(NEW) The Concubine – Chapter 1

eye-06oOoOoOo

The Concubine

©

Miinalee

oOoOoOo

  1179

Methuselah. Negri ini masih tampak cantik berapa kali pun dipandang. Hijau menghampar menjadi identitas yang memenuhi seluruh ruas pandang. Pohon, bunga, rumput, tumbuhan-tumbuhan yang merambat di atas tanah, dan jejak-jejak kaki ternak yang memijaknya. Di arah manapun dan di tempat manapun, rasanya tidak ada negri lain yang akan menyaingi keindahan negri ini. Mungkin karena negri-negri lain itu memang tidak ada. Sungmin tidak pernah betul-betul memikirkannya. Tapi akhir-akhir ini, pemikiran tentang kemungkinan keberadaan tempat lain seakan menggelitik dalam benaknya.

Adakah tempat lain selain negri ini? Tempat yang tidak diperintah oleh kaum Meth dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa Terran? Kalaupun ada, bisakah ia pindah kesana?

Karena rasanya, kehidupan di tempat yang indah ini semakin berat saja. Apalah gunanya bisa tinggal di tempat yang indah dan sempurna, kalau mereka tetap tidak bisa memiliki kebebasan?

Sungmin pun belum pernah meragukan kebebasan yang akhir-akhir ini terus mengganggu pikirannya. Mungkin karena dulu ia sendiri tidak mengerti apa itu arti kebebasan, seperti apa itu kebebasan, dan bagaimana rasanya. Ia tidak pernah bertanya karena kata bebas itu pun baru didengarnya dari mulut kakaknya sendiri, Kim Jaejoong. Yang entah sudah sejak kapan terus saja membicarakan persoalan kebebasan, persamaan hak Meth dan Terran, dan semua masalah politik kerajaan yang jujur saja— membuat Sungmin merasa pusing tujuh keliling.

Ia sendiri tidak tahu seperti apa itu bentuk politik. Tapi dongeng yang selalu meluncur dengan menggebu-gebu dari bibir kakaknya, mulai mengusik sanubarinya untuk mengetahui lebih banyak lagi.

Sungmin berusaha memutar otaknya dua kali lebih keras dari biasanya. Kalau dulu ia hanya menggunakan otaknya untuk bermain dengan saudara-saudaranya, atau sekedar untuk bersembunyi dari mata para tetangga dan prajurit-prajurit Meth yang kerap berkeliling kampung. Kali ini Sungmin memaksakan diri untuk memikirkan hal lain.

Apa itu bebas?

Bagaimana rasanya memiliki derajat yang sama dengan kaum Meth?

Apa sederajat membuat mereka bisa melakukan hal yang dilakukan kaum Meth? Apa itu artinya Terran tidak perlu lagi memberikan pajak selir setiap tahun? Tidak perlu lagi ada airmata dan tangis, jerit dan kesakitan, duka dan derita di antara kaum ini? Kalau begitu kebebasan merupakan hal yang bagus! Luar biasa bagus malah.

Sungmin nyengir sendiri pada bayangan bagaimana kalau Meth dan Terran sungguh-sungguh sederajat. Itu pasti akan menjadi kehidupan yang sungguh menakjubkan! Ia semakin bersemangat mengaduk-aduk biji kopi di atas tumbukan kayu yang tengah digarapnya itu, kopi ini akan digunakan dikonsumsi sendiri, sebagian akan dijual. Ah, padahal sejak dua minggu yang lalu Sungmin memelas agar dirinya ikut serta ke pasar untuk menjual biji-biji ini. Tapi Jaejoong bersikeras menolaknya. Kakaknya selalu melarangnya ini dan itu, tidak boleh kemari dan kesitu.

Sungmin mendengus, menumbuk rempah itu dengan sebal. Sudah cukup ia dikekang selama enam belas tahun di dalam rumah ini! Ia tidak pernah bisa memijakkan kakinya keluar dari pekarangan di kanan, kiri, depan, dan belakang rumah mereka. Sungai di belakang rumah juga mulai terasa membosankan. Meski tiga tahun terakhir ini Jaejoong sedikit melonggarkan peraturannya dengan mengizinkan Sungmin ikut pergi ke ladang. Dan itu pun, hanya pada saat-saat tertentu saja. Sungmin diizinkan keluar saat kampung tengah sepi atau saat masa panen yang sedikit. Jaejoong bahkan membuatkan tudung khusus untuk dikenakan Sungmin, agar tidak seorangpun menyadari warna matanya. Tudung itu juga berfungsi untuk melindungi kulit wajahnya dari panas terik matahari, dan mungkin semua orang juga berpikir begitu. Meski bagian terpenting adalah menyembunyikan kelam hitam bola matanya.

Sungmin selalu mengenakannya, kapanpun saat ia memijak daerah diluar rumahnya.

Dan meskipun selama sepuluh tahun terakhir ini… Sungmin tidak sungguh-sungguh menaati peraturan kakaknya dengan sepenuh hati.

Pemuda itu terkikik geli, mungkin kakaknya itu akan mengamuk habis-habisan kalau dia sampai tahu Ryeowook telah diam-diam mengajak Sungmin bermain di dalam hutan. Selama sepuluh tahun terakhir! Itu keterlaluan, Sungmin menyadari kesalahannya. Siapapun bisa menemukan mereka secara tidak sengaja! Tapi bagaimanapun, ia tidak menyesal. Ia ingin mengenal dunia luar. Bagaimana rupa orang-orang selain saudaranya. Bagaimana rasanya mengejar bebek-bebek dan mengusap punggung domba. Seperti apa bentuk pasar dan kota. Ia benar-benar tertarik!

Tapi kakinya terkekang oleh takdir, saat tiba waktunya, ia pasti akan diizinkan untuk memijak di bawah sinar matahari, di tengah tatapan seluruh mata negri. Jaejoong selalu menjanjikan hal itu padanya, tapi tidak sekarang. Selalu nanti, nanti, dan nanti.

Dan Sungmin mulai bosan pada janji palsu itu. Rasanya ia mulai muak ditinggalkan sendirian di rumah ini.

Selama enam tahun terakhir, Sungmin dan kelima saudaranya terus saja dijejali kisah tentang dunia tempat kaum manusia berasal. Tapi tentu saja kisah yang keluar dari bibir Jaejoong sedikit berbeda dari kisah yang menyebar menjadi rahasia umum masyarakat. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa tempat manusia berasal adalah tanah terkutuk, dan mereka mendapatkan takdir yang jauh lebih baik di tanah ini. Di tanah Methuselah ini sebagai budak kaum Meth. Tapi sepertinya, Jaejoong tidak sependapat dengan pemikiran itu. Sungmin tidak mengerti kenapa kakaknya itu begitu terobsesi dengan sejarah asal-mula kaum Terran. Dan dengan kokohnya percaya, bahwa kaum Terran, sama seperti Meth, adalah makhluk yang agung.

Suara Jaejoong yang terus saja melontarkan kisah demi kisah tentang negri tempat Terran berasal terus terngiang dalam kepalanya. Bukan apa-apa, tapi Jaejoong terus menerus menceritakannya karena itu Sungmin tidak memiliki pilihan lain kecuali untuk mengingatnya.

‘Bumi. Planet yang hancur ribuan tahun lalu.

            Seperti apa bentuknya dan bagaimana planet agung itu bisa hancur, hanya nenek moyang mereka yang tahu.

Konon katanya, karena keangkuhan mereka, tanah itu dikutuk dan hancur menjadi dua. Penghuni yang tinggal dipastikan akan mati menghadapi kiamat. Dan saat itu, hanya segelintir manusia yang mampu bertahan. Mereka menciptakan teknologi yang berusaha menyaingi takdir dewa, sebuah benda terbang yang mampu menampung sebagian dari kaum mereka. Lalu segelintir manusia berhasil melarikan diri dari kiamat bumi, mereka terombang-ambing di tengah semesta hingga akhirnya menemukan planet dengan peradaban luar biasa ini dan berharap kehidupan mereka dapat berlanjut makmur dan sejahtera.’

Sungmin memutar bola matanya. Ia bahkan tidak yakin benda terbang itu benar-benar ada. Atau mereka sebenarnya membawa burung raksasa dan menyebutnya benda terbang? Menggelikan. Tapi siapa yang peduli.

Satu hal yang benar-benar ia percayai dari kisah kakaknya, adalah takdir kaum mereka di tanah ini. Mungkin sebagian dari kisah itu benar, mungkin sebagian tidak. Tapi ia bisa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana lembar-lembar kisah bersejarah itu terasa pas bagi situasi yang dialami kaumnya selama berabad-abad. Siapapun yang mengarang kisah itu, pasti orang jenius yang benar-benar membenci kaum Meth. Sungmin mengerti betul perasaan orang itu, karena ia juga membenci kaum Meth, maka ia memutuskan untuk mempercayai sebagian dari kisah kakaknya yang terdengar begitu melankolis.

‘Tapi keturunan manusia harus menghadapi kenyataan pahitnya sekarang.

            Mereka mendapatkan tempat tinggal baru untuk terus mempertahankan keberadaan umat manusia. Tapi keadaannya tidak akan pernah sama dengan kisah-kisah yang diceritakan para tetua tentang Bumi dan masa lalu manusia. Di Methuselah ini, tanah dan ladang subur sejauh manapun mata memandang. Tanah yang begitu sempurna sebagai tempat melangsungkan kehidupan. Tanah yang tanpa diduga ditemukan ribuan tahun silam.

Namun…

…tanah ini bukan milik mereka…

Satu kaum telah memilikinya.’

Sungmin menghela napas. Menumbuk biji kopi di dalam lumbung di sela dua kakinya dengan kesal. Bagian akhir dari kisah itu selalu membuatnya merasa sebal. Siapapun yang pernah bercerita Bumi itu indah, terkutuklah dia. Kalaupun planet itu benar-benar indah, mengapa tidak ada satupun gambar yang tersisa untuk mengenang kebesarannya? Hanya sebuah memori dan dongeng turun temurun, ia pun bisa membuat dongeng baru! Dongeng yang lebih cantik, dengan dua tokoh saling mencintai di dalam kisahnya.

Sungmin yang merasa makin emosi, kini menggunakan dua tangannya untuk mengangkat kayu penumbuknya dan mulai bekerja berdasarkan amarah yang membumbung di dadanya. Terkutuklah para pendongeng! Gara-gara mereka, kakaknya Jaejoong menjadi terobsesi pada hal mengerikan macam ini. Sungmin nyaris menangis karena frustasi, mengingat kakaknya yang begitu setia bercerita, tentang kisah kakek buyut dan kerabat-kerabat yang terikat darah dengan mereka. Para tokoh unggul dari kalangan manusia. Mereka adalah penggerak yang akan terus mewariskan tujuan demi kemerdekaan kaum Terran.

Tapi—

Sungmin bahkan tidak mengingat ia pernah mengenal orang lain dalam hidupnya selain: Jaejoong, Ryeowook, Eunhyuk, Kibum, Henry, dan Taemin. Tidak ada yang lain!

Kisah ini bukan sekedar dongeng yang diceritakan oleh kakaknya. Sungmin punya alasan untuk membenci dongeng yang terus didengarnya hingga kupingnya terasa berasap kalau kalimat-kalimat Jaejoong itu kembali bergema di dalam rumah.

Karena hal terburuknya, ia tidak bisa hidup seperti orang lain!

Sungmin mengerang, menghempaskan kayu penumbuknya karena lelah dan marah. Dengan napas terengah ia bersandar kebelakang, lalu menyelonjorkan kakinya lurus ke depan. Emosi ini sudah melahap energinya pagi-pagi sekali.

Sejak pagi-pagi pula ia ditinggalkan oleh keenam saudaranya. Mereka pergi ke ladang, sedang ia harus menunggu di dalam rumah kayu ini. Gelap dan tersembunyi. Pengap, membosankan, mengerikan. Semua hal-hal yang selama ini ditahannya selama belasan tahun terus saja menumpuk menjadi kekesalan tanpa ujung. Membuatnya bingung bagaimana cara melampiaskannya dan membuatnya kembali berpikir-pikir, apa ia juga punya hak untuk mengutarakan protesnya?

Sungmin mengerjap, menutup kelopak matanya dan kembali membukanya setelah hembus napasnya berubah tenang. Orbs matanya yang hitam kelam berkilat basah. Sungmin mengerjap lagi, merasa begitu lemah dan lelah.

Ia tidak pernah meminta dilahirkan begini. Memiliki mata berwarna hitam sekelam malam tampaknya juga membawa takdir gelap bagi dirinya sendiri.

Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang sama seperti Terran muda lainnya. Bahkan tidak bisa juga sama seperti kelima saudaranya, padahal mereka juga memiliki mata coklat yang gelap! Mata yang juga dianggap spesial. Namun mereka masih bisa memijakkan kaki dengan bebas di luar sana, menghirup udara dan bermain tanpa perlu menggunakan tudung kepala.

Sungmin selalu merasa iri pada saudara-saudaranya sendiri. Bukan sekali ia menangis karena rasa sesak itu. Kenapa ia harus dilahirkan begini? Ia tidak pernah meminta dilahirkan begini, kalau ia boleh memilih, ia ingin memiliki mata sebiru langit, sedalam lautan, warna mata yang indah baginya namun dipandang begitu biasa di tanah ini.

Dan pertanyaan yang lebih membuatnya bingung lagi…

Memangnya kenapa dengan warna matanya ini?

Warna hitam yang gelap ini…

Warna buruk rupa ini. Tidak ada yang spesial darinya. Warna matanya mengerikan, seperti malam tanpa bulan, seperti cakrawala tanpa bintang.

Tapi tidak begitu dengan cerita yang dipercaya orang. Menurut kakaknya, kalau orang lain sampai mengetahui keberadaannya –Seorang pemuda bermata hitam…

Seluruh Methuselah akan gempar.

Tampaknya warna mata ini memang membawa kutukan, Sungmin telah mempercayai hal itu sejak pertama ia berkaca dan memandang dalam ke dalam matanya sendiri. Cerita Jaejoong yang menghibur tidak surut menghilangkan kabut dalam hatinya. Mata ini terkutuk. Namun suara bisikan Jaejoong menolaknya.

‘Warna matamu melegenda’

Sungmin mengucek matanya, mengusir basah yang mulai menggenang disana. Kenapa ia tidak bisa memiliki mata yang biru saja? Atau coklat pun tak apa. Ia tidak ingin berbeda. Ia tidak ingin menjadi seseorang yang berbeda. Mengemban takdir yang berbeda dan dipandang dengan cara yang berbeda.

Sungmin menggeser penumbuk di hadapannya, sudah tidak berniat melanjutkan pekerjaannya bahkan hanya untuk mewadahi bijih-bijih kopi yang sudah halus itu ke dalam mangkuk. Dengan lemas, ia berdiri dan melangkah menuju ruang tengah. Disana ia duduk, bersandar dan termenung. Dalam lima menit mungkin pemuda itu akan tertidur, kalau suara dobrakan di pintu depan tidak membuatnya berjengit kaget.

Sempat mengira ada perampok menyambangi rumahnya, Sungmin dengan tergopoh-gopong berlari menuju ruang depan. Namun ternyata yang masuk adalah dua pemuda yang dikenalnya dekat. Dua orang kakaknya. Eunhyuk dan Kibum.

“Hyung sudah selesai?” Sungmin mencoba menyapa, bermaksud membantu Kibum membawakan buntalan gandum di bahunya saat pemuda berambut pirang itu justru mendengus dan melangkah melewati Sungmin. Sungmin mengernyit dibuatnya, tapi pemuda itu tidak berkata apa-apa, sudah begitu terbiasa mendapat perlakuan dingin dari kakak ketiganya itu. Sembari tersenyum masam ia beralih menyambut kakak keduanya, Eunhyuk, seorang pemuda bertubuh lumayan tinggi dan berambut hitam ikal yang kini sudah balas tersenyum manis padanya.

Eunhyuk juga membawa dua buntal gandum di masing-masing tangannya, Sungmin segera membantu dengan membawakan satu.

“Kau bosan di rumah, ne?” Eunhyuk tersenyum simpatik, diacaknya rambut Sungmin dengan sayang.

Kontan saja mata Sungmin berbinar mendengar pertanyaan itu. Dengan girang ia berjingkrak disisi kakaknya. “Neeee! Apa aku boleh main keluar? Sekarang? sekarang!” pekiknya antusias.

“Kata Jaejoong-hyung, karena akan mendung, kau boleh ikut ke pasar sore ini. Tapi pakai tudungmu yang agak lebar ya.”

Sungmin tidak mendengarkan kalimat Eunhyuk hingga selesai. Dengan terburu-buru pemuda itu berlari ke dapur dan meletakkan gandumnya di atas tumpukan padi. Ia sempat melirik Kibum yang berjongkok di depan tungku, seakan menunggu kakaknya mengatakan sesuatu, tapi semakin Kibum terdiam disana, semakin pula Sungmin dibuat kecewa olehnya. Dengan sedih Sungmin beranjak menuju kamarnya, tapi secepat itu pula perasaannya kembali cerah. Sudah sekian lama tudung kepalanya tidak digunakan! Sekarang waktunya berpetualang!

Dari seluruh tudung yang dibuatkan Jaejoong untuknya, Sungmin memfavoritkan satu yang berwarna merah muda. Cerah seperti suasana hatinya hari ini. Langsung saja ditariknya lipatan tudung itu di bagian terbawah lemari. Begitu dikenakan, Sungmin lantas mematut dirinya di depan cermin dan tiba-tiba merasa geli, kenapa ia harus bercermin saat wajahnya sendiri harus tersembunyi di balik tudung besar ini?

“Kapan aku pergi?” Sungmin bertanya dengan penuh semangat, senyumnya merekah tatkala sosok Eunhyuk muncul di cermin, tepat di sisinya.

“Tunggu Ryeowook kembali.” Balas Eunhyuk sembari tersenyum, dengan telaten dibenahinya posisi tudung Sungmin. Lama Eunhyuk memperhatikan pantulan diri mereka di cermin besar itu, matanya sesaat fokus pada wajah adiknya. Wajah yang masih begitu belia. Putih, berseri, manis. Wajah yang selama ini harus tersembunyi dari dunia, karena sinar kelam bola matanya. Tidak ada satupun cela di sana meskipun Eunhyuk sudah seringkali memeluk Sungmin dalam tidurnya, yang menangis merutuki kecacatan warna bola matanya.

Dan nyatanya Sungmin tidak benar-benar menunggu, karena sesaat setelah Eunhyuk membenahi tudungnya, suara melengking itu terdengar dari arah dapur.

“Minnie-hyung!”

“Wookie!” Sungmin melonjak senang dan tergopoh-gopoh menuju dapur. Sekali lagi ditariknya tudung itu hingga yang tampak hanya hidung yang mungil dan bibirnya yang merah. Senyum itu masih tampak begitu ceria saat ia berbalik hendak berpamitan. “Hyung, aku pergi! Kalian mau titip sesuatu?”

Eunhyuk melirik adiknya yang tengah bergumul di depan api. Kibum tampak bergeming, namun dari geriknya ia seakan tidak mendengar pertanyaan barusan.

“Hyung?” Sungmin bertanya lagi, masih menunggu.

Eunhyuk mengernyit saat ia seakan mendengar nada kecewa dalam suara Sungmin. Merasa iba, Eunhyuk menghela napas dan kembali memasang senyum lembutnya. “Belikan aku permen apel, Sungminnie. Satu untukku, satu untuk Kibum.”

Tapi seperti yang sudah diduganya, hanya dengan sebuah senyum lembut, mood Sungmin akan berubah dengan mudahnya. “Baiklah. Dua permen apel, untuk Kibum-hyung dan Eunhyuk hyung!” Sungmin berseru riang. “Aku pergi hyung, bai!”

Bye.” Eunhyuk membenarkan. “Jaejoong-hyung akan histeris kalau didengarnya Sungmin mengucapkan bahasa kuno Methuselah itu.” Lalu Eunhyuk terkekeh dan menggeleng membayangkan Jaejoong yang benar-benar histeris dalam imajinasinya. Itu pemandangan yang sungguh lucu, dan di sisi lain— mengerikan.

Raut wajah Eunhyuk berubah serius saat ia sadar Kibum terus mengabaikannya sejak tadi. Ia memang sudah mengenal perangai adiknya ini, selama tujuh belas tahun hidup bersama, rasanya sudah tidak ada hal yang perlu diketahuinya dari Kibum. Tapi Eunhyuk masih tidak habis pikir, bagaimana bisa Kibum bersikap begitu dingin pada Sungmin?  Berkali-kali bertanya, ia belum pernah mendapatkan jawabannya.

“Tidak bisakah kau bersikap baik sedikit saja?”

“Tidak bisa ditahan.” Jawaban itu begitu datar. Begitu ringan. Eunhyuk nyaris tercekat, bingung harus membalas apa.

“Sungmin adikmu.”

“Taemin adikku, Ryeowook adikku, Henry adikku. Semua orang di dalam rumah ini saudaraku.”

Eunhyuk berdecak, tidak berniat melanjutkan perdebatan itu saat ia yakin sekali tidak bisa memenangkannya. Kibum adalah makhluk paling keras kepala di bawah atap rumah ini. Eunhyuk memilih berbalik pergi meninggalkannya sendirian, bergumul dengan asap dan api tungku.

.

oOoOoOo

.

Sungmin menapak langkahnya dengan hati-hati di atas tanah yang becek. Di sebelahnya, Ryeowook dengan asik terus berceloteh, menceritakan tentang keadaan pasar dan seluruh bagian yang sebenarnya sudah sering di dengarnya selama ini. Keduanya berjalan beriringan menyusuri jalan selebar lima kaki dengan pohon-pohon jati tinggi berjejer. Melewati rumah demi rumah penduduk, Sungmin tersenyum, seakan bisa merasakan kebebasan dengan arti ambigu yang tadi sempat diributkan oleh hatinya.

“Ada banyak orang! Ada banyak pemuda tampan! Uh kau harus lihat pria yang menjual apel di ujung pasar, matanya biru dan hidungnya panjang! Hihi, aku mau menikah dengannya.” Ryeowook melangkah girang, ia melipat kedua tangannya di belakang.

“Hyung pasti melarang.” Sungmin hanya merespon singkat, ia tersenyum tipis, sembari sesekali membenahi tomat di dalam keranjang yang dibawanya dengan penuh kehati-hatian. Ia tidak ingin buah-buah segar ini sampai terjatuh atau terciprat oleh tanah berlumpur. Dan berjalan sedikit jauh dari Ryeowook akan menolong.

“Loh, kenapa! Yehwang baik kok!”

“Oh yeah, dia baik dan kau lupa kalau matamu coklat.”

Ryeowook mengerang. Sungmin sempat menyesal telah merusak suasana bahagian adiknya.

“Kau lupa kalau matamu hitam.”

“Aku tidak lupa. Mataku buruk rupa. Bahkan air lumpur memantulkan warnanya yang mengerikan.” Sungmin menunduk, tiba-tiba murung. Dan Ryeowook ikutan menunduk, turut merasa murung. Keduanya terdiam selama beberapa saat.

“Setidaknya aku akan mendapatkan Meth yang tampan. Minimal seorang menteri, manis dan romantis.” Timpal Ryeowook sembari menyeringai, ia menoel pinggang Sungmin dan dibalas dengan decak tak senang dari kakaknya itu.

“Dalam mimpimu.” Kekeh Sungmin sembari menendang segumpal lumpur ke arah Ryeowook. Keduanya tertawa, lalu perjalanan mulai diselingi dengan perang kecil menendangi lumpur ke arah satu sama lain.

“Yah! Yah! Hati-hati! Kau akan merusak tomatku!”

“Kita bisa memetik yang baru. Lagipula kau senang bolak-balik rumah dan pasar, kan? Kau pasti senang!” Ryeowook berjingkrak, dengan raut menggoda ia berjalan mundur di hadapan Sungmin. “Ayo mengakulah~”

“Wookie! Hentikan!”

Ryeowook menyeringai, belum berniat untuk berhenti bermain. Jiwa mudanya begitu menggebu, terlebih berada di luar rumah seperti ini, semangat dalam hatinya akan berlipat ganda. Dengan jahil ia melempar seongok lumpur, namun bukan mengenai sasaran utamanya –Sungmin, lumpur itu malah mendarat di kaki seseorang yang berpapasan dengan mereka.

Pria Terran setengah baya itu mendelik ke arah keduanya, langkah cepatnya berubah lambat, ia terus berpaling dengan raut marah. Ryeowook buru-buru membungkuk untuk meminta maaf. Sedang Sungmin dengan refleks segera menurunkan tudung kepalanya.

“Maaf tuan.” Ryeowook tersenyum canggung, menerima makian-makian pendek yang dilontarkan pria itu sembari mempercepat langkahnya. Sosok itu lenyap ke arah jalan yang berbelok, namun Ryeowook masih sedikit terkejut mendapat perlakuan kasar seperti itu.

“Apa kubilang! Jangan main-main.” Sungmin berujar dengan suara mengeram, ia membenahi tudung kepalanya, sebisa mungkin mempertahankan posisi benda itu untuk terus menutupi separuh wajahnya tanpa menghalangi pandangannya dari jalan.

“Maaf, maaf.” Bisik Ryeowook sembari melirik ke belakang takut-takut, ia kembali berjalan dan menatap lurus ke depan tanpa berniat untuk main-main lagi.  Selama sebulan terakhir rasanya situasi desa semakin memanas saja. Orang-orang menjadi mudah marah dan perkelahian terjadi dimana-mana. Prajurit Meth yang ditempatkan di desa ditambah jumlahnya, aktivitas juga semakin ditekan dari hari-hari biasa dimana orang-orang bisa bekerja hingga sebelum senja, kini aktivitas harus berhenti saat sore menjelang.

Situasi akan terasa sama saat pertengahan tahun menjelang. Selama enam belas tahun terakhir, baik Ryeowook dan Sungmin sudah mencoba terbiasa dengan keadaan itu. Meskipun nihil, keduanya tetap merasakan hal yang sama. Tegang dan ketakutan.

Pertengahan tahun menjadi tanda awal dibukanya pembayaran pajak kaum Terran terhadap Meth. Selama seribu tahun mereka tinggal menumpang di tanah ini, tuan rumah mewajibkan pembarayan pajak berupa selir dari kalangan manusia. Gadis-gadis yang masih muda, dengan kisar usia 20 hingga 29 tahun. Atau pemuda bermata cokelat, dengan usia termuda 21 tahun. Terran-terran belia ini akan dikirim untuk dipersiapkan menjadi inang kaum Meth, kelak mereka harus melahirkan bayi-bayi Meth sebelum dipulangkan kembali ke desa asalnya.

Satu keluarga harus memberikan seorang putrinya dalam kurun waktu sepuluh tahun. Sepuluh tahun selanjutnya, mereka harus memberikan putri yang lain. Jika tidak ada gadis untuk diserahkan, pajak pengganti berupa emas dan uang dengan nilai tinggi harus dikumpulkan. Jika tidak ada emas untuk dikumpulkan, maka nyawa menjadi taruhan. Meth tidak menerima penolakan. Pajak selalu bisa diganti dengan apapun. Tidak ada gadis, selalu ada emas. Tidak ada emas, anggota keluarga lain bisa dijadikan pengganti untuk dipekerjakan sebagai budak.

Selalu ada celah bagi mereka, memeras tangis di setiap sudut desa selama bertahun-tahun.’

Sungmin mengingat ucapan Jaejoong suatu ketika.

‘Memisahkan putri dari ibunya, memperbudak anak-anak lelaki, dan mempekerjakan tuna susila.’

Sungmin belum pernah mendengar Terran manapun bertanya tentang pajak selir dan seluruh harta yang selama ini dirampas dari mereka, kecuali kakaknya. Belum pernah ada Terran lain yang bertanya kenapa mereka harus melakukannya, mengapa mereka harus menyerahkan keluarganya, mengapa mereka harus tunduk pada kaum Methuselah. Mungkin Jaejoong memang punya cara berpikir yang berbeda dari kebanyakan orang, Sungmin semakin merasa pelik saat ia mencoba mengerti kenapa kakaknya bisa berpikir sampai kesana.

Jaejoong terlalu rumit. Sungmin memutuskan untuk berhenti memusingkannya. Sebelum ia berteriak lagi karena merasa sengit pada diri sendiri.

Langkah sudah membawa mereka sejauh ini. Pohon-pohon jati yang semula tinggi menjulang di sisi kanan dan kiri mulai berkurang, berganti dengan lahan-lahan luas tanah merah yang tandus. Keduanya berdiri di tengah jalan, sepuluh meter dari pusat dimana semakin banyak orang tampak berinteraksi, berlalu lalang dan berpapasan satu sama lain. Ryeowook berjinjit, bermaksud mencari sosok Jaejoong sebelum ia memutuskan masuk ke tempat ramai itu.

Di ujung jalan, hiruk pikuk tampak jelas. Kerumunan orang menutupi jalan yang seharusnya lenggang. Barisan pedangang menjajakan barang di sisi kiri dan kanan jalan. Ratusan orang berhimpitan, beberapa mencoba menawar-nawar barang, dan beberapa berusaha melintas. Hanya melihat kesibukan dan keramaian itu saja, Sungmin merasa hatinya ciut.

“Wookie… Ramai sekali.” cicitnya sembari memeluk lengan Ryeowook erat-erat. Ia belum pernah melihat tempat seramai dan semengerikan ini. Padahal ia mengira pasar jauh sedikit lebih lenggang daripada ini. Tapi membayangkan dirinya berada di sana, terhimpit dan tertekan— Sungmin menggerung tak senang. Ia memeluk lengan Ryeowook, makin ketakutan. “Aku takut. Bagaimana kalau mereka menyadari warna mataku? Bagaimana kalau aku tampak aneh mengenakan tudung ini?”

Ryeowook menghela napas, ia melambai-lambai pada seseorang sebelum merangkul bahu kakaknya dan menepuk pundak yang tegang itu sekali. “Kata Jaejoong-hyung, justru karena terlalu ramai, tidak akan ada yang menyadari keberadaanmu.”

Ryeowook bermaksud menggiring langkah Sungmin, namun pemuda itu menahan posisi. Ia berdiri tegang seakan menolak ditarik maju. Dari balik tudung yang menutupi bagian atas wajah Sungmin, Ryeowook bisa melihat betapa bibir kakaknya itu berubah pucat.

“Kau takut? Aku bisa mengantarmu pulang. Kita bisa main ke pasar lain kali saja, tidak apa-apa.”

Sesaat Sungmin merasa itu adalah tawaran yang sempurna. Tapi ia mengingat lagi bagaimana sedihnya ditinggal sendirian di dalam rumah, pengap dan gelap. Ia ingin belajar bermain di luar, menemui banyak orang –ah tidak, melihat banyak orang saja sudah menjadi izin yang luar biasa untuknya. Sungmin tidak ingin tertinggal lagi. Ryeowook tahu begitu banyak tenang dunia luar, Taemin mengenal banyak teman, dan Henry sering kali membawakan banyak barang-barang unik. Ia juga ingin— Ia ingin seperti saudara-saudaranya.

“Tidak. Aku mau. Aku mau kesana.” Tolak Sungmin halus sembari menggandeng tangan Ryeowook, dengan langkah gemetar, ia berusaha menguatkan diri dan melangkah maju.

“Baiklah. Lihat, itu Jae-hyung.”

Ryeowook menunjuk seseorang yang berdiri melambai di sisi kios makanan. Bahkan dengan ditutupi oleh bayangan tudungnya sendiri, Sungmin bisa menangkap dengan jelas sosok itu adalah kakaknya. Jaejoong-hyung.

“Hyung!” Sungmin berlari-lari sembari mengangkat keranjangnya di depan dada. Jaejoong dengan was-was memperhatikan sekitarnya, terus bersikap siaga meski rautnya menunjukkan ketenangan.

“Kemari, kita akan menjajakan tomat itu.” Ujarnya sembari tersenyum tipis. Jaejoong mengangkat keranjang itu dengan tangan kirinya. Ia segera merangkul bahu adiknya, lalu mengisyaratkan pada Ryeowook untuk tetap berjalan santai di sisi Sungmin. Membuat pemuda bermata hitam itu tampak seakan dihimpit diantara keduanya.

“Kalian boleh melihat apapun, tapi jangan jauh-jauh dariku.”

.

oOoOoOo

.

            Nyaris persis seperti apa yang selama ini dikhayalkannya tentang bentuk pasar, Sungmin benar-benar dibuat takjub olehnya. Cerita Ryeowook yang begitu detail dan hanya bisa dibayangkan olehnya dulu, kini benar-benar bisa dilihatnya dengan mata kepala sendiri! Bahkan melihatnya langsung jauh lebih menakjubkan daripada membayangkannya. Meski sedikit menakutkan, suasana ramai itu semakin lama membuatnya merasa nyaman. Terlebih dengan barisan pedagang yang berjejer di pinggir jalan. Sungmin sudah kehilangan jumlah hitungannya. Ada pedagang buah, roti, kue, minuman, susu, teh, hingga daging.

Dan yang paling menakjubkan—

Satu kios permen yang terdiri dari beragam makanan manis. Ada banyak bentuk dan warna yang bisa dipilihnya sendiri. Bulat, kotak, bunga, bulan, bintang. Ada begitu banyak, Sungmin sampai bingung dibuatnya. Ia berdiri begitu lama hanya untuk memilih. Permen yang lembut atau yang keras, yang kenyal atau yang leleh. Semua tampak lezat. Tapi Jaejoong hanya mengizinkan satu. Satu untuknya, satu untuk Ryeowook, satu untuk Henry, dan satu untuk Taemin.

Sungmin mengetuk-ngetukkan kakinya dengan bingung hingga ia memutuskan untuk meraih satu permen bulat berwarna merah dengan corak jingga. Begitu permen itu sampai di tangannya, Sungmin tidak menunggu lagi dan langsung memasukkan benda itu ke dalam mulutnya. Dengan girang ia melonjak di sisi Jaejoong. Permennya masih hangat, dan rasanya jauh lebih enak daripada permen yang biasa dimakannya sendiri di dalam rumah.

Jaejoong berdecak melihat tingkah adiknya, dua tahun lagi Sungmin akan menginjak usia 20. Rasanya waktu begitu cepat berlalu, seperti baru kemarin ia menggendong Sungmin dalam pelukannya… Sekarang, adiknya ini bahkan sudah nyaris menyamai tingginya. Tapi pemuda itu masih saja bersikap seperti bocah 7 tahun. Bukan Jaejoong tidak menyukainya, mungkin karena itu pula ia tidak pernah menegurnya.

“Sudah puas?”

Sungmin menggeleng-geleng. Tudungnya bergerak ke kanan dan ke kiri, Jaejoong segera membenahi posisinya dan menggandeng tangan adiknya kembali.

“Mau lihat apa lagi?”

“Apel! Apel!” Ryeowook berseru semangat. Namun riang antusiasnya segera padam saat Jaejoong menjawab cepat—

“Kita baru membeli apel kemarin, Wookie. Bagaimana kalau jeruk?”

Ryeowook mengeluh lesu. Sungmin buru-buru merangkulnya untuk menghibur. Ketiganya berjalan di pinggir sekali agar tidak bertabrakan dengan arus pembeli yang kini semakin ramai dan mulai berdesakan. Sungmin berada di tengah saudaranya, merangkul dua tangan itu erat-erat seakan takut arus keramaian akan memisahkannya dari Jaejoong dan Ryeowook.

“Sebentar.” Jaejoong tiba-tiba berhenti, di depan hamparan perkakas rumah tangga yang dipajang rapi berderet. Pedagangnya tampak masih muda, Jaejoong menunduk sedikit untuk melempar senyum padanya. Itu salah satu trik jitu untuk mendapatkan harga rendah bagi barang yang bagus. Jaejoong sudah sering sekali melakukannya. Dan matanya yang coklat indah tampaknya sangat membantu.

Sebelum melanjutkan transaksinya, Jaejoong meraih dua tangan adiknya dan membimbing mereka mengerat dua sisi kaus di bagian pinggangnya. “Tunggu disini, pegang kausku jangan dilepas.”

Sungmin melakukannya dengan patuh, tampak begitu takut kalau-kalau ia akan terpisah dari kakaknya. Ryeowook melirik Sungmin dan terkekeh, tapi tampaknya Sungmin tidak sadar. Tudung itu semakin menyulitkan mereka untuk berkomunikasi. Padahal Ryeowook ingin menggoda Sungmin tentang betapa konyolnya sikap kakaknya itu.

Seperti anak kecil saja. Cibir Ryeowook dalam hati.

Tak jauh di sebelahnya, Sungmin berusaha menahan diri untuk tidak berpegang pada Jaejoong menggunakan dua tangannya. Itu terlalu mencolok dan pasti akan menarik perhatian. Tapi situasi pasar yang makin ramai semakin membuatnya gugup pula. Arus manusia yang saling berhimpit itu tak jarang menyentuh punggungnya, membuat tubuhnya sesekali terhuyung ke depan tapi dengan buru-buru pula Sungmin berpijak kuat-kuat.

Ia mencoba mengalihkan rasa gugupnya, dengan melihat apapun. Apapun yang bisa ditangkap matanya lewat tudung besar yang sesungguhnya benar-benar membuatnya risih ini. Lalu gemuruh dan takut dalam hatinya seakan surut perlahan-lahan saat matanya menangkap arus sungai yang deras tak jauh di belakang pedagang itu. Sungai jernih itu seakan ikut menjernihkan pikirannya. Padahal tadi saat ia pertama masuk ke tempat ramai ini, di sisi kanan dan kiri pasar hanya ada tanah merah. Rupanya mereka sudah berjalan sejauh ini. Di bagian sini sungai berhimpit begitu dekat dengan jalan. Dan Sungmin mulai mengira-ngira, apa sungai ini mengaliri sungai yang sama tempat dimana dirinya dan Ryeowook sering bermain dan mandi. Sungai di dekat hutan terlarang itu? Sudah lama sekali Sungmin tidak bermain kesana. Ia jadi rindu—

Berada di tengah lamunannya, tiba-tiba Sungmin tersentak. Pemuda berwajah manis itu spontan mendongak saat terdengar suara jeritan. Suasana pasar yang sejak awal risuh, semakin bertambah ricuh. Kerumunan orang-orang yang memenuhi jalan itu ikut menutupi pandangan. Sungmin tidak berani berjinjit untuk melihat, ia hanya mengintip dari bawah tudungnya, saat kerumunan itu berjalan seperti gelombang air. Makin ramai menuju ke arahnya. Satu-satunya pemandangan yang terlihat jelas olehnya adalah dua kepala yang menyembul di antara kerumunan orang, dua sosok itu cukup tinggi untuk dikenalinya. Dua orang prajurit Meth.

Jaejoong berdehem dan terus melanjutkan obrolan dengan pedagang, menawar berbagai hal, menyentuh berbagai barang. Kakaknya itu merangkul bahunya dan Sungmin segera mengerti pada isyarat itu, ia segera menunduk. Namun rasa penasarannya masih berkecamuk. Suara ribut-ribut dan bisik-bisik di sekitarnya semakin membuatnya ingin mendongak dan melepas tudung ini, tapi Sungmin masih cukup waras untuk tidak melakukannya.

Sungmin memeluk pinggang kakaknya saat gelombang itu berlalu di belakangnya. Tubuh demi tubuh menerobos dan menyentuh punggungnya dengan kasar, Sungmin harus berpijak kuat-kuat agar ia tidak terhuyung ke depan. Rangkulan Jaejoong cukup kuat di bahunya dan sebelah tangan kakaknya itu terasa seperti pelindung baginya.

Ryeowook yang berdiri di sisinya, terus berjinjit-jinjit berusaha mendapatkan informasi. Sesekali pemuda berambut cokelat ikal itu merutuk, mengutuk dirinya sendiri yang terlalu pendek. Menyerah dan kesusahan, Ryeowook mulai sibuk bertanya ke sana kemari. Setelah mendapatkan jawaban memuaskan, ia berbalik senang dan dengan antusias membagi informasi yang baru di dengarnya itu pada Sungmin.

“Itu Taeyeon, tetangga kita. Dua prajurit Meth membawanya.”

Sungmin mendelik, namun bibirnya bungkam. Bingung harus menjawab apa saat ia sendiri tidak tahu Taeyeon itu gadis yang mana. Tapi bukan itu hal pentingnya. Dua orang Meth membawanya, itu baru informasi penting.

“Dan kau harus tahu. Taeyeon itu bermata cokelat.” Suara Ryeowook semakin berbisik.

Sungmin berpaling pada adiknya, matanya membulat makin besar. Ia bahkan belum menemukan pertanyaan tepat untuk dilontarkan saat sekeranjang kentang disodorkan di antara dirinya dan Ryeowook.

“Wookie, pegang ini. Periksa apa ada yang busuk.” Jaejoong melirik adiknya sebentar, sorot matanya datar, dan pemuda itu kembali sibuk bertransaksi dengan pedagang di hadapannya. Namun baik Ryeowook dan Sungmin, keduanya tahu betul apa arti di balik tatapan datar itu.

Dua kakak beradik itu saling berpandangan, sesaat, sebelum keduanya memutuskan untuk menghentikan obrolan dan dengan tenang menunggu Jaejoong menyelesaikan urusannya.

Ryeowook masih sesekali berpaling, begitu penasaran untuk mengetahui lebih. Himpitan di tengah pasar sudah jauh lebih lenggang dari sebelumnya. Yang tersisa di tengah jalan yang ramai ini hanya para pembeli, namun jika diperhatikan lebih teliti, Ryeowook menemukan beberapa orang yang berdiri kaku dan dengan pandangan murung. Terus menatap kearah kepergian dua Meth dan gadis pajak tadi.

Itu pihak keluarga. Ryeowook buru-buru mengembalikan pandangannya ke depan. Tidak berniat mencari tahu lagi. Lima atau tujuh menit lagi, orang-orang berkabung itu akan segera bubar. Mereka meratapi kepergian putrinya sesaat, namun tidak melakukan apapun untuk mencegah dua Meth membawa Taeyeon.

Seperti biasa, tidak akan ada yang melawan. Meskipun diselingi tangis dan jeritan, penarikan pajak selir selalu berjalan mulus. Banyak orang menonton, namun tidak satupun akan mencoba menolong. Sanak keluarga hanya akan memandangi kepergian putrinya dengan mata berkaca-kaca, dan penduduk lain ikut menonton dengan tatapan iba.

‘Dimulai dari hari ini untuk tahun ini...’ Sungmin membatin dalam hati. Kepalanya makin tertunduk saat suara bising pasar kembali terdengar sibuk.

Penarikan pajak Selir itu… Selalu menegangkan. Selama ini Sungmin seringkali mengintip dari balik jendela kamarnya, bagaimana gadis-gadis itu meraung saat prajurit Meth menyeret mereka dengan paksa. Siapa yang tidak akan meraung? Mereka yang masih belia ini akan dipaksa mengandung bayi Meth. Menampung bayi-bayi besar itu di dalam tubuhnya, lalu diharuskan melalui proses yang menyakitkan, peleburan darah, penyucian. Sungmin meremas perutnya sendiri dan meringis saat membayangkannya.

Kalau hal itu sampai terjadi padanya, ia bukan akan meraung! Ia pasti sudah akan menangis darah!

Diantara seluruh saudaranya, ada tiga orang yang memasuki kriteria Pajak Selir: Jaejoong, Eunhyuk, atau Kibum. Entah apa yang dilakukan Jaejoong selama ini, Jaejoong mengenal beberapa Prajurit Meth dengan cukup baik, dan mungkin hal itu yang membuat ketiganya selalu lolos selama empat tahun terakhir. Tapi hal itu tidak akan bertahan selamanya.

Kalau tiba saatnya nanti mereka harus dijadikan pajak, siapa yang bisa melawan?

Tentu saja tidak akan ada yang melawan. Ini adalah kewajiban Terran sebagai kaum yang menumpang di tanah ini. Terran tidak memiliki rumah, Terran tidak memiliki apapun. Mereka hanya meminjamnya, dan diwajibkan membayar untuk terus dapat meminjamnya.

Kaum Meth sudah cukup berbaik hati dengan memberikan sebagian tanah mereka untuk ditinggali manusia. Dan sebagai gantinya, Terran diwajibkan membayar sewanya…

Lewat Pajak Selir.

Gadis tadi adalah salah satu contohnya.

Tidak ada yang bisa menentang keputusan Prajurit Penyelidik saat mereka memilih seorang gadis sebagai bukti pembayaran pajak keluarganya –terhadap kaum Meth. Tidak sedikit keluarga yang berusaha menyogok dengan sepeti emas dan barang berharga lainnya. Beberapa berhasil melindungi putrinya, beberapa tidak.

Tidak ada kriteria khusus untuk menjadi seorang pajak selir bagi para gadis. Tapi Meth memiliki penyisihan khusus bagi remaja Terran yang memiliki mata cokelat. Baik pria atau wanita, Terran bermata cokelat selalu dianggap spesial, tidak sembarang Meth bisa menarik mereka sebagai selir. Karena khusus bagi mata cokelat, bukan hanya kaum wanita saja yang dapat dijadikan selir.

Sudah beribu tahun lamanya, pemuda bermata coklat menjadi kualifikasi terbaik di atas gadis-gadis bermata cokelat terlebih jika dibandingkan dengan yang memiliki warna mata biasa. Pemuda bermata cokelat adalah pilihan utama bagi Meth yang menginginkan inang kuat. Bagaimanapun, pria yang dapat menampung keturunan dalam tubuh mereka dipastikan jauh lebih kuat daripada wanita.

Tapi tanpa mengingat gender, mata cokelat tetap menjadi primadona. Sebagian besar Terran bermata cokelat akan berakhir di ranjang pembesar kerajaan, atau keluarga bangsawan. Tidak sedikit yang berakhir mengenaskan, karena dipaksa mengandung dua kali saat batas maksimal kemampuan seorang Terran untuk mengandung keturunan Meth adalah –satu kali.

Karena konon katanya, mata cokelat itu membawa sesuatu yang mistik— magis. Bayi-bayi yang terlahir dari Terran bermata cokelat lebih istimewa dari bayi yang dilahirkan oleh gadis biasa. Mereka akan menjadi penerus-penerus kuat dan cerdas, fisik dan mental.

Umumnya, Terran memiliki warna mata biru terang. Laki-laki atau perempuan. Mungkin karena dahulu kala saat segelintir nenek moyang manusia sampai di Planet Methuselah ini, mereka semua memang sudah memiliki warna mata sebiru langit. Atau mungkin karena iklim dan efek perjalanan jauh yang mengubah warna mata mereka. Perjalanan jauh para pendahulu Terran dari planet asal mereka menuju tanah yang layak dihuni ini.

Selama seribu tahun pula, Meth mempertahankan keturunannya dengan mengawini selir-selir Terran. Sudah sejak lama sekali kepercayaan akan Meth yang agung dimulai di tanah ini. Meth wanita menjadi salah satu yang diagungkan. Mereka dianggap sebagai titisan Dewi, tidak pantas mengemban tugas untuk melahirkan bayi-bayi. Dewa melarang wanita Meth mengandung, karena itu Dewa merancang tubuh mereka agar menolak segala bentuk re-generasi yang bisa merusak sifat surgawi dalam tubuh wanita Meth. Dewa tidak ingin kecantikan yang agung itu rusak oleh kewajiban yang bisa dilimpahkan pada kaum budak, Terran. Karena itu, sudah sejak lama sekali Meth tidak meneruskan keturunannya sendiri.

Namun ada kabar yang masih simpang-siur terdengar, bahwa sebenarnya ketidakmampuan itu bukan wujud dari kecintaan Dewa pada Meth Wanita. Tapi justru kutukan yang mengerikan. Seluruh wanita Meth adalah makhluk yang mandul. Tidak bisa melahirkan keturunannya sendiri tanpa bantuan Terran. Dan tentu saja, Sungmin mendengar kabar simpang siur ini dari kakaknya sendiri. Jaejoong.

Jujur saja, Sungmin mulai khawatir pada obsesi berbahaya kakaknya ini.

Jaejoong selalu percaya dan menjunjung tinggi keyakinannya, bahwa dirinya dan seluruh saudaranya memang Terran dari kalangan terpilih. Generasi yang kelak dapat memutar balik takdir kotor Terran yang dianggap kekal di Methuselah ini.

Dan hal yang membuat Jaejoong semakin sering mengungkit persoalan ini adalah… kenyataan bahwa seluruh saudaranya memang memiliki mata cokelat yang indah. Jaejoong, Eunhyuk, Kibum, Ryeowook, Henry, Taemin. Mereka semua memiliki mata cokelat yang dispesialkan itu. Seakan keajaiban ini tidak mungkin terjadi sebelumnya. Satu keluarga, tujuh orang, enam mata cokelat, dan satu mata hitam. Sungmin tidak tahu harus menyebut hal ini sebagai anugrah atau justru petaka.

Untuk dirinya sendiri pun, Sungmin sudah muak sekali mendengar kata ‘legenda’ itu disangkut-pautkan pada warna matanya yang gelap dan kelam ini. Katanya, tidak ada Terran lain di belahan dunia ini yang memiliki mata sehitam miliknya. Mata ini akan membuat seluruh planet terkesima. Sungmin mengendikkan bahu dan mendengus tidak percaya. Mana ia tahu, kalau ia belum pernah melihat mata orang lain kecuali mata saudara-saudaranya sendiri.

“Wookie, Minnie, ayo pulang sekarang.” Rupanya Jaejoong sudah selesai, entah ia sudah selesai dengan urusannya atau sudah selesai memperhatikan keadaan –menunggu situasi berubah tenang.

Ryeowook dan Sungmin hanya menurut. Tanpa bertanya, Ryeowook segera memutar posisinya dan berdiri di sisi Sungmin, ia dan Jaejoong kembali berjalan menghimpit Sungmin diantara mereka. Ketiganya tidak terlibat dalam obrolan selama beberapa menit hingga mereka benar-benar keluar dari wilayah pasar. Peristiwa tadi seakan masih menyisakan ketegangan di hati mereka masing-masing. Jaejoong baru membiarkan kedua adiknya berjalan sendiri-sendiri saat mereka sudah melangkah dua puluh kaki dari muka pasar.

“Wookie, pegangi ini untukku.”

Ryeowook melirik keranjang yang disodorkan padanya itu lalu mendongak menatap Jaejoong dengan bingung. “Tomatnya dibawa pulang?”

“Hanya yang busuk. Lain kali jangan bawa yang busuk, mereka memilahnya satu persatu.”

Ryeowook menghela napas, tampak merasa bersalah. “Aku tidak sengaja memetiknya. Harusnya kubiarkan saja jatuh disana, ya?”

“Tidak apa, kita bisa gunakan yang busuk untuk ditanam lagi.”

Sungmin terkekeh-kekeh melihat Ryeowook yang menunduk memandangi tomat busuk dalam keranjang itu. “Huuu! Wookie terbayang-bayang tukang Apel saat memetiknya, hyung!”

“Minnie-hyung, aish!”

Ryeowook berseru kesal dan mengejari Sungmin yang berlari-lari darinya.

Jaejoong berjalan sembari menyipitkan matanya. Hari mulai gelap, Sungmin sudah menanggalkan tudungnya, Jaejoong tidak melarang, ia tidak menegur. Mungkin adiknya merasa risih, ia mencoba mengerti. Sedikit merasa tenang karena cahaya bulan yang temaram kesulitan menembus pohon-pohon jati yang tinggi dan sukses menyembunyikan warna mata adiknya dari tatapan siapapun yang mungkin berpapasan dengan mereka. Itupun kalau masih ada orang yang berkeliaran di luar pada jam ini.

Saat matahari terbenam, aktifitas distrik seakan mati. Tidak ada Terran yang berada di luar rumahnya setelah senja datang, Meth-Meth sialan itu juga tidak menyediakan penerangan untuk menyulitkan aktifitas apapun di malam hari. Gelapnya malam akan menyulitkan kaum Terran, tapi tidak dengan Meth. Mata setan mereka bisa menembus kegelapan malam. Menembus melewati jarak yang jauh. Jaejoong selalu mewanti-wanti adiknya untuk berhati-hati, untuk tidak menatap ke dalam mata besar mereka yang seakan memancarkan sihir jahat. Jaejoong benar-benar membenci mereka, jauh dari dalam lubuk hatinya. Mungkin hanya ada beberapa, segelintir Meth yang tidak benar-benar dibencinya. Hanya sedikit yang mendapatkan penghormatan Jaejoong, dan hanya satu yang benar-benar dicintainya secara tulus.

Jaejoong menghela napas. Begitu banyak beban yang disimpan di dadanya. Tapi ia harus tetap kuat menahannya, ia masih sanggup menahan tambahan beban lagi. Seberapapun beratnya.

Penarikan Pajak sudah dimulai. Batas jam malam akan diperpanjang, dimulai semakin awal dan berakhir semakin lambat. Mengingat keributan itu baru dimulai hari ini, patroli malam mungkin akan dimulai dua hari lagi.

Jaejoong semakin gencar berpesan pada adik-adiknya untuk berhati-hati. Saat bulan pembayaran pajak, Meth dapat dengan leluasa masuk dan pergi ke dalam rumah siapapun di distrik manapun. Datang tanpa perlu diundang, masuk tanpa perlu izin. Menyeret siapapun yang dianggap wajib menjadi pajak. Karena itu, Jaejoong memilih untuk sering-sering mengajak Sungmin bepergian saat musim Penarikan Pajak tiba. Mengincar tempat-tempat ramai karena kerumunan orang-orang itu akan meluputkannya dari kecurigaan. Menutupi, melindungi.

Ryeowook, Henry, dan Taemin masih aman karena umur mereka masih di bawah usia minimal Pajak Selir. Sungmin masih terus disembunyikan. Tapi Jaejoong seringkali khawatir pada Eunhyuk dan Kibum. Entah kenapa ia merasa salah satu adiknya akan ditarik sebagai pajak selir tahun ini. Ia sudah terlalu sering meminta keringanan waktu. Menunggu tahun esok, lalu esoknya lagi, dan esoknya lagi. Jaejoong tidak yakin alasan itu akan diterima oleh Prajurit Pengawas kali ini.

Memikirkan hal pelik ini sejak jauh-jauh hari, Jaejoong sudah berdiskusi dengan dua adik tertuanya itu. Dan keputusan pun diambil, kalau sampai salah satu dari mereka benar-benar di tarik sebagai Pajak Selir tahun ini. Eunhyuk yang akan menyerahkan diri. Jaejoong merasa bersyukur karena Eunhyuk cukup cerdas dalam mengerti akan situasi yang menekan mereka. Karena bagaimanapun, diantara keenam adiknya, hanya Eunhyuk yang benar-benar tahu masalah seperti apa yang tengah mereka hadapi. Dan Eunhyuk jauh lebih dewasa dari Kibum, Jaejoong merasa ia bisa mempercayai tugas pembuka ini pada adiknya.

Eunhyuk yang akan membuka jalan bagi mereka, membuka jalan itu melalui lorong dalam. Satu persatu adik-adiknya akan menyusul, memperkuat pertahanan, persenjataan, perongrongan. Sungmin akan muncul jika saatnya tiba. Semua sudah berada di bawah rencana…

“Berhenti, Wookie! Nanti bajuku kotor!” Sungmin berseru marah, tapi itu tidak menghentikan kejahilan adiknya. Ryeowook masih asik melempari Sungmin dengan tomat-tomat kecil. Ia tertawa senang saat lemparannya mengenai sasaran.

“Aish! Kubilang berhenti!” seru Sungmin kesal. Ryeowook buru-buru menghindar saat Sungmin berusaha menangkapnya. Mereka tertawa sambil berkejaran di sepanjang jalan, tidak ubahnya seperti dua anak kecil yang sedang bermain.

Jaejoong tidak menegur mereka kali ini. Ia justru tersenyum diam-diam melihat tingkah lucu kedua adiknya. Keduanya genap berusia delapan belas tahun ini. Tapi keduanya juga sama-sama cengengnya. Terkadang tingkah manja dan kekanakan mereka memang membuat Jaejoong kesal bukan kepalang. Tapi terkadang, hal itu bisa menjadi sebuah hiburan khusus yang mampu menghapus penat dan lelah di hati Jaejoong.

“Minnie! Berhenti! Jangan berlari-lari seperti itu!” seru Jaejoong. Mulai khawatir saat suara napas Sungmin yang tersendat terdengar sampai ke telinganya. Tapi kedua pemuda itu masih asik tertawa-tawa, melempar cibiran dan menjulurkan lidah satu sama lain.

Jaejoong tidak benar-benar ingin menegur keduanya, mereka sedang asik bermain dan ia tidak terlalu tega untuk mengganggu waktu luang Sungmin yang jarang diperbolehkan keluar. Selain itu juga, mungkin karena kelelahan, Jaejoong semakin mengirit suaranya dan memutuskan untuk memokuskan pandangannya ke depan.

Pohon-pohon jati semakin berkurang, kini bercampur dengan beringin dan tanah-tanah yang semakin lapang. Bulan di atas sana terlihat makin terang, jalan yang mereka tapaki semakin jelas dan Jaejoong mulai menangkap atap rumahnya yang tampak di ujung jalan. Bangunan rumahnya memang cukup besar, namun bentuk dan gayanya terbilang sederhana. Lagipula tidak ada rumah mewah di distrik Terran ini. Kemewahan hanya milik Meth. Jaejoong mencibir.

Hanya empat kamar tidur, satu ruang tengah, satu ruang tamu, dan satu dapur. Tidak banyak yang dibanggakan. Jaejoong malah dengan sengaja memaku jendela kamar Sungmin agar jendela itu tidak pernah terbuka. Tidak boleh seorangpun melihat ke dalamnya dan menyadari seorang pemuda bermata hitam tinggal dan tidur disana selama empat belas tahun terakhir.

Jaejoong mengeluh, ingin mengusir beban itu sesaat dari kepalanya. Bangunan rumahnya tampak makin jelas, tapi rupanya, malam ini Jaejoong tidak diizinkan menikmati ketenangannya. Ia yakin sekali melihat dua sosok tinggi berdiri di depan rumahnya. Di bawah penerangan sinar bulan, Jaejoong merasa sosok itu terlalu tegap untuk dikira adiknya.

Jaejoong menyipitkan matanya, berusaha memperjelas pandangan. Meyakinkan diri pada dugaan buruk yang baru saja melintas dalam benaknya. Tolong katakan dua sosok yang berdiri di depan rumahnya adalah Eunhyuk dan Kibum. Keduanya cukup tinggi dan selaras satu sama lain.

Tapi tidak. Jaejoong tahu lebih dari siapapun bahwa dua sosok yang berdiri di depan rumahnya memang dua orang yang paling tidak diharapkannya datang. Terlebih malam-malam dan saat Sungmin berada di luar seperti ini.

“Minnie!!” seru Jaejoong panik. Namun terlambat, Sungmin dan Ryeowook tidak mendengarnya, mereka sudah melangkah jauh di depan.

Sungmin terlalu asyik bercanda dengan Ryeowook, mereka saling mencubit dan mencolek lalu tertawa terbahak-bahak tanpa memperhatikan jalan di depannya sampai akhirnya—

BUGH!

Sungmin terhempas, ia jatuh terduduk dan matanya refleks terpejam karena kedutan di kepalanya.

“Aduuuh!” keluh Sungmin sambil memegangi keningnya. Dia pasti menabrak sesuatu yang sangat besar tadi! Haish! Salahkan Ryeowook yang mengajaknya bercanda tanpa memperhatikan jalan!

“H-hyung!”

Sungmin membuka matanya saat tangan gemetar Ryeowook menarik-narik lengan kemejanya. Pemuda berambut cokelat itu juga terduduk di sisinya, tampaknya ia juga menabrak sesuatu yang ditabrak Sungmin tadi dan ikut terjatuh begini. Tapi kenapa Ryeowook tidak kesakitan? Bocah itu malah mendongak dengan mata melotot!

“Aduuh! Keningku pasti bengkak! Salahmu nih!” Sungmin melotot kesal pada adiknya. Tapi Ryeowook tidak menjawab, ketakutan tampak jelas di wajahnya. Ia menggerakkan matanya, mengisyaratkan pada Sungmin untuk melihat sesuatu yang berada di depan mereka.

Sungmin hanya mendengus, bermaksud menempeleng Ryeowook namun urung. Ekspresi aneh Ryeowook semakin membuatnya merasa janggal, entah kenapa tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Jantungnya berdegup kencang. Melihat wajah ketakutan Ryeowook, ada ketakutan yang sama anehnya menelinap dalam hatinya. Dan hal itu seakan makin dipertegas oleh suara jerit panik Jaejoong di belakang sana.

“Minnie!”

Tidak. Sungmin tidak terpikir akan hal lain saat wajahnya seakan refleks memandang ke depan. Matanya membulat kaget melihat empat kaki berukuran besar dan panjang berdiri di hadapannya. Seakan bisa menduga makhluk macam apa yang memiliki kaki panjang yang besar itu, seakan ia mengenalinya. Namun anehnya, ada bisikan yang menyuruhnya untuk mendongakkan kepala. Makan Sungmin melakukannya, memberanikan diri menatap apapun yang sedang berdiri di depan mereka.

Sungmin tidak sempat terpikir tentang matanya sendiri, saat dua pasang mata itu menatap tajam dan rendah ke arahnya. Dan dalam perasaan terkejut yang menjadi-jadi, Sungmin balas mendelik. Tanpa sadar ‘menyerahkan’ seluruh rahasianya dengan memandang kedua sosok itu melalui bola mata hitamnya yang membulat lebar.

Tubuh mereka yang besar seakan menghadang Sungmin, memagari Sungmin dari rumahnya sendiri. Ekspresi keras dan sorot mata tajam itu balik memandangnya. Ujung cuping mereka meruncing, ciri khas yang begitu sering didengarnya tentang—

Meth!

Hanya mendengar, selama ini ia hanya tahu lewat cerita saudara-saudaranya. Dan kini, hebatnya Sungmin menemui mereka pertama kali dengan cara tidak menyenangkan seperti ini.

Kedua prajurit itu tampak terkejut juga saat mereka melihat ke dalam mata Sungmin, menembus kegelapan dan meyakinkan warna yang kelam itu bukan tipuan malam atau cahaya rembulan. Tapi sesaat kemudian, keduanya menyeringai. Keduanya yakin pada apa yang telah mereka lihat malam ini, kegelapan malam tidak akan mengurangi indera kaum Meth. Kemampuan yang begitu mereka banggakan. Mata Meth yang tajam.

“Minnie! Ini sudah malam, masuk ke dalam sekarang.” Jaejoong, yang sempat ikut tercengang, kembali tersadar dan segera mengambil tindakan. Ia melempar keranjang perkakasnya ke sembarang tempat, lalu berusaha menarik Sungmin untuk berdiri.

“Wookie, kau juga masuk.” Perintahnya dengan nada lembut, seolah-olah menghiraukan keberadaan dua prajurit Meth yang berdiri tegap di hadapan mereka. Jaejoong berusaha memasang tampang tenang. Meski sebenarnya hatinya tengan guruh, menggila.

Sungmin dan Ryeowook menurut. Mereka bangun dengan kaki gemetar. Namun baru sejengkal Sungmin melangkah, dua tangan sudah sigap menahan langkahnya.

Well, jadi pemuda cantik ini yang kau sembunyikan selama ini— Jaejoong?”

.

oOoOoOo

TBC

oOoOoOo

.

Ket :

Meth: Nama bangsa asli planet Methuselah.

Methuselah: Nama planetnya, bisa merujuk sebagai nama darah murni (asal mula) Meth.

Terran: Manusia, kaum yang berasal dari Bumi dan datang menumpang di Meth.

Kata Meth asli pelesetan dari pemikiran saya. Kalau Methuselah itu nama orang dengan umur terpanjang selama sejarah, ada di al-kitab, bisa di cari. Terus Terran sering dipake di game (Starcraft, Warcraft) untuk menjuluki bangsa manusia. Istilah Terran juga dipakai dalam komik-Novel Trinity Blood dengan makna yang sama.

a/n: Jadi ini versi rewritenya, satu chapter dulu. Secepatnya bakal nyusul yang lain. Jadi ada beberapa perubahan di dalamnya, dan semakin banyak tambahan. Sungmin bukan 16 tahun, wkwk miris saya kalo mikirin dia umur segitu udah harus bledung hahahaha😄

Buat yang bertanya-tanya, ada dua Kibum dalam fic ini.

Udah itu aja, monggo minta kritiknya.

89 thoughts on “(NEW) The Concubine – Chapter 1

  1. KYUMINTS says:

    Wah di re-write ya?
    Alur nya juga agak beda atau emang perasaan aku aja? Hehehe
    Well— aku yakin sih fiq karya mu emang selalu bagus dan pasti seru.
    Dan satu yang khas kamu banget. Cerita nya ga ketebak. Haha
    Mian aku comment ga pake akun, soalnya aku pun ga ada akun wp hehe
    Trus TC yang lama tetap dilanjut atau lebih ke New TC ini?
    Semoga bisa di update (lebih cepat) hehe
    Ganbatte!

  2. kyumin forever says:

    Yee versi rewrite akhirny mncuuul.. alurny jg agak beda.. mnrt aq lbh detail yg rewrite.. chap 2 eon dtunggu

  3. hani says:

    hi…
    saya selalu baca karya kamu yang ini.
    The concubin.
    malah saya sebar ke teman teman_yang sekarang jadi suka yaoi kekeke.
    kalo tidak salah part 16 saya terakhir baca_karena tidak ada kelanjutan,apa saya yang ketinggalan info. -____-“”
    saya harap saya bisa mengikuti kembali fanfic ini *0*/.
    bahkan kalau di jadikan novel saya mau beli !!!!
    keep writing😀
    kim hyde fujoshi

  4. MagnaeNunna says:

    Aq pernah baca yg versi lma. Tapi cuma part awalnya aj. Itupun udah lma banget. Jadi penasaran ama versi rewrite nya. Ditunggu,,,,

  5. BunnyEvilKim says:

    annyeong…wahhh ini kece banget sumpahh tapi kenapa emang dengan warna mata ming ? jadi penasaran😀 lanjut baca ne gomawo

  6. kyuminniewine says:

    qoh jujur aku baru baca the concubine, dulu pas baru muncul agak gmn gt sm genre fantasy, gara2 ga mau mikir ribet -__- tapi sekarang malah seneng banget sukaaaaa😄
    oke ditunggu chapt selanjutnya ;D

  7. kim sarang kyumin yeongwonhi says:

    eoh re-write kak..???
    oke jadi aku bisa baca dari awal…. ^^
    cos kmaren ga sempet baca dari awal…
    q suka fanfic” kamu kak…
    oke lanjuutt

  8. wow TC versi rewrite😉
    alurnya agak beda dengan yang pertama, tapi intinya tetap sama. salut…
    penasaran dngan chap-chap selanjutnya.
    di chap ini masih berkisar tentang penjelasaan keadaan dan perasaan minnie maupun sekitarnya.
    kalau diperhatiin lagi memang karakter minnie disini sepertinya mulai agak dewasa (sedikit) #yaiyalah sdh 18 thn.
    pokoknya semangat, ditunggu chap 2.

  9. gyumin137 says:

    wow TC versi rewrite
    plotnya agak beda dengan yang pertama tapi tetep menarik buat dibaca
    ini panjang banget tapi detailnya ga ilang
    lanjut chap 2 ditunggu😀

  10. Eeeh jadi ini re-write.a ya, ko klo di baca agak beda sama yg dulu ya. Cuma yg ini lebih detail seprtinya lebih di mengerti.
    Jadi sungmin bukan anak 16thn di sini ya keyaaa. Emang kasian klo sungmin hamil umur segitu
    Oke saya menunggu lanjutannya ^^

  11. Park Heeni says:

    pas dibilang mau rewrite TC aku kira cuma pengembangan aja, tapi ini agak beda, pengenalan tentang Meth lebih banyak. jadi penasaran chap 2, di TC versi lama kan disana ming ketemu ma Athena.
    next chap ditunggu ya ^o^//

  12. Dina Dindra Dini says:

    ini mah beda bgt dr versi lama. seinget aku versi lama lebih rumit dan kurang menceritakan dr sisi sungmin. tp versi baru ini lebih mudah dicerna jadi lebih enjoy bacanya tanpa harus muter otak buat memahami jalan cerita. alur yg ini jg lebih bagus.
    mudah2an chapter berikutnya gak lama2, masalahnya lumayan geregetan juga nunggu cerita ini dilanjut. apalagi aku penasaran bgt sama masa lalu kyumin. gimana pertama kali mereka ketemu sampe kyu jd terobsesi sama ming…

  13. Anisaaa says:

    Yeah, ini bakalan jadi sangaaaaat panjang
    versi re-write agak beda ya sama yang sebelumnya #emang tapi bagusdeh, yangini lebih detail
    lanjut qaqa

  14. Maximum_elf says:

    Emg agak beda ama yg lama(?),tp kan yg kmren udah nyampe chap 20,apa ini jg bkln rewrite ampe chap 20 baru dlnjutkan chap 21,,hrz brp lama nnggu’y?#tarik2bajuauthor gubrakkkkk#ditendang,
    y udh deh,apapun yg trjadi,lanjuttkannn#ehh

  15. winecouple says:

    Aduh itu TBC menganggu!!!
    Heum, Eon karna ini rewrite dan jujur Ama ngerasa baca FF baru soalnya Ama ga inget sama sekali sama chapter pertama The Concubine. Maafkan kapasitas otak Ama ya kkk, jadi Ama ga bisa nebak buat chapter selanjutnya.

    Deuh Ming mau 20 tahun nih, gapapa belendung di 16 juga padahal kkk

    Ini Jae udah jadi kekasih Yunho kan?😄
    Sampe sekarang Ama masih penasaran sama Kyuhyun yg ketemu sama Sungmin sebelum Ming jatuh cinta sama Siwon ==” itu kapan mau di ceritainnya Eon
    Ama lupa arti bola mata warna hitam bakalan kenapa kkk
    Pengen rasanya jodohin Kibum langsung sama Siwon, biar KyuMin ga ada penghalang huuuuu

    Kritiknya jangan update lama ya Eon kkk, di chapter rewrite ini banyakin KyuMin moments nya ya. The concubine yg bukan rewrite juga jangan lupa di lanjutin.

    Makasih buat FF rewrite nya, genre fantasy nya kerasa bgt Eon. Makasih buat update chapter 1 nya ya Eon! Ditunggu lanjutannya<333

    ps: FF inaudible, unspeakable lanjutin ya Eon. Ama jamuran nunggunya hoho~~~

  16. Liita says:

    yoooshh.. fiqooh sayaang.. wkw.. inii bedaa bangeet..

    aku suka ama kalimat pembukanya dimana ternyata itu adalah pov sungmin tentang planet juga meth dan terran nya.. kalo di versi lama kan fokusnya awal yg ngomong jaejong ya.. sungminnya baru muncul pas tengah akhir pas metik buah ama wookie.. dan tau” ditangkep aja kayak atasnya tbc dsini #tendang tbc TT

    ini lebih detail dan lebih mudah dipahami.. nice job!

    ohyaa.. tadi aku gtw itu typo ato bukan.. aku nemu 3 kata tentang angka yg berbeda.. pertama, waktu sungmin bilang :
    “Dan meskipun selama enam belas tahun
    terakhir ini… Sungmin tidak sungguh-sungguh
    menaati peraturan kakaknya dengan sepenuh
    hati..” tuh 16 tahun..
    yang keduaaa..
    “Jaejoong berdecak melihat tingkah adiknya, dua
    tahun lagi Sungmin akan menginjak usia 20..” ama “Jaejoong tidak menegur mereka kali ini. Ia
    justru tersenyum diam-diam melihat tingkah
    lucu kedua adiknya. Keduanya genap berusia
    delapan belas tahun ini” naaah kalo yg ini berarti umur min 18 sudah..
    yang terakhiir ituu..
    “Tidak boleh seorangpun melihat ke dalamnya dan menyadari seorang pemuda bermata hitam
    tinggal dan tidur disana selama empat belas
    tahun terakhir..” nah yg ini 14taun.. kalo yg ini sepenangkepku mungkin aja min tinggal bareng ama jaejong waktu uda umur 4taun.. tapi kan agak aneh kalo gitu..

    jadi aada 3 waktu umur yg bikin bingung.. hehehe..

    yang jelass.. versi ini baguuus.. jujur waktu baca yg versi lama aku agak bingung ama pov nya.. moga disini jadi lebih baik yaa ceritanyaa juga..

    okee gituu ajaa.. btw makasi ya uda follback.. nyaahh seneng banget! apalagi suju m comeback.. kkk~ well.. ditunggu kelanjutannya yaa fiqooh.. minaa minaa fighting!!! calanghaee.. :*)

    • Jadi dia mulai kabur-kaburan itu pas 16 tahun terakhir, niatnya mau kukurangin jadi 13 tahun. Soalnya umur dia kan 18, gak mungkin kan dia mulai kabur-kaburan dari balita. Wkwk, tapi iya sih, itu agaknya mau kubenerin lagi. Jadi 13, maafin banget aku emang suka gitu kalo urusan angka. Hehehe

      • Liita says:

        ehh aku typo juga.. -.- itu maksudnya kalo 13 berarti uda umur 5 ya min nya.. bukan 15.. wkw.. mianhaee.. kayaknya perlu abang kyu bener deh disisiku #ditendangmin

  17. Liita says:

    ahahah.. iyaa gpp kok~ ini komenku ga dobel kan? Kwatir ni.. maklum ol lewat hp kadang suka error” gitu..

    ohh jadi gitu penjelasannya.. iya iya ngerti.. wkw tapi iya kyaknya perlu tuh dganti jdi 13.. ya kali umur 2 taun uda keluyuran.. baru bisa jalan buu~ kalo 13 brarti uda umur 15 ya min nya.. uda agak masuk akal sih kalo kabur”an gitu.. hahah..

    trus jendela yg dpaku slama 14taun itu? min baru dapet kamar sendiri waktu umur 4 gtu ya.. itu masuk akal juga.. hehe..

    iyaa gpp, angka” gitu mah emang bikin ribet.. aku juga lemah ama angka.. TT mending konsultasi dulu ama abang kyu.. kkk~

    • Liita says:

      ehh aku typo juga.. -.- itu maksudnya kalo 13 berarti uda umur 5 ya min nya.. bukan 15.. wkw.. mianhaee.. kayaknya perlu abang kyu bener deh disisiku #ditendangmin

  18. ah, bahkan aku ga teliti mengenai angka kmrn….-_-
    aku g nyangka udh publish aja stlh km ksh tahu ttg fic ni ke aku…
    cepet ya….bagus lah..yg rajin ya dek…hehe
    cemungud cemungud!
    ditunggu kitty baby nya🙂

  19. TryasRistanti says:

    concubine ini fantasy fanfict yg keren bgd ud dr dulu, apalagi skrg mlh lebih di detailin lg alur, karakter dan ceritanya, malah bikin mirip 90% berasa baca novel yg ud d edit beberapa kali sm editor terkemuka….. #eaaaaaaa~~
    cuma aq emg ngerasa ky br baca ini cerita, wlpn sbgian besar inti cerita chpter ini sm ky dulu, tp mngkin ad beberapa yg km tmbhin atau gmn aq jg agak lupa, cm excited bgd km pny project rewrite ky gini, kkkkkk~~

    next chptnya d tunggu yh fiqoh, semangat!!!!!

  20. akhirnya publis jg yg baru…

    Partama penegn bilang, sejujurnya aku gak suka dgn mata satunya saeng… ngeganggu bgt… kenapa gak matanya 2 yg di tampilkan…

    Oke lanjut ke critanya… kalo isi ceritanya… selalu bagus lah… gak ada tulisan kamu yg gak oen suka satu pun.. smuanya di sukai…

    Karena udah lama banget baca yg chap 1 nya.. jadi hanya sekilas ingatan yang ad tentang chap terdahulu… tapi jka ingatan itu dibandingkan dgn New Chap 1 ini… terasa jauh lebih baik New Chap 1 ini…

    Dari pemaparannya juga lebih komplit dr pada yg dulu… perasaan mingnya jg lebih banyak di tulis… Critanya jd lebih jelas.. Berharap moga tdk begitu banayk misteri di dlam New TC ini…

    Kalo yg TC dulu, pastilah setiap chap nemu misteri baru… belum lg terungkap misteri 1 muncul pula yg baru… menarik sih… tapi bikin kepikiran terus tentang misteri itu…

    Lebih enak baca yg baru ini…..

    seingat oen di chap 1 yg dulu adegan yg di pasar itu gak ada kan??
    ming nya ketika jumpa dgn prajurt math itu pas pulg dr ladang kan… kalo yg New ini pulg dr pasar… benar gak??

    The last… sangat di tunggu New Chap 2 nya… smoga cepat di Publis…

    Smangat ya saeng nulis FFnya…

  21. Wyda Joyer says:

    Re write tc.
    makin luas nih kata2nya mesti baca berulang2 biar saya paham. Maklum IQ ga seberapa hehehe…
    tapi asli suka bgt sama ff the concubine. Masih menjdi ff favorite saya. Blom ada yg bisa gantiin hehehe…

  22. haelicious says:

    akhirnya re-write diposkan juga .
    panjang ya hahaha , apa dulu chapter pertama juga sepanjang ini ? :O
    banyak yang diubah ya ? dan umurnya ming juga ditambah hahaha
    ini re-write rasanya kayak mengingat kembali kisah” yang lama
    oh iya sama dari chapter” sebelumnya sempet bingung gara” ada dua kibum tapi gak apalah masih bisa diatasi .
    ditunggu chapter selanjutnyaaa🙂

  23. yg ini bahasanya lebih nyantai yah… walaupin gak ngilangin kesan penasarannya…
    dan dari sisi sungmin sendiri lebih jelas, yang kemaren gak diceritain pandangan ming terhadap keluarganya..
    kereen…
    ditunggu chap 2 tuk versi yg baru dan 21 tuj versi yg lama…

  24. vyan says:

    ahirnya di-post-in juga versi re-write..
    daebak sun… versi re-write kynya lbh jelas dr yg dl.. tp ttp kok sm2 bagusnya..
    btw, kok kibumnya sinis bgt ama minnie?
    ditunggu chap 2 nya sun… udh ga sabar…

  25. versi rewritex ya,,,bagus ceritax~jdi lbih ngerti tentang Sungmin soalx lbih jelas dsni^^~~~bgus jga umurx Sungmin dirubah jd 18^^~~ksian jga klo dsruh hamil diumur 16 tahun…^^

  26. madam mecca says:

    ahh… soal usia sempet buat kederrr…
    sebelumna ming khan emang 16th

    tapi diakhir story kamu menjelaskan semua…
    semakin oanjang sih nak, tapi semakintajam alurnya ceritanya…
    menjelaskan sisi sungmin sebelum terbelenggu jadi selir…

    dan soal Athena ama ming masih mau dibahas tuntas kah???
    makk ingin kisah ares ama ming ahh….

  27. sha says:

    woah… rewrite?? saya baru baca ni ff author nim.. hahahay..

    ternyata kece.. pantesan banyak yg suka. kkk~~~

    itu… ceritanya ming emang ‘disembunyikan’ gtu yak??

    oke penasaran..next dong authornim.. hehehe…

  28. Aaaah akhirnya bikin account di WP biar gampang komen di cerita ini, hehehe. Aku udah ngikutin The Concubine dari duluuu, waktu itu gak pake account WP dan cuman kasih nama nita. Tapi alamat email tetap sama hehehe~ Seru juga baca ulang dari awal, gimana gitu rasanya🙂 semangat yah updatenya…:D

  29. Yo! Udah ada versi Re-write’a😀.
    Ceritanya ada beda2 dikit dari yang dulu*yaeyalah==’. Tambah bagus kak mii🙂. Udah bagus panjang lagi. Puas bacanya!

    Ditunggu next chap’a ya kak mii😀

  30. Ayu Fitria II says:

    fiq, aku baru baca T^T
    well, overall ceritanya makin menarik ><
    maaf banget aku menemukan beberapa typo tadi hehehe
    oke sippp lanjut yahhh ne tc nya u,u
    ditunggu~~~ semangat😀

  31. Shofiy NSA says:

    Rewrite? Yang penting masih bisa baca.🙂
    Dari ada fict ini, saya udah suka banget! Selalu ditunggu bagaimana kelanjutan ceritanya.
    Ditunggu lanjutannya! Fighting!🙂

  32. 010132joy says:

    Rewrite’y dah ada, crita’y jg lmayan bda dr yg part sbelum’y lbih bnyak critain prasaan ming
    tp te”p krennnn
    hehe slm knal

  33. Hhuuuuuaaaaaa
    Min, kenapa tidak kau sembunyikan matamu itu???????
    Aaaaaaaaaarrrrrrrgggggggghhh
    Gagal deh rencana yg udh disusun jaejoong
    moga aja min ga diapa-apain

  34. Concubine rewrite! Astaga
    Dulu waktu aku ikuti dari awal mula adanya concubine sampe sekarang aja sudah bagus banget, apalagi sekarang direwrite lagi.. Wah, dobel bagus bangeett

    Di sini sepertinya kok aku merasa ada perubahan😐 atau memang aku yang lupa ya? (‾▿‾”٥)
    Versi ini yang jelas rapi dan runtut, dan semakin menambah rasa penasaran orang akan kelanjutannya

    Untuk cerita, komen gimana ya? Rasanya aku tidak bisa hanya komen seperti biasanya ._.

    Hanya menyayangkan tertangkapnya sungmin di sana😦
    Ugh…

    Oke.. Aku ga sabar sama kelanjutan baik cerita awal maupun versi rewrite :3
    Semangat \( ˙▿˙)/

  35. OMG ini cerita keren banget, kayak novel fiksi! Padahal baru chapter satu lho xD
    Ini the concubine versi baru ya? Baru aja selesai baca the concubine yang versi sampai chapter 20, keren banget, ternyata ada versi lainnya >< waaah ini bisa jadi alternatif buat bisa tau apa isi hati Sungmin :3 makasih author, sdh membuat cerita yg keren ini.harap dilanjut yaaa, sama yg the concubine satunya lagi :3 kalau sdh jadi novel aku mau banget beliii❤ maaf ya nggak punya akun wordpress🙂

  36. kenziekrist says:

    Wawww ini fanfic fantasy ya ? aku baru baca dan ini keren author~
    chap 1 aja udah penuh dengan misteri dan aku baca ini serasa baca novel
    hah gak sabar baca chap 2^^

  37. qq says:

    yg bukan rewrite bahkan aq belom baca. hehehe….
    lanjut ya miina…. meth itu sebenernya bangsa apa ya? kok ada cuping telinga segala??
    sepertinya aq harus baca yg bukan rewritenya biar ngerti. haha!

  38. ameamy says:

    tererengggggg akhirnya gua baru sempet bca TC verso re-write nya kkk~
    intinya sama, cmn sdkit prubahan dn trkesan lbih jelas hehe

  39. wah re-writenya gakalah keren *-*
    agak susah ngebayangin sungmin sama ryeowook ya. umur 18 tapi tingkah 7 tahun..
    jadinya malah ngebayangin shota-nya deh -_- /plak
    aku masih bingung arti dari warna matanya sungmin. apa istimewanya?
    terus kenapa kibum sikapnya gitu sama sungmin?
    lanjutkan kak! Ganbatte ^^

  40. hadnew says:

    ya ampunnn! seneng bgt nemu ni ff
    ..terakhir baca pas masihh di ffn(klo g slh inget),bnr gag sichh pernah updet disana?
    …thanks bgt ya
    d tunggu next updett

  41. whatchokyulate says:

    Detailyaaaa dn yg ini lebih panjang past. Kkeke

    Tdnya mw tnya tuh tntang knp umur umin beda dsni tp dh djwab dluah. Hhe

    Well, next aku tunggu lnjutannya asap ya. Hhe

  42. Megu_chan says:

    ff nya keren bgt eonni dan panjang bgt ^^ ada apa dgn warna hitam mata ming sebegitu spesialkah warna mata hitam ?? enggak sabar nungguin momen kyumin ketemunya ><

  43. kyuminnie says:

    Ooh yang rewrite ini lebih di perjelas asal usul semua nya ya.. tapi inti ceritanya tetep sama kayaknya..
    Chap 2 deh lanjut yaaa!!😀

  44. yuuhee says:

    Annyeong eonn…
    Aku baru kesini dan ini adalah fict pertama yang aku baca disini (aku penggemarmu di ffn btw😀 ) dan yeah, sebenernya aku penasaran sama The Concubine ini dari dulu, tapi dulu aku nggak pernah baca gegara takut nggak bisa ngomen… *sigh

    dan pas baca ini ?! Hell! Bagus banget !!! Suka banget sama fict ini !?! >< *gigit(?) Umin

    nextchaptnya ditunggu eonn… Kayaknya aku mau ngikutin yang ini ajah.. Kalo baca yang dulu entar keburu tahu lanjutan story nya… Kan kurang greget entarnya.. Hehe😀

  45. yuuhee says:

    Annyeong eonn…
    Aku baru kesini dan ini adalah fict pertama yang aku baca disini (aku penggemarmu di ffn btw😀 ) dan yeah, sebenernya aku penasaran sama The Concubine ini dari dulu, tapi dulu aku nggak pernah baca gegara takut nggak bisa ngomen… *sigh

    dan pas baca ini ?! Hell! Bagus banget !!! Suka banget sama fict ini !?! >< *gigit(?) Umin
    nah, aku malah penasaran kenapa Kibum sikafnya kayak gitu…

    nextchaptnya ditunggu eonn… Kayaknya aku mau ngikutin yang ini ajah.. Kalo baca yang dulu entar keburu tahu lanjutan story nya… Kan kurang greget entarnya.. Hehe😀

    yo yo yo ! Fighting eonn…🙂

  46. Chap ini lebih bnyak wwasan(?) ny ya… Alur crita ny jg beda, mdah2n si Min ktemu Kyu dluan.. Kkk themangat Thor… Karyamu daebbakk 👍👍👍

  47. ada The Concubine REWRITE ??
    anyway betul juga kalau sungmin 16 tahun kasihan
    di tunggu The Concubine REWRITE chap 2 dan The Concubine chap 21 thor🙂

  48. yang pasti ini jauh lebih panjang jelas lengkap menditail tapi cukup d mengerti.

    untuk duo kibum d sini awalnya saya juga bingung tapi lama2 saya mengerti kalau kibum yg menjadi adiknya kyuhyun itu kibum nya suju sementara kibum adiknya jaejong itu kibum aka key, apakah saya benar?

  49. Hmmmm…ibarat makanan, versi re-write nya crunchy😀
    Ditungguuuuu update nya ya sun
    , Oiaaaa makasih Ʊϑaђ mau berbagi karya yg indah milikmu. Semoga sukses.
    – Awlya Enggarh –

  50. Ohcholee says:

    Tadi pas subuh2 aku ga sengaja liat ff ini… Karna penasaran aku baca ver lamanya, tp langsung chap 20 hehehe dan ternyata BAGUS! Tapi waktu baca a/n serasa dunia runtuhh, kenapa di rewrite dan parahnya kenapa rewrite nya baru 1 ;-( aku menunggu kelanjutan ff ini chingu… Next please ;-( much sarang for you :-* hehe

  51. Wifeleeteuk says:

    huuaaa panjangggg sekaliiii….aku belum baca FF yg pertama nya sihh Kkkk jadi penasaran sekali sama kelanjutan nya xD SARAN dong sun mending baca yg sebelum nya apa nunggu ini? xD Biar gereget gitu xD
    di tunggu next chap nya….

  52. kyuminlovers says:

    Lanjuutttttttttttttt ,, aku suka abis ma ni cerita , suka smw nya dan pasti nya 규민 moment nya bikin deg”an aiiiisshhh , penasaran ! Di tunggu lanjutan nya ya ,,

    Salam kenal aku reader baru ! ♥

  53. cho minhyun says:

    Ada banyak yang dibedain ya author? Tapi ini lebih kece daripada yg dulu. Bahasanya sama penulisannya lebih bagus dan rapi. Orientasinya juga lebih bagus

  54. RinatyaLee JoYunjae Shipper says:

    Eonnie, hehehe Rin baru aja buka” cari ff KyuMin
    ehhh tgernyata nemu di blog eonnie,
    Rin skrng lari k blog aja dehh,, d ffn juga KyuMin ny dikit, Rin jg sesempetnya aja bakal mampir k ffn
    ohh iya, ini keren nihh,, lanjut ya eonn
    FIGHTING

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s