Kitty-Kitty Baby! Flashback Last Part

Sungmin langsung berbalik lagi, kembali ke jalan yang ditunjuk oleh dua pengawalnya. Ia melirik Kona Beans untuk yang terakhir kali, baru menyadari logo kopi yang dilihatnya dulu memang sudah berganti dengan huruf-huruf yang tidak ia mengerti.

Satu yang ia tahu, ini tidak akan menjadi kali terakhir ia mengunjungi Kona Beans. Sungmin sudah mulai merancang rencana-rencana sederhana yang licik, untuk terus kembali kemari tanpa peduli pada peringatan kedua pengawalnya barusan.


.

oOoOoOo

.

Kitty-Kitty Baby © Miinalee

.

oOoOoOo

.


Hari itu, Sungmin berharap ia mengajak kedua bodyguardnya berkunjung ke tempat lain. Kemanapun asal mereka bisa mengulur waktu untuk pulang sedikit lebih lama. Karena begitu ia sampai di rumah, dua pelayan tergopoh-gopoh menyambutnya. Seunghyun sudah pulang, tiga hari lebih awal dari janjinya.

“Tuan Muda! Tuan Besar sudah menunggu sejak tadi!”

Dengan refleks, Sungmin mundur dua langkah begitu ia mendengar berita kepulangan Seunghyun. Padahal ia mengira bisa menikmati dua hari lagi untuk bermain-main dan mengunjungi Kyuhyun. Tapi mereka sudah terlanjur ada disini, Sungmin tidak memiliki pilihan lain kecuali menurut saat dua pelayan itu menuntunnya untuk naik ke lantai atas.

Sungmin bertemu pandang dengan Hyorin sebelum langkahnya beranjak naik menapaki tangga, perawat itu tersenyum hambar dan membungkuk ke arahnya, tidak berani mengucapkan sesuatu dan hanya mengekori dirinya dari belakang. Sebentar saja, Sungmin begitu berharap Hyorin bisa menemaninya saat ia dipaksa menyambut kepulangan Seunghyun. Tapi begitu ia masuk ke dalam kamar dan melirik Seunghyun yang terduduk di atas ranjang, Sungmin tidak lagi bisa berbalik apalagi meminta pertolongan. Dua pelayan tadi hanya mengambil tas kecilnya dan menanggalkan jaket yang ia kenakan. Setelah itu, keduanya beranjak pergi dan pintu kamar tertutup dari luar.

“Minnie, kau benar-benar menggunakan izinku untuk keluar?”

Sungmin tersentak saat Seunghyun tiba-tiba berbicara. Terlebih masternya mengungkit soal kepergiannya tadi. Ia bahkan tidak berani mendongak sama sekali. Apapun. Kalau master bermaksud melakukan apapun, bermaksud memukulnya, atau melampiaskan amarah padanya, Sungmin sudah pasrah dan hanya bisa memejamkan mata. Tapi tentu saja mutan itu tidak bisa menyembunyikan ketakutan yang seakan menekannya hingga ke dasar. Sungmin gemetaran dan suara ketakutannya keluar menjadi desis-desis tangis yang tertahan.

“Hei, hei. Kenapa?”

Sungmin belum mau membuka matanya, terlebih saat entah sejak kapan Seunghyun sudah berdiri di hadapannya. Menarik tubuhnya dan menggiringnya untuk berdiri tepat di depan ranjang.

“Minnie.” Seunghyun berbisik lagi, suara lembut itu tetap menyiratkan nada tegas. “Master tidak marah, master hanya bertanya. Apa jalan-jalannya menyenangkan?” Seunghyun menarik Sungmin untuk duduk di atas pangkuannya. “Lain kali kau boleh main tapi harus diawasi Hogun-sshi dan Nakagawa-sshi, arasseo?”

Sungmin berjengit, begitu tangan besar Seunghyun membelai tulang pipinya. Tapi sedikit demi sedikit, ia mulai berani mengintip. Wajah Seunghyun begitu dekat, senyum dan sorot mata penuh sayang yang dulu disukainya itu seakan sudah berubah warna. Ia tidak lagi menyukainya, ada tekanan menyesakkan yang menguar dari sana. Semakin dalam sang majikan memandangnya, semakin tidak tahan pula Sungmin menahan emosinya, ia mulai menangis terisak. Bermaksud menghentikan tangisnya dengan menggigit bibir tapi sekarang justru tubuhnya yang gemetaran.

“Minnie cengeng.” Seunghyun terkekeh, ingin merasa geli saat di lain sisi hatinya tersayat. Entah itu ekspresi ketakutan atau terharu yang tampak di wajah Sungmin, tapi ia memutuskan untuk mengabaikannya. Dengan mengecup kening mutannya dan merasakan begitu dekatnya jarak mereka, semua ini terasa lebih dari cukup.

“Jawab pertanyaan mastermu, apa jalan-jalannya menyenangkan?” tanya Seunghyun lagi, masih dengan nada lembutnya yang bukan membuat Sungmin merasa tenang, tapi justru membuat mutan itu semakin ketakutan dan buru-buru mengangguk seakan memberikan jawaban di bawah tekanan.

“Minnie tidak ingin bertanya kenapa master pulang lebih awal?” Seunghyun sadar betul, bahwa Sungmin tidak akan menjawab pertanyaannya. Karena itu ia menjawabnya sendiri, setelah mengecup habis dua bulir airmata yang menggantung di ujung hidung mancung Sungmin. “Master merindukan Minnie. Aku terbang dari Finlandia demi bertemu Minnie. Apa Minnie merindukan master, hm?” Seunghyun mengecup tengkuk Sungmin, sekilas seakan tak tersentuh. Ia ingin berada sedekat mungkin, serapat mungkin, menunjukkan betapa ia menyayangi mutan-nya ini. Namun Sungmin tidak memberikan jawaban pasti.

“Minnie tidak merindukan master?” Seunghyun mengulang pertanyaannya lagi, berharap sekilas anggukan akan diterimanya sebagai jawaban, tapi wajah pasi itu hanya menatapnya kosong. Mata Sungmin bergetar lemah, seakan menunjukkan betapa ia merasa lelah. Seunghyun tersenyum tipis, mengabaikan sikap enggan mutannya saat perhatiannya justru teralihkan pada hal lain.

“Ah, aku baru sadar.” Seunghyun mengusap pinggiran bibir Sungmin, menyapu plaster kecil yang tertempel di sudut-sudut bibir mutan itu dengan telunjuknya. “Hyorin sudah membukanya.” bisiknya serak sembari merekatkan jarak wajah mereka. Dibelainya pelan sisa-sisa luka yang mulai mengering di bawah bibir mutannya. Satu atau dua bulan lagi, luka ini pasti bersih dan tidak menyisahkan jejak. Membayangkan wajah manis mutannya kembali sempurna seperti sedia kala, membuat Seunghyun tidak lagi mampu menahan hasratnya. Ia bergerak maju –tidak mempedulikan Sungmin yang semakin gemetaran di atas pangkuannya— lalu membungkuk, condong untuk mengecup bibir Sungmin. Perlahan dan lembut, sebelum berubah tegas dan kasar.

“Sssh, relax Minnie.” Seunghyun menggiring Sungmin dan membaringkan mutannya di atas ranjang. Gerak tangannya begitu lembut dan perlahan, ditariknya turun sweeter tebal yang melapisi tubuh Sungmin. Kaus berbahan wol itu dengan mudah melebar turun melintasi bahu dan memamerkan dengan jelas putih leher Sungmin hingga ke dadanya.

Sungmin mulai terisak, memasang dua tangannya di dada Seunghyun, bermaksud melawan. Namun ia sendiri tahu, usahanya itu sia-sia. Ini bukan pertama kalinya Seunghyun memaksa berhubungan intim semenjak Sungmin kehilangan kitten-nya, tapi ia tetap tidak terbiasa. Bayang-bayang kekejaman Seunghyun berbulan-bulan yang lalu masih begitu rekat dalam memorinya.

“Mmmsh—” desis Sungmin setengah terisak, suara tangisnya menguat saat Seunghyun dengan sedikit memaksa bermaksud menarik celananya turun. Rasa panas wajah yang terpendam di ceruk lehernya semakin membuat Sungmin panik dan berusaha meloloskan diri ke samping.

“Sssh!” Seunghyun mendesis, setengah tak sabar ia menjagal pinggang mutannya. “Tenang, Minnie.” Ujarnya memperingatkan. Namun suara tangis Sungmin semakin mengencang, isak ketakutannya pasti terdengar hingga keluar kamar. Seunghyun tahu itu, ia berusaha menyumpal tangis Sungmin dengan satu ciuman namun gagal karena beberapa detik kemudian, suara ketukan di pintu menginterupsi kegiatan mereka.

Tuan Choi.”

Seunghyun mendengus. Berusaha mengabaikannya dan kembali mencondongkan wajahnya turun. Ia menggigit bawah bibir Sungmin, ingin melakukannya dengan lembut namun suara tangis Sungmin justru membuatnya kesal. Ditambah lagi dengan suara ketukan pintu yang terdengar makin tidak sabar—

“Diam Sungmin-ah!” bentak Seunghyun kesal, nyaris menampar wajah Sungmin saat lagi-lagi suara ketukan itu terdengar, kini semakin mengeras. Setengah marah, Seunghyun turun dari ranjangnya untuk membuka pintu.

“Tuan Choi.”

Seunghyun mendengus marah saat dilihatnya perawat Sungmin, Hyorin, berdiri gugup di depan pintu kamarnya.

“Ada apa! Kau mengganggu!”

“Maaf Tuan Besar, maaf.” Hyorin membungkuk berkali-kali. Kulit wajahnya yang sedikit gelap terlihat semakin memucat, mungkin ketakutan. Dengan tangan gemetar, ia menyodorkan sepotong amplop pada Seunghyun. “Aku lupa menyerahkan ini.”

“Kau tidak bisa menunggu sampai besok?” Seunghyun menerimanya dengan ketus. “Apa ini?”

“Hasil tes darah Tuan Muda. Mohon di cek, Tuan.”

Seunghyun melirik perawat itu, tidak ingin menunjukkan rasa terkejutnya. “Akan kucek di dalam.”

Pintu itu nyaris dibanting tepat di depan wajahnya, namun Hyorin segera menahannya. “U-uh, maaf Tuan. Hanya ingin menyampaikan hal penting.” Seunghyun tampak akan mengamuk, namun Hyorin buru-buru menyelanya. “Kandungan Tuan Muda masih sangat rapuh, mohon jangan dipaksa untuk berhubungan intim sampai tiga atau empat minggu ke depan.”

Seunghyun mendelik. “Kandungan?”

“Ne, Tuan.”

BLAM.

Kali ini pintu itu benar-benar dibanting tepat di depan wajah Hyorin. Seunghyun buru-buru berbalik dan menyobek amplop di tangannya. Ia terdiam sejenak, matanya masih belum beralih meski ia sudah selesai membaca seluruh isi surat itu. Diulangnya lagi dan lagi namun informasi yang tertulis disana tetap menyampaikan hal yang sama. Choi SungminPositive. Dan 5 weeks.

“Oh.” Seunghyun menghela napasnya, ia mendongak menatap Sungmin dengan mata membulat. “Minnie! Kenapa tidak bilang?”

Sungmin berjengit kaget saat Seunghyun tiba-tiba membentaknya. Ia buru-buru duduk dan bersandar ke belakang. Mencari-cari celah untuk kabur kalau-kalau master berniat memukulnya. Tapi ia benar-benar tidak mengira Seunghyun akan berlari dan melompat ke atas tempat tidur.

“A-ah!” Sungmin berbalik ke kanan dan berusaha turun dari ranjang. Namun Seunghyun bergerak lebih cepat. Pemuda itu menarik kaki mutannya hingga Sungmin kembali terbaring di atas ranjang. “Yah! Mau kemana kau!” sentak Seunghyun dengan seringai di wajahnya. Ia merayap ke atas tubuh Sungmin dan mengurung mutannya di bawah kukungannya. “Kau tidak boleh kemana-mana!” Seunghyun tersenyum nakal dan mencium hidung Sungmin.

Sungmin menggeleng panik dan buru-buru mengelak saat Seunghyun bermaksud mencium bibirnya lagi. Namun tampaknya Seunghyun tidak terlalu peduli pada penolakan Sungmin. Pemuda itu justru beralih mencium pipi Sungmin dan membimbing mutannya untuk duduk. Ia meletakkan tangannya di atas perut Sungmin sembari berujar lembut, “Ada kitten disini?”

Sungmin menelan ludah. Airmatanya masih menetes di bawah pipi tapi suara isaknya sudah menghilang. Ia turut meletakkan tangannya di atas perutnya sendiri dan ikut bertanya dalam hati. ‘Ada kitten disini?’

“Ya! Sekarang tidur-tidur-tidur!” Seunghyun memutus lamunan Sungmin. Ia kembali membaringkan mutannya lalu membenahi pakaian Sungmin, dengan gerakan yang sepuluh kali lebih lembut dari sebelumnya. “Master tidak akan pergi lagi sampai kesehatanmu membaik.”

Sungmin mendelik, nyaris merengut begitu mendengarnya. Tidak pergi? Ia nyaris melontarkan protes itu. Dan Seunghyun seakan menangkap pesan yang berlawanan.

“Sssh, tidur baby. Master tidak akan pergi, master akan menjagamu disini.”


.

oOoOoOo

.


Sungmin menapak di sisi jalan dengan begitu hati-hati, kepalanya tertunduk, sesekali ia mengintip suasana di sekitarnya dari balik tudung merah muda yang ia kenakan. Selama nyaris tiga bulan, ia sudah lebih familiar pada jalan-jalan di kota ini. Terutama jalan utama menuju Kona Beans. Jalan ini bernama Insadong-gil. Ramai nyaris setiap hari. Namun untuk hari kerja Senin hingga Kamis, setidaknya jalan ini sedikit lebih sepi dan Sungmin bisa lebih leluasa melaluinya tanpa takut bersentuhan dengan pengguna jalan lain. Ada nyaris lima puluh toko yang buka disepanjang jalan menuju Kona Beans, Sungmin memutuskan jumlah yang tepat setelah ia menghitung sebanyak tiga kali dalam satu minggu. Semuanya ada 57. Ada toko fashion, sepatu, dua belas kafe, tiga restauran, sauna, hingga klinik kecantikan tapi tidak satupun pernah dikunjunginya. Ia tidak berniat sama sekali karena satu-satunya tujuan Sungmin datang kemari hanyalah Kona Beans. Kyuhyun.

“Yah Sungmin-aaah! Kau datang lagi!” suara Max yang menyambutnya dengan ceria sudah tidak begitu mengejutkan lagi bagi Sungmin. Mutan itu hanya mendongak sedikit, balas melempar senyum tipis pada Max sebelum beralih melirik ke dalam kafe, mengabaikan jerit histeris Max yang nyaris kesetanan saat melihat senyum menggoda Sungmin.

Sungmin sedikit berjinjit, berusaha melihat melalui puluhan kepala yang berkerumul di dalam sana. Beberapa pelayan muncul, tapi tidak ada sosok yang begitu dicarinya sejak tadi.

Eh? Tidak ada Kyuhyun?

Sungmin merengut, kecewa. Sekali lagi memastikan dengan mengubah posisi berdirinya. Tapi ia tidak menemukan sosok Kyuhyun di dalam sana. Apa Kyuhyun ada di dalam ruang karyawan?

“Yah! Sungmin-ah!”

Sungmin berjengit, kaget. Renungannya terganggu begitu tangan besar Max melambai-lambai di depan wajahnya. Mutan itu merengut, tapi Max justru membalasnya dengan senyum lebar yang kelewat centil. “Mau es Krim?”

Sungmin menggembungkan pipinya, mengungkapkan rasa sebalnya tapi Max lagi-lagi mengeluarkan nada-nada mengerikan seperti ‘Kyaaaa!’ dengan suara beratnya itu. Tangan besar itu bahkan sempat-sempatnya mencubit pipi Sungmin, meski mutan itu sudah mulai terbiasa dan membiarkan Max mengusap kepalanya yang tertutup tudung.

“Kau mau eskrim apa, Sungminnie?”

Sungmin mengangkat jarinya, lalu menunjuk gambar eskrim yang selalu dipilihnya, sejak kemarin kemarin dan kemarinnya lagi.

“Strawberry lagi? Tidak mau coba yang lain? Vanilla? Coklat? Greentea?”

Sungmin menggeleng malas, ia maju dan berdiri lebih dekat dari meja eskrim. Sembari melirik-lirik ke dalam, mutan itu berdiri dengan bertopang dagu di atas meja.

“Oke baiklah, strawberry lagi untuk hari ini.” Max langsung berbalik, mengerjakan pesan Sungmin meski sesekali ia menengok untuk melirik Sungmin. Max bukan tidak mengetahuinya, ia menyadari arah mata Sungmin yang terus mencari-cari ke dalam sana. Tapi pemuda itu tidak bicara apa-apa, ia malah mengomentari hal lain. “Tudung barumu lucu, Sungminnie.”

Perhatian Sungmin teralihkan kembali, mutan itu menatap Max dengan mata yang membulat besar. Sedikit tersipu meski bukan dirinya yang dipuji. Ia memegangi tudung di bagian cupingnya yang dijahit dengan bentuk strawberry, mencuat keluar dan dengan sempurna membentuk cuping baru di atas tudungnya meskipun mungkin, Max tidak tahu kalau benar-benar ada cuping sungguhan di balik sana.

Max tersenyum geli, dalam hati meringis melihat Sungmin yang mungkin tidak sadar telah bersikap kelewat imut di depannya. Mutan itu tengah tertunduk dan tersipu-sipu sembari memegangi cuping tudungnya, kalau tidak ada pembatas meja eskrim diantara mereka, Max pasti sudah menarik tubuh Sungmin dan memeluknya erat-erat. Cium sedikit kalau boleh. Tapi beruntung, Max masih punya pertahanan diri yang kuat. Ia beralih dengan mencoba mengomentari hal lain. “Oh iya, kau agak gemukan ya?”

Ekspresi Sungmin kontan berubah, wajahnya memucat dan bibirnya mengatup terbuka. Saat itu Max tahu kalau ia sudah mengomentari hal yang salah. “A-ah! Itu bukan kritik kok! Maksudku, kau tambah chubby, tambah manis. Jangan dipikirkan, Sungmin-ah! Kau makin manis dari hari ke hari! Ahahahaha!” Max tertawa canggung. Tapi Sungmin sudah terlanjur merengut. Mutan itu berhenti bertopang dagu dan mengalihkan pandangan ke dalam kafe, Max menganggapnya sebagai tindakan merajuk.

“Tunggu disini, aku punya sesuatu. Jangan kemana-mana oke?”

Sungmin berpura-pura tidak mendengarnya, ia hanya mendengus ‘huh’ dan terus memandang ke dalam kafe. Begitu Max meghilang masuk ke dalam ruang karyawan, Sungmin menghela napas berat. Pandangannya berubah sayu, ia menekan perutnya dengan gerakan lemah. Hoodie besar yang ia kenakan berhasil menutupi ukuran perutnya, Max tidak akan pernah tahu bahwa ada kitten di dalam sana, tidak jika Sungmin berhenti mengunjungi tempat ini dimulai sejak bulan depan. Karena saat bulan ke-4, ukuran kitten akan jelas terlihat setebal apapun hoodie yang ia kenakan. Tapi hanya memikirkan kemungkinan bahwa ia tidak bisa berkunjung lagi kemari… Sungmin mendesah sedih. Tidak bisa melihat Kyuhyun lagi, tidak bisa mendengar ocehan Max lagi. Sungmin menghela napas dan tidak berubah dari posisinya meski ekor matanya menangkap kehadiran Kyuhyun di dalam kafe. Sungmin hanya bisa memandangi pemuda pujaanya itu dalam diam, dalam kesedihan.


.

oOoOoOo

.


Hyorin mengernyit saat mendengar suara Soyu berteriak-teriak memangil Dasoom dari ruang depan. Dua orang pelayan lain buru-buru masuk ke dapur untuk mengambil gelas dan botol air, kemudian kembali tergopoh-gopoh keluar dapur. Penasaran, Hyorin membawa langkahnya menuju ruang depan. Dilihatnya pelayan dan penjaga berkumpul ramai.

“Ada apa? Kenapa rusuh sekali?” Hyorin menepuk pundak Soyu, begitu Soyu berbalik. Hyorin menyadari ada yang tak beres terjadi saat ini.

“Tuan Besar pulang lebih awal! Dia bertanya apakah Tuan Muda ada di rumah.” Jawab Soyu gugup. Hyorin mendelik, ia bertukar pandang khawatir dengan Dasoom yang sudah berdiri di depan pintu siap menyambut Tuan Besar mereka.

“Kau jawab apa?”

“K-kubilang Tuan Muda sedang jalan-jalan.” Soyu menjawab gemetaran. Hyorin hanya melengos kecewa.

“Bodohnya!”

“Maaf! Aku tidak mungkin berbohong! Tuan Besar pasti akan langsung mencari Sungmin-sshi. Sekarang dia berniat menjemputnya sendiri.” Soyu menunduk, merasa bersalah. Tapi ia sungguh-sungguh tidak mungkin berbohong. Dan Hyorin membenarkannya, perawat itu mengangguk lesu dan buru-buru berdiri di sisi Dasoom, diikuti Soyu di sisi kanannya.

Hyorin sudah tidak mungkin menutup-nutupi kepergian Sungmin. Ia tidak bisa memikirkan siasat lain lagi, terlebih saat mobil Sky Ferrari 275 GTO majikannya sudah mendarat tepat di depan beranda rumah. Seunghyun keluar dari pintu belakang, tidak lagi menunggu penjaga membukakan pintu mobil untuknya dan bergegas menghampiri mereka.

“Apa Minnie membawa ponselnya?”

Gawat. Hyorin menjerit panik dalam hati. Baru berpikir untuk menghubungi Sungmin saat tiba-tiba ia teringat pada ponsel flip merah muda yang tergeletak di atas tempat tidur mutan majikannya.

“Sepertinya Tuan Muda melupakan ponselnya.”

“Ah, bocah itu.” Seunghyun mendesah. “Yasudah. Kalian tidak perlu memasak. Aku akan makan malam di luar dengan Minnie.”

Tidak menyadari raut panik para pelayan, Seunghyun langsung saja berbalik dan kembali ke mobilnya, mengisyaratkan pada dua bodyguardnya untuk mengikutinya. “Hubungi Hogun dan Nakagawa. Tanyakan dimana posisi mereka dan katakan jangan sampai Minnie tahu kedatanganku. Biar aku yang jemput Minnie sekarang.” Seunghyun bersandar ke belakang begitu ia masuk ke dalam mobil. Ia melepas kacamatanya dan tersenyum lelah. “Aku ingin memberi kejutan. Sudah lama kami tidak makan malam di luar.”

Selepas kepergian Seunghyun, keadaan di rumahnya bertambah rusuh. Hyorin, Soyu, Dasoom dan dua penjaga segera masuk ke dapur dengan panik, saling memandang satu sama lain namun sama-sama tidak tahu harus melakukan apa. Mereka sama-sama tahu, kemana Sungmin akan pergi saat ia keluar dengan alasan ‘jalan-jalan’. Masing-masing dari mereka saling menjaga rahasia itu bersama Hogun dan Nakagawa. Mereka tahu hal apa yang akan terjadi pada Sungmin kalau sampai Seunghyun tahu apa yang dilakukan mutannya di luar sana. Tapi kali ini, mereka juga akan terkena imbasnya kalau Sungmin benar-benar tertangkap basah oleh Seunghyun. Selagi yang lain berembuk untuk mengatasi masalah dan melindungi diri, Hyorin menyingkir. Ia lebih memilih masuk ke kamarnya dan memikirkan berbagai siasat untuk menyelamatkan Sungmin kalau sampai mutan itu benar-benar ketahuan.

“Sungmin-ah! Kuharap kau tidak macam-macam di luar sana.”


.

oOoOoOo

.


“Nih, Sungmin-ah. Jangan merengut lagi dong!” Max yang barusaja muncul dari dalam langsung memberikan sekotak kecil permen pada Sungmin. “Coba satu.” Ujarnya sembari menyodorkan sebulir pada Sungmin. Mutan itu balas memandang Max ragu, tapi karena harum strawberry dari bulir permen itu, Sungmin tidak bisa menolak dan melahap permen itu langsung dari tangan Max, mengabaikan jerit histeris Max tentang ‘Kau menjilat jariku! Kau menjilat jariku! Jilat lagi! Jilat lagi!’

Permen itu memang berhasil mengubah mood Sungmin, mutan itu menghisap permennya sembari berdengung senang. Kalau ia bisa bersuara, mungkin yang keluar dari bibirnya adalah senandung lagu. Tapi suara dengungan itu sudah cukup membuat Max ikut merasa senang juga. Ia mendorong kotak permen tadi ke hadapan Sungmin. “Strawberry mint, enak kan? Nih, ambil semuanya tapi kau harus janji untuk datang kesini tiap hari, oke? Akhir-akhir ini kau jarang datang.”

Sungmin hanya mengangguk-angguk enggan. Ia pun ingin selalu datang kemari kalau tidak ada Seunghyun. Sayang, majikannya itu jadi sering pulang setiap minggu selama sebulan terakhir. Membawakan bermacam benda yang Sungmin bahkan tidak berniat meliriknya sedikitpun. Ia hanya terpikir untuk datang kemari dan datang kemari. Tapi kesempatannya semakin berkurang. Begitu Seunghyun mengatakan ada urusan penting dua hari yang lalu dan ia harus pergi selama seminggu, Sungmin senang bukan main. Ia langsung menyiapkan hoodie baru untuk berkunjung kemari. Yah, meskipun Kyuhyun tidak pernah melihat sekalipun ia bergonta-ganti hoodie lucu setiap kunjungannya kemari.

“Kemarin si Kyuhyun tolol itu menumpahkan seteko kopi dan dia diamuki oleh bos, oh hahahaha. Betapa bahagianya aku!” Max tiba-tiba bercerita dan tertawa terbahak-bahak, komentar jahatnya itu kontan membuat Sungmin mendelik murka. Ia berjinjit dan melambaikan tangannya sekuat tenaga, tepat mengenai kepala Max yang segera mengaduh kesakitan. Untuk ukuran tubuhnya yang kecil ini, tamparan Sungmin lumayan juga.

“Ah, kenapa kau memukulku! Kau tidak suka mendengar tawa tampanku? Yasudah, aku tersenyum tampan saja.” Max memasang senyum memaksanya. Jujur merasa kaget saat tiba-tiba Sungmin memukul kepalanya, tapi pancingannya berhasil. Ia hanya mencoba-coba reaksi seperti apa yang akan diberikan Sungmin jika ia membahas tentang Kyuhyun. Dan ternyata benar. Bocah ini langsung marah dan bahkan memukul kepalanya.

Selama ini, ia bukan tidak tahu, Max hanya memutuskan untuk bungkam. Setelah lebih dari dua puluh kunjungan Sungmin kemari. Max memutuskan bahwa Sungmin memang sedang mengawasi seseorang dari Kona Beans. Dilihat dari caranya mencuri-curi pandang ke dalam kafe namun selalu menolak saat Max menawarkannya untuk masuk. Sejak saat itu, Max mencoba mencari tahu dengan membicarakan setiap pelayan satu persatu. Biasanya Sungmin hanya akan diam dan bersikap acuh, tapi bocah ini memberikan respon berbeda saat ia menyebut nama Kyuhyun. Terkadang matanya akan refleks membulat, wajahnya merona, atau bahkan bersikap agresif saat Max mengomentari hal jahat tentang Kyuhyun.

Meski berat, Max harus mengakui bahwa ia telah kalah merebut hati Sungmin. Parahnya ia kalah dari Kyuhyun bodoh itu. Ia tidak bisa bertanya bagaimana Sungmin dan Kyuhyun bertemu, karena mungkin saja Sungmin mendengar berita tentang Kyuhyun dari temannya. Atau dari siapapun yang sering berkunjung ke kafe. Karena meski enggan. Max mengakui kepopuleran Kyuhyun, yang tetap berada dua level di bawahnya.

“Oh ya, minggu depan aku akan pergi ke Jepang.” Max tiba-tiba bercerita lagi, berniat mengalihkan perhatian Sungmin namun bocah itu hanya mengangguk-angguk malas, matanya tetap terpaut ke dalam kafe. “Kakakku akan menikah disana. Huh, padahal suaminya juga orang Korea. Untuk apa menikah jauh-jauh di negri orang. Negri sendiri juga bagus, dia menikah disini akan lebih mengirit uang dan tenaga. Tapi yasudahlah, aku bisa sekalian liburan. Lagipula dia juga yang membayarkan tiket pesawatku. Aku bisa menguras uangnya untuk beli oleh-oleh dan makanan. Kau mau titip sesuatu Sungmin-ah? Sungmin-ah?” Max beringsut, mendekati Sungmin lalu ikut bertopang dagu tepat di sisi wajah Sungmin. Tapi bocah itu seakan tidak mendengarkan, matanya menatap ke dalam tanpa berkedip. Tempat dimana Max menyadari Kyuhyun tengah mondar-madir mengantarkan pesanan sembari berusaha menjaga keseimbangan di tengah serangan puluhan fangirls.

“Hei, Sungmin-ah.” Max berbisik tepat di telinga Sungmin, membuat mutan itu berjengit kaget karena hembusan panas napas Max menerpa telinganya. Ia buru-buru mundur dengan wajah merona, setengah takut di tatapnya Max dengan rasa kesal.

“H-huh?”

“Kalau aku bicara padamu, matamu selalu berputar kesana berputar kesini. Kau mendengarkan tidak, sih?” Max merengut.

Sungmin mengangguk kuat-kuat, tidak ingin dituding mengabaikan Max meskipun memang begitulah kenyataannya.

“Selama ini selalu aku yang bercerita, kali ini giliranmu.” Todong Max tiba-tiba sembari berbalik dan berpura-pura menyusuncone eskrim.

Sungmin melengos. Bagaimana mungkin ia bisa bercerita? Dan ia mengira Max sudah tahu betul tentang itu. Sungmin mengeram, bibirnya ditekuk.

“Baiklah, begini saja.” Max berbalik lagi, kali ini jarak mereka cukup jauh dengan dirinya bersandar ke refrigator. “Kalau aku bertanya, kau akan mengangguk untuk jawaban ‘ya’ dan menggeleng untuk jawaban ‘tidak’.”

Sungmin tidak langsung menjawabnya. Ia menghela napas berat dan menunduk, tidak ingin memandang mata Max yang tengah menuntut ke arahnya.

“Bagaimana, setuju? Kalau tidak setuju aku tidak mau menraktirmu eskrim lagi.”

Sungmin mendelik, Max tengah memunggunginya. Tapi ia tiba-tiba teringat pada uang yang selalu diselipkan Hyorin di saku tasnya. Buru-buru Sungmin mengeluarkannya dan menyodorkannya pada Max. “Uhng!” raungnya menuntut Max untuk menerima uang itu. Tapi Max menggeleng enggan dan dengan angkuh menolak.

“Kau juga tidak boleh beli disini lagi. Tidak boleh berkunjung kemari lagi!”

Mutan itu memandangi Max dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana ia bisa berkunjung kemari lagi kalau ia bahkan tidak boleh membeli eskrim disini? Sungmin benar-benar merasa terusir.

Max beranjak, kembali menatap Sungmin dari dekat, mencoba untuk tidak mengalah pada ekspresi memelas dan mata yang berkaca-kaca itu. “Kau hanya perlu jawab pertanyaanku dan akan kutraktir satu cone strawberry lagi. Bagaimana?”

Sungmin menunduk lagi, semakin bingung. Bagaimana kalau Max bertanya macam-macam? Bagaimana kalau ia tidak bisa menjawabnya? Tapi Sungmin lebih enggan lagi kalau ia sampai tidak bisa berkunjung kemari. Karena itu Sungmin mengangguk panik, nekat menerima permintaan Max yang segera disesalinya saat Max langsung saja bertanya.

“Dua orang yang sedang memandangimu disana, kau mengenalnya?”

Sungmin ikut memandang ke arah jari Max menunjuk. Sepuluh meter dari Kona Beans, tempat dimana Hogun dan Nakagawa berdiri seperti penjahat. Mengenakan jas hitam-hitam dan kacamata hitam. Penampilan yang cukup mencolok diantara penduduk yang berpakaian warna-warni. Sungmin berpikir, untuk menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk mengangguk, dan bernapas lega karena jawaban itu cukup menyelamatkannya.

“Oh, tadinya aku mau menghajar mereka kalau kau bilang tak kenal. Mereka selalu ada setiap kali kau berkunjung kemari. Tapi kau kenal, yasudahlah. Lagipula sudah kuduga. Makhluk cantik sepertimu pasti dijaga ketat oleh prajurit-prajurit kerajaan.”

Sungmin hanya mengangguk ogah-ogahan. Semoga Max berhenti bertanya, tapi sayang. Pemuda itu masih berniat mengerjainya.

“Aku pangerannya, ‘kan?” Max mengangkat-angkat alisnya sembari tersenyum centil. Yang kontan saja dijawab dengan gelengan jujur oleh Sungmin. Max mendengus kecewa, tapi setidaknya jawaban jujur itu berhasil membawanya ke pertanyaan yang paling utama.

“Bukan aku pangerannya?”

Sungmin menggeleng lagi. Sedangkan Max menyeringai, membuat Sungmin seketika merasa khawatir dengan perubahan ekspresi pemuda penjaga eskrim itu.

“Kalau begitu coba jawab,” tantang Max. “Kau mencari seseorang kan’ disini, Sungminnie?”

Sungmin tercekat. Tiba-tiba merasa beruntung ia tidak bisa bicara. Tapi nyatanya Max tetap menuntut jawaban darinya.

“Ayolah, katakan padaku siapa.”

Sungmin hanya menggeleng-geleng panik. Seperti bocah yang tertangkap basah menemani temannya mencuri tapi dipaksa mengaku sebagai pelakunya.

“Jawab atau tidak ada eskrim lagi!” paksa Max setengah mengancam, sukses membuat Sungmin mendelik dan wajahnya memucat ketakutan. Sungmin menatap ke kanan-kirinya, lalu pandangannya terpaku pada Kyuhyun di dalam sana, sebelum ia kembali menatap Max lagi. Tiba-tiba Sungmin menyesali kedatangannya kemari hari ini. Kenapa pula Max tiba-tiba bermain tanya-jawab seperti ini?

“Sungminnie~” Changmin mengedipkan matanya, menunggu dengan sabar sembari mendesak Sungmin dengan memasang ekspresi-ekspresi menjijikan. Ia berniat mendekatkan wajahnya pada Sungmin, untuk membuat bocah itu semakin tertekan dan mengakui jawabannya. Tapi tiba-tiba satu teriakan melengking menginterupsi interogasi kecilnya.

“Max!”

Max melirik ke dalam dengan kesal. “Aish.” Tapi ia kembali menatap Sungmin lagi, mengabaikan teriakan barusan. “Ayo jawab, Sungminnnie~”

“Maaaaax!”

Teriakan itu semakin kencang, tidak bermaksud mengalah terlebih Max tidak meresponnya sama sekali.

“Sungminnie, tunjuk saja orangnya, oke?” bisik Max pelan, masih berjuang mendapatkan jawaban. Tapi Sungmin tampak semakin linglung karena teriakan itu.

“Changmin-ah bantu di dalam!”

“Iya! Iya!” Max mendengus kesal. Tapi ia tahu untuk tidak mengelak lagi terlebih saat bosnya sudah memanggilnya dengan nama asli seperti itu. “Cerewet!” cibirnya jengah.

“Kau mau masuk saja? Nanti kucarikan kursi kosong. Jangan takut pada mereka, kalau untukmu. Akan kusediakan tempat khusus.” Tawar Max yang langsung dijawab dengan gelengan ketakutan. Max masih berniat merayu Sungmin untuk masuk lagi, tapi kali ini suara teriakan itu semakin mengerikan.

“SHIM CHANGMIIIIIIN!”

“Iya-iya aish. Cerewet sekali!” Max buru-buru melepas celemek eskrimnya. “Sungminnie, kau jaga kedai ini untuk Max tampan oke?”

Sungmin hanya terbengong-bengong saat Max meninggalkannya ke dalam. Tapi ia justru merasa terselamatkan, ia jadi terbebas dari pertanyaan tadi. Apa ia harus pergi sekarang? Sebelum Max kembali dan menuntut jawaban lagi?

Sungmin menghela napas, semakin bingung karena belum tentu besok-besok ia akan bisa datang kemari lagi. Ia berjinjit untuk menatap Kyuhyun lebih lama lagi, mungkin dua menit lagi. Atau tiga. Ia ingin menatap Kyuhyun lebih lama sebelum pulang. Karena ia tidak tahu kapan bisa datang kemari lagi. Ia merasa Seunghyun mulai berencana untuk tidak pergi lagi. Dan sekalipun majikannya pergi, Sungmin belum tentu bisa datang kemari karena usia kandungannya yang semakin beranjak tua.

Sungmin merengut, bahunya tertunduk lesu. Kali ini sudah memutuskan untuk pulang setelah puas memandangi wajah Kyuhyun, ia mengemasi tasnya dan memasukkan kotak permen pemberian Max ke dalam sana. Namun belum sempat berbalik, seseorang merangkulnya dari belakang. Sungmin berjengit, semakin kaget lagi begitu ia menemukan Seunghyun berdiri di sisinya. Tersenyum mengerikan sembari mengawasi Kona Beans.

“Jadi kesini kau pergi selama ini, Minnie? Hmm… tempat yang bagus.” Seunghyun mengangguk-angguk, berpura-pura memuji sebelum ia menunduk memandangi mutannya. Senyum itu sudah berubah menjadi seringai pahit. “Tapi kau benar-benar mengulanginya. Berani sekali.”

Sungmin menunduk, dalam hati menjerit panik. Ia berusaha menyingkirkan tangan Seunghyun dari bahunya, namun rangkulan itu berubah menjadi cengkraman.

“Kau pikir aku lupa? Aku memaafkanmu malam itu, karena kukira aku yang salah saat itu. Tapi kau kembali lagi kemari.” Seunghyun merengkuh tubuh Sungmin dengan kasar, lalu ia menunjuk ke dalam kafe dengan dagunya. Melirik begitu tajam ke arah pemuda yang masih tetap familiar dalam ingatannya. “Untuk pemuda itu?”

Sungmin menggeleng panik dan mendongak pada majikannya dengan ekspresi memelas. Tapi dirinya pun tahu, ia tidak bisa berbohong soal itu.

“Aku bisa membunuhnya untukmu.” Seunghyun meremas lengan Sungmin dan tersenyum manis. “Setelah itu giliranmu.”

Sungmin mengeram, bermaksud menunduk untuk lepas dari rengkuhan sebelah tangan majikannya. Tapi Seunghyun beralih dengan merengkuh pinggangnya, setengah meremas sisi kiri perut buncitnya dan membuat Sungmin mengerang kesakitan.

“Kita lanjutkan di rumah. Setelah itu, kau boleh main lagi kemari. Itupun kalau kakimu masih sanggup membawamu kemari.”

Sungmin masih sempat menangkap sosok Max keluar dari pintu karyawan, namun ia tidak bisa melihat apapun lagi saat Seunghyun menyeretnya masuk ke dalam mobil yang segera melesat pergi dari tempat itu.


.

oOoOoOo

.


Seunghyun langsung membanting tubuh Sungmin ke atas tempat tidurnya. Telinganya sudah terlalu tuli untuk mendengar tangis kesakitan Sungmin yang kini meringkuk sembari memeluk perut.

Sungmin mengerang dan menjerit, tidak berniat menahan tangisnya sedikitpun karena ia tahu tangis pun tidak akan bisa menghentikan Seunghyun. Apa lagi yang bisa dilakukannya? Memelas dan memohon pun ia tidak mampu. Semua orang yang selama ini selalu melidunginya hanya bisa menatap dengan raut sedih saat ia diseret dengan paksa oleh Seunghyun. Kali ini, tidak akan ada seorangpun bisa menolongnya. Tidak Hyorin. Tidak Max. Bahkan Kyuhyun.

“Aku memecat –ah, aku sudah membuang mayat Hogun-sshi dan Nakagawa-sshi. Berani-beraninya mereka menyembunyikan hal sebusuk ini dariku, dan memilih untuk memihakmu pelacur kecil.”

Sungmin berjengit, buru-buru memalingkan wajah saat Seunghyun merayap dan memerangkap tubuhnya dari atas. Suara tangisnya berubah menjadi cicit-cicit kecil. Keberadaan Seunghyun sedekat ini seakan menjadi tekanan besar untuknya, Sungmin tersendat. Kesulitan bernapas terlebih saat mendengar Seunghyun telah membunuh dua bodyguardnya.

“Katakan, apa ada orang lain yang sok memihak padamu di belakangku? Biar kubunuh mereka satu persatu. Kau hanya punya aku, Sungmin-ah. Tapi kau tidak cukup tahu diri untuk menyadari hal itu.”

Sungmin menggeleng panik, semakin histeris saat Seunghyun memaksanya untuk menanggalkan hoodie dan kaus dalamnya.

“Kau mengulanginya.” Lirih Seunghyun dengan suara pelan, wajahnya terasa panas dan kali ini ia tidak bisa menahan airmatanya. Bulir panas itu menetes seperti lelehan kekecewaan, amarah, dan angkara yang tengah meluap-luap dan memaksa untuk dilampiaskan. “Ahahaha, kau mengulanginya!” Seunghyun tertawa kesetanan lalu berteriak, dengan airmata yang terus mengalir.

Lalu Seunghyun menarik kaus Sungmin dengan tidak sabar, memaksa mutannya untuk bertelanjang di tengah suhu tinggi AC yang membaur dengan suhu dingin musim hujan. Ia memandangi wajah Sungmin dalam-dalam. Bahkan mutannya ini tidak mau lagi menatap balik padanya. Apa ia sudah terlalu membosankan bagi Sungmin? Apa diam-diam mutan kecil ini berniat meninggalkannya.

“Kau berniat meninggalkanku?” tuding Seunghyun marah. “Kau berniat meninggalkanku, kan!” jeritnya sembari menampar wajah Sungmin, membuat tangis mutan itu kembali pecah.

Seunghyun mengabaikannya, ia beranjak turun untuk meraih lemari gantung. Ditariknya satu pack hitam dari sana, “Kau ingat ini?” ujar Seunghyun sembari mengeluarkan isinya. “Lingerie yang kubelikan untukmu, belum pernah digunakan.” Kekehnya sinis. Ia menarik kaki Sungmin dan berusaha mengenakan benda itu ke tubuh mutannya. Namun kali ini, Sungmin memberikan perlawanan dan hal itu justru semakin membuat Seunghyun bertambah marah. Dengan kasar, ditariknya bahu Sungmin dan dipaksanya mutan itu untuk duduk.

“Tatap aku, Choi Sungmin!” Seunghyun mencengkeram dagu Sungmin, memaksa mutan itu untuk balas menatapnya saat ia mulai membuka resleting lingerie dan mengenakannya dengan asal ke tubuh Sungmin. “Kali ini gunakan dan bersikaplah seperti sosok yang kau impikan. Kau ingin jadi pelacur, kan? Jadilah pelacur.”

Sungmin menangis, tapi suaranya yang semakin serak membuat rasa sakit ditubuhnya bertambah, kali ini kerongkongannya terasa kering dan terbakar. Pandangannya semakin tak fokus karena bengkak di bawah mata dan degub jantungnya yang semakin tidak beraturan. Tapi seakan belum cukup, Seunghyun menarik tengkuknya dengan kasar dan meremas kedua sisi kepalanya.

“Apa tidak cukup hanya diriku? Kau mau lebih?” Seunghyun mengatup wajah mutannya dan mencium bibir Sungmin dengan kasar, Sungmin berusaha menghindar dan Seunghyun mendorongnya untuk kembali berbaring. “Akan kuberikan lebih.” Bisik Seunghyun dengan seringai di wajahnya. “Masuklah Dongwoon, Junghyun.”

Sungmin terhenyak kaget saat pintu kamarnya terbuka dari luar dan dua bodyguard yang belum pernah ia kenal masuk ke dalam. Bertubuh kekar dengan perawakan tinggi, keduanya berdiri tegap di sisi pintu seakan menunggu perintah Seunghyun selanjutnya.

“Lakukan sekaligus, tidak perlu berpikir untuk pelan-pelan.”

Sungmin mencengkeram tangan majikannya, ia menangis dan menatap Seunghyun dengan wajah memelas. Memohon ampunan pada majikannya namun Seunghyun hanya menepis tangannya dan beranjak menyingkir, memberi jalan pada duabodyguard itu untuk meraih tubuh Sungmin. Sungmin masih mengerang, berusaha meraih majikannya namun Seunghyun justru berbalik memunggunginya, menyulut rokok dan berdiri diam saat pemuda kekar itu membuka resleting lingerie itu hingga ke pangkal pahanya.

“U-UGH!” Sungmin berjengit dan memekik, tubuhnya nyaris terjungkal kebelakang saat dua bodyguard itu dengan kasar memasukkan kejantanan mereka secara bersamaan ke dalam tubuhnya. Ia berteriak, menangis, tersedak namun Seunghyun tidak melakukan apapun dan hanya berdiri disana. Memandanginya dengan mata yang berkilat kosong sembari menghembuskan asap rokok ke udara.

“Kau tidak boleh menangis. Kau menginginkannya bukan? Kau harus menikmatinya, ayo mendesah.”

“Mssth—”

“Jangan menangis!”

Sungmin justru menangis semakin histeris. Seunghyun menarik kedua bawahannya dan mendorong mereka untuk menyingkir. Keduanya beranjak, dan kembali berdiri di sisi ranjang dengan pakaian berantakan. Meskipun keadaan mereka tidak seberapa dibandingkan dengan kacaunya Sungmin yang tengah meringkuk dan berteriak histeris di atas tempat tidur.

“Sakit, huh? Kupikir kau menyukainya, kenapa menangis?” Seunghyun mencengkeram dagu Sungmin, menggoncangnya sebelum menampar mutan itu dua kali. “Kenapa menangis! Jawab aku, jalang!”

Sungmin menjawabnya dengan rintihan. Matanya yang merah balas menatap Seunghyun, memohon ampunan. Namun ia tidak mengerti, bukan permohonan ampun itu yang diinginkan Seunghyun.

“Jawab!” Seunghyun kehabisan kesabarannya, sesungguhnya ia sudah kehilangan kesabaran sejak sejam yang lalu. Tapi kali ini berbeda, yang ada dalam batinnya hanya perasaan untuk menyakiti Sungmin. Untuk menyadarkan mutan ini seberapa besar ia memiliki kuasa atas Sungmin. Seunghyun menarik rokok di sudut bibirnya, ia membaliknya, dan tanpa berpikir langsung menyulutkan ujungnya yang membara ke bahu Sungmin. Mutan itu sontak berjengit dan berteriak kesakitan, suara tangisnya yang menyerak semakin terdengar memilukan.

“Seperti yang kukatakan. Kau tidak bisa kabur Sungmin. Jangan berpikir untuk mati. Kematian tidak akan menyelamatkanmu, akan kukejar kau kemanapun kalau kau berani meninggalkanku.” Seunghyun memperdalam jejak lubang rokoknya di atas kulit Sungmin yang sudah melepuh dan berasap. Lalu ia beranjak lagi, berbalik dari Sungmin yang menangis tanpa suara, kehabisan tenaga bahkan hanya untuk mengaduh atau memohon ampunan pada majikannya.

“Lakukan lagi. Lakukan lagi sampai dia merasa puas.”


.

oOoOoOo

.


“Kau selesai memeriksanya?” tanya Seunghyun sembari mengawasi perawat muda itu mengemasi alat-alatnya. Hyorin hanya mengangguk, ia tersenyum tipis dan membungkuk ke arah Seunghyun sebelum kembali berpura-pura memeriksa nadi Sungmin. Mutan ini terlelap pulas setelah ia memberikan obat tidur dua jam yang lalu. Tanpa bantuan obat tidur itu, Sungmin pasti masih berjuang menahan sakit disekujur tubuhnya.

Seakan melihat keadaan yang sama dua kali, Hyorin menahan ringisannya saat melihat sisa-sisa luka yang tersebar nyaris di seluruh punggung hingga ke pangkal perut Sungmin. Namun rasanya, sisa-sisa luka ini tampak lebih mengerikan dibanding dengan saat pertama kali ia bertemu dengan Sungmin di rumah ini. Jejak luka bakar karena rokok, sayatan-sayatan kecil, memar, hingga sisa cambukan, Hyorin tidak mampu membayangkannya bagaimana mutan muda ini menerima semua luka itu. Terlebih saat ia sendiri yang diperintahkan untuk membawakan pecut kuda ke kamar ini tiga hari yang lalu.

“Bagaimana bayinya?”

Hyorin mendelik, ia menelan ludah sebelum mengangguk dan menjawab. “Bayinya baik-baik saja.” Dengan nekat, ia membohongi majikannya. Bagaimana mungkin bayi ini tetap bertahan setelah apa yang dialami oleh ibunya? Hyorin berniat menarik mayatnya keluar dari tubuh Sungmin setelah Seunghyun pergi. Sementara, mungkin alasan kehamilan Sungmin bisa menahan Seunghyun untuk berbuat lebih kejam. Tapi itu hanya kemungkinan. Hyorin tiba-tiba merasa ragu setelah mendengar respon majikannya.

“Oh.” Seunghyun hanya mendengus kecil. Ia berdiri dan melangkah menuju pintu. “Kembalikan dia seperti sedia kala. Pakai obat apapun. Apapun, aku mengizinkanmu menggunakan apapun. Asal Sungmin bisa kembali sempurna seperti boneka.”

Hyorin menelan ludahnya dengan susah payah. “T-tapi—”

“Kau perawat kan? Kau pasti bisa membenahi dia. Lakukan. Aku akan merusaknya lagi, dan kau harus membenahinya lagi.”

Hyorin tidak mungkin menjawabnya lagi, Seunghyun sudah menghilang keluar kamar. Meninggalkan dirinya berpikir begitu dalam sembari memandangi tubuh Sungmin dengan tatapan iba. Hyorin menghela napas dan membenahi selimut Sungmin. Mungkin mutan ini bisa bertahan tiga hari lagi sampai luka-lukanya membaik?


.

oOoOoOo

.


Dua hari setelah Seunghyun mengawasinya saat memeriksa Sungmin, Hyorin terus berusaha menyembuhkan luka Sungmin dengan lebih cepat. Meski tidak terlalu memuaskan, Hyorin juga tidak kecewa pada hasil kerjanya. Luka-luka basah di punggung Sungmin sudah berubah merah, memar yang masih tersisa pun sudah mulai mengempis. Lima atau tujuh hari lagi, luka-luka itu pasti sudah membaik. Tapi ia tidak mungkin menunggu sampai seluruh luka di tubuh Sungmin mengering. Saat ia menunggu kesembuhan Sungmin, Seunghyun juga pasti menantikan saat-saat untuk memberikan luka baru di tubuh mutan itu.

Hari ini, Hyorin nekat melaksanakan rencananya untuk menyelamatkan Sungmin. Soyu dan Dasoom hanya akan membantu mereka keluar dari rumah, bagian lain akan dikerjakan olehnya sendiri. Seunghyun sudah pergi sejak kemarin, dan ia tidak bisa memperkirakan kapan majikannya itu akan kembali. Di sisi lain, Hyorin juga tidak bisa menunggu lagi. Ia tidak mungkin menunggu dan membiarkan mutan malang ini terancam. Selama Sungmin berada di rumah ini, hanya tinggal menunggu waktu hingga mutan ini mati mengenaskan karena siksaan majikannya.

Hyorin mengendap-endap masuk ke kamar Sungmin. Ia tidak membawa apapun selain ransel kecilnya yang berisi sertifikat kepemilikan Seunghyun atas Sungmin yang telah dicurinya dengan mempertaruhkan nyawa.

“Sungmin-ah! Sungmin-ah!” bisik Hyorin perlahan tepat di telinga Sungmin. Mutan itu sempat mengerjap, namun akhirnya ia hanya mengubah posisi dan meringis kesakitan. Mungkin luka di bahunya tanpa sengaja tertekan. Belum menyerah, Hyorin dengan hati-hati membalik posisi Sungmin dan membimbing mutan yang masih setengah tertidur itu untuk duduk.

“Sungmin-ah!” Sungmin mengerjap lagi, ia melenguh lelah dan bermaksud untuk berbaring kembali saat menyadari Hyorin yang tengah duduk disisinya. Tapi Hyorin masih terus memanggilnya, membuat Sungmin dengan terpaksa berbalik lalu mengucek matanya dan tiba-tiba merasa heran. Bukankan seharusnya matanya ini membengkak setelah ia menangis seharian kemarin? Apa Hyorin yang mengompres matanya?

“Sssh, Sungmin-ah. Cepat bangun. Kita pergi dari sini.”

“Um?” Sungmin berdehum pelan. Merasa lelah dan pusing setelah seharian kemarin menangisi kematian kitten-nya. ‘Master belum tahu dan master tidak perlu tahu.’ Sungmin tidak mengerti ucapan Hyorin saat itu, tapi kini ia tiba-tiba ingin tahu. Terlebih saat ia menyadari ucapan Hyorin barusan. “Pergi?” ulangnya heran.

“Kau mau tinggal disini, atau pergi?”

Sungmin berkedip. Kebingungan.

“Kau mau tinggal disini?” Hyorin duduk disisinya, mengusap tengkuknya dan membantunya untuk terbangun sepenuhnya. “Kau mau menunggu master?”

Kontan saja Sungmin menggeleng panik. Kalau bisa, ia ingin menghilang saja. Tanpa ada master mungkin akan terasa lebih baik.

“Kalau begitu kau mau pergi?”

Sungmin memandangi Hyorin dengan wajah bingung.

“Dengar, noona akan membantumu keluar dari sini. Sekarang coba untuk berdiri, kau bisa berdiri? Luka di kakimu sudah sembuh kan?”

Sungmin belum sepenuhnya mengerti, tapi ia mulai menangkap maksud Hyorin tentang pergi-dari-sini. Ia berdiri perlahan dan mulai melangkah setapak demi setapak. Luka-lukanya tidak sesakit kemarin. Tapi kepalanya masih terasa pusing, mungkin efek menangis itu.

“Pakai ini.” Hyorin membantunya mengenakan jaket, menghangatkan tubuhnya yang hanya dilapisi lingerie tipis.

“Kemari. Pelan-pelan saja.” Hyorin bermaksud memapah Sungmin, tapi mutan itu menolak dan berusaha untuk melangkah dengan usahanya sendiri. “Huh, sudah tidak sakit?”

Sungmin hanya mengangguk. Ia tidak memikirkan soal luka, Sungmin justru terdiam karena memikirkan ucapan Hyorin tadi.

“Uh! Hum!” Sungmin menggerakkan tangannya, membentuk isyarat ‘rumah’ dan ‘pergi’ yang tentu saja langsung dimengerti oleh Hyorin.

“Kau akan tinggal di rumahku sementara waktu. Setelah itu aku akan mengantarmu ke kantor pembelaan mutan.”

“Massttth—?” Bagaimana dengan Master?

“Kita akan laporkan perbuatannya, Master tidak akan bisa menyakiti Sungminnie lagi. Kau tidak mau disakiti oleh Master lagi, kan?” Hyorin membimbing Sungmin menuruni tangga. Mutan itu mengangguk-angguk setuju tapi matanya tetap rekat mengawasi keadaan sekitar. Bagaimana kalau master tahu? Master sendiri yang mengatakan tidak akan melepaskannya. Kalau mereka sampai ketahuan berniat kabur, bukan tidak mungkin master memutuskan untuk memotong kedua kakinya. Hanya memikirkan itu saja Sungmin sudah bergidig dan matanya terasa panas, rasanya ingin menangis ketakutan dan buru-buru bersembunyi. Mengingat apa yang diperbuat Seunghyun padanya, membuat luka di bahunya terasa menggatal.

“Ah! Jangan garuk luka itu, sebentar lagi kering. Jangan, ya?” Hyorin menahan tangan Sungmin dengan panik. Di bawah tangga, Dasoom dan Soyu sudah menunggu mereka.

“Lewat gate belakang, tidak ada yang menjaga disana. Jongup sudah mengalihkan penjaga belakang untuk bermain kartu dengannya.” Soyu segera melapor meski sesekali matanya mengawasi dengan khawatir.

Kali ini Dasoom dan Soyu yang bergantian memapah Sungmin, meski mutan itu bersikeras untuk melangkah sendiri, keduanya merangkul tangannya hingga mereka melangkah keluar dari gate belakang mansion.

“Hati-hati.” Soyu menutup pagar kecil itu setelah puas memberikan salam perpisahan pada Sungmin. Hyorin merangkul bahu Sungmin dan membungkuk ke arah kedua temannya, menyampaikan rasa terimakasih yang tidak mampu diungkapkannya saat tiba-tiba, perhatian keempatnya teralih pada suara ponsel Soyu.

Soyu buru-buru membuka ponselnya dan membaca isi pesan yang masuk. Wajahnya memucat, “Tuan Besar kembali.” Bisiknya ketakutan. Hyorin dan Sungmin mendelik.

“Cepat pergi!” Dasoom segera mengunci pagar dan tanpa menyampaikan apapun lagi, segera berbalik menarik Soyu untuk kembali ke dalam mansion.


.

oOoOoOo

.


Hyorin menggenggam tangan Sungmin erat-erat, ia menarik mutan itu untuk terus berlari. Setelah melewati lima blok dari mansion, kini mereka meraih jalan besar di tengah kota Seoul. Tapi Hyorin tahu betul, jalan besar ini hanya akan meningkatkan presentase tertangkapnya mereka. Ia dan Sungmin kabur tanpa adanya bantuan kendaraan, sedangkan Seunghyun dengan mudahnya mengejar mereka menggunakan skycar.

“Kim Hyorin, berhenti!” dua penjaga muncul di ujung jalan. Dengan jarak empat puluh meter tidak akan memakan waktu lama untuk menangkap mereka jika keduanya tidak segera bergerak.

“Sial. Mereka mengejar.” Hyorin menarik tangan Sungmin lagi, mutan itu tampak semakin ketakutan dan berniat untuk menyerah kapan saja. Tapi Hyorin tidak akan membiarkan mutan ini kembali pada majikannya. Ia menggenggam tangan Sungmin makin erat, kini memilih sebuah gang kecil yang sepi dan gelap. Hyorin segera masuk kesana dan melintasinya tanpa berpikir dua kali. Keduanya berhenti di sisi pembuangan sampah tepat di luar jalan itu.

“Kemari! Kemarikan jaketmu.” Sungmin segera menanggalkannya, mengabaikan dingin yang segera menyergap hingga ke tulang tengkuknya. Hyorin segera mengenakan jaket itu, ia membimbing Sungmin untuk berjongkok di sisi pembuangan sampah. Tubuh kecil Sungmin sukses tersembunyi oleh besarnya ukuran kotak besi itu dan didukung oleh redupnya pencahayaan disekitar sana.

“Kau sembunyi disini, setelah mereka mengejarku, kau harus pergi ke arah sana.” Hyorin menunjuk arah yang berlawanan dari arah yang akan ditempuhnya. “Pergi sejauh-jauhnya! Cari jalan yang beratap. Jangan berhenti, jangan berbalik, jangan kembali ke kafe, cari siapapun yang tampak baik dan berikan ini padanya.” Hyorin menyelipkan kertas yang sudah disiapkannya ke rantai kalung Sungmin. Ia tidak bisa mengambil resiko dengan memberikan alamat. Bukan tidak mungkin Seunghyun mengejar Hyorin hingga ke apartemennya.

“Kemarikan bandulmu.” Hyorin meraih bandul kalung Sungmin, menyelipkan pelacak kecil di ujung lubang pengaitnya. “Aku akan menemukanmu, Sungmin-ah. Sementara waktu, kau harus menghindari semua Choi. Semua Choi, kau mengerti? Aku akan mencarimu seminggu lagi. Tunggu aku, ne? Sekarang bersembunyi, cepat! Cepat!”

Setelah berpesan seperti itu, Hyorin menanggalkan tasnya dan membuangnya ke dalam box sampah. Ia mengenakan tudung jaket Sungmin dan segera berlari begitu suara teriakan pengawal yang mengejar mereka terdengar menggema dari dalam gang. Sungmin berjongkok memeluk lutut, punggungnya rekat menempel ke dinding seakan takut para penjaga itu melihat ujung kakinya. Hyorin pergi bahkan tanpa memeluknya terlebih dulu. Bagaimana kalau para penjaga itu menangkapnya?

Sungmin membungkuk, mati-matian menahan tangisnya dengan menggigit bibir. Suara teriakan yang memanggil namanya dan nama Hyorin baru saja berlalu tepat di sisinya. Lalu suara itu menjauh dan tidak terdengar. Ia berpaling ke samping, mengawasi jalan yang diarahkan oleh Hyorin. Rintik gerimis yang mulai turun semakin membuatnya menggigil tanpa pelindung apapun. Karena Master mungkin mencarinya menggunakan skycar, ia harus mencari jalan-jalan yang gelap atau beratap dan terlindungi dari pandangan langit.

Meski tidak tahu harus pergi kemana. Sungmin memutuskan ia tidak akan pernah kembali pada majikan lamanya.


.

oOoOoOo

tebeseeeeh

oOoOoOo

.


a/n: 7200 words! Jangan pelit-pelit ngasih review! -..- Nanti saya pelit update nih ah *ngancem. Flashback untuk Sungmin syudah kelar ya. Maaf untuk update yang sangat sangat sangat ngaret. Semester kemarin saya bener-bener gak sempet sentuh fanfic T^T Maafkan saya. Tapi karena ini lagi liburan, saya usahakan untuk sering update ya, terus abis ini Cursed Crown dulu yak. Mohon kritik dan sarannya untuk update yang berkelanjutan, wkwk😄

16 thoughts on “Kitty-Kitty Baby! Flashback Last Part

  1. shanty kyuminnie arashi says:

    Flashbacknya bikin mewek…
    Miris bgt ngebayangin sungmin d siksa sampe segitunya…
    Aq yg baca aja sampe sakit ngerasainnya..

    Pengawal sama perawatnya bener2 baik dan rela berkorban buat ming…
    Bahkan ad yg sampe terbunuh…

    Master nya sungmin saya cm bisa bilang no coment…
    Terlalu kejam hanya untuk d bilang “seorang manusia”…

    Lanjuuuttt….
    Update kilattttt…

  2. vyan says:

    suuuunnnnnn… thank you buat updatenya…
    lama banget nunggunya ampe dikira ga dilanjutin.. bisa nangis bombay ni akyu *lebay*😀

    duh sun… sedih banget c ceritanya.. terlalu sadis..
    kasian banget uminnya cuma bisa liat kyu dari jauh..
    untung ada hyorin.. kl ga gatau gmn nasibnya c umin..
    hyorin, dasom, ama soyou nya jgn ampe knp2 aja..
    ga kebayang kl ketauan ama seunghyun, ntar sm kaya 2 bodyguard itu lagi..

    ditunggu lanjutannya..
    pgn cepet2 ke part KYUMIN wkwkwkwkwk..

  3. AAAAAA KESEL BANGET SAMA SEUNGHYUN!! graaaw :@
    ya Allah kasian banget Minnie T_____T
    oke, flashbacknya berakhir ( dan rasanya ga mau liat lagi, ga kuaat T…T)
    lanjuuuuut min ToT

  4. princesskyu says:

    wah, lama gk ngecheck email pas ngecheck liat fanfic in ternyata udah update, senengx..
    gk sbar bca kyumiin partx …
    d tunggu lanjutanx..

  5. Bella Nindysh says:

    Huwee kak fiqooh jujur sy dritadi mau skip aja yg ada adegan sunghyun nyiksa sungmin bener bener gakuat gatega hiksss tp nekat ttep baca, sunghyun kejem bgt, aissh sungmin my kitty baby hiksseuuu kyuhyunn>< gasanggup huwee
    kak fiqooh bener2 hebat bgt bs buwat adegan yg kyk gt, sy smpe merinding gakuat sungmin disiksa bgaimanapun bntuknya:((((((((((
    daebak bgt lah bwt chap ini ckup skali bc chap ini sy bnr2 ya ampunO.O
    keep writing kak^^

  6. Rhaya says:

    Minnie cepat kabur..!!
    Flashback yg panjang :3

    astaga pengawal nya aja ampe dibunuh.. T.T
    miris bgt sungmin sama seunghyun.. T.T

  7. Wahhhhh akhirnya umin bisa kabur. Baik banget ya hyorinnya yg lain juga. Topnya kok sifat tempramentalnya makin parah aja ya. Ini flashback terakhir yaa? Akhirnya jalan ceritanya makin ngerti aku. Wah,aku lanjut baca ya min

  8. 010132joy says:

    Ck geram bgt sma seunghyun bneran dia udah mirip orang yg sakit jiwa klo nyiksa ming
    skip lgi ga trima, ga rela, ga tega bcanya ming dsiksa ky gitu ugh#cekekseunghyun
    y ampun ming nyampe 2x hamil 2x kguguran jg pdahal dia masih muda bgt grrrr
    Owh ming ga dbuang y tp kabur dbantu hyorin huh untung aja masih ada yg peduli sma ming, tp ntar gmana nasib hyorin? Ktangkapkah ???
    waktu ming bgg sma ptus asa dhalte untung aja yg nemuin kyu huhhh keberuntungan ming

  9. eoh.. sungmin diem2 ternyata suka ke kona beans. mana ada satu lagi evil temennya si kyu lagi. ah, sifat jeleknya seunghyun keluar lagi. gak kapok ya udah pernah ngebunuh kittennya kini kembali melakukan hal yang sama. pantes aja si ming trauma berat, orang masternya luar biasa kejam.
    ternyata.. ternyata.. yang nolong min buat kabur itu perawatnya. jadi.. jadi itu flashback ming sebelum ketemu ama kyu di halte ya ?
    lalu, nasib hyorin gimana ??

  10. salut ma hyiprin yg rela nolongin ming buat keluar dr mansion chpi,,, wah klo ming tar ketemu max dia bakalan masih inget kan. kasian kan klo max dilupain soalnya baik sih ngasih ming gratisan teruus

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s