Kitty-Kitty Baby! Flashback Part 4

Kyuhyun-ah! Cepat bereskan kursi, kita akan tutup sejam lagi.”

Pemuda jangkung itu berdecak kesal, namun alih-alih menjawab patuh. “Yayayayayaya. Cerewet.”

Sungmin memandangi tubuh pemuda jangkung yang lagi-lagi menghilang di balik pintu karyawan. Lalu mutan itu memiringkan kepalanya, berpikir begitu lama sebelum mendengungkan, “Kyuhhh—” dengan samar-samar.

Kyuhyun. Kyuhyun. Ia akan mengingat nama itu.


.

oOoOoOo

Kitty-Kitty Baby Chapter 11

Miinalee

oOoOoOo

.


Mungkin kalau Seunghyun tidak melintas di depan pintu kafe, Sungmin masih akan tenggelam dalam angan-angannya sendiri. Menunggu sosok Kyuhyun keluar lagi untuk memberinya sekotak hot chocolate.

“Sungmin-ah? Aku mencarimu kemana-mana! Kukira kau hilang dan tersesat!” Seunghyun mendesah kesal, tapi di satu sisi ia juga merasa lega karena berhasil menemukan mutannya kembali. Ia begitu panik saat menyadari Sungmin sudah tidak ada di sisinya lagi, dan nyaris frustasi saat berkeliling kota, mencoba menemukan Sungmin dengan berputar arah menyusuri jalan yang mereka lalui tadi.

Dan disini, ia menemukan Sungmin. Berdiri terbengong-bengong di dalam kafe minimalis tanpa seorangpun pengunjung kecuali mereka berdua.

“Sungmin-ah!” bentak Seunghyun sengit saat dilihatnya sang mutan justru mematung.

Sungmin berjengit kaget, matanya mendelik begitu sosok Seunghyun berdiri tegap di belakangnya. Dengan tergagap, ia mencoba untuk berbicara, namun tentu saja tidak ada suara yang keluar. Sesekali matanya berpendar dan melirik kemana-mana, namun Seunghyun menyadarinya… Mutan ini terus saja mencuri-curi pandang ke arah pintu berlabel ‘Hanya Karyawan’.

Dengan penuh curiga, Seunghyun melirik mutannya. Kedua tangannya tersimpang di depan dada. “Sedang apa kau disini?” selidik Seunghyun sembari memperhatikan ekspresi mata Sungmin yang tampak menegang. Mutan itu melirik pintu karyawan sekali lagi, sebelum menatap Seunghyun penuh rasa takut. Seakan menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk berjalan keluar kafe. Seunghyun pasti akan mengikutinya keluar dan masalah akan selesai. Tapi belum sempat ia melangkah satu meter, lonceng pintu karyawan berbunyi dan Kyuhyun keluar dengan seporsi coklat panas yang sudah rapi dibungkus di dalam kotak.

“Oke, ini hot chocolate anti galau-mu.”

Sungmin membeku.

Dan Seunghyun tentu saja menoleh ke arah datangnya suara.

“Yah, ini hot chocolatemu.” Seakan tidak menghiraukan kehadiran Seunghyun, Kyuhyun langsung saja melangkah mendekati Sungmin. Sosok itu berdiri berbalik menghadap pintu, Kyuhyun harus menepuk pundaknya untuk mendapatkan perhatian. Tapi ia tidak tahu, kalau tepukan ramahnya yang mendarat di bahu itu membuat dua orang lain di dalam ruangan ini menegang. “Cepat diminum sebelum dingin, ya!”

Seunghyun mendelik, urat-urat di sekitar pelipisnya bermunculan. Ia tengah mencerna kejadian barusan lewat sudut pandangnya sendiri, mengingat saat Sungmin mengkhianatinya untuk pertama kali. Seunghyun mendapatkan kesimpulannya, kesimpulan yang dirangkainya sendiri di dalam hatinya yang sudah penuh dengan luapan emosi.

“Oh, jadi kau mengulanginya lagi, Sungmin-ah?” bisik Seunghyun sembari terkekeh tidak percaya, kilat matanya berubah kelam. Tubuh Sungmin menegang dan mutan itu menolak untuk berbalik, hal itu justru semakin membuat Seunghyun yakin kalau mutannya memang ‘bersalah’.

“Menyingkir dari mutanku.” Seunghyun menarik bahu Kyuhyun dan mendorongnya dengan kasar. Pemuda bertubuh kurus itu nyaris terhuyung-huyung karena tidak memperkirakan tindakan barusan, bungkusan hot chocolate ditangannya juga terjatuh dan tumpah ruah mengotori lantai.

Kyuhyun mendelik. Jelas-jelas merasa kesal. Itu bingkisan gratis dari toko ini! Ia nyaris saja berteriak menuntut ganti rugi, tapi suaranya tercekat saat disaksikannya pemuda asing bertubuh tinggi itu menampar ‘calon-pelanggan-baru’nya. Kuat sekali, Kyuhyun sampai meringis saat mendengar suaranya dan melihat tubuh ringkih itu terbanting duduk ke atas lantai. Kalau saja tidak ada perban yang melilit separuh wajahnya, pemuda itu pasti sudah berteriak kesakitan!

“H-hei! Hei! Apa yang kau lakukan! Hei!” entah mendapat bisikan darimana, Kyuhyun merasa perlu membela calon pelanggan barunya. Tapi orang itu seperti kesetanan, ia terus menampar dan berteriak. Yang paling mengenaskan, sosok teraniaya itu tidak melawan sama sekali, bahkan suara rintih kesakitannya tidak terdengar sedikitpun! Tudung jaket yang dikenakannya tersikap saat ia mati-matian berusaha melindungi diri, dan saat itu Kyuhyun melihatnya.

Dua pasang cuping kucing berwarna gelap yang menyembul dari rambutnya yang hitam. Tapi Kyuhyun tidak sempat berpikir lagi.

“YAH!” Seakan refleks, Kyuhyun menarik bahu orang itu sekuat tenaga. Usahanya sukses, Seunghyun terjengkang ke belakang dan sosok teraniaya di bawah tubuhnya sudah terbebas. Tapi satu yang tidak berhasil, Kyuhyun tahu hal itu tidak akan menyurutkan amarah orang gila ini. Apa yang dilakukannya justru membuat Seunghyun mengerang makin marah.

“MENJAUH DARI MUTANKU!” seru Sunghyun murka saat Kyuhyun mencoba menyentuh –menolong— Sungmin bangun. Namun kali ini pemuda itu lebih siaga, ia berhasil mengelak sebelum Seunghyun sanggup melakukan apa-apa. Tapi tentu saja Seunghyun tidak mau kalah, ia menarik bahu kiri Sungmin saat lengan kanan mutannya dijagal oleh Kyuhyun.

“LEPASKAN DIA BODOH!”

“DIA MUTANKU, ENYAH SEBELUM KUBUNUH KAU!”

“KAU MENYAKITINYA!”

Keduanya saling berebut, menjagal bahu Sungmin di sisi masing-masing sembari berteriak satu sama lain. Setiap kali Seunghyun bermaksud menyerangnya, Kyuhyun dengan lihainya mengelak. Namun ia tidak mampu mengelak saat tangan Seunghyun justru melayang ke arah Sungmin. Dengan sengaja memukul tengkuk kirinya hingga mutan itu tersungkur ke arah Kyuhyun yang dengan panik buru-buru menangkapnya.

Sungmin memekik, tanpa suara. Kedua tangannya gemetar. Ia terbatuk dan melihat reaksi Kyuhyun, ia tahu kalau perbannya berdarah lagi.

“Kembalikan mutanku sialan.”

Kyuhyun tidak menjawabnya, ekspresinya berubah dingin. Rahangnya menegang. Ditatapnya sosok itu dengan penuh kebencian. Ia memang bukan orang baik, Kyuhyun sadar akan hal itu. Tapi melihat seseorang menganiaya pihak tidak berdaya tepat di depan wajahnya sendiri… Kyuhyun merasa tidak bisa tinggal diam.

Sebelum Seunghyun sempat menarik tangan Sungmin lagi, tubuh Kyuhyun seakan bergerak sendiri. Berdiri kukuh dan tanpa segan melempar satu bogem keras tepat mengenai wajah Seunghyun yang sejak tadi hanya mendelik ke arah Sungmin.

Suara pekik kesakitan Seunghyun yang mengawalinya. Hingga keduanya bergumul, saling melempar bogem dan jerit murka. Sungmin gemetar di tempatnya bersimpuh, tidak berani melerai saat bibirnya sendiri terasa sakit luar biasa. Basah perban itu sudah terasa hingga ke dagunya. Lukanya pasti brdarah lagi. Dan di tengah kerusuhan ini, kepalanya berdenyut sakit.

Keributan itu tentu saja mengundang karyawan lainnya, suara lonceng pintu terdengar berkali-kali. Empat orang pemuda yang tergopoh-gopoh masuk ke ruang depan segera mendelik, terkejut bukan main.

“Kyuhyun-ah! Kyuhyun-ah hentikan!” seorang pria dewasa segera masuk ke tengah pergumulan itu dan berjuang melerai keduanya. Ia memeluk pinggang Kyuhyun dan berusaha menariknya mundur. Sedang dua pemuda lain berjuang menarik Seunghyun yang memberontak secara membabi-buta. Satu pemuda berperawakan mungil tidak berani mendekat sama sekali, wajahnya pucat pasi. Ia hanya berani menyaksikan dari pintu karyawan sembari mengerat spatula di tangannya.

“Lepas, Kyuhyun-ah! Sudah! Sudah!” lerai pria itu sembari berusaha menghentikan Kyuhyun yang masih berjuang menggapai kepala lawannya. Di pihak lain, Seunghyun juga tidak mau kalah. Kalau saja yang menahannya bukan dua orang, ia pasti sudah bisa mematahkan hidung pemuda laknat itu!

Setelah melalui puluhan umpatan dan jeritan, keduanya berhasil dilerai. Seunghyun masih belum lelah untuk memaki, ia terus meneriakkan “Jangan sentuh mutanku!” dan “Kubunuh kau, bajingan!“, membuat karyawan lain mengerutkan kening dan melirik Kyuhyun dengan heran.

“Kau berkelahi di dalam toko. Ada apa, Kyuhyun-ah?” pria itu menatap Kyuhyun dalam-dalam, berusaha bertanya dengan sabar saat ia tahu jelas– Kyuhyun masih sangat marah. Baru kali ini ia melihat Kyuhyun sebrutal ini. Sepupunya ini belum pernah terlibat perkelahian setelah kasusnya saat di Sekolah Dasar dulu. Dan sekarang… Ia tidak mau melirik keadaan tokonya, saat sudut matanya saja sudah menangkap kursi-kursi bergelimang di atas lantai.

“Dia berani mengganggu pasanganku!” Seunghyun tidak bisa menahan seruannya. Dengan mata mendelik merah, ditunjuknya wajah Kyuhyun. Menuding sejadi-jadinya. “Kau berselingkuh dengan mutanku, kan!”

Tidak ada yang memperhatikan kata terakhir itu. Semua lebih terfokus menangkap kata ‘selingkuh’ yang terselip di dalam kalimat Seunghyun. Seluruh mata di ruangan itu juga ikut beralih pada sosok yang tengah memeluk kedua kakinya dengan gemetaran. Separuh wajahnya di perban, tidak ada yang menyadari cuping hitam yang tertunduk jatuh dan tersamar oleh helai-helai kelam rambutnya.

“K-kau mengganggu kekasih orang, Kyuhyun-ah?” sosok yang tadi hanya berdiri di sisi pintu kini bersuara, ia berdiri dekat-dekat dengan pria dewasa yang menenangkan Kyuhyun.

“Tidak!”

“Lalu ada apa ini?”

“Aku tidak mengenalnya. Tadi aku tidak sengaja menabraknya, jadi kuajak masuk saja.” Kyuhyun terus menatap Seunghyun dengan penuh dendam. Dengan kasar, ia menghapus darah yang mengotori sudut bibirnya. Lalu Kyuhyun melirik sosok ‘pelanggannya’ yang masih menegang ketakutan, seketika itu emosinya meluap lagi. “TAPI ORANG GILA INI MENGANIAYA DIA, HYUNG! Kita harus melaporkannya ke polisi, lihat saja perbannya berdarah-darah!” seru Kyuhyun sembari menunjuk-nunjuk perban wajah Sungmin.

Mutan itu menunduk ketakutan saat ia sadar seluruh mata kembali menatap lekat ke arahnya. Mata tajam Seunghyun juga tidak kunjung beralih darinya, meski Sungmin tidak menyadari kalau sorot mata majikannya mulai melembut.

“Tunggu apa lagi, cepat telpon polisi!” Kyuhyun masih menggebu-gebu. Menatap kakak sepupunya, Yesung, dengan menuntut.

“Hush, Kyuhyun-ah!” Yesung berdesis, menyuruh Kyuhyun untuk tenang. Kyuhyun membuka mulutnya, ingin menuntut lagi namun pertanyaan itu begitu menginterupsi.

“Kau baru menemuinya?”

Suara Seunghyun pelan. Begitu lirih. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Sungmin. Seakan tidak mengingat keributan macam apa yang baru saja diciptakannya di tempat ini, Seunghyun hanya menatap sendu ke arah mutannya. Ia ingin segera meraih Sungmin, memeluknya, membawanya pulang.

Sedangkan di sisi lain, Kyuhyun seakan merasa tidak ada gunanya menjawab pertanyaan bodoh itu. “Kau harus dipenjara, bangsat!”

Kyuhyun berdiri lagi, sayang kedua tangan Yesung kini mengawasi gerak-geriknya. Ditambah dengan Ryeowook di sisi kanannya.

“Dia mutanku, aku berhak melakukan apapun padanya. Selama ia tidak mati.”

Semua terpekur mendengar kalimat itu. Mereka melirik makin menyelidik ke arah Sungmin, begitu mereka menangkap dua cuping berbulu yang sedikit menyembul, keempatnya semakin terdiam tidak berani ikut campur.

Seunghyun bangun. Seakan tidak menganggap eksistensi lain di dalam ruangan itu, ia meraih tubuh Sungmin dan membimbingnya untuk berdiri. Begitu hati-hati.

Yesung segera meremas bahu Kyuhyun saat adik sepupunya itu kembali menegang. Orang itu tengah mengusap wajah korbannya, menelisik sesuatu namun tetap saja! Kyuhyun tetap mencurigai seluruh gerak-geriknya!

“Apakah sakit, Sungmin-ah? Kita ke dokter saja, ne?” Seunghyun mengangkat dagu Sungmin, memeriksa perban wajah mutannya dan mengusap kening pucat itu dengan sayang. Sungmin menggigil di bawah sentuhannya, tapi Seunghyun mengabaikan sorot penolakan itu dan segera merangkul bahu Sungmin.

“Hyung!” Kyuhyun melenguh kecewa.

“Kyuhyun-ah. Kita tidak boleh ikut campur.”

“Tapi dia menganiaya pemuda itu!”

“Kyuhyun-ah!”

“Aku minta maaf atas semua kekacauan ini.” Seunghyun memasang ekspresi penuh sesalnya. Namun begitu matanya bertemu dengan mata Kyuhyun, sorotnya berubah tajam. Ia tengah mengingat seluk beluk raut itu. Kalau suatu saat mereka bertemu lagi, ia tidak akan segan-segan membunuh pemuda ini.

Yesung mengangguk-angguk, baru akan membuka mulut saat tiba-tiba secarik kertas disodorkan di depan wajahnya.

“Ini biaya ganti ruginya.”

Yesung menerimanya tentu saja. Dan ia tidak protes sedikitpun melihat nominal yang tertulis di sana.

Kyuhyun masih tidak rela. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun saat kakak sepupunya pun tidak mau memberikan dukungan. Ia mendesah kuat-kuat saat Seunghyun merangkul Sungmin keluar dari cafe itu.

Segera setelah mereka berdua keluar, Sungmin berpaling lagi dan menangkap pemandangan karyawan-karyawan di toko itu sibuk membenahi kerusakan yang dibuat oleh majikannya. Ia masih berpaling untuk melirik sosok Kyuhyun yang tengah bersungut-sungut. Wajah yang manis itu…

Sungmin merasa ingin terus memandangnya. Namun rangkulan di bahunya membawanya menjauh. Hingga sosok-sosok di balik cermin toko itu tidak tampak lagi. Dan dari kejauhan, yang terlihat olehnya hanya lambang biji kopi dengan sayap yang terpajang megah di atas toko.


.

oOoOoOo

.


Minggu ini terasa sepi. Tentu saja, setelah Seunghyun membawanya tinggal ke ‘rumah’ aslinya di pinggiran kota Seoul. Sungmin merasa hidupnya semakin terasa hampa lagi. Rumah ini besar, penghuni di dalamnya hanya para pelayan dan penjaga yang ditugaskan untuk melayaninya. Ada juga seorang perawat yang bekerja sementara disini hingga Sungmin benar-benar pulih. Sedangkan Seunghyun lebih sering pergi dan pulang saat malam hari. Sungmin bukan tidak menyukainya, ia malah semakin senang kalau waktu bersama mereka semakin berkurang dari hari ke hari.

Seunghyun tidak pernah membahasnya lagi. Insiden perkelahian di kafe saat malam tahun baru kemarin seakan tidak pernah terjadi. Majikannya itu selalu bersikap manis, menanyakan keadaannya dan menawarkan bantuan. Entah Seunghyun merasa bersalah atau itu sekedar akal-akalannya saja. Tapi Sungmin tidak bisa memandangnya dengan cara yang sama seperti dulu. Baginya, sang majikan sudah berubah menjadi momok menyeramkan. Sesuatu yang harus ia takuti dan dijauhi. Ada trauma dalam yang menggores di memorinya. Sekuat apapun ia berusaha menghapusnya, wajah Seunghyun tidak akan berubah sama seperti sebelumnya.

Sungmin menghela napas, baru sadar kalau langkah membawanya masuk ke pintu dapur. Sepertinya ia berjalan sembari melamun, beruntung ia tidak menabrak atau tersandung sesuatu, mengingat kamarnya yang berada di lantai dua.

“Sudah bangun, Sungmin-ah?” suara lembut itu mengejutkan Sungmin. Mutan itu meringis melihat perawat pribadinya tengah berdiri di depan wastafel. Ia bermaksud tersenyum, namun karena nyeri di pipi dan perban yang menutupi wajahnya, senyum tulusnya berubah menjadi ringisan.

“Kau mau mandi? Aku bisa menemani.” kata perawat itu sembari mengeringkan tangannya dengan kain.

Sungmin menggeleng panik mendengarnya. Dan perawat itu tersenyum dengan niat menggoda.

“Atau kau ingin menunggu Master Seunghyun yang memandikanmu?”

Sungmin menggeleng makin ketakutan.

“Hahaha. Aku hanya bercanda, Sungmin-ah. Kemari, biar kuganti perbanmu.” diam-diam dalam hati, perawat itu merutuki dirinya sendiri saat ia tak sengaja bercanda dengan menyebut nama Seunghyun. Siapa yang tidak tahu? Majikan rumah ini punya penyakit tempramen yang sangat mengkhawatirkan. Sebulan yang lalu, ia membawa pulang seekor mutan yang sekujur tubuh dan wajahnya lebam. Meski tuan muda itu memperlakukan Sungmin dengan manis, semua penghuni rumah ini sudah menyadarinya. Seunghyun lah penyebab seluruh luka dan trauma yang dialami mutan belia ini. Hal semacam ini sudah terjadi berulang kali, seluruh kekasih dan tunangan tuan muda selalu kabur meninggalkannya. Tidak tahan menghadapi sifat pemarahnya yang terkadang muncul tiba-tiba.

Tapi kali ini… Untuk seekor mutan peliharaan seperti Sungmin yang nyawanya sudah menjadi milik Seunghyun… Punya hak apa dia untuk kabur menyelamatkan diri?

“Duduk disini, sayang.” Perawat itu menarik satu kursi dan menawarkan Sungmin untuk duduk disana. Sementara ia mengambil kotak obat yang baru saja diletakannya di atas kitchen set.

Sungmin beringsut menyeret langkah, ia bukan takut pada wanita ini. Ia hanya malas mengganti perbannya. Karena luka-lukanya sudah mengering dan nyaris pulih seutuhnya, Sungmin justru ketakutan kalau-kalau Seunghyun akan senang melihat wajahnya yang sudah pulih. Biar saja seperti ini. Ia suka saat wajahnya tertutup separuhnya, Seunghyun tidak punya alasan untuk memaksa menciumnya.

Tapi karena tidak ada keluhan yang mampu terucap, Sungmin sudah terlalu malas untuk memberontak dan membiarkan perawat itu berlutut di hadapannya.

Dulu, saat pertama kali bertemu wanita ini. Seragam putih dan dandanan rapi sudah menjadi ciri khasnya. Sebuah tagname yang tak terbaca oleh Sungmin terpasang tepat di atas dadanya. Mungkin karena keningnya terlalu mengerut saat itu, sang perawat mengerti dan memperkenalkan dirinya sebagai ‘Hyorin’, tepat seperti huruf yang tercetak di tagname itu. Karena sikap penyabar dan kelembutannya, Sungmin tidak keberatan saat Hyorin dipekerjakan untuk merawatnya.

Seragam putihnya yang selalu rapi juga selalu membuat Sungmin bertanya-tanya, apa wanita ini hanya akan bekerja sementara? Apakah setelah ia pulih, wanita ini akan berhenti bekerja? Kalau begitu itu adalah bencana! Sungmin merasa ia tidak mengenal siapa-siapa di rumah ini kecuali Hyorin. Bahkan Seunghyun pun sudah tak dikenalinya!

“Biar kulihat.” Hyorin menarik perban itu perlahan-lahan, ia meriksa kulit di sekitar bibir Sungmin dengan hati-hati sebelum menanggalkan seluruhnya. Bibir mutan yang akhirnya tersikap itu rupanya tengah mengerucut. Entah bosan atau merasa kesal, tapi Hyorin justru geli melihatnya.

“Oh! Ini sudah kering, sebentar lagi juga akan sembuh. Kau tidak perlu menggunakan perban lagi. Pasti sesak, kan? Baiklah, biar kuberikan kapas dan plester saja untuk menutupi lukanya.”

Tentu saja celoteh panjang lebar itu tidak mendapat respon. Tapi Hyorin tidak bosan-bosannya berbicara, karena hal itu rupanya selalu bisa membuat ruam muram di wajah Sungmin sirna untuk sementara.

“Tuan muda mau sesuatu? Hot chocolate seperti biasa?”

Sungmin mengangguk dan tersenyum tipis. Tidak bisa menarik bibirnya lebar-lebar saat kedua sisi sudut bibirnya terplester ketat.

Sejak malam itu, hot chocolate menjadi menu favoritnya. Meskipun Sungmin belum pernah mencoba seperti apa rasanya hot chocolate yang dibuat Kyuhyun malam itu.

Sudah nyaris tiga minggu berlalu saat Seunghyun menyeretnya dari sana…

Tapi bayangan tempat itu tidak pernah sirna. Sungmin tidak bisa melupakan kejadian di kafe malam itu. Ia tidak bisa melupakan wajah tampan pemuda itu. Suaranya yang berat dan senyumnya yang lucu. Kyuhyun. Memang tidak ada jejak lain yang bisa mengingatkan Sungmin pada pemuda itu. Selain wajahnya yang tampan, namanya ‘Kyuhyun’, dan sebuah biji kopi bersayap di atas tokonya.

“Tuan Seunghyun tidak akan pulang sampai tiga hari ke depan.”

Kalimat itu segera mengalihkan lamunan Sungmin. Mata mutan itu membulat kaget.

Tiga hari?

“Kau bosan, kan? Kalau kau mau, kau boleh jalan-jalan. Kemanapun, asal jangan jauh-jauh.”

Hyorin meletakkan secangkir hot chocolate itu di hadapan Sungmin, namun mutan itu bahkan tidak meliriknya sama sekali. Matanya yang berbinar tengah menerawang jauh. Membayangkan dirinya keluar dari rumah besar ini dan berkeliling di tengah kota berusaha mencari toko Kyuhyun. Ia harus mencarinya!

Sesaat, mata Sungmin semakin bersinar karena bahagia tapi semua khayalan manisnya segera sirna saat bayangan majikannya yang tengah mengamuk tiba-tiba menginterupsi dalam kepalanya.

T-tapi? Tapi master?

Sungmin memandang Hyorin dengan tatapan memelas, matanya berkaca-kaca.

“M-mmmh!” Ah! Ia nyaris mengucapkannya. Tapi kenapa sulit sekali? “Msssh!” Sungmin nyaris meledak dalam tangis, kalau saja Hyorin tidak tersenyum penuh pengertian dan buru-buru mengusap bahunya.

“Mastermu tidak akan marah, Sungmin-ah. Kau ingin jalan-jalan ne?”

Sungmin mengangguk antusias. Matanya masih berkaca-kaca, walau kali ini karena perasaan bahagia.

“Kalau sebentar, tentu saja boleh. Tuan Seunghyun sudah mengizinkannya bukan? Kau boleh minta sesuatu dan para bodyguard bisa mengantarmu.”

Sungmin berusaha tersenyum selebar-lebarnya, namun Hyorin malah tertawa geli. Mungkin senyumnya tampak aneh. Sungmin merasa tersinggung.

“Tapi ingat, Sungmin-ah! Kau tidak boleh macam-macam. Jalan-jalan sebentar setelah itu langsung pulang, arraseo?”

Tentu saja Sungmin tidak akan menggeleng. Ya, adalah jawaban mutlaknya.


.

oOoOoOo

.


Dan di sinilah sekarang Sungmin berdiri, di tengah keramaian kota mengenakan jaket tebalnya. Dengan tudung berbulu menutupi kepala dan cuping kucingnya, sebuah tas mungil berwarna putih terselempang di bahunya berisi lembaran uang seratus ribu won yang diberikan Hyorin, ia melangkah penuh percaya diri.

Sungmin akan memulai petualangannya mencari kafe Kyuhyun!

Tapi ia tidak pergi sendiri, tentu saja.

Dua orang bodyguard mengawasi dari belakang. Tidak terlalu dekat karena Sungmin selalu tampak ketakutan kalau seseorang bermaksud menyentuhnya sedikit saja. Mereka selalu melangkah tergesa-gesa setiap kali Sungmin menghilang dari pandangan, tertutup oleh punggung-punggung orang yang berlalu-lalang. Mungkin ketakutan kehilangan jejak mutan majikannya, membuat pandangan mereka berubah makin tajam di balik lensa kacamata hitam. Tapi Sungmin juga risih pada eksistensi keduanya, ia selalu melirik-lirik kebelakang, mencari celah untuk kabur dari pengawasan mereka.

Dan kesempatan itu tiba juga, saat mereka melalui jalan yang penuh sesak oleh orang-orang. Tentu saja jalan ini ramai, pusat kota saat akhir pekan! Sungmin nyaris menangis saat ia terpaksa melesak di tengah keramaian orang-orang. Namun tekadnya yang kuat membuatnya mampu melalui semua itu, dan akhirnya ia mendapatkan imbalannya. Sungmin terbebas saat ia menyelinap masuk ke sebuah gang kecil yang sepi dan terhubung di sisi jalan kota. Tanpa berani menengok ke belakang lagi, ia langsung saja berlari menyusuri gang-gang itu. Meringis saat jalan yang gelap dan sempit terpaksa ia lalui, dari gang ke gang, dan lorong-lorong, hingga akhirnya ia berhasil menemukan ujung jalan yang membawanya ke tempat yang lebih terang.

Pinggiran jalan raya.

Sungmin memutar kepalanya. Pertama melirik ke belakang, mengawasi kalau-kalau pengawal berkacamata hitam itu berhasil mengejarnya. Setelah itu Sungmin melempar pandangan ke seluruh penjuru, berusaha mengenali tempat itu. Ia nyaris berlutut dan menangis, putus asa saat merasa dirinya tersesat di tempat antah berantah dan ia tidak tahu apa-apa! Hingga Sungmin berpaling ke sisi kanan, tepat di samping gang yang dilaluinya tadi. Sebuah tangga turun tampak usang.

Dengan rasa penasaran, Sungmin mendekatinya dan melirik ke bawah. Tangga itu tersambung ke bawah tanah, suara rusuh kereta terdengar dan mata Sungmin membulat karenanya.

Ia pernah melalui tempat ini dengan Seunghyun! Dengan semangat yang kembali pulih, Sungmin menatap lagi sekelilingnya, berusaha mengingat-ingat. Dan pada akhirnya Sungmin merutuk kesal. Ia hanya menunduk saat Seunghyun membawanya keluar malam itu. Dan ia benar-benar menyesal. Kalau saja ia tahu ingatannya sangat dibutuhkan saat ini…

Tapi…

Kalau tidak salah Seunghyun membawanya menyeberangi jalan raya begitu mereka turun dari kereta. Sungmin memandang lurus ke arah jalan yang terbentang di depannya. Dengan perasaan campur aduk, ia nekat menyebrangi jalan itu dan melangkah sesuai instingnya. Menyusuri pinggiran jalan sembari berhati-hati agar tidak ada orang yang menabraknya.

Sungmin mendongak, kekanan, kekiri. Menatap satu persatu logo setiap toko yang di laluinya. Namun logo kopi bersayap itu tidak kunjung terlihat! Padahal ia merasa sudah melangkah jauh sekali. Kakinya sakit, dan perutnya lapar. Lebih parahnya, hatinya nyeri. Ia sudah terlalu bersemangat akan melihat Kyuhyun lagi tapi seperti ditampar oleh kenyataan… Tidak menemukan toko Kyuhyun dan malah tersesat entah dimana!

Sungmin benar-benar menangis pada akhirnya. Ia terisak-isak di pinggir jalan. Pipinya merona merah dan matanya membengkak. Ia menatap kesana-kemari, semakin merasa ciut saat orang-orang melirik kearahnya dengan penuh tanya.

“Adik, kenapa menangis?” suara itu membuat Sungmin tersentak kaget dan menangis makin keras. Tapi suara bising kendaraan yang berlalu lalang berhasil menutupi jerit tangis Sungmin.

“Y-yah, kenapa menangis adik? Aku tidak menakutkan, kan? Coba lihat wajahku yang tampan, pasti kau merasa baikan!” karena panik, orang itu tidak sadar ia mengatakan apa. Tapi anak ini menangis makin keras saat ia menegurnya tadi! Apa kata rekan-rekannya kalau mereka melihat hal ini?

“Yah yah, cup cup. Coba lihat oppa, ya? Kenapa kau menangis sayang? Kau mau eskrim?” orang itu berjuang meredakan tangis Sungmin, dengan mengusap bahunya, membelai kepalanya, merayu, dan segala macam cara lainnya. Hingga akhirnya ia nekat mengangkat wajah yang tertunduk itu, namun wajah sembab itu tidak balas menatapnya. Seperti refleks, bocah itu membisu sembari menatap ke balik dinding kafe yang tembus pandang.

Mata Sungmin memang tidak balas memandang orang di hadapannya. Begitu wajahnya terangkat, satu sosok familiar tampak jelas dari balik kaca di hadapannya. Puluhan gadis-gadis berkerumun seperti semut tetap tidak mampu menutupi sosok jangkung yang tampak histeris sembari memegangi nampan. Wajah itu… Rambut itu… Suara teriakan yang familiar itu…

Itu.

Kyuhyun.

Sungmin membeku.

“Yah? Dik! Kau baik-baik saja?” lamunan Sungmin terpaksa terganggu saat tangan besar melambai-lambai di depan wajahnya. Tapi orang itu benar-benar takut! Tadi gadis kecil ini menangis histeris, sekarang dia malah terdiam seperti patung sembari memandang bisu ke dalam kafe. Apa yang sedang dipandanginya?

“Kau lihat apa?” Orang itu ikut berpaling melirik keadaan di dalam kafe, namun tidak ada keanehan apapun yang dilihatnya selain rutinitas yang biasa terjadi di tempat ini. “Hei, kau lihat apa?”

Sungmin mundur satu langkah. Ia sempat kaget namun begitu melihat senyum lembut di wajah orang ini… Ia tidak jadi kabur. Lagipula ia tidak mungkin pergi! Ia baru saja menemukan Kyuhyun! Dan orang ini mengenakan seragam yang sama seperti yang dikenakan Kyuhyun. Sebuah tag name terpasang di dadanya, tapi tentu saja Sungmin tidak bisa membacanya.

“Kau ingin masuk? Ayo biar kuantar.” Orang itu merangkul bahu Sungmin, membuat sang mutan berjengit kaget dan buru-buru menampik tangannya.

Meski tampak terkejut, orang itu justru tertawa ringan menanggapi penolakan Sungmin. Sembari memasang wajah memelas dan mengangkat kedua tangannya, ia berujar, “Aku bukan orang jahat, aku berani bersumpah!”

Sungmin merengut. Nyaris tersenyum melihatnya. Suara cempreng yang dibuat-buat itu terdengar lucu, seperti kartun-kartun yang sering ditontonnya di TV.

“Kenapa kau menangis, hum?” melihat respon positif Sungmin dan tangis yang sudah benar-benar reda, pemuda itu kembali bertanya. Kali ini senyum manis bertetengger di wajahnya yang tampan. Ia sedikit merunduk, menyesuaikan tubuhnya yang tinggi menjulang untuk menatap Sungmin dari dekat. Hei, wajah ini manis juga!

“Kenapa tidak menjawab, hum?”

Tentu saja Sungmin tidak bisa menjawabnya. Mutan itu hanya berkedip lugu.

“Astaga, kau manis sekali. Aurh!”geram pemuda itu gemas sembari mencubit pipi Sungmin. Namun tindakan itu menjadi kesalahan besar, karena mata Sungmin kembali berkaca-kaca lagi.

“E-eh? Kenapa menangis lagi? Aku minta maaf, maaf ya? Maaf, tidak akan kuulangi.” Dengan panik, pemuda itu mengusap kepala Sungmin berusaha meredakan tangis yang sudah diujung tanduk. Namun bukan usapan tangan dan rayuannya yang berhasil meredakan tangis Sungmin. Begitu Sungmin kembali melirik ke dalam, wajah Kyuhyun yang memerah karena terus berteriak tampak begitu jelas. Cahaya terang matahari yang membias masuk ke dalam, semakin membuat wajah Kyuhyun bersinar. Begitu putih, dan tampan…

Sungmin tersenyum luluh, matanya sayu oleh pesona Kyuhyun.

Sedangkan di sisi lain, pemuda sejawat Kyuhyun itu mengira bahwa dirinya lah yang sukses menenangkan gadis manis ini. Sembari bertolak pinggang dan tersenyum ramah, ia memandangi bocah di hadapannya saat tanpa sengaja matanya menangkap sebuah bandul kalung yang cukup besar tersikap dari balik jaket. Tanpa curiga sedikipun pada bentuk dan ukuran bandul itu, ia hanya membaca hangul cantik yang tertera di sana—

“Sungmin?”

Sungmin mendongak kaget. Dipandanginya pria tegap itu dengan mata mendelik. Sungguh, ia kaget sekali saat namanya disebut tadi! Dari mana orang ini tahu namanya?

“Oke, adik Sungmin. Kau mau es krim?” pria itu berbalik, kembali ke tempatnya semula. Ke sisi toko yang yang dibuka dengan pintu terpisah menjadi sebuah kedai eskrim. Tapi merasa tidak direspon sama sekali, pria itu kembali menoleh. Makin gemas saat dilihatnya Sungmin hanya melamun memandangi poster-poster eskrim di dalam kedai eskrim– milik bosnya.

“Tidak bawa uang ya? Baiklah, karena kau manis jadi kuberikan gratis.”

Sungmin masih tidak menjawab, namun kali ini langkah membawanya mendekat. Ada sesuatu di balik suara itu yang membuatnya tertarik. Sama tertariknya seperti dulu namun Kyuhyun tetap nomor satu dalam hatinya. Sungmin terkikik kecil membayangkan imajinasi itu, dari sudut matanya ia berusaha mencuri-curi pandang. Kedai ini tersambung langsung ke bagian depan toko, tidak ada tirai atau pintu pemisah. Karena itu ia bisa langsung menatap ke arah Kyuhyun yang tengah kesulitan membawa banyak pesanan sedangkan puluhan wanita terus saja mengerubutinya.

Kyuhyun… tampan sekali. Andai saja wanita-wanita itu tidak menutupi pandangannya.

“Hei adik.”

Sungmin terenyak. Satu cone eskrim tersodor di depan wajahnya. Dengan canggung, ia menerimanya. Warna pink yang berasap itu membuatnya terpikat, harum susu dan strawberry yang bercampur… Tanpa segan Sungmin langsung menjulurkan lidahnya, dan aroma yang baru saja tercium itu langsung leleh dalam mulutnya. Seakan refleks, Sungmin tersenyum manis. Matanya menyipit dan pipinya yang gembul terangkat tinggi. Sukses membuat sosok di hadapannya ikut membeku seperti eskrim.

“Ah-ahahahaha, kau manis sekali.” Selorohnya sembari menggaruk tengkuk, berusaha tidak mencubit dua pipi pink yang menggoda itu. Meskipun dua buah plaster menempel di sudut-sudut bibirnya, senyum gadis kecil itu tetap tampak mempesona. Terlebih saat dengan seriusnya dia menikmati eskrim itu. “Bibirmu kenapa? Kau pasti jatuh ya? Anak manis jangan berlarian di jalan, ne! Itu berbahaya”

Sungmin tersinggung mendengarnya. Tapi ia diam saja.

“Oh, ya. Namaku Max, Max yang tampan. Kau harus mengingatnya atau lain kali tidak ada eskrim gratis lagi, oke adik manis?”

“Mmm~” Sungmin mengangguk dan tersenyum lagi. Padahal baru saja ia bermaksud mengucapkan kata ‘Max’. Tapi hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.

“Kau tidak mau bilang terima kasih?”

Sungmin tersenyum makin lebar, berharap Max mengerti kalau senyum itu adalah pengganti kata terimakasihnya.

“Karena kau manis, jadi kumaafkan.” Max berdecak, tampak kecewa. “Dan kenapa tadi kau menangis? Kau tersesat? Mana ibumu? Kakakmu?”

Sungmin berkedip lugu. Setetes eskrim leleh di bawah bibirnya, tapi Max tidak berani membersihkannya. Mungkin ia bisa memberi bocah ini tisu saja. Jemari Max yang panjang merogoh-rogoh setiap laci kedai dan saat menemukan seluruh kotak tisu kosong, ia baru sadar tidak mengisinya selama berminggu-minggu. Kalau istri bos tahu, orang cerewet itu pasti akan mengamuk.

“Tunggu disini, biar kuambilkan tisu di dalam. Oke?” Tanpa menunggu jawaban Sungmin, Max berbalik dan masuk ke dalam pintu kedai yang terhubung langsung ke ruang karyawan.

Sungmin terkikik melihatnya. Max. Max. Sekarang bertambah satu orang lagi temannya. Tapi—

Sungmin melirik ke dalam. Kyuhyun sibuk berlalu lalang dengan nampan pelayan, lalu berteriak-teriak kesal saat beberapa wanita menarik-narik pakaiannya. Sungmin tertawa tanpa suara, menikmati tontonan itu sembari menghabiskan eskrimnya. Semua teriakan dan rengutan Kyuhyun tidak juga membuatnya jemu, ia masih betah berdiri mematung disana sembari merekam semua itu ke dalam memorinya. Mungkin ia masih akan betah berdiri tak bergerak dari tempatnya sampai berjam-jam ke depan. Namun sayang, dua pengawal yang tadi terpisah darinya kini sudah berdiri tegap di hadapannya.

Napas mereka menderu, mungkin sejak tadi mereka berlari-lari mencarinya kesana-kemari. Rambut yang semula tertata rapi kini kusam berantakan, keringat mengucur dimana-mana. Sungmin sempat takut keduanya akan marah dan membentaknya. Tapi begitu kacamata hitam itu terangkat, empat pasang mata yang mengerjap lelah dan sorot sayu penuh kekhawatiran menyambutnya.

Seketika itu Sungmin merasa bersalah.

“Tuan muda, jangan begini lagi! Kalau Master tahu bagaimana?”

Sungmin menatap keduanya bergantian, lalu ia melirik kedai eskrim yang masih kosong karena Max belum juga kembali. Max tidak boleh melihat dua orang ini.

“Jangan sampai Master tahu soal ini, Hogun-sshi. Dan Tuan Muda, tolong jangan diulangi lagi, ne?”

Sungmin mengangguk seadanya. Lalu ia berbalik entah ke mana dan mulai berjalan sendiri.

“T-tuan Muda, kita pulang ke arah sana!”

Sungmin langsung berbalik lagi, kembali ke jalan yang ditunjuk oleh dua pengawalnya. Ia melirik Kona Beans untuk yang terakhir kali, baru menyadari logo kopi yang dilihatnya dulu memang sudah berganti dengan huruf-huruf yang tidak ia mengerti.

Satu yang ia tahu, ini tidak akan menjadi kali terakhir ia mengunjungi Kona Beans. Sungmin sudah mulai merancang rencana-rencana sederhana yang licik, untuk terus kembali kemari tanpa peduli pada peringatan kedua pengawalnya barusan.


.

oOoOoOo

tebeseeeeh!

oOoOoOo

.

 

26 thoughts on “Kitty-Kitty Baby! Flashback Part 4

  1. Ahrin Park says:

    kasian yah si sungmin.
    d pukulin bgitu sma seunghyun.
    ooh, ternyata sungmin udah lama kenal kyuhyun toh. N sdh sering dtang ke cafe.y.
    Pantasan wktu bru ketemu si kyu udah langsung tau nama.y.

  2. Calista says:

    Ya ampun sungmin nekat amat keliaran sndri. Klo trsesat gmn tuh? Aduh saya pnasaran
    Klanjutnnya ini eon. Udh update ya? Tp kog d proteksi. Oya eon, aq prnah bca ff mu ttg the concubine, dlu aq pake nama pena Hana. Aq dah mnta pw, dan hari ini aq mnta lg krna msh pnasaran dg klanjutn crta itu. Blh eon? Klo eonni ngk kberatan aq jg mau mnta pw kitty2 baby yg fb part 5 sm yg chap slnjutnya😀 maf byk prmintaan eon. Hbsnya penasaran. Thk’s before😉

  3. shanty kyuminnie arashi says:

    Sumpah…. Ga kuat ngebayangin sungmin d tampar sampe segitu nya…
    Kenapa masternya curigaan bgt sih ???
    Sungmin jg ga bisa lawan lagi….

    Kyu biarpun dia blm kenal tp berani belain sungmin….
    Tp akhirnya ming tetap balik k masternya…

    Sungmin bener2 suka sama kyu…
    Sampe dia berani kabur dr pengawal2 masternya…
    Dan itu siapa yg bantuin ming ???
    Max ??? Maksudnya changmin kan ????

    Eummm…
    Penasaran…
    Lanjut lgi….

  4. maidencho says:

    Karena saya pun malas ngomen di FFn, jadi saya hanya baca FB part 4 di FFn aja. Trus pindah kemari buat ngomen. eh ternyata disini udah sampe Kyuhyun side story😮

    Penasaran ama lanjutannya ><
    Aku kira FB Sungmin sampe disini aja. Terus Kyuhyun side storynya juga. Penasaran *-*

  5. Sungmin emank udh cinta mati sma kyuhyun dr pandangan pertama ,eciiieee ,.
    Gmna caranya yah biar mreka bza bersama sdngkn sunghyun ajah bgtu adanya ,.
    Aahh saengi mantep lah skali apdet bnyaknya ,.

  6. sha says:

    ah.. kenapa harus ketahuan bodyguard nya coba.. aih T^T

    Ming udah pernah ketemu sama Changmin juga?? ahay.. KyuMin emang jodoh :3

    lanjuuut …

  7. nugu says:

    Saya bingung mau comment di sini, atau di ffn. Kamu sering buka-nya yang mana..?

    Sungmin-nya kuat banget ya. Udah disiksa berkali-kali, ga mati-mati. Apa karena dia mutan..? Mutan bisa mati ga sih?
    Tapi Seunghyun juga kejem banget dah. Pas Sungmin bener bener down ( rasanya pengen mati kali ya ), Seunghyun malah meperlakukan Sungmin kaya putri. Pas Sungmin sedikit menerima Seunghyun, dia malah berubah kaya setan. Seunghyun trauma kali ya? Makanya ampe brutal kaya gitu.

  8. Wow_aprili says:

    wahh.. akhirnya di next juga kitty umin… *jingkrak”
    sebelumnya aku dah baca di ffn tapi gak bisa komen, maklum via hp u,u
    tapi bener deh ini authornya kalo nulis bisa bikin aku senam jantung!
    coz ngabayangin Sungmin menderita, disiksa, dan disakiti… # death glare author
    kasihan sungmin… oke deh next and keep writing!^^

  9. Sun~

    aku komen disini yah,chap kmrn2 kan di ffn,hbs lagi males ke ffn,bnyak plagiat,n shocknya nih ff juga di plagiat jadi wonkyu =,=

    Ternyta Ming udah tau kyu sejak lama yah,,

    N brarti pertemuan mereka yg Min cuma pake lingerie itu juga udah di atur gtu >,<

    Min langsung jatuh cinta sama si Kyu,mungkin krna Kyu pnh nolong dia gt yah~

    penasaran rencana Ming slanjutnya,padahal tadinya aku restuin SeungMin #ditampol Kyu~

    next~next~

    sigh

    Aida

  10. kyuma0403 says:

    dr sini Q bisa ngelihat perbedaan sifat Kyu ma Seunghyun… Kyu, meskipun evil dan selalu berkata kasar, tp dia mash punya hati, g kyak seunghyun yg kelihatan baik, tp g bisa ngendalikan emosi dan suka lepas kendali….
    kasihan Ming,.. nyesek bacanya…
    lanjut chingu… >>

  11. vyan says:

    sun….maap banget… di chap flashback 1-3 ga meninggalkan jejak..
    udah baca tapi aku gabung jadi 1 aja yah commentnya *puppy eyes*
    chapter2 sebelumnya… are too cruel.. kejem banget seunghyunnya.. kasian sungminnya
    masa udh babak belur gt masih terus dipukulin..
    kl tau itu anaknya sendiri yg digugurin, pengen tau reaksi seunghyunnya gmn..
    di chap ini aja masih dianiaya gt…
    pengen cepetan sungminnya kabur en ketemu kyu..
    thanks banget buat lanjutannya n panjang lagi.. heheheheh
    lanjut y bacanya…

  12. racira says:

    Ish semoga seunghyun ga jahat lgi sama sungmin. Dan knp sungmin cuma diem aja wkt uda ktemu kyu, harusnya dia kbur dri seunghyun…itu kesempatan arggghh!!!

    Lanjutannya ditunggu Kaka’-‘)//

  13. mimiluphbunny says:

    ngp ming gag kabur ja , mnt tlong ama kyu kalo di trsksa am seunghyun.
    kan mpung di tempat umum,
    ciiee ming cinta pada pandngn prtma ya..
    ditunggu chap brkt nyaa

  14. Dina kyukyute~ says:

    ff ini bgus bgt :))
    pliss lanjutin dong thor, aku janji bkal review trus {}
    dan juga klo di PW aku minta PW nya dong thor ya ya ya ? *ciumauthor*

  15. Shin Young Hae says:

    Baca ff ini selalu nyesek pas bagian sungminnya di siksa sama seunghyun oppa.
    Lanjutinnya jangan kelamaan ya chingu. Hwaiting!!!

  16. Ya ampun uminnya ngebet banget mau ketemu sama abang kyu. Tapi kasian uminnya sekarang,jadi panaroid sendiri gitu. Omigot changmin jadi kawan baru umin,yeeeeey. Aku kira tadi uminnya bakal bisa kabur. Okedeh ,lanjut ke next chapter ya min🙂

  17. 010132joy says:

    Ck seunghyun kejam bgt sih ga bisa ngendaliin tempramennya y? Dasar labil kadang kejam minta ampun trus tiba2 nyesel ga jelas
    heh ming udah langsung suka kyu dpertama ketemu y kkk
    itu ming dsini knal jg sma max brarti ntar kli max masuk dia inget ming donk

  18. sifat seunghyun jelek banget, tempramen.. ga dimana2 curiga aja ama ming.
    Khukhukhu.. ternyata kyu punya rasa kemutanan juga, wkwkwk.. sampe bela2in kena pukul buat nolong ming, itu tuh yang bikin ming nempel terus ama si kyu. sifatnya yg sok gentle, padahal udah deket ketahuan pelitnya minta ampun.. wkwkwkwk

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s