Cursed Crown – Chapter 14

dire_wolf___color_by_feralkyn-d3ggc48

Siwon membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Sungmin. Kali ini tanpa berpikir dua kali disesapnya bibir merah adiknya, sebelah tangannya merengkuh tubuh Sungmin lebih dekat, sedang sebelah tangannya yang lain menyusup masuk ke balik jubah yang dikenakan Sungmin.

Suara Heechul kembali berbisik dalam benaknya.

‘Kau akan merasakannya saat adikmu seperti dikembalikan ke kondisinya yang semula, seperti siapapun belum pernah menandainya. Lakukan dengan seluruh hasratmu untuk menodainya.’

Siwon melakukannya. Seluruh hasrat yang telah dipendamnya belasan tahun, dijaganya begitu baik, disimpannya begitu rapat. Kali ini, dosa seusia Sungmin yang diembannya sekian lama lah yang akan membantunya mendapatkan Sungmin kembali.

Siwon menyesap bibir adiknya dengan penuh hasrat. Sebelah tangannya mencengkeram segenggam rambut hitam Sungmin. Sementara di bawah sana, sebelah tangannya yang lain menyusup masuk ke dalam celana adiknya. Menyentuh dan mengusap. Kulit hangat dan lembut di bawah tangannya membuat jantungnya berdegup makin kencang. Seiring merasakan kelembutan yang melenakan itu, Siwon semakin berani. Dengan tidak sabar dilepasnya dua lapis balutan jubah Sungmin, seperti kesetanan Siwon menyambar dada putih adiknya.

Siwon menggerakkan bibir dan lidahnya dengan lihai. Meniru gerakan yang menghantuinya bertahun-tahun  dalam imajinasi-imajinasi kotornya. Dijilatinya tiap jengkal daging lembut dada Sungmin.

Semua yang hanya ada dalam mimpinya selama ini, akan beranjak nyata.

“Sungmin-ah…” bisik Siwon sendu di tengah hasratnya yang menggebu. Pria itu menyesap tiap inci kulit wajah Sungmin, meninggalkan liurnya untuk menandai setiap jengkal wajah adiknya. Tangannya gemetar lagi, dalam hati Siwon tidak percaya, sedekat ini ia dari tujuannya untuk merebut adiknya kembali. Ia hanya membutuhkan lebih banyak keberanian, untuk menyatukan tubuh mereka. Bahkan tubuhnya sendiri menyadari keinginan itu.

Siwon bergerak tidak nyaman, merasakan kejantanannya sendiri mengembang di dalam pakaiannya. Tapi ia punya banyak waktu. Pangeran Merah tergeletak lemah di kamarnya dan kini Sungmin terlelap tidak berdaya, hanya menunggu waktu dan saat Sungmin terbangun nanti, ia sudah bukan lagi mate Kyuhyun. Siwon mengerang, membayangkan semua itu terjadi sudah cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Ia tidak sabar lagi. Mengikat adiknya dan menghancurkan Pangeran Merah di satu waktu yang sama. Siwon terlena dalam imajinasi itu, ia menghisap bibir hangat Sungmin sembari membayangkannya.

Siwon menjarakkan kedua kaki Sungmin. Jemarinya yang panjang mulai memainkan junior adiknya yang lemas. Lalu perlahan, jari jenjang Siwon menyusup ke bagian tersembunyi di bawah sana. Satu jarinya mencoba masuk lebih dalam. Meski gemetaran, Siwon menyukai sensasi basah dan hangat rongga yang tengah ditelusuri jarinya. Dimaju mundurkannya jarinya untuk meregangkan liang sempit itu sebelum menambah satu jari lagi. Begitu ia bisa memasukkan tiga jari, Siwon bangun untuk melepaskan pakaiannya, tapi kesibukannya disela oleh suara batuk Sungmin.

Siwon mengira adiknya akan terbangun, tapi tidak mungkin. Obat tidur itu begitu kuat. Tidak mungkin Sungmin akan terbangun secepat ini,

“Uhuk! Uhuk!” Sungmin terus terbatuk dalam tidurnya.

Siwon kebingungan. Hingga di satu kali bersamaan dengan batuknya, Sungmin memuntahkan darah mengotori leher dan dadanya.

“K-kenapa ini? Minnie? Minnie!” Siwon menepuk pipi Sungmin namun tidak ada reaksi. Sungmin terkulai lemas di tangannya. “Sungmin-ah!” Diguncangnya tubuh Sungmin. Namun adiknya tetap tidak terbangun juga. Pemandangan Sungmin terbujur kaku dengan darah mengalir dari hidung dan mulutnya sontak membuat Siwon panik.

“Sungmin-ah!” Siwon memekik takut. Semakin diusapnya darah itu, semakin deras pula bulir darah lain mengalir dari lubang hidung adiknya.

Siwon sempat memperbaiki pakaian Sungmin sebelum ia membenahi pakaiannya sendiri, lalu Pangeran itu bergegas keluar kamar. Bermaksud mencari Ratu. Sialnya, sang ratu tidak ada di Istana utama. Siwon harus mencarinya ke Menara Ratu.

Tapi bagaimana jika Ratu tidak ada di menaranya? Apa yang harus ia lakukan? Mencari tabib istana?

Siwon mengerang frustasi. Otaknya tidak dapat berpikir jernih. Ia hanya percaya pada Junsu di istana ini. Hanya Junsu yang mampu menolongnya.

Siwon lari mengacuhkan pengawal yang menanyakan penyebab kepanikannya. Dititinya anak tangga yang demikian banyak sembari berlari. Dua pengawal yang berjaga di depan pintu kamar ratu juga tidak bisa menghalanginya, Siwon mendobrak masuk ke kamar sang ratu muda.

Junsu tengah melepaskan ikatan rambutnya dan sudah mengganti pakaiannya, bersiap untuk tidur. Ia menoleh kaget atas keributan yang terjadi dan melihat Siwon terengah-engah berdiri di depan kamarnya.

“Siwon?! Ada apa ini?”

“Ibunda! Ikut aku sebentar! Minnie—Terjadi sesuatu pada Minnie!”

.

oOoOoOo

.

Siwon berlari menuju kamarnya diikuti sang ratu dari belakang. Namun begitu sampai di lorong kamarnya, ia melihat beberapa pengawalnya dan pengawal dari negeri merah berdiri di depan pintu. Ada keributan di sana.

‘Awas kalau mereka berani menyentuh Sungmin-ku!’ geramnya dalam hati.

“ADA APA KALIAN BERKUMPUL DI SINI?!” Hardiknya marah ketika sampai di depan mereka.

Spontan para pengawal kedua negeri itu mundur, memberi jalan masuk ke pintu itu kepada sang pangeran putih, diikuti sang ratu.

“Yang mulia—kami tidak bisa menahan pangeran merah itu…” Salah seorang pengawalnya bicara.

Ia mendelik melihat Kyuhyun menggendong Sungmin sambil berteriak marah seperti hewan gila. Mata Pangeran Radour memerah marah dan taringnya memanjang. Teriakan dan desisannya seperti suara hewan. Tapi tidak ada yang mengerti, mungkin Kyuhyun tengah mengamuk dalam bahasanya sendiri.

“Ya ampun, MINNIE-AH!” Junsu terperanjat kaget dari belakang Siwon. “KYUHYUN, APA YANG KAU LAKUKAN?!” Jeritnya lagi.

Karena panik melihat jejak darah di wajah dan leher Sungmin, Junsu sempat mengira Kyuhyunlah yang melukai Sungmin. Namun ia berpikir kembali. Mana mungkin ini terjadi di kamar Pangeran Mahkota…

Mungkinkah…

Mungkinkah… SIWON YANG MELAKUKANNYA?!

Junsu berbalik menatap Siwon dengan mata terbelalak. Tapi Siwon tidak menatapnya, pangeran pertama Hviturland itu menggeram balik ke arah Kyuhyun.

“Lepaskan Sungmin! Dasar binatang kotor!” Dalam hati, Siwon panik melihat keadaan Kyuhyun.

Pangeran Merah nyaris terlihat gila, tubuhnya seakan memaksanya untuk berubah wujud, namun Kyuhyun jelas-jelas menahannya. Direngkuhnya Sungmin dengan protektif, Kyuhyun mengeram pada siapapun yang bermaksud mendekati mereka. Walau masih kesakitan, Kyuhyun menggendong Sungmin dekat ke dadanya dan membentak marah pada siapapun, meminta jalan keluar. Hasrat silumannya ingin mencabik-cabik Siwon saat ini juga, tapi tidak— tidak bisa sekarang. Kyuhyun harus menyembuhkan matenya, ia harus membagi energinya untuk Sungmin. Instingnya untuk mengoyak Siwon kalah, dari keinginannya untuk segera memperbaiki ikatan emosinya dengan Sungmin yang terganggu oleh Pangeran sialan itu. Karena itu, Kyuhyun tidak akan melepaskan matenya pada siapapun kali ini.

Siwon berdecih dan hendak maju untuk merebut Sungmin, namun tertahan oleh Junsu yang menarik lengan bajunya.

“Siwon! Hentikan. Ia hanya mencoba menyelamatkan mate-nya. Biarkan mereka lewat.”

Siwon memandang Junsu seakan ia sudah gila.

“IBUNDA?! Binatang itu akan melukai Minnie! Kita tidak bisa membiarkannya!”

“TIDAK SIWON-AH. Kaulah yang melukai Sungmin!” Junsu melotot.

Mereka beradu pandang beberapa detik yang terasa sangat lama sebelum Siwon mengalihkan pandangan kembali ke Kyuhyun. Ia hendak maju lagi, hanya untuk tertahan kembali.

“JUNG SIWON.” Sang ratu menaikkan nada bicaranya.

Junsu menarik lengan kekar Siwon. Biasanya ia selalu bersikap lemah lembut, namun kali ini pangeran mahkota itu bisa merasakan kuatnya genggaman tangan sang ratu yang naik pitam itu menahannya untuk bergerak. Dari genggaman itu terasa dinginnya es menusuk hingga ke tulangnya.

“Kubilang ikut denganku!” ucapnya dingin. “Dan kalian—biarkan mereka lewat!” Perintahnya kepada pengawal-pengawal yang ada di sana. Junsu berbalik lagi tanpa menoleh. Ratu mendesah lega karena putra pertama raja itu mengikutinya dari belakang tanpa harus diseret. Ia tidak mau mempermalukan pemuda itu diusianya yang bahkan lebih tua dari Junsu, namun jika tadi ia berkeras tidak mau mendengarkannya, Junsu tak segan-segan lagi untuk menyeretnya ke lorong belakang istana, tidak peduli jika banyak orang akan menyaksikan mereka. Siwon sendirilah yang akan malu.

Entah kemana Sungmin akan dibawa oleh Kyuhyun yang sedang kalap itu. Namun Junsu yakin, ia sangat yakin itu adalah efek sifat protektif Kyuhyun kepada Sungmin. Mungkin sisi siluman pangeran merah itu marah melihat kondisi mate-nya, namun ia percaya Kyuhyun tidak akan menyakiti Sungmin, apapun yang dia lakukan dan kemanapun ia akan membawa snowelf itu.

Begitu merasa cukup jauh dari telinga-telinga tajam ras Snowelf yang ada di istana, ia berhenti melangkah dan berbalik. Cahaya remang-remang dari balik kaca buram yang memenuhi dinding belakang istana menyinari mereka. Bayangan mereka memanjang di atas lantai putih.

“Kau mencoba memperkosa adikmu, Siwon?” Junsu tidak mood untuk berbasa-basi, apalagi mencari kalimat lain yang lebih enak didengar daripada yang barusan ia ucapkan.

“Ibunda, A-aku—”

“Seorang lulusan Akademi Sihir Hviturland Tingkat 41 dengan nilai nyaris sempurna—Tidak mungkin kau tidak tahu pelajaran fisik Snowelf yang dipelajari penyihir tingkat dasar?! Berani sekali kau menyentuh adikmu yang sudah menjadi mate orang lain. Kau sudah gila? KAU INGIN MEMBUNUHNYA?!”

“Tentu saja tidak! Aku sudah menemukan caranya Bunda! Tapi—”

Junsu dengan cepat memotong, “Ramuan dari penyihir Blarland itu? Kau percaya pada tipuannya?!”

Siwon mengerutkan alis tebalnya heran. “Ba-bagaimana kau tahu…”

“Oh Jung Siwon… kau tidak berpikir AKU, dan mungkin saudara-saudaramu yang lain tidak menyadari aura dan bau lautan Blarland yang menempel di jubah tebalmu sepulang dari perjalananmu itu kan? Hanya snowelf dan dwarf berilmu rendah yang tidak dapat merasakannya! Itu cuma omong kosong, Siwon! Bisa-bisanya kau mempercayai orang asing yang mungkin sedang mengincar kegentingan kerajaan ini!”

“Ramuan itu bekerja, Ibunda! Kau tidak lihat saat siluman itu hampir terbunuh?! Sungmin tidak terpengaruh…. Harusnya. Dia hanya lemah karena menggunakan sihirnya untuk menyelamatkan pangeran brengsek itu!”

Junsu menarik kerah jubah Siwon dengan marah. “Aku sudah bilang, aku tidak menemukan cara untuk memisahkan ikatan emosi mereka. Maka, cara itu memang tidak pernah ada! Dia tidak akan sampai pingsan kalau hanya menggunakan sihir penyembuhan, Siwon-ah… Jangan lupa, anak itu tumbuh besar bersamaku. Mana mungkin aku tidak tahu batas kemampuannya?” Junsu melepaskannya setelah selesai berbicara.

“Kupikir kau mendukungku untuk membawanya kembali.” Siwon melotot balik kepada sang ratu.

“Tidak! Tidak kalau harus mempertaruhkan nyawa anak itu!” Junsu menjawab langsung. “Aku tidak peduli kalau kau ingin berperang dengan Kyuhyun, atau Radourland sekalian! Tapi tinggalkan anakku! Jangan membuat nyawanya terancam!”

Siwon membuka mulutnya untuk menjawab, namun Junsu memotongnya kembali.

“Aku sangat marah… aku tidak menyangka kau akan mengambil resiko dengan mempertaruhkan nyawa Sungmin. Dan kau mengatakan kalau kau mencintainya? Kau  pemuda egois, Siwon. Kapan kau akan terima kenyataan bahwa Sungmin mencintai orang lain? Dan sekali lagi kau mencoba membahayakan hidup anakku…” Junsu menunjuk wajah putra tirinya, “Aku akan memilih memihak pada Pangeran Merah.” Sang ratu berbalik angkuh dan melangkah menjauh.

Siwon menggeram. Ia mengepalkan tinjunya begitu erat hingga telapak tangannya terluka oleh kuku-kukunya sendiri. Siwon luar biasa kecewa, ia benar-benar kehilangan Junsu sekarang. Ratu tidak lagi berniat untuk mendukung keinginannya merebut Sungmin. Dan…

Apa benar ramuan itu palsu seperti yang dituduhkan Ratu? Itu artinya Heechul telah menipunya?

“Tidak mungkin!” Desisnya kesal. Ia akan pergi menemui ratu duyung itu begitu keadaan tenang kembali.

.

oOoOoOo

.

Kyuhyun terbangun. Cahaya mentari yang teduh menusuk matanya. Baunya seperti bau pagi hari… tapi kenapa begitu amis seperti es dan terasa dingin? Oh ya. Kyuhyun teringat ia masih berada di Hviturland. Ia melirik ke bawah dan melihat gumpalan rambut hitam.

Sungmin tertidur di dadanya. Napasnya berhembus pelan.

Kyuhyun terseyum kecil, diusapnya gumpalan rambut hitam Sungmin.

“Uungg…” Sungmin terbangun oleh usapan tangan di kepalanya. Ia menoleh ke atas, dan mata mereka bertemu, lalu Sungmin tersenyum. “Hyuuungg…” Gumamnya parau layaknya orang yang baru bangun tidur.

Kyuhyun mengecup Sungmin dengan lembut. “Kau tidak apa-apa?”

“Ungg… Aku sedikit pusing. Hyung… kenapa kita ada di sini? Apa yang terjadi kemarin?”

Pertanyaan Sungmin membuat Kyuhyun tersadar. Ia sedang berada di luar istana entah dimana. Ia memeluk Sungmin dan bersandar di sebuah pohon besar, membagi energinya sampai ia kehilangan kesadaran. Kyuhyun hanya mengenakan selapis jubah yang berantakan, dan dadanya dililit oleh perban.

“Kau tidak ingat yang terjadi kemarin?” Kyuhyun bertanya balik. Ia sendiri tidak begitu ingat apa yang terjadi setelah ia mengambil Sungmin dari kamar Siwon.

Untunglah ia belum terlambat… mengingat kejadian itu saja membuat darah Kyuhyun kembali mendidih.

“Tidak… Apa aku ketiduran di sini ya hyung?” Sungmin menggeleng.

Apa ia benar-benar tidak ingat kejadian kemarin ataukah karena ia baru bangun tidur?

Kyuhyun ingin sekali menceritakan apa yang terjadi, kebrengsekan hyung tersayangnya itu dan semuanya, agar Sungmin membenci Siwon dan tak pernah mau kembali lagi ke sini. Namun Kyuhyun hanya menghela napas dan memutuskan untuk menyimpannya.

“Ya… Min-ahku yang nakal menghilang dan aku menemukanmu di sini.” Ucapnya sambil mengecup kepala Sungmin.

“uhh… Min-ah, kau bau!” ujarnya bercanda.

“Mwooooo?! Hyung juga bau! Bau obat dan bau keringaatt! Weeekkk!” Snowelf kecil itu menjulurkan lidahnya sebal. Kyuhyun hanya tertawa.

“Kalau begitu ayo kita mandi sama-sama!”

“Eehhh?! Tapi… tapi… kan Minnie sedang pusing! Jadi tidak bisa mandi! Hyung juga luka kan!”

Kyuhyun mencubit pipi Sungmin. “Apaaa… kamu hanya mencari alasan! Hyung sudah sembuh juga. Lihat.” Ia perlahan membuka perban itu, dan lukanya memang sudah menutup, namun belum menghilang.

Sungmin merengut malas.

“Setelah mandi, kita bersiap pulang ya.” Kyuhyun berdiri perlahan sambil mengangkat Sungmin agar ikut berdiri juga.

Tak terasa sudah dua minggu mereka berada di Hviturland.

Sungmin mengangguk.

“Ayo hyung! Minnie sudah kangen sama Radourland!” Kyuhyun tersenyum puas, Sungmin setuju pulang tanpa harus dibujuk. Ia juga senang mendengar bahwa Sungmin sudah kerasan tinggal di negerinya. Kyuhyun memang tidak akan tahan sehari lagi di negeri ini… tidak setelah apa yang terjadi kemarin. Kalau ia harus bertemu Siwon lagi, ia mungkin tak bisa menahan diri untuk tidak mengoyak tenggorokan Snowelf yang satu itu.

Mereka tidak butuh waktu lama untuk menemukan jalan kembali ke istana. Kyuhyun kemudian mengetahui bahwa tempat mereka tertidur itu adalah hutan belakang istana Hviturland, dan Hyukjae membawa pengawalnya untuk menjaga area itu tak jauh dari tempat mereka ‘bersembunyi’.

Junjin dan Gain sangat menyetujui keputusan Kyuhyun untuk kembali ke Radourland.

“Sedikit mendadak memang, Kyuhyun-sshi. Tapi aku memang tidak sanggup lagi menemani anda keluar negeri. Ayahanda akan membunuhku jika ia tahu apa yang telah terjadi…” Junjin membisikkan kalimat terakhirnya ngeri.

“Tenang saja. Aku tidak akan cerita apa-apa. Kau juga kan, noona?”

Gain menghembuskan napas lega. “Tentu saja. Aku memang masih bingung dengan semua yang terjadi. Tapi kita bisa bicara di lain hari. Ayo kita pamit dan kembali ke Radourland.”

Anggota keluarga Radourland itu menuju aula depan kerajaan bersama beberapa pengawalnya, dimana di sana beberapa keluarga Hviturland telah menunggu mereka. Lizzy yang sedari tadi asyik mengobrol dengan Sungmin berhenti berbicara karena mereka telah sampai di depan.

Junsu menyambut mereka. Di belakangnya berdiri Zhoumi, Donghae, Jiyong, dan Siwon diujung pintu. Seunghyun tidak hadir seperti biasanya… dan juga sang raja.

“Terima kasih banyak atas kunjungan kalian. Hati-hati diperjalanan. Sampaikan salam kami untuk Raja Kangin dan Ratu Jungsu, serta yang lainnya.”

Junsu tidak kaget atas keputusan kepulangan mereka yang mendadak. Mungkin ini memang yang terbaik. Ia tidak bisa berkata banyak setelah semua yang terjadi. Ia tidak menawarkan mereka untuk tinggal lebih lama. Bahkan untuk berbasa-basi agar mereka datang kembali pun, ia tak sanggup.

Kyuhyun juga berterima kasih dalam hati karena mereka tidak membahas dan menanyakan apa yang telah terjadi semalam. Lebih baik hal itu dirahasiakan oleh orang-orang yang mengetahuinya.

“Terima kasih atas semua fasilitas dan sambutannya, Ratu Junsu.” Junjin menundukkan kepalanya hormat, diikuti oleh yang lain. Gain hanya tersenyum kepadanya dan yang lainnya.

Putra mahkota negeri putih itu hanya diam berdiri tak jauh di belakang sang ratu. Matanya mengikuti Sungmin yang melompat memeluk Ratu. Kyuhyun memandang Siwon dingin, melihat bagaimana mata Snowelf yang dibencinya itu mengikuti kemana mate-nya bergerak.

“Aku pergi dulu ya eomma!” Ujar Sungmin riang. Tak ada lagi kesedihan di wajahnya meskipun ia akan meninggalkan negerinya sendiri.

“Eomma akan merindukanmu. Baik-baik disana ya!” Junsu melepas pelukannya. Meskipun berat, ia senang melihat Sungmin tidak sedih.

“Minnie juga!” Sungmin mengangguk. Snowelf itu kemudian berdiri canggung di depan Zhoumi. Pemuda bermata violet itu tersenyum padanya. Ia sedikit kecewa, karena seperti biasanya… Sungmin tidak begitu mau mendekatinya. “Sampai jumpa Minnie.”

Sungmin mengangguk malu, lalu lanjut berjalan ke arah Donghae.

“Baik-baik ya Minnie. Jangan merepotkan orang-orang di sana! Jangan lupa belajar juga!” Ia berpesan layaknya seorang kakak kepada adiknya dengan pantas.  Sungmin merengut.

“Iyaaaa… uhhh hyung!” Ia tidak begitu senang diingatkan akan belajar.

Begitu mendekati Jiyong, pemuda itu menyeringai lalu menyambar kepala Sungmin dan mengacak-acak rambutnya. “Dadaah adik manjaaaa! Jangan main ke sini lagi yaaa! Di Radourland saja sana!” ujarnya dengan nada digeram-geramkan. Entah itu hanya bercanda atau memang isi hatinya yang sebenarnya.

“Huwaaaaaaa! Jangan acak rambutku! Hyung jahat!”

Jiyong hanya terkekeh melihat Sungmin berlari ke pintu keluar. Keluarga yang lain mengikuti dari belakang. Sungmin berhenti di depan pintu, tepat di depan Siwon yang mengenakan pakaian putih mewah yang membuatnya terlihat lebih gagah dari biasanya. Kyuhyun hendak maju menarik bahu Sungmin, namun Gain menahan lengannya.

“Hyung…”

Siwon hanya menatap adiknya saat Sungmin memanggilnya lirih. Jantungnya berdegup kencang, takut akan apa yang akan dikatakan adik bungsunya itu kepadanya setelah semua yang terjadi kemarin.

“Minnie pergi dulu ya! Hyung tidak sempat mengajak Minnie jalan-jalan naik Sleipnir kemarin kan… tapi nanti kalau Minnie datang lagi, harus jalan-jalan sama Sleipnir ya!” Jawabnya sedih.

Siwon kaget. Ekspresi sedih itu… hanya karena ia belum sempat main dengan Sleipnir? Apa Sungmin berpura-pura tidak terjadi apa-apa kemarin?

Siwon bingung harus mengatakan apa. Namun ia senang… kata-kata Sungmin berarti ia akan datang lagi lain kali. –jika siluman anjing itu mengizinkannya, tentunya.

Siwon menekan bibirnya dan mengangguk. Ia ragu-ragu membalas lambaian tangan adiknya yang beranjak ke dalam kereta kuda.

“Hyungnya Minnie sepertinya sedih sekali ya?” Komentar Lizzy kepada Sungmin saat mereka berdua naik lebih dulu ke kereta dan mengintip dari jendela. Sungmin hanya mengangguk sedih merucutkan bibirnya. Matanya berkaca-kaca melihat keluarganya, terutama eommanya yang akan ia tinggalkan di Hviturland. Andai saja ia bisa membawa semua orang ke Radourland bersamanya…

Ah, kalau Appa tidak apa-apa tinggal disini. Jiyong-hyung juga. Appa-nya sama sekali tidak keluar untuk menemuinya selama kunjungannya ini. Mengingat hal itu membuat air matanya makin menggenang, dan sebentar lagi akan jatuh.

“Minnie jangan nangis… Minnie juga sedih ya?” Lizzy mengusap kepalanya.

“Yaahh Lizzy! Aku tidak sedih!” Ia menggosok air matanya karena malu.

Keluarga yang lainnya menyusul dan berhenti di depan kereta kuda itu, masih berbasa-basi. Namun Kyuhyun berhenti di samping Siwon. Entah sengaja maupun tidak, yang lain meninggalkan mereka berdua berbicara. Bak cahaya dan kegelapan, kedua pemuda itu saling mengenakan warna yang berlawanan secara kebetulan. Siwon yang mengenakan pakaian putih dan Kyuhyun yang mengenakan serba hitam.

Terima kasih atas semuanya selama kami berkunjung di sini. Pertarungan itu… Apa nama batu itu? Clocha de na… deith ya? Oh jangan khawatir… aku sudah tak memikirkannya lagi.” Kyuhyun tersenyum sinis. Pangeran putih sempat kaget mendengar celotehan Kyuhyun, namun ia belum berbalik menghadap pemuda itu. Mereka berdua berdiri bersampingan menghadap ke kereta dan kerumunan orang banyak tanpa berpandangan.

Dari mana ia tahu nama monumen itu?

Apa ia sudah tahu efek clocha de na deith terhadap siluman?

Kyuhyun melanjutkan bicaranya. “Tapi buat yang kemarin, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Jangan terlalu berharap Sungmin akan datang ke sini lagi lain kali. Tidak, kecuali kalau kau mengirimkan undangan pernikahanmu? Hmph… Tenang saja, aku tidak akan mengatakan semua kebusukanmu kepada Sungmin. Kecuali kalau kau memaksaku. Lagipula aku tidak mau Sungmin sedih karena mate-nya membenci hyung­ kesayangannya.”

Siwon menoleh, membalas pandangan Kyuhyun seolah mereka sedang berperang dalam tatapan satu sama lain. Kata-kata Kyuhyun barusan benar-benar membakar api cemburu sang pangeran putih. Bagusnya, keduanya sama-sama sedang menahan diri untuk tidak saling bunuh.

“Kyuhyun-ah? Kau belum selesai pamitan?”

Kalau tidak karena panggilan Gain, keduanya tidak akan mengalah untuk melepaskan pelototan mata mereka.

“Aku harus pergi.” Ujar Kyuhyun singkat, lalu berjalan menuruni anak tangga dan memunggungi Siwon.

“Aku belum menyerah.” Balasan Siwon terdengar di anak tangga ke delapan yang Kyuhyun turuni.

Kyuhyun berhenti di tempatnya. Ia berbalik dan menjawab dengan seringai. “Menantangku, hm? Silahkan dicoba.” Wajah Kyuhyun berubah mengejek. “Ah, dan kau bahkan boleh menggunakan cara-cara curang lainnya. Batu penghisap aura siluman? Ramuan dari negri Blarland?”

Siwon mati-matian menyembunyikan rasa kagetnya. Pangeran itu meremas tangannya, menahan amarahnya. Darimana Siluman ini tahu?

“Ah, kuberi saran.” Kyuhyun berpura-pura menatapnya simpati, Pangeran itu mengusap dagunya, tampak berpikir. “Berhubung ramuan sihir buatan Ratu sekelas Blarland tidak mempan, mungkin kau bisa coba tabib-tabib murahan di jalanan—“ Kyuhyun makin menyeringai, ia melanjutkan langkahnya meninggalkan negeri es itu tanpa lupa melambaikan tangannya. “Kudoakan semoga beruntung!”

.

oOoOoOo

.

Kyuhyun menghela napas. Menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa bosannya secara terang-terangan. Tapi pertemuan ini sudah berjalan lebih dari tiga jam, mentri-mentri belum juga berhenti berdiskusi meski ayahnya sudah memberikan keputusan tentang apa yang akan mereka lakukan pada pemberontak di sekitar teluk Portobello. Meja panjang itu penuh oleh belasan mentri, Raja duduk di ujung agar semua orang dapat melihat jelas ke arahnya. Kyuhyun duduk di sudut yang lain, tepat disisinya dan berhadapan dengan Mentri Keuangan, Jonghun.

Pemuda itu berdehem, sekali karena gatal, lalu kedua kali karena tidak tahan. Kakinya yang mengetuk lantai mulai bergerak makin gusar. Dalam hati, ia tidak sabar menemui mate kecilnya. Memberikan hadiah yang sudah dipersiapkannya sejak lama. Tapi rupanya, pertemuan ini akan semakin panjang saat Mentri Youngshin membuka mulutnya lagi.

“—Lalu berkaitan dengan pembangunan jalur baru di Brother’s Bridge—“

“Yang benar saja!” Kyuhyun menyela tidak sabar. Kenapa mereka mendiskusikan hal ini diantara mentri, raja, dan pangeran? Mereka punya banyak waktu luang untuk menemui nahkoda dan tukang bangunan, membicarakan penempatan puluhan kapal di dermaga baru itu. Kyuhyun mengerti jika mentri-mentri ini saling berlomba-lomba memamerkan hasil kerja mereka di depan raja. Tapi tidak sekarang! Ia tidak tahan duduk berlama-lama disini mendengarkan laporan yang jelas sudah diketahui raja dan dirinya.

Lalu Kyuhyun tersadar, ia juga tidak seharusnya menyela. Kyuhyun berdehem canggung, tapi semua mata terlanjur terarah padanya.

“Ada apa, Pangeran?” Raja menatapnya dengan kening bertaut.

Kangin memasang wajah kaku, namun hanya Kyuhyun yang tahu. Raja itu tengah menahan tawa yang menggelitik di ujung bibirnya. Ia menahan diri, dengan mengerutkan keningnya dalam-dalam dan menatap putranya dengan raut datar. Ia bukan tidak tahu kemana pikiran Kyuhyun melayang sejak tadi.

“Ah, maaf. Aku sedang memikirkan hal lain.”

“Kau memikirkan rancangan barumu untuk Elm’s Deep?”

Kyuhyun mengangkat kepalanya, lalu ikut-ikutan mengerutkan kening. Kenapa tiba-tiba…

“Ah, itu… sebenarnya sudah hampir selesai.” Kyuhyun menjawab, mengikuti saja ucapan ayahnya.

“Kalau begitu pergilah dan selesaikan sekarang.Kutunggu rancangan itu di ruanganku nanti malam.”

Kyuhyun membuka mulut, tapi mengatupnya kembali saat dilihatnya Raja memberi senyum tipis padanya, nyaris terlihat seperti seringai. Ia memutuskan untuk berdiri, memanfaatkan kesempatan itu lalu membungkuk pada raja sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruang pertemuan.

‘Dasar tua bangka.’ Umpat Kyuhyun dalam hati, tapi alih-alih pemuda itu tersenyum. Sifat jahil ayahnya itu terkadang membuatnya untung juga. Kangin sering memberi izin hingga Kyuhyun bisa meninggalkan pertemuan-pertemuan membosankan. Raja tahu Kyuhyun lebih senang menghabiskan waktu dengan Sungmin. Menantu kesayangannya itu. Kyuhyun mendengus.

Pangeran itu melintasi lorong ruangan yang temaram, ia membuka pintu untuk dirinya sendiri. Tiga orang prajurit berdiri di luar pintu. Dua diantaranya ditugaskan untuk menjaga pintu masuk itu, sedang satu lagi hanya seorang squire boy, berdiri beberapa meter dari pintu dan menunggu dengan sabar. Saat dilihatnya Kyuhyun keluar dari dalam, pemuda itu sontak berdiri.

“Mana kotaknya?” Kyuhyun menodongkan tangannya, dan segera menerima benda yang dimintanya. Ia mengecek isi kotak itu lalu menyeringai pada dirinya sendiri.

“Yang Mulia—“

“Ada apa?” Kyuhyun menutup kotak itu kembali tanpa melirik pemuda di hadapannya.

“Anda mau kemana, Yang Mulia?”

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya dan tidak menjawab, heran mendengar pertanyaan kurang sopan itu. Tapi ia juga tidak berniat memarahi pemuda di hadapannya ini, mengingat squire boy barunya ini masih seusia matenya sendiri. Ia masih sangat muda, masih butuh banyak belajar. Seperti Sungmin.

Melihat respon kaku Kyuhyun, pemuda itu segera menyadari sikap kurang ajarnya. Ia buru-buru membungkuk dan menambahkan. “H-hamba hanya ingin memastikan jika Anda bermaksud menemui Tuan Muda. Tuan Muda tidak ada di kamarnya.”

Kyuhyun mengerang. “Di mana dia?”

Prajurit muda itu tampak ragu, ia mengatup lalu membuka mulutnya. Untuk sesaat bingung harus memihak pada siapa. Mate pangerannya sendiri yang mengancamnya untuk tutup mulut. Tapi saat ini disini, ditatap oleh Putra Mahkota Merah dengan begitu tajamnya, pemuda itu dengan cepat memilih siapa yang harus lebih ditakutinya.

“Tuan muda ikut berlatih dengan Jendral Hyukjae di lapangan belakang, Yang Mulia.”

Kyuhyun mengeram mendengarnya, ia segera menyeret langkah sembari menahan amarah. Meski sudah menduga Sungmin akan kabur dan membangkang dari perintahnya, tetap saja Kyuhyun merasa kesal. Terlebih mendengar Sungmin merusuhi latihan prajuritnya.

Enam puluh kali Kyuhyun mengomeli bocah itu untuk berhenti mendatangi latihan di lapangan belakang, enam puluh kali pula Sungmin melanggar perintahnya.

Sudah empat bulan terakhir mate kecilnya itu menaruh ketertarikan yang berbeda dari biasanya. Tidak ada kelinci, tidak ada permen. Latihan berpedang menjadi permainan baru yang digemarinya. Kyuhyun murka, pada awalnya. Didera seluruh kekhawatiran dan rasa protektif berlebihan membuatnya melarang Sungmin melakukan ini dan itu. Tapi melihat kegigihan matenya, Kyuhyun pun luluh. Ia merancang jadwal latihan khusus untuk Sungmin, dua kali sepekan. Secara privat dengan Hyukjae sebagai master laganya.

Tapi bukan Sungmin jika ia menuruti keinginan Kyuhyun begitu saja. Jadwal yang dirancang Kyuhyun memang ditaatinya, tapi hanya dua pekan awal. Setelahnya, Sungmin terlalu gatal untuk diam di kamarnya dan mulai merusuhi seluruh latihan yang ada di kerajaan. Pagi, siang, sore. Dari hari senin hingga akhir pekan. Kyuhyun mulai kerepotan untuk mengatasi kebengalan Sungmin dan Raja tidak melakukan apapun untuk membantunya.

Sejak awal Kyuhyun bahkan tidak senang menghadapi hobi baru matenya. Bagaimana jika Sungmin tanpa sengaja melukai dirinya sendiri? Bagaimana jika jarinya berkurang? Bagaimana jika cupingnya yang tumpul itu makin menghilang? Sungmin berhasil membuatnya bungkam. Selama empat bulannya merusuh di tengah latihan prajurit, bocah itu tidak pernah menangis, dan Kyuhyun juga tidak melihat sebaretpun luka di tubuhnya. Tapi satu dua kali, Kyuhyun menemukan memar di tubuh matenya saat Sungmin tertidur. Sungmin tidak mengeluh karena itulah Kyuhyun tidak berniat membahasnya.

Tapi tetap saja!

Sikap membangkangnya itu yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Tiga tahun hidup bersama, Kyuhyun masih tidak percaya ia belum bisa membuat Sungmin menuruti perintahnya.

Latihan di lapangan belakang istana memang rutinitas harian seluruh prajurit muda. Senin hingga jumat. Pagi, siang, dan sore. Diantara ratusan prajurit ini bahkan terdapat penerus-penerus lord dari berbagai kerajaan di seluruh penjuru Radourland. Kelak mereka akan menjadi knight dan bertarung di samping Raja. Kyuhyun mengerti kenapa mereka memilih datang jauh-jauh hanya untuk berlatih di pusat kerajaan. Master laga terhebat Radourland berada disini, melatih seluruh prajurit muda untuk kelak menghadapi perang-perang yang sesungguhnya. Master laga yang merangkap menjadi jendral perangnya, Lee Hyukjae.

Kyuhyun berhenti di pinggir lapangan, di jarak aman agar orang-orang tidak menyadari keberadaannya. Saat melihat Hyukjae kerepotan meladeni matenya, pangeran itu terkekeh, amarahnya menguap entah kemana. Mengajari Sungmin bukan perkara mudah. Saat melihat Hyukjae yang kerepotan setidaknya Kyuhyun tahu, ia tidak gagal sendirian.

Hyukjae menyingkir kesana kemari menghindari serangan serampangan Sungmin. Kalau saja yang berdiri di hadapannya itu prajurit biasa, Kyuhyun yakin Hyukjae sudah menebas dada lawannya. Tapi Sungmin? Hyukjae harus mengajarinya mengayunkan pedang, dan di saat bersamaan ia tidak boleh membiarkan Sungmin lecet sedikitpun dan tidak boleh membuat pangeran kecil itu tersinggung.

“—Pelan-pelan saja, Yang Mulia. Y-Yaya!” Hyukjae menghalau serangan itu menggunakan pedangnya dengan lembut, sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menyentak pedang Sungmin jatuh. Bertarung dengan pangeran kecil ini jauh lebih sulit daripada melakukan battle satu lawan lima.

“Kau bilang aku bisa ayunkan kemana saja!” Sungmin merengek. Sekali lagi menggenggam pedangnya yang berat dengan kedua tangan, lalu pangeran itu berputar, mengayunkan pedangnya mengarah ke perut Hyukjae.

TRANG!

Sekali lagi, Hyukjae dengan mudah menahannya.

“Tapi kau tidak boleh membuka celah, Yang Mulia! Lindungi lututmu! Ya, ya seperti itu. Perutmu! Lindungi perutmu!”

Kyuhyun tersenyum. Meski genggaman tangan Sungmin sedikit gemetar, Kyuhyun tahu matenya sudah mengalami banyak kemajuan. Sungmin yang dulu akan menjatuhkan pedang berat itu di genggaman pertamanya.

“Pegang pedangnya dengan satu tangan! Memegangnya dengan dua tangan hanya membuka terlalu banyak celah untuk diserang!”

Sungmin masih sempat menghentakkan sebelah kakinya dengan kesal sebelum mengayunkan pedang, Kyuhyun hampir tersedak melihatnya. Putra mahkota itu menutup mulutnya, menahan diri agar tidak tertawa.

“Pedangnya berat! Kenapa kau jadi marah-marah sih! Nih, sudah kupegang dengan satu tangan! Puas!”

“Ya, bagus sekali Yang Mulia!”

“Hyaaah!”

“Bagus! Kanan! Kiri! Bawah! Melompat!”

“YAAAA! Jangan menyingkir terus! Aku tidak bisa melukaimu!”

Kening Kyuhyun bertaut mendengar itu. Iamelangkah lebih dekat, diapitnya kotak yang dibawanya di bawah pinggang.

“Tolong berhenti, biarkan aku memukulmu sekali!”

“Kau tidak memohon untuk melukai lawan.” Kyuhyun menyela. Entah sejak kapan ia sudah berdiri sedekat itu dari mereka, ikut menonton bersama prajurit lainnya tanpa seorangpun menyadari keberadaannya.

Melihat Kyuhyun, Hyukjae sontak menjatuhkan pedangnya dan berlutut. Diikuti oleh seluruh prajurit yang sejak tadi melingkar menontoni duel tidak seimbang Hyukjae dan Sungmin.

Sungmin terhenyak, tidak perlu menengok untuk mengetahui siapa yang sedang berdiri di belakangnya sekarang. Pemuda itu sontak melemparkan pedangnya lalu berbalik menyembunyikan tangan di belakang punggung. Sungmin tersenyum canggung, bermaksud merengek kalau hyungnya ini bermaksud mengomelinya di depan semua teman-teman latihannya. Tapi Kyuhyun malah menyeretnya keluar dari sana, membawanya ke pinggir lapangan di mana tidak banyak telinga dapat mendengar jika hyungnya ini memutuskan untuk memarahinya panjang lebar. Dan saat itu Sungmin tahu, ia tidak bisa mengelak dari omelan Kyuhyun.

“Aku mencarimu sejak tadi.”Kyuhyun melipat tangannya di depan dada. Ia duduk di atas pembatas kecil di sekitar lapangan, membiarkan Sungmin berdiri di depannya dengan kepala tertunduk. Tapi Kyuhyun tahu lebih dari siapapun, bocah ini tidak akan menyesali kesalahannya.

“Seingatku aku menyuruhmu di kamar saja, Sungmin-ah.”

“Tapi aku bosan. Dan hyung bilang aku boleh ikut berlatih…” Sungmin merajuk.

“Kau boleh berlatih, satu minggu dua kali. BUKAN SETIAP HARI.” Tekan Kyuhyun sembari mendelik. “Dan tidak disini.”

Sungmin mendesah panjang, ia mencicit kecil sembari menggigit bibir bawahnya. “Yasudah, kan sudah terjadi. Mau diapakan lagi…”

Kyuhyun mendelik, ditariknya lengan Sungmin dengan tidak sabar. “Kau ini, aish! Kemari!”

Sungmin hanya mengerang, tapi tidak melawan. Ia masih menggerutu hingga Kyuhyun mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Sebuah kotak panjang, dilapisi kertas merah yang khas dan diikat dengan tali emas. Mata Sungmin sontak membulat menyadari benda itu dibawa memang untuknya. Sungmin memekik senang saat menerimanya. Tapi ia tidak sempat membukanya, Kyuhyun menahan tangannya.

“Ini hadiah ulang tahunmu. Kau ingat yang keberapa?”

“Tujuh belas!”

“Bagus. Kau tahu apa artinya?”

“Tidak. Aku berhenti tumbuh tinggi?”

Kyuhyun tertawa. Diacaknya rambut Sungmin dengan gemas. “Artinya, kau sudah dewasa. Kau harus berpikir seperti orang-orang dewasa. Kau harus jadi Ratu yang dewasa.”

Sungmin memandang Kyuhyun dengan curiga. Lalu ia menunduk, mengamati kotak itu dengan lebih seksama. Dari bentuknya yang mungil dan panjang, Sungmin mulai berprasangka. Kotak sebesar ini bisa menampung dua gulungan besar yang ditumpuk meninggi.

“Apa ini? Gulungan lagi? Tapi aku sudah belajar kemarin…” Sungmin merajuk. Seketika rautnya berubah tak senang. Bocah itu ingin mendudukkan dirinya di pangkuan Kyuhyun dan merengek agar diizinkan kembali ke lapangan. Tapi Kyuhyun menggeser kakinya, menolak memangku matenya.

“Buka dulu, bocah. Atau kau mau diantarkan pada Maester Yeojin sekarang?”

Sungmin mengerang. “Tidak!”

“Kalau begitu diam dan buka saja.”

Sungmin menggerutu, “Belajar terus. Belajar terus.” namun jarinya tetap bergerak lesu menggeser pengikat kotak itu. Sambil dibukanya, Sungmin sudah membayangkan dua gulungan tua yang berisi sejarah kerajaan Radourland. Tapi alih-alih menemukan dua gulungan membosankan— Ia melihat benda berkilau saat tutup kotaknya terbuka. Cahaya matahari pagi menambah eloknya kilau perak benda itu. Begitu tipis dan panjang, dengan pegangan berbentuk naga berwarna keemasan.

Sungmin memekik. Itu pedang sungguhan! Panjang namun kecil. Lebarnya hanya sebesar jari tengahnya, dan panjangnya… Sungmin membuang kotak itu dan mengangkat hadiah barunya dengan bersemangat, diluruskannya sepanjang tangan, lalu Sungmin memiringkan kepalanya, berusaha menatap lurus ke ujung pedang itu. Begitu ringan… dan cantik. Saat menggenggam pedang itu, Sungmin merasa benda ini memang dibuat sempurna untuk dirinya.

“Kau suka?”

Sungmin tidak menjawab. Tapi saat pemuda itu mengangkat kepalanya, wajahnya berseri dan matanya berbinar-binar. Dua pipi tembamnya membulat naik menunjukkan dengan jelas perasaannya saat itu.

Kyuhyun menarik Sungmin ke atas pangkuannya, ia memeluk perut Sungmin dan menahan lengan matenya untuk menjaga jarak pedang mungil itu cukup jauh dari mereka.

“Disepuh dari baja langka Valyria. Seringan kapas, sekuat tulang naga, dan setajam gigimu. Rawr!” Kyuhyun mengaum dan berpura-pura menggigit Sungmin gemas, lalu keduanya tertawa.

“Valyria? Siwon-hyung punya satu yang lebih besar!”

“Yang ini punyamu. Lebih kecil, lebih ringan, lebih mematikan.” Kyuhyun mengecup tengkuk Sungmin, ia tersenyum senang mengetahui hadiah kecilnya disukai oleh matenya. “Kau tahu bagaimana menggunakannya?”

“Tusuk seseorang dengan ujungnya?” jawab Sungmin sembari mengacungkan pedang itu, nyaris membeset pergelangan tangan Kyuhyun.

“Yah! Hati-hati! Kau bisa memotong seseorang dengan benda ini!”

Mendengar peringatan mematikan itu, mata Sungmin justru makin berbinar-binar.“Aku mau mencobanya sekarang! Hyukjae-hyung ayo berlatih sekarang!” Sungmin berlari-lari dengan pedang kecil itu di tangannya. Kyuhyun membuka mulut, nyaris mengejar matenya namun akhirnya memutuskan untuk menahan diri. Cepat atau lambat, Sungmin harus menguasai pedangnya sendiri.

.

oOoOoOo

.

Saat dibebaskan untuk pergi dari pertemuan pagi ini, Kyuhyun tahu hal itu tidak berarti ia bisa mangkir dari seluruh tugasnya. Dengan menyebut-nyebut rancangan Elm’s Deep, Raja sudah pasti akan menagihnya malam ini. Beruntung, tidak ada mate kecilnya di ruangan ini untuk mengganggu waktunya bersama lembaran-lembaran penting ini. Ia sudah merencanakan untuk menghabiskan waktu hingga sore hari untuk menyelesaikan rancangan tower baru yang akan didirikan di sekitar sungai Elm’s Deep. Kyuhyun sudah menyelesaikan hampir seluruh kerangka-kerangka dasarnya, rancangan dindingnya, hingga hitungan tinggi dan tebal dinding-dindingnya.

Pekerjaannya sudah berjalan lebih dari separuh bagian, dengan mendekam di kamar ini selama tiga jam ke depan Kyuhyun yakin ia mampu menyelesaikan semuanya sebelum senja menjelang. Tapi nyatanya, waktu mesranya bersama seluruh pekerjaannya harus terganggu saat seorang prajurit menghambur masuk ke ruangannya, mengejutkan Kyuhyun hingga pangeran itu tanpa sengaja menggores sedikit desainnya.

“Kau!” Kyuhyun memekik, siap menyembur prajurit itu dengan seluruh kutukan dan makian. Tapi dengan cepat, prajurit itu menyela.

“Tuan muda menangis meminta kehadiranmu, Yang Mulia!”

“Kenapa lagi dia!”

“Tangannya terluka, pedangnya—“

Kyuhyun tidak menunggu untuk mendengarnya, pemuda itu menjatuhkan kuasnya dan melesat keluar kamar. Mendengar kata ‘terluka’ sudah cukup membuat tubuhnya bergerak refleks dan dalam satu menit saja, ia sudah berdiri di lapangan belakang.

Kyuhyun melesak di tengah keramaian. Gusar memikirkan cedera macam apa yang dialami matenya hingga seluruh latihan dihentikan. Di tengah lapangan, seluruh prajurit mengerumuni sesuatu dan dengan cepat Kyuhyun menghambur masuk ke tengah-tengah mereka. Suara jerit tangis Sungmin terdengar lebih jelas setelah Kyuhyun membaur dengan kerumunan itu. Di tengah sana, Sungmin duduk berselonjor, kepalanya mendongak, matanya terpejam meski airmatanya mengalir deras, dan tangis itu— Kyuhyun bingung bagaimana bisa semua orang ini bertahan mengelilingi Sungmin hanya untuk menonton matenya menangis.

“Sedang apa kalian semua! Menyingkir sana!” sentak Kyuhyun pada semua orang, dan kerumunan prajurit muda itu segera menghambur bubar.

Hyukjae dengan canggung melilitkan perban ke pergelangan tangan kiri Sungmin. Kyuhyun segera berjongkok dan merangkul bahu Sungmin, mengawasi luka yang belum tertutup di bagian bawah pergelangan tangan matenya sebelum mendesah kecil. Luka itu memang panjang, tapi beruntung sangat tipis. Dalam beberapa jam pun lukanya akan mengering.

“Seseorang melukainya?” Kyuhyun bertanya pelan, ia menarik tangan Sungmin dan mengambil alih posisi Hyukjae sembari melanjutkan lilitan perban itu di tangan matenya.

Hyukjae menggeleng. “Tangannya berkeringat, pedangnya terpeleset jatuh dan membeset tangan kirinya.”

“HUEEEE, HYUUUUNG!” Sungmin meraung, mengangkat sebelah tangannya dengan kaku dan mengadukan letak luka itu pada Kyuhyun, berharap Kyuhyun akan memeluknya dan menggendongnya keluar dari sini, tapi alih-alih, Kyuhyun meletakkan tangannya kembali saat perbannya terkait.

“Aku memberimu pedang bukan untuk main-main!” Kyuhyun mendesis tidak sabar, “Mana pedangnya?” todongnya pada Hyukjae. Saat pedang itu diserahkan padanya, Kyuhyun menyelipkannya di pinggang berdempetan dengan pedangnya sendiri. “Aku akan menyita pedang ini.”

Sungmin meraung, mengangkat dua tangannya memelas agar pedangnya dikembalikan. “HYUUUUNGGG!!!”

“Berhenti menangis atau kupatahkan pedang ini!”

Sungmin berhenti menangis, begitu cepat hingga tawa Kyuhyun nyaris meledak melihatnya. Tapi alih-alih tenang, bocah itu mencicit padanya. “Kau tidak bisa mematahkannya. Hyung sendiri yang bilang pedangku disepuh dari baja Valyria.”

“Kau menantangku? Kupatahkan, nih!”

“HUEEEEE! JANGAAAAANNNN!”

“Latihanmu dilanjutkan minggu depan saja!”

“TIDAK MAU HUEEEEE! HYUKJAE HYUUUNG, AYO LATIHAN LAGIIII!” Sungmin menangis, mengangkat kedua tangannya ke arah Hyukjae seakan meminta pertolongan.

Hyukjae menatap Kyuhyun, seperti meminta izin untuk tertawa. Saat Kyuhyun balas menatapnya kaku, jendral itu hanya mampu menggigit bibir dan menahan napas kuat-kuat.

“Tanganmu terluka Sungmin-ah!” Wajahmu pucat. Kyuhyun mengerutkan kening menyadari rona kelam di wajah matenya. Sungmin pucat pasi, tapi bocah itu tampaknya masih memiliki energi untuk merusak telinga beberapa orang lagi.

“AKU MAU LATIHAAAAAAN! HUAAAAAA!” raungnya kini sembari menghentak-hentakkan kedua kakinya.

Kyuhyun mengerang melihatnya, dengan malu ditahannya kedua kaki Sungmin sembari berseru.  “Yaish! Baiklah, baiklah! Berikan pedang kayu untuknya!”

Hyukjae mengusap hidungnya kuat-kuat, ingin mengusir rasa geli itu walaupun gagal saat ia berbalik untuk mengambil pedang kayu. Tawa jendral itu meledak tanpa mampu ditahan. Dan anehnya, tangis Sungmin mereda saat Hyukjae yang menertawakannya. Entah karena pemuda itu merasa malu atau segan, tapi Kyuhyun cemburu melihatnya. Kalau saat ini ia yang menertawakan Sungmin, bocah ini pasti meraung makin kencang.

Hyukjae kembali membawa pedang kayu yang ringan. Ia menggigit bibir meski tidak bisa menahan senyum lebarnya.

Kyuhyun membantu Sungmin berdiri, ia menepuk-nepuk pasir yang mengotori belakang tubuh matenya. “Setelah kau menguasai semua teknik dasar berpedang, akan kukembalikan pedangmu.”

Sungmin cegukan, sisa isak tangisnya masih terdengar. Kyuhyun meninggalkannya di bawah pengawasan Eunhyuk, sadar kehadirannya disana hanya akan membuat matenya menunjukkan sikap manja. Kyuhyun kembali ke kamarnya untuk melanjutkan semua desainnya di Elm’s Deep, mengira Sungmin akan tahan berlatih setidaknya untuk empat jam ke depan. Tapi dua jam kemudian, Sungmin muncul di kamarnya. Masuk tanpa mengatakan apa-apa dan Kyuhyun hanya meliriknya.

Kyuhyun mengangkat alis melihat matenya melangkahkan kaki dengan begitu berat.

“Aku capek!” ujar Sungmin tiba-tiba sembari membanting tubuhnya di atas ranjang. Kyuhyun meletakkan kuasnya, dahinya berkerut. Tidak sampai setengah menit ia mendengar dengkuran lembut dari atas tempat tidurnya.

“Sungmin-ah?” Panggilnya memastikan. Kyuhyun tidak mendapat sahutan. Pangeran itu tersenyum melihat matenya tertidur pulas dan kelelahan. Ia memeritahkan square muda yang berjaga di depan pintu kamarnya untuk membawakan obat memar, lap bersih, dan sekendi air hangat.

Hapal pada perangai matenya sendiri, Kyuhyun memutuskan untuk membersihkan tubuh Sungmin saat pemuda itu terlelap begini. Kalau bukan sedang tidur, Kyuhyun pasti harus melalui serentetan pertengkaran dan pemberontakan dari matenya hanya untuk membuatnya mandi.

Kyuhyun melepas kaitan tali pakaian Sungmin, kain-kain kumal itu disingkirkannya ke sisi lalu diusapnya tubuh lengket Sungmin menggunakan lap hangat dimulai dari bawah ketiak bocah itu. Dengan telaten Kyuhyun membersihkan setiap jengkal tubuh putih di bawah tangannya, tidak menyisakan sedikitpun debu. Mengingat dirinya yang dulu, Kyuhyun pasti sudah merinding melihat tubuh telanjang ini terbaring pasrah di hadapannya. Sekarang, Kyuhyun masih merasakan desir kuat itu. Justru semakin meliar seiring lamanya hubungan mereka berjalan. Bedanya, sekarang ia tidak akan segan-segan menyesap apa yang dilihatnya sekarang. Hati dan perasaannya tidak lagi menghalangi saat baik dirinya maupun Sungmin menyadari, mereka memiliki satu sama lain. Kalaupun ia ingin menggauli Sungmin yang tertidur pulas saat ini, Kyuhyun akan melakukannya dan tahu betul Sungmin tidak akan menghalanginya.

Kyuhyun justru heran, tiga tahun hidup bersama dan dua tahun tidak saling menahan diri saat bercinta, Sungmin belum juga menunjukkan tanda-tanda mengandung benihnya. Mengingat betapa suburnya bocah itu saat pertama kali mereka berhubungan badan, Kyuhyun diam-diam malah merasa kecewa.

Kyuhyun menyeka kain hangat itu di atas perut ramping Sungmin, lalu pemuda itu mendesah. Diletakkannya sebelah tangannya di atas sana. Sesaat merasakan kedutan aneh di atas kulit Sungmin yang membuat jantungnya berdegup kencang. Lalu disadarinya itu hanya denyut urat-urat di atas kulit matenya. Ia terlalu berharap.

Mungkin belum waktunya. Hiburnya pada diri sendiri.

Menunggu dua atau tiga tahun lagi pilihan yang lebih tepat dari sekarang. Sungmin masih terlalu egois untuk dibebani seorang bayi.

Kyuhyun melanjutkan gerak tangannya, mengusap kedua kaki Sungmin dari belahan selangkangannya. Ia menemukan memar, lecet, dan baretan dengan jumlah lebih banyak dari biasanya. Tapi alih-alih marah, pangeran itu tersenyum, sembari diusapnya semua luka itu dengan lembut dan hati-hati.

Meski kedegilannya tidak berkurang dari hari kehari, Kyuhyun merasakan matenya tumbuh lebih dewasa. Sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu. Mungkin akan memakan waktu yang lama, sangat lama, untuk mencapai titik dewasa pada diri Sungmin yang diharapkannya.

Selesai mengolesi obat pada setiap memar di tubuh matenya, Kyuhyun memasangkan pakaian hangat Sungmin dan menyelimuti bocah itu.

Bocah.

Kyuhyun tersenyum geli. Sungmin bukan lagi seorang bocah. Ia harus mulai membiasakan diri menatap matenya sebagai pemuda, remaja yang berada di awal kedewasaannya. Tapi anehnya, Kyuhyun merasa agak tidak rela kalau ia sampai kehilangan sosok manja Sungmin. Rengekan-rengekannya, kebodohannya, kepolosannya.

Kyuhyun membungkuk. Mengecup kening, pipi, bibir, dan bahu Sungmin dengan lembut lalu berbisik sayang.

“Jangan tumbuh terlalu cepat.”

.

oOoOoOo

.

“Aku kangen Sleipnir…” Sungmin berkata suatu ketika. Ia sedang berada di kamarnya berdua dengan Kyuhyun. Hyungnya tengah mengerjakan pola-pola aneh di atas kertas yang tidak dimengertinya. Awalnya Sungmin berniat merusuhi namun urung saat Kyuhyun melototinya dan siap mengamuk.

“Siapa itu? hyungmu?” Kyuhyun merespon, tanpa mengangkat wajahnya dan terus mengukur garis-garis di atas kertas.

Sungmin mendengus. “Kuda Siwon-hyung!”

“Disini juga banyak kuda, untuk apa merindukan kuda jauh-jauh di Hviturland!”

“Aku tidak suka kuda disini! Kuda disini tidak ada yang bersayap!” rengek Sungmin sembari menghentak-hentakkan kakinya.

“Chimera punya sayap.”

“Chimera tidak cantik! Sleipnir sangat cantik! Bulunya lembut di atas kulitku, dan sayapnya putih seperti salju!” Sungmin berguling di atas tempat tidurnya. Ia sengaja mengenakan kaus yang menutupi tubuhnya hingga ke lutut. Tapi pakaian tipis itu begitu transparan hingga Kyuhyun mampu melihat apapun di baliknya terlebih saat Sungmin tidak mengenakan apa-apa lagi di dalam sana. Berniat menggoda dan memancing hyungnya ke atas ranjang, Sungmin hanya dibuat kesal karena rencananya gagal. Kyuhyun masih sangat serius pada pekerjaannya. Saat satu lembar diselesaikannya, ia akan mengganti dengan lembar baru yang putih kosong. Lalu berulang terus, dan itu sudah berlangsung sejak seminggu yang lalu!

“Hyuuuungggg…” Sungmin merengek.

“Hmmmmm….”

“Aku kangen Sleipnirrrrr. Antarkan aku ke Hviturlaaaand.”

“Jangan macam-macam, Sungmin-ah!”

Sungmin beranjak dari ranjang dan setengah berlari menghampiri Kyuhyun, “Pokoknya aku mau pulang! Mau pulang! Mau pulang! Aku mau Sleipnir!” paksanya sembari menghentak-hentakkan kaki.

Kyuhyun mengabaikannya, konsentrasinya masih larut di atas lembaran tugasnya. Kuasnya berayun lembut, membentuk garis-garis benteng yang akan dibangunnya di sekitar Black Abbyss. Kyuhyun bisa mengabaikan seribu rengekan Sungmin demi pekerjaan ini, tapi tidak jika tangan mulai ikut campur.

“AKU MAU PULANG-PULANG-PULANG! SLEIPNIR! SLEIPNIR! SLEIPNIR!” rengek Sungmin sembari mengguncang-guncang tangan hyungnya. Kuas di tangan Kyuhyun sontak berubah arah, merusak beberapa gambar yang sudah dibuatnya dengan sempurna.

Kyuhyun mengeram. “SUNGMIN-AH!” bentaknya sukses membungkam Sungmin.

Sungmin menatap Kyuhyun lama sembari menggigit bibirnya, lalu pemuda itu terisak pelan.

“Hyung lebih sayang pada kertas itu! Aku sudah diabaikan satu minggu! Hyung tidur saja dengan kertas itu! Aku benci Hyung! Aku mau main dengan Teukiee-eomma saja!” tangisnya sembari melangkah ke arah pintu.

Kyuhyun mengerang.

“Coba kalau kau berani keluar, Sungmin-ah.” Ancam Kyuhyun geram. Tapi bukan Sungmin kalau termakan gertakan Kyuhyun. Bocah itu malah makin melebarkan langkahnya, bersiap berlari keluar sebelum Kyuhyun menangkapnya.

“Sungmin-ah!” Kyuhyun berbalik dan melesat menarik kerah belakang Sungmin. Diseretnya bocah itu kembali ke kamar tanpa peduli pada pemberontakan dan tangisan matenya.

“HYUNG JAHAAAAT! HUAAAAA!”

“Diam Sungmin-ah.” Kyuhyun memeluk tubuh matenya erat-erat. Pangeran itu mengaduh pelan saat matenya memukul dadanya cukup kuat. Segera saja didudukkannya Sungmin ke atas meja.

“HYUNG JAHAAAAAATTTT!”

“Kau mau menunggang sesuatu kan? Tutup matamu.”

Sungmin mengusap matanya kasar, masih terisak ia membentak kesal. “Aku tidak mau kuda biasa! Chimera juga membosankan!”

“Tutup mata bocah sial.”

Sungmin menggigit bibir. Airmatanya berlinangan. Tapi ia mulai luluh karena berpikir hyungnya akan menuruti permintaannya. Pemuda itu memejamkan matanya sembari terisak-isak. Ia meremas pinggiran meja kerja Kyuhyun, menunggu perintah untuk membuka mata. Namun lama ia menunggu, perintah itu tidak juga terdengar. Kesunyian kamarnya hanya diselingi suara tarikan napasnya sendiri dan suara gerungan pelan yang terdengar asing. Sungmin terlalu gatal menahan pejaman matanya dan memilih bertindak menuruti instingnya sendiri. Sungmin mengerjap.

Tatkala kedua matanya terbuka cukup lebar untuk menyaksikan apapun di depannya, suara isak tangis Sungmin lenyap seketika. Bocah itu terkesiap saat menatap makhluk besar di hadapannya. Seekor direwolf, dengan bulu cokelat lembut dan ujung hidung semerah marun. Cuping besar itu berdiri tegap dan bergetar pelan merespon suara-suara angin di luar jendela. Makhluk yang begitu besar, berdiri dengan keempat kakinya namun tinggi tubuhnya mencapai bawah dagu Sungmin. Ia bahkan lebih besar dibanding Sleipnir tanpa sayapnya!

Dua mata Sungmin membulat bagai almond. Mulutnya menganga. Dan makhluk besar itu menatap balik padanya. Lidahnya yang besar terulur, suara napasnya berat dan kasar.

“Kau siapa? Hyung mana!” Sungmin bertanya panik, baru sadar ia hanya berdua dengan makhluk ini di dalam kamar. Sungmin melompat turun dari meja dan memutar pandangan kemana-mana, mencari Kyuhyun. Tapi Kyuhyun tidak ada dimanapun, dan saat ia berbalik, makhluk itu melangkah lebih dekat padanya. Sungmin terkesiap, refleks mundur saat dalam hati menyadari ukuran rahang makhluk itu. Cukup untuk mengoyaknya dan menelan kepalanya bulat-bulat.

Sungmin bahkan belum pernah melihat Gray Wolf seumur hidupnya, ia hanya pernah melihat satu dua jenis serigala dengan ukuran biasa. Direwolf belasan kali lebih besar dibanding Gray Wolf, dan Gray Wolf adalah serigala dengan jenis terbesar yang pernah terlihat di lima negara. Direwolf yang ia tahu hanya sketsa-sketsa dalam gulungan sejarah. Apa yang didengarnya dari semua guru dongengnya, makhluk ini tidak pernah terlihat sejak ribuan tahun lalu. Direwolf mengikis menjadi mitos dan keberadaan makhluk ini mulai diragukan banyak orang.

Tapi kini dihadapannya, makhluk besar ini berdiri nyata dan gagah. Melangkahkan kakinya yang besar berbulu dengan cakar menyembul, mendekat dan mendekat. Sedangkan Sungmin? Pemuda itu mundur, hingga ia tidak bisa lagi kabur saat punggungnya terantuk dinding.

“Yaaaah! Jangan dekat-dekat!” pekiknya ketakutan saat makhluk itu seakan tidak mendengarnya. Sungmin merasa makhluk itu menyeringai padanya, matanya yang bulat keemasan berkilat aneh. Dan langkahnya makin pasti saat Sungmin berdiri gemetaran.

Direwolf itu menyalak, membungkukkan badannya dan Sungmin tahu, makhluk itu bermaksud melompat padanya! Sungmin jatuh terduduk dan memejamkan matanya pasrah, bersiap menerima terkaman makhluk itu. Direwolf itu menyalak makin kuat, Sungmin bisa merasakan seluruh tubuh berbulu makhluk itu menyambarnya. Sungmin menjerit, memejamkan matanya makin rapat, ia terkapar ketakutan dengan makhluk besar itu berbaring di atas tubuhnya. Tapi bukan tajam taring yang menembus kulitnya, Sungmin mendapatkan usapan-usapan dari daging basah yang berserat.

Sungmin membuka matanya dan terhenyak, tubuhnya bergeser ke kanan dan ke kiri saat makhluk itu dengan brutalnya menjilati sekujur wajah dan lehernya. Direwolf itu menggonggong lagi, kini terdengar lebih ramah dan jinak. Makhluk itu membuka rahangnya lebar-lebar dan melahap kepala Sungmin dengan gestur lembut, tidak sedikitpun melukai pemuda di bawahnya, tapi cukup banyak membagi liur yang menetes langsung dari kerongkongannya.

“Yaaaah! Geliii!” Sungmin menggeliat, ketakutannya berubah menjadi rasa jijik. Sekujur wajah dan lehernya kini penuh liur makhluk itu. Sungmin mengusap cairan bening lengket itu dari wajahnya, ia mengernyit jijik saat aroma liur itu menusuk hidungnya dan membuatnya tercenung.

Aroma familiar ini…

“Hyung?” bisik Sungmin tidak percaya. Dan makhluk itu menyalak balik padanya seakan menjawab panggilannya. Sungmin mengamati serigala itu lebih seksama. Bulu-bulunya yang lembut dan kecoklatan… saat Sungmin menyeka jemarinya menembus lebatnya bulu-bulu itu, ia merasa seperti tengah menyentuh rambut hyungnya. Kyuhyun-hyungnya.

Makhluk itu mengendusnya, lalu menjilatnya lagi membantu membersihkan semua cairan di wajah Sungmin. Sebelah cakarnya menyentuh bahu Sungmin dan mengusap pelan.

Lebih lama mengamati direwolf itu, Sungmin makin yakin pada dugaannya.

“W-Whoaaa! Hyuuung!” pekik Sungmin senang, pemuda itu menarik leher serigala di atasnya dan memeluknya erat-erat. Makhluk itu menggerung pelan, terdengar malang karena posisi Sungmin separuh mencekiknya.

“Aku mau naik! Aku mau naik!” seru Sungmin bangun dari bawah sana, lalu tanpa izin sontak memanjat Kyuhyun dan memeluk leher berbulu itu erat-erat. “Ayo jalan, hyuuung!”

Kyuhyun menyalak, nyaris terdengar lembut. Awalnya ia melangkah hati-hati, memastikan posisi Sungmin aman di atas punggungnya. Saat yakin Sungmin kokoh berpegang padanya, Kyuhyun melangkah lebih cepat, melesat dengan empat kaki yang menapak bagai angin melintasi koridor di depan kamarnya.

Pelayan dan pengawal tercenung berhenti dari kegiatan apapun yang mereka lakukan saat Kyuhyun berlari melintasi mereka dengan Sungmin di atas punggungnya. Tidak ada yang tidak tahu, penguasa seluruh dataran merah ini berasal dari ras paling disegani. Direwolf. Serigala dan segala serigala. Hanya saja, pemandangan salah satunya memamerkan wujud murni mereka adalah hal langka. Hanya dua dominan berdarah murni Siluman Direwolf yang masih hidup di seluruh dunia. Kangin dan putra tunggalnya, Kyuhyun.

Wujud werewolf punya cerita berbeda, penampakan separuh serigala dan separuh monster justru lebih sering terlihat ketimbang wujud Direwolf murni. Wujud itu terlalu suci untuk dipamerkan begitu saja. Tapi Kyuhyun mana peduli. Mendengar gelak tawa bahagia Sungmin dari atas tubuhnya adalah satu-satunya konsentrasinya saat ini. Tawa itu yang menggerakkan keempat kakinya untuk terus berlari. Melitasi benteng demi benteng kerajaan hingga keduanya melesat bebas melewati pedesaan, masuk ke dalam lebatnya hutan, menuju tempat indah yang belum pernah ditunjukkan Kyuhyun pada matenya.

Pearl Fairies.

Kyuhyun tahu nama itu berlebihan untuk digunakan di tanah ini. Kurang banyak terdengar menjijikan malah. Tapi siapapun yang melihat tempat ini secara langsung, akan segera setuju menggunakan nama itu untuk menyebut danau dan semua kehidupan di sekitar tempat ini.

Pearl Fairies memiliki danau besar dengan air sebening gelas. Kyuhyun tidak tahu sihir macam apa yang membuat air itu menunjukkan seluruh kehidupan di dalam danaunya. Tumbuhan-tumbuhan yang warna-warni, akar-akar merah, ikan-ikan, udang, bahkan monster-monster kecil penghuni danau. Tampak seperti lukisan kolam ikan yang dipamerkan begitu eloknya…

Ada pula penghuni tersakral yang menyumbang nama tempat ini sebagai Pearl Fairies..

Peri-peri pucat penghisap darah. Mary Nymph.Tidak ada peri yang hidup di tanah merah, kecuali di tempat ini. Makhluk itu begitu cantik, berekor ikan dan bertubuh peri, sirip bawahnya begitu panjang menjuntai dan meliuk-liuk indah saat mereka berenang di dalam Pearl Fairies. Mungkin keberadaan mereka lah yang membuat danau ini tetap terjaga keindahannya. Siapa yang berani berenang di tempat ini? Orang-orang yang bosan hidup?

Persembahan diberikan satu tahun sekali, binatang ternak dilempar hidup-hidup untuk menjadi santapan bagi penghuni sakral danau ini. Di luar persembahan, makhluk-makhluk itu mendapatkan makanannya sendiri. Dari burung-burung yang dengan lugu mendekat untuk memburu ikan, atau mamalia lain yang menepi di pinggiran bermaksud menyesap segarnya air danau.

Sungmin turun dari punggungnya dan memekik bersemangat. Ia berlutut di pinggir danau, meremas helai-helai edelweis yang tumbuh lebat di bawah kakinya. Danau ini dikelilingi taman bunga dan dibatasi hutan lebat melingkarinya, tempat yang tersembunyi dari banyak mata. Seluruh keindahannya terlindungi dan jarang tersentuh banyak tangan.

“Whoaaaa!” Sungmin berseru senang, menatap ke dalam danau yang begitu bening. Ia mengulurkan tangannya, ingin merasakan segarnya air itu saat Kyuhyun menggigit kerah belakangnya dan menyeretnya menjauh.

Jangan dekat-dekat.’ Kyuhyun menyalak, lalu berbaring di atas tubuh matenya dan mencegah Sungmin bergerak kemana-mana.

“Hyuuung! Kau beraaaat! Aku mau lihat danaunya!” Sungmin menggeliat, sekali gagal, namun dengan ulet pemuda itu menyusup keluar dari kungkungan Direwolf diatasnya. Setelah bebas, Sungmin berlari senang menuju pinggiran danau.

“Jangan terlalu dekat, Sungmin-ah.” Suara itu memperingatkan dari belakang. Sungmin tersentak, ia berbalik dan Kyuhyun menyesal mengubah dirinya terlalu cepat. Bocah itu memekik dan berlari kearahnya, menyambarnya hingga mereka berdua jatuh berpelukan di atas rumput dan bunga-bunga.

“HYUNG! Kita harus sering-sering jalan-jalan!”

Kyuhyun mengerang, begitu cepat menangkap maksud ‘Jalan-jalan’ Sungmin. Jalan-jalan dengan menungganginya akan menjadi tuntutan baru matenya ini.

“Kau bocah nakal merepotkan!” Kyuhyun menyentak Sungmin dan mendorong pemuda itu berbaring, ia mengukung tubuh Sungmin dan mengecup bibir merah pemuda itu. “Aku minta upahku sekarang.”

“Boleeeh!” Sungmin tergelak, menanggapi Kyuhyun dan balas mengecup hyungnya dengan lebih beringas. Keduanya bergumul, beberapa kali berguling mengubah posisi atas bawah itu hingga Kyuhyun kembali mengukung Sungmin di bawahnya. Pohon-pohon dan Mary Nymph menyaksikan, satu persatu kain berjatuhan. Kedua mate itu bergumul tanpa mengenakan sehelaipun benang, kulit dan kulit beradu, bersentuhan dengan rumput-rumput yang basah dan lembut.

Kyuhyun merengkuh tengkuk Sungmin dan menyelipkan sebelah lengannya menjadi bantal matenya. Lalu ia menggarap segalanya, melahap ujung kening hingga seluruh isi mulut matenya. Kyuhyun menyelipkan sebelah tangannya yang lain, ke bawah pinggang Sungmin dan menarik pemuda itu rekat padanya, seakan tidak rela berbagi kulit Sungmin sedikit saja pada rumput-rumput ini, pada tanah dan bumi. Sejenak, Kyuhyun mengendus aroma aneh menguar dari tubuh matenya, berpusat diantara pinggul kecil Sungmin, di bawah perut pemuda itu yang kurus dan lembut. Namun terlena dalam peraduan mereka, Kyuhyun mengabaikan desir aneh itu dan memagut bibir Sungmin makin beringas.

Kyuhyun mengerang, Sungmin merintih. Keduanya sudah sama-sama tegang dan enggan melepaskan peraduan diantara wajah mereka. Kyuhyun mengangkat sebelah kaki matenya, bermaksud memasukkan dirinya dengan perlahan. Ujung menuju tengah. Baru tujuh hari ia meninggalkan liang itu, dan kini Sungmin terasa begitu sempit dilaluinya. Meski licin, Kyuhyun melakukannya dengan hati-hati. Meski tidak sabar, Kyuhyun menahan diri dan membaur lembut melebihi lembutnya air.

“Akh…” Sungmin merintih. “S-Sakit.”

“Tahan sebentar, chagi.” Kyuhyun menggigit leher Sungmin, berusaha membantu matenya mengusir rasa sakit itu. Sudah lama Sungmin tidak mengeluhkan sakit saat ia memasuki tubuh matenya, tapi hal itu satu dua kali terjadi. Kyuhyun menyangka kali ini sama seperti sebelumnya. Hingga Sungmin benar-benar menolak, mendorong-dorong dadanya, dan menggeliat kesaktian.

“Ming-ah!” Kyuhyun menyerah. Ia mengeluarkan dirinya dari snowelf itu, lalu menggendongnya.

“Hyuungg… perutku sakiitt…” Sungmin meratap sambil memegangi perutnya.

“Mungkin kau sakit. Kita pulang Min-ah.” Kyuhyun memperbaiki pakaian mereka berdua sebelum menuju kembali ke kerajaan sambil menggendong Sungmin di punggungnya.

.

oOoOoOo

.

Kyuhyun berdiri khawatir di sisi ranjang tidurnya. Sungmin berbaring disana, merintih dengan mata terpejam saat tabib ratu memeriksa tubuhnya. Tangan renta itu menyentuh dan memijat perut matenya, bergerak lembut namun Kyuhyun tidak bisa memalingkan wajahnya kemanapun. Terakhir kali ia melakukannya, seorang tabib menjilati tangan matenya dan bermaksud melahap Sungmin di kamarnya yang lama.

“Ini…” Ji Wan mengerutkan keningnya, lalu mengusap perut putih itu sekali lagi. Setelah yakin pada dugaannya, tabib tua itu mendongak dan menatap Kyuhyun. Wajahnya nyaris memancarkan kebahagiaan. “Tuan muda sedang mengandung, Yang Mulia. Usia kandungannya masih sangat muda. Tiga minggu kalau aku tidak salah menduga.”

Kyuhyun dan Sungmin sama terkejutnya, untuk alasan yang jauh berbeda.

“Kau yakin?” Kyuhyun mendelik.

“Mengandung? A-Apa itu mengandung?” tanya Sungmin panik, matanya terbelalak terbuka, awalnya memaksa untuk duduk saat Ji Wan dan Kyuhyun bersama-sama mendorongnya kembali berbaring.

“Apa itu jenis penyakit baru?”

Kyuhyun dan Ji Wan mengabaikan pertanyaan itu, keduanya berdiskusi tentang hal yang tidak Sungmin mengerti, tapi tak ayal membuat pemuda itu makin pusing dan panik memikirkan vonis tabib itu untuknya.

“APA ITU MENGANDUNG JI WAN-SSHI! A-Apa itu penyakit perut?” pekik Sungmin tidak sabar, tangannya gemetaran memeluk perut, tempat dimana Ji Wan memeriksanya sejak tadi.

Ji Wan menatapnya sebentar, lalu melempar pandangan iba pada Kyuhyun. Ia mengusap tangan Sungmin sembari menjelaskan pelan-pelan. “Mengandung, Tuan Muda. Kau sedang hamil, di dalam sini ada pangeran kecil yang diimpikan Raja.”

“H-Hamil?” Sungmin mendelik, memutar otaknya dengan cepat lalu memekik kecil saat ingatan membawanya pada kenangan saat itu… saat ia berbaring berdua dengan Kyuhyun di taman. Tanpa disadari oleh Kyuhyun dan Ji Wan, Sungmin meremas perutnya makin kuat. Mulutnya mengatup dan membuka, wajahnya pias.

“Kupikir cukup itu saja, Ji Wan-sshi.” Kyuhyun menyela. “Mungkin mate-ku kelelahan, besok aku akan membawanya ke tabib kerajaan.”

Kyuhyun mengantar Ji Wan keluar dari ruangannya lalu menutup kedua pintu kayu ek kamarnya yang besar itu.

Saat ia berbalik, kening Kyuhyun mengerut melihat Sungmin mendelikketakutan. Bibirnya terbuka dan wajahnya pucat pasi. Badannya gemetaran.

“Min-ah? Kenapa kau pucat?” Kyuhyun duduk di sisi Sungmin, ia mengusap kening matenya prihatin. Siap mendengarkan segala keluh kesah matenya itu.

“Hyuuunngg… hiks!”

Tangis Sungmin pecah, membuat Kyuhyun panik dan heran. Pemuda itu mengangkat matenya duduk dan merangkulnya lembut. “Ada apa? Perutmu sakit? Atau selangkanganmu yang—?”

Kyuhyun sudah sering menghadapi rengekan manja bocah itu, tapi tidak seperti sekarang. Sungmin terlihat pucat seperti sakit. Namun snowelf itu menggeleng.

“Hiks! A-aku akan mati ya hyung?”

“Hah?! Kenapa kau berpikir begitu?”

“Aku sudah mengabaikan nasihat hyung… Hiks Hiks… Habisnya aku suka melakukan itu sama hyung. Aku suka kalau hyung di dalamkuuu! Aku tidak mau berhenti. Hiks! Sekarang aku kena penyakit itu kan?” Air matanya deras berjatuhan.

Wajah Kyuhyun memerah,  tergagap malu mendengar komentar vulgar yang jujur dari bocah itu. “Tu-tunggu… apa yang kau maksud penyakit? Maksudmu hamil?”

Sungmin mengangguk sedih.

Kyuhyun mengatup wajahnya dengan sebelah tangan dan menghela napas lelah.

“Hyungaaa… kau pernah bilang kan, kalau hamil itu nanti ada yang hidup dalam perutku, lalu dia akan mengoyak perutku untuk keluar. Hueeeeeeeeeee! A-Aku tidak mau hamil! Aku takuuuuttttt!”

“H-Huh?! Mana pernah aku bilang begitu—ahh… ya aku ingat sekarang. Sial…” Awalnya sang putra mahkota itu tidak ingat bahwa ia pernah memberikan penjelasan asal-asalan mengenai definisi hamil ke bocah lugu ini. Meski tidak sepenuhnya salah, namun ia menyesal telah meninggalkan kesan yang mengerikan di benak Sungmin.

Tujuan awalnya agar Sungmin merasa takut karena mereka terlalu banyak berhubungan badan, namun sepertinya percuma saja. Diumurnya yang baru beranjak dewasa, hormon dan hasrat Sungmin masih tak terkendali. Atau memang ia yang tidak mau belajar mengendalikannya?

Sekarang Kyuhyun harus mengubah definisi yang telah ia katakan. Namun apa Sungmin akan mempercayainya?

Kyuhyun menarik napas panjang sebelum berbicara.

“Min-ah, hyung salah. Maafkan hyung yaa…  I-itu sebenarnya tidak semengerikan yang pernah hyung katakan.” Pemuda berambut cokelat itu membantu Sungmin menghapus jejak air matanya.

“Hamil itu artinya kau akan punya bayi, Sungmin-ah… Kau dan hyung, bayi kita.” Kyuhyun tersenyum getir, tak yakin harus merasa senang atau takut.

‘Appa sialan itu pasti akan melonjak bahagia mendengar hal ini… barangkali terlalu senang sampai-sampai ia mati terkena serangan jantung.’ Geram Kyuhyun dalam hati.

Paling tidak Sungmin sudah 17 tahun sekarang… Memang masih sangat muda, namun Kyuhyun beruntung berhasil menepati janjinya.

“Bayi?”

“Iya, bayi. Masa kau tidak tahu bayi?!”

Sungmin menggeleng polos.

“Sungguh? Kau tidak pernah lihat satupun? Memangnya tidak pernah ada bayi di Hviturland?”

Snowelf itu menggeleng lagi.

“Aishhh…” Kyuhyun menggaruk rambutnya frustasi.

Sungmin memang yang paling bungsu di kerajaan es itu, dan semua saudaranya belum memiliki pasangan, belum berkeluarga. Sudah pasti tidak ada bayi di dalamnya. Apakah memang tingkat kelahiran Snowelf sangat rendah? Mungkin di antara pelayan-pelayan itu ada yang memiliki bayi, namun tidak mungkin dibawa ke kerajaan sambil mereka bekerja. Dia berpikir sebentar sebelum dia teringat sesuatu.

“Yah, Min-ah, masa kau tidak ingat? Bayi yang selalu digendong Seohyun-noona, apa selama ini kau tidak memperhatikannya? Padahal dia sering menangis kok. Ingat tidak saat kau bertengkar dengan Sooyoung dan Victoria? Saat itu Seohyun sedang menggendong bayinya.”

Mata Snowelf itu melebar. “Oooohhh… jadi makhluk kecil berisik yang digendong itu namanya bayi? Changmin-hyung juga punya.”

“HAH?! Hyung-mu ada yang punya bayi?!” Kyuhyun kaget dengan informasi itu. Apa dia salah dengar saat di Hviturland pertama kali? Seingatnya sang ratu mengatakan bahwa putra-putra raja belum ada yang mengambil mate.

“Iya, namanya Mii. warnanya putih dan bulunya lembut. Dia selalu dibawa hyung pergi menjaga perbatasan. Hyung juga bilang kalau dia sering membantu hyung melacak penyusup!”

Kyuhyun tercengang sebentar, kesulitan mencerna informasi tersebut.

“…Min-ah… masa sih, yang kau maksud itu… hewan peliharaan?”

“He eh.” Angguknya lagi.

“SUNGMIIIINNNNN…!” Kyuhyun mengerang frustasi.

Sekarang dia harus menjelaskan dari AWAL dan sedetail-detailnya.

“Bayi itu bukan hewan peliharaan chagiiiiii… orang tidak melahirkan hewan peliharaan. Bayi itu maksudnya adalah anak! Kau tau kan anak? Seperti Lizzy, Maora, Remmy? Mereka anak noona-noonaku. Sama seperti kamu, kamu juga seorang anak. Seorang anak akan tumbuh besar menjadi dewasa, seperti aku, dan hyungmu di Hviturland.”

Sungmin bengong, terdiam mencerna penjelasan Kyuhyun.

“Kau belum paham Min-ah? Aku akan jadi Appa.”

Sungmin belum menunjukkan reaksi. Sementara dalam hati, Kyuhyun bergetar mendengar ucapannya sendiri.

‘Appa…’ Dia pernah merasakan perasaan menjadi orang tua dulu, namun tidak lama, dan tidak banyak kenangan menyenangkan yang diingatnya. Dia lebih banyak mengingat hal-hal buruk dan bayangan mantan istrinya yang menderita. Kyuhyun lalu menggelengkan kepala, mencoba mengusir kenangan itu untuk saat ini.

“Dan kau akan jadi Eomma.” Lanjutnya.

Mata Sungmin melebar, mulutnya menganga. Bayangan eommanya di sebrang negri muncul dalam benaknya, Junsu-eomma. Lalu Teukie-eomma. Orang-orang yang paling disukainya setelah Kyuhyun di seluruh dunia. Tapi Junsu Eomma tidak pernah menampung siapapun dalam perutnya, dan Teukie-eomma pun begitu. Setidaknya Sungmin tidak pernah melihat mereka mengalaminya. Sungmin meremas perutnya dan kembali menangis.

“Tapi perutku akan pecah! Perutku akan meledak, hueeee!” Membayangkan makhluk lain menumpang hidup di dalam perutnya saja membuatnya gemetaran. “K-Kenapa bayi harus lahir dari perut? Kenapa tidak muncul saja dari pohon! Aku kan takut, hueeee!”

“Aish.” Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung bagaimana harus menanggapi semua tangis dan rengekan Sungmin hingga ia memutuskan membiarkan saja anak itu menangis hingga kelelahan dan tertidur dengan sendirinya.

.

oOoOoOo

.

Tiga hari berlalu dan berita kehamilan Sungmin menyebar cepat ke seluruh penjuru kerajaan, menuai berbagai macam reaksi. Bagi rakyat Radourland, berita gembira ini adalah kehamilan pertama mate sang putra mahkota Kyuhyun yang cukup dikenal masyarakat. Meskipun sang pangeran belum mau menjalani prosesi penobatannya sebagai pewaris tahta yang sah, semua orang sudah meyakini kepastian hal itu tanpa perlu mengadakan upacara resmi.

Karena Kyuhyun tidak terlalu senang mengikuti pertemuan antara petinggi kerajaan, ia lebih memilih untuk menggunakan ilmunya dalam perancangan bangunan dan strategi antisipasi bencana. Ia akan langsung turun ke lapangan untuk mengawasi dan membantu proses pembangunan sehingga masyarakat menyenangi pemuda itu.

Namun seperti adanya cahaya bagi kegelapan, diantara mereka yang senang tentu saja ada beberapa pihak yang tidak menyukainya. Bahkan bukannya mustahil beberapa adalah anggota kerajaan Radourland sendiri, baik dari kerajaan utama maupun kerajaan kecil lainnya di negeri merah itu.

Mereka telah menunggu kejatuhan kerajaan itu sejak lama dan berniat mengambil alih. Sebisa mungkin tanpa kekerasan. Orang-orang itu selama ini memang menganggap kerajaan itu dikutuk. Semenjak Kangin mengambil alih tahta, dia kesulitan mendapat putra pewaris. Namun entah keajaiban darimana, akhirnya anak laki-laki yang selama ini ditunggu lahir di keluarga itu. Tidak ada keraguan bahwa ia memang darah daging sang raja, namun penyihir mana yang telah didatangi si raja merah untuk mematahkan kutukan itu?

Atau memang selama ini ‘kutukan’ yang mereka pikirkan hanya imajinasi belaka?

Lalu bagaimana dengan sang ratu yang meninggal begitu cepat?

Rumor juga mengatakan bahwa ratu kedua saat ini juga sudah sekarat. Kangin sudah mencari tabib kesana kemari dan berani membayar mahal siapapun yang bisa menyembuhkan istrinya. Puluhan tabib dari seluruh penjuru Radourland yang merasa mampu akan mendatangi kerajaan itu, mencoba mengobati sang permaisuri. Namun nihil. Tidak banyak yang keluar hidup-hidup dari kerajaan itu.

Terlepas dari keadaan istrinya, sudah jelas sekarang Kangin sedikit lebih tenang dengan kehadiran bakal cucunya itu. Musuh raja dan orang-orang yang berniat buruk itu, tentunya berharap sang putra mahkota tidak mendapatkan penerus laki-laki. Sehingga, mau tidak mau, kelanjutan keturunan kerajaan utama Radourland itu akan berpindah kepada saudara yang lain yang mampu meneruskan keturunan tersebut.

Meski dilanda kecemasan, masih ada harapan bagi mereka.

Pembicaraan ini juga sudah mulai memanasi telinga putri-putri kerajaan, noona-noona Kyuhyun, terutama mereka yang tidak senang dengan menantu kesayangan raja itu. Sesuai dugaan, raja sangat gembira. Dengan takaburnya meyakini cucunya nanti adalah laki-laki. Andai saja keadaan Leeteuk lebih sehat, ia tentunya akan mengadakan acara syukuran dan foya-foya yang mewah.

Sementara pagi itu dikamar sang pasangan muda, bukannya adegan mesra yang terlihat. Sang putra mahkota sudah bangun sejak pagi dan duduk di meja kerja yang ada di kamarnya, terlihat sibuk berkonsentrasi dengan bertumpuk buku dan gulungan kertas berserakan di hadapannya. Sementara snowelf berambut hitam legam itu masih tertidur pulas, sebelum tiba-tiba terbangun karena rasa mualnya dan terbirit ke kamar mandi pribadi mereka yang ada jauh di sudut ruangan.

“Hooeekkk” suara itu samar-samar terdengar dari balik kamar mandi.

Kyuhyun mendengus sambil melanjutkan pekerjaannya. ‘Mual-mualnya sudah mulai toh?’

Pintu kamar mandi itu terbuka. Sungmin terhuyung keluar menyeret kakinya sambil merengek.

“Huhuhuuuu hyuuuunng~” Dia berjalan mendekati meja kerja itu lalu bergelayutan manja di punggung Kyuhyun.

“Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Kyuhyun tanpa menoleh. Ia bisa merasakan kepala mate-nya itu menggeleng di bahunya dari belakang.

“Perutku rasanya tidak enak. Ughhh… mau muntahh… Aku sakit, hyuuungg….”

“Itu normal, Min-ah. Kau tidak sakit. Kenapa tadi kau tidak sekalian mandi? Mandilah, lalu kita akan pergi sarapan sama-sama.”

“Tidak mauuuuu… Nanti saja mandinyaaa. Hyung, aku mau lihat anjingku dulu ya?” Sebelum Sungmin dapat melepaskan tangannya dari bahu Kyuhyun, pemuda itu menangkap tangannya.

“Tidak boleh. Anjingmu masih di kandang belakang dan kau tidak boleh kesana. Udaranya tidak bagus dan banyak kotoran hewan. Mandi saja dulu. Nanti habis makan akan hyung temani kalau tidak sibuk.”

Sungmin menggembungkan pipinya dengan marah. “Bohong! Kemarin hyung juga janji mau mengajakku jalan, tapi malah pergi sama ahjussi-ahjussi yang tidak kukenal! Lalu hyung mengurungku di kamar!”

“Eehh… itu… mau bagaimana lagi Min-ah. Hyung sudah janji duluan sama mereka, dan hyung lupa.”

“Kalau begitu hari iniiiiiiiii…” Rengeknya menghentak-hentakkan kaki sambil bergelayutan di balik kursi Kyuhyun.

“Ya-Yah! Aishh! Sungmin-ah! Lihat apa yang kau perbuat?! Gambar rancanganku jadi tercoret! Sekarang aku harus membersihkan bagian ini dan mengulangnya lagi!” Sungmin melepas tangannya dan merengut melihat Kyuhyun menggerutu kesal.

“Aisshh… untung tintanya tidak tumpah semua. Tidak ada jalan-jalan dan main. Pekerjaan hyung tidak ada yang selesai karena menemanimu setiap hari! Dan sekarang kau malah membuat rancangan ini tambah lama selesainya.”

“HUUUHH ya sudah! Aku mau pergi sendiri saja! Hyung jahat! Jelek! Bweeeeeeeeeeee!” Snowelf itu menjulurkan lidah kesal kepada mate-nya lalu kabur keluar ruangan.

“YAH! MIN-AH! Kubilang tidak boleh! Sungmin-ah!” Kyuhyun berteriak namun masih melekat di mejanya, tak rela meninggalkan rancangannya. Kalau ia tidak segera menghapusnya, tinta itu akan mengering dan penyelesaian rancangannya benar-benar akan molor.

Namun bocah itu kabur tak memperdulikan teriakannya

Sungmin berlari menjelajahi istana yang jalannya sudah mulai banyak dihapalnya itu; sesekali hampir menabrak orang yang berjalan di lorong istana. Sesaat ia bingung mau kemana. Sebagian besar orang pasti tidak ada ditempat saat ini, dan entah mau dicari kemana. Lalu dia ingat, ada seseorang yang hampir tak pernah meninggalkan kamarnya.

Ia pun memutar arah ke bangunan raja dan ratu.

“Teukiee-eommaaaaa! Sembunyikan aku! Kyu-hyung cerewet sekaliiii!” Sungmin berhambur masuk ke kamar permaisuri, bahkan para pengawal di luar tidak sempat menyuruhnya tenang.

“Tuan muda Sungmin?! Bisa tenang sedikit tidak—” Sang tabib Ji Wan sedang berada di dalam kamar Ratu. Jantungnya serasa mau copot saat Sungmin masuk tiba-tiba. Dia sempat mengira ada serangan musuh, atau seorang pembunuh bayaran datang. Sebelum sempat dibunuh, bisa-bisa ia sudah mati terkena serangan jantung.

Sungmin berhenti lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia memandang sosok berambut cokelat di samping si nenek.

Kata-kata Ji Wan dihentikan Leeteuk yang duduk di sebelahnya. Permaisuri kedua itu merapikan pakaiannya luarnya. Tabib Ji Wan baru saja memeriksa aliran energi pria berambut cokelat gelap itu.

“Tidak apa-apa.” Bisiknya kepada si orang tua.

“Jungsu-sshii. Jangan banyak bergerak dulu.”

Leeteuk mengangguk. “Iya, tidak apa. Youngwoon sudah membagikan energinya kan waktu aku tidur tadi malam? Aku merasa lebih baik sekarang.”

Leeteuk berbalik dan membuka kedua tangannya ke arah Snowelf itu sambil tersenyum. Langsung saja bocah itu melompat ke pelukan permaisuri sambil berteriak, “EOMMAA!”

Ji Wan keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi, membiarkan dua anggota kerajaan itu bercengkerama.

“Eomma masih sakit?”

“Sudah mendingan kok. Minnie kenapa? Hyung mengganggumu lagi ya?”

Sungmin kontan merengut, mendapatkan kesempatan tepat untuk mengadu.“Iya! Hyung cerewet sekali, eomma! Aku tidak boleh latihan pedang, tidak boleh dekat-dekat hewan, semua semua semuaaaaaa tidak boleh!” Ia lalu melipat kedua tangannya kesal di depan dada. Bibirnya mengerucut maju.

Leeteuk tertawa kecil. “Itu kan demi kebaikanmu juga chagi. Saat ini kamu tidak memakai tubuhmu sendiri, jadi kamu tidak bisa sebebas dulu lagi.”

Sungmin makin merengut. “Iya! Eomma! Kata Hyung aku akan jadi Eomma juga! Aku mau jadi eomma seperti Teukiee-eomma dan Junsu-eomma!” ujarnya penuh semangat. Semula ekspresinya begitu cerah, lalu dengan cepat rautnya berubah. Sungmin menggigit bibirnya, dengan nada pelan ia melanjutkan, “Tapi aku tidak suka… Aku mau main, mau latihan pedang… Aku sudah lama tidak bertemu Wookie, Lizzy juga. Mau sampai kapan aku harus seperti ini eomma?”

Permaisuri terdiam sejenak. Ia tidak yakin… untuk kasus Sungmin, seperti yang pernah terjadi dulu. Pertumbuhan janinnya saat itu tidaklah normal, terlalu cepat dibandingkan siluman pada umumnya. Kali ini juga Leeteuk tidak bisa menduga, apakah perkembangan janin ini akan secepat waktu itu? Lebih cepat? Atau normal? Ia memilih menghindari jawaban pasti.

“Hanya beberapa bulan purnama lagi, chagi. Semuanya tergantung kesehatan kamu. Jika kamu sehat dan banyak makan, kamu akan lebih cepat melahirkan. Makanya hyung sangat cerewet.” Ia sengaja memberikan ‘tambahan’ informasi, sedikit melebih-lebihkan kenyataan mengingat menantunya ini sangat sulit diperintah untuk makan, kedua tersulit setelah mandi.

“…Eomma, apa benar nanti makhluk ini… akan keluar merobek perutku saat dia sudah besar?!”

Leeteuk menganga mendengar hal itu. “Si-siapa yang bilang begitu, chagi?”

“HYUNG YANG BILANG! HUEEEEEEEEEEEEE! AKU TAKUT, EOMMAAA! ” Bocah itu mulai merengek. Begitu cepat airmatanya membuncah dan mengaliri pipi yang sebelumnya kering.

Leeteuk terkekeh kecil. Apa benar Kyuhyun bilang begitu? Mungkin ada kesalahpahaman informasi yang ditangkap oleh Sungmin. Atau memang itu kejahilan Kyuhyun? Sifat Kyuhyun sudah banyak berubah sejak Sungmin datang ke kerajaan ini.

“Bukan begitu chagi. Bayi itu lemah, mana mungkin dia merobek perutmu seperti yang kau bayangkan.” Leeteuk menjelaskan sambil tersenyum. Meski sesaat kemudian, Leeteuk merinding mengingat kejadian sebelum Sungmin keguguran. Cetakan tangan yang mencuat diperut Sungmin dari janin berusia lima minggu itu… mengerikan. Kenapa hal seperti itu sampai terjadi? Apa karena Kyuhyun tidak ada saat purnama sehingga terjadi keabnormalan itu? Kalau benar begitu, bukan tidak mungkin bayi yang ini akan mengoyak Sungmin jika ia hidup lebih lama dan tumbuh semakin kuat.

“Jadi perutku tidak akan pecah dan meledak, eomma? Hah… Eomma kan eomma juga ya? Jadi eomma yang melahirkan semua noona-nya hyung dan Kyuhyun-hyung? Mereka kan ada banyak sekali eomma! Eomma masih hidup! Eomma tidak meledak! Hueee! Teukiee-eomma hebat! Bagaimana caranya supaya tidak meledak eommaaaa???“ Sungmin bertanya bertubi-tubi, tanpa berhenti untuk menarik napas dan memberikan kesempatan Leeteuk untuk menjawabnya. Matanya berbinar penuh semangat, seolah telah menemukan solusi agar tidak mati dari keadaannya itu. Membayangkan makhluk lain tumbuh dan menumpang hidup di dalam perutnya saja membuatnya gemetaran.

Leeteuk terdiam sesaat, berdebat dengan benaknya sendiri.

Jika dia menjawab tidak, Sungmin tidak akan mengerti mengenai silsilah keturunan yang lumrah terjadi di kerajaan manapun, bahwa anak raja lahir dari ibu yang berbeda. Leeteuk tidak mau bocah snowelf ini berpikir bahwa semua raja akan mengambil lebih dari satu istri. Leeteuk yakin sekali bocah ini akan meraung ketakutan berpikir kalau Kyuhyun akan mendua. Selain itu…

Leeteuk tidak mau Sungmin berpikir sama seperti semua anak-anak Kangin… yang menganggap dirinya tidak lebih dari pengganggu, merebut sang raja dari permaisurinya, disalahkan seumur hidupnya atas wafatnya permaisuri dan ibu kandung dari anak-anak Kangin.

Hati Leeteuk pedih membayangkan ekspresi apa yang akan diberikan Sungmin saat menatapnya nanti. Dia tidak mau dijauhi oleh Sungmin seperti yang lain…

Mungkin hal ini tidak akan terelakkan nanti. Ya, nanti… Tapi untuk sekarang masih boleh kan ia menikmati sebentar keakraban ini? Pengganti kasih sayang dan kemanjaan dari anak yang tidak pernah ia dapatkan. Leeteuk memutuskan untuk berkilah, berusaha mengalihkan jawabannya ke topik yang lebih diperhatikan Sungmin.

“Hmmmm caranya sudah eomma bilang tadi. Kamu tidak boleh pilih-pilih makanan, kamu harus makan yang teratur ya? Minum susu, banyak makan buah dan sayuran juga, jangan hanya makan daging. Lalu Minnie tidak boleh beraktifitas berat, tidak boleh terjatuh juga. Kalau Minnie tidak melakukan semua itu, nanti bayimu marah lho chagi!”

Sungmin memucat. “KA-KALAU DIA MARAH… NANTI DIA MELEDAKKAN PERUTKU EOMMA?!”

Leeteuk memasang wajah serius. “Ya, Sungmin-ah. Nanti dia akan marah karena kamu tidak menjadi eomma yang baik… lalu dia akan…. ” sang permaisuri berhenti sebentar, sedikit ragu untuk lanjut menakut-nakuti bocah itu.

“…Dia akan membuatmu sakit perut kalau kamu nakal, karena dia minta pindah ke eomma lain!”

“HUEEEEEEE TAKUUUTTT!” Sungmin langsung merengek menjadi-jadi.

“Karena itu, Sungmin-ah…. Janji sama eomma ya, jangan nakal selama bayimu belum lahir. Jangan pilih-pilih makanan ya, chagi?” Leeteuk menatap Sungmin sembari memegang kedua bahunya, menunggu Snowelf itu berjanji.

Sungmin menggigit bibir bawahnya yang bergetar, lalu ia terdiam sebelum akhirnya mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

Leeteuk tersenyum puas.

Sementara itu di lorong depan bangunan raja, Kyuhyun datang memasang raut tak senang. Langkahnya selalu terasa berat saat ia memasuki bangunan ini. Antara tidak ingin melihat istri ayahnya itu, dan tidak ingin bertemu sang ayah sendiri yang seringkali menggodanya. Menyebalkan sekali. Ia tidak ingin masuk kesini tapi tahu persis Sungmin ada di dalam ruangan di lorong kanan itu.

Dia tidak mau bertemu orang itu.

Kyuhyun berencana memanggil Sungmin dari lorong itu sebelum terdengar suara memanggil dari belakangnya.

“Kyuhyun-ah?”

Pemuda berambut ikal itu berbalik “Appa…”

Kangin berjalan perlahan mendekati sang putra mahkota mengenakan pakaian santainya. “Biar kutebak. Mau menjemput mate-mu tersayang eh? Ini masih pagi, benar-benar tak bisa berpisah sebentar saja ne?” sang raja terkekeh melihat Kyuhyun mendesis malu dan kesal.

“Appa sendiri, masih santai sekali. Apa tidak ada pertemuan hari ini?”

“Aku kan raja. Aku bisa memutuskan untuk datang ataupun tidak sesukaku.” Jawab Kangin santai sambil melipat tangan di depan dadanya.

“Cih… Jangan mengomel kalau nanti aku juga begitu ya.” Rutuknya pelan, namun cukup terdengar oleh Werewolf terkuat di Radourland itu.

“Hmmm harusnya kau berterima kasih dan bersyukur karena kau memang akan menggantikanku di posisi ini.” Seringainya sombong.

“Tidak, terima kasih Appa. Aku lebih senang tidak jadi raja yang banyak kerjaan. Negeri ini bisa rusak kalau aku tidak pernah hadir ke pertemuan dan bertingkah sesukaku.”

“Bagus kalau kau menyadarinya. Itu baru putraku. Hahahaaa! Aku percaya kau tidak akan mengabaikan tanggung jawabmu kalau kau sudah jadi raja nanti.” Kangin seolah mengabaikan kata-kata tidak dari Kyuhyun. “Lalu mana rancangan menara Elm’s Deep yang kau bilang sudah hampir selesai itu? Kau pikir sudah berapa hari sejak aku mengatakan padamu untuk menunjukkannya padaku?” Tanyanya lagi.

“Aisshh… bagaimana aku bisa konsentrasi menyelesaikan desain rumit itu sementara bocah itu selalu ribut merengek minta ditemani keluar atau pergi main entah kemana?! Di pagi hari dia sering mual dan muntah, aku harus menemani dan membujuknya. Dan di siang hari dia akan mengganggu pekerjaanku agar aku beralih untuk membawanya keluar!” Kyuhyun menggaruk rambutnya frustasi.

Kangin hanya terkekeh seakan tak ambil pusing. “Yah dia memang masih belia dan keadaan hormonnya mungkin tidak stabil karena kehamilannya. Wajar kan dia manja padamu, daripada dia manja padaku atau orang lain?” Sang ayah memasang wajah mengejek, Kyuhyun membalas dengan ekspresi kesal.

“Oh ya? Bukankah saat ini dia sedang bermanja-manja dengan orang lain?” Pangeran itu memutar bola matanya ke arah lorong di kanannya dengan tak senang.

“Leeteuk tidak akan melukainya, Kyuhyun-ah. Sebaliknya sebagai sesama pendamping raja, ehm… dan calon raja, kurasa Sungmin akan belajar banyak dari permaisuri.”

Kyuhyun tidak berkomentar, tidak juga menatap ayahnya.

‘Asal bukan pengetahuan merayu lelaki lain saja yang diajarkannya….’ Ujarnya dalam hati.

Kangin menatap putranya yang hanya diam lalu menghela napas.

“Baiklah, panggillah mate-mu keluar. Ini sudah hampir waktunya sarapan bersama.” Sang raja melangkah lebih dulu ke lorong kamar permaisurinya itu, meninggalkan putranya di belakang.

.

oOoOoOo

.

Siwon mengayun tangannya di depan wajah, memanggil cahaya dari ujung jari-jarinya untuk menerangi lorong gelap di hadapannya. Ia melangkah begitu hati-hati. Tangga yang dilaluinya curam, penerangan yang dimilikinya hanya sihir kecil pengganti lilin di ujung jarinya. Obor-obor yang menempel di dinding dibiarkan padam. Tidak banyak pengawal yang berjaga, hanya dua orang di pintu terbawah menara dan seorang pelayan di depan pintu kamar. Kadang ia bingung, kenapa permaisuri memilih benteng gelap ini menjadi istananya saat ada banyak menara-menara lain yang jauh lebih indah dan baru. Bukankah sang Ratu bisa menggunakan sihirnya atau setidaknyamemerintah pelayan untuk menyalakan obor-obor itu? Dia seperti sengaja membiarkan menara ini tetap padam. Apa yang dipikirkan Ratu? Apa ia tidak merasa kesepian?

Meski menikahi raja, ratu dan pangeran mahkota akan diberikan istana sendiri yang terpisah dari istana utama dan istana raja. Milik Siwon tepat berada dibelakang istana ayahnya, dan istana ratu  seharusnya tepat berada di sisi kanan istana utama. Tapi akhirnya istana itu terbengkalai, disimpan seperti bangunan hantu tanpa penghuni.

Dan Junsu memilih menghabiskan hidupnya di istana tua ini, sisa-sisa bangunan dimana ratu yang tidak pernah menjadi ratu pernah tinggal. Jaejoong.

Menara ini merupakan puncak tertinggi dari seluruh istana, alasan mengapa ia dipilih oleh Jaejoong karena seluruh dataran putih terlihat jelas dari puncaknya. Dinding, lorong, dan tangganya terbuat dari es yang kokoh meski tua, begitu terang dan berkilau saat matahari bersinar, namun berubah gelap dan mengerikan saat malam datang.

Siwon meningkatkan terang cahaya sihir di tangannya itu. Jalan di depannya begitu gelap, namun ia tetap melangkah. Berpikir begitu keras mengira-ngira hal penting macam apa yang membuat ratu mengundangnya kemari tengah malam begini. Apa ada hal yang begitu penting sampai-sampai Ratu tidak bisa menunggu esok hari dan bertemu di kerajaan utama seperti biasa?

Pelayan di depan pintu besar kamar ratu membungkuk padanya, memberi jalan dengan membukakan pintu.

“Kau memanggilku, Ibunda?” Siwon memadamkan cahaya dari tangannya. Di ruangan besar yang remang-remang itu, ia melihat sang ratu berdiri memunggunginya, menatap keluar melalui jendela kamarnya yang besar terbuka.

“Nde, Siwon-ah.” Ratu menyahut tanpa berbalik. Ia membebaskan seekor burung hantu dari tangannya setelah selesai mengikat surat balasan di kaki burung itu.

Siwon memutar kepalanya, tidak bisa tidak tertarik karena ini adalah kali pertamanya berada di menara ini. Lebih-lebih memasuki ruangannya. Kamar ini tampak biasa,  dengan meja, kursi, cermin, berbagai perabotan berharga, lemari ramuan beserta ruang kecil untuk melakukan sihir, dan ranjang yang jarang ditempati. Tapi sesuatu membuatnya tampak tidak biasa.

Siwon terpaku, mau tidak mau matanya terpaut pada lukisan besar yang ditempel rekat di dinding, tepat di atas ranjang bersepuh emas milik sang ratu.

Pangeran itu melangkah mendekat seakan tidak percaya pada matanya sendiri. Tiga potret mengisi lukisan besar itu. Ketiganya wajah yang familiar baginya. Ratu Junsu berada di sisi kiri, si pelacur—Jaejoong berada di sisi kanan, dan Sungmin… tersenyum manis dan duduk anggun di tengah keduanya. Dia memang tahu kalau Junsu dan Jaejoong adalah saudara. Namun kenapa ada lukisan Sungmin bersama mereka?

“Sungmin-ah?” bisiknya kaget.

Junsu berbalik, menyadari kebingungan Siwon dan tertawa. “Dia bukan Sungmin, pangeran bodoh. Itu Shengmin. Kakakku. Saudara kembar Jaejoong.”

Siwon menatapnya makin bingung, mulutnya mengatup dan menganga.

Junsu berdiri di sisi putra tirinya, kini keduanya bersama-sama mendongak memandangi lukisan indah itu. Surat yang sejak tadi digenggamnya kembali tergulung. Junsu sengaja mengundang Siwon kemari, bukan hanya untuk menyerahkan surat yang baru diterimanya, tapi juga menginginkan putra tirinya melihat lukisan ini.

“Aku selalu ingin menjadi ratu. Sejak kecil. Setiap kali orang bertanya apa mimpiku, akan kujawab…” Junsu tersenyum getir, “I want to be a queen.

Siwon berpaling, bertanya-tanya kenapa Ratu memulai kisahnya dari sana. “Tapi Bunda, kaukan memang Ratu.” Ujarnya meyakinkan.

“Tidak pada awalnya.” Lalu Junsu mendesah, suranya pelan dan sedih. “Terlahir di urutan ketiga tidak membawa banyak keberuntungan untuk mimpiku.”

Junsu membalas tatapan Siwon, sebelum berpaling menatap lukisan itu, memancing Siwon melakukan hal yang sama.

“Shengmin. Pemberontak kecil dalam keluarga kami.” Junsu tersenyum, lebih pada dirinya sendiri. Menyebut nama saudaranya membawa seribu kenangan dalam benaknya. “Shengmin terlahir untuk menjadi ratu. Dialah yang seharusnya menikah dengan Yunho, tapi Sheng terlalu liar. Tidak suka dikekang di dalam kastil dan lebih gemar bergaul dengan rakyat jelata. Sheng menentang perjodohannya dengan ayahmu. Dan beruntung, Yunho juga menaruh perhatiannya pada yang lain— bukan padaku, meski saat itu aku melakukan apa saja demi mendapatkan perhatiannya. Tapi nyatanya, Dewa tidak pernah suka melihatku bahagia. Yunho mengacungkan telunjuknya, menuntut sendiri ratunya. Jaejoong, adik kembar Sheng.”

Siwon menatap Ratu, begitu lekat seakan menuntut kebenaran dalam cerita itu. Tapi mendengar semua cerita ini langsung dari bibir Ratu, Siwon tahu ia mendengar kenyataan.

“Kau tau apa yang terjadi pada saudaraku Jaejoong, setelah kematiannya aku menggantikan posisinya dan menikahi Raja. Menggantikan. Menempati kursi yang tersisa karena kakak pertamaku menolaknya dan kakak keduaku terlalu kotor untuk menempatinya. Mungkin Tuhan mengutukku, untuk setiap iri hatiku, untuk setiap kebencian yang kuberikan pada saudara-saudaraku. Saat aku tidak menginginkan singgasana itu lagi, saat aku menemukan Raja-ku yang lain, kursi ratu itu dihadapkan padaku tanpa pilihan.” Junsu bergeming, sesaat teringat kembali pada sosokyang sempat membuatnya melupakan ambisinya menjadi ratu, orang yang telah berhasil meluluhkan hatinya.

Siwon mendengus, keningnya bertaut. Ditatapnya sang Ratu dengan ekspresi tidak setuju. “Kau selalu punya pilihan untuk menolak ayahku. Raja bahkan tidak peduli kalaupun ia tidak memiliki ratu.”

Junsu tertawa kecil dan menggeleng. “Aku tidak punya. Tapi kau… Kau punya pilihan.” Ratu berdiri menghadap Siwon dan mendongak. Wajahnya lebih tegas kali ini, seakan ia mendapatkan keputusan akhirnya setelah berunding dengan diri sendiri lama sekali. “Sheng ada di Graentland sekarang. Kalau kau gagal mendapatkan Sungmin kembali, aku bisa menawarkan kakakku untukmu. Asal kau bisa membawanya pulang padaku.” Sekalipun kita harus berperang dengan Raja Graentland. Tambahnya dalam hati.

“Kau mencoba merayuku untuk menyerah?” Siwon mendengus dan menggeleng tidak percaya mendengar ucapan Ratu.

“Aku mencoba memberimu pilihan, Siwon-ah.” Junsu menyodorkan surat di tangannya pada Siwon, masih dengan senyum yang tak lekang di wajahnya. “Baru datang untukku dan untuk raja. Tapi kupikir kau perlu tahu ketimbang Raja.”

Siwon memandangi surat itu sebentar, ia membuka gulungan kecil itu dengan enggan. Sampai tiba-tiba Junsu menambahkan—

“Surat itu dari Radourland. Sebelum kita kembali dari sana waktu itu, aku meminta Jungsu-sshi untuk memberikan kabar padaku jika ada berita apapun mengenai Sungmin.”

“Jungsu-sshi?”

“Kau lupa? Ratu negeri merah itu…” Junsu memperhatikan ekspresi anak tirinya itu saat membaca surat yang ditulis dengan aksara Hviturland itu secara seksama.

Siwon mendelik, segera membaca isi surat itu tanpa jeda. Dan setiap kalimat yang terbaca membuat Pangeran itu makin membulatkan matanya.

“S-Sungmin—“ bisiknya tidak percaya. Siwon meremas ujung surat itu, tangannya gemetar. Sesaat ia berniat membakar surat di tangannya ke atas bara lilin. Tapi urung mengingat surat ini ditujukan untuk ayahnya. Dan Raja bahkan belum membacanya.

“Kau akan punya keponakan sebentar lagi.” Junsu tersenyum, getir. “Tidak berniat membuat anakmu sendiri?”

“Keturunanku hanya akan lahir dari rahim Sungmin.” Bisik Siwon, suaranya bergetar. “B-bagaimana cara memisahkan mereka?”

Bagaimana cara memisahkan mereka sekarang dengan bayi baru yang muncul menjadi penghalang?

Junsu tidak menanggapi.

“Tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sekalipun bayi itu tidak ada.”

Siwon mengembalikan surat itu pada ratu sebelum berbalik menuju pintu.

“Kau mau kemana, Pangeran?”

Siwon tidak menjawab, tapi Ratu seakan mampu membaca niatnya.

“Setelah apa yang dialami adikmu, kau masih percaya pada ramuan buatannya?”

“Setidaknya dia mau membantuku, tidak seperti seseorang yang mengingkari janjinya padaku.” Balas Siwon sengit. Tangannya meremas pinggiran pintu.

“Kadang aku bingung dengan sikapmu, Siwon-ah.” Junsu berkata, setengah memprovokasi. “Kau lupa, Pangeran? Dirimu lima puluh enam tahun lebih tua dari Ratu ini. Dan kau tidak segan bertingkah di luar logika hanya untuk memuaskan napsumu, Jung Siwon.”

Siwon mengabaikannya, pangeran itu menutup pintu, berusaha tidak membantingnya. Meski dalam hati ia ingin sekali menendang kayu itu hingga lepas dari engselnya.

.

oOoOoOo

TBC

oOoOoOo

.

26 thoughts on “Cursed Crown – Chapter 14

  1. Akhirnya…. update juga. Panjanggggggg banget kak. Sampe pusing bacanya. Gak usah sepanjang ini. Tapi updatenya 2 minggu sekali.

    Aduh gak nyangka tuh heechul cuma ngeboohongi siwon.

  2. Nafilatun nasuha says:

    kerennnnnnnn akhirnya penantianku terbayar aku sampek gak punya kata-kata untuk ngungkapin saking senengnya
    this story really the best for me

  3. sayyurie says:

    wow siwon dah semakin gila,omg untung ja g smpe kejadian tpi kesian juga neh sm ming nya aih,pokoknyq keren lah,ohya the concubin(bener ga tuh tulisan nya heheh)lanjut ga ya???

  4. Nana Cho says:

    Puas bngt baca chap ini…panjang sekali…
    Untung rencana siwon bt menodai sungmin gagal…kl ngk entah apa yg akan kyuhyun perbuat.
    Akhirny sungmin hamil lg. Semoga kehamilanny yg skrng bs berjalan lancar….jgn sampai kyk kehamilan pertama yg berakhir dgn tragedi.
    Apalagi rencana siwon utk memisahkan kyuhyun & sungmin?
    Shengmin itu mateny raja Graentland khan ? Bknny shengmin lg koma ?
    Msh bnyk misteri yg blm terungkap….
    Thanks udh update ^_^
    Ditunggu lanjutanny.

  5. melaa says:

    Cihuuuyy update lagi, aku bahagia :’} belum baca ffnya sih… tapi review dulu gapapa kan? Love u eonni… semangat terus nulis ceritanya ya… fighting!

  6. loveKyu says:

    akhirnya update dan panjang jg..puas bgt bacanya.

    syukurlah siwon gagal memperkosa sungmin…klo seandainya berhasil..apa yg bakal terjadi sama sungmin???huuhh gak isa bayangin.
    sungmin HAMIL…horeeee…kyu harus makin ekstra hati2 jagain mate-nya yang luar biasa aktif dan pecicilan.
    aq beneran geli deh sama tingkah raja kangin..bnr2 kekanakan yah..suka bgt godain kyuhyun.
    bnran deh omongan kyu yg asal ttg kehamilan jd bumerang…sungmin jd takut jadinya.
    bakal ada masalah g ya sama kehamilannya??

    shengmin kembaran jaejong??trus apa rencana ratu junsu??jgn blg mau rebut paksa dari raja guixian??(bnr g nama ny??))

    ternyata yg ngincer tahta kerajaan raudorland byk ya??jgn sampe deh sungmin di jadiin korban…ato alat buat runtuhin kerajaan…dan bikin anak kyu-min laki2 yaahhh.

    dan pesan untuk author..jgn kelamaan update yaaa…ini bukan masalah dunia per-shipperan..tp masalahnya dgn ceritanya….coba aja bayangin klo km lagi asik baca novel…trus lagi seru2 nya cerita itu..tiba2 novelnya brenti ato ilang ato kebakar dan gag ada lagi d toko buku…dan seperti itulah rasanya🙂 jd trimakasih udah mau lanjutin..

    aq tunggu next chap…jangan lama2 yah

  7. hadnew says:

    suka banget sama interaksi kyumin dsini
    makin kesini makin sebel sama siwon

    keep writing dan di tunggu kelanjutan ff.nya yg lain
    .gomawo.

  8. Udahlah ini mah fix siwon cinta mati sama sungmin, sampe ngelakuin berbagai macam cara biar sungmin kepisah dari kyuhyun. Ko lucu ya liat reaksi sungmin pas tau dia hamil xD semua gegara kyu nih ming jd mikir aneh” tentang hamil hahahaha. Junsu ko jahat sih, shengmin kan udah punya guixian knp harus nyuruh siwon buat ngerebut shengmin. Pokoknya gaboleh ada yg ngerubut sungmin/shengmin

  9. wifeleeteuk says:

    huuaaa panjanggggg….sepanjang jalan kereta >< ..aiiisshhh kalo aku jdi kyuhyun pun pasti bakal stress xD punya istri kelakuan nya kaya bocah 5 tahun xD ga tau harus ngomong apa lagi T.T kelakuan sungmin bikin gereget,ada aja kelakuan nya,
    ya yahhh Nc nya ga jd xD walau ga jdi tapi yeaaayyy SUNGMIN akhir nya HAMILLL …..Wkwkwkwk

    uhhh kangen kyumin moment :') chap ini sangat cukup mengobati kerinduan ku …. gumawo author-ssi kamu membuat ku bahagia dengan long chap ini *kiss*

  10. gyagyagyaaaaa ini chapter kok isinya nanonano sih ㅠㅠㅠㅠ antara gemeeeessshh dan gregeeeeet aduuuh >< tapi ini ceritanya makin seru aja sih ㅠㅠㅠㅠ lanjut terus ya buat kalian para author!

  11. kenapa comment di ffn susah bgt yah?
    Ooohh berarti shengmin istrinya guixian yg mirip kyu itu saudaranya junsu sama jaejoong..
    wah wah makin penasaran nihhhh
    ampun ming lg seneng2nya latihan pedang sekarang malah hamil pst kyu makin protektif.. g sabar nunggu chap selanjutnya.. Fighting !! ^^

  12. gak bisa buka ffn😦 lagi pakai tri nih…..maap ya, aku review di sini

    ahhhh ini panjaaaaaaang…. aku sukaaaaaaa bgt. rasanya bangga bgt udah ngikutin suatu ff sejauh ini. hohoho. bagus dbgt sih kak isinyawaaaaa aku gregetnya nih, bne 2 greget….. ga tersuga bgt detail2 kecilnya aja tuh. deg2 trs jadinya. semangat next partnya yaaa hehehhe makasih kak

  13. vyan says:

    daebbak… panjang n menyenangkan utk chap ini hehehe..
    puas deh bacanya..

    sebenernya minnie kenapa ya? ko bisa batuk berdarah gitu?
    apa ramuan yg dikasih heechul itu racun?
    untung uminnya keburu diselametin ama kyu..
    kyu the hero… yeay..

    ga nyangka kl kyu keren banget n segitu sayangnya ama umin hihihi..

    ahirnya hal yang ditunggu-tunggu… minnie hamil hahahaha..
    tapi dia ko polosnya kebangetan ya.. mungkin harus lebih sering belajar hahaha

    ditunggu kelanjutannya… ^^v

  14. Moonhee says:

    cerita yang paling ditunggu2 akhirnya update juga,, dsini aku gemes bgt sama karakter siwon bukan gemes dlm artian suka tp malah kebalikannya -,- knapa dia begitu terobsesi sih sama ming udahlah bang won ikhlasin aja ming buat kyu😀
    akhirnya sungmin hamil lgi semoga tdk ada kejadian aneh2 lgi dan bayi kyumin bisa lahir selamat🙂
    ditunggu lanjutan critanya ya eonni🙂

  15. Astaga sekarang aku baru bisa nyempatin diri untuk baca CC hiks ;u; kangennnn

    ===========

    Nah ya kan Siwon *terbaring lemas pas baca bagian awal* Ikatan mate KyuMin memang terlalu kuat TuT uhhh mereka sweet sekali beneran TuT

    Dan Siwon… masih tetap ingin melakukan itu pada Sungmin D: ughhh

    Haha , Sungmin kecil dengan sifatnya yang innocent :’) semacam untunglah dia ga sadar pengalaman kurang enak diingat malam sebelumnya😡 dan syukurlah Min sudah kerasan dengan Radourland😄

    Dan.. astaga. aku bingung mesti ketawa atau gimana di bagian Kyu omong2 dengan Siwon sewaktu orang2 Radourland mau balik X’D usil banget si Kyu ah astaga😄

    Kyu beri hadiah Min :3 *berbunga2 yang di sini*

    Sweet sekali astagaaaa

    Trus trus,,, bagian Kyu jadi direwolf… itu favku, banget aaaaaa x3
    Diikuti dengan berita itu.. uwoooo

    Akhirnya diketahui hubungan Shengmin dan semuanya. Aku masih bingung tentang telinga Sungmin sih .-. Tetapi sekarang kenapa Junsu mau mengambil Shengmin dari Kuixian D: Kuharap Siwon ga melakukan apa2 yang membahayakan Sungmin TAT uh..

    Kakak2, terima kasih atas chapter ini :3 Kutunggu selanjutnya ya~~ (sama sbnrnya mau nanya ttg TC .___.)

  16. Aku suka bagian kyuhyun jadi direwolf!! Kayaknya teh yaa bulu serigalanya lembut terus tebel, teruss
    . Ahh udahlah bikin gemes da yah kayaknya >.<
    Sweatdrop banget ngebayangin sungmin yang hamil tapi gatau apa apa. Aduh bangetttt. Tapi jadinya seru beda dari yang lain hahahaha
    Aku penasaran sama rencana Junsu sama Siwon. Kalau mereka berdua udah ngebahas sesuatu pasti aja bakalan ada sesuatu. Dan sekarang Junsu nyuruh Siwon misahin 'Kyumin' yang satu lagi? Bener bener deh Siwon, bener bener *gelengeleng*
    Continuereadiiingg

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s