Kitty-Kitty Baby! – Chapter 10

Jeep hitam dengan plat tunggal itu terparkir kasar di bagian terujung lantai. Pengendara dan orang yang berada di dalamnya tidak langsung keluar, mobil besar itu terparkir diam dengan mesin yang terus menyala, sama sekali tidak merasa takut kalau sampai ada seseorang yang mendekat karena curiga. Lewat tengah malam begini, gedung Perusahaan Choi sudah begitu sepi. Hanya ada segelintir mobil yang terparkir dan satpam-satpam berjaga di ruang depan kendali.

Dua orang yang duduk di jok depan saling berbisik dengan suara pelan. Sedang seseorang lagi berada di jok belakang— Wanita dengan rambut panjang yang terurai berantakan, diikat kedua kaki dan tangannya dalam posisi fetal. Mulutnya dibekap dengan lakban perak. Matanya yang merah berurat basah oleh airmata, sekujur tubuhnya dipenuhi luka, darah mengotori kaus putihnya yang rombeng dan wajahnya yang pucat dipenuhi lebam ungu. Suara rintih dan tangis kesakitannya tertahan di balik kuatnya sekapan pengerat berwarna silver itu.

“Akan kucari kuncinya dulu, kau jaga dia.” Pria berjaket hitam yang duduk di bangku kemudi tiba-tiba bicara, ia mengeratkan risleting jaketnya sebelum melirik kebelakang dan mendesah. Lalu tanpa berpikir dua kali, pria itu membuka pintu dan beranjak keluar.

“Cepat Yooseok-hyung.” Sahut orang di dalam dengan cengiran.

Yooseok menggerutu, matanya yang sipit tampak seperti terpejam di bawah bayang-bayang topi hitam. Ia tidak benar-benar menyukai pekerjaan ini, tapi tidak ada cara lain. Ini adalah pertahanan terakhirnya untuk menghasilkan uang dan bertahan hidup.

“Berisik Hyunjae. Jaga gadis itu dan jangan kau apa-apakan.”

BRAK.

Pintu mobil tertutup. Hyunjae yang masih duduk di dalam hanya menyeringai, wajah sadisnya yang tirus dengan alis tipis terpantul jelas dalam kaca mobil dengan pencahayaan minim itu. Moodnya sudah jelek sejak tuan besar menelponnya sejam yang lalu, ia bahkan tidak bisa merokok di dalam sini. Tapi melihat tubuh gadis yang menggeliat di jok belakang, membuat jantungnya berdegub makin kencang. Mengabaikan darah dan lebam yang memenuhi tubuh gadis itu, Hyunjae menyadari betapa moleknya tubuh yang tengah menggeliat dan begitu dekat dari jangkauannya itu.

“Hyorin, ne? Kau cukup eksotis juga.” bisiknya dengan suara parau. Mata sipitnya menjelajah dari ujung rambut hingga ke pangkal paha Hyorin.

“Setelah ini kau akan sadar untuk tidak mencari perkara dengan Choi.” Hyunjae beranjak pelan, melangkahi sela-sela jok depan untuk berada di tempat yang sama dengan Hyorin. “Tapi sayang sekali, semua sudah terlambat. Saat kau menyadari kesalahanmu, saat itu tubuhmu sudah berubah menjadi abu.” Hyunjae terkekeh-kekeh saat tubuh Hyorin menggeliat makin hebat, airmata merembes membasahi wajahnya yang penuh memar. Tapi Hyunjae tidak cukup peduli, diusapnya paha tan mulus dengan semburat kecil luka itu, bahkan dalam keadaan babak belur begini gadis ini tetap terasa mulus. Dalam situasi seperti ini, Hyunjae tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang akan dimusnahkan oleh bosnya. Masih ada beberapa menit lagi sebelum Yooseok kembali. Dan ia cukup berani menyikap rok pendek gadis itu sedikit lebih tinggi. Kalaupun ada yang melihat aktivitas mereka malam ini, ucapan Choi Woohyuk dalam telpon kembali meyakinkannya untuk melakukan ini.

‘Kalaupun ada yang lihat, mereka tidak akan peduli.’

Baik Hyunjae atau Yooseok, sama-sama tidak menyadari. Bahwa malam itu tak jauh dari tempat mobil mereka terparkir, ada sesosok tinggi yang cukup peduli untuk memperhatikan mereka. Sosok itu bersembunyi di balik tiang penyangga lantai, ia mendengus sinis sebelum mematikan nyala rokoknya.

.

oOoOoOo

.

Yooseok menggedor kaca mobil itu dengan tidak sabar, hampir satu menit ia menggetuk kaca itu dan Hyunjae tidak juga membuka kunci mobil. Yooseok mulai merasa khawatir pada awalnya. Tapi begitu ia berhasil mengintip kaca mobil hitam itu dan melihat apa yang tengah dilakukan rekannya di jok belakang, Yooseok mendengus kesal, menggedor pintu mobil dua kali lebih kuat hingga ia sempat berpikir kalau-kalau akan ada penjaga yang datang bertanya pada mereka.

Yooseok spontan menarik kerah baju Hyunjae saat rekannya keluar dengan pakaian berantakan. Wajahnya kesal, tapi Yooseok tidak peduli. Ia jauh lebih kesal hingga kepal tangannya teracung tinggi. “Sudah kubilang jangan diapa-apakan!”

Hyunjae mendengus, dengan kasar menampik tangan Yooseok. “Hanya sedikit, lagipula aku belum selesai.” Desisnya kesal. Tanpa mempedulikan Yooseok yang masih mendelik ke arahnya, Hyunjae menarik bahu Hyorin dan membopong tubuh itu keluar dari mobil.

“Cepat kita selesaikan. Aku juga ada kesibukan lain.” Hyunjae mendengus lagi, sebelum melangkah lebih dulu meninggalkan Yooseok di belakangnya. Keduanya tidak saling bicara setelah itu. Yooseok mencoba berjalan tanpa menyeret langkahnya, ia terlalu kesal dan ingin mengabaikan keraguan yang tiba-tiba melintas di dadanya. Sudah lama sekali ia tidak melakukan ini. Dan saat mimpi-mimpi buruk atas rasa bersalah itu nyaris menghilang, tiba-tiba tugas baru ini datang. Sembari menghela napas, Yooseok mengangkut segalon bensin yang sudah dipersiapkannya setengah jam yang lalu.

Yooseok membukakan pintu saluran air itu dan masuk lebih dulu, sempat terlupa untuk menutup pintu karena Hyunjae pun tengah sibuk menggendong tawanan mereka. Pintu ruang saluran air itu dibiarkan terbuka, mereka terlalu ceroboh untuk melakukan semuanya dengan penuh kehati-hatian. Semua karena ucapan Woohyuk yang mengatakan tidak seorangpun akan peduli— tdiak seorangpun.

Yooseok menggeser sebuah lemari besi kosong yang terletak di sudut kiri ruangan. Setelah benda itu tersingkirkan, pintu besi lain seukuran satu kali satu setengah meter pun tampak. Putaran pembukannya terlihat kusam dan berkarat. Yooseok membenahi sarung tangannya sebelum ia meraih kunci di saku celana sebelah kanannya. Dengan lesu membuka pintu besi itu dan masuk terlebih dulu.

Dirinya dan Hyunjae bekerja gesit, ia mengambil alih Hyorin dari gendongan rekannya begitu ia berada di dalam ruang sempit dan pengap itu. Di atas lantai yang dipenuhi dengan abu, Yooseok meletakkan Hyorin dengan posisi terduduk. Ia tengah mencoba mengabaikan bisikan mengerikan dari dalam hatinya sendiri, saat ia melihat raut ketakutan dan airmata yang terus berlinangan di wajah gadis itu.

“Tuangkan bensinnya.” Yooseok menarik galon bensin itu mendekat di sisi Hyunjae, membuat hoobaenya itu mencibir dengan suara pelan.

“Kenapa? Kau takut hyung?”

“Sudah cepat kerjakan!”

Hyunjae hanya terkekeh. Ia membuka penutup galon itu dan seakan menikmati segalanya, Hyunjae menuangkan bensin itu tepat di atas kepala Hyorin, perlahan-lahan sembari menyeringai puas. “Padahal kau cantik, sayang sekali.” Hyunjae berdecak.

Hyorin menggeliat, matanya yang merah semakin mendelik saat bau menyengat itu memenuhi ruangan dan tumpah tepat di atas rambutnya, membasahi seluruh wajah hingga turun ke bahu dan sekujur tubuhnya. Kini riwayatnya benar-benar akan tamat. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya lagi. Meski sudah berkali-kali mempersiapkan diri menghadapi kematian itu, Hyorin baru merasakannya sekarang, ketakutan dan sesak di dadanya berlipat ratusan kali. Degup jantungnya yang berdetak kencang seakan mengatakan padanya— Ia belum siap mati! Terlebih dengan cara ini. Bayangan tubuhnya terlalap api, nyeri panas yang luar biasa hingga kulit dan dagingnya terpanggang menjadi debu, ia benar-benar tidak siap menghadapi itu.

“Apa perlu kita lepas lakbannya? Suara teriakannya pasti terdengar merdu, hyung.

“Kau gila? Suara teriakannya akan memancing orang datang! Se-tidak-peduli apapun mereka seperti yang diucapkan Woohyuk-nim!”

“Hahaha, aku hanya bercanda hyung.”

Hyorin memejamkan matanya mendengar obrolan ringan itu, seakan perkara kematiannya sama remehnya seperti menginjak seekor serangga. Seketika ia merasa tidak berharga. Tapi Hyorin menghela napasnya dalam-dalam, mengabaikan bau bensin yang menyengat dan menyesakkan itu sembari mencoba mengingat-ingat kembali alasan kenapa ia berada di tempat ini. Mencoba mengikhlaskan dalam hati sebelum berdoa, semoga Tuhan meringankan pedih kematiannya dan menerima ia disisiNya. Ia sudah benar-benar berada di ambang batas, dipaksa untuk putus asa saat tiba-tiba suara berat itu terdengar—

“Apa yang kalian lakukan disini?”

Hyorin mendelik, tidak lagi peduli bahwa pedihnya tetesan bensin merembes masuk ke dalam bola matanya. Ia benar-benar tidak peduli, sosok berjas hitam yang berdiri di depan ruang pembakaran membuatnya terkejut setengah mati. Dan sepertinya, bukan hanya dirinya yang terkejut dalam ruangan ini. Hyunjae dan Yooseok sama-sama tersentak kaget sebelum mendelik ke arah orang itu lalu melotot satu sama lain.

“Tolol, kenapa tidak kau tutup pintunya!” Hyunjae memekik kesal dan kontan menyalahkan rekannya.

“Kau yang terlalu berisik!” Yooseok balas memekik, tidak terima disalahkan tapi ia juga tidak bisa berpikir lurus lagi. Mereka ketahuan! Dan lebih parahnya— orang ini…

“Kenapa jadi kalian yang berkelahi, kutanya sedang apa kalian disini?” sosok itu berdiri tenang, melirik ke dalam seakan ia hanya melihat hal biasa. Seorang wanita duduk di lantai berabu, tangan dan kakinya terikat lalu sekujur tubuhnya tersiram bensin. Tidak ada yang lebih biasa dari itu.

“T-Tuan Choi—“ Hyunjae dan Yooseok sama-sama tergagap, keduanya terlalu panik untuk bergerak.

Seakan mengerti dengan kebingungan keduanya, sosok itu malah menjawab sendiri pertanyaannya. Ia bersandar ke sisi pintu, tampak terlalu mengerti untuk seseorang yang bertanya ‘ada apa?’

“Oh, ….. lagi?” ujarnya dengan kening bertaut. Saat itu Hyunjae yang bisa bergerak meski ia benar-benar panik, Yooseok hanya mematung saat rekannya buru-buru menyalakan pemicu api.

“Maaf tuan, kami sedang terburu-buru.” Hyunjae berusaha menyalakan api itu dengan memutar pemicunya, tapi karena tangannya gemetar, berkali-kali ia gagal menyalakan api. Terlebih sosok itu seakan berniat mengganggu proses eksekusi mereka.

“Apa perintahnya?” sosok itu bertanya santai.

“H-huh?”

“Kutanya apa perintahnya!”

Yooseok tergagap, baru tersadar dari rasa terkejutnya dan menjawab pelan, “Kami harus melenyapkan gadis ini, tanpa sisa, tanpa jejak, secepatnya.”

“Begitukah?” sosok itu mengangguk. “Siapa yang menyuruhnya?”

“Choi Siwon-sshi dan Choi Woohyuk-sshi.”

“Oh, Siwon dan Woohyuk-hyung.” Sebuah anggukan lagi. Merasa sosok itu tidak berbahaya, Hyunjae bernapas lega meski wajahnya masih pucat pasi. Ia kembali bermaksud menyalakan pemicu apinya, kali ini tangannya sedikit lebih tenang.

Tapi belum seujung api pun menyala, sosok itu lagi-lagi—

“Jangan dinyalakan.” Menyela.

Dengan suara lebih tegas kali ini.

“H-huh?”

Pemuda dengan wajah berusia awal tiga puluhan itu melangkah tanpa ragu, dirampasnya pemicu api itu dari tangan Hyunjae. Membuat dua orang pengeksekusi itu sama-sama tercengang, namun terlalu takut untuk bertindak defensif.

“Lepaskan gadis itu.”

Hyorin menangis mendengarnya. Sedangkan Hyunjae dan Yooseok kembali dibuat melotot.

“T-tapi tuan?”

“Kenapa? Kalian keberatan? Berpikir untuk membunuhku juga?”

“Tentu saja tidak, tuan!”

Sosok itu terkekeh, tampak begitu tenang menghadapi dua orang yang baru saja dipergokinya akan membunuh. Ia meraih ponselnya dari saku kanan celananya, lalu mengotak-atik benda itu sebentar sebelum menghadapkannya pada Hyunjae dan Yooseok.

“Lihat ini. Aku sudah mengirimnya pada dua orang terpercayaku, kalau kau tidak melepaskan gadis itu sekarang— kau tidak punya kesempatan lagi. Bagiku, atau bagi Choi Siwon.”

Layar itu berkedip, sebelum nyala terang lampunya menunjukkan dengan jelas bermacam foto dengan background satu tempat. Ruang parkir dan mobil Jeep hitam. Itu foto-foto mereka! Lengkap dengan satu foto saat Hyunjae menuangkan bensin di tubuh Hyorin.

Hyunjae dan Yooseok saling berpandangan, keduanya gemetar. Kalau orang ini bukan orang penting, mereka tidak akan ragu-ragu untuk menghajarnya dan membakarnya bersama gadis ekseskusi mereka. Tapi orang ini—

Bukan orang sebarangan.

Sosok itu mengeluarkan satu benda lagi dari sakunya. Secarik kertas. Ia meniup dan mengusap lembar kertas berwarna kuning itu, lalu nominal angka muncul seperti bayangan yang semakin jelas di atasnya.

Delapan buah nol muncul di belakang nominal pertama, dan angka-angka itu itu cukup membuat Yooseok dan Hyunjae terkesiap dan kembali berpandangan lagi.

“Tubuh kalian bau. Pulanglah, katakan gadis ini sudah mati.” Suruhnya sembari menyodorkan kertas itu. Hyunjae meraihnya dengan tangan gemetar. Kertas itu kotor oleh tetesan bensin dan jari-jarinya. Tapi hal itu tidak akan mengurangi kekuatannya yang berharga.

Yooseok menelan ludah sebelum membungkuk di hadapan orang itu. Ini adalah pilihan terakhir mereka, kalaupun ia menuruti permintaan Choi Siwon, bukan berarti mereka akan selamat. Choi Siwon tidak akan segan-segan menghabisi mereka kalau bosnya itu tahu, mereka telah berbuat ceroboh di bawah sini. Mungkin menyembunyikan hal ini dilengkapi dengan uang tutup mulut— jauh lebih baik daripada ia harus membunuh gadis ini.

“Silahkan pergi gentleman.” Orang itu melangkah masuk, ia menepuk bahu Yooseok dan mendorong Hyunjae untuk keluar, spontan membuat keduanya keluar dari sana dan melangkah pergi tanpa berpikir dua kali. Orang itu berdiri membelakangi pintu, punggung besarnya tampak makin menakutkan dilihat dari belakang.

“Biar aku yang urus sisanya.”

.

oOoOoOo

.

                Asap putih membumbung memenuhi ruangan. Sosok yang mengenakan apron dan memunggungi semua orang itu sibuk berkutat di atas meja pizza, cuping kucingnya merapat tunduk ke dalam rambut, ekor gemuk berbulunya terlilit di pinggang, seakan begitu konsentrasi bahkan hanya untuk mengibaskan ekor. Mutan itu sesekali terbatuk-batuk, debu tepung yang membumbung di udara ikut menyesakkan pernapasannya tapi tampaknya tidak seorangpun berniat menolongnya.

Dua orang yang duduk di belakangnya justru saling berangkulan dan bersama-sama memekik histeris pada setiap gestur yang dibuat oleh Sungmin. Bahkan batuknya membuat kedua orang itu memekik girang dan saling meneriakkan ‘Batuk yang imut! Kyaaa imutnyaaa!’

Tapi Sungmin cukup konsentrasi pada adonan pizza yang tengah dibuatnya dan mengabaikan teriakan fangirls di belakangnya itu. Sungmin tidak menyadari para pelayan yang berlalu-lalang dihadapannya sesekali meliriknya dan memasang wajah akan ‘meleleh’. Sungmin tidak tahu, wajahnya yang belepotan dipenuhi tepung ditambah dengan ekspresi serius dan kening bertaut itu, membuat beberapa pelayan seperti Jonghyun dan Eunhyuk rela bolak-balik ke dalam dapur hanya untuk mencuci piring. Satu piring untuk satu kali mereka masuk ke dalam dapur.

Dunianya tengah teralih pada satu adonan besar berwarna kekuningan yang penuh dilumeri tepung. Sungmin meremasnya sedikit, dan hal itu membuatnya memasang raut kesusahan dan lagi-lagi disambut teriakan dari belakang. Memasak di meja seluas ini, kompor sebesar ini, dan seluruh bahan-bahan yang terlalu banyak hingga membuatnya bingung, Sungmin ingin menjerit karena jujur saja, ia tidak menikmati memasak di tempat seperti ini. Tapi adonan ini terlanjur dibuatnya, tepung dari karung baru sudah terlanjur dibuka, saus dalam toples terbesar juga sudah dikeluarkan. Sungmin tidak punya pilihan lain kecuali menyelesaikan eksperimen pizza kecil-kecilannya ini.

Kalau ia sampai gagal… bukan tidak mungkin Kyuhyun tidak mau mengajaknya ke kafe lagi. Hiiy, Sungmin bergidik ngeri. Ia ingin terus bersama Kyuhyun meskipun kakak mutan di belakangnya ini – sudah jauh lebih menyenangkan dibanding dengan saat pertama kali mereka bertemu. Tapi tetap saja! Kyuhyun harus mengajaknya bekerja, tidak hanya setiap sabtu atau minggu, tapi setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik! Ia harus membuktikan kalau dirinya memang pantas diajak kemari dan ia cukup berguna!

Sungmin meremas adonan itu lagi, wajahnya berubah keruh, ia nyaris menangis. Kenapa adonan ini tidak kunjung kalis? Lengket dan lengket dan lengket. Sungmin menekan tangannya di atas adonan itu, kalau ia sampai menangis, airmatanya yang jatuh akan membuat adonan ini tambah asin. Maka dari itu Sungmin menahan sesak di dadanya mati-matian. Kenapa adonan ini benci sekali padanya?

‘Kya! Kya!’

Sama seperti Sungmin, Ryeowook dan Heechul juga sibuk tenggelam dalam dunia mereka. Dunia mereka yang sekarang dimanjakan oleh penampilan imutnya Sungmin yang tengah bergulat dengan adonan pizza. Tidak ada yang lebih berharga daripada menyaksikan hal ini. Keduanya mengabaikan seluruh pelayan yang sejak tadi rusuh dan panik, bolak-balik keluar-masuk dapur dengan wajah lelah.

Kesibukan hari sabtu akan meningkat dua kali lipat, pelanggan yang datang akan bertambah banyak. Biasanya suara teriakan Ryeowook akan terdengar hingga keluar kafe, tapi hari ini bos besar tengah disibukkan dengan tontonan menarik. Dan ia justru melimpahkan tugasnya kepada pada pelayan. Salah satunya Lee Jinki, atau yang biasa dipanggil Onew oleh teman-teman sejawatnya. Koki muda itu sibuk mondar-mandir di belakang Heechul dan Ryeowook. Tampangnya memelas. Ia memang menyukai Sungmin, tapi sekarang ia membutuhkan dapurnya!

“Hyung, aku perlu dapurku, bagaimana kalau kalian memasak di apartemen Kyuhyun saja?” pintanya dengan setengah memelas di hadapan Ryeowook. “Pesanan menumpuk dan pelanggan mulai kesal!”

Ryeowook yang merasa ditutupi, mendorong Onew untuk menyingkir. Heechul di sebelahnya juga tidak mau kalah nyinyir.

“Pelanggan yang mana! Sini biar kubayar mereka.”

Oke, fine. Onew tidak punya pilihan lain kecuali untuk duduk di pojok ruangan di depan pintu belakang dan meringis. Meratapi nasibnya yang terus dikecam oleh pelayan-pelayan yang membawakan pesanan atau kembali untuk menagih pesanan. Bahkan renungannya kini akan terganggu juga. Onew mendengus saat seseorang dari luar mencoba membuka pintu belakang, dengan kesal ia mendorong pintu itu untuk kembali menutup. Hanya para pelayan yang akan lewat belakang, dan sudah sesiang ini, hanya karyawan yang terlambat yang akan masuk melalui pintu belakang. Karena ia kesal maka ia akan membuat orang lain ikutan kesal!

Tapi tampaknya, hari ini Onew memang dipaksa untuk mengalah. Dorongan dari luar itu jauh lebih kuat dari perkiraannya, tubuhnya yang tengah berjongkok malah terdorong saat orang itu membuka pintu dengan kekuatan penuh. Onew berdiri dengan murka, ia sudah bersiap akan menyembur orang yang mengganggu hidupnya itu saat justru sosok tinggi familiar yang muncul dari luar—

“Guuuys! Handsome Max kembali!” Max membenahi posisi tasnya dan melempar senyum ke seluruh penjuru. Seakan bersiap menerima sambutan semua orang namun hanya empat orang yang berada di dapur saat itu. Onew yang tengah melotot, Ryeowook dan Heechul-nim yang tengah berteriak-teriak tidak jelas, seseorang bertubuh mungil berambut pirang dengan apron yang tengah memasak, dan pelayan-pelayan yang sibuk berlalu lalang keluar masuk dapur. Semuanya tidak ada yang mempedulikan kehadirannya, kecuali Onew yang mendengus dan kali ini berubah posisi memilih sudut kiri dapur.

“Hei, sambut aku!” seru Changmin setengah kecewa. Lagi-lagi, tidak ada yang mempedulikannya. Hanya Donghae yang baru saja meletakan piring lalu kembali ke ruang depan lah yang menyambutnya– itu pun dengan suara datar acuh tak acuh.

“Yeah, selamat datang kembali Max.”

Changmin benar-benar merasa terhina.

“Hyung! Aku kembali! Kau tidak mau menyambut Max yang tampan ini?” Max meraih bahu Heechul, kali ini, bukan hanya dua orang itu, bukan hanya Ryeowook dan Heechul yang berpaling padanya, tapi juga seekor mutan yang tengah mengenakan apron ikut berpaling dan memandangnya sembari mengerjapkan mata.

Max mendelik. Sungmin mendelik.

“Sungminnieee!!!”

.

oOoOoOo

.

“Jadi begitulah! Kisah cinta kami yang sangat manis.” Max bertepuk tangan sendiri, mengakhiri dongengnya sembari berdiri lalu membungkuk dramatis. Bermaksud mengucapkan terimakasih pada semua orang yang sudah mendengarkan kisahnya dengan –ogah-ogahan. “I want you! You want me, we are one happy family! Iya kan, Sungminnie?” Changmin bernyanyi dan menggoyang bahunya, ia tersenyum genit pada Sungmin dan bermaksud meraih tangan mutan itu saat Sungmin justru buru-buru menghindar darinya.

“Dia tidak mau denganmu! Hahahahaha!” Ryeowook mengejek dan tertawa bahagia, dibantu oleh Heechul. Keduanya sama-sama menertawakan Changmin hingga pemuda jangkung itu merengut sebal.

Dengan ekspresi terluka, Changmin menunjuk Sungmin. “Kau jahat sekali, Sungminnie! Kau benci pada Max sekarang?” dan itu cukup sukses membuat Sungmin menggerung sedih, tidak setuju, hingga dua cupingnya kembali menangkup. Mutan itu berjalan lemah mendekati Changmin, dengan penuh sesal ia memeluk lengan Changmin, kontan membuat semua orang terkejut, termasuk Kyuhyun.

“Uung—“ Sungmin menggeleng-geleng sembari mendongak, menatap Changmin dengan matanya yang berkaca-kaca sedih.

“Uuuh~” Changmin menirukan gerungan itu, dengan berani ia mengusap pipi Sungmin. Tapi karena tangan itu cukup familiar, Sungmin sudah tidak terperanjat lagi saat Changmin menyentuhnya. Ia hanya menggerung tak senang dan menggeleng-gelengkan wajah. Kecuali Changmin, semua orang mendelik dan terlalu kaget untuk merespon. Kyuhyun juga buru-buru membuang muka dan pura-pura membersihkan meja kasir yang sudah mengilap.

“Baiklah, kalau begitu sun disini~” Changmin membungkuk sedikit, menyodorkan pipi kanannya pada Sungmin berharap Sungmin mengerti dan mengabulkan permintaannya. Tapi mutan itu malah meremas tangannya kuat dan menempeleng wajahnya kesal.

“Hu-ung!” tolak Sungmin sembari berbalik dramatis, ia melangkah dengan menghentak-hentak. Setengah kesal melihat sikap nakal Max tapi ia juga senang karena Max sudah kembali. Ia bermaksud kembali mendekat pada Kyuhyun, tapi saat ia melirik wajah majikan barunya itu, Sungmin melihat sorot lain terpancar di mata Kyuhyun. Sorot yang tiba-tiba membuatnya takut.

‘Jadi aku hanya pelarian saja?’ Kyuhyun mendengus dalam hatinya. “Sekarang Changmin sudah pulang, kenapa tidak pindah ke rumahnya saja. Dia pacarmu, kan?”

Sungmin terkesiap. “H-ung!” mutan itu menggeleng dan dengan panik menghampiri Kyuhyun, tidak peduli kalau majikannya itu enggan, Sungmin memeluk lengan Kyuhyun erat-erat sambil terus menggeleng panik. Matanya mulai berkaca-kaca dan ia mendongak seakan berusaha meyakinkan Kyuhyun kalau hanya Kyuhyun-lah majikannya sekarang.

“O-omo! Omo! Kyuhyun cemburu, hyung!”Ryeowook memekik dan menutup mulutnya, merasa geli sekaligus senang melihat drama kecil antara Kyuhyun dan Sungmin. Heechul di sisinya, justru mencibir dengan suara keras.

`               “Sekarang kau sadar kau menyukai Sungminnie, anak setan!”

Kyuhyun mendongak, gugup. “S-siapa! Huh, suka padanya? Menghabiskan uang saja!”

Sungmin berbisik dengan suara mendengung, ia mendongak dengan airmata meleleh di ujung hidung. Dan hal itu sontak membuat Kyuhyun buru-buru membuang muka dan mendengus, pura-pura tidak peduli. “Kenapa! Kau suka padanya kan! Sana pergi dengannya!” sentaknya sembari mendorong Sungmin.

Melihat Sungmin terhuyung ke belakang, Kyuhyun sempat menyesali perbuatannya. Tapi mutan itu sudah ditolong oleh Heechul dan Ryeowook, kali ini ditambah Max. Tapi Sungmin masih terus menatapnya dengan wajah memelas, padahal sudah lama ia tidak melihat ekspresi sedih itu. Dan entah kenapa kali ini rasanya berbeda. Rasanya lebih—

Sesak.

“Kyunggg—“

“Sudah Kyuhyun-ah, kau keterlaluan! Kalau kau suka pada Sungmin, bilang saja. Sebulan tinggal dengannya, aku yakin kau sudah menyentuhnya, kan!”

Kyuhyun mendengus. Anehnya ia merinding mendengar komentar asal itu. Padahal ia memang belum pernah berbuat macam-macam pada Sungmin. Belum.

“Berisik! Aku mau buat susu Sungmin dulu!” ujarnya sembari berbalik masuk ke dalam ruang karyawan, mengabaikan suara malang Sungmin yang memanggil-manggil namanya dan makian Heechul yang terdengar hingga ke dalam sini.

Kyuhyun meraih kotak susu yang disimpannya di dalam tas ranselnya. Ia menyeduh susu itu dengan takaran yang sudah biasa dibuatnya. Lima sendok dengan air yang tidak terlalu panas. Kyuhyun sudah melarang Sungmin meminum air es sejak dua minggu yang lalu. Sudah tiga minggu juga ia membuat peraturan-peraturan khusus tentang apa yang tidak boleh dilakukan mutannya itu. Tidak boleh terlalu banyak eskrim, tidak boleh terlalu banyak permen, tidak boleh begadang menunggunya, tidak boleh sok berani membuang sampah keluar apartemen. Dan semua peraturan itu masih rapat tersembunyi. Hanya dirinya dan Sungmin yang tahu, kalau Heechul atau Yesung sampai mengetahuinya, Kyuhyun pasti akan menjadi bahan ejekan semua orang. Tapi tiba-tiba Kyuhyun teringat pada ucapannya tadi—

‘Aku mau buat susu Sungmin dulu!’

“Fak.”

Kyuhyun membenturkan kepalanya ke dinding di depannya. Tapi sayang sekali, hal itu tidak akan menarik kata-katanya yang baru saja terucap dan didengar oleh nyaris enam pasang telinga.

.

oOoOoOo

.

                Setiap akhir pekan khususnya Sabtu, Kona Beans akan tutup lebih malam dari hari-hari kerja. Kalau pelanggan benar-benar ramai, kafe bisa tutup hingga tengah malam. Jam 11 atau 12. Karena siapa yang ingin menyia-nyiakan pelanggan? Pelanggan membawa uang. Kalau pelanggan banyak yang datang, maka uang berlipat-lipat pun akan datang. Tapi sepertinya hal ini tidak berlaku sejak sebulan yang lalu. Setiap Sabtu, Kona Beans akan tutup pada jam normal. Jam 9 malam. Dan hal ini tentu saja membuat banyak fans para karyawan Kona Beans kecewa. Tapi tampaknya sang pemilik kafe tidak begitu memikirkan keuntungan sejak sebulan yang lalu. Karena setiap Sabtu, Sungmin akan turut diajak kemari dan hal itu— menguntungkan dua orang. Heechul dan Ryeowook. Kini bertambah menjadi tiga ditambah Changmin.

Hari ini pun, kafe justru ditutup lebih awal dari jam biasa. Sejam yang lalu, tepat pukul 20.00, kafe dinyatakan tutup. Pelanggan yang masih duduk di dalam diingatkan baik-baik bahwa pemilik kafe sedang sakit (bohong) dan plang ‘open’ sudah ditukar menjadi ‘close’ untuk mencegah pelanggan lain kembali masuk ke dalam kafe. Sebenarnya ini merupakan tindakan pencegahan. Ryeowook tidak ingin properti kafenya sampai rusak kalau-kalau para pelanggan tahu Changmin sudah kembali. Changmin memiliki ranah fans yang cukup luas, tepat di bawah Kyuhyun dan mungkin jumlah fans mereka hanya berbeda beberapa kepala. Dan kalau sampai wanita-wanita beringas itu tahu Changmin sudah pulang dari liburan satu bulannya— bukan tidak mungkin tragedi akan terjadi di kafe ini.

Suasana kafe yang sepi seakan menjadi surga bagi para karyawan Kona Beans. Donghae, Eunhyuk, dan Jonghyun sibuk membenahi meja dan kursi. Jinki berada di dapur, mungkin tengah memeluk meja masaknya atau menciumi kompornya yang sudah kembali. Kyuhyun masih belum keluar dari persembunyiannya, membuat susu memakan waktu 15 menit, kelalaiannya itu berhasil membuat Sungmin tenang dalam pelukan Changmin. Ups, maaf. Tidak dipeluk. Duduk bersebelahan sudah cukup ekstrim.

Mutan itu duduk dengan tenang, ekornya berkibas saat ia dengan ceria melumat sendok demi sendok eskrim stroberi di hadapannya. Di kanan dan kirinya Ryeowook dan Heechul ikut duduk, dan Changmin bertopang dagu di kursi yang berhadapan dengannya. Heechul dan Ryeowook sibuk bergosip sembari sesekali menambah skop eskrim ke dalam mangkuk Sungmin. Sedangkan Changmin? Changmin nyaris meleleh, ia malah berharap dirinya bisa menjadi eksrim yang tengah dilumat oleh mutan imut di hadapannya ini.

Sebulan yang lalu ia mengira tidak akan pernah bisa bertemu dengan Sungmin-nya lagi. Berhari-hari sebelum ia pergi ke Jepang, Changmin menunggu Sungmin berkunjung ke Kona Beans. Tapi mutan ini seakan menghilang ditelan bumi. Dan sekarang, entah bagaimana Sungmin berada di sini, memakan eskrimnya dengan lahap sembari tersenyum-senyum imut dan mengibas-ngibaskan ekornya— Ugh!

Changmin terkikik sendiri. Ryeowook meliriknya dengan heran dan entah apa yang dikatakan oleh Changmin, keduanya malah bergantian tertawa. Kyuhyun mengabaikan keduanya dan meletakkan gelas susu di hadapan Sungmin. Mutan itu mendongak, menatapnya dengan mata malang sembari memajukan bibirnya.

“Lihat apa!” Kyuhyun menghardik kesal. Dan segera ia menyesal saat dilihatnya Sungmin berjengit dan kembali menunduk, fokus memakan eskrimnya. Tapi Kyuhyun benar-benar sedang kesal! Hari ini ia emosinya terus dibuat meluap dan ditambah dengan munculnya wajah Max yang tengah cekikikan bersama Ryeowook, Kyuhyun mengeram makin dengki. Dan kekesalannya semakin bertambah level tatkala ia melihat mangkuk besar eskrim stroberi yang tengah dinikmati oleh Sungmin.

“Yah! Apa yang kukatakan soal eskrim!” hardiknya sembari merampas mangkuk dan sendok eskrim itu dari Sungmin. Mutan itu terkejut, lebih kaget lagi mendengar Kyuhyun membentaknya dengan begitu kasar. Matanya mulai berkaca-kaca tapi Kyuhyun malah balik menatap semua orang sembari mendelik.

“Jangan berikan terlalu banyak eskrim! Dia bisa pilek dan sampai rumah nanti dia tidak mau makan!”

“H-hueee!” Sungmin benar-benar menangis sekarang. Seperti anak kecil yang dirampas permennya, ia menangis sesenggukan sembari menutupi matanya dengan lengan. Ryeowook dan Heechul buru-buru merangkul bahu Sungmin. Changmin hanya memutar bola matanya dan mendengus jengah pada Kyuhyun.

“Cih, sedikit saja brat!”

“Tidak bisa! Makanan miliknya dirumah bisa basi, dia harus cepat menghabiskannya karena aku tidak suka makanan kucing. Dan lebih tidak suka lagi melihat makanan terbuang-buang! Kau tidak tahu di belahan planet lain ada alien yang tengah kelaparan!”

“Semoga alien itu memakanmu.” Changmin mencibir.

“Kau baru pulang dan mau mengajakku perang huh, Maxstron?”

“Untuk Sungmin, boleh saja, Kyumblebee!”

Changmin ikut berdiri. Kini dirinya dan Kyuhyun saling berhadap-hadapan dan menukar pandangan menusuk. Kedua pemuda jangkung itu seakan tengah berperang lewat tatapan mata mereka. Mungkin keduanya sudah akan membuat perjanjian untuk berkelahi, nanti malam dalam game mereka. Tapi suara tangis Sungmin mulai menyusut dan mutan itu menyadari ketegangan diantara Changmin sahabatnya, dan Kyuhyun majikannya.

“Nanti malam kita perang.“

Sungmin menatap Kyuhyun dan Changmin bergantian, tiba-tiba merasa panik.

“Fine! Kali ini aku yang akan menang.”

Sungmin semakin panik. Kalau keduanya sampai berkelahi, Kyuhyun dan Max pasti babak belur dan Sungmin tidak ingin Kyuhyun merasakan sakit yang sama seperti yang dirasakannya saat Master Seunghyun memukulnya!

“Kita akan perang di—“

“Yuuung!” Sungmin sontak berdiri dan langsung menyambar punggung Kyuhyun. Dipeluknya Kyuhyun erat-erat dari belakang. Ia memendam wajahnya di punggung Kyuhyun dan menangis pelan seakan berusaha mencegah pertengkaran Kyuhyun dan Changmin. “Kyungg!!!”

“Aaah! Aku juga mau dipeluk Sungminnie!” Changmin menghentakkan kakinya kesal. Ryeowook hanya terkekeh melihat drama kecil itu sedangkan Heechul, sama seperti Changmin, begitu kesal melihat Sungmin dengan cepatnya memaafkan sikap kasar Kyuhyun.

“Y-yah, lepaskan. Panas tahu!” Kyuhyun menggerakkan tubuhnya dengan gelisah, ini jauh lebih geli dari saat Sungmin memeluknya pertama kali. Dan rasa basah itu… Sungmin menangis di punggungnya! Aish!

“Kalau kau tidak mau dipeluk, biar aku saja yang peluk Sungmin!”

“Yah! Kau mau apa! Jangan sentuh dia! Kau bau dan dia benci mandi! Kalau Sungmin sampai ketularan baumu, aku yang akan repot!” Kyuhyun buru-buru merentangkan tangannya, seakan memasang badan agar Changmin tidak menyentuhnya. Gestur itu membuat Sungmin melepaskan pelukannya dari Kyuhyun dan menatap majikannya itu dengan terheran-heran. Selang satu menit, dan kedua pemuda jangkung itu kembali bertengkar dan saling melemparkan cibiran-cibiran juga makian. Kali ini Sungmin bingung bagaimana cara melerai keduanya. Terlebih Heechul dan Ryeowook tampak tidak peduli dan malah menyemangati mereka untuk terus bertengkar.

Donghae dan Eunhyuk yang selesai menyusun bangku buru-buru mengemasi barang-barang mereka ke dalam ransel. Keduanya hanya terkekeh melihat pertengkaran kecil Changmin dan Kyuhyun. Jonghyun juga ikut tertawa-tawa. Semua orang tidak berniat melerai kedua sahabat itu, mereka malah asik menjadi penonton dan tidak sadar saat bel sambutan terdengar berdering dua kali.

Seseorang masuk dari luar kafe dan berdiri tak jauh dari semua orang. Tidak ada yang menyadari kehadirannya. Wajahnya yang pucat nyaris berwarna biru, jaket panjangnya basah oleh lelehan salju, bootsnya yang besar telah mengotori lantai dengan bulir-bulir tanah bercampur es. Saat itu, mungkin yang menyadari semua orang atas eksistensinya adalah suara hembusan napasnya yang berat dan cepat. Seakan tengah mengejar kesempatan hidup di tengah kobaran api.

Orang pertama yang melotot melihat kehadirannya adalah: Sungmin. Dan orang kedua yang tak kalah terkejutnya: Kyuhyun.

“M-Minnie!” pekik Seunghyun sembari melangkah sempoyongan ke sisi kanannya. Hanya berjarak dua meter, ia bisa meraih Sungminnya tanpa halangan apapun. Direngkuhnya tubuh hangat itu erat-erat, tanpa peduli tubuh Sungmin seketika berubah tegang dalam pelukannya. Tanpa berniat melepaskan Sungmin, Seunghyun menyesap leher mutannya yang terlindung di balik jaket, seakan ia tengah meresapi wangi yang selama ini dirindukannya. Sungminnya.

Seunghyun membingkai wajah mutannya, deru napasnya berubah lamban namun degup jantungnya berpacu cepat. Wajah ini… begitu dekat. Mata besar yang tengah mendelik itu juga seakan mengingatkannya kembali pada kenyataan yang dibawa Siwon. Sungminnya tidak bersalah, dan mungkin mutannya ini memendam trauma atas perbuatannya dulu. Tapi Seunghyun sungguh-sungguh akan memperbaiki kesalahannya. Ia akan membawa Sungmin pulang sekarang. Seunghyun memasang senyum pahitnya, tapi ia tidak bisa lagi menahan buncahan emosi dalam dadanya. Dengan cepat diraihnya wajah Sungmin, tidak peduli kalau ciuman beringasnya itu membuat Sungmin meringis dan mati-matian berusaha memberontak darinya. Ia terlalu rindu pada Sungmin-nya.

Semua orang begitu terkejut. Terlalu terkejut untuk bergerak dan satu-satunya orang yang masih cukup tersadar untuk menyelamatkan Sungmin adalah Kyuhyun. Itupun begitu memorinya sukses memutar ingatan buruk yang semakin terasa jelas di kepalanya, lewat pertunjukan Sungmin yang tiba-tiba dikecup begitu dalam dan lama oleh orang asing itu. Pemberontakan Sungmin ikut menggerakkan tubuhnya, seakan refleks, Kyuhyun merampas bahu Sungmin dan memisahkan keduanya. Ia memasang badan di depan Sungmin, sebelah tangannya terentang seakan ditujukan sebagai pagar perlindungan bagi Sungminnya. Kyuhyun belum pernah merasa semarah ini sepanjang hidupnya, bahkan saat ibunya meninggal, ia jauh lebih merasa kecewa saat itu. Tapi sekarang, api seakan tengah melahap habis kesadarannya.

“Aku ingat wajahmu.” Kyuhyun mengeram, tengah berusaha menahan emosinya.

“Aku lebih ingat wajahmu.” Seunghyun balas mengeram. Ekspresinya berubah geram begitu kilasan memori saat ia pertama melihat orang ini kembali dalam ingatannya.

Orang jahat.”

“Bajingan. Kembalikan mutanku!” Seunghyun berusaha meraih Sungmin, tapi Kyuhyun mendorong bahunya menjauh dan kini semua orang tengah memperhatikan pertengkaran mereka berdua. Hatinya berdegup nyeri saat dilihatnya Sungmin mati-matian berlindung di belakang pemuda itu.

“Mutanmu?” Kyuhyun sempat bingung mendengar kalimat itu, tapi perlahan-lahan ingatannya mulai terlengkapi. Malam itu. Hot chocolate. Seekor mutan yang separuh wajahnya diperban beserta majikannya yang dengan kejam memukuli mutan itu di depan mata Kyuhyun.

Kyuhyun berbalik, menunjuk wajah Sungmin dengan tidak percaya tapi kenyataan itu sudah terpampang jelas di depan matanya. “Jadi kau—“ cicit Kyuhyun separuh tidak percaya. Tapi ekspresi tegang Sungmin semakin meyakinkan dugaan Kyuhyun. Sungmin adalah mutan yang masuk ke dalam Kona Beans saat itu. Mutan malang yang terluka dan nyaris seluruh tubuhnya diperban. Kilasan memori itu semakin terasa pas dengan sikap Sungmin yang cengeng dan menolak disentuh oleh semua orang. Kyuhyun berbalik geram, kali ini ia mendengus dan mendongak angkuh. “Oh kau pikir dia mutanmu?”

“Kembalikan Sungmin-ku!”

“Dia milikku sekarang. Pergi dari sini sebelum kuseret kau ke kantor polisi.”

“Bangsat!” Seunghyun melayangkan tinjunya, tapi tinju itu teralih ke samping, menghantam udara. Seseorang dengan tubuh yang jauh lebih jangkung dari pemuda tadi sudah berdiri di hadapannya, memasang tubuh melindungi Sungmin dan pria yang dibencinya itu. Semua orang di dalam kafe memandangnya dengan geram. Saat itu, Seunghyun sadar kalau ia tidak mungkin menang menghadapi semua orang ini, tapi akal sehatnya semakin mengikis saat suara tangis Sungmin seakan merasuk dan menembus gendang telinganya.

“Yaaah! Kau mau cari keributan disini!” Max mendorong Seunghyun menjauh. Nyaris saja satu tinju mendarat di wajahnya. Tapi dengan lihai Changmin memutarnya ke kiri. Changmin hanya bisa menghindar, dengan tenaga sekuat itu, orang ini pasti bisa menghajarnya hingga babak belur kalau saja ia tidak begitu sempoyongan karena mabuk.

“Changmin-ah, berhenti. Seret saja dia keluar. Aku tidak mau ada keributan disini.” Ryeowook ketakutan, namun dengan berani ia bermaksud melerai keduanya, dengan menahan Changmin dan menyuruh dua karyawannya menahan Seunghyun.

Tapi tenaga Donghae dan Jonghyun tidak cukup menghentikan Seunghyun yang berada diujung kewarasannya.

“Ah!”

Kali ini justru Ryeowook yang mendapatkan bogem mentah itu tepat di pipi kanannya. Semua orang memekik kaget, tubuh kecil itu terhempas jatuh ke lantai bersamaan dengan pintu kafe yang kembali terbuka. Hangeng dan Yesung buru-buru masuk sejak mereka turun dari mobil dan melihat pantulan situasi aneh dari balik kaca kafe yang transparan.

Yesung nyaris berteriak saat pemandangan pertama yang dilihatnya begitu masuk Kona Beans adalah Ryeowook, terduduk di atas lantai sembari memegangi pipi dan darah merembes dari hidungnya.

“Ada apa ini!” Yesung berteriak murka, ia merangkul bahu Ryeowook dan dengan marah memutar pandangannya. Begitu sosok orang asing itu bertemu pandang dengannya, Yesung mengerutkan keningnya. Menyadari bahwa orang itu tidak sungguh-sungguh asing dalam ingatannya. Ia mengingat dengan jelas setiap keributan yang terjadi di dalam kafenya. Tidak terkecuali kejadian yang nyaris setengah tahun berlalu—

Heechul buru-buru menghampiri Hangeng di pintu dan dengan suara berbisik menjelaskan kejadian sesungguhnya. Ia merangkul bahu suaminya, seakan meminta perlindungan. Jelas sekali ia tahu siapa orang yang berada di hadapan mereka ini.

Seorang Choi.

Choi.

“Kubilang kembalikan mutanku!” Seunghyun berteriak geram, terlalu pusing melihat keributan yang dibuat olehnya. Ia hanya menginkan Sungminnya. Sungminnya kembali!

“Hyung, telpon polisi!”

Hangeng tidak perlu diingatkan, ia sudah melakukannya sejak beberapa menit yang lalu. Tapi sepertinya menunggu polisi tidak cukup, orang ini terlalu liar untuk ditahan tanpa bantuan polisi. Donghae, Eunhyuk, Jonghyun, ditambah Max masih cukup kewalahan menghentikan pemberontakannya yang begitu beringas dan mati-matian berusaha meraih Sungmin.

“Sungmin-ah!” jerit Seunghyun frustasi, airmatanya merembes, wajahnya yang semula pucat berubah merah padam. Ia mengulurkan sebelah tangannya, berusaha meraih Sungmin yang begitu dekat namun jauh dari gapaiannya. “Sungmin-ah kemari! Kita pulang sekarang, sayang. Kemari Sungmin-ah!”

Tidak hanya Sungmin yang bersembunyi di belakang Kyuhyun dengan gemetaran. Suara teriakan itu tak ayal membuat semua orang merinding, mengira-ngira orang dengan kewarasan macam apa yang melakukan kekacauan di dalam kafe yang sudah tutup.

Suara bel sambutan kembali terdengar, dua kali. Hangeng menghela napas lega dan bermaksud menyambut kedatangan polisi itu dengan gegap gempita, tapi yang masuk ke dalam kafe bukanlah polisi. Tiga orang bertubuh tegap dan kekar berbaris masuk dan entah siapa mereka, ketiganya segera mengambil alih Seunghyun. Hangeng merasa kekacauan ini masih akan bertambah lagi, tapi beruntung, polisi yang dinantikannya masuk beriringan setelah ketiga orang itu berusaha menarik Seunghyun keluar.

“T-tuan muda!”

“Tuan muda berhenti!”

Ketiganya menarik Seunghyun menuju pintu keluar, tapi Seunghyun dengan seluruh tenaganya masih berusaha membebaskan diri mati-matian. Sekali ia berhasil bebas dan menghentak berusaha mengejar Sungmin, semua orang memekik ketakutan, beruntung empat orang polisi ditambah tiga bodyguard tadi menjadi kekuatan yang lebih dari cukup untuk menyeret Seunghyun keluar dari kafe.

“Sungmin-ah! Sungmin-ah! Kembali pada master, sayangku! Master membutuhkanmu!”

Suara teriakan itu masih terus terdengar, sebelum pintu kafe tertutup dan Heechul buru-buru menguncinya dari dalam. Orang-orang yang berjuang menahan Seunghyun terduduk lemas di atas kursi, mereka saling menatap satu sama lain. Terlalu bingung untuk berkomentar. Heechul dan Ryeowook mengerat lengan pasangan mereka masing-masing, sedang Yesung masih sesekali berkomentar gugup sembari mengusapi hidung tunangannya. Ini pertama kalinya ia melihat darah Ryeowook, dan itu membuatnya panik.

Max melirik Sungmin. Pandangannya berubah sayu tatkala dilihatnya Sungmin gemetaran dan bermaksud menahan suara tangisnya mati-matian. ‘Jadi karena itu dia terus kembali ke sini? Karena Kyuhyun?’ suara hatinya yang berbisik membuat Max kembali menunduk. Ada sebersit kecewa yang melintas di dadanya.

Kyuhyun termenung sebentar, dengan ekspresi hambar diraupnya tubuh Sungmin. Kali ini, untuk pertama kalinya, Kyuhyun tidak ingin melepaskan mutan ini dari pelukannya. Tubuh Sungmin gemetar, Kyuhyun tidak bisa melakukan hal lain selain memeluk tubuh itu erat-erat ke dadanya. Diusapnya rambut Sungmin dengan lembut. Suara isak tangis itu terdengar semakin berbeda, tapi entah mengapa ia merasa begitu lega mendengarnya. Seakan Sungmin tengah menangis haru karena orang itu sudah diseret pergi dan tidak dibiarkan menyentuhnya lagi. Kyuhyun tidak akan membiarkan monster itu menyentuh Sungmin lagi. Tidak akan pernah lagi.

“Ini sudah malam.” Yesung berujar, sembari mengusapi kepala Ryeowook. Ia memutar pandangan, memecah keheningan dan ketegangan yang sejenak melanda ruangan. “Kalian boleh pulang. Biar aku dan Kyuhyun yang membereskan sisanya.”

Donghae, Eunhyuk, Jonghyun, dan Jinki tidak menunggu lagi. Keempatnya membungkuk tanpa bicara dan meraup ransel masing-masing sebelum keluar dari kafe dengan lesu.

“Aku sedang mencarinya dan tiba-tiba dia datang sendiri.” Hangeng berbisik, tidak percaya. Ia mengusap pipi Heechul, tahu betul istrinya itu kembali tegang bahkan kalaupun Choi yang hadir tadi bukan Choi mantan majikannya. Mereka tetap sama-sama Choi.

Yesung membimbing tunangannya untuk berdiri, ia kembali menyiapkan kunci mobilnya saat dilihatnya Max masih mematung di dekat jendela. “Max, kau tidak pulang?”

Changmin mendongak, lalu pemuda itu menggeleng pelan. “Aku ingin menceritakan sesuatu, tentang Sungmin.”

“Baiklah. Kita pindah ke rumahku saja. Malam ini Sungmin menginap di mansion saja, tidak apa-apa kan, Kyu?”

Kyuhyun tidak langsung menjawabnya. Ia meremas bahu Sungmin saat mutan itu kembali gemetar dalam pelukannya. Kyuhyun hanya mengangguk sebagai jawaban ‘iya’. Melihat kejadian barusan dengan mata kepalanya langsung, Kyuhyun tahu tempat teraman bagi Sungmin saat ini adalah mansion Hangeng.

“Kalau saja kita bisa menemukan satu saksi. Satu saksi yang memegang informasi kuat.” Bisik Hangeng pada Heechul, ia merangkul bahu istrinya sebelum membukakan pintu untuk semua orang. “Kita harus menemukan salah satu dari mereka. Atau minimal, orang yang pernah bekerja di rumahnya saat Sungmin masih dipelihara oleh Choi itu.”

.

oOoOoOo

.

Seunghyun diseret masuk oleh tiga orang bodyguard yang dengan jelas dikenalinya sebagai bawahan Siwon. Terlalu lelah memberontak, ia hanya membiarkan ketiga orang itu menyeretnya masuk. Polisi hanya menanyakan beberapa hal, dan Seunghyun tidak menjawab satupun. Dengan sebuah telpon dari Choi Siwon, aparat itu dengan mudahnya melepaskan Seunghyun.

Seunghyun tidak pernah meragukan kekuatan kakaknya, tapi saat ini, ia terlalu ragu untuk mengandalkan Siwon dalam masalahnya. Ia hanya menginginkan Sungminnya, dan Choi Siwon menginginkan Seunghyun meninggalkan Sungmin. Kalau seperti itu caranya, ia tidak membutuhkan bantuan siapapun. Ia hanya perlu Sungminnya dan Seunghyun masih punya cukup harta untuk mengendalikan orang-orang dan membawa mutannya kembali.

Baru selangkah ia menapak ke dalam rumah, suara makian Siwon terdengar menggema hingga keluar. Seunghyun hanya mendengus, tidak gentar sedikitpun saat Siwon melotot padanya dan mengerat kerah pakaiannya. Siwon mendorongnya duduk ke atas sofa, dan Seunghyun malah membenahi posisinya.

“Kau semakin idiot, Choi Seunghyun. Kau menyadari itu, huh?” Siwon menghardik lagi, seakan belum cukup ia menghabiskan energi hanya untuk marah-marah hari ini. “Apa kau bertemu Hakim Hangeng disana?!”

Seunghyun membuang muka, tidak berniat meladeni Siwon dalam obrolan memuakkan ini. Siwon tidak terlalu ambil peduli pada sikap kurang ajar adik sepupunya itu, ia melirik tiga bodyguardnya sebelum memberikan perintah baru.

“Bersihkan semua jejak.” Ujarnya datar. Ketiga penjaga itu segera membungkuk dan keluar. Siwon kembali menunduk, berusaha membuat kontak mata dengan Seunghyun.

“Kau, kau tidak boleh pergi kemana-mana tanpa izinku. Tidak ada Sungmin lagi sampai semuanya beres! Kalau kita sampai terseret ke meja hukum, kau harus mengaku kalau Sungmin bukan mutan-mu dan kau tidak pernah memelihara mutan itu! Kau mengerti!”

Seunghyun melirik Siwon dengan sinis. Permintaan itu sama dengan menyuruhnya merelakan Sungmin. Dan Seunghyun tidak berniat mengalah dalam hal ini. Ia tidak akan pernah merelakan Sungmin-nya.

“Dengarkan aku Choi Seunghyun!”

“Siwon-ah—“ Woohyuk berusaha menahan Siwon, ia terlalu khawatir kedua orang ini benar-benar akan berkelahi.

“Kau ingin Sungmin kembali? Tidak secepat itu, tuan muda! Kau harus menuruti caraku!” Siwon mendorong kening Seunghyun dengan telunjuknya, bermaksud memasukkan setiap kata yang ia ucapkan ke dalam benak adiknya itu.

“Isi kepalamu ini, tidak akan membantu sama sekali. Kau membutuhkanku, kau harus mendengarkanku. Sekali lagi kau bertindak gila, orang-orang itu akan mengirimmu ke rumah sakit jiwa dan tidak akan pernah ada Sungmin lagi untuk selama-lamanya.”

Seunghyun mendengarkannya, kalimat itu sedikit mulai merasuk dalam benaknya. Tapi ekspresi datar dan minimnya respon Seunghyun membuat Siwon mengira kalau adiknya itu masih terus mengabaikannya.

“KAU DENGAR AKU CHOI SEUNGHYUN!” Siwon mengerat dagu Seunghyun, memaksakan kontak mata yang terus ditolak oleh Seunghyun.

“Aku pernah mengalami ini, sebaiknya kau mendengarkan aku.” Suara Siwon berubah pelan, namun tekanan dalam kalimat yang terucap dari bibirnya begitu jelas. “Tapi kalau kau masih berniat semau-mau, silahkan terjun ke dalam jurang kematianmu sendiri. Aku bisa melindungi diri dan melindungi Choi lainnya. Kalau kau ingin bunuh diri, matilah sendiri.”

.

oOoOoOo

tebeseeeeh

oOoOoOo

.

PLEASE BANGET TOLONG DIBACA!

a/n: Gais, saya mau revisi satu hal. Kan chapter chapter kemarin saya bilang Heechul itu ketemu Hangeng 12 tahun yang lalu, nah saya mau revisi itu. Mau saya ganti bukan 12 tahun, tapi 6 tahun. Maaf banget kalo kelihatan gak profesional atau labil. Maaf banget. Tapi saya perlu dan lagian kelamaan juga kalo 12 tahun wkwk, saya gak rela Choi Siwon setua itu *ngomong ambigu*

Udah itu aja yang mau saya sam-pai-kan, yang mau tanya-tanya boleh di review atau ke askfm, jangan lupa review fave or follow, oke bye!

25 thoughts on “Kitty-Kitty Baby! – Chapter 10

  1. woahhh, ayo max cepet ceritain sama mereka semua O.o
    semoga hyorin jg cepet ditemukan, jd masalah bisa cepet diangkat..
    choi bikin rusuh mulu mentang2 punya kekuasaan -_-

    itu kenapa bisa2nya seunghyun sampe di konabeans??
    dasar gak waras !!😛
    gak nyangka jg max balik lagi😄
    dan kyknya timing-nya tepat banget, pas seunghyun dateng😀

    itu kyupil udah tambah gak sadar aja nunjukin perhatiannya sama ming😉
    manis bangetttt :*

    thanks eonni for fast update ;*
    baik banget deh :))
    tetep semangat utk semua ff-nya ya \^o^/

    btw, eonni typo nulis judul ya??
    dari 9 ke 14 lalu 15 😀

  2. chapternya loncat2 ya eon,

    max akhirnya blik, dan sukses buat kyu drah tinggi
    yeyyy😀
    Kyu akhirnya tau bahwa ming bener2 rapuh,dan butuh dilindungin
    ahh aku bener2 benci keluarga choi …

  3. SparkyuELF137 says:

    WAHHHHHH !!!
    akhirnya kyuu ingat juga.😀😀😀 semoga kyuu akan selalu ngelindungin min. gak rela kalau seunghyun coba” nyakitin min lagi><
    eon, minta pass chapter 16 dong😦 masih dikunci itu..😦

  4. loveKyu says:

    akhir ny lanjut lg..

    kyu akhr ny dah mule da rasa ke kitty min ^^

    chingu..gmn cara dptn pw chapter 16?? aq cr2 alamat email ny g ada

  5. sparkkyu says:

    haii.. aku seneng banget baca ini!!
    kyuhyun kelihatannya aja cool tapi ternyata… hatinya lembut banget
    sku suka waktu kyuhyun perhatian sama sungmin..
    oh iya, aku boleh minta pass nya buat kitty-kitty baby chap 16 sama my tentacle boyfriend?
    thanks🙂

  6. evilpumpkin says:

    miina…aq dah tunggu d ffn tp Kitty Kitty Baby 16 blum dpost jga T.T
    aq bsa mnta password yg chap.16 ga?
    kmu bsa krim k fb aq Yani Lee
    gomawo

  7. Kuro_Hime says:

    Aq biasanya ngikutin yang di ffn, nge review jg di ffn
    sekalinya buka blog ini ehh udh update chap 16,,
    Boleh mnta PW yang buat chap 16 gak chingu? Aq gak sabar nunggu yang d ffn update

  8. E.Z.A says:

    Eoni minta pw dong…Pliis eon,aku reader sejati ff ini loh.Ya walau jarang dicoment,plis thor kasih.Pas tau ni ff udah update,girang banget.Akhirnya si kyung ingat juga sama sungmin.

  9. annyeong🙂
    reader baru nih, waktu nyari ff kyumin langsung nyambung sama ini blog🙂
    ahhhh….saya komentar disini aja ya tentang kitty kitty baby,
    ceritanya bikin deg2an setiap chapternya,
    suka banget sama sikapnya ming yg seakan…ingin..diperhatikan oleh kyu,
    sedih juga ngeliat masa lalunya si ming T.T
    kyu, jgn terlalu kikir dan jgn bohongi perasaanmu..
    buat author lee, saya minta passwordnya untuk chap 16 ne? knp pake di password segala?
    ini emailku.. dhara960106@gmail.com🙂
    gamsae😀

  10. Bella Nindysh says:

    Jujur sy ngakak sm tingkah si maxtron hahaha
    max bener2 alayy hahaha konyol tapi itu yg buat ceritanya jd menarik, dari tadi ngakak mulu kalo max uda mulai genit2in sungmin awww apalagi kyuhyunnya jeles2 sok ganteng jual mahal gitu#digaplok😄
    dan untuk seunghyun idiot sy msi pgn bgt lho nyeburin km ke sungai amazon._.
    hyorin diselamatkan sm choi yg dlu prnh brtngkar ama seunghyun y kak fiqooh?O.O
    sadis bener suweer merinding boo
    tambah suka liat interaksi kyu ke min yg makin intens hahaha
    oke lanjutt, keep writing kak ngelawaknya sm chang sukses kok hehe~^^

  11. Rhaya says:

    Choi yg mana itu yg ngambil hyorin?😮
    maxtron? Kyumblebee? Kyak transformer😀

    changmin patah hati..😀

  12. Huahahaha abang kyu cemburu. Kekeke mulai suka tu sama umin. Astagaaa astagaaa top muncul didepan umin dan abang kyu. We A We. aku lanjut baca ya min,penasaran banget ni. Makin seru aja ceritanya

  13. 010132joy says:

    Hehe changmin sma kyu emang psangan sahabat gokil klo dsatuin dtempat yg sma ga ada yg mau nglah, pake nama plesetan maxtron sma kyumblebee sgala ckck
    kyu udah ngakuin ming mutannya brarti dia udah trima ming bner2 asikkk udah cemburu2 jg tuh hehe, tp kasian bgt ming y hhh
    kayanya seunghyun emang udah bner2 ga waras y, td choi yg nolong hyorin siaoa y?
    coba hyorin ada d hangeng pasti ming bebasnya gampang tpiii huh
    chap 16 …

  14. hehehe.. jadi baca kilat gak yadar udah nyampe chapter 15 juga..
    Ye.. si kyu ama changmin emang gak bisa akur ya, kerjaannya cekcok mulu apalagi ini berebut Ming. Seunghyun ganggu mulu nih, lagi tenang2nya ini balik lagi bikin keributan, sampe mukul wookie lagi.
    Ah, kayaknya siwon deh yang ada masa lalu ama heechul. keluarga choi, huuh.. kejam..

  15. Yayaa says:

    kyaaa…
    bayangin min stress gara2 adonan piza’y ga jd2 tuh kayak’y imuuuttt bgt…
    oya,yg mergoki anak buah’y siwon pas mau bunuh hyorin itu seunghyun ya…?
    abs itu mabok2an trus ke kona trus liat min trus bikin ribut gara2 maksa min spy mau ikut balik sama dia gt…?
    dasar gendeng,mana mau min diajak pulang sama si tabi itu,orng di deketin orng baik2 aja msh takut apalagi dideketin monster macam seunghyun,ih ke laut aj sana…

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s