Kitty-Kitty Baby! – Flashback Part 1

Aku sudah tidak sanggup lagi, Seunghyunnie… Kita putus saja. Jangan cari aku lagi.” Suara pesan yang tertinggal di telpon itu berbisik, serak. “Mianhae, jeongmal mianhae…” Diakhiri dengan suara ‘klik’ dan semua memang benar-benar sudah berakhir.

Sedang sosok sang penerima pesan, hanya mampu berdiri. Tertegun memandangi liuk telpon yang tergeletak di atas meja, di dalam kamar gelap yang dingin. Di dalam kamarnya yang seminggu lalu menjadi neraka bagi pertengkarannya dengan sang kekasih –Goo Hara. Di dalam kamarnya… Yang seterusnya akan sunyi dengan dirinya sebagai satu-satunya penghuni.

“Hah –haha…” tawa itu datar bergema. Seolah mengejek senyap yang mencekamnya dalam kesendirian.

Kita putus saja. Jangan cari aku lagi.’

Dan sosok itu jatuh berlutut, memandangi kilau gagang telponnya dengan ekspresi tidak percaya. Begitu mudahnya Goo Hara mengatakan kata ‘usai’ setelah empat tahun yang mereka lalui bersama. Setelah masa-masa indah yang terselingi emosi. Setelah melalui berbagai tawa dan airmata. Bersama pertengkaran, tamparan, pukulan, permintaan maaf, bercinta, dan ciuman-ciuman hangat. Setelah segala pengorbanan yang ia berikan untuk wanita itu. Begitu mudahnya—

“Wanita jalang!” raung Seunghyun kalap. Ia menyambar telpon itu dan membantingnya hingga hancur, disusul dengan meja mungil dan lampu yang turut remuk menghantam dinding setelah dihempasnya dengan satu tangan. Tidak terasa lagi nyeri dari memar tangan yang baru saja menghempas meja. Seketika itu, Seunghyun kehilangan indra pendengarannya. Deting kaca lampu dan suara retak memilukan tidak sedikitpun membuatnya bergeming. Yang dilihatnya hanya merah, yang terdengar hanya suara wanita jalang itu—

Aku sudah tidak sanggup lagi, Seunghyunnie…

Seunghyun meringis, dua bulir airmatanya jatuh. Disaat bersamaan emosinya justru semakin membuncah. Sembari menekan dadanya, tidak bermaksud mengatur napas yang memburu liar, Seunghyun berputar. Mengamati sekeliling kamar, berusaha mencari sesuatu yang entah apa itu. Namun tetap, yang terlihat hanya merah.

“AAARRRRGGGH!”

Dimulai dari meja rias, cermin, isi lemari, hingga tempat tidurnya. Seunghyun menghancurkan segalanya, mencabik dan menghempas semua yang bisa tertangkap oleh indera matanya. Semua yang tampak utuh, harus ikut lebur seperti hatinya.

“Kenapa?” Seunghyun terpekur, bertanya pada kesunyian kamar. Satu-dua bulir airmata itu kini sudah berubah menjadi derai. “Kenapa?” tanyanya lagi dengan suara serak. Setelah kedua orang tuanya, adik perempuannya, dan kini—

Kekasihnya. Satu-satunya orang yang ia puja di dunia ini…

Kenapa tak seorangpun mau bertahan untuknya?

“KENAPA! JAWAB AKU GOO HARA!”

.

oOoOoOo

.

Suara musik bergulir menghentak-hentak. Irama funk bercampur elektro yang teraransemen ulang seolah menghipnotis orang-orang untuk ikut menari di bawah kerlip lampu pub. Hampir semua orang bersenang-senang. Menari, mariyuana, koktail, berciuman, bercinta, dan segala kenikmatan dunia yang hanya ada di bawah gemerlap dunia malam. Namun seseorang di antaranya, tidak ikut terlibat di dalam kesenangan itu. Meski ia duduk di tengah sana bersama gelas dan botol-botol Tequila, tidak ada seorangpun yang menemaninya. Hanya sekilas ia mengawasi kerumunan orang-orang yang menari, sebelum kembali tenggelam dalam lamunannya sendiri. Saat-saat ia tergugah untuk bergerak, hanyalah saat ia tersadar bahwa seluruh botol alkoholnya telah habis.

Tanpa mengatakan apapun, ia hanya akan mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan membanting gelas hingga hancur berserakan di lantai. Hanya dengan begitu, satu atau dua menit lagi seorang bartender akan datang dengan sendirinya. Membawakan botol-botol baru berisi Tequila, Vodka, atau jenis apapun yang bisa mengalihkan pikirannya hari ini.

Namun sepertinya, bukan bartender yang datang mengantarkan pesanannya.

“Yo, Seunghyun-ah. Berhenti menghancurkan barang-barang.”

Seunghyun mendengus. Meski matanya tidak fokus, ia bisa melihat satu botol vodka diletakkan di hadapannya. Tanpa mendongak pun ia tahu siapa orang ini. Sembari menghisap cerutu berisi ganja yang tergiling halus, orang itu ikut duduk bersama dua mutan wanita yang didekapnya erat di kanan-kiri. Pemadangan yang biasa terlihat dari Choi Woohyuk, pewaris tertua dari Choi Corp.

“Diam.” lenguh Seunghyun tidak ingin diganggu. Seunghyun meraih botol yang telah terbuka itu dan meneguknya langsung, tanpa menghiraukan orang yang ikut duduk di hadapannya kini.

“Ayolah, dongsaengi— Ini sudah dua bulan, kau tidak bisa terus begini hanya gara-gara pelacur itu.”

“Diamlah, Choi Woohyuk.” Seunghyun mengeram, mengancam sepupunya untuk berhenti bicara, berhenti membual atau mengatakan apapun itu yang mungkin saja akan kembali memancing amarahnya. Namun tampaknya hal seperti itu tidak mempan pada Woohyuk.

Pemuda lajang itu hanya menghela napas, ia meletakkan cerutunya lalu bersandar di bahu salah satu mutan yang mendekap padanya dengan manja. Sembari menghisap wangi ceruk leher wanita bertelinga anjing itu, Woohyuk melirik adik sepupunya.

Comemove on. Kau harus mengurus bagian perusahaan yang ditinggalkan ayahmu.”

“Kulakukan nanti.”

Mendengar jawaban singkat itu, Woohyuk mendengus. Mulai bosan karena tak pernah berhasil merayu Seunghyun untuk kembali bekerja di perusahaan mereka. Kalau saja 35% bagian yang dimiliki Seunghyun bisa berpindah menjadi miliknya, ia tak perlu susah-susah memohon bocah ini untuk kembali. Masalahnya, hal itu tidak mungkin. Dengan dirinya yang hanya memiliki bagian 20%, perusahaan ini akan semakin mengalami kemunduran kalau Seunghyun tidak segera memperbaiki kekosongan yang ditinggalkannya selama tiga bulan terakhir. Dan hal itu juga akan berdampak pada Woohyuk yang memiliki saham lebih kecil. Jika perusahaan mundur, secara otomatis bagiannya yang hanya 20% itu pun akan ikut menyusut. Woohyuk harus berhasil membawa Seunghyun kembali, dan sepertinya, hal ini membutuhkan trik khusus yang sudah dipikirkannya matang-matang sejak minggu lalu.

Woohyuk beranjak, ia melepaskan pelukan kedua mutan di sisinya untuk bisa duduk tegap.

“Dengar, Seunghyun-ah. Aku punya barang bagus, kau pasti menyukainya.”

“Tidak tertarik.”

Woohyuk mendengus. Sedikit kecewa dengan penolakan itu, tapi tentu saja, Seunghyun tidak akan bisa menolaknya esok pagi. Woohyuk tahu dibalik sifat tempramen Choi Seunghyun, bocah ini jauh lebih cepat luluh pada sesuatu yang mampu menarik hatinya. Seolah di balik tubuh tinggi dan kekar itu, terjebak jiwa seorang anak kecil yang haus akan kasih sayang.

Woohyuk kembali mendekap kedua mutan miliknya itu saat keduanya bergelayut semakin manja. Ia menyeringai, saat keduanya berbisik seduktif, begitu menggoda dengan suara mendesah dan memohon padanya untuk segera pergi dari tempat ini. “Sabar ne,” balas Woohyuk setengah berbisik dan dikecupnya bibir kedua mutan itu bergantian. Woohyuk melirik Seunghyun untuk yang terakhir kalinya, sebelum berdiri. Kedua mutan miliknya sudah menarik-narik tangan Woohyuk, mengajaknya pergi.

“Cobalah dulu, oke? Ah, dan aku harus pergi sekarang Seunghyun-ah. Ada urusan penting menantiku. Jaga diri, ne?” Woohyuk berpesan lagi, sebelum ia melangkah keluar sembari tertawa-tawa, meladeni sikap manja kedua mutannya dan mengecup keduanya dengan beringasan.

“Masa bodo.” Seunghyun berbisik samar, sebelum kembali meneguk botol vodkanya dalam sekali napas.

.

oOoOoOo

.

Seunghyun melangkah terhuyung-huyung. Dengan linglung menghitung pintu kamar yang dilaluinya, mengecek tag angka yang tertempel sembari bersenandung dan tertawa-tawa. Meski petugas apartemen sempat menawarkan bantuan, Seunghyun tetap ngotot untuk berjalan sendiri. Mabuk berat bukan berarti membuat dirinya kesulitan dan harus dibantu hanya untuk sekedar berjalan. Persetan. Apa petugas itu tidak tahu kalau dirinnya ini adalah C-H-O-I S-E-U-N-G-H-Y-U-N. Orang paling kuat dan berpengaruh di Korea ini!

Seunghyun tertawa-tawa lagi, hatinya makin berbunga-bunga tatkala ia menemukan papan angka 248 rekat pada sebuah pintu. Ia hanya memutar kenop pintu yang dengan otomatis terbuka setelah memindai tangannya.

Begitu pintu terbuka, Seunghyun masuk dan mengernyit. Merasa asing dengan terang cahaya yang tidak biasa menyambutnya tiap kali ia masuk ke dalam apartemen ini. Seingatnya ia meninggalkan tempat ini dalam keadaan gelap. Apa ada orang yang masuk?

Setelah menghempas sepatunya ke sembarang arah, Seunghyun melangkah masuk. Ia mengawasi keadaan sekitarnya dengan was-was. Selain lampu yang menyala terang, tidak ada yang berubah sebenarnya. Barang-barang berharga masih tergeletak di tempatnya. Brangkas di ruang tengah pun masih utuh tertutup. Tidak ada yang janggal, sampai mata Seunghyun menangkap sosok seseorang tengah duduk di ruang tengah. Sosok yang tidak bergerak sama sekali, duduk dengan begitu rapi dan mengawasi setiap gerak-gerik Seunghyun dalam bungkam.

Seunghyun melotot, makin terkejut lagi saat disadarinya sosok itu bercuping kucing dan mengenakan pakaian yang begitu minim. Dari balik punggung, ekor panjangnya berkibas lembut.

Tanpa bertanya pun, Seunghyun tahu kalau makhluk ini adalah mutan. Laki-laki untuk lebih spesifiknya.

Dan seketika itu, Seunghyun mendengus.

Awas kau Choi Woohyuk.

“Sedang apa kau disini?” Sosok itu berjengit kaget saat Seunghyun bertanya galak. Dengan gugup, mutan itu mengalihkan pandangannya kesana-kemari.

“U-uh— M-master Seunghyun?”

“Aish.” Seunghyun mengacak rambutnya frustasi. Percuma kalau ia memarahi makluk ini, hanya akan menghabiskan tenaga. Seunghyun berjalan maju meski langkahnya masih sedikit goyah. Dan refleks, mutan itu buru-buru bangkit untuk menolong Seunghyun. Seunghyun membiarkannya. Saat tangan lembut itu bersentuhan dengan kulitnya, harum khas stoberi menyeruak, seolah menenangkan pikiran Seunghyun yang awalnya kacau.

Dari jarak sedekat ini, Seunghyun bisa melihat wajah porselen dan sepasang mata hitam yang besar indah. Hidung mungil yang mancung dan bibir merah yang terbentuk begitu sempurna. Kalau Seunghyun sudah gila, ia pasti refleks mencium bibir itu tanpa sempat menahan hasratnya. Seolah belum cukup, kesempurnaan itu semakin ditambah lagi dengan leher dan bahu putih yang mulus terekspos. Tunggu—

Seunghyun menggeleng bingung, mulai meragukan tebakannya. Apa mutan ini benar-benar mutan pria?

Mutan ini tidak memiliki jakun, tapi dadanya rata. Tubuhnya pendek, tidak terlalu kurus atau gemuk, tidak berotot sama sekali dan tampak masih sangat muda. Seunghyun terus saja memusingkannya karena wajah yang begitu dekat ini seolah mengalihkan seluruh dunianya. Sampai ia melirik ke bawah untuk mengecek lebih jauh, dan Seunghyun baru menyadari secarik kertas yang dikalungkan di leher mutan ini.

Dengan kasar, Seunghyun menampik tangan mutan itu. Merasa kesal begitu sadar kalau sejak tadi ia berdiri dengan dibantu oleh makhluk kecil ini. Seunghyun membawa lembar kertas itu dekat ke depan wajahnya, karena efek pusing yang membuatnya tak fokus untuk membaca meski pada akhirnya, tulisan rapi itu dapat terbaca juga olehnya.

Selamat menikmanti, ne? Dan jangan dibuang, Seunghyun-ah! Dia belum pernah dipakai dan 7 kali lebih mahal dari milikku! Yang ini juga masih anak-anak, kalau tidak suka kembalikan saja padaku. Jangan coba-coba berbuat nekat karena mungkin ia akan dibunuh kalau seorang Choi Seunghyun ketahuan mengembalikannya ke penampungan mutan. Oh, satu lagi! Namanya Sungmin.’

Seunghyun mendelik, dirobeknya lembar kertas itu dengan emosi. Tanpa sadar sikapnya membuat Sungmin refleks mundur karena ketakutan. Tapi Seunghyun tidak peduli, bukankah ia sudah bilang kalau dirinya tak tertarik?

Tapi…

Seunghyun melirik mutan itu sekali lagi dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Entah kenapa merasa iba dan sayang untuk memulangkan benda ini pada Woohyuk. Tapi Seunghyun terlalu malu untuk mengakuinya. Ia hanya mendengus lalu melangkah masuk ke dalam kamar, masih dengan terhuyung-huyung tanpa mempedulikan tatapan bingung Sungmin.

.

oOoOoOo

.

Seunghyun mengendus, merasa mencium sesuatu yang harum. Namun ia tetap memejamkan matanya, masih mengantuk dan pusing. Seperti hari-hari kemarin, efek mabuk di malam hari hanya akan membuat Seunghyun tertidur dari pagi hingga petang. Namun kali ini saat Seunghyun berusaha untuk tertidur lagi, justru kesadaran dirinya pulih sedikit demi sedikit. Aroma kopi dan harum selai menyeruak masuk hingga ke kamarnya. Sedikit merasa janggal, Seunghyun membuka matanya dan tersadar kalau tirai kamarnya terbuka hingga sinar matahari masuk ke dalam. Pintu kamarnya juga terbuka, mungkin karena ini harum yang sepertinya berasal dari dapur itu masuk sampai kemari. Siapa yang ada di apartemennya dan memasak pagi-pagi sekali? Merasa bingung pada awalnya, hingga Seunghyun mengingat kejadian semalam sebelum ia masuk ke kamar.

Seunghyun bangun dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia benar-benar ingat sekarang. Semalam Choi Woohyuk mengirimkan mutan kucing ke apartemennya, dan Seunghyun meninggalkannya sendiri di ruang tengah. Jangan bilang kalau mutan itu sedang memasak di dapurnya? Tunggu! Memangnya ada mutan yang bisa memasak?

“Argh.” Seunghyun meringis, memijat keningnya yang terus berdenyut nyeri. Dengan lemas ia bangun dan melangkah keluar kamar. Di sana, Seunghyun menemukan mutan itu tengah bersenandung sembari meletakkan pancake yang masih mengepul ke dalam piring. Dengan lincah, tubuh kecilnya bergerak kesana-kemari. Menjaga pancake yang tengah dimasak agar tidak gosong sembari membereskan dapur yang entah sejak kapan tampak seperti rumah rongsokan.

Tanpa bersuara, Seunghyun duduk di kursi. Di hadapannya sudah tersedia sepiring pancake dan secangkir kopi panas. Dua hidangan yang telah lama tak dilihatnya saat pagi hari. Seunghyun tersenyum ke arah punggung Sungmin, sedikit merasa geli melihat mutan itu mengenakan kaus miliknya yang tampak oversize. Tanpa bisa mengelak, Seunghyun terus menerus menatapi tubuh kecil Sungmin yang hanya dibalut sepotong kaus. Tanpa mengenakan bawahan apapun, kaus kebesaran itu sudah cukup menutupi tubuh dan paha Sungmin. Seunghyun menelan ludah, nyaris menampar wajahnya sendiri saat sempat terpikir olehnya bayangan tubuh ramping itu tidak mengenakan apapun.

Seunghyun menunduk, berusaha melahap pancake di hadapannya tanpa bersuara. Sengaja membiarkan mutan itu sibuk berkutat membersihkan ini dan itu tanpa menyadari kehadiran dirinya. Namun saat Seunghyun beralih menyeruput kopi panas di sisinya dengan perlahan-lahan, berusaha menghayati kentalnya rasa kopi yang nikmat dan sukses mengusir nyeri kepalanya, tampaknya suara seruputan dan tegukan nikmatnya terdengar hingga ke telinga kucing Sungmin.

“OMO!” Sungmin tersentak kaget. Betapa tidak? Merasa sendirian sejak sejam yang lalu dan begitu berbalik, ia menemukan majikan barunya tengah duduk menikmati pancake dan kopi tak jauh dari tempatnya berdiri.

Seunghyun hanya terkekeh samar. Senang melihat keterkejutan Sungmin yang tampak sangat manis di matanya. Ia mengangkat cangkir kopinya ke arah Sungmin. “Kau bisa memasak?”

“S-sedikit, master.”

“Hmmm, ini enak.” puji Seunghyun sembari melahap sesuap lagi potongan pancake hangat itu. Pujian yang membuat pipi Sungmin kontan bersemu.

“Bisa masak yang lain?” Seunghyun bertanya lagi.

“U-ung—” Sungmin bergumam gugup. Ia memutar bola matanya, tampak mengingat-ingat. “S-sedikit. A-aku bisa buat bulgogi, tumis sayur, s-samgyupsal, ungg— terus…”

“Spaghetti, bisa?”

“B-bisa, master.”

“Oke, kalau begitu buatkan aku spaghetti.”

Sungmin berkedip lugu, lalu mengangguk patuh dan segera melaksanakan permintaan Seunghyun. Sedangkan Seunghyun— Seunghyun tengah menutupi mulutnya dengan punggung tangan, berusaha mempertahankan sikap coolnya dan menahan tawa yang nyaris keluar. Keluguan dan keimutan yang terpancar dari mutan ini tidak tampak seperti dibuat-buat. Sikap manis itu mengalir apa adanya, dan hal itu yang membuat Seunghyun tanpa sadar menikmati keberadaan Sungmin di apartemen ini.

Lima belas menit berlalu, dan sepiring spaghetti hangat tersaji di hadapan Seunghyun. Tanpa menunggu, Seunghyun melahap suapan pertama, berlanjut ke suapan kedua dan ketiga. Begitu tenggelam dalam kenikmatan pedas-manis saus spaghetti yang belum pernah dirasakannya. Seunghyun nyaris melupakan eksistensi Sungmin saat ia begitu sibuk mengecap, namun begitu tersadar, Seunghyun mengerutkan kening. Heran melihat Sungmin yang hanya berdiri di sisinya. Menunggu seperti seekor anjing yang begitu setia pada majikannya.

“Kenapa berdiri? Duduk disitu.” Seunghyun menunjuk kursi di sisi kanannya –kursi terdekat dari Sungmin, dengan dagu. Dan tanpa bertanya, Sungmin mematuhinya. Ia memang menunggu izin Seunghyun untuk duduk atau pergi. Dan begitu lega saat sang majikan mengizinkannya untuk duduk.

Setahun, Sungmin mendapatkan pelatihan untuk menjadi mutan yang baik. Namun jangka waktu itu belum cukup untuk menjadikan Sungmin seperti mutan-mutan lainnya. Ia hanya mengerti beberapa dasar tugas seekor mutan. Segalanya masih terasa awam, terlebih Sungmin belum pernah dipelihara oleh siapapun. Dan hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi Sungmin. Bagaimana jika majikan yang ini kecewa padanya? Atau hal seperti apa yang akan terjadi padanya? Sungmin terlalu takut untuk menduga-duga. Tapi berdasarkan insting Sungmin… orang ini terlihat baik.

“Kau tahu… kaus itu—” Seunghyun tiba-tiba berkata, namun belum sempat ia melanjutkan kalimatnya. Sungmin sudah menyela terlebih dahulu.

Sungmin mendelik, baru ingat kalau semalam ia mengenakan baju ini tanpa izin. “M-maaf master, s-semalam dingin sekali. M-maaf, m-maaf!” Sungmin membungkuk berkali-kali, ia membisikkan kata ‘maaf’ terus menerus. Tiba-tiba merasa takut dan mengira Seunghyun akan marah. Dengan panik Sungmin berusaha menanggalkan kaus itu.

“Hei! Hei!” tegur Seunghyun yang masih kaget dengan respon Sungmin. Ia berusaha menghentikan Sungmin dengan menahan tangannya. “Apa aku menyuruhmu untuk melepaskannya?” tanya Seunghyun kesal.

Mata Sungmin membulat, bingung. “Y-ya?”

“Apa aku menyuruhmu untuk melepaskannya?”

“Uhng. T-tidak, sih…” Sungmin menunduk, masih sedikit merasa takut. Ini hari pertamanya tinggal bersama majikan baru, dan Sungmin takut sekali berbuat salah.

Seunghyun menghela napas. “Aku cuma mau bilang kalau kaus itu terlalu besar untukmu. Kalau kau memang tidak memiliki baju lain, kita akan membelinya hari ini. Kau perlu baju yang pas dan mungkin beberapa mantel untuk musim dingin seperti ini.”

“E-eh?” Sungmin melongo mendengarnya. Telinganya bergerak-gerak dan ekornya berkibas liar. “B-beli?”

“Ya.” Seunghyun mengangguk ogah-ogahan, dan Sungmin tampaknya menyadari sikap Seunghyun. Mutan itu hanya diam dan mengangguk lamat-lamat. Hingga akhirnya, kesunyian kembali menyelimuti mereka. Sungmin hanya menunduk, tampak berpikir dan sesekali merengut, memajukan bibirnya dan mulai merasa bosan. Seunghyun masih sibuk menghabiskan spaghettinya meski sesekali mencuri pandang untuk menikmati ekspresi lucu Sungmin yang tampak begitu apa adanya.

Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing, meski tampaknya kali ini Sungmin yang lebih merasa pusing. Ia sempat mengingat pesan ibu mutan di tempat penampungan terakhirnya. Beberapa istilah yang disampaikan padanya meski sampai hari ini Sungmin sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Hingga akhirnya mutan itu tidak sanggup menahan suara batinnya yang terlalu menggelitik dan tanpa sadar bertanya—

“M-master tidak ingin menyentuhku?”

Seunghyun melotot. Nyaris tersedak. Ia mendongak menatap Sungmin tidak percaya. “Kau ingin disentuh?”

Sungmin menggeleng buru-buru. Wajahnya bersemu. Malu sekaligus takut. Ia takut kalau-kalau berbuat salah. Terakhir kali pesan yang ia dapatkan adalah kemungkinan bahwa masternya ingin menyentuh dirinya. Dan Sungmin harus menuruti semua keinginan master ini. Tapi di saat yang bersamaan, Sungmin juga merasa takut. Entah disentuh atau diperlakukan seperti apa, Sungmin tidak berani membayangkannya. Ia ingin pulang, namun posisinya sebagai hewan peliharaan tidak mengizinkannya untuk berharap lebih.

“Hahaha, apa ada orang yang memaksamu untuk menyenangkan aku sebelum kau datang kemari?”

Dengan polos, Sungmin menangguk. Jawaban yang kontan membuat Seunghyun tertawa terbahak-bahak menyaksikan gestur lugu mutan kucing itu. Sungmin yang bingung dengan hal yang ditertawakan majikannya, hanya bisa menunduk dan membisikkan kata maaf sembari merengut. Seunghyun melihatnya, ia menangkap rengutan sekilas itu. Bibir plump yang tampak kenyal itu mengerucut maju, membuat Seunghyun tersenyum makin dalam.

“Tenanglah, dan bersikap biasa saja. Cukup masakkan aku makanan enak setiap harinya. Toh aku juga tidak mau menyentuh anak kecil—”

“J-jeongmalyo?” Sungmin terkesiap, matanya membulat dan bersinar penuh harap. Pemandangan yang tak pernah dilihat Seunghyun di manapun. Ekspresi dan gerik lugu yang membuat Seunghyun harus mati-matian menahan hasratnya untuk tidak memeluk mutan ini.

“Kemari…” Seunghyun mengisyaratkan Sungmin untuk mendekat. Namun belum sempat mutan itu bangun, dengan tidak sabar Seunghyun menarik kursinya. Sungmin tersentak dan nyaris terjatuh dari kursi kalau saja Seunghyun tidak buru-buru menahan lengannya. Meski merasa kasihan, Seunghyun tetap tidak bisa menahan tawanya. Mutan itu nyaris jatuh dan ekspresi kagetnya tampak begitu manis sekaligus menggelikan di mata Seunghyun. Merasa malu dan terluka ditertawakan oleh majikannya sendiri, Sungmin merengut.

“M-master-ah! Jangan begitu, kau mengejutkanku!” Sungmin merengut sebal, dan hal itu justru membuat Seunghyun makin tidak bisa menahan dirinya.

Merasa gemas sekaligus iba, Seunghyun menarik lengan Sungmin dan membimbing mutan itu untuk duduk di pangkuannya.

Tanpa melawan, tubuh Sungmin seolah refleks menuruti Seunghyun untuk duduk di pangkuan majikan barunya. Sungmin hanya berkedip lugu saat majikannya itu mendekapnya dari belakang, seolah menghayati posisi ini dan Sungmin sama sekali tidak berani untuk menyela. Ia bahkan tidak berani bertanya tentang sesuatu yang bergerak aneh dan semakin lama semakin terasa mengeras di bawah bokongnya.

Seunghyun mencium ceruk leher Sungmin yang lembut dan berbau harum. Terasa begitu manis. Namun Seunghyun bukan tidak menyadarinya, Sungmin menggeliat risih tiap kali ia menghisap leher dan bahunya. Dengan susah payah, Seunghyun menahan hasratnya yang sudah membuncah di bawah sana. “Hmm— Mungkin nanti.” bisiknya samar.

“Eh? Apa yang nanti?”

.

oOoOoOo

tebesehhhhhh!

oOoOoOo

.

 

14 thoughts on “Kitty-Kitty Baby! – Flashback Part 1

  1. shanty kyuminnie arashi says:

    Seperti nya pernah baca part yg nie….
    Aq bc lg….

    Majikan sungmin ky nya masih manis2 aja sama sungmin d sni….
    Kasian dia sakit hati gara2 d tinggal pacarnya…

    Mo baca yg selanjutnya……
    Cuuuusssss….

  2. Lee Min Chan says:

    Unnii . .
    Akhirnya Update jga , ini bneran di tuggu !!😀
    sbenernya Flash back part 1 ini udh brkali” bca aq mah . Ini jga d post d Ffn kn un ??
    Unni knp jarang Update sekarang TC kpan di lanjut ?? u.u

  3. kyuma0403 says:

    annyeong chingu…. lama g ngunjungi WP ini…
    Seunghyun ini majikannya Ming yg dulu?? koq kayaknya dia rada sedikit aneh gtu?? bayangin Ming jinak kayak gini, pasti cute banget…

  4. Ternyata uminnya gak bisuuu. Wow!! Terus kok sekarang gak bisa ngomong ya?? Ternyata top nya baik. Jadi yg nyiksa umin siapa ya??? Aku lanjut baca ya min

  5. 010132joy says:

    Awalnya ming emang masih bner2 polos sma asli anak2 y
    tp kok dsini seunghyun baik sih atau cuma d awalnya aja mkin kesini makin keliatan sikap buruknya ke ming? Dia jg kan yg bikin ming ky gini huh
    sebenernya ga bisa byangin ming sma orang lain jd yg kbayang seunghyun tp mukanya mlah kyu hehe
    lanjut chap brikutnya …

  6. Ternyata choi-nya itu senghyun, kirain si siwon.
    Ah, ming tenyata mutan seunghyun. tapi.. tapi.. kenapa keadaan sungmin jauh berbeda di flashback sama cerita awal. apa yang terjadi sama sungmin ??

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s