Cursed Crown | Chapter 6

rose-in-the-dark

Ket:

Hviturland: Tanah Putih. Negeri di utara yang tertutup salju abadi. Hampir seluruh penghuninya merupakan bangsa peri. Dipimpin oleh Ras Snowelf— peri salju.

Radourland: Tanah Merah. Negeri tropis yang menguasai barat dan membelah khatulistiwa, wilayahnya terluas. Penghuninya adalah bangsa peralihan/siluman penjelmaan binatang karnivora. Negeri ini dipimpin oleh Ras Werewolf.

Svarturland: Tanah Hitam. Negeri timur yang terdiri dari rawa, rimba, lembah, gua, gurun pasir, dan gunung berapi. Tanah tandus yang dihuni oleh bangsa Monster; Orc, Troll, Ogre, . Negeri ini dipimpin oleh Ras Ogre.

Graentland: Tanah Hijau. Tanah subur yang menjadi tempat tinggal bagi bangsa peralihan/siluman penjelmaan binatang herbivora dan bangsa manusia yang saling bersandingan. Negeri ini dipimpin oleh Ras manusia.

Blarland: Tanah Biru. Tanah yang sebagian besar terdiri dari perairan. Samudra, laut, danau, sungai, dataran basah, dan tanah di pesisir. Penghuninya adalah seluruh bangsa air. Duyung, kraken, fishman, etc. Negeri ini dipimpin oleh Ras Duyung.


.

oOoOoOo

Cursed Crown © Miinalee & Dndthecat

Chapter 6

oOoOoOo

.


Cahaya bulan menerobos celah pinus-pinus yang tersebar, tinggi membentang. Udara malam menusuk, meski sosok itu terus melesat di bawah temaram langit, menjejaki tanah hutan dengan kecepatan penuh. Melalui lahan demi lahan, bukit demi bukit, tanah bersalju dan dataran tandus, demi mencapai tempat yang ditujunya. Kyuhyun tidak membiarkan sedetikpun kakinya berhenti melangkah.

Nyaris lima jam ia tidak berhenti berlari setelah peristirahatan terakhirnya di perbatasan Blarland. Senja akan datang sebentar lagi. Kyuhyun tidak berniat mengubah tubuhnya kembali ke wujud manusia bahkan saat ia berhenti sesaat untuk duduk dan mengambil napas. Dalam wujud ini, ia bisa mencapai tempat tujuannya dengan lebih cepat dan menghemat energi. Meski Kyuhyun tahu pasti efek macam apa yang akan ditanggungnya nanti, menggunakan tubuh serigala ini tidak pada saat purnama dan nyaris selama dua belas jam berturut-turut…

Tapi Kyuhyun tidak peduli. Yang ia inginkan hanya mencapai tempat persembunyiannya secepat mungkin. Tanah yang mungkin tidak akan bisa diraih ayahnya meskipun dengan cara memaksa. Satu-satunya tempat yang selalu menjadi tujuannya kala ia menghadapi masalah. Tanah hijau, tanah penuh perdamaian tempat mendiang istrinya dilahirkan. Graentland.

Meski sepertinya kali ini, masalah yang dihadapinya tidak akan bisa membawanya lari kemana-mana. Kyuhyun sudah terlanjur melakukannya, dan hal itu tidak bisa dihapuskan kembali. Masih lekat dalam ingatannya bagaimana gelapnya tanda memar yang menyala di leher putih Sungmin—

Bocah itu…

…sudah menjadi mate-nya.

Tubuh polos itu sudah ternoda, dan Kyuhyun yang melakukannya. Betapa Kyuhyun ingin membenturkan kepalanya sendiri ke batang pohon tiap kali ia mengingat samar bayang-bayang tubuh telajang Sungmin. Suara desah frustasi dan pekikan kesakitan Sungmin saat tubuh mereka bersatu… Kyuhyun tidak melakukan perlawanan dan justru menuruti alur rencana yang diinginkan ayahnya. Itulah penyesalan terbesar Kyuhyun.

Ia hanya butuh waktu, beberapa minggu sampai semuanya pulih kembali. Meski tidak akan sama seperti sebelumnya, Kyuhyun lebih tidak siap lagi menyaksikan Sungmin yang menatapnya penuh benci, menudingnya sebagai pemerkosa dan menangis menyesali hidup yang sudah dirusak olehnya. Kyuhyun belum siap. Ia butuh waktu untuk berpikir, untuk menenangkan diri, dan menyusun kembali emosinya.

Sejam kemudian, Kyuhyun sampai di tempat tujuannya. Tubuhnya yang tegap berdiri dalam wujud manusia seakan dikekang kembali oleh angan-angan masa lalu, tatkala ia mendongak menatap sebuah lukisan besar yang terpajang di sisi dinding, di tengah aula besar istana. Lukisan sempurna tiga orang anak manusia di usia remaja, seorang pangeran dengan mahkota raja duduk di singgasananya, dan dua gadis beraut manis berdiri di kedua sisinya.

Seperti berkaca saat Kyuhyun menatap wajah pangeran yang duduk tersenyum begitu eloknya, wajah yang nyaris serupa dengan wajahnya sendiri. Wajah raja muda Graentland, Kuixian. Namun bukan sosok itu yang membuatnya terpekur sesaat, tapi sosok disisi kanannya… Wanita dengan gaun hijau toska yang tersenyum tak kalah mempesona.

Mendiang istrinya…

Yoon Bora.

“Kyuhyun-ah!”

Kyuhyun segera berbalik, dan senyumnya merekah tatkala dilihatnya sosok sang raja muncul dengan langkah tergesa-gesa. Keduanya tertawa, dan bertukar senyum rindu sembari memeluk satu sama lain seperti dua saudara yang baru bertemu kembali setelah bertahun-tahun lamanya. Meski memang ya— mereka sudah lama tidak bertemu, enam atau tujuh? Atau delapan tahun mungkin?

“Kyuhyun, aku sudah menunggumu!”

“Kuixian, maaf dengan kehadiranku yang mendadak. Kau sehat?”

“Seperti yang kau lihat.” Kuixian mengendikkan bahunya dan tersenyum ramah. Jubah emasnya yang menjutai hingga ke lutut sedikit membuatnya risih, lebih risih lagi saat Kyuhyun menatapnya makin lekat seakan-akan mengoreksi tiap jengkal garis demi garis di wajahnya.

“Sebentar… Ada yang berbeda dari dirimu.”

“Apa?” Kuixian bertanya grogi. Ia sedikit mundur, pura-pura memasang wajah takut saat Kyuhyun memperhatikan lebih dekat lagi. Tapi tentu saja ia tahu hal apa yang dimaksud oleh Kyuhyun, hanya saja mengganggu kakak ipar –mantan kakak iparnya ini selalu terasa menyenangkan. Terlebih setelah sekian lama mereka tidak bertemu.

“Kau tampak lebih muda! Apa yang kau lakukan, huh! Kau harusnya sudah menjadi om-om tua di usia 40 tahun, anak manusia!”

Tawa Kuixian pecah, Kyuhyun menggeleng-geleng tidak percaya. Terakhir kali mereka bertemu, Kyuhyun merasa kalau bocah yang lima tahun lebih muda darinya ini akan segera kehilangan ketampanannya. Tapi sekarang? Wajahnya tak lekang seperti pemuda di awal tiga puluh! Persis seperti terakhir kali Kyuhyun melihatnya. Dan kini wajah mereka semakin mirip saja!

“Aku sudah menceritakannya padamu! Dan kau tidak percaya! Sekarang lihat sendiri kalau saat itu aku tidak berdusta!”

“Apa? Soal mata air abadi dan kau yang mandi disana bersama pemuda cantik siluman kelinci?” Kyuhyun berdecih, mengejek. “Bahkan Bora Noona tahu kalau kau itu pengkhayal tingkat tinggi! Dan aku memilih percaya pada kakakkmu!”

Kuixian makin tergelak, dipukulnya bahu Kyuhyun pelan. “Tapi kau lihat sendiri kan buktinya sekarang?”

“Kalau begitu tunjukkan padaku pemuda kelinci yang cantik itu sekarang. Kudengar kau menikah lima tahun lalu. Apa kau menikah dengan pemuda kelinci itu?”

Tawa Kuixian segera reda sesaat setelah Kyuhyun mengucapkannya. Tapi tak ingin merusak suasana, raja manusia itu segera memasang senyumnya kembali. Meski kali ini tampak jelas sedikit dipaksakan.

“Ya, dia yang kunikahi.” Kuixian menjawab, matanya yang semula bersinar-sinar kini seakan kehilangan cahaya.

“Oh ya? Kau pasti senang sekali? Ayo kenalkan adik ipar kelinci itu sekarang padaku.”

“Dia tidak ada disini.” Kuixian menjawab cepat, terkesan terburu-buru. Kyuhyun menatapnya dengan kening bertaut, heran melihat kegugupan yang tiba-tiba menyelimuti raja muda itu.

“Shengmin sedang pulang ke rumah orang tuanya! Hahaha, ya ya. Dia sedang di rumah orang tuanya.”

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. Merasa janggal mendengar nada gugup dalam suara Kuixian, namun buru-buru ia mengusir prasangka-prasangka anehnya. “Sayang sekali.”

“Ya.” Kuixian berucap sendu. “Dia sedang mengandung. Dan ingin tinggal di desanya hingga bayi kami lahir, aku tidak bisa melakukan apapun selain menyempatkan diri untuk menjenguk. Sekali sebulan atau lebih sering lagi.”

“Kau pasti rindu padanya, ya?” Kyuhyun melirik Kuixian, bergelut dengan pemikirannya sendiri saat dilihatnya raja itu melamun sebentar.

“Sangat.” Kuixian menjawab, setengah menerawang. Tapi ia segera tersadar dengan suasana canggung itu dan tertawa tiba-tiba, Kyuhyun nyaris menyebutnya sebagai orang gila. “Kita mengobrol di ruanganku saja, hyung. Kau kurusan ya? Apa kau sakit?” Raja manusia itu bertanya sembari memimpin perjalanan.

“Huh? Benarkah? Aku tidak sakit kok.” Kyuhyun mengikuti langkah Kuixian yang membawanya ke ruang kerja raja, di meja penyambutan sudah tersedia bermacam makanan khas manusia yang disukainya. Kyuhyun mulai bertanya-tanya apa Kuixian sudah memprediksikan kedatangannya.

Dan kalau tidak salah Kuixian mengatakan bahwa ia sudah menunggu-nunggu kedatangan Kyuhyun sejak tadi.

“Apa kau sedang ada masalah, hyung? Ada yang bisa kubantu?”

Kyuhyun mendelik ke arah ‘kembaran’nya itu.

“Ke-kenapa bertanya begitu? Apa aku cuma datang kesini saat sedang ada masalah?” Kuixian tertawa pelan.

“Tidak… Sebenarnya, aku sudah tahu kalau kau akan datang ke sini. Tadi pagi ada pesan yang datang dari Pangeran Yonghwa, atas nama Raja Radourland. Mereka sepertinya sudah tahu kalau kau akan kesini.”

Kyuhyun memicingkan matanya kesal. Secepat itu… Sang ayah mengetahui keberadaannya. Tapi Kyuhyun tahu ayahnya tidak akan bisa menyentuhnya selama ia tidak memiliki bukti bahwa Kyuhyun ada di tempat ini. Selama Kuixian bersedia untuk menyembunyikannya –Raja kerajaan lain tidak berhak menggeledah istana ini tanpa izin Kuixian.

“…Apa katanya?” Kyuhyun bertanya ragu, sedikit bisa menduga-duga hal apa yang akan disampaikan sang ayah padanya. Diam-diam, Kyuhyun berharap ia mendapatkan pesan penuh amarah, atau minimal celaan dari ayahnya itu. Karena jauh, Kyuhyun menduga hal terburuk yang akan terjadi, ayahnya justru akan memujinya karena keberhasilannya ‘menodai’ Sungmin malam kemarin.

“Kau sudah punya mate, eoh? Kenapa tidak mengabarkan aku? Tapi aku turut menyesal dengan berita itu, hyung. Yonghwa-hyung menyampaikan pesan dari Kangin-sshi, dia bilang kalau mate-mu sedang sakit dan kau diminta segera pulang.”

Kyuhyun tertunduk diam, tangannya mengepal dan rautnya mengerut kesal.

‘Sudah kuduga. Ini pasti tipuan Raja licik itu lagi!’ Kyuhyun mengeram, sudah lelah menuruti permainan licik ayahnya sendiri. Ia tidak akan tertipu dua kali. Baru tadi pagi! Bah! Kalaupun sakit, ada banyak tabib yang bisa diandalkan. Dan dengan tanda mate di lehernya itu, Sungmin pasti sudah jauh lebih aman sekarang. Meski tidak mau mengakuinya, Kyuhyun sedikit merasa bersalah dengan pemikirannya yang terkesan kejam itu. Tapi ia benar-benar butuh waktu untuk sendiri. Jauh dari ayahnya dan jauh dari Sungmin.

“Sudahlah, Kuixian. Aku tidak ingin membahasnya.” Kyuhyun mengeluh. Di depannya, Kuixian menaikkan sebelah alis seakan tertarik mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi tidak masalah, Kyuhyun pasti akan bercerita padanya nanti. Sekarang kakak angkatnya ini hanya perlu waktu untuk menyendiri.

“Baiklah, kau bisa cerita nanti kalau kau mau. Sepertinya kau lelah. Istirahatlah di kamarmu, hyung.” Kuixian tersenyum sembari merangkul bahu Kyuhyun.

“Kamarku di mana?” kening Kyuhyun bertaut.

“Yang biasa kau pakai dulu. Itu kamarmu, hyung. Sudah kubilang, kau bebas mengunjungi kami kapan saja. Kita tetap keluarga meskipun— yah, kau harus istirahat sekarang.” Kuixian memutus kalimatnya di tengah, sengaja sedikit menyinggung eksistensi kakak perempuannya yang dulu sempat singgah di hati Putra Mahkota Radourland ini. Ia mengerti bahwa Radourland membutuhkan pangeran laki-laki di bawah garis keturunan Kyuhyun agar tahta kerajaan tetap berlangsung. Tapi tetap saja, Kuixian tidak rela posisi kakaknya digantikan oleh orang lain.

Dan keadaan hubungan Kyuhyun dengan mate barunya yang tengah tidak baik ini… Meski terkesan kejam –sebenarnya Kuixian cukup senang mendengarnya.


.

oOoOoOo

.


Leeteuk mendesah frustasi. Ia selalu membolak-balik kompres es di kening Sungmin, memerasnya dengan air yang baru, atau bahkan menggantinya dengan handuk lain. Tapi suhu tubuh bocah ini tidak kunjung turun. Tubuhnya panas seperti dibakar api, Leeteuk akan menahan napas saat tangannya menyentuh kulit kening Sungmin. Prihatin, namun tidak bisa melakukan apapun selain memijati lengan atau mengganti kompresnya.

Sudah lima minggu sejak Kyuhyun menghilang, dan keadaan bocah ini tidak kunjung membaik. Leeteuk sudah memaksa Kangin untuk memanggil setiap tabib dari seluruh penjuru negeri, tapi tidak satupun berhasil menyembuhkan Sungmin. Panasnya bahkan tidak turun. Leeteuk mengunjungi bocah ini setiap hari hanya untuk meringis menyaksikan penderitaan yang harus ditanggung tubuh belianya yang kini— harus berbagi tempat dengan makhluk lain. Benih Kyuhyun yang tengah tumbuh di dalam rahimnya.

Leeteuk mengusap perut Sungmin yang terbalut selimut tipis. Gundukan kecil mulai tumbuh disana. Entah berapa lama masa kehamilan kaum peri. Tapi seharusnya, dengan benih werewolf yang bercampur di dalam sana, bayi ini pasti akan tumbuh lebih cepat. Terbukti di usianya yang baru lima minggu, ‘cucu raja’ ini sudah mulai menampakkan diri.

Harusnya, Leeteuk merasa senang. Lebih-lebih raja yang memang mendambakan kehadiran makhluk kecil ini sejak bertahun-tahun silam. Tapi tidak ada yang tersenyum bahkan sejak saat tabib membawa kabar kehamilan Sungmin dua minggu yang lalu. Seakan ditelan rasa bersalah, Kangin selalu saja diam saat Leeteuk menatapnya lama seakan bertanya tentang ‘demam’ yang janggal ini.

Suaminya itu hanya akan bolak-balik, keluar masuk kamar Kyuhyun seperti orang yang linglung, tidak berani menyapa dirinya apalagi menanyakan keadaan Sungmin. Dan ia juga… bersikeras selalu menemani sang menantu sejak kabar kehamilan itu datang. Seakan-akan bisa mencium satu kejanggalan yang tengah terjadi disini, Leeteuk selalu menuntut jawaban lewat tatapan tajamnya pada sang raja. Namun tentu saja, raja memilih diam.

Ini bukan demam biasa, Leeteuk menduga-duga dalam hatinya. Bukan juga sakit ‘merindu’ pada mate yang pergi jauh untuk berperang. Tidak, bahkan pasangan Mate tidak seharusnya jatuh sakit semudah ini. Ikatan kasat mata itu menyambungkan perasaan mereka saat pasangannya merasa sedih atau senang. Mengirimkan rasa sakit yang sama saat pasangannya jatuh sakit atau berada dalam bahaya. Dan Leeteuk yakin sekali semua ini bukan dimulai dari Kyuhyun. Tidak mungkin pangeran itu berada dalam situasi berbahaya. Dan Putra Mahkota juga tidak pernah jatuh sakit.

Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak biasa dan tidak berada dalam lingkup pengetahuan tabib Radourland. Leeteuk bukan tidak menyadari tanda mate serupa memar di atas bahu bocah ini. Tapi ini sudah selang enam minggu, tidak seharusnya tanda mate itu terus berwarna matang seperti luka benturan dan sembuh dengan hanya meninggalkan bekas saja. Dari hari ke hari, bukannya memudar, luka gigitan itu justru semakin gelap dan terus membiru.

“Kyuhhh—”

Leeteuk terhenyak saat tiba-tiba Sungmin menggeliat di bawah usapan tangannya. Sepasang mata snowelf muda itu tetap terpejam, namun keringat mulai membanjir di wajahnya yang kian pias. Bibirnya yang gemetar dan kering mulai berkomat-kamit samar. Leeteuk bukan tidak tahu, setelah lebih dari sebulan menemani bocah ini, rasanya ia sudah hafal sekali. Sungmin selalu membisikkan nama putra mahkota, memanggil-manggil frustasi dan terkadang menangis sesenggukan.

Kyuhyun-hyung…”

“Ssssh— Umma disini, chagi.”

Leeteuk buru-buruk duduk di pinggir ranjang saat entah secara sadar atau tidak, Sungmin mencoba bangun dengan susah payah. Tangannya menggapai-gapai ke atas, nama Kyuhyun terus terbisik dari bibirnya yang pucat. Leeteuk nyaris menangis menyaksikannya, tapi ia menahan diri. Ditariknya kepala Sungmin ke atas pangkuannya, mencoba menenangkan bocah itu dengan mengusapi keningnya. Namun seakan menyadari bahwa yang menyentuhnya kini bukan Kyuhyun, Sungmin segera menampik tangan Leeteuk dan menangis sesenggukan.

“Kyuhyun-hyung!” pekiknya pilu sembari beringsut sejauh-jauhnya dari sang ratu.

Leeteuk tertegun sesaat, segaris pedih menoreh hatinya. Terbiasa ditolak selama puluhan tahun, hal ini seakan mengingatkannya kembali dimana posisinya berada.

“Sungmin-ah…” Leeteuk berbisik lembut, berusaha menutupi sakit hatinya dengan tersenyum lirih. Digapainya pinggang Sungmin dengan hati-hati, namun tetap saja. Respon yang diterimanya hanya semakin membuat hatinya terasa pedih.

Sungmin berjengit kaget, dengan panik dipukulnya tangan Leeteuk agar ratu itu menjauh.

Kesabaran Leeteuk yang membuatnya bertahan untuk menenangkan Sungmin, justru membuat bocah snowelf itu mengerang marah. Padahal mata itu terus terpejam, tapi Leeteuk mendengar nada depresi bercampur usiran dalam suaranya yang semakin detik semakin memekik.

“Kyuhyun-hyung! Kyuhyun-hyung!”

“S-Sungmin-ah—”

Leeteuk baru akan berdiri memanggil tabib saat tiba-tiba Kangin menghambur masuk. Suara teriakan Sungmin terdengar beberapa meter dari luar kamar, jelas saja membuatnya khawatir.

“Ada apa Jungsu-ah?”

Leeteuk berpaling sebentar untuk menatap raja, ekspresi sendu dan lelah yang bercampur di wajahnya.

“Sungmin tiba-tiba bangun, dan seperti kemarin—” ucapan itu terpotong. Leeteuk mendesah, bermaksud meraih kepala Sungmin saat lagi-lagi pemuda itu menolak kehadirannya. “Ada kabar tentang Kyuhyun?”

Kangin menggeleng. “Raja Graent belum membalas pesanku.”

“Kau tidak coba ke tempat lain? Kerabat yang mungkin dikunjungi Kyuhyun. Teman Kyuhyun bukan Raja Graent saja, kan!”

Mendengar nada suara yang meninggi itu— Sesaat… Kangin hanya memandangi wajah istrinya. Menerima seluruh keluh kesah frustasi itu dengan berdiam diri, menelisik jejak lelah dan sendu disana, meski pada akhirnya ia tidak menjawab dan justru menyerahkan sepotong kaus berwarna biru ke tangan Leeteuk.

“Itu pakaian kotor Kyuhyun, aroma keringatnya masih tersisa disana. Coba usapkan di bahunya.”

Leeteuk ternganga tidak mengerti, dipeganginya kaus itu seakan berniat mengembalikannya lagi ke tangan sang suami. Namun ia berjengit saat suara tangis Sungmin kembali pecah. Bocah itu menggeliat makin liar, wajahnya merah padam, dikeratnya kuat-kuat seprai yang sudah basah diguyur keringat, hanya satu kata yang terus meluncur dari bibir pucatnya.

“Kyuhyun-hyung! Kyuhyun-hyung!”

“Usapkan di bahunya.” ulang Kangin lagi, setengah berbisik.

Leeteuk sempat linglung, berbalik menatap suaminya dengan bingung meski akhirnya memutuskan untuk menuruti ucapan Kangin. Ia kembali duduk di sisi Sungmin, mengulurkan tangannya dan berhati-hati mengusapkan kain itu di bahu Sungmin yang terbuka. Sesuai dugaannya Sungmin berjengit kaget dan memekik marah, airmata mengalir makin deras bersamaan dengan deru napas yang kian memberat. Namun hal itu hanya berlangsung sesaat, begitu menghirup udara di sisi bahunya, tangis Sungmin sontak terhenti dan tubuhnya menegang. Seakan begitu menghayati, Sungmin meremas kain pemberian Leeteuk erat-erat ke lehernya. Terus menghirupinya berkali-kali seperti candu. Dadanya bergerak melemah, meski kali ini tampak lebih tenang.

Leeteuk hanya bisa mendesah miris. Ditariknya selimut untuk kembali melindungi tubuh Sungmin hingga ke dada. Kali ini, pemuda itu hanya diam dengan mata terpejam. Tidak menolak sama sekali bahkan saat Leeteuk mengusap keringat di sekitar lehernya. Keberadaan kaus dengan aroma keringat Kyuhyun seakan mampu meringankan penderitaannya dan membantunya kembali terlelap.

“Ini bukan sakit yang bisa disembuhkan dengan kompres. Atau obat. Atau tabib.” Leeteuk berbisik tiba-tiba, matanya lekat mengoreksi tiap jengkal wajah Sungmin sedangkan sebelah tangannya sibuk membolak-balik kompres di kening pemuda snowelf itu. Sang ratu tidak berniat untuk berbalik, hatinya terlalu sakit. Ia belum siap untuk menatap wajah Kangin saat suaminya itu membeberkan kebenaran, membenarkan semua prasangka yang selama ini hanya berkelebat di dalam batinnya.

“Katakan padaku, Youngwoon-ah. Apa yang kau sembunyikan dariku?”

Kangin menghela napas, tahu bahwa ia tidak bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi. Terutama dari istrinya sendiri. “Sungmin membutuhkan Kyuhyun. Satu-satunya yang bisa membuat Sungmin pulih hanya Kyuhyun, Mate-nya.”

Leeteuk sontak berbalik, memandangnya begitu tajam hingga Kangin tidak memiliki pilihan lain kecuali untuk membeberkan semuanya. Semua yang selama ini ia sembunyikan dari Kyuhyun dan istrinya sendiri.

“Mereka berbeda dari kita chagi. Ikatan Mate memang sesuatu yang suci baik bagi bangsa peri atau bangsa siluman. Tapi konsekuensinya berbeda untuk mereka…” Kangin melirik wajah pucat Sungmin yang terlelap tenang. Ada kalanya ia membenci peri salju, keangkuhan dan kefanatikan mereka membuatnya muak bahkan hanya untuk berpura-pura menunjukkan sikap bersahabat. Bangsa peri selalu membanggakan diri sebagai kaum yang suci. Kesucian yang menjadi kelemahan mereka, disombongkan dengan begitu tingginya. Bangsa yang malang, menyombongkan sesuatu yang mampu menghancurkan mereka suatu saat nanti.

Selama ini Kangin hanya diam dan mencoba menunjukkan diri sebagai sosok raja yang bijaksana, meski jauh di dalam hatinya rasa benci itu masih ada. Tapi melihat sosok lemah di atas ranjang putranya dari jarak sedekat ini— Kangin tidak bisa merasakan hal lain kecuali khawatir. Terlebih, penerus tahtanya tengah tumbuh di dalam tubuh rapuh itu. Darah daging Kyuhyun, cucu laki-laki yang selama ini ia nanti-nanti.

Langkah yang sudah dipersiapkannya matang-matang ternyata masih tetap cacat juga… Kangin tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menyesalinya.

“Kenapa diam, Yongwoon-ah? Apa yang berbeda? Apa konsekuensinya?”

Suara Leeteuk membangunkan Kangin dari lamunannya. Raja itu mengerjap sebentar, melempar senyum sendu ke arah istrinya sebelum kembali melanjutkan penjelasannya dengan nada yang sendu pula. “Ikatan mereka bisa merasakan saat pasangannya mencoba menjauh, dan itu akan berdampak pada fisiknya. Terlebih saat Sungmin tengah mengandung seperti ini. Kyuhyun harus selalu berada disisinya atau—”

“Atau apa?” Leeteuk tidak bisa menunggu untuk tidak menyela.

“Atau bocah ini akan mati…”

“Dan kau belum mengatakannya pada Kyuhyun!” pekik Leeteuk sembari menghempas tangannya frustasi. “Kalau begitu biarkan saja anak ini mati! Dan peperangan dengan Hviturland akan segera dimulai!”

“Aku sedang berusaha mencari Kyuhyun. Kau boleh percaya atau tidak, tapi Kyuhyun sudah mulai menyukai pangeran snowelf ini. Ayolah, dia pasti kembali. Jangan terlalu memikirkannya, nanti kesehatanmu ikut terganggu…”

“Bagaimana kalau dia tidak kembali!”

“Chagi…” Kangin mencoba meraih bahu Leeteuk, namun ratu itu segera menampik tangannya.

“Diam!” Kangin benar-benar diam, tidak berani mengatakan apapun lagi saat istrinya yang lembut itu tiba-tiba membentak.

“Sebentar lagi gerhana.” Leeteuk mendesis, berusaha menekan amarahnya. Ia berdiri mendongak di hadapan Kangin, berusaha menekankan tiap baris kata-kata yang akan diucapkannya. “Bocah ini harus menanggung penderitaan dari ‘ikatan mate’nya itu dan prosesi kehamilan saat malam gerhana. Kalau Kyuhyun tidak pulang sebelum itu…”

Leeteuk menelan ludah.

“Tidak ada pilihan lain kecuali kematian.”

Mereka mengucapkannya bersamaan. Leeteuk mendelik marah melihat sikap tenang suaminya, tapi Kangin hanya ingin menunjukkan bahwa ia tahu. Tidak perlu diingatkan pun ia tahu nyawa bocah ini terancam kalau Kyuhyun tidak segera kembali.

“Dan kalau bocah ini sampai mati…” Leeteuk melanjutkan. Ekspresinya menegang. “Kau juga akan melihat mayatku, Youngwoon-ah. Tidak ada peperangan lagi selama aku hidup di kerajaan ini. Lebih baik mati daripada menyaksikan semua itu.”

Kangin menelan ludah, getir. Segera berbalik untuk menyembunyikan betapa ucapan sang istri sangat berdampak pada dirinya. “Aku akan menyuruh Yonghwa menghubungi Raja Graentland.”

“Kenapa kau yakin sekali Kyuhyun ada disana?”

Kangin tidak berbalik, sosoknya melangkah cepat keluar kamar. Namun Leeteuk masih bisa mendengar kalimat terakhir yang diucapkan suaminya sebelum menghilang di balik pintu.

“Kyuhyun pasti ada disana.”

“Kyuhyun pasti ada disana…”


.

oOoOoOo

.


“Kuixian-sshi, aku benar-benar harus bertemu Kyuhyun!”

“Aku sudah bilang, Yonghwa-hyung, dia tidak ingin bertemu siapapun. Bahkan dia tidak membukakan pintu saat pelayan datang membawa kabar kedatanganmu,” Raja muda itu mencoba bersikap sesopan mungkin. Walaupun ia adalah tuan rumah di kerajaan ini dan mampu mengusir siapapun dari istananya, tapi tetap saja… Melihat resah di wajah tampan tamunya, mau tidak mau membuat hati kecil manusia Kuixian ikut tergerak. Terlebih saat pangeran negari seberang itu tampak seakan ingin menangis—

“Aish!” Yonghwa melenguh, lalu mendengus penuh emosi. Sudah dua kali dia datang kesini untuk menjemput Kyuhyun. Tapi jangankan membawa pulang, tak sekalipun pangeran manja itu mau bertemu dengannya. Satu-satunya oleh-oleh yang dibawanya pulang hanya rasa malu, yang akan dibalas oleh cacian dan bentakan marah Raja Merah, Kangin Appa, mertuanya sendiri. Kalau saja dia bukan keturunan Jung, telinganya pasti sudah berdarah mendengarkan omelan raja yang seharusnya dilontarkan pada putra mahkota –tapi disinilah posisinya sebagai menantu yang baik, sekaligus kambing hitam dalam keluarga.

Melihat Yonghwa yang terus berjalan mondar-mandir sembari menggigit bibir tak ayal membuat Kuixian merasa iba juga.

“Titip pesan saja, ne, Yonghwa-hyung?” bujuk Kuixian setengah tidak tega. Dengan begitu ramahnya raja itu menunduk di hadapan tamunya.

Yonghwa hanya tersenyum tipis, sejujurnya merasa kesal melihat wajah Raja muda ini. Salahkan saja rupanya yang nyaris sama seperti Kyuhyun. Tingginya, perawakannya, posturnya, seluruh gurat wajahnya. Semuanya sangat mirip kecuali tiga hal; aura, gelagat, dan sifat mereka. Saat Kyuhyun terkesan tertutup dan gelap, Kuixian merupakan sosok yang menjadi cermin terbaliknya, begitu ramah dan murah senyum.

“Bagaimana? Mau titip pesan saja?”

Yonghwa menghela napas, meremas tangannya sebelum mendongak kembali dan menatap Kuixian dalam-dalam. “Baiklah. Apa boleh buat… Sebenarnya ini masih rahasia, hanya keluarga Radourland saja yang tahu, jadi—”

“Aku mengerti Yonghwa-hyung.” potong Kuixian cepat saat dilihatnya Yonghwa begitu ragu dan tampak tengah menimbang-nimbang. Dengan segera, diperintahkannya seluruh pengawal untuk keluar meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.

Puas dengan sikap pengertian raja muda itu, Yonghwa akhirnya mengangguk-angguk yakin. Ia melangkah makin mendekat dan mengecilkan volume suaranya.

“Tolong sampaikan padanya, raja sangat marah atas kelakuannya ini. Mate-nya tengah mengandung dan keadaannya sangat tidak baik sekarang. Ia harus segera pulang, atau nyawa matenya akan terancam.”

Kuixian berkedip beberapa kali, mencoba mencerna pesan itu baik-baik saat jelas-jelas ia merasa otaknya seketika kosong begitu mendengar kalimat tentang mate Kyuhyun yang tengah mengandung.

“Kalau Sungmin sampai mati… Aku tidak tahu hukuman macam apa yang akan diterima Kyuhyun –dan termasuk aku pasti.” Werewolf berambut coklat acak itu mengomel lagi.

Tampak bingung, akhirnya Kuixian memutuskan untuk mengangguk-angguk saja. Memastikan pesan itu tersimpan lengkap di dalam kepalanya. Meskipun Kangin terkenal sebagai raja yang tegas dan terkesan kejam, Kuixian tahu bahwa raja itu tidak akan pernah melukai putra tersayangnya sendiri barang setitikpun. Karena itu ia tidak khawatir sama sekali. Ia justru lebih mengkhawatirkan nasib Yonghwa sebagai perantara dan pembawa pesan ini.

“Kyuhyun-hyung hanya mengurung diri sejak dia datang kemari. Dia belum bercerita sedikit pun, dan sepertinya tidak berniat untuk menceritakannya juga. Yang membuatku bingung, kalau memang Sungmin ini mate-nya, kenapa Kyuhyun-hyung malah ada disini?” mata Kuixian memicing, mencoba memancing tamunya untuk mulai bercerita. “Sebenarnya ada apa di antara Kyuhyun dan— Sungmin ini, hyung?”

“Dia juga tidak bercerita padamu?” Kuixian menggeleng.

Yonghwa berdecak mencibir. “Tsk! Benar-benar tidak sopan! Sudah menumpang disini, dia malah menyusahkan dan berlagak begitu.”

Kuixian hanya tertawa mendengarnya, tidak ingin berkomentar. Ia bukan tidak tahu, hubungan Kyuhyun dan kakak iparnya ini memang tidak bisa dibilang akur. Tapi terkadang, Kuixian bisa melihat ‘sosok’ penyayang Yonghwa di balik cibiran dan hinaannya pada Kyuhyun. Mungkin ini pengaruh istrinya juga, Seohyun, putri termuda Radourland yang sangat menyayangi Kyuhyun.

“Tapi aku tidak bisa menyalahkannya juga, sih.” Yonghwa tiba-tiba muram. “Kyuhyun tidak ingin memiliki mate, terlebih usia Sungmin ini terlalu muda. Tapi raja memaksanya, jadinya— yah begitulah. Sekarang peri muda itu sakit keras, tidak ada tabib yang bisa menyembuhkannya.”

“Aku turut berduka—” Kuixian berdusta, ia tidak bisa mengingkari bahwa hatinya sedikit merasa lega mendengar kabar buruk yang menimpa mate Kyuhyun ini. Siapapun Sungmin ini, Kuixian merasa sedikit berdosa. Tapi ia pasti akan lebih sakit hati lagi kalau Kyuhyun memulai hidup bahagia dengan orang lain setelah kematian kakaknya. Setidaknya… Jangan sekarang.

“Sejujurnya, aku mengerti kalau uhm— Kau tahu kan? Dipaksa bersetubuh dengan anak di bawah umur— Kyuhyun pasti tertekan. Tapi dia tetap harus pulang secepatnya, ini demi keselamatan mate-nya sendiri.”

“Tolong bujuk dia pulang.”

Kuixian menunduk memandangi lantai sebelum mengangguk-angguk pelan. “Kulakukan semampuku, hyung…”


.

oOoOoOo

.


Gelap. Tidak ada apapun yang tampak selain gelap. Saat kaki melangkah yang terdengar hanya suara kecipak air. Lantai ini tergenang basah. Ia menggigil, kaki telanjangnya yang menapak serasa melangkah di atas lelehan es. Meraba dan menggapai, tangannya tak mampu meraih apapun selain ruang kosong. Ia menyipit, mengerjap, berusaha mendapatkan cahaya untuk melihat. Berkeliling mencari sesuatu yang mungkin akan menolongnya keluar dari tempat mengerikan ini. Tapi tidak ada, semua hampa dan hitam seperti mimpi buruk yang begitu senyap.

Kemana istana esnya yang benderang? Pintu kamarnya? Pelayan-pelayan yang membawakan lentera? Dinding-dinding emas? Dimana ini!

“Pelayan! Pelayan!” pekiknya gugup, terjebak di tempat ini mulai membuatnya takut. Ia tersentak, saat suara lain ikut membaur bersama dengan deru napasnya yang berat. Bukan suara tetes-tetes air yang entah darimana jatuh membaur di atas genangan.

Itu suara isakan. Seseorang berada di dalam sini bersamanya. Berbisik, merintih…

Ia gemetar, melangkah mundur bermaksud menghindari sumber suara itu. Hingga tangis dan erangan yang terdengar makin mengeras, begitu pilu –dan familiar…

Jatungnya berdegup kencang, berpacu seperti riuh badai tatkala ia menyadari siapa pemilik suara itu.

“Joongie?” Ia melangkah ragu, sempat kaget saat secercah cahaya tiba-tiba datang entah darimana. Menerangi ruang gelap ini dengan sinarnya yang temaram, menuntunnya berjalan lurus ke arah sosok yang meringkuk jauh darinya.

Sosok itu gemetar, gaun putihnya yang kotor tak ayal basah kuyup saat ia meratap di atas genangan air. Rambutnya yang hitam kelam menutup nyaris dari sebagian wajahnya. Wajahnya pucat dan gaunnya yang panjang itu tak sanggup menyembunyikan gundukan besar perut buncit yang tengah dipeluknya sembari meratap pilu.

“J-Joongie— Kaukah itu?”

‘J-Junsu-ya—’

Junsu terhenyak. Buru-buru ia bersimpuh di depan Jaejoong dan ditariknya tubuh rapuh itu ke dalam satu pelukan erat.

“J-Joongie— Joongie, hyung disini…” Junsu ikut meratap bersama Jaejoong, tubuh dalam pelukannya begitu dingin.

‘Anakku— Selamatkan anakku—’

“A-anakmu?” Junsu tertegun sesaat, linglung, tidak tahu harus melakukan apa. Kenyataan mencoba mengetuk alam sadarnya. Namun akal sehatnya tenggelam di dalam kegelapan ini.

‘Selamatkan anakku—’

Junsu melotot, menyadari kejanggalan itu seketika. Suara itu menggema dari jauh, padahal jelas-jelas ia memeluk Jaejoong sedekat ini. Semakin ia mengusap tengkuk Jaejoong, semakin pula ia menyadari bahwa ini bukan lembut surai yang dimiliki adiknya, dan kecil tubuh dalam pelukannya seakan membawanya pada perasaan familiar yang lain.

“J-Joongie?” Junsu berbisik takut, diangkatnya dagu Jaejoong untuk memastikan lebih dekat. Namun betapa terkejutnya ia saat mata yang berbeda bertemu pandang dengannya. Sorot mata sendu, wajah pucat yang sama, tapi tentu saja— seluruh garis dan raut yang berbeda.

“Sungminnie?”

A-ada apa ini? Junsu nyaris memekik ketakutan, sosok Jaejoong dalam sekejap berubah menjadi putra angkatnya. Namun dalam balutan gaun yang sama, wajah pucat yang sama, dan perut buncit yang –sama…

‘Eomma, hiks… Tolong aku— Eomma—’

Junsu kesulitan bernapas, tangannya ikut gemetar. Suara ratapan Sungmin terdengar begitu memilukan, membuat sekujur tubuhnya terasa sakit. Kepala, telinga, hati. Ada apa ini?

“B-baby? Sungminnie!” Junsu memekik kaget saat tubuh Sungmin tiba-tiba tersentak dari pelukannya dan terjengkang ke belakang. Apa yang bisa dilakukannya? Tubuh Sungmin menggelepar, sekuat apapun ia berusaha memeluk dan menenangkan Sungmin. Tubuh putra angkatnya justru mengejang makin hebat. Pupil hitamnya perlahan terangkat ke atas, darah mengalir dari lubang hidung dan sudut bibirnya.

Sembari menangis ketakutan, Junsu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melirik ke bawah, ke arah perut buncit Sungmin. Dan apa yang disaksikannya setelah itu nyaris saja membuatnya terkena serangan jantung.

Perut buncit itu bergolak! Mencuat ke sana kemari seakan apapun yang hidup di dalamnya berusaha mencari celah untuk membebaskan diri. Seakan kulit rapuh perut Sungmin siap untuk tersobek dari dalam sana. Saat tubuh Sungmin mengejang, perutnya yang buncit ikut bergolak hebat di balik gaun putihnya yang ternoda basah oleh merah.

Baru disadarinya… Merah— Merah— bukan pekat coklat karena kotornya debu bercampur air. Tapi merah—

Junsu berteriak ketakutan saat disadarinya genangan di atas lantai bukanlah air, gaun putih yang dikenakan Jaejoong dan Sungmin bukan kuyup oleh air. Itu darah! DARAH!

“Yunho-ya! Siwon-ah! Donghae! Mimi!” Junsu memekik sejadi-jadinya, meneriaki seluruh nama yang dikenalnya, berusaha meminta tolong ke segala arah. Namun yang terdengar di dalam ruangan ini hanyalah suara tangisnya sendiri, dan raungan putranya juga suara gejolak dari dalam perut Sungmin.

‘Eomma! Eomma! AARRRGGGHH!”

“SUNGMIN-AH!”


.

oOoOoOo

.


“SUNGMIN-AH!” Junsu berteriak dan tersentak duduk dari atas pembaringannya. Terangnya sinar kamar menyambut indera matanya yang terasa perih. Suasana yang mencekam napasnya sudah berubah total. Ia kembali ke tempat ini. Ke dalam kamarnya dengan raja Hviturland yang terlelap tenang di sisinya.

“V-Valar— Oh, Valar.” Junsu memegangi keningnya, sekujur tubuhnya gemetaran hebat. Keringat dingin membasahi gaun tidurnya. Kamar yang seharusnya dingin ini seketika terasa panas. Masih jelas sekali gambaran mimpi buruk yang baru saja ia alami. Sungmin— Sungminnya—

Tidak mungkin. Tidak mungkin ini hanya mimpi biasa. Junsu melirik suaminya dan mendesah lega saat dilihatnya Yunho masih terlelap nyenyak. Raja itu pasti lelah sekali, Junsu merasa bersyukur atasnya. Ia bangun dari ranjangnya, mencari jubah dan membalut tubuhnya dengan segera.

Tidak, ia tidak akan bisa tenang setelah mengalami mimpi ini. Lebih-lebih untuk melanjutkan tidurnya. Junsu tidak akan bisa tidur nyenyak sampai ia bisa bertemu dengan putra angkatnya dan memastikan keadaan Sungmin dengan mata kepalanya sendiri.

Karena itu Junsu membiarkan hatinya yang melangkah, ia segera keluar dari kamar raja tanpa menyadari bahwa raja itu tidak tidur sama sekali bahkan sejak sebelum ia terbangun tadi.

“Siwon-ah! Siwon-ah!” Junsu menggedor pintu perpustakaan, persetan dengan pelayan-pelayan yang memandangnya heran dan bertanya untuk menawarkan bantuan. Junsu langsung saja mengusir mereka dengan kasar, ia terlalu panik untuk berpikir jernih sekarang. Terlebih saat pintu besar perpustakaan terbuka dari dalam dan sosok yang dicari-carinya berdiri tegap di hadapannya.

“Ye? Kenapa ibunda tahu aku ada disini?”

Junsu tidak menjawabnya, ia langsung saja menghambur ke dalam dan menutup pintu ruang perpustakaan. Setelah ia melirik kesana kemari dan hanya melihat satu penjaga perpustaan berada di dalam ruangan, Junsu langsung saja berbalik memandang putra tirinya dengan sorot lelah. Hembus napasnya masih terdengar berat dan berantakan, tapi dengan tegas ia mengucapkannya—

“Antarkan aku ke Radourland!”

“H-huh?”

“Antarkan aku ke Radourland! Aku ingin bertemu Sungmin sekarang juga.” tegas Junsu lagi.

“T-tapi ayahanda—”

“Aku bermimpi tentang Sungmin. Mimpi yang sangat buruk sekali. Aku memimpikan Sungmin sekarat, dia kesakitan, dan sendirian. Antarkan aku sekarang, Siwon-ah!”

Siwon terlalu bingung untuk mencerna segalanya. Ia menatap Junsu ragu. “T-tapi— Mimpi?”

“Ya! Kenapa? Kau tidak percaya pada mimpiku?”

“Bukan begitu.” Siwon mencicit. Ia menunduk, berpikir sebentar. Tentu saja ia tidak bisa menganggap Junsu tengah berdusta. Biar bagaimanapun, orang ini adalah cenayang terhebat yang pernah dimiliki Hviturland. Dan ia juga tidak bisa mengabaikan saat Junsu menyebut kata ‘Sungmin’ barusan. Penderitaan dan sendirian. Ia tidak akan membiarkan adiknya mengalami kesulitan! Tapi—

“Aku tahu, aku bisa merasakannya. Sungmin sedang kesakitan sekarang. Kita harus memastikannya. Kau dan aku tidak ingin menyesal, bukan?”

Siwon menunduk dan berpikir makin dalam. Tiba-tiba teringat dengan pertengkaran ayahnya beberapa bulan lalu. Di saat bersamaan, Junsu meyakinkannya bahwa nyawa sang adik tengah terancam. Ayahnya pasti marah besar kalau sampai tahu ia mengantarkan ibunda ratu ke Hviturland, tapi nyawa Sungmin jauh lebih penting—

Hingga akhirnya Siwon mengangguk. Memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Benar, ia tidak ingin menyesal.

“Baiklah, ibunda gantilah dengan pakaian yang pantas. Biar kukeluarkan Sleipnir dulu.”

Junsu tersenyum lega. Tidak perlu menunggu lagi saat ia berbalik dan berlari kembali menuju ruang gantinya.


.

oOoOoOo

Tebeseeehhh!

oOoOoOo

.


Terima kasih untuk yang meninggalkan komentar di chapter 5 kemarin. Maaf chap itu belum kami balas reviewnya. We love ya! Tinggalkan review yaaaa :”

23 thoughts on “Cursed Crown | Chapter 6

  1. Sedih lihatnya eh nggak deh ngebayanginnya!?
    Gimana nanti!?
    Kalo kyu udah balik hukum aja! Suruh jdi pelayannya ming
    heehehe

    Siwon muncul lgi OMG…
    Masih ada niatan ngrebut ming nggak yah

    Ayo kyu semngat jngan rendah diri nanti ming direbut Siwon loh..

    NB: 1 Next chap kyuminnya ditambah
    2 The Concubine ditunggu hasil rewritenya
    3 Sedlupus jangan ditinggal

    Makasih :^)

  2. Kyu kenapa bodoh banget sih??!
    mikirin ego sendiri aja TT-TT
    memang udah bawaannya kangin begitu, kalo pergi berarti kyu tambah kalah dari dia😦
    ayolah sadar kyu~~
    ming lagi sekarat taukkk :'((
    dan jg ming lg hamil anakmuuu~~

    astaga >_<
    sampai terbawa mimpi !!
    udahlah won, dateng aja deh liat sungmin, peduli amat dg ancaman yunho T-T

    ughhh, bahagia banget chap ini update😀
    tetap semangat lanjut ya eonn :*~

  3. hi… Aq reader bru.
    critanx sru nich….
    eh sungmin lgsung hmil ye? tpi ksian dsaat dy mmerlukan Kyu. Kyu mlah kabur..
    smga aj Kyu cpat kmbli sblum trlambat.

    dtunggu klanjutannx….🙂

  4. Tika says:

    waaaaaaaaaaaaaaa jangan sampai Junsu datang sama Siwon. dan yang paling penting jangan sampai Min mati. Kyuuuuuuuuuuuuuu ayolah,,,,,,,,, pulang……. #seretKyu

  5. Ryu Shii says:

    Kui Xian.. dia bener2 bahaya atau..? andwae! Sungmin ga boleh mati! ga boleh pokoknya! hwaiting buat next chap ya!!!

  6. shanty kyuminnie arashi says:

    Hueeeeeeeee….. ga tega bgt liat sungmin menderita bgtu….
    Knp kyu sampe tega cie ninggalin ming….
    Bahkan dia sama sekali g tau klo ming hamil dan sekarang lg sakit….
    Knp kyu egois bgt cie…. ga tega sumpah….. hiks….

    Trus jg apa maksud dr kembarannya kyu itu…
    Knp dia malah seneng denger ming sakit…
    Knp dia jg g bisa terima klo kyu sudah ada mate lain…
    Noona nya itu sudah meninggal… knp tetap ga bisa terima????

    Leeteuk sabar bgt d sni… bahkan ming nolak bantuan dr dia tp dia tetap sabar buat rawat ming….
    Kyuuuuuu….. cepet balik…hueeeeee…..
    Update kilat miinaaaaaaaa…..

  7. Ahrin says:

    hwaaa, gemes baca.y gra” kyuhyun…
    kyuhyuuuun, sungmin skarat woi, cpat balik…
    itu jga kuixian, tega bener, udah tau sungmin sekarat, dia.y mlah santai ajah…
    next chapter can’t wait…><

  8. Lee Min Chan says:

    akhirnya update !! ^.^/

    Kyu knp kburr , knp niggalin Ming hadduhhh…
    Kangin jga rada kcewa ama dia d sni , niatnya sihh baik tp maksaiin bget .. >.<

    itu yg jdi Raja manusianya nma chinanya Kyu sma Ming . curiga ama gelagat gugupnya Kui xian , apa ntar istrinya dia itu jga mrip sma Ming ???

    unni update asap ne ? TC kpan di lanjutnya un ??

  9. vyan says:

    Hadeuuuuhhhhh… si Kyu bikin aq senewen…
    masa umin ditinggalin sendiri lagi… 5 minggu …bnr2 Kyu keterlaluan..
    tapi aq jd penasaran juga ama Kuixian n siluman kelinci.. jd mirip2 ama Kyu and Min hehe

  10. iiiihhhhhhhh,,,,gemesssss bgt nih aq sama si Kyu, udah jelas dia udah suka ma Ming tpi mlah ditinggalin, udah gitu mikir yg macem” lgy klo Ming bkalan benci ma dia…hedeehhhhh…ini lgy si Kuixian kykx ngalang”in bgt Kyu blik k kerajaanx…Ming kan kesiaannn menderita gitu krena matex ninggalin dia..jdi gemes pngen baca next chapx,,keren Minna jago bnget bkin orang gregetan..hhehehe ^^

  11. cho kyumin says:

    Ming~i ah gwenchana?? serius sun nyesek byangin gimna keadaan-nya ming serius deh penggambaran alur, tokohnya dapet bgt huhu
    etapi aku bingung!! si kuixian ko jahat dia ga tau penderitaan ming minta gue tabok itu orang, kyuhyun-nya juga gue jadiin sop dah dia gila tega amet ninggalin bini lagi hamil juga harusnya kan dia rasain pwnderitaan ming –” orz dan dan ah aku bingung komen apa muehehe anw kitty2 baby, sedlupus sama the concubine jan lupa dilanjut yaa chuchuchu😄

  12. Rhaya says:

    Ngikut emosi..
    Knpa kyuhyun pergi?
    Itu lagi si guixian :3
    orang menderita malah seneng.. :3

    junsu sama siwon mau datang ke negri nya kyuhyun..
    Apa bakal ada perang?😮

    go to next chapter

  13. jiahh kyu oppa apa yg kau lakukan di negeri org liat lah istrimu itu.. aduh gerem deh liat kyu oppa, awas aja ntar kalau chap dpn blm balik juga, aku yg bakalan seret ke umin #abaikan. yuhuu next chap im cominggg.

  14. 010132joy says:

    Ugh seret kyu pulang mau ga mau kyu harus pulang! Jngan sampe ming knapa2 ntar nyesel sendiri lho kyu apalagi ming hamil aduh
    itu lg kangin appa knapa kyanya sante2 aja sih ga peduli bgt sma keadaannya ming, klopun khawatir yg dkhawatirin cuma calon cucunya aja dasar
    trus junsu sma won mau ksitu lg ntar klo tau ming skarat masalah makin runyam lg tp jngan smpe ming knapa2 atau dbawa pulang
    kyu pulang donk ngapain sih lama2 ngungsi tmpat orang, jngan sembunyi terus donk ck
    lanjut chap …

  15. Kui xian itu nama chinese nya abang kyu kan? Cheng min juga nama chinesenya umin kan? Wuahaha. Itu abang kyu kok keras kepala banget yaa. Tapi hebat juga junsunya bisa sampe tau umin lagi sekarat lewat mimpi. Aku lanjut baca yaa min

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s