Cursed Crown | Chapter 11

Kyuhyun menghela napas. Matanya terpejam dan tubuhnya terasa rileks. Hari masih pagi, pemuda itu masih berbaring di ranjangnya. Ia menggeliat sebentar, mengumpulkan segenap kesadarannya sebelum menyambut terik matahari yang menembus melewati jendela kamarnya.

Seperti sebuah rutinitas yang biasa terjadi selama satu setengah tahun terakhir, Kyuhyun meraba ruang di sisinya dengan mata terpejam. Biasanya seongok tubuh kenyal yang sulit dibuat diam berbaring di sana dan masih terlelap bersama mimpinya. Tapi tidak jarang juga ongokan menyebalkan itu bangun lebih pagi dari Kyuhyun dan mengerjakan sesuatu yang tidak jarang membuat Kyuhyun harus berteriak-teriak di subuh buta. Seperti hari ini.

Kyuhyun hanya meraba ruang kosong, selimut lembut tanpa pemilik di sisinya. Hal itu sontak membuatnya bangun dan terduduk.

“Sungmin-ah?”

Memasang tampang horror sembari memutar kepala mengecek keadaan kamarnya. Tidak ada yang aneh, hingga Kyuhyun bertemu pandang dengan Sungmin yang sedang duduk santai di kursi kerjanya. Kyuhyun yang baru akan bernapas lega, dalam sekejap mendelik dan mengeram pada matenya.

Sesaat, keduanya saling menatap. Kyuhyun dengan mata tajamnya yang berkilat, dan Sungmin yang mengerjap sembari menggigit bibir bawahnya. Tapi keberadaan Sungmin di sudut ruang kerjanya sana, membuat Kyuhyun seketika menjadi kebal pada pemandangan yang seharusnya sudah bisa membuatnya bungkam itu.

“Bocah, kalau kau merusak laporanku lagi, aku bersumpah akan memakan telingamu.”

Sungmin membulatkan matanya, bibirnya mengerucut maju. Tentu saja, ia tidak diterima dituduh sekeji itu. “AKU TIDAK MELAKUKAN APAPUN!”

Kyuhyun tidak langsung mempercayainya. Biar bagaimanapun, bocah ini telah melakukan lebih dari ratusan keonaran di Radourland hanya dalam jangka waktu satu setengah tahun. Satu setengah tahun penuh cobaan bagi Kyuhyun.

Kyuhyun menghentak berdiri dan melangkah mendekati meja kerjanya. Ia memeriksa dengan seksama, setiap sudut setiap jengkal. Jika barangkali mate kecilnya yang licik ini menyembunyikan sisa bukti kenakalannya. Tapi ia tidak menemukan apapun, selain kerut di kening dan kerucut di bibir Sungmin.

Sungmin di sisi lain, menggerutu pada Kyuhyun. Merasa kesal diperlakukan seperti itu oleh hyung-nya sendiri. Di pagi buta begini!

Kyuhyun menelan ludah, merasa bersalah sekaligus malu. Pemuda itu menutup-nutupinya dengan berdehem lalu memerintah, “Cepat buka bajumu dan mandi bocah jorok.”

“Tidak mau!” Sungmin melipat tangan dan memalingkan wajahnya.

Kyuhyun mendelik, ikut melipat tangan dan menatap mate-nya dengan pandangan super tajam. Ekspresi dan sorot matanya seakan berkata ‘Kau mau mencoba kesabaranku?’

Sungmin memang selalu mampu mencari celah untuk menentang matenya sendiri. Tapi setiap kali Kyuhyun memilih alternatif selain mengomel, Sungmin menemukan dirinya tak mampu menentang Kyuhyun. Sorot mata Putra Mahkota membawa dorongan kuat dari dalam dirinya sendiri, yang menekan dan menarik, memaksanya menuruti perintah Kyuhyun. Tapi sesekali pula, Sungmin tetap mencari cara untuk mengelak.

“Iya-iya kulakukan nanti!”

“Sekarang.”

Sungmin mendengus. Pemuda itu berdiri sembari menghentakkan kakinya. Mencoba menggunakan senjata pamungkasnya untuk melawan Kyuhyun. “Hiks!”

Kyuhyun memutar bola matanya. Hapal betul pada gelagat itu.

“Jangan menangis pagi-pagi anak cengeng, itu tidak mempan lagi padaku.”

Sungmin membuka mulutnya lagi, dan Kyuhyun menjadi benar-benar tidak sabar hingga ia menarik pakaian Sungmin ke atas dan memaksa matenya menanggalkan pakaian tidur itu.

“H-HYUNG!” Sungmin menghentakkan kakinya berkali-kali, meski tidak memberontak. Ia membiarkan Kyuhyun menanggalkan seluruh pakaiannya sementara hatinya merasa tersinggung dengan pemaksaan Kyuhyun.

“Kau mau disamakan dengan Maora?” Kyuhyun menyebutkan salah satu nama keponakannya, yang termanja dan ternakal. Salah satu yang menjadi musuh bebuyutan Sungmin. Sudah lama Kyuhyun menyadari bahwa nama keponakannya yang satu itu cukup ampuh untuk memancing kekesalan Sungmin. Dan Kyuhyun seringkali menggunakan nama Maora untuk memanas-manasi mate-nya sendiri.

“Maora juga sulit disuruh mandi. Sulit diberitahu sesuatu dan tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Padahal sebentar lagi dia akan berusia delapan tahun. Dan berapa usiamu, chagi?”

Sungmin memberengut.

Kyuhyun terkekeh, lalu menyeringai menatap Sungmin. “Kau lima belas tahun dan sama joroknya seperti Maora. Seperti Maora yang masih de-la-pan ta-hun.”

“Aku bukan Maora.” Sungmin memandang Kyuhyun dengan sengit. “Aku sudah besar dan lebih pintar darinya!” serunya tidak terima.

Kyuhyun tertawa. Senang pancingannya berhasil menyentuh sasaran.

“Kalau begitu menurutlah dan mandi. Itu untuk kebaikanmu sendiri.”

Kyuhyun mencoba menggiring Sungmin menuju pintu mata air yang terhubung langsung di dalam kamarnya. Tapi bocah itu memperkuat pijakannya, menolak ditarik begitu saja.

“Kau mau mandi atau tidak?” Kyuhyun mulai tidak sabar.

“Gendong aku.”

Kyuhyun menghela napas.

“Berjalanlah sendiri atau kutinggalkan kau sekarang juga.”

“Gendong!”

Kyuhyun berbalik, bermaksud menghardik Sungmin saat tanpa terduga, bocah itu melompat padanya dan bergelayut melingkarkan kaki dan tangannya pada Kyuhyun. Kyuhyun nyaris terhuyung dan jatuh terjembab ke belakang. Beruntung refleksnya cukup baik hingga ia spontan memeluk mate-nya dan menjaga posisi canggung itu di antara mereka berdua.

Sungmin tertawa senang dan berjingkrak di dalam gendongan Kyuhyun. Membuat Putra Mahkota itu mengerang keberatan lalu mendelik pada matenya. Sekalipun ia melepaskan pegangannya, Sungmin tetap bersikukuh melingkarkan kaki dan tangannya di tubuh Kyuhyun. Dan Kyuhyun tidak ingin mengambil resiko kalau sampai matenya terjatuh. Karena itu ia meminta dengan baik-baik—

“Turun sekarang Sungmin-ah.”

“Uh-hung!” Sungmin menggeleng lalu menyeringai pada Kyuhyun. “Ti-dak ma-u.” Ujarnya meniru nada setengah mengejek milik Kyuhyun. Bocah itu terkekeh-kekeh lagi, ia mencondongkan wajahnya pada Kyuhyun dan mengunci bibir mereka berdua dalam satu kecupan lembut yang dalam. Kyuhyun tidak membalas ciuman itu, meski sahabatnya di bawah sana terbangun perlahan sebagai respon refleks pada milik Sungmin yang menegang di tengah perutnya.

Sungmin tidak menyerah begitu saja, ia menggiring bibirnya menyusuri dagu Kyuhyun. Terkikik geli merasakan janggut-janggut tajam yang mulai tumbuh setelah sekian lama tidak dibersihkan oleh Kyuhyun.

“Hentikan, ini masih pagi Sungmin-ah.” Kyuhyun mengerang saat bibir mungil itu bergerak turun ke lehernya, terpaku tepat di jakunnya.

“Hyung sendiri yang membuka bajuku. Salah sendiri.”

Kyuhyun mendengus. Sengaja menghembuskan napas panasnya di depan wajah Sungmin. “Tidak. Aku tidak mau menciummu sebelum kau harum, Sungmin-ah.”

Wajah Sungmin spontan berubah, antara kesal dan terkejut. Kyuhyun tahu hal yang satu ini cukup sensitif bagi Sungmin, selain perihal kebiasaan jorok dan kenakalannya yang masih menjadi denial bagi Sungmin.

“Kau bau. Aku tidak mau menciummu.”

“Ish!” Sungmin berdecih marah. Lantas turun dari gendongan Kyuhyun dan melangkah menghentak menuju ruang mata air. “Aku benci hyung!” serunya sembari membanting pintu.

“Yaya, aku juga menyayangimu, chagi.”

Pemuda itu hanya bisa bergeleng-geleng melihat kelakuan mate-nya. Ia ikut membuka seluruh pakaiannya sebelum menyusul Sungmin masuk ke dalam sana.

.

.

.

Hal pertama yang dilihat Kyuhyun begitu masuk ke dalam ruang mata air pribadi miliknya, adalah pemandangan Sungmin yang berendam di dalam sana, dengan posisi memunggunginya. Di punggung yang biasanya mulus itu tampak beberapa bercak kemerahan sisa aktivitas mereka beberapa malam yang lalu. Kyuhyun terkikik tanpa suara, ia tidak langsung menghampiri mate-nya dan memilih untuk berdiri memandangi punggung kecil itu dari daun pintu.

Sudah lebih dari satu tahun mereka menggunakan kamar ini. Kamar lama Kyuhyun terlalu sempit untuk digunakan berdua, terlebih Sungmin selalu membutuhkan ruang untuk membuat keonaran dan Kyuhyun tidak bisa mengambil resiko pekerjaannya kembali dirusak oleh mate-nya sendiri.

Selain memiliki ruang yang lebih luas, Kyuhyun menyukainya karena terdapat ruang mandi khusus yang tersambung hanya ke dalam kamarnya. Di dalamnya, sebuah mata air terus mengalir ke dalam kolam kecil tempat mereka biasa membasuh diri. Kyuhyun tidak tahu dan sesungguhnya tidak begitu ingin tahu, bagaimana sistem sirkulasi air itu berganti. Yang ia tahu, kolam air itu selalu bersih saat Kyuhyun ingin menggunakannya dan itu adalah hal yang menjadi favoritnya –Terlebih jika ada Sungmin di dalam sana.

Berusaha tidak membuat suara, Kyuhyun melangkah mendekati kolam. Tapi pada akhirnya ia tetap membuat Sungmin berpaling saat kakinya masuk ke dalam genangan air yang berkecipak.

“Huh!” Sungmin menggerutu dan kembali berbalik memunggungi Kyuhyun seraya menjauh.

Kyuhyun terkekeh, ia beringsut duduk dan bersandar di pinggiran kolam dengan separuh tubuhnya terbenam hingga ke dada. “Hei, Chagi. Hyung hanya bercanda. Kau tidak bau, tapi akan lebih bagus lagi kalau kau sering-sering mandi. Arraseo?”

Sungmin mendengus. Meski dengan tatapan sinis, bocah itu berpaling menghadap Kyuhyun.

“Ayo kemari. Biar kugosok punggungmu.”

Sungmin bergeming. Masih menatap Kyuhyun dengan raut kesalnya. Kyuhyun hampir-hampir tertawa melihat ekspresi marah mate-nya yang justru tampak –manis. Dewa tolong ampuni dirinya.

“Ayo kemari sayang.” Kyuhyun mengulurkan tangannya, lalu dalam hati ia sungguh-sungguh mememinta ampun pada sang Dewa melihat tingkah mate-nya sendiri. Terlebih saat dengan cepatnya ekspresi marah yang manis itu berganti dengan seringai. Sungmin melirik begitu licik ke arahnya. Lalu perlahan-lahan, tubuh bocah itu turun, terus turun hingga air memendam setiap bagian tubuhnya sampai ke ujung rambut.

Kyuhyun menelan ludah, khawatir. Bukan untuk Sungmin, tapi lebih pada dirinya sendiri.

“Sungmin-ah?”

Bocah itu menghilang dari pandangannya. Kalau saja ada orang lain disana, mungkin orang itu akan mengira Kyuhyun tengah mandi sendirian. Tapi Kyuhyun tahu lebih dari itu, senjata berbahaya tengah berenang di bawah air ini dan Kyuhyun mengawasi dengan waspada ketika Sungmin bergerak mendekatinya dari dalam air yang cukup jernih itu.

Meski sudah hidup bersama lebih dari satu setengah tahun. Kyuhyun masih tidak bisa percaya pada beberapa hal yang menyangkut mate-nya. Salah satunya kemampuan Sungmin untuk menggunakan sihir secara refleks dan —kemampuannya untuk berenang. Memangnya dimana orang-orang Hviturland beratih renang? Ia tidak tahu Hviturland mempunyai sungai.

“Sungmin? Berhenti main-main, aku harus mengerjakan sesuatu setelah ini.”

Kyuhyun mulai tidak sabar saat melihat gelagat aneh Sungmin yang mendekati kakinya. “Ayolah, Ming. Keluar sekarang, Aku sedang sibuk. Ini serius.”

Kyuhyun berniat bangun dan keluar sebelum bocah ini melakukan sesuatu yang buruk, tapi Sungmin meraih kakinya dan menahannya tetap berada di sana. Kyuhyun belum sempat beranjak kemana-mana, saat sesuatu hinggap –beruntungnya dengan lembut— dan membungkus kejantanannya yang terendam di bawah air.

“A-ah!” Kyuhyun terlonjak, refleks memasukkan tangannya dan mencengkeram kepala Sungmin yang berada di antara selangkangannya. Kedua tangan bocah itu bergerak memegangi kakinya. Meski tidak ingin melihatnya, Kyuhyun tahu, ia merasakan dengan jelas, hal macam apa yang sedang dilakukan mate-nya di bawah sana.

“S-Sungmin-ah!” Kyuhyun mengerang, tubuhnya menegang. Mulut mungil yang berada dibawah air itu memperparah situasinya. Kyuhyun nyaris tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Membiarkan Sungmin memanjakannya di bawah sana sedang ia hanya mampu bersandar ke belakang mencoba menikmati dengan tenang.

Tapi tetap saja! Biar bagaimanapun Kyuhyun tidak bisa bersikap tenang. Pemuda itu terus menegang terlebih dengan pemikiran-pemikiran muluk seperti kepolosan Sungmin yang ternoda.

Salah satu hal yang juga masih belum bisa dipercayainya hingga sekarang adalah: fakta bahwa Sungmin begitu cepat mempelajari seluruh seluk beluk aktivitas seksual mereka berdua.

Mem-pe-la-ja-ri-nya.

Kalaupun hal seperti itu perlu dipelajari oleh seseorang, Kyuhyun yakin Sungmin sudah akan lulus karena kejeniusannya yang unik sekaligus menggelikan. Sungmin belajar begitu cepat hingga Kyuhyun merasa malu untuk mengakui bahwa mate-nya memiliki libido yang begitu tinggi. Hyperseks. Sungmin mampu menahan aktivitas itu secara berulang-ulang di waktu yang sama, bahkan saat Kyuhyun kelelahan, bocah itu terus memaksa untuk memanjakan dirinya sendiri bahkan jika Kyuhyun sudah enggan. Ini merupakan hal yang paling mengagumkan sekaligus mengerikan dari mate-nya sendiri.

“A-aaah~” Kyuhyun berjengit, meremas kepala Sungmin dan menekan tengkuk itu lebih dekat ke arahnya. Kyuhyun sudah jauh lebih rileks saat Sungmin semakin memanjakannya dengan memberikan gigitan-gigitan kecil di sekujur saudaranya di bawah sana. Pemuda itu mendesah, mengerang tanpa menyadari bahwa pintu ruangan ini tidak tertutup sejak tadi. Seorang pelayan dengan polosnya masuk ke dalam kamar dan melaksanakan rutinitasnya: membersihkan kamar Putra Mahkota dan mate-nya, mengira bahwa majikannya sudah berada di luar kamar untuk melaksanakan tugas.

Sedangkan Kyuhyun di dalam ruang mandinya… bersandar ke pinggiran kolam dengan memejamkan mata. Tanpa malu, tentu saja karena merasa tidak ada seorangpun menyaksikan perbuatannya; mendesah, dan mengerang memanggil nama mate-nya.

Satu kelebihan ruang mata airnya yang belum disadari Kyuhyun –dan mungkin akan disadarinya sebagai kekurangan: Ruangan kedap suara ini menahan seluruh bunyi aktivitas yang terjadi di dalamnya. Sekalipun dengan keadaan pintu terbuka, tanpa berada di dalamnya, siapapun di luar sana tidak akan mendengar setiap detail apa-apa yang terjadi di dalam sini.

Ya, sebaiknya memang tidak ada yang mendengarnya. Tapi pelayan itu dengan polosnya melangkah masuk, bermaksud mengumpulkan pakaian kotor Putra Mahkota seperti rutinitasnya. Ia tidak pernah bertemu dengan Putra Mahkota di dalam kamar ini sekalipun pelayan itu memegang tugas khusus untuk membersihkan kamar Putra Mahkota. Terlebih dengan keadaan pintu yang terbuka lebar, pelayan itu semakin yakin tidak ada seorangpun di dalam sana. Tapi naas –pemandangan dan suara yang menyambutnya sesaat setelah ia melangkah masuk ke dalam… membuat pelayan itu terkesiap dan menjatuhkan keranjang pakaian yang dibawanya.

Bukan hanya dirinya yang terkejut, Kyuhyun sontak berjengit mendengar kerusuhan kecil itu. Ia berpaling dan melotot melihat orang lain berdiri di dalam kamar mandinya. Berdiri dan menyaksikannya ‘beraktivitas’ bersama Sungmin!

“K-kau! Lancang sekali! Siapa yang mengizinkanmu masuk!” Kyuhyun berseru marah, setengah karena malu. Wajahnya memerah dan refleks ditekannya kepala Sungmin agar bocah itu tidak keluar ke permukaan.

“M-maaf tuan. Hamba mengira tidak ada orang. Hamba hanya ingin mengambil pakaian kotor.”

Jelas sekali pelayan itu ketakutan. Gugup dipungutinya pakaian yang berserakan di lantai.

Kyuhyun mengerang. Sungmin menggerakkan kepalanya, memaksa membebaskan diri sedang Kyuhyun menahan kepalanya terus berada di dalam air. Meskipun Sungmin meremas tangannya dan mulai memukul-mukul dadanya, Kyuhyun terlalu terkejut dan berpikir terlalu jauh. Jika pelayan ini menyadari kehadiran Sungmin, bukan tidak mungkin hal itu membuatnya tampak semakin memalukan. Di hadapan seorang pelayan!

“T—Tidak perlu kau bereskan. Cepat pergi!”

Pelayan itu tidak jadi memunguti pakaian yang berserakan dilantai. Ia hanya membungkuk panik dan buru-buru menutup pintu dari luar.

Kyuhyun menghela napas, melepaskan cengkramannya dan duduk bersandar dengan lelah ke belakang.

“PUAHHH!” Sungmin bernapas terengah di permukaan. Bocah itu terbatuk-batuk, hidungnya yang merah kembang kepis menghirup udara. “KAU MAU MEMBUNUHKU YA?” pekik bocah itu kesal.

Kyuhyun menghela napas, ditariknya kepala Sungmin lalu dipeluknya di depan dada. “Tidak sengaja chagi. Kau tidak tahu pelayan tadi hampir saja melihat kita melakukan—” Kyuhyun menelan ludah. “Melakukan itu!” tekannya dengan nada panik yang dibuat-buat.

“Memangnya kenapa kalau lihat?!” Sungmin menggerung kesal, bocah itu mendorong tubuhnya menjauh dan mendengus pada Kyuhyun.

“Ini bukan hal baik untuk dipamerkan, Sungmin-ah.”

Sungmin memutar bolamatanya, malas mendengar omelan Kyuhyun lebih jauh. “Ya ya ya. Ayo lanjutkan lagi, hyung!” Sungmin menyeringai antusias, ia meluk Kyuhyun dan mendongak mengecupi bawah dagu Kyuhyun.

Kyuhyun mendengus dan memalingkan wajahnya, mencoba mengusir kepala Sungmin dari dekatnya.

“Ah! Hentikan chagi, aku tidak akan bisa menahan diri kalau kau tidak berhenti sekarang juga.” Kyuhyun sungguh-sungguh pada ancamannya itu. Hari masih pagi, tidak seharusnya mereka melakukan ini. Dan Kyuhyun tahu betul, ini bukan pengalaman pertama kali mereka—

Sekarang Sungmin bisa merengek meminta untuk berhubungan badan di pagi buta, tapi setelah semuanya selesai, bocah ini pasti menangis mengeluhkan seluruh tubuhnya yang terasa sakit. Lalu memaksa Kyuhyun meninggalkan pekerjaan untuk menemaninya seharian.

“Hentikan!” suara Kyuhyun terdengar lebih menekan saat Sungmin sedikit memaksa untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Kyuhyun. “Berhenti sekarang atau kau tidak akan bisa bermain hari ini.”

“Coba saja.” Tantang Sungmin sembari menyeringai.

“Kau ini…” Kyuhyun mengeram –setengah gemas karena Sungmin dengan sengaja memasang wajah polosnya. Dengan geram Kyuhyun memeluk pinggang Sungmin dan membawa tubuh itu mendekat padanya, hingga tubuh mereka rekat tanpa sejengkalpun jarak memisahkan keduanya. Kyuhyun membungkukkan lehernya, menangkap bibir Sungmin dalam satu ciuman panas dan kasar.

Sungmin terkekeh senang, merasa menang dan segera membuka mulutnya untuk menyambut Kyuhyun. tapi kenyataan itu tidak semanis yang diduga otak licik Sungmin. Kyuhyun menghentikan interaksi mereka setelah satu ronde ciuman terselesaikan. Keduanya menghirup napas dengan sedikit tergesa. Sungmin mendongak dengan mulut menganga, seakan menanti Kyuhyun menyelesaikan apa yang telah mereka mulai baru saja. Tapi Kyuhyun malah bersandar ke belakang dan memejamkan matanya. Tanpa berniat untuk melanjutkan, Kyuhyun mendekap Sungmin dan membawa kepala itu bersandar ke dadanya.

“Hyuuung!” Sungmin merengek berusaha membebaskan diri. Tapi tangan Kyuhyun yang melingkar kuat di perut dan dadanya menahan tubuhnya tetap dalam dekapan Kyuhyun.

Sungmin mendengus. Mencubit perut Kyuhyun yang terendam di bawah air dan tidak mendapatkan respon. Hal itu memang membuatnya bertambah kesal. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Berdecak kesal, Sungmin menunjukkan tanda-tanda menyerah dengan mengendurkan otot-otot tubuhnya, memasrahkan diri dengan bersandar memeluk Kyuhyun. Keduanya terdiam menikmati posisi itu. Berada dalam genangan air kolam dan ditemani suara pancuran yang mengalir menenangkan. Kyuhyun sudah terlena dan menikmati istirahat paginya di dalam kolam mandi pribadinya. Sedang Sungmin, bersandar menggunakan dada Kyuhyun dan bermain-main dengan menekan-nekan kulit bahu hyungnya.

“Hyung…” Sungmin berbisik, lirih.

Dengan kepala yang bersandar tepat di bawah dagunya, Kyuhyun tetap mampu mendengar suara kecil Sungmin.

“Hmmm?”

“Aku rindu eomma…”

Kyuhyun tidak menjawab. Yang terdengar hanya suara napasnya yang berat.

“Siwon-hyung juga…”

Kyuhyun mendengus. Merutuk dalam hatinya begitu mendengar nama Siwon disebut-sebut.

“Apa kita tidak bisa datang sebentar saja ke Hviturland?”

“Tidak bisa.” Jawab Kyuhyun cepat.

“Hyung!”

Kyuhyun mengubah posisi sandaran kepalanya. Namun matanya masih terpejam seakan malas meladeni rengekan Sungmin.

“Hyung please? Menginap satu atau dua malam, please?” Sungmin mengangkat kepalanya, ia mendongak dan memasang ekspresi penuh harap.

“Aku rindu Appa, Changmin-hyung, Hae-hyung, Jiyong-hyung, S—” Sungmin ingin menyebutkan nama Seunghyun dan Zhoumi namun urung. “Sleipnir juga! Aku juga rindu danau es! Kita bisa bermain disana, seru sekali aku berani bersumpah!”

“Tidak bisa Sungmin-ah. Kau sudah menjadi milik negara ini, untuk apa lagi pergi ke negara Putih?”

“Hyuuung. Je-bal-yo?”

“Lagipula aku tidak suka es.”

“Ish! Aku benci hyung!”

Kyuhyun terkekeh. Ia membuka matanya dan menunduk menatap Sungmin yang tengah merajuk. “Benarkaaah~” bisiknya di telinga Sungmin. Kyuhyun membenahi posisi bocah itu dalam pelukannya, mendekatkan lagi kepala Sungmin tepat ke bawah dagunya. “Benarkah, chagi? Kau membenci hyungmu yang tampan ini? Tapi beberapa hari yang lalu kau mengatakan hal berbeda~”

“Diam!” Sungmin mendesis kesal. Wajahnya berubah keruh dan bibirnya mengerucut maju. Sedikit saja, sedikit lagi Kyuhyun menggodanya, Sungmin berjanji akan berteriak dan menangis.

Tapi bukan Kyuhyun jika ia berhenti sampai disana. Putra Mahkota itu malah menyeringai melihat Sungmin memandangnya kesal. Dengan sengaja, Kyuhyun menangkup wajah Sungmin menggunakan kedua tangannya. Ia membawa wajah mungil itu mendongak padanya, lalu Kyuhyun membuka bibir Sungmin melalui sudut-sudutnya menggunakan kedua jempolnya.

Memasang ekspresi seakan-akan tengah mencari sesuatu, Kyuhyun mengerutkan keningnya.

“Ming-ah, coba kulihat apa gigimu sudah ada yang tumbuh lagi—”

“Hyung!” Sungmin memekik. Menampik tangan Kyuhyun. Matanya berkaca-kaca.

“Aku hanya bercanda, kenapa kau cengeng sekali sih! Kemari.” Kyuhyun tertawa. Didekapnya Sungmin lalu ditepuk-tepuknya kepala itu sebelum tangis benar-benar pecah di ruangan ini.

Suara pekik tangis memang tidak meledak disana, tapi isak pelan Sungmin terdengar lirih memilukan. Sindiran ini selalu menyakiti hatinya. Ia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil! Apalagi… apalagi dengan menggunakan gigi juga pertumbuhan tubuhnya sebagai bahan candaan. Tapi Kyuhyun-hyungnya tidak pernah mengerti akan hal itu dan terus saja menggunakan hal yang dibencinya ini untuk menggodanya.

Kyuhyun ingin tertawa melihat sikap sensitif Sungmin yang menurutnya berlebihan… sekaligus manis. Tapi Kyuhyun tahu suara tawanya sedikit saja bisa meningkatkan nada tangis Sungmin hingga beberapa oktaf. Karena itu Kyuhyun memutuskan untuk meredam rasa geli di dadanya dengan menggigit bibir.

“Kau mau eomma atau mau ‘itu’?” bisik Kyuhyun menggoda saat tangis Sungmin redam perlahan-lahan.

Bocah itu tidak langsung menjawabnya, ia mengusap airmata di wajahnya menggunakan punggung tangan. Lalu Sungmin mendongak memasang tampang kesal. Ia mendelik dan menjawab dengan suara yang begitu menuntut. “Mau keduanya!”

“Bocah serakah.” Kyuhyun menggigit bibirnya, gemas. Ia menunduk dan mengecup bibir Sungmin sekilas. “Kuberikan salah satu saja.” Jawab Kyuhyun dengan seringai.

Pada akhirnya Kyuhyuh tidak benar-benar mampu menahan dirinya. Setidaknya, lebih baik ia merelakan waktunya untuk menemani Sungmin dan mendengar rengekan bocah ini seharian. Daripada merelakan mate-nya pulang ke Negeri Putih.

.

.

.

Sungmin mengekor di belakang Kyuhyun. Saat memasuki ruang makan keluarga yang sudah ramai itu, hal pertama yang diperhatikannya adalah para noona yang menyebalkan itu. Mereka bahkan tidak melirik Sungmin untuk kedua kalinya saat melihatnya ikut duduk dan bergabung di dalam lingkar meja oval yang begitu besar. Sungmin mengerutkan hidungnya, diam-diam merasa kagum meski sudah berkali-kali dirinya ikut makan bersama di meja ini. Keluarga besarnya bahkan tidak sebesar ini.

“Yah, Kyuhyun-ah. Kukira kau tak ikut sarapan bersama pagi ini.” Sapa Yonghwa yang duduk di sebelah Seohyun saat Kyuhyun mengambil bangku di hadapan mereka.

“Yonghwa-hyung.” Kyuhyun menyapa balik dengan sedikit senyum kepada iparnya yang paling ramah di antara yang lain.

Beberapa yang lain juga menyapa calon penerus raja itu. Calon raja. Setidaknya mereka tetap berusaha menjaga hubungan baik dengan Kyuhyun karena alasan itu. Kalau tidak karena hal itu, Kyuhyun tahu saudara-saudara iparnya ini terlalu arogan untuk menyapanya yang jauh lebih muda. Tapi mungkin tanpa disadari oleh Kyuhyun sendiri, hampir seluruh menantu raja merasakan hal yang sama seperti dirinya. Kyuhyun tentu tampak arogan bagi mereka.

Sungmin duduk di antara Kyuhyun dan Yoona sembari melirik ke ujung meja—tempat dimana cucu-cucu raja duduk bersama setelah barisan orang tuanya. Mereka memandangi Sungmin dengan dingin lalu berbisik-bisik layaknya anak kecil yang bermusuhan.

Lizzy, yang baru-baru ini Sungmin ketahui bernama asli Elizabeth—putri bungsu noona tertua Kyuhyun, melambai tersenyum kepadanya. Tapi tak lama kemudian ia disikut saudara di kanan-kirinya karena melakukan hal ilegalitu.

Sungmin juga tidak pernah malu-malu menunjukkan ekspresi maupun tingkahnya. Baik rasa ingin tahunya hingga kekesalannya. Lebih menguntungkan lagi karena Raja selalu berpihak padanya. Bahkan Kyuhyun-hyungnya ini tidak diizinkan untuk memarahinya saat berada di hadapan raja. Dan Sungmin yang licik dengan cepat mempelajari hal itu untuk memanfaatkannya di kemudian hari.

Tidak seperti penghuni meja yang lain, Sungmin dengan berani memperhatikan gerak-gerik raja. Raja paruh baya yang masih tampak muda itu datang sendiri lalu duduk di kursi paling depan di hadapan semua orang. Jamuan akan segera dimulai setelah sang raja mengambil tempat duduknya.

Hyung, mana Teuk-eomma?” Sungmin memiring-miringkan kepalanya, berbisik-bisik pada Kyuhyun. Ini sudah hampir tiga bulan sejak terakhir kali ia melihat Ratu ikut makan bersama di meja ini, dan nyaris dua bulan sejak kunjungan terakhirnya ke istana raja. Sungmin sudah tidak pernah bermain kesana lagi karena terus diomeli Kyuhyun sepulangnya dari sana.

“Tidak tahu.” Jawab Kyuhyun ketus.

Sungmin mencibir sebal lalu menunduk menatap piringnya. Pemuda itu menggembungkan pipinya.

Makan malam dimulai dengan tenang selama beberapa saat.

Kyuhyun hendak mengakhiri makan malamnya ketika ia memeriksa mate-nya. Pemuda itu mendelik kesal saat ia melirik piring Sungmin. Tampak jelas setumpuk makanan yang disisihkan bocah itu di ujung piringnya.

Min-ah. Apa yang kau sisakan itu?!” Bisik Kyuhyun menggeram.

“Sayur!” Jawab Snowelf pendek itu santai dengan mata besarnya.

Aku tahu. Maksudku kenapa kau sisihkan?Aisshh… Bisa-bisanya ada Snowelf yang benci sayuran sepert idirimu! Habiskan semuanya!”

Sungmin mendengus dan buang muka ke arah lain.

“Tidak mau.” Dia menyuapkan sepotong daging lagi ke mulutnya lalu mengunyahnya dengan kasar.

“Min-ah, ingat. Kita sedang makan bersama semuanya. Jangan disamakan seperti makan di kamar!”

Melihat sang snowelf tak menggubris omelannya, Kyuhyun menggeser tempat duduknya lebih dekat pada Snowelf itu sebelum berbisik lagi. “Sungmin-ah, hentikan itu. Kau kira bisa tumbuh besar dengan makan daging terus? Nanti kulitmu jadi kusam dan kau akan sembelit! Kau belum tahu penderitaan sembelit kan? Huh?! Rasanya lebih baik kalau kau menginjak kaca daripada sembelit! Ayo makan sayurnya!”

“Sembelit itu apa?” Sungmin membulatkan matanya polos, ia menyuap sepotong daging lagi tanpa mengerti arti omelan Kyuhyun.

Yoona yang duduk di sebelah mereka hampir tersedak minumannya lalu berdehem keras. “EHEM!”

“Kenapa kau, Yoona?” Tanya Sooyoung yang duduk di hadapannya.

“Tidak apa-apa.” Jawabnya ketus sambil mengelap bibirnya.

Wajah Kyuhyun memerah lalu membisikkan “Maaf.” Kepada noona-nya yang satu itu. Yoona tidak merespon agar tidak menjadi bahan pembicaraan lebih lanjut.

Putra mahkota itu mencubit paha Sungmin dari bawah meja.

“Jangan bikin malu, Sungmin-ah.”

Snowelf muda itu merengut heran. “Memangnya aku salah apa?” Bisiknya ke Kyuhyun sembari mengunyah garpunya. Dia masih kesal karena penolakan hyung-nya tadi pagi, jadi dia tak berniat untuk menuruti Kyuhyun sama sekali.

Hentikan itu, tidak sopan. Jangan bikin malu lagi.” Kyuhyun berusaha menarik garpu itu dari mulut Sungmin saat sang Raja membuka suara.

“Omong-omong, tadi pagi pengawal mengantarkan sebuah surat untukku, sebuah undangan dari Negeri Hviturland.” Saat menyebutkan nama negeri putih itu, Kangin lantas melirik ke arah Kyuhyun, lalu beralih ke Sungmin yang kini membulatkan matanya mendengar nama negeri asalnya disebut-sebut.

“Setiap tahun di Hviturland, ada acara yang disebut ‘Snjór Festival’ yang biasa diadakan oleh keluarga kerajaan. Dan karena kita juga bagian dari keluarga mereka sekarang, mereka mengharapkan perwakilan kita datang ke sana.” Kangin melanjutkan.

Sungmin berjingkrak kecil di kursinya. Pemuda kecil itu meringis-ringis senang mendengar kabar tak terduga itu. Ia menggoyang-goyangkan kedua kakinya di bawah meja dengan bersemangat. Dia tidak menyangka keluarganya akan mengirimkan undangan itu.

Sebaliknya, Kyuhyun tidak merasakan hal yang sama seperti matenya. Kyuhyun melirik Sungmin kesal. Ia tahu kalau snowelf kecil itu pasti akan segera mendapatkan apa yang memang diinginkannya sejak seminggu terakhir. Dan sialnya, sebagai mate Sungmin, merupakan hal mutlak baginya berangkat ke Hviturland untuk memenuhi undangan itu.

“Siapa yang mau ikut bersama Kyuhyun dan Sungmin minggu depan? Tidak enak rasanya kalau cuma mereka yang hadir dengan keluarga kita yang sebesar ini.”

Bahkan Kangin tidak lagi menanyakan kesediaannya untuk pergi ke sana. ‘Sial…’ Bisik Kyuhyun dalam hati.

Hening.

Beberapa anak dan menantu Raja saling berpandang-pandangan cemas. Masuk ke negeri asing memiliki resiko yang sangat besar, apalagi melihat sikap mereka kepada bocah itu selama ini. Bisa-bisa bocah itu mengadu kepada Raja Hviturland dan mereka akan dihukum atau dipermalukan di sana.

“Hmm? Tidak ada yang mau jalan-jalan ke negeri es? Anggap saja seperti liburan. Kau, Yonghwa?” Kangin seperti biasa, entah kenapa selalu cenderung memanggil Yonghwa terlebih dahulu dibandingkan menantunya yang lainnya.

“Minggu depan kan aku harus ke Graentland seperti yang Appa perintahkan? Lagipula Irene masih terlalu kecil untuk perjalanan jauh.” Jawab Yonghwa sambil melirik istrinya. Seohyun hanya balas memandangnya dengan raut penuh kekhawatiran, sebelum ia menatap ayahnya dengan raut memelas.

Kangin mendesah dan melirik ke arah yang lain.

Semua orang menahan napas tegang, sibuk memikirkan alasan apa yang akan mereka utarakan untuk menolak tugas tersebut sampai seseorang menjawab.

“Appa, aku dan Gain bersedia pergi ke sana.”

Junjin, menantu dari anak pertama Kangin membuka suara.

“Sebagai gantinya, Seungho, tolong gantikan pekerjaanku di pasukan berkuda untuk sementara. Ne?” Lirik Junjin kepada suami Victoria.

Seungho mengangkat kedua alisnya, tampak keberatan meski akhirnya mengangguk pelan. “Ye, hyung…”

Yang lain langsung bernapas lega saat Kangin tersenyum puas.

“Bagus, Junjin. Baiklah kalau begitu. Siapkan apa saja yang kalian perlukan untuk keberangkatan kalian minggu depan. Kalian bertanggung jawab untuk menjaga tali persaudaraan dan aliansi kita dengan negeri putih.”

.

.

.

Suara derap kaki kuda terdengar samar-samar memecah keheningan malam. Tiga hari perjalanan terasa seperti berminggu-minggu. Terlebih dengan cuaca yang semakin ekstrim mendekati negeri salju. Beruntung, hanya lima jam lagi sebelum mereka mencapai perbatasan Hviturland. Jarak ini setidaknya jauh lebih dekat daripada perbatasan Graent dan Radourland.

Kereta panjang itu berderap lambat. Kyuhyun duduk berdampingan dengan Sungmin di kursi belakang, sedangkan Gain dan suaminya duduk di kursi depan di hadapan mereka. Kyuhyun sejujurnya tidak begitu akrab dengan Gain, jauh lebih tidak akrab jika harus dibandingkan kakak-kakaknya yang lain. Terkadang ia merasa Gain seperti sering menatapnya dalam diam. Namun jika mereka bertemu pandang, Gain akan menoleh ke arah lain seakan tidak terjadi apa-apa. Ada perasaan aneh yang hinggap di hatinya setiap kali Kyuhyun memergoki kakaknya berbuat seperti itu.

Kyuhyun tidak pernah tahu banyak tentang orang lain. Meskipun kakaknya, Kyuhyun tidak tahu apa-apa selain posisi Gain sebagai putri pertama yang sangat dipercayai ayah mereka. Wanita ini tangguh dan tidak banyak bicara. Gain selalu menjadi pemenang turnamen tahunan yang diadakan kerajaan, setidaknya selalu sebelum ia menikahi suaminya. Kini Gain lebih banyak membantu Radourland bersama para menteri kerajaan, daripada melibatkan diri untuk pekerjaan berat seperti pertarungan di lapangan.

Setiap tahun, Gain selalu menjaga panjang rambutnya untuk tetap sebatas bahu. Namun sekarang tampaknya wanita ini tertarik untuk memperpanjang rambut hitamnya –meski tidak sepanjang putri Radourland yang lain.

Tapi apapun itu, Kyuhyun harus mengakui ia merasa lega. Sungmin tampak baik-baik saja pada Gain. Berbeda jika membandingkan hubungan bocah ini dengan kakak-kakaknya yang lain. Kyuhyun benar-benar ingin menyamakan mereka selayaknya kucing dan anjing. Tidak seharipun mereka mampu berdiri di tempat yang sama tanpa mencibir satu sama lain.

Selain itu, Gain tampaknya memilih calon suami yang tepat untuk menduduki posisi sebagai menantu raja. Junjin adalah siluman serigala berdarah murni, sama seperti garis keturunan raja. Ia adalah pangeran kedua dari salah satu kerajaan di pinggir timur Radourland. Kyuhyun tidak tahu persis berapa usia pria berambut pirang itu. Tapi dengan usia Gain yang mencapai 76 tahun ini, kemungkinan besar Junjin lebih tua dari istrinya. 80? Atau 90 mungkin?

Raut wajahnya yang dewasa pun dengan jelas menunjukkan perbedaan usianya dengan Kyuhyun.

Junjin juga sering mengikuti latihan pasukan berkuda di negara mereka. Namun Kyuhyun jarang bertemu dengannya sekalipun ia berada di batalyon yang sama. Terlebih Kyuhyun tidak sepenuhnya berlatih sesuai dengan jadwal prajurit lainnya. Kyuhyun lebih senang berpindah-pindah ke dalam pasukan lain sesuka hatinya. Bahkan kadang berlatih dan kadang tidak. Terkadang muncul, dan terkadang menghilang entah kemana. Sebaliknya, Junjin pun tidak pernah ambil pusing pada tindakan semau-mau Putra Mahkota.

Saat ini, Kyuhyun diam-diam memperhatikan keluarga kecil kakaknya itu. Gain tengah mengupas buah jeruk untuk putri bungsu mereka yang sedang dipangku Junjin, Elizabeth. Gadis kecil itu berambut pirang seperti ayahnya. Usianya mungkin baru 8 tahun seperti Maora. Menjelang keberangkatan, mereka memutuskan untuk membawa gadis kecil itu bersama mereka.

Melihat pemandangan di depannya itu membuat Kyuhyun merasakan sesuatu yang aneh muncul di hatinya. Ada perasaan iri yang hadir entah dari mana melihat keluarga kecil itu.

Dan apa yang dilakukannya di dalam kereta ini?

Kyuhyun sama sekali tidak merasa sedang bepergian dengan pasangannya. Ia malah merasa tengah menggantikan tugas seorang pengasuh anak. Sejak perjalanan ini dimulai, Sungmin tidak bisa duduk diam. Lebih-lebih dibuat tenang. Sepanjang perjalanan, bocah itu terus bercerita tentang Hviturland, sekalipun tidak ada orang yang memintanya. Sesekali ia akan berbalik ke kanan dan ke kiri, lalu ke belakang, mengintip dari jendela jika barangkali mereka sudah mencapai Negeri Putih.

Kyuhyun terus melingkarkan satu tangannya di pinggang Sungmin, takut jika matenya akan terjatuh tiba-tiba karena sikap hyperaktifnya itu ditambah keadaan kereta yang kerap berguncang.

Tapi satu hal yang membuat Kyuhyun diam-diam tersenyum. Terkadang Sungmin bercengkerama dengan Elizabeth –hanya sesekali memang. Tapi hal itu membawa kelegaan bagi Kyuhyun, karena setidaknya Sungmin tidak bermusuhan dengan seluruh penghuni kerajaan Radourland.

Saat Sungmin tertidur di perjalanan adalah saat yang peling ditunggu-tunggu oleh Kyuhyun. Malah ia berharap Sungmin akan tidur terus sampai mereka tiba di Hviturland. Meski sebenarnya, ia lebih berharap kereta ini tidak akan pernah sampai ke sana.

Sungguh.

Jika boleh memilih, Kyuhyun tidak ingin pergi ke Hviturland.

Katakan dia kekanakan, tapi Kyuhyun tidak tertarik bertemu keluarga Sungmin yang jelas-jelas tidak menyukainya. Meskipun mungkin salahnya juga telah meninggalkan Sungmin satu setengah tahun yang lalu, hingga menimbulkan kesan yang buruk bagi mereka. Kyuhyun tidak mau bertemu dengan Siwon brengsek, atau Siwon-Siwon lainnya di kerajaan Hviturland. Dia bahkan tidak tahu harus tinggal berapa lama di sana.

Tidak peduli kalaupun itu adalah tangggung jawabnya sebagai calon penerus raja. Lagipula ia tidak pernah sungguh-sungguh menginginkan tahta itu. Kyuhyun lebih menyukai kebebasan daripada terikat tanggung jawab untuk mengabdi pada kerajaan dan rakyatnya.

Mungkin karena itu juga selama dua puluh tahun terakhir, Kyuhyun berubah menjadi seegois ini dan bertindak sesukanya. Mungkin karena itu juga ia memilih menikahi Bora yang berasal dari ras manusia dan membuat Raja begitu marah.

Kyuhyun terkesiap. Tercengang pada pikiran yang melintasi otaknya barusan.

Tidak.

Tidak, ia tidak boleh berpikir begitu.

Bora dan anak mereka meregang nyawa karena kesalahannya, dan bisa-bisanya ia berpikir hubungan mereka hanya main-main belaka? Kyuhyun menelan ludah, kelak dirinya pasti pergi ke neraka sebelum menemui mereka di alam baka.

Sesaat, Kyuhyun tenggelam dalam lamunannya, tampak seakan tidak menyadari kali ini giliran dua bola mata Gain yang terpaut ke arahnya. Setidaknya itulah perkiraan awal Gain, hingga Kyuhyun tiba-tiba membuka suara —

“Ada apa, noona?” Tanya Kyuhyun tanpa menatap Gain. Pandangannya tertuju kosong keluar kereta sedang tangannya terus asik memainkan rambut hitam Sungmin yang masih pulas tertidur di pangkuannya.

Gain terdiam sebentar, sebelum melempar pandangan ke luar jendela. “Bukan apa-apa.” Jawabnya pelan.

Kyuhyun melirik Gain dari sudut matanya. Lalu pemuda itu memutuskan untuk bersandar santai ke belakang dan menutup matanya. Ia memang tidak pernah merasakan niat jahat dari noona-nya yang satu ini. Tapi Kyuhyun selalu penasaran. Pandangan yang dilemparkan Gain padanya seakan menyampaikan sesuatu yang tersembunyi –yang nyaris tersampaikan namun selalu ditelan kembali oleh kakak sulungnya itu.

Kyuhyun menghela napas sebelum membuka matanya kembali. Junjin memejamkan matanya dan tampak pulas menemani Lizzy yang juga tertidur di pangkuannya.

Lima orang berada di dalam kereta besar itu. Tapi rasanya, saat ini hanya ada mereka berdua. Kyuhyun dan Gain. Dengan berani, Kyuhyun menatap tajam pada kakaknya itu. Untuk pertama kalinya menunjukkan sosok dominannya sebagai satu-satunya penerus tahta Radourland di hadapan wanita ini.

“Benarkah? Kau terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.” Pancingnya dengan nada berat –datar.

Gain sempat membalas tatapan Kyuhyun, namun entah kenapa wanita itu memutuskan untuk memalingkan wajahnya lagi. “Mungkin hanya perasaanmu.”

Kyuhyun tak melanjutkan percakapan itu. Ia tidak begitu tertarik untuk melanjutkannya. Kyuhyun kembali menyandarkan kepalanya ke belakang, lalu membenahi posisi Sungmin sebelum memejamkan matanya sekali lagi –berpura-pura tertidur.

Lima hari dan empat malam menjadi perjalanan panjang yang melelahkan, hingga salju turun dari langit menimpa atap kereta. Tanah yang mereka lalui mulai dipenuhi oleh bulir-bulir salju. Angin dingin berhembus masuk melewati jendela kereta, Kyuhyun meremas bahu Sungmin dengan protektif dan segera menggelar selembar selimut untuk mate-nya.

Akhirnya.

Mereka telah memasuki Tanah Putih.

.

.

.

Kereta kuda berwarna hitam itu memasuki gerbang kerajaan dengan mulusnya, di sambut oleh barisan prajurit kerajaan yang sudah berdiri seakan menunggu mereka sejak tadi. Di depan istana, Kyuhyun bisa melihat beberapa orang yang langsung dikenalinya sebagai keluarga kerajaan, setidaknya –mereka tampak bangsawan. Semakin dekat, Kyuhyun merasa muak hingga pemuda itu berdecih tanpa sadar. Apalagi melihat mate-nya yang sejak tadi tidak henti-hentinya berjingkrak senang. Tampaknya Sungmin benar-benar tidak sabar dan seakan siap melompat dari kereta kapan saja. Kyuhyun merapatkan pegangannya di pinggang kecil mate-nya itu. Tidak ingin hal buruk terjadi, salah satunya –ia tidak ingin Sungmin lepas dari jangkauannya.

Sungmin mendongak pada Kyuhyun dan kembali mengintip-intip melalui jendela kereta. Tidak sabar menunggu hingga roda kendaraan ini berhenti. Di depan istana, Junsu-eomma, Siwon-hyung, Zhoumi-hyung, Donghae-hyung, Changmin-hyung, bahkan Jiyong-hyung sedang menunggunya.

Terkikik senang, Sungmin menyingkirkan tangan Kyuhyun yang melingkar di pinggangnya dan sontak melompat begitu pengawal membukakan pintu kereta mereka.

“EOMMAAAAAA!” Teriaknya kekanakan, bahkan melebihi sifat Lizzy yang jauh lebih muda darinya. Kyuhyun mendesah melihat Sungmin yang dengan girangnya menghambur memeluk Ratu Putih. Ia mencoba memaklumi, Sungmin memang masih sangat muda. Siklus usia dan pertumbuhan siluman Radourland dan Snowelf tidak akan pernah bisa sebanding satu sama lain. Di negri ini, mate kecilnya tidak lebih seperti seorang balita. Balita yang sudah mampu memiliki balita lain.

Sungmin tertawa saat merasakan hangat tubuh ibunya berada sedekat itu darinya. Ia memeluk pinggang Junsu seerat-eratnya. Merasa begitu senang hingga matanya mulai berkaca-kaca.

“Minnie!” Bisik Junsu menahan tangis harunya saat mendekap Sungmin erat.

“Minnie-chagiiii… Peluk hyung jugaaaa!” Rengek Changmin berbaris di belakang Junsu, menunggu gilirannya. Ia adalah orang pertama yang melompat keluar begitu mendengar kereta Sungmin akan segera tiba di sana.

“Heh. Kukira kau takkan kembali, bocah.” Jiyong berdecih lalu melipat kedua tangannya di depan dada, menolak untuk mengakui bahwa sebenarnya ia cukup kehilangan orang yang bisa ia jahati selama ini.

Begitu Sungmin melepaskan diri dari Junsu, Changmin langsung memeluknya erat-erat sebelum adik bungsunya sempat kabur, diikuti dengan Donghae yang memeluk mereka berdua, dan Zhoumi tersenyum di belakang sembari mengelus rambut hitam yang sama-sama dirindukan oleh semua orang.

Siwon menahan diri dengan berdiri di belakang Zhoumi. Matanya memerah terharu. Rasanya ia ingin menyingkirkan semua orang hingga hanya dirinya yang bisa memeluk Sungmin. Namun tentu saja Siwon tahu lebih dari siapapun. Ia tidak mungkin melakukan itu. Terlebih di hadapan seluruh saudara dan pengawal yang menyaksikan— Dan yang terparah, kehadiran pemuda yang sangat dibencinya. Berdiri sedekat itu di sisi kereta kuda.

Kyuhyun dan Siwon sempat bertemu pandang sebelum keduanya sama-sama berpura-pura tidak saling melihat. Seakan mengingkari kehadiran masing-masing.

Selesai melepas rindu untuk sesaat, Junsu dan Zhoumi bergegas menyambut tamu lainnya. Gain dan keluarganya dipersilahkan untuk masuk pertama kali, meninggalkan beberapa pangeran di luar istana. Termasuk Kyuhyun dan Sungmin.

“Wonnie-hyung!”

Siwon terperangah. Bingung sejak kapan adiknya berhasil melepaskan diri dari Changmin dan tiba-tiba berdiri di hadapannya. Siwon tersenyum, lalu berlutut bermaksud menyerahkan diri jika Sungmin ingin memeluknya. Namun kenyataan yang didapatnya telak membuat Siwon beserta semua orang yang menyaksikan membeku –tercengang.

Sungmin tidak menghambur untuk memeluknya. Bocah itu justru mencondongkan tubuhnya dan menyambar bibir Siwon dengan begitu santainya. Di hadapan semua orang. Di hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun dan Siwon sama-sama terdiam saking syoknya. Keduanya tampak tidak mampu mencerna kejadian yang baru saja mereka saksikan.

“Ah…” Komentar Zhoumi santai.

MINNIIEEEEEE! TIDAK ADIL! KAU HARUS CIUM HYUNG JUGAAAA!” Hanya suara raungan Changmin yang memecahkan suasana kaku itu.

“M-Minnie.” Siwon mengusap bibirnya gugup, mencoba untuk tersenyum namun yang terukir di bibirnya justru ringisan. Ia merasa seakan langit baru saja runtuh di atas kepalanya. Sungmin menciumnya di hadapan semua orang! Hal gila yang jujur saja membuatnya girang –dalam hati. Terlebih saat ia melirik ekspresi Putra Makhota Merah untuk sesaat…

Wajah itu merah padam. Tampak seakan mati-matian menahan emosi dan luapan ekspresinya yang berusaha keluar dengan menjadi-jadi.

Kyuhyun tidak tahu hal macam apa yang berhasil menahan amarahnya saat itu, ia mampu berdiri kaku dan hanya memandang geram kemesraan Sungmin dengan seluruh kakak-kakaknya. Rasanya sesaat tadi, ada hasrat yang begitu kuat muncul di hatinya untuk menyeret Sungmin pulang ke Radourland. Tapi untungnya, Kyuhyun masih cukup memiliki kesadaran diri untuk tidak melakukan hal itu di depan keluarga besar Sungmin. Ego sesaatnya hanya akan membuatnya tampak buruk di mata orang-orang ini dan bukan tidak mungkin mereka akan menyangka Kyuhyun tidak mampu menjaga Sungmin-NYA.

Kyuhyun menggeram, merasa tidak sanggup menahan amarah yang meluap-luap di dadanya hingga ia memutuskan untuk mengabaikan semua orang. Putra Mahkota Negeri Merah itu melangkah menghentak memasuki istana, diikuti sebagian pengawalnya –diam-diam tanpa menunggu Sungmin menyadari kepergiannya.

Sungmin sibuk tertawa mendengar lelucon Changmin. Untuk pertama kalinya ia mendengar dengan rela guyonan yang sebenarnya tidak lucu itu. Junsu kembali membawakan jubah lama milik Sungmin dan memasangkannya dengan rapi melindungi tubuh bocah itu.

“Terima kasih, eomma. Maaf merepotkan.” Sungmin tersenyum manis, menunjukkan gigi-gigi putihnya yang besar. Bocah itu membungkuk di hadapan ibunya, kontan membuat semua orang tercengang memandangnya.

Junsu terbatuk-batuk lalu tertawa. Tidak percaya pada apa yang baru saja disaksikannya. “Aigooo. Minnie sudah bisa bilang ‘Terima Kasih’? Manisnyaaa. Siapa yang mengajarimu, chagi?” tanyanya lembut sembari berlutut di hadapan Sungmin. Ia menyimpulkan tali jubah yang terjulur di bawah bahu putranya.

Sungmin menggembungkan pipinya. Wajahnya yang pucat kedinginan perlahan berubah merah menyambut kehangatan sihir jubah lamanya. “Kyuhyun-hyung!” jawabnya antusias. Tidak sadar bahwa pekikannya barusan membuat Siwon mendelik dan mendesah geram. Sungmin terlalu sibuk memikirkan mate-nya untuk menyadari perubahan emosi yang jelas melintasi wajah Siwon.

“Loh, Kyuhyun-hyung mana?” tanya Sungmin tiba-tiba. Kening pemuda itu mengernyit.

Junsu ikut mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Sungmin yang begitu random –dan tiba-tiba. Tapi Junsu segera mengabaikan rasa herannya. Ia meremas bahu Sungmin dan meniup hidung putranya. Mencoba menyalurkan kehangatan. “Minnie sudah makan? Minnie mau ikan tuna kesukaanmu? Eomma sudah menyiapkannya untuk Minnie.”

Sungmin berjinjit, lalu memutar pandangannya kesana kemari. Seakan berusaha mencari sesuatu. Wajahnya berubah masam saat ia menatap ibunya. “Eomma, Kyuhyun-hyung mana?”

Kerutan di kening Junsu berubah makin dalam. Ia tidak mungkin bisa mengabaikan pertanyaan itu. Gelombang aneh yang menguar dari tubuh Sungmin membuatnya terpaku sesaat. Junsu mencoba memancing Sungmin sekali lagi, “Minnie tidak mau makan dulu?”

“Tidak. Kyuhyun-hyung mana?”

Sungmin menjawab dengan begitu cepat. Junsu menahan napas, lalu menghembuskannya dengan berat. Ia melirik ke belakang dan menyadari bahwa Siwon sudah tidak ada di antara mereka.

“Eomma!”

Ne, ne, chagi!” Junsu memasang senyum cerahnya kembali. “Minnie ingin menyusul Kyuhyun-hyung?”

“Neee!”

“Baiklah, ayo!” Junsu menggiring putranya masuk ke dalam istana. Donghae tidak ingin kalah, ia menuntun tangan Sungmin dan berebut tempat di sisi adiknya dengan Changmin.

“Minnie tidak mau mencium hyung dulu?”

“Tidaaaaak.” Sungmin menjulurkan lidahnya, lalu buru-buru memeluk pinggang Junsu sebelum Changmin melakukan sesuatu padanya.

“Minnie! Awas ya, kuculik kau nanti!”

“Eommaaa!”

“Sssh, Max. Jangan ganggu adikmu.”

Changmin mendengus. Terpaksa mengalah lagi untuk ke sejuta kalinya selama lima belas tahun terakhir.

.

.

.

“Ternyata kau ada di sini.”

Junsu melangkah memasuki istana raja. Suaranya sedikit menggema di dalam aula berdinding es itu. Ia berhenti tepat di hadapan Raja yang berdiri memunggunginya. Raja bahkan tidak berniat menoleh untuk mengetahui siapa yang datang dan begitu lancangnya memanggil ‘kau’ padanya.

Junsu mendesah. Menatap dalam diam punggung pria yang mengenakan jubah abu-abu dan berdiri nyaris di sudut tergelap ruangan. Melihat Raja tidak juga merespon kehadirannya, Junsu tidak terburu-buru mengganggu lagi. Ia mendongak mengikuti arah yang tengah dipandangi oleh Raja dengan begitu khidmatnya.

Sesuai dugaannya. Seperti biasa. Satu-satunya hal yang selalu dilakukan raja di dalam aula sepi ini saat malam hari.

Memandangi sebuah lukisan yang diletakkan tepat di ujung ruangan gelap ini.

Lukisan Jaejoong.

Di ruangan ini, terpajang satu-satunya lukisan Jaejoong yang pernah ada di istana Hviturland.

Ratu yang tidak pernah menjadi ratu.

Selain dirinya dan Yunho sendiri, Junsu tidak yakin ada orang lain yang tahu bahwa diam-diam Raja menyembunyikan satu lukisan Jaejoong untuk dipajang di ruangan ini.

Berkali-kali ia menemukan Yunho terpaku memandangi lukisan mendiang adik kandungnya itu. Hanya terdiam dengan wajah datar. Entah apa yang melintas di kepala Raja setiap kali ia memandangi lukisan mendiang kekasihnya. Junsu tidak pernah mendengar ratapan, tidak pernah melihat airmata. Hanya sebuah sorot mata yang kosong, dan terkadang menuntut.

Raja telah berubah sejak belasan tahun yang lalu. Dan puncak itu sampai ketika malam kematian Jaejoong datang. Raja tidak pernah lagi sama seperti sebelumnya.

Tapi tidak. Junsu tidak cemburu.

Kalau pun ia bisa merasa cemburu, kalaupun ia diizinkan, sudah berapa juta kali hatinya ini tersakiti melihat sikap acuh Yunho yang selalu memilih diam daripada menghargai eksistensinya sebagai Ratu?

Lagipula mereka terpaksa menjadi mate karena hukum di Hviturland, bukan karena saling mencintai. Junsu pernah mencintai orang lain. Sebelum ia diharuskan menjadi Permaisuri Hviturland menggantikan Jaejoong yang meninggal begitu cepat.

Junsu bersyukur ia tidak mencintai pria yang takkan bisa jadi miliknya ini.

Karena bagi Junsu, Yunho memang sudah mati bersama Jaejoong lima belas tahun lalu.

“Kenapa kau tidak ikut keluar menyambut tamu kita? Jika kau begitu tak inginnya bertemu dengan Sungmin, paling tidak bicaralah dengan perwakilan mereka.” Suara Junsu yang berbisik memecah keheningan aula itu.

Junsu terus mencoba membujuk Yunho untuk menyambut tamu mereka sejak beberapa hari yang lalu. Namun sejak awal pula ia tidak berharap. Persetujuan Yunho untuk mengundang Sungmin dan Radourland ke negeri mereka sudah merupakan keajaiban. Tidak peduli kalau sampai pria ini menganggap dirinya telah melakukan kesalahan dengan menyetujui undangan ini. Yang terpenting bagi Junsu, ia bisa melihat Sungmin kembali di negerinya ini.

Jika mereka telah mengundang Sungmin untuk acara tahunan kali ini, kemungkinan besar Sungmin akan terus hadir di tahun-tahun berikutnya. Tidak akan mungkin negeri yang agung ini tiba-tiba memutuskan undangan kepada Radourland yang sudah resmi menjadi aliansi mereka.

Junsu menghela napas.”Padahal kau yang mengadakan aliansi dengan Radourland, tapi kenapa malah bersikap seperti ini sekarang? Kau tidak takut akan menyinggung tamu kita?”

Yunho hanya diam. Ia bahkan tidak berniat untuk bergerak dari posisi awalnya. Meski dengan sikap egois dan seenaknya yang tidak pantas bagi raja seperti dirinya, Yunho tahu ia bisa mempercayai permaisurinya. Junsu tidak dipilih secara random untuk mengisi posisi Ratu yang kosong. Snowelf cantik ini begitu bijak untuk memenuhi kewajiban Ratu Negeri ini. Ia pasti mampu menjaga nama baik Yunho di hadapan tamu mereka.

“Sampai kapan kau akan begini terus?” Junsu mendesah, nada suaranya begitu pasrah.

.

.

.

“Ibunda?”

Junsu tersentak. Ia baru saja keluar dari pintu istana Raja saat seseorang memanggilnya cukup keras dari belakang. Begitu berbalik dan menyadari siapa yang berdiri di belakangnya, Junsu mendesah. Putra Mahkota Putih berdiri dekat di sisi pintu. Jelas sekali ia berdiri di sini sejak tadi. Dan kalau Junsu boleh menduga –apakah… pemuda ini menunggunya?

“Ya? Siwon-ah? Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku menunggumu.”

Junsu melirikkan matanya ke bawah, mencoba menghindari tatapan memelas Siwon. Ia sudah bisa menebak hal macam apa yang ingin dibicarakan oleh Putra Mahkota. Dan Junsu tidak ingin Raja mendengar obrolan mereka. Maka ia berbalik, melangkah menjauhi pintu istana Raja. Siwon mengekor di belakangnya dengan sedikit tergesa, seakan takut Junsu meninggalkannya tanpa berniat mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan malam ini.

“Ya? Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?” Junsu mencoba tidak berpaling. Tatapan itu hanya akan meluluhkan tekadnya yang baru saja terbentuk beberapa jam yang lalu.

“Ibunda. Ini tentang rencana kita waktu itu…”

Ya. Junsu sudah bisa menebaknya. Ratu itu menahan napasnya dan mencoba untuk tidak mendesah. Sebisa mungkin menunjukkan sikap tenangnya di hadapan Siwon.

“Rencana kita? Rencana apa?”

Wajah Siwon mendadak keruh. Pangeran itu menggigit bibirnya, antara khawatir dan gugup. Benarkah ratu sudah melupakan perjanjian mereka saat itu? Rasanya Siwon tidak bisa mempercayainya. Junsu tidak mungkin melupakannya. Tidak. Tidak mungkin. Kecuali jika Ratu ini sudah berubah rencana dan mencoba merelakan Sungmin –

Siwon menggeleng. Tidak. Itu lebih tidak mungkin.

“Tentang Sungmin. Apa ibunda sudah mendapatkan cara –untuk memisahkan mereka?” Bisiknya pelan di akhir kalimat, langsung ke pokok pembicaraan.

Junsu menelan ludahnya. Ia melirik ke seluruh lorong yang dilewatinya, memastikan tidak ada orang yang mendengar mereka. Bisa-bisanya Putra Mahkota membahas perihal berbahaya seperti ini di tengah jalan! Junsu berbalik dan melirik Siwon tajam. Ia menggiring langkah putra tirinya menuju sayap kiri balairung Istana Ratu. Junsu sedang tidak mencoba untuk mencari tempat bagi mereka berdua. Ia sedang mencari celah untuk kabur dari pria ini!

“Aku belum menemukannya.” Junsu mencoba terdengar datar.

Tapi kalimat pendek itu kontan membuat Siwon mendelik, Putra Mahkota itu mengerang nyaris meluapkan emosinya.

“T-Tapi ini sudah hampir dua tahun! Bagaimana mungkin kau belum menemukan caranya!” sentaknya emosi.

Langkah Junsu sontak berhenti. Ratu itu berdiri kaku, ia berbalik menghadap Siwon. Tatapannya tajam dan mengancam, Siwon segera tersadar dan buru-buru membungkuk. Dalam hati merutuki dirinya yang tidak mampu menahan luapan amarahnya sendiri.

“M-maaf. Maafkan kelancanganku, Ibunda Ratu.”

Junsu menatapnya lama. Tatapan tajamnya belum berubah hingga beberapa waktu. Junsu hanya tidak ingin Siwon menyadari bahwa dirinya tengah tenggelam dalam pikiran yang begitu dalam. Banyak hal berkecamuk di dadanya sejak ia melihat Sungmin kembali pagi ini. Setelah satu setengah tahun lamanya. Lalu dihadapkan pada kenyataan dan keganjilan yang harus ditelannya mentah-mentah. Sungmin telah terikat pada Putra Makhota Merah, dan putranya itu bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berpisah dari Kyuhyun. Junsu telah menerima kenyataan itu. Dan Siwon pun harus melakukan hal yang sama.

“Sejauh ini aku merasakan ikatan yang kuat, Siwon-ah. Sementara, tolong jangan berbuat macam-macam. Hal ini tidak hanya mencelakakan pangeran merah itu. Tapi juga Sungmin.”

“T-tapi ibunda. Kau berjanji untuk mencari cara untuk memisahkan mereka!”

Junsu menggeleng lemah. Ekspresinya sarat akan kesungguhan. Ia melangkah satu jengkal mendekat pada Putra Sulungnya. Lalu Ratu itu mendongak, menatap dan berucap penuh tekanan. “Aku sungguh-sungguh belum menemukannya. Jadi bersabarlah dan jangan berbuat ceroboh.”

Siwon membeku. Tidak mampu menerima perintah itu begitu saja. Ia tidak lagi mengikuti langkah Junsu saat Ratu itu bergegas pergi meninggalkannya. Pemuda itu mematung, dengan kepala tertunduk. Dua tangannya mengepal erat. Ia tidak bisa percaya bahwa Ratu baru saja mengatakan hal itu.

Mereka memiliki ikatan yang kuat.

“Ikatan yang kuat, huh?” Siwon mencibir. Giginya gemertak beradu. Seketika amarah yang telah dipendamnya selama dua tahun terakhir kembali membuncah hingga ke kerongkongannya. Lima belas tahun hidupnya telah terikat pada Sungmin. Sejak adiknya belum membuka mata untuk pertama kali, Siwon bahkan telah berada di sana, memberikan seluruh hidup dan jiwanya. Sudah jelas dirinyalah yang memiliki ikatan terkuat dengan adiknya! Bukan Putra Mahkota negeri seberang! Bukan siapapun!

Siwon mendengus marah. Tidak bisa terima bahwa Ratu –secara sadar atau tidak— telah mengingkari janjinya. Janji mereka!

“Aku tidak bisa bersabar lagi. Selagi Sungmin ada disini, tidak akan kubiarkan Minnie kembali ke negeri barbar itu.” Siwon melangkah kasar, berbalik arah menuju istananya sendiri. Pemuda itu mengeram di bawah napasnya.

Sungmin milikku.”

.

TBC

.

23 thoughts on “Cursed Crown | Chapter 11

  1. sha says:

    kya… mau lah jadi pembantu yang ngambilin baju KyuMin. buahahahaha😄

    nah kan, ming cium Won. cemburu dah si Kyupil.. kkkk~~~

    lanjuuuut ^^

  2. megu_chan says:

    akhirnya disini bisa buat komen juga…..enak bgt yg jd pembantu kyumin bisa lihat kemesraan kyumin tanpa sengaja…..siwon kenapa seperti tergila2 ma sungming sebegitu besarnya kah daya pikat ming..kyuhyun cemberu ya tenang kyu, ming padamu…kenapa dr chap ke chap aku jd semakin yakin klu ming anaknya jaejong ya ..bener gag sih ??

  3. shanty kyuminnie arashi says:

    Kyu sama ming sekarang memang bener2 dh ga bisa terpisah dan kyu jg sekarang dh bisa setidaknya kontrol hyper nya ming ….
    Ming jg sekarang bisa d bilang sudah tidak polos lg … hehehehhehe… secara malah keseringan ming yg minta itu duluan ….

    Setelah sekian lama akhirnya ming bisa pulang jg … dan sumpah aq tuh suka bgt ngeliat hubungan ming sama changmin… mereka tuh lucu bgt … donghae jg seneng adik nya pulang …

    Kaget jg cie tiba2 ming cium siwon…
    Apalagi kyu ya … untung dia masih bisa mengendalikan diri ga ngamuk d situ…
    Tp kyu pergi k mana ya ???

    Siwon kyanya dh bener2 niat buat pisahin kyu sama ming ….
    Penasaran cie dia mo berbuat apa…

    Lanjut fiqoh… part 12 nya d protect ya ??? Bisa minta pw nya ??? Klo boleh kirim k email aq ya …
    Makasih fiqoh…

  4. bluemi magnifico says:

    yak! siwon, kalau kamu kakak yang baik harusnya berner berner jaga sungmin
    dan yunho yang terhormat kamu harusnya menghargai tamu yang hadir, karna tamu adalah rajanya. oke

  5. Rhaya says:

    Aku pengen jd pembantu nya, biar bisa liat kyumin mesra2’an😀
    paling suka pas adegan yang ini
    min : aku benci hyung!
    Kyu : yaya aku tahu, aku jg menyayangimu,chagi.

    Nah loh, knpa siwon ngotot mau ngambil sungmin? >,<

  6. loveKyu says:

    gain knp y ma kyuhyun…kok curi2 pandang??tu mksd baik ato jelek??

    kyu ati2 ma siwon…dia mo berjuat jahat…misahin kyumin

  7. Nana says:

    Akhirnya bisa komen juga,
    biasanya aku bacanya di fanfiction.net tapi, bingung komennya gimana, setiap komen pas di cek ilang mulu, ada yang tau ga’ cara komen di fanfiction.net
    oh iya thor aku minta passwordnya yAaa…..!!!!!
    Kitty-kitty baby, sama crused crown. Please………!!!

  8. Nana says:

    Akhirnya bisa komen juga,
    biasanya aku bacanya di fanfiction.net tapi, bingung komennya gimana, setiap komen pas di cek ilang mulu, ada yang tau ga’ cara komen di fanfiction.net
    oh iya thor aku minta passwordnya yAaa…..!!!!!
    Kitty-kitty baby, sama crused crown. Please………!!!
    Email : aerin95@nokiamail.com

  9. 010132joy says:

    Suka interaksi sma kyumin momentnya, sweet hehe
    tp kok ming dsini jd kesannya mesum bgt y ke kyu kkk gantian kyu biasanya kn yg mesum
    kyu udah trbiasa ngungkapin prasaannya ke ming tnpa dtutupi lg, kyu dmeja makan kok malah bhas sembelit ckck -.-
    Pnasaran sma gain noona knapa sikapnya aneh ke kyu ?
    ming kok kmu main cium won gitu aja? Dbibir lg bnyak orang jga aigo ga tau y klo kyu udah nahan cemburu dr td eh malah dtambahin yg lebih parah
    ming bner2 ga bisa jauh dr kyu asikkk ga bkal kpisah deh, tp kok siwon masih ngotot mau pisahin kyumin aja sih
    oh y kok ada beberapa chap yg kolom komennya udah dtutup sih aq mau komen ga bisa maaf
    chap slanjutnya dprotek y? Cara dpet pw gmana ???

  10. KANG SANGHEE says:

    sungmin makin menjadi-jadi nakalnya–”
    bang siwon sarap ya bang?
    apa rencanamu buat dapetin adekmu bang?

  11. cicyjarje says:

    Haduh dasar umin nakal ya, godain kyu terus. untung kyu bisa sedikit menahan diri secara lg bln puasa uupss hahaha.
    Gain agak mencurigakan ya???
    Kyu cemburu, tp min ttep milikmu ko…😀
    Itu tolong abang siwonnie dikasi pasangan deh biar gak brother complex hehe, atw sm aku aja dehh yaa *gubrak.

  12. Ahrin says:

    hei hei hei siwon gk boleh macam” yah. sungmin itu miliknya kyu jd gk boleh d pisahin awas ajah klo brani di kroyokin kyumin shipper baru tau rasa hahhaha
    sungmin kenapa min. udah hamil yah? ahahaha next chap.y di tunggu….

  13. Kemaren-kemaren di sini gak bisa coment u.u
    Sungmin makin terikat aja ya sama kyu. siwon siwon gak belajar dari pengalaman. inget gimana nasib kyu waktu kyu ninggalin sungmin. masa mau pisahin mereka. next chap aku belum baca u.u ditunggiu ya

  14. taehee84 says:

    Siwon bakal ngapain tuhh ?
    Jgn pisahin kyumin lg donggg ksian bnget min nya wktu ituuuu . Ituu min udh hamil lgi kah ? Kaya ad tanda”ny gitu hehehe .
    Kyu udh cmburu”an nihh sneng bcny hihi . Trs jd pnsaran jg ad ap antara yunho ama sungmin …
    Oke deh ditunggu lnjutanny . Kalo bs pw ny kirim ke email ya , hehehe

  15. ming pulang kampung dakan keaadaan sangat amat lengket, mesra meski dia kayu kadang” pusing ekwkw #plak.. siwon bikin rencana apa ya kira” jgn dipisahkan pliss kasian.

  16. vyan says:

    duh,, minnie mecum😀 kyu aja ampe kewalahan..
    sun, aku masih penasaran nih ama asal usul c min..
    sbnrnya dia tuh campuran ras apa sih?😀 he has a lot of vigor >:)
    duh umin… knp kiss siwon c… jd aja kyunya cemburu
    btw, ko c min hebat c ga hamil? gmn c kyu bertahan dari serangan min😀

    btw, aku kok ga bisa comment yg hviturland special chap ya?
    aku gabung disini gpp y sun *looking with puppy eyes
    min kok bandel bgt ya?
    terus kok jiyong n seunghyun tuh saling mencintai? bknnya mereka kakak adik ya? kl siwon ama sungmin kan krn tidak sedarah, tp kl jiyong n seughyun? apa bisa dilakukan perkawinan sedarah krn alpha n omega?

    maaf sun kl kpnjgan abis penasaran juga hehehehe..

  17. vitaming says:

    Kyu cmburu neeeeeee ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ “̮
    Posesif abis..:D ming na jg nga sdr klo kyu posesif (#__#)sabar ieeee bang kyuuuuukyuuuu :p
    Wonnie…jgn pisah ming dr kyu donk…
    Lanjut chap 12 (pw donk saiii)

  18. Davina says:

    Salam kenal.
    Kyaa akhirnya lanjut juga.
    Suka banget sama Kyumin disini. cerita semakin menarik. Acungin 4 jempol buat author.
    Kau cmburu Kyu? kkkk~ rasakan itu😀

    Maukah mengunjungi blog saya?
    hehe….
    davinaelmoo.blogspot.com
    #ikut promosi. Maaf -_- #kabur

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s