Cursed Crown – Chapter 13

Tiga orang berjalan cepat mengarungi koridor istana. Suasana remang yang hanya diterangi temaram cahaya rembulan membuat ketiganya harus berhati-hati saat memilah langkah menaiki tangga panjang menuju istana Raja.

Musim hujan membawa berkah bagi tanah ini, tapi ada kalanya angin malam hari membuat frustasi seluruh penghuni negri.

Angin kencang memadamkan nyala obor di sepanjang koridor utama istana. Harus ada tiga atau empat penjaga yang berkeliling memeriksa lampu dan menyalakan obor-obor yang padam. Tapi malam ini, banyak penjaga terpaksa melalaikan tugas mereka untuk memeriksa lentera. Angin terlalu kencang hingga mereka diperintahkan untuk menjaga benteng-benteng dan daerah perbatasan. Koridor yang dianggap tidak penting dibiarkan redup dari pencahayaan. Indahnya bangunan dengan arsitektur rapi berundak yang tampak di siang hari, kini tersembunyi di balik gelapnya malam.

Benteng tinggi dan angin yang kencang menutupi suasana istana malam itu, tapi semakin dekat ke pusat Istana Raja, siapapun bisa merasakan suasana menegangkan di dalam sana. Puluhan pelayan dan tabib sibuk berjalan kesana-kemari, mengangkut banyak obat dan peralatan. Tiga orang yang baru saja datang disambut antusias oleh semua orang –Termasuk Raja, yang sejak tadi berjalan mondar-mandir meremas tangannya di belakang punggung.

Raja paruh baya dengan raut yang tetap awet muda itu melenguh lega, tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang meluap-luap saat ini. Ia hanya mengangguk cepat begitu tiga orang yang baru datang itu menghampirinya. Kuixian menghempaskan tangannya menyuruh ketiganya segera masuk ke dalam kamarnya, ia bahkan mengizinkan jika ketiganya melaluinya begitu saja tanpa memberikan bungkukan hormat.

Ia hanya ingin semua kecemasan ini cepat berlalu. Tapi begitu tiga sosok tabib terbaik Graentland menghilang di balik pintu kamarnya, Kuixian justru dilanda kecemasan yang semakin menjadi-jadi. Ia berdiri lagi, berjalan lagi, berputar arah melingkari pekarangan di depan kamarnya. Pintu kamarnya tertutup rapat, sepasang kayu ek besar yang dipahat indah itu lebih tampak seperti pintu neraka baginya. Ia nyaris tidak mendengar suara apapun di balik sana. Yang terdengar hanya desau kuat angin dan derap-derap langkah pelayan. Ketenangan yang mencengangkan itu justru semakin meremas jantungnya.

Kuixian mengingat samar-samar ketika Seulgi melahirkan putra haramnya yang dengan berani diakuinya sebagai keturunan Raja. Saat itu, wanita sialan itu berteriak tanpa henti, mengeluhkan seluruh rasa sakitnya, meneriaki semua nama dewa. Memekik, menjerit, mengaduh. Dan detik ini, betapa Kuixian berharap mendengarkan hal yang sama dari balik kamarnya. Tapi tidak ada.

Kuixian melengos. Menatap pintu itu dengan sendu saat tubuhnya merosot lemas, duduk di tepian taman.

Shengmin tidak akan menjerit dari balik pintu itu sekalipun saat ini pria yang dicintainya itu tengah berjuang melahirkan anak mereka. Tidak. Tabib lah yang berjuang mengeluarkan bayi mereka dari tubuh Shengmin. Dan Shengmin— permaisurinya, terbaring diam di dalam sana seakan tidak lagi memiliki kekuatan –keinginan untuk bertahan.

Kuixian duduk mengatup wajahnya, ia menghela napas dalam-dalam, mulai kesulitan menahan emosi yang meluap-luap di dadanya.

Begitu suara tangis bayi menggema dari dalam ruangan, Raja Manusia itu sontak berdiri, membanting pintu dan menghambur masuk ke dalam kamarnya.

“Anakku?” pekiknya menahan haru. Mata Kuixian melembut saat ditatapnya sosok kecil yang menggeliat dalam gendongan perawat. Bayi mungil itu masih berlumuran darah, tabib baru saja menggunting tali arinya yang tiba-tiba membuat Kuixian tersadar dan mengarahkan pandangannya mengikuti untaian tali ari itu.

Di sana, di atas dipan panjang dengan pinggiran batu, terbaring sosok yang dicintainya itu. Dua orang tabib masih sibuk membersihkan luka terbuka di atas perut istrinya. Gunting, pisau, dan noda darah berceceran di sekitar tangan Shengmin yang tergeletak tak bergerak, berada di posisi yang persis sama seperti yang dilihatnya dua jam lalu. Hati Kuixian mencelos. Dengan sendu tatapannya naik lebih tinggi, mengarah ke wajah pucat yang begitu pulas tenggelam di dalam mimpi.

“Seorang Pangeran, Yang Mulia. Pangeran pertama di bawah garis darahmu.” Perawat itu membungkus tubuh kecil dalam gendongannya dengan sepasang kain bersih. Ia bermaksud menyerahkan bayi bangsawan itu namun tatapan raja terpaku ke arah lain.

“Shengmin? Bagaimana dengan istriku?”

Dua tabib itu baru saja selesai menutup seluruh luka Shengmin. Mereka membungkusnya dengan perban dan merapalkan mantra-mantra pengering. Saat Raja melangkah dekat di hadapan mereka, gerak kerja keduanya berubah gugup. “Y-Yang Mulia—“

“Dia…” Kuixian mengulurkan tangannya, mengusap pipi dingin Shengmin. “…Tidak mati, kan?”

“Masih seperti semula, Yang Mulia.” Jawab salah satunya sembari memasangkan kancing pakaian Shengmin. “Yang Mulia Ratu masih ada disini bersama kita, tapi kesadarannya belum kembali.”

Kuixian menghela napas berat. Semakin lama dipandanginya wajah pulas itu, semakin sesak dadanya terasa.

Selesai mengerjakan tugasnya, kedua tabib itu melangkah mundur memberikan ruang bagi Raja dan Ratu mereka. Bahkan perawat yang mengurusi bayi Raja memilih keluar dengan membawa serta bayi mungil itu.

Kuixian menarik kursi kayu yang diletakkan sedikit jauh dari tempat pembaringan istrinya. Kursi itu tidak pernah menganggur setidaknya selama satu jam sehari. Ia selalu meluangkan waktu untuk datang kemari. Sekedar duduk di sisi Shengmin-nya, memandangi wajah istrinya sembari melamun. Membayangkan saat-saat raut itu masih begitu cerah dan berwarna, dimana senyum cantik sering terulas disana.

Dua tahun sudah Shengmin berada di posisi ini, berdiam diri, memejamkan matanya, menunjukkan seakan ia tidak berada disana.

“Bangunlah, Sheng…” Kuixian berbisik, ia meraih tangan dingin Shengmin dan meremasnya dekat di pipi kanannya. “Kau masih mau menghukumku?” lirihnya sedih.

Tapi tentu saja, pemilik tangan itu tidak akan menyahut. Shengmin terbaring lemas seperti jasad yang baru saja ditinggalkan jiwanya. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru, perawat harus rutin mengolesi bibir mungil itu dengan pewarna agar penampilannya tidak tampak terlalu mati.

Sekilas, tubuh mungil ini memang tampak tidak berpenghuni. Tidak ada lagi cahaya yang dua tahun lalu masih menghiasi wajah Shengmin. Hanya mendengar suara napasnya yang pelan samar pun Kuixian sudah sangat bersyukur. Itu satu-satunya tanda, bukti terkecil bahwa istrinya belum benar-benar meninggalkan dirinya. Kuixian tidak akan rela jika Shengmin benar-benar memutuskan menyerah dan pergi. Ia sudah berniat mengundang penyihir-penyihir hebat dari seluruh negri. Untuk membangunkan jasad istrinya kalau suatu saat nanti Shengmin benar-benar memutuskan untuk lebih mati daripada ini.

Shengmin masih ingin menghukumnya lebih lama lagi, Kuixian sadar betul sefatal apa dosa yang telah diperbuatnya pada Shengmin. Dan ia mengerti jika istrinya ingin membalas. Tapi rasanya— Kuixian sudah tidak sanggup menahannya lagi. Baru dua tahun Shengmin menghukumnya dengan cara ini, dan Kuixian seperti berada di neraka saja.

Dua tahun ia menjalani hukumannya, atau setidaknya begitulah ia mengira. Shengmin bermaksud meninggalkannya dua tahun yang lalu, meninggalkan dunia ini. Tepat saat Kuixian menyadari seluruh kesalahannya, saat itu, Kuixian memiliki kesempatan untuk menghentikan kegilaan istrinya. Ia mendapatkan Shengmin kembali. Meski tidak seutuhnya.

“Anak kita sudah lahir. Dan dia laki-laki, seperti yang pernah kau janjikan sepuluh tahun lalu. Sekarang janjimu sudah terlunasi. Bangunlah, sayang.” Kuixian berbisik lembut, ia mengecup telapak tangan Shengmin dan menempelkan tangan dingin itu bergantian di pipi kirinya.

Seerat apapun ia meremas tangan istrinya, dingin itu tetap tidak pergi dari sana. Kuixian ingin berbaik sangka dengan mengira dingin tubuh istrinya berasal dari masa lalu dan asal usulnya. Tapi tidak, Sheng telah melepaskan kesucian darahnya saat mereka membasuh diri bersama di Mata Air Keabadian. Sheng telah melepaskan silsilah darahnya saat mereka melakukan keintiman untuk pertama kalinya. Istrinya telah hidup cukup lama di negri ini, telah terbiasa hidup di bawah terik matahari tanpa memerlukan sihir untuk mendinginkan dirinya.

Jadi darimana dingin ini berasal?

Kuixian mencengkeram tangan Shengmin lebih erat. Berusaha mati-matian mengusir bisikan-bisikan yang terbayang di kepalanya, gunjingan-gunjingan penghuni istana yang mengatakan bahwa cahaya mulai meninggalkan istrinya.

Kuixian menggigit bibirnya. Diusapnya tengkuk Shengmin hingga jemarinya merangkak naik ke atas rambut istrinya, telinga putih yang runcing itu tersembunyi di balik rambut pirang Shengmin yang lebat.

“Tubuhmu ada disini. Tapi jiwamu mengembara entah kemana. Apa kau tidak lelah? Saat bangun nanti matamu akan bengkak seperti panda. Dan anak kita akan memanggilmu mama panda.” Kuixian tertawa. Pelan. Getir.

“Kau tidur sepanjang tahun tanpa pernah bangun—“ Kuixian tercekat. Matanya memanas, napasnya tertahan. “Aku sudah menyadari kesalahanku. Bangunlah.”

Shengmin tetap bergeming, setenang lemahnya napas yang masih berhembus melalui hidung mungilnya. Hanya dadanya yang bergerak pelan, menandakan masih tersisa sedikit nyawa di tubuhnya.

“SHENG!” Kyuhyun berseru sengit. Raja itu berdiri, meremas bahu Shengmin dan berniat mengguncang tubuh diam itu saat ia teringat pada luka baru di perut istrinya. Dengan gemetaran, Kuixian menarik tangannya dan mengepalkannya. Berusaha tidak menyentuh Shengmin sebelum ia melakukan sesuatu yang kelak akan menambah penyesalannya.

“Bangun! Kau tidur terlalu lama! Aku sudah membunuh wanita itu, dan anak haramnya! Apa itu belum cukup untukmu!” Kuixian menjerit sendirian, tangisnya meledak. Airmatanya meleleh di dalam ruangan itu seakan ia berada seorang diri disana.

Kuixian tersedak, merasa malu pada dirinya yang meratap memilukan seorang diri. Tubuhnya kembali terduduk lemas. Kuixian membaringkan kepalanya di sela tengkuk Shengmin, menghirup aroma dingin itu sedalam-dalamnya. Ia memeluk dada istrinya, mengecup bahu yang terasa membeku di permukaan bibirnya.

“Bangunlah sayangku, kita akan memulai semua yang baru. Kau, aku, dan putra kita.”

Dan tentu saja, seribu kali pun Kuixian mengatakan kalimat itu setelahnya, Shengmin tetap pulas dalam ketidaksadarannya. Tidak akan terbangun, tidak sekarang.

.

oOoOoOo

.

Donghae dan Changmin saling  tak terduga adik bungsu mereka. Sedangkan dari sudut belakang penonton itu, Seunghyun bersandar ke tiang penyangga kerajaan dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Diam-diam ia menyaksikan pertarungan itu dan mendengus remeh saat melihat Kyuhyun jatuh berlutut.

Arena pertarungan itu kontan riuh saat pangeran termuda Negri Putih jatuh pingsan bersama putra mahkota Negri Merah yang bersimbah darah.

“Kenapa Sungmin juga jatuh.” Donghae menahan dirinya untuk tidak menghambur ke tengah arena, meski sebagian besar hatinya menuntutnya untuk terjun kesana dan memeluk tubuh adiknya. “Tidak seharusnya dia pingsan. Kenapa dia pingsan?”

“Mereka mate. Satu sama dengan satu. Ingat?” Changmin berusaha menimpali. Tapi kening pangeran jangkung itu tetap mengerut, diam-diam mengkhawatirkan Sungmin kecil mereka yang diangkut menggunakan tandu.

“Tapi setidaknya –seperti yang dikatakan Siwon-hyung, ramuan itu akan memutus ikatan emosi mereka untuk beberapa hari.”

Changmin melirik Donghae dengan jengah, sedikit malas mengucapkan apapun meski dalam hati ia ingin sekali berujar ‘Kau tidak lihat apa yang dilakukannya tadi? Minnie kecil kita melakukan sihir penyembuhan! Itu bukan trik mudah! Kau bahkan tidak lulus di kelas itu, ingat?’

Tapi Changmin menahan diri. Ia tidak akan mengucapkan sesuatu dengan gegabah.

“Apa menurutmu ramuan itu tidak mempan padanya? Siapa tahu ramuan itu tidak benar-benar memutus emosi mereka!”

“Memutus emosi?” suara itu menyahut dari belakang mereka.

Changmin dan Donghae mendelik. Tidak berani berbalik. Tapi dengan kabur atau tidak bergerak ke manapun, mereka tetap tidak bisa lolos dari tekanan suara rendah itu.

Ratu bergerak dari belakang, berjalan menembus jarak diantara kedua pangeran Putih lalu berdiri berbalik, menghadap Changmin dan Donghae dengan kepala mendongak.

“Apa maksudnya itu?” Junsu menatap keduanya tajam. Namun dengan serempak pula keduanya terdiam. Junsu mengeram, rasanya ingin segera menginterogasi keduanya tepat di tempat ini. Tapi prioritas utamanya kini adalah Sungmin. Ratu itu berbalik, berjalan menjauh tanpa lupa meninggalkan pesannya dengan tegas.

“Aku belum selesai dengan kalian.”

.

oOoOoOo

.

“Apa sebenarnya yang terjadi?!” Junjin nyaris memekik. Kedua matanya membelalak sementara rahangnya menegang. Di belakangnya, Gain berdiri dengan sebelah tangan menutup mulut. Gurat cemas memenuhi wajah cantik itu. Seketika itu Gain ingin berlari keluar dari tempat ini dan mencari putrinya, Putri bungsunya yang ditinggalkan sendirian di kamar dengan penjagaan pelayan Snowelf.

Ia dan suaminya tengah berkeliling di pusat kota beberapa saat lalu, dipandu oleh pasukan Hviturland hingga prajurit lain datang dan meminta mereka kembali untuk menyaksikan acara pembukaan festival salju di istana. Awalnya ia mengira Kyuhyun dan Sungmin akan menyusul dengan pemandu yang berbeda —mungkin bersama anggota kerajaan Hviturland. Tapi sesampainya di aula pertarungan itu… baik Gain dan Junjin sama-sama terperangah.

Keduanya berdiri di atas tangga, tepat di muka pintu masuk. Gain tidak sanggup bergerak lebih-lebih mencari kursi, jika mereka dibawa kemari untuk menyaksikan adiknya berlutut bersimba darah di bawah sana!

Junjin bergerak gelisah, seakan berniat untuk menerjang ke bawah sana tapi Gain mengeratkan cengkramannya di tangan sang suami. Ia tidak ingin memperkeruh suasana, dan hal terakhir yang mereka butuhkan saat ini adalah emosi yang berapi-api. Mereka perlu tahu apa yang terjadi di tempat ini.

Gain mampu mengawasi dengan lebih tenang, meski keningnya mengerut tak tertahankan. Di sisi lain Junjin tidak mampu tidak gelisah, ia cemas bukan main. Bukan hanya kekhawatirannya pada amukan Raja Radourland, kalau sampai mertuanya itu tahu anak kesayangannya dihajar habis-habisan di negara tetangga.

Raja Kangin memang terlalu berlebihan dalam melindungi putranya. Ia lebih memfokuskan Kyuhyun dalam pendidikan politik dan strategi ketimbang membawanya turun langsung ke tanah peperangan. Selain pengetahuan militer, Kyuhyun jarang sekali terlibat dalam pertarungan langsung. Ia lebih sering berlatih sendirian daripada berbalas serangan. Sejujurnya, Junjin tidak heran melihat Kyuhyun kalah dalam pertarungan. Tapi setidaknya tidak semengenaskan ini. Kyuhyun harusnya mampu mengubah diri dan mencabik lawannya mengandalkan fisik demonnya. Satu dua goresan tipis luka masih masuk akal, tapi segaris luka dalam melintas di dada.

Junjin tidak percaya Kyuhyun kalah dengan cara wajar di tempat ini.

Tapi Junjin benar-benar mengkhawatirkan keadaan Kyuhyun, sekalipun mereka tidak dekat. Selama ini ia cukup memberi perhatian diam-diam pada adik iparnya itu. Dan sekarang melihat Kyuhyun diperlakukan seperti –binatang persembahan… Persetan dengan riwayatnya jika Raja sampai mengetahui hal ini. Tapi ia harus tahu apa yang sedang terjadi disini!

“Aku menuntut penjelasan!” Junjin berseru, melepaskan genggaman Gain dan bersikeras turun. Ia tidak berhasil menyentuh lantai pertarungan itu. Lima prajurit menahannya dan Junjin tidak berniat melawan mereka saat dilihatnya Kyuhyun diangkat menuju tangga ke arah mereka. Junjin sudah terlupa tentang kecurigaannya pada tempat itu dan dengan refleks mengekori Kyuhyun yang dibopong di atas tandu, keluar dari arena luas itu.

Mereka segera menemukan kamar terdekat dan Kyuhyun dibawa ke dalamnya. Kyuhyun dibaringkan di atas tempat tidur dengan pakaian rombeng yang bersimba darah. Lima orang healer bergegas menyembuhkannya dengan sihir mereka. Tidak memakan waktu lama sampai luka pemuda itu mulai menutup, dibantu dengan kecepatan regenerasi sel siluman Kyuhyun.

Saat itu tidak ada yang bersuara. Belum ada yang memecah keheningan sejak seruan marah Junjin di arena tadi.

“Jika tidak ada yang menjelaskan perkaranya, aku terpaksa menemui Raja Hviturland untuk meminta pertanggungjawabannya!” Pangeran berambut pirang itu mulai sedikit frustasi terhadap keheningan ini. Ia tidak percaya! Mereka diperlakukan seperti ini—

“Kami tamu di tempat ini! Bagaimana mungkin Putra Makhota kami dibantai seperti ini!”

Seketika terbesit sekenario terburuk yang diduganya telah dibuat oleh Hviturland sejak lama. Mungkin saja undangan festival mereka itu hanya kedok dari rencana busuk untuk membunuh Kyuhyun!

“Saya akan menjelaskannya, Junjin-sshi.” Suara seseorang menjawab.

Junjin menahan napasnya, baru saja berniat untuk berseru lagi jika seseorang tidak juga menjawab ucapannya. Ia berbalik, dan melihat seseorang itu berdiri di pintu masuk.

Pemuda bertubuh jangkung itu melangkah masuk, gerakannya tenang dan elegan. Gelagatnya sopan, namun berwibawa. Tapi hal itu justru membuat kekesalan di hati Junjin semakin menjadi. Bagaimana bisa orang ini tetap bersikap anggun melihat tamunya dibantai seperti binatang?

Dan Junjin ingat, pemuda berambut ungu gelap itu adalah salah satu saudara Sungmin.

Paham akan kebingungan tamu mereka karena banyaknya anggota keluarga kerajaan Hviturland, pemuda itu memperkenalkan dirinya sekali lagi setelah penyambutan mereka di hari pertama.

“Zhoumi. Putra kedua Hviturland.”

Dari sana, Zhoumi mulai mendikte kejadian itu secara detail. Mulai dari awal hingga akhir, meski kisahnya menggunakan sudut pandang warga negri ini dan Junjin dengan jelas menangkap kesan membela diri dalam setiap ucapan pangeran ini. Junjin mendengarkan penjelasan Zhoumi sebelum mengerti situasi yang telah terjadi. Ia mengerti, namun tidak bisa menerimanya begitu saja.

“Semua itu hanyalah tradisi. Bagi Hviturland, anggota keluarga baru harus melalui tahap ini sebagai pemenuhan adat, ini adalah cara kami menilai kemampuan anggota keluarga kami yang baru. Saya mewakili seluruh rakyat negri ini memohon maaf sebesar-besarnya karena telah melukai putra mahkota Radourland.” Ia membungkukkan tubuhnya sedikit, tampak semakin angkuh dengan ekspresi kaku wajahnya.

Gain dan suaminya saling berbalas pandang.

“Zhoumi-sshi. Kami mengerti jika ini adalah tradisi dalam Hviturland. Namun kenapa harus dirahasiakan dari kami, tidakkah sebaiknya kalian memberitahu kami. Agar tidak terjadi salah paham dan adikku juga bisa mempersiapkan dirinya.” Atau menolaknya. Gain meremas tangannya.

Zhoumi tersenyum dingin dalam diam sebelum akhirnya menjawab. “Itu peraturannya.”

Junjin menghela napasnya kuat-kuat, mulai tidak sabar. “Bagaimana kalau orang itu sampai mati?”

“Tidak akan. Kami tentu tahu kapan pertarungan harus dihentikan. Kalian tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu. Kami tidak berniat membunuh Putera Mahkota kalian dan ia akan sembuh dalam tiga hari. Tidak baik memanjakan Pangeran Mahkota. Kakakku bahkan pernah nyaris mati saat Appa menyuruhnya bertarung dengan Troll dan Balrog. Sendirian. Tanpa bantuan.” Selorohan pemuda jangkung itu membungkam Junjin dan Gain.

“…Lalu Sungmin-sshi? Apa yang terjadi padanya?” Mengetahui bahwa Sungmin juga dalam keadaan tidak sadar di ruangan lain, Gain yakin ini ada hubungannya dengan Kyuhyun.

Apa yang sebenarnya direncanakan oleh orang-orang ini?

“Ah, dia menerobos ke tengah pertarungan dan pingsan karena mencoba menyembuhkan luka Kyuhyun.”

“Kau yakin ini bukan karena ikatan mate antara mereka?”

Zhoumi tersenyum dalam diam dengan mata terbuka. Senyum yang membuat orang melihatnya merasa ngeri entah kenapa. Belum sempat Zhoumi menjawab, salah satu healer di ruangan itu ikut dalam pembicaraan mereka.

“Tuan muda Zhoumi benar. Luka Yang Mulia Kyuhyun tidak begitu dalam dan pendarahannya sudah berhenti saat kami mulai mengobatinya tadi. Kami hanya tinggal menutup lukanya saja. Tidak ada kejanggalan dari kondisinya. Mudah-mudahan beliau akan segera sadar.”

Senyum Zhoumi melebar mendengarnya, walau selama itu ia hanya menatap Junjin dan tidak melirik ke arah Kyuhyun sedikitpun.

“Nah, benar kan?”

Junjin membuka mulut, namun tidak bersuara lagi. Bulu kuduknya meremang.

.

oOoOoOo

.

Sungmin duduk dekat-dekat dari ranjang tidurnya, Kyuhyun duduk di atas sana namun Sungmin tidak berani menyentuh kulit Kyuhyun sama sekali. Snowelf muda itu merengut, menunggu di antara dua tabib yang sibuk membantu Kyuhyun duduk tegap dan mengganti perban hyungnya. Sungmin bahkan tidak berani mengulurkan tangannya, sedang Kyuhyun duduk memunggunginya dan memperlakukannya seakan ia tidak berada disana. Sungmin merasa jengkel, tentu saja, tapi bocah itu berpikir dengan dewasa bahwa dirinya tidak berhak merengek saat ini. Apalagi saat dilihatnya Kyuhyun berseru marah setiap kali lukanya disentuh dengan sembrono.

“Ah!” Kyuhyun memekik, meremas tangan tabib muda yang baru saja berputar melilitkan perban bersih melewati dadanya. Ia mendelik pada tabib muda itu dan meremas tangan dingin itu dengan kekuatan lebih dari semestinya, membuat  tabib malang itu gemetaran dan hendak menarik diri dari Kyuhyun.

“Kau mau membunuhku? Lakukan pelan-pelan!” sungut Kyuhyun dengan mata berkilat, rasa sakit di dadanya membuatnya refleks mengubah warna matanya menjadi keemasan.

“Y-Ye! Yang Mulia!” sahut tabib itu ketakutan. Mereka bekerja secepat mungkin meski diimbangi kehati-hatian luar biasa untuk tidak menekan luka Kyuhyun lebih lama lagi. Keduanya mengikat perban itu sedikit longgar, agak takut Kyuhyun akan memarahi mereka jika luka pangeran muda itu tertekan sedikit saja.

“Lukanya sudah bersih, kami mohon diri, Yang Mulia.” Keduanya merapikan alat-alat pengobatan mereka dengan gerak yang sedikit terburu-buru. Membuat Kyuhyun berdecih dalam batin sembari menyentuh dadanya pelan-pelan.

“Kalau kalian keluar dan melihat prajuritku, suruh tiga orang di antaranya masuk. Dan ya, cepatlah keluar.” Aku sudah muak dengan bau obat itu.

Kyuhyun bersungut sembari memegangi perban baru yang melilit di atas lukanya. Luka itu masih sedikit basah, dan ia bersyukur kepada dewa, bersyukur kepada darah silumannya yang dikutuk di tanah ini, karena darah itulah luka-lukanya bisa cepat mengatup.

Kyuhyun sudah hampir mati karena khawatir. Hal terakhir yang diingatnya sebelum jatuh pingsan adalah pemandangan Sungmin yang ngotot memantrai lukanya. Dan Kyuhyun juga ingat dengan jelas apa yang terjadi pada Sungmin saat matenya itu berusaha menyembuhkan luka di bahunya untuk pertama kali –saat di Radourland dulu. Ditambah dengan situasi yang menimpanya sendiri, Kyuhyun tidak bisa membayangkan hal mengerikan macam apa yang akan menimpa Sungmin sebagai efek ikatan mate mereka.

Tapi lihat sekarang! Bocah itu duduk dengan begitu tegapnya. Wajahnya tidak lagi pucat, bibir dan pipinya bahkan sedikit merona. Tidak ada tanda-tanda Sungmin telah melalui penderitaan yang sama sebagai bentuk solidaritas ikatan mereka. Tidak sedikitpun. Ia hanya mendengar Sungmin pingsan selama dua jam sebagai efek mantra kelas berat yang dirapalkan mate kecilnya di atas lukanya. Darimana dan bagaimana bocah itu bisa menghafal mantra pengobatan level tinggi itu, tidak ada yang tahu. Kyuhyun malah lebih penasaran bagaimana Sungmin tetap duduk dengan sehat sementara ia menderita di atas ranjang ini.

Dalam diam, Kyuhyun mulai menebak semua ini pasti berkaitan dengan Putra Mahkota Hviturland. Mengingat betapa sinting perasaan pangeran salju itu terhadap Sungmin, Kyuhyun sudah mengira Siwon tidak akan berani melukainya jika Siwon tidak memiliki senjata lain. Selain Clocha De Na Deith itu, Siwon pasti sudah merapalkan atau memberikan sesuatu pada Sungmin. Kyuhyun bergidik memikirkan ini, membayangkan sihir macam apa yang bisa memutus ikatan mate mereka selama beberapa jam—

Tunggu. Kyuhyun bahkan tidak yakin efek itu hanya berlangsung beberapa jam. Bagaimana jika berminggu-minggu? Berbulan-bulan? Atau selamanya! Oh, Dewa!

Hyung~” panggil Sungmin memelas.

Kyuhyun melirik sedikit, berusaha menangkap sedikit penampakan mate mudanya yang duduk gelisah dengan kepala tertunduk. Dalam hati Kyuhyun menyeringai, merasa senang sekaligus kesal. Kyuhyun tahu tidak seharusnya ia melampiaskan kekesalannya pada Sungmin, tapi ia tidak bisa memaafkan perbuatan Siwon begitu saja. Saat ini ia membutuhkan sedikit jarak dari matenya, setidaknya untuk beberapa jam ke depan.

“Sedang apa kau disini? Pergilah. Aku mau tidur.”

“Hueee, hyuuung! Aku juga mau tidur, geser sedikit!”

“Kau tidak lihat dadaku berdarah-darah? Pergilah, aku tidak bisa bergerak dari posisi ini. Dan ini sakit, Sungmin-ah.”

“T-Tapi hyunggg!”

Kyuhyun mengabaikan matenya, ia memejamkan matanya karena tidak ingin melihat wajah memelas Sungmin yang mungkin akan meluluhkan hatinya dalam sekejap.

“Ah, ini sakit sekali…” keluhnya sedikit dilebih-lebihkan, Kyuhyun bertelanjang dada dengan hanya perban melilit tubuhnya. Ia meletakkan tangannya di atas dadanya dan tampak pulas dalam sekejap. Meski dalam diam Kyuhyun mengawasi Sungmin yang masih berdiri memandanginya.

Hyung?”

Kyuhyun bersikeras tidak menjawabnya. Matanya yang terpejam tampak natural, dan Kyuhyun bersyukur dalam hati hal itu membuat sandiwaranya lebih meyakinkan. Ia bisa merasakan dingin napas Sungmin berhembus di atas keningnya, lalu satu kecupan lembut mendarat kening, pipi, dan bibirnya. Tampaknya mate kecilnya sudah menyerah.

“Baiklah…” suara Sungmin melunak, meski terdengar putus asa. “Selamat tidur, hyung.”

Kyuhyun mendengar suara pintu ditutup perlahan dan ia membuka matanya, membuka selimut yang melindungi tubuhnya, dan bersusah payah duduk kembali di pinggiran ranjang dengan posisi tegap. Ia tidak mungkin membiarkan prajuritnya melihat dirinya dalam keadaan lemah dan memalukan.

.

oOoOoOo

.

Pemuda berambut coklat sebahu itu berlalu melewati lorong kerajaan yang berbatasan langsung dengan taman. Wajahnya muram dan derap langkahnya terdengar kesal. Meskipun ia memang terlibat dalam insiden upacara pembukaan festival itu, diceramahi langsung oleh sang permaisuri tetap membuat mood-nya buruk. Untunglah Junsu tidak menghukumnya.

Baju biru pucat yang ia kenakan sore itu bergoyang diterpa angin malam saat ia berjalan. Donghae ingin cepat-cepat kembali ke kamarnya dan berendam di air panas, lalu tidur. Ia tidak berminat untuk belajar sihir malam ini. Namun tiba-tiba, suara seseorang yang terdengar di lorong sepi itu memecah lamunannya.

“Aku tidak menyangka bangsa suci seperti kalian bisa berbuat serendah itu.” Suara itu terdengar begitu sinis.

Langkah Donghae terhenti. Ia menghela napas sebelum berbalik ke belakang.

‘Apa lagi ini?’ batinnya kesal dalam hati.

“Ada perlu denganku?” Donghae bertanya sopan sembari memasang ekspresi biasa. Meski dalam hati orang ini benar-benar membuatnya kesal. Pangeran ketiga Hviturland itu melihat tiga orang siluman berdiri di ujung lorong, tak jauh darinya. Mereka mengenakan seragam pengawal Radourland tapi tidak dipadukan dengan jubah penghangat.

Donghae mengangkat alisnya dan berbalik sepenuhnya. Kini tiga ekor siluman itu benar-benar mendapatkan perhatiannya. Ketiganya tampak berdiri tegap meski asap dingin mengepul samar dari bibir dan hidung mereka.

Sesombong itu sampai mati-matian menahan hawa dingin istana?

‘Orang-orang rendahan yang menarik.’ Donghae berdecih dalam hati.

“Dan lihat, kau sama sombongnya seperti Putra Mahkota kalian. Apa Raja disini mendidik pangeran-pangerannya dengan cara kotor seperti itu? Tidak terlalu suci lagi, eh?”

“Ke-ketua! Hentikan! Ia anggota keluarga kerajaan!” Salah satu dari mereka mencoba menahan temannya. Namun ketua muda itu tidak menggubris peringatan bawahannya. Ia malah mengambil langkah maju meninggalkan temannya.

“Kau berada di sana kan? Kenapa tidak menghentikan pertarungan kotor itu? Sebagai keluarga kerajaan, harusnya kau bisa melakukannya.”

Donghae melirik pria itu dari atas sampai bawah dengan pandangan remeh. Tidak meladeni ucapan orang itu dan justru bertanya balik dengan nada angkuh. “Kau siapa?”

“Aku Hyukjae, Jendral pasukan yang diutus menemani Putra Mahkota kemari. Jangan pikir aku akan tinggal diam, setelah melihat kelakuan kotor kalian –huh, bangsa suci apanya?” Hyukjae mendengus, dengan berani mengutarakannyan di hadapan keluarga kerajaan. Tidak peduli ia tamu disini, Hyukjae bahkan tidak segan-segan mengutarakannya di depan Raja Yunho. Kalau saja Junjin tidak melarangnya. Mengingat-ingat cerita salah seorang utusannya, tentang bagaimana Pangeran Kyuhyun dibantai di depan khalayak ramai dengan memalukan –rasanya membuat darahnya memanas dan naik hingga ke ubun-ubun.

“Hoo? Lalu Tuan Jendral Pasukan… kau marah padaku? Apa kau mau menangkapku?” Donghae memasang wajah bodoh sambil mengulurkan kedua tangannya pada Hyukjae. “Kau mau mengikatku dan mengurungku dan membawaku ke negri barbarmu itu?”

“Barbar? Kau tidak punya cermin ya!” Hyukjae berseru garang dan berkacak pinggang, ia ingin maju lebih dekat lagi untuk menyambar bibir tidak sopan itu. Tapi bawahannya bersikeras menahan lengannya. “Kau harus minta maaf! Kalian harus minta maaf pada Kyuhyun-sshi!” Hyukjae berseru menantangnya.

Donghae menaikkan sebelah alisnya lalu berdecih. “Hah? Minta maaf? Kenapa aku harus minta maaf?”

Posisi Donghae dan Hyukjae lebih dekat kali ini, dan Pangeran Ketiga  Hviturland itu tampak lebih tinggi sekitar 5 cm dari Jendral Radourland. Hal itu membuat Donghae semakin berdecih angkuh, merasa begitu puas pada dirinya sendiri karena selama ini ia selalu masuk ke dalam kelompok Pangeran pendek. Bersama Jiyong dan Sungmin.

“K-Kau! Kau masih bertanya kenapa harus minta maaf!”

“Dengar. Kau tak pantas menjadi ketua pasukan pengawal kerajaan. Kau pasti tidak pernah berperang ya?”

Dua prajurit muda di belakangnya berbalik kabur untuk mencari bala bantuan.

Hyukjae tercekat mendengarnya. Seperti dihantam bongkahan api, tubuhnya terasa semakin panas saja. Emosi Hyukjae tersulut, tapi ia masih terlalu terkejut mendengar kalimat laknat itu meluncur dari bibir seseorang! Dan ditujukan untuknya!

“APA KATAMU?!”

“Kubilang kau tak pernah berperang! Tak perlu menjawabnya, aku yakin itu benar.”

“Jangan asal bicara! Aku sudah bertarung ribuan kali! Tapi aku tidak pernah melakukannya dengan cara kotor seperti kalian!”

“Ah, ya… pertarungan kan? Kau pikir perang yang berkecamuk di banyak tanah di dunia ini hasil dari pertarungan kesatria tanpa cara kotor nan curang? Seperti pertarungan-pertarungan yang sudah banyak kau lalui?” Donghae maju kedepan, seringai mengejek justru membuat wajah lembutnya yang biasa makin terlihat tampan. Pangeran itu mengangkat wajahnya, menunjukkan leher jenjangnya yang putih bersih –seperti salju.

“Kalau begitu kau mengakui Negaramu yang menyulut banyak perang di banyak negri?” Hyukjae tertawa, balas mengejek. Ia berkacak pinggang, sementara pangeran di hadapannya melipat tangan di depan dada dan maju dengan langkah dan seringai yang anggun.

“Dalam perang, segalanya bisa menjadi penentu kemenangan… Terutama lingkungan di sekitarmu. Meskipun kau lemah, jika lingkungan itu mendukungmu, maka kau bisa membalikkan keadaan dan menang melawan musuh yang sepuluh kali lebih kuat sekalipun.” Donghae mengucapkan semua kalimat itu dengan nada monoton sembari mengambil langkah yang kian dekat ke arah Hyukjae. Membuat Jendral itu menurunkan bahunya dengan tidak nyaman.

Ekspresi Hyukjae berubah saat ia dipaksa melangkah mundur seiring mendekatnya Donghae.

Hyukjae tertegun mendengar kata-kata Pangeran Hviturland itu, jarak mereka yang terlalu dekat tak ayal membuat semburat merah muncul tanpa tertahan di wajahnya. Hyukjae bisa melihat dengan jelas setiap garis di wajah Donghae. Hyukjae bisa melihat dengan jelas wajah rupawan Pangeran Snowelf itu. Keningnya yang lebar, alisnya yang tebal, matanya yang dalam, hidungnya yang  mancung, dagunya yang runcing, dan bibirnya—

Emosi Hyukjae berubah menjadi rasa panik, ia tidak tahu harus mengarahkan bola matanya kemana. Memandang tepat ke dalam bola mata biru langit itu seketika membuatnya salah tingkah.

“Hei. Hyukjae, kan?” bisik pangeran itu lirih tanpa memutus kontak mata mereka.

“Y-y-ya?” Jantung Hyukjae berdegub cepat. Mungkin karena kekhawatiran pada apa yang akan diucapkan Pangeran itu, atau karena jarak mereka yang terlalu dekat dan memamerkan kecantikan sempurna seorang snowelf tepat di hadapannya— Hyukjae menelan ludahnya susah payah.

“Hyukjae-ah…”

Hyukjae mendelik. Mengulurkan tangannya ke belakang, bermaksud mencari pegangan.

“Kau manis juga.” ujar Donghae tanpa ekspresi.

“HAH?!—” Hyukjae kaget, sempat tak percaya pada pendengarannya yang tajam dan berusaha menelaah segalanya saat Donghae tiba-tiba menangkap dagunya, mempertemukan bibir mereka dalam satu ciuman lembut yang pendek.

Mata Hyukjae terbelalak.

Kelembutan yang mendarat di bibirnya itu nyaris membuatnya tidak bisa berpikir. Yang bisa ditangkapnya dengan jelas hanya barisan tebal rambut pirang kecoklatan yang sedikit menyentuh wajahnya.

Saat Donghae bermaksud menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Hyukjae, pemuda werewolf itu segera tersadar dan dengan panik mendorong Donghae sembari berteriak kesetanan. Sialnya, bukan pemuda di hadapannya yang jatuh tersungkur. Tapi kakinya terantuk sesuatu saat ia mencoba mundur.

“U-UWAAA!” Hyukjae terhuyung ke belakang tanpa sempat menahan bobot tubuhnya. Penjagal setinggi betis itu sukses membuatnya terjungkal dan—

BYUUURRR!

Hyukjae jatuh ke dalam kolam. Sekujur tubuhnya terendam dalam kubangan luas air dingin yang terasa menusuk hingga ke tulang. Jendral itu masih dalam keadaan panik saat ia mati-matian berusaha menjaga keseimbangannya dan berenang ke permukaan. Dinginnya kolam membuat usahanya berubah ekstra. Kepala Hyukjae menyembul diiringi umpatan kasar sembari menggosok wajahnya yang basah.

Donghae masih berdiri di tempat yang sama, menyeringai kecil melihat Hyukjae dalam situasi memalukan.

“Hmph. Kurasa ini akan jadi contoh yang baik agar kau mengerti maksudku tadi, Tuan Jendral Pasukan.” Setelah mengatakan itu, Donghae berbalik pergi meninggalkan Hyukjae.

“Aaarh! Sialan!” Hyukjae merutuk malu dengan perasaan campur aduk sebelum akhirnya keluar dari kolam itu dan kembali ke pasukannya dalam keadaan basah kuyup.

.

oOoOoOo

.

Sungmin keluar dari kamarnya dengan separuh tidak rela. Snowelf muda itu menundukkan kepalanya dan berjalan dengan bibir terlipat saat seseorang memanggilnya pelan dari belakang.

“Minnie—”

Sungmin menghentikan langkahnya. “Hm?” sahutnya seraya berbalik begitu santai tanpa memikirkan siapa pemilik suara yang baru saja memanggilnya. Dan saat mengenali sosok tinggi bersetelan putih itu, Sungmin sontak mendengus dan berbalik lagi dengan kasar. Ia melangkah lebar-lebar meski tetap saja langkahnya akan kalah dari langkah panjang Siwon.

“Huh! Aku tidak mau bicara dengan Won Hyung!”

“M-Minnie! Dengarkan hyung dulu!” Siwon panik mengejar, tapi ia tidak berani meraih bahu Sungmin sekalipun langkah adiknya begitu mudah digapainya.

Ani! Won Hyung bukan hyungku!”

“M-Minnie!”

“Yah! Pergi sana!”

“ANDWAE! M-Minnie jangan begitu! Hyung menyesal!”

Langkah Sungmin terhenti, tapi bocah itu menolak memalingkan wajahnya. Bibirnya masih mengerucut.

“Minnie-ya~” Siwon mengulurkan tangannya mencoba menyentuh bahu itu, tapi ia buru-buru menariknya kembali. Sungmin berbalik cepat dan memasang tampang kesal padanya! PADANYA! Seumur-umur baru kali ini adiknya memasang tampang begitu tidak menyenangkannya. Siwon tersakiti lebih dari apapun.

“Apa?” Sungmin bersungut-sungut.

Siwon menghela napasnya, menahan emosi yang tiba-tiba membuncah di dadanya meski apa yang terucap dari bibirnya berbanding terbalik dengan perasaan di hatinya kini.

“Hyung sangat-sangat menyesal Sungminnie. Won-hyung ingin tahu kabar Kyuhyun, apa dia baik-baik saja?”

Kening Sungmin melemas, pandangannya melunak. Tapi sahutannya masih dipenuhi nada curiga. “Hyung tidak bohong, kan?”

“Andwaee!” Siwon mengerang, suara frustasinya terdengar begitu alami.

“Janji?” Sungmin mengulurkan kelingkingnya, suaranya berubah pelan. “Hyung akan minta maaf pada Kyuhyun-hyung?”

Siwon menelan ludah, wajahnya menunjukkan segala bentuk penyesalan. Tapi saat ini hanya dirinya dan Dewa yang tahu, sebesar apa amarah yang membuncah didadanya mendengar nama itu terlontar dari bibir Sungmin. Siwon menahan diri, dengan lihainya ia mengubah ekspresinya melembut sembari tersenyum lemah. “Apa perlu sekarang? Ayo kita kembali ke kamarmu. Hyung sangat menyesal sampai sesak rasanya.”

“Jangan sekarang, Kyuhyun-hyung sedang istirahat nanti Kyuhyun-hyung marah.”

Siwon mengerang dalam hati mendengarnya. “Kalau begitu Minnie ikut hyung?”

“Mau kemana?” Sungmin mengerutkan keningnya, tapi melihat ekspresi memelas Siwon, ia tidak mampu menunjukkan sikap tidak ramah itu lebih lama.

“Hyung rindu Minnie, apa tidak boleh mengobrol dengan adik sendiri?”

Sungmin menghela napas, sengaja menurunkan bahunya dengan lugas untuk menunjukkan sikap enggannya.

“Please, Minnie? Hyung ingin memberikan obat untuk Kyuhyun juga. Obat itu ada di kamar. Eomma menitipkannya untuk diberikan padamu.”

“Sungguh?”

“Kenapa kau curiga sekali, sih?” Siwon menahan napas, dua alisnya meliuk malang. Sembari memasang ekspresi terluka ia menurunkan bahunya. “Yasudahlah, biar eomma saja yang berikan padamu. Mungkin Minnie memang tidak ingin mengenal hyung lagi. Sekali lagi maafkan Hyung, hyung tidak bermaksud melakukan— Ah, sudahlah.” Siwon berbalik dengan gestur terluka.

Sungmin mendelik panik. “Y-Ya! Hyungie~” buru-buru dikejarnya Siwon, dirangkulnya tangan hyungnya itu sembari bergelayut manja. “Baiklah Minnie ikut, hyung! Minnie saja yang ambil obatnya!”

Siwon tersenyum manis, dalam hati Putra Mahkota itu bersorak menang. “Ada di kamar, ayo!”

“Tapi hyung benar-benar-benar menyesal kan?” Sungmin bertanya sekali lagi, dengan nada yang sama ragunya begitu mereka sampai di kamar Putra Mahkota.

Siwon mempersilahkan adiknya untuk duduk di tengah ruangan, seakan Sungmin tamu yang baru pertama kali ini diundangnya kemari. Siwon meringis membayangkannya, mengingat seberapa sering adiknya ini datang ke ruangan ini tanpa izin, merengek memelas perhatian dan waktunya. Kalau bukan karena keputusan sepihak ayahnya, kalau bukan karena Kyuhyun, kamar ini sudah menjadi kamar Sungmin, kamar seorang consort dari Putra Mahkota kerajaan ini.

Sekarang, posisi mereka seperti dua orang asing yang bertemu pertama kali. Sungmin duduk di seberang sana. Meja bundar ini memang tidak memberi jarak yang terlalu jauh, namun gerak-gerik Sungmin menambah jarak imajiner itu berpuluh kali lipat.

“Hyung sangat-sangat-sangat menyesal, chagiya.” Siwon menghela napas, berat mengucapkannya juga berat membayangkannya. Apa yang disesalinya? Siwon bahkan tidak tahu kemana arah obrolan mereka. Yang dilakukannya sekarang hanya merespon semua ucapan Sungmin dengan jawaban yang diharapkan adiknya.

“Aku masih tidak mengerti kenapa hyung mengajak Kyuhyun-hyung bertarung di tempat itu.”

“Itu tradisi, Sungmin-ah.”

“Itu tidak adil…”

“Hyung sudah bilang hyung menyesal, kenapa masih dibahas?” Siwon mengerutkan keningnya tak senang. Pria bertubuh tegap itu berdiri, memunggungi Sungmin sembari sibuk menyusun dua cangkir putih ke atas nampan di meja yang berbeda. Dituangnya sendiri teh yang dipanaskannya dengan sihir itu memenuhi kedua cangkir, sembari menambahkan gula dan mengaduk dengan gerak lembut, Siwon melirik adiknya. Saat dilihatnya Sungmin begitu lengah, ia menuangkan serbuk lain ke salah satu cangkir.

“Huft.” Sungmin menghela napas berat, bocah itu menundukkan wajahnya. Masih berberat hati melepaskan kesalahan kakaknya begitu saja. Saat dengan jelas dalam benaknya, terbayang-bayang wajah dan tubuh Kyuhyun bersimba darah, berlutut dengan luka menganga di dadanya, sedang hyung tertuanya berdiri dengan senyum penuh kemenangan.

Sungmin tahu tempat apa itu, Clocha de na Deithe, meski jarang melihatnya secara langsung ia mendengar kisah tentang ratusan siluman yang dieksekusi disana. Selama ini, sang eomma selalu melarangnya datang ke tempat itu. Tapi kemarin saat merasakan lantai arena itu tepat menyentuh telapak kakinya, Sungmin merasakan kekuatan aneh yang menarik turun seluruh otot-ototnya, seakan memaksanya untuk berlutut disana. Ada apa? Sungmin tidak mampu mengusir dugaan-dugaan dari dalam benaknya. Apakah karena ikatannya dengan Kyuhyun? Atau karena mantra penyembuhan yang dirapalnya dengan paksa di tempat itu? Keduanya tidak memberi penjelasan yang memuaskan.

“Aneh.” Bisiknya tanpa sadar. Siwon sontak berbalik dan menatap adiknya bingung.

“Apa yang aneh?”

“Ah, tidak.” Sungmin menggaruk tengkuknya dan tersenyum canggung, diterimanya cangkir yang disodorkan Siwon dengan kedua tangan. Sesuai kebiasaannya, Sungmin mengusap-usapkan kedua tangannya ke pinggiran cangkir yang hangat sebelum disesapnya cairan manis itu.

“Wajahmu sedikit pucat, Sungmin-ah. Apa jubahmu kurang hangat?” Siwon melirik adiknya khawatir. Sungmin hanya mengangkat bahu, menyesap lebih dalam teh dari dalam cangkirnya.

“Hyung sendiri yang bilang aku selalu pucat.”

Siwon tertawa mendengarnya. “Tapi kali ini kau pucat— pucat!”

Sungmin menjulurkan lidahnya, tidak mau kalah melihat tawa separuh mengejek kakaknya. Ditariknya kelopak bawah matanya sembari memasang wajah buruk rupa. “Biar saja. Teukie-eomma bilang kulit pucatku terlihat cantik.”

“Teukie-eomma?” Siwon mengerutkan kening, Sungmin mengangguk lemas sembari menguap.

“Hoaamm—“ Bocah itu menutupi mulutnya, matanya mengerjap lemas. “Ah, rasanya tiba-tiba mengantuk.”

Siwon terdiam. Keningnya makin bertaut. Namun pria itu tidak melakukan apapun selain membeku di tempat duduknya.

“Hyunga—“ Sungmin mendongak, kedua kelopak matanya terasa begitu berat dan— DUK.

Kepala mungil itu mendarat lunglai di atas meja. Siwon menggigit bibir, ia menyingkirkan dua gelas di atas meja dan beringsut mendekat.

“KLEK!” Pintu ruangan itu terkunci rapat dengan sihirnya.

“Maafkan hyungmu, Sungmin-ah.” Bisik Siwon meski suaranya jauh dari nada bersalah. Diraupnya tubuh Sungmin dan dibawanya ke atas ranjang. Dibaringkannya tubuh ringkih itu dengan hati-hati. Lalu Siwon duduk membeku, terjebak dalam lamunan saat dipandanginya wajah Sungmin yang pulas lelap. Wajah manis itu yang selalu muncul dalam mimpi-mimpi penuh dosanya. Wajah yang selalu diharapkannya dapat menghangatkan tempat tidur ini—

Sekarang saat sosok ini terbaring lemah tak berdaya tepat di bawahnya, Siwon menemukan dirinya justru membeku. Tidak mampu bergerak, meski geliat impiannya sudah menghentak-hentak memaksa dilampiaskan.

Siwon termenung lama, ia hanya mampu menyapu tangannya melintasi dagu mungil adiknya. Sekali, dua kali, lalu beranjak mengusap pipi, turun ke leher, dan disentuhnya kerah jubah Sungmin yang tebal dan hangat.

Siwon menelan ludah.

Ia percaya pada Heechul. Karena itu Siwon nekat melakukan hal ini. Kemarin saat menyaksikan adiknya jatuh bersimpuh dan kesakitan, untuk sejenak Siwon diserang oleh prasangka— ramuan yang diberikan Heechul tidak bekerja. Ramuan itu tidak berhasil memutus ikatan mate antara adiknya dan putra mahkota Negri Merah. Tapi di saat yang sama, ia juga menyaksikan Sungmin melakukan mantra penyembuhan. Mantra kelas berat yang bahkan tidak dikenalnya. Darimana dan bagaimana Sungmin mengetahui dan menghapalkan mantra itu masih menjadi misteri. Hal yang justru menarik perhatiannya lebih dari apapun—

Sungmin yang pulih dalam dua jam, sedang pangeran Merah masih meringkuk di kamarnya didera luka dan kesakitan. Jika keduanya masih tersambung ikatan yang kuat, pihak yang seharusnya paling terluka adalah— adiknya.

Dan di bawah tubuhnya sekarang. Sungmin terlelap, bernapas tenang tanpa menunjukkan sedikitpun sisa kesakitan. Hal itu semakin menguatkan dugaan Siwon, dan menguatkan niatnya untuk mengulangi dosa yang sama.

Ia masih ingin memisahkan mereka.

Siwon membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Sungmin. Kali ini tanpa berpikir dua kali disesapnya bibir merah adiknya, sebelah tangannya merengkuh tubuh Sungmin lebih dekat, sedang sebelah tangannya yang lain menyusup masuk ke balik jubah yang dikenakan adiknya.

Suara Heechul kembali berbisik dalam benaknya.

‘Kau akan merasakannya saat adikmu seperti dikembalikan ke kondisinya yang semula, seperti siapapun belum pernah menandainya.”

Tangannya yang menyusup masuk di bawah sana gemetar, tapi hatinya sama sekali tak gentar.

“ Lakukan dengan seluruh hasratmu untuk menodainya.’

.

oOoOoOo

.

Suasana kamar Sungmin begitu sunyi. Prajurit Kyuhyun mengawasi setiap celah, memastikan tidak akan ada telinga yang menguping. Kyuhyun duduk di pinggir ranjangnya, mengenakan jubah penghangat yang disampirkan asal-asalan di punggungnya. Perban yang melilit di dada hingga pinggangnya kembali basah oleh darah, tapi Kyuhyun seakan tidak merasakan apa-apa. Pemuda itu duduk dengan tegap, pikirannya tengah terbang ke banyak tempat.

“Kami tidak mendapatkan banyak informasi. Tapi tempat itu sudah ada jauh sebelum Raja Yunho memerintah generasi ini. Dan biasanya mereka mengorbankan macan hutan untuk pembukaan festival, disembelih tepat di lingkar tempatmu bertarung dengan Pangeran Hviturland.” Seorang prajurit menjelaskan lamat-lamat.

‘Jadi mereka menganggapku seekor binatang jalang? Dan berniat menyembelihku sebagai kurban? Konyol sekali.’ Kyuhyun mendengus, tidak mengutarakannya dengan gamblang karena khawatir akan menyulut emosi diantara prajuritnya. Hyukjae berdiri dekat disisinya, Jendral itu menggunakan seragam prajuritnya tanpa jubah penghangat meski sesekali ia tampak mengusap bahu dan menggigil. Kyuhyun kenal betul perangai jendralnya, terutama yang satu ini. Dengan harga diri setinggi langit, Kyuhyun sudah mengira Hyukjae tidak akan sudi mengenakan pemberian apapun dari Hviturland setelah jendral muda itu tahu apa yang dilakukan Negri Putih pada Putra Mahkota Radourland.

“Raja yang memerintahkan ini?” Junjin mendengus, pria itu berdiri tak jauh dari mereka. Menantu tertua Kangin itu duduk gusar di atas kursinya, seakan bisa membayangkan dalam benaknya amukan macam apa yang akan diterimanya setelah mereka kembali nanti. Dan itu pun— kalau mereka masih bisa pulang dengan selamat dari tempat ini. Bagaimana jika Raja dan Pangeran-Pangeran Putih merencanakan hal jahat lainnya?

“Ia benar-benar ingin berperang dengan kita rupanya?”

Kyuhyun menghela napas, ia menatap kakak iparnya dengan kening bertaut. “Tidak. Aku yakin Raja tidak tahu menahu tentang ini. Jadi tolong simpan cerita ini untuk sementara. Bahkan jangan terpikir untuk mengirim surat apapun pada ayah.”

“Tapi Kyuhyun-ah! Kau sudah mendengar sendiri dari prajuritmu. Tidak ada battle seperti ini sebelumnya, mereka sengaja menjebakmu dan terlambat sedikit saja— negri kita akan kehilangan Putra Mahkota. Ini sudah kelewat batas!”

Noona.” Kyuhyun terkekeh kecil. Tidak menyangka kakak perempuannya yang biasa stoik itu bisa berapi-api. Kyuhyun memijat tengkuknya, lalu mendongak pada Hyukjae dan empat orang prajurit yang ada di sana.

“Aku ingin bertiga saja dengan kakakku. Kalian boleh keluar. Dan Hyukjae—“

“Ye, Yang Mulia?”

“Awasi mateku.”

Hyukjae mengangkat sebelah alisnya, tapi ia tidak bertanya.

“Ikuti dia kemanapun tapi jangan lakukan apapun. Kau hanya akan mengawasi dan tidak bertindak di luar perintahku, kau bisa janjikan itu Hyukjae?”

Hyukjae menelan ludahnya. Merasa ragu untuk sesaat mengingat emosinya yang kerap menggebu-gebu. Tapi pada akhirnya Jendral muda itu mengangguk.

“Ye, Yang Mulia.”

Hyukjae menutup pintu kamar itu, meninggalkan Kyuhyun bersama Gain dan Junjin.

“Kyuhyun-ah. Kita harus segera mengabari Appa. Kita tidak tahu apa yang direncanakan Raja Putih dan seluruh Puteranya. Mungkin ia akan kembali dan mencoba membunuhmu lagi!”

Kyuhyun tetap menggeleng, pandangannya berubah sayu. Pemuda itu memegangi lukanya hati-hati, masih merasakan sakit disana meski tidak separah saat pertama kali ia mendapatkan luka itu.

“Percaya padaku. Jangan terburu-buru, karena aku yakin Raja tidak terlibat dalam masalah ini. Sedikit saja kecerobohan, negara kita benar-benar akan berperang dengan Hviturland. Kalian tahu Appa, kalian kenal baik perangai laki-laki tua itu. Kalau dia sampai mendengar anak kesayangannya ini lecet—“ Kyuhyun berdecih sendiri pada ucapannya dengan jijik, tapi ia tidak melanjutkannya. “Akan kuceritakan alasanku, dan kalian harus menyimpan cerita ini sampai kapan pun. Setuju?”

Gain dan Junjin saling memandang, hingga akhirnya Gain melemaskan bahunya yang tegang dan Junjin menghela napas berat. Sama-sama tidak rela.

“Baiklah,” sahut Junjin lemas.

“Jangan kaget.” Kyuhyun menyeringai, membuat Gain dan Junjin semakin khawatir melihatnya.

“Putra Mahkota Putih menyukai mateku.”

Tentu saja, Gain dan Junjin tidak bisa tidak kaget saat itu. Keduanya mendelik dengan mulut menganga.

“Ap—“ Gain tercekat, dan suaminya tak kalah menunjukkan reaksi yang sama.

“Yang benar saja!” Junjin memekik tidak percaya.

Kyuhyun menggeleng melihat respon keduanya.

Appa yang memberitahuku. Raja tidak begitu menyukai Sungmin, karena itu Raja menyerahkan putra bungsunya dengan begitu murahnya. Tapi yang kulihat, seisi istana menyayangi Sungmin-ku kecuali ayahnya sendiri.” Kyuhyun berdecih dalam hati, merasa malu sendiri pada kata ‘Sungmin-ku’ yang baru saja terucap dari bibirnya. Beruntung kedua kakaknya tidak begitu ambil pusing, dan tampak masih terkaget-kaget pada info pertama yang diutarakannya.

“Siwon dan Sungmin dilahirkan dari Ratu yang berbeda, atau bisa dibilang, ibu Sungmin belum sempat menjadi Ratu setelah ia melahirkan mateku. Mungkin Raja membenci Sungmin karena alasan itu.” Kyuhyun menggeleng, merasa konyol memikirkan alasan ini. Tapi tidak ada lagi alasan lain yang lebih masuk akal untuknya. Kenapa seorang Raja, seorang ayah, bisa begitu membenci pangeran kecilnya?

“Dan kebencian Raja semakin bertambah saat tahu Pangeran Pertamanya menaruh ketertarikan khusus pada Sungmin, adiknya sendiri, sekalipun mereka berasal dari rahim yang berbeda.”

Gain duduk lemas di sisi suaminya, sedang Junjin masih menggeleng tidak percaya.

“Karena itu Raja membuang Sungmin— pada kita?”

Kyuhyun mengendikkan bahunya. “Mungkin. Yang pasti aku masih belum mendapat jawaban, kenapa telinga mateku berbeda dari snowelf lainnya…” Kyuhyun berbisik dengan pandangan menerawang.

“Jangan bilang Pangeran Kecilmu anak haram ibunya! Mungkin saja ibunya berselingkuh dengan siluman atau manusia, hingga anaknya terlahir berdarah campuran, lalu bertelinga biasa. Dan karena itu Raja membencinya.”

Kyuhyun meringis mendengarnya, “Dan kau pikir Raja bisa mengizinkan hal semacam itu terjadi di istananya? Dengan bukti nyata yang terus hidup dan berjalan di sekitarnya? Kalau aku jadi dia, aku akan membunuh ibu Sungmin sebelum ia melahirkan bayinya.”

Kyuhyun mendengus, sadar betul ia mengucapkan sesuatu yang tabu bagi dirinya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan jika hal itu benar terjadi dan Sungmin tidak akan pernah hadir dalam hidupnya.  Tapi hal itulah satu-satunya yang terbayang di kepalanya. Itu salah satu tindakan yang masuk akal dilakukan seorang raja jika pasangannya berselingkuh. Lebih-lebih melahirkan anak haram!

“Dan kalau kalian lupa, Garis Darah Suci yang begitu dibanggakan ras negri ini—“ Kyuhyun belum selesai saat Gain mendongak dan melanjutkan ucapannya.

“—Garis darah yang tidak bisa dicampuri.”

Kyuhyun dan Gain saling bertatapan penuh arti, meninggalkan Junjin yang menatap keduanya dengan bingung.

“Apa ini?”

Kyuhyun memalingkan wajahnya. “Garis Darah Suci, hyung tidak tahu?”

“Aku sudah menyuruhmu membaca satu buku Hviturland sebelum kemari, yeobo.” Gain memutar bola matanya.

“Dan kau tahu aku tidak akan melakukannya, yeobo.” Junjin membela diri. “Buku itu terlalu lusuh, dan isinya membosankan!”

Kyuhyun tersenyum kecil melihat pertengkaran kedua kakaknya. “Akan kujelaskan, hyung. Dengarkan karena aku tidak akan mengulanginya.” Kyuhyun mendengus, lidahnya bahkan terasa kelu saat ia membicarakan sedikit saja soal kesucian bangsa Snowelf. “Garis Darah Suci, itu sistem regenerasi negara ini. Snowelf harus mengawini Snowelf untuk mendapatkan keturunan Snowelf. Tidak ada istilah perkawinan silang dalam sejarah mereka. Peri Salju yang menikahi ras lain ­—baik dominan atau submissive, keturunan mereka akan mewarisi darah orangtuanya yang bukan Snowelf. Anak-anak itu tidak akan mewarisi setetespun darah dari orangtua Snowelf mereka.” Kyuhyun berdecih. “Sekarang kau tahu kenapa jumlah mereka sedikit tapi sombongnya selangit. Dan aku yakin sekali mateku seorang snowelf, aku tidak mencium hal lain selain amis es di tubuhnya saat pertama kali aku menandainya.” Kyuhyun memejamkan matanya, jujur sedikit risih menceritakan masa lalu itu.

Gain menatap suaminya dan tersenyum miring,  “Dan sekarang kau juga tahu kenapa Appa bermurah hati menjodohkan Kyuhyun dengan Sungmin.”

Junjin menganga, menangkap dengan baik semua penjelasan Kyuhyun dan pernyataan istrinya. “Karena Sungmin akan melahirkan Werewolf murni…”

“Tepat sekali.” Kyuhyun mengangguk-angguk puas, meskipun wajahnya masih datar karena begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab di benaknya. Kenapa telinga Sungmin tidak runcing?

“Dan kau yakin matemu benar-benar memiliki ayah dan ibu Snowelf?” Junjin bertanya dengan kening bertaut. “Maksudku— bisa saja matemu bukan benar-benar Snowelf, kan? Dewa tahu, ada banyak mantra tipuan yang bisa mengubah ras seseorang untuk sehari.”

“Sehari? Dan mantra macam apa yang mengubah ras asli Sungmin selama lima belas tahun? Mantra setan?” Kyuhyun tertawa hambar. “Lagipula apa kau mencium aroma lain selain bau salju di tubuh pendeknya itu? Bahkan setelah aku mengawininya pun, aroma istana ini tetap dibawanya sampai ke Radourland. Dan baguslah anakku nanti tidak akan mewarisi aroma tubuhnya itu.”

“Tapi telinganya tidak runcing. Dan ini pertama kalinya aku melihat snowelf dengan telinga seperti itu!”

“Itu juga yang masih menjadi pertanyaanku. Sekalipun ibunya berselingkuh dengan snowelf lain dan melahirkan anak haram yang diakui Raja, penjelasan ini tidak memuaskanku. Kenapa telinganya tidak runcing?” Kyuhyun berdiri pelan-pelan, memegangi luka di dadanya sembari menolak uluran tangan Gain yang bermaksud memapahnya. Ia berjalan mendekati jendela, membukanya perlahan-lahan dan melongok keluar dengan helaan napas panjang.

Di luar hampir purnama.

“Kalau memang Sungmin bukan anak Raja, berani sekali ia menjodohkan anak haram itu denganmu! Ia pasti sudah merencanakan semua ini, Kyuhyun-ah. Memberikan Pangeran yang tidak terikat darah dengannya, agar aliansi ini tampak menguntungkan bagi kita meski sebenarnya tidak!”

Kyuhyun mengerang, ingin marah tapi ia menahannya diam-diam. Bagaimana mungkin hatinya bisa tentram mendengar mate kecilnya disebut haram? Pangeran buangan? Sekalipun itu kenyataan, Kyuhyun tidak suka mendengar matenya disebut sedemikian hina.

Ia berbalik menghadap kakak iparnya sembari memasang tampang tak senang, Kyuhyun berdiri memunggungi jendela sekalipun purnama yang tertutup awan di luar sana memanggil-manggilnya.

“Aku sudah bilang. Semua orang di istana ini menyayanginya kecuali Raja. Sungmin masih punya pengaruh kuat untuk mengikat Radourland dan Hviturland. Ratu dan semua pangeran berdiri di belakang punggungnya,” Kyuhyun malah kesal sendiri pada kenyataan yang sebenarnya menguntungkan itu. “Haish bocah itu!” Ia tidak suka melihat keakraban Sungmin dengan seluruh saudaranya yang terkesan kelewat batas.

“Kita bisa cari tahu lebih banyak. Tapi yang jelas—“ Gain mengangkat tangannya, menunjukkan gestur menyerah. “Kita harus segera kembali. Aku tidak betah berlama-lama disini.”

Kyuhyun tidak menjawab, sesaat yang lalu pangeran itu berbalik kembali menghadap jendela, lalu tampak seakan terlena dan tidak mendengarkan ucapan kedua kakaknya sama sekali.

“Kyuhyun-ah?” Junjin sedikit khawatir, ia mengikuti Gain yang sudah berdiri mendekati adik iparnya.

Di luar memang tengah purnama, meski bulan itu masih tertutup oleh awan-awan gelap, tapi keberadaannya sudah demikian memikat.

“Kyuhyun-ah? Ada apa? Kau ingin keluar?” Gain memegangi bahu Kyuhyun, agak heran saat gestur lembutnya itu mengejutkan adiknya. Kyuhyun sampai berjengit seakan ia dibangunkan dari lamunan panjang.

“Ah? Ya? Tidak. Aku tidak ingin buluku kotor terkena salju.” Kyuhyun tahu itu alasan yang konyol. Begitu ia berubah ke wujud serigala sempurna dan salju-salju turun mengotori bulu pekatnya yang indah, toh bulir es itu hanya akan menjadi tetes-tetes air di atas kulitnya setelah ia kembali ke wujud rampingnya.

Kyuhyun sedikit malu mengungkapkan alasan sesungguhnya kenapa ia tidak ingin keluar sekalipun purnama itu begitu mempesona.

‘Aku tidak cukup kuat untuk berubah saat ini.’

Dan sialnya, kakaknya seakan mengerti sekalipun Kyuhyun tidak mengutarakannya.

“Kalau kau mau, kami bisa menjagamu.”

Kyuhyun mendengus, lalu tertawa datar. “Kau bercanda? Hahaha. Aku sudah muak menjadi pengasuh Sungmin, dan sekarang kalian berminat menjadi pengasuhku?”

Kyuhyun mengeram pelan. ‘Tidak akan.’ Sambungnya dalam hati.

“Kau terluka parah sekarang. Sudah sewajarnya seseorang membantumu. Kalau kau malu, kami akan merahasiakan tentang ini.” Junjin kembali melanjutkan tawaran istrinya. Tapi Kyuhyun malah makin kesal dan menepis tangan mereka, lalu berjalan kaku ke arah ranjang. Sekilas orang tidak akan tahu Pangeran itu menahan sakit di dadanya saat ia memaksakan diri berjalan tegap.

“Tidak akan.” Jawab Kyuhyun kali ini, sungguh-sungguh dan setengah marah.

“Kau yakin, Kyu?”

“Noona…” suara Kyuhyun nyaris terdengar merajuk, mulai tidak terima diperlakukan seperti anak remaja. Meski dalam siklus manusia, usianya masih setara di awal dua puluh.

“Jangan buat aku marah. Aku serius. Aku akan tidur saja. Kalian ingin melakukannya? Pergilah agak jauh ke dalam hutan. Jangan biarkan seorang Snowelf pun melihat kalian, tolong katakan juga pada yang lain.”

Gain dan Junjin masih sama-sama tidak yakin untuk meninggalkan Kyuhyun, terlebih saat mereka melihat pangeran itu duduk makin kaku sembari memegangi perban di dadanya. Dan pilihan mereka untuk bertahan agak lama di ruangan itu memang tepat. Karena sesaat kemudian tubuh Kyuhyun menegang. Pangeran itu memejamkan matanya kesakitan dan menekan dadanya kuat-kuat.

“Kyu?” Gain berbisik khawatir. Matanya membulat tatkala ia menangkap bulatan-bulatan merah makin meluas di area dada Kyuhyun yang tertutup perban.

“K-Kyuhyun?” Junjin berbisik kaget. Kyuhyun menggelengkan kepalanya kuat-kuat seakan bermaksud menghilangkan pusing itu, tapi gerakannya itu memicu hal lain, darah kental mengalir dari salah satu lubang hidungnya.

“Tidak. Aku tidak apa. Ini Sungmin—” ujarnya tercekat, diusapnya darah di  bawah hidungnya. Kyuhyun terperangah memandangi darah merah yang mengotori jemarinya.

“Aku akan memanggil tabib!” Gain tidak peduli lagi jika Kyuhyun menolak.

Gain bergegas melangkah menuju pintu, namun Kyuhyun bergerak lebih cepat, menahan bahunya dan setengah mengeram.

“Tidak!  Tunggulah disini.” Kyuhyun menarik mundur Gain, memaksa kakaknya untuk tinggal saat ia sendiri melangkah keluar pintu. Langkah pemuda itu goyah untuk sesaat, Gain dan Junjin refleks membantu dengan memapahnya.

“Noona lepaskan aku.”

“Biar kupanggilkan tabib, kumohon Kyuhyun-ah.” Gain separuh memelas. Diremasnya erat-erat lengan adiknya, separuh memaksa Kyuhyun untuk tinggal.

“Tidak, aku harus mencari Sungmin.”

Gain menatap suaminya meminta dukungan saat Kyuhyun menyentak lengannya memaksa dilepaskan. Junjin hanya mampu memandang keduanya bergantian, tahu untuk tidak ikut bicara saat nada suara Kyuhyun berubah dalam.

Kyuhyun mengerang, tidak senang dipapah seperti itu. Ia menyeka darah di hidungnya dengan kasar, lalu kembali memaksa melangkah keluar.

“Lepaskan aku sekarang, Noona.”

“Tidak!” Gain memekik. Tidak mendapat dukungan suaminya bukan berarti ia akan mengalah. “Appa menitipkanmu padaku, menurutlah padaku Kyuhyun!” serunya.

“NOONA!” sentak Kyuhyun kasar, pupil matanya berkilat keemasan. Ia hanya menatap Gain, namun Junjin ikut membeku olehnya. Ia tidak pernah suka menggunakan kuasa dominannya pada siapapun, terlebih pada kakaknya sendiri. Tapi Gain memaksanya melakukan ini.

“Tunggu. Disini.” Tekannya tanpa melepaskan kontak mata mereka. Kyuhyun berbalik, tidak meminta izin lagi dan menarik tangannya kasar. Pemuda itu melesat dan menghilang.

Tangan Gain masih gemetar beberapa detik setelah kepergian Kyuhyun, lalu wanita itu jatuh berlutut dan merintih tertahan. Junjin juga gemetar, namun lebih mampu mengendalikannya. Ia berlutut dan direngkuhnya tubuh Gain.

“Y-Yeobo.” Lirih Junjin saat Gain menolak mengangkat kepalanya.

Wanita itu meremas lututnya separuh mencakar. Jantungnya berpacu kencang menyesakkan. Kilat keemasan itu masih membayang di benaknya, merampas seluruh energi yang menopangnya untuk berdiri. Gain hanya pernah sekali menerimanya, saat puluhan tahun lalu dirinya kabur dari istana dan ayahnya begitu murka. Tidak pernah menduga akan menerima tekanan yang sama, dan jauh lebih menakutkan dari milik ayahnya.

Butuh waktu lama bagi Junjin untuk menarik perhatian istrinya. Saat Gain kembali, wanita itu menangis sembari meremas dadanya erat-erat.

.

oOoOoOo

To Be Continue…

oOoOoOo

.

Ummm… Jadiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….

Setelah kurang lebih setahun vakum berhenti menulis (mengetik), mengumpulkan sisa puing-puing hati yang hancur (yaelah) di dunia fangirling Kyumin yang dihempas tsunami

…Minalee & Dee berdiskusi untuk melanjutkan ff ini (dan beberapa judul yang lainnya, mungkin semua, mungkin tidak) sampai selesai (Insya Allah, doain aja, takutnya ngibul soalnya). Karena sebagai reader kita juga mengerti gimana rasanya digantungin T.T ga enak banget kan…

Bagi yang masih setia mantengin dunia per-ff-an dan per-yaoi-an Kyumin, dan yang masih setia ngikutin ff kami, selamat lebaran dan selamat membaca yaa…

Jangan lupa kritik saran kalian yao!

Salam,

Minalee & Dee

 

29 thoughts on “Cursed Crown – Chapter 13

  1. nany elf says:

    Thor boleh mnta pass kitty2 baby yg bru post, skalian yg cursed crown… Mf aq udh brbulan2 gk baca ff kyumin :’

    Dikirim dari Windows Phone Vincent_Cho ________________________________

  2. Cindy says:

    Akhirnya update jgaaaaaaa… Greget banget bacanyaaa hahaahaha
    aku ga punya kritik / saran saking bagusnya ff ini kkkk semoga bsa update lebih cepat ya authornimdeul ^^
    Keep Writing~!

  3. hahaha lanjut juga.. hihi
    wanita?? heechul kah?
    aku di sini mengharapkan adanya kibummie~ bagaimanapun dia couple siwon, aish siwin nekat banget kau nak..
    lanjut TT

  4. evilbunny says:

    Finally.. Salah satu ff yg tetep nancep di otak & bikin kepikiran sampe sekarang meski udah baca berbulan2 lalu.
    Aku KMS baru, bahkan baru jadi KMS setelah kejadian itu terjadi.:/ Salam kenal. ^^v
    Awalnya cuma iseng baca ff kyumin, tapi setelah itu malah jadi gak bisa baca ff lain selain kyumin. Mwehehe.
    Salah satunya ya ff ini. Begitu ada update di fb, langsung deh buka webpage.*maaf jadi curhat* ×_×

    Sekarang susah banget nemu ff baru tentang mereka atau ff lama yg akhirnya keputus di tengah jalan.
    Cuma mau semangatin author-nim. Sampai kapan pun aku tetep nungguin kisah mereka kok. Jadi please, tetep semangat ya thor buat lanjutin ff ini. Kitty kitty baby juga, please. Hehe
    Author fighting.!!

    *maaf comentnya panjang*🙂

  5. wahhhh keren nunnna tp kok cm dikit padahal q uda penasaran bgt! apa yg bkal dilakuin siwon ama sungmin! smoga kyuhyun bisa nyelametin min tepat waktu!!!!

  6. wifeleeteuk says:

    akhirrr nyaaa di lanjut juga (´∀`) duhh kyumin moment nya dikit banget ga cukup buat aku yg merindukan moment2 sweet mereka T.T rasa nya udah keselek di tenggorokan T.T
    itu siwonn mau apa…hueee selamatkan sungmin..jebal…
    ada haehyuk juga kah?ciee ciee baru ketemu usah main sosor,…

    dan aku sangat berterimakasih jika ff ini bakal di lanjut terus…biarlah kenyataan nya kyumin berakhir tapi dalam hati dan Imajinasi kita KYUMIN NEVER END….fightingg AUTHOR-nim!!!!!!(ノ・ω・)ノ゙

  7. lovekyu says:

    horeeeee akhirnya dilanjutin setelah di GANTUNG dengan ketidak jelasan…harus dilanjutin semua ya
    aq g masalah sih si sungmin mo nikah didunia nyata…hihi
    jujur…aq bkn fans kyumin bgt….cuma krn aq suka kyuhyun…jadi aq suka baca semua ff yg ada kyuhyunnya…mau kyu jd seme ato uke…ato brothership
    tp awal tau blog ini aq suka bgt baca ny…author km bnrn punya bakat nulis (ngetik)…imijinasi km kuat bgt..jd mudah buat bayangin segala hal yang ada di cerita…
    aq sudah baca banyak bgt ff…ini salah satu terbaik…serius…bbrp ff yg pernah aq baca sering pakai bahasa yang terlalu ABG…dan jadi kurang enak dibaca

    bakat menulis harus selalu disalurkan ya author-nim…ayo semangat
    mungkin next bisa bikin novel???

  8. ahirnya dilanjutkan ff ini. huhuhu ;___; /terharu/
    ff yg paling ingin dibaca slah stunya adlah ini. rahasia sungmin aja blom teruangkap dan sungmin yg ngangeni disni slalu dirindukan. huhuhu… please lanjut terus dong. kalo bisa slalu buat ff yg bagus2 lgi. pasti banyak yg mnantikan 😢

    diluar dri ff ini, ngomongin kehidupan nyata trutama untk joyers entahlah. dibilang hati jg udah gak berbentuk lgi. tapi paling tidak cerita dbalik itu sedikit dmi sedikit trbuka. ya conthnya aja cerita heechul di radio star, ketidak sukaan suju sma nugu paling tidak memberika jawaban kalo slama ini mamng ada yg ditutupi dan kbar bahagia suju gak suka sma saeun. bahkan walo sakit tiap ada update nugu atau siapapun paling tidak jg membuka mata kita kalo saeun jg yg slama ini kita pikirkan. buktinya aja dgn nama sungmin dia bisa mlakukan apapun bahkan punya variety show sndiri /sigh/
    dan yg paling penting dri smuanya adlah, keanehan kyuhyun dan skandal sungmin bukannya ckp menarik perhatian. kyuhyun tak pernah mau koment soal ini bahkan brapa x saat MC radio star mnyinggung kyuhyun slalu mngalihkan pembicaraan. dan khyun sndri jg gak pernah mau komentar soal ini, pdahal dilihat dri smuanya bukannya khyun adalag org trdekat sungmin. roommate bertahun2 masak gak tau apa2 soal sungmin, atau masak sgitu teganya gak dtg pernikhaan sahabatnya atau yg katanya hyung kesayangannya. ah… sudahlah berharap aja saeun sgra hilang dri dunia dan khidupan ini, dan kembali sperti sblum dunia kegelapan mnyerang. wkwkwk
    ya drama yg makin hari makin membosankan, smoga ending sesuai dgn yg dharapkan.

    Gak bisa koment di ffn, jdinya pindah kmri biar bisa koment. Huhuhu… ffn lg kumat ;_;

  9. Nana Cho says:

    FF di blog ini keren bngt….jd tak ada kritik lg…..hanya ingin menyampaikan sedikit permohonan agar Ffny bs ttp dilanjutkan ampe selesai.
    Siwon terobsesi bngt dgn sungmin ampe melakukan segala cara utk menjadikan sungmin milikny tnp peduli dgn akibatny…Ikatan mate antara kyu & ming sngt erat bngt….pdhl ming udh dikasih ramuan utk memutuskan sementara ikatan mate mrk tp kyu ttp bs merasakan bahaya yg sdng terjadi pd sungmin.
    Penantian panjang menanti ff ini update tdk sia2…chap ini keren bngt.
    Terima kasih bnyk udh mau ttp melanjutkan FFny🙂
    Terima kasih utk ttp bertahan sbg Joyers & sbg author ff kyumin…ditengah2 keadaan yg krng mendukung.

  10. Haaaaaaaa,,, kenapa harus to be continue di sana,,, ikh sebel banget sama siwon.. Mudah2an kyu sampai tepat waktu ya, sebelum min dinodain sama siwon, lagian c, tadi min mau nemenin malah ga boleh,, jadi terancam kan minnya… Lanjut ya fiqoh… Ditunggu nih… Thanks for the update… ^^

  11. rha says:

    siwon nya jahaaaaaat njiiiir :@
    baca nya bener2 nguras emosi

    apa cuma gua yg kagak tau cerita quixian Sama bini nya???:/

    sorry sun gua kagak bisa coment banyak, kagak tau musti coment apaan -_-
    yg jelas ff lu bagus sun🙂😀

  12. won2 says:

    akhirnya update juga.. ahh tapi kurang puas,, penasaran dgn nasib sungmin.. pengen liat lanjutannya segera..
    dan sebel banget ni sama siwon…semoga kyuhyun bakala datang tepat waktu, sebelum aiwon ngapa2in sungmin..

  13. welcome back to ff world
    hehehhehehhe

    waduh siwon mau ngapain sungmin tuhhhhhh
    kyuhyun punya firasat soal mate nya nih
    semoga siwon gak sempet ngapain2 sungmin ya

    ditunggu lanjutannya
    hwaiting 😆

  14. 이지아 says:

    oh…god

    wowon jahat amat sih mau nodai mimin huuuuewww….amit2 jgn sampe kyumin dipisahkan…ehmmm aku msh gak ngerti sm kisahnya shengmin kuixian adaapa degn meraka…bknnya baik2 aja ya???
    Trus keadan teukieomma gimana ya gak da sungmin…kan teukimma bisa sembuh tuh ama sungmin hehe ^^
    Semoga bisa cepet update ya min…selalu ditunggu ffnya :*

  15. mingmingming says:

    omg rasanya seneng banget ff ini comeback lagi
    sempet lupa sama ceritanya
    tapi makin seru aja nih
    aku pikir kyuhyun sama sungmin bakalan luka parah banget
    engga taunya cuma kyuhyun aja
    tapi aneh juga kenapa sungmin engga kenapa2
    apa obat dari heechul berhasil
    tapi itu sungmin mau diapain sama siwon
    jangan sampe deh sungmin kenapa2
    tapi kayanya kyuhyun udah sadar ada sesuatu sama sungmin
    ada eunhae moment lucu nih
    huaaaa engga sabar sama lanjutannya
    apdet kilat yaaaa
    ditunggu banget

  16. Kegembiraan yang tak tertahankan saat tau cursed crown update. Terima kasih sudah melanjutkan fic ini kakak2 TuT

    Kuixian dan Shengmin – kuharap Shengmin bangun dengan cepat😦 Kuixian kasian:/
    HaeHyuk… lucu ahaha bagaimana ya kira2 kelanjutan mereka
    Siwon.. ugh no comment TnT di sini aku sedih banget. Terutama karena ini menyangkut Kyuhyun-Sungmin. Apa benar ramuan itu dapat berjalan? Kayaknya engga ya? Kyuhyun yang kena berdarah2 malahan😦 aduhhh TnT

    Kakak2, aku benar2 tunggu lanjutan dari fic ini….. semangat :3

  17. melaa says:

    Haaaahhh akhirnyaaaaa… eonni bener2 menjungkirbalikkan hatiku buat nunggu kelanjutan fic ini, yang setelah berlanjut pun hatiku tambah diobrak-abrik T-T please jangan bikin ming menghianati kyu lagi ㅠ.ㅠ

  18. akhirnya setelah sekian lama nunggu update sempet pesimis jg bakal g dilanjut.. Haduhh semoga ming belum diapa2in Sama siwon.. makanya jangan kebanyakan akting marah kyu.. ditunggu chap selanjutnya y.. ^^

  19. UPDATE!!!! YEAH!!! walaupun telat beberapa hari muehehehehe gpp telat daripada tidak sama sekali wkwkwkwkw. Kayanya aungmin anak shengmin ama kuixian deh, kuixian kan manusia, shengmin nya snowelf terus yg lahir itu sungmin kayanya. Soalnya dari mana sungmin dapet telinga normal kalau bukan kuixian yg manusia. Ya itu aih masih spekulasi saya doang wkwkwkw

  20. Ya ampun itu siwon mau ngapain? Jgn dong thor huahh kasihan umin kalau nanti di jauhin kyuhyun karena siwon yang udah lakukan sesuatu pada umin.. #Sedih nangis di pojokkan

  21. Shengmin kenapa bisa gituuuuuu???
    Huh itu rencana siwon licik ya. changmin jg licik. ikatan mate kyumin ga benar-benar keputus kankankan.
    siwon jahat banget sih mau ngerape min!!! kyu buruan tolongin woy

  22. dirakyu says:

    akhirx lanjut jg ff ini xD
    ming msh percya aja sama siwon –”
    smg kyu cepet nolong ming dan ming cepet hamil lg…. ^^

  23. miss u fiqoooh dan dee jugaaaa T____T baru sempet baca lanjutannya sekarang karna alasan yg sama dengan kalian :”) wait, mau baca lanjutannya dulu yah;;;

  24. vyan says:

    ahirnya dilanjut juga… thank you bgt.. love u all..
    please don’t abandon us the reader😀 coz we love your story..

    duh, ini siwon bikin greget.. menyebalkan.. ga bisa terima kenyataan..
    n ramuan apaan tuh yg dikasih ke minnie..

    kyu keren banget.. the alpha wkwkwk..

  25. Good ih good!!! Bener bener yah Siwon minta dimusnahkan pisan ==!
    Gak disana gak disini kenapa yah menyebalkan! Tapi bagus sih jadi seru juga ada siwon ==”
    Continue reading dulu yaa

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s