Cursed Crown | Chapter 9

Hyuuung! Lepas. Panas.” Sungmin menggeliat lagi untuk yang kesekian kalinya.

“Tidak mau.”

Hanya jawaban pendek itu yang diterimanya dari Kyuhyun, bahkan Putra Mahkota itu memeluknya makin erat. Sungmin sungguh-sungguh kegerahan dan Kyuhyun-hyungnya justru mendekap wajahnya semakin erat ke dada. Tapi untuk sesaat, Sungmin tidak berniat untuk menolak. Ia diam menuruti keinginan Kyuhyun saat Kyuhyun mengusap pelan punggungnya, membelai kepalanya, lalu bergerak memijat tengkuknya. Sungmin terkikik pelan, merasa geli sekaligus senang. Setidaknya Kyuhyun-hyungnya sudah kembali dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi. Lagi. Ia memang tidak mengingat banyak, tapi memori yang samar-samar tersisa itu tetap mengingatkannya pada saat Kyuhyun meninggalkan dirinya, di kamar yang bahkan tidak dikenalinya, selama berhari-hari.

Lalu Kyuhyun-hyungnya tiba-tiba kembali, mengatakan bahwa ia menyesal dan membawanya untuk bermain kelinci sebagai permintaan maaf. Sungmin ingat ia tidak begitu saja memaafkan hyung nya. Tapi setelah Kyuhyun berjanji tidak akan memaksanya untuk belajar lagi, Sungmin setuju untuk memaafkan hyungnya. Lalu mereka berbaikan. Setelah itu rasanya ia jatuh sakit, um. Mungkin… demam? Sungmin tidak terlalu mengingat bagian itu. Mungkin karena sakit juga ia jadi bermimpi buruk seperti semalam. Tapi anehnya hari ini seluruh tubuhnya terasa lebih bugar. Sungmin memutar-mutar pergelangan tangannya dan mulai menggerakkan setiap jemarinya. Berusaha merasa-rasa kalau-kalau ada sisa sakit yang tersisa. Seakan ada ingatan yang mengatakan padanya bahwa semalam ia merasakan sakit yang begitu luar biasa. Rasa-rasanya mimpi dikejar chimera itu seperti nyata saja. Sungmin terkikik pelan. Tapi mana mungkin, kan?

Apa ia melewatkan sesuatu?

Dan tunggu.

Sungmin menggeliat lagi, berusaha membebaskan kepalanya dari dekapan Kyuhyun.

‘Apa yang dilakukan eomma dan Siwon-hyung  di sini? Apa hyung dan eomma bermaksud memarahi Kyuhyun-hyung karena sudah meninggalkanku kemarin kemarin kemarin?’ Sungmin bergidig, bahkan tidak mau mengingat-ingat kejadian saat itu lagi. Setidaknya Kyuhyun kembali dan meminta maaf padanya. ‘Hyung bahkan membawaku bermain kelinci sebagai permintaan maaf, eomma dan Siwon-hyung harus tahu soal itu. Agar mereka tidak salah sangka dan marah pada Kyuhyun-hyung.’ Sungmin mulai menyusun rencana agar eomma dan Siwon-hyungnya juga ikut menyukai Kyuhyun.

Tapi kalau diingat-ingat lagi, kemarin Kyuhyun-hyung tampak kesal sekali pada Siwon-hyung dan eommanya. Sungmin mengerutkan kening, ia mendongak dan bibirnya mengerucut maju.

Kenapa ya?

Sungmin berkedip, berusaha mendapatkan jawaban dengan memandangi wajah Kyuhyun. Tentu saja ia tidak berani bertanya, mengingat sikap hyung-nya ini saat ia ngotot mengikuti sang eomma. Sungmin tidak berani mengira-ngira. Bagaimana kalau Kyuhyun-hyung benar-benar mengusirnya dan tidak mau bertemu dengannya lagi? Tapi di sisi lain, Sungmin juga ingin bertemu dengan eomma dan Siwon-hyung. Ia harus menyampaikan kalau Kyuhyun-hyung orang yang baik. Dan Kyuhyun-hyung tidak mungkin meninggalkannya lagi seperti kemarin kemarin kemarin.

Hyung...”

“Hm.” Kyuhyun mengeram pelan, tidak berniat membuka matanya.

“Aku mau lihat eomma.” Cicit Sungmin pelan, menatap Kyuhyun dengan penuh harap meskipun Kyuhyun tidak balik menatapnya.

“Tidak boleh.”

Sungmin merengut, bibirnya dilipat tujuh. Dan walaupun tidak melihatnya, Kyuhyun tahu kalau mate-nya itu tengah merajuk.

“Kalau kau masih bersikeras, silahkan saja tapi jangan masuk kemari lagi.”

Sungmin merengut makin parah. Ia memajukan bibirnya dan dengan kesal mencubit dada Kyuhyun sekuat-kuatnya. Tapi hal itu tidak membuat Kyuhyun bergeming sama sekali. Putra Mahkota masih terpejam dengan tenang, sukses mengabaikan Sungmin. “Hyuuung!”

“Tidur. Sungmin-ah.”

”Aku mau lihat Siwon-hyung !”

“Tidak boleh!” suara Kyuhyun meninggi.

Sungmin mendengus, setengah takut. Ia hanya menggigit bibir dan tidak berani menantang lagi saat nada bicara Kyuhyun naik dua oktaf.

“Kalau begitu baiklah—“ lirih Sungmin pasrah, bermaksud menggugah hati Kyuhyun dengan suaranya yang memelas itu. Biasanya selalu berhasil. Tapi kali ini Kyuhyun tampak tidak terpengaruh sedikit pun.

“Aish!” Sungmin mendengus kesal, menendang satu kaki Kyuhyun dan membuatnya semakin kesal lagi karena Putra Mahkota itu tidak merespon sama sekali.

Hyunghyunghyung.” Nada suara pemuda itu berubah mengayun, makin lama makin bosan memohon pada Kyuhyun dan kali ini ia disibukkan dengan menekan-nekan kulit dada mate-nya yang sedikit terbuka. Sungmin memainkan lidahnya, menjilati bibir sembari menarik jemarinya naik menyusuri leher Kyuhyun, melalui jakun, dagu, dan berhenti tepat di bawah bibir Kyuhyun.

“Kau sedang apa, Sungmin-ah? Cepat tidur.” Kyuhyun mengerang tak suka, tangan kecil itu berhasil mengalihkan konsentrasinya yang sejak tadi sukses bertahan mengabaikan Sungmin.

Hyung...” Sungmin dengan sengaja memainkan telunjuknya di bawah bibir Kyuhyun, karena hal itu berhasil membuat hyung-nya bergerak sedikit. “Hyuuung~ Aku mau itu—“

“Huh? Itu apa?” Kyuhyun membuka matanya, melirik ke bawah dengan tampang malas.

“It-tuuuuu.” Sungmin mengerucutkan bibirnya, lalu ia melirik ke atas dan menatap Kyuhyun sedikit lebih lama. “Seperti yang kemarin, aku mau lagi.”

“Kemarin apa? Kelinci?” Kyuhyun menelan ludah. Entah mengapa ada sulut panik yang tiba-tiba menyala di dadanya. Terbukti saat tiba-tiba Sungmin mendengus kesal dan memukul dadanya karena tidak sabar.

“Aish, bukan!” Sungmin kesal setengah mati karena Kyuhyun tidak kunjung mengerti keinginannya. Sedangkan ia sendiri, tidak tahu harus menyebut hal ini dengan sebutan apa. Karena itu Sungmin bermaksud menunjukkannya langsung, dengan sedikit mengangkat tubuhnya, menyejajarkan posisi wajahnya dengan Kyuhyun lalu mengecup dagu Kyuhyun dengan perlahan, “Yang ini.” dan berlanjut tepat ke mulut Kyuhyun dengan gerakan lembut karena Putra Makhota itu tidak mengelak sedikitpun.

Hell, Kyuhyun bahkan terlalu shock untuk mengedipkan matanya. Kyuhyun baru tersadar saat Sungmin mencoba menyusupkan lidah ke dalam mulutnya. Bocah ini! Bocah yang bahkan belum dewasa ini? Bermaksud memperkosanya!

“Yah!” Kyuhyun mendelik, ia berseru murka dan refleks berdiri menjauhi Sungmin. “Apa yang kau lakukan, Sungmin-ah!”

“Kenapa?” Sungmin merengut, kecewa. Pemuda itu tengah mati-matian menahan airmatanya, rasanya seperti ditolak dua kali. Sakit. “Kau juga melakukannya padaku kemarin kemarin dan kemarinnya.” Pengakuan itu sontak membuat Kyuhyun semakin melongo, ia mendelik ke arah Sungmin, sedetik, dua detik, lima detik, dan bocah itu masih melemparkan pandangan yang sama polosnya seperti Sungmin yang biasanya. Sama artinya ia tidak sedang berdusta. Sungmin benar-benar serius.

Bocah ini mengingatnya!

“Kau mengingatnya!” tuding Kyuhyun tanpa sadar mengacungkan jarinya ke arah Sungmin yang mulai ketakutan. Spontan mengambil posisi duduk dan beringsut menjauh dari pembaringan mereka.

“Ingat apa?” cicit Sungmin pelan sambil mengangkat tubuhnya bangun. Kyuhyun hanya menggeleng, tidak percaya. Wajah Sungmin yang murung itu membuat rasa bersalahnya semakin berlipat-lipat.

“A-aish!” akhirnya Kyuhyun menyerah dan mengizinkan dirinya untuk bersikap seperti pengecut lagi. Ia berbalik, menuju pintu keluar dan berlari secepat mungkin.

Hyung!” Sungmin berteriak panik, ia mendelik dan berusaha menggapai Kyuhyun. “Hyung jangan pergi! Hyung!” pekik Sungmin dengan tangis yang sudah pecah. Suara raungannya terdengar hingga ke ujung lorong istana, meratap agar Kyuhyun tidak meninggalkannya. Tapi ia tidak berhasil mengejar Kyuhyun, dan hyung-nya itu sudah mengilang entah memasuki lorong di sebelah mana.

.

oOoOoOo

.

 

”Yang Mulia Ratu. Sejak tuan muda Sungmin sakit, aura siluman anda mulai melemah. Dan aku yakin anda sendiri menyadarinya kan?” Pria berambut cokelat panjang yang dikucir kebelakang itu menoleh ke arah wanita tua yang berdiri tak jauh di belakangnya sebelum tersenyum lembut.

“Ji Wan-sshi. Ya, aku menyadarinya. Tapi tak apa-apa. Youngwoon sering membagi energinya kepadaku kok.” Ia melanjutkan kegiatannya berjalan-jalan di kebun pribadinya yang semua tanamannya ia rawat sendiri.

“Itu saja tidak cukup. Anda harus mengistirahatkan diri dan membiarkan dirimu pulih benar dari dalam. Tidak baik berada di luar setelah matahari terbenam. Sebaiknya kita kembali ke kamar dan biarkan aku memeriksamu.” Ji Wan sebenarnya adalah orang yang pendiam dan cenderung terlihat bertampang garang bagi orang yang tak mengenalnya. Namun sebenarnya ia adalah orang yang baik. Leeteuk akhirnya berbalik karena Ji Wan tak terlihat akan menuruti penolakannya.

“Sungguh. Aku masih kuat kok. Setelah ini aku janji akan beristirahat.” Ucapnya sopan di hadapan wanita berambut putih tersanggul mutiara merah itu.

“Wajahmu yang pucat itu tidak membuatku yakin, Yang Mulia. Ayo kita kembali.” Paksanya lagi. Leeteuk memang agak kesulitan menolak wanita ini sejak dulu. Dia berniat untuk mengalah tetapi kemudian ia melihat Kyuhyun berlari ke arah balairung menuju lorong kamar raja.

“Ji Wan! Kyuhyun pasti sedang meninggalkan Sungmin. Ayo kita ke kamarnya sekarang!” ucap Leeteuk terburu-buru sambil menarik lengan wanita tua itu.

“Hei! Kubilang kita harus ke kamarmu dulu, Yang Mulia!” Namun perkataan setengah marah-marah itu semakin tidak digubris oleh Leeteuk yang memang mengincar kesempatan ini. Kyuhyun tidak pernah mengizinkan tabib manapun mendekati Sungmin selama ia bersama mate-nya.

 

.

oOoOoOo

.

APPA! APPA!”

Teriakan panik Kyuhyun menggema, persis terdengar seperti seorang pangeran manja yang sedang mengadu kepada ayahnya karena menginginkan sesuatu. Namun karena Kyuhyun memang panik, dia sendiri tidak menyadarinya pandangan heran para mentri dan pengawal yang berkumpul di tengah aula kini berpaling ke arahnya.

Kangin ikut mengerutkan kening ke arah suara putranya datang.

“Ada apa, Kyuhyun-ah?” Tanyanya bingung sambil berdiri meninggalkan menterinya menuju pintu masuk, tempat dimana Kyuhyun berdiri salah tingkah. “Memangnya kau ini anak umur 10 tahun yang tidak tahu tata-krama, ya!“ Kangin cukup malu. Sudah beberapa kali Kyuhyun bertingkah panik seperti ini sejak Sungmin datang. Dulu, waktu dia masih beristrikan manusia, Kyuhyun tidak pernah bersikap seperti ini. Karena mungkin ia juga tahu bahwa Kangin tidak menyetujui hubungan mereka.

“Maaf Appa… Tapi aku benar-benar kaget. Sungmin… Bocah itu—”

“Kenapa? Apa dia hamil lagi?” Sang raja memotong kalimat Kyuhyun.

“Aish! Bukaaaan!” Kangin menyipitkan matanya, seolah selain berita itu tidak ada lagi berita yang diharapkannya.

“Dia tidak hilang ingatan, appa! Dia mengingatnya!” Mata hitam Kangin sontak membelalak.

“APA?!” Tanpa melirik ke belakang, ditariknya bahu Kyuhyun untuk pindah ke lorong yang lebih sepi.

“Kau tahu darimana? Apa dia yang bilang begitu?” Bisiknya kepada putranya itu. Kyuhyun mengangguk.

“Jadi dia ingat kalau dia keguguran?”

“Bukan. Sepertinya tidak, Appa. Err… aku belum bisa memastikannya. Tapi yang jelas dia ingat saat… saat aku menjadikan dia mate-ku.” Bisik Kyuhyun lebih pelan lagi karena malu. Kangin tiba-tiba jadi penasaran.

“Memangnya dia bilang apa?” Muka Kyuhyun langsung merah padam dan salah tingkah. Dia bahkan merasa malu melihat mata ayahnya tiba-tiba.

“Uhmm… dia… bilang dia ingat itu.” Kangin menyeringai nakal.

“Itu? Itu apa Kyu?” Tanya Kangin menjebak. Padahal ia sudah tahu dari awal apa yang dimaksud oleh putranya itu.

Appa. Kumohon jangan pura-pura. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat ini.” Kangin tertawa melihat Kyuhyun yang mencoba bersikap tenang.

“Yang jelas tidak usah panik. Selagi ia tidak mengingat kejadian yang akan membuat trauma itu, berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Agar lebih jelas, kita akan minta tabib memeriksanya.” Mendengar kata ‘tabib’, Kyuhyun bergidik ngeri. Kangin tahu itu.

“Kau jangan mempersulit hal ini, Kyuhyun-ah. Aku akan membicarakannya nanti dengan tabib kerajaan yang bisa dipercaya.” Ujar Kangin setengah memperingati pemuda keras kepala itu.

“Yasudahlah kalau begitu…” Jawab Kyuhyun tak rela. Kangin mengangguk puas.

“Sekarang kau kembali saja dulu. Awasi dia dan pastikan bahwa ia tidak mengingat hal yang buruk. Aku harus kembali menemui para menteri dulu sekarang.” Kyuhyun mengangguk pelan dan Kangin meninggalkannya setelah menepuk bahunya.

Kedua kaki Kyuhyun membawanya keluar dari bangunan raja itu, kembali ke bangunan kerajaan utama. Saat hampir sampai ke daerah selatan, ia terbangun dari lamunannya dan mengingat bahwa tadi ia meninggalkan Sungmin begitu saja.

“Aish… pasti bocah itu akan marah. Jangan-jangan dia sedang menangis sekarang…” Bisiknya pada diri sendiri. Kyuhyun menghela napas dan sedikit mempercepat langkahnya.

‘Sebaiknya aku bawakan dia permen untuk membujuknya.’

Tanpa berpikir dua kali, ia membalik badan dan melangkah menuju dapur sebelum kembali menuju kamarnya.

 

.

oOoOoOo

.

 

Semakin dekat Leeteuk dari ruangan Kyuhyun, semakin jelas pula suara tangis Sungmin di telinganya. Terlihat dua orang pengawal kerajaan yang kerepotan karena Sungmin tidak mau di dekati oleh mereka.

“SANA! JAUH-JAUH! AKU MAU KYUHYUN-HYUNG! HUEEEEEEEEEEEEEE!” Rengeknya tak jauh dari depan pintu kamarnya.

“Permisi.” Leeteuk bergegas melewati kedua pengawal itu kemudian berjongkok di depan bocah Snowelf yang duduk di atas lantai dan menangis rewel.

“Sungmin-ah? Chagi, kenapa menangis?” Tanyanya lembut tanpa memaksakan masuk ke jarak aman bagi Sungmin. Sungmin menatapnya waspada. Namun Leeteuk tak terlihat menakutkan seperti kedua penjaga tadi.

“K-K-Kyu hyunggg… Hiks! Hiks! Dia pergi lagiii…” Adunya sambil terisak.

Hyung tidak pergi jauh kok. Dia… dia sedang mengambilkan makanan kesukaan Sungmin sebentar.”

Ji Wan hanya mengamati mereka berdua dari jauh.

Sebagai tabib pribadi permaisuri terdahulu, wajar jika Ji Wan menyimpan rasa tidak suka terhadap pria yang telah mengganggu kehidupan raja dan ratunya itu. Dia sendiri yang menyaksikan keadaan sang ratu terdahulu makin lemah dari hari ke hari sejak gangguan orang ini. Ya, Ji Wan memang tidak menyambut kedatangan Leeteuk saat dia dibawa ke istana untuk dinikahi oleh Raja. Namun seiring waktu, pemuda desa itu mengubah prasangkanya. Walau Leeteuk tak pernah bercerita apapun, sekarang ia bisa melihat sendiri dengan mata kepalanya siapa yang harus disalahkan.

“Ta-tapi dia tidak—hiks! Tidak bilang begituuu…” Sungmin mengusap hidungnya yang mulai basah dengan lengan bajunya yang panjang.

Hyung kan ingin kasi kejutan. Makanya dia tidak bilang kepadamu. Nah jangan menangis lagi ya… sebentar lagi dia pasti datang.”

Sungmin mengerjap, tangisnya sedikit mereda dan berubah menjadi isakan.

“…Bawa permen awan?” Tanyanya dengan mata yang bulat berkaca-kaca.

“I—iya. Tentu saja.” Leeteuk tersenyum kepadanya, menunjukkan lesung di pipi kirinya. Perlahan ia menaikkan tangan kanannya untuk menyentuh kepala Sungmin yang sedikit takut-takut. Hati Leeteuk terasa berbunga-bunga saat Sungmin tidak menghindar dan membiarkan Leeteuk mengelus rambutnya.

“Kamu siapa?” Tanya Sungmin setelah Leeteuk melepaskan tangannya dari kepala Sungmin. Awalnya Leeteuk bingung bagaimana menjelaskannya, namun ia memilih untuk menjawab dengan namanya saja.

“Ehm… Namaku Jungsu. Tapi kau bisa memanggilku Teukie.”

“Hummm…” Sungmin memandangi Leeteuk. Air matanya mulai mongering saat diusapnya lagi bawah kelopak matanya dengan gerakan imut.

“Teukie baik seperti eomma. Teukie-eomma!” ujarnya tiba-tiba sembari berseru girang. Hal yang tak terduga itu tentu membuat Leeteuk tersenyum senang sekaligus tidak percaya. Kemudian dia teringat niat utamanya ke sini.

“Sungmin-ah mau coba permen apel dari Teukie-eomma? Permen apel juga enak seperti permen awan loh!”

Sungmin mengangguk dengan mata berbinar senang.

“Mauuuu! Mana, eommaaa?” Pintanya sambil menjulurkan tangannya.

“E-ehh… eomma tidak bawa sekarang.” Sungmin langsung merengut kecewa.

“Ta-tapi eomma akan bawakan kalau Sungmin-ah mau kenalan sama teman eomma, Ji Wan-sshi ini.” Tunjuk Leeteuk ke belakang sambil mengisyaratkan agar nenek itu untuk mendekat. Ji Wan menghela nafas namun mendekat perlahan. Ditatapnya balik bocah yang sudah membuat gempar istana itu.

“Ummm…” Mata Sungmin kembali berkaca-kaca karena takut dengan tatapan seram Ji Wan.

“Sungmin-ah! Ji Wan-sshi memang seram, tapi dia ini baik lho! Dia pembuat permen apel terenak di Radourland ini!” Permaisuri itu mencoba membujuk bocah Snowelf itu sambil melirik ke arah Ji Wan, memohon agar sang nenek melembutkan raut wajahnya sedikit.

“Tuan muda Sungmin. Hamba sedang tidak membawa permen apel. Tapi ada ini…” Dirogohnya kantung obat-obatan yang selalu dibawanya dan mengeluarkan permen kecil berwarna hijau. Sungmin tidak jadi menangis. Ia menatap tertarik kepada benda yang ditawarkan kepadanya itu. Namun karena warnanya hijau, dia jadi tak tertarik.

“Tidak mau.” Ujarnya kecewa. Sang nenek sebenarnya cukup syok dengan jawaban spontan bocah snowelf itu, namun anak-anak putri Kangin juga tidak tahu sopan santun seperti ini sampai mereka cukup dewasa untuk mengerti tata-krama. Leeteuk sempat bingung harus berkata apa sampai Sungmin sendiri yang bilang.

“Mau coba permen apel saja. Nanti dibawakan kan? Janji kan Teukie-eomma?” Tatapnya memaksa kepada Leeteuk yang langsung mengangguk.

“Iya. Eomma janji Sungmin-ah. Nah, salaman dulu sama Ji Wan-sshi ya?” Dengan ogah-ogahan Sungmin menjulurkan tangannya ke Ji Wan yang lalu menerimanya sambil memeriksa keadaan pangeran bungsu Hviturland itu.

“Unngg… kenapa salamannya lama sekali, sih?” Tanyanya kesal saat sang nenek tidak langsung melepaskan tangannya.

“Sungmin-ah. Dua permen apel?”

“Tambah permen awan!”

Leeteuk sempat kaget dengan penawaran bocah itu. Namun ia menanggguk setuju. Dengan bujukan itu, Sungmin diam tak protes lagi sampai tabib itu sendiri yang melepaskan tangannya. Pada saat yang bersamaan—

“SUNGMIN-AH!”

Teriakan dengan nada kesal itu menggema ke dalam lorong itu dan spontan membuat mereka semua menoleh ke arah sana. Sang pangeran mahkota telah tiba. Lebih cepat dari dugaan Leeteuk.

“HYUNG!” Teriak Sungmin senang.

DRAP! DRAP! DRAP!

Bahkan langkahnya yang terdengar marah juga menggema.

Leeteuk berdiri dan Ji Wan melangkah mundur dari Sungmin saat Kyuhyun mendekat. Leeteuk hanya berharap Kyuhyun tidak mengatakan hal-hal buruk di depan Sungmin.

Hyuuung!” Rengek Sungmin manja saat Kyuhyun berdiri di sampingnya dan memeluk pundaknya protektif. Namun ia heran dengan tatapan kesal yang dipancarkan Kyuhyun kepada lelaki berambut cokelat yang baik hati itu.

“Jangan dekati Sungmin lagi. Pergi dari sini!” desis Kyuhyun geram. Dia tidak bisa meluapkan amarahnya di depan mate-nya yang masih belia.

Leeteuk terlihat pucat saat Kyuhyun mengusirnya. Ia bahkan tak berani menatap mata Kyuhyun lama-lama.

“Ayo pergi, Yang Mulia.” Ji Wan mencoba menarik tangan Leeteuk yang belum beranjak dari tempatnya.

“Sungmin, ayo kembali ke kamar.”ucapnya tanpa menoleh ke Sungmin.

“Ta-tapii…” Kyuhyun menarik Sungmin dengan sedikit memaksa. Dan saat mereka berdua masuk, ia membanting pintunya dari dalam; membuat Sungmin sendiri terlonjak kaget.

Hyungah!”

“APA!” Desis Kyuhyun kesal saat berbalik ke arah Sungmin.

“Harusnya yang marah itu aku! Mana permen awannya?” Tanya Sungmin sambil melotot dan melipat kedua tangannya di dada.

“Lho? Siapa yang bilang aku bawa permen awan?” Tanyanya balik keheranan.

“Teukie-eomma bilang kau pergi untuk ambil permen awan. Manaaaaaaaaaaaaaa?” Rengeknya manja.

“TEUKIE—E-EOMMA?! Tidak ada! Lagipula kenapa kau percaya padanya?”

Mata snowelf itu kembali berkaca-kaca.

“Jadi tak ada permen awan? Hiks… Hyung  bodoh! Pergi saja sana!” Kyuhyun terbelalak saat Sungmin mengusirnya hanya karena permen bodoh itu.

MWO? Kau lebih suka permen itu dari aku?! Aku akan benar-benar pergi nih!” Bentak Kyuhyun kesal. Namun ia menyesal seketika Sungmin meraung dan memukulinya.

“HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! HYUNG JAHAT!”

“He-hei! Yah, Sungmin-ah! Aku Cuma bercanda!” Dirogohnya kantung yang dibawanya tadi dengan kesulitan dan mengeluarkan permen kembang gula yang sedikit hancur dari dalam sana. Karena tadi ada abang-abang iparnya, dia malu dan menyimpan benda itu di dalam kantung.

“Nih!” Sungmin diam. Lalu mengambilnya dari Kyuhyun dan melahapnya sambil berlinang air mata.

“Aish… dasar bocah.” Kyuhyun menggerutu sambil melangkah ke tempat tidur dan merebahkan dirinya di sana. Sungmin mengikutinya dan duduk di samping tempat tidur mereka.

“Sungmin-ah.” Panggil Kyuhyun parau karena mukanya tertutup ke bantal.

Ne?” Tanya bocah itu sambil menggigit permennya lagi.

“Kan sudah kubilang jangan dekati orang asing.” Ujar Kyuhyun yang menoleh ke samping dan menatap mate-nya itu. Sungmin salah tingkah seketika.

“Ta-tapi dia kan baik!”

“Tahu darimana kalau dia baik?” Tantang pemuda itu.

“Dia yang bilang hyung akan kembali.” Sungmin merengut saat mengingat Kyuhyun meninggalkannya tanpa pesan apapun. Oke. Untuk hal ini sepertinya Kyuhyun tertolong oleh orang itu, meskipun ia tidak memintanya. Cih.

“Teukie-eomma bilang—”

“Aish, Ming! Jangan panggil dia begitu!” Sungmin makin merengut heran kepada Kyuhyun yang terlihat membenci Leeteuk.

“Dia… dia bilang hyung pergi mengambilkan permen awan untukku…”

Dua kali. Shit… meski Kyuhyuntak tahu bagaimana orang itu bisa dapat ide untuk mengatakan hal itu. Namun kebohongan itu juga menolongnya.

Dan Kyuhyun tak suka berhutang budi.

“Dia juga berjanji akan memberikanku permen apel.”

Kyuhyun tertawa sinis.“Untuk apa? Permen apel itu tidak enak lho, Sungmin-ah.”

Senyum Sungmin hilang lagi.

“Benarkah? Katanya enak. Jadi dia bohong?” Tiba-tiba Kyuhyun menyadari betapa busuknya dia. Harusnya ia tidak menghasut bocah yang tak tahu apa-apa ini untuk membenci Leeteuk. Tapi dia tak rela jika Leeteuk mendekati Sungmin dengan maksud tertentu.

“Umm… menurutku sih tak enak. Jadi lebih baik tidak usah.” Sungmin bersungut-sungut kecewa lalu melemparkan tangkai permennya yang sudah habis sembarangan.

“Sudah. Ayo tidur sini.”

“Aku belum ngantuukk…” protes Sungmin.

“Ini sudah waktunya istirahat. Jadi kau harus tidur.” Kyuhyun lalu mengacuhkannya dan menutup mata. Awalnya Sungmin diam dan mencoba untuk tidur. Namun karena ia sudah puas tidur sejak matahari masih tinggi, sekarang dia sama sekali tidak merasa ngantuk. Dia masih ingin bermain. Dia pindah ke sisi kanan, lalu kiri, lalu telentang lagi namun tetap tak bisa tertidur.

“Kyu-hyung.” Bisiknya pelan.

“Ne, Hyung.” Panggilnya lagi. Namun Kyuhyun tidak menjawab. Tak lama kemudian terdengar dengkuran pelan dari mulut Kyuhyun yang sedikit terbuka. Ternyata Kyuhyun sudah ketiduran duluan. Sungmin ingin meluapkan kekesalannya, tapi dia malah jadi terkekeh melihat hyungnya seperti itu.

“Hyuuuung…” Dipanggilnya Kyuhyun pelan sambil memencet-mencet hidungnya. Tapi Kyuhyun tak tampak terganggu sama sekali.

Meskipun Sungmin menyentuh pipi, mata, dan bibirnya, dia tidak bangun. Pada saat Kyuhyun tertidur seperti inilah Sungmin bisa memperhatikan raut wajah pemuda yang tampan itu dengan seksama. Dia tertawa-tawa kecil dan tak lama kemudian merasa ngantuk karena bosan mengganggu Kyuhyun.

“Hoaahmm…” Sungmin menguap. Lalu ia rapatkan bibir Kyuhyun dengan jemarinya yang kecil itu kemudian menyentuhkan bibirnya ke bibir pemuda yang sedang lelap tidur itu.

“Selamat tidur hyung.” Sungmin menarik selimutnya untuk menutupi badannya dan badan Kyuhyundan ikut terlelap ke alam mimpi.

 

.

oOoOoOo

.

Kyuhyun menguap untuk kesekian kalinya. Berbaring di atas rumput di tengah taman yang sepi membuat kantuk dengan cepat menyerangnya. Ia menghela napas berat lalu berdumal sendiri, mengeluhkan banyak hal meski suara keluhannya tidak terdengar sama sekali. Tidak bahkan untuk Sungmin yang sedang berjongkok begitu dekat disisinya. Bocah itu justru asik mengobrol dengan seekor anak anjing yang hanya bisa membalas usapan lembut tangannya dengan gerungan rendah. Cacao. Kyuhyun mendengar saat sesekali Sungmin memanggil anak anjing itu dengan sebutan ‘Cacao’.

Kemarin kelinci, sekarang anjing. Kyuhyun mendengus. Sepertinya bocah ini memang punya ketertarikan khusus pada makhluk-makhluk lucu, Chimera tidak termasuk. Dan lihat tingkah Sungmin saat ini, bocah itu bersikap seakan-akan Kyuhyun tidak berada disana. Sungmin bahkan tidak berniat menegurnya sama sekali. Tapi setiap kali Kyuhyun berbalik dan bermaksud untuk bangkit, bocah snowelf itu akan dengan cepat menyadari dan berseru padanya untuk tidak pergi.

“Bocah sial.” desis Kyuhyun pelan. Tapi Kyuhyun tidak bisa mengelak dari bisikan hatinya sendiri yang tengah mengakui, pemandangan Sungmin yang sedang mengajak anjingnya mengobrol dengan menggebu-gebu itu… Memang tampak sangat manis. Ah.

Sejak ia kembali dua minggu yang lalu, Kyuhyun memang menyadarinya. Cara Sungmin memandangnya tampak sedikit berbeda dari sebelumnya. Begitu pula dengan dirinya. Rasanya ada yang aneh dengan mata ini. Entah kenapa ia merasa semakin lama memandangi Sungmin, ada gejolak aneh yang bergemuruh dalam dadanya. Sungmin tampak begitu berbeda. Semakin lama dipandangi, bocah ini semakin tampak –manis. Kyuhyun bersumpah untuk tidak membiarkan seorangpun mengetahui, bahwa terkadang ia menghabiskan berjam-jam setiap malam hanya untuk memandangi wajah Sungmin yang tertidur pulas… kecuali jika dia sendiri yang duluan ketiduran.

Tidak ada rasa jemu. Tapi rasa takut itu masih tersisa. Meskipun sejauh ini ia mengizinkan Sungmin memeluk dan mencium bibirnya, Kyuhyun belum mengizinkan dirinya sendiri untuk berbuat lebih. Kenyataan bahwa Sungmin tidak melupakan kejadian malam itu— Semakin membuat Kyuhyun sadar untuk menahan gejolak nafsu dalam dirinya sendiri. Ia akan menunggu setidaknya hingga Sungmin sedikit lebih dewasa untuk mengerti pada keadaan yang telah mengikat mereka berdua. Kyuhyun hanya tidak ingin kesalahan yang sama terulang dua kali.Tubuh bocah ini masih terlalu muda untuk dipaksa menampung satu nyawa lain.

Kyuhyun memejamkan matanya, mencoba tidak mendengarkan percakapan sepihak antara mate-nya dan anak anjing itu. Sungmin terus bertanya tentang hal-hal tidak penting seperti ‘Kau sudah makan? Makan yang lahap supaya kau tumbuh besaaar!’ dan ‘Lawan Chimera untukku, ne?’

Kyuhyun nyaris tertawa mendengarnya. Sepertinya Sungmin masih punya dendam pribadi pada monster peliharaannya. Kyuhyun semakin yakin untuk tidak memberikan anak monster sungguhan kepada Sungmin, bisa-bisa mate-nya ini melatih anak monster untuk melawan Chimera miliknya. Dan omong-omong soal Chimera, Kyuhyun baru teringat ia belum mengurus monster peliharaannya itu sejak kepulangannya. Kyuhyun juga belum sempat menyentuh seekorpun kuda selama dua minggu ini. Tidak ada latihan pedang, tidak ada belajar, tidak ada pertemuan menteri. Seluruh waktunya dihabiskan hanya untuk menemani Sungmin bermain, makan, mandi, sampai tidur. Kyuhyun mendengus. Sampai kapan dia harus seperti ini? Kenapa semakin lama perannya lebih seperti pengasuh anak daripada mate Sungmin?

Sekali saja, ia ingin berada di ruang yang berbeda dari Sungmin. Tapi bocah ini belum pernah sekalipun mengizinkannya pergi. Yang terakhir dua minggu yang lalu, saat Kyuhyuningin keluar sebentar mengurus peliharaannya, Sungmin menangis histeris menyangka Kyuhyun akan meninggalkannya, lagi.

Kyuhyun mendesah. Ia bangkit dan menepuk-nepuk pakaiannya dari serpihan rumput. Dan benar saja, gerakan kecilnya itu membuat Sungmin berpaling dan menatapnya ingin tahu. “Sungmin-ah. Aku mau memeriksa kudaku di taman belakang. Kau tunggu disini, ne?”

“Aku ikut! Aku ikut!” Sungmin berseru panik, meninggalkan Cacao dan segera berdiri dekat di sisi Kyuhyun.

Kyuhyun melengos. “Aish. Kalau begitu tidak jadi.”

“Kenapa?”

“Tidak apa. Sudah lanjutkan lagi obrolanmu dengan anjing itu. Aku mau tidur.” Kyuhyun kembali berbaring miring, memunggungi Sungmin. Tapi rupanya Sungmin sudah bosan dengan anak anjingnya, ia berjalan memutar dan berhenti di hadapan Kyuhyun sebelum ikut-ikutan berbaring menyejajarkan tubuh pendeknya dengan tubuh Kyuhyun.

“Aku juga mau tidur!”ujar Sungmin sembari ikut berbaring miring, menghadap Kyuhyun yang kini mendengus padanya. Sungmin juga ikut meniru Kyuhyun yang berbaring melipat siku lengannya dan menahan kepala dengan telapak tangan. “Hehe.” Kekehnya dengan mata yang turut tertawa. Kyuhyun makin mendengus melihatnya.

“Kemari.” ujar Kyuhyun menepuk ruang kosong diantara mereka, ia merentangkan sebelah tangan dan mengisyaratkan Sungmin untuk membaringkan kepalanya disana. Sungmin dengan cepat menurutinya, ia tersenyum begitu lebar saat berbaring dengan menggunakan lengan Kyuhyun sebagai bantalnya. Terlebih dari jarak sedekat ini, hangat napas Kyuhyun-hyungnya terasa begitu menggelitik. Sungmin terkikik lagi.

“Bocah tengik.”

“Apa itu tengik?”

“Bukan apa-apa. Jangan disebut lagi.”

Kyuhyun memejamkan matanya, suara napasnya berhembus teratur meski ia tidak tertidur. Kyuhyun tengah menenangkan diri dalam hati, karena jauh di dalam sana jantungnya berdegup kencang. Ia tahu mata bulat Sungmin tengah terbuka lebar dan bocah itu tengah menatapnya lekat-lekat. Beruntung bocah ini tidak bertanya lagi. Tapi sial, tangan lembut itu mulai bergerak jahil, mengusap dagunya dan menjelajahi sekujur wajahnya. Kyuhyun menelan ludah getir. Ini bukan kecanggungan, ini adalah sisa-sisa ketakutan Kyuhyun akan kendali atas dirinya sendiri. Ia hanya takut lepas kontrol dan melukai mate-nya ini. Karena itu Kyuhyun diam tak merespon saat dengan berani Sungmin mempertemukan bibir mereka.

Kyuhyun terdiam, membiarkan bocah itu bergerak sesuai keinginannya. Bibir lembut itu bergerak pelan seakan ragu-ragu, tapi ia tidak berhenti, dan Kyuhyun juga tidak menghentikannya. Lidah mungilnya perlahan menyusup masuk dan Kyuhyun hanya membuka mulutnya, membiarkan Sungmin memenuhi hasrat polosnya. Gerak amatir dan hisapan yang terkesan sekedar ingin tahu itu justru membuat jantung Kyuhyun berdegup makin tak karuan. Tapi Kyuhyun tidak berani bergerak dari posisinya, ia takut sedikit saja responnya akan berakibat buruk. Untuk diam dalam posisi ini saja sudah sulit, apalagi kalau ia harus menghentikan diri saat ia terlanjur lepas kontrol nanti?

Tapi begitu Sungmin menggigit bawah bibirnya gemas, Kyuhyun merasa ia harus segera menghentikan semua ini. Sebelum Sungmin memaksanya untuk merespon.

“Kau bilang mau tidur?”

“Hehe.” Sungmin hanya terkekeh. Hembus dingin napas mulutnya bertemu langsung ke dalam mulut Kyuhyun. Tapi snowelf muda itu segera merengut, karena Kyuhyun tidak kunjung membuka mata dan kali ini justru pura-pura tertidur dan menghembuskan napas panas ke keningnya. “Hyung, kubilang kan aku mau itu~” ujarnya gemas sembari menarik kaus Kyuhyun di depan dadanya. “Tapi kau selalu pura-pura tak dengar!”

Kyuhyun nyaris mendelik mendengar tuntutan itu. Tapi hebatnya, ia masih bisa bertahan pada posisi awalnya dan berpura-pura seakan tidak mendengar hal mengejutkan itu sama sekali. “Tidak boleh, Sungmin-ah.”

“Kenapa tidak boleh? Waktu itu boleh, kok!”

“Tidak boleh sekarang, tunggu sampai usiamu 17, ne! Kalau kau hamil sekarang bisa repot.”

“Oh, begitu.”Sungmin menunduk, kecewa. Tapi pemuda itu kembali mendongak dan memasang wajah antusias. “Memangnya kenapa kalau hamil? Aku tidak apa-apa kok!”

Kali ini, Kyuhyun tidak cukup hebat untuk mempertahankan sikap tenangnya. Ia mendelik kaget mendengar penuturan mate-nya. Sungmin bahkan mengatakannya dengan nada ceria, mata itu membulat polos dan memandangnya seakan ia baru saja mengatakan hal remeh. Kyuhyun mengeram kesal.“Aku bicara serius, Sungmin-ah! Kau mau hamil?”

Sungmin merengut, tiba-tiba keberaniannya menciut melihat Kyuhyun yang tampak begitu kesal. “Memangnya hamil itu apa?” tanyanya polos.

Kyuhyun mengerang, nyaris tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Saking kesalnya, Kyuhyun refleks menjawab tanpa berpikir panjang. “Hamil itu, kau harus membiarkan orang lain hidup disini, di perutmu. Kalau kau tidak cukup kuat, dia akan merobek perutmu dari dalam untuk bisa keluar. Kau mau itu!” Kyuhyun menyentak lagi. Kelak, ia akan menyesali ucapannya hari ini. Tapi sekarang, memori kecil Sungmin sudah terlanjur menyimpan penjelasan palsunya tentang definisi kehamilan. Mata bulat snowelf muda itu makin membesar. Ketakutan, diremasnya kulit perutnya sendiri. Dua alisnya bertaut dan rautnya berubah memelas.

“T-tidak mau!”

“Kalau begitu diam dan jangan banyak menuntut.”

Sungmin segera menggigit bibir bawahnya, menuruti perintah Kyuhyun untuk bungkam. Ia beringsut mendekat dan memeluk Kyuhyun dengan dua tangan pendeknya. Dengan gugup, ia merekatkan wajahnya tepat di dada Kyuhyun, mencoba untuk tidak menuntut apa-apa lagi.

Sementara Kyuhyun menghela napas lega. Ia sempat menyesali penjelasan asalnya itu yang mungkin akan menyesatkan Sungmin kelak, tapi sekarang setidaknya kalimat itu berhasil menghentikan tuntutan konyol mate-nya. Masih merasa bersalah, Kyuhyun balas memeluk Sungmin dan menepuk-nepuk kepala snowelf muda itu. Tapi bukannya tertidur, mate kecilnya itu beralih sibuk memainkan kancing di dadanya dan justru dirinyalah yang semakin mengantuk. Angin sejuk yang berhembus semakin memancing rasa kantuknya menjadi-jadi. Tak lama lagi, Kyuhyun pasti sudah akan jatuh tertidur. Tapi suara langkah terseret-seret di atas rumput yang terdengar makin mendekat kembali membuatnya terjaga.

“Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun mendongak, ia mengusap tengkuknya untuk mengusir kantuk dan tersenyum tipis pada Sooyoung yang berdiri dua meter dari mereka. Tepat di belakang Sooyoung berdiri Victoria yang menggendong putri kecilnya dan Jesicca yang berkacak pinggang, lalu sedikit jauh dari mereka, Seohyun duduk di pinggir taman memangku bayi kecilnya.

Ne, noona?” jawabnya sembari bangun, ditariknya bahu Sungmin untuk ikut duduk. Sungmin berpaling sebentar, setelah melihat siapa yang datang, ia segera berbalik lagi memunggungi orang itu.

Appa memanggilmu, sekarang dan ini penting.Lalu katanya kau harus datang—” Sooyoung mendengus saat melirik Sungmin. “Sendiri.” Tekannya dengan nada mengejek.

Sungmin meremas kaus Kyuhyun makin erat, seakan menahannya untuk pergi. Tapi Kyuhyun melepas cengkraman tangannya dengan satu tarikan yang lebih kuat. Sungmin melengos kecewa saat Kyuhyun justru berdiri dan meninggalkannya duduk sendiri di bawah sana.

“Oh, oke. Sungmin-ah, kau tunggu disini sebentar saja.”

Sungmin mendelik, “Hyung, aku ikut!” dengan panik ia berdiri dan memeluk lengan Kyuhyun kuat-kuat.

“Raja bilang Putra Makhota harus menemuinya sendirian, itu artinya kau tidak boleh ikut bocah.” cibir Jesicca dengan raut sinis. Sungmin balas melotot padanya, dikeratnya lengan Kyuhyun makin kuat seakan menunjukkan bahwa dirinya juga tak mau kalah. “Lepaskan Kyuhyun sekarang, bocah! Raja sudah menunggunya!” timpal Victoria garang.

Noona.” Kyuhyun menghela napas. Rautnya mengeruh, seakan ia ingin mengatakan ‘Jangan mulai lagi’. Kalau Sungmin sampai menangis disini, semua akan semakin runyam. Dan Kyuhyun terancam tidak bisa pergi menemui ayahnya, sama sekali.

“Sungmin-ah, kau tunggu disini sebentar saja. Lima menit oke? Kalau lebih dari itu, hyung traktir permen awan. Setuju?” rayu Kyuhyun lembut sembari berusaha menanggalkan belitan tangan Sungmin dari lengannya. Tapi mate-nya itu tidak menjawab, Sungmin malah merengut dan memasang wajah memelas yang membuat Kyuhyun menghela napas sekali lagi. Kyuhyun ikut memasang ekspresi memohon yang membuat kerutan di kening Sungmin bertambah dalam.

“Setuju?” tanya Kyuhyun sekali lagi, kali ini dengan sedikit menekan. Sungmin tampak ragu, ia bergantian memandangi Sooyoung dengan sengit dan balas menatap Kyuhyun yang menunduk menunggu jawabannya. Kalau ini memang sangat penting, Sungmin sadar ia tidak seharusnya menahan Kyuhyun disini. Tapi bagaimana kalau Kyuhyun pergi dan tidak kembali seperti saat itu? Sungmin kembali bergulat dengan batinnya sendiri. Tapi melihat ekspresi lembut Kyuhyun yang masih sabar menunggu jawabannya, Sungmin berusaha percaya pada kemungkinan pertamanya. Kyuhyun-hyungnya hanya perlu bertemu Raja sebentar saja. Akhirnya dengan sedikit tidak rela, Sungmin menghela napas dan menjawab “iya.” dengan suara berbisik.

“Okay.” Kyuhyun menghela napas lega dan tersenyum senang. Ditepuknya bahu Sungmin sekali sebelum ia melangkah pergi. “Aku titip mate-ku, noona.” pesan Kyuhyun sebelum tubuhnya menghilang di balik lorong. Sungmin menggerung tak senang, ia mendengus ke arah Jesicca, Victoria, dan Sooyoung sebelum berbalik menghampiri anak anjingnya yang sempat terabaikan.

Pemuda itu berjongkok disana, memunggungi ketiga wanita tadi dan menyibukkan diri dengan mengusapi bulu-bulu lembut anjing kecilnya, sedikit berharap wanita-wanita menyebalkan itu segera pergi dari sana. Tapi suara bisik-bisik mencibir masih jelas terdengar, ketiganya belum berniat beranjak dari sana dan kini komentar-komentar yang keluar dari bibir mereka pun semakin menjadi.

“Bukannya pergi ke kuil untuk mendoakan bayinya, dia malah bermain-main disini dan bersikap seperti bayi!”

Sungmin mengabaikan komentar itu, ia malah asik menyodorkan piringan kuning yang sejak tadi digunakannya untuk bermain dengan Cacao.

“Pantas saja dia keguguran. Dewa tidak mungkin memberikan anugerah seorang putera pada bocah yang bahkan tidak tahu tata krama.”

Sungmin mendengus kuat-kuat. Ia melirik ke belakang dengan sinis,“Bitches.” cibirnya sembari terkikik-kikik.

“Ooh! Kau dengar itu, eonni! Dia menyebut kita bitch?”

“Aku sedang bicara dengan anjingku, maaf ya kalau kalian merasa.”

“B-bocah ini!” Victoria mengeram, mengepalkan sebelah tangannya siap menarik bocah tengik itu dari belakang.

Eonnie, cepat kembali. Jangan ganggu anak itu! Kau tidak mau dimarahi appa lagi kan?” Seohyun yang sejak tadi hanya mengawasi dari jauh mulai merasa khawatir. Dengan cemas dia menunduk, melirik bayi kecilnya yang tengah tertidur pulas. Kalau sesuatu terjadi, ia tidak akan bisa melerai atau menghentikan mereka. Dan Seohyun kenal betul peringai kakak-kakaknya, mereka tidak akan berhenti sampai Sungmin terlihat kalah bagi ketiganya. Di sisi lain, snowelf muda itu tidak tampak akan mengalah sedikitpun.

“Diam, Seohyun. Kau saja yang masuk duluan.”

“Eonnie!”

“Masuklah duluan! Aku mau memberi pelajaran pada bocah sialan ini,” Jesicca berdecih sinis. Sooyoung di sisinya ikut-ikutan berkacak pinggang saat Sungmin berpaling hanya untuk membalas dengan cibiran yang tak kalah sinisnya.

“Jalang tua cerewet.” Gumamnya keras, sengaja agar mereka mendengarnya. Sungmin terkekeh-kekeh, tanpa berpikir untuk memalingkan wajahnya lagi, ia semakin asik menggaruk tengkuk anjing yang kini berguling di atas pangkuannya. Tidak menyadari sama sekali empat pasang mata, termasuk Seohyun kini mendelik shock mendengar cibiran yang cukup keras itu.

“Dasar bocah kurang ajar!” seru Sooyoung murka. Kalau saja tidak ada Jesicca dan Victoria yang menahan dirinya, ia pasti sudah menghantam tubuh kecil itu dan mencekiknya sampai mati. Tapi seperti tujuan awal, mereka tidak boleh melukai bocah ini sedikitpun. Sooyoung sempat lupa akan resiko berhadapan dengan amarah raja kalau saja bocah ini sampai terluka barang seujung jari pun. Tapi mencibir dan menyindirnya tidak akan meneteskan darah, kan? Dan ini juga lebih menyenangkan, mengingat bocah ini sempat sakit berhari-hari karena ditinggalkan oleh Kyuhyun dan sialnya, ingatannya tidak benar-benar hilang seperti yang diduga oleh anggota kerajaan.

Sooyoung melirik Victoria dan melempar seringai jahatnya, ia menarik putri Victoria dan menggendongnya dengan sayang. Sembari menepuk-nepuk punggung gadis kecil itu, Sooyoung memancing keponakannya untuk turut melihat ke arah Sungmin. Seakan mengajari pada bocah itu untuk ikut membenci adik iparnya ini sedini mungkin. “Pantas saja Kyuhyun berniat meninggalkanmu, bagaimana rasanya saat Kyuhyun pergi? Kau kesepian? Uh, kasihan.”

Sungmin terhenyak mendengarnya. Ia berhenti mengusapi anjing di atas pangkuannya saat kalimat barusan seakan bersinkronasi dengan memori kelam yang masih lekat tersisa di kepalanya. Napasnya seakan tercekat. Seakan dipukul tepat di dada, Sungmin meremas piringan kuning di tangannya dan menggigit bibirnya geram. Ingatan yang begitu buruk rupa itu membuat dadanya terasa sesak, ditambah lagi dengan cibiran-cibiran yang tidak kunjung berhenti itu—

“Lain kali aku akan menyarankan Kyuhyun untuk meninggalkannya saja. Bocah tidak tahu diuntung seperti dia. Pantas ditinggalkan. Kyuhyun juga tidak akan keberatan.”

Cukup. Sungmin mengeram. Tidak tahan lagi mendengar kalimat-kalimat jahat itu, Sungmin dengan cepat berbalik, melemparkan piringan di tangannya kuat-kuat hingga tepat mengenai wajah Sooyoung.

“Yah!” Sooyoung yang tidak menyangka akan diserang seperti itu berteriak kesakitan. Ia mengusap wajahnya, menyeka memar yang segera membentuk di wajanya yang juga terkena kotornya tanah.

“Bocah ini!” serunya murka. Sooyoung baru akan mengoper kembali putri Victoria ke gendongan ibunya, namun gadis kecil itu belum sempat hinggap ke pelukan Victoria saat Sungmin berlari menghantam mereka.

E-eonnie!”

Suara teriakan membaur memekakkan telinga, serangan Sungmin barusan berhasil menumbangkan Sooyoung, Maora yang berada di gendongannya pun terpelanting jatuh dan menangis histeris. Victoria dan Jesicca berteriak, murka bercampur panik. Terlebih saat Sungmin tidak memberikan kesempatan dan kembali menyambar tubuh Sooyoung yang belum sempat bangkit.

.

oOoOoOo

.

 

Pemuda itu melangkah tegap melewati barisan penjaga yang ditempati sang raja di sepanjang lorong kamarnya dan permaisuri. Kyuhyun sebenarnya cemas meninggalkan mate-nya bersama noona-nya yang memang terkesan tidak menyukai bocah itu. Yah, tapi mau bagaimana lagi. Sungmin memang bocah untuk seusianya, dan para noona-nya itu bukannya bersikap dewasa, malah menanggapi kata-kata Snowelf itu. Namun dia tidak punya pilihan lagi. Terkadang appa memanggilnya untuk hal yang tidak perlu dan itu membuatnya kesal. Namun apa boleh buat. Ia masih merinding saat mengingat apa yang terjadi ketika dia tidak menuruti panggilan appa-nya itu.

‘Mudah-mudahan Sungmin baik-baik saja bersama mereka.’ Pikirnya sambil menuju lorong aula utama.

Kyuhyun menoleh ke arah maid-maid yang keluar dari pintu kanan dan sedang membungkuk hormat kepadanya. Pangeran mahkota itu ingin beranjak, melanjutkan langkahnya ke aula utama setelah mengangguk ke arah mereka sampai dia melihat isi nampan yang terletak di samping lutut kedua maid itu.

Langkahnya tertahan dan membuat kedua maid itu heran. Mereka mengira Kyuhyun akan menanyakan sesuatu, namun tidak ada. Ia hanya mencoba mengintip ke dalam dari celah pintu yang sedikit terbuka itu. Pemuda itu hampir tak dapat melihat apa-apa selain dinding dari sini, namun ia bisa menebak situasinya. Dan dia juga tidak ingin masuk ke sana—ke kamar raja dan permaisurinya itu.

Kyuhyun sempat membuka mulut untuk bertanya. Rasa penasarannya meluap seakan ingin memastikan bahwa dugaannya benar, namun ego menahannya. Tanpa berkata apa-apa, Kyuhyun melanjutkan langkahnya ke aula raja.

Di sana ia melihat Kangin sedang berbicara dengan orang tua, salah satu tabib kerajaan yang tentunya Kyuhyun kenal meskipun ia sendiri jarang sakit tak lain karena si nenek inilah yang sering mengobati ibunya saat sakit-sakitan dulu. Pemuda itu hanya berdiri di dekat pintu masuk di samping pengawal dan memperhatikan ayahnya berbicara dengan tabib itu. Wajahnya tampak tenang, walau Kyuhyun tahu sebenarnya Kangin merasa cemas. Ekspresi tenangnya itu berbeda dari biasanya. Dan yang membuat Kyuhyun kesal karena seingatnya appa tidak pernah secemas itu saat ibunya dulu sakit.

“Kyuhyun-ah? Masuklah.” Panggilnya setelah tabib itu membungkuk dan bermaksud meninggalkan ruangan itu.

Wanita tua itu berpapasan dengan Kyuhyun di tengah jalan dan berhenti sejenak menatapnya, membuat Kyuhyun keheranan. Jika dia hanya ingin memberitakan masalah istri ayahnya, lebih baik dia menutup mulutnya saja. Begitu pikir Kyuhyun. Dan seolah bisa menebak isi hati pangeran itu tanpa mendengarnya, sang nenek berlalu.

“Kenapa memanggilku, Appa?” Kyuhyun langsung badmood. Bisa jadi alasan raja memanggilnya cuma untuk memberitahu hal itu juga kan?

“Kenapa kau kesal begitu?” Biasanya Kangin akan balas marah jika melihat Kyuhyun bersikap seperti itu padanya, namun sepertinya saat ini dia terlalu lelah untuk marah. Kyuhyun spontan memutar otak untuk mencari alasan.

“B-bukan begitu! Aku tadi… tadi Sungmin kutinggal bersama noona!” Jawabnya gugup kalau-kalau si ayah akan murka jika tahu alasan sebenarnya.

“Begitu? Hehehee… tidak apa-apa. Biarkan mereka berinteraksi. Mau sampai kapan Sungmin main kucing-kucingan terus dengan mereka? Duduklah, nak.” Kangin terkekeh kecil lalu menghela nafas.

‘…Ini saatnya…’ Kyuhyun bersiap-siap mendengarkan hal itu.

“…Mengenai Sungmin…”

Kyuhyun manyun. Dia sudah dapat menduga bahwa Kangin akan membicarakan soal….

“EH?” Tanyanya refleks kaget. Kangin keheranan melihatnya lalu mengulangi ucapannya.

“Kubilang mengenai Sungmin.”

“O-Ohh… Ne. Sungmin kenapa memangnya, appa?” Tanya Kyuhyun sedikit malu.

“Tabib Ji Wan sudah mengetahuinya—masalah ingatan Sungmin. Beruntung Teukie mengajaknya untuk mengecek keadaan Sungmin. Kau terlalu berlebihan sampai-sampai tidak memperbolehkan tabib manapun menyentuh bocah itu.” desis Kangin sebal.

“Salahkan tabibmu yang mesum itu, appa.” Kyuhyun berdecak sebal, tak ingin disalahkan. Mengingatnya lagi membuat Kyuhyun geram. Harusnya makhluk seperti itu ia musnahkan saja di tempat pada saat itu.

“Tidak semua tabib seperti dia kan? Apalagi tabib Ji Wan itu perempuan!”

“Tapi Sungmin kan lelaki, appa.” Kangin menggeleng; tak ingin melanjutkan perdebatan bodoh mereka ini lagi.

“Pokoknya, tabib Ji Wan menjelaskan padaku panjang lebar. Intinya, Sungmin memang sebenarnya tidak kehilangan ingatannya. Namun shock dan rasa sakit yang dialaminya memang membuatnya tidak mengingat semua itu dengan jelas, mana yang benar-benar mimpi dan yang bukan mimpi saat kau meninggalkannya waktu itu.” Raja Radourland itu lalu memutar bola matanya dan menatap Kyuhyun yang merasa canggung sambil menyeringai.

“…Dan kebetulan dia mengingat kejadian yang itu, Kyu.” Kangin terkekeh geli.

“Kau malah senang appa?! Aku nyaris kena serangan jantung saat mendengarnya meminta—meminta ITU!” Pemuda itu tak terima melihat ayahnya menertawakan masalah yang sedang dihadapinya ini.

“Wajahmu memerah Kyu. Jangan bertingkah seperti anak muda yang belum pernah menyentuh wanita saja.”

APPA!” Geram Kyuhyun malu.

“Ya sudah, tenang… tenang… bukankah bagus seperti itu? Ini adalah yang terbaik Kyu. Dia melupakan masalah kehamilannya, dan mengingat hal itu. Bahkan memintanya! Hahahaaa! Apa lagi yang kau cemaskan?” Kyuhyun mengusap wajahnya dan tak bisa berkata apa-apa lagi karena semua tidak terlihat seperti masalah bagi ayahnya. Kangin menggeser duduk ke dekat Kyuhyun dan menepuk bahunya.

“Justru kau tidak boleh menolak permintaannya itu, Kyu. Itu bagus sekali untuk memperkuat ikatan mate kalian, terutama di awal hubungan seperti sekarang. Aish… harusnya aku tidak perlu mengajarkan hal ini lagi kepadamu.” Pemuda bermata cokelat itu menyipitkan matanya ke arah Kangin.

“Oh ya?! Lalu bagaimana kalau dia sampai hamil lagi?” tanyanya menantang sang raja.

“Itu akan jadi berita bagus.” Bisik Kangin pelan.

“Apa!” Kyuhyun berpura-pura tidak mendengar agar ayahnya bisa mengulangi kata-katanya tadi.

“Ehhmmm… maksudku… Aku akan sangat senang. Tapi menurut tabib dan keluarga Sungmin… mungkin aku harus menunggu beberapa lama lagi.” Jawab pria berbadan besar itu dengan tak semangat.

“Makanya jangan egois! Aku tidak mau mengambil resiko lagi, appa. Kau kira mudah, hah?” Putra mahkota itu membuang wajahnya ke arah lain. Kangin tiba-tiba memasang muka nakal.

“Kau sendiri apa tidak egois membiarkan Sungmin seperti itu? Hehehehe… sudahlah, turuti saja. Toh kau juga akan menikmatinya kan? Cukup belajar menahan diri saja saat melakukannya.”

“Aish, appa! Sudahlah! Aku mau kembali!” Pemuda itu gerah dan tentunya malu membicarakan hal sepribadi itu kepada ayahnya. Namun karena Sungmin berbeda dari wanita werewolf lainnya di Radourland, tentu saja ia harus membicarakannya. Kyuhyun beranjak berdiri meninggalkan lelaki berambut hitam yang masih tertawa itu. Namun begitu ia akan berjalan menjauhi ayahnya, lelaki itu memanggilnya lagi.

“…Kyuhyun-ah.” Kyuhyun berhenti, kemudian berbalik sambil ragu-ragu. Apa lagi yang ingin disampaikan oleh ayahnya itu?

Ne, appa?” Kangin tak langsung menjawabnya. Ia menatap lantai dalam diam sebelum memandang wajah Putra tunggalnya itu.

“Tidak. Tidak ada apa-apa. Pergilah.”

Kyuhyun sempat bingung dan ragu, namun akhirnya beranjak pergi setelah mengangguk.

Sebenarnya Kangin memang ingin memberitahukan kepada Kyuhyun bahwa Leeteuk sedang sakit. Namun apa peduli Kyuhyun? Lagipula Leeteuk sendiri juga pasti akan melarangnya menyampaikan hal tersebut kepada pemuda keras kepala itu.

Kangin menghela nafas lelah. Tak lama setelah Kyuhyun pergi, ia pun beranjak untuk melihat keadaan istrinya.

.

oOoOoOo

.

                Kyuhyun berjalan tegap, dalam diam merenungi ucapan ayahnya tentang Sungmin dan hubungan yang kini mengikat mereka. Di satu sisi ia merasa dilema, harus menyetubuhi bocah di bawah umur itu secara teratur dan menjaganya untuk tidak hamil di usia muda. Tapi di sisi lain, entah kenapa ada bisikan licik dalam hatinya yang seakan menghela napas lega. Kali ini tugasnya adalah menjaga, tidak menahan diri secara utuh. Ia hanya perlu mengontrol Sungmin dan Kyuhyun yakin sekali ia mampu melakukannya. Kini tugas mendidik Sungmin akan jatuh pada Kyuhyun sepenuhnya. Sungmin adalah mate-nya, Sungmin adalah tanggung jawabnya. Kyuhyun sudah mulai menyusun rancangan rencananya bagaimana ia akan memperbaiki tabiat pangeran manja itu saat langkahnya mulai menapak mendekati taman tengah istana, dan bersamaan pula, suara teriakan memekik di udara.

Kyuhyun mencoba tidak peduli, pada awalnya. Istana ini sudah biasa diisi oleh suara teriakan dan sentakan. Tapi begitu suara melengking familiar itu ikut terdengar, Kyuhyun tersentak kaget dan refleks mempercepat langkahnya. Suara itu semakin terdengar jelas, Sungmin tengah memaki dan berteriak, disusul dengan jeritan kakak-kakak perempuannya. Dan yang terburuk…

Kyuhyun menyaksikan bagaimana tubuh Sungmin terpelanting ke atas tanah, Sooyoung dengan bengis duduk di atas perut pemuda itu dan keduanya bergumul sengit. Seohyun berteriak panik, Victoria tidak mencoba melerai, dan Jesicca justru membantu Sooyoung membalas serangan brutal Sungmin yang mencoba bebas dari kukuhan Sooyoung. Kyuhyun tidak berpikir lagi, tubuhnya seakan melesat tanpa perintah. Dengan gerakan yang sama bengisnya, ditariknya kerah gaun Sooyoung hingga wanita itu terjungkal ke belakang. Diangkatnya Sungmin setelah ia mendorong Jesicca hingga kakaknya itu turut jatuh terduduk di atas rumput.

Kyuhyun mengeram. Diangkatnya dagu Sungmin untuk memeriksa luka-luka yang memenuhi wajah putih mate-nya itu. “Apa-apaan ini! Aku hanya meninggalkannya sebentar dan kalian—” Kyuhyun melihat dua baris luka yang berdarah, lalu bertambah, tiga, empat, tujuh. Pipi Sungmin lebam di bagian kiri dan kedua matanya memerah seperti darah. Kyuhyun tidak tahu lagi apa yang melintas dalam benaknya selain amarah. “Kau melukai mate-ku, Noona!” serunya geram. Dengan sengit ia mendelik ke arah Victoria, lalu Jesicca dan menyusul ke arah Sooyoung yang meringis kesakitan dan balas memandang Kyuhyun tidak terima.

“Aku hanya ingin mengobrol ramah dengannya dan lihat! Mate-mu malah menyerang kami!”

Sungmin melotot, dikeratnya lengan Kyuhyun. Sembari mendongak ia menggeleng defensif. “Aku tidak memulainya!”

Kyuhyun mendengus, tentu saja ia mempercayai mate-nya. Terlebih luka-luka dan lebam yang memenuhi wajah Sungmin, semakin membuat kekesalan Kyuhyun berlipat ganda dan menghalanginya untuk berpikir bijak. Ditatapnya Sooyoung dengan geram, seakan menuding. “Tidak mungkin.” Ujarnya setengah mengeram.

Sooyoung tampak semakin tidak terima, dengan tertatih ia bangun dan berdiri menghadap Kyuhyun. “Kau pikir ini salahku! Lihat wajah angkuhnya itu!” tunjuk Sooyoung pada Sungmin yang tengah mengangkat wajah ke arahnya.

Kyuhyun balik menatap Sungmin, mencoba menerka-nerka arti di balik ekspresi keras mate-nya yang seakan siap bertarung satu ronde lagi dengan Sooyoung.

Melihat kerutan di kening Kyuhyun, Sooyoung merasa memiliki kesempatan untuk semakin memanas-manasi. “Lihat apa yang dia lakukan padaku! Lihat ulahnya pada Maora!” Tunjuknya pada putri Victoria yang masih menangis terisak-isak dalam gendongan ibunya. Kyuhyun mengangkat alisnya, baru menyadari kehadiran keponakan perempuannya dalam gendongan Victoria. Di sisi kiri pipi gadis kecil itu memang sedikit lebam, bibirnya berdarah di ujung kanan. Kyuhyun nyaris tidak percaya pada tuduhan Sooyoung. Benarkah Sungmin yang melakukannya?

“Kau yang melakukannya, Sungmin-ah?” Kyuhyun menatap Sungmin tidak percaya, matanya yang coklat dan berkilat nyaris memancarkan sinar kekecewaan. Sungmin menggeleng lemah, dengan bibir gemetar ia mencoba mengelak namun lagi-lagi kalimat jahat itu terlontar dan menusuknya tepat di dada.

“Kenapa tidak kau tinggalkan saja peri barbar ini, Kyuhyun!”

Sungmin memekik, tidak berniat menahan emosinya lagi dan nyaris melemparkan diri ke arah Sooyoung namun gagal karena Kyuhyun dengan sigap merengkuh pinggangnya. “Jalang!”

“Sungmin-ah!” seru Kyuhyun marah, cacian yang terlontar dari bibir mate-nya menambah keyakinan Kyuhyun bahwa ucapan Sooyoung-lah yang benar.

“Kau dengar itu Kyuhyun? Tinggalkan dia, dia hanya akan membawa bencana pada Radourland ini!”

Sungmin semakin memekik, seakan emosinya sudah membumbung di kerongkongan dan ia dipaksa untuk menelannya kembali. “Jalang! Kubunuh kau!”

Kyuhyun semakin terkesiap mendengar makian demi makian itu. Dengan kasar, dibaliknya tubuh Sungmin hingga pemuda itu berdiri menghadapnya. Dengan sengit ditatapnya wajah angkuh Sungmin yang tidak menampakkan penyesalan sedikitpun. “Kau—“

Seohyun memeluk bayi yang terus menggeliat dalam gendongannya. Dengan cemas ia berdiri, merasa tidak bisa tinggal diam lagi. “Eonnie! Jangan begini!” pintanya dengan suara memelas.

“Diam, Seohyun!” Sebelum Seohyun dengan ceroboh mengatakan hal macam-macam, Jesicca buru-buru menarik lengan adiknya untuk keluar dari taman.

Sooyoung melempar sorot penuh kemenangan pada Victoria yang juga tersenyum licik padanya. Kyuhyun dan Sungmin masih saling mendelik satu sama lain. Kyuhyun meremas bahu matenya dan menatap Sungmin makin tegas saat disisi lain Sungmin mengangkat wajahnya tinggi-tinggi, menolak mengakui kesalahan yang tidak dilakukannya sama sekali.

“Apa kataku tentang tata krama?”

“Mereka yang mulai lebih dulu!”

Kyuhyun mengeram. “Kau—“

“Lihat kan? Sudahlah, pulangkan saja dia ke negaranya, Kyuhyun-ah.”

Sungmin mencoba memekik lagi, namun Kyuhyun yang tidak berkomentar kini berbalik arah.

“Minggir, Noona.” ujar Kyuhyun mendorong bahu Victoria untuk menyingkir dari jalannya. Tanpa berbalik lagi, ditariknya Sungmin dengan kasar keluar dari lingkar taman. Ia tidak lagi mempedulikan seruan-seruan sinis kedua kakaknya, tidak juga peduli pada Sungmin yang memekik kesakitan dan memohon untuk dilepaskan. Kyuhyun menyeret mate-nya tanpa ampun hingga ke depan pintu kamar mereka.

 

.

oOoOoOo

.

 

Sungmin berjengit ketakutan saat Kyuhyun membanting pintu kamar mereka kuat-kuat. Nyalinya sempat ciut saat Kyuhyun menghempas tubuhnya ke dalam kamar, ditambah lagi dengan suara derik kunci berputar. Hyung menguncinya di dalam kamar. Suara geraman rendah tertahan itu juga terdengar mengerikan, mengingatkan Sungmin pada saat Kyuhyun menghukumnya untuk yang pertama kali. Namun kali ini, keadaan terasa lebih menekan. Terlebih, begitu Kyuhyun berbalik dan menatap tajam ke arahnya, Sungmin nyaris menyerah dan jatuh menangis. Sorot mata itu seakan memancarkan kebencian, sorot yang nyaris terasa sama seperti mata Appa saat ia melakukan kesalahan. Tapi ia tidak berbuat salah! Sungmin menggeleng sembari mengerat gigi, menolak mengalah dan mendongak semakin tinggi.

“Sudah kubilang bukan aku yang mulai!” pekik Sungmin setengah frustasi, matanya sudah panas tapi pemuda itu menahan airmatanya mati-matian. Kalau ia menangis, itu tandanya ia mengakui kesalahan. Sungmin mengeram dan mengepalkan tangannya, menahan napas agar buncahan sesak itu tidak benar-benar meleleh di sudut matanya.

Kyuhyun melangkah lebar-lebar, dengan beringas disambarnya lengan Sungmin dan ditariknya pemuda itu hingga mereka berdiri dekat berhadap-hadapan. Ia duduk di pinggir ranjang, masih mencengkeram lengan Sungmin dengan posisi wajah yang kini jauh lebih sejajar. “Kau yang mulai atau mereka yang mulai, bibir ini harus dididik untuk bicara selayaknya bangsawan.”

Sungmin mendengus, “Kakak-kakakmu tidak bicara seperti bangsawan. Mereka seperti jalang, kau didik saja mereka!”

“Sungmin-ah!” Kyuhyun nyaris melayangkan tangan kanannya, tubuh Sungmin tersentak karena tarikan dan cengkraman tangan Kyuhyun yang makin mengerat. Pemuda itu nyaris menangis, bibirnya sudah gemetar. Kyuhyun pun nyaris luluh, tapi melihat keadaan yang seakan sama seperti kejadian dulu, ia seakan bisa menebak bahwa pangeran manja ini tidak akan mengalah padanya. Tidak sampai Kyuhyun benar-benar menghukumnya.

“Tidak cukup dengan yang dulu, huh?” suara Kyuhyun merendah, ditatapnya Sungmin dengan ekspresi tegas. “Menunduk, Sungmin-ah. Tunjukkan kalau kau menyesal.” Kyuhyun mencoba memberi kompensasi, kalau mate-nya ini mau menunjukkan rasa sesalnya, sedikit saja, Kyuhyun sudah berniat untuk memaafkannya. Tapi tidak, Sungmin justru mencibir, wajahnya terangkat makin tinggi. Kyuhyun menghela napas berat dan memutuskan secara bulat, Sungmin memang tidak akan menurutinya tanpa hukuman. Seperti anak kecil, maka ia pun akan menggunakan cara didik yang tepat pada anak-anak nakal.

Kyuhyun menarik Sungmin untuk duduk di atas paha kirinya, direngkuhnya bahu ringkih itu dengan erat untuk sedikit menakut-nakuti mate-nya. “Kau mau kupukul lagi?” bisiknya geram, setengah mengancam. Sungmin sempat terpengaruh, bola matanya melebar kaget, tapi ia tidak memberikan jawaban apapun. Sungmin bergeming diam meski Kyuhyun masih dapat menangkap sorot ketakutan dalam mata mate-nya. Snowelf muda itu meremas kuat pergelangan tangan kanan Kyuhyun seakan bersiaga menahan kalau-kalau Kyuhyun berniat menjentik keningnya lagi.

Kyuhyun membiarkannya, dua tangan kecil yang meremas pergelangan lengannya itu terasa dingin, hampir meluluhkan sikap tegas Kyuhyun kalau saja ia tidak bertemu lagi dengan ekspresi angkuh mate-nya itu. Ekspresi yang semakin mengukuhkan Kyuhyun bahwa ia perlu mendidik Sungmin, dengan cara terbaik.

“Katakan padaku kau menyesal, Sungmin-ah.”

Sungmin semakin berani, ia mendengus tepat di depan wajah Kyuhyun. Membuat Kyuhyun mengeram dan mengerat bahunya makin kuat.

“Kau harus mengatakan Mianhae saat kau berbuat salah. Kau akan minta maaf pada Sooyoung, Jesicca, Victoria, dan Maora besok. Aku juga tidak akan mengizinkanmu menyuruh-nyuruh pelayan seenaknya, kau akan belajar memohon.”

Sungmin mengalihkan pandangannya dengan sinis, seakan ingin menunjukkan bahwa ia tidak berniat mendengarkan Kyuhyun. Untuk apa didengarkan? Kyuhyun-hyungnya bahkan tidak percaya padanya! Sungmin ingin menangis saat ia memikirkan hal itu, dialihkannya pandangan agar wajah Kyuhyun tidak semakin membuatnya sesak.

“Kenapa tidak menjawab? Kau mau dipukul seperti saat itu lagi?”

“Pukul saja.” tantang Sungmin dengan berani, sudah bersiap mematahkan jari tengah dan telunjuk kanan hyungnya kalau Kyuhyun benar-benar akan memukulnya lagi.

Kyuhyun mengerang, nyaris frustasi. Tapi ia belum menyerah. “Kau hanya cukup minta maaf. Sekarang katakan ‘jebal’ dan ‘mianhae’ padaku. Kau harus memohon padaku untuk memaafkanmu, lakukan Sungmin-ah!”

“Kau saja yang minta maaf pada jalang.”

“K-kau!”Kyuhyun berseru murka, kini kesabarannya sudah habis. Refleks menuruti emosi, Kyuhyun membalik tubuh Sungmin hingga snowelf muda itu berbaring tengkurap di atas pangkuannya.

Hanya jentikan di kening, kali ini tidak akan cukup mendidik Sungmin.

Sungmin yang tidak sempat membela diri hanya mampu menggeliat, ia bahkan tidak bisa bergerak lebih dari sekedar memukul-mukul kaki Kyuhyun. Sungmin berteriak ketakutan, posisinya benar-benar terkunci saat Kyuhyun menahan tengkuknya kuat-kuat seakan tidak peduli kalau sedikit saja tekanan itu bertambah, bukan tidak mungkin leher kecilnya akan patah.

Hyung!” Sungmin memekik panik, terlebih saat ia merasa celana panjangnya ditarik dengan paksa. Sungmin semakin memekik dan memberontak, menggapai-gapai ke belakang berusaha menarik kembali celana panjangnya dan berakhir sia-sia. Kyuhyun benar-benar menanggalkan pakaian bawahnya tanpa sisa. Sungmin mengerang ketakutan, hawa dingin segera menyergap bagian bawah tubuhnya.

“Kau berniat minta maaf sekarang?”

Sungmin tidak menjawabnya, ia sudah terlalu panik dan semakin giat memberontak.

Melihat etikat baiknya diabaikan, Kyuhyun semakin murka. Ini adalah pilihan hukuman yang terlintas begitu saja diotaknya, Sungmin sudah semestinya mengingat hukuman ini di kemudian hari. Kyuhyun mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tanpa berpikir dua kali,dengan cepat dan kuat dihantamnya bagian tubuh mate-nya yang baru saja terekspos itu.

PANG!

“AKH!” Sungmin berjengit dan refleks berteriak. Sama sekali tidak mengira pukulan itu akan mendarat di bokongnya.

“Minta ampun padaku sekarang!” Paksa Kyuhyun setelah tiga pukulan mendarat di tubuh Sungmin dan tiga kali pula teriakan ikut memekik di dalam ruangan. “Minta ampun, Sungmin-ah!”

Sungmin memekik kesakitan, airmata yang sejak tadi ditahannya mati-matian sudah tumpah ruah. Dengan panik ia berusaha melindungi daging bokongnya dengan dua tangan. Tapi Kyuhyun tidak main-main, dua tangan itu pun ikut dihantamnya kuat-kuat hingga Sungmin berjengit dan menarik kembali perlindungannya. Sungmin menangis terisak-isak, dengan pandangan buram ditatapnya punggung tangannya yang ruam dan gemetar. Ia benar-benar tidak berpikir untuk membisikkan kata maaf seperti yang diinginkan Kyuhyun-hyungnya, bukan karena dirinya masih belum mau mengalah. Tapi Sungmin sudah terlalu jauh dari fokusnya. Yang terasa hanya pedih dan yang terdengar hanya suara dengung memekakkan telinga.

“Akh! Berhenti! Sakit! Sakit!”

Namun Kyuhyun yang sudah kalap, hanya menginginkan satu kata maaf untuk meredakan emosinya. Sedangkan Sungmin hanya membalas dengan gerung kesakitan dan jerit tangis.

“Cepat minta maaf, Sungmin-ah!”

“Berhenti! Sakit! Sakit, hyung !”

“Tidak sebelum kau bilang maaf!”

Sungmin menjerit dengan suara serak. Setiap tamparan itu terasa semakin pedih, bokongnya terasa seperti dibakar di atas tungku berapi. Namun Kyuhyun tidak kunjung berhenti dan Sungmin sudah tidak sanggup lagi.

“Aku mau pulang!” jeritnya dengan suara terputus. Kali ini, Kyuhyun yang mengabaikannya.

“Aku mau pulang!” Sungmin menjerit lagi. Namun Kyuhyun justru menekan tengkuk mate-nya makin rendah. Mengabaikan permintaan pulang yang terdengar makin putus asa. Suara tangis Sungmin terdengar makin memilukan, tapi Kyuhyun masih sanggup menghantam bokong mate-nya empat kali berturut-turut dan mungkin masih akan berlanjut kalau saja jerit putus asa itu tidak terlontar dari bibir Sungmin.

“Kau akan meninggalkanku lagi!”

Kyuhyun membeku, tangannya tertahan di udara.

“Aku mau pulang!” jerit Sungmin dengan tubuh yang sudah melemas.“Mereka bilang hyung akan meninggalkanku!” ungkitnya sembari terisak pilu. Kyuhyun terkesiap, tidak mampu berkata-kata. Tangannya turun dengan lemas di atas bagian tubuh Sungmin yang sudah selesai ‘dihukum’nya.

“Mereka bilang hyung akan membuangku!”

Kyuhyun meringis. Tudingan-tudingan itu membuatnya semakin terpojok, merasa bersalah. Dengan gugup dibaliknya tubuh Sungmin, bermaksud memangku mate-nya ke posisi semula namun Sungmin justru memekik kesakitan saat bokongnya menempel di pangkuan Kyuhyun. Merasa serba salah, Kyuhyun memapah Sungmin untuk berdiri dan bersandar padanya.

“Sungmin-ah…” bisik Kyuhyun melembut, diusapnya pipi Sungmin dan mata yang memerah sembab itu.Snowelf itu berdiri tertatih, kalau saja Kyuhyun tidak menahan tubuhnya, ia pasti sudah jatuh tersungkur di lantai.

“Kau meninggalkanku! Rasanya seperti mati! Aku mau mati saja!” jerit Sungmin lagi, membuat Kyuhyun tergagap dan tidak sempat merespon saat Sungmin justru mengangkat tangan kanannya dan menghantam dadanya sendiri.

“Ini sakit!” pekiknya sembari memukul-mukul dada. Kyuhyun bermaksud menahan tangan Sungmin saat Sungmin justru meraih telapak tangannya, membawa tangan Kyuhyun untuk ikut menampar pipinya sendiri. “Pukul disini!” jeritnya setengah tak sadar, menghantam wajahnya sendiri berkali-kali menggunakan tangan Kyuhyun. “Disini juga!” sambungnya ke arah kepala, membuat Kyuhyun terkesiap dan buru-buru memeluk mate-nya sebelum Sungmin semakin melukai dirinya sendiri.

“Sungmin-ah! Sungmin-ah hentikan!” pinta Kyuhyun panik, dipeluknya kepala Sungmin erat ke dadanya dan diusapnya punggung ringkih itu. Sungmin masih berusaha melepaskan diri, namun pelukan Kyuhyun makin mengerat. Dengan hati-hati, Kyuhyun membawa Sungmin bersandar padanya, mencoba tidak menyentuh lebam di belakang tubuh mate-nya.

“Aku mau pulang! Aku mau mati!” Sungmin masih terus berteriak frustasi, meski suaranya menyerak dan tubuhnya mulai melemas ke dalam pelukan Kyuhyun.

“Sssh, mianhae chagi.”

“Kau meninggalkanku.”

Kyuhyun menghela napas, wajahnya mengeruh sedih. “Hyung tidak akan meninggalkanmu lagi, jangan menangis.” Bisiknya lembut. Sungmin tidak menjawab, mungkin terlalu lelah, mungkin terlalu kesakitan. Matanya yang semakin sayu mengerjap-ngerjap dan deru napasnya berhembus kasar. Disandarkannya kepala tepat di bahu Kyuhyun.

“Kau mau meninggalkanku lagi?” tanya Sungmin dengan suara berbisik, matanya terpejam, belaian tangan Kyuhyun di tengkuknya membuat Sungmin nyaris terlena. Dan janji-janji manis itu, sejenak berhasil menenangkan kegilaan yang sejak tadi membuncah sesak dalam dadanya.

“Tidak, hyung janji. Hyung tidak akan meninggalkanmu lagi. Besok kita main ke kota, ne?”

Dua bulir emosi lolos lagi di sudut matanya yang terpejam, namun Sungmin tidak menjawab. Ia menyukai posisi ini. Saat Kyuhyun-hyung memeluknya begitu dekat dan napas mereka berhembus beriringan… Dan bisikan maaf penuh sesal dari Kyuhyun—

Mianhae chagi.”

Sungmin menangis lagi. Meski kali ini tanpa suara. Ia mengerjap dan membuka matanya, memberi jarak cukup agar ia bisa menatap Kyuhyun dengan jelas.

Keduanya saling berpandangan dengan ekspresi sayu. Sungmin memandangi detil gurat wajah Kyuhyun, lalu beralih pada bibir hyung-nya sedikit lebih lama. Deru napasnya mulai berhembus teratur, lalu dengan berani, Sungmin mencondongkan tubuhnya, mengecup bibir Kyuhyun dalam dan lama. Sedangkan Kyuhyun, kali ini menyambut kecupan Sungmin, menggiringnya lebih dalam dan agresif.

Keduanya bercumbu hingga Sungmin tiba-tiba berhenti, Kyuhyun menyangka mate-nya kehabisan napas. Keningnya berkerut, kala Sungmin kembali memandangnya lama seakan tengah berpikir ingin melakukan apa. Kyuhyun mendapatkan jawabannya, begitu Sungmin kembali bergelayut manja padanya dan mendongak seduktif. Entah siapa yang mengajari bocah ini, Kyuhyun terkesiap saat Sungmin mengecup dagunya dengan lembut lalu bergerak naik ke pipi dan berakhir di pinggir bibirnya. Bocah itu menyelipkan tangannya masuk ke sela-sela kerah Kyuhyun dan mencoba mengusap dada Kyuhyun dari dari dalam.

Kyuhyun mengangkat wajahnya, membiarkan Sungmin bertindak sesuai instingnya. Tapi ia tidak menyangka mate kecilnya akan bertindak secerdik ini. Sungmin membuka dua kancing baju Kyuhyun, dikecupnya ceruk leher Kyuhyun sebelum ia kembali mendongak dan berbisik, “Jebal, hyung ?” dengan mata membulat polos dan tangan yang terus mengusap dada Kyuhyun.

Kyuhyun mendengus, tidak berniat menolak dan menyambar bibir Sungmin sekali lagi.

“Bocah nakal.” Ujarnya sembari menyeringai.

.

oOoOoOo

tebeseeeh

oOoOoOo

.

16 thoughts on “Cursed Crown | Chapter 9

  1. echa erma says:

    wah wah mau ngapain ne si KYU…… ming x se juga
    blang ” jebal”… aduh aduh penasaran….., lanjut ya!!!!! tp chap 10. d protect… boleh minta pw x kakak????? trima kasih

  2. Ayu Fitria II says:

    fiqoooooh!!!! tanggung jawab!!! dibagian part sungmin dipukuli itu memilukan banget /huks T^T aku nangis kejer /huks TT-TT
    awal part masih senyam senyum geje sampe ketawa kaga jelas gini wkwkwk api pas par sungmin dipukuli itu /sroooooooot/ mewek TT__________TT
    ciee sungmin udah mulai nakal nih xDDD
    diajarin sama kyuhyun pasti! /plakxDD

    oke syipp makin membuat sayah penasaran lagi /penasaran mulu._./
    lanjut ya fiq, semangat!! ^^/

  3. reaRelf says:

    Udh smpet baca n review chap 9 di ffn.
    Tp diulang2 baca’a ttp bikin nyesek pas bag ming mukulin dada’a,sambil blg mau mati aja T.T
    Lagian kyu udh tau kalo nonaa’a pd gak suka sm ming dan pasti cari gara2,tp kyu malah percaya sm mereka..
    Ming mau ‘itu’ ya?kkk..
    Chap 10 di protect,bs mnt pw’a?

  4. kak fiqoooooohhhhh aku udah minta pw di 2 fb sekaligus tpi diliat aja gakk
    aaaaaaa penasaraannnnnnnnnnnnnnnnn
    minta pwnya lewat apa kak?
    Ya Allah beneran dari pagi galoo gara2 cursed crown chap 10 /nangisssssssss/
    kalo gk dikasi berarti tega liat readernya mati kepo #plaaakkkk

  5. chapter ini lucu, min manja banget sama kyu, ngekorin kyu kemana-mana. hahahahaa

    oh ya maksud dari “itu” yang diminta sungmin, beneran itu, atau cuma kyunya aja yang ngeres…

    semangat ya thor, lanjut, jangan lupa pw next chapternya yaaaaa hehheee

  6. vyan says:

    oh my…. so sweet waktu di awal…
    tapi air mata ini udh mau keluar pas min bilang “Kau meninggalkanku! Rasanya seperti mati! Aku mau mati saja!”
    huweee….. so sad…

    sun minta pw yg diprotect… smua.. hehehehe maruknya keluar..
    abis pgn baca tp banyak yg diprotect.. aku kan sedih TT^TT

    jeball.. pw…

  7. Ahrin says:

    hahaha, kerennn keren abis critanya…
    sial bnget tuh 3bic*h. pengen gue bejek”. enak ajah gangguain minnie. mna ad kyu mau ninggalin sungmin. . .
    yaaa, kyumin ngapain tuh ><
    gk sbar bca lanjutanx…

  8. Leah kyuta says:

    Critax seru….Ming jd org polos amat tp g menghilangkn sifar kkanakanx…..Aq jg prnah baca ffmu d ffn tp krn g px akun ffn jdix namax kdang brubah ubah….Bru kmaren2 bwt akunx….

  9. shanty kyuminnie arashi says:

    Nyesek pas bagian kyu mukulin ming…
    Memang ming itu harus d kasih tau tentang tata krama… mungkin karena dia d sni masih kecil jd blm terlalu mengerti ….
    Tp dia penasaran sama “itu”…
    Aq lucu aja ngebayangin sungmin minta itu sama kyu…

    Ayooo….
    Itu terakhir mereka mau ngapain…???
    Heheheheh…
    Lanjut lgi..

  10. loveKyu says:

    ya ampyun hukumannya bnr2 kayak anak kecil nyuri permen…d tabok bokong nya

    eehh ming kok jd mesum gt yahhh..ckckck

  11. madam mecca says:

    mak bingung harus komen apaan soal cast Sungmin disini..

    kesian sih karna dia masih sangat kecil disini… ingat kecil bukan belia lho
    dan soal kyu juga..

    tapi makk suka karakter ngemngnya kyu ama ming like the real bro
    kayaknya makk butuh chap berikuutnya#modus ala kyu

  12. manize83 says:

    Kyaaaa diblog Cc na dah chap 10 pdahal aq sll nanti n sering cek diffn ternyata msh chap9..krn pensaran akut sm klanjutan ming yg mulai nkal bleh dooong minta pw na cc yg chap 10, mkasih..

  13. Rhaya says:

    Haiya..😮
    tu kakak nya kyu ngerusak aje ya?
    Ribut mulu..
    Kyuhyun nya lg,, ksian kan sungmin..😦
    di tepak p*nt*t nya ampe ksakitan..

    Apa di next chapter ada NC nya?
    #yadongkumat

    go to next chapter

Comments are closed.