Cursed Crown | Chapter 7

“Yonghwa-hyung sudah pulang?”

Pertanyaan itu langsung saja terdengar begitu Kuixian membuka pintu kamar Kyuhyun, tapi ia tidak langsung menjawabnya. Senyum ramahnya kembali merekah, sorot matanya yang dalam dan tenang bertemu dengan tatapan sayu Kyuhyun. Seketika itu ia tahu kalau keadaan mantan-kakak-iparnya ini bertambah buruk sejak terakhir kali ia menengoknya pagi tadi.

“Hm? Kau sudah baikan, hyung?” Kuixian bertanya khawatir, ia melirik dua pelayan di sisi ranjang Kyuhyun, mengisyaratkan keduanya untuk keluar. Setelah mengambil alih sebuah nampan berisi obat-obatan dan makanan ringan dari tangan mereka, Kuixian duduk di sisi Kyuhyun dan menyodorkan segelas air. Namun Kyuhyun tidak menerimanya, putra mahkota itu malah balik memandangnya dengan sorot sedikit memaksa.

“Yonghwa masih ada di luar atau dia sudah pulang?”

Kuixian berdecak prihatin. “Padahal dia ingin sekali bertemu denganmu. Akhirnya dia menitipkan pesan setelah kurayu untuk pulang—”

“Aku tidak mau dengar apa-apa dulu.”

Aku tidak ingin mendengar dusta lagi.

“Kepalaku sakit.”

Kyuhyun memijati keningnya, sekelebat pemikiran dan beban itu kembali menghantam otaknya. Rasa-rasanya seluruh pelipis hingga ke ubun-ubunnya ikut berdenyut-denyut, nyeri sekali. Dan lebih gilanya lagi, hal ini sudah berlangsung selama beberapa minggu terakhir. Apa mungkin ayahnya itu mengirim guna-guna dari seberang negeri sana? Supaya ia tahu rasa dan menyerah lalu pulang? Cih, pintar sekali.

Kuixian menghela napas mendengar jawaban Kyuhyun. Tanpa berniat untuk memaksa Kyuhyun lagi, ia meletakkan nampan obat itu di atas meja. “Baiklah, akan kuberi tahu besok setelah kau merasa baikan.”

“Tidak perlu, itu pasti hanya akal-akalan ayahku. Agar aku pulang dan kembali dijadikan bonekanya untuk menghasilkan keturunan. Biarkan saja, aku mau menginap beberapa minggu lagi disini.”

Kening Kuixian mengernyit, ia mengangkat alisnya ragu. Tentu saja, amanah itu harus disampaikan. Tapi kalau Kyuhyun menolaknya seperti ini, ia akan dengan senang hati memilih untuk menuruti kakak angkatnya ini.

“Kau yakin?”

“Aku yakin.”

“Kau tidak berpikir kalau-kalau sesuatu terjadi pada mate-mu? Kau tahu kan? Kalian sudah terikat sekarang, dan melihat keadaanmu sekarang ini— Bagaimana dengan dia?” Kuixian mencoba memancing, biar bagaimanapun ia tidak ingin disalahkan kalau ternyata pesan yang disampaikan Yonghwa itu benar dan bukan sekedar akal-akalan raja Radourland. Tapi jawaban Kyuhyun selanjutnya benar-benar membuatnya tercengang—

“Ikatan mate itu maksudmu?” Kyuhyun terkekeh pelan, ia menggeleng lemah karena kepalanya terus saja berdenyut menyakitkan. “Tidak pernah fatal. Bahkan kalau pun aku mati disini, paling-paling dia hanya terserang sakit kepala dan mimpi buruk berpuluh-puluh tahun. Separah-parahnya, dia akan diserang trauma dan menjadi paranoid seumur hidup.”

“B-begitukah? Tapi itu terdengar mengerikan bagiku.”

“Aku pasti pulang, walau tidak sekarang. Biar bagaimanapun, aku tidak mungkin lari dari bocah itu selamanya.” Kyuhyun beringsut lemah, sekujur tubuhnya terasa lemas tapi ia tetap memaksakan diri untuk bangun dari ranjang. Kuixian sempat beranjak dan menawarkan bantuan, tapi Kyuhyun mendesis tersinggung dan pada akhirnya raja Graentland itu mundur, membiarkan ia bergerak sendiri dan melangkah tertatih menuju jendela kamar yang terbuka lebar.

“Aku tidak mengerti tentang mating seperti itu.” Kuixian memandang sedih, sorot matanya berubah nanar. Tiba-tiba merasa pikirannya mulai melayang kemana-mana. Mate. Mungkin hal itu begitu familiar di hatinya, namun rasanya ia begitu bodoh dan tidak tahu apa-apa. Yang ia tahu sekarang hanya pedih dan penyesalan.

Kyuhyun menghela napas berat, dadanya sedikit terasa sesak. Ada yang janggal namun Kyuhyun berusaha mengusir prasangkanya barusan. Ia mengalihkan pikiran dengan memandang keluar jendela, ke arah bulan yang nyaris membentuk purnama sempurna di atas sana. Memandang begitu jauh seakan merindukan sesuatu yang tak tergapai dan entah berada dimana. Tidak pernah ia merasakan perasaan asing seperti ini, mungkin ini efek mate yang tidak ia ketahui? Rasa rindu yang begitu menyayat-nyayat. Dorongan yang begitu menggebu untuk menyentuh— Ugh.

Kyuhyun menggeleng-geleng gugup, berusaha mengusir bayangan wajah yang sekejap berkelebat dalam pikirannya.

Dengan tubuh yang sedikit condong maju, Kyuhyun berpegang pada pinggiran kokoh jendela itu. Sedikit merasa malu saat ia bahkan tidak sanggup berdiri dengan kekuatannya sendiri.

“Mate itu mengikat jiwa. Satu-satunya hal terfatal saat kau memiliki mate hanya –bersiap untuk kehilangan dirinya. Karena kalau terjadi sesuatu pada matemu, tidak akan ada penggantinya. Kau tidak akan pernah bisa menikah atau berhubungan dengan siapapun lagi. Begitu pula sebaliknya yang akan terjadi pada matemu kalau dia sampai kehilangan dirimu. Hidup akan berubah menjadi neraka, hampa. Tubuh ini ada, namun jiwanya menghilang entah kemana.”

“Oh.”

“Karena itu, dibutuhkan rasa percaya yang dalam sebelum kau memutuskan untuk mengikat diri dengan cara yang begitu suci. Mate-mu adalah hidup dan matimu. Dalam artian yang benar-benar romantis— sekaligus menyakitkan.” Kyuhyun menerawang jauh ke atas cakrawala, berusaha menekan memorinya yang terasa menyakitkan –tentang malam itu. Meski ia merasa kasihan pada nasib Sungmin, tentu saja ia juga merasa dirugikan. Semua terjadi tanpa kuasanya. Dan sekarang… Ia tidak memiliki pilihan lain kecuali seorang pangeran di bawah umur yang manja dan kurang ajar. Pangeran itu sekarang menjadi hidup dan matinya. Kalau sampai Sungmin pergi—mati, maka tidak akan ada pilihan lain lagi.

“Aku tidak tahu.” Kuixian mengendikkan bahunya. “Tidak ada hal semacam mating seperti itu dalam bangsaku.”

“Tentu saja tidak ada. Kalian makhluk fana.”

“Apa karena itu kau tidak mengikat kakakku menjadi mate? Karena dia makhluk fana?”

Kyuhyun tidak langsung menjawabnya. Ia berbalik, bersandar ke jendela lalu mengetuk-ngetukkan jemarinya di sisi kaca. Ditatapnya Kuixian dalam-dalam, sembari sibuk menyusun kata di dalam kepalanya agar ucapannya nanti tidak menyinggung raja muda ini.

“Tidak ada hukum mate dalam bangsamu, karena itu— Kalian tidak bisa diikat, tapi kami bisa mengikatkan diri pada kalian. Kalian tidak merasakan akibatnya, tapi kami bisa. Kasarnya, kalau aku menjadi mate kakakmu, maka dia akan menjadi hidup dan matiku. Tapi aku tidak menjadi hidup dan matinya. Kau mengerti? Bukankah itu tak adil? Kalau dia sampai selingkuh di belakangku, matilah aku.”

Kuixian tertawa terbahak-bahak. Hanya membayangkannya saja sudah membuatnya geli. Tawanya semakin membahana lagi tatkala wajah Kyuhyun makin mengeruh kesal.

“Kenapa kau tertawa? Aku bisa mati dalam artian yang sesungguhnya. Hidup di dalam neraka sedangkan dia enak-enakan bermain dengan lelaki lain.”

Kuixian memeluk perutnya, terengah-engah saat berusaha menghentikan tawanya. Hingga akhirnya ia menggeleng-geleng, lalu menyeringai tidak setuju. “Kakakku tidak mungkin berbuat seperti itu.”

Kyuhyun mengangguk, setuju. “Memang tidak mungkin, tapi dia manusia. Usianya fana. Dan itu masuk ke dalam perhitunganku.”

“Dimengerti.” Kuixian ikut mengangguk-angguk dan tersenyum lembut.

“Hei, bukankah istrimu itu siluman kelinci? Kenapa kau tampak bodoh sekali tentang hal ini. Apa kau belum menjadi matenya?”

Kuixian tertegun, terlalu tercekat untuk dapat menjawabnya. Untungnya, Kyuhyun kembali membuka mulut dan menyela buru-buru.

“Ah, tapi tidak mungkin juga. Dia harus benar-benar MENCINTAIMU seperti orang idiot sebelum ia bisa melakukan hal itu.” Kyuhyun tertawa mendengar ucapannya sendiri. Suara tawanya terdengar mengerikan, sedikit serak dan berat, bercampur batuk di ujungnya.

Kuixian menunduk, seulas senyum sendu terukir di wajahnya. Tanpa sengaja, ia berbisik “Dia memang idiot.”

“Apa?”

“Ah—Hahaha, tidak.” Kuixian mengusap tengkuknya gugup. “Terimakasih untuk kuliahnya hari ini. Aku jadi tahu banyak soal mate dan mating.”

“Sama-sama. Ugh!” Kyuhyun terbatuk lagi.

“Hyung!” Kuixian berseru khawatir, buru-buru ia berdiri menghampiri Kyuhyun. Berniat menuntunnya kembali ke ranjang, namun Kyuhyun menolaknya dengan halus. “Istirahatlah, hyung. Kau tampak lemas sekali.”

“Tidak, aku mau menunggu purnama.” Kyuhyun menggeleng lagi, sesaat sebelum ia berpura-pura mendelik sembari menunjuk wajah Kuixian. “Dan perhatikan ucapanmu, bocah! Aku ini calon raja werewolf selanjutnya! Tidak boleh ada yang menyebutku lemah!”

“Aku tidak bilang begitu.” Kuixian berdecak kesal menghadapi sikap ngotot kakak angkatnya ini.

“Ya, baru saja kau mengucapkannya.”

Kuixian menyerah untuk beradu mulut dengan Kyuhyun. “Tapi— Tidakkah kau berpikir sesuatu yang buruk sedang terjadi pada mate-mu? Baru kali ini aku melihatmu le— SAKIT…” Kuixian menghindari kata ‘lemah’ terucap dari mulutnya. “…seperti ini… Bagaimana kalau mate-mu benar-benar sedang sakit keras? Yonghwa hyung juga mengatakan—” Kuixian belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Kyuhyun langsung saja memotong dengan nada meninggi.

“APA? Bahwa Sungmin sedang sakit sekarang? HAH. Itu hanya akal-akalan mereka. Kalaupun bocah itu benar-benar sakit, dia tidak akan mati. Ada banyak tabib. Dan aku akan pulang beberapa minggu lagi.”

“Kau tahu mate-mu sedang hamil?”

Kyuhyun tertegun. Sempat kehilangan kata-kata dan susah payah menelan ludahnya. Hamil? Ia ingin percaya, tapi semua akal cerdik dan jebakan ayahnya malam itu membuat keraguannya segera sirna. Keyakinannya sudah seteguh batu. Kalau sang ayah bisa memaksanya berhubungan seksual dengan seorang bocah, bukan tidak mungkin raja licik itu menghalalkan cara lain agar ia bersedia pulang ke Radourland. Kyuhyun menolak keras, ia tidak akan tertipu dua kali. Tentang Sungmin yang tengah sakit sekarang, mungkin masih bisa ia percaya. Bocah itu memang sakit-sakitan. Tapi hamil? Hah!

“Kau percaya? Kami hanya melakukannya satu kali dan bocah itu masih di bawah umur.”

Kuixian merengut, memikirkan ucapan Yonghwa beberapa saat lalu. Apa itu benar-benar hanya tipuan raja Radourland, seperti yang dituduhkan Kyuhyun? Ia sempat bingung, bergelut dengan hatinya sendiri saat di sisi lain, perasaannya memberat untuk berada di pihak Kyuhyun, untuk membela kakak angkatnya dan melindunginya selama ia ada di istana ini.

Dan Kyuhyun, seakan melihat keraguan dari ekspresi Kuixian, langsung saja merangkul bahunya dan berujar, “Kau tahu ayahku.”

Kuixian mengangguk lemah, teringat dengan sikap bijak Raja Radourland yang terkenal hingga ke seluruh penjuru negeri. Namun cerita yang sering dibawakan Kyuhyun selama ini membawa kesan lain, berbagi dengannya tentang sosok siapa sesungguhnya Raja Radourland itu.

“Tenang saja, kalau kau khawatir dengan keberadaanku disini. Aku akan segera pergi seminggu lagi.”

“Bukan itu maksudku— Ah! Sudahlah jangan kita bahas lagi.” Kuixian mengacak rambutnya, terlalu pusing untuk memikirkan hal ini lebih jauh lagi. Urusan kenegaraan sudah cukup membuatnya depresi. Sekarang ia memutuskan untuk menuruti Kyuhyun saja, dan mengurus kakak angkatnya ini sebisa yang ia mampu.

“Makanlah hyung, sudah berhari-hari kau tidak makan.”

“Aku tidak lapar.”

“Kau ingin daging mentah?”

“Kau ingat terakhir kali aku makan daging mentah?”

“Umh… Sepertinya— Tidak pernah.”

Absolutely. Karena aku tidak pernah makan daging mentah, terlalu menjijikan. Kau pikir werewolf itu apa?”

“Hahaha—” Kuixian mengusap tengkuknya grogi, sepertinya ia salah bicara. Tapi kalau ia minta maaf, mungkin Kyuhyun malah akan semakin merasa kesal.

“Malam ini purnama.” Kyuhyun tiba-tiba bicara, lagi. Kuixian hanya menanggapinya dengan tersenyum lembut, seakan mengerti arah pembicaraan Kyuhyun begitu kata ‘purnama’ terlontar dari bibir kakak angkatnya itu.

“Kau bisa gunakan bukit di balik benteng belakang. Atau halaman samping kalau kau tidak ingin jauh-jauh dari istana. Disana luas, cukup untukmu berlarian sampai subuh menjelang.”

“Aish! Bukan itu maksudku—” Kyuhyun berdecak jengkel. Ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang. Malam ini, rasanya berbeda dari purnama-purnama yang biasa ia lalui. “Entah kenapa, aku tidak ingin berubah. Tubuhku tidak mengizinkan itu.”

“Karena kau terlalu lemas?” Lagi-lagi Kuixian berujar sok tahu, lebih-lebih dengan wajah sok polosnya itu— Kyuhyun mendelik makin jengkel.

“Bukan! Dan aku tidak lemas, bocah! Kau tidak percaya? Aku bisa membantingmu sampai ke bukit. Kemari!”

“Hahaha, aku hanya bercanda hyung! ”

Kyuhyun mendengus. Terlalu malas melihat wajah Kuixian dan tawa tanpa dosanya itu hingga ia lebih memilih untuk berbalik, kembali bersandar di sisi jendela sembari menatap keluar. Di satu sisi, Kyuhyun terlalu malu untuk mengakui bahwa tubuhnya memang terasa lemas. Dari detik ke detik rasanya ia tak sanggup lagi menopang dirinya sendiri. Tapi Kyuhyun masih terus bertahan disana, egonya berada tinggi di atas kekuatan fisiknya. Dan ego itu yang membantunya berdiri kokoh memunggungi Kuixian seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

“Lalu kenapa? Ada apa hyung?”

Suara khawatir Kuixian sedikit menyayat memorinya. Kyuhyun mendongak makin tinggi, berusaha fokus menatap purnama yang tidak lagi tertutupi awan gelap. Begitu bersinar di atas cakrawala kelam, tanpa satu pun bintang. Ini Graentland, tentu saja ia tidak akan mendengar suara lolongan serigala di negeri ini bahkan saat purnama tiba. Tapi rasanya, jeritan dan gonggongan itu terasa begitu dekat. Menguar dari dalam ingatannya sendiri, kembali dihidupkan dengan begitu nyata di dalam alam pikirnya. Suara teriakan kesakitan berbaur dengan bau kematian—

“Ini malam saat aku kehilangan Bora dan bayi kami. Kau ingat? Saat itu juga purnama. Sudah lama sekali, aku nyaris tidak merasakan apa-apa lagi.”

Kuixian tidak akan berdusta kalau saja Kyuhyun bertanya. Ia sakit hati mendengar kata-kata itu. ‘Nyaris tidak merasakan apa-apa lagi.‘ Seakan mengatakan dengan gamblang bahwa kakak perempuan kesayangannya sudah tidak lagi berada di dalam hati putra mahkota Radourland ini, sudah tidak dicintai lagi, nyaris terlupakan kalau saja lukisannya yang besar tidak terpajang di aula utama istana. Tapi Kuixian lebih memilih untuk diam.

“Purnama-purnama sebelum ini selalu terasa normal. Tapi kenapa sekarang, perasaan yang sama datang lagi seperti saat itu?” Kyuhyun berbisik, lirih. Matanya menatap sendu entah ke arah mana.

“Begitukah?” Kuixian mencoba untuk menimpali, “Mungkin kau merindukan mereka?”

“Mungkin.” Jawaban itu terdengar ragu, nyaris mengecewakan Kuixian saat bersamaan Kyuhyun berbalik. Wajahnya sepucat mayat dan tatapannya makin sayu.

“Mungkin aku harus berziarah ke makam mereka. Besok, atau lusa.”

Kuixian terkesiap, dengan panik ia menunjuk wajah Kyuhyun. Kuixian bersumpah ia tidak pernah melihat Kyuhyun dalam keadaan seperti ini. Yang paling membuatnya tertegun, cairan pekat mengalir perlahan dari lubang hidung Kyuhyun. Dan bahkan putra mahkota itu tidak menyadarinya sama sekali.

“Kenapa kau menunjuk wajahku, bocah!”

“H-hyung! Hidungmu berdarah!”

.

oOoOoOo

.

Lorong di sayap kanan istana Radourland malam itu tampak ramai. Pelayan-pelayan dan belasan tabib istana tak lekang berlalu lalang, tak jarang dari mereka berwajah pucat. Ini purnama, sudah seharusnya mereka beristirahat di kediaman masing-masing semenjak larangan ‘berburu liar’ dibuat di negara ini. Meski sulit, mereka bisa menggunakan daging mentah binatang yang sudah disembelih untuk menekan hasrat lahiriah werewolf kala purnama tiba. Tapi malam ini, puluhan penghuni istana terpaksa berjaga dalam wujud manusia mereka. Dengan keteguhan untuk megabdi pada perintah raja, mereka tetap bertahan di tempat itu dan menunggu perintah dari dalam kamar Putra Mahkota.

Setiap kali ratu memekik panik, satu tabib akan keluar dan digantikan oleh tabib lain yang menunggu di depan pintu. Pelayan-pelayan hanya akan masuk membawakan bermacam obat-obatan yang diperlukan, tanpa bicara dan tanpa bertanya. Karena suasana di dalam sana sudah cukup kacau untuk semakin direcoki.

Lakukan sesuatu!”

Kau tidak berguna!”

Ganti tabibnya! Ganti tabibnya!”

Pelayan-pelayan itu saling berpandangan dan para tabib menghela napas lelah. Seorang tabib paruh baya keluar dari kamar putra mahkota dengan wajah pucat, dan seorang tabib yang lebih muda bergerak gesit tanpa diperintah. Menggantikan tabib sebelumnya dan masuk ke dalam kamar itu.

Dari dalam kamar, suasana kacau itu terasa semakin menekan. Dua orang pelayan bergerak hati-hati, berusaha memegangi seseorang yang mengejang di atas ranjang. Sedangkan ratu menghempas tangannya dengan frustasi, raja yang berdiri di sisinya tengah berusaha menenangkan istrinya dan merangkul bahunya.

“Ini purnama, aku mengerti kalau kau panik seperti ini. Istirahatlah chagi, kau bisa berubah sejenak dan menenangkan diri.”

Kangin merangkul bahu istrinya, berkali-kali memancing Leeteuk untuk berbalik dan berhenti memandangi Sungmin yang tengah mengejang hebat di atas ranjang. Pemandangan mengerikan itu hanya membuat istrinya semakin panik, dan kepanikannya tidak akan membantu apa-apa kecuali semakin memperburuk kesehatannya yang memang semakin menurun akhir-akhir ini.

“Tidak perlu.” Dengan ketus Leeteuk menampik tangan Kangin. Ia mendesis marah saat suaminya itu tak putus asa dan justru merangkul bahunya makin erat.

“Tubuhmu menggigil, ayo. Biar kuantar ke halaman belakang.”

“Aku tidak mau Yongwoon!” sentak Leeteuk sembari mendorong dada Kangin, menunjukkan pada sang suami betapa ia tengah frustasi sekarang.

“Hy—nghhh!” suara erangan tertahan itu langsung saja mengalihkan perhatian Leeteuk. Ratu itu tersedak, air matanya kembali menggenang. Dengan serampangan didorongnya dua pelayan yang duduk di sisi ranjang. Berusaha menyingkirkan mereka dan memposisikan dirinya sedekat mungkin dari Sungmin. “Minggir! Biar aku saja yang melakukannya!”

Kangin buru-buru menahan bahu Leeteuk sebelum istrinya itu sempat melepaskan kancing kemeja Sungmin yang sudah kuyup oleh keringat. “Biar tabib saja yang menanganinya chagi.”

“Mereka tidak berguna! Kejangnya bahkan tidak berhenti!” pekik Leeteuk setengah menangis. Ia memegangi tangan Sungmin dan menahan pinggulnya perlahan, berusaha untuk tidak memperparah penderitaan Sungmin.

Kangin menunduk dan mendesah sedih. “Mereka memang tidak berguna. Kalau begitu biarkan saja pelayan yang memeganginya, pastikan saja Sungmin tidak menggigit lidahnya. Kejangnya akan berhenti setelah purnama berlalu.”

“Kau mau menyiksanya sampai mati?” Leeteuk memandang Kangin tidak percaya, kali ini air matanya mengalir tanpa suara. Ia segera mengusapnya dengan kasar, menarik napas panjang dan berbalik memunggungi Kangin. “Kau tidak berhasil membawa putramu pulang, dan lihat hasilnya!”

Kangin menghela napas, lagi. Terlalu lelah dengan semua pertengkaran ini.

“Kita tidak tahu chagi, Yonghwa bahkan belum kembali dari Graentland. Berdoa saja menantu kita tidak pulang sendirian besok pagi.”

“Besok pagi?” Leeteuk berdecih, tangannya yang tengah menggenggam jemari Sungmin gemetaran dan dingin. “Maka saat kepulangan Kyuhyun itu dia akan menyaksikan mayatmatenya sekaligus aku!”

“Kenapa kau bicara seperti itu terus, aish!”

“Ini pernah terjadi, lima belas tahun yang lalu dan saat itu juga purnama. Istri Kyuhyun tidak mampu melewati malam itu dan akhirnya mati bersama bayinya, kau membiarkan tragedi itu terulang lagi malam ini. Dan semuanya salahmu!”

“Sungmin tidak akan mati! Kalau kau panik seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah. Tenang sayang, tenang.” Kangin berbisik lembut, meski gurat-gurat wajahnya menunjukkan betapa lelahnya ia. Ditariknya bahu Leeteuk agar ratu cantik itu balas memandangnya dan menatap lurus ke dalam matanya. “Tatap aku, tarik napas. Menantu kita bukan manusia, dia pasti bertahan. Percaya padaku.”

Itu sedikit berhasil. Seakan memiliki daya magis, pupil keemasan Kangin berhasil merasuk ke dalam sanubari Leeteuk dan membantunya bernapas tenang. Air mata tetap mengalir di wajahnya, namun Leeteuk sudah tidak bersuara, dan ekspresinya melembut. Ia menurunkan tangan Kangin dari bahunya, seakan meminta izin untuk berbalik lagi.

Memang benar seperti yang diduga oleh Kangin.

Sesungguhnya, Leeteuk tidak tahan melihat pemandangan di hadapannya ini. Tubuh kecil Sungmin terbalut pakaian tipis yang basah oleh keringatnya sendiri. Wajahnya sepias mayat, matanya terkadang memejam kesakitan, kadang membelalak dan rahangnya berderak mengerikan. Tubuhnya menegang, mengejang, sesekali menggeliat kesana kemari. Air mata yang mengalir dan suara erangan tertahan menjadi bukti betapa penderitaan itu tak sanggup ditanggungnya sendiri. Leeteuk menangis seseunggukan, berusaha menyelipkan sapu tangannya ke dalam mulut Sungmin. Menjaga agar pemuda itu tidak menggigit lidahnya sendiri.

Tidak satupun tabib berhasil menghentikan semua itu, bahkan sentuhan mereka seakan memperparah keadaan yang ada. Seorang tabib yang berdiri disana juga diperlakukan seperti patung. Siapapun tahu, satu-satunya orang yang bisa menghentikan semua ini berada jauh di seberang negeri. Karena hal seperti ini bukan jarang terjadi. Memang sudah seharusnya, induk yang mengandung bayi werewolf melalui malam yang mengerikan saat purnama tiba. Terlebih saat induk itu bukan keturunan werewolf. Penderitaannya mungkin akan berkali lipat.

Tapi, rasanya semua penderitaan istri-istri mengandung di negeri ini, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang disaksikan Leeteuk malam ini. Belum pernah ada yang semengerikan ini—

Leeteuk terkesiap kaget saat ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, perut Sungmin mencuat ke beberapa sisi. Cetakan kaki dan tangan mungil dengan cakar panjang tampak di atas kulit rapuh itu, seakan menunjukkan eksistensinya sebagai keturunan langsung raja werewolf.

Terlalu kaget, Leeteuk tidak mampu berkata-kata. Dengan ternganga disaksikannya bagaimana perut itu bergerak liar dan mencuat kesana kemari, seakan siap menembus daging dan kulit Sungmin yang tampak rapuh sekaligus mengerikan.

Kyuh— Hynghhhh!” suara desisan itu yang menyadarkan Leeteuk, disusul dengan teriakan memekikkan telinga.

“Y-Yongwoon-ah! Kenapa ini! Kau melihatnya, kan! Lakukan sesuatu!”

Kangin tidak bisa mempertahankan sikap tenangnya lagi. Terlebih saat tubuh Sungmin tersentak tinggi. Suara jerit deritanya melengking menyakitkan, seakan bersahutan dengan lolongan serigala dari luar istana dan cahaya purnama yang menyusup masuk dari balik jendela.

“Lakukan sesuatu!” Leeteuk berseru makin panik. Perlahan, cairan pekat kemerahan mengalir dari hidung mancung bocah snowelf itu. Dan tabib di ujung ranjang juga ikut menegang, menunggu perintah saat dilihatnya darah mengalir dari balik celana Sungmin dan mengotori atas ranjang.

.

oOoOoOo

.

Kyuhyun mendelik begitu mendengar ucapan Kuixian, seakan tidak percaya ia mengusap bawah hidungnya dengan telunjuk. Dan betapa terkejutnya ia, cairan kental berwarna kemerahan itu mengotori jarinya dan kini mengalir makin deras lalu menyusup masuk ke dalam mulutnya. Asin getir yang terasa familiar, seperti mengecap darah lawan di tengah medan perang. Meski bedanya— kali ini darah itu berasal dari dirinya.

Dan Kyuhyun tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, sesuatu seakan mencekam batinnya. Membayang-bayang jauh di dalam sana dan merongrong seperti setan di tengah kegelapan malam. Tubuhnya gemetaran, keringat dingin kuyup membasahi tengkuknya. Dengan malu Kyuhyun harus mengakuinya—

Ia ketakutan.

“S-sepertinya aku memang harus pulang sekarang.” Entah niat itu datang darimana, Kyuhyun mengucapkannya seakan hal itulah yang sejak tadi membayangi otaknya. Ia ingin pulang, sesuatu di seberang negeri sana seakan memanggil-manggil jiwanya. Dan itu terasa menyakitkan. Nyaring suara teriakan berdengung di dalam kepalanya. Kyuhyun kesulitan memfokuskan pandangan, bayangan Kuixian bahkan tampak memudar meski berkali-kali ia menggeleng-geleng dan menampar pipinya. Bermaksud menyadarkan diri namun hal itu justru menambah nyeri kepalanya tiga kali lipat.

Dengan tertatih, Kyuhyun berusaha melangkah. Dua tapak, nyaris saja ia terhuyung jatuh kalau saja Kuixian tidak gesit menangkap tubuhnya.

“Hyung!” pekik Kuixian panik, buru-buru dirangkulnya bahu Kyuhyun dan dibimbingnya tubuh lemah itu menuju ranjang.

“Kenapa kau ini? Aku harus pulang, Kuixian!” Kyuhyun bersikeras berdiri, meski kali ini ia tidak menolak bantuan Kuixian sebagai tempatnya bertopang energi.

“H-hyung, baiklah-baiklah. Biar kusiapkan pasukan untuk mengantarmu, tapi biarkan tabib memeriksamu dulu. Aku takut terjadi sesuatu.”

“Tidak perlu. Aku mau pulang!” Kyuhyun mendengus marah, ditampiknya bantuan tangan Kuixian. Ia tersinggung karena adik angkatnya itu terus saja menghalangi niatnya untuk pulang. Karena itu, mati-matian dengan kekuatannya sendiri, Kyuhyun berdiri dan melangkah berusaha mencapai pintu. Tapi tidak bisa dipungkiri lagi, Kyuhyun sadar kini rasa sakit itu bertambah dan semakin menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Ke seluruh sendi-sendi dan otot yang tiba-tiba terasa menegang. Perutnya melilit, nyeri sekali. Sesuatu seakan meremas seluruh organ dalam beserta usus-ususnya, mengacaknya, menarik dan menekan kesana-kemari. Kyuhyun mengeram menahan seluruh gerung kesakitannya, namun itu tidak bertahan lama. Wajahnya yang pias kini memerah, tidak pernah ia merasakan sakit seperti ini seumur hidupnya. Seperti langit runtuh tepat di atas kepalanya, Kyuhyun tidak mungkin menahan rasa sakit itu lebih lama.

“A-AARRRGGGHH!”

Kyuhyun berhasil mencapai pintu dan berpegang di sana. Namun setelah itu, ia tidak mengingat apapun selain teriakan Kuixian yang menggema hingga ke lorong depan.

“H-HYUNG!”

.

oOoOoOo

.

Tiga jam berlalu dan Sungmin terlelap tenang di atas tempat tidur Kyuhyun. Leeteuk terduduk di sisinya, memunggungi raja yang sejak tadi hanya berdiri di ambang pintu. Terlalu bingung harus berbuat apa dan mengatakan apa.

Bahu itu bergetar dan desah sendu terdengar. Kangin tahu hanya dari dua hal itu, Ia tahu bahwa Leeteuk juga sudah lelah. Tapi istrinya itu tetap bersikeras berjaga di sini sampai besok pagi, dan besok pagi Leeteuk pasti akan kembali bersikeras untuk berjaga hingga malam datang. Terus seperti itu hingga ia sendiri lupa menjaga kesehatannya siang dan malam.

Kangin menghela nafas. Ia harus berbuat apa? Selain mengizinkan istrinya tercinta untuk bermalam sekali lagi di kamar ini. Setidaknya Leeteuk lebih tenang sekarang, sejak menantu snowelf-nya itu berhenti mengejang dan terlelap pulas seperti mayat. Wajah bocah itu sepucat kertas, ekspresinya begitu lepas seakan tak tersisa jejak penderitaan yang sejak tadi mengurat hingga ke keningnya. Kalau saja dadanya tidak bergerak naik dan turun, Kangin yakin sekali Leeteuk akan histeris memanggil seluruh tabib kerajaan.

Tidak ingin sombong, Kangin bersyukur kepada Dewa dari dalam hatinya. Semua penderitaan dan tragedi mengerikan itu sudah berlalu. Meski ada sedikit penyesalan, Kangin terus menghibur dirinya sendiri. Setidaknya menantunya ini selamat. Kondisinya jauh lebih enak dipandang sejak bayi itu dikeluarkan dari tubuhnya.

Tapi hal itu pula yang menjadi penyesalan Kangin satu-satunya. Setelah berjuang untuk tumbuh dan hidup tanpa kehadiran ayahnya, akhirnya bayi yang belum terbentuk sempurna itu luruh juga. Terpaksa dilahirkan saat tubuh Sungmin seakan ‘menolak’ untuk mempertahankannya karena Kyuhyun tidak ada disini.

Kangin beringsut mundur, sedikit ragu untuk mencapai pintu. Hatinya terasa berat. Tentu saja ia masih ingat ancaman Leeteuk kemarin malam. Sungmin memang selamat, tapi cucu mereka tidak.

Leeteuk tentunya tidak akan melakukan hal-hal nekat seperti yang ia takutkan, kan?

Kangin berbalik, berusaha tidak menimbulkan suara saat ia melenggang keluar kamar. Melihat puluhan pelayan sibuk berlalu lalang di lorong istana, Kangin sudah tahu kemana langkahnya harus tertuju. Dengan terburu-buru ia bermaksud mencapai balai istana, tempat dimana para tabib dan dayang-dayang tengah sibuk menyiapkan upacara pemakaman.

Di tengah kerumunan itu, sebuah peti kecil yang terpahat halus dengan ukiran-ukiran serigala khas Radourland dan bertahtakan puluhan permata diletakkan di atas meja. Di sekelilingnya, bunga-bunga dan sesajen tersusun rapi dan menghampar, sebisa mungkin tidak menutupi peti kecil tempat persemayaman terakhir cucunya –cucu laki-laki pertama yang sudah ia nantikan sejak lama. Cucu laki-laki yang selalu diimpikannya, yang luruh sebelum berkembang —semua karena Kyuhyun putranya yang bodoh itu! Hah!

Tapi tidak apa-apa. Alih-alih tenggelam dalam kesedihan, Kangin merasa sedikit terhibur karena sesuai dugaannya. Hubungan Kyuhyun dan Sungmin pasti akan menghasilkan keturunan laki-laki.

Kutukan itu telah berakhir!

Sungmin berhasil selamat kali ini, besar artinya snowelf itu bisa mewujudkan impiannya memiliki cucu seorang pangeran. Kelak menantu termudanya itu pasti bisa memberikan cucu laki-laki kembali, untuk meneruskan garis tahta kerajaan mereka.

Benar. Tidak seharusnya ia berlarut-larut berduka. Sekarang semua sudah jelas dan dengan ikatan mate itu, tidak mungkin Kyuhyun akan ‘mengabaikan’ Sungmin lagi.

“Tabib Jung!” Kangin berseru tanpa mengangkat kepalanya, ia masih sibuk memandangi peti mati kecil itu dan mengusapnya dengan perlahan. Seakan menyampaikan ucapan sayang dan selamat tinggalnya yang terakhir—

“Ye, Yang Mulia?”

“Kumpulkan seluruh cenayang, aku ingin upacara pelepasan yang megah untuk cucu pangeran pertamaku.”

“Siap, Yang Mulia.”

“Dan ukir nama Kyujong di atas peti ini. Aku ingin permatanya ditambah dengan kumala.”

“Ye, tuanku.”

“Kau boleh pergi.” usir Kangin tanpa berbalik, kini jemarinya sibuk menjelajahi sudut-sudut peti kecil itu. Senyum sendunya terkembang, dengan lirih ia membisikkan nama itu, “Kyujong-ku…”

“Tuanku?”

“Apa lagi?” Kangin mengeram marah. Ia berbalik dan menyadari bahwa orang yang baru saja memanggilnya ini bukan tabib Jung, melainkan seorang pengawal istana. Dari wajahnya yang mengerut cemas, Kangin langsung tahu kalau sesuatu tengah terjadi di luar sana. “Ada apa?”

“Yang Mulia, di aula depan istana ada dua snowelf yang mengaku sebagai kerabat Pangeran Sungmin. Mereka memaksa masuk untuk bertemu dengan Sungmin-sshi. Mohon perintah dari tuanku.”

Kangin mendelik. Tapi ia segera berdehem untuk menutupi rasa terkejutnya.

Snowelf kerabat Sungmin? Mungkinkah itu Yunho dan Permaisu– ah tidak mungkin. Tidak mungkin seorang raja dan ratu meninggalkan istananya. Apa mungkin itu saudara Sungmin yang lain?

Aish. Apapun itu, Kangin tidak menyukai kedatangan mereka. Kenapa keluarga besannya tiba-tiba datang saat keadaan kacau begini dan tanpa memberi kabar terlebih dulu?

“Hanya berdua?”

“Ya, berdua. Tanpa pengawal lain. Dan mereka menunggang –um kuda…” pengawal itu kesulitan mengutarakannya. Ia menggaruk tengkuknya gugup.

“Kuda?” Yang benar saja. “Dari Hviturland datang kemari menunggang kuda?” Oh rasa-rasanya Kangin mulai mencurigai sesuatu.

“Y-ya, tuanku. Kuda besar berkaki delapan dan bersayap tuanku.”

Kangin terkesiap. Tidak salah lagi. Hanya satu orang yang memiliki peliharaan itu di dunia ini. Choi Siwon, Putra Mahkota Hviturland.

Untuk apa dia kemari? Terlebih tanpa pengawal dan menunggang Sleipnir di tengah malam seperti ini?

Kangin mulai merasa was-was dengan prasangkanya sendiri. Apa berita tentang Sungmin sudah menyebar sampai ke Hviturland? Kangin mendesis, kesal. Ia siap memenggal siapapun yang bertanggung jawab membocorkan berita ini keluar kerajaan. Ia akan segera mengumpulkan para tabib setelah ‘tamu-tamu’nya ini pulang.

“Ini tidak baik…” Kangin berbisik pada dirinya sendiri, berlarut-larut memikirkan kemungkinan terburuk yang tiba-tiba melintas di otaknya hingga ia melupakan maksud awal kedatangan pengawal itu.

“Tuanku…”

“A-ah ya!” Kangin menghela napas dan tersenyum bijak, meski sedikit terkesan kaku. Keputusannya sudah bulat, ia akan menghadapi apapun yang akan terjadi.

“…Bawa mereka kamar pangeran. Biarkan mereka menjenguk Sungmin-sshi.” Titah Kangin. Junho langsung menunduk dan memberi salam lalu keluar dari ruangan itu untuk menjalankan perintah sang raja.

Tidak apa-apa… Semua akan baik-baik saja.’ Kangin mencoba menghibur dirinya sendiri walau tangannya sudah mulai mendingin. Sebisa mungkin, ia ingin menghindari perang selagi putranya belum memiliki penerus kerajaan.

Pria bertubuh besar itu berbalik, dengan terburu-buru melangkah kembali ke kamar putranya. Ia tidak mungkin membiarkan Leeteuk menghadapi para snowelf itu sendirian. Paling tidak, ia harus menyapa keluarga besannya barang sebentar.

.

oOoOoOo

.

“Hei, aku bertanya padamu! Kau bisa bicara, kan?!” Siwon membentak seorang pengawal Radourland di depan aula itu. Berkali-kali ia menanyakan keberadaan adiknya dan pengawal ini bahkan tidak membuka mulutnya sedikitpun! Andai saja ini Hviturland, ia pasti sudah mencincang prajurit ini untuk dijadikannya campuran pangan Sleipnir!

“Siwon-ah…” Junsu berbisik pelan, berusaha menenangkan emosi putra tirinya.

“Tapi ibunda—”

“Tuanku.”

Siwon menoleh dan menghela napas berat saat dilihatnya prajurit yang tadi pergi untuk menemui raja sudah kembali, dan kali ini senyum juga bungkukan ramahnya membawa harapan lebih. Tapi Putra tertua Hviturland itu bersumpah, ia sudah siap mengamuk di kerajaan ini kalau saja pengawal ini kembali melarangnya menemui Sungmin. “Kami harus menemui Sungmin.”

“Ya, silahkan ikuti saya.”

Junsu dan Siwon saling bertukar pandangan lega mendengar itu. Dengan langkah antusias, Junsu melangkah mengikuti pengawal itu disusul Siwon di belakang mereka.

Langkah membawa mereka melalui sebuah aula besar yang ramai, orang-orang berlalu lalang dan tampak begitu sibuk dengan sesuatu. Junsu mencoba mengabaikannya, ia tidak ingin tahu mengapa aula istana seramai itu saat tengah malam seperti ini. Namun perasaannya terus membisikkan sesuatu yang buruk, meskipun langkah mereka sudah menjauh dari aula dan kini memasuki sebuah lorong besar bercabang-cabang.

Junsu menelan ludah, perasaannya sungguh tidak enak. Samar, ia bisa mencium bau ‘kematian’ menguar di udara. Seketika itu jantungnya berdegup makin kencang. Diremasnya lagi tangan Siwon saat sekejap ia merasa sekujur tubuhnya menggigil. Hatinya resah. Bayangan mimpi buruknya kembali berkelebat.

Sungmin… Sungmin tidak mungkin mati kan? Tidak… tidak mungkin. Bayi kecilnya itu baru hidup selama 14 tahun. Tuhan tidak akan mengambilnya secepat itu…

Ya kan?

Siwon melirik wajah Junsu, keningnya ikut bertaut melihat wajah pucat dan ekspresi cemas bercampur di wajah ratu. Entah itu karena rasa cemas ratu pada Sungmin, atau efek kelelahan karena perjalanan panjang mereka melewati batas negara. Menunggangi Sleipnir untuk perjalanan jauh, tanpa pengaman dan di tengah cuaca begini saat malam hari… Siwon jadi khawatir dengan keadaan Junsu.

“Silahkan masuk.” Pengawal itu menepi di depan pintu saat mereka mencapai ke ruangan yang dituju. Junsu melangkah lebih dulu. Jantungnya berdegup kencang. Tidak, ia belum siap melihat mayat Sungmin tergeletak di dalam sana.

Seakan dituntun oleh mata hatinya, tatapan Junsu tertuju lurus pada satu arah. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran Kangin yang berdiri di sisi jendela, dan Leeteuk yang ikut duduk di atas ranjang. Matanya terpaku pada satu sosok familiar yang terbaring di atas tempat tidur. Sungminnya…

Sungmin tidak tampak seperti orang yang tengah kesakitan, tubuhnya diam tak bergerak di atas ranjang. Apa—

apa mereka sudah terlambat?

Air mata Junsu tak bisa terbendung lagi. Bibirnya bergetar. Meski dia bukan ibu kandung Sungmin, dialah yang membesarkannya sejak lahir, sejak Jaejoong terpaksa pergi lebih dulu meninggalkan bayi kecilnya pada Junsu.

“SUNGMINNIE!” raung Junsu tak tertahankan. Ia berhambur memeluk mayat Sungmin, membuat Leeteuk terlonjak kaget karena jeritannya yang tiba-tiba itu. Saking sedihnya, Junsu bahkan tidak menyadari kalau Sungmin masih bernapas dipelukannya.

Melihat reaksi Junsu, Siwon terpancing untuk percaya. Ia menahan napas saat seakan langit runtuh di atas kepalanya, tangannya yang mengepal berubah dingin.

A-apa iya? Sungmin telah tiada?

Tidak ingin percaya, namun Junsu yang meyakinkannya. Ini Junsu yang memiliki ‘penglihatan’ terkuat diantara seluruh cenayang Hviturland.

Siwon mengerang frustasi, airmatanya membuncah dan napasnya memburu karena emosi. Ia berpaling dan bertemu mata dengan Kangin yang tampak begitu tenang, ekspresi ramah raja itu justru membuat amarahnya makin meluap. Nyaris saja ia menyerang raja Radourland kalau saja tidak banyak pengawal yang mencegatnya di depan pintu.

“K-kau bisa menyakitinya!” Leeteuk memekik khawatir, berusaha melepaskan Sungmin dari pelukan orang itu. Entah siapa orang ini, namun begitu mereka bertukar pandang, Leeteuk tahu kalau orang ini—

Snowelf!

Junsu menegang kaget, hanya bertukar pandang dengan Leeteuk sebentar karena tiba-tiba, sesuatu menggeliat dalam pelukannya. Junsu memekik tertahan saat ia menyadari dada Sungmin bergerak naik dan turun.

Sungmin masih bernapas! Bayi kecilnya masih hidup!

“Siwon-ah! S-Sungmin—” Junsu berbalik, rautnya berubah haru. Tidak peduli Siwon sedang terlibat pergulatan dengan tentara Radourland di depan pintu sana. Siwon berhenti memberontak, ekspresinya melunak.

“…Minnie-ah…?” Siwon mencicit, merasa ragu untuk bergerak padahal semua pengawal itu sudah berhenti mencegatnya. Namun Junsu mengangguk bersemangat, seakan meyakinkan Siwon untuk terus mendekat hingga ia melempar diri dan ikut bersimpuh di sisi ranjang lalu melenguh lega, menghirup dalam-dalam udara yang menguarkan aroma tubuh Sungmin. Aroma tubuh yang sudah lama dirindukannya. Tapi tunggu— Ada yang aneh. Sesuatu terasa berbeda.

Siwon mengendus makin panik. Senyumnya memudar kala ia menyadari aroma tubuh Sungmin bercampur dengan aroma lain. Semakin dekat wajahnya dari tubuh Sungmin, semakin terasa jelas pula semuanya. Siwon meraup telapak tangan Sungmin dan menciumnya perlahan. Aroma yang menusuk hidungnya terasa asing.

Secara spontan, Siwon berpaling dan menatap Leeteuk dengan garang. Namun amarahnya tak mungkin terlampiaskan, karena ia tahu.

Bukan, bukan dari dia.’

Meskipun bau Leeteuk sangat kuat menguar di sekitar Sungmin, tapi bukan dia. Siwon mengerang tertahan, merasa emosinya naik hingga ke kerongkongan. Ingin ia berteriak, menolak mengakui kenyataan pahit ini. Tapi bagaimanapun juga bukti ini menamparnya telak. Seseorang telah menandai adiknya.

“Siapa yang menandainya?” Siwon mendesis.

“Putra Makhota, tentu saja.” Kangin menjawab tenang. Namun apapun jawabannya, Siwon hanya ingin melampiaskan kekesalannya.

“Dia bahkan belum cukup usia!”

Kangin tidak menjawabnya lagi, raja itu lebih memilih untuk diam. Terlebih saat istrinya menatap mereka dengan khawatir.

“Tidak bisakah kalian menunggu hingga tubuhnya siap?” Siwon berseru lagi, tidak peduli jika ia baru saja menghardik raja negri ini. Persetan, kelak ia juga akan menjadi raja. Dan raja pertama yang akan ia tikam dengan pedangnya, adalah raja negara ini. Kim Youngwoon.

“Siwon-ah.” Junsu berbisik mengingatkan, dahinya mengerut dan suaranya terdengar lemah. Seakan mengerti isyarat panggilan itu, Siwon menahan napas dan menelan semua amarahnya. Ia bisa meluapkannya nanti. Sekarang yang terpenting adalah Sungmin, Siwon tidak bisa mengkhawatirkan hal lain terlebih saat Junsu tampak begitu fokus memeriksa sesuatu. Mata cenayang itu terpejam sembari tangannya mengusap perut Sungmin. Siwon menelan ludah. Oh, perasaannya tak enak.

Junsu terkesiap. Baru menyadari bahwa hawa kematian yang tadi terasa olehnya bukan benar-benar milik Sungmin. Tapi… aura itu masih tersisa di sekitar perut Sungmin. Seakan diingatkan oleh mimpi buruknya malam tadi, Junsu meringis, terenyuh. Itu bukan mimpi buruk, firasatnya benar-benar terjadi. Sungmin memang hamil! Namun… Namun bayinya tidak selamat.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Junsu meremas tangan Sungmin erat, emosinya campur aduk. Di satu sisi ia merasa senang karena Sungmin masih hidup, namun di sisi lain, ia marah dan kesal. Sudah pasti ini semua kesalahan mereka, makhluk barbar Radourland! Junsu bersumpah akan mengorek seluruh informasi yang ada, tapi ia juga harus bisa mengontrol emosinya. Kalau ia sampai lepas kendali, emosi Siwon akan menghasilkan sesuatu yang lebih buruk lagi. Terlebih kondiri Sungmin sedang sangat lemah. Dan mereka juga kalah jumlah.

Junsu melirik ke arah Leeteuk yang sejak tadi berdiri tak jauh di sisinya. Ingin membentak namun perasaan kesal itu segera luntur saat ia bertemu dengan sorot cemas di wajah pucat Leeteuk. Tampaknya orang ini lelah sekali, matanya sedikit bengkak, bibirnya kering dan kantung matanya menghitam. Sepertinya ia habis menangis.

Leeteuk melirik Kangin, mengharapkan jawaban saat suaminya itu hanya mengangguk dengan mengerti.

“…Mari kita bicara di ruangan lain.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kami akan membawa Sungmin pulang.” Siwon memotongnya buru-buru. Raja mendelik dan pria cantik di sisi ranjang ikut terkesiap.

“Siwon-ah.”

“Tapi Ibunda—”

Junsu mendongak, mentap tenang ke dalam mata putra tirinya. Seakan meminta izin untuk mengambil alih. Meskipun sedikit tidak rela, Siwon menunduk patuh dan mengunci bibirnya rapat-rapat. Menahan emosinya yang bergejolak dengan mengepalkan tangan. Ia siap menghantam apa saja kalau memang perlu.

“Dimana Putra Mahkota?” Junsu tiba-tiba bertanya, matanya beralih melirik Kangin di sisi pintu. Ekspresinya memang melunak, namun siapapun tahu sorot tajam itu menusuk.

“Dia sedang berkunjung ke Graentland, Raja hijau adalah teman karibnya.” Kangin setengah berdusta, tidak lupa menyelipkan senyum di wajahnya. Namun sesaat kemudian, Kangin menyesali ucapannya. Lebih menyesal lagi saat ia tidak memiliki pilihan untuk memberi jawaban lain. Kyuhyun memang tidak ada disini, lalu ia harus berkata apa?

“Tidak. Dia pergi terlalu lama.” Junsu memejamkan matanya, ia meremas selimut Sungmin terlalu erat. Mencium aroma tak sedap dari sekelebat memori yang tersisa di tempat ini. “Berniat meninggalkan putraku huh?”

“Tidak mungkin begitu—”

“Egois sekali!” hardik Junsu sembari mendelik. Buru-buru ia menenangkan diri, emosinya akan turut memancing emosi Siwon. “Kau membiarkannya pergi setelah putramu menandai Sungmin?”

“Menantuku sedang menjemputnya, mereka sedang di perjalanan.” Kangin bahkan tidak tahu darimana nyalinya berasal untuk terus melanjutkan dusta itu. Betapa memalukan, seorang raja besar seperti dirinya harus terus berdusta demi seorang snowelf bertubuh rapuh di hadapannya ini. Bisa saja ia membunuh dua orang ini, lalu menyembunyikan jasad mereka. Tapi entah kenapa niatan itu tak sampai juga ke otaknya.

“Kapan dia akan sampai?”

Kangin menghela napas, sebisa mungkin menyembunyikan keraguannya. “…Besok pagi.”

“Besok pagi!” Siwon sudah tidak mampu lagi menahan diri, ia melenguh murka lalu menyambar meja di dekat kakinya. Suara bantingan itu mengejutkan Leeteuk dan Junsu. Kangin hanya melirik, sebisa mungkin mempertahankan sikap tenangnya. Ia harus tetap memainkan peran tuan rumah yang ramah.

“Kita bawa saja Minnie pulang, ibunda! Kau lihat sendiri apa yang terjadi padanya, ini baru beberapa bulan! Bisa-bisa kita membawa pulang mayatnya kalau harus menunggu lagi!”

“Kau juga akan membunuhnya kalau dia pulang tanpa matenya.”

Tercekat, Siwon tidak bisa membalas ucapan itu. Seakan diingatkan kembali bahwa adik kesayangannya ini sudah termonopoli secara utuh. Sungmin sudah menjadi milik matenya, tidak ada yang bisa mengingkari fakta itu. Tidak ada yang bisa menanggulanginya. Siwon dihadapkan oleh dilema. Ia lelah melihat Sungmin menderita, tapi membawanya pergi dari sang mate juga akan membunuhnya.

“Jemput dia, Siwon-ah.”

Semua orang tercekat saat Junsu tiba-tiba mengatakannya. Siwon terlalu terperangah, mulutnya terbuka tapi ia tak sanggup mengungkapkan kata-kata. Kangin berusaha menengahi, tentu saja tidak ingin siapapun ikut campur dalam kehidupan Kyuhyun, kecuali dirinya sendiri tentu saja.

“Tapi menantuku sudah menjemputnya!” Oh, padahal ia ragu apakah Yonghwa berhasil membawa Kyuhyun pulang. Tapi tetap saja, ia tidak rela kalau putranya harus diseret dan dihajar oleh putra mahkota dari kerajaan lain.

“Siwon punya Sleipnir! Dia bisa sampai dalam beberapa jam. Aku tidak mau mengambil resiko menunggu hingga pagi.”

“Tapi!” Kangin berseru tak sabar, tapi ia tidak mengatakan apapun lagi selain mendengus tak senang. Leeteuk menatapnya seakan mengisyaratkan ia untuk diam. Tiba-tiba Kangin menyesal memberitahu keberadaan putranya pada dua snowelf ini. “Kita tunggu saja menantuku, Sungmin sudah tidak apa-apa, tidak kah kau lihat itu?”

Junsu mengabaikannya. “Pergi Siwon-ah! Jemput Pangeran Cho Kyuhyun dari Graentland! Kalau dia menolakmu, maka negara kita sudah siap mendapatkan musuh baru.”

Kangin nyaris meledak mendengarnya. Ia merasa terhina. Di hadapan istrinya, seorang snowelf berani mempermalukan dirinya!

“Baiklah ibunda.” Siwon membungkuk patuh, ia menyeringai ke arah Kangin yang siap menyerbunya. Siluman barbar idiot, makinya dalam hati sembari mengangkat tangan. Dan sraat— tubuhnya lenyap menjadi angin. Kangin tersungkur ke lantai karena sasarannya tiba-tiba menghilang, Leeteuk memekik panik, buru-buru menghampirinya dan membantunya untuk berdiri. Sekarang Kangin benar-benar merasa dipermalukan. Terlebih, saat suara tawa Siwon terdengar dari luar kamar bercampur dengan seruan Junsu yang semakin terasa mengejek semua orang di negeri ini.

“Kau boleh menghajarnya,” Junsu berseru, memastikan Siwon akan mendengar suaranya. “Tapi jangan sampai mati.”

.

oOoOoOoOo

tebeseeehhhh

oOoOoOoOo

.

6602 words guuuuys! Fiuuhhh! Yang masih bilang sedikit! *sumpel nih*

Dan btw terimakasyih banyak buat semua yang berbaik hati meninggalkan review di chapter 6 kemarin. Sini sayah cium :*

Less silent readers, faster update ya. *ini beneran*

 

24 thoughts on “Cursed Crown | Chapter 7

  1. Saengiiiiiiiiiiii ciummm nih, .eh
    Paling males liat itu tulisan, tebesehhhh, .
    Paling d hindarin, .
    Kasian Sungmin, demi tuhaaannnnn kasian, .
    Kyuhyun psti ujung ujungnya nyesel itu, haaaa
    Siwon sma Junchan manteeeppp dah, yokkk perang ajah sma Kangin giiihhhh, . Haha
    Chapt dpan apdet kilat yaah saeng, .

  2. coffeewie136 says:

    Ommo kyu bener2 menyebalkan gak tau apa kalo di istananya kacau balau gara2 ulah kyu yabg pergi ninggalin ming prgi begitu saja.
    Kyu bisa merasakan juga kan kalo mate’y sedang sakit tapi kenapa pas mau pulang kyu keburu pingsan gitu aja?
    Gawat nih siwon sama junsu uda bener2 marah lihat keadaan ming yg kliatan seperti itu dan parahnya lagi junsu seakan tahu kalo kyu ninggalin ming begitu aja.
    Siwon mau nyusul kyu di greenland dan mau menghajar kyu juga omg kaynya bakalan terjadi pertumpahan darah di greenland nanti.
    Lanjuuuut duh biasanya baca di ffn sekarang baca disini karna disini uda lanjut duluan kkkk~

  3. shanty kyuminnie arashi says:

    Ya ampunnnn…. itu kyuhyun bener2 deh….
    Knp dia sama sekali ga mo dengerin perintah ayahnya cie ?????
    Dan sungmin…..
    Sumpah aq g tega bgt ngebayangin dia kesakitan sendiri tanpa kyu d sisisnya….
    Dan akhirnya bayinya itu meningal tanpa ayah nya tau klo dia pernah ad d dalam perut ibundanya….

    Kyuuuu…. cepet pulang….
    Aaaaaahhhhh…. geregetan sumpah….
    Lanjuuutttt
    Update kilat fiqohhhh….

  4. sha says:

    saya comment di wp lagi… hahahaha😄

    si Kyu nih kagak pulang juga… seret nih ._.
    untung Ming bertahan #eh hahaha

    suka sama kata-kata Junsu ““Kau boleh menghajarnya,” “Tapi jangan sampai mati.” hehehe..

    lanjut author kece …

  5. Ayu Fitria II says:

    fiq, gak buka ffn.. jadi buka di wp… tapi… aku masih greget sama kyuhyun nya lama bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet TT^TT greget nya itu sampe pengen getok kyuhyun saking bertele telenya ;______________;
    fiq update kilat pleaseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee bisa pensaran banget ini yaampun. gregetan aaaaaaaaaaaaaaaaaaaak ;___________________;
    ya ya ya /aegyo failed/ +_______+
    wqwq but, overall…….. kyuhyun bego! /maap ye sparkyu/ aku kesel T______T biarinkan dia bakal menderita ternyata anaknya mati juga! huh! keras kepala!! kesellllllllllll TT___TT wqwqwq efek ff dirimu emang kuat banget yek fiq, sampe kesel sama kyuhyun hahahaha :’D
    kereeeeeeeeeeeeeeen, lanjut kilat pokoknya! harus :’P
    semangat \O/

  6. vyan says:

    aku mau ko dicium kamu asal updatenya makin sering n panjang hahahahaha
    just kidding.. just take ur time… I love ur story so much…
    ampun deh si Kyu.. tega bnr… untung yang meninggal bukan Umin..
    Kyu jg ampe megap2 gitu tuh kl ninggalin Umin..
    Bnr Su… suru Siwon seret Kyu pulang.. biar Umin cepet sembuh..
    pengen lanjutannya sun…kekekekeke
    Lov u sun.. kekekekeke

  7. a_yanee says:

    “kau boleh menghajarnya, tapi jangan sampai mati” wuiiih,, cool banget junsu. sebel juga sih sama kyu. keras kepala banget, thor,,, bikin kyu nyesel ya ud bikin umin mpe kaya gitu. update pleaseeeeeeee

  8. Wow_aprili says:

    ambil tissue…
    Hueee…….. hiks hiks! Ming kasihan baget harus hamil dan keguguran di usia belia , sampe kebawa mimpi ngerasain kesakitannya Ming. Kyu TEGA!
    ssalut buat KangTeuk yang udah sabar perhatian dan ssayang ma ming, dan semoga Kyujong tenang disisi Author(?) hehehe….
    buat Siwon inget ya Ming punya Kyu
    buat author, update chapternya dong!!! Next semoga gak sampe hiatus lama kayak ‘The Host’ jamuran nie tunggu shoot 3nya,, penasaran update juga ya…
    oh ya penasaran mau baca yang Tentacle boy, hehehe q udah cukup umur kok, lebih dari cukup malah!** boleh minta pw ?
    ok udah kebanyakan komen maaf ya….
    yang penting lanjut deh!!!!^^

  9. Lee Min Chan says:

    AKHIRNYAAA !!
    Update xD
    Kyu ayo cpet.n pulang Ming skit nohhh , itu Kuixian knp licik bget ><

    unni updatenya di tuggu !!!😀

  10. Ahrin says:

    yah, emosi naik trun baca.y… kasian yah janin.y hrus mati. ntah gimana yah sungmin klau udah sdar. dia msh sperti biasa.y atau brubah. sneng baca nih crita. bahasa.y bgus jd kta enak bca.y. gak ngebosenin, rapi pula..hehehe
    next chapter.y asap yah..*ditabok

  11. szungminlee says:

    Hiksss, kyu pabo knapa gk pulang secepatnya, TT sayang bgt janinnya mati untung sungmin gak…
    Dilanjut ya eon :’)

  12. hyaaaaaaaaaaaaaa,………. greget sama Kyu kenapa gak mau balik, pas udah ngerasa gawat aja mau balik, eh malah pingsan -_-, tp aku ngerti kok Cho apa yg kamu rasain, hehe
    cuman gak tega aja liat Ming kek gitu😦

  13. Calista says:

    Ya allaaah, penasaran sm lanjutannya. Kyu keras kepala bgt sih. Klo dy tau keadaan sungmin kaya gt psti dy bkln nyesal ninggalin sungmin. Iiiiiiih, gregetan ama kyu

    Oya eonni, mari qt brkenalan trlbh dahulu. Calista imnida. Q pggl eonni ngk p2 ya. Btw, aq sk bgt dgn tulisan mu. Rapiiiii bgt, mli dari penataan bahasanya smpai penulisannya. Ide mu jg bgs2 eon, sukaaaa bgt. Love u lah pkoknya. Hehe. Eh, update kilat ya eon?! :*

  14. loveKyu says:

    oohh kyu…lihat apa yg kau perbuat…anak mu tidak selamat…lagi….
    mgkn kh anak kyu yg pertama jg meninggal krn kyu pergi lama

  15. Rhaya says:

    “berniat meninggalkan putra ku, huh?”
    Junsu keren..😮
    yaaaah anak nya sungmin mati?😮
    kyu juga ikut sakit..😦
    astagaaaa kasian sungmin udah mh kyu pergi, eh ditambah kehilangan anak lagi..

    Go to next chapter

  16. Kakak aku gak bisa comment d chap 6 huaa apa slhkuuuu??😭😭😭
    Upss siwon oppa tlh dtg bungg.. Apa yg akan terjadi kak? #lah na lo kyu oppa knp juga tuh? Skit kan jadinya lah derita deh oppa hihihi

  17. 010132joy says:

    Ahhh ming keguguran??? Ck udah kpaksa hamil dbawah umur, dtinggal kabur kyu sekarang malah keguguran T_T
    wonwon jemput kyu cepetan klo perlu seret aja dia biar mau pulang, kyu keadaannya parah baru inget pulang
    klo siluman beda y ga perlu nunggu waktu lma buat tau jenis klamin anaknya, kyu ga jdi punya anak lg deh ntar baru nyesel klo tau
    trus ntar ming sembuhkan klo kyu pulang
    seneng liat kangin appa dpermaluin sma dbikin geram kkk kn jarang2
    chap 8 bacaaaa …

  18. Abang kyuui cepat pulang!!! Kasian bayinya umin gak bisa selamat. Bang siwon udah hajar aja kalo abang kyu gak mau pulang,biar dia sadar.Huh!!! Ya ampun sewot sendiri ni aku. Aku baca next chapter ya min

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s