Kitty-Kitty Baby! – Chapter 11

Mansion Hakim Han malam itu tampak hidup. Lampu-lampu menyala menerangi puluhan ruangan dan kamar di dalamnya. Para pelayan dan penjaga berlalu lalang, beberapa berjongkok dengan mengantuk di seluruh ruangan dalam mansion. Lampu-lampu halaman dan beranda ikut dinyalakan atas perintah Heechul. Meskipun tahu tidak akan ada penyusup yang bisa masuk ke dalam mansionnya malam ini, Heechul tetap merasa gelisah.

Sesampainya di rumah, ia menyuruh seluruh pelayan dan bodyguard untuk terbangun. Tidak perlu melakukan apapun, mereka hanya perlu terjaga. Entah kenapa, malam itu Heechul tidak menyukai suasana sepi mansionnya. Hangeng tidak mencoba bertanya, dan Heechul bersyukur suaminya mengerti pada perasaannya. Ia masih membawa perasaan tegang yang dialaminya di kafe tadi.

Heechul menahan napas, ia melangkah lemas menuruni tangga, menolak tawaran beberapa pelayan yang bermaksud memapahnya. Ia ingin berjalan sendiri, ia tidak ingin ada tangan-tangan lain menyentuhnya malam ini. Heechul bergegas meniti langkahnya mendekati Hangeng lalu tanpa berbasa-basi lagi langsung duduk di atas pangkuan suaminya. Kali ini, Heechul tidak berniat memamerkan kemesraannya pada orang-orang yang sekarang tengah duduk mengelilingi sofa ruang keluarga. Yang ia inginkan hanya berada dekat dari Hangeng. Rasa gugup masih menggenang dalam hatinya, seperti kabut.

Sejak tadi, Heechul seakan tidak mampu bersuara. Sesampainya di rumah, ia langsung memerintahkan butler untuk membangunkan pelayan lain, menyalakan seluruh penerangan yang dimiliki mansion, lalu menyuruh mereka terus terjaga dan menyibukkan diri sendiri. Setelah itu, Heechul meninggalkan seluruh tamunya dan bergegas menuju kamar. Mengganti pakaian dan mencuci wajahnya. Begitu ia kembali ke ruangan ini dan menemukan semua orang tengah tenggelam dalam suasana kelam, tiba-tiba Heechul merasa ia tidak mampu bertanya.  Meskipun rasa penasaran itu membuat Heechul merasa seakan keronggkongannya tercekat, ia tidak mampu bersuara kecuali menatap wajah demi wajah yang berbicara itu dengan kening bertaut.

“Jadi, Sungmin sudah sering berkunjung ke kafe?”

Heechul menatap wajah suaminya dengan raut heran. Ia meremas kemeja Hangeng dan beringsut makin mendekat.

“Lebih dari dua belas pekan.” Max menjawab, Kyuhyun yang duduk satu sofa dengannya beringsut membenahi posisi duduknya. Pemuda itu bertopang dagu pada lengan sofa dan memalingkan wajahnya dari semua orang.

Heechul melirik keduanya sesaat sebelum kembali menunduk. Tiba-tiba merasa bingung. Sungmin sudah sering berkunjung ke kafe?

Heechul mulai menyesal karena menuruti perasaannya dan membiarkan dirinya tertinggal oleh cerita semua orang. Tapi tiba-tiba melihat seorang Choi muncul dan bermaksud menyeret Sungmin, bukan sebuah pemandangan bagus untuknya. Heechul bahkan belum bisa berhenti menggigil.

“Rasanya sekarang aku mulai mengerti.” Yesung bersuara. “Kenapa Sungmin menolak semua orang selain Kyuhyun. Juga luka-luka di tubuhnya itu. Mungkin mutan itu bersimpati pada Kyuhyun, saat Kyuhyun bertengkar dengan majikannya di dalam kafe beberapa bulan yang lalu. Aku ingat mutan itu mengenakan perban dan menutupi separuh wajahnya, apa perban itu juga menyembunyikan luka? Apa perban itu ada hubungannya dengan— Sungmin yang tidak bisa bicara?” Yesung menahan napas, semakin ia mengutarakan isi kepalanya, semakin pula ia merasa bingung pada pertanyaannya sendiri.

“Tapi yang masih terasa janggal untukku.” Hangeng beringsut maju, mengamankan posisi Heechul dengan merengkuh pinggang istrinya itu. “Kenapa ia bisa berkeliaran sesering itu? Tanpa majikannya? Tidak banyak mutan yang bisa sebebas itu.”

Max berdehem, lalu menimpali “Sungmin tidak selalu berkunjung dengan rutin. Kadang Minnie berkunjung nyaris setiap hari. Ada kalanya ia tidak datang selama seminggu, atau dua minggu.”

“Tapi yang pasti, dia selalu datang untuk melihat Kyuhyun dan selalu ditemani oleh dua bodyguard?”

Max mengangguk, tiba-tiba merasa malas untuk bersuara. Kyuhyun yang duduk di sisinya juga bergeming, semakin memalingkan wajahnya dari semua orang.

“Tapi yang kulihat— kenapa majikannya begitu memelas agar Sungmin kembali? Suara jeritannya tadi masih membuatku merinding.” Ryeowook beringsut rendah, ia memeluk Yesung dari samping sebelum mendongak dengan raut murung. “Apa ada kemungkinan— kalau orang itu benar-benar menyayangi Minnie?””

Kyuhyun mendengus, tidak terima. “Dia orang gila. Jangan kembalikan Sungmin padanya.” Tentu saja, hanya dirinya yang melihat bagaimana bajingan itu menampari dan memukuli Sungmin beberapa bulan yang lalu. Saat itu, Kyuhyun belum mengenal Sungmin. Tapi setega apapun, Kyuhyun tidak bisa berdiam diri membiarkan orang lemah ditindas habis-habisan di depan wajahnya.

“Kita tidak akan mengembalikan Sungmin, tenang saja, Kyu.” Hangeng terkekeh, merasa senang melihat respon Kyuhyun. “Tapi satu hal yang perlu kau tahu, Wookie-ya. Ada banyak orang gila di dalam silsilah mereka. Jangan percayai apa yang hanya sesaat kau lihat. Kita tidak tahu kebusukan macam apa yang tersembunyi di dalam keluarga mereka. Secuil kebusukan itu sudah kau lihat sendiri terlukis di tubuh Sungmin. Kau mengingatnya kan?”

“Tentu saja. Masih jelas sekali.” Ryeowook bergidig, jijik. Tapi hatinya tidak bisa mengingkari, perasaan aneh yang sejak tadi mengganjal batinnya. “Tapi aku benar-benar— ah!” ia menghela napas, merasa tidak bisa mengungkapkan perasaannya. “Suara jeritannya terdengar memilukan. Aku masih merinding memikirkannya.”

“Sudah-sudah, kalau begitu jangan dipikirkan.”  Yesung merangkul kepala Ryeowook.

Kyuhyun tampak gelisah, lagi-lagi pemuda itu membenahi posisi duduknya. “Aku akan tinggal disini sampai orang gila itu masuk penjara. Rumahku tidak akan seaman disini.”

Tentu saja, bukan satu orang yang terkejut mendengar penyataan itu keluar dari bibir Cho Kyuhyun. Tapi semua orang memilih untuk diam, tidak ingin berkomentar daripada komentar mereka membuat Kyuhyun mencabut kembali ucapannya.

“Apa tidak ada cara cepat untuk menyelamatkan Sungmin?”

Hangeng menggeleng dan terkekeh hambar. Ia bertukar pandang dengan Heechul sebelum dikecupnya hidung mancung itu. “Tapi ada satu cara—“

Kyuhyun dan Changmin kontan melirik Hangeng dengan tegang.

“Hukum akan lebih melindunginya kalau Sungmin dalam keadaan hamil. Hak kepemilikan akan lebih memberat pada ayah dari bayi itu.”

“Kau gila, hyung?” Max berseru, lalu melirik sengit ke arah Kyuhyun seakan-akan mengatakan ‘Jangan berani-berani kau melakukannya’.

Kyuhyun, di sisi lain, justru melemparkan pandangan sengitnya pada Hangeng. Yang benar saja! Menghamili orang lain di luar ikatan pernikahan, itu bukan style-nya! “Aku tidak sebajingan itu.” Elaknya jengah.

“Aku tidak akan memaksa Kyuhyun. Hanya sekedar info.”

Yesung hanya menggeleng dan tersenyum malu mendengar obrolan mereka. Semakin melenceng, tapi juga ada benarnya. “Jadi bagaimana? Kita bawa ini ke meja hukum?”

“Jangan dulu. Tidak semudah itu melawan mereka. Dan mereka pun… Mereka akan berpikir dua kali untuk membawa perkara ini ke meja hukum.” Hangeng menatap semua orang di ruangan itu dengan sorot mata yang tegas, penuh keyakinan. “Kita butuh saksi dan bukti yang pasti, sebanyak-banyaknya. Dan aku tahu orang yang bisa membantu.”

Semua orang saling berpandangan, ingin bertanya di tengah kebingungan, namun kalimat terakhir Hangeng yang terdengar penuh keyakinan seakan ikut membius semangat semua orang. Jalan mereka begitu lapang, Tuhan akan membantu. Itu pasti.

.

oOoOoOo

.

Hal pertama yang dilakukan Kyuhyun setelah membuka pintu kamar tamu itu adalah –mendesah. Kyuhyun memijat keningnya dan mengerjap lelah. Tiba-tiba merasa seluruh beban yang menimpanya sekian lama semakin bertumpuk dengan masalah yang baru saja terjadi malam ini. Belum berhasil bebas dari satu masalah yang selama ini mengukungnya bertahun-tahun, masalah lain ikut datang membebaninya. Tapi Kyuhyun hanya bisa mengeluh, ia tidak bisa kabur dari seluruh masalah-masalahnya. Ia memang bawel, tapi tidak sepengecut itu untuk kabur dari tanggung jawabnya. Dan meskipun masalah kali ini tidak benar-benar menjadi kesalahannya, Kyuhyun tetap merasa bertanggung jawab dan wajib terlibat terlebih setelah mendengar fakta bahwa mutan yang selama ini terus lengket padanya— benar-benar sudah mengenalnya sejak lama.

Kyuhyun melirik dari sudut matanya, saat itu, Sungmin juga ikut meliriknya. Keduanya saling bertukar pandangan bisu selama beberapa saat sampai Kyuhyun berbalik untuk menutup pintu. Mutan itu berbaring dengan tubuh melengkung, memeluk guling dan membenamkan wajahnya sesekali di ujung bantal yang empuk itu. Matanya masih sembab, bibirnya masih gemetar, dan melihat Kyuhyun masuk ke dalam kamar, Sungmin tidak bisa menahan luapan emosinya dan kembali terisak menahan tangis hingga dagunya mengerut dan bergetar. Ekor panjangnya melingkar ikut memeluk guling, sedang dua cuping kucingnya merunduk, menyusup ke balik rambut pirangnya meski kali ini dua cuping cokelat itu tampak kontras diantara warna rambutnya.

Kyuhyun berkacak pinggang, melihat Sungmin yang masih terus murung ikut membuat moodnya menurun. Ia menghela napas, sejenak, merasa bingung harus memulai obrolan dari mana.

“Kau sering berkunjung—“ Kyuhyun tiba-tiba berujar, duduk di pinggir ranjang sembari memunggungi Sungmin. “Untuk melihatku dan kau tidak sekalipun mengatakannya padaku?”

Sungmin tidak menjawab, tapi suara isak pelannya yang terdengar ditahan membuat bahu Kyuhyun melemas turun. “Oh ya, kau bisu.” Selorohnya getir. Kyuhyun mengangkat kedua kakinya naik lalu duduk menyerong sedikit menghadap Sungmin. “Rasanya sekarang aku jadi ikut-ikutan gila.” bisiknya lirih, sembari berbaring dan memejamkan mata sejenak karena rasa lelah.

Tanpa melihat pun Kyuhyun tahu, mata Sungmin tengah terkunci ke arahnya. Tapi Kyuhyun membiarkannya, ia tengah mencoba berunding dengan perasaannya sendiri. Memendam rasa bersalah tanpa akar dan di sisi lain, hatinya mengatakan padanya bahwa ia masih memiliki hak untuk mempertahankan diri. Menolak pemaksaan perasaan ini.

“Dengar.” Kyuhyun berbalik, berbaring miring menghadap Sungmin. Untuk sesaat, sorot mata malang dan bibir yang gemetaran itu menahan Kyuhyun untuk mengatakannya. Tapi Kyuhyun merasa tidak bisa menyembunyikan hal ini lagi dari Sungmin. Ia tidak ingin memberi harapan palsu pada siapapun, terlebih pada seekor mutan yang merasa seluruh hidupnya bergantung pada Kyuhyun.

“Kalau kau berpikir aku tampan, baik, dan pahlawan saat aku membelamu dulu, tolong jangan berpikir terlalu jauh. Aku selalu melakukannya sejak kecil, aku punya kecenderungan yang selalu membuatku dirugikan. Aku tidak bisa melihat orang lemah dianiaya di depan mataku, dan termasuk saat itu— saat majikanmu me—ARH. Kau tahu, kan? Perbuatanku saat itu di luar kendali. Itu kebiasaan burukku sejak kecil.” –kebiasaan sok pahlawan. Kyuhyun berhenti. Baru bermaksud melanjutkan ocehannya lagi namun kali ini lidahnya terasa kelu. Pemuda itu tergagap memandangi mutan yang semakin meringkuk di hadapannya.

Sungmin menangis. Kali ini lebih jelas tanpa ada hasrat untuk menahan emosinya. Mutan itu terisak seakan tenggorokannya mampu mengeluarkan nada dan suara. Sesaat, suara tangisnya terdengar begitu normal namun entah kenapa Kyuhyun justru merasa takut mendengarnya.

Sungmin memejamkan matanya, mutan itu mengerat guling dalam pelukannya makin erat dan menunduk. Suara tangisnya terdengar menyayat. Kyuhyun tergagap, menelan ludah dan menghela napas berkali-kali, mencoba menjernihkan pikiran saat kerja otaknya berubah makin rumit bahkan hanya untuk menyusun kalimat-kalimat sederhana.

“J-jangan menangis, aku bersikap begini bukan berarti aku tidak mengerti.” Kyuhyun menggigit bibirnya, bohong kalau ia bilang tidak merasa bersalah. Melihat mutan itu menangis saja membuat dadanya terasa sesak, seperti terhimpit. “Kau mengagumiku, aku tahu. Kau bersimpati padaku, aku tahu. Tapi kau juga perlu tahu, aku tidak suka pura-pura dan aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu.”

Sungmin tidak menjawabnya. Tapi melihat kepal tangan yang makin mengerat itu, Kyuhyun tahu kalau mutan ini mengerti setiap baris kalimat yang diucapkannya.

“Aku tidak ingin merasa terbebani dengan ikatan, hubungan, atau apapun itu. Masih banyak mimpi yang belum kucapai— hell, bahkan aku belum berniat pacaran!” Kyuhyun meremas kepalanya, seketika merasa frustasi. Ia mendengus berkali-kali bermaksud menahan sesak di dadanya saat kalimatnya barusan memaksa sebuah kenangan kelam kembali ke dalam benaknya. “Kau bisa cari majikan lain yang bisa lebih menyayangimu dan punya banyak waktu luang untumu. Tapi kusarankan, jangan Shim Changmin. Dia tukang main wanita, kau tidak boleh berhubungan dengannya.” Ocehan Kyuhyun tiba-tiba berubah menggebu. Sirat nada cemburu itu berlalu begitu saja tanpa disadari oleh siapapun di dalam ruangan itu.

Sungmin tenggelam dalam emosinya, tangisnya berubah makin pilu dan tubuh itu gemetar, nyaris tampak mengejang. Kyuhyun menyadarinya dan langsung merutuk memaki mulutnya yang kelewat lepas kendali. Ditekan tuntutan untuk menenangkan Sungmin, Kyuhyun meraup tubuh itu dan memeluk mutan itu dengan lembut.

“Baiklah! Baiklah! Kita lihat saja nanti, kalau aku mulai menyukaimu, aku akan mengatakannya.” Kyuhyun mengusapi punggung Sungmin hingga suara tangis mutan itu terbenam di dadanya. “Tapi sekali lagi kukatakan, mimpiku terlalu tinggi untuk diganggu. Tidak oleh siapapun.”

Suara tangis Sungmin kembali mengeras.

“Haish!” Kyuhyun mendengus, kembali menarik Sungmin dekat ke dalam pelukannya. “Aku tidak bisa menjanjikan perasaanku. Tapi aku berjanji akan menolongmu. Akan kulakukan apapun untuk menyelamatkanmu.”

Tangis Sungmin berubah pelan, mutan itu mengerat kaus depan Kyuhyun seakan seluruh hidupnya bertumpu di sana. Ia mengerjap lemah, menerima kehangatan Kyuhyun yang tiba-tiba ditawarkan padanya dengan senang hati. Ia menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun, tidak peduli pada hela napas panjang dan dalam yang membuat sandaran kepalanya sedikit terganggu.

“Hah. My life.” Kyuhyun mengeluh lagi, sebelum memejamkan matanya dan merangkul Sungmin dengan sebelah tangan. Sesaat, ia ingin beristirahat meski beban barunya berada sedekat ini. Di atas dadanya.

 

.

oOoOoOo

.

 

“Hyung, kau yakin tidak mau menunggu sampai bocah itu keluar?” Ryeowook bertanya khawatir, sejak tadi ia hanya bisa mengekori Heechul yang sudah bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan segelas susu juga roti panggang di atas nampan.

Ryeowook ragu pada niat hyung iparnya ini. Kalau Yesung yang jauh lebih sabar dari Kyuhyun saja sudah dibuatnya emosi subuh-subuh sekali, apalagi Kyuhyun yang setengah jiwanya sudah dihinggapi setan jauh sebelum ia terbentuk di dalam rahim nyonya Cho???

Subuh tadi Heechul menerobos masuk ke dalam kamar tamu tempatnya dan Yesung menginap, lantas mengutarakan niatnya untuk berjalan-jalan hari ini pada dua orang yang dibangunkan dengan paksa dan belum sepenuhnya mengumpulkan nyawa. Ryeowook mendesah, tidak setuju namun di saat yang sama ia juga tidak bisa melarang Heechul. Tidak ada yang bisa melarang Heechul kecuali suaminya sendiri. Dan Hangeng sudah pergi dari mansion bahkan sebelum subuh menjelang.

“Ini rumahku, jadi terserah padaku.”

  1. Ryeowook semakin dibuat kelimpungan. Bukan ia tidak mau mendukung niat baik Heechul, tapi ia ingat sekali ekspresi Kyuhyun semalaman. Bocah itu tampak bad mood dan berbeda dari biasanya. Hanya melihat gelagat langka itu saja sudah membuat Ryeowook bergidik dan tidak ingin mengusik adik iparnya untuk sementara. Tapi Heechul benar-benar tidak bisa dilarang, mutan dewasa itu meniti langkah dengan penuh semangat dan langsung membuka pintu kamar tamu yang ditempati Kyuhyun dan Sungmin tanpa permisi.

Ryeowook mencoba menahan, tapi tentu saja, gagal.

Heechul meletakkan nampan makanannya di atas meja nakas dan beranjak untuk membuka gorden. Sinar terik matahari kontan menerobos masuk dan menghantam sekujur tubuh Kyuhyun yang berbaring miring menghadap jendela. Kyuhyun mengerang tidak senang, mencoba menghalau sinar menyilaukan itu dengan menutupi wajahnya. Mutan di balik tubuhnya tentu saja masih terbaring dengan nyaman, Sungmin mendekapnya dari belakang dan hampir seluruh tubuh mutan itu terlindungi oleh punggung Kyuhyun.

“Kyuhyun, kau tidak ada kuliah?” Ryeowook memindahkan gelas susu dan piring roti itu ke atas meja, lantas ia mengambil nampannya. Berpura-pura memindahkan barang-barang itu saat niatnya yang sesungguhnya adalah menghalau sinar matahari yang tepat menerpa wajah Kyuhyun.

“Tidak ada kelas. Dan aku mengantuk, tolong tutup jendela dan pintunya.” Kyuhyun mendengus, baru saja berbohong dengan begitu lancarnya. Hari ini seharusnya ia mengikuti tiga kelas hingga sore hari, tapi tiba-tiba ia merasa malas beranjak kemanapun. Terlebih dengan dua tangan melingkar erat di pinggangnya, Kyuhyun tanpa ragu menarik selimut untuk melindungi tubuhnya sekaligus tubuh ringkih di belakangnya.

“Enak saja main usir! Aku mau mengajak Sungmin belanja hari ini, cepat menyingkir! Biarkan Minnie sarapan pagi dulu!” Heechul membentak kesal, suaranya yang melengking kontan membuat Sungmin berjengit ketakutan. Hanya Ryeowook dan Kyuhyun yang menyadarinya, Ryeowook menghela napas murung sedangkan Kyuhyun hanya bergeming dan makin menarik selimutnya setinggi leher.

“Hyung…” Ryeowook merangkul lengan Heechul, rautnya berubah sendu saat ia menatap mutan dewasa itu. Heechul tidak bisa ditentang dengan bantahan, tapi begitu Ryeowook memohon tanpa kata-kata, Heechul bersedia menurut dan sedikit menenangkan emosinya. Meski tentu saja, Heechul tetap tidak rela.

Mutan dewasa itu menghentakkan kakinya, lagi-lagi merasa sesak pada penolakan Sungmin dan semua orang. Ia hanya ingin berada di dekat mutan belia itu, kenapa semua orang terkesan menyulitkan niatnya?

“Setidaknya biarkan aku tahu ukuran pakaian Sungmin. Aku mau beli pakaian untuknya!” Heechul tetap ngotot.

“Ukurannya sama dengan baju pinkmu itu, cari saja di kloset sebelah sana itu. Sudah hush, hush, aku mau tidur!” Kyuhyun menunjuk-nunjuk kloset pakaian di sudut kamar, membuat Heechul kembali menghentakkan kaki kecewa karena usahanya lagi-lagi gagal.

Ryeowook menggeleng melihat tingkah dua saudara iparnya itu, pada akhirnya dirinyalah yang bergerak menuju kloset dan mencari pakaian pertama yang dipinjamkan Heechul pada Sungmin.

“Ayo hyung, kita saja yang berbelanja. Biarkan mereka istirahat.” Ryeowook mencoba menarik Heechul keluar, namun mutan itu masih ngotot bertahan di dalam kamar. “Chullie-hyung, kau ingat pesan Hangeng-hyung, kan?” Ryeowook merayu lagi, kali ini kerutan di keningnya bertambah, bermaksud menunjukkan rasa prihatinnya pada Heechul. “Minnie belum boleh dibawa keluar sembarangan. Apa kau lupa? Kejadiannya baru semalam…”

“Kita bisa bawa bodyguard! Polisi kalau perlu!”

“Hyuuung~”

“Mutan ngeyel.” Kyuhyun mencibir.

“Kalau begitu biarkan dia sarapan, Cho brat!”

Kyuhyun mendengus lagi, dengan mata terpejam tenang, ia terkekeh, setengah mengejek.

“Tidak ada yang melarang. Sungmin, hush, sana sarapan.” Kyuhyun menggoyang punggungnya, menyuruh mutan itu melepaskan diri darinya. Tapi bukannya beranjak, Sungmin malah menggerung tak senang dan makin membenamkan wajahnya di punggung Kyuhyun.

“Uuung~”

“Lihat? Aku tidak melarangnya, dia yang tidak mau denganmu. Jadi sebelum terjadi konflik lagi, silahkan keluar dari kamar ini dengan tenang.”

“BOCAH SETAAAANNN!”

“Hyuuung—“

Heechul hampir-hampir melempar vas bunga ke arah ranjang, kalau saja ia tidak ingat Sungmin berada sedekat itu dari sasarannya. Tapi melihat penolakan halus Sungmin, Heechul seakan tampak mulai menyerah. Ditambah dengan Ryeowook yang terus memegangi bahunya dan merayunya untuk keluar. Kali ini, Heechul menurut, meski dengan tidak rela dan ia berbalik sembari menghentakkan kakinya.

Heechul meninggalkan mansionnya yang lebih ramai dengan penjagaan dua kali lipat dari hari biasa. Padahal ia berniat pergi dengan Sungmin hari ini, tapi Heechul berakhir terdampar berdua saja (ditambah enam bodyguard) bersama Ryeowook di sebuah pusat perbelanjaan Seoul. Keduanya berdiri di mutan section tanpa berbincang satu sama lain. Heechul tampak masih kesal dan Ryeowook tidak berani memulai obrolan diantara mereka.

Namun pemuda bertubuh pendek itu justru berakhir sibuk dalam dunianya sendiri. Ryeowook begitu terkesan pada baris-baris rak pakaian khusus mutan yang berjejer rapi di sekelilingnya. Semuanya lucu. Dengan gemas Ryeowook meremas bulu bulat yang menempel di sebuah celana pendek, persis menyerupai ekor kelinci. Semua yang dilihatnya disini, tak ayal membuat Ryeowook dengan penasaran berjalan kesana kemari dan menyentuh semua benda lucu yang

Hoodie, jaket, kaus, kemeja, piyama, underwear, hingga lingerie. Ups. Ryeowook buru-buru melepaskan tangannya dari pakaian tipis berbahan transparan itu dan segera melesat pindah ke baby section. Ini adalah kali pertamanya berkunjung ke toko yang semua isinya untuk mutan! Baju, celana, tas, topi, sepatu. Sebelumnya, ia memang tidak pernah menaruh minat sedikitpun pada makhluk peralihan itu. Bahkan sebelumnya lagi, Ryeowook sempat tidak menyukai mutan. Mengingat sejarah yang dimiliki Yesung bersama seekor mutan miliknya dulu— Ryeowook sempat tidak bersimpati sama sekali meski tidak jarang ia mendengar kasus-kasus menyedihkan berhubungan dengan makhluk-makhluk itu. Tapi seiring waktu, Ryeowook mulai mengenal ras mereka.

Empat tahun yang lalu, dari Heechul. Dan sekarang… Sungmin.

Makhluk berekor dan bercuping itu… Ternyata tidak jauh berbeda dari manusia. Terluka saat disakiti, menangis saat sedih, dan tersenyum saat merasa senang. Ryeowook meremas gaun mungil berwarna kuning di tangannya. Ia menggigit bibir, membayangkan seperti apa rasanya jika ia terlahir menjadi seekor mutan. Makhluk yang lahir untuk menjadi peliharaan manusia. Bagaimana rasanya?

Ryeowook menghela napas. Diletakannya kembali gaun mungil itu sembari berbalik. Dan saat ia beralih ke rak di sisinya, Ryewook memekik, terkejut melihat benda itu dan buru-buru meraihnya.

Sebuah gaun. Dengan beludru merah muda di bagian bawah dan lengan bergaya menggembung. Sebuah pita merah lekat mengitari pinggang dan kerahnya. Gaun mungil yang cantik. Tapi bukan hal itu yang membuat Ryeowook memekik. Ukuran gaun itu telah membuatnya terperangah. Potongan pakaian bayi itu begitu kecil, mungil, tidak lebih besar dari ukuran dua telapak tangannya. Bahkan bagian bahunya yang menggembung hanya sebesar bulir anggur.

“Heechul-hyung! Lihat ini!”

Heechul yang sejak tadi berdiri di shirt section mendongak, menatap adik iparnya dengan kening bertaut sebelum melangkah mendekat.

“Ini baju boneka?”  Ryeowook makin terkesima saat dibolak-balikknya pakaian mungil itu.

Heechul tertawa. “Itu untuk kitten.”

Ryeowook terperangah, mulutnya terbuka saking terkejutnya. “Apa bayi mutan sekecil ini?”

Heechul tersenyum mengerti, seulas sirat kesedihan melintas di rautnya saat diraihnya benda mungil itu. “Beberapa lahir lebih cepat dari kitten biasa, jadi— itu ukuran normal setelah usianya lima minggu.”

“Lima minggu?” Ryeowook membulatkan matanya, tidak percaya. Baginya ukuran itu cocok untuk janin merah berusia lima bulan, janin yang belum seharusnya keluar dari rahim ibunya. “Ini tampak seperti baju mainan…”

“Memang.” Heechul hanya tertawa, kemudian diletakannya kembali gaun itu sembari menggiring Ryeowook menuju children section. Heechul tidak ingin mengejutkan adik iparnya lebih jauh lagi. Disana mereka akan menemukan gaun-gaun yang tampak lebih normal, seukuran anak-anak yang sudah tumbuh sebagaimana mestinya.

Ia sendiri sudah sering berbelanja di tempat ini, membeli banyak pakaian-pakaian mungil, sepatu, dan tas untuk kemudian disumbangkannya ke penampungan mutan. Dalam enam tahun kebebasannya, Heechul merasa belum melakukan banyak untuk kaumnya sendiri. Membangun tiga penampungan bagi bayi dan mutan-mutan pelarian, mendirikan beberapa cabang konsultan di Seoul, nyatanya belum cukup mengangkat hak asasi bagi mutan sepertinya.Ada banyak sekali bayi-bayi dan balita mutan yang terlantar dan dibiarkan menunggu ajalnya begitu saja, dibuang sejak mereka dilahirkan. Dan untuk beberapa yang mewarisi genetika baik orangtuanya, akan dijual untuk kemudian kembali mengalami nasib yang sama dengan induknya.

Heechul menggigit bibirnya, menyesal saat ia mengenang-ngenang memori mengerikan itu. Sebelum ia mati, Heechul sudah bersumpah akan menyerahkan seluruh nyawa dan usahanya untuk membantu kaumnya. Mutan berhak memiliki kedudukan yang sama dengan manusia. Karena lahiriahnya, mutan dan manusia berasal dari nenek moyang yang sama. Apa yang membedakan mereka? Cuping dan ekor itu? Atau sifatnya yang condong hewani? Tapi mutan tidak sebinatang itu untuk diperlakukan lebih rendah dari binatang.

Heechul tidak akan membiarkan mutan lain mengalami hal mengerikan yang pernah dialaminya. Terlebih Sungmin. Meski mutan belia itu sudah terlanjur merasakannya. Setidaknya Sungmin belum terikat lebih jauh. Lebih baik kehilangan sejak awal, daripada merasakkan kittennya direnggut paksa, gugur saat hanya menunggu sesaat lagi untuk dilahirkan.

“Hiks…”

Heechul tersentak dari lamunannya. Baru sadar Ryeowook sudah tidak berada di sisinya, pemuda itu berdiri tiga blok dari tempatnya dan berpaling padanya penuh tanya. Heechul menggeleng pada Ryeowook, ia berpaling, merasa mendengar suara tangis kecil.

“Hiks— Daddy!”

Heechul menunduk, mengikuti suara tangis yang terdengar dari bawah. Ia berjalan pelan menyisiri bawah sela rak-rak gantung.

And there—

Sepasang kaki mungil menyembul dari sela gaun panjang yang digantung dan menguntai hingga ke lantai. Pelan, Heechul berjongkok di hadapan kaki-kaki mungil itu. Tidak ingin mengejutkan siapapun yang berada di dalamnya, Heechul menyikap barisan piyama dewasa itu dengan hati-hati, dan suara jerit tangis bocah 6 tahun menyambutnya.

“H-Hueeeeee!!! DADDY!”

Heechul tersentak panik, Ryeowook yang berada lebih dekat kali ini buru-buru menghampirinya. Pemuda itu ikut terkejut melihat seorang anak perempuan terduduk menangis di sela pakaian-pakaian yang menggantung.

“H-hyung?”

Heechul tampak shock, untuk sesaat. Sebelum tangannya yang gemetar terulur. Sebuah senyum kaku terukir di wajah mutan dewasa itu. “Sssh, chagi kenapa disini? Kemari, keluar bersamaku.”

“A-aku mau Daddy! Hiks, Daddy—” bocah itu menangis terisak. Meski kini suara jeritnya sudah berhenti, bibir mungil yang basah itu masih gemetar. Tubuhnya yang kecil tersembunyi nyaris sempurna di bawah barisan pakaian. Jaket bulu merah muda yang dikenakannya sedikit naik menunjukkan putih perut mungilnya. Heechul buru-buru membenahi jaket gadis kecil itu, dan tiba-tiba merasa heran karena tidak mendapatkan penolakan. Gadis kecil itu terdiam. Bahkan suara tangisnya mulai redam. Dengan mata basah ia mengerjap, memperhatikan wajah dan rambut Heechul dengan seksama.

Heechul baru mengerti saat ia mengangkat kepalanya lagi, mencoba memperhatikan wajah itu dari dekat dan menyadari tudung jaket bocah itu terhempas ke belakang. Heechul tergagap. Baru berniat menanyakan nama saat dilihatnya dua cuping mungil berwarna merah mencuat dari sela rambut gadis itu yang panjang rapi sebahu.

Anak mutan!

Heechul menelan ludah. Ia mendongak, menatap Ryeowook yang sama terkejutnya. Mereka bertukar pandang sesaat, sebelum Ryeowook memutar kepalanya dan menatap keadaan di sekelilingnya. Sepi. Tidak ada siapapapun selain mereka bertiga di tiga section terdekat.

Heechul sendiri menarik napas dan tersenyum canggung. Hati-hati ia mengulurkan tangannya kembali, bersiaga menghadapi penolakan namun gadis kecil itu hanya mengerjap, memperhatikan dalam diam saat Heechul memperbaiki posisi tudungnya. Menutup kembali dua cuping mungil itu dengan tudung hingga ke keningnya.

“Kamu mutan?” suara kecil itu terdengar manis, di sela isaknya yang masih tersisa. Rasanya Heechul ingin memeluk mutan kecil ini dan segera membawanya pulang.

“Ya. Sama sepertimu, chagi. Ayo keluar…” Heechul menggenggam tangan mungil itu. “Kau mau cari Daddy? Biar kutemani mencari Daddy.”

Sesaat, mutan dewasa itu merinding, merasa seakan ada aliran listrik begitu tangan kecil itu balik menggenggam tangannya.

Tertatih, bocah itu keluar dari sana. Heechul tanpa ragu meraup tubuh kecil itu dan menggendongnya erat.

“Siapa namamu?”

“J-Jieun…” gadis itu mengucek matanya, napasnya masih tersengal setelah lima belas menit dihabiskannya untuk menangis. Tenaganya sudah habis, dan dengan senang hati ia menerima tawaran bibi mutan yang tiba-tiba menggendongnya ini.

“Hyung, service center ada di sebelah sana. Kau berjalan ke arah berlawanan.” Ryeowook menahan napas, keningnya bertaut saat dilihatnya Heechul terus melangkah tanpa berniat menanggapi protesnya. Mutan itu hanya berpaling sebentar, meliriknya sebari membisikkan ‘Kita cari tahu dulu.’ tanpa suara.

Seakan menyadari dirinya dibawa semakin jauh dari ayahnya, Jieun melirik Heechul dengan bingung. Bibirnya bergetar lagi sebelum gadis itu kembali menangis dengan suara keras. “Daddy mana? Aku mau Daddy hueee~”

Beberapa orang yang berpapasan hanya menggelengkan kepala melihat mereka. Seorang mutan dewasa dengan cuping merah menggendong mutan kecil yang nyaris tampak seperti duplikatnya. Mungkin mereka berpikir kedua mutan itu kehilangan majikannya. Heechul dengan senang hati membiarkan mereka berpikir seperti itu. Dengan langkah lebar ia berjalan, menggiring Ryeowook dan membawa Jieun menuju food court di ujung lantai.

“Kubelikan eskrim untukmu, ne! Jangan menangis, cup cup.”

DDaddy!” Jieun memberontak. Heechul buru-buru duduk di kursi terdekat yang bisa diraihnya, ketakutan ia akan menjatuhkan tubuh kecil itu.

“Aku dan oppa disini akan menelpon Daddy, Jieun menunggu Daddy bersamaku, ne!” Heechul tersenyum lagi, semakin lihai berbohong dengan senyumnya yang tampak makin ramah.

“Kenapa Daddy lama sekali? Apa Daddy marah lagi?” Jieun mendongak dan menatap Heechul dengan dua bola matanya yang berkilat polos. Heechul tersenyum sedih, ia bertukar pandang dengan Ryeowook. Adik iparnya pasti berpikir tentang hal buruk yang sama setelah mendengar penuturan jujur gadis kecil itu.

Apa bocah ini korban penganiayaan juga?

Eskrim mereka datang. Heechul memesan menu yang sama untuk mereka bertiga. Ia tersenyum tipis melihat Jieun yang kontan berbinar-binar dan memekik senang melihat semangkuk besar eskrim diletakkan di hadapannya.

“Eskrim yeay! Tapi ahjumma—“

Oppa, sayang.”

Oppa?” Jieun kebingungan.

Oppa.” Tekan Heechul sembari tersenyum.

Jieun hanya mengedipkan matanya dan pada akhirnya menurut, meski tidak mengerti.

“Tapi oppa, nanti Daddy marah kalau aku makan eskrim…”

“Sedikit tidak apa-apa.”

Jieun masih ragu, tapi tiga scoop besar dengan taburan coklat dan potongan pisang itu tampak begitu menggoda. Dengan takut-takut, gadis itu melahap sesuap sebelum bercerita lagi dengan mulut penuh. “Dulu gigiku sakit sekali, lalu Daddy marah pada semua orang di rumah. Dia menghancurkan gucci besar di ruang tamu. Aku takut.” kisahnya dengan raut suram. Heechul membersihkan lelehan eskrim di sudut bibir Jieun, lalu melirik Ryeowook dengan pandangan sama-sama tahu.

Daddy membawaku ke dokter gigi dan Daddy juga marah-marah pada dokter gigi. Tapi dokter gigi lebih mengerikan! Aku tidak mau kesana lagi.”

Heechul tertawa hambar. Dengan cepat menangkap bagaimana karakter orang yang dipanggil ‘Daddy’ itu hanya dari cerita singkat Jieun. Tempramen. Ada banyak majikan yang seperti itu. Dan dengan memanggilnya Daddy, tidak berarti orang itu benar-benar ayah Jieun. Heechul khawatir pada prasangkanya sendiri.

Ada banyak kasus penjualan mutan ilegal. Salah satunya mutan di bawah umur hingga mutan anak-anak. Dipelihara sejak kecil untuk kemudian dipersiapkan menjadi sex doll. Heechul bergidik membayangkan gadis kecil di hadapannya ini akan mengalami hal itu.

Heechul merasa dirinya harus mencari tahu. Ia melirik risleting jaket Jieun yang sedikit terbuka, sebuah rantai emas melingkari lehernya. Ryeowook melirik Heechul dan menelan ludah, memberi aba-aba untuk ikut dalam obrolan mereka.

“Jieun boleh oppa lihat kalungmu?” Ryeowook tersenyum, wajah lembut itu berhasil membuat Jieun mengerjap dan mengangguk-angguk, merasa tidak terganggu dan masih asik dengan eskrimnya.

Ryeowook membuka risleting jaket kecil itu hingga ke bawah perut. Dengan lembut disikapnya jaket itu, Ryeowook tidak ingin Jieun menyadari bahwa tujuannya yang sebenarnya adalah mengecek bagian terawan tubuh mungil itu. Bahu dan dada atasnya… Kaus kecil berkerah V neck yang sedikit lebar itu benar-benar membantu, Ryeowook hanya menariknya sedikit dan sebagian besar bahu hingga dada kanan Jieun tampak jelas baik olehnya juga oleh Heechul. Heechul dan Ryeowook bertukar pandang, lagi. Dada mungil itu begitu putih, pucat, dan mulus. Tidak ada tanda-tanda penganiayaan bahkan bekas luka yang sudah lama.         Heechul merasa berdosa saat ia justru kecewa tidak mendapatkan bukti penyiksaan di tubuh Jieun.

“Omong-omong, nama Daddy-mu siapa, Jieun-ya?” Heechul bertanya lagi, sembari tersenyum manis. Jieun mengangkat wajahnya, tampak terkejut mendengar pertanyaan itu. Dengan gugup gadis kecil itu menggigit sendoknya. Tampak enggan untuk menjawab dan sekarang justru terlihat sedikit gelisah. Gadis kecil itu mengayunkan kakinya dan menunduk, jelas sekali menolak menjawab pertanyaan Heechul.

Binggo!

Heechul menggigit bibirnya, diam-diam merasa senang. Dengan menolak untuk menjawab, Heechul semakin yakin kalau gadis kecil dihadapannya ini memang perlu diselamatkan.

Sedangkan Jieun, memiliki alasan lain untuk tidak menjawab pertanyaan Heechul. Ia sudah hafal sekali pada hal-hal yang sering diajarkan ayahnya. Semua yang boleh dilakukannya dan tidak boleh dilakukan. Yang boleh dikatakannya dan tidak boleh dikatakan. Terlebih saat berada di luar rumah.

‘Ada banyak orang yang membenci Daddy, dan ingin menyakiti Daddy lewat Jieun. Jangan katakan siapa Daddy kalau ada yang bertanya, bilang saja Jieun keponakan Minho ahjussi.’

Tiba-tiba, Jieun merasa bersalah pada ayahnya sendiri. Kenapa ayahnya belum juga datang? Padahal oppaoppa ini sudah menjanjikan kedatangan Daddy-nya.

“Aku mau Daddy, aku mau pulang.” Jieun mengiba, meletakkan sendoknya dengan lesu dan melirik Ryeowook yang masih sibuk memperhatikan bandul kalungnya.

Ryeowook menganga, ia bertukar lirikan lagi dengan kakak iparnya sembari menunjukkan bandul Jieun dan membolak-baliknya di hadapan Heechul. Heechul itu mendelik, kaget.

Kenapa collarnya polos?

Bandul bulat itu menyerupai koin besar polos yang mulus tanpa huruf apapun, tidak ada ukiran apapun.

‘Ada yang tidak beres disini.’ Heechul berdiri, mengeluarkan ponselnya sembari tersenyum sedih pada Jieun. “Daddy tidak membalas pesanmu sejak tadi. Sekarang oppa akan menelponnya, Jieun tunggu disini bersama Oppa Wook, ne!” gugup, Heechul mendial nomor ponsel suaminya sendiri.

Jieun tidak sempat bertanya, Heechul langsung melesat pergi. Padahal sejak tadi gadis itu merasa heran dari mana oppa-oppa ini bisa mendapatkan nomor ponsel ayahnya. Mungkin dua orang ini bekerja pada ayahnya? Seperti Yongguk ahjussi dan Himchan-oppa?

.

oOoOoOo

.

Sosok tinggi kekar itu melangkah menghentak. Tiga bodyguard di belakangnya berjalan dengan sedikit tertatih. Ditendang, ditampar, dan mendapatkan bogem pagi buta bukan hal menyenangan. Tapi langkah mereka berubah tegap saat majikannya berbalik, mendelik dengan sengit.

“Kalau sesuatu terjadi pada putriku, kalian akan mati.”

Ketiganya saling melirik, satu sama lain. Tidak bisa menyangkal getar ketakutan saat melihat kilat kekejaman yang begitu serius terpancar di mata boss mereka.

Pria itu mencaci lagi, ia nyaris menghancurkan meja Service Center saat para pelayan bodoh itu mengatakan tidak ada seorangpun bocah hilang yang ditemukan. Apa yang harus dilakukannya jika ia tidak bisa menemukan putrinya di dalam department store ini? Pria itu bersumpah akan merobohkan bangunan ini. Ia akan menemukan Jieun dimanapun! Sekalipun ia harus membakar satu demi satu department store di Seoul. Ia akan menemukan putrinya kembali, menghilang di belahan dunia manapun.

“Jieun baby, kau dimana, chagi?” dengan frustasi, pria itu melangkah menyusuri section demi section. Semakin luas daerah yang berhasil disisirinya, semakin sesak pula dadanya terasa. Tidak tampak Jieun dimanapun!

Pria itu nyaris kembali melampiaskan amarahnya dengan memecahkan sebuah etalase aksesories kaca, saat bertepatan wajahnya memandang ke arah food court. Jarak lima belas meter dan ditutupi oleh rak-rak topi, tetap tidak menghalangi pandangannya. Sejauh apapun jarak pandangnya, dengan cepat pria itu mampu mengenali sosok putrinya. Duduk di dalam kedai eskrim bersama seorang pemuda, pria itu tidak menunggu lagi dan langsung berlari dengan langkah jenjangnya, menghampiri Jieun.

“Jieun!”

Menyadari siapa yang baru saja memanggilnya, Jieun segera turun dari kursinya dan memekik senang. “Daddy!”

Pria itu segera memeluk Jieun dan menggendongnya erat-erat. Menyesap pipi tembam putrinya dengan putus asa, menyesap aroma sabun di tubuh Jieun. Melampiaskan kerinduan seakan-akan ia sudah terpisah berpuluh-puluh tahun dari putrinya.

“Kau kemana saja, baby? Daddy sudah bilang, jangan pergi jauh-jauh!”

“Aku mau lihat topi bulu, lucu sekali.” suara Jieun mencicit, bibirnya mengerucut dan gadis itu menunduk, merasa bersalah sekaligus takut.

Ryeowook duduk terpaku, terlalu terkejut melihat drama itu. Ia tidak berani bersuara, apalagi menyela. Tapi pada akhirnya eksistensinya disadari oleh pria bertubuh kekar itu. Hanya melihat sorot matanya yang tajam dan tampak kejam, Ryeowook sudah ingin menyusut, berlindung pada Yesung namun sayangnya, tunangannya berada jauh darinya sekarang.

“Apa yang kau lakukan pada putriku?”

Ryeowook tersentak, tangannya gemetaran. Pertanyaan bernada mengancam itu membuat hatinya gentar. Ia bahkan bingung harus menjawab apa.

“Daddy! Daddy jangan marah! Oppa ini menolongku tadi, dia yang membantuku menemukan Daddy!” Jieun menarik jas ayahnya, seakan panik ayahnya akan mengamuk pada Ryeowook.

Pria itu memandang putrinya dengan kening bertaut. ‘Menemukan Daddy? Daddy yang menemukanmu, chagi.’ Tapi akhirnya, ia memutuskan untuk tidak menyela Jieun, saat putrinya menangkup wajahnya yang besar dengan dua tangan mungil. Lalu Jieun memandangnya dengan raut memelas.

“Daddy jangan marah lagi, please.”

“Daddy tidak marah padamu, chagi. Tidak pernah padamu.” Pria itu mendesah, lalu memeluk Jieun lagi dan mengusapi kepala mungil itu. Rautnya masih tegas saat ia memandang Ryeowook, tapi kali ini, tidak ada gurat kekejaman disana. Pria itu membungkuk sedikit, lalu berujar dengan suara datar. “Terimakasih, sudah menolong putriku.”

Ryeowook terlalu bingung untuk berkata-kata. Pria itu langsung pergi meninggalkannya. Tiga bodyguard yang mengikuti pria itu sempat membungkuk padanya juga sebelum mengikuti majikan mereka. Ryeowook bersandar lemas dikursinya, ia melirik empat pria yang berdiri tidak jauh darinya dan memberi aba-aba pada mereka kalau dirinya tidak apa-apa. Sesaat tadi, keempat bodyguard Heechul pasti sudah keluar kalau pria itu menyentuhnya sedikit saja.

Pria itu, melangkah keluar dari toko tanpa melepas pandangannya dari Jieun.

“Jieun— baby jangan lakukan itu lagi, ne! Daddy panik sekali, kau mau daddy membakar toko ini sampai hangus?”

Jieun membulatkan matanya. “Daddy mau membakar Jieun?”

“Kalau Daddy tidak menemukan Jieun disini tadi, Daddy akan membakar toko ini sampai hangus. Jangan pergi jauh-jauh lagi.”

“Yaaa! Maafkan Jieun, Daddy!” Jieun mengangkat tangannya sembari tersenyum lebar, noda coklat yang tersisa di giginya membuat pria itu mengerutkan kening.

“Daddy lihat kau makan eskrim!”

Jieun mendelik, buru-buru menutup mulutnya dengan dua tangan. Hal itu membuat ayahnya tertawa, senang. Dengan gemas pria itu mengecup bibir putrinya sekilas.

“Kali ini Daddy maafkan, lain kali, kau harus ke dokter gigi dan dokter akan menarik ulat di bawah gigi Jieun.”

“TIDAK MAU HUEEEE!”

.

oOoOoOo

TBC

oOoOoOo

.

 

Maaf banget updatenya lama, dan isinya sedikit. Maaf banget, maaf banget. Saya lagi sibuk banget sama kuliah T^T

Minta support finansial dong #eh *digebugin*

18 thoughts on “Kitty-Kitty Baby! – Chapter 11

  1. loveKyu says:

    akhirnya update jg….
    jd hukum ny klo kyu isa bknsungmin hamil…sungmin isa jd milik kyu secara sah…..
    ayooo kyu…cpt2 bkn ming hamil…hahaha

    knp y feel qu blg klo jien anak heechul
    and yg d panggil daddy ma jien tu siwon

    bnr g y???

    okey author…mohon d lanjut cz aq suka ma ff mu….

  2. sha says:

    karena saya gak bisa buka ffn, saya comment disini lah ya ^^~

    udah, kyu suruh hamilin ming aja tuh. kkk

    ini kyumin edisi galau yak?

    minu? anaknya atau…….

    lanjut asap ne author ketjeh🙂

  3. Kenapa aku ngerasa itu suwooooon….. ya ampiyuuun… kalo siwon berarti baby nya heechul donk…… oemjiii….. ,hrhehe, kyumin belum ada kemajuan y aa thorr … ╯△╰ ….nungguin mereka bikin baby kayaknya masih bakalan lama….. betewe ini aku sengaja stalking wp nya author gegara gak tau kenapa, ffn gak bisa aku buka di hp….. *curcol.. yang semangat buat next chpt…….. ditunggu ya author nim…. meskipun aku tau bakalan lama.. hiks….hehehehe…

  4. shanty kyuminnie arashi says:

    Haaahhhhh….. sungmin masih bgtu jg …
    Sampai kapan dia masih takut dengan orang lain … yahhh… meskipun sungmin k changmin jg ga takut… tp klo ngeliat k heechul ga tega jg ya …
    Padahal dia cm pengen deket sama ming…

    Tp seenggak nya kyu sekarang ga terlalu cuek kya dlu …
    Ga sabar tgu kyu sampe bener2 cinta sama ming…

    Jieun itu anak siapa ya ???
    Penasaran….
    Lanjut fiqoh…

  5. KANG SANGHEE says:

    changmiinnn~~ huwee kenapa peranmu amat nista disini/? wkwk
    keluarga ini amat sangat berbahaya-.-
    kok kayaknya yang baik sama sungmin cuma dikit sih? kan kasihan ;;-;; saudaranya macam aneh semua ‘-‘

    • KANG SANGHEE says:

      ini kenapa bisa salah tempat? *nunjuk komenan sendiri* maaf yahh.. kayaknya handphoneku rada error :((

  6. Akhirnya max buka suara yee.. #tebar confetti
    Hamilin aja kyu , kan katanya ma bantu #polos
    Kak mau nanya nih ambisi dan cita cita kyuhyun yg sebenernya itu apa sih kayaknya dia terobsesi sama cita citanya. Makasih

  7. Bella Nindysh says:

    Omo omo sungmin chagi manja bgt eohh aww😄
    pakai peluk2 gitu sosweet😄
    chul bener2 mutan ngeyel emg berisik bgt dan keras kepala._.#ditabokchul
    ji eun lucu bgt, ak ngerasa itu anak chul sm won, muka chul mirip kan sm anak itu.. Ya ampunn><
    tiba2 kangen chang di part ini._. Chang😄 seneng bgt kalo chang nyempil dan baweeeeel hahaha
    ok lanjut, keep writing kak fiqooh hehe

  8. Itu anak hilang anak siapa ya?? Terus yg jadi daddy nya siapa?? Aigoo,feeling aku itu dari keluarga choi deh. Aku lanjut baca next chapter ya min

  9. 010132joy says:

    Huh coba kyu mau bikin ming hamil kn lbih mendingan buat ming tp klo kyu nolak anaknya jg sma aja bohong sih
    kyu ngmongnya gitu sih dia bner2 ga mau pura2 dan gamblang ngmongin klo dia ga bisa sma ming hhh sma aq aja ming hehe
    itu anaknya siapa yg ilang? Kok dbilang mirip hechul sih, chul klo udah pengin apa dia harus dapetin ga mau tau apa2 ckck
    ga bisa bayangin kitten sekecil apa waktu baru lahir dr bajunya, kyanya kecil bgt y?
    baca lagiii

  10. Udah deh kyu bikin Ming hamil aja, lebih mudah. tinggal bikin kitten doang.. #uhuk
    heechul juga kayaknya masa lalunya miris banget, ampe gemeteran gitu liat keluarga choi.
    Eh, mereka jalan2 ke mall. tapi itu anak siapa ? jieun itu siapa ?
    terus, daddy nya juga siapa ? penasaran. tapi curiganya itu anaknya heechul terus daddy itu si siwon choi..

  11. Yayaa says:

    ada karakter baru lg…
    nah loh,siapa pula itu jieun dan dady’y…? apa ada hubungannya sama kyumin?
    btw,jieun itu iu kan yah…
    aku bayanginnya jieun itu iu,soal’y sama2 cewe cantik,kcl mungil & cute…

  12. apa dady itu siwon n sebenarnya kitten heechul blom meninggal,,, jien itu kitten heechul dr siwon. majin suka ma kyu walau suka ceplas ceplos n marah2 gak jelas

  13. Ahrin says:

    hwaa akhirnya sempat juga bcanya…
    Yeay akhirnya kyu udah mulai ad rasa tuh sma sih minnie hahaha
    Jieun ank.y spa sih? penasaran..
    Next next next

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s