Cursed Crown | Hviturland Special Chapter

HVITURLAND SPECIAL CHAPTER


Minggu di akhir tahun menjadi saat-saat bagi salju turun. Musim dingin menyelimuti hampir seluruh belahan dunia. Graentland, Svarturland, Blarland, termasuk negeri tropis Radourland yang sepertiga wilayahnya akan membeku oleh badai salju. Tapi ada satu negara yang selalu tertutupi es abadi, Hvirturland. Akhir tahun atau awal tahun tidak akan ada bedanya. Salju turun sama halnya seperti normalnya matahari menyinari dunia.

Menjelang akhir tahun ini, negeri dengan dingin yang abadi itu tetap tampak sepi. Bangunan besar istana yang mengerucut tajam dan tersusun megah berdempet satu sama lain, tak ubahnya seperti bongkahan es yang dipahat begitu indah, dingin, dan tak bersuara. Dihuni oleh ras yang terkenal tidak banyak bicara, membuat negeri itu tampak makin sunyi saja. Di tengah biru dan putihnya es, di tengah hawa dingin, kesunyian membahana.

Lorong-lorong, koridor istana menyambung satu-sama lain dengan rumit. Seperti sebuah istana semut yang dibangun dengan keagungannya sendiri, hanya dikenali oleh bangsa yang membuatnya. Bunga-bunga dan pohon yang jelas pernah hidup disana jutaan tahun silam, terpaksa abadi di tengah bekunya dinding-dinding es, dan berakhir menjadi keindahan tersendiri. Membeku menjadi pantulan keindahan di tengah dinding tebal es yang mengelilingi istana. Dipandang selama apapun, pohon dan bunga mati itu tetap tampak hidup, berkat keagungan es yang terus menunjukkan kehidupan abadi dalam lapisan kematian.

Negeri yang telah lama tidak mendengar suara tangis bayi ini, akhirnya kembali diisi oleh teriakan dan jerit tangis seorang pangeran manja yang lahir dua belas tahun lalu, di awal tahun, di tengah badai salju yang turun.

Seorang snowelf belia berlari susah payah. Jubah tebal yang melindungi tubuhnya dari cuaca ekstrim istana justru semakin menyusahkannya untuk berlari, kabur dari seseorang yang terus mengejarnya di belakang sana. Pipinya merona dan bibirnya memerah, hasil dari sihir yang secara otomatis bekerja saat tubuhnya merongrong meminta kehangatan ditengah dinginnya hawa yang memancar di segala arah. Bocah belia itu mengangkat jubah panjangnya, berharap hal itu sedikit membantunya melangkah lebih cepat.

Tapi tentu saja jenjang langkah mereka yang berbeda membuat pemuda jangkung di belakangnya dengan cepat menangkap dan memeluk bocah pendek itu dengan gemas.

“Dapat kau, Minnieeee~” Tawanya senang seperti seorang pria mesum. Ia menggosok-gosokkan wajahnya ke tengkuk adik bungsunya yang menggeliat risih dalam pelukannya itu.

“Jangan pegang-pegang! Iiih! Cukur dulu sana!”

Pemuda tinggi di belakang tubuhnya tertawa, tapi ia segera melepaskan adiknya saat dilihatnya bocah kecil itu sebentar lagi akan menangis karena pemaksaannya.

“Di perbatasan tidak ada alat cukur. Nanti hyung bersihkan. Sekarang cium duluuu!”

“Tidak mauuuuu!” bocah itu menjerit panik, dengan serampangan mendorong-dorong wajah dan bibir kakaknya menjauh.

Kakaknya berlari tanpa alas kaki, tanpa pakaian dan hanya mengenakan celana panjang tipis yang diikat erat di pinggang. Tubuh kekar itu tampak membiru, dan terasa dingin saat disentuh, tapi wajah pucat dan mata hijau itu tidak menunjukkan tanda-tanda tengah kedinginan. Bahkan dengan renyahnya pemuda itu tertawa-tawa, seakan begitu mati rasa saat asap-asap es menerpa tubuh atletisnya. Sedangkan si bocah, harus berkali-kali mengeratkan jubah bulunya terlebih saat tangan kakaknya yang penuh oleh bulir salju mencoba menyentuh-nyentuh wajahnya. Bukankah itu curang?! Kakaknya tidak merasakan dingin ini sedangkan ia membutuhkan jubah tebal dan berat untuk terus hidup yang menyusahkannya bergerak kemanapun!

“Minnie-baby!”

Sungmin menolak menoleh, ia berlari makin panik. Dan tampaknya Changmin sedikit mengampuninya dengan tidak berlari dengan seluruh tenaganya. Alpha muda itu hanya berjalan cepat, tidak ingin menakuti Sungmin. Tapi rupanya, ia menjadi semakin tidak sabar saat Sungmin menoleh dengan raut kusut, ketakutan, dan bibir gemetar. Wajah itu merona merah, menunjukkan bahwa ia tengah kedinginan dan jubahnya bekerja cepat menghangatkan tubuh kecilnya.

Katakan ia gila, tapi Changmin semakin bernapsu ingin memeluk adiknya saat melihat ekspresi ketakutan itu.

“Hyung rindu. Cepat kemariiii~”

“Tidak mauuuu!” Sungmin menjerit, hampir menangis. Sedangkan Changmin dibelakangnya makin mempercepat langkah, kini sedikit berlari mengejarnya yang makin menjauh.

“Minnieeee~”

“KYAAAA! ANDWAEE! EOMMAAAA! WONNIE HYUUUUNG!”

Sungmin berlari serabutan tanpa arah, ia memasuki koridor utama istana dan memilih jalur sempit lorong-lorong kecil milik para Kurcaci Salju. Sedikit merunduk, Sungmin melalui jalan bulat yang sempit itu. Tentu saja, jalan ini menyesuaikan ukuran Snowdwarf, tapi Sungmin masih cukup mampu melaluinya dengan membungkukkan badan. Sedangkan kakaknya yang besar dan jangkung itu, hanya terhenti di luar lorong sembari meneriaki namanya, tidak bisa bergerak lebih jauh dan tidak mungkin mengejar Sungmin masuk ke dalam lorong kecil itu.

Merasa terbebas dari Changmin, Sungmin menghela napas dan airmata ketakutan yang sudah membuncah di pelupuk matanya kembali tertelan. Dengan angkuh pangeran kecil itu berbalik, menjulurkan lidahnya lalu berteriak mengejek.

“Changmin-hyung jelek! Coba kejar aku!” tantangnya sombong. Changmin meneriakkan sesuatu dari luar, tapi Sungmin tidak begitu mendengarkan apa yang diucapkan kakaknya. Ia harus segera keluar dari lorong kecil ini sebelum dirinya berpapasan dengan para kurcaci. Itu akan menjadi hal yang merepotkan.

Sebenarnya ia sudah sering melalui jalan sempit ini, saat bermain petak umpet dengan Siwon dan lorong kecil ini berjasa besar karena selalu berhasil membuatnya menang. Dan Sungmin menyukai tempat ini, selain indah, ruangan ini menjadi tempat persembunyiannya dari semua orang saat ia merasa sedih. Tapi hal yang tidak menyenangkan, adalah kurcaci dan ruang sempit ini sering membuatnya sesak!

Sungmin merayap, semakin memasuki lorong kecil yang tidak mungkin dilaluinya dengan merunduk. Ia meringis perih karena lantai es bertemu langsung dengan dua telapak tangan telanjangnya. Bocah itu melirik ke kanan dan kirinya, tersenyum kagum pada bunga-bunga dan bermacam hewan kecil yang membeku dan abadi di tengah bongkahan dinding. Benda-benda itu tampak seperti hiasan yang berkilauan, Sungmin selalu betah berada di sini, berlama-lama menikmati kilau pelangi yang terpantul dari langit dan menembus ke dalam lapisan es.

Bocah itu membenahi jubahnya saat jalan keluar tampak makin dekat darinya. Dengan hati-hati, Sungmin merangkak keluar, setelah ia mengintip terlebih dulu apakah Changmin ada di sekitar sana. Ruangan luas yang berkilau terang itu tampak sepi, tidak ada tanda-tanda Changmin dimanapun. Sungmin mendongak dan menyadari atap-atap lekung yang dipahat indah itu adalah atap balairung utama. Sinar matahari terpantul tepat di atas atap dan menerangi ruangan selama siang hari, dan saat malam, menjadi giliran bulan yang menerangi balairung ini dengan sinar temaram.

Menghela napas panjang merayakan kebebasannya, Sungmin menepuk-nepuk jubahnya dan berjingkrak senang. Tapi upacara kebahagiaan itu sempat terganggu saat Sungmin mendengar suara berat menggema di dalam ruangan.

“Katakan padanya untuk langsung datang kemari. Aku menunggunya.”

Sadar ia berada di balairung utama, Sungmin tahu hal macam apa yang mungkin akan dilihatnya disini. Dengan buru-buru bocah itu bersembunyi, merapikan kembali jubah panjangnya agar tidak tampak oleh siapapun.

Sepasang mata kecilnya mengintip, sekali lagi, dua kali, tiga kali. Dari balik tiang besar balairung istana, mencoba menyakinkan diri bahwa seseorang yang duduk di singgasana benar-benar adalah raja. Bocah itu merutuk, merengut pada dirinya sendiri. Tentu saja yang duduk disana adalah raja. Tidak ada siapapun yang berani duduk di singgasana itu kecuali ayahnya, Yunho, Raja Hviturland ini.

Sungmin tersenyum, memperhatikan dari balik persembunyiannya dengan rasa kagum. Ayahnya duduk dengan tenang disana, wajah penuh wibawa itu terangkat tinggi. Ia selalu menyukai bagaimana ayahnya bergerak dan bersikap. Selayaknya seorang raja, begitu besar dan berwibawa. Sungmin merasa dirinya adalah penggemar nomor satu Raja di istana ini. Tidak ada orang yang mengagumi raja melebihi dirinya! Ia bahkan pernah memarahi kakaknya sendiri, Changmin, saat kakaknya mengeluh dan mengejek raja.

Sungmin tidak pernah ragu dalam menunjukkan rasa kagumnya pada sang Ayah, meski terkadang —seringnya— sang ayah begitu sulit untuk dijangkau. Tidak tersentuh.

Tidak ada yang tahu betapa bocah kecil itu mendambakan untuk menyentuh kulit ayahnya sendiri. Tidak ada yang tahu betapa perasaan di dadanya begitu sesak dan membuncah, dan terkadang melesak menjadi tangis tak terkendali namun tidak seorangpun akan tahu dan mengerti alasannya. Sungmin ingin duduk disana, di atas pangkuan ayahnya dan memeluk leher raja. Ia ingin bergelayut manja, mencium pipi ayahnya sembari mengayunkan kaki. Tapi selama dua belas tahun, impian itu hanya menjadi mimpi. Sungmin sudah cukup senang bisa duduk disisi singgasana raja, meraih ekor jubah ayahnya yang menjuntai ke lantai, tanpa berani meminta lebih.

Ia bisa memaksa Siwon, meminta semua hal yang bahkan tidak masuk akal. Tapi saat berhubungan dengan sang raja, Sungmin merasa sekujur tubuhnya gemetar. Ia bahkan harus mempersiapkan diri untuk sekedar memanggil ‘Appa’.

Sungmin belum pernah berani melakukan hal selain tertawa canggung di hadapan ayahnya. Tapi hari ini, ada dorongan semangat berbeda menuntut Sungmin dari dalam dirinya. Melihat balairung istana yang begitu sepi, menumbuhkan keberanian tersendiri baginya. Tidak ada seorang pun pelayan atau penjaga menemani Raja. Mungkin ayahnya sedang menunggu seseorang? Apakah ayahnya bersedia diganggu barang sebentar?

Sungmin menggigit bibir. Ia menunduk dan merogoh kantung sakunya, mengeluarkan sebuah pahatan kecil dari es. Replika mahkota raja, kokoh seperti besi, bening seperti kaca. Dibuatnya dengan mantra sihir yang diam-diam ia baca di perpustakaan Zhoumi-hyung. Indah, Sungmin selalu membawanya kemanapun sejak ia berhasil membuatnya sebulan yang lalu. Mencari kesempatan baik untuk menyerahkan benda itu pada sang Appa, dan sepertinya… inilah saat yang tepat.

“Hufff, dingiin!” Sungmin melapisi tangannya dengan lengan jubahnya yang panjang. Mahkota es itu terasa dingin dan perih di atas tangannya, tapi Sungmin tidak ingin menjatuhkannya, ia kembali mengamankan benda itu ke dalam sakunya.

Bocah itu kembali menarik napas, ia sempat ragu dan menggigit bibir berniat mundur. Tapi melihat ayahnya tengah melamun, dengan keyakinan penuh Sungmin keluar dari persembunyiannya. Langkahnya pelan dan pendek, gugup. Raja melihat kedatangannya, tapi snowelf dewasa itu kembali memalingkan wajah dan sibuk melamun lagi.

Sungmin menunduk kecewa karena tidak mendapat sambutan apapun, namun langkahnya masih terus bergerak, mendekat dan mendekat. Hingga ia hanya berjarak dua meter dari ayahnya. Raja tidak bergeming, bahkan saat Sungmin menaiki tangga dan duduk memposisikan dirinya di bawah kaki ayahnya, di sisi singgasana.

Appa...”

Yunho tidak menjawab, Sungmin merengut. Ia mendongak lagi dan kali ini sedikit menempel di kaki-kaki singgasana raja. Wajahnya begitu memelas, meminta perhatian dari raja yang tengah melamun dan berpaling darinya.

Appa aku punya ini…” Sungmin tersenyum canggung, ia mengeluarkan mahkota kecilnya dari dalam saku, dan mengangkatnya tinggi sejajar dengan lutut Raja. “Aku membuatnya untuk Appa.”

Raja hanya meliriknya, datar tanpa ekspresi ke arah mahkota itu namun dengan cepat pula pupil itu beralih ke depan, mengabaikannya.

Appa, aku menggunakan mantera Melteint. Esnya jadi lebih kokoh!” Sungmin masih berjuang, mengharapkan seuntai pujian, atau setidaknya seulas senyum. Tapi tidak ada jawaban. Sungmin menggigit bibirnya gugup saat diihatnya raja justru terdiam seakan tidak mendengar apapun, tidak melihat siapapun di sisinya. Namun Sungmin masih mencoba untuk menarik perhatian ayahnya, tidak peduli meskipun raja bersikap seakan-akan ia tidak berada disana. Sungmin kembali bersemangat saat dilihatnya ada kilat aneh di mata Raja begitu ia menyebut-nyebut mantera Melteint. Apakah ayahnya kagum? Apakah raja akan memujinya? Mantera itu hanya untuk penyihir tingkat medium! Dan Sungmin bahkan belum memulai kelas formalnya. Kelas formal hanya untuk snowelf berusia lima belas, masih tiga tahun lagi sebelum ia bisa mengikuti kelas pertama di negrinya.

Tapi Sungmin lagi-lagi harus menggigit bibirnya dalam kecewa. Raja mengabaikannya dan bergerak sedikit saat seorang prajurit memasuki balairung istana.

“Yang Mulia—” prajurit itu membungkuk, lalu berlutut. Raja berdiri, lantas menyuruh prajurit itu untuk ikut berdiri.

“Sampaikan laporanmu. Cepat dan singkat, aku tidak punya banyak waktu.”

Sungmin merengut, melepaskan jubah raja yang berdiri dan menghempas jubahnya seakan mengisyaratkan Sungmin untuk menyingkir. Kecewa dan senang bercampur dalam dadanya. Ia kecewa karena diabaikan oleh raja, tapi juga merasa senang bisa mendengar suara berat yang dikaguminya itu.

“Orcs dan Balrog di perbatasan selatan sudah berhasil diusir mundur. Tapi empat puluh prajurit kita terluka, dua puluh meninggal, dan Jendral Young gugur disana—” prajurit itu menunduk, seakan tengah berduka.

“Ada yang lain?”

“Kita kekurangan kekuatan di perbatasan barat. Banyak prajurit gugur dan persediaan anak panah menyusut.”

Yunho mengangguk, mengerti. “Aku akan mengirim pangeran keempat dan kelima kesana. Kau boleh pergi sekarang.”

Sungmin kebingungan. Prajurit itu berbalik dan keluar, raja tidak berniat duduk kembali ke singgasananya. Tidak ingin ditinggalkan, Sungmin menarik ekor jubah ayahnya dan memelas.

Appa!” panggilnya dengan suara tercekat. Tapi raja tidak berbalik, dan kembali menarik jubahnya agar terlepas dari cengkraman Sungmin. Penolakan raja kali ini tidak mendapat perlawanan dari bocah termuda Hviturland itu, namun karena tersentuh jubahnya, miniatur mahkota es di tangan Sungmin tersenggol dan jatuh melesat menghantam tangga.

Raja mendengar suara es yang membentur lantai, namun dengan tidak peduli, ia melangkah pergi. Meninggalkan Sungmin yang tercekat memandangi miniatur mahkotanya yang sudah sedikit retak, tidak sesempurna tadi.

“Hiks!” isaknya emosi.

Bahu kecil Sungmin bergetar, suara tangisnya pecah dan menggema di dalam balairung istana. Pipinya menggembung dan merona. Dengan kesal bocah itu berdiri, menghentak marah lalu memijak miniatur esnya dengan kuat. Tidak peduli saat kakinya terasa pedih karena keras es itu membentur sepatu kecilnya.

“Hancurlah sekalian!” jeritnya terus hingga benda itu benar-benar hancur menjadi buliran es. Sungmin menghentak, sedih dan kecewa, ia berbalik dan melangkah keluar dari balairung istana.

.

oOoOoOo

.

Sungmin membawa kakinya menyusuri lorong-lorong es itu. Lorong luas berbentuk persegi ini tampak polos. Satu-satunya keindahan yang terpancar hanya kilau es dan berbagai bunga beku yang hidup abadi di dalamnya. Sungmin melangkah tidak peduli, ia mengeratkan kembali jubah tebalnya, tidak pernah menyukai suasana dingin jalan menuju istana ibunya. Istana ini berada di atas bangunan tertinggi, asap es tampak lebih berkabut dari gedung-gedung lainnya. Kalau Sungmin tidak benar-benar terpaksa, ia lebih memilih merengek dan menyuruh pelayan memanggilkan ibunya.

Tapi setelah ditinggal oleh ayahnya di balairung istana tadi, Sungmin rasanya ingin merengek langsung pada ibunya tanpa perantara siapapun. Kakinya bergerak refleks saat ia berlari menaiki tangga-tangga dan menyusuri jalan-jalan. Sungmin hampir menendang beberapa kurcaci es yang berpapasan dengannya, makhluk-makhluk pendek bertubuh biru itu bahkan lebih pendek darinya yang menyandang posisi sebagai Snowelf terpendek di istana ini. Jadi bukan salahnya, kalau ia sampai tidak sengaja (atau sengaja) menghempas makhluk-makhluk kerdil itu dengan kakinya.

Sungmin mendengus. Ia berbalik dan menjulurkan lidahnya pada seorang kurcaci yang panik dan buru-buru menyingkir dari jalan saat tadi ia melangkah tanpa peduli siapapun berjalan lurus di depannya dari arah berlawanan. Kurcaci itu terkejut, dan refleks memaki dalam bahasanya. Sungmin lebih dari senang untuk meladeninya.

“Kau memakiku?” Sungmin bertanya setengah mengancam, ia menyeringai dalam hati saat dilihatnya makhluk itu membungkuk ketakutan.

“Aniya! Selamat pagi, Pangeran! Sampai jumpa!” Makhluk itu melambaikan tangannya lalu berbalik dengan tergopoh-gopoh. Tidak ingin berlama-lama menunjukkan wajahnya sebelum pangeran nakal ini mengingat rautnya untuk kembali mengerjainya di lain waktu.

“Makhluk aneh.” Sungmin mencibir. Bibirnya memberengut saat bocah itu mendorong pintu besar ruangan ibunya. Bocah itu meringis saat bulir-bulir es dari gagang pintu menyakiti telapak tangannya. Begitu Sungmin menyadari kedua telapak tangannya memerah, dengan panik ia membersihkan tangannya menggunakan jubah.

Di dalam ruangan itu, Sungmin melihat sang ibu sedang mengenakan pakaian formal dibantu oleh tiga orang pelayan kerajaan.

“Eommaaaa.” Bocah itu berlari ke dalam ruangan dan menempel di pinggang Junsu seperti parasit; membuat kedua pelayan yang melayani ratu refleks menjauh, membiarkan anak dan ibu itu berdua saja di tengah ruangan.

Aigoo… Chagi? Kenapa kamu di sini? Oh, iya. Eomma baru ingat kamu tidak ada pelajaran hari ini.” Junsu mengusap rambut Sungmin dan tersenyum lembut.

“Eomma! Hari ini bacakan buku lagi untukku ya! Buku dengan tulisan yang aneh itu eommaaa… tentang kisah suku-suku aneh ituuu…”

Junsu tersenyum hambar mendengar permintaan itu. “Kisah suku di Graentland itu? Bukankah sudah pernah eomma bacakan untuk Minnie?”

Sungmin menggigit bibirnya, ia berputar dan memeluk ibunya dari depan.

“Yang lain eomma! Buku ini baru diantarkan Souro-ahjussi kemarin sore! Ne, ne? Ayo ke kamar Minnie eommaaa!”

Sungmin menarik-narik pakaian ibunya seperti seorang anak kecil manja yang haus perhatian.

Junsu menunduk sedikit saat dibelainya surai Sungmin yang hitam indah. Meskipun di Hviturland rambut hitam disimbolkan sebagai kasta yang lebih rendah, Junsu menyukainya. Rambut legam Sungmin membuat bibir merah dan kulit pucatnya tampak lebih bersinar. Sungmin mungkin takkan secantik ini jika rambutnya berwarna pucat seperti yang lainnya. Mungkin. Atau bisa jadi dia akan sama cantiknya.

“Eomma sekarang harus pergi ke pertemuan Snowelf Wizard di utara, Minnie. Eomma harus hadir mewakili kerajaan kita. Sekalian melihat-lihat, siapa tahu ada Snowelf cantik yang berpotensi untuk dijadikan mate kakak-kakakmu itu.” Junsu tersenyum bercanda. Tidak seharusnya dia membahas hal itu kepada Sungmin, karena toh bocah ini masih belum mengerti.

Bahkan rata-rata snowelf dewasa menemukan matenya setelah mereka berusia dua ratus tahun. Dan bagi Sungmin yang baru akan genap 12 tahun dua bulan lagi, bocah ini seperti seorang bayi yang baru dilahirkan kemarin sore.

Sungmin merengut, ia mendongak dengan wajah memelas. Dikeratnya jubah Junsu. “Eomma kapan pulangnya?”

“Eomma akan pulang besok lusa. Habisnya Minnie tidak mungkin mau eomma ajak, kan? Huhhh! Padahal eomma ingin pamerkan anak eomma yang manis ini kepada mereka.”

Sungmin mendelik takut dan buru-buru menggeleng. “Tidaaakk, tidak mau!” tolaknya cepat.

Sungmin sudah kapok ikut-ikut ke acara seperti itu. Acara membosankan dimana mereka hanya akan duduk-duduk dalam diam selama hampir dua hari, mendengarkan para tetua Wizard membacakan mantera-mantera yang tak ia mengerti dan semua orang hanya mengangguk khidmat sembari memegangi kitab sihir mereka. Sungmin nyaris mati karena bosan waktu itu. Ia tidak akan pernah —tidak akan tidak akan pernah lagi— datang ke upacara itu.

Beruntung saat itu, Sungmin cukup dewasa untuk tidak merengek dan berguling di lantai meminta pulang. Tentu saja ia masih tahu malu. Hm, meski sebenarnya bukan karena malu sih, tapi karena takut kalau sampai Ayahnya mendengar kelakuan buruknya di negeri orang. Bukan tidak mungkin Appa akan menghukumnya, lalu Appa akan semakin membencinya…

“Sayang sekali. Padahal sajangnim rindu dengan Minnie. Sajangnim bilang Minnie berbakat loh! Minnie harus belajar ilmu sihir lagi ne!”

Bocah itu tetap menggeleng tidak suka, tidak peduli.

“Minnie jadi anak baik ya? Jangan menangis. Eomma akan mengusahakan pulang dengan cepat. Setelah itu, eomma bacakan semua buku yang Minnie mau. Setuju?” Junsu mengecup pipi Sungmin lalu menatapnya dengan sorot penuh kasih sayang. Meskipun tidak tega, ia tetap harus pergi. Hanya acara ini yang tidak bisa ditinggalkannya demi anaknya, Sungmin.

Sungmin memang bukan anak kandungnya, namun Junsu menganggap Sungmin sebagai darah dagingnya sendiri. Apalagi ibu anak itu adalah Jaejoong, saudara kandungnya. Junsu tidak memiliki anak, tentu saja ia sangat, sangaaat menyayangi Sungmin seperti anak kandungnya. Terlebih Jaejoong sendiri yang menitipkannya kepada Junsu sebelum ia meninggal.

“Kalau ada yang Minnie mau, minta saja pada maid kerajaan. Minnie boleh minta apa saja, manisan, kue, atau permen. Tapi jangan banyak-banyak ya Minnie, nanti kamu sakit perut.” Junsu membujuk Sungmin dengan janji yang biasa ia katakan setiap kali harus meninggalkan Sungmin. “Kalian dengar, kan? Berikan apapun yang Pangeran minta.” Junsu melirik tegas ke arah pelayan-pelayan yang ada di sudut kamarnya. Mereka membungkuk lalu mengangguk takut.

Junsu membenahi jubahnya lagi, ia mengusap pipi Sungmin dan mengecup kening putranya sebelum berbalik. “Bye bye Chagi. Eomma pergi dulu yaa…”

Tidak ada jawaban.

Junsu berjalan keluar diiringi beberapa pelayannya. Ratu itu tersenyum sedih saat dilihatnya Sungmin hanya berdiri memandanginya dengan mata berkaca-kaca. Ia bahkan tidak melambai balik kepada Junsu. Namun meskipun sedih, Junsu berusaha untuk tidak tergoda dan berbalik lagi.

Sungmin hanya berdiri menahan tangis di antara pelayan-pelayan yang sibuk membereskan ruangan ratu termuda Hviturland itu. Ia mengusap matanya dengan lengan bajunya lalu berakhir memutuskan pergi dari ruangan itu dengan kecewa.

Sungmin melangkah keluar dengan lesu dari istana ibunya. Tidak mendapat ide untuk melakukan apapun hingga ia melihat seorang menteri berjalan terburu-buru melewati lorong utama istana.

Kalau tidak salah… hmm. Menteri tambun itu bekerja untuk kakaknya.

Sungmin refleks mengikuti langkah menteri tua itu dari belakang. Tiba-tiba merasa bersemangat.

Siwon-hyung! Apa Siwon-hyung ada di ruangannya?

Siwon-hyung selalu menuruti semua keinginannya dan Sungmin tanpa ragu melangkah menyusuri lorong es lain menuju ke tempat kakak sulungnya itu.

Ya, kalau Siwon-hyung pasti mau menemaninya bermain!

Seulas senyum merekah di bibir bocah lugu yang nakal itu. Ia meniti langkahnya menuju istana Putra Mahkota sembari melompat-lompat kecil dengan bersemangat.

Tidak menemukan kakaknya berada di kamar, Sungmin segera berbalik arah menuju ruang kerja menteri yang berada di sayap timur. Biasanya, Siwon-hyung selalu berada disana, jika tidak ia pasti sedang di lapangan timur bersama pasukan kerajaan. Kalau tidak juga, berarti dia sedang berpatroli ke perbatasan. Kalau tidak ada juga… eehh… biasanya dia sedang berdiskusi dengan raja.

Mudah-mudahan hyung ada di sini.’ Harapnya dalam hati.

Bocah berkulit pucat itu mengintip dari balik pintu, mengabaikan penjaga-penjaga yang ada di depannya. Bibirnya yang merah merekah memperlihatkan gigi kelincinya dari balik senyumannya saat ia menemukan sosok yang diharapkannya berada di dalam ruangan.

Siwon adalah putra mahkota kerajaan Hviturland; bukan karena ia anak sulung dari Yunho dan permaisuri pertama Raja. Tapi karena Siwon terlahir sebagai alpha pertama di bawah garis tahta Ayahnya. Dan Raja mempercayainya. Ia terkenal tegas, kuat, dan populer di kalangan Snowelf beta dan omega yang berebut untuk jadi pendampingnya kelak. Meski baru berusia 120 tahun ini, Siwon sudah menunjukkan tanda kedewasaan dan kesiapannya untuk mencari seorang pendamping.

Namun nyatanya, Siwon belum tertarik tentang hal itu. Siwon selalu menggunakan alasan usianya untuk mengelak dari tuntutan mencari mate. Ia masih terlalu muda, meski sebenarnya, hal yang menghalangi Siwon untuk mencari pendamping hidupnya adalah kelemahannya sendiri. Seseorang yang menjadi kelemahannya selama ini.

“Siwon-hyuuungg~” panggil Sungmin dengan suara berbisik.

Ada beberapa orang Snowelf dewasa yang sedang bekerja di dalam ruangan penuh gulungan itu, salah satunya adalah orang yang dicari-cari oleh Sungmin.

Pemuda jangkung berambut abu-abu pekat dengan mata biru itu sedang duduk dengan serius, di hadapan meja panjang sembari memegangi dua gulungan kertas di tangannya. Gerut wajah tegas dan gurat di dahinya menghilang begitu mendengar suara Sungmin; Siwon tersenyum lebar menyambut kehadiran adiknya.

“Minnie?”

Melihat hyung tertuanya itu menyambut kedatangannya, senyumnya makin merekah. Dengan bersemangat, Sungmin masuk dan menghambur ke arah kakaknya. Tanpa peduli pada menteri lain yang juga berkumpul disana, Sungmin bergelayut manja di lengan Siwon. Sedang Putra Mahkota itu, sama tidak pedulinya saat dikecupnya pucuk kepala Sungmin lalu diusapnya rambut hitam itu dengan sayang.

“Won-hyung, ayo kita maiiinnn.” Ajaknya dengan nada manja sembari bergelayut di lengan kekar kakaknya.

Siwon menautkan alisnya, merasa bersalah. “Minnie-ah, hyung sedang kerja sekarang. Nanti malam akan hyung temani main, ne?”

Bibir Snowelf kecil itu langsung merucut maju.

“Tapi malam masih lama hyung. Aku bosan…”

“Pelajaranmu dengan guru kerajaan bagaimana Minnie? Bukankah pagi-pagi begini kau harusnya belajar?”

“Hari ini tidak ada pelajaran hyung. Yaaaa… hyung-ah, main sama Minnie ne?” Bujuknya sambil mengayun-ayun lengan Siwon. Spontan saja bulu kuduk pangeran mahkota Hviturland itu berdiri di balik wajahnya yang tenang.

Apa boleh buat. Pangeran tertua Hviturland itu memang sudah memasuki masa-masa kedewasaan fisik di mana tubuhnya akan aktif secara seksual. Selama ini Siwon cukup pandai untuk mengendalikannya, namun sentuhan kecil tangan adiknya mampu membuat rangsangan yang tidak biasa, seperti tersengat listrik… tepat di bawah sana. Beruntung Siwon cukup mumpuni untuk mengendalikan dirinya sendiri.

“Mianhe, Minnie… Sekarang benar-benar tidak bisa. Kalau hyung tidak kerja nanti bagaimana dengan kerajaan? Appa pasti marah. Minnie main sama hyung yang lain, ne? Coba cari Donghae-hyung?” Siwon mencoba memberikan saran.

“Tapi Minnie maunya sama Siwon-hyung!” Sungmin berkeras menatap mata biru Siwon, suaranya berubah sengit. “Please, hyung? Pleaseeeee?” kali ini Sungmin mengerjapkan matanya dan merengut sedih.

Siwon menggeleng tidak percaya sebelum membuang muka. Wajahnya memerah karena geram, merasa kesal pada dirinya sendiri yang tidak sanggup untuk tidak terpesona pada makhluk kecil di hadapannya ini. Hatinya berteriak, ‘imut sekaliiiiiiiiiiiiii’. Tapi mana bisa ia meneriakkan hal itu di depan orang-orang ini.

Oh Dewa, apa dosanya?

Kenapa ia kerap mendapat godaan dari setan kecil ini?

Lama-lama ia tidak akan bisa menahan diri…

“Ehem!”

Sesaat sebelum Siwon menyerah takluk pada Snowelf kecil itu, seseorang berdehem keras-seolah disengaja. Siwon menoleh ke arah salah satu menteri yang cukup dekat dengannya, Minwoo, duduk di ujung meja dan sama sekali tak melihat balik kepadanya. Tiba-tiba Siwon merasa malu karena hampir mengiyakan permintaan adiknya itu.

Ia berbalik ke arah Sungmin dan memegang kedua bahu adiknya yang kurus, lalu menatap pangeran bungsu itu dan mencoba membujuk Sungmin agar mengerti. “Minnie, hyung janji nanti malam ya? Setelah gelap, hyung akan temani kemanapun kau mau. Ya?”

Sungmin langsung merengut kecewa, ia mendengus pada kakaknya dengan marah. Lalu ditampiknya kedua tangan Siwon dari bahunya dan berlari keluar dari ruangan sambil berteriak. “Hyung jahat! Aku benci Siwon-hyung!”

Menteri-menteri di sana hanya saling melirik dan kembali sibuk pada pekerjaan mereka masing-masing. Tidak ada yang menyadari kalau saat itu hati Siwon hancur berkeping-keping mendengar jeritan Sungmin barusan. Masih terpukul, Siwon memandangi kepergian Sungmin dengan ternganga.

.

oOoOoOo

.

Pemuda berambut coklat pirang itu memejamkan matanya; berusaha berkonsentrasi saat ia merapalkan mantera yang sedang dipelajarinya selama setahun terakhir. Pangeran ketiga dari raja Hviturland itu memang tidak secerdas kedua hyung-nya, karena itulah dia menutupinya dengan usaha yang lebih. Soal kerja keras, tak usah ragukan pemuda yang satu ini.

Donghae terlahir sebagai beta, kasta di bawah alpha menurut hukum Hviturland. Ia tidak akan bisa dinobatkan menjadi penerus tahta dengan status tersebut. Namun tidak masalah. Donghae bukan seseorang yang haus kekuasaan dan mendambakan tahta raja Hviturland berikutnya. Lagipula ia sependapat dengan keputusan sang ayah, bahwa Siwon-hyung lebih pantas menjadi raja selanjutnya.

Donghae menarik napas dalam-dalam. Bibirnya sedikit terbuka saat ia berkomat kamit membaca mantera. Tidak lama kemudian, cahaya kekuningan menyala samar di sekelilingnya. Angin berhembus masuk mengitari ruangan, bertiup melewati pemuda itu hingga rambut sebahunya yang diikat menyamping berayun sebagian.

Tiga ratus lima puluh tujuh kalimat-ia hanya perlu menyelesaikan dua baris lagi ketika suara berisik memanggilnya dan mengacaukan konsentrasinya.

“HAE-HYUUUUNNGGG!” Teriak Sungmin dengan nada kesal.

Donghae menahan napasnya, konsentrasinya makin terkikis saat suara langkah itu berderap berisik, menggema dari koridor luar kamarnya.

Awalnya Donghae mencoba mengacuhkannya, namun hapalannya sudah terbata-bata karena kaget. “Leis-leis… leisfa… Leisfa…”

“Hyuungg!” jerit Sungmin dari depan pintu. Merasa kesal karena diabaikan padahal sudah jelas Donghae ada di kamarnya.

Donghae meringis kecewa, dengan putus asa ia menurunkan tangannya. ‘Aisshhh….‘ Desahnya lagi, dalam hati menangis. Buyar sudah semuanya. Cahaya kekuningan yang susah payah diundangnya meredup lalu hilang. Angin kencang tadi keluar melalui jendela dan pintu meninggalkan kamarnya. Sungmin sempat syok saat angin itu menerpanya.

Donghae membuka matanya dan menyambut kedatangan adiknya dengan raut muram. “Minnie, ada apa?” Tanyanya lemas. Sungmin tidak selalu mencarinya. Namun jika ia datang, biasanya karena dia tidak bisa bermain dengan Siwon-hyung dan yang lainnya.

“Hyung… hyung tadi sedang apa? Main sihir ya? Minnie mau ikut!” Ia langsung berlari ke dalam ruangan dan berdiri di sisi Donghae.

“Minnie, hyung sedang belajar untuk tes kenaikan level wizard tahun depan. Jangan mengganggu ne?”

Tapi tentu saja, siapapun tahu pangeran bungsu itu paling tidak bisa dilarang-larang. Dengan penasaran Sungmin menarik turun kertas di tangan Donghae dan sedikit berjinjit untuk melihat isinya.

“Minnie tidak ganggu kok! Minnie mau ikut belajar sama hyung! Umm… umm… Alb-albhaso…” Paksanya meyakinkan hyung ketiganya itu sembari mencoba membaca mantera yang tertulis di kertas.

Donghae menghela napas, sedikit kesal dengan bocah kecil yang sangat pemaksa ini. Terlebih lagi jika Sungmin mengganggu di saat ia berlatih.

“Sungmin!” Donghae menarik kertas itu ke atas, jauh dari jangkauan Sungmin, namun kehadiran cahaya terang dan angin kencang yang tiba-tiba itu mengejutkannya. Secepat kedatangannya, kilau dan desau sihir itu menghilang begitu Donghae menjauhkan kertasnya dari jangkauan Sungmin. Pemuda itu ternganga melihat adiknya yang merengut kecewa balik padanya.

Bagaimana mungkin bocah kecil ini bisa langsung memunculkan efek sihir dari beberapa bait pertama saja?

“Aaaa… Hyung! Minnie belum selesai baca! Ayo kita lomba hyung!”

Donghae mendelik, seketika merasa harga dirinya seakan tercabik. Melihat kenyataan bahwa dirinya tidak lebih mampu dari adiknya yang masih belum cukup umur, membuatnya depresi. Mood-nya untuk merapal mantera sirna dalam sekejap.

Sungmin… bayi ini bahkan bisa melakukannya dengan mudah?

Sungmin yang usianya bahkan belum setengah dirinya?

Dan… Sebenarnya Donghae tidak ingin mengungkit hal ini, tapi bukankah adik bungsu mereka ini hanya berdarah omega?

Oh… Donghae meringis, rasanya ingin menyudut dan menangis pojok ruangan sembari meringkuk.

“Sungmin. Tinggalkan hyung.” Ucap Donghae pelan namun tegas, didorongnya Snowelf kecil itu ke arah pintu keluar.

“Ta-Tapi hyung! Minnie mau ikut main-eh, belajar! Hyunggaaa… Kenapa tidak boleh? Hyuuuung! Minnie akan bilang ke eomma!” Rengeknya sembari berusaha bertahan, namun dorongan Donghae semakin memaksa.

Donghae membuat suara seakan sedang menahan airmata. “Tidak apa-apa, bilang saja pada Ratu.”

Dan aku akan menyuruhnya membuat bayi agar kau punya teman main dan berhenti menggangguku.’ Tambah Donghae dalam hatinya. Padahal saat kecil dulu, adiknya begitu manis dan menggemaskan. Tapi dalam beberapa tahun saja, Sungmin berubah menjadi monster kecil yang kerap membuatnya kesal. Donghae tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusir adiknya kali ini.

“Hyung mau sendiri. Sana, pergilah main ke tempat lain.” Dengan raut sedih, Donghae menutup pintu kamarnya tepat di depan wajah Sungmin.

“Hae-hyuuuunnggg…” Suara Sungmin masih terdengar dari balik pintu selama beberapa saat, merengek dan terdengar akan menangis. Donghae merasa bersalah dan hampir menyerah. Ia berniat membukakan pintu kamarnya dan meminta maaf pada Sungmin. Tidak seharusnya ia melampiaskan kekesalan dan kegagalannya pada adik bungsunya itu.

Tapi suara rengekan Sungmin menghilang, berganti dengan suara langkah-langkah menghentak yang terdengar menjauh.

“Ah…” Donghae mengeluh sedih dan bersandar di pintu, kepalanya tertunduk lesu.

.

oOoOoOo

.

Sungmin berjalan lesu, bibirnya merengut maju. Tapi dalam keadaan tidak mood seperti itu, ia masih sempat menjahili orang lain. Sungmin menyambar permen di atas nampan yang dibawa seorang pelayan. Pelayan itu sempat terkejut, tidak mengira Pangeran yang berpapasan dengannya akan melakukan hal itu. Tapi karena mengerti pada sifat nakal dan manja pangeran bungsu yang sudah terkenal seantero istana, pelayan itu hanya membungkuk, menawarkan permen di atas nampannya yang ditolak dengan sungutan oleh Sungmin.

Semua orang membuatnya kesal hari ini. Padahal Sungmin benar-benar bosan dan membutuhkan seseorang untuk menemaninya bermain. Siwon-hyung tidak bisa, eomma tidak bisa, Donghae-hyung tidak bisa, Changmin-hyung big no no. Siapa lagi?

Zhoumi-hyung…

Langkah Sungmin berubah pelan saat ia melalui ruang kerja salah satu kakaknya, dengan penasaran ia melongok, bermaksud melirik isi ruangan yang pintunya terbuka lebar. Lemari-lemari buku tampak berjejer rapi. Di atas meja, kertas dan dokumen bertumpuk. Pemiliknya pasti berada di dalam sana. Sungmin tidak ingin berlama-lama menghentikan langkahnya terlebih di depan kamar kakak keduanya. Ia bermaksud pergi, nyaris tampak tergesa-gesa saat pemilik kamar itu muncul melintasi meja. Sosok tinggi dengan jubah perak itu segera menyadari kehadiran Sungmin yang terbengong-bengong karena kaget.

“Sungmin-ah? Kau mau masuk? Ayo masuk.” Tawar orang itu sembari membuka pintunya makin lebar. Senyum ramah dan mata sitrin yang makin menyipit itu tidak lantas membuat Sungmin luluh. Bocah itu menggeleng gugup, matanya membulat panik. Sosok yang lebih tinggi dari Siwon-hyung itu mengerutkan kening, tapi senyumnya masih tampak ramah, ia bergerak seakan-akan berniat menarik Sungmin masuk ke dalam ruangannya. Tapi sebelum hal itu terjadi, Sungmin mundur dengan ketakutan, lalu berlari pergi, melesat menjauh dari tempat itu sebelum Zhoumi sempat menarik lengannya.

Ditinggalkan dengan tidak begitu ramahnya, membuat Zhoumi mengangkat alisnya dengan kecewa. Ia tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana agar adik bungsunya tidak menunjukkan sikap ketakutan seperti itu setiap kali mereka bertemu.

Dengan sedih, Zhoumi berbalik, masuk kembali ke dalam ruangannya. Seseorang yang duduk di meja kerjanya meliriknya heran, tapi akhirnya sosok yang tidak kalah tinggi itu tersenyum mengerti.

“Dia lari lagi?”

Zhoumi mengangguk, lalu mendesah lesu dan duduk di hadapan rekannya.

“Apa aku seseram itu sampai adikku tidak mau menatap wajahku?”

“Mungkin kau terlalu tinggi untuknya.”

Orang itu tertawa. Zhoumi merutuk, tidak menyukai lelucon itu sama sekali.

.

oOoOoOo

.

Kamar hyung keempatnya sebenarnya berada dekat dari kamar Zhoumi-hyung, tapi Sungmin tidak begitu akrab dengannya-Seunghyun. Ia bahkan takut pada kakaknya yang berwajah garang dan bertubuh tinggi itu. Menurut Sungmin, Seunghyun adalah hyung yang aneh. Jarang berbicara, wajahnya tampan namun matanya selalu berkilat tajam seperti penjahat. Dipelototi oleh mata itu sebentar saja, Sungmin akan lari terbirit-birit sembari menangis.

Seunghyun-hyung bahkan mungkin lebih menyeramkan dari Zhoumi hyung.

Sungmin selalu merasa takut pada kedua kakaknya ini. Dan soal Zhoumi-hyung tadi… Kakaknya yang bertubuh tegap kelewat tinggi itu selalu memberikan senyum manis. Meskipun suaranya ramah, dan tidak jarang hyung-nya itu berbaik hati mengirimkan permen juga manisan ke dalam kamarnya. Tapi senyum anehnya selalu tampak mengerikan, membuat Sungmin merinding dan selalu menolak berdekatan dengan kakaknya yang satu itu.

Di balik semua keramahannya itu, memori kecil Sungmin pernah mencatat baik-baik karakter aneh kakaknya. Diam-diam, Sungmin belum pernah menceritakan hal ini pada orang lain, ia pernah memergoki kakak keduanya itu melampiaskan amarah pada seekor kuda besar. Dengan pedangnya yang besar dan berat itu.

Sungmin belum bisa melupakan kucuran darah dan organ merah yang menyeruak membasahi putihnya salju saat itu terjadi. Pemandangan itu nyaris membuat Sungmin menangis histeris di tempat. Beruntung ia berhasil menahan suara tangisnya. Mungkin karena rasa takut yang menjadi-jadi. Dan saat itu, ia tidak bisa cerita kepada siapapun karena salahnya sendiri telah melanggar larangan eomma untuk tidak bermain jauh-jauh dari istana.

Setiap kali mengingat hal itu… membuat Sungmin sontak merasa ngeri saat berpapasan dengan kakaknya, lebih-lebih saat dilempari senyum seperti tadi.

Zhoumi-hyung itu… mengerikan. Kekuatannya, seperti seorang alpha saja.

‘Padahal Siwon-hyung yang seorang alpha, tidak pernah semengerikan itu. Tidak pernah semenyeramkan Seunghyun-hyung atau semisterius Zhoumi hyung.’

Dan omong-omong soal Seunghyun-hyung… Sungmin mendengus. Menjulurkan lidahnya ke arah pintu itu lalu mempercepat langkahnya, ingin segera pergi dari sana. Ia tidak pernah menyukai kakak keempatnya, melebihi Zhoumi-hyung dan Changmin-hyung. Changmin-hyung menyebalkan, Zhoumi-hyung menyeramkan, dan Seunghyun-hyung… mengerikan meski cuek sekali kepadanya. Kakaknya yang satu itu hampir-hampir menyaingi dinginnya sifat Appa kepadanya.

Kalau disuruh memilih harus menginap di kamar siapa di antara Zhoumi dan Seunghyun, Sungmin dengan berberat hati akan memilih sang Pangeran Kedua.

Tapi bukan berarti Sungmin membenci kakaknya. Ia tidak membenci siapapun di istana ini kecuali Kurcaci Salju yang cerewet. Tapi untuk mengajak Seunghyun bermain bersamanya…

Tidak! Tidak!

Membayangkannya saja Sungmin sudah merinding.

Langkah kaki-kaki Sungmin membawanya menjauh dari kamar Seunghyun, bocah itu menggeleng sendiri. Ia berbelok ke lorong yang berada empat pintu dari kamar Seunghyun, tanpa ragu melangkah makin dalam ke sana. Cukup familiar dengan tempat ini, Sungmin berhenti di depan kamar hyung keenamnya, Jiyong.

Sungmin memandangi pintu itu dengan penuh harap.

Bagi Sungmin, Jiyong sebenarnya juga aneh, namun ia cukup sering mengajak Sungmin berbicara, bahkan menjahilinya. Dan sewajarnya, seorang bocah akan merasa akrab dengan orang yang rajin berinteraksi dengannya. Meskipun Jiyong-hyung juga hampir tidak pernah menerima ajakannya, apa salahnya kali ini ia mencoba lagi.

Siapa tahu hyung sedang bosan.

“Jiyong-hyuuunggg.” panggil Sungmin dari depan pintu.

Samar-samar, ia mendengar suara-suara aneh dari dalam sana. Sungmin memasang telinganya dekat-dekat ke pintu, sembari sesekali memanggil nama kakak termudanya itu.

“Mmmnhhh?” jawaban samar itu yang didapatnya. Sungmin mengerutkan kening, merasa mendengar suara engahan dan desahan. Apa Jiyong-hyung sedang sakit?

“Hyuuuung?”

.

oOoOoOo

.

“…Ap-apaaa? Mmmhhhh…” Jiyong menjawab sambil mendesah. Kalimat itu meluncur berantakan dari bibirnya. Seseorang yang berada di antara selangkangannya tidak membiarkan Jiyong terfokus barang sebentar.

“Aish… diam dulu!” Jiyong mendesis kesal. Ia sedang terbaring di ranjangnya; pakaian tercecer di atas lantai. Celana panjangnya sudah tanggal dan entah berada dimana. Tangannya sedang menjambak rambut biru seorang pemuda yang sedang mengulum kejantanannya itu.

Hyuuunng~’

“Kau dengar itu?” Tanya pemuda berambut pirang pucat itu sembari mengawasi pintu.

Pemuda yang berada di antara selangkangannya hanya menyipitkan mata tidak peduli, dan melanjutkan apa yang sedang ia lakukan tadi dengan lebih kuat. Ia tidak tahu dan tidak peduli siapa pemilik suara itu.

“Tu-tunggu! Aahh, berhenti!” Dengan jengah, pemuda tadi menarik cengkeraman Jiyong dari rambutnya; membuat beberapa rontok karena genggaman kasar Jiyong yang tak mau melepaskan tangannya. Mendengus marah, pemuda itu melepaskan daging di dalam mulutnya dengan suara ‘plop’ pelan.

“Sudah, acuhkan saja. Anggap saja kau tidak dengar apa-apa.”

“A-Aish! Hyun-ah!” Bulu kuduk Jiyong sontak berdiri saat Snowelf berambut biru itu menghisap miliknya lagi dengan lebih dalam, terlebih lagi pemuda itu sengaja bergumam sambil melakukannya sehingga membuat getaran itu mengaliri tubuhnya seperti listrik.

“O-ohh… A-aku bilang berhenti! Nanti ki-kita ketahuaaaannnhhh!” Suara ketukan pintu dan panggilan itu masih terdengar.

“Hyuuunng… Jiyong-hyung!”

“Aku tidak peduli.” Jawabnya sembari menjilat bagian atas junior pemuda itu, lalu turun perlahan dan meraba bagian terlarang di bawah kejantanan Jiyong.

AA-AHHNN… YAH! BRENGSEK KAU SEUNGHYUN! KUBILANG JANGAN SENTUH BAGIAN ITU KAN!” Jiyong mengerat kasar rambut hyung-nya tanpa rasa takut sedikitpun.

“Kenapa?” Tanya pemuda bermata tajam itu tanpa ekspresi, begitu tidak peduli.

Jiyong mengeram, mendongak tinggi ke belakang. Lehernya yang putih terekspos sempurna. Lalu dengan desis marah, pemuda belia itu menampik Seunghyun sekali lagi.

“KENAPA?! Aku tidak mau melanggar batas! Ingat perjanjian kita, Seunghyun! Aku tidak mau kalau kita sampai jadi mate karena kau atau aku lupa diri! Y-YAH! SINGKIRKAN JARIMU!”

Jiyong-hyuuuung… Hyung sedang apa? Buka pintunyaaaa…’

“Aku kan sudah bilang kalau aku akan bertanggung jawab. Kau memang akan jadi mate-ku juga cepat atau lambat.” Mendengar itu, Jiyong mendengus dengan wajah mengejek sambil bangun ke posisi duduk.

“Omong kosong. Kenapa kau yakin sekali? Kepalaku akan segera dipenggal kalau Appa sampai tahu soal ini. Kau beruntung terlahir sebagai alpha… Paling tidak bendamu ini masih dibutuhkan dalam silsilah keluarga.” Jiyong meremas bagian tengah selangkangan kakaknya yang menarik nafas dalam karena ‘serangan’ mendadak itu.

“Sedangkan aku? Omega? Hah—” Jiyong menggantung ucapannya, pemuda itu menggeram emosi mendengar suara berisik yang sedari tadi mengusiknya dari luar. “Dan kau bisa mengatakannya dengan mudah. Setelah mengikatku, kau bisa mengikat orang lain lagi. Tapi bagaimana denganku? Menontonmu tidur dengan orang lain sedangkan aku harus menderita menampung benihmu dalam tubuhku? Oh tidak, Seunghyun. Tidak semudah itu.”

Jiyong-hyuuuung!”

“YAH! BERISIK SEKALI KAU SUNGMIN!” Tentu saja ia bisa menebak siapa itu. Lagipula hanya Sungmin yang bisa memanggilnya ‘hyung’ di negara ini.

Hyung! Aku mau ikut main! Buka pintunyaaaa!’ Pinta Sungmin senang saat Jiyong akhirnya menanggapi kehadirannya di luar.

“Kau lebih tahu dari siapapun, Omega adalah pion berharga negara ini. Jumlah kalian semakin menyusut setiap tahun. Kita akan segera punah dalam beberapa abad kalau angka itu tidak segera diperbaiki.” Seunghyun berujar datar. Diliriknya Jiyong yang makin mendesis tak suka, ke arahnya dan ke arah pintu.

“Berharga katamu? Itu menjadi alasanmu untuk mengikat banyak mate nanti? Omega hanya sampah dalam silsilah Raja.” Jiyong mendengus jijik. “Raja mengawini beta dan omega. Tapi dia hanya butuh Alpha untuk garis silsilahnya.”

“Aku tahu.” Komentar Seunghyun singkat, datar tanpa emosi yang membuat Jiyong makin kesal.

HYUUUUUNG!’

“DIAM SEBENTAR SUNGMIN!” Jiyong berteriak, kesal. “Merusak mood-ku saja!” pemuda itu menggeram layaknya seekor siluman. Ia menendang bahu Seunghyun agar menjauh darinya dan beranjak dari ranjang sembari mengenakan celana. Jiyong melangkah marah dan bergegas membuka pintu, hanya untuk berhadapan dengan wajah ceria Sungmin yang entah kenapa semakin membuatnya kesal.

“Kau mau ikut main kan?” tanyanya dengan raut kesal.

Iyaaa! Mauuu!” Jawab Snowelf kecil itu lugu. Jiyong mendengus kecil lalu menarik lengan adik tirinya itu dengan kasar ke dalam ruangan. Sungmin sempat kaget melihat ada Seunghyun di kamar Jiyong. Ia hampir berubah pikiran dengan cepat; takut melihat hyung yang satu itu melotot ke arahnya.

“Nih, Seunghyun. Mainkan saja dia kalau kau sudah tak tahan.” Jiyong mendorong Sungmin keranjangnya. Bocah yang kebingungan itu terpaksa memanjat karena di dorong dengan kasar.

“Kau menghinaku?” Seunghyun mendelik marah kepada adiknya itu.

“Tidaakk~ Tapi kalau kau memang tidak bisa menepati batasan yang sudah kutetapkan sejak awal, lebih baik kau ‘main’ sama Sungmin saja. Ne, Sungmin-ah?” Jiyong tersenyum dibuat-buat, memanis-maniskan suaranya sembari memaksa Sungmin menanggalkan pakaian.

“H-hyung? Mau main apa? Kenapa membuka pakaianku? Aku sudah mandi kok.” Sungmin mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di antara kedua hyung-nya ini. Terlebih melihat pakaian Jiyong yang berantakan seolah hanya disangkutkan di lengannya saja, dan ada Seunghyun yang melotot marah kepada Jiyong.

“Jiyong-ah.” Seunghyun menaikkan nada bicaranya, suaranya yang berat terdengar bergetar.

Jiyong sempat terdiam; tangannya kaku dan ia menolak membalas pandangan Seunghyun. Tidak berani. Jiyong mengutuk dalam hati karena merasa takut seperti itu. Menyedihkan sekali lahir sebagai omega. Mendengar suara alpha saja membuatnya ketakutan seperti ini. Bahkan tubuhnya sempat tak bisa bergerak tadi. Ia berusaha memasang ekspresi cueknya tanpa menghilangkan senyum mengejek di bibirnya itu, seolah tak terpengaruh sama sekali.

Sungmin mengambil kesempatan ini untuk kabur. Ia ketakutan. Bisikan dalam hatinya terus memaksa Sungmin untuk segera kabur dari sana. Tapi melihat pintu tertutup, Sungmin menyesal telah mengalihkan langkahnya dan bersembunyi di balik gorden, bukan berlari ke pintu dan membukanya.

“Sungminnie? Kok lari? Ayo sini main sama Seunghyun dan Jiyong-hyung. Buka celanamu siniii~” Sungmin mengerutkan dahi heran kepada hyungnya yang aneh itu. Ia menggeleng ketakutan.

“Ayoooo… Kita main junior-junioran. Hyung mau lihat punyamu, pasti imut-imut dan kecil seperti tubuhmu ya?” Jiyong terkekeh-kekeh sambil melambai ke arah Sungmin yang makin ketakutan. Ia mencoba mengacuhkan Seunghyun.

“Tidak mau! Aku mau main sama kelinci saja! Tidak mau main junior!” Sungmin menghentakkan kakinya marah. Ia melirik ke arah pintu dan melihat Jiyong tidak bergerak kemanapun, Sungmin menangkap kesempatan itu. Snowelf muda itu segera mengambil langkah seribu, keluar dan berlari menjauh dari lorong kamar kakaknya diikuti suara tawa Jiyong yang tergelak seakan kerasukan.

Sungmin mencoba merapikan jubah dan baju lapisan dalamnya. Kecewa, namun juga bingung dan heran dengan tingkah kakaknya.

Sepertinya Jiyong-hyung sedang bertengkar dengan Seunghyun-hyung?

Apapun itu, Sungmin mencatat tebal-tebal dalam ingatannya.

JIYONG-HYUNG ANEH.

Di lain waktu, Sungmin tidak akan pernah lagi mengetuk pintu kamar kakaknya itu.

.

oOoOoOo

.

Sungmin melangkah sembari merengut. Ia menyusuri taman dalam istana yang penuh oleh pohon-pohon mati. Bibirnya gemetar, Sungmin menggigitnya dan menolak untuk menangis. Tiba-tiba ia merasa terombang-ambing. Ditolak semua orang, diusir, dipermainkan. Bahkan oleh Siwon-hyung dan eommanya sendiri. Dengan lesu, snowelf belia itu melangkah. Bermaksud kembali ke kamarnya dan mengerjain pelayan saja.

Tapi seharusnya, bocah itu lebih tahu… ada satu orang yang sejak pagi tidak menolaknya, justru memelas ingin bermain dengannya dan Sungmin mengabaikannya. Orang itu masih berkeliaran di dalam istana, tanpa sengaja melihat Sungmin melangkah lesu dan mulai mengikuti Sungmin dari belakang.

Merasa mendapatkan kesempatan yang tepat, sosok itu keluar dari persembunyiannya. Mengendap-endap mendekati Sungmin yang berjalan dengan kepala tertunduk. Lalu tanpa memperkirakan akibatnya, sosok itu memeluk Sungmin dari belakang, erat-erat sembari berbisik horror di telinga adiknya.

“Minnie… Kena kau~” Tidak lupa ia menggesekkan potongan janggut dan kumisnya yang mulai lebat tidak tercukur ke pipi mulus Sungmin.

“HIYAAAAAA!” Sungmin, terkejut bercampur takut, spontan memukul orang yang baru saja mengagetkannya dengan membabi buta.

“Hahahahaa! Susah sekali menemukanmu-aw-aw! Minnie, aish! AKKKKHH!” Changmin terpaksa melepaskan Sungmin, bocah itu menggigit bahu telanjangnya dan mencakar kemana-mana.

Setelah dilepaskan, Sungmin tidak menyia-nyiakan hal itu dan segera kabur menjauh dari Changmin. Pipinya kembali merona merah, kali ini karena paru-paru kecilnya memompa napas lebih cepat dari biasanya. Sungmin berlari ketakutan, ruang luas ini tidak akan menyelamatkannya. Terlebih Changmin mulai berlari mengejar, dengan langkah yang lebih jenjang dibanding kaki-kaki pendek Sungmin.

“Minnie kenapa jahat sekali, hiks. KEMARI KAU BOCAH NAKAL! BIAR KUCIUM PIPIMU SAMPAI HABIS!”

“KYAAAA! EOMMAAAA!” Sungmin benar-benar menangis, airmata ketakutan merembes deras membasahi wajahnya. Dia berlari seakan sedang dikejar oleh seorang pemerkosa. Sadar eommanya tidak akan hadir untuk menyelamatkannya, Sungmin memutar arah, mengangkat jubahnya tinggi-tinggi sebelum berlari berusaha meraih ruangan Siwon secepat mungkin.

“WONNIE-HYUUUUNG!”

Sungmin berlari sembari menangis dan berteriak, mengejutkan pelayan-pelayan yang berpapasan dengannya. Tapi melihat siapa yang tengah mengejar pangeran bungsu itu, para pelayan hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. Tidak berniat menyelamatkan pangeran termuda mereka, sedikitpun.

Memang, sesungguhnya tidak ada yang bisa menyelamatkan Sungmin dari Changmin. Kecuali eommanya dan Siwon-hyung. Jadi ini adalah pilihan yang cerdik, hanya saja pilihan cerdiknya belum tentu berhasil jika Changmin sukses menangkapnya lebih dulu.

“Minnie babyyyy~ Kemari anak nakal!”

Sungmin menjerit makin ketakutan saat suara Changmin terdengar begitu dekat, hanya beberapa meter di belakangnya. Ia sudah berniat untuk bersimpuh dan menangis, menyerah, kalau saja kakaknya itu berhasil menarik jubahnya. Tapi nyatanya, Dewa berpihak padanya. Sosok yang diharapkannya keluar dari ruangan berpintu besar itu.

Siwon berdiri kaku, keningnya bertaut. Ia buru-buru beranjak dari kursi kerjanya tadi saat didengarnya suara Sungmin memekik, berteriak, dan menangis.

“WONNIE-HYUUUUNG!” Sungmin menghambur memeluk kakaknya, tangisnya kembali pecah saat ia berhasil meraih Siwon terlebih dulu sebelum Changmin berhasil meraihnya. Ia meremas jubah besar Putra Mahkota dan menjerit histeris-sesungguhnya karena merasa lega.

“Max, kau sudah pulang rupanya. Ada apa? Kenapa ribut-ribut?” Siwon dibuat ternganga, kebingungan dan hanya bisa menyambut Sungmin dalam pelukannya.

Changmin berhenti di hadapannya, napasnya masih teratur meski ia berlari sejauh itu untuk mengejar Sungmin, berbeda dari pangeran bungsu yang sudah terengah-engah dan sedikit terisak, kehabisan napas.

“Aku main kejar-kejaran dengan Minnie. Cepat serahkan Sungmin, hyung! Aku juga rindu padanya.” Changmin berusaha mendekat, tapi Siwon menghalangi. Putra Mahkota buru-buru menyembunyikan Sungmin di balik tubuhnya. Terlebih saat Sungmin menangis lagi dan mengadu dengan histerisnya.

“Tidak mau! Tidak mau! Changmin-hyung mau menciumku! Wajahya berduri, aku tidak suka! Tidak mau!”

Max mendelik pada Sungmin. “Sssh, Minnie nanti hyung akan mencukurnya!” ujarnya jengah dituntut terus-terusan hanya karena potongan pendek janggutnya. Lalu Changmin mendongak, memasang wajah memelasnya pada Siwon. “Hyuuung~”

“Kembalilah ke kamarmu, Max. Mandi setelah itu istirahat, besok kau harus kembali ke perbatasan kan?”

“Kulakukan nanti, biarkan aku memeluk adikku dulu!” Ujarnya bersiap maju dengan kedua lengan siap menarik Sungmin.

Siwon mengelakkan tubuhnya ke samping. “Kau lakukan nanti, sekarang mandilah dulu.”

Changmin berdecak, bibirnya mengerucut maju. “Ckk, belum jadi raja saja sudah main monopoli!”

Siwon tidak meladeninya. Tapi dengan kehadiran kakak tertuanya disana, Changmin tahu ia tidak akan menang. Dengan tidak rela ia berbalik, beranjak pergi sebelum melirik Sungmin dan mengancam.

“Awas ya, hyung akan menculikmu nanti malam!”

“Hueeee! Hyuuuungggg!”

“Max!”

“Iya-iya, aish!”

Changmin pergi, dengan tidak rela. Meninggalkan Sungmin bersama Siwon di depan ruangan sayap kiri.

Siwon menghela napas, ia menarik Sungmin dan membungkuk menyejajarkan tinggi mereka. Diusapnya airmata yang membasahi wajah putih itu. Tapi kini, saat Changmin sudah pergi, rupanya Sungmin berniat untuk berulah lagi. Pangeran bungsu itu memejamkan matanya, menunduk menolak membalas tatapan kakaknya.

“Minnie masih marah pada hyung?”

“Masih!” Sungmin mengerucutkan bibirnya.

“Tidak mau main?”

Sungmin tidak menjawab, tapi bocah itu menunjukkan tanda-tanda telah tergoda. Ia mengintip, melirik Siwon yang tengah berpura-pura sedih dan akan berbalik kembali ke ruangannya.

“Padahal Hyung ingin bermain —dengan Sleipnir.”

Sungmin terkesiap. Kontan membuka matanya dan senyumnya merekah seperti musim semi.

“SUNGGUH?” pekiknya tidak percaya. “DENGAN SLEIPNIR?”

Siwon terkekeh dan mengangguk.

“SUNGGUUUUUH?”

Siwon mengerutkan keningnya, terkekeh melihat Sungmin kembali ceria dengan cepatnya.

“AAHH! AKU CINTA WONNIE HYUUUNG~” Sungmin menghambur memeluk kakaknya, Siwon tersentak kaget dan spontan berlutut agar Sungmin dapat dengan mudah meraup tubuh jangkungnya.

“Kau bilang benci Siwon hyung?” Siwon mengingatkan, tapi Sungmin seakan tidak mendengarnya.

Tersenyum lebar, Sungmin membingkai wajah Siwon dengan kedua tangannya. “Sini aku mau cium!”

Siwon tidak sempat bereaksi, bocah itu bergerak cepat, menyambar bibirnya dan mempertemukan keduanya dalam satu ciuman polos. Sesaat, Siwon seakan kehilangan nyawanya. Jantungnya seolah berhenti. Hingga kesadarannya kembali, Siwon melirik keadaan sekitarnya dengan takut-takut. Beruntung, tidak ada siapapun disana.

“Minnie, jangan cium hyung di depan umum okay?”

“Apa itu di depan umum?”

“Di depan umum itu, di depan banyak orang. Di depan siapapun selain Minnie, Wonnie-hyung, dan Sleipnir!

“Oh. Okay.” Sungmin segera saja setuju. Ia menarik lengan Siwon dan menyuruh kakaknya untuk bergegas. “Sleipniiiir!”

“Baiklah, baiklah.” Siwon tertawa, hanya bisa menurut mengikuti langkah bersemangat adiknya.

.

oOoOoOo

.

Siwon menarik ekor rambut Sleipnir, memaksa kuda bersayap empat itu melambatkan kecepatannya. Tapi rupanya kuda itu sama bersemangatnya dengan Sungmin. Terbang cepat di atas langit Hviturland, dan hanya Siwon seoranglah yang benar-benar ketakutan. Putra Mahkota itu nyaris menunjukkan rasa paniknya, satu tangannya memegangi Sungmin belum cukup membuatnya tenang. Ia benar-benar khawatir adiknya akan terjatuh! Dari ketinggian itu, salju tidak akan melindungi tubuh kecil Sungmin kalau bocah ini benar-benar terjatuh.

Padahal ia sudah pernah mengajak adiknya menaiki Sleipnir, mungkin tujuh atau delapan kali. Dan semuanya selalu di malam hari. Sekarang, sore ini, langit masih terang. Mungkin hal itu juga yang membuat Sungmin begitu bersemangatnya, tanpa rasa takut mencondongkan tubuhnya dan melirik ke kanan juga ke kiri. Seakan ketinggian itu sama sekali tidak ada artinya.

“Mereka seperti semut!” Sungmin tergelak, begitu bersemangatnya ia menunjuk-nunjuk rakyat yang beraktifitas di bawah sana. Orang-orang itu tampak sibuk, ramai, berbincang satu sama lain, dan mengerjakan tugas mereka masing-masing. Tidak seorangpun dari mereka tahu bahwa pangeran bungsu kerajaan tengah mengawasi dari atas langit.

Siwon, di sisi lain, mendelik mendengar penuturan adiknya.

“Kau lihat semut dimana, Sungmin-ah?” Jangan bilang di istana. Siwon tiba-tiba merasa takut untuk adiknya. Semut yang sanggup bertahan di negeri ini hanya semut api, semut yang benar-benar berbisa dan cukup membengkakkan kaki hanya dengan satu sengatan. Ia mencatat tebal dalam kepalanya, untuk memerintahkan para pelayan membersihkan kamar dan tempat bermain Sungmin, hingga jengkal terkecil.

“Apa?” Sungmin mencoba berbalik, tidak begitu jelas mendengar suara kakaknya. Terpaan angin yang kuat mengurangi daya pendengarannya. Tapi begitu ia menoleh, Siwon dengan panik memeluknya. Mendekap tubuhnya makin erat seakan takut Sungmin segera oleng lalu jatuh ke bawah.

“Kau lihat semut dimana?” ulang Siwon lagi, lebih keras dan lebih dekat dari telinga adiknya.

“Aku lihat di hutan.” Sungmin menjawab polos.

“HUTAN?” Tidak. Siwon lebih terkejut lagi mendengarnya.

“Ups—” menyadari kejujurannya, Sungmin segera membekap mulut. Menyesal. Ia melirik Siwon di sisi kepalanya, wajah kakaknya mengeruh marah. Sungmin hanya mampu menelan ludah.

“Aku akan menghukummu di istana nanti.”

“Nanti saja, ne! Ne! Sekarang kita main ke danau ya, hyung!”

“Kau benar-benar tidak takut pada hukumanku?” Siwon melengos, makin merasa miris pada dirinya sendiri saat Sungmin justru tertawa. Dua gigi besar kelincinya menyembul keluar. Siwon mengasihani dirinya, mengasihani posisinya sebagai penerus tahta saat ia bahkan tidak sanggup melawan senyum lebar itu.

Angin langit yang menerpa mereka begitu kencang, meski masih mampu dikendalikan. Langit terang, bercampur semburat jingga menjelang senja. Di bawah mereka, atap-atap rumah warga yang mengerucut tajam tampak berdempetan, begitu ramai dan mengerikan. Ratusan kali mengendarai Sleipnir, baru ini Siwon benar-benar merasa khawatir. Sudah dua kali ia melalui tempat ini bersama Sungmin, karena ini adalah jalur terdekat menuju danau es. Siwon gemetar setiap kali ia membawa Sungmin melalui tempat ini, padahal saat ia berpergian sendiri- tidak pernah ada masalah.

“Sungmin-ah, jangan banyak bergerak.” Siwon menahan napasnya. Sleipnir terbang condong, menurun dengan kecepatan yang semakin lambat, mendekati sebuah pusara bekas danau yang luas dan kini membeku menjadi lantai es yang licin. Pinggiran danau dikelilingi oleh salju lembut, selembut pasir yang dingin.

Sungmin semakin tidak sabar. Satu meter lagi kaki Sleipnir menyentuh permukaan salju, ia tidak bisa lagi menunggu. Tanpa aba-aba bocah itu menyingkirkan tangan Siwon yang melingkar di pingganggnya, lantas ia melompat dari tubuh Sleipnir, mendarat di atas salju yang lembut.

“MINNIE!” Siwon memekik kaget. Sontak turun dari atas Sleipnir dan menghampiri adiknya. Jantungnya nyaris copot saat tiba-tiba Sungmin menghempaskan dirinya sendiri ke atas salju. Tubuh itu jatuh tengkurap, dengan wajah mendarat terlebih dulu. Sungmin tidak lagi bergerak, kaku terbaring di atas sana.

“M-Minnie?” Siwon berlutut, tercekat. Menyentuh bahu itu namun tidak mendapatkan respon. Dadanya berdegup makin kencang. Ia benar-benar ketakutan sekarang. Kalau sesuatu sampai terjadi pada adiknya, Siwon tidak akan pernah bisa mengampuni dirinya sendiri.

Tapi begitu Siwon mengangkat tubuh adiknya dan membaliknya, segumpal salju melayang dan dijejalkan tepat di wajahnya. Siwon tersedak, lalu mengeram kesal mendengar suara gelak tawa penuh kemenangan. Sungmin buru-buru bangkit dan berlari menjauh. Sembari memunguti bergenggam-genggam salju dan kembali melempari Siwon.

“Hyung! Kena!” Jeritnya bersemangat. Ia melempari Siwon dengan gumpalan salju yang dibuatnya, dan kini, tepat mengenai wajah Siwon lagi. Sungmin tertawa lagi, buru-buru berlari saat dilihatnya Siwon semakin mengeram dan bangun perlahan-lahan.

Bulir-bulir salju jatuh menitik dari jubah besar Putra Mahkota, lalu setelah mengambil napas panjang, ia melebarkan langkah jenjangnya dan mengejar Sungmin.

“Kemari anak nakal!”

“KYAAAA! EOMMAAAA!”

“Panggil eommamu sana! Kau tidak akan selamat disini, hahahaha!” Siwon terbahak lepas, mengusir perasaan aneh dalam dadanya tentang reputasi dan image Putra Mahkota yang selama ini begitu dijaganya. Sekali saja, ia ingin begitu lepas, bebas, berteriak dan tertawa, mengejar adiknya.

Tentu saja, langkah mereka sama berbedanya seperti Sungmin dan Changmin. Tidak sampai dua menit, Sungmin yang kelelahan berlari lambat dan Siwon dengan mudah menangkapnya dari belakang.

“KYAAAAH!”

Keduanya terjatuh, tersuruk ke dalam salju dengan Siwon menimpa tubuh adiknya. Tertawa menang, Siwon membalik tubuh Sungmin, menjagalnya dengan kedua tangan hingga bocah itu terkurung di bawah tubuhnya.

Keduanya bernapas tersengal, wajah mereka merona. Sungmin, karena kelelahan dan kehabisan napas. Dan Siwon… karena posisi wajah mereka yang begitu dekat.

Siwon menelan ludah. Diusapnya wajah sang adik yang kotor oleh bulir salju. Sungmin begitu cantik. Ia tidak pernah mengingkari itu, meski juga tidak mengatakannya secara gamblang.

Pipi pucat itu merekah, merah. Begitu pula dengan bibirnya. Sihir dari jubahnya mengaktivasi sistem penghangat secara otomatis, menghangatkan tubuh Sungmin dan memudarkan asap dingin yang sebelumnya tebal mengepul dari mulut kecilnya. Dada itu bergerak, naik dan turun sebelum perlahan berubah tenang. Desau angin yang menyambut malam terasa sejuk menerpa mereka.

Saat napas keduanya berubah tenang, Siwon justru kehilangan kendalinya. Ia merunduk, mempertemukan bibir dan napas mereka dalam satu kecupan panjang. Menyesap lembut dengan emosi yang membuncah nyaris menyesakkan dadanya.

Sungmin tidak menolaknya, bocah itu tidak pernah menolaknya. Seakan begitu mengerti dengan gemuruh kalbu sang kakak, ia mengatup wajah besar yang dingin itu. Menyentuhnya dengan penuh kelembutan, kedewasaan yang tersirat, dan pengertian. Membuka pertahanan dirinya sendiri, mengizinkan Siwon menyesap bagian terdalam emosinya. Mempertemukan lidah mereka berdua dalam gerak lugu. Begitu pasrah. Membuka. Menerima. Tanpa berniat menentang.

Siwon masih sanggup mempertahankan persatuan itu lebih lama lagi, tapi ia harus mengalah. Sungmin bernapas tersengal dan ia terpaksa menjauh, membiarkan adiknya menghirup napas dengan lebih bebas.

Setelah lebih tenang, Sungmin menatapnya dengan kepolosan yang dipenuhi kasih sayang. Bocah itu tersenyum lebar. Bibirnya yang merah makin merekah, basah dan lebam. Siwon tidak sanggup mengulangi pergumulan mereka lagi, meski hatinya ingin. Beberapa detik setelah bibir mereka terpisah, perasaan bersalah itu bergemuruh di dadanya. Betapa nistanya ia melakukan ini pada Sungmin? Adiknya sendiri? Dan Sungmin bahkan tidak tahu arti perbuatan yang mereka lakukan tadi!

“Seunghyun-hyung dan Jiyong-hyung juga menyukainya.” Sungmin tiba-tiba berujar, seakan tersinkronasi dengan dilema dalam benak kakaknya.

“A-apa?” Siwon balik bertanya, linglung. Tapi begitu kesadaran menghantamnya, Siwon mendelik. Nyaris murka. “Apa yang mereka lakukan, Sungmin-ah! Mereka melukaimu? Memaksamu?”

Sungmin mengerjap, lalu menggeleng bingung. “Mereka melakukannya berdua. Seunghyun-hyung dan Jiyong-hyung, Minnie dan Wonnie-hyung.” Jawabnya polos.

Tapi jawaban itu justru membuat Siwon semakin mendelik. Berusaha mencerna kalimat Sungmin lebih lama, lebih seksama.

“Mereka… juga melakukan ini?” ulangnya nyaris tidak percaya.

Sungmin mengangguk ogah-ogahan. Ia beringsut keluar dari rongrongan Siwon, lalu dengan semangat yang kembali terisi penuh, bocah itu menarik lengan kakaknya.

“Hyung… aku mau main seluncur!”

Siwon terbengong-bengong, masih tidak percaya. Ia menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Kedua adiknya itu… juga melakukan dosa yang sama?

“Hyuuung!” Sungmin merengek.

“Ne, baiklah. Baiklah. Tapi jangan melompat! Kau ingat apa yang terjadi saat terakhir kali kau melakukannya?” Siwon berdiri, menepuk jubahnya sebelum menggiring langkah Sungmin ke pinggiran danau.

“Terjatuh. Lalu hidungku berdarah. Darahnya asin.” Sungmin mengerjap, sama sekali tidak merasa berdosa. Padahal saat hal itu terjadi, Siwon memekik nyaris kehilangan nyawa, dan Sungmin yang menangis kesakitan bahkan sudah kembali tertawa saat darah di hidungnya mengering.

Sungmin mengeratkan ikatan sepatunya. Ia melangkah pelan-pelan mendekati pinggiran danau, permukaan yang licin bisa membuatnya terpeleset kapan saja. “Ayooo mulaaaai!” serunya bersemangat sembari berdiri gagah di atas hamparan permukaan danau yang bening dan datar.

Siwon tersenyum. Tanpa membisikkan mantra apapun, kekuatan ini sudah ada bersamanya sejak ia lahir. Siwon hanya mengangkat tangannya, menegakkan telunjuk, dan es di bawah kaki Sungmin mengkristal, membentuk baris baru dengan dorongan lembut dan menggiring Sungmin meluncur ke belakang.

“W-whoaaaa!” Sungmin memekik senang. Melebarkan kedua kakinya dan meluncur ke arah yang diinginkannya. Siwon-hyung akan membantu dengan memberikan dorongan.

Siwon mengangkat sebelah tangannya lagi, memberikan lebih banyak dorongan dari es-es yang dibentuknya. Semakin cepat salju itu menggiring kaki adiknya, semakin memekik pula gelak tawa dan teriakan Sungmin.

Tentu, tidak ingin hal sama terjadi dua kali, Siwon memutuskan untuk terlibat kali ini. Dengan anggun, ia memijakkan kakinya masuk ke permukaan danau. Es dengan cepat mengkristal di sekitar pijakannya.

Setelah memperhatikan arah kaki Sungmin, Siwon berseluncur mengikuti arah bocah itu, berputar mengelilingi danau.

“Hahahaha!”

Sungmin tertawa, Siwon tersenyum. Ia melesat lebih cepat, mengulurkan tangan dan meraih bahu Sungmin. Keduanya bertemu, saling berhadapan dengan Siwon yang menyeluncur ke depan, Sungmin dari arah yang berlawanan.

“Lagi hyung! Lagi!”

Keduanya saling berpegang, satu sama lain dalam posisi sepasang penari. Siwon mengayunkan telunjuknya, menambah kecepatan sebelum mengamankan pinggang adiknya. Membawa Sungmin dekat ke dadanya, menghindari segala kekhawatiran.

Sungmin memekik saat Siwon mengangkat tubuh kecilnya naik, melesat melompati gundukan es yang terbentuk tepat di tengah danau.

Suara tawa dan pekikan senang itu selalu membuat Siwon merinding, hatinya seakan diremas perlahan-lahan. Sakit, namun juga candu. Perih jika diabaikan. Tapi kali ini, Siwon mengizinkan dirinya sendiri untuk ikut tertawa dan menjerit bersama adiknya. Menikmati kebersamaan mereka dalam mutualisme yang sempurna. Dalam suasana yang terasa elok.

Sekali saja, Siwon merasa mampu memaafkan dirinya.

.

oOoOoOo

END

oOoOoOo

.

A/N (PENTING HARAP DIBACA):

Pas bikin part WonMin dibawah berasa Sungmin lagi nyanyi: Do you wanna bulit a snowmaaaaan~ hahahahaha. Kenapa ini interaksi WonMin jadi Frozen sekali wkwkwk. (oke abaikan yang ini). Ini end buat part spesial Hvitur, chap depan balik lagi ke Radour yak :3

Buat yang bingung:

Jadi sebenernya ras Snowelf itu gak sesuci yang digembar-gemborkan dan yang diketahui negara lain. Di negeri yang isinya cowok semua ini, masyarakatnya terbagi jadi 3 golongan.

Alpha: Kasta teratas/Seeder

Beta: Kasta tengah/Both

Omega: Kasta rendah/Breeder

Kasta bukan untuk menentukan tinggi rendahnya derajat seseorang disini, tapi buat nunjukin fungsi reproduksi mereka. Garis Alpha cuma bisa lahir dari keturunan raja langsung, anak raja juga belum tentu lahir jadi alpha, tapi alpha udah pasti anak raja atau anak dari saudara-saudara raja yang juga alpha.

Yang alpha diantara semua saudara Sungmin ada 3 orang, Siwon, Changmin, sama Seunghyun. Donghae sama Zhoumi beta, dan Sungmin sama Jiyong omega. Jadi gak semua anak raja itu bisa masuk ke silsilah penerus, cuma yang Alpha aja. Kalau Siwon gak bisa atau menolak jadi raja, tahta turun ke orang di bawahnya, Seunghyun. Kalau Seunghyun gak bisa juga, tahta turun ke bawahnya lagi, Changmin. Kalau Changmin ga bisa juga, tahta bisa jatuh ke tangan sepupu-sepupu penerus yang juga alpha tapi lahir dari saudara raja, putra-putra raja sebelumnya yang lahir jadi alpha juga tapi gak naik tahta.

Beta gak boleh jadi raja. Apalagi Omega.

Alpha bisa mate lebih dari sekali. Karena kebanyakan dari mereka adalah penerus raja jadi gak bisa terikat sama satu mate aja. Bisa berbahaya buat kerajaan. Makanya Yunho bisa mate berkali-kali. Beda dari Beta dan Omega yang cuma bisa mate satu kali dan setia ke mate mereka selama-lamanya. Omega gak bisa menghamili golongan lain, mereka benar-benar breeder murni (Indung, inang). Kalau Alpha, Cuma bisa menghamili (ini gue ngomong apa duh). Dan beta punya dua fungsi itu. Kalau sama omega mereka jadi dominan, tapi kalau sama Alpha mereka submissivenya, sedangkan ke sesama beta… ya tergantung kesepakatan mereka aja deh siapa diatas siapa dibawah wkakakakak.

Oke kuliah hari ini sampai disini saja #plak

Minta feedbacknya😀

 

 

12 thoughts on “Cursed Crown | Hviturland Special Chapter

  1. loveKyu says:

    oke saat ny review
    jd yg incest bkn cm siwon-sungmin.
    .tp senghyun-jiyoung jg….widiiiihh

    pas baca bag siwon n sungmun maen d danau bnr2 ngebayangin film frozen…jd pgn maen salju…hehe

    ini cm chap spesial kn? aq dh kangen moment kyuhyun n sungmin….

    jgn lama2 yh update ny….ff ini bnr2 aq tunggu2 selain kitty2 baby n the concubine

  2. wow, kereen >o<
    nggak nyangka cerita kerajaan mereka ternyata begini :3
    dan kakak2 ming itu pada ajaib semua -_-

    ohmy, jadi kalo siwon terus punya perasaan sama ming, itu boleh2 aja kan? ming jd inangnya siwon O.o
    *masih bingung bag ini* haha
    tp ya kayaknya raja bakal murka haha

    eh tapi tapi interaksi ming sama changmin ngegemesin banget ihhhh, minta digigit :3
    hihi, tp lucu jg yg sama mimi, gegara liat dy siksa kuda ming jd ketakutan mulu tiap liat dy😄

    semangat buat cerita lanjutannya eonn \^o^/
    selalu ditunggu loh ff-nya :*
    thanks for update this chap ^^

  3. sha says:

    syedih waktu partnya ming sama appanya :3

    cie yg dicuekin sama hyungnya cie.

    lagi bayangin si chang2 gak cukur. huahahahaha😄

    btw, mau culik ming dulu lah /dijitak kyu/ hahaha

    lanjut…

  4. haelicious says:

    sungmim nakalnya minta ampun yaa duh .__.
    kalo punya adik kayak gitu mending langsung tendang jauh jauh . lol ~
    terus changmin ! kembali jadi ‘mesum’ kayak di kitty baby . hahaha *kesian banget imagenya changmin
    yang di kamarnya zhoumi itu siapa ? penting gak ? ._.
    kalo kayak gini yg mesum sebenernya changmin apa siwon ? -_-
    kalo siwon mesumnya tersalurkan , changmin mesumnya gak keturutan hahaha
    btw jiyoung ama seunghyun … *no comment

  5. kasian changmin yang di tolak ming trs hnya krna blm cukur kumis hahhahaa😀
    Appa ming knp jd dngin gt2 sii, apa krna ming omega jd gg di anggep???

  6. 137 says:

    Waah waaah
    Unexpected banget ternyata ada incest selain WonMin!!!!! Heheheheh
    Seneeeeeng bangeet wonminnyaaaaa!!! ♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
    Tapi tapii sedih bangeet huaaaaaaaa bahkan feelnya siwon ke sungmin kerasa bangeet ㅠㅠ
    Coba cobaaa, mate nya sungmin itu siwon, bukan kyuhyun #gantipair HAHAHAHAHAHAHHA
    Kalo gitu gajadi kyumin sih iya juga yaa
    Eeh thor saudara sekandung bisa jadi mate jugaaa? Tadi jiyong bilang kayak gitu ke seunghyun kaan?
    Berarti berarti….. wonmin….. ><
    Next next gyahahahaahhahah

  7. SparkyuELF137 says:

    kalau sungmin omega, kenapa ming punya kekuatan yang lebih dari beta?(nunjuk scene ming ama hae)

    ming tadi cuma baca mantra beberapa kali belum sepenuhnya, tapi sudah mampu mengeluarkan cahaya dan angin. tapi hae yg beta harus konsen penuh. apa bedanya?

    dan untuk miinalee hwaiting ne~ ditunggu update’an selanjutnya🙂 semangattttt🙂

  8. shanty kyuminnie arashi says:

    Knp yun appa dingin bgt ya sama sungmin ??? Salah ming apa ya ??
    Kasian sama ming… appa nya sendiri seperti ga perduli dengan kehadirannya ….

    Aq baru tau sekarang kaka2 nya ming siapa aja…. aq tau nya cm siwon aja….
    Dan siwon ternyata memang ad perasaan yg lebih k ming…
    Bahkan mereka kissueeeee…. dan sungmin bahkan ga ngerti apa yg mereka lakukan itu salah ….

    Changmin jg kyanya gemes bgt sama ming …
    Tp mingnya nolak terus… hhhehehheheh….

    Lanjut lg fiqoh…

  9. lyta tan says:

    siwon baik am ming, tp klo untk jdian am ming, jgn sampe’ dh
    …kyumin ttp hrus br1

  10. Rhaya says:

    Special chapter khusus di kerajaan yunho..😀

    gak bisa bayangin changmin kgk pake baju, sekseh kali ye?😀

    Yunho jahat, ngabaiin anak nya sendiri..

    Itu yg sama zhoumi siapa si??
    Terus jiyoung sama seunghyun kelewat yadong eh..

    Go to next chapter

Comments are closed.