAAAAAAK!”

.

.

.

TBC

.

.

.

19 thoughts on “The Host – Part 1

  1. bellabel says:

    Serius, aku merinding baca ini fiction -,-
    dan pinter banget naruh TBC disitu, kan jadi penasaran…
    Well, walaupun bikin aku harus tengok kanan tengok kiri waktu baca cerita ini karena takut juga -_- , ini ff bagus ^^

    Ditunggu next chap dan terimakasih…

  2. ??? says:

    Selamat2 ff baru lagi.. \(´▽`)/
    Langsung 3 lagi..

    Saran ya, di awal cerita sebaiknya dikasih genre-nya. Atau kamu sengaja ga cantumin, supaya reader penasaran & nebak2 sendiri..?
    Yeah, what ever it is, its great..!!

  3. Uda seneng min nya ga jadi org lemah,ngomellll mulu di awal.Ehhh, di akhir2nya ternyata cap orang teraniaya masi lekat buat Sungmin.Apapun itu lanjut, seru horornya..

  4. vyan says:

    huweeeeee sun… ini cerita apaan??? horror???
    jd serem nih g… apa yg terjadi ama c umin???
    mn lg c kyu… bkn jgin istri tercinta malah lbh milih kntr…
    kl gamau, minnya buat aku aja hahahahahah…*dilempar batu bata ama kyu*
    waiting for next chap ^^v

  5. songhyekyung says:

    itu sungmin oppa kenapa?? trus kyuhyun oppa jugag kmana?? ini bneran horror banget.. penasaran akhirnya ntar sungmin oppa jadi gimana.. lanjutannya jangan lama” ya.. hehe

  6. Itu Kyumin knapa??
    abis kesambet yah dia,,tpi itu perutx kenapa,,,Kyu lgy gak pulang”,,mau nyangin bang Toyib kli ya #dgamparKyu…waduhh baca ini malem” bikin merinding,,,tpi penasaran ma next chapx…

  7. Lee Min Chan says:

    Kyu selingkuh ??
    ANDWAE !!! >,<
    ming itu knp ? Knp dia bisa tiba" gt ??
    Rmayan merinding + bkin penasaran un . . . xD

  8. yaampunn merinding aku bayangin perutnya sungmin kayak gitu T.T
    aku bacanya aja udah horor apalagi kak fiqoh yang buat ==”

    isi perutnya sungmin bayi kann??? bayi siapa ? kalo kayak gitu artinya itu bayi bukan anaknya kyuhyun donkkk????
    oya kak? the concubine chapter 20 udah dibagiin belum ya? kalo udah kok aku belum dikirim? padahal di chaper 19 udah komen hehehe…

  9. whatchokyulate says:

    Jamnya… pas bgt aku baca ini skrang skitran jam sgtu 2.15 o.O

    Umin knp chingu
    kyu kmn?
    Clue darah itu… *mulai mikir ngga2
    #plakkkk

    Kyuhyun gpp.. YOSH!!!
    Next

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s