Cursed Crown | Chapter 8

Tiga jam berlalu, keheningan memenuhi ruangan yang sebelumnya ramai oleh keributan. Kangin keluar dari kamar itu tak lama setelah Putra Mahkota Hviturland mempermalukannya. Ia bahkan sudah tidak berniat untuk lama-lama berada disana, melihat wajah Ratu kerajaan sebrang itu saja sudah membuatnya malu. Harga dirinya seakan dicabik habis di depan istrinya sendiri.

Sedangkan dua ratu yang bersikukuh tinggal di dalam kamar juga tidak saling bertukar pandang, apalagi menyapa. Jarak duduk mereka yang begitu jauh semakin menambah suasana canggung yang mengawang di udara.

Jung Junsu, sang ratu negeri es duduk di kursi tepat disamping ranjang yang sebelumnya diduduki Leeteuk, sembari menggenggam erat tangan putranya yang belum sadarkan diri itu. Secangkir teh yang sejak tadi disuguhkan pelayan di meja dekat ranjang sudah lama mendingin.

Leeteuk duduk jauh di belakang; memperhatikan ‘ibu’ dan anak itu dalam diam. Meski tidak berkomentar, ia terus memperhatikan saat cahaya biru redup muncul di antara tangan Junsu dan menantunya yang saling bertautan. Dan ia bisa menebak hal apa yang sedang dilakukan Junsu pada Sungmin. Setidaknya hatinya berbisik bahwa itu bukan sesuatu yang buruk, Leeteuk ingat sekali saat suaminya menceritakan tentang kekuatan khusus sang menantu. Apa hal itu menurun dari ibunya? Ratu Hviturland ini?

Junsu menghela napas saat ia selesai menyembuhkan luka luar yang ada pada tubuh Sungmin. Meskipun ia tidak tahu bagaimana keadaan putranya secara kejiwaan, paling tidak ia ingin mengurangi penderitaan Sungmin saat ia sadar nanti.

“Sebaiknya anda beristirahat saja. Kita tidak mau ada dua orang yang jatuh sakit.” Junsu berkata pelan tanpa menoleh ke belakang. Ia bisa merasakan betapa lemahnya hawa kehidupan orang di belakangnya itu. Siluman maupun monster juga makhluk hidup yang membutuhkan tidur dan istirahat, sama seperti manusia.

“H-Hah? T-Tidak. Aku tidak apa-apa.” Lelaki berambut coklat itu tersentak dari setengah-tidurnya dan menjawab dengan gugup.

Meskipun Junsu tidak mengenal orang ini, paling tidak Junsu tahu bahwa dia secara tulus peduli pada Sungmin. Hal itu sedikit membuatnya tenang, karena paling tidak ada satu orang yang benar-benar akan menjaga anaknya di sini. Dan mengenai mateSungmin… Junsu tidak berani menyimpulkannya sendiri. Yang jelas, ia tidak akan melepaskan begitu saja pemuda yang sudah berani menyentuh putra kesayangannya ini. Sungmin bahkan belum cukup usia. Ia tak lebih dari bayi jika usianya harus disamakan dengan rentang usia manusia. Dan sekarang, pangeran Radourland ini berani menodai putranya, menghamilinya, lalu pergi entah kemana!

Oh… Kalau ia bisa mengabaikan aliansi yang baru saja disambung di antara kedua negara ini –dan yang lebih fatal lagi, mengabaikan ikatan mate diantara putranya dan Kyuhyun, Junsu pasti sudah membunuh Pangeran manja itu dengan perlahan dan menyakitkan.

Tapi sekarang, hal itu tidak perlu… Junsu tidak perlu mengotori tangannya sendiri karena Siwon yang akan melakukan itu. Pemuda brengsek itu perlu dihajar paling tidak satu atau dua kali. Junsu harus melihat paling tidak satu lebam di wajah pemuda itu saat ia kembali nanti.

Tapi setelah semua ikatan mate ini terlanjur dibentuk, Junsu sadar dirinya tidak bisa melakukan apapun selain menjamin pangeran muda itu akan memperlakukan putranya dengan baik.

Junsu mendesah, ia segera mengusap genangan air di matanya sebelum emosi itu tumpah ruah. Hanya memikirkan nasib buruk putra kesayangannya ini saja sudah cukup membuatnya sesak. Ia memang belum pernah melahirkan anak seorangpun, tapi Sungmin— Sungmin adalah buah hatinya. Dengan terikat darah atau tidak, Sungmin akan selalu menjadi putranya. Dan tentu saja tidak ada ibu yang rela menyaksikan putranya menderita.

Junsu beringsut, mengubah posisi duduknya dan berbalik menatap wajah lelah ratu serigala yang duduk tak jauh di belakangnya.

“Beristirahatlah. Kau tidak perlu cemas karena aku yang akan menjaga Sungmin.” Junsu buru-buru memotong saat Leeteuk bermaksud membuka mulut untuk bicara.

“Dan aku tidak akan membawa Sungmin pergi. Setidaknya untuk sekarang. Aku mengerti konsekuensinya.”

Leeteuk tertunduk sedih. Diremasnya ujung jubahnya yang menjuntai ke bawah dengan gerakan lemah. Ia malu, bercampur sedih.

Kyuhyun. Kenapa—‘ Leeteuk masih terus bertanya-tanya kenapa anak itu melakukan hal bodoh dan memalukan seperti ini. Bagaimana bisa ia meniduri Sungmin dan kabur keesokan harinya, lalu menghilang dan tak muncul selama berminggu-minggu seakan ia tidak berniat untuk bertanggung jawab atas kesalahannya. Leeteuk mengangkat wajahnya dan menatap Junsu dengan sayu.

“Terima kasih. Tapi— Sekalipun aku berbaring di kamarku, bagaimana mungkin aku bisa beristirahat dengan tenang disaat anakku berbuat bodoh dan membuat mate -nya menderita seperti ini?” Dalam hati, ia tahu ini juga kesalahan suaminya. Tapi ia tidak akan memperkeruh suasana dengan membeberkannya pada Junsu.

Junsu menatapnya diam, lalu bertanya, “Ratu Radourland, boleh aku tahu namamu?”

Leeteuk sedikit kaget, namun mengangguk. “Namaku Park—ah… maksudku… Kim Jungsu.”

Ratu negeri es situ mendengus pelan sebelum berkomentar. “Jungsu? Kenapa nama kita mirip sekali? Namaku Junsu, Jung Junsu, Ratu negeri Hviturland dan Ibu Sungmin.” Leeteuk tersenyum canggung, seakan ia takut itu bukan saat yang tepat untuk tersenyum. Junsu membalas dengan senyum kecil, sebelum rautnya kembali berubah tegang.

“Kalau anda belum mau beristirahat, maukah mengantarkanku untuk melihat… jenazah cucuku?” Tanya sang ratu dengan nada sedikit tercekat, seolah menahan tangis di tenggorokannya. Aura kelam kembali menyelimuti ruangan itu, Leeteuk juga merasa sedih lagi. Ia melumat bibirnya sambil menatap lantai, kemudian menggangguk. Ia bahkan tidak tertarik untuk bertanya kenapa sang ratu berambut hitam itu tahu, padahal mereka belum menceritakannya. Leeteuk berdiri dari tempat duduknya, disusul oleh Junsu.

“Dia ada di aula tengah… Ke arah sini.” Bisiknya pelan sembari memimpin arah. Leeteuk meminta pengawal untuk menjaga Sungmin selama mereka pergi ke balairung istana. Junsu menoleh ke arah Sungmin sekali lagi, sebelum mengikuti Leeteuk keluar.

Mereka berjalan menyusuri lorong gelap. Hanya lorong ini yang temaram dibandingkan dengan lorong-lorong lainnya, dan Junsu mengerti apa maksudnya. Semakin dekat mereka dengan balairung istana, semakin ramai pula pengawal yang berjaga. Mereka membungkuk hormat saat kedua ratu itu berjalan melalui barisan pengawal, sampai ke aula tengah—dimana terdapat peti kecil yang terlihat sangat mewah, dipahat dari kayu jati yang tebal mengilap, dipenuh dengan ukiran serigala dan huruf Radourland, serta hiasan permata di sekelilingnya. Di bawah altar peti itu penuh dengan bunga-bunga putih dan persembahan ala Radourland. Di depan peti itu ada tiga orang pendeta yang membacakan mantera-mantera yang tidak dimengerti oleh Junsu.

Leeteuk berjalan mendekati para pendeta, sebelum mereka berhenti dan beranjak ke sudut lain. Ratu berambut coklat itu kemudian menoleh ke arah Junsu dan mengangguk. Junsu berjalan mendekati Leeteuk dan mereka berdua mulai berdo’a, sesuai dengan cara dan adat mereka masing-masing di depan altar itu agar jiwa suci yang tak sempat hidup di dunia itu bisa kembali dengan damai ke alam sana.

Junsu meneteskan airmatanya. Ia tahu bahwa ia harus kuat demi Sungmin, namun tetap terbesit hal itu di pikirannya—bagaimana anaknya yang belia mengalami semua ini, dan akhirnya harus kehilangan anak yang belum sempat dilahirkannya itu. Ia juga berdo’a agar putranya tegar menghadapi semua ini.

Beberapa orang yang diduganya sebagai anggota keluarga raja juga terlihat di sana. Anak-anak berlarian disekitar tempat itu. Dan empat orang dewasa yang sebagian besar wanita. Mereka melihat Junsu dan Leeteuk, namun tidak memberi salam ataupun menyapa. Mereka hanya berbisik ke sesamanya.

Ternyata bocah itu keguguran?! Memangnya kapan dia hamil?”

Kemana Kyuhyun pergi? Apa dia sengaja meninggalkan peri itu? Lagipula sepertinya Kyuhyun memang tidak menyetujui hubungan ini kan.”

Lihat! Kangin-appa sepertinya sudah gila. Buat apa dia mengadakan acara semewah ini untuk mayat anak yang belum lahir? Dan katanya akan diselenggarakan lima hari! Cucu laki-laki atau bukan… ini keterlaluan!”

Junsu melirik Leeteuk yang terlihat sama sekali tidak terganggu dan tergubris dengan bisikan-bisikan itu, yang mungkin adalah anak-anak dan menantunya. Namun bisa jadi mereka bukan anak dari Leeteuk. Hal itu sudah lumrah dalam keluarga kerajaan, sebagaimana kondisi dirinya di Hviturland. Sepertinya ada hal lain yang tidak Junsu ketahui dari keadaan keluarga ini, namun Junsu tidak mau ikut campur.

Mereka berada di sana sekitar setengah jam, dan Leeteuk menceritakan kepada Junsu mengenai apa yang terjadi. Junsu setuju bahwa gejala yang dialami Sungmin pada waktu purnama memang tidak normal, namun ia juga tidak tahu apa sebabnya. Junsu berjanji bahwa ia akan mencari tahu hal ini nanti, sesampainya ia di Hviturland. Saat mereka sudah kembali ke ruangan Sungmin, tiba-tiba seorang pengawal yang berjaga di depan pintu permisi masuk ke ruangan.

“Yang mulia, Yonghwa-sshi sudah kembali.”

Leeteuk spontan berdiri dari kursinya, membuat Junsu juga kaget dan ikut berdiri. Tanpa mengatakan apapun, Leeteuk segera keluar mengikuti pengawal itu hingga ke tengah aula, namun mereka tidak menemukan Yonghwa.

“Yonghwa-sshi dan Yang Mulia Raja pergi ke ruang baca.” Seorang pengawal di sana memberitahu mereka. Leeteuk bergegas ke sana, diikuti Junsu yang tak jauh dari belakangnya.

Sesampainya di ruang baca, mereka melihat Seohyun berdiri di depannya. Gadis itu melihat Leeteuk datang lalu membuang muka cepat-cepat. Sebenarnya ia lega Leeteuk datang karena sepertinya suaminya sedang dalam kesulitan, tapi ia tidak akan meminta Leeteuk untuk membantunya.

Dari luar sini mereka dapat mendengar pertengkaran antara sang raja dan menantunya.

“Appa ingin aku dibunuh pasukan Graentland?! Mana mungkin aku memaksa Kuixian seperti itu!” Yonghwa meninggikan nada bicaranya.

“Hal semudah itu pun kau tak bisa melakukannya! Dasar menantu tidak berguna!” Kangin menaikkan tangannya, seolah akan menyerang Yonghwa, namun urung saat Leeteuk mendadak masuk tanpa permisi ke dalam ruangan itu. Kangin melotot ke arahnya. Tak peduli sedalam apa cintanya kepada lelaki itu, dia tetap harus menghormati Kangin sebagai raja dan suaminya, apalagi di hadapan orang lain. Namun untuk saat ini, Leeteuk sepertinya tidak peduli bahwa dia telah membuat suaminya itu tersinggung atas sikapnya.

“Yonghwa-sshi, Apa kau bertemu dengan Kyuhyun?” Dia menarik lengan baju pria itu.

“Ibu ratu! Kuixian menolak mempertemukan kami atas permintaan Kyuhyun! Bagaimana mungkin aku dan beberapa pengawal yang datang ke sana memaksanya!” Yonghwa sangat lega sang permaisuri datang ke ruangan dan menyelamatkan dia dari ‘sambutan’ yang akan dilayangkan sang ayah mertua tadi. Ia mundur, mengambil beberapa langkah aman dari Kangin dan berdiri di samping Leeteuk. Kangin hanya menggeram melihat mereka dan menurunkan tangannya.

“Kalau begitu bawalah aku ke sana, biar aku yang bicara padanya!” Kontan saja mata Yonghwa dan Kangin membelalak. Terbawa emosi yang sedang memuncak, Kangin membentak Leeteuk.

“YAH! KAU GILA?! Kau tahu kan bagaimana sikap Kyuhyun kepadamu? Bagaimana mungkin dia akan keluar jika kau yang datang menjemputnya!” Kangin bahkan menendang kursi di depannya sampai hancur tanpa mengetahui hal itu makin menekan mental Leeteuk.

“Siwon sudah menjemputnya. Tidak perlu ada yang pergi ke sana lagi. Putraku pasti bisa membawa putra kalian kembali, sekalipun dengan menyeretnya.” Kangin mendelik marah ke arah Junsu. Bayangan anaknya diseret dan dipermalukan seperti itu membuatnya menghela napas penuh amarah.

“Jangan macam-macam, Junsu-sshi… Kau tahu kau sedang berada dimana saat ini?” Dia melangkah dua kali ke hadapan Junsu yang masih jauh berdiri di dekat pintu.

“Kau ingin memulai konflik antara kedua Negara ini? Baguslah, kupikir itu lebih baik daripada aku yang mulai duluan melihat apa yang sudah anakmu lakukan pada anakku.” Perang dingin antar keduanya membuat yang lain berdiri kaku di tempat mereka masing-masing.

“Keluar dari ruanganku. Semuanya.” Ucap Kangin memecah keheningan.

“Dengan senang hati.” Junsu melangkah keluar terlebih dahulu, disusul oleh Yonghwa yang telah dipanggil Seohyun sambil berdesis geram dari balik pintu.

“I-Ibu ratu, ayo keluar!” Yonghwa menarik lengan Leeteuk dan membawanya keluar dari ruangan itu, meninggalkan Kangin yang saat ini sedang memunggungi mereka. Sesampainya diluar, Seohyun menarik Yonghwa dari Leeteuk dengan geram.

“Oppa! Aku sudah bilang jangan dekat-dekat dia! Kau mau digodanya, hah? Jangan-jangan kau memang suka padanya ya!” Yonghwa salah tingkah saat Seohyun menanyakan hal itu bertubi-tubi. Junsu memicingkan mata mendengar hal itu sambil melihat Yonghwa mendorong si gadis tadi menjauh dari ruangan. Namun Leeteuk tidak bereaksi. Wajahnya kosong menatap entah kemana.

“Jungsu-sshi?” Suara ratu negeri es itu membangunkan Leeteuk dari lamunannya.

“Bisa antar aku kembali ke ruangan Sungmin?” Leeteuk mengangguk gugup dan membawa Junsu kembali ke kamar menantunya, berpura-pura tuli pada ucapan Seohyun tadi.

.

oOoOoOo

.

Siwon sedikit mencondongkan bahunya, memberi aba-aba pada Sleipnir untuk mendarat tepat di depan gerbang utama Graentland. Tentu saja untuk memasuki kawasan ini bukan menjadi masalah baginya. Kerajaan ini tidak mungkin memiliki pelindung di atas langit, dan Sleipnir sudah jelas dengan mudah melalui penjagaan prajurit dan benteng-benteng di sekitar istana.

Ini bukan kali pertama Siwon datang ke negeri manusia. Karena sejujurnya, dibandingkan dengan Radourland, negeri putih memiliki hubungan yang lebih baik dengan Graentland. Tapi Siwon belum pernah menemui raja muda yang kini memerintah ras manusia. Dua generasi yang ia kenal sudah luruh dua puluh tahun lalu. Dan Siwon bahkan belum sempat menengok kematian Raja yang sebelumnya.

“Jangan halangi jalanku, prajurit.” Siwon mengibaskan jubahnya saat melangkah masuk, memamerkan seragam besi dengan pernik keemasan yang dengan jelas menunjukkan statusnya. Prajurit-prajurit itu memang tidak menghalanginya, tapi mereka juga tidak membiarkan Siwon melangkah masuk begitu saja. Dengan panik, mereka mengekor di belakang Putra Mahkota Hviturland dan buru-buru berlutut penuh hormat saat melihat sosok Raja berdiri di tengah balairung istana, seakan tahu bahwa ia sedang akan kedatangan seorang tamu penting.

“Pangeran Siwon. Selamat datang di negara kami.” Kuixian tersenyum ramah, dua tangannya terlipat ke belakang. Ia mengisyaratkan pada prajuritnya untuk segera pergi dari sana, hingga hanya tersisa dirinya dan Siwon di dalam balairung yang luas dan terasa kosong.

Siwon balas membungkuk saat Raja muda itu memberi penghormatan dengan begitu sopan padanya, tapi senyum tipis dan sorot mata yang awas menunjukkan betapa ia menunjukkan sikap waspada. Darimana Raja ini tahu namanya? Dilihat dari wajahnya, usianya masih begitu muda, bahkan untuk menjadi seorang raja.

“Sudah lama kau tidak berkunjung.” Kuixian tersenyum lagi, meski kini Siwon tidak membalas senyumnya lagi. Sorot waspada itu terasa semakin tajam saja.

“Tentu saja, terakhir kali aku datang kesini, bahkan mungkin kau belum terbentuk di dalam rahim ibumu.”

Kuixian tertawa mendengarnya, mencoba mengusir sedikit risau dalam hatinya mendengar nada kurang sopan dalam ucapan Siwon. “Aku pernah melihatmu, tiga puluh tahun yang lalu. Saat itu usiaku masih sepuluh tahun.”

Siwon mencoba menahan rasa terkejutnya, tapi tampaknya, ekspresi itu sudah terlanjur terlontar karena suara tawa Kuixian terdengar makin menggema di tengah heningnya suasana. Wajah yang ia lihat kini bukan wajah seorang manusia berusia empat puluh tahun. Makhluk fana yang lemah dan rentan ini tidak seharusnya memiliki wajah seorang pemuda berusia dua puluh tahun.

“Aku menikah dengan seorang siluman. Jangan kaget begitu, tuanku. Mari duduk, ayahku sering bercerita tentang dirimu. Angin apa yang membawamu kemari? Di tengah malam saat badai salju begini?”

“Sekarang aku tidak punya waktu untuk duduk-duduk dan mengobrol. Maafkan kedatanganku yang begitu lancang,” Siwon membungkuk sedikit, berusaha menunjukkan sikap sopannya. “Aku datang untuk menjemput Putra Mahkota Radourland.”

“Oh.” Kuixian tampak terkejut. Ekspresinya berubah enggan, tapi senyum ramah itu masih setia terpasang di wajahnya. “Kyuhyun-sshi menolak kehadiran siapapun. Yonghwa-sshi, menantu bungsu raja Kangin baru saja pulang setelah Pangeran menolak kehadirannya.”

“Ini keadaan darurat.” Tekan Siwon.

Kuixian mengangguk-angguk dan tersenyum. “Yonghwa-sshi mengatakan hal yang sama.”

“Mate-nya tengah sekarat, ia membutuhkan Kyuhyun sekarang.”

“Uhum.” Kuixian terus mengangguk-angguk. “Tapi Hyung-ku butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya. Kau dan aku tahu hubungannya dengan Mate barunya itu adalah sebuah paksaan. Berikan waktu untuk Kyuhyun-sshi menenangkan diri beberapa hari lagi.”

“Semakin kau biarkan dia untuk berpikir, semakin pendek pula usia Mate-nya.”

“Aku tahu itu.” Kuixian masih mengangguk lembut, seakan ia begitu mengerti tentang keadaan genting yang tengah terjadi. Tapi respon lembut dan senyum ramah itu justru membuat Siwon semakin geram.

“Kau bermaksud membunuh adikku?”

“Adik?” kening Kuixian mengerut.

“Mate yang dinikahi Kyuhyuh, dia adikku.”

“Oh.”

Respon itu begitu pendek, begitu mengikis kesabaran Siwon. “Kau mencoba membunuh adikku, Raja Manusia?”

“Aku tidak berkata begitu.”

“Kalau begitu biarkan aku masuk. Kau menikahi seorang siluman, sudah seharusnya kau tahu resiko ikatan mate.”

Kuixian mengangguk. Matanya terpejam sebentar. “Aku tahu.”

“Dan hukum mate dalam ras kami jauh lebih suci daripada ikatan mate ras manapun. Kalau sampai adikku mati, bukan hanya tidak bisa menikah lagi, paling tidak hyung-mu itu akan cacat atau mendekati sekarat.”

Kali ini Kuixian tidak menjawab Siwon. Wajahnya tertunduk sedikit, dan sesaat, ia tampak tengah berpikir.

“Aku sudah tidak punya waktu lagi, Raja Manusia. Biarkan aku membawanya pulang.”

Kuixian menghela napas. Ia berhenti tersenyum dan kini wajahnya murung. Tampaknya, pertahanannya sudah mulai runtuh. “Aku sudah merayunya untuk pulang sejak beberapa minggu yang lalu. Tapi ia bersikeras menolak dan memohon untuk tinggal sedikit lebih lama. Aku tidak mungkin memaksanya kalau ia sudah keras kepala begitu.”

“Kalau begitu biarkan aku menyeretnya pulang.”

Kuixian mendelik. “Tidak! Kau boleh membawanya pulang kalau dia menginginkan. Kalau dia tidak ingin, kau boleh kembali seminggu lagi.”

Siwon mendengus. Tapi ia tidak bisa menawar lagi, saat Kuixian berbalik dan melangkah turun dari singgasana.

“Mari, Siwon-sshi. Kuantar kau ke kamar Kyuhyun-sshi.”

Mau tidak mau, Siwon mengekor di belakang Raja Graentland. Perjalanan menuju kamar Kyuhyun terasa semakin panjang saat kesunyian itu menyergap keduanya. Jalan-jalan dan lorong-lorong terasa begitu sepi nyaris membuat kerajaan ini tampak seperti tidak berpenghuni. Diantara mereka, tidak ada yang berniat memecah keheningan itu, terlebih saat langkah Kuixian tiba-tiba berhenti di depan dua pintu besar yang tanpa berbalik lagi, Kuixin mendorongnya hingga terbuka lebar-lebar.

“Silahkan masuk, tuanku.” Kuixian masuk terlebih dahulu, lalu ia berdiri di sisi pintu, tersenyum begitu manis dan mempersilahkan Siwon untuk masuk. Siwon hanya melirik raja itu sekilas, melempar ekspresi curiga sebelum melangkah masuk.

“Kyuhyun.” Tanpa basa-basi, Siwon langsung saja menyerukan nama itu. Ia tidak ingin membuang waktu lagi. Di hadapannya, ranjang besar dengan kelambu diletakkan tepat di tengah ruangan, sesosok tubuh tergeletak tak bergerak di atas sana.

“Bangunlah pangeran, sebelum aku menyeretmu untuk pulang.” ujarnya tak sabar sembari melangkah mendekat. Kuixian tampak sekali tak suka mendengar nada bicaranya.

“Pangeran Siwon, maaf tapi ini bukan negaramu. Di tanah ini, kau harus menuruti permintaanku.” Suara itu terdengar mengecam.

Siwon menyeringai sembari mengangguk enggan, “Benar, ini negaramu. Biar kugendong pulang hyung-mu ini dengan penuh kasih sayang.” Ucapnya sembari meringis sinis. Kuixian tidak lagi berkomentar, terlebih saat dengan tidak sabar Siwon menyikap tirai ranjang itu dan menyaksikan sendiri sosok Putra Mahkota Radourland yang baru dilihatnya untuk yang pertama kali.

“Apa-apaan ini!”

Kuixian tersenyum miring sembari memejamkan matanya, ia sudah menduga reaksi itu.

“Kau mencoba mengecohku, Raja Manusia?” Siwon berbalik murka. Wajahnya begitu merah dan matanya mendelik marah. Bisa-bisanya manusia ini mempermainkannya! Dan yang terparah, ia bahkan tidak menyadari sihir tipuan ini sejak awal. Atau ini bukan sihir?

“Jangan berburuk sangka, Siwon-sshi.” Kuixian kembali memasang senyum ramahnya, matanya yang berkilat indah ikut tersenyum. “Aku dan Putra Mahkota Radourland memang memiliki wajah yang serupa. Raja Kangin sudah mengetahui hal itu, kerajaanku sudah mengenal dekat Pangeran Kyuhyun. Kau bisa bertanya pada Raja Merah kalau kau memang meragukan ucapanku.”

Siwon masih memandangi raja Graentland itu dengan raut tidak yakin. Ia tidak sepenuhnya percaya pada orang ini. Tapi nalurinya mengatakan bahwa memang benar adanya. Kedua orang ini memiliki wajah yang serupa, tidak ada sihir di antara mereka.

Siwon berpaling lagi, mengawasi sosok yang mulai terganggu karena ribut-ribut barusan.

Apa benar, orang ini Putra Mahkota Radourland?

Siwon berdecak sinis, suara tawa penuh ejekannya pasti sudah pecah sejak tadi kalau saja ia tidak ingat keadaan buruk yang menimpa orang ini bagaikan cermin bagi kondisi adiknya sendiri. Wajah pucat itu nyaris-nyaris membuatnya tampak mati. Bibir kering, lingkar hitam di kedua matanya, dan hidungnya yang memerah. Ia bahkan tampak lebih menyedihkan daripada manusia.

Kyuhyun mengerjap risih, ia segera menutupi matanya dengan lengan saat lampu kamar menyusup masuk begitu tirai ranjangnya terbuka. “Apa-apaan, Kuixian! Tutup tirainya.”

“Bukan aku yang membukanya, hyung. Seseorang memaksa bertemu denganmu. Bangunlah sebentar.” Sahut Kuixian dari arah pintu.

Kyuhyun mengerjap lagi, kali ini berusaha memfokuskan pandangannya dan benar saja. Siluet seseorang yang bertubuh lebih tinggi dari Kuixian tengah berdiri tepat di sisi ranjangnya.

“Kau tampak menyedihkan Putra Makhota.”

“Siapa…” suara Kyuhyun terdengar makin parau. “—kau?” nyaris tidak terdengar.

“Jung Siwon. Putra Mahkota Hviturland, kakak dari mate-mu.”

Kyuhyun meringis tanpa suara, kepalanya berdenyut saat ia memaksakan diri untuk duduk. Tapi ia sungguh-sungguh tidak kuasa, mendengar seseorang mengaku sebagai Putra Makhota Hviturland, memorinya tiba-tiba kembali pada kisah yang diceritakan ayahnya. “Kakak Sungmin? Kau ‘kakak Sungmin’ yang mencabuli adiknya sendiri itu?” Kyuhyun mencoba tertawa, tapi tawanya berakhir dengan sebuah seringai. Tidak memberi waktu pada Siwon untuk marah, ia segera menimpali. “Mau apa kau kemari?”

“Sungmin akan mati, kalau kau tidak pulang malam ini.”

Kyuhyun terdiam, sebentar. Tapi akhirnya ia hanya mendengus dan menarik tirai ranjangnya dengan kesal, kembali menutup tirai itu sembari berbaring memunggungi Siwon. “Kau berlebihan. Kalau Sungmin sakit, Raja punya tabib terbaik. Pulanglah, aku mau istirahat.”

“K-Kau!” Siwon mendelik kesal. “Aku benar-benar akan menyeretmu!” serunya tak sabar. Oh, ia benar-benar serius dengan ucapannya. Siwon sudah berniat akan menyeret Kyuhyun dan mengikatnya di bawah tubuh Sleipnir, namun sayang, Kuixian dengan gesit menghalanginya saat ia bermaksud membuka tirai ranjang itu lagi.

“Berhenti menghalangiku, Raja Manusia.” Siwon sudah ingin menghempas tubuh raja muda itu, namun ia masih cukup waras untuk tidak melakukan hal itu di negeri orang.

“Kau lupa pesanku?” Kuixian mendorong tubuh Siwon menjauhi Kyuhyun. “Kau tidak bisa memaksanya kalau dia tidak mau.”

“Kau tidak mengerti, ini keadaan genting!” Siwon nyaris terdengar memelas. Kyuhyun benar-benar tidak bisa tertidur lagi, matanya terpejam, tapi dengan jelas pula ia mendengar perselisihan antara Kuixian dan Siwon.

“Adikku sedang sekarat di negeri merah, dan disini Pangeran Manja itu enak-enakan meremehkan hidup-mati adikku! Biarkan aku menyeretnya!”
“Siwon-sshi, kau bisa kembali lagi minggu besok.” Kuixian mendorong lebih kuat, namun Siwon juga bertahan pada kedua kakinya. Ia berdiri sekokoh patung tepat di tengah ruangan. Kesabarannya habis sudah, tapi bukan lepas kontrol dan bertindak barbar, Siwon justru menunjukkan sikap tenangnya. Meski sekilas, pangeran itu tampak putus asa.

“Minggu besok yang akan dijumpainya hanya mayat adikku. Tapi aku tidak akan membiarkan Sungmin-ku mati. Tidak setelah Sungmin kehilangan bayinya.”

Kyuhyun terkesiap. Sontak membuka matanya. Namun seluruh tubuhnya terasa kaku.

Bayi? Apa-apaan ini?

“Kau dengar itu? Kau kehilangan anakmu, dua kali Cho Kyuhyun. Aku tidak peduli, tapi jangan pikir aku akan diam saja melihat adikku sekarat seperti ini.”

Kyuhyun menelan ludah getir, dengan berat menelaah kalimat yang terlontar cepat namun begitu jelas.

Kau kehilangan anakmu. Dua kali, Cho Kyuhyun.

“Kau akan pulang malam ini, dengan sukarela atau tidak.”

Kuixian mencoba menarik jubah Siwon dengan frustasi. Tentu saja tenaga mereka tidak sebanding kalau saja keduanya harus saling beradu tarik menarik di dalam ruangan ini. Tapi ia mulai tertarik untuk meneriaki pengawal di luar sana. “Siwon-sshi, jangan paksa aku memanggil pengawal. Tolong pergi sekarang.”

“Kuixian.”

Kuixian berbalik begitu mendengar suara Kyuhyun memanggilnya, dan betapa terkejutnya ia begitu melihat Kyuhyun sudah duduk di pinggir ranjang dan membuka tirai itu lebaw-lebar.

“Lepaskan Siwon-sshi. Aku akan pulang malam ini.”

.

oOoOoOo

.

Kedua putra mahkota itu melangkah masuk melalui balairung kerajaan Radourland, membuat semua pengawal di aula itu membungkuk hormat; sedang pangeran kerajaan itu sendiri melangkah lebih dulu dengan kesal, ia mengenakan jubah sewarna kelam yang biasa digunakan oleh kalangan umum. Tidak ada bordiran emas khas Radourland atau bahan pakaian yang biasa digunakan anggota kerajaan. Wajahnya kesal, namun jika diperhatikan dengan lebih dekat, ada gurat kecemasan yang tergambar dari rautnya.

Sekitar tiga meter di belakangnya, putra mahkota Hviturland mengikuti dengan wajah yang sama kesalnya dan tatapannya tertuju tajam kepada Kyuhyun. Berbeda dengan pemuda itu, Pangeran mahkota Hviturland mengenakan pakaian biru pucat; nyaris terlihat putih, jubahnya berbulu dan tebal dilapisi emas—menunjukkan dengan jelas identitasnya kepada orang-orang.

Keduanya berjalan terus melalui lorong koridor ujung yang tak lain menuju kamar sang putra mahkota Radourland, Kyuhyun. Lorong yang biasanya sepi itu entah sejak kapan menjadi ramai dengan pengawal dan pelayan kerajaan yang juga membungkuk hormat akan kedatangan mereka.

Sejujurnya, semakin dekat mereka dengan kamarnya, Kyuhyun semakin merasa gugup walaupun sakit kepala dan lemas yang menderanya semakin berkurang. Ia tidak tahu harus bagaimana saat menjumpai Sungmin nanti. Dan ia juga tidak siap melihat keadaan Sungmin. Separah apa penderitaan Sungmin sejak ia tinggalkan, sampai-sampai pengaruhnya begitu menyakitkan baginya? Bagaimana reaksi Sungmin nanti saat melihatnya?

Apakah dia akan senang? Atau marah padanya, sakit dan bercucuran air mata, sebagaimana yang menjadi bayangan Kyuhyun sepanjang perjalanan?

Atau kemungkinan terburuknya, Sungmin bahkan tidak punya tenaga untuk menangis, apalagi marah kepadanya.

Ia ingin segera bertemu Snowelf kecil itu, tapi di sisi lain ia juga menginginkan agar waktu berhenti, agar ia tidak pernah mencapai kamar itu. Namun dunia tetap berputar. Kyuhyun tiba di kamarnya.

Matanya segera bergerak mencari sosok peri mungil itu, namun yang menyambutnya di dalam ruangan bukan Sungmin, sosok asing dengan jubah kerajaan Hviturland menyambutnya di dalam sana. Tanpa bertanya pun Kyuhyun tahu orang itu adalah kerabat Sungmin. Namun bukan hal itu yang membuat Kyuhyun ingin memekik emosi saat ini. Kalau sebelumnya ia menduga sang Appa yang akan mencegah langkahnya, mungkin Kyuhyun masih akan bisa mengerti. Tapi ini…

Permaisuri yang sangat dibencinya itu tengah berdiri menghadang langkahnya tepat di depan.

Ini pertama kalinya permaisuri kesayangan Appa-nya itu berdiri begitu berani tepat dihadapannya, tanpa menatap lantai atau ke arah lain seperti biasanya; seakan menantangnya. Dan ini pertama kalinya pula dia melihat ekspresi yang berbeda dari wajah cantik itu, tak ada senyum dan kelembutan sama sekali. Diliriknya Appa-nya yang berdiri tak jauh di belakang, namun sang ayah hanya menghela napas, tak memberikan bantuan maupun penjelasan sama sekali. Ia tampak tak ingin ikut campur. Kyuhyun bahkan belum sempat memaki, saat tangan halus itu melayang tanpa aba-aba. Menghantam pipi kirinya hingga suaranya bergema di dalam ruangan. Kyuhyun yang sempat syok dengan serangan itu. Ia membelalak tak percaya sembari memegangi pipinya yang terasa menyengat.

Beraninya orang ini menyentuhnya!

“Kenapa kau meninggalkan Sungmin?” Leeteuk bergumam dingin, ditambah dengan sorot matanya yang kosong, pertanyaan itu terdengar begitu menusuk, seakan menujam langsung ke dalam mata Kyuhyun yang sama coklatnya. Kyuhyun menggeram, namun masih menahan diri. Ia menurunkan tangannya dan kini tampak semburat merah di pipi kirinya, tempat dimana tangan Leeteuk menghantam wajahnya. Leeteuk benar-benar memukulnya sekuat tenaga.

Ia memang bersalah, tapi itu tidak berarti orang rendahan ini bisa memukulnya!

Lebih baik dia dihajar atau ditendang Appa sampai berlumur darah daripada disentuh oleh orang ini!

“Bukan urusanmu. Minggir.” Kyuhyun langsung menjawab dan hendak berlalu ke dalam kamar, namun Leeteuk kembali menghalanginya.

“Jawab aku. Kau tidak tahu apa yang dialami Sungmin selama kau meninggalkannya! Kenapa kau lakukan itu?” Permaisuri raja itu meninggikan nada bicaranya, namun Kyuhyun hanya menjawab dengan desahan bosan. Ia bahkan tidak mau lagi menatap orang di depannya itu.

“Kau keterlaluan, Kyuhyun! Aku malu melihat tingkahmu seperti ini!”

Kyuhyun buru-buru memotong langkahnya dan berbalik menatap permaisuri dengan kesal.

“Yah! Apa kau harus mengatakan ini di depan semua orang?! Simpan saja ceramahmu itu, aku tak punya waktu untuk mendengarkannya!” Leeteuk tertawa pahit. Tentu, dia tahu kalau Kyuhyun malu, namun anak ini harus dipermalukan seperti ini sesekali karena tidak pernah ada yang melakukan ini padanya sebelumnya, termasuk Ibunya, istri pertama Kangin, yang telah meninggal saat ia masih anak-anak.

“Oh, kau masih punya rasa malu setelah ini terjadi Kyuhyun-ah? Kenapa kau bertingkah seperti ini? Apa appa dan umma-mu membesarkanmu menjadi pengecut seperti ini?!” Mata Kyuhyun sontak membelalak saat Leeteuk membawa-bawa perihal ayahnya, terlebih lagi mendiang ibunya.

Darah Kangin terasa dingin saat dilihatnya kilatan amarah dimata anak bungsu-nya itu, namun ia tak bergeming—Leeteuk bahkan tidak perlu mengatakannya, Kangin mengenalnya lebih dari siapapun.

“DIAM! JANGAN MEMBAWA-BAWA UMMA ATAS APA YANG KULAKUKAN!” Bentaknya kepada lelaki yang lebih pendek darinya itu—ia sempat lupa bahwa ayahnya ada di sana dan mungkin akan menyerangnya karena sikapnya kepada permaisuri. Penjaga dan maid yang ada di luar ikut menegang, tak berani mengintip ke dalam namun mereka bisa mendengar pertengkaran itu.

Kyuhyun melangkah mendekati Leeteuk yang masih kaget karena bentakan Kyuhyun, matanya berkaca-kaca saat Putra mahkota itu menatapnya penuh amarah dan berbisik penuh kebencian.

“Kau tidak perlu menasehatiku. Jangan ikut campur dan sok baik padaku! Jangan menyentuhku! Jangan berlagak seolah kau adalah ibuku hanya karena kau telah menikah dengan Raja. Harusnya dulu kau nasehati saja dirimu agar tidak menggoda suami orang! Dasar Jalang—”

“KYUHYUN!”

Sebelum Kyuhyun selesai mengumpat, Kangin membentaknya. Kyuhyun terdiam menatap wajah Leeteuk yang juga terdiam, namun ia tidak berniat meladeni ayahnya. Putra mahkota itu segera memalingkan wajahnyadengan jijik dan berlalu menuju ke ranjangnya untuk melihat Sungmin.

Kangin melihat punggung Leeteuk sedikit bergetar; hampir tak terlihat. Namun sebelum ia sempat melangkah mendekati istrinya itu, Leeteuk sudah menghambur keluar dari ruangan itu tanpa menoleh.

.

oOoOoOo

.

Kangin bergegas pergi menyusul istrinya, meninggalkan Kyuhyun di dalam kamar bersama Putra Mahkota dan Ratu Hviturland. Keduanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari sana hingga Kyuhyun berpaling dan menatap mereka dengan ketus.

“Bisa beri kami waktu sebentar?” ujar Kyuhyun datar, membuat Junsu tersenyum hambar. Ratu itu mengangguk mengerti, meski jauh di dalam hatinya ia tengah memaki.

“Sungmin tidak membutuhkan obat apapun, kaulah obatnya, Kyuhyun-sshi. Peluk dari depan dan usap punggungnya seperti ini—” ujarnya lagi sembari memperagakan gerak memutar dengan telapak tangannya. Sedangkan Kyuhyun tidak berniat mendengarkannya sama sekali dan justru berdiri memunggungi Junsu.

“Aku tahu harus melakukan apa.” Seloroh Kyuhyun sontak membuat Siwon emosi.

“Kau!”

“Siwon-ah.” Junsu menggeleng ke arah Siwon, memperingatkan dengan menahan tangannya di depan dada Putra Tirinya itu.

“Tolong jaga Sungmin-ku, Pangeran Kyuhyun.”

Kyuhyun tidak menjawabnya sama sekali. Saat terdengar suara pintu tertutup, Kyuhyun segera membaringkan dirinya di sisi Sungmin dan menarik mate-nya itu mendekat, lalu mendekap tubuh muda itu erat ke dadanya. Kyuhyun memang tidak berniat mendengarkan khotbah Ratu Putih, tapi sesungguhnya hal yang membuatnya terpekur sejak saat ia melangkah ke dalam ruangan ini adalah— aroma aneh yang terasa familiar, membuat denyut di kepalanya perlahan memudar. Dan sesaat ia menatap wajah pucat Sungmin, Kyuhyun tahu bahwa pesan yang dibawa Yonghwa beberapa hari yang lalu benar-benar bukan trik ayahnya. Apa yang dikatakan oleh Putra Mahkota Hviturland benar adanya. Kalau ia tahu sejak awal tentang beratnya ikatan mate kaum peri, Kyuhyun tidak mungkin meninggalkan Sungmin. Ia tidak berniat melukai Sungmin sampai seperti ini, apalagi berniat untuk membunuhnya. Kalau saja ayahnya yang bodoh itu tidak menyembunyikan hal sepenting ini—

Kyuhyun mengerang kesal.

Tapi diam-diam, ia juga menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saja saat itu ia tidak mementingkan egonya, tidak mengedepankan perasaan kesalnya pada sang Appa, tidak bersikap kekanakan dan egois. Setidaknya kalau saat itu ia memikirkan kepentingan Sungmin, bocah ini tidak perlu berjuang antara hidup dan mati.

Kyuhyun mengatup wajah Sungmin yang tengah terlelap begitu dalam. Panas wajah peri muda itu terasa begitu membakar, lingkar mata hitam dan raut pucat pasinya sempat membuat Kyuhyun meringis. “Aku akan cari tahu lebih banyak.” Janji Kyuhyun pada dirinya sendiri. Ia sadar kini bahwa dirinya tidak tahu apa-apa tentang snowelf. Dan karena mate-nya kini salah satu dari kaum peri, mau tidak mau, Kyuhyun akan mencari tahu lebih banyak. Ia tidak bisa membiarkan hal seperti ini terulang lagi.

“Karena kita berdua sudah terjebak seperti ini—” Kyuhyun menghela napas. Mencondongkan bahunya dan mendekatkan wajahnya dari Sungmin, sebelum perlahan, ia mengecup bibir pucat itu dan menekan tubuh Sungmin semakin erat dalam pelukannya. Kyuhyun menyadarinya, saat perlahan-lahan, panas tubuh Sungmin berkurang seiring dengan lamanya ia mempertahankan ciuman itu.

.

oOoOoOo

.

Hyung.

Kyuhyun menggeliat, mencoba membalik posisi tidurnya namun seseorang menarik tubuhnya berbalik ke arah yang berlawanan.

Hyuuung.

Kyuhyun kembali mencoba membalik tubuhnya, namun lagi-lagi seseorang menghalanginya. Ditambah dengan satu tamparan di pipi dan dua tangan kecil yang mencoba membuka paksa matanya, Kyuhyun benar-benar harus terbangun pagi itu. Kyuhyun mengeram marah, siap meluapkan emosinya. Namun begitu suara teriakan nyaring menyambutnya, Kyuhyun bahkan hanya mampu menganga terkaget-kaget.

“Hyungaaah!” suara itu memekik senang.

“S-Sungmin-ah—” Kyuhyun tercekat. Wajah putih cerah Sungmin menyambutnya dengan senyum yang mengembang lebar-lebar. Remaja Snowelf itu kini duduk melipat kedua kakinya di atas ranjang sembari menghadap Kyuhyun, ekspresinya yang semua cerah tiba-tiba berubah murung. Kyuhyun baru akan bertanya, saat tiba-tiba Sungmin berinisiatif menjawab kekhawatiran hyung-nya.

“Aku mimpi buruk!” adu Sungmin dengan wajah memelas.

“Mwoh?” Kyuhyun semakin melongo.

“Aku mimpi rantai Chimeramu terlepas lalu dia mengejarku! Aku berlari keluar istana dan aneh sekali, masa istanaku ada di depan istana ini ya? Apa Appa berniat memindahkannya kemari?” Sungmin mengetuk dagunya dengan jari telunjuk, tapi tiba-tiba ia teringat dengan plot awal kisah tentang mimpinya. “Ah! Terus-terus, sebelum Chimera itu mencapai kakiku, kau datang dan membelah lehernya. Hekh! Ekh!” Sungmin dengan bersemangat memperagakannya, mengerat lehernya sendiri sembari menjulurkan lidah. Dan kisah itu diakhiri dengan sebuah komentar pendek, yang sedikit melenceng dari kisah awal. “Semuanya mati. Kau jahat sekali, ih.”

“Kau mengataiku jahat? Aku menyelamatkanmu bocah!” Kyuhyun mendelik, dongkol. “Itu tidak dihitung mimpi buruk. Cepat tidur lagi, ini masih pagi.” Kyuhyun menarik tangan Sungmin, memaksanya untuk berbaring lagi. Nada suaranya yang meninggi ketus berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang seketika terasa lega.

“Kemarin kau bilang Pangeran Keren harus bangun pagi-pagi?” Sungmin mengeluarkan protesnya lagi, meski ia tidak menolak saat Kyuhyun memeluknya.

“Kemarin?”

“Kemarin!”

Kyuhyun mengerutkan keningnya. Ia terdiam sesaat untuk berpikir, satu dugaan muncul dalam kepalanya. “Kemarin kapan?” tanya Kyuhyun mencoba memancing.

“Kemarin waktu kita main di taman! Kelinci, ingat?” Sungmin mendengus, kesal dengan sikap lamban hyung-nya. Dan melihat Kyuhyun tengah terdiam sembari menerawang, Sungmin semakin merasa kesal. “Kau kenapa sih? Pikun sekali.”

“Yah!” Kyuhyun berseru marah. Berani sekali bocah ini mengatainya pikun! Bagaimana mungkin pangeran tampan seperti dirinya mengidap penyakit pikun? Ia hanya berpikir kalau-kalau Sungmin tidak mengingat kejadian yang sesungguhnya sama sekali. Dan tampaknya dugaan itu benar. Kyuhyun bisa menghela napas lega sekarang, setidaknya, ia tidak harus menghadapi kebencian Sungmin akan sikap pengecutnya beberapa bulan yang lalu.

“Heh ahjussi pikun, jangan bicara keras-keras. Telingaku sakit.”

Kyuhyun semakin mendelik, baru akan meluapkan kekesalannya saat tiba-tiba orang lain masuk ke dalam kamar dan menginterupsi pertengkaran kecil mereka. Kyuhyun tidak berniat berbalik, seharusnya. Sampai Sungmin tiba-tiba bangkit dengan antusias berlebih dan berbaring tengkurap di atas perut Kyuhyun.

“Siwon-hyung!” serunya kontan membuat Kyuhyun mendelik lalu refleks memeluk pinggul Sungmin.

“Minnie!” Siwon memekik senang, baru akan berlari untuk memeluk adiknya saat tiba-tiba Pangeran Kyuhyun menarik tubuh Sungmin untuk kembali berbaring di sisinya.

“Diam disini, kau belum sembuh!” ujar Kyuhyun semena-mena sembari mendorong kepala Sungmin turun ke bantal dan memeluknya rapat-rapat, bermaksud menutupi tubuh snowelf muda itu ke dalam pelukannya.

“K-kau!/Tapi ada Siwon-hyung!” protes Sungmin dan Siwon bersamaan.

Kyuhyun hanya terbatuk kecil dan kembali memeluk Sungmin erat-erat. Tidak peduli pada kehadiran Pangeran Hviturland yang sudah berapi-api di pintu kamarnya dan terus saja melanjutkan kegiatan tidur paginya. Kalau saja Junsu, Kangin, dan Leeteuk tidak datang segera ke kamar itu, baik Kyuhyun dan Siwon pasti sudah saling bertumpah darah di dalam kamar dengan Sungmin sebagai penontonnya.

“Sungmin-ah sudah sadar!”

“Eomma!”

Kali ini Kyuhyun sudah tidak bisa lagi menghalangi Sungmin. Terlebih saat bocah itu melompat dengan antusias dari atas ranjang, membuat semua orang di dalam kamar melotot kaget dan buru-buru merentangkan tangan untuk menangkapnya.

“Eomma lama sekali!” Sungmin segera memeluk Junsu, membenamkan wajahnya di ceruk leher sang ibunda. Siwon tersenyum lembut, tidak jadi meluapkan amarahnya dan beralih untuk mengusap rambut Sungmin.

Kyuhyun melengos tak senang. Terlebih saat Sungmin beralih untuk memeluk kakaknya. Kakaknya yang mesum itu? Dengan ketus Kyuhyun beranjak mendekati ayahnya yang berdiri terdiam di sisi ranjang, ratu pun hanya tersenyum tipis menyaksikan reuni keluarga kecil Sungmin. Tapi siapa yang peduli. Kyuhyun membisikkan sesuatu ke telinga ayahnya yang sontak membuat Kangin membulatkan mata. Memandang Kyuhyun sekali sebelum mengangguk pelan.

“Junsu-sshi, Siwon-sshi. Mari kita keluar sebentar, biarkan Sungmin istirahat lebih lama lagi.” Kangin mencoba menggiring keduanya keluar kamar, tapi baik dari pihak Junsu maupun Sungmin sama-sama tidak mau saling melepaskan satu sama lain.

“Aaaah!” Sungmin melenguh kecewa, memegangi lengan Junsu erat-erat.

“Eomma keluar sebentar, baby tidur disini dengan Kyuhyun-hyung, ne?”

Sungmin menggeleng dengan wajah ditekuk. “Aku mau ikut eommaaa!”

“Kau mau ikut eommamu? Yasudah sana pulang. Jangan kembali lagi.” Sahut Kyuhyun ketus sembari kembali berbaring di ranjangnya. Memunggungi semua orang dan berpura-pura tertidur. Sungmin terpekik panik. Tiba-tiba merasa takut saat nada bicara Kyuhyun terdengar begitu mengusir.

“B-beraninya!” Siwon menunjuk tubuh Kyuhyun dengan murka. Tapi lagi-lagi, emosinya harus tertahan saat dengan paksa Raja Radourand merangkulnya untuk keluar kamar.

“Junsu-sshi? Mari…” Leeteuk bergantian mengajak Junsu. Ratu Putih itu hanya tersenyum sedih dan berusaha melepaskan rangkulan Sungmin, meski tampak enggan, snowelf muda itu tetap melepaskan tangan ibunya. Ia akan lebih enggan lagi jika harus keluar dari tempat ini.

“Hyuuung.”

“Apa! Kau mau pulang menyusu pada ibumu? Sana lakukan!”

Sungmin tidak menjawab, matanya terasa panas dan bibirnya mulai bergetar.

“Hiks—”

“Y-yah! Aish!” Kyuhyun melengos lagi, ia berdiri dengan gontai dan menarik Sungmin untuk kembali ke ranjang. “Sudah kubilang tidur saja! Sudah cup cup, kalau kau tidak mau diam nanti kulepaskan rantai chimera!” ancaman itu berhasil membuat Sungmin terdiam menahan tangis. Awalnya Kyuhyun sempat menyesal karena menggunakan ancaman kekanakan itu untuk menakuti Sungmin. Tapi ia tidak jadi menyesal, saat Sungmin memeluknya kuat-kuat dan membenamkan wajah erat di dadanya.

.

oOoOoOo

.

“Aku minta maaf untuk kejadian kemarin.” Kangin langsung menyampaikan hal itu begitu semua orang sudah berada di luar kamar. Mereka berjalan bersama menyusuri lorong, bermaksud menuju balairung depan istana. “Kyuhyun bilang, Sungmin tidak ingat apapun tentang sakitnya kemarin.”

“Ya. Aku bisa merasakannya. Dan aku juga minta maaf atas insiden kemarin.” Junsu merespon pelan. Siwon melirik Raja Merah sekali, sebelum kembali menatap jalan di depannya. Diam-diam ia merasa kesal pada berita itu. Padahal ia berharap Sungmin mengingat semuanya dengan jelas dan membenci Putra Mahkota Merah.

Leeteuk berjalan di belakang Raja, sejak tadi tidak berniat ikut dalam perbincangan itu meski ia tetap bersikeras mendengarkan.

“Sepertinya memang sebaiknya kita sembunyikan saja cerita tentang kehamilan dan anaknya yang mati itu, aku tidak mau Sungmin terlalu memikirkannya.” Junsu berujar, dan dari sisinya Siwon mendengus sinis dan berbisik “Sungmin tidak akan memikirkannya.”

“Kau mengatakan sesuatu, Siwon-sshi?” Kangin melirik Siwon, dan pangeran muda itu segera tersenyum ramah.

“Ah, tidak. Dan aku juga minta maaf soal semalam, Yang Mulia.” Siwon membungkuk hormat. Tidak sepenuhnya menyesal, sesungguhnya.

“Tidak apa.” Kangin mengangguk ramah, sama munafiknya dengan berpura-pura memaafkan Siwon. Dalam hatinya, ia berpikir untuk terus mewaspadai pangeran ini, mulai dari sekarang. “Aku akan mengatakan pada Kyuhyun dan semua penghuni istana, untuk menyembunyikan masalah ini dari Sungmin.” Kangin mengangguk mengerti. Ia dan Junsu berjalan bersebelahan, sedangkan Siwon mengekor di belakang Junsu dan Leeteuk menjaga jaraknya di belakang Kangin. Keempatnya sempat ditelan kesunyian saat tidak ada satupun dari mereka berniat untuk bicara.

“Sungmin adalah yang termuda di kaumnya.” Junsu tiba-tiba berbicara lagi.

“Maaf?” Kangin berpaling, tidak mengerti.

“Maksudku. Sungmin adalah snowelf termuda di negara kami, sama artinya dia tidak pernah melihat bayi. Atau siapapun yang usianya lebih muda dari dirinya.” Junsu tersenyum manis. “Karena itu, bisakah kau menunda rencana cucu laki-laki-mu itu dan menunggu hingga Sungmin sedikit lebih dewasa? Aku takut ia tidak siap jika dipaksa menjadi ibu di usianya yang begitu muda.”

Leeteuk menghela napas, diam-diam merasa setuju. Sedangkan Kangin dan Siwon sama-sama memasang wajah murung. Kangin tidak terima dengan saran itu dan Siwon tidak terima adiknya dihamili dengan paksa. Sekarang atau kelak menunggu Sungmin dewasa, Siwon sama-sama tidak menyetujuinya.

“Aku akan mencari jalan keluarnya.” Kangin menghela napas, akhirnya memberikan jawaban yang ambigu. Namun beruntung, Junsu tidak berniat menekannya lebih jauh. Mereka sudah sampai di tengah balairung, tujuh meter dari peti mati putra Kyuhyun. Junsu berbalik, melempar senyum dan sebuah bungkukan hormat ke arah Leeteuk sebelum bergantian ke arah Kangin.

“Sepertinya kami sudah bisa pulang sekarang.”

Siwon termegap, tidak setuju. “T-tapi ibunda, aku belum melepas rindu dengan Minnie!” protesnya setengah memelas.

“Siwon-ah.” Junsu berpaling, menatap putra tirinya dengan pandangan separuh memperingatkan. ‘Kita pergi tanpa sepengetahuan raja, dia pasti mencarimu. Kita harus pulang sekarang.’ Junsu melemparkan pesan itu lewat sihir dalam pandangan matanya yang berkilat. Siwon segera menunduk, baru teringat akan ayahnya.

“Kita akan kembali lagi.” Sambung Junsu pendek. “Kehadiran kami masih diterima disini bukan, Yang Mulia?”

“Oh tentu saja! Silahkan berkunjung kapanpun kalian mau.” Kangin tertawa, nada bicaranya terdengar sedikit hambar. “Mari, biar kuantar sampai ke depan.” Ujarnya setengah bahagia, senang karena akhirnya dua tamu tak diundang ini memutuskan untuk pergi.

Kangin mengantar mereka sampai ke depan gerbang utama istana, setelah itu Junsu bersikeras untuk melanjutkan perjalanannya sendiri. Hanya sepuluh meter sebelum mereka mencapai Sleipnir yang tengah terduduk tenang di depan halaman istana Radourland.

“Aku belum menyerah ibunda.” Siwon berbisik, memastikan suaranya terdengar hanya untuk Junsu.

“Aku juga.” Junsu menjawab datar. Sepenuhnya mengerti arti ucapan putra tirinya.

“Akan kucari cara untuk memutuskan ikatan mate mereka, Sungmin akan pulang ke negara kita.”

“Akan kudukung usahamu, Siwon-ah.” Junsu berpaling ke arah gerbang, kembali melambaikan tangan dan tersenyum, berbanding terbalik dengan kalimat yang diucapkannya pada Siwon. “Lebih baik mati daripada membiarkan Sungmin-ku menderita di negeri barbar ini.”

.

oOoOoOo

.

Setelah memakan waktu setengah hari, Siwon dan Junsu berhasil mencapai langit-langit Hviturland. Pemandangan yang serba putih dan terkesan ‘mati’ itu membentang ke segala arah. Semuanya tertutup salju, namun masih ada hutan pinus disebagian besar daerah. Matahari sudah tenggelam sejam tadi. Beruntungnya tidak ada hujan salju malam ini.

Penjaga kerajaan sempat melihat Sleipnir memasuki daerah belakang istana, namun tidak menghentikannya karena mereka tahu benar hanya satu orang yang memiliki makhluk itu di daerah ini—sang putra mahkota, Jung Siwon. Sleipnir menapak ke permukaan tanah dan mulai melambat. Begitu mereka berhenti di depan pintu belakang istana, Siwon turun terlebih dahulu kemudian mengulurkan tangan untuk menggendong sang ratu turun dari makhluk tinggi besar itu. Siwon menghela napas dalam, tak bisa menyembunyikan kekecewaan dan kesedihan yang dirasakannya, terutama saat ia tidak bisa melepas rindunya pada sang adik.

Junsu juga hanya bisa menghela napas pelan melihat Siwon yang jadi tak bersemangat begini. Ia mengusap kepala Siwon pelan.

“Kita akan cari cara untuk menyelamatkannya dari sana.” Siwon meringis, bermaksud tersenyum tapi rasanya terlalu canggung. Terlebih saat ratu yang usianya lebih muda dari dirinya ini mengusap kepalanya seperti bocah kecil.

Siwon menarik kekang Sleipnir dan mengangguk lagi. “Ibunda, pergilah beristirahat sekarang.”

Namun mereka melupakan satu hal yang sangat penting. Tiba-tiba Sleipnir mengikik gelisah, kedua Snowelf itu bergeming sebelum menoleh kaget ke arah pintu masuk. Di sana, berdiri sang Raja Negeri Hviturland—suami dan ayah mereka. Tanpa perlu suara, hawa keberadaannya yang dengan sengaja menguar di udara sudah cukup untuk membuat mereka merinding dan menyadari keberadaannya.

“A—Appa.” Siwon berbisik pelan, takut. Junsu tidak berkata apa-apa, namun ia tak bisa melepas pandangan dari pria itu.

Masih dalam pakaian formalnya, wajahnya yang ‘gelap’ dan ekspresi tidak senang itu penuh guratan-guratan amarah. Namun Junsu memperhatikan dengan jelas saat satu guratan hilang dari wajah raja setelah kedua mata birunya bergerak ke kanan dan kiri lalu kembali terpaku pada mereka berdua. Tangan Junsu terkepal emosi, ia tahu apa yang membuat Yunho tampak begitu lega… Mereka kembali hanya berdua. Tidak ada tanda-tanda Sungmin bersama mereka.

“Masuk ke kamarmu. Kau tidak kuizinkan keluar dari sana sampai gerhana selanjutnya.” Yunho melotot ke arah Junsu, namun ratu itu hanya bergeming.

“Langsung ke topik permasalahan, hmm? Kau tidak berbasa-basi dulu, Yunho-sshi? Tidak menanyakan keadaan di perbatasan Hviturland dan Radourland? Atau mengenai perjalanan kami? Atau mungkin… menanyakan keadaan putra bungsumu di sana?” Entah setan darimana yang menggoda Junsu untuk membuka mulut seperti itu di depan Yunho yang tengah mendelik marah padanya, seolah ia tak takut mati. Siwon bahkan tercekat melihat Junsu berkata seperti itu.

“KUBILANG MASUK!” Yunho menghardik keras tanpa memperdulikan sindiran Junsu padanya. Ya, Junsu bahkan tergerak dari tempatnya berdiri, seolah mengharapkan Yunho akan memukulnya sekali atau dua kali. Ia akhirnya masuk setelah menguatkan diri untuk tidak menangis, meninggalkan Siwon berdiri sendiri di samping Sleipnir yang masih gelisah, apalagi setelah Yunho meninggikan nadanya tadi.

Siwon menelan ludah, menunggu Appa-nya menjatuhkan hukuman kepadanya setelah Junsu menghilang dari pandangannya ke pintu masuk di belakang sang raja. Pandangan bola mata biru yang dingin itu akhirnya bergerak ke arahnya, memberikan rasa mencekam langsung ke tulang-tulangnya.

Kenapa Siwon, Snowelf muda terkuat di Hviturland, takut dengan Appa-nya yang sudah tua itu? Jawabannya sederhana, karena bukan hanya sebagai raja, Yunho adalah Snowelf terkuat yang ada di sana. Meskipun ia semakin tua dan mungkin akan mati sebentar lagi, ia tetap tak terkalahkan. Selain itu, Siwon memang menghormati dia sebagai orangtuanya dan raja. Dan sang ayah sendiri tak pernah pilih kasih saat menjatuhkan hukuman. Saat masih muda dan nakal dulu, Siwon bahkan pernah dijatuhi hukuman cambuk oleh sang ayah.

“Siwon.” Suara yang menyebut namanya itu membuat tangannya bergetar. Ia harus menggigit bibir bawahnya sedikit agar tak kelihatan gemetar. Namun ia masih bisa menatap lurus ke dalam mata sang ayah, menanti hukumannya dijatuhkan.

Waktu terasa berlalu begitu lambat saat itu. Sampai akhirnya, ayahnya kembali membuka mulut.

“…Aku kecewa padamu.”

Siwon terbelalak melihat Yunho menurunkan pandangannya. Siwon berharap kata-kata kasar yang lainnya, namun bukan yang itu. Tidak… Appa bahkan tidak mengatakan hal itu saat memergoki Siwon mencium Sungmin dulu.

“Ap-Appa—” Siwon tergagap pelan, namun Yunho melanjutkan kembali kata-katanya.

“Mulai sekarang, kau tidak boleh meninggalkan Hviturland satu jengkalpun sampai batas waktu yang tak ditentukan.” Yunho berbalik memunggungi Siwon.

“Ta-Tapi Appa, aku adalah Ketua Ksatria Kerajaan! Bagaimana mungkin aku tidak bisa meninggalkan Hviturland?!” Yunho melangkah pelan ke dalam istana.

“Oh, tak usah memikirkan itu lagi. Zhoumi yang akan mengerjakan semua itu sekarang.” Ucapnya pelan sambil terus berjalan menjauh.

Seluruh energi yang ada dalam tubuh Siwon seolah menguap ke udara, menghilang begitu saja saat Yunho selesai berbicara. Ia terjatuh di atas lututnya, kecewa, marah, sedih, semua perasaan campur aduk. Ia menggenggam dan memukul salju di tanah dengan kesal.

Tidak ada yang lebih memalukan dan menyedihkan dari ini bagi Siwon.

Khh—” Bahkan napasnya tercekat ditenggorokan untuk berteriak, namun ia tidak bisa menangis.

Siwon merasa seolah telah kehilangan segalanya, padahal sang raja tidak mencopotnya dari posisi putra mahkota. Bahkan orang yang selalu ia temui saat ia merasa sedih dan kesal sudah tidak ada lagi di sini, ia sudah menjadi milik orang lain.

Kesedihan itu membuat Sleipnir ikut mengikik, menurunkan moncongnya untuk mendorong punggung Siwon yang tengah berlutut.

“…Minnie…” lirihnya pelan.

.

oOoOoOo

TBC

oOoOoOo

.

10 thoughts on “Cursed Crown | Chapter 8

  1. Aku sudah baca ini di ffn langsung pas dikasih tau kalo chapter ini udah update. Walaupun begitu terimakasih banget karna notifnya masuk ke email ku yang chapter ini.
    Di tunggu ya chapter selanjutnya.
    Sumpil *bahasa apa itu?* aku suka banget kyumin momennya di chapter ini ya walaupun kyuhyun nya masih agak begitu.
    Tapi serius ga sabar chapter 9, ga sabar baca kyumin momen lainnya hehehe

  2. shanty kyuminnie arashi says:

    Ya ampuuuunn…
    Untung siwon dateng buat jemput kyu…
    Klo ga … ga tau deh sungmin gmn nasib nya…
    Obatnya sungmin cm kyu aja ???
    Segitu kuatnya pengaruh kyu buat ming..
    Tp kenapa ming jd kaya lupa kejadian sebelumnya ya ???

    Kyu cemburu sama siwon ya ???
    Segitu ga sukanya saat ming panggil siwon…
    Yah … dan siwon jg blm nyerah buat ming dn ibundanya ming jg ternyata dukung siwon…

    Kasian jg siwon padahal dia jg berkorban buat ming..
    Lanjuuutttt…

  3. Astaga ini cerita….*sampe gatau harus komen apa*
    mengingat kyu yg 40 tahun dan min 14 tahun…
    ya ampun udah kayak kakek-cucu!!
    Tapi unik juga*khukhu
    So, mereka udah jadi mate kan? Kita lihat apa yg selanjutnya terjadi!~ lanjuuut yaa ^0^/

  4. vyan says:

    Ahirnya.. kyu pulang juga tanpa harus diseret siwon..
    buang tuh ego kyu.. ntar min knp2.. ntar nyesel..
    tp hebat bgt tuh ikatan mate.. cm knp min jd lupa ingatan gt??

    ga rela kl min mau dibawa plg ama junsu n siwon.. ada yunho yg segt bencinya ama min..
    msh ttp penasaran juga asal usul si min n ortunya..

    ditunggu chap lanjutannya..
    jgn lupa tambahin kyumin momentnya hehehehe

  5. princesskyu says:

    wah, akhirx ku balik lg, hwaa suka banget ama kyumin momenx. stelah skian lama gk bca ff pas buka email senang bnget soalx ffx pda update..
    gk sbar nunggu next partx..
    kyuminx d banyakin yah hehehe
    4jempol buat author hehee

  6. Rhaya says:

    Kyuhyun dataaaaang..
    Loh kok sungmin kagak inget soal sakit nya ya??😮
    terus siwon kenapa protectif banget ama sungmin?😮

    go to next chapter

  7. Akhirnya pulang juga lu bang kyu ahh lega. Eh sungmin amnesia gitu kak? .
    Siwon oppa apa yg kau rencanmakan?😭 biarkanlah kyumin bahagiaa huaa

Comments are closed.