The Host – Chapter 3

Kyuhyun membanting pintu mobilnya dan segera melangkah berputar menuju pintu kiri. Dengan tergesa ia membimbing Sungmin keluar dari sana. Kyuhyun benar-benar tidak peduli kalau sampai ada polisi lalu lintas yang membuntuti mereka. Berkendara dengan kecepatan 120 km/jam di pusat kota Seoul sudah cukup menjadi alasan jika ada polisi yang ingin menahannya. Tapi Kyuhyun sudah tidak bisa berpikir lagi, isi kepalanya sudah terlalu kacau jika harus dipaksa berpikir lurus. Yang terlintas dalam kepalanya hanya melindungi Sungmin, dengan membawanya pulang.

Prasangka aneh selama ia berada di rumah sakit tadi sudah cukup membuatnya berpikir dua kali, ia tidak ingin membawa Sungmin kemana-mana dulu. Setidaknya sampai ia mendapat ide harus melakukan apa. Tapi lagi-lagi Kyuhyun dibuat bingung saat Sungmin mencengkeram lengannya kuat-kuat, suara ringisan dan tangis tertahan itu nyaris membuat Kyuhyun tercekat.

Wajah Sungmin pucat pasi, keringat membasahi pelipis hingga tengkuknya, mata pemuda itu mengerat tertutup seakan ia tengah menahan rasa sakit yang luar biasa. Sungmin meremas bawah perutnya dengan tangan gemetar, rasa sakit itu berpusar disana, membuatnya kesulitan untuk fokus dan berdiri dengan kekuatan sendiri. Ia membiarkan seluruh tubuhnya bertumpu pada Kyuhyun.

“Hiks— Kyuhyun…” rintihnya lemah.

Kyuhyun segera merangkul bahu Sungmin dan menahan tubuh kekasihnya itu dengan sekuat tenaga, berusaha memapah langkah Sungmin memasuki pagar yang hanya berjarak tiga meter lagi dari tempat mereka berdiri.

Tapi Sungmin mengerat langkahnya, seakan bertumpu dan menolak bergerak kemana-mana. Suara tangis tertahan itu terdengar makin memilukan, Kyuhyun harus menggigit bibir untuk menahan buncahan sesak di dadanya sendiri. Melihat Sungmin kesakitan seperti itu, rasanya ia— tidak sanggup.

Kyuhyun merangkul pinggang kekasihnya makin erat, mulai merasa frustasi karena Sungmin menolak bergerak dan justru menggeleng gemetaran.

“Minnie, pelan-pelan. Angkat kakimu pelan-pelan sayang—“ Kyuhyun menginteruksi, mencoba memapah sebelah kaki Sungmin maju. Namun lagi-lagi, pemuda pendek itu menggeleng. Wajahnya yang penuh keringat mendongak, dengan lemas ia menyandarkan kepalanya ke bahu Kyuhyun. Matanya mengerjap lemah.

Ia berbisik pada Kyuhyun. “Kalau kita kembali ke rumah. Lalu apa yang harus kita lakukan?”

Kyuhyun tercenung. Ia menelan ludahnya getir, tidak mampu menjawab dan pada akhirnya ia benar-benar bungkam. Memaksa sebelah kaki Sungmin maju. Ia tidak bisa memikirkan hal lain kecuali kembali ke dalam rumahnya. Sesuatu berbisik dalam hatinya, seakan seluruh dunia luar ini mencurigakan baginya. Berada di dalam rumah, terasa lebih baik.

Tanpa Kyuhyun sadar bahwa awal dari semua pelik ini adalah rumahnya sendiri.

Kyuhyun memang tidak akan menyadarinya. Tapi Sungmin mengingat jelas keganjilan yang dialaminya dua hari terakhir. Bangunan di hadapannya ini seketika berubah menjadi tempat yang semakin asing, bulan-bulan yang dialuinya di sini belum pernah membuatnya merasa biasa. Dan dengan kejadian terkutuk yang menimpanya sekarang, Sungmin merasa semakin yakin untuk tidak memijakkan kakinya kembali ke rumah itu.

“K-Kyuhyun-ah…” Sungmin terisak lagi, berusaha menahan kakinya sembari terus menahan sakit yang mendera tubuhnya bertubi-tubi. Namun Kyuhyun tetap memaksa, membuat Sungmin terisak makin kencang dan mencakar lengan Kyuhyun dengan kuat. “Kyuhyun-ah! Aku tidak mau masuk ke dalam rumah! Kita ke rumah sakit saja! Ke rumah sakit manapun, aku mau Kyuhyun!”

“Kita kembali dulu, setelah itu akan kutelpon Leeteuk-hyung dan Donghae-hyung.”

“K-Kyuh—“ Sungmin tidak bisa menolak lagi, tubuhnya terlalu lemas seperti kertas yang tertiup angin. Ia tidak bisa mengelak saat Kyuhyun menggiring tubuhnya yang semakin kehilangan tenaga menuju pagar rumah.

Sungmin menangis terisak, merasa frustasi saat Kyuhyun bertingkah seakan tidak mendengar penolakannya.  Ia sudah berniat mengalah, saat itu. Merasa tidak memiliki pilihan lain saat Kyuhyun bahkan tidak memberikannya. Tapi pandangannya yang buram tak fokus, menangkap sosok seseorang di balik pagar tetangga. Mengintip, tanpa bermaksud menyembunyikan diri.

“Ssst!”

Sungmin mengeram takut, ia menarik lengan kemeja Kyuhyun. Merasa gentar, namun anehnya Sungmin tidak bisa mengalihkan pandangannya dan terus bertatap muka dengan sosok berkacamata hitam yang mengenakan bandana merah itu.

“K-Kyuhyun!”

Kyuhyun masih berjuang memapah Sungmin, ia mengabaikan suara jerit tertahan kekasihnya. Mengira itu sebagai penolakan Sungmin yang tengah panik. Sampai suara asing itu kini ikut terdengar jelas olehnya.

“Ssssst! Hei, kalian!”

Hal pertama yang dilakukan Kyuhyun saat menyadari keberadaan orang lain di dekatnya adalah, merangkul Sungmin. Melindungi tubuh depan kekasihnya sembari mendelik balik pada sosok yang berdiri begitu dekat dari pagar pemisah yang hanya setinggi dada.

Sesungguhnya, Kyuhyun merasa sama takutnya seperti Sungmin. Melihat seseorang dengan penampilan mistik dan mata yang ditutup kacamata hitam bulat. Kalung-kalung batu  bertumpuk menghiasi leher ramping itu. Anting-anting besar yang dikenakannya juga menambah aksen mengerikan yang membuat Kyuhyun mulai mengira-ngira; Sejak kapan ia memiliki tetangga seorang cenayang? Apa orang ini ada hubungannya dengan situasi yang menimpa mereka?

Kyuhyun menahan napas, bermaksud memunggungi orang itu dan memapah Sungmin kembali. Semakin cepat ia bisa mencapai rumah, semakin baik!

“Kau tidak bisa lari, roh itu ingin dibebaskan. Jangan lari.”

Kyuhyun tetap menyeret kekasihnya, mengabaikan suara yang terus memanggil itu meski hatinya mulai berteriak ragu.

“Kemarilah, aku bisa menolong kalian. Jangan kembali ke rumah itu!”

“Kyuhyun—“ Sungmin ikut menahannya. Kyuhyun menggeleng, semakin ngotot ingin membawa Sungmin kembali. Seakan ada sesuatu yang menariknya dari dalam rumah itu.

Rumah adalah tempat teraman untuk kalian.

Kyuhyun menyeret Sungmin dengan langkah tertunduk. Berusaha mengabaikan teriakan tetangga eksentrik itu dan mempercepat langkahnya untuk mencapai beranda rumah.

“Angkat kepalamu, pemuda!”

Kyuhyun merasakan ketegangan itu, tapi ia mencoba mengabaikannya.

“Lihat apa yang menanti kalian di jendela rumahmu!”

Kyuhyun tidak tahu, ada gerangan apa dalam perintah itu. Namun kepalanya tidak lagi bisa ditundukkan, seakan dagunya ditarik naik, Kyuhyun mendongak terpaksa dan seketika itu— ia mendelik. Langkahnya terhenti dan cengkeramannya di pinggang Sungmin mengerat.

Di balik jendela depan kamar tamunya— sesosok bayangan wanita tengah berdiri, mengenakan seragam perawat dan mengulurkan tangannya pada mereka. Sekujur tubuhnya penuh darah, wajahnya pucat pasi dan matanya melotot geram. –Mengetahui Kyuhyun telah tersadar dan nyaris terhuyung mundur karena ketakutan.

“Kyuhyun!” Sungmin tidak melihat apapun. Tapi merasakan kekakuan dan ketegangan yang tiba-tiba menghiasi wajah Kyuhyun, Sungmin tidak berniat untuk menanyakan apapun lagi. Kali ini Kyuhyun berbalik, menyeretnya makin kasar seakan ingin keluar dari halaman rumah cepat-cepat.

Sungmin meringis, bertumpu pada lengan Kyuhyun erat-erat saat sekujur kulit ditubuhnya seakan dikerat paksa.

“Bantu aku, nona!” Kyuhyun berseru panik. Tidak lagi peduli siapa wanita cenayang itu. Siapapun orang ini, setidaknya manusia jauh lebih baik dijadikan tempatnya bertumpu daripada makhluk gaib tadi!

“Pelan-pelan saja, pelan-pelan.” Cenayang itu tersenyum samar sembari membantu Kyuhyun memapah Sungmin. Usapan tangannya di punggung Sungmin seakan diselingi sihir, karena begitu tersentuh oleh tangan cenayang itu, Sungmin berhenti mengerang, meski napasnya masih terengah tak beraturan.

“Makhluk itu tidak akan membuntuti kita, setidaknya tidak secepat itu.”

Kyuhyun menelan ludah, ingin bertanya dalam kepanikan namun lidahnya terasa kelu.

“Dan jangan panggil aku nona, aku namja sialan!”

Kyuhyun makin tercekat.

.

oOoOoOo

.

“Baringkan dia di sofa.”

Kyuhyun segera membaringkan Sungmin dengan hati-hati, sesuai pada interuksi tuan rumah. Cenayang pria itu menghilang di balik ruangan, meninggalkan dua tamunya sendirian.

Kyuhyun berjongkok di sisi kekasihnya yang kembali meringis mengerati perut. Kyuhyun ikut meringis, seolah merasakan kesakitan Sungmin. Digenggamnya tangan Sungmin seakan mencoba memberikan kekuatannya yang sesungguhnya sudah sama-sama surutnya.

“Sabar, Minnie.” Bisik Kyuhyun sembari mencium kening berkeringat Sungmin.

Kyuhyun sempat melirik ruangan tempat mereka berada sekarang. Pencahayaannya terlalu temaram, banyak perabotan yang nyaris membuat ruangan ini tidak berbentuk. Lemari disusun renggang satu sama lain, nyaris tidak menyentuh dinding di belakangnya. Kyuhyun tidak ingin mengira-ngira, apakan susunan ini semacam kewajiban bagi para cenayang. Tapi kalau diperhatikan lebih jeli, sofa yang berada di tengah ruangan dan diletakkan berhadapan dengan meja TV, seakan menunjukkan kalau mereka sekarang berada di ruang keluarga.

Kyuhyun menghela napas saat ia mencoba membayangkan kembali sosok yang dilihatnya tadi berdiri di dalam rumahnya.

Sejak kapan makhluk itu berada di sana? Kyuhyun menggeleng bingung sebelum menghela napasnya lagi. Ia mendongak menatap wajah kekasihnya saat Sungmin meremas tangannya erat, lalu pemuda berparas mungil itu menjawab lirih seakan-akan ia mengerti pada bisikan batin Kyuhyun.

“Eeteuk-hyung sudah mencoba mengatakannya padamu. Rumah itu berhantu, Kyuhyun! Tapi kau tidak percaya!” tangis Sungmin kembali pecah, namun dengan tenaga terkuras, akhirnya pelampiasan frustasi itu hanya tersampaikan oleh tangis-tangis kecilnya yang tertahan. Sungmin bahkan merasa kesulitan saat ia harus menarik napasnya, ditambah gejolak menyakitkan yang semakin meradang di dalam perutnya—

Sungmin bahkan tidak tahu, apakah ia akan selamat melalui ini. Atau tidak.

M-mianhae, mianhae Ming. Ini salahku.” Kyuhyun berujar dengan bibir bergetar, seakan pemuda itu tengah mati-matian menahan airmatanya sendiri. Sebuah buncahan frustasi membumbung tinggi dalam dadanya. Melihat Sungmin menderita karena dirinya, Kyuhyun tidak bisa menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri. Bahkan tidak pada makhluk mengerikan yang dilihatnya tadi.

Sungmin mengerjap, merasa seakan-akan rasa sakit itu tengah mencoba menelan kesadarannya. Ia mati-matian bertahan untuk tetap sadar, dengan menatapi wajah Kyuhyun lewat sorot matanya yang makin sayu.

“Aku mau pindah, Kyuhyun-ah.” Suara Sungmin berbisik, makin melemah. Kyuhyun ketakutan, diusapnya kening Sungmin dan ditahannya sedikit tenaga di atas sana, mencoba menjaga kekasihnya untuk tidak terlelap atau memejamkan mata. Ia terlalu takut. Hingga kepalanya refleks mengangguk gugup.

“Secepatnya. Kita akan pindah secepatnya. Kau tidak akan kembali ke sana lagi. Biar kutelpon Donghae-hyung agar mencarikan apartemen sementara untuk kita.”

Sungmin meringis. Kyuhyun tidak yakin apakah kekasihnya itu benar-benar mendengar ucapannya barusan. Tapi ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya, Kyuhyun baru akan berniat meraih ponselnya dari dalam saku, saat tuan rumah kembali dengan membawa kotak kayu seukuran brangkas kecil.

“Masih sakit, Sungmin-ah?” cenayang itu bertanya. Kyuhyun menelan ludahnya, menahan pertanyaan yang berkelebat di kepalanya tentang darimana orang ini mengetahui nama mereka. Namun tampaknya, ia memang benar-benar berhadapan dengan seorang cenayang. Tanpa melontarkan pertanyaan itu pun, Kyuhyun mendapatkan jawabannya.

“Aku tahu nama kalian sejak detik kalian memijakkan kaki di rumah terkutuk itu.”

Tapi jawaban itu tidak memuaskan Kyuhyun, pemuda itu justru mendelik. Makin merasa tegang. Meski kali ini lidahnya tidak lagi kelu. “Kau memata-matai kami?” serunya tidak percaya, setengah merasa kesal pada sikap lancang orang ini.

“Aku tidak memata-matai,” balas pria itu tidak terima. Suaranya meninggi beberapa oktaf. “Ada banyak suara-suara halus berasal dari rumah itu. Dan dinding pemisah pagar rumah kita tidak setebal yang kau kira. Bahkan kalau bukan dengan kekuatanku sendiri untuk membatasinya, makhluk yang kau lihat tadi sudah akan berada disini untuk membunuh Sungmin dan juga kau!”

Kyuhyun tercekat. Nyaris tidak bisa berkomentar. Jantungnya berdetak kencang. Remasan tangan Sungmin di lengannya ikut mengerat menandakan pemuda itu mendengar obrolan mereka.  Kyuhyun semakin dibuat gelisah oleh jawaban setengah mengumpat dari sang tuan rumah. Seakan kabut begitu pekat memenuhi isi kepalanya.

Kyuhyun balas meremas tangan Sungmin. Bibirnya gemetar, lalu dengan suara berbisik, pertanyaan itu seakan terbebas begitu saja dari mulutnya.

“A-apa— Apa yang ada di rumahku?” Makhluk apa yang dilihatnya tadi?

“Kau membeli rumah itu tapi tidak tahu pada sejarahnya.” Suara itu kembali tenang. Pria itu memindahkan dua cangkir teh di atas kotak yang dibawanya ke atas meja. “Pertama, kau harus tahu. Namaku Heechul, panggil aku Heenim. Aku tidak berniat jahat, kalau kau berpikir begitu.”

Heechul menggeser posisi Sungmin, berusaha mendapatkan ruang untuknya duduk di sisi kaki pemuda yang masih terus meringis itu.

“Maaf.” Kyuhyun merasakan tangannya gemetar, tidak bisa menolak dan justru menggeser posisinya mendekat ke kepala Sungmin. Ada bisikan jauh di dalam hatinya yang mengatakan bahwa sikapnya sejak tadi memang begitu lancang. Ia ingin percaya pada orang ini namun akal sehatnya terus menolak karena sosok ini masih begitu asing bagi mereka.

Lagi-lagi, seakan membaca pikiran Kyuhyun, Heechul berujar tenang, “Kalau kalian tidak percaya padaku. Kalian boleh memilih untuk keluar dari sini. Aku tidak akan menghalangi. Tapi jangan kembali ke rumah itu, hanya itu pesanku.”

Sungmin mengeram, kerutan di wajahnya bertambah. Matanya yang terpejam mengerut menunjukkan kesakitan yang dalam. Ia segera meremas lengan Kyuhyun, bermaksud menahan pemuda itu kalau kekasihnya sungguh-sungguh berniat untuk membawanya pergi. Dengan bibir pucat yang gemetar, Sungmin berbisik terbata-bata. “T-tidak— Aku m-mau –disini.”

Kyuhyun menelan ludah, ia menghela napasnya sembari melirik Heechul dari sudut matanya. Saat itu Kyuhyun tahu, ia memang tidak bisa menolak permintaan kekasihnya. Karena benar, kemana lagi mereka harus pergi? Rumah sakit bahkan ikut mencurigakan. Memanggil Donghae dan Eeteuk? Apa yang bisa mereka lakukan?

“Baiklah. Kami akan bertahan disini, tapi kalau kau melakukan sesuatu yang mencurigakan, kami akan segera pergi.” Kyuhyun menatap Heechul tajam, namun pria itu justru membalas dengan senyum tipis.

“Lanjutkan ceritamu, tentang rumah itu.”

Heechul berdehem, ia meraih cangkir di atas meja dan menawarkannya pada Kyuhyun. “Minumlah, rileks saja.” Ujarnya sembari tersenyum tulus. Meski ragu, alih-alih Kyuhyun tetap menerimanya.

Sejenak keheningan menyelimuti mereka. Heechul tidak langsung bercerita. Ia membuka kacamatanya terlebih dulu, mengejutkan Kyuhyun karena sosok misterius yang mengenakan badana dan kacamata hitam besar itu ternyata memiliki wajah secantik ini.

“Enam pemilik sebelumnya, tinggal disana selama beberapa bulan saja.” Heechul memulai. “Mereka segera pindah karena tidak betah. Alasannya beragam. Ada yang bilang tidak cocok dengan cuaca disini, ada juga yang mengatakan tempat ini terlalu sepi, kurang menyenangkan. Yang paling aneh, lima diantaranya adalah pasangan kekasih atau suami istri, dan semuanya mengalami keguguran beberapa kali di rumah itu. Tapi yang lebih mengerikan lagi, yang terakhir…”

Kyuhyun memandang Heechul dengan tegang, ia menelan tegukan pertama tehnya perlahan. Rasa manis itu nyaris terkecap hambar. Sesaat, cairan teh dalam gelasnya bergolak, karena gemetar yang mengalir dari urat-urat tangannya.

“—Pemilik terakhir rumah itu kehilangan putri semata wayang mereka di sana. Di rumah itu. Jatuh dari lantai dua, menghantam balkon belakang.”

Kyuhyun nyaris menjatuhkan cangkir di tangannya. Ia meletakkan cangkir itu dengan serampangan, menimbulkan suara genting dua kaca yang saling berbenturan. “Ter-terjatuh!” pekiknya gelisah. “T-Tapi! Makelar yang menjual rumah itu padaku tidak mengatakan apapun! Dia bilang pemilik sebelumnya sudah tinggal disana selama lima tahun. Dan rumah itu hanya kosong selama tiga bulan!”

“Aku tinggal disini selama dua belas tahun, nak. Dan kau berpikir penjual itu akan mengatakan hal yang sebenarnya? Maka rumah itu tidak akan pernah terjual kalau ia melakukannya!”

“T-tapi bagaimana mungkin. Kematian seperti itu—“ Kyuhyun tetap tidak percaya, ia menunduk dengan sejuta kemelut dalam batinnya. Bagaimana mungkin perkara kematian seperti itu disembunyikan darinya!

Heechul menghela napas. Berusaha memberi jeda agar Kyuhyun sedikit lebih tenang. Ia beralih, membuka kotak perkakas yang dibawanya tadi. Membongkar beberapa peralatan: lilin-lilin putih, pemantik api, botol kecil berisi air, minyak, bulit-bulir kopi dan beras yang bercampur dalam satu wadah, pisau bedah, alkohol, jarum, dan berbagai botol-botol berisi cairan obat. Kyuhyun melirik benda itu satu persatu, dadanya kembali berdegup kencang, namun ia tidak berani bertanya. Kalau sampai terjadi hal tidak terduga, kalau orang ini bermaksud menyakiti Sungmin-nya— ia tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh pria ini.

Heechul meraih lilin-lilin dan pemantik. Ia berdiri, memutar langkahnya untuk menyusun satu demi satu lilin mengelilingi sofa dan meja. Kyuhyun hanya bisa memperhatikan saat pria itu menyalakan setiap lilin, dan saat itulah Kyuhyun sadar—‘Mereka berada di atas lantai yang diukir dengan cat merah membentuk lambang pentagram! Sofa dan meja tepat berada di tengahnya. Membuat goresan merah di atas lantai gelap itu terlihat makin samar. Merasa gugup dan semakin gelisah, Kyuhyun tidak bisa lagi menahan dirinya.

“Kau menjalankan ritual sesat untuk kekasihku!” pekik Kyuhyun kehilangan kesabaran. Ia sudah nyaris berdiri dan menyerang pria itu, kalau saja Sungmin tidak menahannya dengan merengkuh sebelah lengannya. Sungmin membisikkan namanya dengan lemah seakan-akan menyuruhnya tetap tenang dan menuruti  tuan rumah.

“Aku tidak bermaksud membahayakan kalian. Jadi diam dan perhatikan. Aku sudah mengatakan padamu, kalau kau tidak percaya, kalian boleh pergi. Hal itu masih berlaku sampai saat ini.”

Mendengar tantangan itu, Kyuhyun malah semakin merasa ragu. Dengan napas memburu, mau tidak mau ia kembali ke posisi duduknya lagi. Bersimpuh di sisi Sungmin dan memperhatikan gerak-gerik Heechul dengan curiga.

Heechul selesai memasang lilin di setiap sudut pentagram yang mengelilingi tamunya. Semuanya sudah menyala. Pria itu kembali duduk di sisi Sungmin, kali ini meraih botol berisi minyak dan menuangkan setengah ke telapak tangannya.

“Tanpa mereka bercerita pun, aku tahu apa yang terjadi disana.” Heechul kembali berujar, sembari menyikap jubah Sungmin.

Kyuhyun tetap mengawasi, sesekali ia menatap wajah Heechul yang kini berubah begitu serius. “A-apa yang terjadi disana?”

“Kau tahu kenapa anting besar ini terus bergantung di telingaku?” Heechul memalingkan wajahnya, menunjukkan anting logam bulat dan besar yang menghiasi telinganya. Kyuhyun menggeleng.

“Benda ini membantuku mendengar hal-hal yang tidak bisa kalian dengar. Termasuk seluruh rahasia mengerikan yang menimpa rumah itu.”

Kyuhyun menelan ludah mendengarnya.

Setelah membuka jubah, kini Heechul menyikap kaus yang melindungi tubuh Sungmin, menunjukkan dengan jelas bagian perut yang membuncit itu di hadapan Kyuhyun. Kulit putih Sungmin tampak begitu rapuh. Heechul mengolesi minyak di tangannya ke atas sana, membuat bagian itu mengilap dan tampak makin mengerikan.

Kyuhyun ikut meringis bersama Sungmin. Hanya melihat keadaan kekasihnya saja, cukup membuatnya merinding. Menciptakan gejolak aneh di dalam perutnya seakan-akan ia ikut merasakan kengerian yang dialami oleh kekasihnya.

Heechul memutar tangannya dengan lembut, tapi dari respon Sungmin yang terus menggeliat gelisah, Kyuhyun tahu rasa sakit itu belum pergi dari tubuh kekasihnya.

“Pemilik sebelumnya lagi, yang memulai semua tragedi menyeramkan itu.” Suara Heechul terdengar begitu pelan di tengah keheningan dan desis ringis Sungmin. “Keduanya bekerja di rumah sakit, suaminya dokter dan istrinya perawat. Mereka punya seorang putri, cantik, masih kecil. Aku tidak tahu berapa usianya tapi sepertinya— ia masih lima tahun.”

Sesaat, Kyuhyun bisa menangkap senyum sedih mengukir wajah Heechul di tengah temaramnya penyinaran ruangan.

“Orang tuanya terlalu sibuk, mereka jarang memperhatikan putrinya. Seluruh tugas untuk merawat putri mereka dilimpahkan pada seorang baby sitter muda yang disewa sejak mereka membeli rumah itu. Dan putrinya—”

“Keluarga itu mengalami hal yang sama? Anaknya jatuh dari lantai dua?” Kyuhyun bergidig saat ia mencoba-coba menebak cerita selanjutnya.

“Bukan.” Heechul menggeleng, namun tidak langsung menjawab Kyuhyun. Kini wajahnya tertunduk dan pria itu tampak fokus menatap perut Sungmin. Sebelah tangannya masih berada di atas sana.

“Bukan? Apa yang terjadi mereka?”

Kyuhyun tetap tidak mendapat jawaban. Padahal ia sudah tidak sabar mengetahui lebih banyak tentang masa lalu rumahnya.

“Heechul-sshi!”

“Tahan!” Heechul menodongkan telapak tangannya di depan wajah Kyuhyun, menyuruh pemuda itu untuk diam. Kyuhyun tergagap, bingung melihat sikap Heechul. Namun Kyuhyun benar-benar tidak terpikir untuk menanyakan apapun lagi begitu dilihatnya Sungmin berjengit. Tubuh kekasihnya itu terangkat tinggi seakan Sungmin tengah menahan rasa sakit yang luar biasa. Namun bukan itu hal yang paling mengerikan.

Kyuhyun tercekat saat dilihatnya tangan Heechul menekan perut kekasihnya dengan kuat, tampak jelas mengikuti jejak gerakan yang membekas di kulit putih perut Sungmin.

“A-akh! K-Kyuh—“ Sungmin mengejang, mencengkeram lengan Kyuhyun saat sekujur tubuhnya nyaris tidak sanggup menahan rasa sakit itu lebih lama. Kakinya terangkat, nyaris melengkung untuk melindungi diri. Namun tenaga Heechul lebih kuat menahan pinggulnya dan terus menekan tepat di bagian tengah perutnya, tempat dimana segala pusat penderitaannya berasal.

“Apa yang kau lakukan!” Apa-apaan! Cenayang ini bermaksud membunuh Sungmin? Kyuhyun memekik panik, berusaha memisahkan Sungmin dari cenayang itu.

Tapi begitu melihat perut Sungmin bergolak lagi, mencuat dengan lebih ekstrim ke arah kanan lalu ke kiri, mencetak gambaran jelas sebuah kaki dan tangan mungil, lalu membentuk bulatan wajah yang samar. Kyuhyun membatu, mendelik shock— ia tidak bisa merapalkan doa apapun. Selain memegangi bahu Sungmin dengan tangannya yang juga gemetaran.

“Siapa kau? Kenapa kau mengganggu pemuda ini?” Sekujur tubuh Heechul gemetar, cenayang itu mendongakkan kepalanya lalu memejamkan mata, tampak merapalkan sesuatu saat bersamaan, perut Sungmin kembali bergolak, seakan menjawab pertanyaan Heechul dengan melintas jelas tepat di bawah tekanan tangan cenayang itu.

“U-UGH!” Sungmin mengerang, pupil matanya terangkat naik saat aliran darahnya berpacu deras menuju otaknya, seakan-akan seluruh rasa sakit itu kini berpusar menuju kepala lalu membendung dan berniat meledak melalui ubun-ubunnya. Pemuda itu menahan napas, lalu menghembuskannya dengan tergesa saat rasa sakit yang baru saja menghantam tubuhnya bertubi-tubi seakan diangkat dengan begitu cepatnya. Ia nyaris tidak merasakan apapun selain kelu, sekujur tubuh hingga perutnya berkeringat, dingin.

“A-ada apa dengan kekasihku?” Kyuhyun memegangi wajah Sungmin dengan panik. Kekasihnya berhenti mengerang, tapi deru napasnya pendek dan tergesa, mata yang sayu dan terus mengerjap berusaha menahan kesadaran itu tak ayal membuat Kyuhyun terus dilanda ketakutan. “Sungmin-ah? Sungmin-ah, kau dengar aku. Stay with me, stay with me, Ming. Jangan tertidur, kumohon.”

Kyuhyun benar-benar takut saat itu. Hingga Heechul meremas bahunya lalu tersenyum lemah.

“Dia Eunyoung.”

“Eunyoung?”

“Putri dokter dan perawat itu.”

Kyuhyun tercekat. Ia menunduk dan bertukar pandang dengan mata sayu Sungmin.

“Meninggal sepuluh tahun yang lalu, dibunuh oleh baby sitternya dengan mengenaskan. Perawat itu penganut sekte hitam. Mentalnya terganggu sejak bayinya mati beberapa tahun sebelumnya. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa harus Eunyoung—”

“Lalu kenapa harus kekasihku? Bagaimana dengan Sungmin? Kau harus menolong Sungmin!” Kyuhyun menuntut dengan frustasi, ia bergidig saat melirik perut buncit Sungmin dan membayangkan roh anak yang mati penasaran itu sedang mencoba merebut hidup kekasihnya.

“Dia ingin dilahirkan kembali, lewat kekasihmu. Aku akan membantu proses kelahirannya.

“M-melahirkan?” Sungmin berbisik tidak percaya, suaranya lirih dan lemah. Ia menatap Kyuhyun dengan mata yang basah. Nyaris tidak memiliki tenaga yang tersisa bahkan hanya untuk gemetaran dalam dekapan Kyuhyun.

“Ya, melahirkan.”

“L-lewat mana?” Harus bagaimana? Kyuhyun mendengus putus asa.

“Membelah perutnya, lewat mana lagi? Kau pikir bayi itu bisa lahir lewat anusnya?”

Sungmin tercekat, sesaat, sebelum tangisnya pecah menjadi isakan kecil yang tersendat-sendat. “Kyuhyun!” pekiknya ketakutan.

“Tunggu disini, aku akan cari sesuatu yang bia meringankan rasa sakitnya.”

Mendengar tangis Sungmin yang jauh lebih putus asa, Kyuhyun semakin kebingungan, tidak tahu harus melakukan apa lagi. Selain merengkuh bahu Sungmin erat-erat dan membiarkan

“Aku tidak mau mati.” Sungmin tiba-tiba mengingkari keputusannya untuk menyerah. Setelah sedekat ini, ternyata kematian itu tampak jauh lebih menakutkan untuk dihadapinya dengan cara ini.

“Aku tidak akan membiarkannya, Ming. Kalau kau mati, aku akan menemanimu.”

 

 

.

oOoOoOo

.

 

Kyuhyun dibuat ternganga. Saat Heechul kembali membawa nampan lainnya, berisi gelas dan dua botol vodka.

“Kupikir kau akan membawa obat bius!”

“Ini sama seperti obat bius.” Heechul meletakkan dua botol minuman keras itu diantara perkakas mistisnya dan membaginya ke dalam tiga gelas.

Kyuhyun tercekat, melihat cenayang itu dengan tenangnya menuangkan vodka ke dalam gelas, tidak bisa dipercaya. “Alkohol tidak baik untuk ibu hamil!” Kalimat penuh putus asa itu keluar begitu saja dari bibirnya.

“Kyuhyun!” Sungmin menjerit, setengah menangis. “Tidak lucu.”

“Aku juga tidak melucu, baby.” suara Kyuhyun terdengar depresi.

“Kalau kalian berniat pergi, kusarankan. Jangan.” Heechul memberikan gelas itu satu kepada Sungmin, dan satu yang berisi lebih sedikit kepada Kyuhyun. “Tidak ada jalan lain, kita tidak punya banyak waktu. Sebelum makhluk itu kembali.”

“M-makhluk?”

“Yang kau lihat tadi di rumahmu.”

“Kupikir rumahmu aman!”

“Perlindungnya tidak akan bertahan lama.”

Kyuhyun menggeleng lemah, tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Setelah anak roh itu menitis dan mencoba bereinkarnasi menggunakan tubuh kekasihnya, sekarang setan yang dilihatnya tadi ternyata ingin ikut campur juga? Kyuhyun menegak vodka itu dengan emosi, tiba-tiba rasa takutnya berubah menjadi amarah.

“V-vodka berpengaruh? Tapi kau ingin membelah perutku, h-hiks—“ Sungmin memegang gelasnya dengan gemetar. Ia menegak cairan kuning itu perlahan dengan bantuan Heechul.

“Tidak akan kubiarkan kau mati, Sungmin-ah. Percaya padaku.”

Sungmin menggigit bibirnya, masih gemetar meski alih-alih ia mulai percaya pada cenayang itu. Senyum lembut itu sedikit menenangkan hatinya, dan gerak tangan Heechul yang bergerak pelan nyaris membuatnya terlena. Hingga pijatan di atas perutnya berubah menekan.

“A-akh!”

“Sssh, tidak apa-apa Sungmin-ah. Aku akan mengoleskan minyak ini di atas perutmu, dan aku janji, sakitnya akan berkurang lima kali.” Heechul meyakinkan Sungmin sembari menunjukkan botol kecil berisi minyak dan dan biji zaitun itu.

“I-itu berpengaruh?”

“Tentu saja chagi, ini bukan zaitun sembarangan.” Heechul terkekeh sembari menuang minyak itu di atas perut Sungmin.

“Apa aku tidak akan merasa sakit?” Sungmin mengerjap.

“Tentu saja sakit, tapi tidak sesakit itu.”

Sungmin meringis lagi, bibirnya gemetar. Tapi akhirnya ia memilih untuk tidak memikirkannya. Lima kali lebih ringan, jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Sungmin menunduk, suara isaknya masih terdengar samar saat ia mengawasi cenayang itu mengusapi perutnya. Efek alkohol itu mulai merasuk dalam syarafnya. Saat mulai merasa mengantuk, ia menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun.

“Pejamkan matamu, kau tidak merasakan sakit apapun— tidak merasakan sakit apapun—“ Heechul mengusap wajah Sungmin, seakan meninabobokan pemuda itu.

Kyuhyun menyaksikan bagaimana usapan tangan Heechul berhasil menenangkan Sungmin, deru napas kekasihnya bahkan berhembus teratur. Meski mata itu tetap terbuka, Kyuhyun bisa melihat ketenangan bercampur kekosongan disana.

“Aku akan memulainya sekarang.” Heechul menarik kaus Sungmin makin tinggi. Ia mengukir belahan perut Sungmin dengan sebuah spidol hitam sebelum meraih pisau kecilnya.

Kyuhyun memalingkan wajahnya. Ia memeluk kepala Sungmin dan menyembunyikan pandangannya di antara lebat rambut kelam kekasihnya.

Sesekali, Sungmin akan berjengit dan meringis. Lalu di saat-saat menegangkan, kekasihnya menangis terisak dan balas memeluk Kyuhyun erat-erat. Kyuhyun tidak berani memandang ke arah lain, tapi melihat Sungmin masih sanggup menahan sakit itu, Kyuhyun merasa cenayang itu melakukan pekerjaannya dengan baik. Dan ia tidak berdusta soal janjinya untuk mengurangi rasa sakit Sungmin. Meski menunggu dan menahan untuk tidak berbalik arah selama nyaris satu setengah jam juga terasa menyakitkan bagi Kyuhyun.

“Ssssh— Aku disini baby, tak apa. Ada aku.” Kyuhyun berbisik menenangkan, ia mengecup tengkuk Sungmin yang meringis dan terisak mengeluh di bawah wajahnya. Kyuhyun juga menangis, meski tanpa suara. Bulit-bulir airmatanya jatuh dan tenggelam di balik helai-helai rambut Sungmin.

“A-aaah!” tubuh Sungmin menegang, Kyuhyun sempat panik, hingga ia mendengar suara tangis bayi yang membuatnya nyaris memalingkan wajah.

Tapi Kyuhyun tidak sanggup berpaling, tiba-tiba wajah pucat Sungmin tampak tenang, Kyuhyun nyaris menjerit melihatnya. Hingga wajah itu mengerut dan gigi-gigi kelincinya gemertak beradu.

“G-geli—“ bisik Sungmin dengan mata terpejam, pemuda itu meringis. Ia tidak tahu kalau ucapannya barusan sukses membuat Kyuhyun melongo.

“G-geli?”

“Kyuhyun, pegangi Eunyoung. Dan Sungmin-ah, jangan bergerak. Aku akan menjahit perutmu.”

Kyuhyun terlalu bingung, ia berbalik, menerima begitu saja seorang bayi yang tiba-tiba disodorkan padanya. Bayi yang tubuhnya masih keunguan, basah bercampur darah. Menangis dengan suara melengking dan dada kecilnya gemetar saat ia berusaha menarik napas dengan tergesa-gesa. Kyuhyun terperangah, secara refleks mengayun-ayun bayi itu dalam gendongannya dan bersenandung pelan meski jantungnya berpacu cepat. Saat itu hanya satu pesan yang terlintas dalam otaknya. Ia harus menenangkan bayi itu. Kyuhyun bahkan tidak menyadari sama sekali perut Sungmin yang masih terbelah dan darah merah merembes mengotori sofa.

Dengan telaten, Heechul menggerakkan jarumnya, sembari berkomat-kamit. Melihat Sungmin yang terdiam dan hanya menghela napas lemah sudah cukup membuatnya puas. Setidaknya pemuda itu sudah tidak merasakan sakit, atau setidaknya, sudah terbiasa dengan sakit itu.

Selesai mengecek ulang jahitan panjang di perut Sungmin, Heechul membersihkannya dan melilitkan perban menutupi seluruh bagian perut Sungmin. Darah sisa-sisa jahitan masih merembes dan membekas di luar perban, tapi setidaknya, satu masalahnya sudah beres.

“I-ini bayi?” Kyuhyun yang masih ternganga tiba-tiba bertanya lirih, bayi itu terlelap dalam gendongannya. Tapi ia masih tidak percaya makhluk kecil itu hidup dan bernapas dalam rengkuhannya. Seorang bayi. Benar-benar bayi. Perempuan. Begitu mungil dan rapuh. Melihatnya kesulitan bernapas bahkan membuat Kyuhyun ikut merasa sesak.

“Tentu saja, kau pikir apa? Boneka?”

“Tidak ada ketuban? Plasenta?”

“Tidak ada. Eunyoung bayi istimewa.” Heechul memutar bola matanya.                 “Dia putri perawat dan dokter yang terbunuh itu. Kini terlahir kembali, dan di kehidupan ini dia adalah bayi kalian.”

Kyuhyun menunduk, memandangi wajah bayi yang pulas itu makin seksama. Semakin lama ia melihatnya, semakin Kyuhyun menganguminya. Kyuhyun berpaling saat Sungmin mengulurkan sebelah tangannya, seakan-akan meminta Kyuhyun mendekat. Dan Kyuhyun menurutinya.

“Jaga dia baik-baik.”

Baik Kyuhyun maupun Sungmin tidak ada menjawab pesan terakhir itu. Tapi melihat pasangan itu begitu khidmat mengamati bayi baru mereka, Heechul tahu kedua orang ini menjawab ‘ya’ dalam sikap diam mereka. Keduanya pasti akan menjaga Eunyoung dengan baik.

Sungmin menggigit bibirnya, ia mengusap pipi bayi itu dengan telunjuknya. Pipi pucat itu begitu lembut dan dingin saat bersentuhan dengan kulit jarinya. “Kyuhyun-ah…” bisiknya lirih, Sungmin mendongak dan pandangannya bertemu dengan Kyuhyun. Keduanya saling bertukar senyum lemah sebelum pandangan mereka kembali pada Eunyoung.

Sebenarnya sudah sejak lama mereka berencana akan mengadopsi seorang anak. Tapi setelah melalui hal mengerikan seharian ini, lalu memeluk seorang bayi yang sejak tadi diperjuangkan dari dalam tubuhnya, Sungmin tidak tahu harus bagaimana menggambarkan perasaan menggebu dalam hatinya. Buncahan itu terasa begitu penuh mengisi dadanya. Ada kepuasan, di sisi lain, rasa syukur. Meski tetap ada khawatir dan rasa takut yang mengintai, Sungmin tidak peduli apapun sejarah bayi ini. Ia sudah jatuh cinta saat pertama disentuhnya kulit bayinya yang tipis dan rapuh.

“Tidurlah Sungmin-ah, istirahat sejenak. Maaf aku tidak bisa memindahkanmu ke kamar. Di tengah pentagram itu, adalah tempat teraman bagi kalian.”

Sungmin mengangguk lemah, ia tersenyum pada Heechul seakan ingin mengucapkan rasa terimakasihnya. Tapi Sungmin tidak benar-benar menuruti nasihat Heechul, pemuda itu malah ngotot ingin memeluk bayi barunya. Kyuhyun hanya bisa menurut dan memposisikan bayi itu di atas dada Sungmin dengan hati-hati agar tidak menyentuh luka di perutnya yang masih basah.

Kyuhyun berdiri, tanpa sadar keluar dari lingkaran pentagram itu mengikuti Heechul. Sejak tadi ia memperhatikan gelagat cenayang yang tampak gelisah itu. Heechul terus melirik ke arah ruang tamu sembari sesekali mengecek ponselnya.

“Kenapa kau terus memeriksa ponselmu?”

“Aku menghubungi seorang temanku. Aku tidak bisa mengatasi ini sendirian, jadi aku meminta pertolongannya.” Jawabnya sembari berdecak dan kembali mengecek ruang tamu. “Tapi sampai sekarang dia belum juga datang, lelaki itu arh!”

“Jadi cenayang menggunakan ponsel juga?” Kyuhyun membulatkan matanya. Tapi itu komentar jujur, rasanya lucu melihat seorang cenayang yang gelisah dan mengecek layar ponselnya terus-menerus.

“Kau bicara seakan-akan aku makhluk kuno!”

“Maaf Heechul-sshi.” Kyuhyun terkekeh. “Aku tidak bermaksud begitu.”

“Baiklah, kau tunggu disini, aku ingin keluar sebentar. Barangkali temanku sudah sampai di ujung jalan. Dan jangan keluar dari pentagram itu, hush-hush, kembali kesana pemuda!”

Kyuhyun hanya tertawa, ia mana tahu perintah setengah mengejek itu adalah pesan serius dari Heechul. Begitu tuan rumah itu menghilang di pintu dapur, Kyuhyun berbalik, melirik Sungmin yang tampak pulas dan kelelahan dengan seorang bayi tertidur tengkurap di atas dadanya. Kyuhyun kembali memasuki lingkar pentagram itu, untuk memperhatikan wajah Sungmin dari dekat. Dengan sendu, diusapnya pipi putih Sungmin. Lalu pandangannya beralih pada bayi mereka, ia mengusap punggung bayi itu dan membenahi selimut yang melindungi tubuh keduanya.

Kyuhyun kembali keluar dari lingkar pentagram, benar-benar terlupa pada pesan Heechul. Ia begitu tertarik untuk melihat-lihat. Ruangan ini dipenuhi oleh lemari-lemari kaca, ada lemari yang penuh berisi senjata tajam, botol-botol berwarna gelap, hingga lemari yang berisi boneka-boneka buruk rupa. Kyuhyun bergidik, kembali berprasangka buruk dan mengira-ngira apakah Heechul seorang cenayang ilmu hitam.

Kyuhyun berdiri menghadap sebuah lemari kaca yang berisi kumpulan samuran dan tersusun rapi. Pedang-pedang itu jelas tampak terawat rapi, dengan kagum ia menggeleng. Kyuhyun berdiri memunggungi sofa tengah ruangan, tanpa sadar sama sekali, sepasang mata merah mengawasinya dari balik jendela.

Kyuhyun beralih, kembali ke lemari boneka. Ia hanya membenahi kerah kemejanya, saat angin dingin itu menerpanya. Suara gorden yang berderak dan melambai tertiup angin kencang tak ayal membuat Kyuhyun merasa heran, bulu kuduknya meremang. Sejak kapan angin sekencang ini masuk ke dalam ruangan? Kyuhyun berbalik, bermaksud menutup jendela manapun yang terbuka saat ia bahkan tidak sempat melihat apapun.

PRANGGG!

Tubuhnya melayang ke belakang, menghantam lemari boneka hingga lemari rapuh itu rubuh ke samping. Pecahan kaca dan boneka berserakan. Kyuhyun mengerang, merasakan pecahan-pecahan kecil kaca menembus daging punggungnya. Kyuhyun mendongak, pandangannya buram dan ia hanya mampu menangkap bayangan hitam melayang mengitari ruangan. Kyuhyun menahan napas, kakinya gemetar, dengan ringkih ia mencoba berdiri dan nyaris terjatuh lagi karena ketakutan.

“KEMBALIKAN ANAKKU!” jerit bayangan itu menggema dan tubuh Kyuhyun terpelanting lagi, kali ini menghantam dinding di dekat jendela. Sedikit saja meleset, Kyuhyun sudah akan melayang menghantam kaca jendela dan terhempas keluar. Kyuhyun mengerang, jatuh bangun saat berusaha mengangkat tubuhnya. Samar, Kyuhyun mendengar suara seseorang memanggilnya.

‘Kyuhyun-ah!’

Dan saat itu, ia teringat, pada pesan Heechul, dan pada kekasihnya. Sungmin!

“Jangan keluar dari sana, Sungmin-ah! Diam ditempatmu!” Kyuhyun menjerit panik, mati-matian berusaha membuka matanya, kelopak mata kanannya bengkak, membuatnya kesulitan melihat namun jelas sekali ia melihat bayangan Sungmin berdiri gemetaran di depan sofa.

Sungmin menggendong bayinya dengan gemetar, rasa sakit di perutnya kembali berdenyut. Luka itu kembali basah, darahnya merembes keluar menembus kemejanya. Sungmin ketakutan, ia gemetaran. Ruangan di sekitarnya porak-poranda dan bayangan hitam berkelebat cepat mengitari langit-langit. Makhluk itu tidak bisa menyentuh lingkaran di sekitar tempatnya berdiri, Sungmin menyadarinya. Tiba-tiba ucapan Heechul kembali terngiang, pentagram ini! Sungmin menunduk memandangi lilin-lilin di sekitarnya. Lilin-lilin itu yang melindunginya! Sungmin mengerat Eunyoung dalam dekapannya, berniat berdiri diam di tempat namun lagi-lagi bayangan itu menarik Kyuhyun naik dan menghantamnya ke ujung ruangan.

Sungmin memekik, “Heechul-sshi!” jeritnya frustasi. Sungmin berputar panik, ingin meraih Kyuhyun saat tangis Eunyoung ikut pecah menambah kekacauan.

Mati-matian Sungmin menahan dirinya untuk berdiri di tempat, namun saat bayangan itu kembali mengangkat tubuh Kyuhyun, Sungmin tidak sanggup menyaksikannya lagi. Pemuda itu bersimpuh, diantara rasa putus asa dan perih yang memenuhi kulit perutnya— Sungmin tanpa sengaja menjatuhkan satu formasi lilin di sisi meja.

“Sungmin-ah! Jangan rusak formasinya!” Jeritan Kyuhyun seakan menyadarkan Sungmin. Bayangan hitam itu berkelebat dan menghilang. Panik, Sungmin berusaha membenahi posisi pentagram yang rusak oleh satu lilin itu. Dengan sebelah tangan gemetar memeluk Eunyoung dan sebelah tangan lain mencoba kembali mendirikan lilin terakhir, Sungmin dua kali gagal. Teriakan Kyuhyun membuatnya makin panik saat kelebat hitam itu kembali muncul, mengelilingi ruangan dan kali ini melesat menuju ke arahnya!

Kyuhyun memekik. Sungmin menjerit. Wajah hitam terbakar yang dipenuhi darah kering itu berhenti tepat berhadapan dengan wajahnya. Satu-satunya benda yang menghalangi jarak wajah mereka, hanya lilin terakhir yang berhasil menyala dan berdiri. Kembali menyusun formasi sempurna pentagram yang melindungi Sungmin dan Eunyoung.

“Kembalikan anakku!” jerit makhluk itu dengan sudut-sudut bibir yang melebar. Sungmin tidak bisa menahan tangis ketakutannya saat melihat bibir itu terbelah, menunjukkan bongkahan gigi dan gusi yang tampak jelas hingga ke ujung geraham. Bau busuk bangkai kontan membuatnya mundur ketakutan, berusaha menjauh dari wajah yang berada begitu dekat di batas pentagram namun tidak bisa menyusup masuk sama sekali.

“Jangan keluar dari sana, Sungmin-ah!” Kyuhyun kembali mengingatkan Sungmin, namun kali ini suaranya justru membuat perhatian makhluk itu beralih padanya.

“KYUHYUN!” Sungmin memekik. Ketakutan, tidak bisa lagi membedakan suara gerungan mengerikan makhluk itu dan tangis Eunyoung yang sudah sama-sama membuat keadaan terasa makin menegangkan.

Makhluk itu melesat, kali ini membentuk wujud sempurna seorang wanita buruk rupa dengan gaun hitamnya. Kaki-kaki telanjangnya melayang, sekujur tubuhnya terbakar dan tulang-tulang sikunya mencuat keluar. Sungmin menangis frustasi saat makhluk itu kembali mengangkat tubuh Kyuhyun. Tidak bisa berpikir lagi, Sungmin membaringkan bayinya di atas sofa.

Kyuhyun mengeram. Sejujurnya merasa takut. Tangannya gemetaran. Dengan posisi wajah yang begitu dekat dengan makhluk ini, Kyuhyun merasa kematiannya juga ikut mendekat. “Kau bisa membunuhku, tapi jangan sentuh keluargaku!” Entah mendapat keberanian dari mana, dengan nekat Kyuhyun menarik kepala setengah tengkorak berambut tipis itu dan dengan tenaga penuh bermaksud menariknya.

Tapi usahanya gagal, perbuatannya justru semakin membuat makhluk itu memekik murka. Kyuhyun nyaris kehilangan nyawa, tangan kering itu melingkar bermaksud mematahkan  lehernya saat bersamaan, tubuhnya terpelanting. Makhluk itu sempat terdorong ke samping sebelum melesat kembali menjadi bayangan.

“Apa yang kau lakukan, Sungmin-ah! Sudah kubilang jangan keluar!” Kyuhyun berteriak panik saat disadarinya Sungmin berbaring kesakitan di sisinya. Pemuda itu pasti menghempaskan dirinya barusan. Tapi karena kenekatan kekasihnya pula, Kyuhyun masih hidup sampai menit itu.

“Ada ap—KYUHYUN!!!” Heechul muncul dan kontan memekik shock melihat keadaan ruang tengahnya. Dia tamunya tersungkur di dekat lemari boneka. Dan tidak perlu menduga-duga, Heechul tahu siapa penyebab kerusakan ini.

“H-HEECHUL-SSHI! Tolong Sungmin!”

Kyuhyun memapah kekasihnya untuk bangkit. Ia mendongak, mencoba mengawasi setiap sudut ruangan dan justru merasa khawatir saat tidak dilihatnya kelebat hitam itu.

Heechul tidak datang sendiri, di belakangnya, mengekor seorang pria bertubuh tinggi. Kemeja selutut dan celana panjangnya yang hitam ditambah rosary menghiasi leher, membuat Kyuhyun menelan ludah. Tidak menyangka cenayang ini berteman dengan seorang pastor!

“Dia masih ada disini…” ujar pastor itu sembari mendongak, memutar pandangannya ke seluruh penjuru. Pastor itu sempat melirik Eunyoung yang menangis di atas sofa, lalu ia tersenyum tipis, melangkah maju untuk mengusap pipi Eunyoung. Ajaibnya, tangis bayi itu segera reda. Berganti dengan isak-isak samar dan Eunyoung kecil terdiam, mengerjap memperhatikan langit-langit.

“Berhenti mengganggu mereka, Seo Joohyun!” Heechul berseru marah, ia memapah Sungmin saat Kyuhyun berjuang untuk berdiri dengan bertumpu pada lemari.

Sunyi. Panggilan penuh amarah itu tidak direspon sama sekali. Untuk sesaat, kesunyian menyelimuti ruangan itu. Yang terdengar hanya bisik doa Siwon dan suara kecap mulut Eunyoung. Sungmin nyaris merasa lega karena makhluk itu tidak menujukkan tanda-tanda akan kembali. Tapi nyatanya, hal itu tidak berlangsung lama. Dan Sungmin bahkan tidak sempat berteriak saat tiba-tiba tubuhnya terangkat tinggi. Cengkraman mengerat di belakang kerahnya, hampir membuatnya tercekik. Bau busuk dan suara teriakan yang memanggil namanya berbaur, membuat fokus Sungmin mulai goyah. Pemuda itu nyaris jatuh tidak sadarkan diri, melayang terombang-ambing di langit-langit membuat lambungnya seakan dikocok. Ditambah lagi, Sungmin merasakan basah merembes makin deras dari luka jahitannya.

“KEMBALIKAN ANAKKU! EUNYOUNG-KU!” suara teriakan itu menggema, berasa dari balik tubuhnya. Sungmin mencicit, sekujur tubuhnya gemetar dan giginya gemertak beradu. Ia tidak bisa lagi memperhatikan dengan seksama, pandangannya terasa membayang.

“Turunkan Sungmin-ku, makhluk sial!” Kyuhyun memekik, melompat berusaha menggapai Sungmin. Namun pemuda itu harus kembali meringis saat sakit ditubuhnya berdenyut makin hebat.

“Dia bukan anakmu! Kau membunuh puteri majikanmu! Dia bukan anakmu!” Heechul berseru, diantara komat-kamitnya. Ia ingin meraih perkakasnya di atas meja. Namun situasi ini tidak akan bisa membawanya bergerak kemana-mana. Tapi dari sudut matanya, Heechul menangkap Siwon yang juga tengah berkomat-kamit berdoa. Dibalik lengan panjang kemejanya, Heechul tahu benda apa yang disembunyikan partnernya itu.

“Jangan ikut campur, Heechul!”

“Turunkan pemuda itu, Seo Joohyun. Aku akan mendampingi pemakamanmu. Aku akan melalukan upacara pengampunan untukmu. Sekarang turunkan dia.” suara berat pastor itu akhirnya terdengar juga, begitu tenang. Ia mendongak, sebelah tangan meremas rosary sedang sebelah tangannya yang lain tersembunyi di balik kemeja.

“Kembalikan putriku.” Makhluk itu bersikeras, kali ini ia menunjukkan wajahnya. Jauh lebih sempurna, terlihat lebih manusiawi meski pucat. Joohyun melotot, menatap pastor muda itu dengan penuh amarah dan was-was.

“Sekarang dia sudah bernyawa. Kau tidak bisa lagi mengusiknya, Seo Joohyun. Kembalilah ke asalmu.”

“KEMBALIKAN PUTRIKU!” Joohyun menjerit marah, dengan emosi ia mengangkat tubuh Sungmin makin tinggi. Dikeratnya kerah kemeja pemuda itu hingga Sungmin berjengit, kesulitan bernapas. Merasa tidak cukup dengan gertakan itu, Joohyun mengulurkan sebelah tangannya, diremasnya perut Sungmin hingga luka baru pemuda itu menggeser terbuka. Darah segar merembes menembus kemeja dan jatuh setetes demi setetes membasahi lantai.

“A-AKHHH! K-KYUHHHH—”

Heechul dan Siwon bergerak siaga, tidak  menyangka pada gertakan berbahaya itu. Namun sebelum mereka bergerak, Kyuhyun yang terus menahan diri tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Dengan murka, Kyuhyun memecahkan pintu lemari samurai dan meraih satu dengan tangan kanannya. Tidak peduli saat susunan pedang-pedang itu menggores jari-jarinya. Kyuhyun mendorong lemari itu hingga berguling, dan menggunakannya sebagai batu lompatan.

“Sekarang, Siwon-sshi!” Menyadari maksud Kyuhyun, Heechul berlari memasuki lingkar pentagram dan Siwon ikut bergerak, melangkahi sofa lalu bertumpu pada meja untuk melompat meraih Joohyun. Tiga gerakan sekaligus itu berhasil mengecoh Joohyun hingga makhluk itu melepaskan Sungmin, bermaksud menjatuhkannya ke lantai.

Namun sial baginya, Siwon dengan gesit beralih dan justru menangkap tubuh Sungmin sebelum pemuda itu jatuh menghantam lantai. Kyuhyun dan Heechul berteriak bersamaan dari dua arah berlawanan.

“JANGAN SENTUH ISTRIKU, SIALAN!”

“PERGILAH JOOHYUN! KEMBALI KE NERAKA!”

Joohyun merentangkan tangannya bermaksud mengubah wujudnya kembali menjadi bayangan, namun terlambat. Heechul meleparkan beras ke arahnya dan di sisi lain, Kyuhyun menebaskan samurainya tepat di tengkuk kering tengkorak Joohyun.

Suara jeritan memekakkan telinga menggaung di dalam ruangan. Tengkorak kepala Joohyun menggelinding. Tubuh keringnya menggelepar. Mata dan bibir itu bergerak begitu hidup. Makhluk itu masih sempat meneriakkan ‘Kembalikan anakku’ hingga Siwon menyiramkan sebotol air suci tepat di wajahnya. Bau daging busuk yang terbakar segera menguar di udara, wajah itu berasap seakan barusaja tersiram minyak panas.

Kyuhyun melemparkan samurainya yang kotor oleh lendir hitam. Melihat tubuh Joohyun meleleh menjadi cairan busuk, Kyuhyun bergidig jijik. Tapi hal yang jauh lebih membuatnya bergidig adalah saat dilihatnya Sungmin meringis di dalam pelukan orang lain— pastor itu.

“Kemarikan istriku!” serunya tidak terima. Tanpa menunggu lagi, Kyuhyun langsung merebut Sungmin dari gendongan Siwon, membuat pemuda itu meringis kesakitan karena tindakan brutal Kyuhyun barusan.

“A-ah, mianhae baby. Kita ke rumah sakit sekarang, ne!” Kyuhyun ikut meringis melihat Sungmin memejamkan matanya yang basah menahan sakit. Padahal sekujur tubuhnya juga terasa sakit, pecahan kaca di punggungnya makin terasa menyayat saat ia memaksa untuk bergerak cepat.

“Kita pergi sekarang?”

Heechul bangun, diliriknya Siwon sebelum mengangguk lega.

“Kau tidak ingin membereskan rumahmu dulu?”

Heechul mendengus jijik. Ia masuk ke dalam kamarnya dan keluar membawa sebuah ransel kecil. Dengan hati-hati, Heechul mengangkat Eunyoung dan ikut melangkah keluar mengikuti Kyuhyun dan Sungmin yang sudah pergi lebih dulu. “Aku tidak berniat menempati rumah ini lagi. Biar kusuruh Hangeng mengambil samurai dan barang berharga lainnya. Aku tidak mau kemari lagi.”

Siwon hanya menggeleng dan tersenyum tipis.

“Dan kau! Kau harus menemani Hangeng, aku khawatir wanita itu bangkit lagi dari tubuh busuknya itu.” Heechul bergidig jijik.

Siwon hanya tertawa-tawa mendengar komentarnya. “Ya, lagipula aku berjanji akan melakukan upacara penyucian untuknya.”

“Untuk apa? Roh busuk sepertinya biarkan saja membusuk di neraka.”

Siwon tersenyum lagi, sebelum berkomentar pendek. “Tuhan Maha Pengampun.” Ujarnya sembari membantu Kyuhyun membuka pintu belakan Mini Van miliknya.

“Kalau Tuhan mengampuni dosa-dosa makhluk semacam Joohyun, neraka tidak akan ada penghuninya.” Seloroh Heechul sembari masuk ke kursi depan.

“Apakah neraka harus ada penghuninya?” Siwon tertawa-tawa, ia makin gemas lagi saat dilihatnya Eunyoung ikut mengerutkan wajah seakan menemaninya menertawai Heechul.

“Sudahlah, aku lelah berdebat denganmu!” Heechul mendengus, lalu membenahi posisi Eunyoung dalam pangkuannya.

“Tuan-tuan, bisa hentikan obrolan tidak penting kalian dan percepat laju mobilnya? Istriku akan segera kehabisan darah kalau kalian menggosip di dalam mobil ini.”

Heechul berpaling, melirik Kyuhyun yang memangku Sungmin sebelum mencibir. “Sungmin tidak akan mati. Kalau ada yang harus mati, kaulah orangnya. Kau tidak sadar pelipismu berdarah seperti keran?”

Kyuhyun mendelik dan buru-buru memegangi pelipisnya. Ia mengerang kaget melihat darah segar mengotori tangannya. Ia bahkan tidak sadar pelipisnya terluka. Sungmin yang sejak tadi meringis kesakitan kini terkekeh pelan melihat tingkah Kyuhyun.

“Oh ya, tadi kau memanggil Sungmin ‘istriku’? Padahal sebelumnya kau selalu bilang ‘kekasihku~ kekasihku~’” Heechul menggoda lagi, menirukan suara berat Kyuhyun dengan gaya menjijikan.

Kyuhyun tergagap, pipinya merona. “Berisik. Kami sudah punya anak, aku akan segera menikahi Sungmin.”

Heechul terkekeh, Siwon tertawa, dan Sungmin tersenyum tipis. Eunyoung yang tidak mengerti pun ikut mengerutkan keningnya seakan merasa dilibatkan.

 

.

oOoOoOo

.

OMAKE

.

oOoOoOo

.

Kyuhyun memarkir mobilnya dengan tenang. Kalau terakhir kali ia singgah di tempat ini, mobilnya terparkir tepat di pintu utama, kali ini Kyuhyun tidak dalam keadaan sepanik itu untuk melakukannya. Justru Sungmin lah yang sejak tadi mengeluh khawatir hingga kedua tangannya berkeringat dingin. Dengan posesif, Sungmin memeluk Sunhwa dalam gendongannya. Bayi berusia dua bulan yang tertidur pulas dalam gendongan ibunya itu mengerut tatkala Sungmin mengecup kedua pipi dan ujung hidungnya.

Ya. Seminggu setelah kelahiran Eunyoung, baik Kyuhyun dan Sungmin dirawat di rumah sakit. Dan di sana, mereka memutuskan untuk mengganti nama Eunyoung. Bayi mereka telah mendapatkan kehidupan baru di tengah-tengah keduanya, dan Sungmin tidak ingin anaknya membawa takdir buruk masa lalunya lewat nama itu. Karena itu Sungmin dan Kyuhyun memilih nama Sunhwa.

Selama beberapa minggu pula, keduanya tinggal di apartemen di tengah kota Seoul hingga Kyuhyun mendapatkan rumah baru untuk mereka. Sungmin sudah berhenti dari pekerjaannya, ia tidak ingin ada ikut campur perawat manapun dalam membesarkan Sunhwa. Menyerah atas luang dan kariernya terasa begitu mudah setelah ia memiliki Sunhwa. Kyuhyun pun, tidak lagi pulang larut dan seringkali menyempatkan diri bekerja dari rumah. Mereka telah benar-benar memulai hidup yang baru. Sungmin sudah benar-benar berniat mengubur kenangan buruknya atas rumah mengerikan dan arwah Seo Joohyun itu. Kyuhyun setuju dan mendukung keputusannya.

Tapi anehnya, hari ini Kyuhyun kembali membawanya ke rumah sakit menakutkan itu. Tanpa sepengetahuannya! Sungmin baru menyadarinya saat Kyuhyun membawa mobilnya masuk ke dalam gerbang rumah sakit ini.

“Kyuhyun-ah, untuk apa lagi kita kemari!” Sungmin melirik plang nama rumah sakit yang sedikit berkarat itu dengan takut-takut. “Aku tidak mau menyerahkan Sunhwa! Dia bayiku! Aku yang melahirkannya!”

“Sssh, chagi. I know it. Sunhwa milik kita.” Kyuhyun meremas bahu Sungmin, berusaha menenangkan kekasihnya. “Tapi aku perlu tahu kenapa mereka seakan sudah merencanakan semua ini.”

Sungmin tidak menjawab, ia menunduk memandangi wajah pulas Sunhwa yang sesekali mengerut. Hidung mungil itu berkeringat, Sungmin mengusapnya dengan hati-hati.

Sesaat, baik Kyuhyun dan Sungmin sama-sama dilingkupi oleh kesunyian. Sungmin masih merasa enggan untuk keluar dari mobilnya tapi di sisi lain Kyuhyun bersikeras ingin mengetahui kebenaran tentang putri mereka. Heechul belum bercerita apapun tentang dokter dan perawat itu, dimana keberadaan mereka, bagaimana keadaan mereka. Kyuhyun tidak mengetahui apapun karena cerita itu berhenti tepat di saat kematian Eunyoung.

“Aku yakin sekali, Jung Yunho dan Jung Jaejoong yang disebut Heechul waktu itu adalah dokter yang pernah memeriksamu.”

Sungmin menghela napas, diusapnya pipi Sunhwa dengan jari kelingkingnya. Sekarang, pipi itu jauh lebih berwarna, pink dan tembam, gembul karena menjadi korban pencabulan bibir Eunhyuk, Donghae, Ryeowook, Siwon, Leeteuk, dan tentu saja –Kyuhyun.

“Baiklah. Tapi kalau mereka berniat merebut Sunhwa dariku, kau harus melakukan apapun untuk menghalanginya!”

“Baiklah, aku berjanji Ming-eomma!”

Sungmin merengut. Namun alih-alih membalas godaan Kyuhyun, ia membuka pintu dan melangkah keluar dari mobil.

Kyuhyun yang bertanya lebih dulu pada resepsionis, seorang perawat muda bertampang polos dengan tag name Dasoom menyambutnya. Hanya melihat gelagat canggungnya, Kyuhyun merasa perawat ini adalah pekerja baru. Meski itu hanya dugaannya.

“Seoul National Hospital, ada yang bisa saya bantu tuan?”

“Aku mencari Dokter Jung Yunho.” Kyuhyun menuliskan namanya di buku tamu.

“D-dokter Jung Yunho?” perawat itu mengerutkan keningnya, merasa asing dengan nama itu. Gugup, dibukanya buku tebal daftar nama yang baru saja ditariknya dari laci. “U-umh. Aku tidak yakin. Tapi biar kuperiksa dulu. Uh— tidak ada disini.” Perawat itu menggeleng, lalu tersenyum tipis merasa tidak enak. Mungkin ia merasa khawatir atas pelayanannya sendiri.

“Maaf tuan. Aku baru bekerja disini beberapa minggu. Tapi biar kutanyakan seniorku, mungkin dokter yang Anda cari dimutasi ke rumah sakit lain. Tolong tunggu disini.”

Kyuhyun hanya mengangguk, perawat itu melangkah keluar dari ruang resepsionis dan berjalan masuk ke dalam lorong utama rumah sakit.

Kyuhyun berdiri bersandar di meja tinggi resepsionis, diliriknya Sungmin yang sejak tadi berdiri gelisah dan mengayun-ayun Sunhwa dalam gendongannya.

“Kalau lelah, duduk saja, Ming.”

Sungmin menggeleng, menolak.

“Kalau begitu gantian saja, biar kugendong Sunhwa—“

Sungmin menggeleng lagi. “Tidak. Kalau dipindahkan nanti dia terbangun.”

“Kenapa gelisah sekali? Ada apa?” Tanya Kyuhyun lembut. Ia merangkul bahu Sungmin saat dilihatnya kekasihnya itu menghela napas berkali-kali dan terus menunduk mengawasi Sunhwa seakan-akan takut bayinya akan terbangun.

“Aku tidak suka disini, aku mau pulang.”

“Sebentar saja chagi, setelah—“ Kyuhyun terkesiap, getar di saku kemejanya memotong ucapannya barusan. Kyuhyun meraih ponselnya dan mendengus melihat nama yang berkedip di layar itu.

Heechul’s calling

“Siapa, Kyu?”

“Heenim.” Jawabnya singkat. Kyuhyun mengangkat panggilan itu dengan ogah-ogahan.

“Kyuhyun? Kau dimana? Aku belum melaksanakan ritual terakhir untuk keponakanku!”

Kyuhyun menggerutu.

“Jangan ajari sekte sesat pada putriku.”

“YAH! CHO KYUHYUN! AKU YANG MEMBANTU KELAHIRAN PUTRIMU! HORMATLAH SEDIKIT!”

“Yayaya, terima kasih ya.” Seloroh Kyuhyun ogah-ogahan. “Eh, ngomong-ngomong hyung. Kau ingat ayah dan ibu Sunhwa di kehidupan sebelumnya?”

“Jung Yunho dan Jung Jaejoong, ada apa?” suara Heechul berubah enggan.

“Sekarang aku sedang di Seoul National Hospital.”

“Hah? Untuk apa kalian kesana!”

“Aku penasaran dengan mereka. Dimana dan bagaimana keadaannya. Aku pernah melihat nama Jung Yunho di rumah sakit ini, apa mungkin dokter itu orang yang sama dengan dokter yang kau maksud?”

“PERNAH MELIHAT NAMA? CHO KYUHYUN! APA YANG KAU LAKUKAN!!!”

Kyuhyun menjauhkan ponsel itu dari wajahnya. Suara teriakan Heechul nyaris menyakiti gendang telinganya. Ia mendengus, berniat balas membentak Heechul namun kalimat yang didengarnya setelah itu sontak membuat Kyuhyun tercekat.

“Mereka sudah mati Kyuhyun!”

Kyuhyun menelan ludah, merasakan keringat dingin melintasi pelipisnya. Ia melirik Sungmin, yang kini menatapnya dengan raut khawatir. Seakan menunggu, Sungmin bertanya ‘Ada apa Kyu?’

“Mereka mati sepuluh tahun yang lalu! Tepat setengah tahun setelah putrinya dibunuh, keduanya bunuh diri karena gangguan kejiwaan!”

Kyuhyun nyaris bisa merasakan dua kakinya yang melemas. Dengan gugup ia memutar badannya, tanpa sengaja menghadap lorong. Dari kejauhan, perawat muda itu melangkah dengan senyum manis, diikuti oleh dua sosok, seorang dokter dan perawat lain, menuju ke arahnya. Jarak nyaris memasuki lima belas meter, Kyuhyun semakin mengenali wajah dokter dan perawat di belakang Dasoom. Kyuhyun mengerat ponselnya. Oh tidak lagi.

“Tunggu— Jangan bilang kalian pernah menemui mereka!”

Kyuhyun tidak sempat mendengar sentakan Heechul, dengan panik, ia merangkul dan menggiring Sungmin keluar dari rumah sakit itu.

“K-Kyu? Tapi perawatnya—“

‘Kyuhyun cepat pergi!

Tanpa perintah Heechul pun, Kyuhyun segera mengambil langkah seribu. “Kita pergi sekarang, Ming!”

Sungmin tidak berani bertanya. Kyuhyun tidak berani berpaling lagi dan langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera melesat keluar dari pelataran rumah sakit besar itu.

Sedang di dalam lorong rumah sakit, perawat muda bernama Dasoom itu terperangah melihat dua tamunya keluar tergesa-gesa. Ia mencoba memanggil mereka, namun keduanya bahkan tidak berpaling. Berdecih kecewa, Dasoom berbalik menghadap dokter dan perawat yang dengan beruntung berpapasan dengannya di dalam lift. Tagname dokter itu langsung membuat Dasoom mengenalinya dan tanpa susah payah menanyakan kepada senior, Dasoom juga bisa sekalian mengenal dokter Jung Yunho.

“Maaf dokter, padahal tadi mereka bilang ingin bertemu. Tapi tiba-tiba pergi begitu.” Dasoom menggaruk tengkuknya dengan gugup.

“Tidak apa.” Perawat Jaejoong tersenyum tipis. Dasoom balas tersenyum dan semakin merasa canggung melihat wajah pucat itu. Perawat ini pasti perawat senior, di dalam rumah sakit ini, ada banyak perawat senior yang ditugaskan ke kota-kota kecil hingga ke luar negri. Tidak heran Dasoom tidak mengenali semua perawat dan dokter di rumah sakit ini.

“Lain kali kalau ada yang datang mencariku, suruh mereka langsung datang ke ruanganku ya. Di lantai 13 ruang 7.” Suara itu datar. Nyaris tidak beraksen.

“Ne! Maaf untuk gangguannya, dokter!” Dasoom tersenyum malu. “Kalau begitu aku kembali bekerja dulu, maafkan aku sekali lagi!” Dasoom membungkuk lagi, dan dua sosok itu hanya tersenyum ramah membalas sikap sopannya. Tanpa menunggu, Dasoom segera kembali ke ruang resepsionis. Namun saat ia mendongak, dua orang itu sudah tidak tampak dari balik dinding cermin ruang resepsionis.

“Mungkin sudah kembali bekerja.” Dasoom berbicara pada dirinya sendiri. Padahal ia tidak keberatan kalau harus mengobrol lama dengan dokter tadi. Dokter Jung Yunho, tampan sekali meski wajahnya sedikit pucat. Dasoom terkekeh-kekeh sendiri, dibukanya buku daftar nama saat tiba-tiba kesadaran itu menghantamnya.

“Lantai 13 ruang 7?” bisiknya bingung. Dasoom membuka-buka buku tamu dengan tangan gemetar, tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang. Ia mengerat pena di tangannya saat otaknya berputar dalam keadaan gugup. Lantai 13?

Tapi rumah sakit ini hanya memiliki dua belas lantai!

 

.

oOoOoOo

END

oOoOoOo

.

 

YEAAAAY! SIWONKU GANTENG YEAAAAY! *ditabokin*

Hadeuh maap kalo horrornya klise sekali, saya fansnya Suzanna jadi yeah~ Begitulah. Terpengaruh sundel bolong dan kuntilanak jadinya cerita ini -..-

Terus, inget Of Abnormal Things fanfic lama saya? Ngerasa gak sih karakter Heechul disini mirip bibi Jung? Iya bibi Jung yang nenek-nenek itu, mhahaha *digeplak Heechul* Tapi sumfeh lah ya, ane yang bikin aja ngerasa banget si Heechul udah kayak gabungan mbah dukun ama dukun beranak lah disini -..- Pake minyak zaitun segala, dikiranya buat mulusin kulit apa *geplak heenim, dibacok balik*

Oke, tetep lah ya, milih nama baby-nya harus yang bisa nyelipin nama saya. MHAHAHAHAHAHA. Kenapa? Kenapa? Gak terima? Bikin bayi ndiri sonoh *digeplak*

Daaan, maapin update yang begitu lama. Hiks. Ada beberapa hal yang menghalangi saya sentuh (baca/bikin) fanfic, ini aja curi-curi waktu hikkkkssss MIMIIIIIIII *ngadu* T^T

Dan ini udah tamat ya! Oke oke? *coret dari list hutang* mehehehe. Sekarang minta ri-pi-yu! Bye-bye! Love you all!

3 thoughts on “The Host – Chapter 3

  1. whatchokyulate says:

    Heeeeeee
    dikira hntu yg nyerang min teh jaejong. Soalnya pan pas kyu mw pulang apartemen yg nungguin di jndela kamar ty hantu perawat y? Tp mkir juga knp jae nyerang baby.nya. ternyata eh ternyata itu si sukanti ==

    Omai chingu… smlem aku ktiduran pas baca ff ini *jam set3 ya wajar sih ==
    Pas bangun dah set6 aj, mlesat deh pergi kerja n bru bisa beresin crita skrang mkannya. Wkwk *curhat(?)

    Klo boleh tbya ni. Sukanti tu pegasuh anak jae dlu? Knp dia bunuh tuh bocah? Gangguan jiwakah? #plakkk
    trus matinya knp? Dibakar masa ya? #digampar 2 kali

    Oya knp ad ff yg ga bisa di klik di hp aku y? Judulnya ap ya lupa 6^^ #duagggh
    pkonya yg three shoot sblom ini deh.. iya yg ituh
    kno y? *mikir

    Oke drpd kbnyakan mkir skrng aku mw lanjutin bongkar2 cerita di ni wp. Jya~

  2. Berasa kyak film MAMA, kkk ‘Kembalikan anakku!’… Mengerikan… Ngkak pas tau trnyata hantu ny si Seo.. Waks… Author bkin ff horror lg dong tp lbih bnyak Chapter ny *abaikan, author daebbakk 👍

  3. jjhyvkbeat says:

    Kak merinding parah baca ini, ngeri banget bayangin hantunya joohyun astaga..
    Huhu tapi untunglah sungmin selamat dan kyuhyun juga.
    Dan yang bikin aku sebel adalah….hyukjae engga muncul: ‘D

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s