Kitty-Kitty Baby! – Chapter 8

“Kyungg!” Sungmin merengut, suaranya merajuk. Lalu mutan itu menghentakkan kakinya kesal. “Yuuung!” Sungmin baru akan beranjak mendekati Kyuhyun, namun gerakannya terhenti. Bukan, bukan karena tangan Ryeowook yang menahannya.

Namun sesuatu di luar sana… Sosok tinggi bermantel bulu dengan sorot mata tajam yang bertemu pandang dengan Sungmin.

Sungmin tercekat. Ia membeku di tempatnya berdiri. Seakan tidak mendengar apapun kecuali suara degub jantungnya sendiri. Sungmin mendelik, dengan pandangan yang terus mengikuti langkah demi langkah sosok itu, hingga menghilang dan tak tampak dari jendela toko.

Sungmin tersungkur. Tidak sanggup menahan beban tubuhnya untuk berdiri lebih lama. Memori demi memori kelam kembali menyergapnya, kali ini dengan lebih ganas dari sebelumnya. Sorot mata itu, sorot mata yang dipenuhi amarah… Sorot mata yang ia kenal dengan jelas, terpatri dengan paksa di dalam hatinya.

Master Seunghyun. Choi Seunghyun.

“Aah! Aah!” Sungmin mengerat rambutnya, suara-suara aneh itu kembali berdengung di dalam kepalanya. Pusing, nyeri, takut, dan segalanya seakan menekan Sungmin sampai ke batas kesanggupannya. Bahkan untuk bernapas pun sulit. Untuk mengatakan ‘jangan’ pun ia tak sanggup. Sungmin sudah terlalu mati rasa saat orang-orang dengan panik menolongnya, berusaha mengembalikan kewarasannya. Namun, suara Master Choi menariknya semakin dalam. Semakin sakit.

“Aaaaaakh!!!”

.

oOoOoOo

Kitty-Kitty Baby! © Miinalee

oOoOoOo

.

“Aaaaaakh!!!” Sungmin memekik, ia sempat berlutut meremas kepala sebelum tubuhnya goyah dan bersimpuh sembari menangis histeris. Semua orang di dalam ruangan terkejut, Kyuhyun bahkan tidak sempat mempedulikan gemericing koin-koin uangnya yang berserakan di lantai. Ryeowook ikut bersimpuh, berusaha menanyakan apa yang terjadi saat mutan itu justru meringkuk dan memukul-mukul dadanya sendiri.

“S-Sungmin-ah! Y-ya!” Ryeowook berseru panik begitu bulir darah menetes dari sudut bibir Sungmin. Entah sekuat apa, tapi mutan itu menggigit bibirnya sendiri hingga terluka. Jonghyun berlarian ke dapur dan kembali membawa kain bersih. Dibantu oleh Eunhyuk, Jinki, dan Donghae, keempatnya memegangi tubuh Sungmin saat Ryeowook berusaha menyelipkan kain itu ke dalam mulut sang mutan. Perjuangan yang cukup sulit, karena Sungmin terus menggeliat dan mengejang. Airmatanya deras merembes, suara desau tangisnya tidak teredam bahkan setelah kain itu penuh menutup mulutnya.

“Kyu! Bagaimana ini! Aduh, aku harus berbuat apa!” Ryeowook berseru panik, empat orang tidak cukup menghentikan Sungmin. Saat datang kesempatan tangan kanannya terbebas, mutan itu segera menyambar rambutnya sendiri dan memukuli kepalanya hingga bunyi ‘bukh-bukh’ kuat terdengar ngilu di telinga semua orang.

“Mana kutahu!” Kyuhyun ikut panik. Sungmin masih menangis histeris. Meski suara tangisnya tidak senyaring tadi, pemandangan Sungmin yang tengah berteriak tertahan dengan wajah yang memerah ketakutan entah mengapa membuatnya ikut merasa takut juga.

Kyuhyun kebingungan, nyaris-nyaris menampar wajahnya sendiri untuk menyadarkan diri kalau saja teriakan Ryeowook tidak membangunkannya kembali ke dunia nyata. Dan suara teriakan Sungmin kembali memenuhi gendang telinganya, kain itu terlepas, dan kini dengan jelas terdengar rintih ketakutan bercampur isak dalam tangis Sungmin.
“Lakukan sesuatu, Kyuhyun!”

Kyuhyun buru-buru berjongkok, tidak bisa memikirkan hal lain lagi. Diraupnya tubuh Sungmin dalam satu gendongan kokoh.

“Sssh! Sungmin-ah? Sungmin-ah!” bisiknya tepat di telinga Sungmin. Mutan itu tampak tak fokus, matanya yang kosong memandang ke satu arah namun ia tidak merespon panggilan Kyuhyun sama sekali. Kyuhyun semakin merasa takut. “Sungmin-ah!” panggilnya sekali lagi sembari berputar dan melangkah tergesa menuju pintu. Ryeowook buru-buru mengekor di belakangnya.

“Kau mau kemana, Kyu?”

“Membawanya ke rumah Hangeng-hyung. Kau punya mobil kan? Cepatlah, hyung!”

.

oOoOoOo

.

Heechul mendelik murka. Suara bel yang terus berdering tak sabar di luar sana membuat kesabarannya ikut menyusut. Diliriknya ke kanan dan kiri namun tidak ada seorang pelayan pun yang lewat. Dengan kesal, ia bangkit sembari menghentakkan kaki. Sepenuhnya tidak rela saat harus turun tangan sendiri untuk membukakan pintu.

Lewat intercom, Heechul menemukan wajah Kyuhyun memenuhi kamera yang tentu saja –membuat kekesalannya bertambah lima kali lipat. Ia membuka pintu rumahnya dengan cepat, bersiap untuk berteriak saat bersamaan bibirnya seakan tercekat. “Kyuh— Sungmin-ah!” pekik Heechul kaget melihat mutan belia itu mengerjap lemah di dalam gendongan Kyuhyun.

“K-Kyu? Sungmin kenapa— ya!” Heechul belum sempat menginterogasi sepupu iparnya saat Kyuhyun langsung menerobos masuk, tidak mempedulikannya sama sekali. Ryeowook yang mengekor di belakang hanya bisa melempar pandangan sendu ke arahnya, membuat Heechul semakin kebingungan.

“Chagi, kenapa ribut-ribut?” Hangeng yang baru muncul ikut dibuat bingung dengan kehadiran Ryeowook, Kyuhyun, dan Sungmin dalam gendongan sepupunya. Namun Hangeng tidak bertanya, ia langsung mengulurkan tangannya pada Kyuhyun, menawarkan bantuan sembari menggiring sepupunya menuju kamar terdekat.

“Kemari, biar kubantu.”

Kyuhyun tidak menjawab, kerutan di kening dan ekspresi keruh itu sempat membuat Hangeng menyadari sikap aneh adik sepupunya ini. Tapi lagi-lagi Hangeng menahan diri untuk bertanya.

“Baringkan pelan-pelan.” ujarnya lembut sembari membenahi posisi bantal Sungmin yang sedikit miring. Kyuhyun yang bertindak membenahi posisi tidur mutan itu, dengan telaten diluruskannya kedua kaki Sungmin dan ditariknya selimut untuk menghangatkan tubuh mutan itu. Meski Sungmin tidak terpejam, keberadaan Kyuhyun disana seakan menghipnotisnya untuk tetap tenang. Matanya menatap lurus dan kosong ke atas, situasi yang bahkan nyaris terasa sama dengan Heechul 12 tahun yang lalu.

Hangeng menghela napas dan berbalik,                ia sempat melirik Heechul yang berdiri dengan tampang panik di sisi ranjang. Mungkin berniat membuka mulutnya dan bertanya tentang banyak hal, namun begitu Hangeng mengisyaratkannya untuk tetap tenang, Heechul melakukannya –dengan tidak rela. Ryeowook yang berdiri di sisinya segera merangkul Heechul dan menepuk-nepuk pundak mutan dewasa itu, bermaksud menghibur.

“Akan kutelpon dokter Jjong dulu.” ujar Hangeng sembari melangkah, bermaksud keluar dari kamar saat tiba-tiba Kyuhyun kembali memanggilnya.

Hyung.”

“Ya?” Hangeng berbalik lagi, merespon panggilan adiknya namun Kyuhyun justru duduk di atas tempat tidur sembari memunggunginya. Sekilas dilihatnya tubuh Sungmin menggeliat, sebelum mutan itu memberontak dan memaksa Ryeowook juga Heechul ikut turun tangan. Wajah dan bagian dada Sungmin tertutupi oleh tubuh Kyuhyun, namun suara tangis yang perlahan terdengar semakin memekik itu membuat Hangeng mau tidak mau kembali menghampiri mereka. Terlebih saat Kyuhyun berteriak panik, “Hyung! Hidungnya berdarah!”

Ryeowook meraih kotak tisu di atas meja nakas dan segera membuka tutupnya, langsung menghamburkan isinya ke atas ranjang dan meraupnya segenggaman tangan. “Tekan dengan ini.”

Kyuhyun menahan napas, perasaannya campur aduk. Diantara rasa ingin tidak peduli, dan disisi lain, ada bisikan kecil dalam hatinya untuk tidak meninggalkan Sungmin –terlebih dengan keadaan seperti ini.

Kyuhyun menyerah, ia beralih memegangi dada Sungmin dan menyerahkan bagian hidung mutan yang terus berdarah itu pada Ryeowook. Ryeowook bisa melakukannya dengan lebih lembut. Ia bisa menyumbangkan tenaga untuk menahan bahu Sungmin terlebih saat mutan itu kembali mengejang dan berteriak histeris. Matanya yang merah membelalak dan basah, Heechul yang tidak tahan melihatnya ikut menangis di sisi Ryeowook dan dengan enggan memegangi kaki Sungmin.

“Sungmin-ah, ssssh. Tenang.” Hangeng mengusap keringat di kening mutan itu. Setelah kelelahan berteriak, Sungmin menangis terisak-isak. Pemandangna yang sama memilukannya ditambah dengan suara isak Heechul yang ikut menangis juga. Dengan memegang handphone rekat di telinganya, Hangeng mengusap airmata yang merembes di pipi pucat Sungmin, berusaha bergerak selembut mungkin saat disadarinya Sungmin semakin histeris seiring dengan ramainya tangan-tangan menyentuh tubuh mutan itu. “Lihat, ada Kyuhyun disini, kan? Sssh, tarik napas. Tenang chagi. Halo— Dokter Jjong?” Hangeng beranjak, buru-buru keluar dan menutup pintu. Menyerahkan keadaan di dalam kamar pada istri dan kedua adiknya.

Di dalam kamar, suara tangis Sungmin sedikit mereda. Namun isak dan gemetar tubuhnya tetap menyampaikan dengan jelas betapa mutan itu tengah ketakutan sekarang, separuh rambutnya kuyup oleh keringat, cuping kucingnya yang basah ikut terkatup turun. Saat itu, Kyuhyun juga menyadarinya. Hal yang semakin membuat Sungmin histeris…

Ia mencobanya dengan menyingkirkan satu tangan Ryeowook yang sejak tadi menjagal pinggang Sungmin, dan suara isak panik mutan itu terdengar sedikit tenang. Ryeowook yang seakan mengerti maksud perbuatan Kyuhyun, bertukar pandang dengan adik iparnya itu sebelum mengangguk dan mundur, memberi jarak dari dirinya dan Sungmin. Namun disisi lain, Heechul tidak cukup peka karena emosi dan keinginannya untuk terus berada di dekat Sungmin.

Hyung, lihat—“ Kyuhyun menunjuk wajah Sungmin dengan dagunya, entah sejak kapan ia sudah ikut berbaring di sisi Sungmin dengan bertumpu pada sikunya. Sebelah tangannya dengan telaten mengusapi dada Sungmin, menggiring mutan itu untuk bernapas teratur dan tenang. “Bagaimana kalau kalian keluar sebentar?”

Heechul enggan, pada awalnya. Namun setelah ia cukup mencerna keadaan, sedikit lama menatapi Sungmin yang semakin tenang saat hanya tangan Kyuhyun yang bergerak di atas tubuhnya, Heechul tidak mungkin mengingkarinya. Ia ingin berada di dekat mutan ini namun Sungmin hanya menginginkan Kyuhyun sekarang. Heechul mengerti betul, hanya melihat sikap Sungmin yang mati-matian menempel pada Kyuhyun—

Tapi kenyataan bahwa Sungmin menolak keberadaannya tetap terasa sakit. Heechul berbalik buru-buru, bermaksud menyembunyikan airmatanya yang terasa hangat dan menggenang dengan berlari keluar kamar.

Ryeowook terbengong sebentar setelah melihat drama itu, ia melempar pandangan bingung ke arah Kyuhyun sebelum mengangguk dan bergegas keluar mengikuti Heechul.

Sedangkan Kyuhyun yang ditinggal berdua bersama Sungmin di dalam kamar, hanya berdecih. “Dasar drama queen.” cibirnya sembari mendengus. Sebelah tangannya masih bergerak mengusapi dada Sungmin. Kyuhyun bukan tidak sadar, ia hanya mengabaikan bisikan-bisikan yang tengah mengejeknya karena tetap bertahan dan mau repot-repot mengurusi mutan kecil ini, ia mengabaikan bisikan-bisikan yang tengah menggodanya untuk pergi dari sana, dan memfokuskan diri dengan menatap wajah pulas Sungmin. Setidaknya hanya ada mereka berdua disini. Tidak ada orang lain yang melihat kalaupun ia luluh dan menunjukkan sisi lembut dirinya sendiri. Bahkan Sungmin tertidur dan tidak menyaksikannya, Kyuhyun bersyukur akan hal itu.

“Kau sudah banyak merepotkan kucing kecil. Cepatlah sembuh—“

.

oOoOoOo

.

“Dokter Jjong? Bagaimana! Apa yang terjadi padanya?”

Hangeng meremas bahu Heechul, bermaksud menenangkan istrinya dan menarik tubuh mutan itu untuk duduk kembali di pangkuannya. Heechul bahkan tidak memberi kesempatan bagi dokter Jjong untuk duduk terlebih dulu begitu dokter itu melangkah keluar dari kamar Sungmin.

“Shock. Sungmin melihat sesuatu yang membuat traumanya kembali.” Jawab Dokter Jjong dengan raut prihatin. Ia duduk di sofa tepat di sebelah Kyuhyun yang tengah bersandar ke belakang sembari memejamkan matanya, sekilas terlihat seakan tertidur pulas.

“Dia ada di dalam kafe sejak pagi. Lalu tiba-tiba dia berteriak histeris sore tadi. Aku tidak tahu apa yang dilihatnya. Kau ingat sesuatu, Kyu?” Ryeowook menyikut lengan Kyuhyun. Pemuda itu hanya menggeleng, mendengus panjang, lalu melanjutkan acara tidur singkatnya lagi.

“Apa mungkin ia lihat seseorang yang membuatnya ketakutan seperti itu?” Hangeng mengira-ngira.

Dokter Jjong mengangguk, “Kemungkinan besar.” ujarnya setuju.

“Mungkin majikan lamanya?” Heechul ikut-ikutan bersuara, mata kucingnya berkilat dramatis. Ia berpaling menatap suaminya dengan raut suram, dikeratnya kemeja Hangeng erat-erat.

“Aku sudah mencari informasi tentang bandul kalung Sungmin.”

Mendengar ucapan Hangeng barusan, kali ini Kyuhyun membuka matanya. Bohong, kalau ia bilang tidak tertarik pada perbincangan ini. Terlebih saat masalah mulai merembet kembali pada majikan lama Sungmin. Tapi Kyuhyun berusaha menyembunyikan ketertarikannya, lagipula sejak awal ia memang menahan diri untuk peduli pada siapapun. Siapapun.

“Kau sudah tahu siapa majikan lamanya?” Heechul mengerat kemeja Hangeng makin erat, semakin merasa gugup meski di sisi lain ia benar-benar ingin tahu. Namun bukannya menjawab, Hangeng malah mengusap pipinya, tersenyum tipis dan menatap ke dalam matanya sedikit lebih lama. “Chagi, katakan pada Paman Kim untuk membawakan amplop coklat di meja kerjaku.” bisik Hangeng lembut, Heechul tahu perintah itu mungkin hanya untuk membuatnya pergi dari sana, tapi entah mengapa ia tidak menentang permintaan suaminya kali ini. Dengan lesu mutan itu mengangguk patuh, lalu beranjak pergi setelah mengecup bibir Hangeng sekilas.

“Aku sudah cari tahu tentang Choi. Sebenarnya aku sendiri punya arsip lama tentang mereka.” Hangeng sedikit melirik Heechul hingga akhirnya punggung mutan itu menghilang di balik ruangan. Ia membenahi posisi duduknya, sedikit melempar senyum ke arah Ryeowook yang tampak ikut-ikutan menegang lalu melirik ke arah Kyuhyun yang kembali memejamkan matanya dan terlihat tidak peduli. “Choi menjalankan bisnis penyelundupan mutan tapi aku masih belum bisa menyentuh mereka sampai sekarang. Belum ada laporan kekerasan setelah kasus Heechul— aku tidak bisa bergerak tanpa adanya bukti. Hampir semua Choi memiliki kebiasaan memelihara mutan. Choi Woohyuk, Choi Minho, Choi Siwon—“ Hangeng berdehem tanpa sengaja, degup jantungnya meningkat saat ia menyebutkan nama terakhir itu. “Choi Minhyun, Choi Woobin, Choi Seunghyun, Choi Jinhyun. Kemungkinan salah satu dari mereka adalah majikan Sungmin.”

“Choi Siwon masih memelihara mutan?” sambung Dokter Jjong tiba-tiba, wajahnya mengerut, tampak semakin prihatin.

Hangeng mengendikkan bahunya. “Mungkin.”

Ryeowook yang sejak tadi hanya bisa  mendengarkan, kini bergantian menatap Dokter Jjong dan Hangeng, tampak kebingungan. “Kalian mengenal Choi?”

“Yesung juga mengenal mereka. Yesung ikut membantu kasus Heechul, dan mutannya yang dulu juga sempat dipelihara secara ilegal oleh Choi. Tapi tidak perlu dipikirkan chagi,” Hangeng melempar senyum tipisnya lagi, tahu kalau Ryeowook sesungguhnya kurang menyukai masa lalu Yesung dan mutannya itu. “Yang perlu kita lakukan sekarang adalah melindungi Sungmin. Dan Kyuhyun—”

Ryeowook buru-buru menyikut perut Kyuhyun dan mendesis marah, menyuruhnya bangun dan dijawab dengan kesal juga oleh Kyuhyun. ‘Iya-iya aku mendengarkan!’

“Kau harus menjaganya, Kyu. Jangan biarkan dia sendirian tanpa pengawasan saat berada di luar. Kita tidak tahu apa yang direncanakan majikan lamanya.”

“Kenapa harus aku?” Kyuhyun mendengus lalu membenahi posisi duduknya, ia memijat tengkuknya dan menguap lagi. “Merepotkan.”

“Kyuhyun!” Ryeowook refleks memukul paha Kyuhyun karena kesal. Kyuhyun hanya mencibir, mengabaikan Ryeowook dan berbalik memunggungi kakak iparnya itu sebelum berpura-pura memejamkan matanya lagi.

“Dia hanya menginginkanmu. Setidaknya turuti keinginan Sungmin sampai ia benar-benar pulih, Kyuhyun-ah. Setelah itu, hyung yang akan mengurusnya.”

Kyuhyun hanya berdehem. Tidak berniat untuk protes lagi kalau pendapatnya hanya akan diabaikan oleh semua orang.

“Sungmin juga membutuhkan pengobatan serius. Sepertinya janin di rahimnya ditarik paksa, kita harus membersihkan sisanya sebelum ia terkena infeksi internal. Dan untuk luka-luka di tubuhnya, aku sudah membawakan krim memar dan luka bakar. Oleskan saja setiap malam dan pagi setelah ia mandi.”

Kyuhyun benar-benar ingin mengabaikan semua orang saat ini, tapi entah mengapa ada dorongan memaksa dari dalam hatinya yang membuat Kyuhyun tidak bisa tidak peduli. Ia bahkan tidak bisa berpura-pura memejamkan mata lagi, meskipun sembari memunggungi semua orang, Kyuhyun tidak bisa mengusir bayangan di dalam kepalanya. Bayangan buruk rupa tentang mutan kecil itu, disiksa, mengandung dan keguguran, janinnya ditarik dengan paksa –Kyuhyun mendengus, menahan dirinya untuk tidak muntah membayangkan gambaran menjijikan itu. “Merepotkan.” Cibirnya bertentangan dengan kata hatinya sendiri.

“Atau kau ingin aku yang melakukannya, Kyu? Barangkali kau keberatan.”

“Tidak, biar aku saja.” Kyuhyun mendengus. Bercanda atau tidak, entah kenapa ia tidak menyukai ucapan Dokter Jjong barusan. Tapi Kyuhyun terlalu malu untuk mengakuinya, sampai ia mengeluarkan protes lain lagi. “Tapi aku tidak mau memandikannya lagi.”

“Tentu, aku mengerti. Kucing benci air. Tapi kalau kau ikut mandi, mungkin Sungmin akan mengalah.”

“Tidak lucu, hyung.” Kyuhyun berdumal tak senang. Wajahnya yang bersemu merah kontan membuat Hangeng dan Dokter Jjong tertawa, sementara Ryeowook ribut mendaftarkan diri menjadi sukarelawan. Sejenak, suasana tegang di tengah ruangan itu sedikit terangkat hingga Heechul kembali membawakan amplop coklat yang diinginkan Hangeng tadi.

“Yeobo, ini.” Setelah menyerahkan amplop besar itu, Heechul langsung mendudukkan diri di atas pangkuan Hangeng, ekor panjangnya berkibas dan melilit pinggang suaminya itu. Ia menunduk dengan tertarik, cupingnya bergerak-gerik saat suara sobekan terdengar begitu jelas diantara kesunyian yang lagi-lagi menyikap ruangan tempat kelimanya berkumpul.

“Kau tertarik, chagi?” Hangeng tersenyum geli, sebelah tangannya menarik isi amplop itu sementara ia sibuk menatap wajah istrinya. Paras cantik ditambah dengan cuping kucing yang bergerak-gerik itu benar-benar tampak menggoda. Tanpa memikirkan malu lagi, Hangeng mengecup hidung Heechul dan menggigit bibir bawah yang mengerucut maju itu. Setidaknya ia bisa menahan diri untuk tidak melakukan lebih. Kalaupun Hangeng ingin melumat istrinya sekarang dihadapan tiga pasang mata asing lainnya, itu tidak mungkin terjadi karena kini perhatian Heechul benar-benar teralih pada kertas tebal yang dicapitnya hati-hati dengan dua jari. Ryeowook dan Dokter Jjong dengan sabar menunggu, sementara Heechul terpaku. Hangeng tahu usahanya selama ini mengajari Heechul untuk membaca dan menulis tidak akan sia-sia. Karena lihat saja mata yang berkilat dan membulat besar itu—

“Ini—“ Heechul benar-benar tercekat.

“Ya.” Hangeng nyaris tertawa, tapi itu berakhir dengan kecupan singkat di hidung istrinya saat ia beralih pada Kyuhyun. Diletakannya kertas itu di atas meja, agar semua orang bisa membaca kalimat apa saja yang tertulis di dalamnya. “Kyuhyun-ah. Ini sertifikat kepemilikan Sungmin, atas namamu. Aku membuatnya untuk berjaga-jaga kalau memang Sungmin tidak pantas dikembalikan pada majikan lamanya.”

Kyuhyun menelan ludah, duduk semakin mundur seakan berniat untuk kabur dari sana. Cetakan namanya yang tertulis tebal dengan tinta emas itu nyaris-nyaris membuat bulu kuduknya meremang. “Bagaimana kalau pemiliknya juga memiliki sertifikat yang sama?”

“Aku hakim, aku yang akan memutuskan mana yang asli dan palsu.” Hangeng nyaris mendapat kecupan dari Heechul berkat jawaban itu. Tapi Kyuhyun tidak setuju.

“Itu tidak fair hyung.”

“Perlakuan yang diterima Sungmin juga tidak adil.”

“Fine! Tidak ada sanggahan lain, Yang Mulia.” Kyuhyun mendengus makin kesal, seharusnya ia tahu kalau protesnya memang tidak akan pernah didengar.

“Kalau begitu tidak ada sanggahan untuk urusan Sungmin? Kau bersedia mengasuhnya sampai maut memisahkan kalian?” suara itu nyaris-nyaris terdengar seperti ejekan, dengan nada yang menyerupai pendeta di tengah upacara pernikahan. Oh, Kyuhyun nyaris ingin beranjak untuk mencekik kakaknya.

Hyung! Tidak lucu!”

Heechul meringis dengan tampang mengejek, Kyuhyun tahu kalau ia pasti baru saja memamerkan tampang memelasnya. Buru-buru ia memasang wajah kesalnya lagi. “Hyung, mana sempat aku mengurusi mutan! Aku punya banyak kerjaan, nih!”

“Kerja untuk tabungan rumah barumu?”

Kyuhyun tercekat pada tebakan super tepat itu. Ia tergagap, bermaksud menjawab namun semakin banyak mata yang melirik ke arahnya, semakin pula ia kehilangan kata-kata.

“Dengar, Kyu… Hyung bisa membantu, mungkin separuh harga dan sisanya kau bayar dari tabunganmu. Hyung akan bayar separuhnya asal kau mau mengurus Sungmin disana—“

“Tidak.” Potong Kyuhyun tegas. Ia balas memandang Hangeng, tampak makin sengit. “Aku akan membeli rumah itu dengan uangku sendiri. Aku akan membangunnya dari jerih payahku sendiri.”

“Tapi Kyu—“

“Jangan sok kaya!” Kyuhyun berseru garang. Matanya mendelik penuh emosi hingga sesaat ia sadar sudah terlalu lepas menunjukkan perasaannya yang selama ini kedap tersembunyi. Buru-buru ia mengatur kembali rautnya dan mencibir dengan gayanya yang biasa. “Mentang-mentang kau punya penghasilan besar, jangan remehkan pelayan kafe sepertiku! Aku punya banyak fans, bisa saja kusuruh mereka menyerang mansion ini sampai rubuh!”

Heechul yang sejak tadi berusaha untuk diam, jadi ikut-ikutan kesal. “Dasar keras kepala. Hyung-mu hanya ingin membantu, bocah sial!”

“Bantu saja mutan ini, tampung dia di rumah ini.”

“Cho brat!” Heechul sontak berdiri, sudah berniat akan mencekik leher Kyuhyun kalau saja Hangeng tidak buru-buru memeluknya dari belakang.

Yeobo—“ Hangeng berusaha menenangkan Heechul. Ryeowook yang tampak kesal di sisi Kyuhyun mencoba untuk tidak berkomentar, sementara dokter Jjong hanya menjadi penonton sejak tadi, tidak mengerti dan mencoba untuk tidak ikut campur.

“Bagaimana kalau begini saja, Kyu—“ putus Hangeng sembari memeluk pinggang Heechul dari belakang. Ia menatap Kyuhyun lembut dari balik ceruk leher mutannya, sedikit berharap Kyuhyun tidak akan menolak kali ini. “Hyung akan membantu dana, bukan untukmu. Tapi untuk Sungmin. Kau tahu biaya perawatan mutan mahal, dan hyung mengerti kau sedang berjuang menabung untuk rumah baru itu. Tampung Sungmin, dan semua biayanya biar hyung yang tangani. Kau cukup biarkan dia tinggal bersamamu. Jaga Sungmin sampai mutan itu benar-benar pulih.”

Kyuhyun melengos. Memasang wajah tak senang sembari mendengus berkali-kali. “Kenapa harus aku, haaah.” Kyuhyun mengeluh sembari menghentakkan kaki. Kalau boleh jujur, semakin lama ia mulai sedikit mengkhawatirkan keadaan Sungmin. Sedikit! Hanya sedikit! Kyuhyun juga sempat berpikir untuk sedikit ikut campur, kalau kelak orang-orang ini membutuhkan bantuannya. Tapi sedikit! Hanya sedikit ikut campur! Biar bagaimanapun, diberi kewajiban untuk mengurus orang lain meskipun tidak mengeluarkan biaya, tetap saja merepotkan. Tapi orang-orang ini terus saja menekannya, membuat simpati untuk Sungmin yang mulai tumbuh dalam benaknya kembali surut. Kyuhyun semakin yakin saja bahwa ia melakukan semua ini memang karena terpaksa. Terlebih Hangeng. Kyuhyun memandang kakak sepupunya itu dengan sorot sengit, Hangeng sudah tahu kelemahannya. Dan Hangeng sudah pasti akan menggunakannya. Lihat saja tatapan sok lembut dengan maksud tersembunyi itu—

“Bagaimana, Kyu? Kami ingin menolongnya, apa kau tidak tersentuh untuk ikut membantunya? Apalagi mutan itu hanya menginginkan dirimu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya— dalam keadaan trauma seperti itu, dan ditinggalkan oleh satu-satunya orang yang ia percaya disini—”

“Baiklah! Baiklah! Baiklah!” potong Kyuhyun kesal. Ia berdiri jengah, tidak ingin mendengar khotbah apapun lagi. “Aku lapar, sediakan makanan sekarang.” Dengan kesal Kyuhyun berbalik memunggungi semua orang dan beranjak meninggalkan ruangan, tidak menyadari sama sekali saat Dokter Jjong dan Hangeng saling bertukar pandang, Ryeowook mendesah lega dan Heechul mulai mencibir kepergiannya.

“Bocah itu tidak berubah.” Dokter Jjong menyeruput tehnya dan terkekeh pelan. Hangeng mengangguk setuju dan ikut tertawa, terlebih melihat wajah bingung Ryeowook dan tampang malas Heechul.

Dalamnya tidak berubah.” sambungnya seraya meraup bibir Heechul dengan lembut. “Dia memang sulit dimengerti.”

.

oOoOoOo

.

Kyuhyun mengusap remote TV itu berkali-kali, tidak berniat mencari channel yang bagus dan justru lebih tertarik untuk menggonta-ganti program dan mencoba seluruh menu yang ada. Sembari menyeruput kuah tomyam dalam mangkuknya, Kyuhyun terkekeh-kekeh senang. Terkagum-kagum sendiri dengan TV 64 inch yang terpasang di dinding. Bahkan ruang makan ini memiliki TV! Whoa! Keren sekali. Kakaknya Hangeng memang benar-benar kaya, Kyuhyun semakin terobsesi untuk menjadi kaya raya, dan tentu saja, dengan usahanya sendiri.

Kyuhyun mengerjap takjub, menghentikan petualangan mengusap-usap remote itu dan berhenti di channel musik. Sebenarnya ia juga memiliki TV dengan ukuran dan merek yang sama di apartemennya. Ah, salah. TV itu milik ayahnya, dan apartemen itu juga milik ayahnya. Kyuhyun jarang menyalakan perabotan mesin dan alat eletronik disana karena ia harus menghemat listrik yang ada, biar bagaimanapun, apartemen pinjaman itu memakan banyak biaya listrik bulanan. Kyuhyun bahkan tidak menyalakan lampu ruangan kalau tidak benar-benar membutuhkannya, mencharge gadgetnya di kafe, dan memilih mengipasi diri sendiri dengan kipas manual ketimbang menyalakan AC. Semua usaha hemat listrik Kyuhyun itu sukses menekan pengeluaran bulanannya, dan mungkin hanya memakan sekitar 5% dari gaji kerjanya.

Tapi mulai sekarang, hidup hemat listrik Kyuhyun akan terganggu. Sungmin akan pindah ke apartemennya dan tidak mungkin ia memadamkan lampu di seluruh penjuru apartemen. Apalagi mengingat mutan yang cengeng dan penakut itu! Hah, Kyuhyun tidak mau membayangkan berapa pengeluaran untuk biaya listriknya bulan depan.

“Kyu, Sungmin sudah sadar. Dia mencarimu.”

Kyuhyun hanya melirik Ryeowook, tidak menjawab dan terus saja menikmati tomyamnya sembari menonton TV. Orang ini datang untuk menyuruhnya pergi? Hah. Ini bukan di Kona Beans, Ryeowook bukan bosnya di luar jam kerja dan di luar tempat kerja.

“Cepatlah sebelum Sungmin menangis lagi!” Ryeowook menarik mangkuk Kyuhyun dengan sengit, nyaris membuat pemuda jangkung itu tersedak dan kuah-kuah kemerahan berhambur di bawah bibirnya.

“Aish! Iya-iya, sabar sebentar sih.” Kyuhyun mendengus kesal. Menarik kembali mangkuk makannya dan menghabiskan isinya dalam satu tegukan. Ia melempar mangkuk keramik itu ke atas kepala maidroid yang kebetulan lewat dan dengan sigap menangkapnya. Setelah membersihkan mulutnya dengan tisu, Kyuhyun beranjak. Berpura-pura mengabaikan Ryeowook yang tengah berdiri berkacak pinggang dan mendelik ke arahnya.

“Kalau kau semenyebalkan ini terus, suatu saat nanti Yesung akan berselingkuh.” Cibir Kyuhyun sebelum melesat keluar dapur. Buru-buru menghindar sebelum Ryeowook sempat melempar kepalanya dengan teko air.

“Yah, Cho brat! Awas kau!”

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak mendengar cacian Ryeowook yang masih menggema hingga ke ruang tengah. Suara melengking itu terdengar mendekat, sebelum Ryeowook sempat mengejarnya, Kyuhyun segera melesat dan membanting pintu kamar Sungmin dari dalam, baru bermaksud mengunci pintu kamar itu saat ia tiba-tiba dikejutkan dengan suara bentakan lain yang tidak kalah nyaringnya.

“Yah, Cho brat! Bisa tenang sedikit tidak!”

Kyuhyun menggerutu, semakin merengut lagi saat dilihatnya Sungmin menyudut di atas tempat tidur dan tengah memandanginya dengan mata berkaca-kaca. Buru-buru ia memalingkan wajahnya, “Kenapa semua orang memanggilku ‘Cho brat’ hari ini.”

“Kau memang pantas dipanggil begitu.”

 

‘Suamimu juga Cho!’ rasanya Kyuhyun ingin menyahut seperti itu, namun ia menahan cibirannya dan hanya mendengus kecil. Heechul yang duduk di pinggir tempat tidur tidak bisa menyentuh mutan itu sama sekali, dan Kyuhyun sedikit mengerti kenapa nada bicara mutan dewasa itu terdengar sedikit moody.

“Dia sudah bangun, kan? Aku mau pulang sekarang.” Kyuhyun meraih ranselnya yang tergeletak di atas meja rias, lalu dengan gesit ia memasukkan beberapa cemilan yang bisa ditemukannya di dekat meja nakas dan berbotol-botol greentea di bawah tempat tidur.

“Tinggal disini dulu, Kyu. setidaknya sampai Sungmin baikan.”

Ah, Kyuhyun berpaling kaget. Ia bahkan tidak sadar Hangeng berada di sana, berdiri melipat tangan di depan jendela dan mengawasinya dengan tampang serius.

Kyuhyun beralih lagi, kembali fokus mengemasi makanan-makanan yang bisa dibawanya dan sebisa mungkin mengabaikan gerungan dan pandangan memelas dari atas ranjang. “Aku harus kuliah, semua barang-barangku ada di rumah.”

“Kalau begitu setiap kau akan berangkat ke kampus, antar dia kemari, ne?” Heechul memohon dengan suara lembut, Kyuhyun nyaris tidak percaya pada telinganya sendiri dan mengira barusan adalah ucapan Hangeng yang tiba-tiba memiliki suara feminim. Kyuhyun menelan ludah, semakin tidak berminat untuk menanggapi dan terus saja memunggungi Heechul dan Hangeng, pura-pura tertarik pada botol-botol make up yang ada di atas meja rias. Padahal ia sendiri tidak tahu apa guna benda panjang ramping berwarna hitam yang sedang dipegangnya ini. Eye liner? Penggaris mata? Oh.

“Kyunggg—“

Kyuhyun mengubah objek perhatiannya ke benda lain, benda yang jika diraih bisa membuatnya berputar makin memunggungi ranjang. Suara gerungan samar itu membuat bulu kuduknya meremang, nada rendah yang terkesan semakin memelas… Kyuhyun justru lebih memilih memandangi Ryeowook yang tiba-tiba masuk dan langsung mendelik ke arahnya. Ia menggigit bibir, mencoba untuk tidak peduli saat suara isak pelan mulai terdengar, bercampur dengan desau kecewa Heechul yang sejak tadi masih berjuang merayu-rayu Sungmin.

“Kemari Sungminnie! Kenapa tidak mau kudekati sebentar saja sih?” Heechul ingin sekali melompat naik dan meraup tubuh mutan muda itu, tapi suara isak pelan Sungmin menahan hasratnya.  Mutan belia itu semakin beringsut ke ujung ranjang, duduk memeluk lutut dan terus saja mencuri-curi pandangan memelas ke arah Kyuhyun. “Kalau Kyuhyun kuliah, kau harus tinggal disini denganku, ne. Sekarang kemari, ayo kemari—“ Heechul masih berjuang, meski suaranya terdengar semakin putus asa dan sorot matanya makin sayu. Hangeng mendesah, mengerti betul betapa sensitif perasaan istrinya ditambah dengan sifat keras kepala Heechul itu.

“Chagi, jangan memaksakan diri.”

“Tapi dia harus tinggal disini kalau Kyuhyun pergi kuliah!” Heechul tetap bersikeras, ia menghentakkan kakinya dengan kesal. Hangeng memang tidak menentangnya lagi, tapi sorot serius yang balik memandangnya itu membuat Heechul merasa tidak nyaman. “Kau tidak setuju denganku, Geng?”

“Bukan begitu—“ Hangeng menghela napas, nyaris menunjukkan tampang lelah. “Sungmin belum mau disentuh siapapun jadi—“

“Dia mau denganku! Dia mau denganku!” Ryeowook berseru memotong, dengan penuh semangat ia menyambar bahu Kyuhyun hingga pemuda jangkung itu terhuyung kaget dan nyaris jatuh menabrak meja rias. Tanpa mempedulikan pelototan kesal Kyuhyun, Ryeowook tersenyum lebar dan menatap Heechul dengan ekspresi meyakinkan. “Sungmin-ah mau denganku! Aku ada waktu luang untuk kemari, kau tenang saja hyung!”

“Kau?” Heechul mendelik tidak percaya. Ia berpaling menatap Sungmin yang tengah mengkerut ketakutan dan kembali menatap Ryeowook dengan pandangan menusuk. “Dia mau denganmu, maksudnya?”

“Dia tidak takut padaku. Lihat ini!” Ryeowook menarik senyumnya lebar-lebar sembari beringsut naik ke atas ranjang, memberi jarak cukup untuk tidak mengejutkan Sungmin sebelum ia mengulurkan tangannya. “Kemari, Minnie. Kau mau makan es krim dengan Wookie?”

Semua orang menunggu reaksi Sungmin, kecuali Kyuhyun yang berdumal dan bicara pada dirinya sendiri.

“Aku tidak punya waktu luang dan kalian sama sekali tidak peduli.”

Tidak ada yang mendengarnya. Semua orang seakan terpaku menantikan reaksi Sungmin yang sejak tadi hanya memandangi tangan Ryeowook dengan bibir bergetar, seakan tangisnya rawan pecah kapan saja. Ryeowook juga nyaris putus asa. Uluran tangannya melemas bersamaan saat Sungmin mulai beringsut mendekat padanya, meraih tangannya dengan wajah takut-takut dan buru-buru menyembunyikan diri di sisi Ryeowook, mencoba menghindari delikan maut Heechul yang sebenarnya bukan ditujukan padanya.

“Umm~” Sungmin mengintip takut-takut dari balik bahu Ryeowook, ia mengerat kuat-kuat punggung kemeja pemuda yang tak kalah mungil darinya itu sembari mengibas-ibaskan ekornya dengan gelisah.

Heechul terkesiap. Benar-benar tidak percaya pada apa yang baru saja disaksikannya. Ia berdiri dengan wajah memerah kesal. “Curang! Kau pakai eskrim!” Heechul menunjuk Ryeowook dengan sorot menuding. Saking kesalnya, ia refleks menyambar lengan Sungmin dan bermaksud merebutnya dari Ryeowook. “Kemari Minnie, akan kubelikan pabrik eskrim untukmu!”

Ryeowook, Hangeng, dan bahkan Kyuhyun mendelik melihat sikap agresif Heechul yang kontan, sukses membuat Sungmin menjerit ketakutan dan mati-matian berusaha menarik tangannya kembali.

“Aaah!” Sungmin mengerang tak senang. Cupingnya mengatup turun, matanya mulai berkaca-kaca dan tangisnya nyaris pecah kalau saja Hangeng tidak segera menyelamatkannya dengan menarik Heechul menjauh. Kyuhyun yang tanpa sadar ikut panik buru-buru melangkah mendekati ranjang, sempat berpikir untuk menarik rambut Heechul kalau saja Hangeng tidak turun tangan lebih dulu.

“Y-yah, chagi! Kau bisa membuatnya menangis!”

“Curaaang! Padahal aku sama-sama mutan!” pekik Heechul tidak terima. “Yeobooo!”

Ryeowook sempat kelimpungan saat ponselnya berbunyi dan Sungmin tengah memeluknya erat-erat sembari mengerang ketakutan. Sedikit kesulitan, akhirnya Ryeowook berhasil membuka flip ponselnya. “Yesungie sudah sampai di depan, hyung. Haruskah pergi sekarang?”

“Sekarang!” Kyuhyun berseru setuju dan segera menyambar ranselnya untuk dibawa pulang.

“Aku mau ikut! Aku mau mengantar Sungmin!” Heechul ikut-ikutan mengemasi barang, membawa satu jaket tebal dari lemari kamar dan menarik tangan Hangeng keluar.

“Kyuuung! Hiks!” Sungmin menggerung, menarik tangan Ryeowook frustasi saat tubuh Kyuhyun nyaris menghilang keluar kamar. Kyuhyun pasti sudah akan menghilang kalau saja Ryeowook tidak membantunya meneriaki nama Kyuhyun.

“Cho brat Kyuhyun!” jerit Ryeowook sepenuhnya emosi. Kyuhyun memutar balik langkahnya dan berdiri di depan pintu dengan tampang lelah.

“Aish, apa lagi sih!”

“Kau mau meninggalkan Sungmin?” Itu bukan pertanyaan, nada itu terdengar lebih seperti ancaman. Kyuhyun menghela napas dan melirik Sungmin yang tengah balik menatapnya dengan raut memelas. Suara gerungan samar terdengar seakan mutan itu takut membuat majikan barunya marah lagi. Kyuhyun terus-terusan membentak dan Sungmin tidak menyukainya. Tapi Sungmin lebih tidak mau lagi ditinggalkan sendiri, sekalipun bersama Ryeowook. Karena itu saat Kyuhyun meneriakkan—

“Cepat turun dari sana.”

Dengan tergesa-gesa, Sungmin berusaha turun dan menggapai Kyuhyun meski langkahnya sedikit tertatih. Sembari mendongak dengan mata membulat besar, dipeluknya lengan Kyuhyun erat-erat. “Kyunggg~” rengutnya dengan bibir mengerucut maju. Kyuhyun mendelik kaget, refleks berpaling dan melangkah keluar dengan wajah memanas yang terangkat tinggi.

“Ayo pulang, hyung!

.

oOoOoOo

.

Seunghyun membanting pintu depan rumahnya. Ia membuka pintu itu sendiri dan melepaskan sepatunya sendiri. Sudah dua hari, tidak ada pelayan yang tersisa di mansion ini setelah ia memecat seluruh pelayan wanita dan membunuh dua diantaranya. Bodyguard yang tersisa hanya para penjaga terpecaya, yang tentu saja tidak bisa bekerja membersihkan rumah. Puing-puing sisa kepingan kaca hingga televisi dibiarkan berserakan di lantai. Beberapa perabotan bahkan tidak berbentuk indah sebagaimana mestinya. Keberadaan benda-benda di rumah ini sudah berubah fungsi menjadi lahan pelampiasan amarah Seunghyun setiap jam setiap waktu. Setiap kali ia kembali setelah seharian mencari mutannya yang hilang dan kembali dengan tangan kosong. Seperti hari ini, meskipun ia menemukan dimana Sungmin-nya berada. Kepulangannya tanpa bisa membawa mutannya kembali, hanya menambah emosinya dua kali lipat setelah melihat Sungmin berada di tempat dimana ia menemukan mutannya itu mengkhianatinya untuk yang kedua kali.

“ARGH!” Seunghyun membanting ponselnya hingga benda itu remuk menghantam dinding. Matanya yang merah seakan dialiri darah, penuh dengan emosi ditambah lelahnya karena terjaga dari tidur sejak kemarin malam.

Seunghyun tidak berniat mengatur napasnya. Suara dengusan dan ringisannya berhembus berat. Ia memutar pandangan, tengah berpikir dan mencari-cari lahan pelampiasan amarah yang baru saat tiba-tiba ia bertemu pandang dengan sosok yang rupanya sudah berdiri di tengah tangga sejak ia masuk ke ruangan ini.

“Darimana saja, Seunghyun-ah? Presdir mencarimu.”

“Aku sibuk sampai bulan depan.” Seunghyun mendengus dan membanting dirinya ke atas sofa. Ia bersandar ke belakang, mengistirahatkan tengkuknya yang nyaris keram karena kelelahan.

“Kau sibuk apa? Sibuk mencari mutanmu?”

“Diam hyung. Kau bilang mau membantuku mendapatkan Sungmin kembali.”

Woohyuk memutar bola matanya. Mulai merasa bosan pada masalah ini dan di sisi lain ia tetap dibuat pusing oleh sikap keras kepala Seunghyun yang semakin menjadi-jadi. “Aku pasti membantumu, Seunghyun. Hanya saja perkara seperti ini— Aish!” Woohyuk menghela napas berat, ia melangkah turun sembari membuka ponselnya, meyakinkan kembali informasi yang diberikan mata-mata dan bawahannya hari ini tidaklah salah. Ia sudah membantu Seunghyun mencari mutannya yang hilang sejak dua hari yang lalu. Tapi begitu mengetahui dimana tempat mutan itu berada sekarang, Woohyuk seakan ingin mundur dari masalah ini. Hangeng Tan. Hakim Pengadilan Tinggi Seoul sekaligus aktivis pembela mutan. Bagaimana mereka bisa menghadapinya!

“Bagaimana kalau kuberikan mutan baru, kau mau yang seperti Sungmin? Atau kau ingin pilih sendiri? Lagipula sekarang Sungmin ada di tangan Hakim Han. Kau mau bunuh diri, Seunghyun-ah? Relakan saja mutan itu, lagipula kau sudah merusaknya terlalu parah. Pilihlah satu mutan baru, akan kuantar malam ini juga.”

Seunghyun mengerang, nyaris melempar vas bunga yang masih utuh di hadapannya ke arah kakak sepupunya itu. “Diam, Woohyuk. Aku tidak mau yang lain. Kalau kau tidak mau membantu, jangan berkomentar.” ujarnya ketus. Seunghyun tidak peduli, ia sudah tahu informasi tentang Hakim Han dan keluarga Cho itu sejak kemarin. Siapapun mereka, Sungmin miliknya dan ia punya hak atas mutannya sendiri. “Bisakah kubunuh selingkuhan mutanku itu? Pemuda jangkung berambut coklat itu?”
Woohyuk mendelik. “Jangan macam-macam Seunghyun-ah! Dia putra tunggal keluarga Cho!”

Cho? Siapa yang peduli? “Kalau begitu kuculik saja Sungmin. Dia milikku, aku punya hak untuk merebutnya kembali.”

Woohyuk menghela napas, entah untuk keberapa kalinya malam ini. Rasanya ia sudah terlalu lelah menjelaskan. “Dengar Seunghyun-ah. Kalau kau tidak mau mutan baru, kau ingin Sungmin-mu kembali? That’s fine.” ujarnya sembari menghempas tangan ke atas, menyerah pada opsi tawaran mutan baru bagi Seunghyun. Tapi ia tidak bisa tinggal diam melihat Seunghyun bertindak tanpa pikir panjang saat mereka tahu dengan jelas siapa lawan yang mereka hadapi kini. “Tapi kau tidak bisa bersikap gegabah. Yang kau hadapi bukan orang-orang sembarangan. Kita pernah sekali berperang dengan mereka, aku tidak ingin kejadian yang sama terulang dua kali.” Seunghyun hanya mendengus.

“Kita nyaris jatuh saat itu. Jangan biarkan kesalahan yang sama tercium dua kali. Kau boleh melakukannya, tapi jangan sampai ketahuan.”

“Kalau ini perang, aku akan memeranginya sampai akhir.”

Woohyuk memekik sengit dan menarik rambutnya frustasi. Ia ikut membanting diri di sisi Seunghyun dan merangkul adik sepupunya itu setelah menarik napas panjang berkali-kali, berusaha mengumpulkan kesabarannya lagi. “Dengar, Choi Seunghyun.” mulai Woohyuk dengan suara lembut, “Kalau kau bertindak gegabah, bukan hanya kau yang akan mendapatkan imbasnya. Choi akan runtuh perlahan-lahan, kau akan di bui, aku akan di bui, Choi Siwon kakakmu akan di bui, dan yang paling tidak kau harapkan…” Woohyuk menarik dagu Seunghyun dan memaksa pemuda itu menatap langsung ke dalam matanya, mengabaikan sorot tajam yang tampak begitu menakutkan itu. “Sungmin tidak akan pernah kembali padamu lagi. Pikirkan itu baik-baik Seunghyun-ah. Kau menginginkannya kembali, kita akan cari cara untuk itu. Aku akan membantumu, Siwon akan membantumu. Sementara kau harus menahan diri, jangan bersikap di luar kendali, jangan gegabah, suruh saja orang lain memata-matai Sungmin. Kau mengerti?”

Seunghyun tidak menjawab. Ia menampik tangan Woohyuk dan segera melampiaskan kekesalannya dengan menendang meja kaca di hadapan mereka. Woohyuk berjengit mendengar suara kaca yang hancur berkeping-keping itu, ia menelan ludah, berusaha tidak menunjukkan ketegangan yang seketika menyergap hatinya, kembali membuatnya bertanya-tanya untuk apa ia bertindak sejauh ini? Untuk apa ia bersikap terlalu peduli? Oh, benar. Ini untuk Choi. Untuk dirinya sendiri.

“Lalu apa rencanamu pada gadis perawat itu? Kau sudah membunuh dua pelayan, tiga bodyguard, sekarang kau mau membiarkan yang satu ini membusuk di lantai atas?” Woohyuk mencoba membangun topik baru, terlalu khawatir dengan kesunyian yang tiba-tiba mencekam mereka di tengah ruangan yang luas ini.

“Dia tidak boleh mati sebelum Sungmin-ku kembali.”

Jawaban datar itu membuat Woohyuk bersandar lemas ke belakang. “Sebentar lagi rumah ini akan berubah menjadi rumah setan.”

.

oOoOoOo

tbc

oOoOoOo

.

 

12 thoughts on “Kitty-Kitty Baby! – Chapter 8

  1. reaRelf says:

    kyu jgn galak2 dong ke ming.
    Itu kyu bneran deh,hemat apa pelit bang?kkk..
    Heechul gk terima bgt ming deket sm wookie,nyampe mau mbeliin pabrik ice cream.

    Jd seunghyun adik’a siwon?
    Jgn sampe ming kembali ke seunghyun lg deh..

    Next chap di protect.
    Minta pw’a ya.
    Ditunggu email’a..

  2. ini masih flashback toh, aku rada bingung sebenarnya sama alur cerita dari flash back ini, tapi rada ribet dan bikin penasaran.

    tetap semangat ya thor, ditunggu banget ff mu yang lainnya

  3. vyan says:

    minnya kasian gt sih.. kyu pura2 ga peduli ih..
    btw, ada apa y dgn keluarga choi ini?
    kok kynya isinya orang2 ga waras gt smua c..
    trs seunghyunnya kok seneng bgt ama sungmin?? terobsesikah?
    penasaran….

    kritiknya cuma tolong dikasih pw sun untuk chap baru yg dilock…
    aku pengen baca lanjutannya tp gada pw.. kan sedih TT^TT *lebay mode on*

    tapi lebih banyak applausenya kok hehehehe..
    thank you untuk ceritanya yg panjang2 n menarik
    thank you masih dilanjutin terus ficnya walau lambat..ngerti kok susahnya bikin crita n waktu untuk ngetiknya..
    pokonya thank you untuk segalanya hahahaha..

  4. Ahrin says:

    hwaa, sungmin blum aman tuh, monster msh mengintai(?). kyuhyun gengsi banget sih tentang perasaanx. kan kasian sungmin. next chapterx.di tungguuuuu.

  5. shanty kyuminnie arashi says:

    Kitty ming masih trauma berat klo ngeliat mantan masternya…
    Sampe segitu nya…

    Kyu jg knp masih cuek sama ming ???
    Padahal mungkin kyu dh kefikiran ttg ming …. tp masih malu… hehhehehe…

    Sebenarnya keluarga choi knpa ya???
    Mantan masternya ming jg knp masih cariin ming…
    Serem ngebayangin klo ming balik lg sama dia..
    Semoga tidak…
    Lanjut lgi…

  6. loveKyu says:

    ohhh ternyata aq blm baca yg part ini…
    hueee kmn saja diriqu…

    satu yg bkn aq penasaran…..siapa sbnr ny Cho Kyuhyun…..apa org tua ny org pntg???

  7. kurnia says:

    anyeong chingu, boleh minta PW Kitty-kitty Baby chap 18, q sering komen ff chingu di FFN tanpa nama/Guest

  8. Bella Nindysh says:

    Oh my god, seunghyun!?!! Gak rela min sampai jatuh di tangannya lg beneran ><
    hahh chap ini nguras esmosi saya bgt kyknya wkwk, itu hyorin kena siksa jadinya oh myO.O
    seunghyun itu binatang ato manusiaa sih?!#gigitcacao
    kak fiqooh lihai bener nulisnya sampe buat sy pgn ceburin seunghyun ke sungai amazon hahhh
    oke lanjutt, daebak bgt, keep writing kak~^^

  9. Rhaya says:

    Seunghyun kejaaaam.. T.T

    aku heran knpa kyuhyun terobsesi jadi kaya dg jerih payah ny sndri??
    Padahal bpak nya kaya.😮

  10. Wahhh,aku penasaran ternyata dulu juga pernah perang ya . Jangan2 masalah heechul. Uminnya harus dijaga ketat ni biar gak diambil top. Keep fighting to writing min,aku lanjut baca yaa

  11. yailah kyu kamu itu emang peduli beneran ma ming bukan karna terpaksa,,, kayaknya dulu mmajikannya heechul itu siwon ya??? pengen cepet kyu cinta ma ming,,,

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s