Kitty-Kitty Baby! – The Side Story

04cfc303998c16114e6e7417e5e057e0

UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN MUTAN

Tahun 2303

  1. Praktek Kekerasan.Termasuk pemukulan, penusukan, pencekikan, perbuatan bersifat kekerasan seksual, dan pembuangan Mutan. KUHP pasal 302; 406; 335; 170; 540. Hukuman maksimal 12 tahun penjara. Undang-undang Perlindungan Mutan no. 18 Tahun 2303, pasal 66 dan 67.
  2. Pengandangan dan Perantaian.Termasuk tempat tinggal yang tidak layak, kekurangan air atau makanan; salah urus; pelecehan; penyiksaan. KUHP pasal 302; 406; 540; 335. Hukuman maksimal 2 tahun penjara. Undang-undang Perlindungan Mutan no. 18 Tahun 2303, pasal 66 dan 67.
  3. Pembunuhan dan/atau Percobaan Pembunuhan.Termasuk tindakan yang dilakukan atas permintaan masyarakat atau pemerintah. KUHP pasal 302; 406; 335; 170. Hukuman maksimal 12 tahun penjara. Undang-undang Perlindungan Mutan no. 18 Tahun 2303, pasal 66.
  4. Pencurian Mutan.Termasuk motif keuntungan finansial atau tebusan. KUHP pasal 362; 363; 406; 480; 481; 335; 365. Hukuman maksimal 15 tahun penjara.
  5. Pertarungan Mutan Terorganisir.KUHP pasal 241; 302; 406; 170/ Hukuman maksimal 12 tahun penjara. Undang-undang Perlindungan Mutan no. 18 Tahun 2303, pasal 66 dan 67.
  6. Perdagangan Mutan Ilegal/Tidak bersertifikat.Pasal yang berbeda-beda dikenakan kepada Pemasok, Penjual, dan Pembeli. KUHP pasal 241; 302; 362; 363; 406; 335; 170; 480; 481; 204; 205. Hukuman maksimal penjara seumur hidup. Undang-undang Perlindungan Mutan No. 18 Tahun 2303, pasal 66 dan 67. Bab 13, pasal 86 dan 87.

.

oOoOoOoOo

Kitty-Kitty Baby

The Side Story

oOoOoOoOo

.

“Atas bukti-bukti dan kesaksian riil yang telah diberikan dalam sidang ketiga ini, terdakwa Choi Siwon akan dijerat pasal berlipat dengan hukum lima belas tahun penjara dan denda sebesar 150 juta Won untuk kasus pembunuhan, suap, penganiayaan, dan terror terhadap Kim Heechul—”

Ucapan itu sempat terputus, mulut jaksa muda itu terbuka namun ia menghentikan ucapannya. Suara lain yang berat tengah memekik dan menyela kalimatnya.

“TIDAK MUNGKIN! CHOI HEECHUL MILIKKU! MUTAN ITU MILIKKU, BAJINGAN!” sosok tinggi itu melayangkan kakinya ke segala arah, seakan kesetanan ia berusaha membebaskan diri dari kukuhan lima orang polisi yang menjagalnya.

Sejak lima menit yang lalu suasana persidangan ini tidak lagi setenang dua persidangan sebelumnya. Choi Siwon yang duduk di kursi terdakwa berubah garang setelah Jaksa membacakan kalimat pertama putusan persidangan akhir ini. Ia mencoba melompati segala penjagaan untuk mencapai meja Jaksa. Wajahnya merah padam dan mulutnya tak henti meneriakkan makian, seakan ia siap membunuh siapapun di dalam ruang persidangan ini.

Tapi jaksa muda yang berada di akhir dua puluh itu duduk setenang awan.

“Dan dengan ini kami menyatakan—” Hakim muda itu melirik dari balik kacamatanya, ia mendesah sembari membalik lembar kertas yang digenggamnya cukup tinggi. Tanpa mempedulikan kerusuhan para saksi dan penonton, ia kembali melanjutkan.

“—Choi Heechul sebagai Kim Heechul sejak detik ini telah menjadi mutan bebas yang berhak menerima perlakuan layak atas kebebasannya.”

Suara ketuk palu di atas meja kayu itu terdengar menggema tiga kali berturut-turut.

“Dengan ini putusan jaksa telah final dan persidangan atas kasus Choi Siwon dan Kim Heechul saya tutup sampai disini.”

Kerusuhan yang terus tertahan sejak tadi akhirnya pecah. Pihak terdakwa yang hadir dengan pendukung lebih sedikit terpaksa menahan diri untuk tidak meluapkan emosi mereka. Sementara terdakwa dengan lugasnya berteriak, memaki siapapun, apapun, hingga suara beratnya berubah serak. Hal itu sontak memancing amarah dari pendukung korban yang sebagain besar merupakan aktivis kemanusiaan. Lebih dari sepuluh orang berebut ingin meraih Siwon, mencoba menyentuh apapun yang bisa melampiaskan amarah mereka.

Namun Choi Siwon, dengan mata merah tetap berani memandang bekas mutannya bengis. Ia menunjuk Heechul yang berdiri gemetar dan berusaha bersembunyi darinya. Namun tidak dengan kekuatan apapun dapat menghalangi suaranya untuk mencapai mutan itu.

“AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU CHOI HEECHUL! AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU, CAMKAN ITU! AKU AKAN DATANG UNTUKMU SAYANG! TUNGGU AKU!”

Suara teriakan itu masih menggema, diiringi tawa melengking sebelum perlahan berubah samar menjauh. Siwon menghilang di balik ruang persidangan, empat petugas menariknya masuk. Tapi semua itu tidak juga berhasil menenangkan Heechul. Begitu suara Siwon menghilang, mutan itu justru jatuh terduduk. Tangisnya pecah, gemetar dipeluknya perutnya yang besar. Bayi di dalam rahimnya bergerak intens, semakin membuat tangisnya berderu tergesa sebanyak apapun tangan berusaha menenangkannya.

Heechul hanya ingin ruang lapang yang gelap, tempat dimana ia bisa merasa sendiri tanpa sentuhan siapapun. Ia tidak menyukai tangan-tangan ini, bisik-bisik dan suara-suara asing ini. Heechul menangis tersedu dan membungkuk memeluk dirinya sendiri. Hingga entah dari mana, tangan familiar itu menyusup memeluk tubuhnya dan Heechul tidak lagi sanggup untuk menolaknya.

“Kita sudah menang, Heechul. Jangan menangis lagi.”

Heechul menangis makin kencang. Tapi tangis itu tidak lagi menjadi pelampiasan ketakutannya. Semua yang dirasakannya sekarang adalah kelapangan. Kelegaan menjadi yang membuat tubuhnya melemas tanpa perlawanan dan menyerah dalam pelukan hangat orang di sisinya ini.

.

oOoOoOo

.

Heechul sengaja membuka jendela kamarnya malam itu. Angin yang menerpa dari luar terasa lebih menyejukkan daripada udara buatan di dalam ruangan ini. Ia duduk di atas sofa kecil yang dengan sengaja diseretnya menghadap jendela, menghadap pemandangan luar yang menuju langsung ke taman kiri Mansion Han. Bintik-bintik bintang ramai menghiasi malam, meski bulan tidak tampak dimanapun dari jendelanya. Pemandangan itu sudah cukup membuatnya duduk berlama-lama dan melamunkan segala hal. Mulai dari masa lalunya, hingga mengangan-angankan masa depan.

Tempat dimana ia berpijak kini bahkan tidak pernah berani masuk ke dalam mimpi-mimpinya di masa lalu. Ia tidak pernah berani bermimpi akan mendapatkan perlakuan layak dari Choi Siwon. Tapi kini, nyatanya ia mendapatkan sesuatu yang puluhan kali lebih baik dari mimpi-mimpi terlarang itu.

Kebebasan, kekayaan, kasih sayang. Apa lagi yang mampu diharapkan oleh seorang mutan ilegal seperti dirinya? Tidak ada lagi hal lain di atas semua itu. Heechul telah mendapatkan undian terbesarnya. Meski terkadang rasa tidak percaya itu kembali datang dan mencekamnya dalam ketakutan. Bagaimana kalau keesokan hari ia terbangun dan terbaring di dalam kamar majikan lamanya? Terbangun dengan suasana di bawah titik terendahnya. Kembali dalam kehidupan penuh mimpi buruk dimana ia selalu berharap untuk lenyap saja.

Kalaupun ini sungguh hanyalah sebuah mimpi. Maka Heechul berharap ia bisa mati bersama mimpi ini.

Suara derit pintu terbuka yang membangunkan Heechul dari lamunannya malam itu. Heechul tidak berbalik, sosok yang baru saja masuk itu terpantul samar di jendela kamarnya. Heechul hanya mengeratkan jaketnya dan memeluk perutnya erat-erat, ia menggigit bibirnya. Tiba-tiba merasa tidak kuasa melihat sosok itu semakin mendekat dan beringsut memeluknya dari belakang.

Heechul berjengit. Tapi begitu tangan kokoh itu mengusap perutnya lembut, tubuhnya ikut melemas dalam rangkulan Hangeng. Harusnya ia belajar untuk terbiasa, menerima tangan yang mulia ini. Tapi Heechul masih belum mampu menguasai dirinya sendiri. Setelah semua hal mengerikan yang dialaminya selama empat tahun terakhir… Tiga bulan masih terlalu cepat untuknya.

“Ini sudah malam, kenapa belum tidur hm?”

Heechul tidak menjawab. Mutan itu menggigit bibirnya. Cuping merahnya merunduk turun dan ekornya melingkar di pinggang.

“Hmmm… sekarang aku tahu kenapa kau betah sekali di kamar ini.” Hangeng tersenyum memandang cakrawala di balik jendela. Pemandangan di luar sana membuatnya terkesima selama beberapa detik, harum vanila yang menguar dari leher mutan di dekatnya juga ikut menyempurnakan suasana senyap itu. Saat ini untuk pertama kalinya, ada rasa pamrih dimana Hangeng ingin mendapatkan imbalan dari usahanya selama beberapa bulan terakhir. Hanya sedikit, sedikit lebih rekat lagi bersama mutan ini— akan menjadi imbalannya yang terbaik.

Hangeng meniup tengkuk Heechul, ia terkekeh saat mutan itu berjengit kaget dan sontak meremas tangannya kaku. “Kau memikirkan sesuatu? Ayolah… Ceritakan padaku.”

Heechul meremas tangan Hangeng yang melingkar di perutnya. Ia berpaling, rautnya mengerut memelas dan sesaat mutan itu tampak sedikit ragu.

“A-apa Mast— Ch-Choi Siwon akan di penjara?”

“Tidak.”

Heechul tercekat. Mutan itu memandang Hangeng dengan mulut menganga. Tidak menyangka akan mendapatkan jawaban pendek dan lugas itu. Jawaban yang cukup membuatnya kembali menundukkan kepala dan meremas tangan Hangeng erat-erat, seakan meminta perlindungan.

“Dia menebus dengan jumlah yang sangat besar, pengadilan akan memberinya kebebasan bersyarat. Ada apa? Kau masih takut?”

Heechul menjawab dengan gerak tubuhnya, ia beringsut makin rapat ke belakang meski punggung kursi itu menghalangi keduanya. Heechul menyandarkan kepalanya erat-erat di tengkuk Jaksa muda itu.

Membaca dan mengerti pada semua isyarat itu, Hangeng segera memeluk Heechul.

“Dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Mereka mengeluarkan uang yang sangat banyak, terlalu banyak untuk dibuang begitu saja. Aku tidak yakin Choi Siwon itu akan membuang lebih banyak uang dan mengorbankan kebebasan bersyaratnya demi mengusikmu lagi.”

Penjelasan itu tetap tidak cukup, Hangeng bisa merasakan tubuh mutan itu menegang dan suara isak perlahan terdengar mengisi kesunyian diantara mereka.

Hangeng tahu itu bukanlah saat yang tepat, tapi kini tidak ada perasaan lain di dalam hatinya selain hasratnya untuk menunjukkan diri di hadapan mutan ini. Ia ingin muncul sepenuhnya dan menunjukkan betapa seluruh kekuatannya akan mampu melindungi Heechul.

“Heechul-ah… menikahlah denganku.” Hangeng meremas tangan Heechul. Merasa nyeri mengikis hatinya saat mutan itu justru menjawab lamarannya dengan isak tangis.

“Aku akan mengasuh anak ini seperti anakku sendiri. Kita akan membesarkannya berdua. Kau mau, kan?”

Heechul tetap tidak menjawabnya, dan setelah itu Hangeng tidak mencoba menekan mutan itu lagi. Ia hanya memeluk tubuh ringkih itu erat-erat dan meremas tangan dingin Heechul. Meskipun Heechul tidak menanggapinya sejak tadi, Jaksa muda itu ingin bertahan disana lebih lama, berlutut merengkuh Heechul sedekat itu darinya.

‘Apa aku bersikap terlalu agresif?’ Hangeng melonggarkan pelukannya, hatinya diselubungi kekhawatiran dan rasa bersalah. Tidak seharusnya ia bersikap terburu-buru seperti ini. Namun untuk sesaat tadi, Hangeng merasa kehilangan kendali dirinya. Pria itu ingin menyingkirkan tangannya dari tubuh Heechul, namun saat ia bermaksud melakukannya Heechul justru meremas lengannya dan melingkarkan tangan panjangnya di depan dada, membuat Hangeng terkekeh tanpa suara. Gemas melihat sikap Heechul yang terus berubah-ubah. Terkadang begitu waspada, terkadang juga begitu luluh dan mengharapkan sentuhannya setiap saat.

Heechul berjengit saat suara dering menyela keheningan mereka. Hangeng melepas sebelah tangannya dari cengkraman Heechul dengan perlahan, dibukanya flip ponsel itu sembari menjawab salam dengan suara pelan. Tapi begitu kalimat di sebrang sana menggema ke dalam telinganya, Hangeng menggeser posisinya berlututnya. Keningnya bertaut sembari mengangguk-angguk.

“Apa ayahnya tahu? Oh? Ok. Ok. Biar aku saja yang menjemputnya. Bilang pada orangtua Changmin untuk tidak menghubungi ayahnya dulu. Tunggu sampai aku datang.” Hangeng menghela napas berat. Diliriknya Heechul khawatir, pria itu berusaha menyembunyikan perasaannya dan memasang senyum manis saat Heechul memandangnya kaku. “Aku segera kesana. Ok. Ok. Ne. Bye.” Hangeng menutup flip ponselnya, tanpa melepas kontak matanya dari Heechul, pria itu menurunkan Heechul dari pangkuannya.

“Aku harus keluar sebentar. Sepupuku berkelahi di sekolah dan masih ditahan gurunya sampai sekarang. Kyuhyun, kau sudah lihat fotonya, kan?”

Heechul mengerutkan keningnya. “T-tapi ini sudah malam…”

“Ya, dia menolak menghubungi ayahnya karena itu gurunya menahannya sampai semalam ini.” Hangeng mendesah saat melirik arloji di tangannya. Sekarang pukul 8 malam, waktu yang terlalu larut untuk anak seusia Kyuhyun masih berada di sekolahnya. “Kau jangan kemana-mana. Kalau kau butuh sesuatu, tolong panggil pelayan saja.”

Heechul menolak memalingkan wajahnya, mata hitamnya awas mengikuti setiap gerakan Hangeng seakan enggan membiarkan pria itu pergi, namun juga tak bisa mengungkapkannya.

“Tidak apa, kan?” Hangeng seakan mengerti, ia berbalik lagi dan membungkuk mengusap pipi Heechul. Lama ia tidak mendapatkan jawaban, hingga Heechul memasang senyum memaksa dan mengangguk lamat-lamat. Hangeng mendesah lega, awalnya berniat untuk tetap tinggal jika Heechul tidak menginginkan kepergiannya, Yesung dan Zhoumi bisa mengurus Kyuhyun jika ia memintanya.

“Aku sudah mengaktifkan ponsel di atas meja nakasmu. Berteriaklah kalau kau butuh sesuatu.”

Cup.

Heechul mendongak dengan mata tertutup. Hangeng baru saja meninggalkan satu kecupan tipis di atas bibirnya. Sentuhan pria itu terasa begitu lembut, seakan-akan seringan udara, namun Heechul tetap mampu merasakannya. Tangannya yang besar dan halus mengusap keningnya sayang. Lama Heechul terlena, hingga saat ia membuka matanya, Hangeng sudah menghilang dari pandangannya.

Heechul terkesiap, ia bangun tergopoh-gopoh dan berdiri di depan jendela. Di bawah sana, dilihatnya mobil Hangeng melesat pergi.

Mutan itu mendesah sembari memeluk perutnya. Kini mutan itu menyesalinya, andai saja ia berani melarang kepergian Hangeng…

Heechul terus berdiri di depan jendela, menatap ke bawah berharap dalam beberapa detik Hangeng akan kembali. Mutan itu merenung jauh, berniat menunggu kepulangan Jaksa Mudanya dengan berdiri disini. Semoga seperti ucapannya, Hangeng tidak pergi lama.

Dan seakan menjawab doa dalam hatinya, beberapa menit kemudian gerbang depan mansion Han kembali terbuka. Heechul memekik tanpa suara, ia berjingkrak senang dan mengerat bingkai jendela dengan bersemangat. Tapi bukan mobil Hangeng yang baru saja masuk. Tiga buah van hitam berhenti di halaman mansion Han dengan derit kasar.

Heechul disergap rasa khawatir saat dilihatnya empat penjaga di pintu depan berlari-lari menghampiri tiga van itu. Ia tidak mampu menangkap obrolan antar penjaga itu, namun melihat gelagat kasar mereka. Sepertinya ketiga van di bawah sana masuk tanpa izin.

Tidak sempat terjadi negosiasi. Karena begitu pintu van dibuka, suara letupan senjata api terdengar memecah keheningan malam.

Heechul berjengit, sontak berlari menghindari jendela. Mutan itu buru-buru mengunci pintu kamarnya dan bersembunyi di dalam lemari. Heechul menggigit bibirnya, ia membekap mulutnya saat satu dua isak lolos tanpa tertahan dari sana. Sekujur tubuhnya gemetar. Disini di hadapannya, mimpi buruknya seakan diputar ulang.

Bahkan dari balik pintu lemari yang terutup ini, Heechul bisa mendengar rusuh keributan yang terjadi di bawah. Lalu derap-derap kaki kasar mendekat, suaranya berubah kuat. Tepat di luar pintu kamarnya.

“Aku melihatnya dari jendela kamar. Dia pasti ada di lantai ini!”

Heechul membekap mulutnya makin kencang.

“Dobrak semua pintu yang terkunci. Periksa kamar mandi, kolong kasur, dan lemari. Mutan itu cukup ramping untuk bersembunyi di tempat tempat kecil.”

Heechul menggigit tangannya, hampir tidak tahan menghalangi suara tangisnya. Airmatanya meleleh tak terhentikan. Mutan itu mencoba mundur menyembunyikan diri makin dalam, di balik tumpukan pakaian yang terlipat dan menggantung. Tapi lemari sempit itu tidak membawanya kemana-mana. Dan suara dobrakan di pintu membuat Heechul tidak memiliki kesempatan lain kecuali untuk membeku di tempatnya.

“Ah, kacau. Padahal bos bilang jangan bunuh siapapun.” Suara itu begitu dekat, seakan berada di kamarnya. Suara langkah yang awalnya mendekat tiba-tiba kembali menjauh. Heechul membayangkan pria itu sudah berdiri di dalam, tapi kembali keluar untuk sesaat.

“Oi, Kang! Bawa semua mayat ke dalam van! Tinggalkan saja yang masih hidup, jangan diapa-apakan lagi! OI! KUBILANG JANGAN DIAPA-APAKAN!”

Suara hentakan itu menjauh. Lalu menghilang total. Heechul menghela napas lega dan menurunkan tangannya saat tiba-tiba pintu lemarinya dibuka lebar.

“Disini kau, Choi Heechul.” Sosok tinggi berseragam hitam berdiri di hadapannya, pria yang mengenakan masker dan helm tentara itu menenteng senapan panjang yang diarahkannya tepat ke kepala Heechul.

Suara itu berbeda. Ia baru menyadari bahwa lebih dari satu orang yang berdiri di kamarnya sejak tadi!

“Yooseok-hyung! Aku menemukannya!”

Heechul gemetar, bibirnya menganga terbuka namun tidak ada sepatah katapun yang mampu keluar dari sana. Pria itu membungkuk ke arahnya, lalu menarik lengannya dengan kasar dan membantingnya keluar.

“AKH!” Heechul memekik kesakitan, kontan memeluk perut untuk melindungi bayinya dari hentakan.

Yooseok muncul di depan pintu. “Hei! Hei! Bos bilang tidak boleh melukainya!”

“Ah, berisik.” Hyunjae bermaksud menarik rambut Heechul saat tangan Yooseok menyelanya.

“Hyunjae! Biar aku yang urus dia!” Yooseok memasang badan di depan Heechul, pria itu mendengus bengis sebelum Hyunjae bermaksud menentangnya lagi.

“Ah, kau selalu mengusik kesenanganku, hyung!” Hyunjae menggerutu meski menurut dan melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Yooseok berdua bersama Heechul.

Heechul masih terduduk gemetaran, giginya gemertak beradu dan matanya menatap nanar. Pemikiran untuk melompat dari lantai ini sempat melintas di kepalanya, tapi sepasang kakinya tidak berkompromi. Heechul bahkan tidak mampu berdiri menopang dirinya sendiri.

“Sekarang jangan memberontak atau ini akan terasa lebih sakit.” Pria itu berjongkok di hadapannya, ia menenteng sapu tangan separuh basah yang ditodongnya di depan wajah Heechul.

Heechul membuka mulutnya, ingin memekik, tapi pria itu buru-buru membekap mulutnya menggunakan sapu tangannya. Harum mawar menyergap hingga ke kerongkongannya. Heechul mendelik berusaha memberontak, mati-matian ia mencengkeram tangan yang tengah menutup mulutnya itu. Tapi perlahan, energi tubuhnya seakan menguap. Heechul terbungkuk lemas, hal terakhir yang dilihatnya adalah sepasang mata cokelat yang tengah menunduk memandangnya datar.

.

oOoOoOo

.

Heechul terbangun dalam tekanan berat, ia mengerjap tiga kali dan secepat itu pula pelupuknya tergenang oleh airmata. Aroma obat menguar kuat dan suasana familiar yang mengerikan ini segera membuatnya tersadar. Heechul ingat dengan jelas hal terakhir yang dilihatnya sebelum ia jatuh pingsan.

Yoon Yooseok. Bodyguard Choi Siwon yang tiba-tiba muncul di dalam kamarnya.

Heechul tersedak. Ia memaksakan diri untuk duduk tanpa peduli pedih yang menjalar di sekujur tubuhnya. Dan sakit itu berpusat di perut…

Mutan itu terkesiap. Ia melayangkan tangannya ke perutnya dan segera merasakan kedataran yang menyesakkan dada. Mulutnya mengatup dan terbuka, genangan yang sejak tadi terjaga di pelupuk matanya perlahan meleleh melintasi pipi dan menetes di bawah dagunya.

“Akh.” Heechul tercekat, tangisnya keluar pendek dan sedak.

“Kenapa tersedu begitu, sayangku?” suara itu membuat Heechul sontak mendongak, dan sosok yang berdiri di depan pintu kontan membuatnya melotot seraya meremas perutnya. Sakit yang merembes menembus jubah pasien yang dikenakannya tidak sebanding dengan ketakutan yang membuncah di dadanya. Heechul tersedak, terisak, namun mati-matian ia menahannya.

“Kau jadi tidak cantik seperti ini.” Siwon berdecak sembari memasang wajah sedih, ia mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah Heechul, namun Mutan itu menampik tangannya dengan tergesa. Seakan sedikit saja sentuhan Siwon akan membuatnya semakin berdarah lebih dari ini.

“Dan jangan remas perutmu, lukanya masih basah. Aku tidak bisa mengembalikanmu kalau kau sampai lecet sedikit saja…”

“Ah!” Heechul ingin menjerit, namun suaranya tertahan di kerongkongan. “B-bayiku? Dimana bayiku!” Heechul membungkuk, menahan pedih luka yang makin basah di bawah perutnya. Ia menarik kaus Siwon sekuat tenaganya, mengumpulkan segala keberanian untuk bertahan sedekat ini dari mantan majikannya. Heechul tidak kuat membayangkan bayinya berada jauh darinya. Lahir tanpa sepengetahuannya, dan yang terburuk, kini berada di bawah genggaman Siwon. “K-Kembalikan bayiku C-Choi Siwon.”

“Hm? Biar kuingat-ingat, hmmm.” Siwon mengangkat alisnya, ia mengerutkan keningnya seakan berpikir keras. Lalu posisi berdirinya berubah santai, Siwon mengendikkan bahunya tidak peduli. “Well, aku bahkan tidak ingat apakah dia keluar utuh atau pecah belah dari perutmu.”

“K-Kau— Kau—” Heechul tersedak. Bibirnya gemetar, segemetar jarinya yang tengah menunjuk Siwon.

“Aku apa sayang?”

“K-kau! Aku akan menyeretmu ke penjara, Choi Siwon! Kembalikan bayiku! Kittenku!” Heechul berubah histeris, berusaha menarik Siwon dan memukul pria itu membabi-buta. Siwon di hadapannya justru tidak menyingkir. Pria itu malah mendekat, merengkuh tubuh Heechul selembut-lembutnya, tanpa mempedulikan tangan Heechul yang tidak berhenti menyerangnya dan bahkan tidak membuatnya berjengit sedikitpun.

“Sssh! Sayang, kau kenapa? Menyeretku ke penjara? Tapi aku tidak melakukan apapun.” Siwon berbisik lembut, ia mengecup pelipis Heechul dan tertawa senang saat mutan itu merespon perilakunya dengan menjerit. “Aku tidak melukaimu. Aku hanya melukai bayi kita.”

Heechul mendorongnya dengan sekuat tenaga, tapi Siwon bahkan tidak bergeming.

“Kembalikan bayiku Choi Siwon…” Heechul terisak makin pilu. Cengkraman tangannya di baju Siwon mengendur, meninggalkan sisa kusut yang diusap Siwon sembari tertawa.

“Aku tidak bisa melakukannya. Minho sudah membawanya ke ruang pembakaran. Kau tahu kan, apa guna ruangan itu?”

“C-CHOI SIWON!”

Siwon terkekeh senang, hatinya terasa meluap-luap karena dipenuhi oleh rasa kemenangan. Ia berbalik dan menatap lima dokter dan perawat yang sejak tadi berdiri menungguinya. Siwon melempar ekspresi datar pada mereka seraya berkata, “Robek lagi perutnya. Angkat rahimnya dan kirimkan organ itu padaku. Buat dia cacat seumur hidupnya.”

Heechul menjerit. Memeluk perutnya makin histeris. Darah yang merembes dari pakaiannya kini menembus dan membasahi lengannya yang putih pucat.

“Kalau sudah selesai, bersihkan semuanya dan telpon majikan barunya. Ia harus kembali dengan penampilan yang utuh.”

Siwon menyeringai. Ia berbalik lagi untuk terakhir kalinya. Penampakan Heechul yang membungkuk memeluk perut sembari menangis pilu itu menyenangkan hatinya. Meski tidak berhasil merebut kembali mutannya, setidaknya Heechul tidak akan pernah mendapatkan anak dari hakim bajingan itu.

“Kau ingin bebas, kan? Aku telah membebaskanmu. Tapi kau tidak boleh membawa apapun itu milikku. Dan bayi itu adalah milikku, Kim Heechul.”

.

oOoOoOo

.

“APA-APAAN CHOI MINHO! AKU MENYURUHMU MEMBUNUHNYA!” Siwon baru saja sampai di apartemennya, dan pria itu masih dibuat emosi lagi oleh kelakuan adik sepupunya. Ia sudah menyerahkan bayi Heechul kepada Minho, untuk dibawanya ke ruang pembakaran! BUKAN KE APARTEMENNYA! Lebih-lebih dalam keadaan hidup!

Minho berdiri melemaskan kedua kakinya, ia menggoyang-goyang tubuhnya untuk menjaga bayi di dalam gendongannya tetap tenang.

“BUNUH DIA SEKARANG JUGA, CHOI MINHO!”

Hyung! Kau tidak lihat! Dia bahkan lebih kecil daripada kucing sungguhan!” Minho memamerkan bayi itu ke hadapan Siwon, kulit-kulitnya masih mengerut sewarna merah muda, tubuhnya begitu mungil seakan belum siap lahir. Tapi Siwon tidak menunjukkan rasa simpatinya sedikitpun. Pria itu memandang adiknya geram dan menolak mati-matian melirik bayi dalam gendongan Minho.

“KAU GILA!”

Minho mencibir, ia menunduk sembari mengayun-ayun bayi dalam gendongannya. “Menyuruhku membunuh anakmu sendiri… Well, kau yang gila.” Bisiknya pelan, namun masih terdengar oleh Siwon.

“CHOI MINHO!”

Hyung, sudahlah. Tujuanmu sudah terlaksana. Heechul sudah kehilangan bayinya, rahimnya, hidupnya sudah hancur.” Minho mendesah, lelah bertengkar dengan Siwon. Di sisi lain, ia juga tidak ingin menyakiti bayi dalam gendongannya ini. “Membunuh bayi ini tidak akan memberimu apa-apa. Heechul sudah berpikir bayinya mati, apa tidak cukup? Dan lihat dia… dia bayimu. Darah dagingmu. Ugh! Bahkan cupingnya hanya sebesar jempolku… Uuuu, cute baby. Minho-samchon akan menjagamu, baby.” Minho memasukkan cuping kecil itu ke mulutnya, lalu berpura-pura menggigit menggunakan bibirnya. Ia mengusap-usap wajahnya ke kepala bayi itu, cuping mungilnya yang sewarna marun merunduk dan bayi kecil itu menggeliat senang sembari mencondongkan kepala mungilnya ke arah Minho. Suara kecil bahasa bayinya terdengar lembut dan pelan, begitu bersemangat mendapatkan seluruh curahan kasih sayang Minho. Dan Siwon tidak menyukainya. Mendengar atau melihatnya. Ia tidak menyukainya sedikitpun.

“CEPAT PERGI DAN BUNUH DIA CHOI MINHO!”

“Aku sudah berniat mengadopsinya hyung. Kau mau membunuhnya? Langkahi dulu mayatku.”

Siwon mengerang, “Tunggu sampai kakek tahu soal ini.”

Kalimat itu tentu saja membuat Minho melotot dan sontak berdiri tegap.

“Y-Yayayayayayaaaaa! A-aku hanya bercanda, hyung! Aku hanya berniat bermain-main sebentar dengannya! Nanti kalau sudah bosan aku akan membuangnya! Jangan ganggu kesenanganku, ish! Sudah sana pergi!”

“KAU YANG PERGI ANAK SIAL!” Berani-beraninya Minho mengusirnya dari apartemennya sendiri! “Kalau sampai kau tidak membunuhnya…”

“Aku memang tidak berniat. Membuang dan membunuh berbeda, kan?”

“CHOI MINHO!” Siwon mengepalkan tangannya, ia sudah mengangkatnya tinggi-tinggi bermaksud melayangkannya ke wajah Minho, namun Siwon menahannya. Kepalan tangannya gemetar. Siwon hanya berdiri kaku dengan kepalan tangan membeku di udara, tatapannya terkunci pada bayi yang kini memandangnya lekat. Bayi itu berkedip polos, dua tangannya menggenggam lengan Minho erat-erat. Kepalanya yang mungil bergerak lemas, lehernya tampak seakan-akan tidak mampu menopang kepala kecil itu. Dan entah kenapa, membayangkan kepalan tangannya menyentuh tubuh ringkih itu membuat Siwon gemetar.

“ARGH!” Siwon melayangkan kepalan tangannya ke arah lain. Ia melangkah kasar, menendang guci terdekat darinya hingga benda itu membentur dinding dan pecah berkeping-keping.

PRANGGG!

Minho tersentak, bukan karena suara barusan, tapi karena bayi di dalam rengkuhannya berjengit kaget. Minho menggoyang-goyang gendongannya, panik melihat wajah itu mengerut makin merona. Beberapa detik kemudian, suara tangis bayi pecah di apartemen itu, mengimbangi ricuh keributan yang dibuat Siwon saat menghancurkan barang-barangnya.

“SIALAN KAU CHOI MINHO!” Siwon berteriak dari dalam kamarnya, membanting pintu dan suara-suara benda hancur lainnya terdengar bersusulan.

Bayi itu menjerit dan menangis makin histeris, Minho mendesah dan mengayun-ayun gendongannya berusaha menenangkan keponakannya. “Ssshh… Daddy bukan marah padamu, dia marah pada Samchon. Sssh…” bisiknya sembari mengecup kening bayi itu. Minho menunduk memandangi wajah mungil itu sendu. Melihat wajah keponakannya mengerut dengan airmata berlinangan, dan tubuh mungilnya terengah-engah, entah kenapa memercik rasa sedih aneh di hati Minho.

Poor… Poor baby.” Bisiknya lagi sembari mengecup pipi basah keponakannya.

.

oOoOoOo

.

Siwon berjalan sempoyongan. Pria itu memasuki gedung apartemennya dalam keadaan mabuk berat. Kemeja krem yang dikenakannya basah di bagian leher, kancing kemejanya yang berantakan terbuka hingga ke dada. Rambutnya kusut, tampak lengket dan tidak dibasuh selama berminggu-minggu. Wajahnya merona, antara berusaha menahan kewarasannya untuk berjalan lurus sekaligus mabuk yang menekannya hingga ke ubun-ubun.

Pemandangan Siwon yang berjalan bermaksud mencapai lift itu bukan hal bagus, beberapa orang yang berpapasan dengannya berjengit dan sontak menjauh. Mengenal betul siapa pria itu meski keadaannya mabuk berat. Wajah tampannya tampak jauh lebih mengerikan dari biasanya. Siwon melempar seringainya kesiapapun yang berpapasan dengannya.

“Hai! Halo!” sapanya pada orang yang baru saja keluar lift. Siwon melangkah maju, tampak seperti mencondongkan tubuhnya ke dalam lift. Di dalam sana, sepasang kekasih saling berpegang tangan dan memojok di lift dalam ketakutan. Siwon menyapa keduanya, dan kini berdiri menyandarkan keningnya ke pintu lift.

Pria itu tertawa-tawa sendiri, lalu bersendawa, dan tertawa lagi. Lalu secara tiba-tiba, tawanya terhenti. Menyisakan keheningan di dalam lift berpenghuni tiga orang itu. Dua orang di belakangnya gemetar ketakutan, dihadapkan dalam situasi senyap bersama Choi Siwon di dalam ruang sempit itu, tidak ada yang lebih mengerikan. Apalagi, perlahan Siwon memalingkan kepalanya, menatap datar pasangan di belakangnya.

Wanita itu hampir saja memekik namun kekasihnya merangkulnya erat.

“Lihat apa? Kau tidak tahu siapa aku? Bosan hidup, huh?”

Keduanya tidak menanggapi, pilihan terbaik adalah mengunci mulut hingga keberuntungan datang. Suara deting lift terdengar. Siwon menyingkir dari pintu lift dan kedua pasangan di belakangnya bergegas keluar.

“Mereka tidak menyapaku. Kurang ajar. Apa mereka tidak tahu siapa aku?” Siwon menggerutu, membiarkan pintu lift tertutup dan membuka kembali saat sampai di lantai yang ditujunya. Pria itu melangkah keluar sempoyongan, ia menopang tubuhnya dengan berpegang ke dinding, tapi memilih untuk berdiri dengan tenaganya sendiri saat orang lain muncul dan melintas melewatinya.

Keadaan ini sudah cukup memalukan untuknya. Sekalipun mabuk, Siwon sadar pada pandangan jijik orang-orang yang berpapasan dengannya. Ah, sepertinya berita itu sudah menyebar luas. Secepat api merambati ilalang.

Siwon tertawa suram.

Berita itu pasti sempat menjadi headline.

Choi Siwon. Salah satu pewaris Choi Corp, menjadi tersangka utama atas penyiksaan, penyuapan, dan terror.

Sekalipun seluruh keluarga besarnya membantu dengan menghentikan pemberitaan itu di media-media, tetap saja hal itu akan tersimpan di benak banyak orang.

Choi Siwon. Pembunuh, penyiksa, pemerkosa.

Siwon tertawa. Ia bukan hanya kehilangan mutannya. Ia juga kehilangan muka. Dan bahkan nyaris kehilangan posisinya di dalam silsilah warisan keluarga. Heechul datang dalam hidupnya hanya untuk membawa bencana. Kematian bukan sesuatu yang cukup untuk Heechul. Tapi Siwon kini bahkan tidak bisa menyentuhnya sedikitpun. Ia hanya merasa puas untuk beberapa jam setelah direnggutnya organ terbaik mutan itu. Organ yang mungkin bisa mengukuhkan posisi Heechul sebagai pelacur Hakim Han. Tapi kini dalam keadaan cacat tanpa mampu memberikan keturunan, apa lagi guna pelacur itu?

Siwon tertawa. Tapi secepat itu pula ia membungkam mulutnya. Memikirkan masa depan Heechul yang hancur tidak lagi memuaskannya. Ia ingin mutan itu mati. Dibakar atau terkubur hidup-hidup.

Siwon meraih kenop pintunya dan berusaha menggenggam dengan baik, agar detektor itu dapat memindai tangannya lebih cepat. Namun tiga kali pria itu gagal. Tangannya merosot tiap kali ia mencoba membuka pintu apartemennya. Hingga di percobaan yang kelima, Siwon berhasil membukanya.

Siwon mengharapkan suasana hening dan gelap apartemennya. Tapi alih-alih, ia menemukan apartemennya dalam keadaan terang, suara lembut bayi terdengar dari ruang tengahnya. Siwon mendelik.

“Choi Minho setan.” umpatnya seraya melangkah lebar-lebar. “Sudah kubilang untuk membunuhnya.” Desisnya lagi.

“CHOI MIN-” Siwon bungkam, tidak jadi berteriak. Ia mengharapkan adik sepupunya itu tengah berjongkok di depan sofa, menjaga seorang bayi. Tapi tidak ditemukannya siapapun disana, kecuali seorang bayi yang tengah meracau seorang diri. Dibiaringkan di atas sofanya dengan empat bantal melingkari tubuh mungilnya, menjaganya agar tidak terjatuh ke bawah.

Siwon mendengus. “MINHO!” Panggilnya tak sabar. Tapi bukan Minho yang meresponnya, bayi di atas sofa itu memekik seakan menanggapi panggilannya.

Siwon hanya melirik. Bayi itu membuka mulutnya, seluruh tubuhnya bergerak dan berjingkat setiap kali ia mengeluarkan suara yang menyerupai tawa, gusi-gusinya belum ditumbuhi gigi. Tapi kini dengan tubuh yang sedikit lebih besar, bayi itu sudah mampu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, seakan meminta untuk digendong, direngkuh, dan diayun.

Ini sudah lepas tiga minggu. Minho bermain-main terlalu lama, Siwon mulai kehilangan kesabarannya.

“Aku menyuruhnya membunuhmu, tapi karena dia tidak melakukannya…” Siwon berdiri di hadapan bayinya, ia menarik shot gun mungil dari belakang celananya dan diarahkannya tepat ke kepala bayi itu. “Akan kulakukan sendiri.” Bisiknya percaya diri. Pistolnya dilengkapi oleh peredam, tapi dengan mengarahkan ke kepala, Siwon akan menghancurkan kepala bayi itu dan serpihan daging serta otaknya akan berantakan kemana-mana. Karena itu Siwon menurunkan senjatanya, lebih dekat hingga menempel di dada kecil bayinya.

Ung?” Bayi itu menatapnya bingung. Tangannya masih terangkat, jari-jarinya meremas dan membuka seakan memohon untuk dipeluk.

“Kenapa, kau takut huh? Pengecut. Seperti ibumu.” Desis Siwon sembari melepaskan pengunci pistolnya.

Hanya sedetik, Siwon sudah siap menarik pelatuknya. Dan tiba-tiba, dua tangan mungil itu justru beralih menggenggam batang pistolnya.

Nya?” Bayi itu tertawa, dengan polosnya menarik shot gun Siwon dan membawa benda itu ke mulutnya.

Siwon menahan napas, jarinya yang berada di depan pelatuk tiba-tiba gemetar. Hanya sedikit lagi… Sedikit lagi. Semua yang perlu dilakukannya hanya menarik pelatuk itu… Tapi Siwon justru membeku.

Di ujung shot gun miliknya, hidung mungil tampak mengerut dan mengembang. Tiga minggu telah berlalu. Dan Siwon menyadari kulit merah bayinya telah berubah menjadi putih lembut. Dua cuping marunnya berdiri tegak. Pipi tembam itu bergetar tiap kali bayi itu membuka mulutnya. Bibir itu tidak pernah berhenti terbuka untuk tertawa, meski suaranya terdengar seperti tangis, bayi ini sangat jarang merengek kecuali saat ia lapar dan merasa tidak nyaman. Seluruh bagian tubuhnya, dari ujung cupingnya hingga ke bawah jempolnya… seperti replika sempurna Heechul dalam bentuk bayi. Hal itu yang membuat Siwon mematri dalam hatinya untuk segera membunuh bayi ini. Hanya melihat kesamaan mereka saja seakan membisikinya bahwa makhluk ini adalah makhluk yang sama dengan Heechul.

Tapi di sana… Sepasang mata bulat di bawah garis alis yang tajam, dan pupil cokelat yang lembut itu…

Itu bukan milik Heechul.

Mata itu miliknya…

Siwon selalu menolak melirik bayinya sendiri, tapi saat ini, ia seperti bertukar pandangan dengan dirinya sendiri. Siwon menelan ludahnya susah payah, jantungnya berdegup kencang, nadi di ujung jarinya berdenyut kuat.

Bayi itu tergelak makin senang melihat ekspresi tegang Siwon yang dianggapnya sebagai lelucon, berpikir bahwa sang ayah tengah bercanda dengannya, bayi itu menjilati ujung shot gun Siwon, membuat pria itu mengerat giginya.

Siwon menahan napasnya terlalu lama, dadanya sesak. Dengan kesal diubahnya arah shot gun itu dan dilemparnya benda itu menghantam dinding.

“ARGH!” ia bahkan tidak sanggup menarik pelatuk shot gunnya! Kini ia sudah sama pengecutnya seperti pelacur itu.

Siwon memekik kesal, ia membanting tubuhnya ke atas sofa, tepat di sisi bayinya. Suara tawa bayi tidak lagi terdengar, Siwon mengharapkan tangis pecah setelah keheningan sesaat itu. Tapi alih-alih, bayi itu kembali meracau dan menggapai-gapainya dari samping.

“Hoooo…” Minho terkekeh melihat Siwon diam di sebelah bayinya. Ia baru muncul dari arah depan, pemuda itu membawa sebungkus besar plastik berisi belanjaan. Ia mengedipkan sebelah matanya saat Siwon meliriknya bengis. “Sedang bercengkrama rupanya? Ah, aku mengganggu ya?”

“Kau mau mati? Cepat bawa makhluk itu pergi.”

Minho hanya tertawa menanggapinya.

“Kau masuk ke rumahku tanpa izin. Aku bisa melaporkanmu ke polisi.”

Minho bersenandung sendiri, jelas mendengar ucapan Siwon tapi ia tidak meladeni. Pemuda itu malah sibuk mengeluarkan isi belanjaannya dan menyusunnya di atas meja dengan telaten.

“Kalau kau ingin bermain jangan pakai apartemenku. Apa kau tidak sanggup menyewa perawat? Sewa satu dan berhenti menggangguku!”

“Aku mau sewa nanny, asal perawat itu diizinkan tinggal di apartemen ini.”

“Jangan gila!” Siwon berseru kesal.

Minho malah tidak menanggapi, ia tersenyum senang saat ditemukannya mainan yang dibelinya tadi. Dengan girang dibawanya benda bulat bertekstur lembut itu ke sofa. Sebuah replika wajah Winnie the Pooh, berbahan plastik elastis yang aman.

Nya!” bayi itu melonjak senang, sontak menarik benda itu ke dalam mulutnya. Ia mengunyah susah payah. Tidak memiliki gigi dan hanya mengandalkan gusinya, berakhir membuat wajahnya basah oleh liurnya sendiri.

“Na? Na! Na!” Minho menggoyang tubuh mungil itu, berusaha berkomunikasi secara asal, tapi tanpa diduga, bayi itu menanggapinya.

Nyaaaa! Nya! Nya!” bayi itu memekik senang, ia tertawa saat Minho mencium dua pipinya tanpa memperdulikan basah liurnya.

“Argh! Cepat bawa bayi itu keluar, Minho! Bawa saja pulang ke rumah!”

“Kakek bisa membunuhku kalau dia tahu soal bayi ini. Bisa-bisa dia mengira bayi ini anakku!”

“Biar saja orang mengira begitu.”

Minho menggerutu, kembali sibuk mengeluarkan dua kotak susu dan berbagai perlengkapan perawatan bayi lainnya. Selimut kecil, tissue kering, tissue basah, lima pasang kaus mungil, sabun bayi, sampo bayi, olive oil, bedak bayi, dan… Minho mendelik, ia menatap Siwon horror seakan bermaksud menyampaikan berita mengerikan. Hal itu sontak membuat Siwon terduduk tegap khawatir, menyangka Minho benar-benar akan menyampaikan berita buruk.

“Ah, syit. Aku lupa beli diapers!” Minho berdiri panik. Ia mengangkat bayi di atas sofa itu dan mengoper tubuh mungil itu kepada Siwon. “Pegangi dia sebentar, hyung!” ujarnya terburu-buru, pemuda itu bergegas mengenakan jaketnya lagi dan dalam hitungan detik sudah melesat keluar apartemen.

Siwon memutar kepalanya kaku. Kedua tangannya masih terangkat, menjaga posisi bayi itu dengan menahan ketiaknya. Wajah bayi itu cukup jauh darinya, tapi dengan penuh semangat bayi itu berusaha menggapai-gapai wajahnya.

Nya! Nyanya!

Siwon mendengus jijik, dengan panik diletakkannya kembali bayi itu di sampingnya. Siwon tidak mengembalikannya ke posisi aman di tengah-tengah seluruh bantal yang disusun Minho. Tidak menyangka bayi yang baru saja diletakkannya disisinya itu akan berguling ke arahnya.

Siwon menyingkir, ingin berada jauh-jauh dari makhluk kecil itu. Ia memang tidak berniat untuk melukai makhluk itu lagi, tapi Siwon juga tidak berniat untuk menjaganya. Saat Siwon mengubah posisinya, bayi itu tidak lagi mendapatkan penjagaan. Dan saat tubuhnya berguling bermaksud mendarat di sisi Siwon, bayi itu berputar terlalu jauh hingga separuh tubuhnya dari kepala hingga pinggang terjuntai ke bawah dan—

BUGH!

Siwon mendelik horror. Bayi itu jatuh berguling di atas permadani yang lembut. Tapi jarak setengah meter dari atas sofa dan lantai cukup membuat bayi itu menegang lalu menangis kesakitan. Tubuh mungil itu tegang di bawah sana, tangan dan kakinya terlipat kaku. Wajahnya merah sedang airmatanya mengalir deras. Siwon tidak cukup tuli, ia tahu tangis kencang itu menandakan tubuh mungil dibawah sana diserang sakit yang luar biasa. Tubuh mungilnya tidak mungkin sanggup menahan benturan sekuat itu. Terlebih dengan kepala dan bahu yang mendarat lebih dulu.

Tapi siapa yang peduli. Siwon mendengus, ia mengangkat dan memeluk kakinya. Namun suara tangis itu tidak juga berhenti, justru melengking makin kencang diselingi batuk-batuk memilukan.

Siwon mengatup kupingnya berusaha tidak peduli. Dan keberuntungannya datang. Minho kembali dengan langkah tergopoh-gopoh.

“OH GOD, HYUNG APA YANG KAU LAKUKAN!” Minho berseru panik, dilemparnya begitu saja plastik belanjaan yang ia bawa. Minho berlutut dan segera mengangkat keponakannya dari sana, dipeluknya tubuh mungil yang menangis tersendat-sendat itu. Minho mengayun-ayun tubuh mungil yang bersandar sepenuh hati padanya. Ia mengusap belakang kepala bayi itu dan berbisik berusaha menenangkan. Saat dilihatnya Siwon duduk melipat kaki sembari menutup telinganya, Minho tidak dapat lagi menahan amarahnya.

“KAU SUDAH GILA, HAH!”

Siwon mendelik, tidak percaya Minho baru saja membentaknya. “Berani sekali Choi—” Kalimat itu terpotong. Minho berseru dengan suara yang lebih lantang, pemuda itu berseru dengan nada yang belum pernah digunakannya.

Wajahnya merah menahan amarah, tangannya yang menahan punggung keponakannya mengepal kuat.

“AKU HANYA MENINGGALKANNYA LIMA MENIT DAN KAU HAMPIR MEMBUNUHNYA, GODDAMIT!” Minho mengumpat, mendelik, napasnya berubah kacau. Mendengar keponakannya menangis pilu dalam kesakitan tidak menolong amarahnya sama sekali.

“Kau baru saja membentakku, Choi Minho?” Siwon mendesis. Duduknya berubah tegap. Tapi pemuda itu jauh lebih marah darinya.

Minho maju dan berdiri di hadapan kakaknya, ia memutar bayi dalam pelukannya dan mengangkatnya tepat di hadapan Siwon. “KAU TIDAK LIHAT WAJAHNYA! DIA ANAKMU, CHOI SIWON!”

“Dia anak pelacur.” Siwon memalingkan wajahnya. Tidak sanggup melihat wajah merah dan mulut mungil yang tidak henti histeris sejak tadi. Ia mendorong perut bayi itu agar menyingkir dari hadapannya.

“KIM HEECHUL TIDAK ADA URUSANNYA LAGI DENGAN BAYI INI. KAU MEREBUT BAYI INI DARI IBUNYA, KAU AYAHNYA, BERSEDIA ATAU TIDAK KAU HARUS MERAWATNYA!”

“AKU MENYURUHMU MEMBUNUHNYA! BUKAN MEMAKSAKU MENGURUSNYA!”

“KAU AYAHNYA!”

“H-HUAAAANGGGGG!” Bayi itu memekik histeris, tubuhnya tegang dalam genggaman Minho. Berada ditengah-tengah pria tinggi yang saling meneriakinya membuatnya ketakutan.

“GAAARRRHHHH!” Siwon mengeram lalu berteriak, tepat di depan wajah bayinya hingga membuat tubuh mungil itu berjengit makin ketakutan. Pria itu sontak melompat ke samping sofa, ia berdiri dan memungut shot gun yang dilemparnya tadi dan kini diacungkannya pada Minho.

“BAWA DIA PERGI ATAU KUTEMBAK KALIAN BERDUA!”

Minho mendengus, ia memeluk keponakannya dan berbalik menendang kotak susu di dekat kakinya.

Shit. Harusnya aku tahu kau memang tidak waras.” Minho membuka pintu, ia menatap Siwon tajam untuk terakhir kalinya. “Jangan pikir aku akan membuangnya. Kau merebutnya dari Heechul, kau akan merawat bayi ini, hyung. Atau akan kukembalikan bayi ini pada ibunya.”

BLAM!

DARR! DARR! DARR!

Siwon menarik pelatuk shot gunnya berkali-kali. Pria bertubuh kekar itu memekik kesal. Suara letupan tertahan senjata itu terdengar samar, tapi suara pelurunya yang menghantam dinding bergaung kuat di dalam ruangan.

“SHIITTTTT!” umpatnya sembari melempar shot gun itu. Tidak puas dengan menembakkan seluruh isi pelurunya, Siwon beralih menghancurkan semua benda di dalam ruang tengahnya.

.

oOoOoOo

.

Pria muda berstelan rapi itu meletakkan berkas yang baru saja dibacanya sembari mendesah putus asa. Ia memijat keningnya, berusaha mengusir pening yang menyerangnya sejak berjam-jam lalu. Ia duduk di atas meja, di kantor utama Kepolisian Korea Selatan. Tidak lagi peduli perilakunya itu menarik perhatian orang-orang di ruangan itu.

“Kau tidak punya bukti lain? Aku butuh informasi dokter-dokter yang disewa oleh Choi Siwon.” Bagaimana mungkin pria itu membawa Heechul ke rumah sakit, mengobrak-abrik isi perutnya, lalu kabur begitu saja tanpa bukti, tanpa jejak, tanpa saksi.

Polisi muda yang duduk di belakangnya hanya menggeleng lemas, pria muda berkulit langsat itu bersandar lelah. Ikut menggaruk keningnya. “Aku sudah coba hyung. Itu rumah sakitmu, apa kau juga gagal mencari informasi mereka?”

Dua bahu Hangeng melemas turun. Ia tidak menggeleng, mengangguk, atau menjawab. Mungkin terlalu malu untuk menanggapi. Pria berperawakan pendek di sisinya merangkul Hangeng dan mengusap bahunya. Seakan ikut berbelasungkawa, tapi di sisi lain, ia juga tidak bisa melakukan apa-apa.

“Sudahlah hyung. Lembagamu hampir ditutup karena kasus yang kemarin. Kau memang menang, tapi kalian sama-sama terseok. Kumohon mengalah saja. Lagipula bayi itu anak dari majikan lamanya kan? Mayat bayi sekecil itu bisa dengan mudah disembunyikan. Kalau kau memaksakan mengangkat kasusnya, kau bisa kehilangan Heechul.”

Polisi muda yang duduk dikursinya itu ikut diam seperti Hangeng, seakan-akan ucapan Yesung barusan disetujuinya dalam hati.

“Kau tidak bisa memperlakukan kasus ini seperti sedang berjudi. Rumah sakitmu bukan taruhan. Lembagamu memang menang dan kau berhasil mempertahankannya. Tapi kalau sampai kasus yang ini berbalik menyerangmu, kau tidak hanya kehilangan rumah sakitmu, tapi juga lembaga perlindunganmu, bisnismu, hotelmu, semuanya!”

“Kau harus lihat keadaan Heechul.” Hangeng memang tidak menanggapi ucapan Yesung, tapi ia seakan masih bertahan dengan memberi alasan mengapa ia harus mempertahankan kasus ini.

Yesung menghela napas, ia bertukar pandang dengan Kangin sebelum kembali menatap Hangeng dengan prihatin.

“Pria itu membedah Heechul di rumah sakitmu. Entah benar-benar dilakukannya disana atau dia melakukannya di tempat lain dan meninggalkan Heechul di rumah sakitmu. Tapi tidakkah itu membuatmu takut, hyung?” Yesung berbisik, seakan tidak ingin ada telinga mendengar ucapannya. Tapi apa yang dikatakannya adalah benar. Hangeng harus mengakuinya. “Siwon melakukannya untuk menunjukkan kekuatannya. Dia menggunakan rumah sakitmu tanpa meninggalkan bukti, jejak, dan saksi? Tidak ada yang lebih mengerikan dari itu.”

“Kumohon hyung. Kau bisa buat bayi lain untuk menyembuhkan luka hati mutanmu.”

Kangin mengangguk lemah, setuju meski masih tidak rela melepaskan kasus ini dari genggamannya. Hangeng hanya menunduk, pandangannya berpindah kemana-mana. Seandainya dua adik sepupunya ini tahu apa yang baru saja terjadi pada Heechul. Bahwa bukan hanya bayi mereka yang direbut paksa…

“Kau sudah coba lewat Minho?” Kangin bersuara. Hangeng mengangguk sebagai tanggapan.

“Tapi bocah itu tidak mengangkat telponnya. Sudah kucoba sejak bulan lalu. Mungkin dia tidak berada di Korea, lagi.”

“Tidak ada cara lain untuk mencapainya?”

Hangeng menggeleng. “Aku bahkan tidak yakin anak itu bersedia membantu lagi. Dia mengkhianati marganya demi menolong kita. Aku tidak akan memaksanya lagi. Anak itu masih terlalu muda.”

“Begitu pula denganmu, dan dengan Heechul. Kalian masih muda hyung, Choi meninggalkan Heechul dalam keadaan utuh. Coba untuk mensyukurinya.” Kangin menimpali. “Aku tidak rela Heechul diperlakukan seperti itu, tapi ini permintaan pribadiku, hyung. Demi kebaikanmu dan kebaikan Heechul…” wajah pria bertubuh tegap itu berubah serius. “Menyerahlah, untuk kali ini saja.”

Hangeng melirik Kangin, tapi pria itu kembali menundukkan kepalanya, mulai luluh dan berpikir begitu jauh.

“Kita tidak punya bukti dan saksi. Bahkan tidak ada sejengkalpun. Tapi jika sekali lagi Choi macam-macam dengan kalian, aku sendiri yang akan menyeret mereka ke penjara.”

.

oOoOoOo

.

Pagi tampak ceria hari ini. Terlebih suasana di kawasan sekolah. Siswa-siswa berlalu lalang masuk ke pekarangan sekolah, bercanda tawa satu sama lain dan berlari-larian saling mengejar. Tapi jika ada seseorang yang melangkah lesu diluar alasan malas dan mengantuk. Maka Choi Minho-lah orangnya.

Pemuda itu melangkah lesu saat dirinya memasuki pekarangan sekolah. Bukan karena mengantuk, apalagi malas belajar. Ia berjalan enggan dengan kepala tertunduk karena bayi yang merekat di dadanya, terikat aman menggunakan tali gendongan berwarna biru muda. Tentu saja, pemandangan lain Minho hari ini menarik perhatian orang-orang. Siswa yang awalnya bercanda tawa berubah diam saat melangkah melalui Minho dari belakang.

Minho mengerti. Bagaimana tidak? Jika dirinya… Choi Minho. Siswa paling disegani, paling keren, jago olahraga, atlit sekolah, siswa teladan, paling dicintai oleh seluruh siswi-siswi… Kini harus datang ke sekolahnya sembari membopong bayi.

“Hahhh, aku masih terlalu muda untuk ini.”

Minho menggerutu, ia menunduk melirik wajah bayi yang kini mendongak dan memandanginya dengan mulut terbuka. Wajah mungil itu mengerut heran padanya dan hal itu membuat Minho tidak betah menggerutu berlama-lama. Minho mencubit pipi gembul itu dan menciumi keduanya bergantian. “Ah, untung kau manis! Hhhh!” Gemasnya sembari mencium kening bayi itu kuat-kuat.

Meski terkesan brutal, ciuman itu tidak membuatnya menangis, tubuh mungil itu malah melonjak kegirangan.

“Hai, Minho-sshi!” Minho mengangkat kepalanya mendengar sapaan itu. Empat orang gadis berseragam sekolah ikut berjalan bersamanya. Dilihat dari badgenya, Minho menebak mereka hoobae yang satu tahun dibawahnya.

“Hai… Hai!” sapanya dengan senyum manis dilebih-lebihkan.

“Itu benar-benar bayi? A-apa itu anaknya?” mereka berbisik-bisik satu sama lain. Minho mendengarnya. Saat ia melirik, salah satunya mendelik dan kembali berbisik-bisik.

Tidak mungkin! Tidak mungkin itu anaknya! Apa kau belum tahu sebaik apa Minho-sshi itu? Minho-sshi tidak mungkin punya anak di luar nikah.”

“Tapi siapa tahu, kan?”

“Dia keponakanku.” Minho buru-buru mengatakannya, sebelum bisik-bisik itu berubah makin sembarangan. “Aku kalah taruhan jadi ini hukuman kakakku.”

Keempatnya melongo kagum. “Hukuman yang keren sekali. Kau jadi makin keren, Minho-sshi. Ah, pasti kau akan jadi ayah yang baik nantinya ya!”

“Aku mau melahirkan anaknya!

“Gyaaaa!”

“Ah, ah! Wajahku panas membayangkannya.”

Minho hanya tertawa mendengar bisik-bisik keras itu. Ia menunduk, lalu melipat bibirnya dan memasang ekspresi lucu saat dilihatnya wajah keponakannya begitu kebingungan. Wajar saja, ini pertama kalinya ia membawa keponakannya keluar menemui manusia lain selain dirinya dan Siwon.

“Ah, ini ruang kelasku. Aku permisi dulu, Aggasshi.” Minho memasang senyum manisnya lagi, ia melambai-lambai pada empat gadis itu sebelum melangkah masuk ke kelasnya.

Dan sialnya, sudah banyak orang berkumpul disana. Termasuk guru matematikanya, seorang wanita tinggi yang masih berusia tiga puluhan. Kontan saja Minho menarik perhatian semua mata.

Minho berjalan gugup, pemuda itu menopang tubuh keponakannya dengan sebelah tangan. Lalu ia menggaruk tengkuknya malu.

“A-apa ini Minho-sshi?” Wanita itu terperangah, dipandanginya Minho dan bayi itu bergantian.

“I-ini bayi, Yeun-saenim.” Minho menjawab lugu, ia melempar senyum canggung pada seluruh temannya. Kelas itu begitu hening, hampir-hampir membuatnya ingin kabur saja.

“Maksudku kenapa kau membawa bayi?”

“Ini keponakanku, Saenim! Orangtuanya sangat sibuk dan kami tidak punya sanak keluarga lain jadi aku terpaksa membawanya karena tidak ada yang bisa menjaganya. Keponakanku baru belajar merangkak jadi aku khawatir akan sangat berbahaya jika dia ditinggalkan sendirian di rumah.” Alasan itu meluncur berentet dari mulut Minho. “Kumohon, izinkan aku membawanya hari ini saja. Dia anak baik, tidak pernah rewel dan tidak gampang menangis! Aku akan segera keluar kalau keponakanku menangis! Please, saenim, pelase?

Wanita itu menelan ludah susah payah. Minho terkenal sebagai siswa tertampan di sekolah ini. Tapi dihadapkan secara langsung dengan pemuda itu di kelas ini, berdiri memohon padanya dengan raut memelas dan tangan mengatup… Belum lagi paras mungil bayi itu yang ikut memandanginya seakan menuntut izin juga darinya, hati guru muda itu kontan ketar-ketir.

“U-uh. O-Ok. Sekali ini saja Minho-sshi. Duduklah.” Jawabnya seraya berdehem. “Ok, kita mulai saja kelas hari ini.

Minho memasang senyum lebarnya, merasa menang karena wajah teman-temannya berubah lebih ramah padanya. “Hai, Taemin.” Sapanya pada teman yang duduk di sebelahnya.

Taemin hanya memandanginya, belum melepas raut herannya seraya menggeleng-geleng saat Minho meraih pensil dari atas mejanya.

Minho duduk berhati-hati agar tidak menekan keponakannya yang menggantung tenang di antara meja dan tubuhnya. Dan kelas hari itu, tanpa terasa dilaluinya dengan mudah, berbanding terbalik dengan prediksi buruknya.

.

oOoOoOo

.

“Siapa namanya?” Taemin bertanya siang itu. Ia dan Minho memang biasa pulang bersama, karena menurut pengakuan Minho, jalan rumahnya searah dengan rumah Taemin. Tapi setiap kali Taemin bertanya dimana, Minho belum pernah memberikan jawaban yang jelas. Sekarang, perjalanan pulang mereka didampingi oleh seorang bayi yang sejak tadi beradu pandang dengannya.

Baby-ah.” Minho menjawab sembari tersenyum.

“Hah?”

“S-sebenarnya dia belum punya nama.” Minho meringis, lalu menggaruk tengkuknya. “Dia masih sangat muda, ayah ibunya sibuk jadi belum sempat memberi nama.”

Taemin melongo mendengarnya, ia memasang wajah ‘Yang benar saja?’ membuat Minho makin terkekeh karena gugup. Taemin tidak memperpanjang masalah ayah-ibu-sibuk-lupa-memberi-nama itu, kini pemuda berparas cantik itu kembali memandangi wajah bayi dalam dekapan Minho. Entah kenapa merasa familiar dengan wajahnya.

“Apa orangtuanya orang terkenal?”

Minho tertawa gugup. “Aku berharap orangtuanya terkenal, sayangnya tidak.” Jawabnya kaku.

“Kurasa dia kepanasan, Minho-yah.” Taemin memandang dengan khawatir, sejak pagi bayi mungil itu mengenakan tudung kepala berbahan syal yang tebal. Ini bukan musim dingin, dan kening bayi itu bahkan sudah deras oleh keringat.

“Ah, kepalanya botak. Jadi kupikir akan lebih panas kalau topinya dibuka, HAHAHAHA.” Minho tertawa seraya memalingkan wajahnya, menggigit bibir tidak kuasa memikirkan dusta yang baru saja meluncur dari bibirnya.

“Kurasa topinya perlu dilepas saja.” Taemin berujar, tanpa izin langsung menarik tudung kepala bayi itu yang sontak membuatnya tercenung. Tanpa mengatakan apapun lagi, Taemin buru-buru mengembalikan tudung itu ke tempatnya semula. Ia merapikan posisi tudung itu sebelum mendongak horror pada Minho.

Minho juga tidak kalah tegangnya, pemuda itu sempat terdiam tanpa kata-kata, terlalu kaget untuk bereaksi.

“M-maaf.” Taemin memasang wajah memelas, benar-benar merasa bersalah. Ia mengusap pipi keponakan Minho sebelum melirik kesana kemari. Jalanan begitu lenggang. Ada dua tiga orang yang berjalan di belakang, tapi beruntung tubuh mungil itu tertutup oleh tubuh besar Minho. “A-Aku yakin tidak ada yang lihat!”

Minho menggigit bibirnya, ingin marah namun tidak kuasa. Akhirnya pemuda itu hanya meringis, memegangi tudung keponakannya sembari ikut mengawasi kesana-kemari.

“Maafff! Maafkan aku, maafkan aku!” Taemin masih merasa bersalah, perbuatannya barusan benar-benar membuatnya kaget, dan Minho pasti jauh lebih kaget darinya.

“Kurasa juga tidak ada yang melihatnya, tidak apa-apa Minnie-ah.” Minho tersenyum, tapi itu lebih tampak seperti ringisan. “Kuharap kau tidak memandangnya berbeda.”

An-Andwae! Tentu saja tidak akan!” Taemin menggeleng panik. Pemuda itu menunduk dan menghela napas prihatin. “Aku jadi mengerti kenapa dia belum punya nama. Apa orangtuanya bermaksud membuangnya? Aku sering dengar berita bayi mutan yang digugurkan atau dibuang hidup-hidup ke sungai, tapi dia sangat cantik. Kalau cukup cantik katanya mereka akan dijual lagi.” Taemin mendesah, ia mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi gembul itu. Sesuai ucapan Minho, bayi ini sangat tenang. Bahkan tidak mengeluarkan airmatanya sedikitpun sejak pertama mereka bertemu.

Minho tergagap mendengar penuturan Taemin. Seakan ditohok tepat di dada. Pemuda itu menggoyang-goyang bayi dalam gendongannya dan tertawa untuk mengusir rasa gugupnya.

“J-jangan salah paham! Kakakku ayahnya, dia sangat sayaaaang pada baby-ah. Saking sayangnya dia pernah hampir membunuhku gara-gara pernah menjatuhkan baby-ah.” Minho dengan mudahnya memutarbalikkan cerita. Bayi di gendongannya menatapnya tajam seakan bayi itu mengetahui kebohongannya. “Dia saaayangggg sekali pada baby-ah. AH-HAHAHAHA!”

“Jieun-ah.” Taemin tiba-tiba berujar.

“Hah?”

“Song Jieun. Idolaku yang paling cantik. Kau tahu? Kurasa nama itu cocok untuk baby-ah.”

“H-hah?” Minho melongo. Langkahnya berhenti saat Taemin juga berhenti, tepat di depan gerbang rumah yang dicat hijau.

“Ah, ini rumahku. Sampai jumpa besok, Minho-yah! Jieun-ah!” Taemin melempar senyumnya sebelum berbalik memunggungi Minho dan masuk melewati gerbang. Entah sudah berapa ratus kali mereka pulang bersama dan Taemin belum juga menawarinya untuk mampir.

Tapi tidak apalah, sudah mau diajak pulang bersama pun sangat membuatnya senang.

“Jieun? Kau dengar itu chagi? Nama itu untukmu, dari calon tantemu.” Minho tertawa bangga, ia mengencangkan tali gendongannya sebelum melanjutkan perjalanannya sembari bersiul gembira. Mobilnya terparkir tak jauh dari sini.

.

oOoOoOo

.

Siwon menggeliat, matanya terpejam rapat. Rasa kantuk menguasainya tapi ia juga tidak bisa mengabaikan panas ruangan yang tiba-tiba meningkat. Pria itu mengubah posisi tidurnya dengan risih. Untuk satu menit Siwon berbaring tenang, tapi ia tidak sanggup lagi menahan panas ruangan itu, sembari mendesah kesal Siwon membuka kausnya hingga pria itu berbaring bertelanjang dada. Tubuh atletisnya basah berkeringat, dadanya yang bidang naik turun tidak nyaman. Bahkan setelah membuka kausnya Siwon masih merasa sepanas ini? Apa AC di kamarnya mati?

Siwon mengerang kesal. Pria itu membuka matanya dan mendengus saat dilihatnya lampu AC di pojok atas dinding kamarnya tidak menyala. Bagaimana mungkin benda itu bisa mati tiba-tiba?

Siwon mencatat dalam kepalanya untuk memaki pengurus apartemen ini. AC tiba-tiba mati padahal ia baru saja membeli unit baru apartemen ini dan menempatinya selama dua minggu.

Pria itu menyusun kata-kata terkasarnya untuk pengurus apartemen itu nanti sembari tangannya meraih-raih ke sisi tempat tidurnya. Seingatnya ia meletakkan remote AC itu di atas tempat tidurnya, di dekat bantal. Siwon menggapai lebih jauh sementara pandangannya menerawang ke atas, tapi bukannya meraih benda yang diincarnya, sesuatu menyentuh lengannya tiba-tiba. Benda itu bergerak, dan bersuara.

Siwon memalingkan wajahnya dengan horror. Di sana, di sisinya berbaring makhluk itu.

Seorang bayi. Tengkurap dan memandangnya dengan tampang mungil yang serius.

“HUAHHH!” Siwon melonjak kaget. Sontak beringsut mundur hingga ia jatuh dari tempat tidurnya sendiri. Hal itu malah membuat putrinya tertawa, bayi itu berguling di atas tempat tidur dan berpaling memandangi ayahnya tanpa menghentikan gelak bahagianya.

“Nya?”

B-Bagaimana?

Bagaimana makhluk ini ada disini!

Siwon mendelik, berdiri kaku di sisi tempat tidurnya. Tubuh mungil itu sontak diam, berhenti tertawa saat Siwon mematung memandanginya. Bayi kecil itu seakan bermaksud membalas tatapan ayahnya, ia melemparkan raut serius yang sama. Kening mungilnya bahkan ikut bertaut saat Siwon melakukannya.

Siwon mengerang. Ia melirik ke pintu kamarnya dan menyadari pintu itu terbuka. Minho pasti ada disini. Dan bocah tengik itu yang mematikan AC kamarnya.

“Padahal aku menyuruhnya untuk membunuhmu.” Siwon berbisik, tatapannya tak lepas dari tubuh mungil yang tergeletak telentang di atas tempat tidurnya. Tiba-tiba sebuah bisikan jahat melintas di otaknya. Siwon naik ke atas tempat tidurnya, pelan-pelan, ditangkupnya telapak tangannya yang besar ke atas mulut dan hidung bayinya. Wajah semungil ini, Siwon hanya perlu membekapnya beberapa menit dan ia pasti akan segera mati.

“Mati kau makhluk kecil.” Siwon mendorong tangannya lebih kuat. Kulit lembut di bawah telapak tangannya terasa kenyal, Siwon mengusir perasaan berdesir di hatinya dan membekap putrinya sendiri. Ia mengusir rasa aneh yang melintas di dadanya saat bayi itu menatapnya dengan mata bulat yang besar.

Sedikit lagi. Sedikit lebih kuat lagi. Siwon membisiki hatinya sendiri. Tangannya yang mengatup itu bergerak pasti, hingga tiba-tiba benda basah dan kenyal menyapu telapak tangannya.

“HYAAHHH!” Siwon terlonjak kaget. Suara gelak tawa bayi memenuhi ruangan. Siwon kembali mundur dan berdiri tegang, memegangi tangannya seakan-akan pisau baru membelah jari-jarinya. Ia menatapi jarinya dan balik menatap bayi itu menjulur-julurkan lidah mungilnya. Bayi itu begitu girang dan terus-terusan mengulurkan tangannya, meminta kembali tangan Siwon diletakkan di atas wajahnya.

“Kau ini kannibal, ya! Huh!” Siwon tergagap, pria itu mundur dua langkah, seperti melihat monster sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Bayi itu masih mengulurkan lidahnya, mengulurkan ke pinggir bibirnya seakan berusaha menjilat sesuatu. Siwon menatapnya terheran-heran, tapi kelakuan bayi itu justru membuat Siwon tertarik untuk mendekat.

Pria itu duduk di pinggir tempat tidur, tetap memberi jarak aman dari bayinya. Tapi tiba-tiba pula, bayi itu menghentikan kegiatan kecilnya. Mata mungil itu kini terfokus pada pria besar yang duduk sedikit jauh darinya. Wajah mungilnya mengerut serius, kakinya terlipat dan melengkung ke bawah, dua tangannya mengepal.

“Kenapa kau berhenti?” Siwon tidak mengerti, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. “Kau mencari sesuatu kan? Mencari apa, huh?” Suaranya berubah lembut.

Siwon mengulurkan telunjuknya, tanpa ia sadari ia sudah menempelkan telunjuk itu di sisi bibir mungil bayinya. Dan sesuai prediksinya, bayi itu menolehkan wajahnya mengikuti sentuhan Siwon.

“H-Huh?” Siwon terkekeh, takjub. Ia menarik jarinya turun ke dagu, dan bayi itu mencoba mengangkat kepalanya agar lidah mungilnya dapat meraih jari Siwon. Saat Siwon menariknya lagi ke sudut bibirnya, bayi itu tetap mengikutinya, menolehkan kepalanya dan mengulurkan lidahnya. Namun lidah kecil itu tidak mampu mencapai jari Siwon yang diletakkan empunya di jarak aman, di tengah pipinya.

Siwon memandangi wajah mungil yang putih seperti ditepungi. Tubuh itu juga menguarkan harum segar. Apa Minho sudah memandikannya? Harumnya terasa begitu berbeda, Siwon belum pernah mencium aroma semenenangkan ini. Aroma seorang bayi.

Tunggu. Bagaimana Minho memandikannya? Darimana bocah itu belajar?

“Apa yang kau lakukan, hyung?”

Siwon segera menarik jarinya. Ia beringsut mundur menahan malu. Semoga Minho tidak memergoki kelakuannya barusan. “Aku berusaha membunuhnya, dan kau datang mengganggu.”

Minho hanya bersungut. Tidak akan mengatakan kalau ia melihat jelas apa yang dilakukan Siwon sejak pria itu bangun dari tidurnya. Ia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya baru saja memasang kamera tersembunyi di kamar ini, dari berbagai sudut yang disambungnya langsung ke ponselnya.

Siwon hanya diam memperhatikan saat Minho naik ke atas tempat tidurnya. Ia menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa takjubnya, saat adiknya melakukan hal yang sama yang dilakukannya beberapa menit lalu. Minho mengusapkan jarinya di pipi bayi itu, dan bayi itu menoleh mengikuti arah jari itu sembari menjulur-julurkan lidahnya.

“Ah, kau lapar ya? Tapi susumu masih panas, chagi. Lima menit lagi, ne?” ujarnya sembari mencium kening mungil itu dengan sayang. Siwon terperangah melihatnya, tiba-tiba tertarik untuk mengecup kening itu juga. Bukan karena apa-apa, tapi kulit itu terlihat lembut. Ia juga ingin mencobanya.

Siwon terkesiap saat sadar apa yang baru dipikirkannya. Pria itu menggeleng panik lalu tersadar pada apa yang ingin diucapkannya tadi.

“Apa yang kau lakukan disini, Choi Minho!” sentaknya tiba-tiba galak.

“Aku dapat kunci apartemen barumu, tehehehe. Dari kakek!” Minho memasang cengir liciknya. “Mau apa kau? Protes pada kakek sana!”

Siwon mengerang, melempar bantalnya pada Minho. Pemuda itu hanya bersungut-sungut dan melempar balik bantal itu ke lantai, tidak berniat meladeninya. Minho malah memilih sibuk meladeni bayi itu, mengusap-usap pipi mungil itu dan tertawa senang setiap kali bayi itu mengikuti arah jarinya.

“Aah, kau tidak sabaran Jieunna. Lima menit lagi sayaaang.”

“Jieunna?” Siwon menaikkan alisnya.

“Jieun. Well, pacarku yang memberinya nama. Keren kan?”

“Selera pacarmu jelek sekali.”

“Yah, hyung!” Minho berseru tidak terima. Tapi Siwon malah tertawa-tawa. Pria itu bangun dari tempat tidurnya dan menarik handuk, bermaksud masuk ke dalam kamar mandi saat Minho lagi-lagi bicara.

“Moodmu sedang bagus, hyung?”

“Hn…” Siwon mengabaikan Minho, pria itu masuk ke dalam kamar mandinya untuk membasuh wajah dan menyikat giginya. Berharap saat ia keluar kamar mandi, dua makhluk itu sudah menghilang dari kamarnya. Tapi saat Siwon selesai, Minho masih berada di sana. Duduk memangku Jieun dengan botol susu di tangannya. Minho belum sempat menyuapkan ujung botol itu dan Siwon pun belum sempat memaki, saat tiba-tiba Minho bangun dengan panik setelah melihat angka yang membulat di arlojinya.

“Syit! Aku pasti terlambat!” Minho segera menyerahkan bayi itu ke dalam gendongan Siwon. Pria itu hanya mengenakan handuk di sekeliling pinggulnya. Dengan kebingungan ia menerima Jieun dan botol yang disodorkan paksa oleh Minho.

“Pegang, hyung! Berikan pelan-pelan saja. Jangan sampai Jieun tersedak, oke?”

“Y-Ya! Apa-apaan ini!” Siwon ingin menyodorkan dua benda itu kembali pada adiknya. Tapi Minho melesat cepat keluar dari apartemennya, meninggalkan Siwon yang tercenung dan Jieun yang memandang ayahnya sama bingung.

“Dia pikir aku akan melakukannya. Salah besar, monster kecil.” Siwon mendengus sinis, ia membawa Jieun ke atas tempat tidurnya dan meletakkan bayi itu begitu saja di sana.

“U-Ung?” Jieun memandang ayahnya makin bingung, tangannya terangkat menyangka Siwon akan meletakkannya sebentar saja. Perut mungilnya sudah bergetar tak nyaman dan ia membutuhkan makanan. Bayi itu berusaha meraih botol yang ada di tangan Siwon, namun pria itu justru meletakkannya di meja nakas, jauh dari pandangan kecil Jieun.

Jieun menatap ayahnya menuntut, saat Siwon tidak membalas pandangannya, wajah kecilnya mengerut kesal, bibirnya gemetar dan sedetik kemudian…

“HWAAAANGGGGG!” tangis melengking pecah di ruangan itu.

Siwon melirik putrinya sebentar, lalu menyeringai. Ia membuka laci nakasnya, mengeluarkan sepasang headset wireless dari sana.

“Aku sudah punya alat ini.” ujarnya sinis sembari memasang headset itu. Siwon menyalakan musik di ponselnya dengan volume maksimal. Suara tangis Jieun menghilang seketika. Siwon tertawa menang. Ia melirik ke samping tapi tawa kemenangannya menghilang.

Jieun tampak seperti menangis tanpa suara. Wajah bayi itu memerah, kakinya terangkat tinggi dan tangannya mengepal kuat. Dada mungilnya bergerak tergesa, naik turun seakan napasnya tengah mengiringi tangisnya. Airamata yang mengalir deras itu hampir-hampir tampak sebesar bulir hujan, menyapu pipinya dan meninggalkan garis jelas di wajahnya yang sebelumnya ditepungi bedak.

Bahkan tanpa mendengarnya, Siwon bisa membayangkan tangis memilukan itu hanya lewat wajahnya yang merah dan tubuhnya yang gemetar. Siwon tidak tahan lagi melihatnya. Pria itu melepaskan headsetnya dan melempar ponselnya. Kebiasaan membanting barangnya belum juga menghilang.

“—AAAANGGGGGGGGG!” suara tangis itu kembali memenuhi gendang telinga Siwon.

“YAAAHHH! BAIKLAH-BAIKLAH! BERHENTI MENANGIS, WAJAH MENANGISMU LEBIH MENAKUTKAN DARI HANTU!” Siwon meraih botol susu di meja nakasnya dan menyumpalkan ujungnya ke dalam mulut Jieun.

Tangis memekakkan telinga itu sontak redam. Jieun masih terisak, tapi kini mulut kecilnya sibuk menyesap susunya dengan sedikit tergesa. Lapar dan merasa malang, membuat airmatanya masih berlinangan tanpa suara. Bulumatanya basah dan meneteskan bulir tiap kali bayi itu mengedipkan matanya. Siwon mendesah melihatnya, diam-diam merasa bersalah. Ia memegangi botol susu Jieun sedikit lebih tinggi saat cairan kental itu semakin berkurang dilahap Jieun.

Siwon meremas seprai di bawah telapak tangan kirinya. Dadanya berdegup aneh saat sepasang tangan mungil Jieun mencengkeram tangannya yang tengah memegangi botol susu. Tangan mungil itu hanya sebesar dua jarinya. Jieun gemetaran mencengkeram tangan ayahnya seakan seluruh hidup dan matinya bertumpu disana.

“Haish! Kau monster kecil licik penghancur hidupku. Makanlah lalu diam!”

.

oOoOoOo

.

Siwon mendengus, sudah lelah marah-marah saat Minho muncul dengan tiba-tiba dan bertingkah seakan apartemen ini miliknya. Tanpa mempedulikan adiknya dan berusaha mengabaikan pandangan penuh harap Jieun, Siwon berlalu memunggungi mereka. Ia menuang segelas air dingin dari dalam kulkas dan meneguknya cepat. Tapi tingkah tidak pedulinya tidak bisa bertahan lama, Siwon gatal untuk tidak bertanya saat dilihatnya Minho sibuk menyiapkan banyak barang ke dalam tas bayi. Pemuda itu rapi, mengenakan kaus dan celana olahraga yang dilengkapi sepatu running. Jieun juga didandaninya dengan pakaian yang sama, versi mungil bahkan sampai ke sepatu runningnya.

Minho mendudukkan Jieun di atas meja makan, ia meletakkan termos besar di belakang tubuh Jieun mengingat bayi berusia dua bulan itu belum bisa menopang dirinya sendiri untuk duduk. Pemuda itu juga dengan telaten memasangkan tudung rajut untuk menutupi cuping mungil Jieun.

Darimana bocah itu mendapatkan baju, tudung, hingga sepatu yang sangat imut itu? Siwon tiba-tiba ingin tahu. Tapi ia cukup waras untuk menanyakan hal yang lebih normal.

“Kau mau kemana?”

Minho meliriknya, lalu menyeringai. Tidak menyangka akan diajak bicara.

“Aku mau membunuhnya, kau mau ikut? Menyaksikan dagingnya terbakaaaarrrrr.” Minho berpura-pura menggigit hidung kecil Jieun, membuat bayi itu tergelak dan menangkup wajah pamannya gemas.

“Lucu sekali.”

Minho tertawa. “Aku mau jogging, hyung. Udara dan matahari pagi bagus untuknya.”

Siwon meneguk satu gelas air dingin lagi, merasa gerah secara tiba-tiba. Menuruti ide yang tiba-tiba melintas diotaknya, Siwon berlari ke kamarnya lalu keluar dengan pakaian celana pendek olahraga dan wifebeater, memamerkan dengan jelas lengan berotot dan perut kotak-kotaknya.

“Mau kemana, hyung?” Kali ini Minho yang bingung.

Jogging.” Siwon menjawab santai, berusaha menunjukkan sikap biasa sembari melakukan pemanasan kecil di ruang tengah apartemennya. “Aku jadi sedikit jelek mendekam di apartemen berbulan-bulan. Aku butuh matahari pagi.”

Minho ingin tertawa, tapi menahan diri karena tidak ingin kakaknya mengurungkan niat mulia itu. Ia tahu tujuan asli Siwon. Karena itu Minho lebih suka menggoda kakaknya secara tersirat.

“Ok, pergilah. Aku mau menyiapkan susu Jieun.” Ujarnya sembari menggendong Jieun dan mendudukkan kembali bayi itu di kitchenset, meletakkan keponakannya di posisi aman jauh dari seluruh benda tajam dan wastafel.

“Kau tidak jadi keluar?”

Minho tidak melihatnya langsung, tapi ia tahu Siwon barusaja menurunkan bahunya dengan gestur kecewa. Ia bisa melihatnya dari pantulan keramik di depannya.

“Sebentar lagi. Kenapa?” Minho berpura-pura bingung, ia mengangkat alis saat berbalik pada Siwon.

“Kita keluar bersama saja, kau tidak tahu liftku suka macet akhir-akhir ini?”

Apa hubungannya? Minho ingin berteriak dan mengejek. Tapi urung.

“Ok tunggu sebentar.” Ujarnya sembari menutup botol susu Jieun dan mengemasnya di dalam tas. Ia mengangkat tubuh Jieun lagi dan mengecup pipi gembul itu, diam-diam membisikkan kalimat yang hanya bisa didengar oleh bayi itu. “Dia tambah aneh. Jangan menuruni sifat anehnya, oke?

Jieun tergelak, seakan-akan mengerti pada ucapan pamannya.

.

oOoOoOo

.

“Kau lelah? Aku bisa gantian kok.” Siwon bicara dari sisinya. Lari pagi mereka kini berubah menjadi jalan santai.

“Gantian apa?”

“Menggendongnya.”

“Tidak perlu. Itu malah membuatku malu.”

“Hah?”

Minho mendesah. Menunduk setiap kali ia memergoki orang tengah memperhatikan dirinya dan Siwon, juga Jieun dalam gendongannya. Sudah bagus ia berniat lari pagi berdua saja bersama Jieun.

Dan lihat apa yang terjadi sekarang? Sudah pasti mereka akan menarik perhatian! Dua lelaki lari pagi bersama, dan salah satunya menggendong bayi. Terlebih jika kedua pria itu memiliki tubuh kelewat atletis dan salah satunya jelas-jelas memamerkannya dengan mengenakan wifebeater.

Minho mendengus, lalu menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia ingin jogging terpisah dari Siwon kalau begini caranya. Padahal biasanya jika ia melakukan lari pagi berdua saja dengan Jieun, dirinya hanya akan menarik perhatian wanita. Menarik pujian dan gelengan kagum. Karena pemandangannya berdua dengan Jieun membuatnya tampak seperti lelaki gentleman, ayah sempurna yang keren luar biasa.

Tapi sekarang?

“Good. Sekarang orang akan berpikir kita pasangan homo yang sudah punya anak.”

Siwon tertawa, entah kenapa senang kalau hal itu bisa mempermalukan adiknya.

“Ngomong-ngomong, bukannya pacarmu juga laki-laki?”

“Ya! Tapi dia manis dan membuatku merasa jantan.” Minho melipat dua tangannya, memamerkan ototnya. Memperagakan pose jantan yang abadi bermilenia.

“Tapi jalan denganmu? Iew! Kita seperti pasangan homo dari abad dua puluhan.” Minho mengeluh, tidak sanggup membayangkan wanita-wanita itu berpikir bahwa dirinya pasangan Siwon. Tidak. Itu menjijikan.

“Da.”

Suara mungil itu menghentikan langkah Siwon dan Minho. Keduanya saling berpandangan, lalu mereka bersama-sama menatap Jieun.

Bayi itu tertawa kecil, mengunyah tangannya sendiri hingga liur membasahi kepalan tangannya. Selama beberapa detik ketiganya saling memandang, Siwon dan Minho benar-benar tidak percaya dan hampir melanjutkan kembali jalan pagi mereka tanpa bicara. Tapi sekali lagi, suara itu terdengar, lebih jelas, lebih menuntut perhatian.

“Da!”

Keduanya membeku lagi, menghentikan langkah mereka di tengah jalan.

Siwon menatap Minho dengan wajah tegang. “Tolong bilang kau juga mendengarnya.”

Minho mengangguk horror membenarkan ucapan Siwon. Mereka membuka mulut, tapi sama-sama bingung ingin mengatakan apa sampai sekali lagi suara itu terdengar…

Lebih keras, lebih jelas, lebih terang-terangan karena Jieun membuka mulutnya tepat saat perhatian dua pria itu bertumpu padanya.

“Daaaa!”

“OHHH!” Keduanya memekik kaget.

Siwon hampir jatuh terduduk dan Minho hampir melemparkan Jieun, beruntung pemuda itu tidak jadi melakukannya.

“OHSYIT!”

“LANGUAGE, HYUNG!”

Jieun menatap keduanya bingung. Tapi sekali lagi, bayi kecil itu mengucapkan kata pertamanya. “Daaa!” kali ini lebih jelas ditujukannya kepada siapa karena Jieun meraih wajah Minho dan menakupnya sembari tergelak bahagia.

“AAAAHHHH!” Siwon meremas rambutnya histeris hingga tiba-tiba rahangnya berubah kaku. Ia menatap Minho penuh kebencian. “Tunggu! Dia memanggilmu, Da? KENAPA DIA MEMANGGILMU DA? HARUSNYA ITU PANGGILAN UNTUKKU!”

Minho menatap Siwon dengan sorot datar. “Kau lupa kau ingin membunuhnya? KENAPA SEKARANG KAU MALAH IKUT SENANG?”

“Aku mau membunuhnya atau tidak, tapi dia itu bayiku. Ba-yi-ku! Panggilan Da itu milikku. Titik.”

Minho terbengong, lalu tatapannya berubah kotor. Ia berdecih mengejek Siwon. “Hah! Sekarang baru sadar kalau Jieun itu precious? Pre-ci-ous? ”

“YAAAAAH! AKU AYAHNYA, KEMARIKAN BAYIKU!” Siwon berseru posesif, ia merebut Jieun dengan paksa lalu buru-buru memeluk putrinya dan mengayun-ayun Jieun dalam gendongannya saat bayi itu mengerutkan wajahnya seakan ingin menangis.

Minho tidak memberikan perlawanan karena tahu sikap ngotot kakaknya jika dilengkapi oleh perlawanan darinya hanya akan berakhir melukai Jieun. Ia membiarkan saja saat Siwon berlari kecil menghindarinya. Pemuda itu berdecih melihat tingkah kakaknya, padahal kalimat ‘Da’ dan ‘Ma’ yang diucapkan seorang bayi belum tentu merujuk pada panggilan orangtuanya. Tapi biarlah, setidaknya sikap aneh kakaknya itu justru menunjukkan bahwa Siwon sudah menerima Jieun.

Minho berjalan menahan senyumnya, dalam hati merasa senang. Luar biasa senang. Hingga tiba-tiba suara bisik-bisik jelas sampai ke telinganya.

“Pasangan itu sedang bertengkar?”

“Kasihan anaknya.”

“Shit.”

Minho tidak senang mendengarnya. Ia bergegas menyusul Siwon.

.
oOoOoOo

.

“Sejak kapan ada keranjang bayi disini?” Siwon berkacak pinggang melihat keranjang bayi berwarna biru itu melintang di tengah ruang santainya. Mengira kosong, Siwon berjengit saat suara celoteh Jieun menyambutnya dari dalam sana. Mungkin bayi itu baru terbangun dari tidurnya, karena Siwon tidak mendengar suara apapun sejak pagi. Mungkin juga Siwon yang terlalu lelap dan tidak mendengar suara Jieun karena bayi itu memang sangat jarang menangis. Tapi tetap saja, subuh buta mendapatkan dirinya hanya berdua di apartemen ini bersama putrinya, tak pelak menyelimuti Siwon dalam rasa canggung.

“Minho sialan itu. Dipikirnya apartemenku penitipan bayi.”

Tapi Siwon bukan tidak menyukainya, ia malah senang setiap kali Minho meninggalkan Jieun di apartemennya. Meski tidak berbuat banyak, hanya memandangi dan menyentuh pipi itu sudah cukup menghibur baginya. Dan mata itu, wajah mungil itu, Siwon menelan ludah dengan perasaan berdesir tiap kali Jieun menatapnya begitu serius.

“Lihat apa? Aku tampan? Hah! Tentu saja!” Siwon terkekeh bangga. “Kau mewarisi mataku. Dan itu terlihat bagus untukmu. Bilang terima kasih padaku!” Siwon menunjuk wajah putrinya, Jieun tergelak, meraih jari panjang itu dan melahapnya.

“Yah!” Siwon buru-buru menarik telunjuknya. “Kau lapar?” Siwon melirik botol susu yang diletakkan di sebelah bantal Jieun. Botol itu tertutup rapat, saat Siwon meraihnya, pria itu mendengus.

“Susunya sudah dingin. Kau bisa sakit minum susu seperti ini.” ujarnya tanpa ditanggapi. “Biar kuhangatkan sebentar.” Siwon berlalu ke dapur, ia menghangatkan botol susu itu yang ditungguinya selama dua menit. Saat kembali dengan senyum sumringah, Siwon mengangkat botol itu dan menunduk ke keranjang bayinya.

“Ini Susu—F-Fuck?” Siwon terhenyak, ia melepaskan botol susu di tangannya begitu saja, botol itu jatuh ke lantai dan susunya tertumpah kemana-mana. Siwon mana peduli, pemandangan darah mengalir dari hidung putrinya lebih menakutkan dari apapun.

“K-kenapa ini?” Siwon mengangkat tubuh Jieun. Tubuh mungil itu lemas dalam rengkuhannya. Bayi itu bahkan tidak menangis, matanya mengatup dan terbuka dengan sayu. Dan itu lebih mengerikan daripada mendengarkan suara tangis melengking bayinya.

Siwon berlari ke kamarnya, membuka ponselnya dan meneriakkan satu nama. Secara otomatis, ponsel itu mendial nomor kontak yang disebutnya. Tak berselang lama, suara nada sambung terdengar, lalu terputus begitu saja.

“YAAAAHHHH! ANGKAT TELPONNYA BAJINGAN!”

Siwon mengumpat, mengulang panggilan dan kembali dihadapkan pada situasi serupa. Panggilan itu tidak tersambung. Tidak seorang dokterpun mengangkatnya. Seluruh dokter pribadinya, seluruh dokter pribadi saudaranya.

“ARGH!” Siwon meraih kunci mobilnya, lalu berlari keluar apartemen tanpa peduli pintu apartemennya masih terbuka lebar. Ia memeluk Jieun erat-erat dan terus mengumpat saat lift tengah berjalan mengantarkannya ke lantai dasar. Siwon mengerahkan dua kaki jenjangnya di lantai parkir itu, berlari tergesa-gesa sembari mengarahkan kunci mobilnya ke segala arah. Siwon menekan tombol otomatis, dan dalam beberapa detik. Eevolyn 345 ungu miliknya melayang di langit-langit dan mendarat di hadapannya.

Siwon masuk dan duduk di bangku kemudi. Ia tidak melepas pelukannya di tubuh mungil Jieun saat ia menekan tombol merah di depannya dengan membabi-buta. Mobil itu terdiam tidak bergerak, membuatnya ikut menerima makian dari majikannya yang sejak tadi terus mengumpat.

Automatic! Automatic siaaalll! Aku akan membakarmu setelah ini!” sumpah Siwon sembari menendang starternya. Mobil itu melonjak, lalu melayang perlahan-lahan sebelum mengikuti perintah Siwon sebelumnya. Terbang dengan kemudi otomatis menuju klinik terdekat yang terbaca dari GPSnya.

“Akh!” Siwon berseru panik. Darah mengalir makin deras dari hidung Jieun, Siwon melakukan segala cara untuk membuatnya berhenti. Mengusapnya, menekan hidung mungilnya, bahkan menghisap hidung Jieun menggunakan mulutnya sendiri. Itu tidak menghentikan aliran darah mengalir dari hidung putrinya. Siwon justru ikut kotor oleh darah, di wajah, hidung, mulut, hingga kaus putihnya.

“Kenapa tidak mau berhenti.” Siwon mendesis frustasi. Ia bahkan tidak melihat jalan sama sekali. Sekalipun berada dalam kemudi otomatis, membawa kendaraan tanpa memperhatikan jalur bukan sesuatu yang dianjurkan. Tapi persetan, siapa yang peduli. Bayinya sudah benar-benar memejamkan mata dan bersandar seperti tidak bernyawa dengan darah mengotori seluruh wajah mungilnya.

Siwon melesat keluar dari mobilnya saat kendaraan itu berhenti di depan klinik yang cukup besar, tampak meyakinkan dengan predikat A+ di bawah tugu pengesahannya.

“Panggil dokter terbaik disini!” serunya sembari berlari menggendong bayinya, meraih perawat terdekat darinya namun menolak meletakkan Jieun di ranjang dorong.

“Kemana? Dimana ruangannya?” Ia ngotot menggendong bayinya sendiri karena langkahnya jauh lebih cepat daripada seluruh derap perawat itu digabungkan jadi satu!

.

oOoOoOo

.

Siwon bersandar lemas di dalam ruang dokter. Dokter muda yang mengenakan tag name Yoseob itu memanggilnya baru saja. Keduanya duduk di dalam sana diliputi ketegangan. Siwon sibuk memikirkan keadaan Jieun dan dokter itu bingung harus memulainya dari mana. Ia tahu dengan jelas siapa pria yang duduk di hadapannya sekarang!

“Jantungnya lemah.” Bisik dokter itu memulai. Siwon sontak duduk tegap, membuat dokter muda itu ikut mengangkat wajahnya tegap –takut.

“A-apa itu akan membunuhnya?”

“Dengan perawatan terbaik, setidaknya anak itu hanya akan mengidap asma.” Jawabnya hati-hati. Ia tidak mungkin berbohong, membohongi Choi Siwon? Bahkan hal itu tidak terbayang olehnya. Tapi mengatakan hal jujur juga tidak menolongnya.

“HANYA? Apa kau tidak bisa melakukan apapun? Aku akan bayar berapapun!” Siwon mengerat pinggiran meja di hadapannya. Sentakannya membuat dokter itu berdehem gugup dan mencoba melanjutkan penjelasannya seperlahan mungkin.

“Karena ukuran tubuh yang jauh lebih kecil dari bayi manusia, bayi mutan seharusnya berada di dalam inkubator selama dua minggu. Terlebih bayi anda prematur, dan sepertinya… kelahirannya kurang normal.”

‘J-jadi ini salahku?’ Siwon meringis. Tidak salah lagi. Ini memang salahnya. Ia yang membuat Jieun lahir sebelum waktunya, dengan cara yang tidak seharusnya. Ia bahkan menyiksa Heechul saat Jieun jelas-jelas masih hijau di dalam kandungan mutan itu. Ini pasti salahnya.

Tapi Choi Siwon tidak bisa menerima kenyataan secepat itu.

“Penyembuhannya harus bertahap, tuan. Bahkan asmanya mungkin bisa sembuh setelah bertahun-tahun.”

“Bertahun-tahun?” Siwon mendesis tidak percaya. “Kau mempermainkanku? Kau tidak tahu siapa aku?” Siwon menggebrak meja dengan penuh amarah, ia berdiri dan mengerat kerah dokter muda di hadapannya hingga tubuh pria itu terangkat kasar.

“C-Choi Siwon-sshi, t-tolong turunkan saya.”

Siwon melakukannya, ia melempar tubuh kurus dokter itu hingga Yoseob hampir terjungkal bersama kursinya.

“Lakukan apapun. Kalau hidungnya sekali lagi berdarah…” Siwon menunjuk wajah dokter itu geram. “Kupastikan klinik kecilmu ini tutup selamanya.”

Siwon membanting pintu ruangan dokter itu. Tidak peduli dokter yang barusaja dihadapinya adalah pemilik sekaligus pemimpin tertinggi rumah sakit kecil ini. Hell, dokter itu tidak seujung kuku jika dibandingkan dengannya. Jika ia mau, hari ini menit ini Siwon bisa menghancurkan tempat ini tanpa harus mengotori tangannya sendiri.

Siwon berhenti di luar ruang inkubator. Pria itu berdiri mengerat dinding kaca di hadapannya. Di dalam sana, Jieun terbungkus tabung bening, kabel tipis kusut malang melintang di atas tubuh mungilnya. Dadanya bergerak lemah, bahkan untuk bernapas pun hidung kecil itu membutuhkan bantuan selang.

Siwon menelan ludahnya susah payah, ia meremas dadanya, merasakan sesak yang tiba-tiba menyergapnya. Ia tidak menyukai Jieun berada di dalam sana. Jieun yang terbaring memejamkan mata dan tidak bersuara.

Tiba-tiba, suara gelak tawa kecil bayi itu menggema di kepalanya. Siwon meringis. Meremas ddanya makin kuat. Kali ini Siwon tidak akan mengingkarinya. Ia menghembuskan napas panjang dan menuruti kata hatinya yang menggema.

“Choi Jieun.” Bisiknya lirih.

Aku akan menjagamu.

.

oOoOoOo

.

“Yayaya, pegang yang benar!” Siwon membenahi posisi Jieun di atas pangkuannya. Putri kecilnya itu sebenarnya sudah bisa duduk tanpa memerlukan sandaran. Tapi Siwon menyukainya saat punggung kecil Jieun bersandar padanya. Dan Jieun selalu saja bergerak hyperaktif, terlebih jika ada benda yang menarik perhatiannya seperti ini.

Kening mungil itu bertaut serius, dua tangannya terulur lurus, berusaha meremas revolver dengan bantuan dua tangan besar ayahnya.

Siwon menyentuh kedua tangan mungil putrinya dengan lembut, hati-hati dilingkarkannya tangan mungil itu di sekitar pelatuk revolvernya. Siwon meremas bagian pegangannya.

“Da?”

“Ya, benar seperti itu.” Siwon menyeringai senang. Jieun meletakkan kedua tangannya dengan posisi yang sangat imut, satu melingkari pelatuk revolvernya dan yang lain ikut menyentuh tangannya yang meremas pemegang revolver. Tapi konsentrasi bayinya dan kesenangan Siwon terusik saat sekali lagi suara memohon itu terdengar.

“M-maafkan aku tuan muda. H-hiks. M-maafkan— A-aku tidak akan mengulanginya!”

Pria itu berlutut tiga meter di hadapannya, tangannya terikat, kakinya terluka. Ia tidak mungkin lari kemana-mana kecuali memohon belas kasihan dari orang di hadapannya ini.

Siwon hanya meliriknya tidak tertarik.

“Berapa kali dia melakukannya?”

Yooseok menjawab lugas. “Tiga, boss!”

“Dan aku baru tahu sekarang?!”

“Choi Soohyun melindunginya, boss!”

“Lelaki tengik itu. Suatu saat aku juga akan membunuhnya.” Siwon menatap pria yang sibuk menangisi situasi menyedihkannya itu dengan tidak tertarik. “Kau tahu aku biasa membunuh semua pengkhianat yang bekerja padaku? Semuanya. Karena tidak ada kesempatan kedua untuk mereka.”

Y-ye?

“Dan berapa kali kau melakukannya, huh? Tiga?” Siwon tergelak, Jieun menatap ayahnya bingung, namun ikut tertawa bersamanya. “Ah, kenapa kau manis sekali Jieunna!” Siwon mengecup pipi gembul putrinya. “Cha, pegang yang benar pistolnya.”

“K-kumohon…”

“Berisik sekali! Aku sedang mengajari putriku!” sentak Siwon kesal. Ia mengarahkan revolver itu makin lurus ke arah kepala korbannya. Jieun berjingkat girang, berusaha mengimbangi posisi tinggi revolver itu semampunya.

“Tatap putriku, memelaslah padanya.”

“T-tuan putri—”

“Aku akan mengampunimu jika anakku berbicara dan melarangku membunuhmu.”

“T-Tapi tuan muda?” Hyundong menangis ketakutan. Bayi itu tidak mungkin bisa bicara! Kali ini tamat sudah riwayatnya.

“D-daaa!” Jieun meremas revolver yang dipegangkan Siwon untuknya. Bayi itu melonjak tidak sabar, menanti apa yang bisa dilakukan benda ini mengingat Siwon pernah bermain dengannya menggunakan benda yang sama.

“Lihat?” Siwon tertawa, ia menatap Hyundong lalu bergantian menatap Jieun dengan bangga. “Dia bahkan bersemangat untuk membunuhmu. Kau tahu apa artinya?”

Hyundong membuka mulutnya, menyiapkan permohonan memelas lainnya namun jari Siwon bergerak lebih cepat, menyentuh pelatuk itu bersama dengan Jieun dan menariknya—

BANG!

“Artinya nyawamu tidak berguna.” Siwon menurunkan revolvernya setelah mengeluarkan seluruh isi peluru di dalamnya, tidak bisa mengizinkan Jieun memainkan benda itu tanpa pengawasan ketatnya.

Ia menatap mayat yang tergeletak digenangi darah di hadapannya dengan ekspresi datar. Siapa yang bisa menjamin pengkhianat ini tidak akan mengulangi perbuatannya?

Siwon tidak sadar, tubuh mungil di pangkuannya berjengit kaget bersamaan dengan suara tembakan tadi. Lalu tubuh itu menegang sesaat dan bergetar sebelum—

“HUAAAAANGGGG!” tangisnya pecah.

“Y-YAAAA! Kenapa menangis, aish!” Siwon tersentak panik, ia sontak menggoyang-goyang Jieun untuk menenangkan putrinya. Tapi suara tangis Jieun malah makin melengking. Bayi itu berbalik memeluk ayahnya dan menolak menyentuh revolver Siwon yang sebelumnya sangat menarik perhatiannya itu.

“Cup-cup sayang. Yah, Yooseok! Bersihkan mayatnya! Darahnya membuat anakku histeris!”

“Ye, boss!” Yooseok diam-diam menggerutu, merutuk bosnya dalam hati bahwa hal yang membuat putri bosnya menangis bukanlah darah Hyundong, tapi suara tembakan yang dibuatnya tadi.

“HUAAANGGGGGGGGGG!” Jieun histeris, suara letupan keras tadi membuat jantung kecilnya berdegup kencang sampai sekarang. Ia mana tahu benda itu mengeluarkan suara mengerikan!

“Yaaaa, cup-cup, Jieunna. Minho Samchon akan segera pulang. Jangan menangis sayang.”

Jieun masih meraung, dan jeritannya bertambah beberapa oktaf tiap kali bayi itu berpaling dan melihat revolver ayahnya tergeletak dekat di kakinya.

“JIEUNNAAAAA!”

“Yaaa. Dengar tidak? Minho-samchon datang chagiya.” Siwon mengangkat tubuh putrinya dan berdiri memutar posisi Jieun menghadap ruang depan.

Minho masuk ke dalam, tampangnya jijik. Yooseok memang sedang membereskan mayat Hyundong di ruang depan. Sudah pasti pemuda itu berpapasan dengan bodyguardnya. Terlebih dengan genangan darah bercampur serpihan otak yang masih mengotori lantai ruang tengah apartemen Siwon…

Minho berjengit jijik, buru-buru memalingkan wajah dan mengambil alih Jieun dari gendongan kakaknya. “Kau membunuh bawahanmu lagi, hyung?”

“Dia pengkhianat.” Siwon menjawab malas, ia malah lebih bersemangat mengecupi pipi basah Jieun dan menggoyang-goyang lengan mungil itu untuk menenangkan putrinya.

Tangis Jieun sudah redam, tapi bayi itu masih terisak dengan mata berkaca-kaca. Minho mendesah, membawa Jieun pergi saat Siwon sedang sibuk mengecupi kening putrinya.

“Jieun akan trauma sampai dewasa.”

“Kau menyalahkan aku?” Siwon berseru tidak terima. “Ya! Aish!” ia melangkah cepat berusaha mengejar Minho sebelum adiknya itu membanting pintu kamar dan memonopoli Jieun. Seperti minggu-minggu sebelumnya.

.

oOoOoOo

END OF KITTY KITTY BABY THE SIDE STORY

oOoOoOo

.

23 thoughts on “Kitty-Kitty Baby! – The Side Story

  1. Aahhhh jadi ini kenapa siwon bisa punya anak dan dia sayang sekaligus protektif sama anaknya ternyata oh ternyata, tp lucu jg liat siwon yg di awal kekeuh pengen bunuh anaknya eh tp skrng liat, malah sayang bgt sama dia wkwkwkw apalagi waktu adegan yg dia lg mau bunuh org itu. Sumpah ngakak bgt, itu bayi loh atuhlah siwon siwon untung ganteng jd gpp deh wkwkwkw. CC sama KKB ditunggu kelanjutannya hehehehe

  2. Kitty kitty baby setelah sekian lama. Aku teriak ketika post kakak muncul d fbku x’D

    Jadi begini cerita Jieun ya… Siwon yang awalnya mau membunuh anak mereka jadi sayang sama jieun karena minho, dan apa yang terjadi dengan jieun karena siwon..

    Kak, terima kasih banyak fic ini kembali dipost lagi.. terima kasih *nangis bahagia*

  3. winecouple says:

    Hai eon! Yeah akhirnya di lanjutin lg FFnya. Ama bahagia hehe abis skr sedih bgt banyak author KyuMin sama temen ama di dunia maya yg udah mulai ngelupain -move on dari kyumin sedangkan ama ga bisa, ga sanggup aja rasanya blm mau nyerah dan ngerasa yg lain kok gampang ya buat lepasin sama move on, atau mungkin ama yg baperan bgt ya? Lol

    Ah, ini side story Siwon sama Jieun toh. Ternyata Minho dalangnya, syukur deh gara2 Minho bayinya Heenim tetep hidup trs ngakak nama Jieun dari Taemin ternyata, Minho udah ngegebet taemin lama dong ya. Side storynya jadi bikin ama ngerti nih skr, dan yah keluarga Choi gila semua ya ternyata ih serem ya Minho jg sih sedikit gila lah

    Ah pokoknya ama bahagia bgt eon masih ada FF kyumin yg di lanjutin lg. Yes ditunggu semua FF eonni yg bakal di lanjutin yaaa! Crused crown juga terusss sama inaudible, unspeakable sama sedlupus deh, udah ngebangke 2 tahun tuh eon😛
    Terimakasih update FFnya eon! Di tunggu yg lainnya -muach

  4. akhirnya dilanjut juga,

    ini cerita tentang jieun anak siwon dan heechul. dan juga tentang alasan kenapa jieun harus mengkonsumsi obat-obatan. semua karena siwon sendiri yg membuat jieun lahir tidak pada waktunya dan cara yg salah.

    tapi setidaknya sekarang siwon sudah menerima jieun. dan jika jieun tidak masuk rumah sakit saat itu, mungkin siwon tidak akan sadar kalo dirinya sebenarnya sudah mulai menyayangi putrinya itu.

    next chapter selanjutnya…..

  5. haifa says:

    hoooohhhh jadi gitu ceritanyaa(?) sedih ternyata jieun sempet gak diterima sama ayahnya sendiriiiii. Lanjut terus yah kakk, penasaran sama kyuminnya hehe semangat kak, sukses terusss!😊

  6. siwon jahat ye dulu nya😦 Mau bunuh anak nya sendiri, kasian Uri jieun😦
    e tapi setelahnya siwon protective banget.

    lanjut next chapter nya sun🙂

  7. Tiara Desli says:

    Iyeeeyyyy akhirnya update juga setelah sekian lama menunggu. Wahhh chapt ini akhirnya membongkar semua misteri hidup kim heechul sama siwon dulu. Ihh siwon jahat ya ampe segitunya mau bunuh jieun, tapi salut sama Minhoya yang bisa bertahan ngerawat jieun. Cieee ciieee minhoya udah ngakuin kalo taeminiie pacarnya padahal jadian aja belum, so sweet ihhh. Yahhh kyuminnya belum ada ya, please buat chapt depan full ◦°˚˚˚°◦Kyu♡Min◦°˚˚˚°◦ ya… Semgant lanjutin epepnya (^_^)

  8. nadoxoxo says:

    Wuahhh side story munculll semoga ini pertanda baik buat ff kitty2 baby dilanjut ya eon:’) masih penasaran bgt gimana akhirnya kyumin huhu:’) dilanjut ya thorrrr pleaseee hehe

  9. Atika amelia says:

    Kak sunnn akhirnyaa.. 🎉🎉
    setelah sekian lama update juga😚
    Miss you sooo,, keep writing and keep fighting kakak.
    Ditunggu kelanjutan kyuminnya .
    Xoxo

  10. Tetiniwa says:

    Jadi awalnya siwon benci bgt sama anaknya…????
    astaga…itu anak dr kecil hidupnya suram amat😯
    Kangen bgt sama moment kyumin…
    chap depan sudah mulai ada kyumin moment lg kah?

  11. Ahhhhhh. Ini…. Aku speechless TTTTTTT awal2nya ngeri banget ya. Tapi pas jieun muncul, semuanya jadi imut hikkssssss. Aku jelas banget gambarin kitten yg bnr2 mungil >\<<<< jadi lewat blog aja😀

  12. Ahhhhhh. Ini…. Aku speechless TTTTTTT awal2nya ngeri banget ya. Tapi pas jieun muncul, semuanya jadi imut hikkssssss. Aku jelas banget gambarin kitten yg bnr2 mungil >\< jadi lewat blog aja😀

  13. Ahhhhhh. Ini…. Aku speechless TT awal2nya ngeri banget ya. Tapi pas jieun muncul, semuanya jadi imut hikkssssss. Aku jelas banget gambarin kitten yg bnr2 mungil.
    Aduuuuh. Hati ku juga ketar ketir. Apa lagi siwon Coba 😣
    Semuanya terungkaaaaap.

    Hmmmm pengkhianatan bawahan, itu ngelakuin apa ? O_O
    Bagus banget🙂 kangen sama tulisanmu~~~~
    Makasih update nya kak😉

    Komenku error :’

  14. Onnie!! >..<
    Itu Siwon beneran gila ya? Dia psycho kalo gini mah! Masa Heenim dijadiin 'sampah' gitu sama dia! Aaarrggghh!!
    Jieun mau dibunuh lagi!
    Apa karena dia udah merasa 'bersalah' dan peduli sama Jieun, makanya sekarang dia agak 'normal' gitu? Tapi apa dia nggak bakal gangguin Heenim lagi sekarang?

  15. Nana Cho says:

    Ternyata di awal siwon benci bngt ama jieun…ampe mau ngebunuh jieun dgn tanganny sendiri…tp emang hub darah antara siwon & jieun ngk bs dipungkiri….
    Siwon yg awalny benci bngt bs berubah jd sayang bngt ama jieun…
    Keluarga Choi emang posesif bngt dgn apapun yg mrk anggapp milik mrk…
    Pantas aja heechul perhatian bngt ama sungmin…..krn dl heechul dl jg mengalami hal yg sama bahkan lbh parah krn rahimny diangkat jd heechul ngk akan bs pny ank dgn hankyung.
    Beda ama sungmin yg lbh beruntung bs pny ank dr kyuhyun.

  16. Selly Wiria Utami says:

    Finally update juga setelah sekian lama 😄😄😄
    babynya jieuniii comel bener..berharap kyumin moment dichap berikutnya
    hehehe
    ditunggu juga lanjutan judul2 lainnya
    Fighting chinguyaa 😁😁😁

  17. Sunny says:

    yeyy…
    setelah sekian lama akhirnya update juga ^^

    ya ampun itu siwon kejam bgt sih. ternyata awalnya siwon juga benci ya sama jieun, tapi lama kelamaan akhirnya siwon luluh juga tuh🙂

    oh ya ditunggu secepatnya chapter selanjutnya ya. semangat ^_^9

  18. hueee, kakak~!! ini keren sekali loh~~ bayangin gimana lucunya jieun aduh :3 unggghhhh, meleleh sendiri saya bayangin gimana kawaiinya dia xD yang pas siiwon jalan sama minho bikin saya ngakak sumpah. yaampun lol
    gitu2 ternyata siwon sayang sama jieun yaaa~ sweet daddy :3 di tunggu kak lanjutannya ^^ ganbatte!

  19. shanty aprianti says:

    Oooh jd awalnya siwon tuh benci bgt sama anaknya karena heechul…
    Sampe pengen bgt ngebunuh anak bayinya sendiri…
    tp untung ad minho tanpa rasa malu bawa jieun ke sekolah…

    Berasa bgt bacanya gimana siwon dr benci jadi sayang bgt sama anaknya..
    Tp mengingat gimana dia ambil jieun dr heechul sampe akhirnya ga bisa hamil lgi bener2 kejam banget…
    Pengen jambak rambutnya minho #ehh siwon .. hehehehehehhe

    Lanjutin fiqoh maaf baru review..

  20. vyan says:

    suuuunnnnn… bogoshippo…
    haduh.. aku pikir udh gakan dilanjut lagi saking ga diupdate2..
    thank you for come back hehehehe…

    duh ga nyangka ya kalo siwon tuh kejam banget..
    tega banget ama heechul.. ama jieun juga.. untung aja ada minho..
    n jieunnya benar2 memikat hati..

    sorry for late review… please jangan menghilang..
    i love your story so much.. <3<3<3

  21. Sun komentarku sebelumnya gagal repost😦
    Udah ngetik panjang gagal dan aku sudah tak bernafsu ngetik lagi. Intinya aku gasuka sama Minhoo yang setengah setengah. Dan aku gasuka part ini karna gada Kyuminnya ._.
    Sudah yaa semoga komenku yg sebelumnya ke post tidak sengaja u.u

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s