Kitty-Kitty Baby! – Flashback Part 3

Seunghyun bersenandung. Ia melangkah masuk melewati meja resepsionis dengan senyum tegas di wajahnya. Suaranya memang tak merdu, tapi siapa yang peduli. Ia sedang bahagia hari ini. Abaikan saja fakta bahwa ini adalah kali pertama Seunghyun bernyanyi, setelah nyaris dua puluh tahun. Seunghyun sendiri tidak ingat kalau ia pernah bernyanyi semasa taman kanak-kanak, atau saat di gereja, atau saat orang-orang sibuk bernyanyi dan berbahagia di tengah pesta.

Tidak pernah sekalipun selama hidupnya, Seunghyun pernah merasa sebahagia ini. Dan sekali lagi, siapa yang peduli. Dengan luwesnya Seunghyun melangkah mengabaikan tatapan heran pelayan dan cleaning service yang memang sudah tak asing lagi dengan sosoknya, mungkin dalam hati mereka bertanya-tanya kenapa tuan muda yang selalu memasang tampang keras dan kening berkerut itu tiba-tiba tampak begitu ceria. Sialnya Seunghyun bahkan menganggap mereka tak ada, yang ada di depan matanya hanya sosok Sungmin. Sosok mungilnya di balik balutan piyama pink dengan ekor yang berkibas semangat, dan cuping berbulu yang lembut itu, lalu suara rengekan manjanya mengalun dari bibir plump yang seakan terus minta dicium. Oh, berhenti membayangkannya karena Seunghyun sendiri merasa tak tahan berfantasi di tengah jalan.

Seunghyun tersenyum sumringah sembari berucap ’78 floor’ pada microradio, ia menunduk malu dan merasa bersyukur karena saat itu tidak ada orang lain di dalam lift. Ia bisa terkekeh dan tersenyum sepuasnya tanpa khawatir seseorang akan menganggapnya gila.

Sekarang yang terpenting bagi Seunghyun hanya Sungmin-nya…

Kekasih manisnya yang tengah mengandung dan setia menunggu kepulangannya.

Dengan sekotak strawberry cheesecake di tangan kiri dan plastik besar berisi cemilan ringan di tangan kanan, Seunghyun melenggang keluar dari lift. Membawa belanjaan sebanyak ini ditambah lagi dengan tas kerjanya, jujur Seunghyun merasa direpotkan. Namun Sungmin menyukainya, dan Seunghyun merasa rela jika harus direpotkan seribu kali lipat lagi hanya dengan imbalan senyum manis Sungmin.

Seunghyun mendengus. Mencibir dirinya sendiri. Entah sejak kapan ia menjadi Seunghyun yang manis seperti ini. Kalau hyung-hyungnya tahu, ia pasti akan jadi bahan ejekan. Hah.

.

oOoOoOo

.

 

Dongwoo memagut bibir itu lagi. Memulai sebuah persetubuhan panas, ciuman yang saling berbalas, dan cumbuan di seluruh bagian mulus tubuh Sungmin yang tercapai oleh bibirnya. Dongwoo menciptakan suasana panas di ruang depan apartemen Choi Seunghyun, menunggu dan menunggu sembari menikmati sajian mutan terindah ini, hingga suara ‘klek’ terdengar dari arah pintu.

“Sungmin-ah?”

Pertunjukan dimulai.’

Dongwoo menyerigai begitu suara kantung plastik yang berat jatuh menghantam lantai, sepertinya benda-benda itu berserakan hingga menimbulkan suara deting dan krosak yang mengusik. Pekik kaget orang itu bahkan tidak membuat Dongwoo menghentikan pekerjaannya, ia justru makin memagut bibir Sungmin dengan penuh napsu. Suara desah lembut terus meluncur dari bibir bengkak Sungmin, mutan itu bahkan memejamkan matanya dan sesekali membusungkan dada, mencari sumber kenikmatan yang sejak tadi mengulum bibir dan menjejaki kulit sensitif lehernya. Kesadarannya bahkan sudah melayang entah kemana. Sungmin sama sekali tidak menyadari kehadiran sosok ketiga yang berdiri mematung di bibir pintu.

“S-Sungmin-ah?”

Sungmin bahkan tidak mendengarnya, namun Dongwoo mendongak dan berpaling. Lalu matanya mendelik dan mulutnya menganga, berpura-pura kaget dengan kehadiran Seunghyun di apartemen mewah ini.

“W-wah, sepertinya mastermu sudah pulang sayang. Kalau begitu aku juga harus pulang, Minnie-ah.” Dongwoo beranjak dan segera membenahi kemejanya, sebisa mungkin menunjukkan wajah tampannya saat ia menjilati bawah bibirnya yang sedikit membengkak. Sungmin sempat menggapai-gapai, kebingungan mencari sosok yang tiba-tiba hilang dari atas tubuhnya. Dongwoo yang menyadarinya makin menyeringai merasa menang. Sebelum berdiri Dongwoo sempat mengecup bibir Sungmin sekilas, membuat mutan belia itu makin linglung dan beringsut duduk sembari memegangi kepalanya yang sakit.

“Bye, Sungmin-ah. Kalau ingin sesuatu, telpon saja aku dan kita bisa bertemu di tempat biasa.” Dongwoo mengerling ke arah Seunghyun yang masih mematung, semakin merasa senang melihat wajah pucat dan mata merah yang membulat shock itu. Oh, ia harus menceritakan hal ini pada boss dan boss pasti akan memberi bonus lebih untuknya. Dongwoo bisa membayangkan betapa hal ini sangat mengejutkan tuan muda Choi Seunghyun hingga tangan kekarnya gemetar hebat. Meski entah kenapa semakin lama pemandangan wajah yang memerah itu mulai membuat Dongwoo khawatir. Tanpa menunggu lagi, Dongwoo melangkah gesit, bermaksud keluar melewati ambang pintu yang tertutupi oleh tubuh kekar Seunghyun. Namun sayang sekali, tidak sekarang atau selamanya ia bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup.

“Mau kemana kau, bangsat?” Seunghyun mendesis, matanya yang semerah darah berkilat tajam. Ia menggenggam kuat lengan Dongwoo hingga pria itu meringis kesakitan. Meski berkali-kali Dongwoo memberontak dan menarik bahunya agar terbebas, namun tenaga Seunghyun benar-benar membuatnya tercekat.

“Lepaskan aku, sial. Kalau memang sudah tidak bisa memuaskan mutanmu lagi, berikan saja dia padaku.” ejek Dongwoo sembari tertawa senang, meski jauh dalam hatinya ia merasa takut. Tidak sedikitpun Seunghyun bergeming, namun genggaman tangan pemuda itu begitu kuat hingga Dongwoo tidak bisa membebaskan diri. Padahal mereka memiliki tubuh yang sama kekarnya, dan hal itu membuat Dongwoo panik hingga tanpa pikir panjang ia melayangkan tinjunya.

CRACK!

Belum sempat bogem itu mendarat di wajahnya, Seunghyun bergerak lebih cepat. Ia meraih welcome box yang tertempel di dinding, menariknya, dan menghantamkannya ke arah kepala Dongwoo hingga benda itu retak menjadi dua.

“AAARGGH!” pekik Dongwoo kesakitan dan terhuyung-huyung mundur sembari memegangi kepalanya yang terluka parah. Darah mengucur deras hingga membasahi leher dan kemeja gelapnya. Dongwoo mengerjap dan menggeleng lemah. Butuh beberapa saat untuk kembali fokus namun tentu saja, Seunghyun tidak akan memberikan kesempatan untuknya bahkan hanya untuk menarik napas.

CLIK.

Seunghyun mengacungkan revolver kecil dengan tangan kirinya, tepat mengarah ke kepala Dongwoo. Tanpa menunggu hingga lelaki itu mendongak, Seunghyun menarik pelatuknya dan—

DARR!

Sungmin tersentak, suara tembakan barusan seakan menyumbang separuh kesadarannya kembali. Ia menggeleng berkali-kali, bayangan di hadapannya tampak sedikit buram. Namun lama-kelamaan, Sungmin mampu menangkap dua sosok yang berdiri dan terbaring di atas lantai.

“M-master?” panggil Sungmin lirih sembari memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Mutan remaja itu berkedip, dua kali, sebelum ia menyadari sosok yang terbaring di lantai sudah mati bersimba darah.

“M-master! A-apa yang kau lakukan?” Sungmin tercekat, matanya membulat shock. Jelas sekali ia melihat Seunghyun menggenggam pistol di tangannya.

“Apa yang kulakukan? Apa yang kau lakukan?” Seunghyun terkekeh hambar, pistol itu merosot dari tangannya dan jatuh menghantam lantai. Ia berbalik, memandang Sungmin dengan mata nanar. Wajah itu ketakutan, Seunghyun tahu tapi ia tidak akan tertipu lagi. “Kenapa? Kau sedih karena kekasih gelapmu mati?” bisik Seunghyun lembut sembari mengusap pipi Sungmin.

Mutan itu gemetaran, keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Ekspresi dan tingkahnya makin meyakinkan Seunghyun kalau Sungmin memang terkejut melihat kedatangannya. Berapa kali mereka bercinta di sofa ini? Apa mereka pernah menggunakan kamarnya? Hanya membayangkannya saja, bara api seakan meyala dalam hati Seunghyun.

“Berani sekali kau mengkhianati aku, Sungmin-ah?” lirih Seunghyun saat ia meraup tubuh Sungmin ke dalam satu pelukan. “Berani sekali…” lirihnya lagi. Airmatanya mengalir, membasahi piyama Sungmin.

Sungmin tercekat, kebingungan mendengar tuduhan Seunghyun. Semakin bingung lagi melihat seongok mayat tergeletak bersama mereka di ruangan ini. “M-master, tapi aku— aku—”

“AKU APA?!” seru Seunghyun murka. Wajahnya memerah, matanya memerah. Dijambaknya rambut Sungmin hingga mutan itu memekik kesakitan. “KAU BERJANJI UNTUK TIDAK MENINGGALKANKU, JALANG! TAPI KAU MENGINGKARI JANJIMU!”

“M-master aku tidak—”

“DIAM!”

BUGH!

Seunghyun benar-benar membuat Sungmin bungkam, dengan meninju pinggir bibir mutan itu. Sungmin meringis dan beringsut ketakutan, berusaha kabur. Satu giginya terlepas, darah mengalir dari sudut bibirnya.

“Tidak, kau tidak akan meninggalkan aku, Sungmin-ah. Kau akan hidup di dalam nerakaku, bersamaku.” bisik Seunghyun sembari menyeret Sungmin masuk ke kamarnya. Suara teriakan mutan itu teredam, begitu pintu kamar tertutup. Namun sesaat kemudian, suara gemuruh dan teriakan bercampur. Mengusik keheningan malam.

.

oOoOoOo

.

 

Bangun, Sungmin!”

Sungmin tersentak dan segera terbangun dari mimpi buruknya. Mutan itu bernapas tersengal, tubuhnya menggigil dan airmatanya menggenang di pelupuk mata, masih bisa membayangkan dengan jelas bagaimana master menyakitinya. Tapi itu hanya mimpi buruk. Sungmin tertawa meski airmatanya mengalir. Syukurlah itu hanya mimpi buruk. Sesaat, Sungmin merasa dunianya kembali dan ia harus menjalankan rutinitasnya di pagi hari. Tapi sesuatu menarik perhatiannya begitu ia duduk di pinggir tempat tidur.

Sungmin meringis dan meremas pinggangnya, bagian bawah tubuhnya terasa sakit. Pemuda itu juga memandang bingung pakaian yang ia kenakan pagi itu. Piyama berkaki dan berlengan panjang favoritnya kini koyak tidak berbentuk. Meski masih terpasang, pakaian itu dengan jelas memperlihatkan kedua paha dan bahunya.

“A-ah!” Sungmin memekik saat tanpa sengaja ia menepuk pahanya, begitu ia mengangkat tangan, darah menempel di bagian telapaknya. Dengan panik, Sungmin menyusuri sepanjang paha dan kakinya, makin terkejut setiap kali ia menemukan goresan luka dan memar. Memar, memar, memar, begitu banyak hingga Sungmin meringis ketakutan, merasa kulit putih kakinya sudah tertutupi oleh warna memar.

“A-apa ini?” lirih Sungmin yang kini memeriksa kedua lengannya dan menemukan hal yang sama. Memar. Apa yang terjadi? Sungmin memutar kepalanya dengan panik, baru menyadari suasana kamar yang berantakan seperti baru saja dilanda topan. Dengan tangan gemetar, Sungmin memeluk perut buncitnya, airmatanya menetes lagi saat kitten bergerak lemah dari dalam sana.

Mimpi buruknya seakan terulang, kali ini terasa begitu nyata. Sungmin membungkam mulut untuk menahan tangis, ia ingin Masternya sekarang. Sungmin menggigil di dalam kamar sembari memeluk perutnya, terus membisikkan kata ‘Master’ berkali-kali dengan suara lirih. Hingga Seunghyun menghambur masuk dan berdiri di hadapannya, namun… ada sesuatu yang aneh dari wajah master.

“Bangun, sial!”

Sungmin tersentak. Bukan hanya membentak, master juga menarik lengannya dan menyeretnya keluar kamar. Sungmin meringis, master meremas memar di pergelangan tangannya dan tampak tidak peduli kalaupun Sungmin merintih kesakitan.

Perut Sungmin bahkan hampir menghantam lantai saat Seunghyun mendorongnya dengan kasar, beruntung Sungmin dengan refleks memutar tubuhnya hingga pinggulnya yang menghantam lantai lebih dulu.

“A-ah!” Sungmin mengerang kesakitan, perut hingga bawah pinggulnya sesaat terasa keram. Mutan itu menunduk dan betapa terkejutnya ia saat darah merembes dari bawah celananya. “M-master?”

Seunghyun menarik tubuh dingin Dongwoo dan menyumpalnya masuk ke dalam sebuah koper besar. Berkali-kali ia harus menekan atas koper agar benda itu menutup, namun tubuh kaku Dongwoo semakin menyulitkannya. Seunghyun dengan terpaksa mematahkan kaki dan tangan mayat itu lalu kembali merekatkan resleting koper. Wajah datarnya tidak mengatakan apapun, seakan mayat yang baru saja dimasukkannya ke dalam koper tidak lebih dari seongok sampah. “Bersihkan semuanya, saat aku kembali aku ingin ruangan ini sudah rapi.” perintah Seunghyun sembari menyeret koper besar itu dan menghilang di balik pintu dapur.

Sungmin tertegun, matanya terus mengikuti langkah Seunghyun hingga tubuh masternya menghilang. Sedikit yang tersisa dalam ingatannya. Master memang menembak seseorang semalam, setelah itu entah kenapa master mengamuk dan menyakitinya.

Sungmin mendelik. Mutan itu baru menyadarinya. Yang ia rasakan bukan mimpi buruk. Semalam master memang benar-benar melukainya, memukul dan menampar, memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya dan membuat Sungmin merasa dekat dengan kematian.

“H-hiks.” Sungmin menunduk, berkedip lemah dan bulir-bulir airmatanya meleleh. Kenapa master berbuat seperti itu? Sungmin merasa perlu untuk bertanya, namun di sisi lain ia juga merasa takut. Apa master mengalami masalah besar?

Dalam kebingungannya, Sungmin hanya bisa merintih kesakitan. Mutan itu mulai membersihkan ruang tamu dari darahnya sendiri yang berceceran di bawah kaki. Namun tubuhnya terlalu lemah, Sungmin tidak kuasa untuk berdiri. Pecahan kaca yang berserakan di lantai semakin membuat mutan itu takut bergerak kemanapun. Sungmin memutuskan untuk menunggu master Seunghyun saja, mungkin setelah ini emosi master akan sedikit mereda dan master akan menolongnya berdiri dari sana. Namun begitu Seunghyun kembali, ekspresi datarnya tidak beranjak dari wajah yang biasanya lembut menghadapi Sungmin.

Sungmin nyaris-nyaris tidak mengenali majikannya. Terlebih saat sesuatu menghantam wajahnya. Itu tangan master, master baru saja menamparnya. Lagi.

“KENAPA BELUM DIBERSIHKAN, KUCING SIAL!”

“K-kakiku, master.” Sungmin berbisik manja, menarik celana panjang Seunghyun berharap master akan segera memeluk dan menggendongnya. Namun Seunghyun justru menghempas tubuhnya kasar, kaki besar itu juga menendang perut Sungmin hingga mutan itu bersimpuh di atas hamparan kaca-kaca tajam.

“Kenapa? Kakimu sakit?” desis Seunghyun sinis, dengan sengaja menginjak telapak tangan Sungmin. “Biar kutambah di tanganmu juga! Kau pikir siapa dirimu, hah!”

“M-master—” Sungmin memekik, pecahan kaca di bawah telapak tangannya berderik menggores kulitnya. Mutan itu merintih melihat pecahan kaca menusuk tangannya hingga menembus daging, darah merah merembes dari sana. “A-aaah! M-master, kenapa?” ratap Sungmin setengah terisak, ia mendongak memandangi majikannya dengan mata berkaca-kaca.

Melihat wajah itu, Seunghyun mendengus lagi. Merasakan perih menggores hatinya. Apakah semudah itu orang lain mengkhianatinya? Padahal Seunghyun sudah mengorbankan banyak hal, mengubah sikap dan menahan emosinya, tapi bocah berwajah polos ini sama menjijikannya seperti Goo Hara.

“Jangan menatapku dengan mata itu. Kau ingin diperlakukan seperti peliharaan? Aku akan mengabulkannya!” seru Seunghyun sebelum berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Mengacak-acak isi lemari, sudah tidak peduli lagi kalau perbuatannya semakin memperburuk keadaan kamar. Begitu menemukan benda yang dicarinya, Seunghyun menyeringai dan beranjak kembali ke depan.

“A-apa itu master?” bisik Sungmin ketakutan. Master tengah memegang benda serupa bandana di tangan kanannya, namun setelah melihat lebih dekat. Sungmin baru menyadari kalau benda itu adalah collar, dengan rantai panjang dan pinggiran keras. “M-master! A-aku tidak mau! M-master!” Sungmin memberontak, panik. Namun tenaga Seunghyun lebih dari cukup untuk memaksa dan menekan pemberontakannya, Seunghyun bahkan tidak segan-segan mencekik Sungmin saat ia memasangkan collar itu ke leher mutannya.

“Kau memang hewan peliharaan, hiduplah sebagai hewan peliharaanku.”

Sungmin tersedak dan liur menetes dari bibirnya, sekujur tubuhnya menggigil. Mengerat collar di lehernya yang begitu ketat dan mencekik. “M-masthh—”

“BERHENTI MENGIBA, PELACUR!” Seunghyun sudah tidak tahan lagi, ia tidak tahan melihat sikap inosen Sungmin dan suaranya yang begitu mengiba. Dengan kasar, Seunghyun menarik rantai yang menyambung di collar Sungmin, menyeret tubuh lemah mutannya menuju ruang tengah.

“M-masth!” Sungmin tercekat, suaranya tertahan oleh collar saat Seunghyun menariknya kasar. Sungmin tidak memiliki pilihan lain untuk melindungi lehernya, akhirnya mutan itu membiarkan lehernya tercekik, karena ia harus menggunakan dua tangannya untuk melindungi kitten.

“Kucing nakal harus dirantai seperti anjing. Kau pantas mendapatkan ini, jalang.” cecar Seunghyun sembari mengikatkan rantai itu ke kenop pintu dapur lalu menggemboknya.

“Dengan begini, kau tidak akan bisa meninggalkan aku.” bisik Seunghyun pilu. Ia menunduk lagi, ekspresinya berubah jijik saat dilihatnya Sungmin tersungkur di lantai, bernapas tersendat sembari memeluk perutnya yang buncit.

Semakin lama memandangi perut Sungmin, emosi Seunghyun semakin meluap. Ia berjongkok di hadapan mutannya, sebelah tangannya meremas perut Sungmin hingga mutan itu berteriak kesakitan.

“Ini bukan anakku, kan? Berani sekali kau menipuku!”

“AAAAAAAH!” Sungmin memekik, tubuhnya melengkung. Secara spontan ia mendorong tangan Seunghyun, berusaha melepas cengkraman itu namun Seunghyun yang murka justru menekan perut buncitnya dengan kuat.

“JAWAB AKU JALANG!” Seunghyun meraung, begitu emosi hingga ia harus melampiaskannya. Dengan melempar lima bogem kuat berturut-turut tepat di wajah Sungmin. Seunghyun bernapas tenang dan baru menyadarinya saat Sungmin sudah jatuh pingsan. Wajah cantik itu berubah— Seunghyun nyaris tidak mengenalinya. Memar dan bengkak bercampur dengan darah. Seunghyun nyaris muntah begitu menyadari perbuatannya. Dadanya menyesak. Seunghyun berbalik, keluar dari apartemen dan membanting pintu kuat-kuat. Berlari tanpa menengok ke belakang lagi.

.

oOoOoOo

.

2 Weeks Later.

Sungmin memandangi bekas luka yang mulai mengering di sekujur pinggangnya. Luka yang baru saja didapatnya minggu lalu dari sabetan tali pinggang master. Membayangkan hal itu, dua bulir airmatanya jatuh. Mutan itu bahkan tidak mampu bersandar, karena sekujur punggungnya terasa sakit. Dan lagi, kalau dinding apartemen sampai kotor oleh noda darahnya, master pasti akan lebih marah lagi.

Sejak tragedi penembakan malam itu, master selalu bersikap aneh. Sungmin menyadarinya, mungkin master merasa bersalah karena membunuh orang. Atau mungkin master menyangka kalau ia akan membongkar tentang masalah pembunuhan itu. Lalu master mulai melampiaskan seluruh kekesalan dengan memukulinya. Sungmin ingin mengerti, namun sikap kasar master perlahan membangun rasa paranoid berlebih di hati Sungmin. Dan hal itu selalu terbukti, karena master pasti akan menyakitinya saat Sungmin melakukan kesalahan. Kesalahan apapun.

Berkali-kali master menendang perutnya, menyulut puntung rokok di sekujur tubuhnya, atau memaksa memasukkan sesuatu yang besar ke dalam tubuhnya. Sungmin nyaris melupakan seperti apa Master Seunghyun yang ia sayangi dulu. Seperti apa lembutnya tangan dan manisnya ucapan master yang selalu bisa menenangkan kegalauannya. Sekarang, master yang dilihatnya lebih menyerupai monster. Sungmin selalu ingin menghindar dan tidak mau bertatap mata dengan masternya, namun rantai yang mengikat lehernya membuatnya tidak bisa kabur kemana-mana.

Sungmin tersedak, airmatanya meleleh lagi tiap kali mengingat betapa menyakitkannya tangan master saat tengah melampiaskan amarah. Tidak, kitten bahkan tidak pernah bergerak lagi sejak saat master merantainya di pintu dapur. Sungmin mengusap perutnya berkali-kali, berbisik dan berbicara, tapi nihil. Kitten sama sekali tidak bereaksi.

KRIEEET!

Sungmin tersentak, refleks mundur ketakutan saat terdengar suara pintu terbuka. Entah sejak malam keberapa, master selalu pulang tengah malam. Tubuhnya berbau aneh dan wajahnya merah. Setiap malam pula master akan berteriak-teriak padanya, memaki-maki dan menuding segala hal yang membuat Sungmin semakin bingung.

Kau selingkuh!’

Bayi itu bukan milikku!’

Menjeritlah, jalang!’

Sungmin menutup telinganya dan terisak pelan. Ia ingin menghalau semua tudingan yang bergema itu, namun suara bentakan membuatnya terpaksa menurunkan tangan.

“Sungmin-ah!”

“Y-ya, master?” Sungmin buru-buru mengusap airmatanya sebelum mendongak, merapatkan kakinya ke belakang saat master Seunghyun berdiri begitu dekat di hadapannya.

“Buatkan kopi panas untukku. Cepat.” perintah Seunghyun yang kemudian membanting tubuhnya ke atas sofa.

Sungmin menggigit bibirnya, menahan rintihan saat ia berpegang ke dinding untuk berdiri. Diliriknya Seunghyun yang terus mengeram sembari membolak-balik berkas. Bau alkohol menyeruak. Master mabuk lagi, dan moodnya juga tidak dalam keadaan baik. Karena itu sebisa mungkin Sungmin membuat kopi dengan gesit, agar master tidak semakin marah. Meski untuk bergerak pun Sungmin sedikit kesulitan, perutnya terasa kelu, terkadang mulas menjalar di seluruh bagian perutnya dan Sungmin mulai berpikir buruk tentang keadaan kitten. Tapi ia tidak bisa mengeluh, suara rintih sakitnya saja bisa membangkitkan emosi master.

Sungmin bergerak dengan hati-hati, agar suara gemercing rantai kakinya tidak terdengar terlalu rusuh. Namun apa daya, pergelangan kakinya yang bengkak terkadang membuat Sungmin merasa gatal dan menggaruknya hingga berdarah. Sekarang, ia selalu jalan terpincang dan bunyi rantai itu terdengar makin berisik.

Sungmin melenguh tanpa suara, nyeri di kakinya kambuh lagi. Sesekali ia menunduk untuk memeriksa pergelangan kakinya, dan meringis saat melihat darah mengalir dari sana. Mungkin kakinya sudah membusuk sekarang, memikirkannya saja membuat Sungmin ingin muntah dan meraung. Mutan itu menahan napas, kehilangan konsentrasi saat tanpa sengaja ia menyiduk sesendok garam dan mengaduknya ke dalam kopi.

“Kopi master…” bisik Sungmin takut-takut sembari meletakkan cangkir itu di atas meja, sudut meja yang berada sejauh-jauhnya dari Seunghyun.

Seunghyun hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun, matanya masih lekat memandangi lembar-lembar berkas pekerjaannya. Ia meraih cangkir kopi itu dan hanya melirik Sungmin yang masih berdiri kaku di ujung meja. Ia memang sengaja tidak memerintahkan apapun, dan mutan itu juga tidak bergerak, seakan begitu patuh menunggu izinnya untuk pergi.

Seunghyun tersenyum dalam hati, merasa senang karena Sungmin begitu patuh padanya. Mungkin ia perlu memberikan hadiah untuk mutannya, setelah sekian lama. Seunghyun mulai merencanakan hal-hal kecil untuk Sungmin. Namun saat ia meneguk kopi dan cairan itu masuk ke mulutnya, wajah Seunghyun berubah merah padam. Seunghyun menyemburkan kopi asin itu dan melotot ke arah Sungmin.

PRANG!

Sungmin tersentak kaget saat Seunghyun tiba-tiba membanting cangkir kopi itu. Ia menunduk ketakutan, tidak berani menatap sepasang mata merah Seunghyun yang memandangnya tajam.

“KAU MAU MERACUNIKU LAGI!”

Sungmin berjengit. Matanya bergerak-gerik panik. “A-aku—”

Seunghyun tidak memberi kesempatan pada Sungmin. Ia menyeret mutan itu ke dapur, mengabaikan rintih kesakitan mutan itu dan dengan kasarnya menghempas tubuh Sungmin hingga menghantam kitchenset.

Sungmin mengerang, perutnya menghantam lantai dan kali ini ia tidak memiliki kuasa untuk menghindarnya. Kakinya bahkan mati rasa. Wajah mutan itu memucat, terlebih saat dilihatnya Seunghyun mengambil sebuah gelas besar, memasukkan sesendok kopi dan setoples garam ke dalamnya, lalu menuang air mendidih hingga penuh dan mengaduknya rata.

“Dulu kau pernah melakukan ini, kau ingin membunuhku, huh?” tuding Seunghyun dengan nada jijik. Ia berjongkok, menyeringai sinis saat Sungmin memberontak panik.

Apapun yang bisa dilakukannya, Sungmin berusaha menghindar. Menendang, memukul, menggeleng, bahkan menangis. Namun master menginjak kedua kakinya dan menyikut dadanya, kekuatan tangannya tidak bisa melawan master sama sekali.

“M-master, maaf! M-maaf! Minnie tidak sengaja!” pinta Sungmin mengiba, suara isakannya makin bergema. Master menekan pipinya, memaksanya membuka mulut. Sungmin hanya bisa menggeleng, makin panik. Namun harapannya sia-sia.

“Minum ini dan rasakan sendiri, kucing jalang.” umpat Seunghyun sembari menuangkan kopi mendidih itu ke dalam mulut mutannya. Memaksa Sungmin menelan tiap tetesnya dengan susah payah.

Tubuh Sungmin mengejang, matanya membelalak, kedua tangan dan kakinya menegang. Cairan panas itu terasa membakar mulut dan tenggorokannya. Hanya sesaat, Sungmin merasakan sakit luar biasa itu, setelahnya tidak ada perasaan apapun kecuali kelu.

Seunghyun terkekeh senang. Setiap kali cairan panas itu tertahan di mulut, Seunghyun akan mengatup mulut Sungmin dan memaksa mutan itu menelannya. Bahkan tak jarang cairan itu masuk ke lubang hidung Sungmin, membuat mutan itu tersedak dan makin gemetaran. Sampai semua kopi asin yang mendidih itu lenyap ke dalam mulut Sungmin, Seunghyun baru merasa puas dan berdiri. Dilemparnya gelas besar itu ke wastafel.

“Kau rasakan itu? Enak kan?” kekeh Seunghyun yang tengah membersihkan tangannya dari lengketnya kopi. Seunghyun mengelap tangannya dengan tisu, sebelum berbalik menghadap Sungmin. Ia sudah berniat akan menyeret Sungmin ke kamar dan melanjutkan hukumannya. Namun pemandangan yang menyambut Seunghyun membuat pemuda itu tercekat. Tidak mampu berkata-kata.

Tubuh Sungmin menyentak dan mengejang kecil, sebelum akhirnya menegang. Bibir hingga kedua pipinya melepuh. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Kedua matanya mendelik kosong.

Seunghyun melangkah dengan kaki gemetar. Ia bersimpuh di sisi tubuh Sungmin.

“S-Sungmin-ah?” lirihnya pedih. Seunghyun merengkuh tubuh kaku Sungmin dan memeluknya erat di dada. Berkali-kali ia menampar wajah mutannya, namun Sungmin hanya bergeming. Hal itu justru membuat darah mengalir makin deras dari lubang hidung Sungmin.

“S-Sungmin-ah!” pekik Seunghyun panik. “MINNIE!”

.

oOoOoOo

.

 

“Bayinya sudah diangkat.”

Seunghyun hanya bergeming. Sejak setengah jam yang lalu ia duduk di sisi ranjang pasien, menunduk penuh sesal dan menolak melepaskan tangan Sungmin.

“Bayinya sudah mati sejak lima hari yang lalu. Karena tidak segera diangkat, kupikir itu yang mempengaruhi fisiknya.” Junsu ikut menghela napas. Sesungguhnya merasa terkejut sekaligus penasaran. Saat mengoperasi Sungmin, ia menemukan puluhan luka memar dan sisa-sisa luka yang sudah mengering. Pergelangan kakinya nyaris membusuk, Junsu bersyukur ia masih memiliki waktu untuk menolong sebelah kaki mutan itu. Membersihkan infeksinya dan melilitkan perban. Belum lagi luka bakar di dagu, pipi, dan bibirnya. Ia bahkan menemukan sisa-sisa tanda pelecehan seksual, juga luka internal yang cukup serius. Tapi sepertinya itu hal yang sensitif dan terlarang untuk dipertanyakan. Karena itu Junsu menahan dirinya. Ia bisa menduga-duga akar permasalahan mutan kecil ini. Bukan sekali dua kali Junsu menemukan mutan yang tubuhnya hancur dan nyaris mati. Tapi entah kenapa, baru kali ini Junsu merasa tergerak untuk peduli lebih dalam.

“Dia harus rawat inap, sepuluh atau dua belas hari lagi. Aku ingin memantaunya hingga pulih—”

“Tidak.”

Junsu mendongak, keningnya mengerut mendengar penolakan Seunghyun.

“Aku ingin Minnie pulang hari ini. Kami akan pindah ke rumah lamaku, disana aku akan menyewa dokter dan perawat. Aku tidak ingin Minnie merasa tidak nyaman kalau harus berlama-lama tinggal di rumah sakit.” lirih Seunghyun sembari mengecup punggung tangan Sungmin.

“Tapi, Seunghyunni—”

“Kami akan berkemas hari ini, aku sudah menyuruh orang-orangku untuk membawa seluruh barang Sungmin. Sore ini aku sendiri yang akan membawanya pulang.”

Junsu tidak bisa protes lagi. Karena ia sendiri tidak memiliki hak apapun.

“Baiklah kalau begitu…” ujarnya sedikit kecewa. “Satu hal lagi Seunghyunnie.”

Seunghyun menolak untuk melepas pandangannya dari wajah pucat Sungmin. “Hm?”

“Kerongkongannya dan pita suaranya terluka parah. Selama beberapa waktu, Sungmin akan kesulitan bernapas. Tapi sepertinya, Sungmin akan mengalami bisu permanen.”

Seunghyun mendelik mendengarnya, tapi dengan cepat ia menutupi emosinya. “Apa tidak ada cara untuk mengobatinya?”

Junsu menghela napas dan terdiam sesaat. “Mmm, mungkin terapi.” Tapi aku tidak yakin karena gejala traumanya jauh lebih parah daripada luka fisik. Junsu menambahkan dalam hati. Ia menatap tubuh kurus Sungmin dengan prihatin. Bertanya-tanya dalam hati, hal apa yang membuat Seunghyun berubah secepat ini. Terakhir kali, mereka masih tampak seperti pasangan pedofil yang bahagia. Namun sekarang, Junsu mengakuinya. Ia merasa iba pada mutan belia ini.

“Emmhh—”

Seunghyun tersentak kaget saat Sungmin tiba-tiba menggeliat. Ia tersenyum senang dan segera mengecup kening Sungmin. Mutan itu mengerjap, berusaha menyesuaikan diri dengan terang lingkungannya. Dalam hati Sungmin merasa janggal, sesuatu melilit leher dan separuh wajahnya.

“Minnie-ah, hei?” Seunghyun berbisik lembut, bermaksud menyambut Sungmin yang baru saja bangun dengan cara semanis mungkin. Namun bukan sesuai harapannya, begitu mata Sungmin terbuka dan menyadari siapa yang duduk di sisinya, mutan itu berjengit dan mulai menangis histeris. Sungmin memberontak ketakutan namun Seunghyun menggenggam tangannya begitu erat. Junsu ikut panik karena perban yang menutupi pipi dan hidung Sungmin mulai merembeskan darah.

“Minnie!” Junsu dan Seunghyun sama-sama berseru saat pemberontakan Sungmin makin meliar dan menggiring mutan belia itu hingga ke pinggir ranjang. Sungmin nyaris saja terjatuh ke lantai kalau Seunghyun tidak segera menahan tangannya dan Junsu yang sigap berlari menahan punggungnya.

Dengan terpaksa, Junsu menyuntikkan obat penenang yang sukses membuat Sungmin berhenti memberontak. Tapi Junsu tidak bisa berpaling, jelas sekali ia melihat ketakutan di mata Sungmin. Dan bagaimana tubuh itu gemetar saat Seunghyun memeluk dan mengecupi wajahnya. Junsu sungguh-sungguh ingin terlibat, tapi Seunghyun sudah mengusirnya lebih dulu.

“Hyung, aku ingin berdua saja dengan Minnie.”

Junsu menghela napas, menatap Sungmin iba namun mau tidak mau, meski masih merasa tidak rela, Junsu melangkah keluar dan meninggalkan mereka berdua.

“Minnie-ah… dengar.” Seunghyun membingkai wajah Sungmin dan menatapnya lekat. Mengabaikan perasaan aneh dalam dadanya dan menganggap ketakutan di wajah Sungmin sebagai bentuk shock biasa. “Aku minta maaf ne. Kau kehilangan kittenmu.”

Sungmin tersedak. Airmatanya meleleh, lalu mengalir makin deras. Tubuhnya terlalu lemas untuk memberontak, Sungmin hanya bisa mengangkat tangan dan meremas perutnya dengan lemah.

“Sshh! Tenang baby, kita akan buat kitten yang baru. Sssh! Jangan menangis.” Bisik Seunghyun sembari tersenyum, diperluknya Sungmin erat-erat. Merasa bahagia karena bayi yang menurutnya bukan miliknya itu sudah tersingkir. Kini hanya ada dirinya juga Sungmin, dan mutan cantiknya tidak akan pernah meninggalkannya. Hidup baru mereka akan dimulai, di rumah yang baru.

.

oOoOoOo

.

 

“Jangan lepaskan tanganku, ne!” seru Seunghyun dari balik kerah mantelnya yang tebal. Salju turun tepat di malam natal, dan entah mendapat ide dari mana, Seunghyun mengajak Sungmin berjalan-jalan keluar. Tepat saat jalanan kota Seoul sedang ramai-ramainya. Seunghyun dan Sungmin terhimpit di tengah ramainya orang-orang di stasiun kereta.

Seunghyun memimpin perjalanan, dengan seulas senyum di wajahnya, begitu bahagia. Namun berbeda dengan Sungmin, separuh wajah Sungmin yang masih tertutupi perban semakin tersembunyi saja di balik kerah mantel. Topi gatsby berwarna coklat bertetengger di atas kepalanya, nyaris menyerupai milik Seunghyun yang hanya berbeda ukuran. Kalau tidak melihat collar yang tersembunyi di balik kerah mantel Sungmin, mungkin semua orang akan menyangka mereka sebagai pasangan muda. Seunghyun pasti merasa senang-senang saja dengan pendapat itu. Namun tidak dengan Sungmin, sejak tadi ia ingin melepaskan tangan Seunghyun, namun master menggenggam tangannya begitu erat. Rasanya Sungmin ingin memojok ke sudut gelap, menyingkir dari orang-orang yang sejak tadi menyentuh tubuhnya lalu menangis sendirian.

Sungmin mengerjap, mata itu tidak menyampaikan apapun, selain ketakutan. Mutan itu berjengit kaget setiap kali bahu orang lain bertabrakan dengan bahunya.

Setelah mencapai jalanan yang sedikit lenggang, master membiarkan Sungmin berjalan sendiri. Dan Sungmin dengan senang hati segera memberi jarak di antara mereka. Meski mutan itu melangkah dengan kepala tertunduk, memperhatikan langkah orang lain agar tidak bertabrakan dengan langkahnya sendiri. Dan tanpa sadar, Sungmin melangkah terlalu pinggir dan perlahan terpisah dari langkah sang majikan. Sungmin terlalu fokus dengan langkah kakinya, saat tiba-tiba seseorang menabraknya dari depan.

“Aduh!” Sungmin juga terkejut, namun tentu saja suaranya tidak mampu keluar. “Kemana matamu! Jangan jalan dengan menunduk!” bentak orang itu.

Sungmin menunduk ketakutan, sekarang ia selalu menggigil setiap kali mendengar suara bentakan. Dengan terburu-buru Sungmin memutar langkahnya ke arah lain, mencari jalan yang lebih lenggang dan sepi dari orang-orang. Namun lagi-lagi, seperti sebuah kesialan, Sungmin menabrak orang lain. Kali ini lebih keras hingga Sungmin tersungkur jatuh di tanah.

Sungmin mengerang, lagi-lagi ia menabrak orang lain. Mutan itu meringkuk memeluk lututnya dan menggigil ketakutan. Bersiap menerima cacian atau makian. Namun bukan kata-kata kasar yang diterimanya, sebuah tangan terulur di depan wajah Sungmin.

“Kau tidak apa-apa?” suara itu terucap lembut. Awalnya Sungmin tidak ingin mengangkat wajah, namun melihat tangan besar yang lembut itu, ada sedikit keberanian muncul dalam hatinya.

Sungmin benar-benar mendongak, membayangkan bogem keras menghantam wajahnya. Namun tidak, seseorang yang berdiri di depannya mengawasi Sungmin dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Orang ini berwajah tampan, tubuhnya jangkung, dan wajahnya bodoh. Entah kenapa baru kali ini Sungmin merasa tidak takut pada seseorang setelah berbulan-bulan ia memilih berteman dengan kegelapan.

“Cih, kakimu terluka.” umpat pemuda jangkung itu tanpa maksud buruk sama sekali. Nada bicaranya memang seperti itu, namun tampaknya sang lawan bicara menangkap pesan dengan cara lain.

Sungmin tersedak. Matanya berkaca-kaca lagi, suara bentakan ini tidak menakutinya. Tapi justru menyakiti hatinya. Sungmin mulai menangis terisak, membuat pemuda jangkung tadi membungkuk ke arahnya dengan panik.

“H-hiks.”

“Y-yah! Jangan menangis! Aish!” pemuda itu menggaruk kepalanya, makin merusak tatanan rambut ikalnya yang sudah berantakan. Menabrak seorang bocah yang separuh wajahnya diperban, siapa juga yang mau! Tapi bukan berarti ia akan lari dari tanggung jawab. Hanya saja, ia tidak berbakat menghibur orang yang menangis.

“Y-yah! C-cup! Cup!” ujarnya canggung sembari menepuk bahu Sungmin. “Ayo masuk ke kafeku, akan kuobati kakimu. Jangan menangis, ne?” pemuda itu menggiring Sungmin masuk, ke balik pintu yang tepat berada di sisi mereka. Untuk pertama kalinya, Sungmin mengizinkan kakinya melangkah untuk mengikuti seseorang. Isak tangisnya masih tersisa, namun genggaman tangan hangat dan lembut pemuda jangkung ini membuat Sungmin menggigit bibir dan ingin tangisnya segera reda.

“Duduk disini, kuambilkan perban untukmu.”

Sungmin menatap sosok itu dalam diam. Saat pemuda itu berteriak mengumpat dan memanggil seseorang, entah kenapa Sungmin ingin tertawa. Namun pipi dan hidungnya masih terasa sakit. Jadi Sungmin hanya bisa memandanginya dari jauh.

“Sial, sudah kubilang tidak perlu buka di malam natal! Tidak seorangpun pelanggan datang, Yesung-hyung!” pemuda itu berteriak dari balik pintu karyawan. Sungmin memiringkan kepalanya, ingin mengintip saat tiba-tiba pemuda itu keluar lagi membawa kotak obat-obatan.

“Haha, maaf ya. Jangan kapok datang kesini. Kami buka setiap hari kecuali hari libur.” Ujarnya setengah promosi.

Sungmin memperhatikan dengan lekat, saat tangan itu bergerak lembut, membersihkan darah dan luka di pergelangan kakinya lalu mulai melilitkan perban. Sementara orang itu terus berceloteh mempromosikan seluruh produk di toko ini, Sungmin bernapas tersengal. Airmatanya membuncah. Tidak, Sungmin tidak menangis karena rasa sakit. Tapi sesuatu di dalam hatinya… Terasa begitu membuncah. Rasanya lama sekali, ia tidak merasakan usapan tangan yang tulus seperti itu. Sungmin terisak sendiri dan akhirnya menyadarkan pemuda jangkung itu.

“W-wha? Kenapa menangis lagi? Apa perbannya terlalu kencang? Ini masih terasa sakit?” tanya pemuda itu panik. Sungmin tidak bisa menjawabnya, bahkan untuk menggelengpun ia tidak ingat. Airmatanya jatuh dan membasahi perban wajahnya.

“Yah! Jangan menangis! Kubuatkan minuman ya? Tapi kau tidak boleh menangis lagi, oke?”

Sungmin mengangkat tangannya, ingin mencegah kepergian pemuda itu namun sosok itu bergerak cepat. Menghilang selama beberapa saat lalu kembali dengan satu nampan berisi cangkir yang mengepul. Sungmin nyaris memekik, mengingat memori kelamnya bersama master Seunghyun. Namun senyum canggung di wajah pria jangkung itu sedikit banyak membuat hatinya terasa hangat.

“Ini hot chocolate ala master chef, selalu sukses menenangkan hati yang galau. Jangan menangis kalau kau ketagihan, oke!”

Sungmin tersenyum dengan matanya. Lalu untuk pertama kalinya juga, tangannya bergerak membentuk sebuah isyarat. Sungmin mengusap perban yang menutupi seluruh wajahnya lalu memperagakan bentuk sedotan dan berpura-pura meminum hot chocolate itu.

Pemuda jangkung itu awalnya melongo, kini mengerti dan segera menepuk kepalanya. “Ya ampun. Aku tidak sadar.” Bisiknya pelan. “Lalu harus bagaimana?”

Sungmin mengangkat tangannya lagi, menunjuk hot chocolate lalu memperagakan seakan ia tengah memegang dua benda di kedua tangannya. Sebelah kiri gelas, dan sebelah kanan entah apa itu. Namun saat Sungmin berpura-pura menumpahkan gelasnya ke benda di tangan kanan. Pemuda itu menjentikkan jari, sepenuhnya menangkap pesan nonverbal Sungmin.

“Tentu, aku akan membungkuskan satu untukmu. Dan spesial hari ini, gratis!” ujar pemuda itu lagi-lagi berbalik. Namun sebelum ia menghilang lagi di balik pintu, suara lain berteriak menginterupsi, membuat Sungmin terperangah dan melamun dalam imajinasinya sendiri.

Kyuhyun-ah! Cepat bereskan kursi, kita akan tutup sejam lagi.”

Pemuda jangkung itu berdecak kesal, namun alih-alih menjawab patuh. “Yayayayayaya. Cerewet.”

Sungmin memandangi tubuh pemuda jangkung yang lagi-lagi menghilang di balik pintu karyawan. Lalu mutan itu memiringkan kepalanya, berpikir begitu lama sebelum mendengungkan, “Kyuhhh—” dengan samar-samar.

Kyuhyun. Kyuhyun. Sungmin akan mengingat nama itu.

.

oOoOoOo

tebeseeeeh!

oOoOoOo

.

 

HAPPY KYUMIN DAY GUUUUUYS!

And 1more. I hate silent readers. Jangan malas, nulis fanfic lebih melelahkan dan makan waktu daripada ninggalin review. *bad mood*

20 thoughts on “Kitty-Kitty Baby! – Flashback Part 3

  1. sha says:

    walaupun udah baca di ffn, saya baca lagi nih di wp.. ahaydaaah.. saya penasaraaaan pokoknya.. lanjut lanjuut author kece😀

    hhe

  2. shanty kyuminnie arashi says:

    Hiks…… Sumpah….. Ngebayangin sungmin d siksa sampe bgtu nya bener2 nyesek….
    Padahal dia sama sekali ga tau apa2…..
    Part sungmin d siksa bener2 deh…. Aq yg baca ky ikut ngerasain….
    Trus apa master nya itu bener2 bisa baik lg sama sungmin ???

    Tp kan dia sama ming terpisah lg….
    Apa dia bakalan cri ming trus siksa dia lg ????
    Aaaaaaaa…….. Jgn please…..

    Jd kyu sama ming itu pertemuan pertamanya bgtu…..
    Lanjuuuttt….
    Update asap……
    Penasaraaannnn

  3. Ari yani says:

    ko aq jd bingung ya??? dulu bukannya min sm kyu ketemu wktu lg hujan2?? yang min ga mau lepas dari kyu.. yg kyu bawa min pulang ke rumahnya trus manggil wookie sama yesung… ko sekarang jadi ketemu pas min lagi sakit? @.@

  4. caca137 says:

    baru nemu nih wordpress en langsung suka😀
    keren thor!!!
    nyesek banget waktu baca bagian awal waktu sungmin d perlakuin kayak binatang..!!!
    kejam banget sih si seunghyun oppa.!!!
    kasian uri minnie T.T
    hiks…hiks..
    ayo thor, lanjuttt!!!!
    fightinggg!!!!!

  5. Seunghyun tega bgt sihhh,,,sungmin kasian bgt udah dijebak trus disiksa abis”an lgi ma masterx,,,sedih bangeeeeeettt,,,
    eh btw awal ktmux KyuMin bkan d halte ya??,,,kok ini mlah ktmu d depan cafex Yesung,,apa msih ada lnjutanx lgi Minna???,,jdi penasaran ^^,,

  6. Lee Min Chan says:

    Ahh !!
    KyuMin ktemu ! Mreka udah ktemu . .😀
    kkk~
    ternyata mreka lbh dlu ktemu . Kirain yg mreka p’tama Ktemu itu d halte Bis pas tengah malem . . .
    Unni cpet update ne ??
    Pas KyuMin days aq smpet cek blog unni . Mugkin aja ada Ff buat aniv nya KyuMin tpi ga ada . . . u.u

  7. Ahrin says:

    wah, ternyata gitu yah kisah.y sungmin, ksian bener yah. sungmin ternyata juga sdh pernah ketemu sma kyuhyun sbelum mereka d halte skybus. arasseo author. akhirnya udah ngerti jlan critanya. keep writing author. banyakin kyumin momen.y yah.😀

  8. Ryu Shii says:

    astaga suun! kejam kau.. T T parah banget siksaanya. Ming kan lagi hamil.. nah saat kritis aja itu master baik hatii.. tapi akhirnya tau nih awal ketemunya kyumin. berati kyuhyun lupa ya pernah ketemu sungmin sebelumnya. kalo ming inget betul sama Kyung~nya ^^ sukur deh.. keep writing!! fighting!

  9. Hyun Sup says:

    Aigooo>,< Seunghyun kenapa loe kejam bngt sih, sadis bngt ini flashback penyiksaannya. Klau ada hp nnti gue telpon polisi deh biar Seunhyun ditangkep(?) keke –v ditunggu next chapnya thor, keep writing & figthing ^^9

  10. mrinl says:

    fiuhh, penyiksaan yg lumayan sadis.
    parah banget ge itu tempramennya Seunghyun. dan sungminnya hilang? yeah banzaii. lanjutkan yee

  11. maidencho says:

    Akhirnya -_-
    Setelah 2 chapter sebelumnya gak ada nama Kyuhyun, sekarang udah ada lagi /

    Sungmin tenang aja kok sayang. Kyu gak bakal nyakitin kamu kek Seunghyun sialan itu :3

  12. kyuma0403 says:

    tu kan, ketahuan… jahat bagt tu orang, pasti ini jebakan dari musuh Seunghyun. tp kenapa Ming yg jadi korban…. sumpah nyesek bacanya…. plis chingu, jangan lama2 nyiksa Ming ya… kasihan…😦
    Itu Kyu… Kyu datang!! YEYYYY!!

  13. Ooh itu toh alasannya kenapa umin gak ngomong2. Si topnya berubah gitu karna trauma tu pernah ditinggalin. Umin deh jadi korbannya. Ya ampyun,abang kyu serasa jadi malaikat penyelamat aja yaa. Huahahaha. Oekeh deh min,aku ke next chapter yee

  14. 010132joy says:

    Y apa2an seunghyun itu huh kejam bgt sih, ga rela ming dgituin y ampun
    aq baca skip terus ga suka kekerasan sma ga tega byangin mingnya, tp bukan brrti ga suka critanya cuma emang ga mau baca yg ming dsiksa
    dsini y awal ming ktemu kyu, pantes sekarang dia ga mau lepas dr kyu, dia nunjukin sikap baiknya sih pas ming lg terpuruk ky gitu

  15. Ah.. spechless baca part awalnya, seunghyun tega banget ama ming. ampe ga ngakuin kittennya sendiri malah terang2an bunuh kittennya. Ahhh..
    Oh, ternyata ini pertemuan kyu ama ming. pantes aja ming nempel banget ama si kyu, tenyata oh ternyata si kyu lumayan baik juga sebelum ketahuan pelitnya.. wkwkkwkw

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s