Cursed Crown | Chapter 10

1911649_377560242381965_510505914_n

 

Keduanya bercumbu hingga Sungmin tiba-tiba berhenti, Kyuhyun menyangka mate-nya kehabisan napas. Keningnya berkerut, kala Sungmin kembali memandangnya lama seakan tengah berpikir ingin melakukan apa. Kyuhyun mendapatkan jawabannya, begitu Sungmin kembali bergelayut manja padanya dan mendongak seduktif. Entah siapa yang mengajari bocah ini, Kyuhyun terkesiap saat Sungmin mengecup dagunya dengan lembut lalu naik ke pipi dan berakhir di pinggir bibirnya. Bocah itu menyelipkan tangannya masuk ke sela-sela kerah Kyuhyun dan mencoba mengusap dada Kyuhyun dari dari dalam.

Kyuhyun mengangkat wajahnya, membiarkan Sungmin bertindak sesuai instingnya. Tapi ia tidak menyangka mate kecilnya itu akan bertindak secerdik ini. Sungmin membuka dua kancing baju Kyuhyun, dikecupnya ceruk leher Kyuhyun sebelum ia kembali mendongak dan berbisik, “Jebal, hyung?” dengan mata membulat polos dan tangan yang terus mengusap dada Kyuhyun.

Kyuhyun mendengus, tidak berniat menolak dan menyambar bibir Sungmin sekali lagi.

“Bocah nakal.” ujarnya sembari menyeringai.


.

oOoOoOo

CURSED CROWN SPECIAL UPDATE

SUNGMIN’S ADVENTURE

.


Sore itu, Kyuhyun merasa tidak bisa memberi pilihan lain pada dirinya sendiri. Setengah tidak ingin menahan diri, dan di sisi lain, merasa bersalah pada Sungmin— Kyuhyun akhirnya luluh dan mengalah pada mate mudanya itu. Pesan ayahnya kembali terngiang di kepala… Selama ia berhati-hati, tidak apa-apa.

Tidak apa-apa.

Kalimat itu terus berbisik dalam kepalanya seperti mantra— Seperti mantra yang sedikit menolongnya untuk tetap bersikap tenang. Meski perlahan deru napasnya berubah panas. Dengan hati-hati ia beringsut mundur dan berbaring, membawa Sungmin bersamanya. Kyuhyun membiarkan mate-nya berbaring tengkurap di atas tubuhnya, ia mengerti kalau mate-nya itu masih kesakitan, tapi dengan permohonan setengah menuntut dari Sungmin, Kyuhyun benar-benar tidak bisa berpikir tidak untuk kali ini. Tanpa melepas kontak matanya dari Sungmin, Kyuhyun menyelipkan tangannya ke bawah kaus pemuda itu, perlahan menyikapnya ke atas— perlahan.

Sungmin melenguh, lalu merengut. Elf muda itu tampak tidak sabar.

“Cepat hyung~” tuntut Sungmin jengah.

Kyuhyun memutar bola matanya, “Sabar bocah.” Pikirnya ini mudah?

“Hyuuung!” Sungmin menggeliat makin tak sabar. Kyuhyun terlalu lembut saat menanggalkan pakaian atas Sungmin, membuat pemuda berperawakan mungil itu mencengkeram baju Kyuhyun dengan kesal dan berusaha duduk mengangkang di atas tubuh hyung-nya, bermaksud menanggalkan sendiri pakaiannya namun pedih di bagian bokongnya kembali berdenyut saat kulit-kulit sensitifnya yang terluka itu seakan tertarik.

“A-ah!” Sungmin berjengit.

“Sungmin-ah!” Kyuhyun dengan panik menahan bahu mate-nya. Pemuda itu melotot kaget, tidak menyangka Sungmin akan bertindak sendiri seperti itu. Ia beranjak ke posisi duduk dan membimbing Sungmin untuk berlutut dengan hati-hati di hadapannya.

“Bagaimana kalau kita ke tabib saja, ne? Setelah kau sembuh, kita bisa lanjutkan.” Kyuhyun mencoba menawar, tidak tega melihat ringis kesakitan Sungmin. Tapi apa yang dikhawatirkannya tidak sama seperti apa yang ada di kepala Sungmin. Snowelf muda itu terkesiap, ia menggeleng panik dan menggerung dengan suara memelas.

“Tidak mau! Pokoknya sekarang!” tuntut Sungmin dengan mata berkaca-kaca. Pemuda itu berlutut, bokongnya masih sakit luar biasa. Tapi hal itu tidak menghentikan Sungmin dari keinginannya. Tidak membiarkan Kyuhyun mengatakan apapun lagi, Sungmin segera menanggalkan pakaiannya dan melemparnya jauh-jauh. Kini tubuh kecilnya yang putih terekspos sempurna di hadapan Kyuhyun, potongan kaki kurus itu terbuka di antara lutut Kyuhyun yang berdempet lurus.

“Pokoknya aku mau sekarang!” putusnya mutlak dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca.

Kyuhyun tergagap, kebingungan, berusaha mengatakan sesuatu.

“Sungmin-ahhum—”

Namun Sungmin benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk menolak kala itu. Dengan beringas, bocah itu menyambar bibir Kyuhyun, menyesap kesana-kemari dengan serampangan. Gerak amatirnya tidak membiarkan Kyuhyun mengelak kemanapun kecuali untuk membalas perlakuannya. Sungmin menekan wajahnya makin dekat ke wajah matenya, ia merengkuh tengkuk Kyuhyun dengan dua tangan kecilnya, memaksakan sebuah balasan.

Kyuhyun menahan napas untuk serangan pertama yang tidak terduga itu, ia hanya terperangah dengan bibir terbuka, membiarkan Sungmin bertindak seenaknya. Hingga kesadaran Kyuhyun kembali. Sembari mendengus di tengah ciuman, Kyuhyun mulai meladeni lidah yang makin lama bergerak makin teratur itu. Tidak butuh satu menit, Kyuhyun berhasil meraih kembali posisi dominan diantara duel cumbuannya bersama Sungmin.

Bibir itu masih amatir, Kyuhyun sadar betul, tapi anehnya sensasi itu justru membuatnya merinding, mendorong hasrat terdalam di hatinya untuk terus menyesap, mengecap tiap bagian bibir Sungmin dan seluruh rongga di dalamnya.

Sembari menyeringai, Kyuhyun menarik pinggul Sungmin mendekat. Tahu ia tidak bisa kemana-mana lagi.

Dalam tiga menit selanjutnya, baik Kyuhyun dan Sungmin sudah seimbang dalam posisi sama-sama telanjang. Keduanya bergumul serius, Kyuhyun masih duduk dan Sungmin berlutut di hadapannya.

“Disini—” suara matenya terdengar seperti rintihan tangis. Tapi Kyuhyun tahu lebih dari siapapun apa yang dirasakan matenya sekarang, karena ia merasakan hal yang sama. Kyuhyun menyesap tiap jengkal bawah leher Sungmin. Dada mereka rekat tanpa jarak sedikitpun, lengket keringat yang menyatu semakin menambah gejolak aneh diantara keduanya. Seakan rasa-rasanya, mereka bisa mendengar suara detak jantung satu sama lain. Suara detak yang saling beradu, beriringan.

Dengan bibir yang terus sibuk mengecap tengkuk Sungmin, Kyuhyun menggunakan tangan kanannya untuk mengusap junior belia mate-nya. Sedang tangan kiri digunakannya untuk menahan bobot tubuh Sungmin yang kini bersandar padanya. Kyuhyun mengusapi bokong Sungmin dengan lembut, berusaha meringankan pedih di sana dan membiasakan matenya akan rasa sakit itu.

“U-uhng! Lagi, hyung~” Sungmin menggeliat, menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun dengan pasrah. Ia mengerang gelisah, mulai mencakari punggung Kyuhyun karena tidak sabar. Seperti mengisyarakan, Sungmin mulai merogoh-rogoh sela di bawah juniornya sendiri. Berusaha mengusir lengket dan gatal yang mulai meradang di bawah sana.

“Diam bocah. Atau aku akan berhenti.”

“Hyuuung~”

Kyuhyun terkekeh, berhenti mengusapi junior kecil matenya saat benda itu menegang dan cairan basah merembes di telapak tangannya. Setelah mengecup tengkuk Sungmin dengan sayang, Kyuhyun mengusapi punggung matenya, berusaha mengalihkan perhatian Sungmin saat ia memutar posisi mereka dan membaringkan matenya perlahan-lahan di bawah tubuhnya. Dan ajaibnya, Sungmin tidak merintih lagi saat bokongnya bertemu dengan lembut seprai, seakan tidak merasakan memar apapun di bagian bawah tubuhnya. Snowelf muda itu malah sibuk menggeliat, menggeser bokongnya ke kanan dan ke kiri lalu dengan susah payah mengulurkan jarinya di antara selangkangan, mencakar-cakar pahanya sendiri.

“Hyuuung!”

“Sabar, chagi.” Kyuhyun mengecup pipi Sungmin, berusaha menenangkan, lalu ia menggiring kecupannya kembali ke bibir matenya. Dengan beringas, Sungmin berusaha meraih bibir Kyuhyun, meraih apapun yang bisa dikecapnya dari wajah Kyuhyun. Matanya yang terpejam dan pipinya yang merona mengingatkan Kyuhyun pada bayangan seorang bayi merah yang kelaparan dan berusaha mendapatkan ASI. Kini Sungmin tampak persis seperti itu. Kelaparan.

“Padahal kau tidak diberi perangsang.” Kyuhyun berdecak. Mengerikan sekali.

Kyuhyun mengangkat sebelah kaki Sungmin, ia menyisipkan satu telunjuknya ke dalam rongga di bawah junior matenya. Rongga mungil yang licin dan basah itu terasa panas, menghisap telunjuknya masuk makin dalam. Kyuhyun memfokuskan pandangannya pada wajah Sungmin, hatinya terasa tegang saat baru saja ada bisikan yang menyuruhnya melirik ke bawah. Rongga kedua yang tersembunyi di bawah testis matenya itu meninggalkan satu memori aneh dalam ingatannya, hanya membayangkannya saja membuatnya merinding. Rasa panas, lengket, dan ketat yang bercampur menjadi satu. Kyuhyun menelan ludah, menggerakkan dua jarinya perlahan maju dan mundur.

Sungmin melenguh, suara desahannya berubah menjadi isak tangis kecil saat Kyuhyun menambah jumlah jarinya. Kyuhyun sempat panik, khawatir. Ia menarik jemarinya keluar saat Sungmin jelas-jelas menampakkan ekspresi tengah kesakitan.

“Minnie, apa ini sakit? Kita hentikan saja, ne? Chagi?”

Sungmin mengerang, marah. Ia menendang paha Kyuhyun dengan kaki kirinya. Tanpa menunggu respon Kyuhyun yang terkejut pada serangannya barusan, Sungmin menarik tangan hyung-nya itu dan kembali mendorong masuk telunjuk Kyuhyun ke dalam rongga tubuhnya. Menggerakkannya keluar masuk sesuka hati seakan jari Kyuhyun adalah benda mati.

“Lagi! Cepat!” tuntut Sungmin kesal sembari mendorong bahu Kyuhyun dengan kaki kanannya.

Kyuhyun benar-benar dibuat tercengang melihat kelakuan matenya itu. Tapi seperti dikendalikan, ia menurut dan terus melanjutkan gerakan jarinya.

“Setelah ini aku akan menghukummu lagi, bocah.” Kyuhyun mendengus kesal sembari mengubah posisinya. Masih dengan jari berada di dalam rongga tubuh Sungmin, Kyuhyun memposisikan dirinya di atas tubuh matenya. Kyuhyun mengerang, menahan napas saat dengan hati-hati ia memasukkan dirinya ke dalam tubuh Sungmin.

“Aaahh… hyuuunggg~” Sungmin mengeluh saat benda yang lebih besar dari jari-jari Kyuhyun masuk ke dalam liangnya perlahan. Namun tidak untuk lama, lenguhan nikmat itu berganti menjadi ringisan sakit. Semakin dalam Kyuhyun masuk, semakin terasa besar pula benda itu dan melebarkan rongga sempitnya, yang tentu saja menyakiti Sungmin.

“A-Ah! Sa-sakittt!” Kyuhyun mendesah antara nikmat dan kaget dan menghentikan gerakan mendorongnya saat tiba-tiba rongga hangat itu menjepit miliknya dengan kuat; seolah menolak untuk dimasuki lebih lanjut.

“Su-Sungmin-ah! Maaf! Sudah kuduga sebaiknya kita tidak—” Kyuhyun mencoba menarik mundur juniornya dengan tidak rela, namun sepertinya Sungmin lebih tak rela lagi. Kedua kaki Sungminsegera mengatup tubuh Kyuhyun, menahan hyung-nya agar tidak mundur.

Hyungaaaa… lagiiii… aku tidak apa-apa kok. Tapi pelan-pelaaann…” Bujuknya dengan merengek.

“Aish. Bocah ini…” Kyuhyun mendengus dan menggeleng heran. Namun napasnya tertahan, kaget saat merasakan jemari kecil menyentuh sebagian juniornya yang masih berada di luar tubuh Sungmin. Kyuhyun menarik napas panjang saat tubuh kecil Sungmin beringsut turun ke arah tubuhnya dan membuat juniornya masuk kembali liang hangat itu bersamaan dengan rengekan Sungmin yang tak menahan sakit.

Namun belum semuanya. Kyuhyun tahu Sungmin mencoba menahan rasa sakitnya demi dirinya. Eh bukan… sepertinya demi Sungmin sendiri. Kyuhyun membenarkan posisi berbaring Sungmin yang terlihat tak nyaman itu. Saat putra mahkota itu membaringkan mate-nya, Snowelf itu mencengkeram lengannya, takut kalau ia akan pergi.

“Sungmin-ah.” Bocah itu menggeleng dan menolak melepaskan tangannya saat Kyuhyun memanggilnya. Matanya berkaca-kaca entah karena emosi atau karena sakitnya. Pangeran itu menghela napas lagi sembari menatap wajah sedih itu.

“Baiklah kalau kau bersikeras. Jangan salahkan aku nanti.” Bisiknya pelan mengalah lalu menunduk untuk mengecup lembut bibir manyun itu.

Sambil berciuman, Sungmin mengalungkan tanganya ke leher Kyuhyun yang sedang sibuk memainkan nipple dan junior-nya agar ia lupa rasa sakitnya. Ketika pangeran itu dapat merasakan engahan napas memburu mate-nya dari ciuman mereka, Kyuhyun mendorong masuk seluruh miliknya yang sedari tadi sebenarnya tak sabar untuk bersatu dengan tubuh yang pasrah itu.

“NGGH!” Sungmin spontan menegang saat Kyuhyun menerobos masuk makin dalam ke tubuhnya. Snowelf itu melepaskan ciuman mereka untuk menarik napas dan meringis. Kyuhyun tak bergerak untuk membiarkan Sungmin terbiasa dengan ukurannya, dan agar dia tidak lepas kendali saat otot-otot dalam mate-nya yang lembut dan panas itu memijat juniornya yang sudah siap tempur sejak tadi.

Ia dapat melihat cairan putih menetes dari junior snowelf yang menegang itu ke perutnya yang putih. Ia menggosok daging yang mengeras itu untuk mengurangi rasa sakit Sungmin. Semakin ia menggosoknya, semakin banyak yang menetes keluar.

Uhhh… hyuuungg…

“Ne, chagi?” Ia bernapas sambil mencium dahi mate-nya yang masih muda itu.

“Kau besar sekali…” Komentarnya lugu. Kyuhyun hampir tersedak mendengarnya, namun ia tidak menjawab. Wajahnya merona. Bagaimana bisa bocah ini mengatakannya dengan begitu biasa?

Sungmin membuka mata hitamnya dengan heran ketika Kyuhyun membalik posisi mereka. Saat ini ia sedang duduk di perut Kyuhyun dengan tubuh masih bersatu. “Hyung?” tanyanya heran pada Kyuhyun yang berbaring di hadapannya.

“Bergeraklah, Min. Dengan begitu aku tidak akan menyakitimu.” Ucap Kyuhyun sambil mengelus kedua paha Sungmin yang berada di antara tubuhnya. Sungmin masih tidak mengerti.

“Naikkan bokongmu sedikit, lalu turunkan lagi. Dorong dengan tanganmu.” Kyuhyun meletakkan kedua tangan Snowelf itu ke atas dadanya.

Ragu-ragu, Sungmin mengangkat bagian bawah tubuhnya sambil meringis saat junior Kyuhyun makin keluar dari tubuhnya. Kyuhyun menahan paha Sungmin agar dia tidak menaikkan tubuhnya sampai juniornya itu keluar sepenuhnya. Sungmin menghentikan gerakannya.

“Bagus. Sekarang turun, Min-ah.” Sungmin turun menggunakan berat badannya lalu mengerang antara menyesal dan tidak saat milik hyungnya yang keras dan berdenyut itu mengisi liangnya dalam-dalam. Seluruh tubuhnya bergetar, Kyuhyun meringis nikmat saat tiba-tiba daging sensitifnya itu kembali dalam lubang hangat itu.

“Pelan-pelan saja Min-ah. Ulangi seperti tadi.” Ajar Kyuhyun padanya.

Dalam waktu singkat, Sungmin bergerak dengan lancar, menaik-turunkan tubuhnya sembari mendesah seirama dengan napas Kyuhyun. Setiap Sungmin bergerak, Kyuhyun juga membantu dengan menaik turunkan pinggangnya juga.

Melihat bocah Snowelf ini melakukan hal yang asusila dengannya seperti ini membuat Kyuhyun merasa sangat berdosa, seperti paman-paman mesum di luar sana yang menipu dan menodai anak kecil yang masih polos dan lugu. Padahal mereka memang sudah menjadi mate.

Perlahan Sungmin mulai merasa pusing, gerakannya menjadi semakin tak beraturan. Perut bagian bawahnya terasa tegang dan nyeri, menandakan bahwa hampir saatnya dia datang, begitu pula dengan Kyuhyun.

Gerak Sungmin yang berirama pelan tak menentu itu menyiksanya perlahan. Dia tak berniat menahan lama-lama hasratnya yang membuncah di bawah sana. Sungmin menurunkan tubuhnya untuk yang terakhir kali lalu mengejang dan mengerang saat junior hyungnya itu memukul tepat ke daerah ternikmat di dalam tubuhnya dan membuatnya mencapai puncak. Kepalanya terkulai kebelakang dengan dada mengarah ke depan. Kedua nipple-nya yang kecil itu tegang dan tangannya mencengkeram dada Kyuhyun. Kyuhyun harus menahan kedua tangannya agar ia tak jatuh ke belakang.

“AAHYUUNGHH!” cairan putih menyembur dari juniornya ke dada Kyuhyun yang mengerang nikmat dan kaget saat liang Sungmin menghimpit juniornya dengan sangat ketat dan basah.

Ahh—” Kyuhyun mengeluarkan cairannya di dalam tubuh kecil itu tanpa sengaja, dan tentunya tak bisa menghentikan saat-saat penuh kenikmatan itu. Apalagi berat tubuh Sungmin menahan dirinya berada tetap ditempatnya. Tidak mungkin Kyuhyun mendorong tubuh mate-nya menjauh.

Sungmin mengerang tak mengerti saat merasa sesuatu yang cair dan hangat membasahi tempat bersatu mereka dan mengisi perutnya. Ia terkulai di dada Kyuhyun, lemas dan terengah-engah. Kyuhyunpun menyerah pada kenikmatan fisik itu dan mencoba melupakan apa yang seharusnya tidak ia lakukan tadi. Tapi saat ia terbangun nanti, Kyuhyun tidak akan setenang ini memikirkan kesalahan yang sudah terlanjur dibuatnya.


.

oOoOoOo

.


Kyuhyun membenahi seprai tempatnya berbaring sesaat yang lalu. Ia melapisi bagian atas ranjangnya dengan sebuah kain bersih yang baru, lalu dengan hati-hati Kyuhyun memindahkan tubuh matenya ke atas sana, berusaha tidak mengusik Sungmin dari tidurnya.

Bocah itu menggeliat, merasa diganggu, namun dengan cepat pula ia kembali tertidur sembari memeluk selimut biru yang melindungi tubuhnya. Sungmin berbaring dengan posisi melengkung, dan punggung putih penuh bercak merah itu kembali terekspos di hadapan Kyuhyun. Dengan canggung, Kyuhyun membenahi selimut Sungmin hingga tubuh belia itu kembali tertutup hingga ke tengkuknya.

“Hyuung~” igau Sungmin dengan bibir mengatup, hela napas panjangnya terdengar jelas, membuat Kyuhyun terkekeh. Dengan sayang, diusapnya kening Sungmin yang basah oleh keringat. Bocah ini pasti kelelahan.

Matahari sudah naik, hari ini, Kyuhyun bangun pagi-pagi sekali. Mengingat setumpuk pekerjaan yang belum diselesaikannya, Kyuhyun bergegas mandi membersihkan diri. Dalam satu jam, ia sudah siap mengenakan pakaian dan jubah kebesarannya.

Selama dua minggu terakhir, Kyuhyun mulai terbiasa dengan rutinitas paginya. Biasanya Sungmin selalu bangun jauh lebih awal darinya, bocah itu akan merengek, meminta ditemani bermain dan memaksa Kyuhyun meninggalkan seluruh pekerjaannya. Kyuhyun yang semakin lama semakin kesulitan menolak trik cerdik Sungmin, terpaksa melaksanakan tugasnya sembari menemani mate-nya bermain.

Tapi hari ini tampaknya Sungmin tidak berniat meninggalkan ranjangnya, pemuda itu menggeliat risih dan sempat mengerjap, seakan terbangun namun sekejap kemudian ia akan tertidur kembali dengan begitu pulasnya.

Kyuhyun menghela napas, setengah merasa iba. Ia tidak langsung pergi, tidak ingin meninggalkan Sungmin dalam keadaan tak sadar seperti ini. Kalau mate-nya ini terbangun dan sadar Kyuhyun tidak ada di sisinya, Kyuhyun yakin sekali bocah ini akan menangis meraung-raung. Tapi setelah ditunggu berjam-jam, Sungmin tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera terbangun.

Jujur saja, hal pertama yang sampai dalam otaknya saat ia bangun pagi ini adalah— tubuh mereka, tubuhnya dan tubuh Sungmin masih bersatu. Kyuhyun kaget bukan kepalang. Tentu saja ia tidak mungkin melupakan aktivitas yang sudah terlanjur mereka lakukan semalam, dan itu bukan hal yang disesalinya. Tapi bagian paling mengerikan dari semua itu adalah—

Kyuhyun melupakan pesan ayahnya.

Ia tidak membebaskan diri, dan membiarkan spermanya membaur di dalam tubuh mate-nya. Kyuhyun menelan ludah mengingat interaksi seksual pertama mereka sukses menghasilkan seorang bayi— yang kini tiada. Kyuhyun tidak berani membayangkan, bagaimana jadinya kalau Sungmin benar-benar mengandung lagi karena kecerobohannya tadi malam.

Kyuhyun yang setengah panik langsung memberi jarak bagi dirinya dan mate-nya, lalu terburu-buru mandi membersihkan diri. Dan tampaknya air hangat yang membasuh tubuhnya subuh tadi berhasil membuatnya sedikit rileks dan berpikir jernih.

Sungmin tidak akan mengandung lagi, mungkin saat pertama dulu adalah masa subur bocah itu. Lain kali ia akan berhati-hati.

Tapi kalau mate-nya benar-benar mengandung lagi…

Jadilah!

Kyuhyun siap memberikan perhatian dan proteksi ekstra kalau mate-nya sampai hamil karena kesalahannya tadi malam.

Kyuhyun merutuk lagi, bukan ia tidak ingin menimang bayi. Tapi mengingat kondisi dan usia Sungmin… Ia harus berpikir matang sebelum memutuskan memiliki keturunan.

Kyuhyun berlutut di sisi matenya, sekali lagi diusapnya keringat di kening Sungmin. Bocah itu mengerutkan dahi, Kyuhyun terkekeh. Tapi ia harus membangunkan Sungmin sebentar saja, setidaknya mate-nya harus tahu ia pergi untuk sementara waktu.

“Min-ah?” Kyuhyun mencubit pipi Sungmin, membuat pemuda snowelf itu mengerang marah dan menampik tangannya.

“Ish!”

Kyuhyun terkekeh senang, justru mencubit pipi matenya makin kencang. Sungmin mengerang lagi, bocah itu mendengus tak senang dan memberi aba-aba akan menangis sebentar lagi. Kyuhyun buru-buru menghentikan penyiksaannya, ia mengusapi pipi putih Sungmin yang memerah. Lalu tangannya bergerak turun, berpindah ke pinggul mate-nya.

“Apa masih sakit?” tanyanya setengah berbisik di telinga Sungmin. Bocah itu menjawab dengan gelengan malas, lalu kembali menyamankan diri dengan memeluk sebelah lengan Kyuhyun.

“Masih lelah?” tanya Kyuhyun lagi, dan Sungmin menggeleng lagi.

Hyung harus mengerjakan sesuatu, kau disini saja ya.”

Sungmin mengerang, memeluk lengan Kyuhyun makin erat. Matanya masih terpejam, ia masih mengantuk namun telinganya tetap fokus mendengar apa yang barusaja dikatakan Kyuhyun.

Hyung mau kemana? Aku ikuuut!” keluhnya sembari menguap, Sungmin menarik tangan Kyuhyun dan menggunakan lengan itu sebagai bantalnya untuk mencegah agar Kyuhyun tidak pergi kemana-mana.

“Kau masih mau tidur,kan? hyung harus pergi sebentar, siang nanti aku kembali. Jangan nakal, ne?”

“Aaah! hyung-aaaah!”

Kyuhyun menghela napas, berusaha melepaskan tangan Sungmin pelan-pelan. Ia kembali memutar otaknya untuk mencari alasan, hingga tiba-tiba ingatannya kembali pada kejadian tadi malam.

“Aku harus bekerja. Kalau tidak, raja akan melarangku memberikan ‘itu’ lagi padamu.” Kyuhyun berdehem saat mengatakannya, pipinya sedikit memanas. Merasa malu pada diri sendiri kenapa ia harus menggunakan alasan ini.

Sungmin mendesah panjang, dan Kyuhyun tidak menyangka alasannya barusan berhasil membuat Sungmin meregangkan pelukannya. Kyuhyun segera menarik tangannya dan kembali membenahi selimut Sungmin.

“Nanti akan ada pelayan datang. Setelah bangun, segera mandi dan makan, ne!”

Sungmin hanya mengangguk-angguk. Ia berbalik memunggungi Kyuhyun, berpura-pura kembali terlelap sembari terus mendengarkan aktivitas Kyuhyun di belakangnya. hyung-nya itu berjalan ke arah lemari, entah mengambil apa sebelum kembali lagi berdiri di sisinya.

“Ada kelinci di taman depan. Jangan main jauh-jauh.”Panas napas Kyuhyun berhembus di tengkuknya, Sungmin menahan geli dan suara kekehnya dengan mendengus. Sebelum pergi, Kyuhyun mengecup pipi kanan Sungmin, membuat pemuda snowelf itu mengerang dan mengendikkan bahu dengan gestur mengusir. Kyuhyun kembali berpesan tentang sesuatu sebelum terdengar suara pintu berderit tertutup, namun Sungmin mengabaikannya.

Terlalu banyak ceramah. Pikirnya.

Setelah yakin dirinya benar-benar sendirian di dalam ruangan itu, Sungmin segera menyikap selimut yang menutupi tubuhnya dan mengintip ke arah pintu.

Pintu itu tertutup. Kyuhyun-hyung sudah pergi.

“Aku tidak mau mandi, wek!” ujarnya sembari menjulurkan lidah pada pintu yang tertutup itu. Sungmin bangun dengan hati-hati, ia menarik selimut itu untuk menutupi tubuhnya sembari bergerak turun. Bokongnya masih panas dan pedih, tapi Sungmin tidak pernah tahu kalau setelah melakukan hal itu ia akan merasakan pedih yang jauh lebih menyakitkan. Sungmin baru mengingatnya begitu ia memijakkan kaki bermaksud berdiri.

“AH!” Sungmin berjingkat dan kembali terduduk di ranjangnya. Bagian di antara selangkangannya terasa ngilu. Pemuda itu meringis dan berusaha menahan tangisnya, baru saja ia ingin berteriak dan meraung, memanggil nama Kyuhyun. Tapi sadar hyung-nya tidak akan kembali secepat itu, Sungmin menahan tangisnya dengan menggigit bibir. Ia harus menghemat airmatanya untuk dipakainya di depan Kyuhyun.

“Aah! Sakit, hiks.” Keluhnya pada diri sendiri sembari memijati daging pahanya. Sepertinya keputusan Sungmin untuk tidak berteriak, sedikit menolongnya mengurangi rasa sakit itu. Setelah merasa sedikit rileks, ia berjalan menyeret langkah, terpincang-pincang dan meringis.

Tanpa mengabaikan pesan Kyuhyun, Sungmin langsung membuka lemari pakaiannya. Memilah beberapa baju yang tipis dan sebuah jubah kecil untuknya. Ia tidak mau mandi, dan Sungmin bersungguh-sungguh pada niatnya itu. Langsung saja dikenakannya pakaian itu, mungkin ia akan mencuci wajahnya nanti. Tapi nanti, kalau ia sudah ingin.

Sekarang Sungmin beralih ke meja di tengah ruangan. Piring-piring makanan sudah tersaji dan asap masih mengepul di atasnya. Nasi, daging, buah-buahan, sayur-mayur. Sungmin hanya menyentuh beberapa potong daging dan mencibir tak senang ke arah sayuran.

Harus berapa kali ia mengatakan bahwa dirinya tidak menyukai sayuran? Makanan itu tidak enak.

Sungmin mengunyah sembari mengeluh dalam hatinya. Ia melahap makanannya sembari berdiri, sadar kalau bokongnya masih terlalu memar untuk digunakannya duduk di atas kursi kayu yang kini tampak seperti kursi berduri itu.

Sungmin mengernyitkan keningnya, saat disadarinya keberadaan secarik kertas dengan tulisan yang indah dan rapi tergeletak di bawah piring sayuran. Diukir dalam aksara Hviturland, Sungmin dengan cepat memahaminya dan mencibir seketika.

Mandi, pakai obat ini, setelah itu makan yang banyak! Jangan nakal!’

“Sudah kubilang tidak mau mandi!” serunya kesal sembari menghempas kertas itu. Sungmin hanya meraih dua butir obat yang tergeletak di dekat gelas minumnya. Kalau ada Kyuhyun disini, ia pasti sudah akan merengek menolak meminum obatnya. Tapi karena ia harus melalui waktunya sendiri selama beberapa jam ke depan, dengan dewasa Sungmin memutuskan untuk meminum dua butir obat hitam berbau sangir itu.

“Wek, tidak enak!” jeritnya kesal sembari menyambar gelas minum dan meneguk air sebanyak-banyaknya. Pemuda itu nyaris menangis, mengecap pahit yang tidak kunjung hilang di ujung lidahnya. Tapi ia menahannya, Sungmin sudah terlalu lelah bahkan hanya untuk meneteskan airmatanya.

Sungmin sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menjahili Kyuhyun karena menyuruhnya meminum obat yang pahit lalu meninggalkannya sendiri disini! Kenapa Kyuhyun tidak bisa meninggalkan pekerjaannya saja, sih!

“Nanti akan ada pelayan datang kan?” bisik bocah itu sinis sembari berjalan pelan mengitari meja, mencoba membiasakan diri dengan rasa sakit yang masih menjalar di belakang tubuhnya.

Hyung menyebalkan!” Sembari memekik kesal, Sungmin menghempas teko air di atas meja hingga isinya berhamburan ke mana-mana. Belum puas dengan itu, ia melempar gelas kosongnya hingga benda itu menghantam dinding lalu hancur berkeping-keping. Suara ribut kaca yang pecah itu sedikit mengurangi kekesalan hatinya, lalu Sungmin mengakhiri pelampiasannya dengan melemparkan piring berisi sayuran, yang isinya ikut menghambur dan piringnya ikut hancur di atas lantai.

Menghela napas puas, Sungmin beranjak menuju meja kerja Kyuhyun. Ia duduk dengan tertatih-tatih di kursi mate-nya itu. Kursi itu punya lapisan yang empuk dan sedikit meringankan sakit di bawah bokongnya. Sejenak, ia beristirahat disana. Bersandar ke belakang sembari menatap seisi kamarnya. Mencoba menemukan sesuatu yang bisa digunakannya untuk mengisi waktu luang.

Tapi rupanya, tidak ada yang menarik di dalam kamarnya ini. Sungmin malah merasa makin muak berada di sana. Ruangan yang terlalu monoton ini, harusnya didominasi oleh warna cerah. Pink!

Sungmin terkekeh-kekeh makin senan. Ia menemukan sebuah pena tinta berwarna merah muda di atas meja kerja Kyuhyun. Dengan bersemangat, diraihnya pena bulu yang indah itu. Mungkin ia yang perlu mengubah warna dinding kamarnya, menggunakan pena ini?

Dengan antusias berlebih, Sungmin melirik seisi meja Kyuhyun. Mulai mencari-cari di setiap laci, tapi pada akhirnya tangan kecilnya meraih setumpuk kertas bertuliskan aksara Radourland di atas meja. Awalnya, Sungmin tertarik untuk mengeja tulisan besar yang berada di lembar teratas itu.

“La-pp-lap? Pau? Ran?” tebaknya ragu. Sungmin menggaruk tengkuknya dengan ujung pena bulu yang membuatnya geli itu, tiba-tiba merasa kesal dan memutuskan untuk berhenti memusingkan huruf-huruf membingungkan itu. Ia kembali meletakkan kertasnya di atas meja, tapi bukan untuk diabaikan.

Sungmin memegangi ujungnya, ia kembali melirik rak peralatan tulis Kyuhyun dan memutuskan untuk mengambil seluruh botol tinta berwarna dari sana. Ada merah, hijau, kuning, biru, cokelat. Sungmin mengguncang-guncangtoples kaca kecil dan transparan itu, hingga cairan warna-warni di dalamnya bergerak-gerak. Pemuda itu terkekeh senang, lantas ia mulai berkarya di atas kertas yang sudah bertulis itu.

Awalnya garis-garis yang ditarik oleh kreasi tangannya membentuk, lumayan bisa dikenali. Tapi kemudian Sungmin merasa kecewa sendiri pada hasil gambarnya, hingga ia meremas kertas itu dengan jengah dan membuangnya jauh-jauh. Beralih dengan kertas barunya, Sungmin tiba-tiba teringat pada masa-masa ia masih tinggal di istananya dulu. Umma sering menemaninya bermain, mengajarkan cara melipat-lipat kertas—

Tanpa sadar, tangan Sungmin mulai bergerak, menekuk dan menekan kertas itu saat benaknya tengah merindukan rumah yang berada jauh di sebrang negeri. Tak lama berselang, Sungmin menghela napas panjang dan tersenyum lebar melihat hasil ciptaan tangannya. Sebuah bangau kertas yang indah!

“Bangau salju!” pekiknya senang sembari menuliskan ‘snow’dalam aksara Hviturland di sisi sayap bangau itu. Dan imajinasinya kembali dibawa pada masa lalu, saat Siwon-hyung mengajaknya bermain mengitari langit Hviturland, melihat danau kala membeku, dan berburu bangau di dekat hutan salju. Memori yang menyenangkan! Ia ingin menaiki Sleipnir lagi!

Dengan semangat yang kembali menggebu, Sungmin membuat dua belas bangau kertas lainnya yang kemudian menulisinya dengan berbagai nama. Lalu Sungmin berusaha mengingat-ingat kembali kreasi lain yang diajarkan oleh ibunya, tidak berselang lama, kertas-kertas lain sudah berubah menjadi bentuk-bentuk bunga dan hewan-hewan yang lucu.

Puas dengan hasil kerjanya, Sungmin menyusun seluruh kreasi kertasnya di atas meja Kyuhyun. Ia berkacak pinggang dan menunduk menyaksikan benda-benda itu dengan perasaan bangga.

“Satu dua tiga—” pemuda itu menghitung hasil karyanya satu persatu. Ia mengangkat bangau kertasnya yang berukuran paling besar, sembari terkekeh, ia mulai menuliskan kata ‘Kyuhyun’ dalam aksara Radourland di kedua sisi sayap bangau yang akan menjadi bangau kesayangannya itu. Lalu Sungmin kembali meletakkan bangaunya di tengah, menyusunnya kembali sedemikian rupa agar origami-origami lainnya tampak mengelilingi bangau bertuliskan ‘Kyuhyun’.

Lama bocah itu duduk tenang disana, memandangi hasil kerja tangannya sembari menyusunnya berulang-ulang. Namun semakin lama tentu saja Sungmin mulai merasa bosan. Sekali lagi ia memutar pandangan, tapi tidak lagi menemukan apapun yang menarik perhatiannya. Kecuali jendela, jendela yang terbuka dan mengirim angin luar berhembus hingga ke dalam. Sejenak, Sungmin melamun memandangi pohon besar di luar sana yang tampak dari balik jendela. Lalu tiba-tiba ia teringat pada pesan hyung-nya.

“Ah! Kelinci!” serunya girang sembari tergopoh-gopoh keluar, sudah melupakan rasa sakit yang entah sejak kapan mulai pudar dari tubuhnya.


.

oOoOoOo

.


Sungmin berjalan dengan sedikit susah payah karena bagian bawahnya masih terasa aneh, kaku walau rasa sakit itu mulai hilang sejak ia meminum obatnya tadi. Ia tidak bisa berlarian dan melompat-lompat kecil dengan bebas seperti yang biasa dilakukannya sejak diberi ‘kebebasan’ di Radourland. Pangeran kecil itu melewati lorong-lorong yang dijaga oleh prajurit, hingga langkah membawanya keluar lorong besar dan menuju taman tempat dimana Kyuhyun biasa menemaninya bermain kelinci. Sungmin sudah hapal rute ke sini. Di sini tidak ada penjaga yang akan mengganggunya.

Snowelf belia itu merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara segar taman sembari memejamkan mata. Mana pernah ia merasakan udara sesegar ini di negerinya sendiri. Di sana, es tumbuh dengan abadi. Oksigen yang minim dan cuaca selalu dingin. Seluruh saudaranya dan penghuni negeri lainnya, memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa! Mereka bahkan tidak butuh jubah untuk menghangatkan diri, jubah di negerinya berfungsi sebagai pelindung agar tubuh tidak penuh ditempeli bulir salju.

Snowelf tidak akan mendapatkan embel-embel ‘salju’ di depan nama bangsanya, jika mereka tidak bisa hidup dalam dunia es selama ribuan tahun. Tapi Sungmin berbeda. Ia harus mengenakan mantel dan jubah berlapis-lapis untuk melindungi tubuhnya.

Kadangkala ia berpikir, apa hal itu yang membuat ayahnya benci padanya?

Sungmin menghela napas dengan murung. Tapi ia tidak berniat memikirkan hal itu lebih lanjut. Snowelf belia itu kembali mendongak dan mengagumi langit cerah di atas kepalanya.

Di Radourland ini, udara terasa begitu segar. Dihasilkan langsung dari pohon dan daun-daun, sengatan matahari juga sama sekali tidak melukainya…

Ah… Sepertinya ia mulai menyukai negeri ini. Atau memang ia memang ditakdirkan untuk tinggal di tempat ini?

“Momo! Sini sini siniiii!”

Sungmin memekik girang saat dilihatnya seekor kelinci belang abu mengintip dari balik semak. Makhluk lucu favoritnya itu begitu patuh dan melompat mengejarnya. Sama bersemangatnya, Sungmin berlari untuk menyambut Momo.

Mungkin karena bosan pada putih, hitam, dan biru yang selalu mendominasi negeri kelahirannya, Sungmin mulai terobsesi pada warna-warna cerah lain. Ia tidak terlalu memfavoritkan kelinci seputih salju, tapi khusus untuk kelinci lain yang berwarna terang, gelap, dan abu-abu, Sungmin rela menghabiskan waktunya sedikit lebih lama hanya untuk berlarian mengejar mereka.

Sesaat, Sungmin mengeluh kesal karena Momo yang balas dikejarnya malah berbalik ketakutan dan kembali bersembunyi di balik semak. Tapi tidak menyerah, Sungmin beralih pada kelinci lain yang berbulu hitam dan kini ia dengan sukses menangkapnya.

Sungmin memekik kegirangan, ia memeluk Mino sembari berbaring di atas rumput dengan napas terengah. Pemuda itu mengerang, karena berlarian tadi, kini sakit di pinggangnya kambuh lagi.

Sungmin memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ia duduk di rerumputan dan mulai bermain dengan kelinci-kelincinya, berbincang kecil dengan beberapa ekor kelinci yang mendekat padanya dan seekor yang mulai menggeliat meminta kebebasan di atas pangkuannya.

“Minnie buat sayur untuk kamu. Ayo makaannn…” Ujarnya sambil menyuapi dua helai daun yg ditabur bunga-bunga pada kelinci itu.

Setengah jam berlalu, Sungmin mulai merasa bosan karena bermain sendiri di taman itu. Ia memutuskan untuk melepaskan kelinci malang yang sejak tadi memberontak dalam cengkramannya.

Sungmin terbangun dengan bibir manyun. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi untuk menunggu kepulangan hyung-nya. Snowelf itu melangkah pergi, membawa diri kemanapun kakinya melangkah tanpa tujuan yang jelas.

Kerajaan Radourland sangat besar. Sungmin berkeliling-keliling membuat para penjaga bertanya-tanya apa yang dilakukan Pangeran Muda itu di sana.

“Tuan muda, apa anda tersesat?”

Sungmin tersinggung mendengarnya.

“Aku cuma mau jalan-jalan! Huh!” Jawabnya ketus sembari memutar langkah dan berjalan menjauh dengan cepat.

Sungmin sampai di balairung kerajaan yang sangat luas; tempat itu dialasi karpet merah dengan totol macan yang mewah. Di dinding, lukisan-lukisan raksasa menghiasi ruangan. Sungmin menengadah untuk memperhatikan lebih banyak benda hingga lehernya terasa sakit. Di atas singgasana raja, terpajang lukisan para penggerak kerajaan dari generasi ke generasi. Tentu saja negaranya juga memiliki ruangan semacam ini. Hanya bedanya, ratu yang mendampingi raja dalam lukisan bisa lebih dari satu. Siklus hidup snowelf yang panjang membuat Hviturland tidak memiliki silsilah raja sebanyak Radourland. Seorang raja di negrinya bisa memerintah hingga seribu tahun lamanya, itu yang terlama, kalau ia tidak salah ingat.

Tepat di tengah dinding, di atas singgasana raja, Sungmin mencibir lukisan yang cukup familiar baginya. Itu Raja Kangin, dilukis seorang diri dengan seluruh atribut mewah seorang raja.

“Huh. Lukisan pembohong. Ahjussi gemuk itu tidak setampan di sini kok!” Komentarnya seraya melipat lengan di depan dada. Ia memandang lukisan yang terpajang di sebelah lukisan Kangin, lukisan seorang wanita cantik dengan rambut bergelombang yang belum pernah dilihatnya. Tidak mungkin ini noona Kyuhyun hyung kan? Tapi kenapa dia belum pernah bertemu dengan orang ini?

“Huh. Dia siapa sih? Aku akan memarahinya kalau bertemu nanti karena tidak menyapaku!” Snowelf itu menggerutu lagi. “Kenapa seluruh noona-nya hyung sombong sekali!”

Kemudian karena tidak ada lagi lukisan lain untuk dikomentari. Sungmin mulai berjalan kembali. Meski Sungmin tidak cukup dewasa, tapi Junsu-eomma selalu mengatakan kalau Minnie itu cerdas!

Dalam langkahnya ia mulai bertanya…

‘Lalu…Teukie-eomma siapa? Bukannya dia… Hmmm…’ Sungmin menggosok dagunya dengan ragu. Memang sih, Leeteuk tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai Ratu kepada Sungmin. Dia hanya… selalu ada di sana. Berada di dekat raja. Dan bukankah itu tugas seorang ratu? Menempel-empel pada raja, berbisik-bisik.

Dan yang terpenting, Teukie-Eomma baik pada Minnie! Tapi entah kenapa Kyuhyun-hyung membencinya.

Sungmin melangkah terus mengikuti arah cahaya matahari. Saat ia melihat pengawal di ujung lorong itu, Sungmin memutuskan untuk mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.

“Ya! Ahjussi. Teukie-eomma itu siapa?”

Pengawal itu terlihat kaget karena Sungmin mengajaknya berbicara, begitu pula dengan pengawal lain. Dan mereka dibuat semakin bingung dengan pertanyaan Sungmin.

Sungmin merengut karena tidak seorangpun menjawab pertanyaannya. Semua orang tampak tergagap. Sungmin memutuskan untuk pindah ke pengawal lain dan kembali bertanya. “Ahjussi! Siapa Teukie-eomma itu?” Sungmin merengut, kali ini suaranya lebih menuntut.

“Maaf Tuan Muda. Kami tidak tahu apa maksud Anda. Siapa Teukie-eomma yang Anda maksud?”

Sungmin menghentakkan kakinya dengan kesal.

“Aiissshh! Kan aku yang bertanya! Kenapa kau balik bertanya padaku! Ahjussi semua, babo!”

Semua orang terhenyak dengan cacian bocah manis yang judes itu.

“Buka pintunya! Aku mau masuk!”

Dalam diam, mereka membuka pintu menuju bangungan raja itu; masih syok dengan kata-kata Sungmin.

Sungmin melangkah kesal dengan bibir mengerucut maju.

Para maid yang bergerombol ramai melihat Sungmin lewat namun tidak menyapa selain membungkuk hormat dan berbisik-bisik, “Kyaaa” atau “Mate Putra Mahkota manis yaa” dan “Baru pertama kali aku lihat snowelf!”.

Sungmin mengacuhkan mereka dan menelusuri teras di samping bangunan dan diakhiri dengan sebuah taman, seperti koridor yang terbuka namun lebih terasa seperti rumah. Berbeda dengan taman lainnya. Di sana banyak pepohonan yang sedang bersemi. Buah dan bunganya berwarna-warni.

Melihat hal itu, Sungmin semakin bersemangat. Ia berlari ke atas rerumputan dan mulai memetiki buah yang terjangkau oleh tangannya. Yang pertama adalah apel merah. Sungmin memutar buah itu beberapa kali untuk memastikan tidak ada ulat yang menempel. Dan hasilnya, buah itu memang merah sempurna tanpa cacat, bahkan lebih bagus dari buah yang disajikan padanya pagi tadi. Sungmin menggosok kulit apel itu menggunakan jubahnya sebelum menggigitnya.

“Ummm!” ia melahap buahnya dengan senang. Rasa manis yang pas itu langsung memenuhi mulutnya. “Enaaak!” pekiknya riang.

Merasa cocok dengan taman yang baru saja ditemukannya itu, Sungmin memilih duduk di bawah pohon apel. Menghabiskan sebulir apel, dan memetik tiga buah lagi. Diletakannya buah itu di depan bagian perut bajunya yang di pegangnya dengan tangan. Saat dia menoleh, masih banyak lagi buah-buahan dengan warna-warna lainnya. Mata Sungmin berbinar makin bersemangat saat dia berlari ke arah buah yang berwarna jingga. (A/N: itu jeruk -.- )

“Apa ini? Aku tak pernah melihat ini di Hviturland.” Kulitnya lembek dan bergurat kasar. Sungmin menggigitnya lalu memuntahkannya.

“PUHEE! BUEH! Apa ini? Tidak enaaak!” Saat ia hendak ingin melempar buah ditangannya itu, ia melihat isi yang tersembunyi dari kulit lembek itu.

“Aigo! Bilang dong kalau harus dikupas. Pueh! Jadi yang kumakan itu kulitnya!” Sambil menggerutu. Sungmin meneruskan ‘pembajakannya’. Bajunya itu sudah hampir penuh dengan berbagai buah-buahan. Dia sangat ingin menunjukkan buah-buah ini pada hyungnya.

“Sungmin-ah?”

Tiba-tiba suara lembut memanggilnya. Dan Sungmin mengenali suara itu. Dia menoleh dan melihat seseorang duduk di beranda, bersandar di kejauhan. Senyum berkembang di bibir Sungmin.

“TEUKIE-EOMMAAAA!”

Sungmin berlalu dengan susah payah antara nyeri di selangkangannya dan buah-buahan yang ditampungnya di berjatuhan ke tanah dan Sungmin mengabaikannya. Saat sampai ke koridor kayu itu, Sungmin menjatuhkan buah-buahannya ke sebelah Leeteuk dan melompat memeluknya.

“Aku merindukanmu, Sungmin-ah.” Bisiknya tersenyum sembari mengelus rambut hitam halus bocah itu. Namun pelukan keduanya terhenti saat tiba-tiba Sungmin beranjak, rautnya berubah masam dan bibirnya dilipat dua.

“TEUKIE-EOMMA! AKU MAU MENAGIH JANJIIIIII~” Teriaknya bersemangat. Leeteuk tersentak. Ah, benar. Dia memang pernah menjanjikan sesuatu pada Sungmin.

“Hahahaa… Baiklah Sungmin-ah. Aku akan minta tolong seseorang membawakannya untukmu.” Leeteuk menoleh ke arah pintu dan memanggil maid yang berjaga di luar pintu untuk membawakan permen apel yang pernah dijanjikannya kepada Snowelf itu dulu. Selagi maid itu permisi ke dapur, mereka tinggal berdua di ruangan itu.

Sungmin memperhatikan wajah Leeteuk sedari tadi. Warna wajahnya pucat hampir seperti Snowelf, padahal Sungmin mengingat wajah Teukie-eomma harusnya lebih merah daripada ini. Bibirnya juga pucat dan kering, matanya sayu.

Leeteuk mengikat rambutnya ke bawah tanpa model apapun dan saat ini dia duduk bersandar sambil memakai selimut tebal. Saat bertemu langsung dengan orang ini, Sungmin malah lupa akan pertanyaan yang menghantuinya tadi.

Leeteuk berbalik menoleh ke arah Sungmin dan tersenyum. Dia melihat buah-buahan yang berserakan di samping Snowelf itu. “Kau suka buah-buahan Sungmin-ah?” Sungmin langsung menggeleng.

” lebih suka daging. Buah biasa saja. Dan sayur lebih tidak enak!” Leeteuk tertawa mendengar jawaban langsung itu.

“Kau terdengar lebih seperti siluman daripada peri. Lalu kenapa kau memetik buah-buahanku, chagi?”

“Oh. Ini punya Teukie-eomma?” Siluman itu mengangguk lemah. Senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya.

“Ini kebun pribadiku. Aku sendiri yang menanam mereka.”

Bahkan Sungmin yang biasanya sering merendahkan orang ternganga kaget mendengar jawaban itu. Mana mungkin ada bangsawan yang mau merawat tanaman sebanyak ini sendiri? Meski tidak tahu berapa banyak, Sungmin bisa mengira-ngira kalau mengurusi tanaman itu sangat merepotkan dan pekerjaan yang sangat kotor.

“Waaaahh… eomma rajin sekali! Maaf, aku tidak tahu ini punyamu.”

Leeteuk tertawa lagi.

“Habisnya aku bosan. Tidak apa-apa kok.” Jawab Leeteuk singkat. “Sungmin-ah belum menjawab pertanyaan Eomma. Apa kau memetik mereka untuk hyung?”

Sungmin merengut malu, namun alih-alih ia mengangguk.

“Aku tidak pernah mencoba buah seenak ini sebelumnya. Biasanya semua sayur dan buah itu sama saja hambarnya. Kadang terlalu asam! Makanya aku mau bawa untuk hyung sedikit… errr… aku akan mengembalikannya, eomma.”

Sungmin tidak tahu betapa bahagianya Leeteuk dipanggil begitu oleh seseorang. Tidak ada anak-anak dan cucu Kangin yang memanggilnya begitu atau menganggapnya sebagai keluarga.

“Benarkah? Aku senang sekali mendengarnya. Tidak apa-apa, bawa saja untukmu dan Kyuhyun.”

Senyum kekanakan merekah lagi di bibir Snowelf itu.

“Terima kasih eomma!” Lagi-lagi dia memeluk Leeteuk.

Meskipun sedang sakit, samar-samar Leeteuk dapat mencium aroma khas Kyuhyun melekat pada bocah itu. Ia bisa menebak kira-kira apa yang terjadi semalam. Saat Sungmin mundur dan duduk lagi di sampingnya, ia bertanya.

“Sungmin sayang Kyuhyun-hyung?”

Sungmin mengangguk dengan wajah memerah.

Hyung juga sayang Sungmin kan?” Tanya Leeteuk lagi, memastikan.

“Tentu saja eomma!” Jawab Sungmin nyaris bernada arogan, bibirnya merucut maju.

“Kalau begitu baguslah.” Permaisuri kedua raja itu menghela napas dan tersenyum.

“Eomma! Aku ambil bunganya ya?” Sungmin menunjuk ke arah tanaman berbunga yang berwarna-warni di ujung taman.

Leeteuk mengangguk dan membiarkan bocah Snowelf itu ‘merusak’ tamannya. Dia mengajarkan Sungmin bagaimana cara membuat mahkota bunga dan membiarkan Sungmin mencobanya sendiri sambil melumat permen apel yang sudah dibawakan maid tadi untuknya. Sungmin memutuskan dia masih lebih menyukai permen awannya daripada permen apel. Cukup lama sampai Sungmin bisa menyelesaikan satu buah mahkota bunga seorang diri. Bocah itu menyeringai senang, menunjukkan gigi-gigi kelincinya dan mendongak ke arah Leeteuk yang memejamkan mata.

“Eomma?” Sungmin berbisik. Namun Leeteuk tak itu menyimpulkan bahwa pria berambut cokelat itu tertidur. Dia memutuskan membuat satu lagi. Mahkota bunga percobaan kedua Sungmin jauh lebih rapi daripada yang pertama. Dia juga dapat menyelesaikannya dengan lebih cepat.

“Ehehehehe…” Dia tertawa-tawa sendiri melihatnya. Namun Leeteuk belum terbangun juga. Sungmin terdiam sebentar, lalu bosan.

Dia berencana untuk memakai mahkota bunga itu. Awalnya Sungmin memilih yang lebih bagus, namun ia berubah pikiran. Sungmin memakai hasil buatannya yang pertama, lalu memasangkan mahkota bunga keduanya pada Leeteuk yang sedang tertidur.

“Eomma cantik. Hihihiii…” Sungmin tertawa pelan, tidak ingin membangunkan orang itu.

Sungmin akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Leeteuk di sana dan melanjutkan perjalanannya membawa buah-buahan tadi berkeliling istana Radourland.


.

oOoOoOo

.


Sungmin berjalan berjingkat-jingkat, hatinya cerah ceria. Tidak merasakan sakit apapun di tubuhnya tentu membuat semangat berpetualangnya kembali menggebu-gebu. Apalagi ia belum pernah berkeliaran sejauh ini, berkeliling istana. Biasanya Kyuhyun hanya mengizinkannya bermain di balairung dan taman. Ia bahkan belum pernah melihat tempat di sayap kiri istana!

Ia sudah keluar dari bangunan raja setelah melihat Kangin marah-marah di ruang kerjanya pada beberapa orang pria. Ia masih tidak suka padanya yang memaksanya tinggal di sini saat Sungmin sampai pertama kalinya. Sambil berjalan, Sungmin terus mengunyahi buah yang dibawanya tadi sampai hanya tersisa sekitar lima buah. Sayup-sayup dia mendengar suara pria ramai dari arah lapangan di belakang.

“TUJUH PULUH SATU!”

“TUJUH PULUH DUA!”

“TUJUH PULUH TIGA!”

Karena penasaran, kaki-kaki mungil itu membawa langkahnya menuju ke lapangan belakang.

Di sana ia melihat sekumpulan prajurit yang sedang berlatih mengayunkan pedang. Mereka tidak menggunakan seragam seperti prajurit kerajaan yang melatih mereka, hanya mengenakan kaos-kaos lusuh. Jelas sekali bahwa mereka belum dilantik menjadi prajurit kerajaan yang sah.

Sungmin berjalan mendekat tanpa berniat menyembunyikan diri hingga ia berlalu dengan sengaja di belakang pelatih utama para prajurit itu dengan langkah lambat.

“Lebih semangat lagi! YAH! Kau! Ayunan pedangmu terlalu lemah!” bentak pria itu kepada seseorang pemuda. Merasa diperhatikan, pelatih itu berbalik dan menyadari kehadiran seseorang dibelakangnya. Ia tersentak kaget dan tidak menyangka—

Kenapa mate Putra Mahkota di sini?!’

“Yang mulia?!” serunya kaget, lalu spontan membungkuk hormat bersama beberapa pelatih lainnya yang juga kaget.

“YAH! ORANG-ORANG BODOH! Kalian harus memberi hormat kepada anggota kerajaan yang kalian temui!” Bentak salah satu prajurit kerajaan kepada barisan puluhan pria tadi yang kaget dan langsung ikut membungkuk kepada Sungmin.

Sungmin tidak bereaksi. Ia hanya memandangi mereka tanpa ekspresi selama beberapa detik, lalu memutuskan untuk berlalu. Begitu Sungmin menghilang dari pandangan mereka, para prajurit itu melanjutkan latihannya.

“Lanjutkan latihan kalian! Ulangi dari hitungan pertama!”

“SATU!”

“DUA!”

“TIGA!”

Tiba-tiba salah seorang prajurit berhenti mengayunkan pedang dan membungkuk lagi, diikuti oleh rekan-rekannya yang berbaris di formasi terdepan. Kelima pelatih yang tengah mengawasi mereka mendelik heran dan hendak marah, namun melihat tingkah ganjil bawahannya, mereka terpancing untuk menengok ke belakang.

Di sana, seperti hantu, Sungmin tiba-tiba muncul lagi dan segera berlalu. Langkah kecil bocah itu tampak disengaja, dan ia terus berpaling mengawasi seluruh prajurit dengan tampang datar. Snowelf itu berputar, kali ini menuju ke arah tempatnya datang tadi, masih sembari menggotong buah-buahan dengan bajunya.

“Yang mulia!” Sapa pemimpin pelatih tadi dan semua orang ikut membungkuk hormat.

Seperti tadi, Sungmin hanya diam berdiri memandang mereka tanpa ekspresi. Ia hanya bergumam pelan “hummm” lalu melangkah menjauh kembali setelah beberapa detik. Setelah Snowelf itu pergi, mereka berdiri kembali dan melanjutkan latihan yang sempat terganggu tadi.

“Yah! Kau—kenapa sempoyongan begitu? Kalau kau sakit keluar saja langsung dari barisan! Kau mau minta digendong hah?!” Pimpinan pelatih tadi lagi-lagi membentak seseorang di dalam barisan sambil mengelilingi mereka.

Dan sekali lagi, latihan mereka terhenti karena Sungmin datang lagi ke lapangan itu. Kali ini, pemimpin pelatih itu benar-benar mengira bahwa Snowelf itu memang sengaja mengganggu kegiatan mereka dan merutuk kesal dalam hati. Mereka semua membungkuk hormat. Namun kali ini, Sungmin tidak berjalan menjauh. Dia meletakkan buah-buahan yang dia bawa tadi dengan hati-hati di tepi lapangan, ia mendekat ke arah prajurit yang berseragam.

“Ya, ahjussi. Aku mau coba juga.” ujar Sungmin kepadanya.

“H-Huh?!” Prajurit kerajaan itu bingung.

“Aku mau ikut latihan juga! Aku mau cobaaa!” Sungmin meninggikan suaranya.

Selama di Hviturland, Sungmin tidak pernah diizinkan ikut latihan fisik oleh Eomma dan hyung-hyungnya. Ia juga sebenarnya tidak berminat, tapi tidak ada salahnya kan mencoba? Sungmin ingin menjajal kekuatannya. Dan dengan pede-nya ia yakin, pasti bisa melakukan seperti para prajurit ini.

“E-Eunhyuk-sshi! Bagaimana ini?” Tanya pria itu kepada pemimpin mereka yang berada di belakang barisan. Pria yang dipanggil itu berdiri dari bungkukannya dan melangkah maju mendekati Sungmin lalu memberikan penghormatan singkat.

“Yang mulia. Anda tidak tidak perlu ikut latihan dengan mereka. Anggota kerajaan pasti akan memberikan sesi khusus untuk pelatihan Anda, tidak di tempat kotor seperti ini dan bersama pemuda-pemuda bau ini.” Dia menjelaskan, setengah merayu.

“Tidak perlu! Aku cuma mau coba sebentar! Pinjamkan pedangnya satu!”

“Yang mulia, ini berbahaya—”

“AKU BILANG PINJAM!” Sungmin menjerit kesal dan menghentakkan kakinya.

Kelima pengawas itu saling bertukar pandangan, merasa tidak bisa melarang bocah manja yang makin merengek itu. Salah satu dari mereka memberikan pedang latihan yang ringan untuknya, dan tentunya yang agak tumpul.

“Hati-hati, ne?” Pintanya kepada Sungmin. Kalau sampai terjadi apa-apa pada bocah itu, kepala mereka bisa dipenggal oleh sang raja.

Sungmin tidak menjawab. Dia hanya terkekeh senang menerima pedang yang ternyata jauh lebih berat dari yang dia kira. Bahkan memegangnya dengan benar di udara saja dia kesusahan. Ujung pedang itu kerap terjatuh ke arah bawah karena beratnya tarikan gaya gravitasi. Dan lima pasang mata pengawas latihan itu terus mengikuti gerak ujung pedang Sungmin dengan cemas dan mulut ternganga.

“Uhhh—” Badan dan lengan kurusnya gemetaran saat berusaha menaikkan ujung pedang tadi. Wajahnya memerah menahan berat logam yang memang tidak cocok untuk tinggi badan Sungmin yang lebih pendek daripada siluman-siluman di Radourland. Beberapa pria di barisan tadi hampir menertawakannya jika tidak dipelototi oleh pengawas-pengawas itu.

“PUAHHH!” Sungmin menghembuskan napas yang tadi di tahannya lalu menjatuhkan pedang itu ke tanah. Prajurit-prajurit kerajaan itu menghela napas lega. Sepertinya dia sudah menyerah.

“Sudah! Aku tidak mau lagi!” Sungmin merengut dengan wajah memerah, entah karena malu atau sesak menahan berat pedang tadi. Ia berbalik, tidak lupa memungut kembali buah-buahannya dan berlari-lari kecil menjauh dari tempat itu.


.

oOoOoOo

.


Snowelf itu melanjutkan perjalanannya tanpa tujuan yang jelas. Dari kejauhan, Sungmin menangkap kerumunan orang berlalu lalang, keluar masuk dari sebuah pintu besar. Asap dan kabut samar tampak mengepul dari dalam sana. Dan semakin dekat, Sungmin menyadari ruang macam apa itu karena aroma yang merebak dan tercium hidungnya.

“Dapur! Makanan, yeay!” Ia memang sedang lapar. Sungmin melangkah makin girang, menyusup di antara kesibukan orang-orang dan mengendap masuk ke dalam sana.

Seakan begitu tenggelam dengan pekerjaan masing-masing, belasan koki di dalam dapur mengabaikan kehadiran Sungmin. Mungkin mereka memang tidak menyadarinya, hal itu membuat Sungmin semakin leluasa bergerak kesana kemari. Mengintip ini dan itu, mencomot berbagai macam bahan makanan.

Sembari membenahi mahkota bunga di atas kepalanya, Sungmin terpaku di hadapan piring yang begitu besar. Mungkin piring itu bisa digunakannya untuk duduk saking besarnya. Ukuran itu membuatnya mengangguk-angguk makin kagum, dan mulai tertarik untuk mencolek-colek benda merah yang diiris tipis-tipis dan ditata rapi di atasnya. Benda itu sewarna semangka, merah merekah, basah, dan kenyal. Dengan penasaran, Sungmin mendekatkan wajahnya, memperhatikan makin jeli. Tidak ada bau apapun. Tapi dari warnanya yang merah, makanan ini tampak lezat sekali…

“Ini namanya apa?” Sungmin menarik-narik pria yang berdiri di sisinya, namun pria itu mengabaikannya. Ia masih sibuk mengiris-iris daging untuk kemudian diletakkannya di piring yang serupa dengan satu yang menarik perhatian Sungmin.

Sadar diabaikan, Sungmin memekik tak senang. “Hei, aku bertanya!” serunya kesal, namun suaranya barusan teredam oleh bising kompor dan minyak panas yang mendesis-desis. Sungmin merengut saat orang yang ditanyanya barusan malah beralih ke sebrang dapur, benar-benar mengabaikannya!

“Uh, dasar babo.” Cacinya dengan suara pelan. Ia menjulurkan lidahnya ke punggung orang itu dan berjanji akan membuat pelajaran. Tapi sekarang ia benar-benar tertarik dengan makanan ini. Sembari menyeringai, Sungmin mengambil satu lembar dan meringis merasakan dinginnya benda itu di tangannya. Tanpa berpikir, Sungmin langsung melahapnya dan mengunyahnya dua kali, tapi secepat itu pula Sungmin memuntahkannya dan terbatuk-batuk. Ia mengusapi mulutnya yang terasa lengket. Menjijikan.

“Iyuh.” Sungmin meludah. Benda apa itu? Lengket, terasa menjijikan di mulutnya meski tidak memiliki rasa.

“Hambar.” Komentarnya setengah mencibir. Sungmin mulai mengecap-ngecap lidahnya sendiri sembari memutar pandangan. Bermaksud mencari sesuatu. “Garam garam garam.” Bisiknya pada diri sendiri, Sungmin berjingkrak senang saat dilihatnya sebotol bumbu yang tampak diisi oleh buliran putih dari luarnya. Tanpa berpikir untuk mencicipinya, Sungmin meraih botol itu dan menaburkannya di atas irisan-irisan merah tadi.

Puas dengan hasil kerjanya, Sungmin beralih ke makanan lain. Bahkan tidak berniat mencoba perubahan rasa makanan yang sudah ditambahnya dengan bumbu entah apa. Ia kini berdiri di depan tungku sup yang masih mengepul-ngepul. Meraih sendok kecil di sisi kirinya, Sungmin langsung berinisiatif untuk mencicipi sup itu. Setelah meniupi sup di ujung sendok, Sungmin mengecapnya dan berpikir begitu lama seperti seorang juru masak yang handal. Lalu ia meletakkan sendoknya, dan membuka kembali botol yang sejak tadi belum lepas dari tangannya.

“Kurang garam!” ujar Sungmin seenaknya, ia langsung saja menuangkan isi botol itu, bermaksud mengira-ngira takarannya namun tanpa sengaja Sungmin menuangkan seluruh isinya.

“O-ops.” Bisiknya kaget sembari menutup mulut. Sungmin menatap sup di hadapannya dengan horror, lalu ia berpaling, mengawasi semua orang yang tampaknya masih begitu sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Diam-diam, Sungmin meletakkan botol yang sudah kosong itu di bawah kakinya. Lalu ia membungkuk di depan tungku sup. “Aku tidak sengaja, maaf ya.” Bisiknya dengan nada bersalah. Setelah itu Sungmin buru-buru berbalik dan mengendap-endap keluar. Sebelum melewati pintu, bocah itu masih sempat mendengar seseorang bertengkar.

“Kenapa rasa dagingnya aneh! Kau menambahkan gula?”

“Tidak, aku belum menyentuh daging!”

“Daging ini sudah siap dibawa ke meja makan, kenapa kau tambahkan macam-macam lagi!”

“ADA APA DENGAN SUPNYA!?”

Sungmin segera melesat pergi dari sana.


.

oOoOoOo

.


Kyuhyun melangkah lebar-lebar, berusaha berjalan dengan cepat tanpa menarik perhatian pelayan yang berpapasan dengannya.

Padahal baru tiga jam.’

Dalam hati ia mendesah. Baru tiga jam ia meninggalkan kamarnya, tapi ia sudah ingin bertemu saja dengan mate kecilnya itu. Dengan terburu-buru Kyuhyun menuntaskan seluruh pekerjaannya. Setengah berlari-lari tadi ia melewati balairung agar lebih cepat sampai ke lapangan belakang. Hanya sebentar ia mengawasi kuda-kudanya dilatih oleh pengawal kerajaan, setelah itu Kyuhyun beralih menuju istana raja, mengecek berbagai berkas Menteri yang perlu diperiksanya dan menumpuk sisanya, berniat mengambilnya nanti malam saat Sungmin sudah tertidur.

Kyuhyun sudah terbiasa mengerjakan seluruh pekerjaannya saat Sungmin tertidur lelap. Karena saat Sungmin terjaga, Kyuhyun sadar ia tidak akan sanggup meninggalkan mate-nya. Baru tiga jam saja, Kyuhyun sudah merasa jengah dan ingin berada dekat dari bocah tengil itu. Senakal apapun, Sungmin sudah menjadi bagian wajib dalam hidupnya. Kyuhyun mengakuinya, tapi bukan berarti ia harus mengatakannya pada orang lain.

Tidak bisa menahan senyumnya lagi, Kyuhyun langsung membuka pintu kamarnya dan menghambur masuk. Nama Sungmin sudah terembus naik ke kerongkongannya, namun Kyuhyun bungkam saat kesunyian menyambutnya. Kamar itu kosong. Yang lebih parahnya, lantainya becek dengan air menghambur dan sayur-mayur bergelimpangan bercampur dengan beling-beling kaca.

Kyuhyun mengeram, menahan mau makan sayur bukan berarti bocah itu bisa melemparnya ke tidak dia memakan obatnya. Kyuhyun tidak menemukan benda itu tergeletak di meja. Atau jangan-jangan bocah nakal itu membuangnya lewat jendela?!

“Sungmin-ah?”

Kyuhyun membuka tirai ranjangnya, dan tidak menemukan siapapun disana. Pangeran jangkung itu mendesah saat ia teringat ucapannya tadi pagi. Benar, ia mengizinkan Sungmin keluar untuk bermain. Hanya janji basa-basi, karena Kyuhyun yakin sekali mate-nya itu akan tertidur pulas hingga ia kembali. Nyatanya, bocah itu sudah menghilang saja dari ruangan ini.

Kyuhyun sadar, ia tidak seharusnya meremehkan mate-nya. Sungmin sudah pasti akan memanfaatkan kesempatan sekali saja ia lengah. Dan Kyuhyun seharusnya tahu, Sungmin bukan tipikal bocah yang bisa diam di dalam satu ruangan selama tiga jam.

“Bocah itu.” Erang Kyuhyun menahan kekesalan. Kyuhyun berdiri berkacak pinggang, baru akan keluar dari kamarnya saat ekor matanya menangkap benda-benda pipih aneh berderet di atas meja kerjanya. Dengan penasaran, Kyuhyun mendekat ke sana.

Ia meraih benda itu, memperhatikannya sejenak sebelum berbisik, “Origami.” sembari membaliknya. Kyuhyun menangkap goresan pena yang tampak berantakan, tapi ia masih bisa membacanya. Namanya tertera disana, sejelek apapun tulisan seseorang yang mengukir namanya, Kyuhyun tetap akan dapat membacanya.

Tertulis itu terukir dalam aksara Radourland, dengan tinta merah muda. Entah kenapa ada rasa bangga yang tiba-tiba membumbung di dalam dada Kyuhyun. Tidak sia-sia ia mengajari Sungmin selama ini, dan Sungmin mengingat namanya untuk dituliskan di atas bangau ini. Ia tidak bisa lebih berbangga lagi.

“Dasar bocah.” Kekehnya senang.

Tapi kebanggaan itu tidak berlangsung lama. Tidak saat Kyuhyun menyadari kertas macam apa yang digunakan oleh mate-nya untuk bermain-main.

“Oh, fuck.” Kyuhyun mendelik. Dengan panik ia membongkar origami itu. Dan benar saja! Ia kenal betul kertas macam apa yang ada di tangannya ini. Sudah begitu remuk, penuh lipatan dan coretan.

LAPORANKU!

Kyuhyun makin tercekat, napasnya terasa berat dan dadanya bergemuruh naik turun. Ia memandangi dua puluh origami yang tersusun rapi di atas mejanya dengan pandangan horror. Kyuhyun hanya berani membongkar tiga origami lagi, dan ia benar-benar yakin kini, seluruh kreasi indah itu adalah bentuk kehancuran hasil pekerjaannya selama dua minggu terakhir yang ia kerjakan setiap malam hingga larut. Dua minggu terakhir kekurangan tidur!

Kyuhyun tidak percaya.

Dengan geram ia berbalik, keluar dari kamarnya. Siap menyembur siapa saja yang dilihatnya pertama kali. Dan orang pertama yang menjadi korbannya adalah pelayan yang tadi pagi ia perintahkan untuk mengurus Sungmin.

“Mana mate-ku?” todong Kyuhyun kontan membuat pelayan wanita setengah baya itu langsung mengerut ketakutan.

“S-saya belum melihatnya, Yang Mulia.”

Kyuhyun memekik, menarik rambutnya sendiri dengan frustasi.

“Yang benar saja! Kau tidak mengawasinya!” sentaknya marah, tidak percaya. Tanpa menunggu bungkukan minta ampun dari pelayannya, Kyuhyun segera mengambil langkah. Ia berjalan menuju lorong di sisi kanan kamarnya. Melirik kesana-kemari, mencari sosok kecil yang benar-benar membuatnya murka siang ini.

Waktunya berburu Sungmin!


.

oOoOoOo

.


Snowelf imut itu berjalan dengan senang karena perutnya sudah kenyang. Tidak lupa dia membawa buah-buahan tadi dengan kantung yang ia dapatkan dari dapur. Sekarang dia berjalan di lorong utara kerajaan utama. Ia mendengar suara anak-anak dari ujung ruangan dan memutuskan pergi kesana untuk mengintip dari pintu.

Interior ruangan besar itu berwarna cerah dan mewah, sangat berbeda dari ruangan Kyuhyun yang berwarna netral dan tak menarik bagi Sungmin. Tapi ruangan ini…

“Whoaaa.” Sungmin menggeleng-geleng kagum. Bahkan baginya, ruangan ini lebih bagus daripada kamarnya sendiri di Hviturland. Di kamarnya dulu, sprei, gorden, karpet dan segala interiornya berwarna putih dan biru pucat. Namun ruangan ini di dominasi warna pink cerah. Rak-rak, lemari, dan segala barang-barang yang ada di sana lucu-lucu dan menarik. Sungmin sangat iri…

Sungmin mencatat tebal-tebal dalam hatinya untuk meminta kamar seperti ini pada Kyuhyun nanti. Lihat saja.

Suara anak-anak tadi terdengar dari dalam sini. Sekitar enam orang anak perempuan sedang bermain dengan boneka-boneka yang berserakan di lantai. Sedangkan Sungmin hanya punya satu. Ish! Menyebalkan!

“Hei, lihat. Ada seseorang di sana!” Keenam anak itu menoleh ke arah Sungmin yang berdiri di dekat pintu.

“Kamu mau ikut main?” Lizzy yang paling kecil di antara mereka langsung menawarkan. Sungmin sempat tergoda dengan tawaran itu sampai ia mendengar reaksi anak-anak yang lainnya.

“Yah, Lizzy! Kamu benar-benar memiliki kebiasaan buruk ya! Jangan mengajak anak pembantu dan pengawal bermain sama kita terus! Kita ini cucu raja!”

Darah Sungmin sempat mendidih karena disebut anak pembantu oleh mereka. “Aku bukan anak pembantu!” Raungnya kesal seraya mendorong pintu melebar.

“Eh! Itu si bocah peri bodoh!”

Sungmin tidak kaget melihat musuhnya, Maora, ada di sana juga. Sepertinya ia minta dibuat menangis lagi. Mereka semua lebih kecil daripada Sungmin kecuali dua orang.

“Yah, jadi kau yang membuat Maora terluka kemarin!” Salah satu yang tertua di sana mendekat ke pintu.

“Dia jatuh karena eomma-nya yang bodoh. HUH!” Sungmin membuang muka dan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aku sudah dengar bahwa itu karena ulahmu, dasar peri menjijikkan! Kau ini laki-laki apa perempuan sih! Pergi sana!” Remmy, anak tertua kedua yang ada di sana mendekat dengan kesal dan mendorong tubuh Sungmin ke belakang. Snowelf itu terhuyung sedikit.

“Yah! Jangan pegang-pegang aku! Bitches!” Sungmin menampik tangan-tangan kedua anak perempuan yang mendekatinya itu.

“Noona, jangan berkelahiii…” Si kecil Lizzy memohon dari belakang.

“Diam kau Lizzy! Yahh, lihat apa yang dia bawa!” Remmy merampas kantung yang dipegang Sungmin tadi.

“AHHH! ITU PUNYAKU! KEMBALIKAN!” Sungmin mencoba mengejar, namun ia dijagal oleh Marrie selagi Remmy membagikan buah-buahan miliknya kepada gadis-gadis lain. Marrie mendorong Sungmin keluar ruangan dan mengunci pintunya sebelum Sungmin sempat bergerak untuk bangun. Di hadapan pintu yang terkunci itu, Sungmin terperangah. Tidak percaya ia baru saja dibully oleh gadis-gadis kecil. (Hanya dua orang yang sebesar dirinya!)

“YAH! KEMBALIKAN! AKU AKAN BILANG PADA KYUHYUN-HYUNG DAN TEUKIE-EOMMA! BITCHES SIALAAAN!” Sungmin menggedor-gedor pintu tebal itu dengan mata berkaca-kaca. Ia hanya mendengar suara tertawa penyihir-penyihir kecil itu dari dalam.

Buah-buahan itu! Itu kan dipetiknya dari kebun Teukie-eomma untuk Kyuhyun hyung!

Setelah menggedor-gedor beberapa lama, Sungmin menyerah. Bocah itu melangkah pergi sembari terisak, wajahnya berurai airmata. Namun Sungmin menyadari ada suara langkah-langkah kecil dari belakang mengejarnya. Sungmin berbalik dan melihat anak kecil berambut pirang dan bergaun merah yang mengajaknya ikut main tadi mendekatinya. Sungmin mengelap air matanya dan berusaha menampakkan ekspresi galak.

“APA? Mau mengejekku ya?!”

“Ini… aku kembalikan. Maaf yaa…” Gadis kecil itu memberikan sebuah apel merah yang ada di tangannya pada Sungmin yang sedikit syok, tidak menyangka. Sebelum Sungmin sempat mengatakan apapun, gadis kecil itu sudah berlari kembali ke dalam ruangan tadi.

“Hiks.” Sungmin terisak lagi karena kesal dan mengelap air matanya dengan lengan bajunya. Kali ini, dia berjanji akan menyimpan satu-satunya buah yang tersisa itu baik-baik di kantong bajunya untuk Kyuhyun-hyung.


.

oOoOoOo

.


Sungmin melangkah dengan wajah murung, bocah itu merengut setiap kali ia membayangkan dirinya menangis karena gadis-gadis kecil yang bodoh tadi. Harusnya ia yang membuat mereka menangis! Sungmin tidak rela mengingat-ingatnya. Tapi tadi ada gadis yang berbadan lebih besar darinya. Gadis tengik itu pasti lebih tua dari dirinya! Lihat saja, ia akan mengadukan mereka pada Kyuhyun-hyung!

Sungmin bersungut-sungut lalu mulai menyeringai membayangkan hyung-nya akan memarahi anak-anak nakal itu. Sungmin mulai merencanakan berbagai cara untuk memelas pada hyungnya, merengek. Supaya mereka dihukum!

Syalala~

Sembari melompat-lompat kecil, Sungmin melangkah keluar dari lorong. Memasuki sebuah pekarangan yang membawanya ke taman— taman bunga yang luas dan belum pernah dilihatnya.

“Whoaaa! Bunga lagi!” Sungmin berlari antusias, menuju kolam dengan sebuah air mancur di tengahnya. Kolam bulat yang besar itu dikelilingi oleh taman bunga. Di sekitar kakinya juga hanya sedikit rumput yang tumbuh, rumput itu berjejer rapi seakan membentuk sebuah jalan setapak. Dan di bagian lain selain rumput, semua adalah bunga! Bunga! Dan bunga!

Seperti berada di taman impian, Sungmin berlari-lari di atas bunga-bunga itu. Lalu dengan ceria ia merebahkan dirinya di atas bunga yang berwarna-warni. Tidak memikirkan sama sekali kalau perbuatannya telah merusak tanaman-tanaman yang indah itu. Sembari menghirup napas dalam-dalam, Sungmin mulai berguling. Menyesap wangi bunga dan menikmati sejuk angin siang hari. Ia bersenandung kecil sembari berbaring menelungkup dan bertopang dagu di sana.

“Lily!” gelaknya sembari memetik lili itu satu demi satu. Hingga bunga di tangannya membentuk seikat penuh, sebesar genggaman tangan. Sungmin menyelipkan satu bunga itu di kantung kausnya, lalu ia menyesap bunga yang lain. Ia kembali memasang dua lili di kanan dan kiri kepalanya, menyelipkannya ke dalam mahkota bunga yang sejak pagi menghiasi kepalanya hingga dua tangkai lili itu menyerupai antena serangga. Mungkin Sungmin masih akan bersenang-senang dalam dunianya sendiri, disana hingga beberapa waktu ke depan. Sayang kesenangannya lagi-lagi terganggu. Kali ini oleh suara teriakan yang memekakkan telinga tak jauh di belakangnya.

“YAH! APA YANG KAU LAKUKAN!”

Sungmin berjengit kaget mendengar suara bentakan setengah berteriak itu. Buru-buru ia berbalik, dan Sungmin kontan melotot melihat seorang pemuda seusianya, setinggi tubuhnya, tengah berdiri di pinggir taman sembari berkacak pinggang. Di tangan pemuda itu tersampir ember kecil berisi pupuk. Dan wajahnya menegang galak. Dari pakaiannya, seketika Sungmin tahu kalau ia tengah berhadapan dengan orang yang sama rendahnya dengan pelayan.

“Kenapa? Suka-sukaku.” Jawab Sungmin sekenanya. Pemuda itu kembali bersenandung dan memetiki lebih banyak bunga, mengabaikan orang di belakangnya sekaligus ingin membuat orang itu makin kesal.

“Yah, menyingkir dari sana sebelum kusiram kau dengan kotoran sapi!”

Sungmin memekik kesal. Ia berdiri dan buru-buru menyingkir dari tempatnya. Berjalan minggir keluar taman karena ia benar-benar takut akan disiram dengan kotoran sapi. Tapi Sungmin tidak akan mengalah begitu saja, ia ikut mendelik dan memasang wajah sangar.

“Yaaaah! Berani sekali membentakku!”

Sungmin ingin menambahkan ‘Akan kuadukan pada Kyuhyun-hyung!’ tapi ia urung. Matanya berkilat-kilat menunjukkan emosi, terlebih melihat pemuda bertubuh kotor itu justru berkacak pinggang dan berdecih ke arahnya.

“Kenapa? Kau anak bangsawan? Anah raja?” bocah itu mencibir. Dalam hati bersorak karena ia yakin memang tidak sedang berhadapan dengan pangeran. Seingatnya Raja hanya memiliki satu putera, sudah dewasa, dan tidak tampak secantik ini. Paling juga bocah di hadapannya ini hanya keturunan bangsawan. Karena itu ia lebih berani memarahinya. Lagipula ini hari terakhirnya bekerja di istana. Ia bisa melampiaskan amarahnya selama ini! Lewat bocah ini!

“Aku tidak takut! Siapapun tidak boleh merusak tanaman! Kau tidak punya hak melukai mereka!”

Sungmin tergagap. Merasa kesal sekaligus bingung harus bagaimana melawan ocehan orang ini.

“Dan lihat! Kau malah membentuknya jadi mahkota! Berapa banyak bungaku yang kau rusak? Cepat ganti rugi!”

Sungmin memegangi mahkota bunga di kepalanya dan memekik tidak terima. “Ini bunga dari kebun Teuk eommaaaa!”

“Darimana pun sama saja! Kau tidak boleh cabut tanaman sembarangan!”

Wajah Sungmin kontan berubah masam. Matanya berkaca-kaca tapi bocah itu menahan tangisnya kuat-kuat. Tidak berniat kalah, Sungmin berjongkok dan dengan sengaja duduk di atas bunga terdekat olehnya. “Masa bodo! Suka-sukaku!” tantangnya sembari mencabuti bunga-bunga merambat itu.

Pemuda berambut coklat yang sama-sama memiliki mata bulat dan besar itu mendelik melihat perbuatan Sungmin. Dengan kesal ia menjatuhkan ember pupuknya, lalu berdiri di hadapan Sungmin.

“Yah. Kau pikir mereka tidak punya perasaan? Kau menginjak mereka, menduduki mereka, meniduri mereka! Bagaimana kalau kau diperlakukan begitu! Nih nih! Sakit kan! Sekarang kau tahu rasanya!” dengan emosi, pemuda itu menginjak kaki Sungmin sekali. Awalnya bermaksud menasehati pemuda bangsawan itu namun tidak menyangka ia akan berakhir se-emosional ini.

Sungmin menjerit, buru-buru menarik kakinya lalu menangis kesakitan. “Hueeee! Sakit tahu! Kyuhyun-hyuuuungggg!”

Melihat wajah yang memerah dan berlinangan airmata, pemuda berambut coklat itu kontan tergagap, dan menyadari perbuatannya barusan. Ia terlalu emosional tadi! Tapi sekarang, ia tercekat kebingungan. Antara merasa bersalah dan tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Sungmin masih menangis memanggil nama seseorang, tontonan memilukan itu makin membuat pemuda tukang kebun merasa bersalah. Ia sampai tidak menyadari nama familiar yang terus disebut oleh Sungmin.

“A-aku tidak sengaja. Maaf ya, maaf.” Pemuda itu berjongkok di hadapan Sungmin. Ia menarik kaki Sungmin dan bermaksud menanggalkan sepatu hijau yang melindungi kaki putih Sungmin. Namun Sungmin segera menampiknya.

“Yah, singkirkan tanganmu! Nanti kakiku kotor!” jerit Sungmin sembari melindungi kakinya, lalu ia kembali menangis sesenggukan.

Pemuda berambut coklat itu berdecih, kesal. Namun ia tetap merasa bersalah melihat ujung kaki Sungmin tampak memerah karena perbuatannya. Lagipula, kenapa kulit itu putih dan transparan sekali? Seperti bukan kulit siluman saja!

“Maaf.” Bisiknya sekali lagi. “Lagian kau juga sih! Siapa suruh tidur-tiduran di atas bunga. Lihat bunga-bunga itu? Sekarang mereka mati, kasihan kan!”

Sungmin masih menangis, tidak terima. Tapi alih-alih, ia ikut melirik arah yang ditunjuk pemuda tadi. Dan benar saja, tempatnya berbaring tadi sudah tampak buruk rupa. Bunga-bunga gepeng tertindih olehnya dan kini mati bercampur dengan tanah. Sungmin mengerutkan keningnya, diam-diam merasa bersalah.

“Kalau mau petik boleh. Tapi jangan banyak-banyak dan jangan rusak tanamannya!” ujar pemuda itu lagi. Tidak terima, Sungmin hanya diam. Meski dalam hati ia meng-iya-kan.

“Sekarang ayo menyingkir, aku mau benahi tanaman yang kau rusak itu.”

Sungmin masih merasa kesal, namun karena ia mengakui kesalahannya juga, bocah itu akhirnya menyingkir, duduk di atas rumput di sisi taman bunga dan membiarkan pemuda bertubuh kecil itu membenahi kerusakan yang dibuat olehnya.

Sesaat, kesunyian menerpa mereka. Tangis Sungmin mereda dan pemuda tadi sibuk mengorek-ngorek tanah, membenahi tanaman lalu mulai menaburkan pupuk yang berbau menyengat.

Hidung Sungmin mengernyit, ia mendengus jijik dan ingin memalingkan wajah. Namun entah kenapa ia tetap terus memandangi pemuda itu memupuk bunga-bunga.

“Menjijikan sekali. Kau tahan melakukannya?” tiba-tiba Sungmin berkomentar.

“Kalau tidak ada yang melakukan ini, tidak akan ada bunga yang indah.”

Dan jawaban itu membuat Sungmin bungkam. Ia merengut karena merasa semakin disalahkan. Tapi sesaat kemudian, bocah itu merasa gatal dan ingin kembali bertanya. “Berapa lama mereka tumbuh?”

“Satu minggu.” Jawab pemuda itu singkat. Dan rupanya, itu menjadi awal mula pertanyaan-pertanyaan bernada ingin tahu lainnya kembali meluncur dari bibir Sungmin. Dan lama-kelamaan, pertanyaan berbelit dan membosankan Sungmin membuat pemuda itu jengah.

“Yang biru itu namanya apa?”

“Anggrek.”

“Aku cuma tahu mawar, lili, melati, kamboja!”

Tidak ada komentar.

“Kalau yang kuning?”

“Kenanga.”

“Yang putih?”

“Edelweis.”

“Hitam? Ih, kenapa ada bunga warna hitam. Seperti kena kutukan saja.”

Tidak ada jawaban lagi.

Sungmin membenahi posisi duduknya. Ia kembali mengusapi kakinya yang sedikit baikan. Lalu ia bertopang dagu menggunakan lutut. Selama ini tidak pernah berjumpa dengan anak-anak seusianya ternyata membuatnya tertarik untuk mengobrol lebih jauh.

“Omong-omong siapa namamu?”

“Ryeowook.”

“Kau tidak mau tahu namaku?”

Tidak ada respon. Tapi Sungmin tidak peduli dan melanjutkan monolog-nya.

“Namaku Sungmin. Tapi aku suka sekali dipanggil Minnie, atau Min-ah, tapi cuma Kyuhyun-hyung yang boleh panggil Min-ah.”

Pemuda itu mendongak juga akhirnya, ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun tiba-tiba seseorang meneriakkan namanya.

“Wookie-yah!”

Sungmin dan Ryeowook saling berpandangan. Lalu Ryeowook menengadahkan kepala sebelum menjawab, “Ne, Appa!” lalu pemuda itu berdiri. Menepuk tanah dan kotoran yang menempel di celananya sembari menunduk memandangi Sungmin.

“Sudah kau pulang sana. Disini panas. Nanti kulitmu terbakar.”

Sungmin membuka mulutnya, namun belum sempat menjawab dan pemuda itu sudah bergegas meninggalkannya. Sungmin terperangah, tidak percaya anak tukang kebun itu baru saja mengabaikannya!

‘Berani sekali dia!’ Sungmin mendengus. Sedikit merasa kecewa karena respon pelit teman barunya. Padahal ini pertama kalinya ia melihat seseorang yang setinggi dirinya dan tampak sebaya dengannya…

Pemuda peri itu berdiri lagi, lalu ia ikut menepuki celananya dari tanah dan kotoran.

Sungmin mengamankan kembali posisi apel di sakunya dan posisi mahkota bunga di atas kepalanya, sebelum melangkah pergi bermaksud melanjutkan petualangannya lagi.


.

oOoOoOo

.


Sungmin benar-benar membawa langkahnya berdasarkan insting. Tidak berpikir ia berada dimana dan berbahaya atau tidak, bocah itu hanya melangkah berdasarkan objek-objek yang menarik perhatiannya. Semakin cerah dan cantik tempat yang dilihatnya, maka bocah itu akan melangkah kesana. Tanpa ia sadari dirinya sudah berkelana nyaris mengelilingi sepertiga wilayah istana. Melewati balairung hingga ke istana raja, lalu berlanjut nyaris ke seluruh bagian di lantai satu dan dua bangunan utama, berlanjut lagi di taman sayap kiri, perkebunan, dapur, hingga langkahnya kini membawa Sungmin menyusuri pekarangan yang panjang. Bunga dan rumput lembut tumbuh subur dan rapi di bawah kakinya.

Sungmin merasa entah kenapa familiar pada tempat yang sedang dipijaknya ini. Pagar tinggi menjulang ada di sisi kanan. Sedangkan bangunan panjang dengan jendela-jendela besar berada di sisi kiri. Ia merasakan firasat buruk para rasa familiarnya ini, tapi Sungmin mengabaikannya dan terus melangkah dengan gagah berani. Tapi sampai lima menit kemudian, Sungmin baru mengingat tempat macam apa yang rasa-rasanya ia kenali ini.

Ia baru saja berbelok, melewati dinding dengan langkah santai namun tiba-tiba Sungmin berhenti. Sekitar lima puluh meter dari tempatnya berdiri, terbangun sebuah pagar besar yang dikunci dengan gembok seukuran kepalanya. Dan ingatan Sungmin kembali membawanya pada saat-saat pertama ia datang ke negara ini. Seekor monster besar bermaksud menyerangnya disini!

Kalau monster itu tidak berada disana, Sungmin pasti akan berdecih mengejek dan mendekat ke gerbang. Tapi nyatanya, makhluk berkepala tiga itu masih hidup dan bernapas di depan rumah kandangnya. Duduk seperti tertidur dengan kepala saling bertumpuk. Harimau berada paling bawah, naga dan burung terlelap di atasnya.

Saat itu, Sungmin merasa tubuhnya membeku. Ada ketakutan luar biasa menyergap dirinya. Ingatan itu masih begitu lekat dalam memorinya, makhluk itu pernah bermaksud membunuhnya! Bahkan kakinya sampai terluka saat itu.

Sungmin ingin berlari dan menangis dari sana, tapi anehnya matanya seakan terkunci memandangi makhluk mengerikan yang tidur dengan saling menumpuk kepala, dan yang anehnya— sesaat Sungmin merasa makhluk itu tampak lucu dalam keadaan terlelap seperti itu.

Sungmin memandangi makhluk itu dengan rasa takjub. Rasa-rasanya ia ingin mengelus kepala harimau berbulu itu, tampaknya lembut sekali…

Sungmin membawa langkahnya maju, hanya satu kaki. Tapi tiba-tiba makhluk itu bergeming. Sungmin berteriak panik dan segera lari berbalik, bersembunyi di balik dinding.

Ia sudah mengira akan ada api yang menyembur ke arahnya atau suara auman harimau, atau kikikan burung yang memekakan telinga.

Tapi ternyata… tidak terjadi apa-apa.

Sungmin memegangi dadanya, jantungnya berdegup kencang. Ia takut sekali tadi! Tapi sudah lewat satu menit ia bersembunyi, tidak terdengar suara apapun. Dengan penasaran, Sungmin mengintip hati-hati. Tapi begitu ia melihat harimau itu tengah terjaga dan balas memandangnya, Sungmin berteriak lagi dan kembali bersembunyi. Ia baru sadar, mungkin suara teriakannya yang membangunkan mereka. Tapi kenapa mereka tidak menyerang? Bersuara pun enggan.

Dengan kenekatan luar biasa, Sungmin memberanikan diri untuk mengintip lagi. Kali ini, ia tidak berteriak saat pandangannya bertemu dengan mata sang harimau. Sorot mata itu begitu tenang, nyaris tampak seakan ia sedang malas. Jantung Sungmin masih berdegup kencang, terlebih saat harimau itu menguap dan menunjukkan dua taringnya yang sebesar tiang!

Tapi gerak-gerik ketiganya, berbeda sekali dengan perjumpaan pertama mereka. Sungmin merasa ada sesuatu yang menarik dari makhluk itu hingga perlahan-lahan ia keluar dari persembunyiannya.

Dengan takut-takut, Sungmin melangkah maju. Hanya empat langkah, masih begitu jauh dari kuku tajam harimau yang serupa cakar elang.

“Yah.” Cicitnya dengan suara kecil. Tentu saja makhluk itu tidak menjawab, si elang justru kembali bersandar di atas kepala harimau, dan sang naga meliukkan lehernya yang panjang ke belakang, seakan ia tertidur di atas punggung harimau. Sang harimau, satu-satunya makhluk yang membuat Sungmin merasa semakin tertarik, justru menguap lagi dan membuat bocah snowelf itu terkekeh kecil. Semakin berani melangkahkan kakinya maju, mendekat hingga tidak ada pembatas lagi diantara keduanya.

“Yah!” Ulang Sungmin sekali lagi. Tiba-tiba merasa khawatir kenapa ia bisa berdiri sedekat ini dari makhluk yang sempat hampir membunuhnya. Tapi suara sapaannya dibalas dengan gerungan pelan. Nyaris terdengar seperti izin di telinga Sungmin.

Dengan gemetar, Sungmin mengulurkan tangannya. Mengusap kepala berbulu itu dan lagi-lagi dihadiahi oleh suara gerungan lembut. Sungmin terkekeh, makin yakin untuk mengusap lebih lama dan berdiri makin dekat.

“Kau tidak akan nakal lagi kan?” gelaknya sembari terduduk, dekat di sisi mulut besar itu. Kalau makhluk ini benar-benar akan membunuhnya, maka hap! Sekali lahap, seluruh tubuhnya pasti muat di mulut besar itu. Sungmin bergidig. Tapi tingkah lucu harimau itu membuatnya semakin betah berlama-lama disana. Makhluk itu menggeliat sebentar, menggeser posisinya semula seakan memberi tempat bagi Sungmin.

Sungmin, yang merasa bisa mengerti akan pesan yang disampaikan Chimera itu. Ikut duduk di sisinya. Ia mengusap rahang berbulu itu sedikit lebih lama, sebelum dengan berani menyamankan diri, bersandar pada leher besar Chimera yang berbulu lembut dan hangat. “Kalau kau nakal, Kyuhyun-hyung akan memotong kepalamu! Biar kau tahu rasa! Dia akan melindungiku, kau jangan macam-macam ya.” Ujar Sungmin bersemangat, sebelum ia ikut-ikutan menguap. Pemuda snowelf itu kembali menyamankan posisinya, tiba-tiba merasa lelah sekaligus nyaman berada di sana.

Mengerjap lemah, Sungmin berbisik lagi. “Oke aku mau tidur dulu.” Pesannya sembari memejamkan mata. Chimera itu bergerak, sedikit, membuat Sungmin nyaris terjatuh ke samping.

Dengan kesal, Sungmin menampik makhluk itu. “Jangan banyak bergerak, haish!” serunya sembari menarik bulu rahang sang harimau. Sungmin benar-benar tidak berpikir kalau-kalau harimau itu akan mengamuk. Karena nyatanya, harimau itu justru memberikan apa yang diinginkan olehnya. Makhluk itu berbaring tenang, kali ini dengan posisi kepala miring. Memberikan tempat nyaman bagi Sungmin untuk bersandar ke belakang.

Begitu Sungmin memejamkan matanya, sang naga mulai risih pada posisinya semula dan kini menarik diri lalu berbaring di atas pangkuan Sungmin. Keempatnya terlelap dengan tenang, seakan tidak ada satu orang pun yang akan mengganggu. Tidak ada satu orangpun yang tengah panik mencari seorang bocah snowelf yang tiba-tiba menghilang dari istana.


.

oOoOoOo

.


Kyuhyun berjalan dengan langkah lebar-lebar. Kali ini rasa tidak sabarnya untuk bertemu Sungmin bukan karena rindu! Tapi sepenuhnya karena amarah. Dengan perasaan meluap-luap, Kyuhyun menyisiri istana di sekitar kamarnya. Tapi ia tidak menemukan seujung hidungpun penampakan mate kecilnya kecuali pelayan-pelayan yang terus saja mendapatkan umpatan darinya.

Kenapa tidak ada seorang pun yang tahu dimana Sungmin berada?!

Mereka melihat bocah itu berkeliaran, dan membiarkannya! Kyuhyun mengeram marah. Ia berpaling, ke segala arah. Namun tidak ditemukannya satupun petunjuk untuk mencari Sungmin. Hingga akhirnya ia sampai ke depan gerbang bangunan raja. Kyuhyun sangat tidak rela, tapi dia tetap harus menanyakannya.

“Apa tadi Sungmin ke sini?” Salah satu dari keempat pengawal itu mengangguk ragu.

“Ne, Tuan muda. Pangeran Sungmin tadi memaksa masuk ke sini.”

Kyuhyun hampir menepuk jidatnya sendiri di depan mereka.

Ia lalu masuk dan seorang pelayan wanita berpapasan dengannya, pelayan itu membawa nampan berisi berbagai macam obat-obatan. Hanya melihat sekilas saja, Kyuhyun tahu kalau pelayan itu akan melayani Permaisuri Raja. Dan tiba-tiba ingatannya kembali pada saat Sungmin berinteraksi dengan pria yang dibencinya itu.

Apa mungkin Sungmin bermain dengannya?

Ah. Rasanya Kyuhyun ingin menolak prasangka itu. Tapi tidak ada salahnya mencoba bertanya. Kyuhyun berdiri di tengah lorong dengan berkacak pinggang. Pelayan itu, tentu saja mengerti dan berhenti untuk membungkuk. Sebelum ia mengucapkan embel-embel kesejahteraan dan doa untuk para bangsawan, Kyuhyun buru-buru memotongnya.

“Kau melihat mate-ku? Aku sedang mencarinya.” Todong Kyuhyun tanpa basa-basi.

Pelayan itu membungkuk gugup sembari melirik Kyuhyun dengan takut-takut. Ia tidak berniat berbohong, karena itu, dengan jujur dijawabnya pertanyaan Kyuhyun.

“Tadi pagi, Tuan Muda bermain di kebun Ratu—”

“Haish!” Kyuhyun mengumpat, tidak berharap mendapat jawaban itu. Sang pelayan bungkam, tampaknya takut melanjutkan ucapannya tanpa izin Kyuhyun. “Lalu dia masih disana sekarang?”

“Tidak, tuanku. Pangeran muda pergi setelah bermain disana, tampaknya dia berkeliling di istana kanan. Terakhir hamba melihatnya berjalan menyisiri taman menuju ke arah sana.”

“Arah utara?” seru Kyuhyun tidak percaya. Ke mana dia?Ke tempat calon tentara kerajaan latihan? Ke dapur? Ke gudang kerajaan yang di belakang? Ke kandang kuda? Ke mana?!

Padahal sudah kubilang jangan jauh-jauh!

Kyuhyun tidak mengatakan apapun, tidak memberikan kesempatan bagi pelayan itu untuk membungkuk sekali lagi dan langsung saja menghentak dengan tergesa; tak sabar untuk segera ‘menangkap’ bocah itu.

Tak sampai lima menit bagi Kyuhyun untuk sampai di tempat itu dan menyaksikan puluhan pemuda usia 20-30an tahun berbaris hendak menjadi pengawal kerajaan (A/N: Inget ya, ini umur siluman bukan umur manusia) dan sedang berlatih kuda-kuda.

Melihat Kyuhyun mendekat, mereka spontan membungkuk meskipun sedang latihan. Eunhyuk sang pelatih mengeram di dalam hati melihat pemuda-pemuda itu membungkuk hormat.

Aish… jangan bilang kalau dia datang lagi…’ Geramnya dalam hati. Dia berbalik sambil membungkuk sembari bertanya tanpa melihat terlebih dahulu.

“Tuan muda mau ikut berlatih lagi?”

“Apa kau bilang?”

Eunhyuk membeku di tempat. Suara itu bukan suara bocah tadi. Dan kaki yang berdiri di hadapannya ini bukan kaki kecil bocah tadi. Matanya mendelik takut dan mulutnya ternganga.

“Berdiri! Sungmin tadi ikut latihan di sini?! Dan kau membiarkannya?” Eunhyuk berdiri dan berpandangan dengan mata cokelat sang Putra mahkota yang temperamen seperti ayahnya itu.

Ia menelan ludah. Keempat temannya juga tidak bisa berkata apa-apa untuk membantunya.

“Pa-pangeran Kyuhyun…”

“Jawab aku! Dimana dia sekarang?” Kyuhyun menuntut.

“Ta-tadi dia pergi ke arah sana, Tuan.” Seorang pengawas lain menunjuk ke lorong belakang.

“Aish!” Pangeran itu menggeram. Cepat sekali gerak bocah ini!

Dia melirik kepada pria yang ada di depannya lagi dengan raut tak senang. “Kau. Kau akan berurusan denganku jika terjadi apa-apa pada mate-ku nanti. Ingat itu.”

Eunhyuk mengangguk ketakutan. Kyuhyun langsung beranjak ke arah yang ditunjukkan nanti.

Bukannya dia tidak tahu betapa susahnya menolak permintaan bocah manja satu itu, apalagi mereka hanya pengawal kerajaan. Tapi tetap saja hal itu berbahaya! Mana mungkin Sungmin mampu mengangkat benda tajam seperti itu? Bagaimana kalau dia terluka? Atau bagaimana kalau dia sedang mengandung? Wait—tidak mungkin secepat itu sih… Aish, Apapun itu! Pokoknya Kyuhyun harus menemukan bocah itu sekarang sebelum dia melakukan hal berbahaya lainnya!

Lorong ke belakang itu menuntun Kyuhyun ke dapur kerajaan. Auranya pengap dan panas karena pemanggang besar yang ada di sana. Mereka sedang berlalu-lalang berhenti bergerak saat mendengar suara Kyuhyun.

“Yah, apa tadi mate-ku kesini?”

Tiba-tiba mereka berteriak panik dan memohon ampun. “Tuan muda! Mohon ampuni kami! Kami tidak tahu apa yang terjadi!” Salah seorang kepala koki di sana memohon sambil berlinang air mata.

“Ampun Yang Mulia! Maafkan kami! Kami mohon, jangan penggal kepala kami!” Tangis yang lainnya histeris.

Kening Kyuhyun mengerut bingung. Memangnya apa yang sudah mereka lakukan? Apa yang sudah terjadi di sini? Darah Kyuhyun berdesir. Sesaat terbesit pikiran gila di kepalanya—

Apa terjadi sesuatu pada Sungmin?

Apa dia… tersiram sup panas? Keracunan makanan? Atau jangan-jangan, ia jatuh ke dalam pemanggang besar itu?

TIDAK!

Kyuhyun menarik pakaian kepala koki itu sambil menggeram marah. Nafasnya memburu dan matanya melotot. “APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN PADA SUNGMIN, HAH?!”

“Hiiiyyy! A-Ampun Tuan!” Dia terlalu ketakutan untuk mendengar kata-kata Kyuhyun dengan jelas. Mereka sudah saling salah komunikasi.

“Ka-kami akan segera menyiapkan makanan penggantinya! Kami akan mengganti hidangan sup dan dagingnya segera! Kami tidak akan membuat kesalahan lagi! Mohon maafkan kami!”

“KAU PIKIR SUNGMIN BISA DIGANTI DENGAN MAKANAN—h-huh?!” Tiba-tiba akal sehatnya berjalan setelah emosinya sempat memuncak.

“Tu-tunggu… Kalian sebenarnya membicarakan apa?” Akhirnya ia bertanya dengan jelas sambil menurunkan pria malang tadi.

Setelah menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi, Kyuhyun berlalu dengan menahan malu. Dia sudah kehilangan kendali atas emosinya karena salah paham. Ia juga tidak mendengarkan mereka dengan baik dan langsung berasumsi yang tidak-tidak. Kyuhyun yakin wajahnya memerah saat ia pergi dari tempat itu. Lagipula buat apa ia peduli sama masakan yang tiba-tiba menjadi aneh rasanya? Sampai-sampai mau memenggal mereka… Apa Kyuhyun sekejam itu di mata mereka?

Tunggu…

Kening Kyuhyun berkerut.

Masa sih itu ulah Sungmin?

Apa bocah itu sempat mampir ke dapur?

“Aish! Kemana diaaaaaa…” Kyuhyun menggerutu sepanjang jalan.

Kyuhyun lewat di depan tangga menuju lantai dua. Sempat berpikir untuk melanjutkan perjalanannya, namun akhirnya insting memutuskan agar dia naik ke sana. Kyuhyun melewati lorong keponakannya dan berhenti. Suara tawa anak-anak itu sampai ke telinganya.

Masa sih Sungmin main bersama mereka?

Kyuhyun melangkah menjauh tiga langkah sebelum mundur dan memutuskan untuk mencoba memeriksanya. Tidak ada salahnya kan?

TOK TOK TOK!

Kyuhyun mengetok kamar yang entah kenapa tertutup itu. Biasanya kamar anak-anak itu selalu terbuka.

“Siapaaaaaa?” Suara seorang ponakannya bertanya dari dalam.

“Ini Kyuhyun-ahjussi. Buka dong!”

Remmy membuka pintunya ragu-ragu. Mereka sedikit ketakutan karena mereka berpikir bahwa bocah Snowelf tadi mengadu kepada Kyuhyun agar memarahi mereka. Mereka tidak terlalu akrab dengan pamannya ini, jadi mereka sangat takut kepadanya.

“Ada apa?” Tanya Remmy ragu-ragu di belakang pintu yang dibukanya sedikit.

Kyuhyun merapatkan bibirnya, mulai curiga. “Buka pintunya dong?” Pintanya lagi. Remmy menoleh ke arah saudara-saudaranya takut, namun mana bisa dia menolak permintaan paman mereka satu-satunya itu? Ibunya bilang bahwa suatu hari paman akan menjadi raja Radourland menggantikan kakeknya.

Begitu pintu dibuka, Kyuhyun melongok ke dalam; mengabsen satu persatu anak yang ada di sana dengan matanya namun tidak ada tanda-tanda Sungmin. Dia juga tidak mendengar suaranya sih tadi. Apa Sungmin minta disembunyikan di sini sama mereka?

“Sungmin…”

Anak-anak itu tegang ketakutan dan gugup saat mendengar nama bocah Snowelf itu disebut pamannya.

“Sungmin, apa dia ada disini? Atau dia ke sini tadi?”

Anak-anak itu saling berpandangan. Lalu Remmy yang paling depan menggeleng. “Tidak. Tidak ada tuh.”

Kyuhyun memandang mereka dalam diam, menatap satu-persatu.

“Benar?” Tanyanya lagi.

Keponakan-keponakannya makin panik dalam hati.

“Iyaaaa! Ahjussi kok tidak percaya?” Marrie membentak Kyuhyun dari ujung ruangan.

“Hmmm… Baiklah kalau begitu.” Kyuhyun menaikkan kedua alisnya lalu keluar dari ruangan itu meski hatinya masih diliputi curiga.

BLAM!

Pintu tadi langsung dibanting begitu Kyuhyun ke luar. Pemuda itu menaikkan bahunya bingung, lalu melanjutkan pencariannya.

Kyuhyun menelusuri seluruh lantai dua sampai ke atap dalam waktu singkat, namun nihil. Tak seujung rambut Sungmin pun terlihat olehnya. Bahkan tidak ada baunya! Akhirnya pemuda itu memutuskan kembali mencari di bawah. Atau mungkin dia sudah kembali ke kamar? Ini sudah sore.

Tunggu…

Rasanya masih ada satu tempat lagi yang belum dijelajahinya.

Taman gerbang belakang… Tempat salah satu hewan peliharaan dan penjaga Kerajaan Radourland ditempatkan.

Tapi tidak mungkin kan Sungmin ke sana?

Apa bocah itu sudah lupa, makhluk macam apa yang diikat di taman belakang?

Kyuhyun melangkah sembari mendengus, dalam perjalanannya ia terus menggeleng, tidak habis pikir pada tingkah Sungmin. Ia tidak terlalu khawatir Chimera akan menyerang mate-nya seperti saat dulu itu, karena Sungmin sudah menjadi mate-nya. Hawa bocah itu pasti sudah membaur seperti penghuni istana.

Tapi tetap saja! Kalau Sungmin benar-benar lupa dan terlanjur kembali menemukan Chimera itu disana. Bocah itu pasti sudah menangis dan meraung sekarang. Kyuhyun malas membayangkan dirinya harus menenangkan Sungmin. Tangis bocah itu bisa bertahan hingga beberapa jam! Dan bukankah seharusnya sekarang ia menghukum Sungmin?

Kyuhyun mulai pusing, dibayangi oleh penampakan Sungmin yang sedang menangis menjerit-jerit. Berlutut ditanah, menolak pertolongan siapapun sembari meneriaki namanya. Bukan pemandangan yang bagus. Kyuhyun tidak menyukainya.

Tapi seharusnya, Kyuhyun tahu, ikatan mereka kuat. Perasaannya tidak mengatakan sesuatu yang lebih dan hal itu terbukti pada penampakan yang dilihatnya pertama kali begitu sampai di depan kandang Chimera.

‘Apa-apaan!’ Kyuhyun mendelik. Tiba-tiba merasa lidahnya kelu. Ia berdiri mematung, tujuh meter dari penampakan makhluk besar itu. Kyuhyun terlalu terkejut, terlalu terkesima. Melihat Mate-nya tertidur dengan begitu anggunnya di antara kepala-kepala besar monster peliharaannya.

Sungmin tertidur bersandar di tengkuk Harimau, di atas pangkuan bocah itu, tertidur lelap Sang Naga. Tangan Sungmin tergeletak tenang di antara sisik-sisik kening makhluk serupa ular itu. Suara napas Sang Elang juga terdengar tenang di sisi kiri kepala Harimau. Seakan-akan, ketiganya tengah menjaga Sungmin yang terlelap pulas lantas ikut terlelap juga saking nyamannya posisi itu.

Bukankah seharusnya mereka musuh bebuyutan?

Kyuhyun menggeleng, kembali dibuat terheran-heran. Tidak akan pernah ada habisnya ia dibuat tidak habis pikir oleh mate-nya sendiri.

Mendekat tanpa suara, Kyuhyun berjongkok di sisi Sungmin, lalu menggeleng lagi, bisa-bisanya bocah ini memasang tampang malaikatnya saat ia tertidur di dalam dekapan monster yang pernah nyaris membunuhnya.

“Dasar bocah,” cibir Kyuhyun dengan suara pelan. Ia memindahkan kepala naga itu lalu menyelipkan tangannya dengan perlahan, bermaksud menarik Sungmin dari sana tanpa membangunkan mate-nya.

Kyuhyun membopong tubuh ringan Sungmin dan merengkuhnya kuat-kuat. Ia berpaling, sekali lagi, melirik Chimera yang masih tertidur. Harimau sempat terbangun dan meliriknya datar, namun makhluk itu kembali memejamkan matanya, seakan malas berbuat apa-apa.

“Aku tidak pernah berpikir kalian akan membuat aliansi.” Ujar Kyuhyun sembari melangkah membawa tubuh Sungmin. “Besok-besok, kau pasti akan merayu makhluk itu untuk melawanku. Bocah sial.” Kekehnya dengan nada tidak percaya. Kyuhyun membungkuk, bermaksud mengecup pipi Sungmin saat aroma asam tak sedap merasuki penciumannya.

Kyuhyun melenguh, lalu memalingkan wajahnya. Tidak jadi mengecup pipi Sungmin. “Aish, kau pasti tidak mandi! Bocah jorok!” ujarnya jengkel.

Tapi sadar tidak bisa memaksa Sungmin mandi dalam keadaan begini, Kyuhyun memerintahkan pelayan membawa air hangat yang dicampur dengan bunga begitu mereka sampai di kamarnya.

Sungmin tertidur begitu pulas, meskipun Kyuhyun membaringkannya asal-asalan, lalu menanggalkan seluruh pakaiannya dan mulai mengusapi tubuhnya dengan kain basah.

Begitu telaten Kyuhyun menyapu seluk beluk tubuh mate-nya, hingga ke bawah ketiak dan di antara selangkangan Sungmin. Tidak sejengkalpun bagian dilewati oleh tangannya, tidak terkecuali wajah Sungmin.

Kyuhyun menangkup wajah mate-nya dengan dua tangan yang basah, lalu mengusap pipi putih yang memerah itu. Sungmin mengerang, hidungnya mengernyit, tapi bocah itu tidak terbangun. Kyuhyun kembali dibuat terkekeh dan refleks mengecup bibir itu karena gemas.

Ada desir aneh, namun Kyuhyun buru-buru mengabaikannya. Mengalihkan pikiran kotornya yang justru menuntunnya pada rasa jengkel lain. Kenapa ia malah bersikap seperti perawat? Dan yang membuat Kyuhyun tidak habis pikir, ia tetap lanjut membersihkan tubuh mate-nya meskipun dalam hati ia mengumpat.

Lain kali, Sungmin harus mengingat, kalau Kyuhyun berpesan tidak untuk diabaikan. Kyuhyun menjamin hal itu. Ia akan mematrinya lekat-lekat dalam ingatan mate-nya. Tapi tidak sekarang, Kyuhyun tidak setega itu membangunkan Sungmin yang tampak begitu lelah.

Selesai mengelap tubuh Sungmin, Kyuhyun mendengus puas pada aroma harum yang menguar dari tubuh snowelf itu. Buru-buru ia memakaikan sebuah gaun tidur di tubuh kecil mate-nya. Mencegah pikiran kotor lain datang menyergap batinnya. Tapi melihat tubuh telanjang Sungmin tadi, sebuah dusta jika Kyuhyun mengaku tidak merasakan apa-apa. Kyuhyun hanya menahannya, dan melampiaskannya sedikit dengan mengecup leher Sungmin dan memeluk mate-nya dari samping.

Kyuhyun menghela aroma tubuh mate-nya dalam-dalam. Berbaring miring dengan Sungmin dalam pelukannya, tidak ada posisi yang lebih nyaman dari ini. Sungmin menghela napas dan membisikkan sesuatu, entah apa, lalu beringsut mendekat padanya. Kyuhyun tersenyum tanpa suara, lalu ikut memejamkan mata. Ia menerima Sungmin sedekat mungkin sebelum melemaskan ototnya dan membiarkan kenyamanan itu memanjakannya sebentar.

Sweet dreams, Min-ah. Sleep well, baby.”


.

oOoOoOo

tebeseeeeh!

oOoOoOo

.


A/N:

Miinalee: SUMPAH YA! SUMPAH BUKAN SAYA YANG BIKIN PART NC-NYA! BUKAN SAYA! BUKAAAAAN! *histeris*

Dndthecat : Iya, part itu tau-tau datang sendiri dari langit kan… *sumpel Sun pake kain lap*

26 Maret 2014, fluffy, smutty chapter dengan lebih dari 13.000 words untuk merayakan Cursed Crown 1st Year Anniversary! *\(^0^)/* Yeeeayyyy~

(T_T) ternyata sudah lama ya, ga kerasa…

Ini juga Anniversary setahun Miinalee—Dndthecat duet, sekalian setahun Dee jadi ELF.

Miinalee: Berkat diriku kan? MWAHAHAHAAAA! Cheers! *angkat gelas wine*

Dndthecat: Berkat kamu nyepam inbox email dan LJ-ku selama tiga bulan, iya. Padahal dulu aku ga suka Korea. *angkat gelas* (=_=)/

Miinalee: Sekarang demennya ngalah-ngalahin aku—

Dndthecat: *sumpel Sun pake botol* Yak! Jangan lupa tinggalin review kalian! Ucapin setahunan Kyuhyun ama Ming di Cursed Crown yaaaa…!😄

Miinalee: Aku disumpel mulu ih… Jahat😥

Dndthecat: *buka sumpel Sun* Sun, abis nih update Kitty Kitty Baby ya? Aku kangen ama Seunghyun-nya

Miinalee: Oke bye, guys! *pasang sumpel ke mulut sendiri*

19 thoughts on “Cursed Crown | Chapter 10

  1. Myra moniaga says:

    Aaaaa ;; akhirnya update juga
    Happy Anniversary Cursed crown Smoga update nya ga lama2…
    Semoga Kyu-Min cepet punya anak /eh
    makis banyak moment sweet ><

  2. shanty kyuminnie arashi says:

    Part nie puas bgt baca nya…. soalnya panjaaaaaaaaaannnnngggg sekali…. hehehehheheehhe….

    Akhirnya kyu sama min ngelakuin itu lg..
    Ming kayanya nafsu bgt sama kyu…. hehehheheheheh…

    Seru waktu ming itu berpetualang d dalam istana…
    Lucu pas bagian prajurit itu…
    Tp kadang klo sifat anak2 keluar nyebelin jg ming sedikit2 nangis…

    Tp pas terakhir kyu yg mandiin ming itu manis…
    Semarah apapun kyu k ming tetap aja luluh lgi klo ngeliat ming tidur ….

    Lanjuuuuttttt….

  3. SparkyuELF137 says:

    kyaaaaaaa~ akhirnya update juga. Wow panjang beneeerrrrr😀 *gue suka dong :*

    happy 1st anniversary buat cursed crown. moga update gak lama” yya *hehehe dan juga semoga kyumin makin langgeng :*

    dan untuk sun eonni, jangan lama” nde update’nya. gak sabar nunggu’nya :3 *hehehe

  4. loveKyu says:

    akhrnya update n panjaaaang….aq sukaaa..puas baca ny

    aww aww….ada nc ny jg…hahahaha
    sumpah min nakaaall bgt d part ini….laporan krj kyu jadi origami -,-
    taman ancur..ngerjain calon prajurit….tp ending ny kyu malah g tega wat maraah..hahahaha

    d tunggu lanjut nyaaa author…jangan lama2..

  5. Happy 1st anniversary to crused crown semoga ceritanya lanjut terus ya sampai tamatttt

    ceritanya puanjanggggg bngt, tp ak suka n ga ngebosenin, suka bngt baca ceritanya tentang pertualangan sungmin di kerajaan n kyuhyun yg kalang kabut cari sungmin😀

    keep writing n hwaiting

  6. Ayu Fitria II says:

    fiqoooh deeee asdfghjkl AKU PUAS SEKALI BACA SPESIAL PART INI ><
    gak ada typos😀

    fiqooh dee makasih banyak, gak berasa ya udah setahun aja ini ff hehehe
    semoga ff cc nya sering cepet update yek kkkk /plak xD
    happy anniv^^/

  7. mingmingming says:

    akhirnya apdet juga
    baca di wp aja biar reviewnya enak hihihi
    waduh kyuhyun akhirnya mau juga ‘itu’ lagi hehehe
    sungmin belajar dari mana ya nakal menggoda gitu ya hehehe
    udah gitu kaya nya nakalnya makin menjadi nih
    tapi dinakalin anak cewe aja cengeng hihihi ngegemesin
    kocak waktu dy mau latihan pedang hahaha
    sekedar kasih saran nih
    kalo bisa mengumpat dengan bahasa inggrisnya diganti dengan yg lebih halus aja
    atau pake bahasa indonesia yg lebih halus
    ini cuma saran aja loohhh
    untuk selanjutnya
    semangat terus yaaaa
    mudah2n apdet cepet
    semangat

  8. Yeaayy,,happy cursed crown first annive..
    Dan ternyata sudah setahun pula aku menunggu ff ini,,

    Chingu,boleh minta nama fb atau twitt?
    Klw pny bb jga bleh,,
    Aq mw share nih tntng kyumin ff..

  9. kim sarang kyumin yeongwonhi says:

    Happy 1st anniversary
    ming nakal pisan and manjaaaa disini kekeke
    kyu ampe kewalahan wkwk

    pa lagi pas mau ngangkat pedang,,,
    wjwwjwjwkkk ngegemesin pisann kekeke
    pas mau ending yg kyu mandiin sungmin…
    cieee kyu perhatian pisaann…
    sukaaaa
    lanjjuuttt…

  10. puas banget bacanya ^^
    tapi sebenernya masih ngarep tuh adegan sungmin d hukum😀
    eh eomaa Leetuk tuh gimana?
    tadi tuh pingsan ato tidur apa bahkan meninggal?

    di tunggu kelanjutannya -0-

  11. ihhh,,,,min nakal banget sih. untung kyu kagak kena stroke wkt lht laporannya dibuat origami. kyu,,,,,yg sabar ya. emang kalo brondong yah resikonya kayak gitu,,,,

  12. Ahrin says:

    kyaaa, happy 1st anniversary cursed crown. Moga ajah update.annya cepet2. Kyumin momen.y d banyakin. N author.y makin sukses. hehehe
    Pngen menjerit pas terakhir2nya. Gk kebanyang gmn imutnya si sungmin pas tdur pulas yg ngebuat kyu sampe.berpikir kotor hahaha
    next part di tunggu banget eon. fighting 

  13. kang sang hee says:

    sungmin macam piknik ya/? asik sendiri jalan jalan tanpa inget yang bakal nyariin -_-
    suka banget pas sungmin tidur sama chimera. sungmin sang penahluk(?)

  14. vyan says:

    HAPPY ANNIVERSARY CURSED CROWN ^^
    thank you banget untuk updatenya..
    panjang lagi… g puas banget bacanya, sering2 kaya gini, g ga keberatan😀
    NC-nya ok banget..
    itu teuki eomma gpp? tidur, sakit, ato meninggal? kasian gt..
    chimaeranya cute ya.. apalagi macannya.. jadi inget ama macan yg di the croods, cute bgt
    kyumin momentnya ditambah lagi donk hehehe..
    ditunggu updatenya ya..
    FIGHTING!!!

  15. selamat ulang tahun Kyumin di CC. Ah Sungmin emang nakal. Huh anak manis tidak boleh nakal Min. Oh aku tunggu KKB nya update

  16. Happy 1st anniversary Cursed Crown #taburbungabarengKyuMin #telatbanget><,,,ini kyakx spesial pnjelajahan Sungmin di istana Radourland..hehhehehe…segalax dsbukin smpe dapur dbikin kacau sama tamanx Ryewook jdi rusak daaannnnnn berakhir tidur bareng Chimera…wowwwwwww…nih bocah bener2 deh ^^~~~~seru juga petualanganx..

  17. aina_chan says:

    Akhirnya bisa baca lagi ni cerita semoga kyumin cepat punya baby ditunggu ya updatex

  18. Rhaya says:

    Sungmin pengacau..😀
    petualangan nya di istana seru..😀

    kyuhyun udah jatuh cinta ya ama sungmin..?
    Paling keren itu waktu ama chimera, dikira mau jadi musuh bebuyutan mau lawan chimera pake anak anjing😀
    eh malah baikan..😀

    go to next part

Comments are closed.