Kitty-Kitty Baby! – Chapter 9

Hyung! Jangan pegang itu! Kau pasti akan merusaknya!” Kyuhyun memekik panik, buru-buru dilindunginya guci antik yang biasa terpajang di sudut ruang tamunya. Lagipula untuk apa Heechul berdiri di sana? Sejak awal pun Kyuhyun sudah tidak menyetujui permintaan Heechul yang ingin ikut mengantar Sungmin, bersama-sama dengan Ryeowook, Yesung, dan Hangeng. Rasanya apartemen luas ini tiba-tiba menjadi sempit. Satu faktor terbesarnya karena Tan Heechul. Dan suara melengkingnya yang menyakiti telinga itu.

 

“Berisik sekali! Kalau rusak akan kuganti sepuluh buah sekaligus bayar di muka!” Heechul membalas sewot. Ia mendengus pada Kyuhyun sebelum melenggang pergi ke ruang tengah. Mungkin menyusul Ryeowook dan Sungmin yang ada di kamarnya. Ah, siapa yang peduli. Kyuhyun membanting tubuhnya ke atas sofa, bersandar ke belakang sembari memejamkan mata, tidak lagi berniat mengawasi Yesung yang sedang memasang kamera pengintai di atas pintu dalam apartemennya. Kyuhyun juga sempat memprotes keinginan semua orang untuk memasang kamera di setiap sudut dalam apartemen ini, tapi tentu saja protesnya terabaikan. Kyuhyun menyerah dan memilih mengistirahatkan diri di atas sofa. Lagipula tidak mungkin ia pergi ke kamar, Sungmin sedang menggunakan ranjangnya dan Kyuhyun menolak menggunakan ranjang itu berdua dengan mutan cengeng yang sekarang justru semakin dimanja oleh semua orang. Hah! Merepotkan!

“Kau tidak lapar, Kyu? Mau delivery makanan?” suara Hangeng menyela jeritan hati Kyuhyun. Kyuhyun menghela napas, terlalu malas untuk membuka matanya dan hanya menyahut “Tidak, nanti saja.” dengan suara parau. Padahal dalam hati, Kyuhyun sudah mengeluh kelaparan. Tapi ia memilih menahan diri dan memesan makanan saat semua orang sudah pulang nanti. Ia tidak ingin diremehkan dengan traktiran Hangeng sekaligus tidak ingin memaksakan diri untuk menraktir semua orang. Jadi pilihannya, makanan instan atau memesan makanan setelah Tan Heechul pergi.

“Yang ini sudah selesai, ayo pindah ke dalam.” Yesung turun dari tangga portable itu dengan bantuan Hangeng, Kyuhyun yang tidak menjawab hanya bangun dengan malas-malasan dan memindahkan dirinya ke ruang tengah. Di ruang tengah pun, Kyuhyun berbaring di atas matras sembari menggoyang-goyangkan kakinya.

 

“Kenapa harus pakai kamera segala sih?” Kyuhyun mencibir. Yesung yang tengah sibuk memaku kamera sedikit berpaling padanya dan tersenyum lembut. Tapi bukan Yesung, justru Hangeng yang menjawab pertanyaan itu.

 

“Ini akan lebih aman. Kita belum tahu apa yang akan direncanakan Choi pada Sungmin. jadi, yah… Ini antisipasi terbaik.” Hangeng ikut duduk di samping matras Kyuhyun, membuat Kyuhyun semakin mencibirnya terlebih dengan kemeja berantakan dan celana oblong ditambah posisi duduk bersila di atas lantai yang tiba-tiba membuat Tan Hangeng terlihat remeh.

 

“Aku juga akan memasang alarm di beberapa sudut. Sekali tekan, akan tersambung ke sistem keamanan di rumahku.”

 

“Kalian mengganggu privasi hidupku.” Kyuhyun mengeluh lagi, tapi baik Hangeng atau Yesung, tidak ada yang meladeni keluhannya barusan. Kyuhyun dibiarkan mencibir sendirian sementara Yesung dan Hangeng berdiskusi memutuskan tempat paling tepat memasang kamera-kamera itu.

Sadar diabaikan, Kyuhyun mengeram marah. Ia bangun dan duduk bersila, sembari mendongak pada Yesung, memutuskan untuk mengeluhkan hal lain, apapun yang bisa dikeluhkannya pada Yesung. “Kapan Max pulang? Kalian membuat kerjaku jadi dobel gara-gara dia!”

 

“Dia bilang seminggu lagi. Tenang Kyu, kuberi gaji dobel.” Yesung menjawab tanpa berpaling. Kyuhyun mendengus, semakin sebal tapi tidak berniat menolak tawaran gaji dobel itu. Maka Kyuhyun memutuskan untuk berdiri dan melenggang pergi ke arah dapur. Berniat mencari makanan sisa lalu mengungsi di kamar tamunya yang penuh berantakan oleh tumpukan pakaian. Tapi siapa yang peduli, sekarang yang terpenting baginya adalah tempat sepi dimana tidak ada seorangpun akan mengganggunya.

Tapi Kyuhyun harus mendengus lagi, mencibir Ryeowook yang tengah berdiri membungkuk menghadap kulkas. Bahkan di dalam dapur pun ia tidak bisa sendiri!

 

Ryeowook menoleh, menyadari kehadiran Kyuhyun lalu tanpa segan-segan ia berkomentar. “Kau tidak menyimpan makanan apapun, Kyuhyun! Apa yang harus kulakukan dengan telur, saus, dan selada kering ini!” pekiknya dengan tampang shock. Kyuhyun tidak menjawab, ia menyelipkan satu tangannya di bawah ketiak Ryeowook untuk meraih satu box susu.

Kyuhyun hanya melirik kakak sepupunya itu sembari menyeruput susu cokelatnya, awalnya berniat menjawab namun urung saat dilihatnya wajah Ryeowook berubah suram. Jadi siapa yang salah? Kyuhyun mencibir dalam hati. Untuk apa ia menyimpan makanan mentah kalau ia sendiri tidak bisa memasak? Aneh-aneh saja. Kyuhyun mendengus setelah selesai menghabiskan susunya. Ia baru akan berbalik dan melesat pergi saat tiba-tiba Ryeowook berkomentar lagi.

“Sungmin belum makan, dia pasti lapar.” Suara desah prihatin itu terdengar, Kyuhyun hanya memutar matanya. Nyaris tampak tidak peduli saat ia menyodorkan ponsel kecil kepada Ryeowook.

“Delivery saja. Aku juga mau pesan. Bayar masing-masing ya.”

Ryeowook mencibir. “Iya iya, aku yang bayar! Dasar pelit. Kau mau pesan apa? Biar kupesan sekalian.” Tawar Ryeowook dengan bibir mengerucut maju.  Jemarinya mengetuk-ngetuk lambang-lambang angka di atas ponsel itu dengan ogah-ogahan. “Dan kubayari sekalian!”

Kyuhyun mendengus, paling tidak suka diremehkan seperti itu. “Kalau tidak ikhlas tidak usah, aku bisa bayar sendiri.” Tangkasnya setengah hati. Kyuhyun membuang box susu yang sudah kosong itu ke tempat sampah sebelum berucap cepat, “Aku mau omelete saja. Yang biasa, yang paling murah, tidak perlu topping dan daging.”

Ryeowook mendelik, setengah tidak percaya dipelototinya Kyuhyun. Ia baru tahu ada orang yang setega itu memesan omelete tanpa topping untuk diri sendiri, semiskin apapun. “Jangan bersikap seperti orang susah! Ayahmu memberikan black card kan?”

“Aku tidak akan menggunakannya.” cibir Kyuhyun pelan, nyaris tidak terdengar.

“Apa kau bilang?”

“Huh? Tidak.” Kyuhyun menggeleng polos, matanya membulat besar lalu ia melempar senyum centilnya pada Ryeowook sebelum melenggang keluar dapur. “Kalau kau berubah ikhlas, bayar pesananku sekalian, ya!”

“Yah, Cho Kyuhyun! Pesan makanan bergizi! Pantas saja badanmu kurus kerempeng begitu!”

“Aku tampan, terima kasih.”

.

oOoOoOo

.

Ryeowook mendorong pintu kayu yang tidak tertutup itu dengan bahunya. Satu tangannya tengah sibuk membawa kotak susu sementara satu tangan yang lain digunakannya untuk membawa gelas kosong. Di dalam kamar tidak terdengar suara apapun, suasana begitu tenang sampai-sampai Ryeowook nyaris mengira Heechul yang bawel itu sudah menyerah dan pergi keluar kamar. Tapi begitu ia masuk ke dalam, Heechul masih duduk di sisi ranjang, menjaga jarak satu setengah meternya dari Sungmin yang meringkuk dekat di dinding dan memeluk guling Kyuhyun erat-erat. Keduanya saling mengunci pandangan satu sama lain, Heechul dengan sorot sendu dan Sungmin dengan sorot waspada. Sedikit saja Heechul berganti posisi, Sungmin akan berjengit kaget dan beringsut makin rapat ke dinding.

Suasana canggung di dalam kamar bercat putih itu juga membuat Ryeowook ikut merasa canggung untuk menyela. Tapi Heechul tanpa memutus kontak matanya dari Sungmin, ternyata menyadari kehadiran Ryeowook.

“Kau dapat makanan?”

“Sedang dipesan, di kulkas Kyuhyun cuma ada susu.” Jawab Ryeowook sembari melempar senyum lembut ke arah Sungmin yang juga ikut melirik kehadirannya. “Kau mau susu, Minnie?” tawar Ryeowook dengan suara lembut sembari menuangkan susu itu ke dalam gelas. Sungmin tidak menjawabnya. Mutan itu malah mengerat-ngerat tali pengikat guling sembari mencuri-curi pandang ke arah Heechul, melirik cuping kucing merahnya sesekali sebelum kembali menunduk.

“Dia belum mau meresponmu, hyung?”

Heechul menggeleng lemah. Matanya seakan begitu lekat dan menolak untuk berpaling dari Sungmin. Rasa sendu dalam hatinya seakan bercampur dengan perasaan gemas pula, melihat tingkah malu-malu Sungmin dan gerung-gerung samar itu.

“Bolehkah aku berbaring disini, Minnie?” Heechul menepuk sisi kiri ranjang, ruang kosong tepat di samping Sungmin. Mutan itu tidak menjawab, keningnya mengerut makin dalam dan ia beringsut menjauh. Ryeowook menangkapnya sebagai bentuk penolakan namun Heechul menganggap Sungmin justru memberikan ruang dan izin baginya untuk berbaring.

Ryeowook hendak melarang Heechul yang nekat berbaring menghadap Sungmin. Keduanya kini begitu dekat meski masih ada jarak ruang memisahkan mereka. Ryeowook bersiap mendengar suara tangis Sungmin, namun anehnya mutan itu hanya menggerung tak suka dan bersandar makin erat ke dinding.

“Minnie—“ Heechul memulai dengan suara lembut, berusaha mengulurkan tangannya dekat di bahu Sungmin, tidak begitu berharap Sungmin mau disentuh olehnya tapi setidaknya— asalkan mutan muda ini tidak menolak keberadaan tangannya yang begitu dekat— Heechul sesungguhnya cukup terpuaskan. Tapi sayang, jangankan disentuh, melihat telapak tangan yang terbaring dekat di pipinya saja sudah membuat Sungmin menggerung panik.

“Uung!” Dengan marah ditampiknya tangan Heechul, membuat mutan dewasa itu sontak terkejut dan wajahnya mengeruh makin kecewa. Padahal Heechul sudah memperhitungkan penolakan itu, tapi rasanya… masih sakit juga.

“Kenapa Minnie tidak mau denganku? Aku juga mutan, lihat ini?” Heechul mencoba mengembalikan senyumnya lagi, diusapnya cuping berbulu miliknya sendiri sembari berkedip meyakinkan, masih belum menyerah untuk meluluhkan Sungmin. Hasilnya, tidak terlalu mengecewakan.

“Uh!”

Heechul tertawa saat Sungmin dengan siaga mengerat cuping kucingnya sendiri, tubuhnya yang melengkung memeluk guling dan wajahnya yang mengeruh itu justru membuatnya tampak makin menggemaskan. Entah mengerti atau tidak, Sungmin justru memegangi cuping kucingnya sendiri saat Heechul mencoba berkomunikasi padanya.

“Kau takut cupingmu diambil? Tapi cupingmu lucu, biar kuminta satu. Sini, kemarikan!”

“UUHUNGG!” Sungmin menampik tangan Heechul dengan marah, tapi reaksi negatifnya itu justru membuat Heechul dan Ryeowook tertawa bersama-sama. Sungmin yang merasa ditertawakan, melipat bibir dan wajahnya tujuh kali, mencoba menggerung dan menyampaikan kekesalannya saat justru suara tawa Ryeowook semakin menjadi.

“Huh!” Sungmin merengut, melempar ekspresi kecewa pada Ryeowook seakan-akan berusaha mengatakan, ‘Tega-teganya!’ lalu berbalik memunggungi mereka dengan murka.

“Maaf Minnie, aku tidak bermaksud menertawakanmu. Besok kutraktir eskrim lagi, ne!”

“Hng.” Sungmin hanya mendengus dan menyembunyikan wajahnya, tubuhnya melengkung makin bulat. Dua cupingnya mengapit turun dan ekornya berkibas cepat sebelum berhenti bergerak dan terlilit memeluk guling.

Heechul saling melempar senyum senyap pada Ryeowook, sebelum tubuhnya kembali berbalik menghadap Sungmin. Mutan itu masih memunggungi mereka, posisi melengkungnya yang seakan melindungi diri justru membuat Sungmin tampak makin manis, dibalik balutan piyama pink miliknya yang sedikit ketat di bagian bokong. Heechul nyaris-nyaris memekik girang atas pikiran mesumnya barusan. Tapi ini bukan salahnya, bokong bulat itu sungguh-sungguh tampak imut di matanya. Ditambah piyama lama bekas miliknya yang dulu menjadi favoritnya, saat-saat pertama ia hidup bersama Hangeng… Kenangan-kenangan manis itu kembali muncul dalam benaknya. Heechul hanya berharap, Sungmin akan menemukan kebahagiaan yang sama seperti dirinya yang menemukan Hangeng dulu.  Walaupun mutan ini bersikeras memilih Kyuhyun, Heechul berniat untuk mendukung mereka, dan mengawasi Kyuhyun kalau-kalau bocah itu berbuat macam-macam. Tapi masih ada satu hal yang tak lekang juga dalam benaknya, Heechul terus saja mengkhawatirkan hal itu karena hal itu seakan menjadi cerminan bagi dirinya dahulu. Ia hanya ingin tahu, ia ingin terlibat, ia ingin Sungmin bisa bergerak meninggalkan masa lalunya. Dengan bangkit kembali, bukan dengan menyembunyikan masa lalunya dalam-dalam tanpa penyelesaian.

“Sungmin-ah.” Heechul tiba-tiba bersuara, jarak yang jauh ini tidak mencegahnya untuk berusaha merasa dekat dari Sungmin. Dengan lembut ditatapnya punggung Sungmin, meski mutan itu hanya menggeliat, gerakan kecil itu cukup membuat Heechul terpuaskan. Sungmin masih mendengarkan meskipun enggan. Ia benar-benar ingin mengatakan ini, seakan ingin mengeluarkan sesuatu yang sejak kemarin terus meluap-luap dalam dadanya.

Sungmin berada di posisi yang sama sepertinya dulu. Heechul belum pernah berbicara pada orang yang memiliki posisi sama seperti dirinya. Dan hal ini membuat semangat kecil dalam hatinya menggebu. “A—Aku juga pernah punya Kitten.” Ujarnya canggung, suaranya pelan meski tetap terdengar. Ryeowook yang sejak tadi hanya memperhatikan tiba-tiba terenyak kaget. Ditatapnya Heechul dan Sungmin dengan khawatir, seakan bermaksud mencegah namun tidak ada satupun kata meluncur dari bibirnya. Kedua mutan itu tampak sama-sama menegang. Ekor Sungmin tiba-tiba berubah kaku dan mutan muda itu berhenti bergerak-gerak, seakan tubuhnya tiba-tiba membeku.

“Tapi mereka sakit—“ Heechul tercekat, tidak sanggup melanjutkan kalimat itu saat matanya terasa makin memanas. Berusaha menelan kembali airmatanya yang sudah menggenang, Heechul melanjutkan. “Minnie pernah punya Kitten? Apa yang terjadi pada mereka?” tanyanya lembut, tanpa maksud apapun. Ia tidak bermaksud buruk, kalimat itu seakan merembes begitu saja dari bibirnya. Tapi Heechul tahu ia tidak bisa lagi menarik kata-katanya saat tubuh Sungmin bergetar, suara isak pelan terdengar dan perlahan berubah menjadi raungan menyayat hati. Peringatan Ryeowook seakan datang terlambat.

“Hyung!”

.

oOoOoOo

.

                “Semua kamera dan penyadap suara sudah dipasang. Dua di depan pintu, tiga di ruang tamu, empat di ruang tengah, tiga di kamar tidur, tiga di dapur, terus di kamar tamu dan – semua ruangan masing-masing dipasangi tiga kamera, kecuali ruang tengah.”

“Kalian pasang di kamar mandi juga? Apa suara kentutku akan terdengar juga?”

Hangeng terkikik dan Yesung tampak tersinggung. Kyuhyun yang dipelototi hanya berayun-ayun kaki di sofa dan menghela napas malas.

“Aku kan sudah menawarkan Kyuhyun. Kau yakin mau tinggal di rumah saja? Kau bisa tinggal sementara di rumahku, sampai kita yakin Sungmin benar-benar aman.”

“Apa aku harus mengorbankan kuliahku untuk mengurusi mutan cengeng itu juga, hyung?” Kyuhyun mendengus, melempar ekspresi ‘yang-benar-saja’ sebelum kembali mencibir. “Lima tahun lagi aku akan bekerja jadi pegasuh bayi, bukan pewaris Cho Corp.”

“Aku tidak bermaksud begitu, Kyu. Kau serius mau mengurus Sungmin, kan?”

Kyuhyun memutar bola matanya dan menjawab kejam. “Tidak terlalu. Tapi aku tidak punya pilihan lain.”

Yesung menggerutu dan Hangeng menghela napas kecewa. “Kami khawatir kalau ayahmu tiba-tiba datang kemari. Bagaimana kalau dia melihat Sungmin?”

Kyuhyun mendengus kuat-kuat mendengar ayahnya disebut-sebut. Dengan wajah jengah ia berujar, “Tuan Cho masih di Yugoslavia sampai dua minggu lagi. Lagipula kalaupun dia tahu, apa pedulinya?” Kyuhyun tertawa mengejek. “Aku mau berbuat apa, aku mau pelihara apa, selama aku mewarisi kekayaannya dan menikahi Seohyun. Rasanya tidak ada hal lain yang lebih penting.”

Mendengar itu, Hangeng dan Yesung saling bertukar pandang. Keduanya tidak berkomentar dan mencoba mengalihkan topik canggung itu.

“Kau bisa menitipkan Sungmin padaku dan Heechul saat kau kuliah.” Tawar Hangeng ramah sembari duduk disisi sepupunya dan merangkul Kyuhyun lembut.

“Untuk apa? Untuk ditangisinya? Hah.” Kyuhyun mencibir, ia sendiri bingung darimana kesan protektif itu tiba-tiba muncul. Hangeng tampak tidak senang melihat istrinya diejek secara tidak langsung dan berusaha menimpali, namun suara tangis memotong obrolan mereka dan kontan membuat ketiganya beralih fokus ke arah datangnya suara.

Kamar Kyuhyun.

 

Kyuhyun melirik dua kakak sepupunya dengan ekspresi menuding. “Baru saja kubilang, kan?” ujarnya sinis sembari bangkit dan bergegas menghampiri kamar tidurnya. Hangeng dan Yesung buru-buru mengekor, ketiganya masuk bergantian hanya untuk menyaksikan pemandangan Sungmin yang tengah meraung-raung, Ryeowook yang kebingungan berusaha menenangkan mutan itu, dan Heechul yang berdiri di pinggir ranjang dengan wajah gugup.

“Ada apa ini?” Kyuhyun maju paling pertama, ia terkesiap saat satu bantal melayang menghantam wajahnya. Dengan geram dipungutnya bantal itu dan ditatapnya Heechul yang tanpa sadar memawang wajah ‘tersangka’. Sungmin menangis, matanya yang merah itu makin sembab dan entah kenapa pemandangan itu semakin membuat Kyuhyun murka. “Yah, kau apakan lagi dia, hyung!”

Heechul tergagap, bibirnya gemetar dan matanya berkaca-kaca. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa gentar mendengar bentakan Kyuhyun barusan, mungkin karena rasa bersalah yang sungguh-sungguh. Heechul tidak mungkin mengelak saat jantungnya sendiri berdegup kencang, dalam hati memaki diri sendiri atas kecerobohannya tadi.

“Haish,” Kyuhyun menghela napas, dengan kesal dipungutinya bantal dan guling yang bergelimpangan di atas lantai. Sembari sesekali mencuri pandang ke arah Sungmin yang memandangnya penuh harap, Kyuhyun mendengus kuat-kuat. “Apa lagi kerjamu sekarang kalau tidak menangisi Sungmin?”

Hangeng mengeram, berusaha bersabar namun tetap saja ia tidak rela mendengar kalimat penuh tudingan itu. “Kyuhyun-ah, Hyung-mu tidak bermaksud buruk…”

“Y-yeobo—“ Heechul memeluk Hangeng. Dengan sebelah tangan menahan dada suaminya, ia mendongak menatap Hangeng dengan wajah penuh sesal. “A-aku yang salah. Aku bertanya tentang hal tabu. Aku yang salah.” Cicitnya disela isak tangis yang samar.

Hangeng menghela napas dan mengusap tengkuk istrinya. Dengan kening berkerut ia menatap Yesung yang juga sama-sama memandangnya dengan raut serius.

 

“Sudahlah, kalian pulang saja. Ini sudah malam, sana pulang! Pulang!” sentak Kyuhyun setengah mengusir. Kalau saat itu Heechul dan Ryeowook sama-sama tidak merasa bersalah, keduanya pasti sudah berlomba memaki Kyuhyun di kamar ini. Tapi rasa bersalah itu terlalu dalam hingga Ryeowook hanya bisa menunduk dengan raut murung dan Heechul terisak memeluk suaminya makin erat.

“Tunggu apa lagi? Sana pulang! Aku mau tidur!”

Kali ini nada itu benar-benar mengusir, Hangeng dan Yesung mengangguk satu sama lain sebelum merangkul pasangannya masing-masing untuk keluar kamar.

“Besok sebelum kuliah antarkan Sungmin ke rumah, akan ada Ryeowook disana. Kau tidak perlu khawatir.”

Kyuhyun hanya mendengus, tidak menjawab. Entah kenapa hatinya begitu kesal. “Tutup saja pintunya dari luar. Biar kukunci dari sini.”

Yesung tidak mengatakan apapun lagi, ia hanya menutup pintu dan meninggalkan Kyuhyun juga Sungmin di dalam. Begitu pintu tertutup, ribut-ribut yang semula terdengar begitu bising berubah menjadi kesunyian dalam sekejap. Kyuhyun menatap Sungmin dengan pandangan melembut. Suara isak tangis perlahan memudar, mata merah yang bengkak itu masih terus mengerjap ke arahnya, nyaris membuat Kyuhyun melengos dan terenyuh. Tapi sebelum hatinya benar-benar meleleh, Kyuhyun lagi-lagi berkomentar dengan wajah mengejek.

“Apa juga kerjamu selain menangis?” sinis Kyuhyun dengan ujung bibir terangkat. Sungmin terisak lagi, meski tidak sekeras tadi dan kali ini mutan itu justru mengangkat dua tangannya, seakan memelas pada Kyuhyun untuk dipeluk.

“Hah.” Kyuhyun makin melengos, seketika tidak mengerti pada dirinya sendiri. Ia beranjak naik, ke atas ranjang dan beringsut memosisikan dirinya di sisi Sungmin. Tanpa repot-repot mendekat pun, Sungmin dengan beringas meraih kausnya dan memeluk tubuhnya erat-erat.

 

Kyuhyun menghela napas, lagi. Karena ia tidak tahu harus berbuat apa selain membuka tangannya lebar-lebar dan menerima pelukan frustasi itu dengan lapang dada.

 

“Aku sudah akan kaya raya kalau kubuka jasa ‘peluk tidur bersama’ seperti ini.” cibirnya setengah hati.

Sungmin tidak benar-benar mendengarkan, ia juga tidak peduli. Dengan keberadaan Kyuhyun sedekat ini, kehangatan dan degup jantung yang berdetak lembut, Sungmin merasa seketika keluh hatinya dihapuskan. Desau napas Kyuhyun menenangkan gundah resahnya dan membuat Sungmin dengan nyaman memejamkan mata, mencoba mengistirahatkan tubuhnya tanpa takut Kyuhyun akan meninggalkannya.

 

.

oOoOoOo

.

 

Kyuhyun mengerjap. Dua kali, tiga kali. Ia tidak benar-benar ingin membuka mata lebih-lebih bangun dari posisi nyaman ini. Tapi dengan kesadaran yang sedikit demi sedikit kembali, Kyuhyun teringat pada kejadian tadi malam sebelum ia tidur. Sungmin menangis karena ulah Heechul, dan ia yang harus bertanggung jawab menenangkan mutan itu dengan memeluknya dan—

 

Kyuhyun meraba-raba sisinya dengan mata terpejam, apa mutan itu tidur di ujung ranjang? Tapi rasanya tidak mungkin. Mutan cengeng macam Sungmin pasti selalu mencari kesempatan untuk bisa memeluknya. Hah! Kyuhyun sudah hapal itu.

 

Tapi ruang kosong di sisinya membuat Kyuhyun seketika penasaran. Kyuhyun melirik dengan sebelah matanya, lalu berubah mendelik dengan dua mata saat dilihatnya ranjang di sebelah kanannya benar-benar kosong. Ia bahkan tidur di tengah-tengah ranjang.

 

Tanpa sadar, Kyuhyun bangun dengan panik. Memutar pandangan ke seluruh penjuru kamar bermaksud mencari sosok bercuping kucing itu. Tapi ia tidak menemukan apapun. Jendela bahkan masih tertutup dan pintu kamar mandi terbuka tanpa ada tanda-tanda seseorang berada di dalam sana.

 

‘Apa mutan itu kabur??? Yang benar saja!’ Kyuhyun tidak mengerti tapi ia benar-benar panik sekarang. Tergesa ia turun dari ranjang. Lalu dengan linglung ia berputar di tengah kamarnya, berusaha memastikan sekali lagi. Tapi Sungmin tidak ada di manapun!

 

Kyuhyun mendesah, tidak percaya pada tuduhan dalam hatinya tentang kemungkinan kalau mutan itu telah kabur darinya. Harusnya ia merasa senang kan? Tapi Kyuhyun tidak sadar ekspresi wajahnya mengeruh kecewa. Dengan perasaan sepenuhnya tidak percaya, ujung bibir terangkat dan sekali lagi Kyuhyun berputar. Harusnya ia bahagia tapi kini Kyuhyun benar-benar tidak percaya!

Ia melengos. Setengah tidak percaya karena Sungmin pergi, dan setengahnya lagi karena tidak percaya ia benar-benar kecewa karena Sungmin pergi. Kyuhyun bahkan bingung kenapa pikiran dan kalimat dalam kepalanya itu terus berputar dan terulang-ulang. Saking pusingnya Kyuhyun berniat untuk berbaring lagi dan mencoba mengabaikan segalanya. Tapi langkahnya tertahan.

Kyuhyun mendengus, lalu mengendus-endus. Ia berbalik mengikuti arah aroma itu berasal. Dan Kyuhyun baru sadar, betapa tololnya ia tidak memperkirakan Sungmin akan keluar dari kamarnya! Bukan kabur!

Dengan girang Kyuhyun berlari-lari kecil keluar kamar, mengikuti garis aroma yang tercium makin pekat itu, langkah Kyuhyun digiring menuju dapur.

Bahkan sebelum Kyuhyun benar-benar sampai di dapur, ruangan yang menyeruakkan aroma harum lewat celah tak berpintu itu membuat Kyuhyun tercengang. Benar-benar tercengang!

Kyuhyun melangkah lambat menuju meja makan, tatapannya lekat memperhatikan sepiring penuh omelette dengan saus yang beraroma super harum. Melongo, Kyuhyun menggeleng tidak percaya. Makanan itu masih mengepul di atas mejanya. Seseorang telah membuatnya. Dan satu-satunya orang yang berada di dapur adalah—

Sungmin. Berdiri memunggunginya dan tampak sibuk menyeduh sesuatu. Kyuhyun menggeleng kagum lalu berjalan mendekat di belakang Sungmin, memastikan mutan itu tidak merusak apapun.

 

“Kau bisa memasak?” pertanyaan itu kontan mengagetkan Sungmin, gelas teh di tangannya nyaris tumpah.

“Kyuuung!” Sungmin merengut marah, tapi wajah Kyuhyun terlalu berseri-seri pagi ini. Sungmin senang tapi ia juga merasa takut entah kenapa. Kyuhyun yang tersenyum lebar dengan deretan gigi putih tampak jelas justru menjadi penampakan yang sedikit… creepy.

“Oh Tuhan, dan kau tidak membakar apapun! Fantastis!” Kyuhyun tiba-tiba berseru girang, kembali mengagetkan Sungmin. Tanpa menunggu respon dari mutan itu, Kyuhyun kembali duduk di kursi dan tanpa basa-basi segera melahap omelet saus asam manis itu.

Kyuhyun menyesap rasanya sebentar, sebelum berhenti tiba-tiba. Wajahnya mendongak dramatis dan matanya terpejam erat. “Uuuuhm!” erangnya sontak membuat Sungmin semakin ketakutan.

Apa bahan yang digunakannya untuk memasak sudah basi?

“Fantastis!” pekik Kyuhyun lagi, kembali menyuap mulutnya dengan satu sendok besar potongan omelete. “Kau ini kucing atau koki?” Kyuhyun sibuk menyecar dengan mulut penuh. Sungmin hanya bisa tersenyum canggung, ia berdiri di sisi Kyuhyun dan lagi-lagi dibuat kaget saat Kyuhyun langsung saja menyambar cangkir teh di tangannya. Majikannya itu menyesap teh hangan buatannya sebentar, sebelum melenguh lagi, ekspresinya itu benar-benar menggelikan, tanpa sadar membuat Sungmin tertawa pelan.

 

“Kau boleh tinggal disini!” Kyuhyun tiba-tiba berseru lagi. Membuat Sungmin melotot kaget, cuping dan ekornya bahkan membeku. Mata hitam bulat itu mendelik tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.

“Dengan kemampuanmu ini, aku hanya perlu beli bahan mentah dan kau bisa memasakkan untukku. Hemat dan enak! Dua kali untung, huahahaha!”  Kyuhyun tertawa terbahak-bahak dengan mulutnya yang penuh, membuat serpihan omelete itu melayang ke berbagai arah dan untungnya tidak mengenai Sungmin— Koki barunya.

 

“Ups.” Kyuhyun buru-buru menutup mulutnya. “Umh, maksudku— kau boleh tinggal bersamaku sampai kapanpun. Tapi sebentar lagi aku akan pindah rumah, terserah kau mau ikut atau tidak.”

 

Sungmin tercekat. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak percaya! Apa baru saja— baru saja Kyuhyun menawarkan untuk hidup bersama selama-lamanya? Seperti sebuah lamaran? Sungmin mengangguk bersemangat, begitu terharu hingga ia memeluk tubuhnya sendiri dan melompat-lompat kecil dengan ekor yang berkibas cepat. Kyuhyun-master melamarnya! Kyuhyun-master melamarnya! Lalala yeyeye!

 

“Oke baiklah.” Kyuhyun selesai membersihkan mulutnya dan langsung berdiri. “Sekarang aku mau kuliah jadi kau tinggal dengan Heechul dan Ryeowook Hyung sampai sore, ya!” ujarnya bersemangat sembari berbalik, bermaksud kembali ke kamar untuk mandi dan mempersiapkan diri saat tiba-tiba—

 

DEG!

 

Kyuhyun tersadar dengan ucapannya.

 

‘Kau boleh tinggal bersamaku sampai kapanpun.’

 

Kyuhyun mendelik.

 

Oh, shit.

 

.

oOoOoOo

.

“Jangan nakal, nanti sore kujemput.” Kyuhyun mengantarkan Sungmin sampai ke depan pintu mansion kakak sepupunya, Hangeng. Ia sudah menyampaikan berbagai petuah dan pesan pada Sungmin. Sudah lepas lima menit, tapi mutan itu belum mau melepas lengannya. “Ayo lepas, Sungmin-ah. Aku harus kuliah.”

“Kyuhhh—“ Sungmin merengek dengan rengutan dan mata yang berkaca-kaca. Kyuhyun mendesah, semakin hapal dengan sikap manja itu. Ia mencoba melepaskan rengkuhan Sungmin lagi, bersikap tuli dan tidak mempedulikan sorak setengah mengejek dari Heechul yang menunggu di depan pintu.

“Nanny Kyu, tenang saja Sungminnie tidak akan nakal disini.” Cibir Heechul dengan suara sok manisnya. Kyuhyun mendelik kesal padanya, lalu beralih melempar pandangan memelas pada Ryewook dan Hangeng.

“Minnie, Kyuhyun-ah harus kuliah. Lepaskan Kyuhyun-ah sekarang, ne?”

 

Sungmin mengerang,  memasang wajah malangnya yang jelas ampuh membuat Ryeowook luluh. Tapi sepertinya pagi ini Sungmin yang diharuskan untuk mengalah.

 

“Dia harus kuliah agar cepat lulus dan punya banyak uang, untuk membeli rumah dan persiapan pernikahan kalian.”

“YAH!” Kyuhyun melotot mendengarnya. Tapi ia tidak jadi memprotes saat Sungmin tiba-tiba mendongak, menatapnya dengan wajah penuh harap. Sungmin menggigit bibir dan ekornya berkibas liar, Kyuhyun melengos dan memalingkan wajahnya, berusaha mengabaikan wajah manis yang benar-benar menggoda itu.

“Kau menjanjikan hal macam-macam.” Kyuhyun mengeluh.

“Minnie ayo lepaskan, hari ini main dengan Wookie, ne! Kyuhyun harus belajar di kampusnya. Nanti sore dia pulang, kalau dia tidak pulang, kita jemput dia, oke!”

Sungmin mengerjap ragu, bergantian dipandanginya Ryeowook dan Kyuhyun. Melihat kesungguhan Ryeowook dan ekspresi kesal Kyuhyun, membuat Sungmin dengan tidak rela merenggangkan pelukannya. Ia tidak ingin Kyuhyun kesal padanya. Karena itu Sungmin mencoba berpikir dua kali.

Kyuhyun harus kuliah. Kyuhyun harus kuliah.

Kyuhyun menghela napas lega saat mutan itu akhirnya melepaskan lengannya. Rasa-rasanya ia sampai ingin berseru ‘Akhirnyaaa!’ tapi melihat Ryeowook disini, Kyuhyun membungkam bibirnya. Mutan itu masih tampak tidak rela, wajahnya yang merengut membuat Kyuhyun menahan napas, menahan desiran yang tiba-tiba berlalu di dadanya.

 

“Kau ke kampus naik apa?” Hangeng tiba-tiba bertanya.

Skybus.” Kyuhyun menjawab malas, seakan bisa menebak kemana arah pertanyaan itu akan tertuju.

“Motorku menganggur tuh, pakai saja.”

Nah! Kyuhyun mendengus marah. “Jangan sok kaya!” sentaknya kesal. “Kalau aku mau, aku bisa beli motor sendiri. Tapi aku lebih suka jalan kaki, lebih sehat!”

Hangeng hanya tertawa-tawa mendengarnya, justru Heechul-lah yang merasa tersinggung mendengar sentakan Kyuhyun.

“Hyungmu hanya bersikap baik, hormatilah sedikit Cho brat!”

Kyuhyun berdecih, mengabaikan Heechul dan kembali menatap Sungmin dengan serius.

“Ingat! Jangan nakal!” ujarnya sembari mendorong kening Sungmin dengan telunjuknya. Mutan itu mengerang, sebal. Bibirnya mengerucut maju. Ia belum selesai dan tiba-tiba Kyuhyun sudah berbalik saja, bermaksud untuk pergi. “Kyuuung!”

 

“Apa lagi?” Kyuhyun berpaling malas, ia sudah siap menyentak mutan cengeng itu saat tiba-tiba sesuatu menyambar bibirnya dengan cepat. Butuh sepersekian detik bagi Kyuhyun untuk menyadari bahwa Sungmin baru saja mengecup bibirnya. Mutan itu dengan gugup buru-buru melesat masuk ke dalam mansion, meninggalkan Kyuhyun yang masih tercengang sembari memegangi bibirnya. Berusaha menelaah kejadian barusan dengan otak yang tiba-tiba seakan berhenti bekerja.

 

“Kyaaa, manisnyaaa~” Ryeowook melonjak girang sebelum menyusul Sungmin masuk ke dalam. Heechul justru berdecih pada Kyuhyun, menempeleng kepala sepupu iparnya itu untuk menyadarkan Kyuhyun dari angan-angan kosongnya.

“Oi, Kyuhyun. Cepat sana pergi, sampai nanti! Bye!”

Tanpa menunggu respon, Heechul langsung menarik suaminya dan membanting pintu mansion kuat-kuat di depan wajah Kyuhyun. Pada akhirnya suara pintu yang membanting tertutup itu yang berhasil menyadarkan Kyuhyun. Meski Kyuhyun masih belum bisa berhenti mengusapi bibirnya, dan melangkah lambat dengan mata membulat dan bibir terbuka.

“Oh, ada yang salah dengan kepalaku.” Kyuhyun mengeluh horror sembari mencubit bibir bawahnya lagi. Berusaha mengusir sensasi itu tanpa sadar gejolak aneh itu muncul dari dalam dadanya, bukan di bibirnya.

.

oOoOoOo

.

 

“Seratus lima belas ribu tiga ratus, seratus tujuh belas ribu lima ratus, seratus dua puluh dua ribu empat ratus…” Kyuhyun sibuk berkutat dengan tumpukan uang di hadapannya, koin demi koin. Sejak tadi ia sibuk menghitungi koin-koin yang berhasil dikumpulkannya itu digabungan dengan uang gajinya bulan ini. Kyuhyun hanya perlu menggolongkannya berdasarkan nominal, baru setelah ini ia akan menabungnya di rekening miliknya sendiri.

“Kyuhyun cepat bereskan kursinya!” Saat Kyuhyun tengah khusyuk-khusyuknya menghitung uang itu, Ryeowook muncul dari dapur dan langsung menempeleng kepalanya.

Kyuhyun berseru murka. “Yah! Sabar sebentar sih!”

“Cepat bereskan, aku mau pulang! Cepat! Cepat! Cepat!”

“Ada Jonghyun dan Taemin, suruh saja mereka!” Kyuhyun melenguh kesal. “SERATUS TIGA PULUH RIBU EMPAT RATUS, SERATUS EMPAT PULUH RIBU SERATUS, SERATUS EMPAT PULUH RIBU EMPAT RATUS.” Dengan sengaja Kyuhyun menguatkan hitungannya, tapi rupanya Ryeowook sudah berlalu ke dapur dan yang merasa terganggu justru Eunhyuk yang tengah menonton siaran berita di televisi, tepat di atas meja kasir mereka.

“Diam sebentar Kyuhyun! Aku sedang konsentrasi! Pakai penghitung uang itu, jangan ribut!”

Kyuhyun mendengus, melirik siaran di TV itu dengan sinis sebelum kembali serius pada uang-uangnya. “Kau tahu pepatah ‘Percayai dirimu sendiri, jangan percaya kalkulator’? Kelak kau akan terus jadi pelayan kalau tidak mencoba peruntungan itu.”

Eunhyuk hanya mencibirnya dengan suara samar. Mencoba kembali fokus dengan mengabaikan suara hitungan uang Kyuhyun. Donghae yang tiba-tiba datang dan tertarik dengan tontonannya seakan menjadi penolong bagi Eunhyuk untuk membalas Kyuhyun.

“Kau lihat berita apaan, sih? Serius sekali?” Donghae ikut-ikutan duduk di sisi Eunhyuk, kepalanya mendongak melihat siaran TV. Eunhyuk yang memang bersiap mendapatkan pertanyaan itu, segera saja menjawab dengan bersemangat.

“Mayat membusuk ditemukan di dalam apartemen mewah Cheongdam. Perkiraannya mayat itu membusuk nyaris setengah tahun di dalam sana. Iyuh, orang itu pasti terkena karma kikir oleh Tuhan, lihat saja apa yang terjadi padanya! Tuhan murka pada orang kikir!”

Kyuhyun memutar bola matanya, ia mengabaikan kedua orang yang tertawa-tawa itu dan kembali fokus menghitung. Setelah selesai menghitung semuanya, Kyuhyun menyisikan dua puluh ribu won, dalam hati berniat mampir ke toko makanan untuk membawakan oleh-oleh Sungmin. Mutan itu menyukai kimbab, Kyuhyun jadi sering membelikannya akhir-akhir ini. Tapi apa ia perlu membeli yang lain? Mungkin saja Sungmin sudah bosan pada kimbab dan ingin mencoba makanan yang lain.

Dalam diam, Kyuhyun menyisikan lima ribu won lagi, memperkirakan harga makanan yang mungkin akan lebih mahal dari biasanya. Hidup bersama mutan itu selama hampir lima pekan membuat Kyuhyun diam-diam memberi perhatian lebih pada apa yang disukai dan tidak disukai Sungmin. Mutan itu tidak menyukai makanan pedas, yang untungnya, sama dengan selera Kyuhyun. Ia suka susu, seperti kucing pada umumnya. Coklat, eskrim, cake, berbagai makanan manis lainnya. Ryeowook bahkan terkadang membawakan cookie dan hot chocolate yang benar-benar digemari Sungmin. Padahal bosnya itu belum pernah membawakan Kyuhyun apapun kecuali Kyuhyun yang sok ide membawa makanan sisa kafe ke rumahnya. Sama seperti hari ini.

“Ini untuk Sungmin.”

Kyuhyun hanya melirik bungkusan coklat itu lalu mendongak menatap Ryeowook.  “Untukku mana?”

“Untukmu 15000 won!”

Kyuhyun melengos. “Tidak jadi deh.” Ujarnya sembari menaikkan ujung bibirnya. Diraihnya bungkusan itu setelah ia selesai mengemasi seluruh uangnya dan bersiap-siap untuk pulang.

“Lain kali 15000 won untuk setiap kunjungan ke apartemenku, oke?”

Kyuhyun buru-buru melesat keluar kafe setelah mengatakan itu. Di luar ia tertawa-tawa senang mendengan makian Ryeowook yang melengking hingga keluar.

“Yah, Cho braaaat!”

“Huahahahahaha!”

.

oOoOoOo

.

 

“Dimana bocah itu?”

Woohyuk melangkah lebih dulu, tidak langsung menjawab pertanyaan itu dan membuka pintu depan mansion besar yang sudah seminggu ini terasa lebih sepi dari biasanya. Ia melirik ke belakang, seakan mengisyaratkan Siwon –adik sepupunya— untuk sedikit mengecilkan suara. Tapi Siwon tampak tidak peduli, pemuda bertubuh kekar itu justru berjalan makin cepat, mendahuluinya dan berseru makin lantang.

“Seunghyun-ah!” Siwon melangkah makin tak sabar. Di tangan kirinya tergenggam erat satu buletin elektronik yang terus menyala. Siwon terus saja menekan tombol lampunya, tidak membiarkan lampu buletin itu padam barang semenitpun. Seakan judul berita yang dicetak tebal di bagian atas buletin itu yang terus mengingatkannya untuk bersikap tegas pada Seunghyun. Kali ini, ia tidak bisa tinggal diam menyaksikan adik sepupunya berbuat seenak jidatnya lagi. Ia harus segera mengatasi Seunghyun, atau masalah akan semakin berkobar di luar kendali.

“Siwon-ah. Kita bicarakan baik-baik.” Woohyuk berbisik khawatir, diremasnya bahu Siwon, berharap itu akan sedikit menenangkan adik sepupu yang bertubuh lebih besar darinya itu. Tapi Siwon justru menampiknya, dan mendengus makin emosi.

“Kau pikir bocah itu bisa diajak bicara baik-baik?” Siwon mengumpat, matanya mendelik. Dengan kesal ia berjalan mendekat ke tiang besar di tengah ruangan. Di tunjuk-tunjuknya tiang itu sembari memaki makin emosi. “Aku akan mengikatnya di tiang ini kalau sampai dia sedikit saja tidak mendengarkanku!”

“Biar aku yang bicara, oke? Kalau dia bertindak diluar kendali, akan kuserahkan padamu.” Woohyuk mencoba berkompensasi. Siwon memang tidak menjawab, tapi sikap diamnya menunjukkan bahwa ia setuju meski tetap tidak rela.

Woohyuk menghela napas makin khawatir, diliriknya lantai atas sesekali sebelum ia kembali menatap Siwon dengan pandangan takut-takut. Bukan apa-apa, ia hanya takut Seunghyun dan Siwon, dua orang paling kuat sekaligus tempramen di Choi ini saling adu bogem dan berakhir saling melukai satu sama lain. Bukan orang lain yang akan dirugikan, klan mereka sendiri yang akan mendapatkan getahnya!

Woohyuk mendesah dan berbalik, beniat menaiki tangga menuju lantai dua saat sosok yang mereka cari-cari itu tiba-tiba muncul dengan sendirinya, turun dengan sempoyongan dan terkekeh-kekeh pelan. Wajahnya yang pucat tidak menyampaikan apapun selain satu hal; Seunghyun mabuk!

Terburu-buru Woohyuk menyusul Seunghyun sebelum adik sepupunya itu terhuyung jatuh dari tangga, dengan susah payah ia memapah Seunghyun hingga mereka sama-sama terduduk di atas sofa yang nyaris hancur di tengah ruangan.

Seunghyun tersenyum lebar, setengah mabuk dirangkulnya bahu Woohyuk. Dengan susah payah ia menatap melalui matanya yang pedih dan memerah.  “Kau bawa kabar, hyung! Kapan aku bisa menjemput Sungmin-ku!” tuntut Seunghyun di sela cegukan dan kikikan.

Woohyuk menghela napas, frustasi. Dilepasnya rangkulan tangan Seunghyun sementara otaknya tengah merangkai-rangkai kata yang sekiranya tidak akan membuat pemuda ini mengamuk. Namun belum sempat Woohyuk mengatasi Seunghyun, Siwon tidak lagi bisa menahan diri. Pemuda bertubuh kekar itu melempar buletin elektronik di tangannya dengan penuh emosi, tepat menghantam dada Seunghyun yang tersentak kaget.

“Apa-apaan, hyung!”

“Baca itu bocah sial.”

“Kepalaku pusing! Bacakan!” tuntut Seunghyun sembari tertawa-tawa. Siwon mengeram, dikeratnya dagu Seunghyun hingga sepupunya itu mendongak dan saling menatap berhadapan dengannya. Begitu mata Seunghyun cukup terbuka, Siwon buru-buru menyodorkan buletin itu tepat di hadapan wajahnya, sebelum Seunghyun sempat mengatakan apapun apalagi mengamuk.

“M-mayat? Mayat di… di… di-temukan?” Seunghyun menghela napas berat dan membaca dengan terbata-bata. Berkali-kali ia mengerjap namun huruf-huruf itu seakan berterbangan. “M-mayat ditemukan d-di? Di? Apa ini? kepalaku pusing!”

“Bocah sial!” Siwon memekik geram, dihempasnya benda kotak itu ke atas lantai hingga hancur berkeping-keping. Dengan marah ditariknya lagi tengkuk Seunghyun. “Kau menyimpan mayat di dalam apartemenmu hingga bangkai itu membusuk! Sekarang polisi pasti sudah akan mencarimu kalau aku tidak cepat-cepat mengatasi hal itu! Dengar aku, bocah sial!”

Seunghyun menggeleng-geleng lemas, kepalanya pusing dan pandangannya tak kunjung fokus, tapi ia masih bisa mendengarkan tiap kata yang terlontar penuh amarah dari bibir Siwon. Dan tidak satupun kata memekik itu membuatnya gentar. Sebari menyeringai, ia memandang Siwon dengan remeh. “Lalu kenapa? Orang itu pacarmu?” ejeknya sembari tergelak. “Aku membunuhnya sudah lamaaa sekali. Karena dia berani-berani menyentuh Sungmin-ku.” Tiba-tiba nada bicara Seunghyun berubah dalam, penuh kebencian. Saat kalimat terakhir itu terlontar pelan dari mulutnya, seakan refleks ia bangkit untuk duduk dengan tegap.

“Lagi-lagi karena kucing itu?” Siwon mencibir. Ia mendengus tidak percaya, dilepaskannya tengkuk Seunghyun hingga pemuda itu terhempas kembali ke punggung sofa. “Kau menghabiskan banyak waktumu, uangmu, tenagamu, dan sekarang kami ikut terkena getah ulahmu! Karena kucing sial itu!”

“Apa pedulimu?” Seunghyun membalas marah. Api di dadanya seakan kembali berkobar saat Siwon semakin tampak tidak memihak padanya. Terlebih seringai di wajah itu—

“Sudahlah, Siwon-ah. Kita lanjutkan besok. Seunghyun kau tinggal di apartemen dan jangan kemana-mana sampai kami jemput Ok—“

“Diam hyung.”

Woohyuk mau tidak mau harus menyingkir saat nada bicara Siwon ikut berubah dalam seperti itu. Ia tidak ingin kedua adiknya ini berkelahi, tapi ia juga tidak ingin sok melerai dan mengorbankan dirinya sendiri. Ia tahu betul perangai dua orang di hadapannya ini karena itu Woohyuk memilih untuk diam dan mengawasi.

“Kau mau tahu satu hal?” Siwon membungkuk, menyejajarkan posisi wajahnya pada Seunghyun namun pemuda yang dipandanginya itu justru membuang muka, semakin membuat Siwon bersemangat untuk mengatakan ini. “Mayat yang ditemukan di apartemenmu. Namanya Lee Dongwoo. Dan kau tahu siapa dia?”

 

“Pergilah, aku mau tidur.”

Siwon menyeringai. “Lee Dongwoo adalah bawahan Choi Soohyun, laki-laki yang kau hajar saat pesta perayaan perusahaan tahun kemarin. Kau ingat dia kan?”

Seunghyun tercekat. Matanya yang merah tampak makin mengerikan saat ia mendelik seperti itu. Memori demi memori kembali menyusup dalam otaknya. Saat malam ia berkelahi di tengah pesta perusahaan, saat ia kembali dan menyetubuhi Sungmin untuk pertama kali, saat ia memergoki Sungmin bercumbu dengan pria lain, saat Sungmin semakin tampak berbeda, saat dirinya terasa berbeda, semua keanehan itu, semua kejanggalan itu—

                Choi Soohyun?

“Hahaha, kau mengingatnya.”

Seunghyun terduduk tegang, posisinya terasa kaku seperti otaknya yang seakan membeku. Berusaha merangkai-rangkai kilasan memori mengerikan yang tersisa lekat dalam otaknya.  “C-Choi Soohyun? Ini perbuatannya?” Jadi Sungmin?

“Sekarang kau mengerti, karena ulahmu itu, banyak orang tengah mengincarmu di luar sana. Bersyukur dan berterimakasihlah karena kedua kakakmu ini sudah berbaik hati masih menyayangi dan ingin melindungimu. Jadi dengarkan aku, Choi Seunghyun.”

Seunghyun tidak lagi mendengarkan ucapan Siwon. Dengung-dengung menyakitkan itu bergema dalam kepalanya, memaksanya meringis dan membuat pelupuk matanya menghangat. Tidak ada lagi yang tersisa dalam kesadarannya selain Sungmin, Sungmin, dan Sungmin. Selain hal-hal mengerikan yang selama ini ia lakukan pada Sungmin-nya. Sungmin-nya yang tidak tahu apa-apa.

Seunghyun makin meringis, mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Woohyuk yang panik mencoba bertanya ada apa dengannya. Tapi Seunghyun tidak menjawab, kilasan memori dan kenyataan yang saling berhantaman itu terlalu menyakitkan baginya. Ditambah lagi dengan provokasi Siwon yang seakan menantangnya telak di wajah.

“Tinggalkan Sungmin. Lupakan dia. Tidak ada Sungmin-Sungmin lagi. Kau membuat masalah ini dan kami yang harus menyelesaikannya. Semua hanya karena mutan sialan itu.”

Seunghyun menggeleng frustasi, seakan kesetanan ia mulai mengerati rambutnya sendiri.

“Kau harus melupakannya, Seunghyun-ah! Akan kubelikan mutan yang baru, berhenti membuat masalah karena Sungmin-Sungmin itu! Mutan itu tidak hanya merugikanmu, aku dan Woohyuk ikut terkena getahnya!”

“CUKUP!” Seunghyun berteriak geram. Ia tidak ingin mendengar apapun lagi dari bibir Siwon, dengan marah ditunjuknya wajah kakak sepupunya itu. “Cukup! Jangan bicara lagi!”

Siwon mendengus, tidak suka diperlakukan kurang ajar oleh adiknya sendiri. “Jangan paksa aku berbuat kasar, Seunghyun-ah.” Ancamnya seraya maju, bermaksud meraih bahu Seunghyun saat tanpa diduga-duga, Seunghyun bangun dengan cepat dan menyambarnya hingga jatuh ke lantai. Bukan untuk menyerang, Seunghyun bangun untuk kemudian berdiri dan melesat pergi menghindari kedua kakak sepupunya.

“Seunghyun!”

“Choi Seunghyun!”

Siwon tidak sempat mencegah dan Woohyuk terlalu terkejut. Keduanya berusaha mengejar saat tubuh Seunghyun berhasil melesat lenyap di tengah gelap dan keheningan taman mansion.

“Fuck!” umpat Siwon sembari menendang pot kayu di depan beranda rumah. Dengan geram dibantingnya pintu ruang tamu hingga suaranya bergema.

“Suruh Jaeho menjempunya. Kurung dia selama masalah ini belum selesai. Aku yang akan menjelaskan pada Kakek.” Siwon menarik  rambutnya dan duduk dengan frustasi. Tapi belum dua menit, Woohyuk memandangnya lama seakan ingin mengatakan sesuatu namun merasa enggan.

“Ada apa?”

Woohyuk menghela napas, bahunya turun dengan lemas. “Seingatku Seunghyun menyimpan seorang gadis yang babak belur di lantai atas. Ia menyalahkan gadis itu sejak Sungmin kabur.”

Siwon mengerang dan memejamkan matanya dengan geram. “Fuck! Apa maunya bocah itu!” pekiknya kesal. “Suntik mati saja, atau bakar hidup-hidup. Apapun itu, segera buang gadis itu dan jangan sisakan jejak. Kita tidak mau ada mayat kedua yang ketahuan media lagi.”

Woohyuk mengangguk sebelum membuka flip handphonenya.

“Kau panggil siapa?”

“Bodyguardku.”

Siwon mengangguk pelan. “Ngomong-ngomong.” Ujarnya tiba-tiba. Matanya tertutup dan ia bersandar lelah ke belakang. “Jangan buang mayatnya sembarangan.”

Woohyuk mengerutkan keningnya. “Lalu?”

“Cari koper. Kau ingat ruang pembakaran di bawah lantai parkir? Suruh mereka cari pintunya di dalam ruang saluran air. Ini kunci ruanganku, cari kunci kamar pembakaran itu di dalam kotak hitam di laci ketiga meja kerjaku.” Siwon menyerahkan kunci dengan bandul Choi berukir emas itu.

Woohyuk mendengus. “Kau masih menyimpannya, kukira ruangan itu sudah dihancurkan.”

“Tsk.”

“Bagaimana kalau ada yang lihat?”

“Tidak akan ada orang yang lihat. Kalaupun ada, mereka tidak akan bicara.”

Woohyuk hanya mengangguk-angguk, namun setelahnya, ia menggeleng-geleng, tidak percaya sepupunya masih menyimpan kunci mengerikan ini untuk digunakan kembali.

“Dan sampaikan ini pada mereka, hyung.” Siwon melirik Woohyuk lagi, wajahnya yang datar tidak menyiratkan perasaan apapun. “Lakukan dengan cepat, jangan sisakan apapun.”

.

oOoOoOo

.

a/n: Ga ada. Bye.

11 thoughts on “Kitty-Kitty Baby! – Chapter 9

  1. ciyee ciyee, kyupil mulai luluh sama ming😄
    ya walaup ming cengeng, tp dy manis kan kyu??😀

    duhhh, nyesel kan tuh si seunghyun -_-
    makanya jgn babo😛
    btw, klan choi kejem banget ya -_-
    ngeri ayy

    aigo -_-
    kikir amat si kyu😀
    tp ini jd poin yg cukup lucu😄
    daaan dy tergoda dong dg kemanisan ming haha😄

    thanks for update eonn :*
    yg pertama di unlock ternyata kitty kitty baby >o<
    mugkin udh diurutin kali yaa😀
    ini chap yg lucu bangettt eonn ^o^
    ditunggu yg lainnya ya eonn,, keep writing ^^~~ semangat !!!!

  2. Ahrin says:

    oh oh oh… msalahnya makin rumit ajah kyaknya. Keluarga Choi tega banget yah. sadis pokoknya. assa, kyu akhirnya takhluk juga dengan keimutannya sih sungmin hahahha
    gak sbar bca part” kyumin yg romantis hahaha
    good job eonni. keep writing neee. aku slalu mendukungmu. fighting. (y)

  3. Vivi says:

    Choi ngeselin, bkin ulah mulu’

    Eonni bolehkah vivi minta PW yg chap.16ny
    Ni FB vivi eon: Vivi Everlasting Friend
    vivi pny fbi doang eon gpp kan, klo E-mail pny tpi lupa sandinya..!^^

  4. Bella Nindysh says:

    Demii apa saya pengen bgtt nelen seunghyunO.O
    hyorin sampe dibiarin busuk gituuuuu, dasom sm soyu jg dibunuh?!? Seunghyun psikopat._.
    wlaupun merinding2 gaktega smpe hrus nelen liur brkli kali byngin itu gmn nsib mrka yg dbkar ala ayam panggang#plak tp chap ni sukses kok, kerasa feelnya bgt, paling suka pas sungmin manis manja(?) sm kyu gt, kyuung! Demi apa sy suka bgt nickname ini😀
    aah jd sdih kitten nya uda tiada, gra2 seunghyun nih#ambilgolok
    kyuuhyun demi apa km mirip ipteuk, peliiiiit! Plg cengo pas kyuhyun makan omellete buatan sungmin, sumpah pen getok ajaa, gausah gengsi kyuu km itu belok ok, belok ke sungmin mksdnya._.
    ok keep writing kak fiqooh hehe

  5. Rhaya says:

    Aih kyu dpt civokan dari sungmin >o<
    luluh juga kamu kyu ama minnie..

    Kenapa keluarga choi jahat nya pake banget.. T.T
    kasian minnie.. T.T

  6. Itu abang kyu memang pelit banget ya. Pesenannya omelet tok,Ya ampun ckckck. Semoga kebusukan choi cepat terbongkar ya biar umin aman sama abang kyu. Oiya heechul nya kasian banget padahal dia udah berusa untuk deketin umin tapi ditolak umin. yauda deh min, aku lanjut next chapter ya

  7. 010132joy says:

    Haha kyu bru dapet poppo dr ming lngsung linglung ky gitu
    emang klo d ajak dtinggal srumah slamanya sma aja ky lamaran y? Y ampun ming
    mendinglah kyu udah mulai luluh sma ming biar apa2nya masih aja pelit semuanya dhitung ckck
    itu seunghyun bner2 gila y masa mayat dsimpen yg bner aja, trus yg ktanya td prempusn yg dsembunyiin itu hyorin y? Y ampun msa suruh dbakar sih won jg kejam y biar buat bntu saudara tp kn sma aja
    Keluarga choi ga ada yg baik y? Kynya bunuh orang gampang banget
    baca lagiii

  8. Yayaa says:

    orang kyu nyuruh min tinggal bareng biar bsa ngirit & makan enak tiap hri,eh min pikir kyu lg ngelamar,ada2 aja…
    min gemesin bgt iiihhhh…

    keluarga choi sadisss…
    itu yg mau dibakar hyorinkah?

  9. Si kyu gengsinya selangit, mana gampang kesinggung lagi.
    Ciye..ciye.. si kyu mulai ada sedikit desiran-desiran halus di dadanya kalo liat ming, tapi mana ada sih yang gak gitu kalo liat muka imut Ming. Ah, keluarga choi. apa diantara siwon ama woohyun ada hubungannya ama heechul di masa lalu ?
    Seunghyun akhirnya nyesel juga kan begitu tahu kalo ming itu cuma dijadiin kambing hitam, hah.. makan aja tuh penyesalan. #kesel
    itu.. itu.. yang mau dibakar siapa ? hyorin ??

  10. ketawaa terus sama tingkah kyu yg super kikirnya,,, ming lucunya tingkahmu nak dah berani cium kyu lg kkkkk wah siwon lebih sadis dr seunghyun. keluarga choi emang sadis abis,,, lucu deh pas ming ngira klo kyu ngelamar dia eh kyu baru nyadar klo kkaya2 dia seakan-akan ngajak tinggal ming buat selamanya

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s