Kitty-Kitty Baby! – Flashback Part 2

Sebelas minggu—hampir tiga bulan telah berlalu sejak Woohyuk mengirimkan seekor mutan kucing ke apartemen Seunghyun. Dan sejak saat itu, sejak kehadiran Sungmin di apartemen mewah yang sepi ini, hidup Seunghyun berangsur-angsur kembali.

Dua minggu setelah Seunghyun mendapatkan Sungmin, ia bersedia untuk kembali bekerja. Sebulan setelahnya, Seunghyun berhasil memulihkan kemunduran perusahaan yang sempat goyah karena keabsenannya. Dan setelah sebulan lagi, Seunghyun kembali hidup. Ia merasa hari-harinya kembali utuh karena kehadiran Sungmin—mutan cantik yang pandai memasak, penurut, manis, dan yang paling menggemaskan… Keluguan Sungmin yang sudah melewati batas.

Terkadang ada desir aneh, imajinasi liar tentang bagaimana Seunghyun merasa bahwa keberadaan Sungmin seperti eksistensi seorang istri yang tak pernah dinikahinya; begitu setia menunggunya pulang bekerja setiap malam, membuatkan sarapan dan secangkir kopi panas setiap paginya, tersenyum tatkala Seunghyun merasa lelah atau kesal karena pekerjaan, dan… begitu menerima Seunghyun apa adanya. Seperti sebaliknya, Seunghyun perlahan mulai menerima keberadaan Sungmin yang semakin lama membuatnya merasa terbiasa.

Tanpa pernah protes, kesal, apalagi menentangnya, keberadaan Sungmin seperti partner sempurna yang selalu diharapkan Seunghyun. Sungmin selalu ada disisinya tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan imbalan. Seunghyun yakin bahwa ikatan kasat mata antara dirinya dengan sang mutan mulai tumbuh perlahan-lahan. Meski Sungmin yang polos hanya menuruti Seunghyun karena Seunghyun adalah majikannya. Meski Sungmin belum menunjukkan tanda-tanda yang sama seperti yang ia rasakan… Namun Seunghyun mengabaikan hal itu. Karena ia yakin cepat atau lambat mutan itu akan membalas perasaannya. Toh, Sungmin memang miliknya.

“Hungg?” Sungmin menggerung bingung saat sepasang tangan kokoh tiba-tiba merengkuhnya dari belakang. Ia berhenti memilah-milih jaket-jaket lucu di hadapannya karena orang itu memeluknya begitu erat. Tanpa bisa berbalik, Sungmin hanya berpaling dan menemukan wajah majikannya begitu dekat. “Ada apa, master?”

Seunghyun menggeleng, dihirupnya ceruk leher Sungmin lamat-lamat. Ia selalu menikmati aroma tubuh Sungmin. Belum lagi permukaan kulit Sungmin yang bersih dan mulus. Seunghyun tidak pernah keberatan berlama-lama mengecupi tengkuk dan ceruk leher mutan miliknya itu. Tidak peduli kalau saat ini mereka berada di tengah pusat perbelanjaan dan orang-orang memandang aneh kearahnya.

“Kau milikku, Sungmin-ah…” bisik Seunghyun lagi tepat di belakang tengkuk Sungmin, napas hangatnya kontan membuat mutan itu menggigil geli.

“M-master-ah~ Geli…” Sungmin menggeliat dan refleks melepaskan diri dari rengkuhan Seunghyun. Ia mendumal kesal dengan ekor yang berkibas liar.

Seunghyun hanya tertawa. Gemas melihat bibir merah Sungmin yang mengerucut maju, rasanya ia ingin segera melumat bibir ranum itu dan menciumi sekujur wajah mutannya. Namun tentu, Seunghyun cukup waras untuk tidak melakukannya disini.

“Kau sudah memilih, Minnie?” tanya Seunghyun yang dengan cepat dijawab oleh anggukan penuh semangat Sungmin. Mutan itu mengangkat satu jaket berwarna pink dengan tali dan bulu-bulu di bagian kerah juga lengannya. Simpel, tapi begitu manis apalagi saat Sungmin sudah mengenakannya nanti.

“Yang ini saja?” tanya Seunghyun lagi dan lagi-lagi Sungmin hanya mengangguk dan berkedip. Seunghyun menggelengkan kepala, merasa heran karena sejak sejam yang lalu Sungmin bahkan tidak melirik apapun kecuali saat ia menyuruhnya. Dan setelah selama ini… Mutan ini hanya meminta satu pakaian? Padahal Seunghyun jarang memiliki waktu untuk berbelanja keluar bersama Sungmin semenjak jadwal pekerjaannya semakin meningkat. Karena itu Seunghyun bertekad untuk menyenangkan mutannya hari ini, berbelanja dan bermain mengelilingi isi kota. Menghabiskan waktu satu hari berdua bersama mutan manisnya ini…

Seunghyun tersenyum, lalu ia memutar pandangan bermaksud mencari sesuatu yang menarik. Hingga akhirnya matanya terpaut pada satu manekin yang terpajang tepat di depan sesi pakaian dalam. Seulas seringai terbentuk di wajahnya, lalu dengan semangat, Seunghyun menggiring Sungmin mendekati manekin itu.

“Kalau begitu tambah dengan ini, ya?” ujarnya sembari menanggalkan lingerie berwarna hitam yang dipasangkan di manekin itu. Lingeri hitam tembus pandang berlengan panjang dengan bagian kaki yang hanya menutupi paha tepat di bawah selangkangan. Namun yang paling disukai Seunghyun adalah bagian belakangnya yang terekspos. Sebuah resleting kecil terpasang dibelakang dan dapat membuka hingga ke selangkangan.

Sungmin melongo memandangi pakaian tipis dan ketat itu. Ia menggeleng tidak suka meski masih sedikit takut untuk menolak keinginan masternya. Sungmin takut sekali menggunakan benda itu lagi, yang ini jauh lebih tipis daripada yang dulu ia kenakan saat pertama kali masuk ke apartemen master Seunghyun. Saat itu saja ia sudah menggigil setengah mati. Bagaimana kalau master Seunghyun menyuruhnya menggunakan yang ini nanti?

“Itu kan tipis sekali, Master. Nanti aku kedinginan—” cicitnya polos sembari bergelayut pada Seunghyun. Namun penolakan Sungmin justru membuat Seunghyun tersedak, lalu tertawa terbahak-bahak.

“Aigo, my Sungminnie. Master tidak akan menyuruhmu menggunakannya saat cuaca dingin. Kau hanya akan menggunakannya saat terasa ‘panas’,” desah Seunghyun sembari berkedip genit, namun Sungmin malah balas menatap majikannya dengan wajah bingung.

“Tapi apartemen master selalu dingin…” keluhnya dengan raut memelas. Seunghyun berdecak, malas menjelaskan lagi karena ujung-ujungnya ia hanya akan membuat Sungmin semakin bingung.

“Pokoknya kubelikan satu yang ini dan Sungminnie mengenakannya saat master ingin, oke?”

Sungmin diam, tidak langsung menjawab. Tidak ingin setuju tapi juga tidak berani menolak.

“Sudahlah, Minnie. Ini tidak akan membuatmu kedinginan. Kalau dingin biar master yang memelukmu agar terasa hangat, ne?”

“N-ne, master-ah.” Sungmin hanya menurut, pasrah, membiarkan sang majikan merangkul bahunya dan menggiringnya menuju kasir.

Seorang pramuniaga cantik berdiri di balik meja kasir, senyumnya merekah tatkala seorang pemuda tampan bertubuh tegap dan seekor mutan cantik melangkah mendekat. Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah wajah tampan dan tubuh kekar itu. Secara naluri pramuniaga itu memasang sebuah senyum manis, kelewat manis, saat pemuda kekar yang tengah dikaguminya meletakkan barang belanjaan mereka di atas meja kasir.

“Aigooo~ ini mutan anda, tuan?” dengan cerdasnya kalimat basa-basi itu meluncur dari bibir sang pramuniaga. Wanita itu berpura-pura melirik Sungmin dengan tertarik, meski tak ayal matanya terus mencuri-curi kesempatan untuk mengagumi lekuk sempurna tubuh Seunghyun.

Seunghyun hanya balas memandang wanita itu sesaat, dan dengan malas merespon “Hng” lalu berkutat dengan isi dompetnya. Dengan sebelah tangan yang terus merangkul Sungmin, Seunghyun mengeluarkan Black Card dari dalam dompetnya. Pemuda berpostur kekar itu terlalu tidak sadar saat tangan sang pramuniaga dengan lancangnya terangkat dan menyentuh pipi Sungmin.

“Aww, imutnyaaa!” pujinya dengan nada gemas yang dibuat-buat.

Seunghyun melotot. Bukan karena suara yang menjijikkan itu, tapi karena tangan lain yang tiba-tiba menyentuh wajah Sungmin. Sesaat, darah seolah berhenti mengaliri otaknya.

“Uh-ung!” Sungmin yang risih baru akan menepis tangan itu, namun seseorang sudah mendahuluinya.

“Jaga tanganmu, pelayan lancang!” seru Seunghyun berang sembari menampik tangan wanita itu dengan kasar. Pramuniaga yang terkejut melihat perubahan ekspresi Seunghyun, berjengit kaget dan refleks mundur.

“M-maaf, tuan. Maaf.” ujarnya seraya membungkuk berkali-kali. Dengan tangan gemetar, ia menerima Black Card milik Seunghyun dan segera menyelesaikan proses pembayaran, sebelum mengembalikan kartu itu pada pemiliknya lagi.

Seunghyun masih mendelik, menahan napas dan emosinya yang nyaris meluap keluar. Dengan kasar, ia menyambar kartu kreditnya dan segera berbalik. Tanpa sadar menyeret lengan Sungmin dan menggenggamnya sekuat tenaga.

“Cepat, Minnie.”

Sungmin meringis, namun melihat amarah majikannya yang meluap-luap, mutan belia itu tidak berani bersuara sama sekali. Seunghyun menyeretnya kasar. Dan dengan langkah kaki sang majikan yang jauh lebih jenjang, Sungmin harus melangkah setengah berlari, tergesa-gesa mengimbangi langkah besar majikannya.

Sungmin menggigit bibir, menahan sakit yang perlahan menjalar di pergelangan tangannya.

“Cepat masuk.” titah Seunghyun datar sembari melepaskan tangan Sungmin, ia masuk lewat pintu kemudi.

Sungmin masih berdiri di luar mobil, meringis sembari mengusapi lengan kanannya yang membiru memar. Mutan itu menghela napas, sebelum membuka pintu mobil dengan tangan kiri.

“Tidak ada yang boleh menyentuhmu, Ming. Kecuali dokter dan disaat terpaksa saja.” sungut Seunghyun sembari menyalakan mesin mobil.

“Uhng.” sahut Sungmin lemah, masih mengusapi lengannya yang memar.

“Tampar saja dan panggil namaku, telpon master kalau ada yang berani macam-macam atau menyent— Oh astaga…” Seunghyun mendelik. Jelas sekali ia melihat semburat keunguan di pergelangan lengan Sungmin, meski mutan itu menutupinya.

“A-aah!” Sungmin berjengit, saat tiba-tiba Seunghyun merenggut lengannya yang memar itu.

Seunghyun ikut meringis melihat memar itu. Warna memar yang terlihat begitu kontras di kulit putih dan mulus Sungmin. Saat disentuhnya pelan, Sungmin akan berjengit kesakitan. Membuat Seunghyun kembali meringis dan semakin merasa bersalah saja.

“M-Minnie. Master tidak bermaksud menyakitimu.” bisik Seunghyun sedih, ia sungguh-sungguh merasa bersalah. Lebih-lebih saat Sungmin hanya tersenyum dan menggeleng lemah.

“Tidak apa-apa kok, master-ah. Master tidak sengaja, master bukan marah padaku.”

Mendengar tutur lugu itu, Seunghyun balik menatap mutannya dengan wajah sendu. Saat itu, ia berjanji dalam hati untuk bersikap lebih sabar dan tidak melukai Sungmin lagi. Seunghyun menarik kepala Sungmin dan mengecup bibirnya lembut. Menyalurkan rasa sayang yang membuncah di dadanya.

.

oOoOoOo

.

Seunghyun bersendawa kecil. Sudah merasa kenyang namun gelasnya selalu kembali penuh tiap kali ia meneguknya sampai habis. Sambil terkekeh, Seunghyun berusaha meneguknya sedikit demi sedikit, toh hanya sampanye. Minuman ini tak cukup untuk membuatnya mabuk. Tapi jujur, ia mulai bosan berada di tempat ini. Lama-kelamaan ia malah tidak menyukai suasana ramai ini, ricuh suara orang-orang yang mengobrol kesana kemari mulai membuatnya pusing. Rasanya jauh lebih menyenangkan berada di apartemennya sendiri. Dalam cuaca sedingin ini, bergumul dengan Sungmin pasti jauh lebih menyenangkan.

Seunghyun sudah akan menyingkir ke tempat sepi, namun seseorang menarik lengannya. Membawa Seunghyun kembali ke tengah keramaian orang-orang dari perusahaan Choi Group yang tengah merayakan kesuksesan mereka.

“Aigo-aigo, lihat betapa Seunghyun-sshi mengangkat keterpurukan perusahaan kita!” seorang lelaki paruh baya berdiri di tengah keramaian, mengangkat gelas sampanyenya tinggi-tinggi lalu mengerling ke arah Seunghyun. “Mari bersulang untuk Seunghyun-sshi!”

Seunghyun tersenyum, lalu ikut mengangkat gelasnya bersama para ketua Choi Group yang dengan sendirinya berkerumun di sekitarnya.

“Untuk kesuksesan Choi!” mereka berseru lalu bersulang, bunyi deting gelas berbaur dengan tawa orang-orang itu, meski Seunghyun tidak termasuk di dalamnya. Ia hanya tersenyum, menopengi rasa bosan yang sudah merambat menjadi-jadi di dalam hatinya. Saat riuh tawa mulai menghilang, dan para tetua kembali mengobrol satu sama lain, Seunghyun mengambil kesempatan ini untuk menyingkir. Namun lagi-lagi, niatnya dihalangi…

“Aigo… Benar juga kata orang, wajah tampanmu itu membawa keberuntungan,” seseorang bersua di belakang Seunghyun, membuat pemuda itu seketika membeku di tempatnya berdiri. “Coba kutebak, hmm… Pasti gadis-gadis yang sudah kau jarah tidak lagi terhitung. Benar, kan Seunghyun-sshi?”

Seunghyun mendengus dan berbalik. Tidak berniat untuk menjawab ucapan orang yang sama sekali tidak ia kenali ini dan hanya balik menatap orang itu dengan tajam.

Namun tentu orang itu belum menyerah untuk membuat Seunghyun kesal. Lelaki dengan raut di awal-30an itu menyeringai lalu berkata, “Sesuai desas-desus yang beredar. Wajah tampan ini yang berhasil menghancurkan Goo Corp melalui putrinya, Goo Hara. Hmm, cara yang ‘Choi’ sekali. Tapi aku menyukainya, bung!” pria itu menepuk bahu Seunghyun sok akrab. Namun tentu, Seunghyun tetap bisa mendengar nada cibiran dari setiap kata yang keluar dari bibir orang ini. Terlebih… Saat nama Goo Hara disebut-sebut, Seunghyun secara refleks mengerat gagang gelasnya dengan emosi.

“Diamlah. Jangan sok tahu,” desis Seunghyun mengertakkan giginya, berusaha menahan amarah. Ia tidak ingin meluapkannya disini, sebisa mungkin Seunghyun menahan emosinya. Tidak seorangpun tahu tentang kebiasaan buruk Seunghyun kecuali Woohyuk. Dan Seunghyun tidak ingin menunjukkan etikat buruk itu pada siapapun, terlebih disini. Kalau sampai ia kelepasan… Orang ini bisa mati. Namun sepertinya, orang ini memang sudah bosan hidup rupanya.

Seunghyun sudah ingin berbalik, meski dari wajahnya jelas menunjukkan kalau ia mulai emosi. Dari jauh, Seunghyun bisa menangkap sosok Woohyuk yang mendekat ke arahnya. Namun tidak, tidak semudah perkiraannya. Woohyuk pernah mengatakan kalau benteng emosinya setipis lembaran nori. Itu tidak lucu sama sekali, tapi ada benarnya. Seunghyun merasa, untuk sekedar menahan emosi ternyata jauh lebih sulit daripada mengangkat saham perusahaan yang anjlok.

“Hei, aku memujimu, bocah.” sahut orang itu lagi, mulai senang karena berhasil memancing Seunghyun. “Tidak heran sikap kurang ajarmu itu mengirim Choi Minho dan Choi Sulli ke neraka. Aku pun bisa terkena serangan jantung kalau punya anak sepert—”

BUGH!

Tanpa sempat menyelesaikan kalimatnya, orang itu sudah terjungkal. Sosoknya tersungkur jatuh dan suara ‘Bugh’ keras diiringi rintihan itu dengan cepat menarik perhatian semua orang.

Seunghyun mengeram, wajahnya merah dan napasnya menderu. Tentu, ia tidak akan puas dengan satu tinjuan. Secepat setan, pemuda itu menyambar tubuh lawannya yang masih tersungkur kesakitan. Mendudukinya di atas dada, mengerat kerahnya, lalu mulai memukuli wajah yang tak kalah tampan itu secara brutal.

BUGH!

BUGH!

BUGH!

“A-akh! T-tolong aku!” pekik orang itu sembari mati-matian berusaha menyingkirkan Seunghyun dari atas tubuhnya, namun sial, tenaga pemuda ini ternyata jauh lebih mengerikan dari dugaannya. Dengan sebelah tangan yang menggapai-gapai, orang itu berteriak kesakitan, meminta tolong pada kerumunan wanita dan laki-laki tua yang tidak berani melerai mereka sama sekali.

“Seunghyun-ah!” Woohyuk menerobos kerumunan dengan panik, awalnya bermaksud melerai namun dengan tenaganya yang hanya seorang diri, ia bahkan tidak bisa menghentikan tangan Seunghyun yang terus melemparkan bogem secara membabi-buta. Akhirnya dengan frustasi, Woohyuk mengangkat kepalanya kesana-kemari, mencari sosok yang berbincang dengannya tadi. “Siwon-ah! Siwon-ah!”

Sosok yang dipanggil-panggil itu akhirnya muncul, ia baru menyadari keributan dan segera menyusup masuk ke tengah-tengah keramaian saat namanya terus disebut.

“Seunghyun-ah! Seunghyun-ah! Hentikan ini!” Siwon menghambur menarik Seunghyun, menahan gerakan sepupunya dengan memeluknya erat-erat. Sulit, karena Seunghyun terus memberontak. Namun tenaga Siwon setidaknya lebih dari seimbang untuk menghentikan kebrutalan Seunghyun. “Hentikan Seunghyun-ah!”

“Arh! Lepaskan aku, hyung! Lepaskan aku!” Seunghyun berteriak kalap, dadanya masih dipenuhi amarah. Ia terus menghentak, menuntut untuk dibebaskan namun tentu Siwon tetap lebih kuat darinya.

“Tidak. Hyung akan mengantarmu pulang, sekarang!”

“Hyung!” Seunghyun berseru marah. Sekali dua kali pemuda itu masih mencari kesempatan untuk membebaskan diri dan kembali menyerang bajingan tadi, namun apa daya, Siwon mengerahkan seluruh tenaga untuk menyeretnya keluar dengan paksa.

Masih dengan napas menderu, Seunghyun dengan tidak rela melangkah terseok mengikuti arah rengkuhan Siwon. Sebelum mereka keluar melalui pintu, jelas sekali ia mendengar bajingan itu berteriak untuk yang terakhir kalinya…

“Tidak selesai sampai disini, bocah sial! Tunggu pembalasanku!”

.

oOoOoOo

.

“Brengsek!” Seunghyun membanting pintu apartemennya. Melempar sepatunya ke sembarang arah dan masuk ke dalam dengan sempoyongan. Tentu saja ia masih merasa kesal setengah mati, bahkan rasanya amarah itu masih tersisa di kerongkongannya, membuat Seunghyun mengumpat tanpa henti. Kenapa Woohyuk dan Siwon harus melerainya dengan bajingan tadi! Ia sudah siap menghancurkan kepala orang itu sampai ke isinya, melumat otak dan mencengkeram kerongkongannya agar cibiran mematikan itu lenyap bersama dengan nyawa tak berharga milik orang itu.

“AARRGH!” Seunghyun berseru berang, lalu disambarnya guci antik yang berdiri dekat di sisi lemari.

PRANG!

Disambarnya benda itu hingga melayang menghantam dinding lalu hancur berkeping-keping.

“Sampah tidak pantas berada di dalam kelompok Choi!” serunya pada benda yang sudah hancur itu. Masih belum puas juga, Seunghyun meraih tongkat golf untuk digunakannya menghancurkan apapun yang sekilas terasa lebih bagus untuk dihancurkan. Seunghyun sudah akan mengayunkannya, namun suara lirih dari arah pintu ruang tengah menghentikan Seunghyun saat itu juga.

“M-master-ah?” kepala Sungmin muncul dari balik dinding, sejak tadi ia bersembunyi dan takut untuk keluar. Ribut-ribut di ruang depan membuatnya ketakutan sekaligus khawatir, mengira kalau-kalau ada orang asing yang masuk untuk merampok apartemen milik majikannya. Namun ketika Sungmin justru menemukan sang majikan disana… Kening mutan itu berkerut bingung.

“M-master-ah, kenapa?” tanyanya lirih, kedua tangannya meremas kaus, cuping berbulunya mengatup turun dan ekornya berkibas gelisah.

Seunghyun yang melihat ekspresi takut Sungmin kontan luluh, amarah dan emosi yang meluap-luap tadi rasanya kini justru menguap entah kemana. Ia menjatuhkan tongkat golf itu begitu saja.

“Oh, Sungmin-ah…” bisik Seunghyun sendu, sedikit kesulitan untuk menarik sebuah senyum. Namun alih-alih, tubuh Seunghyun melangkah dengan sendirinya. Meraup tubuh Sungmin ke dalam pelukannya. Seolah haus akan kehangatan dan sentuhan, Seunghyun memeluk Sungmin erat-erat. Rasanya berada sedekat ini dengan Sungmin bisa membuatnya tenang.

“Aku lupa kalau aku masih punya kau.” bisik Seunghyun sembari mengecup pucuk kepala Sungmin. Sungmin yang kebingungan hanya bisa melemaskan tubuhnya, membiarkan sang majikan memeluknya sepuas hati.

“Aku bahkan tidak butuh Goo Hara lagi. Asal ada kau, Sungmin-ah. Asal ada kau…” lirih Seunghyun yang kemudian mengatup wajah mungil Sungmin dengan kedua tangannya. Sepasang mata coklat itu memancarkan kebingungan, namun Seunghyun hanya membalasnya dengan senyuman. Ia membawa wajah itu mendekat lalu dikecupnya kening Sungmin. Dikecupnya bibir Sungmin, dan dikecupnya setiap jengkal kulit yang melapisi wajah Sungmin.

“M-master-ah?”

“Temani aku malam ini, Sungmin-ah…”

“M-master?”

Sungmin makin kebingungan, namun ia tidak bertanya lebih jauh. Mutan belia itu hanya bisa menurut saat sang majikan menuntunnya ke dalam kamar.

Sebelum masuk melalui pintu, Seunghyun melepaskan tangan Sungmin. Ia ingin bersikap lembut dan tidak terlihat memaksa untuk meluluhkan hati mutannya. Selama ini, Sungmin akan menunjukkan penolakan halus setiap kali Seunghyun bersikap agresif sedikit saja. Dan benar saja, Sungmin dengan gugup berhenti melangkah. Mutan itu berdiri di depan pintu, memandang ke sana-kemari dengan gelisah dan tidak berani melangkah masuk sama sekali.

Seunghyun duduk di pinggir tempat tidur. Ia melempar senyum hangat dan mengulurkan tangannya pada Sungmin. “Kemari Sungminnie…”

Sungmin sempat terdiam sebentar, setelah berpikir lama akhirnya ia meraih tangan majikannya, membiarkan Seunghyun menarik tubuhnya ke atas tempat tidur. Seunghyun menggiringnya dengan lembut hingga mereka berbaring bersebelahan.

Lama mereka berbaring dengan posisi yang saling memandang. Seunghyun terus mengusap wajah Sungmin, menikmati tiap jengkal kecantikan mutannya, hingga tanpa sadar usapan lembut tangannya nyaris menina-bobo kan Sungmin.

Sungmin menguap, namun matanya yang sayup-sayup tertutup kini kembali terbelalak saat sebuah kecupan hangat mendarat di bibirnya.

“M-master?” Sungmin berbisik gugup, bingung kenapa tiba-tiba sang majikan sudah berada di atas tubuhnya.

Wajah mereka saling berhadapan. Seunghyun tersenyum mengerti saat Sungmin balik memandangnya dengan bingung. Dengan mudahnya wajah itu terbaca, Sungmin ketakutan. Seunghyun mengerti itu karena selama ini ia tidak pernah berbuat lebih. Hanya bergumul, bercumbu, dan memeluk. Tapi kali ini… Seunghyun benar-benar menginginkan ini. Ia benar-benar ingin menandai Sungmin, menjadikan Sungmin sebagai miliknya. Seutuhnya.

“Kenapa? Kau takut?” bisik Seunghyun sembari tersenyum lembut melihat kedua cuping kucing Sungmin yang makin mengatup turun, pertanda kalau mutan ini sedang gelisah. Ia membuka tiga kancing teratas piyama yang dikenakan Sungmin malam ini. Bibirnya bertanya apakah mutan ini merasa takut, namun alih-alih tangan Seunghyun tetap bergerak untuk melucuti pakaian Sungmin.

Rasanya, ia ingin memaksa kalau Sungmin sampai menolaknya nanti. Tapi justru, Seunghyun mendapatkan jawaban yang tak terduga.

“Uhung—” Sungmin menggeleng, lalu tersenyum simpul. Cupingnya terangkat lagi. Ingin sekali bertanya kenapa sang majikan menanggalkan kancing bajunya satu persatu. Tapi bibir itu tetap bungkam. Seolah terkunci dan hanya bisa menurut karena Seunghyun yang melakukan ini. Sungmin hanya menahan napas saat Seunghyun menanggalkan bagian atas dan bawah piyamanya.

“Dengar Sungmin-ah,” Seunghyun berbisik seduktif. Ia menggigit telinga Sungmin, memancing gerung lembut meluncur dari bibir mutan itu. “Jangan pernah tinggalkan aku, ne?”

Sungmin mengerjap. Tidak mengerti. “Memangnya aku mau dibawa kemana?” tanyanya polos.

Seunghyun mendengus dan terkekeh. Terlalu malas menjawab hingga ia hanya menggeleng.

“Tidak kemana-mana, sayang. Hanya saja… Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan aku.” Kini Seunghyun kembali ke posisi awalnya, mengurung Sungmin di antara kedua tangannya yang kokoh. Di tatapnya wajah belia itu dalam-dalam. “Aku… akan sangat marah jika kau sampai meninggalkanku. Mengerti?”

Sungmin mengerjap lagi. Kebingungan dengan arah pembicaraan Seunghyun meski alih-alih ia mengangguk dengan gugup. Dan cukup dengan satu anggukan bingung itu, Seunghyun tersenyum puas. Hanya sebuah anggukan ragu-ragu dan Seunghyun akan mengingatnya seumur hidup. Itu pertanda sebuah janji, janji bahwa Sungmin tidak akan meninggalkannya seperti mantan-mantan kekasihnya yang lain. Setidaknya itulah yang terlihat dari sudut pandang Seunghyun.

“Terimakasih, Sungmin-ah…” bisik Seunghyun sembari menggiring Sungmin ke dalam sebuah cumbuan panas. Sungmin tidak dapat menolak, mutan itu hanya melemaskan tubuhnya dan berusaha mengikuti arah pagutan bibir sang majikan.

Mutan itu menggigil, antara menikmati gerak lihai bibir majikannya dan merasakan dinginnya AC yang begitu menusuk-nusuk. Terlebih ia tidak menggunakan apapun selain celana pendek yang mulai turun sedikit. Sungmin menggerung dan mendesah. Berusaha berbicara disela ciuman mereka.

“M-master-aaah~” akhirnya Sungmin mampu bersuara. Saat bibir Seunghyun beralih turun ke ceruk lehernya. Sungmin menggeliat. Merasa geli sekaligus kedinginan. Ekornya yang tak bisa berkibas bebas kini melilit dan menegang mengitari paha kirinya.

“M-master ah~ Dingiiin~ K-kenapa aku harus buka baju, mmmh~” Sungmin berujar dengan polosnya di antara desah dan bisik gelisah. Tentu Seunghyun mendengarnya, karena pemuda itu spontan menghentikan aktivitasnya dan memandang Sungmin dengan raut serius.

“Barusan kau bilang apa?”

Sungmin mengerut, takut. Kedua cupingnya bergerak-gerak lalu mengatup lagi. Sepertinya ia salah bicara. Harusnya ia diam saja dan tidak protes. Lihat sekarang, masternya memandang tajam ke arahnya seolah tidak suka dengan kalimatnya tadi.

“T-tidak ada master-ah.”

“Tidak. Aku serius Sungmin-ah, kau bilang apa tadi?”

“M-mhh,” pupil Sungmin bergerak kemana-mana, gelisah dan takut untuk mengulangi kalimatnya tadi. Namun karena terus didesak dan Seunghyun mulai mengusap pipinya lagi, akhirnya dengan secuil keberanian, mutan itu berbisik pelan, “D-dingin master-ah~ Kenapa aku harus buka baju?”

“Mwo?” Seunghyun melotot mendengarnya. Kenapa harus buka baju, katanya? Bagaimana caranya bercinta di atas ranjang kalau baju masih terpasang? Seunghyun tersedak hanya karena pemikiran nakal itu. Ditambah lagi dengan wajah bingung bercampur takut Sungmin, Seunghyun sudah tidak tahan lagi.

“Buahahahahaha!”

“M-master-aaah~” Sungmin merajuk, menarik-narik kemeja Seunghyun dan cemberut. Tak senang dengan tawa separuh mengejek Seunghyun.

“Nde, nde, Sungminnie-chagi. Pfft, kenapa kau polos sekali, sayangku?” Seunghyun menangkup wajah Sungmin dengan kedua tangannya, memandang wajah itu dengan terheran-heran. Bagaimana bisa ada makhluk semanis dan sepolos ini? Rasanya ia ingin mengantongi Sungmin ke dalam sakunya dan membawanya kemanapun ia pergi.

“Dengar ya, chagi…” Seunghyun memandang Sungmin lagi, kali ini dengan ekspresi serius yang dibuat-buat. Seunghyun menanggalkan kemeja dan kaus dalamnya, menyisakan dada telanjang yang dengan jelas menunjukkan kotak-kotak abs yang begitu ia banggakan.

“Walaupun dingin… Master tetap melepaskan pakaianmu agar master bisa menghangatkannya…” bisik Seunghyun seduktif sembari mengusap cuping berbulu Sungmin dengan sayang. Tanpa menunggu respon Sungmin yang tengah terbegong-bengong, Seunghyun langsung saja menyambar bibir itu. Diraihnya tubuh Sungmin hingga dada telanjang mereka saling bersentuhan dan saling menghangatkan.

“Mhhh~ Mstehhh~” Sungmin bergumam tak jelas, Seunghyun tak henti memagut mulutnya, menyelipkan lidahnya ke dalam sana hingga Sungmin tak mampu mengeja satu kata pun dengan benar.

“M-mhmingh~” Kuhyun membalik posisi mereka. Masih dengan merengkuh tubuh Sungmin erat ke dalam pelukannya, ia berguling dan membiarkan tubuh Sungmin yang jauh lebih kecil terbaring tengkurap tepat di atas tubuhnya. Seunghyun meraup sekujur bagian yang bisa diraih bibirnya dari wajah Sungmin. Pipi, hidung, kening, kelopak mata, dagu, tengkuk, semuanya. Mulutnya bergerak sibuk memakan wajah Sungmin, tangan kirinya merengkuh menjaga tubuh itu agar tetap berada di atasnya. Sedangkan tangan kirinya, menggapai-gapai laci meja yang ada di sisi ranjang. Menariknya, lalu berusaha mencari-cari sesuatu yang ada di dalamnya.

Yak!

Seunghyun menyeringai begitu tangannya menemukan benda itu. Tanpa peduli untuk mengembalikan posisi laci tadi, Seunghyun menarik botol itu keluar dan meletakkannya begitu saja di sisi bantal. Kini dengan dua tangan yang terbebas, Seunghyun meraup bokong Sungmin dan meremasnya tanpa ampun.

Sungmin menyentak tak nyaman, ekornya berkibas dan mengusapi kaki Seunghyun. Mutan itu menggerung tidak suka, meski tidak juga melakukan apapun untuk menyingkirkan tangan majikannya.

“Masteeer?” desah Sungmin merasa kehilangan saat Seunghyun berhenti memagut bibirnya.

Seunghyun tidak menjawab. Ia merangkul tubuh Sungmin, melipat kedua kaki sang mutan menyamping dan memeluk punggungnya erat. Seolah bermaksud menjaga posisi mereka saat tanpa aba-aba, pemuda kekar itu bangun ke posisi duduk.

Kini mereka duduk saling berhadapan, dengan Sungmin berada di pangkuan Seunghyun.

Tanpa memberi kesempatan bagi Sungmin yang tampaknya akan bertanya lagi, Seunghyun kembali mengunci bibir itu. Sungmin yang seolah terhipnotis, tidak sadar dengan gerak gusar sang majikan yang tengah bersusah payah menanggalkan tali pinggang dan seluruh celana yang dikenakannya. Hingga akhirnya Seunghyun berhasil menanggalkan segalanya dan memangku Sungmin dalam keadaan telanjang.

Sungmin sama sekali tidak meyadarinya, dengan sepotong celana pendek yang masih terpasang di tubuhnya. Sungmin hanya berkedip lugu dan lanjut menikmati pagutan bibir sang majikan, mengabaikan gerak aneh benda keras yang menegang di bawah selangkangannya.

Seunghyun memijat paha Sungmin, lalu ditariknya kaki kanan Sungmin ke arah kiri, agar mutan itu duduk menyamping di atas pangkuannya. Mempermudah niat Seunghyun yang ingin menanggalkan semua pakaian yang masih terpasang di tubuh mutan miliknya itu.

Yang terakhir, Seunghyun menarik celana Sungmin dengan tidak sabar, namun kali ini Sungmin refleks menahannya. Menolak keinginan Seunghyun setelah memasrahkan diri sejak tadi.

“M-masteeer! J-jangan celananya jugaaa. Aku maluuu~”

“Tsk.” Seunghyun ingin tertawa, tapi ia berakhir dengan mengecup hidung Sungmin. “Lepaskan, ne? Untuk apa malu pada mastermu sendiri Sungmin-ah?”

“T-tapii~” Sungmin ingin merajuk lagi. Namun Seunghyun lebih cepat memasang telunjuknya ke depan bibir Sungmin.

“Sssh.”

Dan tanpa meminta izin, Seunghyun kembali meneruskan niatnya. Menanggalkan seluruh celana Sungmin hingga kini mereka berdua seimbang berada dalam posisi yang sama-sama telanjang.

Seunghyun mengembalikan posisi Sungmin seperti semula hingga mereka berdua saling berhadapan seperti tadi.

“M-master! A-apa itu master?” Sungmin tersentak saat sesuatu yang keras dan tumpul menegang dan terasa seperti menekan bokongnya. Ingin sekali ia menunduk dan mencari tahu benda apa itu, namun Seunghyun dengan cepat menghalanginya dan meraup ceruk leher Sungmin. Memberi gigitan-gigitan kecil yang mengalihkan Sungmin dari rasa herannya tadi dan kembali membuat mutan itu menggerung-gerung dengan ekor yang berkibas makin liar.

“Sssh, bukan apa-apa, chagi…” Seunghyun tersenyum meyakinkan, ia meraih botol lube yang diletakannya di dekat bantal. Tanpa mempedulikan tatapan heran Sungmin yang terus mengikuti gerak tangannya, Seunghyun menuangkan sedikit lube itu, cukup untuk membasahi jemarinya.

“Buka yang lebar chagi. Ini akan terasa sakit, sedikit…” bisiknya lembut sembari melebarkan kaki Sungmin dan kakinya sendiri, membuka ruang bagi tangannya yang akan menyusup ke dalam sana melalui celah bawah tubuh Sungmin. Mutan yang tidak tahu apa-apa itu masih tenang duduk diatas pangkuan Seunghyun, secara refleks balik memandangi majikannya saat sang majikan menatapnya lembut. Seolah berusaha mengalihkan seluruh perhatian Sungmin saat jemari Seunghyun perlahan merambat naik, mencari jalan.

“M-master!” Sungmin tersentak, kaget dan refleks memeluk Seunghyun erat saat sesuatu masuk ke dalam lubang rektumnya. Sungmin menggeliat tidak nyaman, berusaha meraih benda itu namun tangannya hanya meraih lengan Seunghyun yang menutupi selangkangannya.

“Sssh, tenang chagi. Peluk aku, cepat.” desis Seunghyun tak sabar. Dengan tangan kiri ia menarik Sungmin ke dalam pelukannya, mendekap kepala mutan itu ke dadanya saat ia mengeluarkan telunjuknya dan kembali memasukkan tiga jari sekaligus.

“Aaakh! M-master!” pekik Sungmin kesakitan. Mutan itu berjengit, berusaha melepaskan diri dari benda asing yang tiba-tiba masuk ke dalam tubuhnya. Namun Seunghyun menahannya.

Dengan menulikan diri, Seunghyun mengabaikan gerung kesakitan Sungmin dan terus mengeluar-masukkan tiga jemarinya di lubang rektum Sungmin. Mempersiapkan jalur virgin itu sebelum ia memasukkan miliknya yang tentu berukuran lebih besar dari tiga jemari.

“Aaah~ M-masteraaah~” Sungmin gemetar, merasakan sensasi aneh di dalam perutnya saat sesuatu itu bergerak keluar masuk dari dalam tubuhnya. Namun semakin lama rasa sakit itu berangsur menghilang, berganti dengan geli dan perasaan aneh. Saat jari panjang Seunghyun bergerak semakin dalam, semakin cepat, dan tiba-tiba menyentuh sesuatu di dalam dirinya… Sungmin berjengit kaget, mendesah dan menangis, entah kenapa ia menikmatinya.

“A-ah~ Ma-masterah, lagi~”

Mendengar respon Sungmin yang kian lama terdengar makin positif, Seunghyun menyeringai. Ia menarik seluruh jemarinya keluar, makin senang saat mendengar desah tak rela dari sang mutan.

“L-lagi, master…” Sungmin mendongak dengan wajah memohon, nyaris membuat Seunghyun hilang kesadaran dan melahap habis wajah itu saking gemasnya.

“Sabar, chagi. Master akan berikan yang lebih dari itu,” ujarnya sembari mengecup hidung mancung Sungmin. Akhirnya, setelah sekian lama Sungmin berada di sini, ia benar-benar bisa menyentuh mutan ini secara utuh. Dan Seunghyun sudah tidak sabar untuk mengklaim seluruh tubuh Sungmin menjadi miliknya.

“Lepaskan ekormu, jangan dililit seperti itu. Kau bisa keram nanti,” Seunghyun mengecup kening Sungmin sembari menanggalkan ekor mutannya yang melilit di paha. Lalu Seunghyun bergerak lembut, membalik posisi Sungmin. Tetap membiarkan mutan itu berada di atas pangkuannya. Namun kali ini, punggung mungil itu bersandar ke dadanya.

“Sungmin-ah…” bisik Seunghyun dari belakang telinga sang mutan. Sebelah tangannya melingkari perut Sungmin. Sedang yang sebelah lagi, tengah sibuk memosisikan juniornya tepat di luar lubang rektum Sungmin.

“Ne, master?” jawab Sungmin singkat. Kepalanya menunduk, penasaran dengan sesuatu yang sejak tadi menyentuh-nyentuh bokongnya. Ia ingin melihat ke bawah sana namun yang tampak hanya lengan kekar Seunghyun.

“Aku mencintaimu.” bisik Seunghyun seraya memasukkan kepala juniornya perlahan-lahan ke dalam rektum Sungmin.

“AAAKHH!” Sungmin memekik, tubuhnya tersentak saat benda asing tiba-tiba masuk dan terasa seolah membelah dirinya menjadi dua. “Sakit! Sakit! Keluarkan itu, master-ah!”

Seunghyun meringis, dikecupnya bulir-bulir hangat yang menggenangi sudut mata Sungmin. “Sssh, chagi…” bisiknya sembari berhenti sejenak. Seunghyun bernapas tersendat dan merunduk untuk mengecup bibir Sungmin. Posisi ini juga menyakiti dirinya, namun Seunghyun dengan sabar menunggu. Hingga tangis Sungmin mereda menjadi isak-isak kecil dan bisik tak nyaman.

“M-master—”

“Sssh…” Seunghyun membungkam bibir mungil itu dengan sebuah pagutan kuat. Lalu sembari menyeringai, ia menggoda Sungminnya, menyusupkan lidahnya dan bermain-main di dalam sana. Mengalihkan perhatian Sungmin saat dengan perlahan, pinggulnya kembali bergerak.

“M-Minghh—” Seunghyun mendesah nikmat saat tubuh perawan Sungmin yang kesakitan justru menjepit kepala juniornya dengan erat. Sungmin menggeliat; mencoba bangkit dari pangkuan Seunghyun untuk mengeluarkan benda itu, tapi tangan kekar yang melingkari perutnya menahan gerakannya. Sungmin merengek kesakitan.

“Shhh! Minnie, jangan bergerak.” Seunghyun menghujani leher Sungmin yang basah oleh keringat dengan kecupan-kecupan lembut. Sebelah tangannya mengusap dada Sungmin untuk menenangkannya, lalu menggoda puting mutan itu perlahan.

Pemberontakan Sungmin sedikit tertahan; tubuhnya yang semula menegang sekarang mulai melemas karena kecupan Seunghyun di ceruk lehernya. Sungmin menggeliat, jari-jari yang memainkan puting dadanya memberikan sensasi ‘aneh’ ke perutnya.

Seunghyun menyeringai di balik punggung itu saat merasakan puting Sungmin mulai mengeras, begitu juga juniornya. Tubuh ini cukup sensitive, yang perlu ia lakukan hanya ‘melatihnya’ lebih sering lagi. Seunghyun tahu ia harus mengendalikan diri, bersikap lebih sabar lagi karena ini adalah pengalaman pertama mutannya yang cantik ini.

“A-Ahh!” Sungmin mendesah kaget saat Seunghyun meremas alat vitalnya yang mulai bereaksi. Sang master mengulanginya selama beberapa kali, meskipun dirinya sendiri sudah tidak sabar untuk membenamkan seluruh bagian juniornya ke dalam tubuh ramping itu. Dalam waktu singkat, Sungmin sudah mendekati batasnya dan Seunghyun tahu itu. Dia melepaskan tangannya dari bagian vital mutan itu dan disambut oleh rengekan protes dari Sungmin.

“Sabar sebentar, chagiya…” Seunghyun kembali memosisikan juniornya. “Rileks, Sungmin-ah…” desahnya di telinga Sungmin sebelum Seunghyun mendorong daging keras itu lebih dalam.

Sungmin menarik napas tajam dan menggigit bibirnya saat benda asing yang hangat dan keras itu masuk ke dalam tubuhnya lebih dalam. Ini benar-benar perasaan yang tidak nyaman bagi mutan belia itu. Begitu junior Seunghyun sudah terposisi sepenuhnya di dalam tubuh Sungmin, airmata yang sejak tadi ditahan mutan itu kini tumpah ruah.

Tubuh Sungmin bergetar. Mutan itu sempat bergerak risih. Benda itu berdenyut dan terasa panas di dalam tubuhnya. Di bawah sana terasa perih, Sungmin tiba-tiba berpikir kalau barangkali tubuhnya bisa robek karena dorongan paksa benda di bawah sana. Namun mendengar erangan nikmat sang master, Sungmin mencoba menahan diri dan hanya meringis pelan.

Seunghyun tersenyum puas. Tubuh Sungmin bahkan terasa lebih baik dari apa yang ia bayangkan selama ini. Hangat tubuh yang tak pernah terjamah orang lain sebelumnya, dan… rasa ketat ini. Ia tidak sabar ingin bergerak, tapi Sungmin masih belum terbiasa dengan sensasi ini. Seunghyun menyadari Sungmin duduk di pangkuannya dengan tidak nyaman dan mutan ini masih gemetaran.

“Chagi?” bisiknya lembut.

“M-master?”

“Mmm?”

“Master… senang?” tanyanya polos sembari berpaling, mendongak ke arah Seunghyun.

Ah… Seunghyun mengerti. Sungmin menahan ini demi menyenangkan dirinya. Seunghyun tersenyum lembut padanya dan menghapus air mata di pipi mutan itu.

“Ne chagi. Master menyukai ini, Sungminnie melakukannya dengan sangat baik.”

Mata Sungmin membulat mendengar pujian itu, pipinya merona merah.

“Benarkah?”

Seunghyun mengangguk lalu mencium bahu halus itu.

“Master lanjutkan, ne?”

Sungmin mengangguk pelan, meringis meski alih-alih bibirnya tetap membentuk seulas senyum. Posisi ini sedikit menyulitkannya untuk bergerak, apalagi Sungmin belum bisa mengambil alih untuk bergerak sendiri.

“Sungmin-ah, berlututlah ke depan.” Seunghyun seraya mengarahkan mutan itu untuk berlutut dengan bertahan di kedua tangannya tanpa melepaskan tubuh mereka. Sungmin sedikit meringis dengan perubahan posisi itu.

“Begini master?” Tanya mutan itu dari bawah. Seunghyun mengangguk dan mulai bergerak perlahan, sedikit mengabaikan ringisan Sungmin. Pria itu sebenarnya ingin bergerak sesuka hatinya mengikuti nafsu yang sudah tertahan sedari tadi, berat sekali bagi seorang Seunghyun untuk bersabar seperti ini.

Namun Seunghyun mendelik, begitu ia mendengar desah lembut mengalun dari bibir mutannya. Sejak tadi Sungmin hanya merengek, dan kali ini… Desah itu terdengar seperti melodi.

“…disini ya chagi?” Seunghyun mendorong juniornya ke spot itu.

“AAAHH! AH-Master…” Seunghyun menyeringai mendengar erangan sang mutan yang makin meningkatkan libidonya. Ia mulai bergerak lebih cepat, secara konstan mengarahkan dorongannya ke area yang membuat mutan tersayangnya itu menggeliat nikmat dan mengeluarkan desahan-desahan yang lebih indah dibandingkan lagu manapun di telinga Seunghyun. Membuat napasnya memburu.

“Kau menyukainya, chagi?”

Sungmin menganggukkan kepalanya yang terbenam di bantal, sembari mendesah, brutal. Benda keras di dalam tubuhnya itu membentur sesuatu yang membuatnya seketika melihat bintang.

“A-aah~ Lagi master! Lagi~~” Rengeknya manja. Oh, Seunghyun tentu tidak akan menolak permintaan mutan cantik ini, apalagi setelah sekian lama ia tidak melakukan aktivitas seksual.

Sungmin datang tidak lama setelah masternya meremas juniornya seiring dengan irama dorongan benda keras di dalam tubuhnya itu —ia meneriakkan ‘masteeer~’ dengan sensual.

Dekapan otot-otot dalam tubuh sang mutan juga membuat Seunghyun tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Seunghyun membisikkan nama Sungmin saat dia mengeluarkan semuanya setelah mendorong beberapa kali lagi ke dalam tubuh mungil itu. Yang tersisa hanyalah suara napas mereka dan rasa hangat dari cairan yang ditinggalkan Seunghyun di dalam tubuhnya.

Seunghyun berbaring di samping mutan itu dan menghapus keringat di keningnya, dengan lembut ia menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Sungmin.

Sungmin mengerjap lelah.

“Kau suka itu Sungmin-ah?” Sungmin mengerjap lagi lalu tersenyum lembut, membuat Seunghyun sedikit lega sekaligus senang. Ia mencium kening dan bibir mutan cantik itu dengan lembut sebelum mengulum lidah Sungmin dalam ciuman panjang; sesuatu yang tidak sempat ia lakukan tadi.

Seunghyun melepaskan ciuman itu perlahan.

“Sekarang beristirahatlah, chagi.” Seunghyun mengusap rambut lembut itu sambil menutup tubuh pucat itu dengan selimut. Sungmin mengangguk pelan dan memejamkan mata.

‘Beristirahatlah, mungkin besok pagi kita akan melakukannya lagi.’ Pikir Seunghyun nakal.

.

oOoOoOo

.

Seunghyun mendelik. Kelopak matanya membesar melebihi ukuran normal tatkala Sungmin meletakkan benda bulat hitam dan gersang ke atas piringnya. Bau gosong menyeruak membuat Seunghyun terbatuk-batuk.

“B-baby, ini apa?” tanya Seunghyun bingung sembari menoel-noel benda itu dengan ujung garpu. Seriously? Apa ini sarapan sungguhan?

“Itu pancake!” seru Sungmin ketus dengan bibir yang mengerucut maju. “Master cepatlah makan dan berangkat kerja!”

Seunghyun yang sudah berniat ingin marah karena Sungmin berani membentaknya, kembali menelan kalimat kasar yang sudah ia persiapkan begitu melihat rengutan yang sangat imut di wajah Sungmin.

Akhirnya Seunghyun hanya berdecak, meraih cangkir kopinya sembari berbisik pelan, “Pancake macam apa ini…”

Sungmin tidak mendengarnya. Andai saja telinga sensitif mutan itu menangkap kalimat yang diucapkan Seunghyun barusan, pasti bibir seksinya akan semakin mengerucut maju. Seunghyun terkekeh sendiri membayangkannya. Ia menyeruput kopinya perlahan-lahan, bermaksud menikmati kental dan pahit minuman terenak buatan Sungmin. Namun tidak, ini bukan cita rasa kopi familiar yang ia kenal. Karena begitu cairan kental itu menyentuh lidahnya, Seunghyun menyemburkannya kembali. Dengan panik, Seunghyun berlari ke arah westafel, menyalakan keran dan membersihkan mulutnya dengan terburu-buru.

“PUAH! PEH! PEH!”

Sungmin mendekat dengan bingung. Bagaimana tidak? Pemandangan aneh kepala sang master menunduk di bawah keran dan minum langsung dari pancuran air mentah itu… Hanya melihatnya saja, Sungmin sudah ketakutan. “M-master?”

“YAH! KAU INGIN MEMBUNUHKU, YA? APA YANG KAU MASUKKAN KE DALAM KOPIKU, KUCING SIAL!” sembur Seunghyun sejadi-jadinya. Terlalu murka hingga tanpa sadar bentakannya membuat Sungmin menciut ketakutan.

Sungmin beringsut mundur, menjauhi majikannya. Baru kali ini ia melihat Seunghyun begitu murka, terlebih… Master marah padanya! Wajah Sungmin memucat dan bahunya gemetar. Namun langkahnya teratuk kitchenset dan mau tidak mau karena kaki yang terlalu gemetar, Sungmin jatuh terduduk. Tubuhnya melemas.

“H-hiks…” Sungmin terisak sembari memeluk lutut, kontan membuat Seunghyun terbengong-bengong.

“Y-yah! Kenapa kau menangis!” Seunghyun berseru dengan volume tinggi, tidak bermaksud untuk membentak kali ini. Ia terlalu kaget dan melakukannya tanpa sengaja, namun seruan bernada tinggi itu justru membuat Sungmin menangis makin kencang.

“HUAAAAA!”

“Y-ya!” Seunghyun makin gelagapan. Tidak tahu harus berbuat apa hingga akhirnya, entah mendapatkan bisikan dari mana, Seunghyun ikut berjongkok. Kali ini dengan suara lembut yang seadanya, “H-hei, baby. Sungminnie chagi, m-master tidak bermaksud begitu, hei.”

Seunghyun dengan canggung berusaha bersikap lembut. Ia sudah mengira kalau Sungmin akan menepis tangannya, namun ternyata tidak. Meski gemetaran dan terus menangis, mutan itu hanya menurut, terlalu lemas untuk melawan saat Seunghyun merengkuhnya ke dalam pelukan lembut.

Seunghyun tersentak kaget. Saat wajah Sungmin menyusup ke bahunya, menyentuh kulit lehernya yang terbuka, ia baru sadar betapa panasnya kulit wajah Sungmin.

“Minnie!” seru Seunghyun panik sembari menangkup wajah Sungmin. Ditepuknya berkali-kali saat mata mutan itu sayup-sayup menutup. “Kau demam! Baby, jangan tidur dulu, hei!”

“M-master bosan padaku, ya…” Sungmin tiba-tiba berbisik lirih, matanya terpejam. Namun tentu Seunghyun dapat mendengarnya dengan jelas karena kepala mungil itu bersandar tepat di bawah dagunya. “Master ingin membuangku. Master ingin mutan yang lain. Master ingin menjualku. Hiks.”

“Kau ini bicara apa sih!” Seunghyun senewen sendiri mendengar racauan tak jelas Sungmin. Direngkuhnya bahu itu erat lalu diusapnya wajah Sungmin dengan lembut. “Kita ke rumah sakit sekarang, baby.”

Sungmin menghela napas berat. Tidak menghiraukan ucapan Seunghyun barusan dan kini mutan itu justru beringsut mundur, mendorong-dorong dada Seunghyun dan berusaha membuat majikannya menjauh. Bau tak sedap menusuk-nusuk indra penciumannya.

“Pergi…” bisiknya lemah.

“Huh?”

“Ahng… Pergi… M-master bau.”

“A-apa?” Seunghyun melotot mendengarnya. Nyaris emosi. Kalau saja Sungmin tidak terlihat begitu lemas dan serapuh ini, ia pasti sudah berteriak memaki-maki sejak tadi.

“Master bau!” seru Sungmin kesal. Dengan susah payah ia menopang dirinya sendiri untuk berdiri. Lalu sembari terhuyung-huyung, mutan itu berusaha meraih wastafel. Merunduk dengan lemas lalu mulai memuntahkan semua yang ada di dalam lambungnya. Mengabaikan Seunghyun yang masih tercengang di atas lantai.

“H-hoeeekkk!” Sungmin bernapas tersendat-sendat, muntah lagi lalu terbatuk-batuk. Perutnya terasa seperti diaduk-aduk. “Hoeeek— hiks…” Sungmin meringis dan terisak. Lama-lama merasa kesal dengan dorongan untuk muntah dan mual yang menjadi-jadi namun tidak terlampiaskan karena tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya selain tetes-tetes saliva.

“Ssssh! Ming…” Seunghyun merangkul Sungmin dan mutan itu bersandar lemas di bahu majikannya. Kalau saja Seunghyun tidak menahan tubuh itu erat-erat, Sungmin pasti sudah merosot jatuh. “Kita ke rumah sakit sekarang, ne?”

“Tidak mau, hiks. Tidak mau rumah sakit, master-ah.” Sungmin menggeleng lemah. Samar, kedua tangannya bergerak dan memeluk perutnya sendiri. “Tidak mau— rumah sakit…”

Sampai batas akhir kesadarannya, Sungmin terus meracau, terisak-isak dan berbisik menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Namun tentu Choi Seunghyun tidak menerima penolakan. Tidak saat jantungnya nyaris copot melihat Sungmin yang tiba-tiba limbung dan pingsan dalam pelukannya. Tanpa menunggu lagi, Seunghyun dengan mudah membopong tubuh mutan belia itu dan melesat keluar apartemen.

.

oOoOoOo

.

“—in…”

Sungmin menghela napas berat. Matanya terasa berat hingga ia memejamkannya lagi.

“M—in—ah…”

Namun suara itu tidak berhenti, berbisik samar terus-menerus.

“Min-ah…”

Suara itu terdengar makin jelas. Suara yang begitu familiar, memanggil namanya. Sungmin mengerjap kali ini. Dengan susah payah mengumpulkan segenap kesadarannya dan membuka mata. Awalnya pandangannya masih buram. Hingga Sungmin mengerjap beberapa kali sebelum bertemu pandang dengan wajah tampan majikannya di tengah suasana terang dan aroma obat-obatan.

“Hei, baby…”

“M-master?” Sungmin tersentak kaget, dengan panik mutan itu berusaha untuk duduk. Namun ditahan oleh Seunghyun yang kembali membaringkannya dengan lembut.

“Sssh, jangan bangun dulu, Minnie.” ujar Seunghyun sembari mengusap kening mutannya dan tersenyum lembut, namun hal itu tetap tidak meredakan kegelisahan Sungmin.

“Ada apa, Minnie?” Seunghyun bertanya bingung saat Sungmin bergerak gusar dan dengan gelisah memeluk perutnya sendiri.

“Kitten? M-master tidak membunuhnya, kan?” tanya Sungmin takut-takut.

Mata Seunghyun membulat tidak percaya. “Kau sudah tahu tentang kehamilanmu?” Ia sendiri baru mendengar hal ini dari dokter tadi. Ditatapnya heran mutan yang tampak makin gelisah itu. “Kenapa tidak bilang padaku, Sungmin-ah?”

Dan pertanyaan tegas itu terdengar seperti peringatan. Sungmin mengerut ketakutan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Master sudah tahu dengan keberadaan kittennya. Sungmin menggigit bibirnya yang bergetar.

“M-master… jangan buang aku… ” bisik Sungmin lirih sembari terisak. Kontan membuat Seunghyun melongo kaget.

Melihat tidak ada respon berarti dari majikannya, tangis Sungmin pecah. Ditekan oleh ketakutan yang menjadi-jadi, Sungmin memaksakan dirinya untuk duduk. Meski masih pusing dan sedikit nyeri, mutan itu tiba-tiba menghambur memeluk majikannya. Mengerat Seunghyun sekuat tenaga seolah seluruh hidupnya bergantung pada Seunghyun.

“J-jangan buang aku, t-tapi jangan bunuh kitten juga. Kumohon master, Sungminnie akan jadi mutan yang baik. Janji, janji!” Sungmin berbicara tersendat-sendat, airmatanya mengalir deras, membasahi wajahnya yang masih pucat pasi.

“Y-yah! Kau ini sudah bangun atau belum? Masih setengah bermimpi ya?” Seunghyun berseru heran, dengan sebal ditepukinya pipi Sungmin berkali-kali. Berusaha menyadarkan mutan itu dari igauan atau apapun itu yang membuatnya meracau sembarangan.

“M-master jangan buang aku, hueee!”

“Y-yah! Aduh! Sssh, diam Sungmin-ah! Siapa juga yang mau membuangmu sih! Daripada dibuang lebih baik dijual, hargamu itu mahal tahu!”

“JANGAN JUAL AKU MASTER HUEEEE!”

“Yah!” Seunghyun berdecak kesal, gagal menenangkan Sungmin karena sejak awal ia memang tidak berbakat untuk menenangkan orang yang menangis. “Aku tidak akan menjualmu, Minnie. Apalagi sekarang kau sedang mengandung anakku, haish. Memangnya mastermu ini sekejam apa, sih?” Seunghyun mendumal sendiri, tanpa disangka-sangka cibirannya barusan justru berhasil menghentikan tangis Sungmin.

Sungmin melepas pelukannya, ia menghapus airmatanya dengan punggung tangan, masih merasa malang namun dengan penuh harapan, mutan itu balas memandangi majikannya. Menahan satu dua isak yang tanpa sengaja keluar dan berusaha bicara meski masih tersendat-sendat.

“M-master tidak ingin menjualku? Ma-master tidak ingin mem-buangku?” tanyanya sedikit terisak, dengan mata yang masih berkaca-kaca.

“Memangnya siapa yang bilang? Kalau kau ditawar orang dengan segunung emas pun tidak akan kuberikan!”

Mendengar itu, bibir Sungmin bergetar lagi. Bahunya ikut gemetar. Airmatanya kembali menggenang. Lalu tangis memekikkan telinga itu lagi-lagi pecah.

“H-hueeeee! Masteraaaah!”

“YAH! Kenapa menangis lagi sih, ish! Dasar kucing cengeng!” bibir Seunghyun memang melontarkan cibiran dan terus berseru marah, namun alih-alih tangannya bergerak lembut, balas memeluk Sungmin dan menepuk-nepuk kepala mutan itu dengan sayang.

Lama mereka saling berpelukan, hingga Sungmin yang kelelahan kembali tertidur dengan mata sembab. Seunghyun membaringkannya perlahan-lahan, ia mengecup kening dingin itu sebelum melepaskan rengkuhannya. Berhati-hati agar gerakannya tidak membangunkan Sungmin lagi.

“Ckck, tak kusangka uri Seunghyunnie bisa bersikap semanis ini pada makhluk hidup lain…”

Seunghyun berpaling dan hanya berdecih sinis pada sosok yang mengenakan jas dokter dan berdiri bersandar di pintu.

“Cerewet sekali, Junsu-hyung.”

Junsu terkekeh senang. Dokter muda itu melangkah mendekati Seunghyun yang tengah sibuk memainkan rambut Sungmin. Bibirnya lagi-lagi mengulas sebuah senyum kharismatik.

“Itu normal Seunghyun-ah…” ujar Junsu tiba-tiba.

“Apa?” tanya Seunghyun bingung. Ia melirik sepupunya sekilas, sebelum kembali mengusap keringat yang membasahi kening Sungmin.

“Sikap paranoidnya… Normal kalau Sungmin berpikiran kau akan membuangnya. Karena kasus yang sering terjadi memang seperti itu. Banyak majikan yang menjual mutannya atau paling tidak memaksa mutan mereka untuk menggugurkan kandungan saat mutan-mutan itu ketahuan hamil.”

Seunghyun mendengus. Tidak semua majikan semenjijikkan itu kan? Menggunakan mutan hanya untuk dijadikan boneka seks.

“Kulihat dia mutan kucing.” Junsu menunjuk cuping telinga Sungmin. “Untuk kasus mutan kucing, masa kehamilannya akan lebih sulit. Induk kucing cenderung lebih waspada dan protektif. Jangan kaget kalau anak kalian sudah lahir nanti, Sungmin tidak ingin sekamar denganmu lagi. Atau kalau ia ingin berpindah-pindah kamar, sering-sering saja konsultasi denganku…”

“Hng.” Seunghyun hanya berdengung, matanya masih lekat memandangi Sungmin. “Apa kehamilan ini berbahaya untuknya?”

“Hmmm…” Junsu bergumam sebentar, menyusun kata-kata yang sekiranya tidak akan menyinggung Seunghyun. “Sedikit berbahaya sebenarnya. Apalagi usianya masih sangat belia. Berapa umurnya”

Seunghyun tidak menjawabnya. Ia memutar bola matanya, berpikir keras dan mengingat-ingat. Ia sendiri tidak tahu berapa usia Sungmin, lain kali biar ia tanyakan pada Woohyuk. Tapi kali ini, Seunghyun hanya menjawab asal, “Enam belas.”

“Ah… Seperti dugaanku. Aku malah menyangka bocah ini masih empat belas.” Junsu berdecak sembari memegangi dagu. “Masa kehamilan mutan berlangsung lebih cepat. Untuk kucing mungkin sekitar 6 bulan. Tapi selama kau bisa mengurusnya, tidak apa-apa. Sungmin pasti bisa melaluinya. Datang saja padaku kalau ada masalah. Seunghyun-ah, jaga dia baik-baik.”

Seunghyun berdecak. Dikecupnya sekilas bibir Sungmin.

“Aku tahu, tidak usah kau beri tahu pun aku sudah menjaganya dengan baik.”

Junsu tersenyum puas. “Dan Seunghyun-ah…”

“Hng?”

“Tolong batasi ronde making love kalian.”

Seunghyun mendelik, marah. “Yah, hyung!”

.

oOoOoOo

.

TING! TONG!

Sungmin terkesiap, berhenti mengirisi tomat dan segera berpaling ke arah datangnya suara.

TING! TONG!

Bel apartemen berdenting lagi. Kini membuat Sungmin benar-benar harus menghentikan pekerjaannya dan tergopoh-gopoh menuju pintu depan.

Sungmin melambatkan langkahnya tatkala ia mengingat pesan majikannya untuk tidak bergerak sembrono. 3 bulan berlalu sejak saat ia terbangun dan menemukan sang majikan begitu bahagia menerima keadaanya. Master bahkan semakin bersikap lembut padanya dari hari ke hari. Menuruti semua keinginannya dan Sungmin semakin bahagia saja tinggal di tempat ini.

Melewati usia 4 bulan, perutnya sudah tumbuh sebesar ini. Dan 2 bulan lagi, kitty lucu akan segera lahir. Master bahkan sudah menyiapkan beberapa nama cantik untuk kitten mereka kelak. Semua nama untuk kitty perempuan. Tidak tahu kenapa masternya begitu yakin kalau bayi mereka kelak memang bergender perempuan.

Sungmin tersipu malu. Entah kenapa merasa senang dengan sikap ngotot masternya itu.

Mutan belia itu tersenyum dan mengusap perutnya dengan sayang. Lalu tanpa memeriksa lewat intercom, ia membuka pintu depan. Tidak merasa curiga sama sekali tatkala dilihatnya seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan pintu. Setelan jas coklat dan dandanan yang rapi membuat orang itu sedikit mirip dengan teman-teman master.

“Y-ya? Apa tuan mencari master Seunghyun? Master Seunghyun belum pulang…” sahut Sungmin dengan suara pelan.

Namun orang itu bergeming, tetap berdiri di sana sembari melirik-lirik ke dalam. Dengan wajah serius orang itu berkata, “Saya harus memberikan sesuatu dan menyampaikan hal penting secara langsung. Bolehkah saya menunggu di dalam?”

“Uhm.” Sungmin terdiam, mutan itu menggigit bibir dengan gelisah. Tidak yakin untuk mengizinkan orang ini masuk tapi juga takut untuk menolak.

Melihat keraguan Sungmin, orang itu tersadar dan terkekeh pelan. Ia mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan sebuah kartu, tanda pengenal bertuliskan ‘Choi Dongwoo. Choi Group Corp.’ yang tentu tidak bisa dibaca oleh Sungmin karena mutan itu benar-benar buta aksara. Namun mutan itu mendelik saat ia melihat lambang di ujung kartu. Lambang yang sangat familiar tercetak di beberapa barang yang ada di apartemen majikannya. Lambang yang sering ada dibalik dasi dan kemeja master Seunghyun. Lambang berbentuk spiral kecil dengan satu garis melintas di tengahnya. Lambang keluarga Choi.

“Bolehkah saya masuk?”

“Uhng.” Sungmin terkejut. Mutan itu berkedip beberapa kali sebelum mengangguk-angguk dengan terpaksa. Masih sedikit ragu namun entah kenapa tangannya bergerak begitu saja, membukakan pintu lebar-lebar dan mempersilahkan orang itu masuk.

Tanpa dipersilahkan lagi, orang itu melangkah masuk dan langsung duduk di sofa ruang tamu. Sungmin yang merasa canggung berdiri jauh-jauh darinya sebelum bertanya, “T-tuan ingin minum apa?”

Orang itu tersenyum. “Kopi panas, bisa?”

Sungmin mengangguk-angguk gugup dan segera berbalik, melesat menghilang di balik pintu dapur. Meninggalkan tamu misteriusnya tanpa pengawasan sama sekali. Tanpa menyadari saat sosok itu menyeringai lebar begitu Sungmin menghilang di ruangan lain.

Dongwoo, orang yang sesungguhnya bukan anggota Choi Group itu melirik kesana-kemari. Mengawasi seluruh benda yang ada di ruang tamu apartemen mewah ini sebelum matanya bertemu dengan segelas susu di atas meja. Susu itu masih penuh, belum terminum sama sekali. Dan saat Dongwoo mengulurkan tangannya untuk menyentuh tubuh gelas…

Ia menyeringai lagi.

Susunya masih hangat.

Dengan gesit, Dongwoo meraih ponsel dan sebungkus kecil serbuk yang disimpannya di saku kemeja. Untuk mempersingkat waktu, ia buru-buru mendial nomor di ponselnya dan membuka bungkus itu dengan ujung kukunya yang runcing. Sedikit waspada, Dongwoo mengawasi pintu dapur, berjaga-jaga kalau-kalau mutan cantik itu muncul dari sana.

“Halo?”

“Halo, Bos…”

“Oh, Dongwoo-ah. Kau sudah sampai di apartemen bocah sial itu?”

“Sudah, Bos. Dan kau benar. Seunghyun memang tinggal dengan seekor mutan. Sedang hamil—” Dongwoo menyeringai, ia menjilati bibirnya saat wajah cantik mutan itu kembali terbayang dalam benaknya. “—dan mutan ini memang cantik sekali…”

“Sudah sejauh mana aksimu?”

Dongwoo menuangkan serbuk itu ke dalam gelas susu, ia memasukkan kembali bungkusnya ke dalam saku. Lalu diaduknya serbuk yang terambang itu dengan telunjuk.

“Pertunjukan baru akan dimulai.”

“Bagus. Hahaha, selamat menikmati Dongwoo-ah. Jalankan tugasmu seperti yang kita rencanakan.”

“Laksanakan!”

Flip!

Dongwoo mengulum jemarinya hingga bersih, bersamaan dengan Sungmin yang muncul membawa nampan kecil berisi kopi panas yang masih mengepul. Dongwoo memperhatikan dengan seringai, saat mutan cantik itu perlahan meletakkan cangkir kopi ke atas meja. Mutan ini bergerak dengan hati-hati, memegangi perutnya dengan gestur melindungi sebelum ikut duduk di sofa yang lain. Di posisi yang menyudut sejauh-jauhnya dari Dongwoo.

Sikap waspada dan samar ketakutan yang tampak di wajah itu, justru membuat Dongwoo semakin tidak sabar.

Keduanya tidak saling bicara. Sungmin tidak mungkin mengucapkan sepatah katapun pada orang asing, terlebih yang tampak menakutkan dan terus-terusan memandanginya seperti ini. Sembari balik memandangi tamunya dengan was-was, Sungmin meraih gelas susunya. Ia membuatnya tadi dan belum sempat meminumnya sama sekali. Sebelum susu itu dingin, ia harus menghabiskannya. Sungmin mendekatkan bibir gelas itu ke mulutnya, meski matanya lekat mengawasi tamu misterius ini. Dan karena mata tajam itu balas memandangnya lebih dalam, Sungmin menunduk gugup, menelan habis isi gelas itu dalam satu tegukan tanpa jeda hingga ia tersedak dan terbatuk-batuk.

“Hum! Pelan-pelan Minnie!” suara khawatir tamu itu terdengar begitu dekat. Sungmin mendengarnya, dan tentu saja merasa janggal saat orang asing memanggilnya dengan sebutan akrab itu. Namun mutan itu sibuk terbatuk-batuk. Refleks matanya terpejam saat tiba-tiba nyeri menghantam kepalanya.

“Aaah…” rintihnya sembari memegangi kening. Rasanya begitu pusing. Sungmin membuka matanya dan sempat tidak fokus, segalanya tampak buram. Sosok samar merunduk di depannya. Namun Sungmin sudah tidak sempat memikirkannya, terlebih saat pusing di kepalanya berganti dengan rasa yang jauh lebih menyakitkan. Panas. Panas melanda sekujur tubuhnya. Sungmin merintih-rintih merasa seolah tubuhnya tengah terbakar api.

“Aaah, panaaas…”

“Sssssh, Sungmin-ah…” suara itu berbisik lagi. Kali ini terasa semakin dekat. Sungmin merintih dan menangis, panas itu semakin menyiksanya. Membuat Sungmin tanpa sadar mengerat-ngerat kerah piyamanya, berusaha menanggalkan benda itu dari tubuhnya. Mencoba mencari kesejukan namun panas itu semakin lama terasa semakin membara.

“Sssh, biar kubantu menanggalkannya, Minnie…”

Sungmin tersentak, rasanya sulit berpikir lurus, setengah tidak sadar namun ia yakin seseorang membantunya menanggalkan pakaian. Dengan takut, Sungmin membuka matanya.

Wajah asing menyambutnya, membuat mutan itu terkesiap dan refleks memberontak. Sungmin menggerung tidak suka, berusaha melawan rasa panas dan sentuhan orang ini secara bersamaan. Namun sesaat, Sungmin berhenti bergerak. Napasnya memberat dan dadanya naik-turun dengan lemah. Wajah itu memudar dan dengan aneh kembali terbentuk, kini menjadi raut seseorang yang begitu familiar.

“M-master?” bisik Sungmin melirih, kali ini tidak melawan sama sekali saat sosok berwajah master itu melepas kancing piyamanya satu persatu.

“Ya, aku mastermu, Sungmin-ah…”

“P-panas masterahh…” Sungmin menggeliat, secara naluri bergerak maju, mencari perlindungan dari sosok yang tampak seperti majikannya.

“Sssh, be patient baby, master’s gonna make it go away…” bisik Dongwoo seduktif sebelum dengan ganas, disambarnya bibir Sungmin dengan sebuah pagutan panas. Pemuda bertubuh tegap itu menyeringai, saat Sungmin perlahan membalas ciumannya dan semakin lama mutan itu bergerak makin tidak sabar.

Dipapahnya tubuh Sungmin untuk berbaring di atas sofa, dan Dongwoo memagut bibir itu lagi. Memulai sebuah persetubuhan panas, ciuman yang saling berbalas, dan cumbuan di seluruh bagian mulus tubuh Sungmin yang tercapai oleh bibirnya. Dongwoo menciptakan suasana panas di ruang depan apartemen Choi Seunghyun, menunggu dan menunggu sembari menikmati sajian mutan terindah ini, hingga suara ‘klek’ terdengar dari arah pintu.

.

oOoOoOo

tebeseeeeeeh!

oOoOoOo

.

 

13 thoughts on “Kitty-Kitty Baby! – Flashback Part 2

  1. shanty kyuminnie arashi says:

    Aaaaa…… Itu sungmin d apain ???????
    Andweeeee………….!!!!!!!!!!!!!

    Master nya ming sayang bgt sama ming….
    Sama calon anak nya pula….
    Trus knp sungmin bisa kabur ya ??????
    Cerita nya panjang…..
    Aq betah bacanya….
    Penasarannnn……

    Lanjut lg…..

  2. Lee Min Chan says:

    Ahhh~
    kasian juga sma Seunghyun oppa di sini . .
    Itu Sungmin d rape” kpan Seunghyun dteng buat nolong dia ??? U.u
    kira.n yg bkalan nyiksa dia itu Seunghyun trnyata orag lain . . .

  3. Ryu Shii says:

    wooooo! itu sungminnya kasian!! udah lagi bahagianya sama master ! ada aja sih gangguannya!! terus gimana ? T T to the next..

  4. kyuma0403 says:

    Ming polos banget…. tega bgt deh kl ada orang yg berani nyakitin Ming yg kayak gini… masternya Ming tempramennya buruk bgt, pasti suatu hari Ming disakiti ma di #asal nebak
    waduh, ini kyaknya Ming dijebak deh, padahal baru aja bahagia… aduh gimana kl masternya tahu???

  5. 010132joy says:

    Ugh ga suka ming sma yg lain jd aq bcanya bnyak yg d skip trutama ncnya
    heh 16 thn dan ming hamil? Y ampunnnnn
    trus itu dongwoo ngapain ksitu trus naruh apaan dglasnya ming ?

  6. skip baca yang bagian Nc-nya, maklum masih puasa.. wkwkwkwk
    itu.. itu.. endingnya apa-apaan ? mau memperdaya sungmin ?
    Ah, kayaknya ini bakal jadi awal penderitaan sungmin. si seunghyun itu orangnya emosian ya.. dimaklum juga sih..

  7. wah jangan2 yg buka pintu seunghyun lg dia ngeliat ming bercmbu gt makanya marah n tetus nyiksa ming makanya ming kegguguran,,, kkkk cuman nebak2 aja abisnya masternya kayak sayang banget ma ming.

  8. wah jangan2 yg buka pintu seunghyun lg dia ngeliat ming bercmbu gt makanya marah n tetus nyiksa ming makanya ming kegguguran,,, kkkk cuman nebak2 aja abisnya masternya kayak sayang banget ma ming. aaking sayangnya ampe protektif n gak mau ming disentuh ma orang lain selain itu dia jg tempramen

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s