Cursed Crown | Chapter 4

Ket:

Hviturland: Tanah Putih. Negeri di utara yang tertutup salju abadi. Hampir seluruh penghuninya merupakan bangsa peri. Dipimpin oleh Ras Snowelf— peri salju.

Radourland: Tanah Merah. Negeri tropis yang menguasai barat dan membelah khatulistiwa, wilayahnya terluas. Penghuninya adalah bangsa peralihan/siluman penjelmaan binatang karnivora. Negeri ini dipimpin oleh Ras Werewolf.

Svarturland: Tanah Hitam. Negeri timur yang terdiri dari rawa, rimba, lembah, gua, gurun pasir, dan gunung berapi. Tanah tandus yang dihuni oleh bangsa Monster; Orc, Troll, Ogre. Negeri ini dipimpin oleh Ras Ogre.

Graentland: Tanah Hijau. Tanah subur yang menjadi tempat tinggal bagi bangsa peralihan/siluman penjelmaan binatang herbivora dan bangsa manusia yang saling bersandingan. Negeri ini dipimpin oleh Ras manusia.

Blarland: Tanah Biru. Tanah yang sebagian besar terdiri dari perairan. Samudra, laut, danau, sungai, dataran basah, dan tanah di pesisir. Penghuninya adalah seluruh bangsa air. Duyung, kraken, fishman, etc. Negeri ini dipimpin oleh Ras Duyung.

.

.

.

oOoOoOo

CURSED CROWN

oOoOoOo

.

.

.

Hviturland— empat belas hari setelah Sungmin dikirim ke Negri Merah.

Senja nyaris tenggelam, ketika derap kaki kuda melintas melewati gerbang belakang kerajaan. Seakan berlomba dengan malam yang akan menjelang, sang penunggang memecut kudanya makin kuat. Terus melaju lurus, hingga matahari lenyap dan petang menyergap bersama bulir-bulir salju.

“Heya!” seru penunggang itu sembari menarik tali kendalinya kuat-kuat. Kuda yang ditungganginya sontak melonjak, dan berhenti dengan kasar tepat di depan sepasang pintu kayu yang dijaga oleh dua pengawal snowelf.

Begitu sadar siapa penunggang berjubah itu, kedua pengawal itu pun segera berlutut.

“Pangeran Siwon!” seru keduanya sembari membungkuk hormat.

Tanpa melirik mereka, Siwon turun memijak tanah es dan mengibaskan jubah emasnya. Salju yang bertumpuk di bahu dan mengotori jubah tebalnya menghambur, terbang.

“Bersihkan kuda ini dan beri makan, setelah itu biarkan dia beristirahat.” titah Siwon sembari melangkah dengan tatapan lurus ke depan. Matanya lekat mengawasi ruang luas di balik pintu, tempat dimana kuda-kuda kerajaan ditampung dan diberi makan.

Siwon terus melangkah masuk, melewati berpuluh-puluh kuda besar dan sesekali tersenyum melihat beberapa kuda kesayangan yang sering digunakan adik-adiknya. Siwon mengusap kepala mereka sembari terus melangkah, hingga matanya menangkap satu kuda terbesar yang diletakkan dalam ruang terpisah dan dikekang dengan rantai baja.

Sleipnir. Kuda perang miliknya. Setinggi gajah, dan sebesar badak. Dengan delapan kaki dan sepasang sayap, makhluk indah itu selalu menjadi favoritnya. Andalan terbaik saat turun ke medan perang. Meski tak jarang Siwon menyalah gunakannya untuk membawa Sungmin bermain mengelilingi langit Hviturland.

“Kita akan menempuh perjalanan jauh, kawan.” ujarnya lembut sembari mengusap tengkuk Sleipnir.

Siwon berbisik di bawah napasnya, mengusap rantai besi yang mengekang leher Sleipnir dan sesaat—

KREK

Rantai itu terlepas, merosot jatuh ke atas lantai berjerami lalu menyusut dengan sendirinya dan menghilang di balik dinding. Tidak biasanya kuda berkaki delapan itu tampak tenang tanpa pengekang yang menahan tubuhnya. Namun keberadaan Siwon disana, menjadi alasan mutlak untuknya bersikap jinak. Lima puluh tahun yang lalu, Putra Mahkota Hviturland ini sanggup menaklukkannya dan membawanya turun dari gunung Kelud –esalah, maksudnya gunung Alfheim.

Sleipnir mengangkat dua kaki depannya, lalu mengikik pelan seakan menyetujui ajakan sang majikan.

“Kau sudah tidak sabar, eh? Lama tidak berlaga?” Siwon tersenyum sembari melompat naik ke punggung Sleipnir. Butuh sedikit sihir untuk membawa tubuhnya melayang. Kuda ini terlalu besar jika Siwon hanya mengandalkan kakinya yang panjang untuk memanjat naik. “Kita berangkat, kawan…”

Siwon memecut kudanya, dan sepasang sayap coklat itu mengembang. Tidak sampai lima detik, Sleipnir mengayunkan delapan kakinya dan melayang keluar dari kandang kuda kerajaan, mengejutkan dua penjaga yang baru akan membawa masuk kuda hitam yang ditunggangi Siwon tadi.

Sleipnir mengepakkan sayapnya lambat. Kuda itu membawa Siwon terbang dengan ketinggian rendah. Siwon baru akan memerintahkan kudanya untuk melayang cepat, saat tiba-tiba Sleipnir bergerak turun dan berderap di atas tanah dengan kecepatan yang kian melambat.

“S-Sleipnir!” Siwon berseru kaget saat kudanya justru mendarat di tanah, ia mengusap tengkuk Sleipnir berusaha mengirimkan bisikan sihir lain dan memerintahkannya untuk kembali terbang. Namun kuda besar itu justru berhenti melangkah tepat di depan sosok seseorang, yang dengan cepat dikenali oleh Siwon meski suasana gelap dengan hanya diterangi cahaya rembulan.

Appa…”

“Kau mau pergi kemana lagi, Siwon-ah?” sosok itu berbisik bersama hembusan angin. Wajahnya bahkan tersembunyi di bawah bayang-bayang mahkota. Namun suara yang begitu menekan itu… membuat Siwon menelan ludah, menahan rasa gugupnya dengan memberanikan diri berseru lantang.

“Aku akan menjemput Minnie!” Siwon berseru, napasnya sedikit tertahan saat sosok di depannya perlahan mendongak.

“Kau ingin memulai perang dengan Radourland, anakku?”

Siwon bergeming meski jantungnya berdegup kencang. Ia hanya meremas tali kekang Sleipnir, makin waspada saat ayahnya melangkah mendekat.

“Kau tahu kan kita akan memasuki perang dengan Svarturland kapan saja? Kita beruntung karena Radourland menawarkan aliansi dengan mengikat kerajaan kita menjadi keluarga.” Suara monoton itu semakin membuat jantung Siwon berpacu cepat.

“T-tapi tidak perlu dengan cara itu, kan?” Siwon menyahut gugup. Matanya berkelana kemana-mana, tidak sanggup membalas tatapan Raja saat dengan jelas ia tahu, ada satu sihir kuat di balik mata itu yang bisa membuatnya berbalik dan mengembalikan Sleipnir dalam dua detik. “L-lagipula Donghae sudah menawarkan diri. Kenapa Appa justru memilih Minnie? Minnie masih 14 tahun dan dia bahkan semakin sakit-sakitan akhir-akhir ini!” suara Siwon meninggi, emosi di dalam dadanya membuncah. Membayangkan adiknya tersayang berada di negeri sebrang, di tengah kerajaan monster yang haus akan darah dan jerit kesakitan. Bahkan hanya mendengar rengekan Sungmin saat terserang demam, Siwon merasa seluruh dunianya akan luruh.

Kalau saja… Kalau saja aku berani menandai Sungmin dari dulu… Pasti hal ini tidak akan terjadi.

Appa tidak akan memberikan Sungmin kepada orang lain.

“Aku tahu—” Siwon menelan ludah, sesaat merasa tidak mampu mengatakannya. Namun ketika ia memberanikan diri menatap wajah raja, ada amarah yang kembali meluap jauh di dalam hatinya. Tangannya yang masih meremas tali kekang sedikit gemetar, asap berhembus dari mulutnya saat kini, dengan lancarnya pangeran itu berbicara.

“Sungmin bukan adik kandungku. Dia bukan anak Appa. Jaejoong melahirkan anak haram namun dunia mengenalnya sebagai pangeran Hviturland.”

Yunho tercekat mendengarnya. Ia mendongak, balas menatap putranya dengan dua mata yang membulat shock. Darimana? Darimana Siwon mengetahuinya?

“Kenapa? Appa terkejut?” Siwon terkekeh. Matanya memanas, namun demi harga diri, pangeran itu menahan emosinya yang semakin lama terasa kian membuncah. “Aku lebih terkejut lagi. Appa menikahi bocah itu dan bisa-bisanya dia melahirkan anak haram.”

“Hentikan, Siwon-ah.” desis Yunho gugup. Kepalan tinjunya terasa memanas. Bayang-bayang masa lalu yang kelam kembali menyerganya dalam sekejap. Menghimpit dadanya dan membentuk genangan hangat di pelupuk matanya. Jaejoong… Gambaran Jaejoong yang tengah menangis dan berlutut memeluk perut buncitnya masih terasa begitu jelas, terukir begitu dalam dan tak mampu terhapus dalam ingatannya. Ia bahkan belum pernah menandai Jaejoong manisnya…

“Appa ingin menyalahkan Sungmin? Salahkan pelacurmu. Anaknya tidak berdosa. Aku akan segera menikahinya kalau ternyata Pangeran Merah belum menandai Sungmin. Aku tidak peduli kalau—” Siwon tercekat, tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Raja balas memandangnya dengan tatapan kosong, wajah itu sendu. Bibirnya mengatup lemah dan ekspresinya tidak menyampaikan apapun selain kepedihan.

“A-appa…” Siwon segera turun dari kudanya, ingin cepat-cepat berlutut meminta maaf namun sang ayah sudah membalik badan dan melangkah menjauh.

“Pergilah. Lakukan apapun yang kau inginkan, Siwon-ah.” bisik Yunho sebelum tubuhnya menghilang di balik kabut.

“A-appa…” cicit Siwon penuh sesal, sebulir airmatanya mengalir dan jatuh menjadi es. “Appa maafkan aku.”

Sleipnir mengikik pelan, seakan ikut merasakan kesedihan masternya. Siwon mengusap tengkuk kudanya sembari tersenyum pedih. Pangeran itu menunduk dalam-dalam, lalu menghela napas panjang. Ia kembali menarik kekang Sleipnir dan memutar langkah.

“Maaf kawan, laga kita akan tertunda sementara waktu.”

.

oOoOoOo

.

“Hyuuung ayo maiiiiinnn! Aku bosaaaaaaaann!” Sungmin yang duduk di pinggir halaman kembali menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. Bunny pemberian Kyuhyun masih setia berada di pangkuannya dan menjadi tempatnya melampiaskan amarah.

“Aish… Sana, main dengan anak-anak noona-ku!” seru Kyuhyun tanpa berpaling, matanya tetap fokus menatap ke depan. Untuk sesaat, Kyuhyun berkonsentrasi menunggangi seekor kuda liar yang akan dilatih menjadi kuda perang. Namun begitu sadar dengan ucapannya tadi, Kyuhyun buru-buru menarik tali kekang kudanya dan berhenti tepat di depan Sungmin. “H-hei, Sungmin-ah! Jangan dengar ucapanku tadi! Pokoknya jangan pergi kemanapun dan jangan bermain dengan anak-anak itu, arraseo? Sudah, kau duduk saja di situ sampai aku selesai! Dan jangan ke sini!”

Kyuhyun mendesah, lalu menggeleng-geleng lelah sebelum kembali memecut kuda yang ditungganginya dengan cambuk. Ia membawa hewan itu berkeliling taman tanpa memperhatikan saat Sungmin mengendap-endap mencoba mendekati kuda liar lain yang di kekang ke dinding.

“SUNGMIN!” Kyuhyun berteriak begitu ia menoleh dan menyadari perbuatan Pangeran Kecilnya. Darah seakan berhenti mengaliri jantungnya, saat Kyuhyun melihat kuda liar itu melonjak, bersiap menendang Sungmin.

SLAM!

Dalam gerakan cepat, Kyuhyun mengamankan Sungmin ke dalam pelukannya. Mereka terhempas menghantam dinding. Sungmin aman dalam pelukannya tapi Kyuhyun menelan erangannya sendiri saat merasakan sebelah tulang bahunya patah.

“Sial…” umpat Kyuhyun pelan sembari meringis. Andai saja ia sempat mengubah wujudnya menjadi serigala… But hell, Kyuhyun bahkan tidak sempat berpikir dan hanya bergerak agar dapat segera memeluk Sungmin.

Kyuhyun terdiam, tubuhnya terperosok dan duduk bersandar ke dinding. Sungmin menggeliat keluar dari pelukannya, bocah itu melotot begitu menyadari Kyuhyun tengah terluka.

“H-hyung!” Sungmin memekik, spontan menangis melihat darah mengalir dari bahu Kyuhyun. “Hu-HUWAAAAA!”

“Sungmin… Kau tidak apa-apa?”

Sungmin menangis makin kencang, airmatanya merembes seperti air terjun. Membasahi wajahnya yang putih dan lama-kelamaan membuat matanya membengkak. Bocah itu ingin sekali membisikkan kata ‘Maaf’, tapi yang keluar dari bibirnya hanya isakan. Tubuhnya bergetar. Sungmin mengusap kedua matanya dengan kasar lalu sebelah tangannya bergerak naik, mengambang tepat di atas bahu Kyuhyun yang terluka. “H-hiks…”

“Jangan menangis, Sungmin-ah. Ini tidak sakit ko—AH!” Kyuhyun memekik saat tanpa sengaja ia berniat menggerakkan tangannya.

Argh… sial.’ Gerutu Kyuhyun dalam hati. Sekarang ia harus mencari tabib dan meminum obat yang menjijikkan untuk menyembuhkan tangannya dengan cepat. Sebenarnya ia ingin marah, tapi melihat penyesalan Sungmin yang tampaknya begitu mendalam… Kyuhyun langsung luluh, merasa hatinya seakan meleleh seperti es krim. Wait, tidak ada es krim di masa itu. -_-

“Yah… Sudah, sudah. Aku tidak—” Mata Kyuhyun terbelalak saat ia merasakan sensasi dingin di tangannya yang terluka. Sedikit panik, Kyuhyun berpaling dan menyadari tangan Sungmin berada di atas bahunya. Telapak tangan mungil itu memancarkan cahaya putih dan mengirimkan aura sedingin es. Sensasi beku itu menjalar dari ujung bahunya, terus menyelimuti seluruh bagian tubuhnya yang terluka hingga Kyuhyun menyadari sesuatu yang aneh.

Kyuhyun melongo kaget. Ia mengangkat tangannya dan memutarnya dua kali, merasa heran saat tidak merasakan sakit apapun. Tulangnya yang patah itu sudah sembuh, meskipun lukanya masih sedikit berdarah namun yang tersisa di bahunya hanya bagian baju yang rombeng dan sedikit luka gores.

Apa ini memang kekuatan Snowelf?’Kyuhyun memandangi wajah Sungmin sedikit lama, merasa bingung dengan pertanyaan demi pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Bocah itu tengah menutup mata, Kyuhyun tidak bisa mengabaikan warna wajah Sungmin yang sedikit berubah pias.

“Yah, Sungmin-ah. Kau yang melakukan ini?”

Sungmin membuka matanya. Napasnya berhembus lemah. Tapi begitu melihat wajah bingung Kyuhyun, Sungmin kembali menangis.

“Hyung berdarah gara-gara akuuuuu!” isaknya dengan mata besar yang berkaca-kaca.

Kyuhyun jadi bingung. Apa bocah ini menyembuhkan lukanya secara sadar atau tidak sadar?

“Aish, makanya kau harus menurut padaku. Lihat kan? Kau bisa menyusahkan orang. Arasso?” Putra Mahkota itu bangkit dan membimbing Sungmin untuk ikut berdiri. Pangeran Kecil itu mengangguk lemas, tubuhnya sedikit limbung dan Kyuhyun dengan panik memeluk Sungmin.

“Y-yah! Sungmin-ah?” Kyuhyun berseru panik, memegangi bahu Sungmin dan melambai-lambaikan tangan di depan wajah itu.

“U-uh?” Sungmin bertanya linglung sembari mengerjap berkali-kali. Kyuhyun mendesah dan menghela napas panjang, terpaksa mengangkat tubuh Sungmin di punggungnya.

Beberapa pengawal kerajaan datang untuk menangkap kuda yang tadi di tunggangi Kyuhyun dan kini berkeliling dengan liar. Sedangkan pangeran itu bergegas masuk ke dalam istana, mencatat dalam memorinya untuk menanyakan hal ini pada ayahnya. Segera.

.

oOoOoOo

.

“Yang Mulia!”

Yunho bergeming, tidak bergerak sama sekali bahkan hanya untuk mendongak. Ia tidak perlu menyambut kedatangan orang ini. Hanya dua orang yang bisa masuk ke dalam kamar pribadinya, dirinya sendiri dan permaisuri. Dan hanya dari suara yang menghentak itu saja, Yunho sudah tahu hal apa yang akan diucapkan permaisurinya sebentar lagi.

“Kau sudah pulang, Junsu-ya? Bagaimana keadaan negara timur?” tanya Yunho datar sembari membolak-balik lembar buku yang tengah dibacanya.

“Kembalikan anakku!”

Yunho menutup bukunya, ia mendongak menatap permaisurinya dengan wajah keruh. Permaisurinya yang cantik ini… baru saja membentaknya. Hanya karena seorang bocah tengik yang begitu ia benci.

“Hentikan, Junsu-ya. Sungmin bukan anakmu.”

Junsu menarik napas dalam, menahan airmatanya yang sudah membuncah sejak tadi. Matanya memerah dan dadanya terasa sesak.

“Sungmin anakku sejak Jaejoong menitipkan seluruh nyawa putranya padaku.”

“Sudah kubilang berhenti membahas Jaejoong.”

“Kau mengirimku ke negara timur agar kau bisa membuang Sungmin tanpa sepengetahuanku! Kembalikan putraku sekarang, Jung Yunho!” Junsu berbicara dengan tersedak, airmatanya tak terbendung lagi, meleleh tanpa dapat ditahan. Baru kemarin ia mendapat kabar bahwa Yunho membuang Sungmin ke Negeri Monster itu. Persetan dengan alasan perjodohan. Putranya yang masih belia dikirim ke tanah pertumpahan darah, Junsu tidak bisa mengkhawatirkan hal lain kecuali nyawa Sungmin. Seorang pangeran Snowelf dengan harum tubuhnya yang rapuh… berada di tengah kerajaan monster. Junsu hanya ingin memaki sikap bodoh suaminya ini.

“Aku tidak membuang anak itu. Aku menjodohkannya dengan Putra Mahkota Radourland. Kita membutuhkan aliansi untuk menyambung kembali hubungan yang sudah lama terputus.”

Junsu balas menatap Yunho dengan tajam, merasa sakit hati mendengar kalimat itu terucap dengan begitu datar. Yunho bahkan tampak begitu tenang, seakan tidak memiliki beban apapun.

Oh tidak, beban bagi Yunho adalah Jung Sungmin. Dan saat Sungmin sudah dibuang jauh, tentu bebannya juga ikut pergi.

“Kau punya enam putra yang sudah dewasa dan siap memiliki pasangan! Kenapa harus Sungmin yang kau kirim ke tanah berdarah!” tangis Junsu pecah. Ia bahkan sudah mengetahui jawaban itu tanpa bertanya. Yunho memang tidak langsung menjawabnya. Tapi saat mendengar kalimat itu terlontar langsung dari bibir raja… Rasanya seakan tertikam tepat di dada. Junsu menangis terisak-isak.

“Aku tidak akan mengambil resiko dengan mengorbankan putraku yang berharga. Kalau sampai Radourland berbuat macam-macam, aku tidak ingin kehilangan mereka. Jadi aku memilihnya, karena dia tidak berguna.”

“SUNGMIN JUGA PUTRAMU!” pekik Junsu frustasi. Suara tangisnya menggema memecah keheningan malam. “Walaupun fisiknya lemah, telinganya tak runcing, dan tidak memiliki bakat apapun untuk menjadi penerus tahta. DIA TETAP PUTRAMU, JUNG YUNHO!”

Yunho tidak menjawabnya. Bahkan raja itu tidak membalas tatapannya.

“Kau marah karena insiden Siwon dan Sungmin setengah tahun yang lalu? Begitu?” tuduh Junsu tiba-tiba. Permaisuri itu melangkah maju, mengitari meja kerja raja lalu merunduk tepat di hadapan Yunho. “Kau menyalahkan Sungmin saat jelas-jelas putra sulungmu yang harusnya bertanggung jawab.” sindirnya pelan. Junsu berdecak di depan wajah raja, berharap hal itu akan membuatnya tersinggung dan membalas ucapannya. Namun tidak. Seperti patung, Yunho hanya membeku di tempatnya. Tidak bergerak atau balas menatapnya.

Hingga Junsu sadar apapun yang dikatakannya tidak akan mempengaruhi Yunho. Mungkin hati raja ini sudah berubah menjadi batu sejak kematian Jaejoong. Tapi hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membenci putranya sendiri, itu terlalu konyol.

“Aku akan mengunjunginya kapanpun aku mau. Dan kalau menurutku Sungmin tidak bahagia berada di sana, aku ingin putraku dikembalikan.” Junsu berbalik dan melangkah keluar. Tidak peduli kalau raja akan melarangnya. Ia memiliki pasukan untuk melindunginya berangkat ke Radourland hingga kembali ke Hviturland. Dan Siwon pasti tidak akan keberatan untuk menjadi salah satu pasukannya.

.

oOoOoOo

.

Kamar Putra Makhota sedikit hening siang itu. Hanya suara goresan-goresan pena dan helaan napas berat yang terdengar. Kyuhyun tampak serius mengukir sesuatu di atas kertasnya, menulis bermacam kata dan nama dalam aksara Radourland. Sedangkan Sungmin yang duduk di atas pangkuan Kyuhyun, mendesah berkali-kali dan memainkan pena miliknya tanpa memperhatikan pekerjaan Kyuhyun sama sekali. Terkadang pangeran muda itu menyandarkan kepala ke bahu Kyuhyun, mulai lelah dan merasa bosan. Panas napas Kyuhyun yang bertiup di tengkuknya juga membuatnya menggeliat, jengah.

“Hyuuung~”

Kyuhyun mengabaikan rengekan itu, matanya masih fokus menghadap lembaran kertas. Bukan miliknya, kertas itu milik Sungmin. Sejak seminggu yang lalu ia bertanggung jawab mengajarkan tata aksara negri ini pada teman kecilnya. Namun sepertinya, Sungmin bahkan tidak berminat untuk memperhatikan sama sekali.

“Lihat. Ini bentuk kata ‘Sa dan ‘Ta. Tambahkan garis miring di sisi kanan dan bunyinya akan berubah menjadi ‘Su dan ‘Tu, bulan sabit kecil di atas menjadi ‘Se dan ‘Te, lingkar kecil di tengah menjadi ‘So dan ‘To, atau beri ulat kecil di bawahnya dan bunyinya berubah menjadi ‘Si dan ‘Ti.” Kyuhyun menjelaskan dengan lembut, merangkul jemari Sungmin dan membimbingnya untuk menuliskan semua aksara yang baru disebutkannya satu persatu. Masih ada lima aksara lagi yang belum diajarkannya. Tapi setidaknya, menurut perhatiannya Sungmin sudah menghafal setidaknya tujuh atau delapan aksara.

“Seeeeh— Toooo—” gumam Sungmin ogah-ogahan. Sungmin memiringkan kepala dan berkedip malas, tangannya bergerak sesuai arahan Kyuhyun, bukan karena keinginannya sendiri.

“Sekarang coba eja namamu.” perintah Kyuhyun sembari menunjuk-nunjuk aksara ‘S dan ‘M, menyuruh pangeran kecilnya untuk menuliskan namanya di atas kertas.

“Sheng—Meeen—” Sungmin menjawab malas-malasan. Tangannya bergerak lemas dan mulai mengukir seakan tanpa tenaga, hingga tulisan yang dihasilkannya jauh berbeda dari milik Kyuhyun.

“Yah! Sungmin-ah! Kenapa tulisanmu sejelek wajahmu? Ulang lagi!” hardik Kyuhyun kesal. Ia kembali menggenggam tangan Sungmin agar bocah itu kembali menulis dengan benar, namun Sungmin justru menggeliat di pangkuannya. Bokong kecilnya bergesekan ke kanan dan ke kiri, mengusap paha Kyuhyun dan membuat Putra Mahkota itu terpaksa menggigit bibir. Tidak bisa memarahi Sungmin lagi.

“Tsk!”

“Hyung, lebih baik kita bermain. Kelinci atau permen awan!” seru Sungmin bersemangat, ia buru-buru meletakkan penanya dan berbalik menatap wajah Kyuhyun.

“Kemarin kau sudah bermain seharian. Sekarang waktunya belajar!” tegas Kyuhyun dengan nada kejam. Sungmin merengut, namun tentu saja ia tidak akan kalah dengan mudah.

“Please, hyung? Pleaaaaase?” Sungmin memegangi wajah Kyuhyun dengan kedua tangan mungilnya. Menatapnya dalam-dalam dengan mata yang berbinar-binar. Senyumnya mengembang, menunjukkan dua gigi putih yang menonjol di bagian depan. Biasanya ekspresi ini selalu berhasil membuat Siwon-hyung berhenti bekerja dan bersedia menemaninya bermain. Dan sepertinya, hal ini juga berlaku pada Kyuhyun-hyung.

Kyuhyun menelan ludah. Nyaris terkena serangan jantung saat Sungmin memegangi wajahnya dan memasang ekspresi yang—

“Y-yah! Aish.” Kyuhyun berdecih dan mengeluh, tidak rela mengalah demi bocah perayu ini. Karena itu Kyuhyun buru-buru membalik wajah Sungmin menghadap ke depan. Ia tidak ingin berlama-lama memandangi wajah putih cantik yang menggoda itu, atau jantungnya benar-benar akan berhenti berdetak.

“Hafalkan lima aksara lagi, kau boleh bermain kalau tulisanmu bagus.”

Sungmin merengut, mengayunkan kakinya dengan kesal.

“Jangan merengut, atau tidak ada permen awan untukmu.”

“HYUUUUUNG~”

“M-Min!” Kyuhyun mengeram, tubuhnya menegang saat Sungmin melonjak-lonjak di pangkuannya. Bokong kecil itu semakin menekan-nekan pahanya dan tanpa sengaja ikut menekan… bagian sensitif di antara selangkangannya. “Berhenti, Sungmin-ah!”

“Tapi kita berhenti belajar ya, hyung?”

Kyuhyun mendelik galak. Sebentar lagi… sahabat kecilnya di bawah sana akan terbangun. Dan kalau Sungmin tidak mau menurut juga, Kyuhyun bersumpah ia tidak akan segan-segan menjadikan pangeran kecil ini sebagai makan siangnya, atau melahapnya mentah-mentah di tempat ini. Tapi sepertinya keberuntungan masih berpihak pada Kyuhyun, karena seseorang tiba-tiba membanting pintu kamarnya dan menghambur masuk, menyela usaha Sungmin yang baru akan merayu Kyuhyun lagi.

Sungmin berjengit kaget mendengar suara pintu yang membanting terbuka, pangeran muda itu langsung terdiam. Ekspresinya berubah ketus sesaat setelah dilihatnya seorang wanita masuk ke dalam kamar dengan begitu lancang.

“Kyuhyun-ah!” seru wanita itu sembari terengah-engah, tampaknya ia berlari jauh dan tidak sempat mengetuk pintu sebelum masuk.

Kyuhyun buru-buru menurunkan Sungmin dari pangkuannya, jujur saja merasa malu karena kini salah satu kakak perempuannya terlanjur memergokinya tengah memangku Sungmin.

“Ah, ya? Sooyoung—” Kyuhyun belum selesai menjawab saat Sungmin tiba-tiba berteriak menyelanya.

“YAH!”

Pangeran dan Putri Radourland itu sama-sama mendelik kaget. Sungmin berkacak pinggang dan mengangkat wajahnya angkuh. “Siapa yang mengizinkanmu masuk?”

“W-wa?” Sooyoung tergagap, menunjuk Sungmin dengan wajah memerah marah, terlalu terkejut dan hanya bisa melotot begitu lebar hingga matanya seakan nyaris menggelinding keluar dan terpisah dari wajahnya.

Kyuhyun juga termangu. Ia hanya bisa melihat punggung Sungmin dan tidak sanggup mengatakan apapun. Terlebih saat Sungmin membuka mulutnya lagi dan melemparkan hardikan yang begitu kasar.

“Dasar jalang tidak tahu sopan santun!”

Kyuhyun tidak pernah tahu kalau anak sepolos Sungmin bisa mengumpat sekasar itu.

“PERI SIAL! KEMARI KAU! BIAR KUCABIK TUBUHMU DAN KUPATAHKAN TULANGMU!” Sooyoung sudah bersiap untuk mencengkeram leher rapuh itu, mengoyaknya hingga remuk dan melahapnya saat itu juga. Namun sial, Kyuhyun bergerak lebih cepat dan melindungi Sungmin di belakang tubuhnya.

“Noona, hentikan!” Kyuhyun merentangkan tangannya dengan panik, menahan serbuan Sooyong yang kini ikut mengumpat-umpat dan bernafsu meraih tubuh Sungmin.

“Berikan bocah itu padaku, Kyuhyun! Kau dengar sendiri apa yang baru saja diucapkannya!”

“Keluar dari kamarku sekarang, noona. Tinggalkan kami.” Kyuhyun mendorong-dorong Sooyoung keluar, ia terus memancing kakaknya agar balas menatap matanya. “Biar aku yang menghukumnya, kumohon.” desis Kyuhyun penuh tekanan begitu mata mereka bertemu. Pupil perak Sooyoung yang awalnya berkilat-kilat, perlahan memudar dan kembali menghitam. Napas wanita itu berubah tenang, namun tulang rahangnya tetap tampak menegang dan wajahnya masih dipenuhi emosi.

“Appa memanggilmu sekarang. Tapi kalau kau ingin mengulur sedikit waktu untuk menghukum bocah sial itu,” Sooyoung mendorong adiknya lalu melangkah mundur. “Biar aku yang bilang pada Appa.”

Kyuhyun hanya mengangguk, bersiap menutup pintu kamarnya saat Sooyoung menggunakan kesempatan terakhirnya untuk mendesis ke arah Sungmin. “Awas kau, peri sial.”

BLAM

Kyuhyun segera mengunci pintu kamarnya. Pangeran itu menunduk, menghela napas dalam-dalam sebelum berbalik.

“Kenapa kau lakukan itu, Sungmin-ah?” bisik Kyuhyun, mencoba bersabar.

Sungmin tidak menjawab, bocah itu justru memalingkan wajah dan melangkah mundur. Seperti seorang anak yang tertangkap basah mencuri permen, Sungmin menelan ludah gugup, dua tangannya bergetar di balik punggung. Tidak, kenapa Kyuhyun-hyung memandangnya seakan ia berbuat salah? Sungmin selalu membentak pelayan istana saat ia kesal. Dan belum pernah ada seorangpun yang marah, bahkan sang Umma.

Kyuhyun memicingkan mata, ingin merasa iba. Namun hatinya sudah penuh dengan rasa kecewa. Di satu sisi ia merasa gagal menjadi guru bagi Sungmin-nya.

“Kau harus meminta maaf padanya nanti malam.” Kyuhyun memijat keningnya, lelah dan ingin mengalah. Namun saat Sungmin justru makin mendongak angkuh dan berseru lantang,

“Tidak mau!”

Cukup. Kesabaran Kyuhyun sebentar lagi akan melewati batasnya.

“Sungmin-ah!” Pangeran itu melotot marah dan sekejap kemudian, ia sudah berdiri tepat di hadapan Sungmin. Bocah itu balas menatapnya angkuh, meski bibirnya sedikit gemetar. Tubuhnya terantuk dinding dan ia tidak bisa mundur lagi.

“TIDAK MAU! TIDAK MAU! TIDAK MAU! Aku pangeran dan hanya orang-orang kalangan bawah yang meminta maaf!” Sungmin berteriak sembari memejamkan matanya, berniat untuk ngotot namun tidak berani menatap wajah Kyuhyun lebih lama.

“Uh!” Kyuhyun menyentak, mengangkat tangan dan nyaris menampar wajah putih Sungmin. Namun melihat wajah itu berpaling gemetaran, tangan Kyuhyun hanya sanggup melayang di udara. Kyuhyun menelan ludah, berusaha memulihkan emosinya dengan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan tenang.

“Siapa yang mengajarimu begitu?” Kyuhyun berbisik kecewa. Wajahnya makin mengeruh. Bocah yang berdiri setinggi dadanya itu tidak menjawab, ia masih terus memejamkan matanya rapat-rapat dan bahunya sedikit gemetar.

Namun Kyuhyun menolak untuk membiarkan hal ini, Sungmin perlu diajarkan sopan-santun selayaknya keluarga bangsawan. Dan kalau keluarga kandungnya terbiasa memanjakan bocah ini, Kyuhyun tidak akan melakukan hal itu disini karena Sungmin-nya hanya akan tumbuh semakin kurang ajar.

“Kemari!” Kyuhyun menarik lengan Sungmin dan menggiringnya ke depan ranjang, sebisa mungkin mengabaikan ringisan Sungmin yang sempat membuat hatinya berdesir. Kyuhyun duduk di pinggir ranjang, lalu menarik kedua bahu Sungmin agar pemuda itu berdiri tegap tepat di hadapannya.

“Kau harus belajar mengucapkan Mianhae.” tegas Kyuhyun sembari mendongak, menatap Sungmin tajam namun bocah itu justru memberontak, menghempas kedua tangan Kyuhyun agar melepaskan bahunya.

“Ung!” Sungmin menggeleng kukuh. Tetap ngotot pada pendiriannya bahwa kata ‘maaf’ itu tidak pantas diucapkan olehnya.

“Sungmin-ah!” bentak Kyuhyun emosi, ia menarik dagu Sungmin dengan kasar dan memaksa pemuda itu untuk membuka matanya. Tidak peduli lagi kalau mata Sungmin mulai berkaca-kaca dan bibir mungilnya gemetar.

“Katakan Mianhae sekarang.” paksa Kyuhyun setengah tak sabar, merasa tidak tega namun melihat Sungmin yang dengan sengaja makin membungkam bibirnya rapat-rapat… Kyuhyun benar-benar kesal sekarang.

TAK!

Kyuhyun menjentik kening Sungmin hingga kepala mungil itu terhuyung ke belakang. Bocah itu sempat shock, matanya membulat lebar dan begitu menyadari apa yang baru saja dilakukan Kyuhyun…

“H-hiks!” Sungmin menggigit bibirnya yang gemetar, memegangi tengah keningnya yang terasa nyeri. Airmatanya mulai meleleh setetes demi setetes, terlebih saat Kyuhyun mendelik marah dan bersiap untuk menjentik keningnya lagi. “H-hiks— HUWAAAAAA!”

Gigi Kyuhyun gemertak beradu, di dalam hati ia tengah berunding sendiri. Untuk luluh atau tetap mempertahankan sikap tegasnya. Tapi akhirnya rasa tanggung jawabnya terhadap Sungmin yang menang. Pangeran manja ini tidak akan keluar dari kamarnya sampai ia berjanji akan meminta maaf pada Sooyoung.

“Ucapkan maaf, kubilang!” paksa Kyuhyun sembari mengguncang lengan Sungmin dengan kasar, ia mulai khawatir akan meninggalkan bekas merah di tangan ramping itu. “KatakanMianhae, Sungmin-ah!”

Tangis Sungmin mengencang, namun hal itu justru tidak membuat Kyuhyun bersimpati. Kyuhyun menarik Sungmin dan memaksa bocah itu duduk di atas pangkuannya. Ia memeluk perut ramping itu erat-erat, lalu mengangkat tangan lagi dan bersiap akan menjentik kening Sungmin yang sudah memerah di tengahnya.

“Cepat katakan Mianhae! Atau kupukul lagi keningmu!” ancam Kyuhyun sembari menghentak-hentak kedua kakinya, mengguncang tubuh Sungmin yang gemetaran di atas pangkuannya.

“Hiks…” Sungmin meringis, melindungi keningnya dengan kedua tangan dan memejamkan mata erat-erat. Masih belum berniat menuruti keinginan Kyuhyun.

“Aish, kau ini—”

TAK! TAK!

Kyuhyun menjentik kening Sungmin dua kali berturut-turut, dan ikut menghasilkan jerit tangis yang memekik dua kali lipat pula.

“HUWAAAAA!” Sungmin meraung, refleks memeluk dan memendam wajahnya ke dada Kyuhyun. Tubuh itu menggigil, ketakutan setengah mati. Wajahnya juga basah, dan kini ikut membasahi pakaian Kyuhyun. “H-hyung! Hyung!” pekiknya terisak-isak.

“Hah.” Kyuhyun menghela napas lelah, membiarkan bocah itu menangis sembari memeluknya erat-erat. Ia sudah tidak sanggup lagi melanjutkan hukuman untuk Sungmin, namun di saat bersamaan… Kyuhyun mendengar bisik kecil dari bawah dagunya. Suara berbisik yang bercampur dengan isak tangis.

M-mianhae…” Sungmin mencengkeram jubah Kyuhyun, suara yang keluar dari bibirnya terdengar serak. “Mianhae, Kyuhyun-hyung. Sakit, jangan pukul lagi— hiks…”

Kyuhyun tercekat, selama sesaat merasa terlalu kaget untuk mengatakan apapun. Sungmin terus terisak, mengulang kata Mianhae berkali-kali dan memohon untuk tidak dihukum lagi. Hingga tatapan Kyuhyun melembut, dan pangeran itu balas memeluk Sungmin sembari mengecup pucuk kepalanya.

“Ne, sudah-sudah. Apa kau menyesal sekarang?”

Sungmin mengangguk cepat-cepat.

“Berjanji untuk minta maaf pada Sooyoung-noona dan tidak akan mengulanginya lagi?”

Sungmin mengangguk lagi, kedua tangannya jatuh terkulai dan pemuda itu hanya mampu bersandar lemas di tubuh Kyuhyun.

“Bagus.” Kyuhyun menghela napas dan mengusap punggung Sungmin dengan sayang. Tangis bocah itu sudah mereda, berganti dengan suara isak samar yang perlahan-lahan ikut menghilang.

Beban tubuh Sungmin yang bersandar di dadanya semakin memberat, suara napasnya juga terdengar tenang. Kyuhyun menyadari kalau bocah itu sudah jatuh terlelap sesaat tadi.

Namun Kyuhyun tetap duduk memangku Sungmin disana. Sejenak, pikirannya berkelana kemana-mana. Tentu saja Kyuhyun ingat dengan pesan Sooyoung. Sang appa memanggilnya. Dan ada apa gerangan, sang ayah memanggilnya di akhir pekan seperti ini? Ada kekhawatiran kecil muncul dalam benaknya, tapi Kyuhyun dengan cepat menghapusnya. Tidak, ayahnya pasti akan memberikan kesempatan lebih lama. Untuk Sungmin agar pangeran manja ini lebih bisa beradaptasi dan menerima lingkungan barunya.

Kyuhyun mengecup kepala Sungmin sekali lagi, sebelum memutuskan untuk membaringkan tubuh itu ke atas tempat tidur. Kali ini dengan kesadaran penuh, Kyuhyun menyelimuti Sungmin dan kembali mengecup keningnya. Meski tetap ada pergulatan dalam hatinya, Kyuhyun mengakui… Ia mulai menyayangi pangeran kecil ini.

“Jangan kemana-mana, Sungmin-ah.” bisik Kyuhyun lembut, merasa bodoh karena berbicara pada sosok yang terlelap. Ia melangkah, membuka pintu kamar, memandang Sungmin sekali lagi sebelum menutup pintu dari luar.

BLAM.

Sosok Kyuhyun menjauh, tanpa menyadari sama sekali bahwa sejak tadi, dua orang pelayan tengah bersembunyi di balik tiang, di lorong kanan sebrang kamarnya.

“Cepat bodoh!” bisik salah satunya sembari mendorong-dorong rekannya untuk bergerak.

“Sabar, Junho-sshi!” cicit orang itu sembari melotot marah, tidak terima temannya mendorong-dorong tubuhnya dengan paksa.

Keduanya bergerak, mengendap mendekati pintu kamar Kyuhyun. Melirik kesana kemari mengawasi orang-orang yang berlalu lalang. Lalu setelah yakin tidak ada yang melihat mereka, keduanya segera menyelinap masuk dan kembali menutup pintu kamar Kyuhyun.

“Astaga. Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar Pangeran. Whoaaa—”

“Ssst! Kau norak sekali. Eh, ngomong-ngomong, kau mencium bau ini, tidak Chansung-sshi?” Junho mengendus-endus kamar Kyuhyun. Matanya terpejam lalu senyumnya berkembang, bau harum ini berasal dari balik ranjang. Tapi sebelum Junho sempat melangkah mengikuti instingnya, Chansung sudah menempeleng kepalanya lebih dulu.

“Yah! Kau cium bau apa, hah? Cepat pakai ini!” Chansung menyodorkan sebuah penjepit kecil, lalu menunjukkan wajahnya sediri yang sudah menggunakan satu penjepit untuk menghimpit lubang hidungnya.

“Hahahaha, suaramu aneh, Chansung-sshi.” Junho mengenakan penjepit itu dan wajahnya sontak memerah. “PUAH! Aku tidak bisa bernapas!” ujarnya panik sembari buru-buru melepaskan penjepit itu.

“Yah! Gunakan lagi! Bernapas dengan mulutmu bodoh! Kau tidak ingin leher kita dipenggal raja, kan?” hardik Chansung sembari menjepit hidung rekannya. Junho menggeleng-geleng takut.

“Kalau begitu cepat keluarkan minyaknya dan segera laksanakan tugasmu!”

“Siap!” Junho memberi hormat lalu tertawa-tawa. Chansung hanya menggeleng-geleng heran, membiarkan rekannya melangkah mendekati ranjang. Ia sendiri segera mengeluarkan dua bungkusan yang terlindung di dalam sakunya. Berisi sebatang lilin yang dipasangkan dengan korek api, lalu sebulir coklat yang dibungkus rapi dengan kertas.

“U-uwaaah, lihat tubuh mulusnya ini, Chansung-sshi. Pantas saja Pangeran betah berlama-lama berada di kamar bersamanya.” Junho berdecak kagum saat disikapnya pakaian Sungmin.

“Sssh! Jangan berisik, Junho-sshi. Selesaikan pekerjaanmu dan pastikan kau tidak melakukan hal yang lain.” hardik Chansung sembari membuka bungkusan coklat di tangannya. Ia menyusupkan coklat itu ke dalam mulut Sungmin, mendorong-dorongnya dengan jari lalu menggerak-gerakkan dagu Sungmin agar benda itu lumat di dalam sana.

Sedangkan Junho hanya bersungut-sungut. Tangannya bergerak gesit, mengoleskan minyak ke seluruh bagian perut, dada, dan leher Sungmin. Tubuh putih yang dikagumi Junho itu untuk sesaat tampak basah dan lengket karena olesan minyak, namun dalam sekejap, kilap minyak itu menghilang seakan tertelan di balik pori-pori kulit dan tubuh mulus itu kembali tampak normal seperti sebelumnya.

Sungmin menggeliat tak nyaman, mengejutkan Junho dan Chansung yang sama-sama saling melempar pandang dan berhenti bergerak. Keduanya membeku sesaat, dan akhirnya bisa bernapas lega saat Sungmin kembali terlelap setelah mengubah posisi tidurnya.

“Kalau pangeran sampai tahu kau memegang-megang tubuh calon istrinya…” lanjut Chansung dengan suara yang makin mengecil. Ia mengangkat tangan ke depan tengkuknya, lalu berpura-pura menggorok lehernya sendiri. “HEKKK! Lehermu akan menggelinding di atas tanah besok pagi.”

“H-hiiiy!” Junho bergidig ngeri. Buru-buru dirapikannya pakaian Sungmin dan kembali diselimutinya pangeran muda itu. “A-aku sudah selesai, Chansung-sshi. Ayo kita keluar!”

“Sebentar.” Chansung membungkuk, menyalakan lilin di tangannya sembari menahan napas kuat-kuat. Ia meletakkan lilin itu tepat di bawah ranjang, sedikit menjorok ke tengah agar sinar kecilnya tak tampak dari luar.

“L-lagipula untuk apa sih, minyak, coklat, dan lilin ini?” Junho yang ketakutan, sudah berdiri di belakang pintu. Siap keluar kamar.

“Aku juga tidak tahu. Yang penting kita sudah melaksanakan perintah raja. Ayo, pergi!”

.

oOoOoOo

.

Kyuhyun memasuki bangunan khusus raja yang terpisah dan dikawal ketat oleh penjaga. Matahari sudah mulai tenggelam dan langit menggelap. Ia berjalan cepat di koridor itu kemudian berhenti di depan pintu ruang utama. Kyuhyun sempat terdiam ragu mengingat kejadian dua minggu lalu. Putra tunggal itu merinding jijik membayangkan jika dia akan menyaksikan hal yang sama seperti waktu itu sehingga dia memutuskan untuk tidak menerobos masuk langsung seperti itu lagi.

“Appa, ini Kyuhyun. Aku mau bicara.” Dia menunggu dengan tidak sabar setelah memanggilnya dan mondar-mandir di depan pintu itu.

Di dalam ruangan, Kangin memang sedang bermanja-manja dengan permaisurinya. Dia sedang berbaring di pangkuan Jungsu yang sedang membelai rambutnya sebelum suara Kyuhyun terdengar di depan sana. Jungsu langsung tegang dan hampir menjatuhkan kepala Kangin saat mendengar suara sang putra mahkota itu. Kangin terkekeh mendengarnya lalu melirik ke arah permaisuri cantiknya.

“Heheheee… Sepertinya dia sudah sedikit belajar sopan santun, Jungsu-ah.”

Namun Jungsu justru balas menatapnya dengan wajah cemas.

“Youngwoon, pergilah temui dia. Nanti dia kesal lagi…”

Kangin menaikkan sebelah alisnya.

“Mwo? Memangnya yang raja siapa? Dia atau aku?” Sesaat, Kangin sama sekali tidak menunjukkan niatnya untuk beranjak.

“Appaaa.” Suara Kyuhyun terdengar lagi, semakin tidak sabaran. Jungsu tampak makin tak tenang sembari sesekali melihat ke arah pintu. Ia melonjak, dan nyaris menjerit kaget saat Kangin tiba-tiba menggigit perutnya.

“Youngwoon-ah!” Desisnya marah dengan wajah memerah.

“Kau terlalu memikirkannya. Sudah, acuhkan saja anak tidak tahu diri itu. Aku cemburu.” Raja itu memasang wajah merajuk yang hanya ia tunjukkan kepada orang ini saja, hanya di depan permaisurinya ini. Jungsu tersenyum, menunjukkan lesung pipinya.

“Apa yang kau cemburukan? Aku kan selalu disini bersamamu?”

“Tapi aku kan tidak tahu pikiranmu berada dimana. Chagiya, kau itu milik siapa?”

“Tentu saja aku hanya memikirkanmu… Aku sepenuhnya milikmu, Youngwoon-ah.”

“Oh ya? Kau milikku?” Kangin bangun dan menatap Jungsu sembari mengelus pipinya yang halus.

“Kalau begitu boleh aku membuktikannya nanti malam?” Bisiknya nakal. Wajah Jungsu memerah, namun senyumnya merekah.

“Aku akan menunggumu di kamar.” Jungsu mengecup bibirnya dengan lembut.

“Pergilah, temui anakmu.” Kangin terkekeh dan beranjak keluar, hatinya berbunga-bunga.

“Yah. Kenapa lama sekali sih?” Kyuhyun cemberut melihat ayahnya akhirnya keluar, menggunakan baju santai—tidak formal dengan mahkota dan jubah tebal seperti biasanya.

“Mwo? Kau berani membentakku Kyu?” Mata Kangin melebar. Kyuhyun menggerutu kecil, merasa kesal sekaligus takut.

“Aniya… Tapi kenapa lama sekali? Sedang apa kau tadi—ah, lupakan. Jangan jawab pertanyaanku barusan.” Otak Kyuhyun mulai membayangkan hal yang tidak-tidak. Kangin menyeringai melihat tingkah putranya.

“Ada apa appa memanggilku?”

Kangin melirik Kyuhyun, tidak langsung menjawabnya.

“Hmm… Kita bicarakan di ruang depan. Kau tidak mau menceritakan tentang keadaan Sungmin akhir-akhir ini? Bagaimana kabar anak itu?” Kangin bertanya sembari merangkul bahu Kyuhyun, menggiring putranya untuk ikut melangkah.

Kyuhyun balas melirik Kangin, sedikit merasa enggan membicarakan Sungmin pada ayahnya. Tapi tiba-tiba ia teringat kejadian beberapa hari yang lalu di halaman istana. Saat Sungmin nyaris diserang kuda liar, dan bagaimana ia melindungi bocah itu. “Aku juga punya sesuatu yang ingin kubicarakan, appa. Tapi—”

Kyuhyun melirik ke belakang, lalu menunduk. Berpikir sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya,

“Appa, permaisurimu tidak akan membawakan minuman, kan?” tanya Kyuhyun sembari melirik ke belakang. Kangin menaikkan sebelah alisnya dan menoleh.

“Memangnya kenapa?”

“Aish, kau kan sudah tahu aku tidak suka bertemu dengannya!” Jawab Kyuhyun kekanakan, balik mengeluh pada ayahnya yang memasang wajah serius. Seakan tidak senang mendengar ucapan Kyuhyun barusan. Diam-diam, Kyuhyun menyesal. Rasa bersalahnya terpancar lewat ekspresinya yang perlahan menyendu.

Ayah dan anak itu melangkah dalam diam, hingga mereka mencapai ruangan itu dan mengambil posisi duduk di tempatnya masing-masing.

“Lalu, tadi apa yang mau kau bicarakan?” Kangin tidak tampak seceria tadi.

“Umm… Se-sepertinya Sungmin memiliki sihir penyembuh. Appa sudah tahu hal ini?” Kyuhyun mulai berbicara, lalu menunduk berpikir, sedikit ragu.

“Hmmm… Tidak. Yunho tidak menjelaskan hal lain mengenai anak bungsunya selain yang telah kuceritakan kepadamu.”

“Lagipula, sejak lahir Snowelf memang dianugerahi kemampuan sihir. Mungkin memang itu kelebihan Sungmin. Ada apa? Apa terjadi sesuatu, hm?” mata cokelat Kyuhyun bertemu dengan pupil gelap ayahnya yang teduh, membuatnya semakin merasa gugup melihat perubahan mood raja itu.

“O-ooh… Tidak ada. Kukira appa sudah mengetahuinya.” Kyuhyun bingung mau membicarakan apa lagi. Kangin juga tidak mengatakan apa-apa. Keduanya tenggelam dalam keheningan hingga Kyuhyun tiba-tiba berdehem dan beranjak dari tempat duduknya.

“Ehm… Sebaiknya aku pamit dulu…” Kyuhyun sudah berbalik, namun langkahnya tertahan saat tiba-tiba sang ayah memanggilnya lagi.

“Sebentar, Kyuhyun-ah. Kau lupa kalau aku yang memanggilmu kemari?” ujar Kangin tiba-tiba. Kyuhyun berbalik, keningnya mengerut namun samar di balik kausnya yang tebal, jantungnya berdegup kencang.

“…Ya?”

“Appa ingin kau menandai Sungmin, malam ini.”

Kyuhyun mendelik mendengarnya, degup jantungnya berpacu makin cepat. Wajah serius sang raja membuatnya makin gugup. Lagi-lagi sang ayah membahas topik yang paling dibencinya itu. Kyuhyun menelan ludah, memalingkan wajahnya dan menolak menjawab perintah itu.

“Aku sudah mendengar dari pengawal kerajaan tentang insiden dua minggu yang lalu, lalu seminggu yang lalu, dan tiga hari yang lalu. Sungmin diserang makhluk kerajaan lagi kan?”

Kyuhyun mendengus. “Appa! Harus berapa kali kubilang, aish!” keluhnya sembari memijat kening. “Dia baru 14 tahun! Kau serius ingin menurunkan derajatku?! Membuatku terlihat begitu rendah dengan memaksa meniduri bocah itu! Aish! Tunggulah beberapa tahun lagi!”

“Kyuhyun, selama dia berada di sini, bahaya akan terus mengincar Snowelf itu. Suatu hari jika kau pergi keluar kerajaan, belum tentu kau akan menemukan dia menunggumu dalam keadaan sehat dan hidup seperti biasanya. Tidak ada tempat yang aman di Radourland untuk Snowelf kecil itu Kyuhyun, bahkan di kamarmu. Dan kita tidak mungkin mengembalikan dia ke Hviturland.”

“Ta-tapi—”

Kangin benar-benar tidak memberikan Kyuhyun kesempatan untuk membantah.

“Nyawa Sungmin sudah tiga kali terancam. Jangan sampai ini terjadi untuk keempat atau kesekian kalinya. Kau tahu kan Kyu, makhluk dan anggota kerajaan memiliki kemampuan untuk membedakan demon yang ada di sekitar mereka, terutama keluargamu. Kau tidak ingin terjadi apa-apa padanya, kan?”

Kyuhyun menelan ludah, ayahnya sama sekali tidak bercanda kali ini.

“A-t-tapi aku… Dia tidak terluka, Appa. A-aku—aku ada disana.” Kyuhyun tergagap menjelaskan.

“Kyuhyun, sampai kapan kau akan berada terus di sampingnya? Sebagai calon raja berikutnya, kau yakin akan berada di sampingnya setiap saat setiap detik?”

Kyuhyun tertunduk diam, tidak bisa menjawab tantangan itu.

“…Sekarang saja kau tidak bersamanya kan?” Putra mahkota itu tersentak dan menatap ayahnya dengan cemas. Ia dapat melihat seringai kecil di bibir Kangin yang hampir tak terlihat oleh orang lain.

Sial, ayahnya sedang merencanakan sesuatu. Sesuatu yang mungkin tidak disukai oleh Kyuhyun.

“Appa?! Sungmin—” Kyuhyun bahkan tidak tahu harus menanyakan apa.

Kangin tidak menjawab, ia hanya memandang Kyuhyun penuh arti dengan seringai yang semakin melebar. Kyuhyun merutuk di bawah napasnya dan segera bergegas keluar dari ruangan itu.


.

oOoOoOo

tebeseeeeeh!

oOoOoOo

.


 

21 thoughts on “Cursed Crown | Chapter 4

  1. sha says:

    itu tadi bedua ngapain coba.. kkk~~~

    si appabear licik amat dah.. kayaknya watak dia banget /dibunuh Kangin/ kkk~~~
    lanjut lanjut.. pokoknya lanjuuuut😀

  2. Yunho segitu bencinya ama Ming sampai gak peduli gtu ma kselamatan ming~~eh itu ming bisa nyembuhin patah tulangx Kyu brarti dia punya kekuatan dong,,hmmm,,,
    tuh makhluk dua suruhan appa Kangin ngapain tuh,,jangan”………jadi penasaran pengen baca next chapx,,,lags cusss aj klo gtuu,,,keren bgt sist ceritax ^___^

  3. Yool LeeMinmin says:

    Pantesan aja Siwon punya perasaan khusus ke Sungmin #asik ada Simin🙂
    Itu kudanya siwon yang bisa terbang ngingetin aku sama Harry Potter, ini setting-an tempatnya hampir kaya HP juga kayanya ya?
    Junsu sayang banget sama Sungmin padahal bukan anaknya, duh penasaran juga itu Sungmin bapaknya sapose?

  4. kyuma0403 says:

    sebenernya Ming itu anak siapa ya??
    Ming punya kekuatan penyembuh?? dia sadar apa g ngelakuin itu??
    Siapa ya yg ngajarin MING g mau ngucapin maaf?? koq smp segitunya?? biasanya Ming kn anak yg baik??
    Kenapa Kyu benci bgt sma leeteuk?? dia kn baik…😦
    apa yg dilakuin KangIn ke Ming??

    lanjut chingu…>>

  5. Lee Min Chan says:

    Wakkk~
    Kang In ngebet bget . Pgen Kyu cpet” nandai Ming . . -_-
    ming itu sbenernya anaknya Jae sma siapa un ?? O.o

  6. cursed crown harus cepet2 di lanjuutt! Suka bgt ama ff inii..😄
    chap dpan kyu harus udah nandain ming ya? pokok nya harus ama kyu, gak blh ama siwon! Btw bneran tug donghae blh diambil? Aduh makasih.. *senyum malu2

  7. Ahrin says:

    hahahha, kapok lu evil.. cemas sndiri kan sma sungmin… itu sungmin d apaain sih? jd penasaran…
    daebaaak nih crita… author.y jjang..(y)
    lanjuuuuuut >,<

  8. vyan says:

    pengen lanjut….udah ga sabar pengen baca lagi…
    jd penasaran ama bapanya sungmin n cerita jaejong n yunho..
    terus itu sungminnya diaapain sih…apakah sungmin setengah manusia setengah peri dgn kekuatan penyembuh???
    cepetan lanjut ya sun..

  9. stevani says:

    Sungmin diapain ntu..

    Critain flashback na ming dong, dia anak siapa?
    Masa JJ slingkuh dr yunnie na..
    Kekekekekke

  10. shanty kyuminnie arashi says:

    Ternyata sungmin itu bukan anak kandungnya yunho…. beneran ya????
    Tp kan sungmin itu anaknya jaejoong…
    Masih bingung saya knp segitu bencinya yunho sama sungmin…

    Ooohhhhh…. ternyata siwon punya perasaan khusus sama ming…. karena dia tau ming itu bkn adik kandungnya…
    Trus bneran tuh dia mau bwa pulang sungmin???

    Ming sama kyu dh makin deket… dan kyu kyanya bener2 dh punya perasaan lebih sama ming…
    Tp ming kan masih anak2 dan dia pasti anggap kyu kya hyungnya sendiri… kya siwon lah…

    Apa kyu berani tandain ming sekarang???
    Penasaran…
    Lanjut ahhhh…..

  11. Rhaya says:

    Ngakak nya pas bagian junho sama chansung..
    Ribet deh ya? Jd mreka brdua..😀
    minyak buat apa itu?😮
    yunho juga, kenapa kyak ny dia benci ama sungmin?
    Sama anak sndri aja kyak gtu..😦
    apa gara2 jaejoong?😮

    go to next chapter

  12. ternyata ada jaejoong umma juga toh.. yah galau deh tuh si yunho appa..
    ahaii hubungan kyumin makin kemari makin” aja ya. aduh ada siwon oppa jua nih wop let we see . see you in next chap kakak hoho

  13. 010132joy says:

    Yunho benci bgt sma ming sampe tega buang ming, itu bneran y ming bukan anaknya jaejong sma yunho? Trus siapa ayahnya donk klo bukan yunho
    owh hyung yg punya hubngan terlarang sma ming wonwon trnyata hehe ada simin tp kok won jd kya jerumusin ming y kn adenya masih polos bgt
    sikap ming buruk gra” trlalu dmanja nih kn jdi ngmongnya kasar ga bagus ah
    kyu yg jd guru buat ngerubah kbiasaan buruk ming kkk
    itu apa yg drencanain kangin appa sma ming, ck bner” licik sma ga mau tau pake cra apapun asal dpet cucu laki2 ckck
    lanjut bacaaaa …

  14. Ooh ternyata umin itu anak jaejoong tapi bukan anak kanfung yunho. Pantesan yunho gak suka sama umin. Ya ampun uminnya manja banget yaa. Oiya itu chansung sama junho ngapain tu?? Oke min aku lanjut baca yaa

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s