Kitty-Kitty Baby! – Chapter 17

67a8f27c74766227bfe557679014f265

Siwon membatu. Pria itu masih tidak percaya Jieun berhasil direbut darinya.

“Aku sudah menyewa dua orang pengacara.” Woohyuk menyela. Ia baru saja menutup flip ponselnya dan duduk di sisi Siwon. Dirangkulnya adik sepupunya itu sedikit hati-hati, “Ini bukan pertama kalinya kita berhadapan dengan mereka, sekalipun Hakim Han dibebastugaskan selama kasus ini berlangsung… Hakim Han pasti akan mengungkit kasus enam tahun lalu Siwon-ah, ini tidak akan menjadi kasus baru. Mereka akan mengorek kasus lamamu.”

Siwon menampik tangan Woohyuk dari bahunya. “Bicara yang jelas.”

“Apa tidak bisa kau menyerah—“

“Menyerahkan Jieun?” Siwon mendesis. “Tutup mulutmu. Aku sedang ingin membunuh seseorang sekarang,” dan ia pasti sudah melakukannya kalau saja seluruh bodyguardnya dan Woohyuk tidak datang menjemput dan menyeretnya dari tempat itu!

Siwon tidak percaya, setelah apa yang dialaminya dua jam lalu, semua yang bisa dikatakan Woohyuk adalah hal itu— Menyerah atas Jieun! Semudah itukah ia akan mengalah? Semudah itu untuk menyerah?

“Aku akan menghancurkan hakim itu. Seluruh hotelnya, rumah sakitnya, apapun yang ia punya. Lalu aku sendiri yang akan membunuh pelacur itu.” Siwon berdiri, menunjuk wajah sepupunya dengan geram. “Dan kau akan masuk ke dalam daftar itu kalau sekali lagi kau menyuruhku untuk mundur.”

Woohyuk beringsut mundur ia memalingkan wajahnya menjauh dari telunjuk Siwon. Memancing amarah Siwon adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya, tapi sekarang keadaan adiknya membuatnya rawan terkena amuk kapanpun.

Pintu apartemen Siwon terbuka, untuk sepersekian detik, sosok yang baru saja masuk hanya mendapat tatapan biasa, hingga Siwon yang berbalik melihatnya—

“Kau masih berhubungan dengan mereka!” Siwon meraung. Ia menarik kerah baju Minho, kepalan tangannya sudah terangkat tinggi.

“H-hyung aku bisa jelaskan—“

BUGH!

Woohyuk belum sempat melakukan apapun, ia hanya bisa menyaksikan saat sepupu termudanya terhempas ke sudut ruangan. Sekalipun mampu menduganya, ia bahkan tidak berniat menghentikan bogem Siwon, tidak berniat menjadi bantalan kemarahan adiknya dan memilih beringsut lebih jauh. Siwon tidak pernah memukul sepupu termuda mereka. Sekalipun Minho melakukan kesalahan fatal. Bahkan saat Siwon mengetahui adiknyalah yang membantu membebaskan Mutan lama miliknya, Siwon tidak melakukan apapun selain mendiamkan adiknya selama berminggu-minggu.

Tapi hari ini, pria itu membiarkan tangannya melayang lebih dari satu kali. Melukai Minho tepat di wajahnya, di dadanya, di perutnya. Setelah itu, Siwon beralih menghancurkan benda. Televisi plasma, guci, hingga lemari.

“SIAL!” Siwon berteriak, “SIAAAALLL! ARRRGGGHHH!”

.

oOoOoOo

.

Hangeng menghambur masuk ke dalam mansion besar miliknya. Di belakangnya, dua bodyguard mengekori. Sejam yang lalu, ia berada di tengah pertemuan penting dengan Jaksa-Jaksa Agung negara. Tapi dua menit setelah mendapatkan panggilan dari Heechul melalui ponselnya, Hangeng tidak butuh waktu lain untuk menunda dan langsung melesat pergi dari sana.

“Kau tidak apa-apa kan?” Hangeng menangkup wajah Heechul. Hal pertama yang dilakukannya sejak ia kembali; memastikan keadaan istrinya. Saat mendengar kabar bahwa Heechul baru saja bertemu dengan mantan majikannya, Hangeng dihantui bayangan mengerikan. Choi Siwon mampu melakukan apa saja, dan membunuh seekor mutan bukan hal yang sulit untuknya. Mendapati istrinya dalam keadaan utuh dan baik-baik saja membuat himpitan didadanya lenyap dalam sekejap.

Hangeng sudah memperkirakan, Heechul akan mengundang orang-orang terdekatnya. Yesung, Ryeowook, bahkan Youngwoon yang dua hari lalu baru pulang dari LA muncul di rumahnya. Namun Hangeng kebingungan, saat disadarinya kehadiran Dokter Jjong disana.

“Seseorang terluka?” tanyanya khawatir, hingga matanya terpaut pada sosok anak yang meringkuk di atas sofa ruang tamunya. Anak itu begitu mungil, tampak ringkih dengan wajahnya pucat dan sisa-sisa tangisnya terlihat jelas di bawah kedua mata sembab yang terpejam tenang, dua cuping merahnya mengatup.

Hangeng tergagap. “Ini—“

“Dia putriku, Yeobo. Choi Siwon tidak membunuhnya! Enam tahun Choi Siwon menyembunyikannya dariku! Kau harus membantuku merebut Jieun kembali!” Heechul meratap lagi setelah setengah jam lalu airmatanya surut seiring dengan tertidurnya Jieun.

“Hyung, kau akan membangunkannya lagi.” Ryeowook berbisik khawatir, ia duduk di sisi Jieun dan sibuk mengusapi kening berkeringat anak itu. Jieun menangis satu jam penuh, tidak seorangpun mampu membuatnya tenang hingga Dokter Jjong memutuskan untuk memberi obat penenang dosis kecil untuknya.

“Biar kugendong dia ke kamar.” Yesung menawarkan diri. Diangkatnya tubuh mungil Jieun dengan hati-hati. Berdua dengan Ryeowook yang mengekor di belakangnya, Yesung menggendong anak itu naik ke lantai atas.

Hangeng menatap semua orang yang tersisa di ruangan. Istrinya, adik sepupunya Youngwoon, dan Dokter Pribadinya Jjongki. “Ada apa ini?” tanyanya lirih, memohon penjelasan yang perlahan, otaknya terlalu penuh sekarang.

“Sudah kubilang— Choi Siwon menyembunyikan anakku! Jieun anakku!”

“Lalu kau membawa anak itu kemari? Tanpa berpikir dua kali?” Hangeng membalas, suaranya lirih namun Heechul menangkap nada enggan di sana. Mutan itu mengatup mulutnya, menahan napas dan menyingkirkan tangan Hangeng dari lengannya.

Heechul menatap suaminya sembari memasang raut kecewa, “Kau tidak mau membantuku?”

Hangeng menghela napas, ingin mengatakan ‘Ya, aku tidak mau berurusan lagi dengan Choi’ namun urung. Pria itu menarik tangan istrinya, ingin memangku Heechul dan memeluk mutan itu dekat dengannya. Tapi Jaksa itu justru terluka dalam diam, Heechul menolak tangannya.

“Jieun anakku—“ lirih Heechul lagi, tidak percaya pada respon suaminya.

“Ya, sayang. Aku mengerti. Kita akan lakukan apapun untuk merebutnya kembali. Tapi kau terlalu gegabah. Kumohon jangan lakukan ini lagi. Jantungku bisa berhenti tiba-tiba.”

“Hyung.” Youngwoon menyela, “Aku tidak ingin semakin merusak suasana, tapi kau perlu tahu ini.” pria bertubuh besar itu menyerahkan amplop cokelat yang sejak tadi dibawanya.

“Surat panggilan sidang.” Tambahnya lagi saat Hangeng menatapnya bingung. Jawaban Kangin sontak membuat Jaksa Muda itu mendelik, dan buru-buru membuka surat itu lalu membacanya tanpa jeda. Setelah selesai, Hangeng mengoper surat itu pada adiknya, membiarkan Youngwoon membaca sendiri isi suratnya.

“Ini baru dua jam setelah kalian membawa anak itu. Dan Choi sudah mengirim surat tuntutan ke rumah ini.” Dokter Jjong menggeleng tidak percaya. “Choi benar-benar mengerikan.”

Hangeng bersandar ke belakang sembari memijat kepalanya.

“Kau keberatan, Yeobo?” Heechul berbisik lirih. Mutan itu menggigit bibirnya, ingin meratap lagi melihat sikap suaminya. Hangeng bahkan tidak lagi berusaha untuk menyentuhnya, saat biasanya pria itu akan terus merengek untuk mendapatkan perhatiannya. Apa seenggan itu Hangeng membantunya merebut Jieun?

“Sebentar. Ada surat lain—“ ujar Kangin tiba-tiba. Hangeng mengangkat wajahnya, membiarkan Kangin membaca surat itu untuknya.

“Pemberhentian tugas sementara.”

Hangeng terhenyak, seluruh sendi ototnya melemas.

“Kau dianggap terlibat pada penculikan Jieun, atau setidaknya, memiliki ikatan dengan tertuntut. Dan lewat profesimu, kau dianggap berpotensi melakukan kecurangan di sidang itu.” Kangin tidak melepas pandangannya dari kertas itu, semakin dibacanya ke bawah, semakin pula keningnya berkerut. “Persidangannya akan dilaksanakan lusa. Mereka sudah memiliki dua orang pengacara. Dan kau bahkan tidak boleh menunjukkan hidung di persidangan itu, hyung.”

Dokter Jjong menelan ludah mendengarnya. Hangeng duduk bersandar, makin lemas.

“Oh Tuhanku—“ lirih Jaksa itu sembari menutup wajah. Membayangkan dirinya kehilangan profesinya, seluruh impiannya yang sudah hadir di depan mata. Sepuluh tahun ia meniti karirnya, dan hanya butuh enam bulan lagi untuk menjadi dewan Jaksa Agung— lalu tiba-tiba masalah ini datang menghancurkannya.

Satu kali, mereka menghadapi Choi enam tahun lalu. Ia tahu betul sebesar apa kekuatan orang-orang itu. Saat itu, ia tidak memiliki ikatan dengan Heechul. Posisinya membantunya memenangi perang mereka. Tapi kali ini? Dalam dua jam ia kehilangan pekerjaannya. Meski sementara, Hangeng tidak bisa membayangkan apa yang tengah direncanakan Choi untuk menghancurkannya.

“Kau tidak mau melakukannya? Membantuku merebut anakku?”

Hangeng meringis dalam hatinya saat mendengar suara lirih Heechul. Sesaat, ia merutuki dirinya sendiri yang berpikir begitu jahat. Enam tahun lalu ia membuat keputusan besar, untuk merebut mutan ini dari Choi Siwon. Untuk melindunginya. Kini saat dituntut untuk mengalami hal yang sama sekali lagi, seperti pengecut ia lebih mengkhawatirkan jabatan dan pekerjaannya.

Hangeng menatap Heechul lembut. “Aku akan lakukan apapun untukmu, Chullie.” Saat menatap wajah istrinya, Hangeng membuat keputusannya. Sekalipun aku harus hancur. “Tapi kau tidak bisa bersikap gegabah lagi. Kalau kau ingin memenangkan perang ini sekali lagi, kau harus menurut padaku.”

Hangeng tahu mulai detik itu, hidup mereka tidak akan setenang enam tahun terakhir. Bahkan sejak saat Kyuhyun menemukan Sungmin di dekat apartemennya, ia sudah tahu dalam waktu dekat mereka akan berhadapan dengan Choi lagi. Tapi tidak secepat ini, dengan semua masalah datang bertubi-tubi di satu waktu yang sama. Hangeng hanya mendapatkan ketenangan untuk beberapa menit saja, hingga Kyuhyun datang dengan masalah lain.

Kyuhyun menghambur masuk ke mansion. Wajahnya pucat dan berkeringat.

“HYUNG! Aku kehilangan Sungmin!”

“Bagaimana mungkin!” Heechul berseru, lalu suaranya berubah menuding. “Kau tidak menjaganya!”

“Dia hilang begitu saja, saat aku kembali Sungmin sudah menghilang entah kemana. Dan mobilku juga menghilang! Tidak mungkin mutan itu yang membawanya. Ini pasti ulang majikan lamanya! Ya, majikannya yang gila itu!” Kyuhyun meracau panik, napasnya tergesa. Pemuda itu tampak seakan datang ke tempat ini dengan berlari. Wajahnya yang putih pucat makin tampak pias, keringat dingin membasahi keningnya.

“Kau meninggalkannya?” Hangeng menatap adik iparnya tidak percaya.

“Tunggu, ada apa ini? Siapa yang ditinggalkan Kyuhyun?” Kangin menatap semua orang kebingungan. Tapi tak seorangpun menjawab pertanyaannya, bahkan dokter Jjong tidak berniat menjelaskan.

“Aku bertengkar dengannya. Dokter bilang dia akan melahirkan dalam beberapa minggu dan kupikir bayi itu bukan milikku—“ tangan Kyuhyun mengepal. “Kami bertemu tujuh bulan yang lalu, dan aku tidur dengannya tidak lebih dari empat bulan yang lalu! Kalau dia melahirkan bulan depan, sama artinya bayi itu bukan milikku! Y-ya kan? I-itu perkiraan awalku.” Kyuhyun mencicit, suaranya meragu. Sekarang ia bahkan tidak peduli kalaupun bayi itu bukan miliknya. Ia hanya menginginkan Sungmin kembali padanya!

“K-Kau menuduhnya mengandung bayi orang lain?” Heechul berbisik tidak percaya. Bibirnya bergetar, lengannya gemetar. Mutan itu mengepalkan tangannya, melihat Kyuhyun membuatnya makin tidak tahan menahan emosinya hingga tangannya melayang cepat dan—

SLAP!

Kyuhyun memegangi wajahnya dengan gemetar, pipinya berkedut pedih. Ini bukan Heechul yang biasa, yang selalu melemparkan pukulan untuk membuatnya kesal. Kali ini Heechul menamparnya dengan seluruh tenaga, dengan keinginan untuk melukainya. Tapi pemuda itu tidak melawan, tidak merespon. Ia menerimanya saat Heechul melemparkan tamparan-tamparan lain ke bahu dan dadanya.

“Mutan hanya mengandung selama enam bulan, anak sial!” Heechul meraung. Memberontak dan menendang saat Hangeng memeluk dan menahannya dari belakang. Kangin membantu dengan membimbing adik sepupunya untuk duduk. Bahu Kyuhyun gemetar di bawah lengannya.

“A-Aku tidak tahu.” Kyuhyun menggigit bibir, matanya terasa panas, dadanya sesak. Membayangkan kembali ucapan jahat yang keluar dari mulutnya. Sungmin pasti sangat terluka. Rasanya Kyuhyun ingin meraung dan menangis di saat bersamaan. Tapi pemuda itu menahannya kuat-kuat. “Tolong aku. Kumohon tolong aku.”

“Tidak sekarang, Kyuhyun-ah.” Hangeng menggeleng lemah. Jawabannya kontan membuat Kyuhyun terkesiap.

“A-apa maksudnya?”

“Kita tidak dapat melawan Choi sekaligus seperti ini. Hyungmu baru menemukan putrinya yang hilang, Choi Siwon yang menyembunyikannya selama ini. Dua hari lagi sidangnya akan dilaksanakan. Kita tidak bisa menghadapi Choi Siwon dan Choi Seunghyun sekaligus.” Jelas Hangeng hati-hati.

“Jadi kasusku harus ditunda?”

“Sampai kasus hyungmu selesai.”

“Dan saat itu aku akan menemukan mayat mutanku!” Kyuhyun berseru, menampik tangan Kangin yang berusaha merangkulnya.

“Kalau itu sampai terjadi, ingat semuanya adalah salahmu! Kau memang tidak pernah mau menjaganya kan, brat? Dari dulu pun kau ingin menyingkirkan Sungmin!”

Kyuhyun bernapas berat, pemuda itu menarik rambutnya. Frustasi menahan semua beban ini sekaligus. Tapi Heechul tidak mau berhenti, mutan itu memang tidak pernah senang melihatnya tenang.

Heechul menggeleng, melengus lalu berbicara dengan racun dalam suaranya. “Kujamin kau senang sekarang?”

“DIAM!” Kyuhyun berseru marah. Heechul terkesiap dan refleks mundur berlindung pada suaminya. Kyuhyun nyaris melayangkan tangannya namun tertahan di udara. Pemuda itu mengubah arah tangannya dan menghempas kasar memukul angin. “Kalian tidak mau membantuku!” Kyuhyun  menyimpulkan dengan begitu cepat. Semua akan jauh lebih mudah kalau saja orang-orang ini mengatakannya dengan lugas. Mereka menolak membantunya. Kyuhyun akan pergi sejak tadi dan berhenti menghabiskan waktunya disini.

Hangeng bangun, mencoba mengambil alih keadaan. “Kyuhyun-ah, bukan itu maksud hyungmu…”

“Aku bisa mencarinya sendiri.” Racau Kyuhyun seraya berbalik.

“Menginap disini malam ini, Kyuhyun! Kita bicarakan soal ini besok.”

‘Besok?’ Kyuhyun mengeram, menahan buncahan emosi di dadanya. Ia menatap semua orang dengan sorot bengis.

“K-Kyuhyun—“ Heechul menurunkan tangannya, mulai luluh. Mutan itu mencoba meraih lengan Kyuhyun, namun pemuda itu begitu cepat menampiknya dan mengumpat.

“Kubilang –Aku tidak butuh bantuanmu kucing sial! Urus saja putrimu, kau senang sudah menemukannya sekarang?” Dan kau tidak peduli kalau aku kehilangan anakku.

“Persetan.” Maki Kyuhyun seraya berbalik dan keluar dengan marah. Tidak seorangpun sempat menghentikannya, namun Kangin tetap berusaha dengan mengejar adiknya keluar pintu.

Hangeng jatuh terduduk. Pria itu meremas rambutnya, makin depresi. “Tidak seharusnya kau berkata begitu padanya, Chullie-ah.” Desahnya kecewa.

Heechul menggigit bibirnya, airmatanya membuncah. Melihat Hangeng menatapnya dengan cara seperti itu membuat dadanya semakin sesak. Tapi di sisi lain, mutan itu juga menyesal. Tidak seharusnya ia bertindak emosional, terlebih di saat seperti ini.

“Aku akan menelpon Minho!” ujarnya sembari mengeluarkan ponselnya dan mendial nama Minho. Sesaat, mutan itu terpekur mendengarkan nada sambung yang berdering. Ia melempar pandangannya kemanapun, kecuali kearah suaminya sendiri. “Nomornya tidak aktif!” Heechul mengerang putus asa. Mutan itu menggigit bibirnya, semakin tidak kuat menahan tangisnya. “Kau ingat? Dia punya saksi untuk kasus Sungmin!”

Hangeng mengerang, “Dan dia masih menyimpan saksi itu, Minho sendiri yang mengatakannya padamu. Anak itu tidak akan bergerak jika Seunghyun tidak bertingkah. Sekarang dengan semua hal terjadi di saat bersamaan, kau masih berharap anak itu mau membantu?”

Mulut Heechul terkatup, matanya merah dan basah. Mutan itu menunduk, dua cuping kucingnya merunduk. Hangeng menghela napas, jatuh iba melihat pemandangan itu.

“Kemari, yeobo.” Hangeng mengulurkan tangannya, sempat mengira Heechul akan menolaknya. Mutan itu terpekur sesaat, sebelum kakinya melangkah lembut dan ia duduk di atas pangkuan suaminya.

Hangeng segera merangkul pinggang Heechul dan menarik mutan itu erat ke dalam rengkuhannya. Pria itu menghela napas, menyesali banyak sikap emosionalnya hari ini.

“Kita tidak bisa mengharapkan Minho sekarang, tapi kita masih punya Kibum.” Ujarnya sembari mengambil alih ponsel dalam genggaman Heechul. “Kau tidak bisa memaksa Jieun terus berada disini, aku yakin besok atau beberapa hari lagi pihak kepolisian akan mengamankan Jieun sampai seseorang memenangkan persidangan ini. Dan kalau kau ingin memenangkan Jieun, jangan bertindak gegabah lagi. Kita hadapi semua ini bersama-sama, ok?”

Heechul memandangi suaminya, sedikit ragu meski mutan itu tetap mengangguk lemah.

.

oOoOoOo

.

Seunghyun membuka pintu rumah kecilnya dengan gegabah. Matanya basah, wajahnya merah, angin dingin yang berhembus dari luar membuatnya sedikit menggigil namun Seunghyun mengabaikannya. Ia menuntun Sungmin masuk, rangkulan tangannya yang melingkar di belakang punggung Sungmin mendorong dengan sedikit memaksa saat mutan itu terpaku di depan pintu. Ia sudah tidak sabar lagi menunjukkan rumah ini pada mutannya. Rumah baru mereka.

“U-ungg!” Sungmin mengerang, ia bahkan tidak berniat mengikuti langkah Seunghyun. Kalau bukan karena rangkulan tangan Seunghyun yang melingkar erat di bahunya, mutan itu masih akan berdiri di depan pintu, melirik  ke kanan dan ke kiri dengan tampang gugup, mencari kesempatan untuk lari, untuk pergi, kemanapun asal tidak disini.

“Ini rumah baru kita.” Seunghyun menggiring Sungmin memasuki ruang tamunya. Rumah baru yang dibelinya khusus untuk kehidupan baru mereka. Jauh lebih kecil dari mansion miliknya. Dengan tiga kamar, ruang tamu, dan ruang tengah yang mungil, hampir-hampir mengingatkan Sungmin pada rumahnya bersama Kyuhyun.

Sungmin terkesiap. Apapun yang terpampang di depan matanya kini membuatnya gemetar. Dinding-dinding yang dicat dengan warna lembut, perpaduan krem, biru, dan merah muda. Pintu-pintu itu, seluruh furniture dan TV plasma yang rekat di dinding… Hingga satu sofa mungil yang diletakkan tepat di tengah ruang keluarga, cukup untuk bergumul berdua—

Tidak. Sungmin merinding. Seunghyun memang membeli rumah tiruan yang sama persis dengan milik Kyuhyun.

“Sentuh ini Sungmin-ah.”

Sungmin ingin menangis, Seunghyun menarik paksa sebelah tangannya. Menggenggamnya erat dan memintanya untuk menyentuh meja baru itu. Dipoles dengan sempurna dari kayu jati, tampak lebih mahal dari milik Kyuhyun.

“Ini milikmu.” bisik Seunghyun tepat di belakang tengkuk Sungmin. Suaranya yang lembut nyaris-nyaris melemaskan kedua kaki Sungmin dalam ketakutan.

“Ini juga.” bisik Seunghyun lagi, saat ia menggiring tangan Sungmin menyentuh sebuah guci. Guci yang mengingatkan Sungmin pada amarah Seunghyun, saat mantan majikannya itu menghancurkan benda-benda di rumah lama mereka.

“Dan ini… ini… juga ini…” Seunghyun mengecup tengkuk Sungmin, dibimbingnya tangan Sungmin untuk menyentuh semua benda yang dekat dari mereka. Ia memeluk tubuh ringkih mutannya dari belakang. Gerakannya begitu hati-hati. Ia tidak ingin melukai kitten mereka. Kali ini, seorang anak akan lahir meramaikan rumah barunya. Istana kecilnya bersama Sungmin. Membayangkannya membuat dada Seunghyun bergemuruh riuh.

“A-aku punya kejutan untukmu!” Seunghyun tertawa girang, dirangkulnya Sungmin dengan bersemangat, tidak peduli jika mutan dalam pelukannya merintih ketakutan.

Seunghyun membawa mutannya ke kamar, kamar utama yang akan dihuninya bersama Sungmin. Kamar yang akan menjadi saksi bahwa ia sungguh-sungguh ingin memulai semuanya dari awal, bersama Sungmin dan anak-anak mereka.

“U-unggg!” Sungmin tercekat, tidak bisa lagi menahan tangisnya saat airmatanya meleleh panas mengaliri pipinya. Seunghyun menggiringnya masuk kemari untuk menyaksikan benda itu. Sebuah keranjang bayi sederhana yang dipahat lembut, warna cokelat kayunya mengilap di balik polesan plitur1. Melihat benda itu semakin menyadarkan Sungmin, betapa jauh ia dari majikannya sekarang. Kyuhyun tidak akan tahu dimana ia berada dan apa yang akan menimpanya. Bagaimana Kyuhyun akan menemukannya? Ia tidak tahu dimana rumah ini berada dan apakah Seunghyun akan membiarkannya keluar barang sebentar saja.

Tidak. Sungmin bahkan tidak yakin Kyuhyun akan berniat mencarinya. Kyuhyun tampak sungguh-sungguh saat mengatakan semua itu. Kyuhyun menyuruhnya pergi. Kyuhyun tidak menginginkannya lagi.

Atau sebenarnya… Kyuhyun yang menyerahkannya pada Seunghyun?

Semua ucapan Kyuhyun masih terngiang jelas dalam benaknya. Kyuhyun sendiri yang menyuruhnya kembali pada majikan lamanya. Kata-kata yang terucap dari bibir Kyuhyun menggema menyakitkan dalam benaknya. Sungmin menggigit bibirnya dan merintih. Tidak sanggup lagi menopang tubuhnya meski dengan bantuan rengkuhan tangan Seunghyun. Mutan itu jatuh terduduk dan meratap.

“Sssh, chagiya kenapa kau menangis?” Seunghyun ikut berlutut di sisi Sungmin, direngkuhnya mutan itu hati-hati. Diusapnya airmata Sungmin yang berlinangan.

Sungmin memejamkan matanya dan merintih dengan suara pelan, tampak begitu menderita dengan meremas dadanya sekuat tenaga. Namun setidaknya, Seunghyun melihat hal yang berbeda dari sudut pandangnya sendiri. Pria itu mendengus, dan terkekeh geli.

“K-kau terharu? Kau terharu, kan?” ujarnya tidak percaya. Seunghyun mendesah gemas, ia mengangkat dagu Sungmin dan menangkupnya dengan kedua tangan. Sungmin tidak membuka matanya untuk melihat sorot penuh cinta yang diberikan Seunghyun untuknya.

Seunghyun mengecupi sekujur wajah Sungmin penuh haru. Dari ujung keningnya, kedua matanya, pipi, hidung, dagu, lalu berakhir lama dan dalam di atas bibir mutan itu. Tubuh lemas Sungmin tidak lagi memberikan perlawanan, dan Seunghyun menganggapnya sebagai izin. Direngkuhnya dan dibaringkannya Sungmin dengan hati-hati di atas ranjang baru mereka.

Sungmin terbaring pasrah dengan mata terpejam saat Seunghyun menarik sweaternya perlahan, lalu kaus di bawah sweater itu yang menjadi pertahanan terakhirnya, meninggalkan dadanya terpampang tanpa pelindung di bawah mata awas Seunghyun.

Seunghyun gemetar saat ia mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap perut buncit Sungmin yang telanjang. Lembut dan mengembang. Buah hati mereka tumbuh dengan nyaman di dalam sana.

“Aku tidak sabar mendengar tangis anak kita, melihatnya berlari mengelilingi rumah ini.” Seunghyun berujar dengan bibir bergetar. Pria itu membungkuk, mengecup perut Sungmin dan berjanji dalam hati tidak akan melukai bayi mereka. Bayi ini akan menjadi makhluk kedua di dunia yang mendapatkan curahan kasih sayangnya.

“Aku menginginkan putri. Satu seperti milik Siwon-hyung. Tapi putra juga tidak masalah untukku. Atau keduanya? Itu akan menjadi bencana!” Seunghyun tertawa dengan airmata berderai. Di saat yang sama perasaan bahagia dan sesak membuncah di dadanya. “Dua monster kecil di rumah ini akan membuat para tetangga mengeluh! Monster kecil kita, Sungmin-ah. Kau setuju? Ah, atau tiga? Empat? Lima?”

Tolong aku. Sungmin meratap tanpa suara. Tolong aku, Kyuhyun. Sungmin meremas seprai di bawah tubuhnya, melawan diri untuk tidak memalingkan wajahnya.

Tolong aku, K-Kyu… “…Hyun—“ suara itu terucap tidak tertahan.

Seunghyun terpaku. Ditatapnya Sungmin dengan kaku. “K-kau mengatakan apa, Sungmin-ah? Katakan sekali lagi?”

Sungmin menggigit bibirnya, mati-matian menahan diri. Tidak. Seunghyun akan mengamuk sebentar lagi. Sungmin sudah bisa membayangkannya. Ia akan kehilangan kittennya. Kini untuk ketiga kalinya.

Tapi alih-alih merasakan tamparan atas bogem mentah, Sungmin mendapatkan kecupan-kecupan basah di sekujur wajahnya. Seunghyun terkekeh tidak percaya. Liur dan airmatanya membasahi wajah Sungmin, bercampur dengan airmata mutan itu sendiri.

“K-kau memanggilku!” Seunghyun memekik tidak percaya. Lalu ia menunduk lagi, membanjiri sekujur tubuh Sungmin dengan kecupan-kecupan lain. Di lehernya, di bahunya, di dadanya, dan tidak lupa di atas tempat bayi mereka bersarang. Setelah sekian lama kehilangan suara yang dirindukannya. Kini Seunghyun mendapatkan kesempatan untuk mendengarnya lagi, mulai malam ini.

Seunghyun semakin tidak sabar untuk membaur dirinya dengan Sungmin. Tanpa sadar ditariknya celana Sungmin dengan kasar. Tapi suara rintihan kesakitan Sungmin segera menyadarkannya.

“U-ups maaf, chagiya.” Seunghyun memandang mutannya dengan senyum penuh sesal. Mati-matian ia mengingatkan dirinya untuk bersikap lembut. Sungmin tengah mengandung anak mereka. Sekuat apapun hasratnya untuk melakukannya dengan cepat dan kasar, Seunghyun berhasil menguasai dirinya. “Maafkan appa, aegya—“ bisiknya sembari mengecup perut Sungmin sekali lagi.

Sungmin menggeliat. Tidak. Ia tidak akan bisa lari lagi.

“Junsu-hyung bilang kita bisa melakukannya, asal dengan lembut dan perlahan.” Seunghyun mengusap pipi Sungmin. Sebelah tangannya menyusuri belahan selangkangan mutannya. Kulit itu terasa begitu lembut di atas jari-jarinya. “Sssh… Aku tahu kau juga sudah tidak sabar,” Seunghyun mengusap airmata Sungmin. “Tapi kita tidak boleh gegabah, sayang. Aku tidak ingin melukai kitten kita…”

Sungmin memalingkan wajah saat Seunghyun memulainya. Hal itu, justru memberi celah dan persepsi berbeda pada Seunghyun.

“Kucing nakal.” Seunghyun terkekeh, menganggap Sungmin tengah memancingnya dengan menunjukkan ceruk lehernya yang menggoda. Tentu saja, Seunghyun menerimanya dengan senang hati. Dihisapnya daging putih dan lembut itu kuat-kuat, menyisakan jejak-jejak merah hanya dalam beberapa detik awal.

“H-hyunnn…” Sungmin merintih lagi, suaranya jelas memanggil nama itu.

Mendengar suara rintihan itu, Seunghyun tersenyum menang. Meski tengah bersama dengan Sungmin, Seunghyun belum tersadar bahwa ia kehilangan mutan itu. Sejak saat ia kehilangan Sungmin untuk pertama kalinya, mutan itu tidak lagi menginginkan bagian dalam hidupnya. Tapi mungkin pemuda itu tidak akan pernah menyadarinya. Dia punya dunianya sendiri dan mampu menghidupkan dunia itu seperti nyata. Setelah berbulan-bulan melakukan apapun untuk menemukan mutannya kembali, mencari kesempatan untuk membawanya pulang, dan sekarang Sungmin sudah berada disini… Seunghyun tidak memiliki waktu untuk mempedulikan seluruh tanda-tanda enggan dari tubuh mutannya. Sungmin sudah kembali dan mereka akan memulai semuanya dari awal. Kehidupan penuh kebahagiaan mereka akan terulang lagi.

.

oOoOoOo

.

“Kau ingat harus melakukan apa?” Hangeng merapikan jas kelabu yang dikenakan Heechul. Mutan itu berdiri gugup dihadapannya.

Heechul mengepalkan tangannya, mati-matian mengusir gemetar dan rasa menggigil yang menjalari sekujur tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menjawab mantap. “Tidak gegabah, tidak mengatakan apapun di luar kendali, dan biarkan pengacara mengatasi semuanya.”

Hangeng meremas bahu Heechul. “Bagus. Ingat, saat Jaksa bertanya, kau jawab sesuai dengan yang kuajarkan dan tidak lebih dari itu. Tidak lebih Heechul-ah. Jaksa hanya mendengar seperlunya, dan statement tanpa bukti hanya akan memberatkan posisi kita.”

Heechul mengangguk cepat-cepat, tangannya terasa dingin. Di dalam sana Choi Siwon sudah duduk menunggunya— menunggu untuk mengalahkannya dan merebut Kittennya lagi. Tapi Heechul tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia sudah bersumpah akan memenangkan Jieun apapun yang terjadi.

Dua hari lalu ia baru mengetahui keberadaan putrinya yang masih hidup, dan sepuluh jam setelahnya, Jieun direbut lagi dari tangannya. Heechul membayang murung, memikirkan kembali saat orang-orang itu datang ke rumahnya untuk membawa Jieun. Dengan mengatasnamakan hukum mereka merebut putrinya, dari ibu kandungnya! Kalau bukan karena rayuan Hangeng saat itu, Heechul sudah siap bertarung fisik untuk mempertahankan putrinya.

“Kau masih memikirkan Jieun?” Tebak Hangeng sepenuhnya benar. Heechul hanya melirik suaminya, wajahnya murung. “Kau tahu kan Jieun harus dirawat di bawah pengawasan mereka? Setidaknya sampai kita memenangkan sidang ini. Kita harus menang.” Hangeng menelan ludah, hatinya berdesir mendengar ucapannya sendiri. Ia bahkan tidak yakin mereka mampu memenangkan persidangan ini. Dengan minimnya bukti dan celah hukum untuk memenangkan Jieun, memenangkan kasus ini dari Choi hampir mustahil. Hangeng hanya mampu tersenyum kecil dan memasang topeng terbaiknya untuk menguatkan istrinya sendiri. “Sekarang masuklah. Aku ada disini sampai semuanya selesai.”

“Apa Jieun ada di dalam?”

“Jieun tidak ada disini. Putrimu diawasi lembaga ketiga. Kau akan menemuinya setelah sidang, kalau kita memenangkan sidang ini.”

“Ayo, hyung.” Kangin mengulurkan tangannya saat dilihatnya Heechul berdiam cukup lama di hadapan Hangeng. Seseorang harus merayu mutan itu masuk ke dalam ruang persidangan.

Heechul menatap pria bertubuh besar itu, lalu ia berpaling menatap suaminya, ingin sekali meratap meski Heechul mati-matian menahan dirinya. Ia meraih tangan Kangin, lalu melangkah mengikuti Kangin saat pria itu menuntunnya melewati pintu besar ruang sidang. Heechul menahan diri untuk tidak berpaling. Mutan itu menggigit bibirnya, ingin sekali meminta Hangeng menemaninya hingga ke dalam. Namun peraturan itu sudah jelas menyatakan, Hangeng tidak diizinkan berada di dalam ruangan selama persidangan berlangsung. Tapi setidaknya, Heechul memiliki seluruh teman-temannya untuk menemaninya melalui persidangan ini. Ryeowook, Yesung, Dokter Jjong, Kangin, Changmin, Kibum, dan seluruh penonton tambahan yang bisa dikumpulkan teman-temannya untuk memenuhi bangku pendukungnya.

Mereka sudah duduk di sebrang mimbar Hakim, memenuhi bangku-bangku terdepan di sisi kanan ruang sidang. Sedang bangku-bangku di sisi kiri diisi oleh penonton dari pihak Siwon. Heechul bisa menduga hampir semuanya hanya orang-orang yang bekerja pada Choi. Minho bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya disana. Dan hal itu justru membuat Heechul geram. Pemuda pengecut itu menyembunyikan putrinya selama ini dan dengan senyum manis berani muncul di kafe Yesung bahkan mendatangi rumahnya tahun demi tahun! Heechul bersumpah untuk mematahkan hidungnya kali depan ia bertemu dengan pemuda Choi itu.

“Hyung, kau duduk di sisi Mr. Shin.” Kangin hanya menggiring Heechul hingga di deretan bangku penuntut. Heechul menempati bangkunya, tepat di tengah dua pengacaranya. Ia tidak perlu melirik ke samping untuk mengetahui Choi Siwon duduk dengan angkuhnya. Tidak, Heechul tidak ingin melakukannya. Dalam hati mutan itu mengingkari arti gemetar tangannya saat ia membayangkan ekspresi wajah Choi Siwon saat ini.

Heechul berjengit saat Hakim memukul palunya tiga kali di atas mimbar sidang, pertanda semua ini sudah dimulai. Heechul meremas celananya dengan tangan yang tidak berhenti gemetar. Seketika, suasana ini mengerubunginya seperti kenangan buruknya di tahun-tahun yang lalu. Saat itu, ia bertarung untuk kebebasannya. Dan keadaan fisik serta mentalnya membuat jajaran Hakim Agung mengizinkannya duduk di antara penonton, diantara pendukung yang melindunginya. Saat itu, Hangeng dan Yesung yang mengatasi semuanya dan menjadi tamengnya.

Tapi sekarang, Heechul harus berdiri di tempat paling depan untuk memenangi pertarungannya sendiri. Heechul tidak ingin berdusta tapi seluruh rasa gugup itu seakan memakan panca inderanya. Samar suara orang-orang terdengar seperti bisik-bisik ditelinganya. Hakim membacakan ayat-ayat persidangan, membacakan detail kasus lalu mengizinkan pengacara Siwon sebagai pihak Penuntut bicara pertama kali.

“24 Oktober 2313, klien kami dari pihak Penuntut, Choi Siwon membawa putri beliau ke Departmen Store Yongsan-Gu. Saat itu, putri beliau, Choi Jieun digendong oleh pamannya Choi Minho hingga secara tiba-tiba Han Heechul, pihak tertuntut, datang, berteriak, dan merebut Nona Choi Jieun secara paksa menggunakan bantuan empat bodyguard.”

Heechul masih tenang saat tuntutan itu dibacakan pertama kali.

“—Klien kami berusaha mempertahankan putri beliau, tapi terpaksa melepaskan Nona Jieun karena tindakan brutal Han Heechul yang melukai Nona Jieun.”

Heechul meremas pahanya, hampir-hampir berdiri sontak untuk berseru. Namun dua pengacara yang duduk di kanan dan kirinya menahannya untuk melonjak.

Pengacara Kang yang disewa oleh Siwon berjalan maju, jubah pengacaranya berayun anggun saat ia berdiri di depan mimbar Hakim. Ia meletakkan seberkas dokumen di atas meja hakim dan membukanya. “Yang Mulia, ini adalah hasil visum yang menunjukkan memar di betis kiri, tangan kanan, bahu kanan, dan paha kanan Nona Jieun. Pihak lembaga juga menyatakan Nona Jieun mengalami trauma, terus-terusan menangis, dan menolak berbicara dengan siapapun.”

Heechul menahan napasnya. Kenapa ia baru tahu hal ini? Jieun mengalami trauma? Atau ini hanya akal-akalan mereka untuk memberatkan posisinya?

“Tercatat, pukul 19.38, Han Heechul membawa Nona Jieun keluar dan menyekapnya di kediaman beliau di Pyeongchang-Ddong selama semalam hingga Lembaga Perlindungan Anak datang untuk menjemput Nona Jieun. Berdasarkan duduk perkara dan bukti-bukti yang kami berikan, kami menuntut Han Heechul atas tuduhan penculikan dan kekerasan terhadap anak.”

Heechul menggigit bibir, hampir-hampir berlaku seperti pengacara itu sendiri. Ia ingin maju, berdiri di depan hakim dan membuat pembelaannya sendiri. Tapi tangan pengacara Chen menahannya sekali lagi, membisikkan sesuatu yang terdengar seperti rayuan untuknya tetap duduk diam di kursinya. Heechul bahkan tidak sadar sejak kapan pengacaranya sudah berdiri di depan mimbar Hakim, lima meter berhadap-hadapan dari pengacara lawan.

“Yang Mulia, enam tahun lalu. Klien kami, Han Heechul melalui persidangan atas kasus penganiayaan dan teror yang dilakukan oleh pihak penuntut Choi Siwon, kepadanya. Choi Siwon kalah dan terbukti melakukan empat jenis tindak kriminal; Penganiayaan, Teror, Kekerasan Seksual, dan Percobaan Pembunuhan, dihukum dengan denda 150 juta Won dan lima belas tahun penjara meski seperti yang kita lihat sekarang— Tuan Choi duduk bebas di bangku penuntutnya.”

Kalimat itu seketika membuat bisik-bisik berubah ricuh di dalam ruangan. Pengacara Kang tersenyum tenang, pihak Penuntut tidak merespon sedangkan pihak Heechul menggerutu setuju. Heechul sendiri tersenyum, merasa menang untuk sesaat namun perasaan di dadanya masih berkabut.

“Di bulan yang sama setelah kemenangan Han Heechul atas persidangan itu, beliau tengah mengandung 5 bulan dan mengalami penculikan yang membuat beliau kehilangan rahim dan bayi yang dikandungnya. Sampai sekarang, tersangka tidak ditemukan. Tapi enam tahun kemudian, tepatnya tanggal 24 Oktober 2313, Han Heechul menemukan kembali putrinya yang ternyata disembunyikan oleh pihak penuntut, Tuan Choi Siwon.” Pengacara Shin berbicara dengan hati-hati. Tidak ingin ucapannya menjurus sedikitpun untuk menuduh pihak lawan atas penculikan kliennya 6 tahun lalu. Mereka tidak memiliki cukup bukti dan hal itu hanya akan menjadi bumerang jika dibahas terlalu jauh. Pengacara Shin ikut berjalan, mengganti posisi yang diambil oleh Pengacara lawan untuk meletakkan dokumen bukti milik pihaknya di atas meja hakim. Sebelum mundur, melipat tangannya, dan berbicara tegas. “—Karena itu kami menggugat Choi Siwon atas penculikan saudari Jieun dari ibu kandungnya –Han Heechul, selama enam tahun hingga pada hari ini dan menuntut pengembalian hak asuh saudari Jieun kepada ibu kandungnya –Han Heechul dengan utuh dan sepenuhnya. Berdasarkan pasal 1 ayat 1 Hukum Asuh Anak, menyatakan bahwa anak yang belum berusia 12 tahun adalah hak ibu kandungnya—“

Suara serius Pengacara Shin disela oleh tawa Pengacara Kang. Suasana kaku ruangan tiba-tiba diisi tawa-tawa geli dari sisi bangku kiri. Heechul bahkan merasa mendengar suara tawa Siwon. Tapi mati-matian ia menahan lehernya untuk tidak menengok.

“Kau menggunakan pasal hak asuh anak manusia?” Pengacara Kang menggeleng dan menatap Pengacara Shin tidak percaya. Ia mengayun tangannya dengan anggun dan menatap Hakim seakan meminta izin untuk bicara. Hakim mempersilahkannya.

“Berdasarkan pasal 19 ayat 2 tentang pembiakan Mutan, menyatakan bahwa anak mutan— sejak lahir hingga seumur hidupnya adalah hak pemiliknya yang manusia untuk merawat, menjaga, dan membiayai hidupnya.”

Pengacara Shin menghela napas dan menjawab cepat. “Han Heechul adalah mutan yang bebas saat mengandung bayinya, dan anak itu adalah mutan yang bebas berdasarkan kebebasan ibu kandungnya. Hak mereka sederajat dengan hak manusia dan hak anak manusia.”

“Maaf tapi kita sekarang sedang berbicara tentang mutan –bebas atau tidak, anak itu adalah mutan dan dia adalah hak pemiliknya, yang dalam hal ini adalah ayah kandungnya dan menekankan hak kepemilikan Tuan Choi Siwon atas Nona Jieun. Pasal yang kusebutkan sebelumnya –19 ayat 2, tidak menyebutkan secara spesifik mengenai mutan yang bebas atau tidak. Seluruh perkara ‘Mutan Yang Bebas’ masih hal baru di negara ini, dan kita tidak bisa membiarkan begitu saja seekor mutan menguasai seorang anak saat anak itu memiliki pengasuh manusia yang sehat secara mental dan finansial.” Pengacara Kang menekan setiap kata dalam argumennya tanpa memalingkan wajahnya dari hakim, seakan berusaha meyakinkan bahwa apapun yang terjadi, orangtua manusia tetap pilihan terbaik bagi seorang anak.

“Heechul-sshi—“

Heechul ikut membuka mulut saat Pengacara Shin mengucapkan namanya, Tapi Pengacara Kang tidak membiarkan lawannya menyela. Dengan cepat ia melanjutkan ucapannya, kini bergantian menghadap seluruh penonton. “Siapa namanya sekarang? Han? Enam tahun lalu saat ia menjadi mutan yang bebas, marganya masih Kim. Dan kurang dari tiga bulan marganya berubah menjadi Han, hakim yang menangani persidangannya menjadi suaminya.” Pengacara Kang mendengus, separuh mengejek. Klien dan penonton dari pihaknya ikut tertawa mendengar ucapannya. “Bagaimana kita bisa percaya mutan seperti ini. Ah maafkan aku, ini sedikit kurang logis jika dijadikan alasan untuk menunjukkan betapa tidak mampunya saudara Han Heechul mengasuh nona Jieun. Tapi, mengutip kata-kata klien saya.” Pengacara Kang menatap Siwon, yang balik menatapnya dengan ekspresi tegas.

“Tuan Choi Siwon mengatakan, tidak pernah mempercayai mutan ini bisa mengurus putri beliau. Tapi mengingat sifat posesifnya, tuan Choi Siwon yakin Han Heechul akan melakukan apapun untuk merebut Jieun darinya. Karena itu tuan Choi Siwon memutuskan untuk menyembunyikan Jieun dari saudara Han Heechul.”

“Interupsi Yang Mulia!” Pengacara Shin menaikkan nada suaranya saat argumen lawannya semakin menjalar di luar kendali. “Hakim sudah menjanjikan kebebasan bagi Heechul-sshi dan bayi yang dikandungnya enam tahun silam. Tidak ada alasan untuk merebut bayi itu dari hak ibu kandungnya yang sah, mutan atau tidak, tercantum di dalam aturan atau tidak, seorang anak membutuhkan ibunya dalam setiap tumbuh kembangnya secara fisik maupun mental.”

“Hakim enam tahun lalu? Hakim yang mana?” Pengacara Kang menatap Pengacara Shin dengan sedikit bingung, pria itu menahan diri untuk tidak menyeringai. Ia sudah bisa menduga akhir persidangan ini. Tidak memakan waktu satu jam dan sebentar lagi ia akan memenangkan kliennya. Perkara yang mudah dengan seluruh alasan, keadaan, dan statement hukum yang mendukung Choi Siwon.

“Ah, aku tahu hakim yang mana.” Pengacara Kang menghadap deretan bangku pendukung kliennya. “Hakim Han? Yang sekarang menjadi suami Heechul-sshi?”

Heechul mengepalkan tangannya, satu pengacaranya membisiki sesuatu untuk menenangkannya. Tapi Heechul tidak mendengar apapun selain tawa mengejek dari bangku lawan. Bibirnya berkedut saat mati-matian Heechul menahan diri untuk tidak menjerit.

“Hakim Han enam tahun lalu tidak memiliki ikatan pribadi macam apapun dengan Heechul-sshi. Dan kini menaati hukum, Hakim Han turun dari jabatannya selama kasus ini berlangsung. Itu sudah menjadi cukup alasan untuk tidak menggunakan profesi Hakim Han untuk menjatuhkan klien saya.”

Pengacara Shin berjalan maju, menyusun argumen dengan cepat di dalam benaknya saat Pengacara lawan sama cepatnya melangkah mendekati Hakim. Pengacara Kang membungkukkan tubuhnya sembari menjulurkan sesuatu, seakan meminta izin untuk dibiarkan mendekat. Dan Hakim mengizinkannya, benda di tangannya cukup membuat Pengacara Shin tercekat, seketika kehilangan seluruh rangkaian kata yang sudah disusunnya susah payah.

“Saya akan menunjukkan sebuah video footage sebuah mall, dimana saudara mutan kita merebut paksa nona Jieun dari gendongan ayahnya. Pertengkaran ini diakhiri dengan klien saya yang memutuskan untuk mengalah agar putrinya tidak terluka lebih jauh, tapi ternyata hasil paksaan saudara Han Heechul meninggalkan memar di kaki dan tangan nona Jieun.”

Heechul mengingatnya. Pertengkaran di mall itu masih terbayang jelas dalam benaknya. Mendengar seseorang mengungkitnya seakan semua itu kesalahannya membuat Heechul tidak bisa menahan diri lagi. Kini indra pendengarannya seakan terfokus hanya untuk Pengacara lawan. Tubuhnya gemetar, kakinya lemas tapi begitu refleks mutan itu mengangkat tubuh dan berdiri dari kursinya. Sekuat apapun pengacaranya menahannya untuk duduk, Heechul memaksa untuk menujukkan dirinya lebih jelas di hadapan Hakim.

“Melihat tindakannya, kami tidak yakin saudara Han Heechul mampu mengayomi nona Jieun secara psikis dan jasmani.”

Gigi Heechul gemertak beradu, tidak tahan mendengar semua ucapan itu. Enam tahun ia kehilangan anaknya dan saat ia bermaksud merebut darah daging yang merupakan haknya, semua manusia seakan bermaksud menghalanginya.

“Choi Siwon merebut anakku enam tahun lalu!” Heechul mengeram. Suaranya yang menyela tiba-tiba jelas membuat ruangan itu berubah hening. Sesaat, Heechul tahu tindakannya akan membawa masalah. Tapi ia terlanjur membuka mulutnya, semua yang menggenangi benaknya mengalir melalui mulutnya tanpa tertahan. “Enam tahun lalu Choi Siwon merobek perutku dan merebut anakku yang bahkan belum tumbuh sempurna.”

Pengacara Shin menahan napas dan memejamkan mata, tidak bisa menghalangi Heechul meski ingin. Heechul berdiri dengan tatapan nanar, menghadap Hakim meski tidak ada yang tahu kemana mata itu terarah. Tidak ada bisikan siapapun yang bisa menghalanginya. Pengacara Chen yang sejak tadi duduk disisinya, berdiri dan merayunya untuk duduk. Tapi Heechul berdiri kaku, mengabaikan siapapun dan mengucapkan apapun yang terngiang di kepalanya.

“Dia merusak rahimku dan mengatakan telah membunuh putriku saat itu. Lalu ternyata enam tahun setelahnya, dia menyembunyikan putriku dariku dan berpura-pura menyayanginya untuk mengejek hidupku? Aku hanya ingin anakku kembali.” Suara Heechul mengecil. Selesai melampiaskan semuanya, Heechul mengalah pada seluruh ototnya yang lemas. Membiarkan Kangin dan satu pengacaranya merangkulnya dan membimbingnya duduk. Heechul tidak bisa memfokuskan indranya lagi saat ruangan itu berubah ricuh. Penonton saling berseru satu sama lain dan Hakim terpaksa memukul palunya berulang-ulang untuk mendapatkan perhatian semua orang.

Pengacara Kang baru selesai berdiskusi cepat dengan kliennya dan kembali memasang senyum tenangnya di hadapan hakim.

“Untuk tragedi yang menimpa Heechul-sshi, kami turut bersimpati. Tapi klien saya tidak tahu menahu mengenai tragedi itu.” Pengacara Kang membungkuk simpatik ke arah Heechul, sikapnya itu justru membuat sang mutan kembali emosi. Berdiri dan menunjuk sembari berteriak menuding.

“KALAU BEGITU JELASKAN KENAPA ANAKKU ADA PADANYA SEKARANG!” Heechul meraung, membutuhkan lebih banyak tangan untuk membawanya duduk lagi.

“Bagaimana bisa?” Pengacara Kang tersenyum. “Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, seorang anak mutan adalah hak pemiliknya dan semakin diberatkan lagi dengan posisi Tuan Choi Siwon sebagai pemilik sekaligus ayah kandungnya DAN—“ tekannya tanpa melepas senyum. “Mengingat tuan Choi berasal dari ras manusia, membuat saya yakin sepenuhnya Nona Jieun pantas diasuh oleh tuan Choi Siwon. Lalu terlampir di lembar terbawah dokumen yang baru saja saya berikan, Yang Mulia…” isyarat tubuh Pengacara Kang sontak membuat Hakim dan Jaksa sama-sama mengecek ulang dokumen yang diberikan pihak Siwon.

“…adalah Akta Lahir resmi yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit milik Tuan Hangeng. Mencantumkan tanggal, waktu, dan foto kelahiran secara normal Nona Jieun. Klien kami hanya mengambil putri yang menjadi haknya dan tentu tidak bisa dituduh secara semena-mena atas kejadian apapun yang kemudian menimpa Han Heechul. Yang saya maksud adalah kejadian, biar kukutip—“ Pengacara Kang memutus kalimatnya, ia membenahi kacamatanya lalu menatap ke dalam portable notes ditangannya sebelum melanjutkan,  “Merobek rahim dan merebut Nona Jieun yang belum tumbuh sempurna, merusak rahim Han Heechul, dan membunuh nona Jieun—“ Pengacara Kang menghela napas lelah, ia memasang wajah simpatik saat menatap Hakim dan dua Jaksa di hadapannya. “Klien saya mengaku tidak melakukannya, tidak terlibat, dan tidak tahu menahu mengenai pernyataan tersebut. Tapi kalau kemudian saudara Han Heechul bersikeras, beliau harus memberikan bukti yang akurat. Dan kalau klien saya terbukti bersalah, beliau bersedia menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Tapi kalau ternyata klien saya tidak bersalah, maka Han Heechul akan menerima pasal ganda. Penculikan anak berdasarkan pasal 42 ayat 1, dan pencemaran nama baik berdasarkan pasal 25 ayat 3.”

Heechul tercekat, dadanya panas oleh sesak dan emosi yang membuncah. Tiba-tiba merasa seluruh dunia seakan bersikap tidak adil padanya. Ia melompat berdiri, nyaris memaksa melewati meja di hadapannya dan berlari ke hadapan hakim meski berakhir membeku gemetar dengan dua orang berusaha membuatnya duduk kembali. Mutan itu berteriak kesetanan, tidak sabar dan memaksa semua orang mempercayai ucapannya. “DIA MELAKUKANNYA! BAJINGAN ITU MERUSAK TUBUHKU DAN MEREBUT BAYIKU! DIA YANG MELAKUKANNYA!”

Siwon di sebrang tertawa, seakan dihadapkan pada situasi lama yang kini berputar memihak dirinya.

“Tuan Han Heechul, apakah Anda dapat memberikan bukti atas tuduhan tersebut? Apakah Anda memiliki bukti bahwa Tuan Choi Siwon, melakukan tindak penculikan, penganiayaan, dan praktek operasi ilegal seperti yang Anda tuduhkan?” Hakim membenahi posisi kacamatanya. Wajah rentanya begitu serius menatap sosok Heechul yang gemetaran.

Karena Heechul tidak menjawab. Hakim beralih, duduk bersandar ke kursinya yang berpunggung tinggi saat ia berbicara dengan suara pelan pada dua jaksa yang duduk di kanan dan kirinya. Suara mereka begitu rendah, tidak ada satupun orang lain mampu mendengar saat ketiganya berdiskusi. Tiga menit dilalui dengan ketegangan yang hening.

Dua pengacara Heechul memasang wajah muram karena tahu hasil persidangan ini tanpa harus mendengarnya. Siwon tahu dirinya menang saat Hakim memukul palunya, tiga kali menghakhiri sidang bodoh ini.

“Hak asuh jatuh pada Choi Siwon. Jika terbukti bahwa Han Heechul memiliki ikatan darah dengan Choi Jieun, maka Han Heechul berhak memberikan kunjungan sebanyak satu kali dalam tiga bulan di bawah pengawasan Choi Siwon. Dan jika Han Heechul tidak terbukti memiliki ikatan darah dengan Choi Jieun, Han Heechul akan dikenakan hukum berdasarkan pasal 1 penculikan dan kekerasan terhadap anak.”

.

oOoOoOo

.

Suara beep-beep memenuhi ruangan, ditambah ketik lincah jemari yang bergerak di atas keyboard di bawah pencahayaan minim. Suara erangan kesal di ujung ruangan terdengar lagi, satu kali setiap sepuluh menit untuk mengeluhkan hal yang sama sejak sebelumnya. Ruangan ini terlalu redup untuk bekerja!

“Kyuhyun-ah, nyalakan satu lampunya please?”

Pemuda yang duduk di atas sofa hanya mendengus, tidak benar-benar menjawab tapi suara lenguhannya sudah cukup menunjukkan penolakan. Kyuhyun duduk menyamankan diri, makin sibuk mengetik angka-angka di layar digitalnya. Ruang tengah rumah mungilnya disulap menjadi labolatorium sederhana. Di hadapan Kyuhyun, berbagai perangkat rumit memenuhi meja ruang tengahnya. TV Plasmanya yang besar menunjukkan map digital seluruh lokasi di Seoul. Dengan titik-titik merah dan biru yang berkedip dan bergerak secara acak.

“Kyuhyun, kau mendengarku tidak?” suara itu menyela lagi, lebih lemas dari sebelumnya. Suara ketikannya jauh lebih pelan dari milik Kyuhyun. Meski mampu melalukan ‘fast typing’ tanpa melihat kearah abjad di atas keyboardnya, typo tetap tidak terelakkan saat ia tidak mendapatkan cahaya bantuan. Ruangan gelap ini membuat produktivitasnya begitu minim. Belum lagi pencahayaan laptopnya yang terasa menyakitkan mata.

Tapi sialnya, Kyuhyun hanya menjawab datar. “Aku tidak bisa konsentrasi kalau terlalu terang.”

“Dan aku tidak bisa konsentrasi kalau terlalu gelap!” Kibum membalas dengan kesal.

“Cahaya laptopmu sudah cukup terang, kan?” Kyuhyun terus mengetik. Matanya bergantian bekerja, menatap ke layar laptop dan ke layar TV plasmanya. Mencari titik kuning yang tidak kunjung menunjukkan diri.

“Kau ini mau dibantu atau tidak, sih! Nyalakan lampunya Kyuhyun-ah!”

“Aku sudah bilang bisa mencarinya sendiri. Aku tidak butuh bantuanmu, hyung.”

Kibum mengerang, ia bangun dari tempat duduknya. Masih merasa kesal tapi ia tahu betul untuk tidak melanjutkan pertengkaran bodoh ini. “Aku yang butuh membantumu, Kyuhyun. Atau Heechul-hyung akan membunuhku.” ujarnya lemas sembari melangkah mendekati Kyuhyun.

“Kalau begitu selamat tinggal, hyung. Semoga Tuhan menerimamu di sisiNya.” suara datar itu sama sekali tidak terdengar mengejek, tapi Kibum kesal setengah mati sampai tangannya melayang tanpa tertahan dan menempeleng Kyuhyun tepat di kepalanya.

BUGH!

Bukan melindungi kepala, Kyuhyun sontak memeluk laptopnya. Pemuda itu meringis, lalu berbalik geram. Makin geram lagi saat menyadari layar laptopnya berubah tampilan. “ARGH! Kau mengacaukan angkaku!”

“Seharian kau mencari lokasinya dan hanya menghabiskan waktu! Coba cara lain!”

Kyuhyun mendengus, tidak terima disebut gagal secara tidak langsung. Lebih-lebih oleh Kibum.

“Beberapa jam yang lalu aku menemukannya. Di rumah sakit yang sama saat aku meninggalkannya.” Ujarnya dengan tampang ngotot, merasa menang karena sesaat ia usahanya membuahkan hasil. Tapi saat Kyuhyun berbalik menatap layar laptopnya, ekspresinya mengendur. Pemuda itu berbisik pelan, cukup terdengar oleh Kibum. “Untuk apa dia kembali?”

Apa dia mencariku? Apa mungkin majikannya belum menemukan Sungmin?

“Apa mungkin dia mencarimu? Mungkin majikannya belum menemukannya?” tanya Kibum seirama dengan suara hati Kyuhyun.

Kyuhyun berubah lemas, ia membagi konsentrasinya untuk berbicara dengan Kibum sekaligus kembali menemukan lokasi Sungmin yang sempat menunjukkan diri.

“Apa titik itu berpindah?”

“Menyala sebentar. Di tempat yang sama. Lalu mati. Rusak. Harusnya dulu kucek lagi alat itu.”

“Apa kau membuatnya anti air? Auto-activate?”

“Tentu saja otomatis dan anti air! Tersambung dengan semua alarm di dalam rumahku dan di ponselku. Jika benda itu mati atau ‘dipaksa’ untuk mati, aku pasti tahu.” –tapi ini… benda itu tiba-tiba menghilang dari pengawasannya. Tanpa suara seperti bintang yang berkedip kehabisan cahaya.

“Apa mungkin seseorang melepasnya?”

“Aku memasangnya dengan kuat. Hampir seperti implan. Tapi dengan bantuan medis dan teknisi, mungkin saja benda itu dilepas dari Sungmin. Atau setidaknya, siapapun bisa melepaskannya secara paksa dengan melukai ekornya.” Atau memotongnya. Membayangkannya saja membuat tangan Kyuhyun gemetar dan dingin. Ia meremas pinggiran Laptopnya yang beruap panas. Tiba-tiba sekelebat niat jahat melintas di otaknya. Kalau sampai seorangpun melukai mutannya, Kyuhyun bersumpah akan menghancurkan hidup mereka. “Sekarang yang tersisa hanya dua kemungkinan. Sungmin jatuh ke tangan bajingan lain atau Choi sialan itu cukup cerdik untuk menyembunyikan Sungmin dariku.”

“Coba cara lain, Kyu. Kau bisa meretas, kan?”

“Sudah kucoba. Tapi Sungmin tidak ada di mansion Choi. Choi Siwon, Choi Seunghyun, atau Choi Minho.”

Kibum mendelik. “Bagaimana kau tahu?” Lalu ucapan pendek Kyuhyun seakan membuka seluruh kesadaran Kibum. “Kau meretas keamanan mansion mereka???” pekiknya tidak percaya.

“Akses seluruh CCTV mereka.” Kyuhyun mengoreksi. Meretas sistem keamanan terdengar sedikit berlebihan. Ia hanya mampu mengintip apa yang dilakukan dan apa yang terjadi di mansion-mansion milik ketiga Choi itu. Sedikit merekam mungkin bisa. Tapi meretas keamanan? Sama artinya dengan menguasai sistem kehidupan di mansion Choi. Mengatur sirkulasi elektrik, menyadap perbincangan di telpon, kegiatan networking, hingga pengaturan keamanan pintu dan gate, dan intinya— Kyuhyun belum mendapatkan hasil sehebat itu.

Meski tetap saja, Kibum masih tidak percaya Kyuhyun berhasil melakukannya dan tidak mengatakan apapun! Setelah dua hari ia tinggal disini dengan niat mulia membantu adik sepupunya!

“Kenapa kau tidak bilang, bocah sial!” Kibum menempeleng Kyuhyun sekali lagi. Membuat pemuda itu mengerang dan mengulurkan tangan untuk membalas.

“Bilang untuk apa! Sungmin tidak ada disana!”

“Tapi kau bisa membantu Heechul-hyung mendapatkan sesuatu untuk memenangkan sidangnya! Apapun! Kau meretas akses CCTV mereka demi Tuhan, Kyuhyun!”

Kyuhyun menggerutu sembari mengusap belakang kepalanya. Merasa semakin kesal mendengar nama kakak iparnya disebut-sebut. Kyuhyun berbisik jahat dalam hatinya. Heechul tidak berniat untuk membantunya, mana mungkin ia terpikir untuk membantu mutan itu? Tapi di sisi lain, suara hati kecilnya merutuki bisikan jahatnya barusan.

“Tunjukkan padaku!” Kibum memaksa merebut laptop Kyuhyun.

“Aku tidak mau membantu mutan itu!” tolak Kyuhyun sengit.

“Kyuhyun-ah!” Kibum mendelik jengah. “Kalau Heechul-hyung memenangkan putrinya, kau akan memenangkan mutanmu! Berhenti bersikap sosiopat, Cho Kyuhyun. Kau membutuhkan manusia lain untuk bertahan hidup. Dan biarkan aku mengingatkanmu— ini bukan hanya soal hidupmu. Tapi juga soal hidup Sungmin dan bayi kalian.”

Kyuhyun mengerang. Giginya gemertak tertahan. Tapi dalam hati, Kyuhyun tanpa sengaja membenarkan ucapan Kibum.

“Sekarang berikan laptopmu padaku!”

“Kau akan merusaknya! Biar aku yang tunjukkan!” Kyuhyun mendengus kesal, namun alih-alih pemuda itu memangku laptopnya sedikit ke sisi, seakan mengundang Kibum untuk duduk di sampingnya dan membiarkan kakaknya ikut melihat isi layar laptopnya.

Kyuhyun meminimize peta lacak yang sejak tadi diintainya dan beralih memilah beberapa menu. Ia memperbesar aplikasi yang memang disimpannya di sisi toolbar, dan membesarkannya hingga Kibum melihat jelas. Layar laptop Kyuhyun mengedip berubah. Kini layar 17 inci itu terbagi menjadi kubik-kubik kecil video yang bergerak buram, persis seperti layar pengintai CCTV.

“Oh, God… Kau benar-benar meretas kamera Mansion Choi.” Kibum bertepuk tangan kagum.

Sesaat, mata Kyuhyun dan Kibum bergerak awas, sama-sama mencari sesuatu yang menarik saat jari Kibum tiba-tiba menunjuk kubik di tengah layar. “Wait, coba perbesar yang itu?”

Kyuhyun mengklik video yang ditunjuk Kibum. Layar berganti menjadi video tunggal yang menunjukkan suasana ruang makan mansion Choi. Ruangan itu ramai, dengan dua baris orang yang dideretkan berdasarkan gender. Di sisi kanan wanita dan di sisi kiri pria. Melihat pakaiannya, Kyuhyun dan Kibum sama-sama tahu orang-orang itu bekerja sebagai pelayan.

“Yang ini Choi?” Kyuhyun menunjuk seseorang berjas hitam di hadapan dua barisan, berdiri pongah dan berkacak pinggang.

“Ya. Kalau tidak salah ingat… Choi Siwon.” Kibum mengusap dagu, menjawab sesuai prediksinya setelah melihat postur dan gelagat orang itu. Biar bagaimanapun, terakhir kali ia melihat sosok Choi Siwon adalah enam tahun yang lalu. Dan semua orang memintanya untuk tidak menghadiri sidang yang berlangsung kemarin.

“Dia terlihat kurang ajar.” Kyuhyun ikut-ikutan mengusap dagu. Sementara Kibum mengangguk setuju.

“Semua Choi begitu.”

Kyuhyun dan Kibum mengerutkan kening, wajah mereka berubah serius karena konsentrasi. Video di hadapan mereka tidak mendengarkan suara sama sekali. Namun beberapa detik kemudian, sesuatu terjadi—

Tanpa mendengar apapun, keduanya seakan bisa membayangkan apa yang terjadi begitu nyata di hadapan mereka.

Kibum dan Kyuhyun terkesiap, mendelik, lalu saling berpandangan.

“Oh. My. God!” Kyuhyun memekik. Disusul Kibum yang meraih kepalanya dan mencium kening Kyuhyun gemas.

“Heechul-hyung akan menang, Kyuhyun! Semua karena jasamu!”

“Dan satu Choi akan masuk penjara! Semua karena jasaku!”

Senyum di wajah Kibum menghilang, wajahnya berubah kaku. “Kurasa tidak seekstrim itu, Kyu.” Pemuda itu kembali duduk menatap layar laptop Kyuhyun.

“Oh, begitu?” Kyuhyun murung, membayangkan seorang Choi tidak jadi dipenjara membuat hatinya sedih.

“Hanya hal seperti ini tidak akan bisa membuatnya dipenjara— tapi cukup membuatnya tampak tak layak untuk mengasuh anak. Anak mutan, anak manusia, anak hewan sekalipun.” Kibum menyeringai.

“Biar kucek, apa aku bisa mengunduh beberapa video.” Sekali lagi Kyuhyun memilah beberapa menu, sementara Kibum di sisinya sibuk merekam kejadian di layar laptop Kyuhyun menggunakan ponselnya sendiri. Hanya antisipasi jika Kyuhyun ternyata tidak berhasil mengunduh bukti emas mereka.

“Kurasa orang ini sudah gila. Dia melakukan—“

“Wait Kyu—“ Kibum menyela Kyuhyun. Ia menyeringai menatap adiknya. Ide yang lebih jahat muncul dengan cepat di benaknya. “Apa kau bisa meretas video-video yang sudah lalu?”

Kyuhyun menautkan alisnya, mencium hal merepotkan yang akan segera menimpanya. Tapi mereka sudah terlanjur melakukannya sejauh ini. Menghabiskan beberapa detik lagi untuk membantu Heechul sialan itu tidak akan membuatnya rugi, Kyuhyun cukup senang membayangkan dirinya akan dapat mengungkit jasanya selama-lamanya di depan mutan sombong itu.

“Bisa, tapi rentan waktunya tidak terlalu jauh. Mungkin dua atau tiga hari lalu. Dan kalau kau tidak menggangguku, aku bisa meretas sampai satu minggu ke belakang.”

Kibum melompat turun dari sofa. Lalu berlari menuju ruang tamu. “Baiklah. Aku tidak mengganggu! Dan aku akan memesan pizza, dengan uangku, Kyu!”

Kyuhyun menggelengkan kepala melihat tingkah kakak sepupunya. Sejam selanjutnya, ruangan tengah rumah Kyuhyun kembali diselimuti keheningan. Kembali pada suara ketikan dan beep-beep pelan. Sementara Kibum sejak tadi sibuk memainkan smartphonenya di ruang tamu sembari menunggu pesanan makanannya. Bahkan setelah pizza pesanannya (yang dibayarnya dengan uang sendiri tanpa bantuan tuan rumah) datang, Kibum masih menunggu beberapa menit sembari mengintip gelagat Kyuhyun. Pemuda itu serius, untuk beberapa saat. Hingga posisi duduk Kyuhyun berubah kaku tanpa bersandar lagi.

Kibum mengerutkan keningnya, ia kembali ke ruang tengah dengan membawa kotak pizza itu di sebelah tangannya. “Pizza dataaang!” serunya ceria, bermaksud memecahkan kekakuan Kyuhyun saat matanya terpaut pada bintik-bintik merah yang berkedip di atas laptop Kyuhyun. Wajah Kibum ikut berubah kaku.

“Kenapa kameramu berkedip merah, Kyuhyun?” Kibum meletakkan pizzanya di atas meja. Tiba-tiba kehilangan napsu makannya. “Kyuhyun, ini tidak lucu. Matikan kameramu!” serunya makin panik. “Kyuhyun!”

“Sial kita ketahuan!” Kyuhyun yang sejak tadi menutupi rasa gugupnya akhirnya berseru juga, ikut panik karena sikap panik Kibum memancingnya.

“Nyalakan IP changernya, Kyu! Akh! Lama sekali! Hapus saja! Hapus! Hapus!” seru Kibum tak sabar. Kyuhyun ingin sekali menampar wajah kakaknya, karena sikap panik Kibum sama sekali tidak membantu. Tapi ia tidak bisa mengangkat tangannya. Jarinya terus mengetik panik. Hingga pada puncaknya, seruan memprovokasi Kibum membuat Kyuhyun bertindak tak sabar. Kyuhyun mencabut semua kabel dan USB yang tersambung di laptopnya, membanting laptop itu menutup dan menyingkirkannya ke samping.

FUCK!” seru Kyuhyun meremas kepalanya. “Ah, fuck. Aku harus mengulangnya dari awal lagi.” Pekiknya sembari menendang meja di hadapannya. Kyuhyun memaki lagi, meski ia mendesah lega dalam hati karena sikap gegabahnya tidak menghancurkan benda-benda berharga yang diletakkannya di atas meja.

“Lebih baik daripada kita ketahuan. Aku tidak mau diteror orang-orang Choi.” Kibum memegangi dadanya, sesaat tadi jantungnya berpacu kencang. Suasana itu cukup horror dan membuatnya takut. Ia tidak mau berurusan dengan Choi.

“Kau berhasil mengunduh beberapa kan?”

Kyuhyun mengerang, tidak menjawab malah balik mencibir kakaknya. “Dan kau berhasil menghancurkan kerja kerasku.”

Kibum bersandar lega di atas sofa. Senyumnya terkembang.

“Setidaknya… Kita mendapatkan Amulet2 untuk mengalahkan Choi.”

.

oOoOoOo

.

Kibum tidak menunggu besok untuk menunjukkan hasil menggemparkannya dengan Kyuhyun pada Heechul dan Hangeng. Ia punya mobil sendiri, kartu bensin sendiri, dan ia bukan Cho Kyuhyun yang begitu hemat waktu dan uang hanya untuk pergi menemui kakak sepupu mereka. Ia juga sedang tidak bertengkar dengan Heechul dan tidak berniat mencari masalah dengan Heechul dan menginginkan tugasnya segera selesai agar ia bisa cepat kembali ke Detroit. Hal itu akan segera terwujud. Karena itu ia bergerak cepat, tepat setelah Kyuhyun memberikan USB berisi video-video hasil unduhan mereka, Kibum melesat keluar mengendarai mobilnya— menuju mansion Hangeng.

Kibum tahu hari ini Heechul menjalani sidang pertamanya melawan Choi itu. Dan dengan penjelasan detail dari semua saudara sepupunya, Kibum yang didatangkan jauh-jauh dari Amerika dengan cepat mengerti duduk situasi yang menimpa Heechul dan Hangeng. Biar bagaimanapun ia ikut mengambil andil saat kasus enam tahun lalu terjadi. Dan kini, Kibum malah tidak yakin dengan posisi kubu mereka. Bukti yang mereka miliki terlalu minim. Situasi terlalu berpihak pada lawan dan bahkan Kibum sudah bisa memperkirakan hasil sidang hari ini. Lebih-lebih saat ia baru memasuki mansion Hangeng, suasana muram menyambutnya.

Ada tiga orang kakak sepupunya disana. Kangin, Yesung, dan Hangeng. Duduk di satu sofa saling berbincang kecil dengan nada lemas. Ryeowook duduk disebrang, menguasai satu sofa luas sendiri untuk berbaring, tampak lelah dan tidak ingin mengatakan apapun meski ia melihat kedatangan Kibum.  Heechul tidak tampak dimanapun.

Hanya melihat pemandangan mereka saja, Kibum tahu prediksinya benar terjadi. Tapi ia tetap bertanya, dengan nada lembut yang memecahkan kesuraman semua orang. “Jadi hasil sidangnya?”

Hangeng menggeleng lemas dan Kangin yang menjawab.

“Hak asuh penuh pada Choi Siwon. Jika Heechul-hyung terbukti memiliki ikatan darah dengan Jieun, Heechul-hyung bisa mengunjungi putrinya tiga bulan sekali di bawah pengawasan Choi Siwon.”

Dan hal itu kemungkinan besar tidak akan terjadi. Semua orang tahu itu. Kibum tahu semua orang tahu hanya dengan melihat kemuraman mereka. Choi Siwon pasti akan melakukan cara apapun untuk merebut hak asuh Jieun sepenuhnya, ia tidak akan membiarkan Heechul mendapatkan haknya bahkan hanya untuk berkunjung. Choi Siwon tidak akan membiarkan Heechul meletakkan satu jaripun di atas kepala Jieun. Jika itu membuatnya harus melakukan tindakan kriminal, seperti memanipulasi hasil tes DNA yang akan dijalani Heechul. Semua orang di ruangan ini tahu Siwon sangat mungkin melakukannya, mengingat pengalaman enam tahun lalu saat ia merusak isi perut Heechul dan pria itu tidak meninggalkan sedikitpun bukti.

“Kau yakin tidak ingin mengecek Heechul-hyung?” Kibum mendengar Yesung bertanya, suaranya begitu pelan tidak seperti biasa.

“Dia butuh sendiri. Keberadaanku hanya akan membuatnya makin pusing.” Dan aku sendiri saja sudah pusing bukan kepalang. Hangeng meremas tengkuknya.

Kibum duduk di sofa single, dekat dari Hangeng. Ia meletakkan laptopnya di atas meja, membukanya dan membiarkannya menyala begitu saja. Lalu ia duduk bersandar, tidak ingin terlihat terlalu senang karena mungkin saja temuannya tidak terlalu bernilai. “Hyung, jelaskan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin membalikkan kemenangan Choi Siwon.”

Hangeng menautkan alisnya mendengar pertanyaan tiba-tiba Kibum. Yesung dan Kangin di sisinya ikut membenahi duduk mereka, ikut-ikutan memandang Kibum dengan tertarik.

“Kemungkinan?” balas Hangeng heran.

“Kemungkinan A, B, C, D…..Z? Apapun yang bisa membuat Hakim mengalihkan hak asuh Jieun ke Heechul-hyung?”

Hangeng menautkan keningnya makin dalam, tapi ia menjawab cukup cepat. Karena ia sendiri sudah memikirkan hal ini begitu lama. Kemungkinan apa yang bisa memenangkan mereka? Rasanya jalan mereka buntu. Tapi –“Kita bisa mengajukan banding.”

“Banding?”

“Mengajukan banding dan membuktikan kalau Choi Siwon tidak lebih layak dari istriku untuk mengasuh Jieun.”

“Hal-hal tidak layak itu contohnya?”

Yesung duduk lebih tegap mendengar obrolan yang jauh lebih hidup ini. Ia berpindah ke bangku di sisinya, membiarkan Kangin dan Hangeng mendapatkan ruang cukup luas untuk memulai perbincangan yang lebih serius.

“Misalnya… dia mutan atau dia miskin, dan dua hal itu tidak mungkin terjadi. Atau dia melakukan kekerasan pada Jieun, atau jika Jieun menolak hidup dengannya, permintaan anak bisa jadi pertimbangan Hakim. Hak asuh juga bisa beralih kalau Choi Siwon terbukti tidak mumpuni secara fisik dan mental. Kalau dia gila, yang sepertinya iya tapi sulit dibuktikan pada hakim. Atau minimal kita bisa membuktikan ia punya gangguan mental.”

Kibum ingin sekali mengangkat ujung bibirnya, tapi akhirnya malah ujung alisnya yang terangkat. “Ulangi yang terakhir?”

“Gangguan mental?” Hangeng bingung.

“Nah, yang itu! Gangguan mental jenis apapun?”

“Apapun. Kalau dia menjalani tes mental dan terbukti memiliki gangguan mental apapun. Sedikit saja gangguan kesehatan mental bisa mengubah hak asuh Jieun sepenuhnya.”

“Bukannya Choi Siwon psikopat? Dia menculik Heechul-hyung, mengambil bayinya, dan mengambil rahim Heechul hyung. Dan kasus enam tahun lalu waktu dia hampir membunuh Heechul-hyung? Apa itu tidak cukup untuk membuatnya menjalani tes mental?”

Kening Hangeng bertaut begitu dalam. Tiba-tiba ia mengerti arah pembicaraan Kibum. Ia tahu Siwon gila, tapi menarik Siwon ke psikiater untuk membuktikan bahwa laki-laki itu gila adalah hal yang sama sulitnya dengan mengeringkan sungai Han.

Yesung di sisi lain juga terlihat mulai mengerti, ia ikut menyahut, “Kau tidak sedang menghadapi pria yang bekerja sebagai karyawan biasa dengan kehidupan biasa-biasa saja. Pria ini Choi Siwon, Kibum-ah. Memintanya melakukan tes mental?” Yesung tertawa, frustasi. “Itu bisa jadi bumerang dan berbalik membuat Heechul-hyung yang harus melakukan tes mental. Kalau hal itu sampai terjadi, kita tahu hasil macam apa yang akan kita dapatkan.”

Hangeng mengangkat posisi duduknya lebih tegap. Wajahnya mengerut tidak terima. “Kau mengatakan istriku gila?” sungutnya marah.

“Hyung, kau tahu gangguan mental punya banyak level, banyak jenis. Hobi teriak? Tidak sabaran? Unik? Ditambah tidak punya pengalaman mengasuh anak. Terdengar familiar? Seperti seseorang sekali ya?” Yesung mencibir.

“Setidaknya dia punya aku. Dia punya keluarga, dia punya suami. Sedangkan Siwon? Kalau kita bisa membuktikan dia gila, istriku bisa memenangkan sidang ini.”

“Poin bagus, hyung!” seru Kibum senang.

Kangin menghela napas. “Itu kalau kita bisa membuktikannya. Dengan apa kita akan membuktikannya? Setidaknya kita harus punya sesuatu untuk menyeret Choi Siwon ke pintu psikiater.”

Ucapan Kangin barusan seakan menyadarkan Hangeng. Mereka jauh dari kemenangan. Pria itu terduduk lemas, Yesung juga menunduk murung. Tapi Kibum justru makin bersemangat. Ia duduk makin ke pinggir, lebih dekat lagi dari Hangeng. Kibum mengutak-atik Laptopnya sembari bergantian menatap ketiga kakaknya. Beruntung Ryeowook di kursi lain tertidur pulas karena lelah. Ia tidak ingin pemuda berisik itu teriak tengah malam karena temuannya ini. Setelah menemukan file yang dicarinya, Kibum menyeringai sembari berujar. “Kau harus lihat hasil temuanku dan Kyuhyun.”

Semua mata yang redup lelah kembali membulat pada Kibum. Mendengar nama Kyuhyun disebut tak ayal membuat perhatian mereka kembali fokus. Kibum dan Kyuhyun yang digabungkan memang mungkin memunculkan peluang-peluang mustahil seperti ini. Hangeng merasakan harapannya kembali membumbung penuh, terlebih saat layar itu digeser berbalik menghadapnya. Sebuah video tanpa suara berputar di depan mereka.

Yesung dan Kangin menyaksikan video itu tanpa berkedip. Hangeng tidak hentinya menggeleng lemah, masih tidak percaya. Ketiganya tidak membutuhkan waktu lama, dan tidak membutuhkan penjelasan Kibum untuk mengerti maksud video yang ditunjukkan adik sepupu mereka.

“Darimana kalian mendapatkannya?”

Kibum menarik balik laptopnya. Pemuda itu terkekeh. “Itu urusan kami. Sekarang jelaskan sistemasi petisi dalam hukum kejaksaan?”

Kini, Hangeng merasa lebih ringan untuk menarik bibirnya membentuk senyum. Ini peluang. Meski masih harus melalui banyak kesulitan lainnya, setidaknya temuan Kyuhyun dan Kibum membuka jalan yang sebelumnya mustahil untuk dilalui. Dan Hangeng segera mengerti kemana pembicaraan ini akan mengarah. “Melibatkan masyarakat untuk menyatakan pendapat mereka tentang siapa yang lebih layak mengasuh Jieun. Membuat petisi, memberi fasilitas pada orang-orang untuk mengetahui kasus ini dan menyatakan pendapat mereka, lalu meminta dukungan mereka. Kita punya kesempatan menang lebih besar kalau punya kekuatan petisi yang kuat.Tapi aku merasa, Choi juga punya kekuatan cukup untuk mengambil banyak suara.”

Kibum mengangkat sebelah alisnya. “Opini publik tidak bisa dibeli mentah-mentah dengan uang. I mean, bisa.” Koreksinya cepat. “Tapi strategi jenius ditambah uang pasti lebih menang daripada sekedar Choi ditambah uang.”

“Aku mengerti.” Kangin separuh setuju, “Tapi kita butuh dukungan kekuatan yang lebih besar, amunisi senjata lebih banyak, dan prajurit yang lebih kuat. Video buram seperti ini… hanya akan memperlama sidangnya. Dengan proses verifikasi keaslian, memberikan celah untuk para Choi membayar ahli-ahli teknologi dan mengatakan video ini palsu.”

“Kita bisa mencegahnya, hyung!” Kibum mengusap dagunya bersemangat, sepenuhnya percaya diri dengan idenya. “Kalau kita bisa bergerak lebih cepat, menyebarkan petisi dari sisi Heechul-hyung, akan banyak pihak sok netral bermunculan. Dan itu akan menguntungkan kita.”

“Maksudmu… Suara netizen, media, dan pemerintah?” Yesung berujar, sebelum bertukar pandangan dengan Hangeng.

“Nah!”

“Akan muncul ahli teknologi yang terpaksa memberikan jawaban jujur tentang keaslian videonya, mereka juga butuh citra.” Hangeng melanjutkan, ia terkekeh dan menggeleng tidak percaya. Kini celah sempit itu terbuka makin lebar. Semua karena ide brilian adik sepupunya. “Masyarakat akan mendukung yang lebih lemah, yang lebih sering menjadi korban. Seorang ibu akan dipandang lebih pantas mengasuh anak kandungnya. Terlebih dengan dukungan video ini… Kita punya kesempatan menang.” Hangeng meraih bahu Kibum dan merangkulnya meski jarak sofa mereka cukup jauh.“Aku mencintaimu, Kibum-ah. Tidak rugi aku membayari tiketmu dari Amerika kemari.”

Kibum menjentikkan jarinya senang. “Kalian punya kafe yang luar biasa, dengan fangirl yang luar biasa. Sekarang waktunya untuk memanfaatkan mereka.”

“Kita butuh strategi untuk merebut suara mereka.” Yesung bersuara.

“Untuk strategi kampanyenya…” Kibum menyeringai, semakin percaya diri dipandangi dengan bangga oleh kakak-kakaknya. “Serahkan padaku.”

.

oOoOoOo

.

Heechul duduk di bawah gelap kamarnya. Ia tidak berniat menyalakan pencahayaan apapun. Terang lampu hanya akan menyadarkannya seperti tamparan, bahwa tiga jam yang lalu ia baru saja kalah merebut putrinya kembali.

Heechul menangkup wajahnya, telapak tangannya dingin dan gemetar.

Ia kembali ke mansionnya membawa postur tenang, sejak saat ia melangkah masuk ke dalam mobilnya untuk pulang, Heechul sudah kehabisan akal bagaimana cara melampiaskan semua amarahnya, kekecewaannya, semua perasaan buruk rupa yang bercampur aduk di dadanya. Menangis? Matanya yang merah dan bengkak ini seakan kehabisan amunisi. Heechul tidak tahu tidak bisa melakukan apapun selain diam, membiarkan dirinya ditelan semua bayangan dan perasaan kelam yang membuatnya makin jauh dari kesadaran. Ia bahkan menolak Hangeng yang menawarkan diri untuk menemaninya. Beralasan bahwa ia terlalu lelah dan menginginkan tidur lebih cepat malam ini. Namun setelah yakin suaminya turun meniti tangga menuju lantai bawah, Heechul kembali ke kamarnya, mengunci pintu, dan merusak benda apapun yang bisa dihancurkannya.

Semua ini salahnya. Andai saja ia mampu menguasai diri, andai ia mampu menaati pesan Hangeng padanya— Mungkin Hakim akan memberikan vonis yang berbeda.

Satu kali kunjungan setiap tiga bulan di bawah pengawasan Choi Siwon jika ia terbukti memiliki ikatan darah dengan Jieun.

Heechul tertawa getir, suara yang keluar dari bibirnya bergetar mengisi kesunyian dan kegelapan kamar.

Tentu saja ia terikat darah dengan Jieun, ia tahu tanpa harus menjalani tes DNA bahwa gadis kecil itu memang putrinya. Bayi yang enam tahun lalu tumbuh di dalam tubuhnya dan berbagi darah yang sama, berbagi daging yang sama dengannya. Tapi—

Apa Choi Siwon akan membiarkan dunia tahu kenyataan itu?

Heechul mengenalnya. Pria itu mampu melakukan hal-hal mengerikan yang bahkan tidak terpikirkan olehnya. Heechul mengingatnya dengan tubuhnya. Dan tiap kali bayangan itu kembali padanya, ia tidak bisa terfokus dan berakhir menggigil sendirian. Merutuk dalam hati bagaimana mungkin takdir ini kembali terulang. Menghadapi bajingan Choi itu setelah enam tahun Heechul berusaha menganggapnya tidak ada di dunia.

Heechul menggigit bibir, perlahan isak tangis kembali mengalir dari bibirnya. Tiga jam beristirahat, rupanya kedua matanya kembali mendapatkan energi. Mutan itu mengangkat kedua kakinya dan memeluk tubuhnya sendiri, tidak lagi menahan diri saat ia meratap sedikit lebih kuat. Suara yang keluar dari bibirnya dan tetes-tetes yang mengalir dari matanya membantunya berpikir. Membantunya melampiaskan sesak yang sejak tadi menggumpal di dadanya dan kini membuncah menjadi emosi yang lain. –amarah.

Jieun miliknya. Sejak saat tulang dan daging gadis kecil itu tumbuh di dalam rahimnya, sejak saat Siwon menolak keberadaannya, sejak saat Siwon mencoba untuk membunuh mereka. Sejak saat itu Choi Siwon tidak pantas mengklaim satu helaipun rambut putrinya. Jieun adalah miliknya, sepenuhnya.

‘Aku akan mendapatkan putriku kembali.’ Heechul bergumam dalam hati. ‘Dengan darah sekalipun.’

.

oOoOoOo

To Be Continue…

oOoOoOo

.

Author Notes:

1Plitur/Politure: Bahan cair untuk memoles furnitur kayu, berfungsi meratakan lubang, membuat furnitur tampak mengilap, umumnya berwarna kuning bening madu dan berbau.

Sumber: Tukang mebel (Ada deeeh) di Jatinangor

2Amulet: Semacam jimat, ornamen atau berlian berukuran kecil yang dipercaya dapat menangkal gangguan setan (termasuk Siwon), bencana, dan kutukan.

Sumber: Diterjemahkan dari en.Wikipedia.org

Jangan tanya kapan Kibum dan Kangin pernah muncul, dua-duanya pernah nongol kok di chapter-chapter sebelumnya walaupun cuma hint. Apalagi nanya kapan Siwon nongol, we begal uga ni -_-

Dan jangan lupa ripiu, lope, paporit, atau poloooo! Muah! Muah! *cium satu-satu*

31 thoughts on “Kitty-Kitty Baby! – Chapter 17

  1. won2 says:

    gilaaaaa bagus banget ni updatenya, berasa kaham film-film barat, genreseperti ini saya suka,,cuma ada satu hal yg kurang di ff ini, semakin lama, side story lebih bangak daripada main story nya.. kisah choi dan heechul banyak sekali sehingga kisah kyumin agak samar, di beberapa chapter belakangan ini. bukannya saya gak suka atau apa dengan side story, tapi hanya saja sepertinya porsi side story sangat bnyak dan kyuminnya terlupakan.
    btw, sayA suka update nya. thank you..

  2. nadia says:

    hahaha akhirnya choi siwon skak mat kalah muahaha, ck buat seunghyun jangan macam2 ikam lah..min buat sungmin menderita dikit (sex/?) habis itu tiba2 khyuhyun menyelamatkannya. oho yeah bam

  3. Wowwww 😳😮 melongo….. Melongo….. Melongo….
    Kok bisa….. Sehebat ini ya isi nya? >____<
    Mikirinnya pasti kalau dianimasikan, jungkel2 ya?
    Bagus bgt hikssss aku sampai bingung milih kata2nya. Ini lebih dari bagusssss.
    2 author ini ya ampuuuuun /_____\ sukses ya

  4. Tetiniwa says:

    Gak sia2 nunggu lamaaa…😂😂
    Keren bgt chapt ini….!!!
    Si senghyun sikapnya jd manis bgitu sama sungmin, tp kok jd ngeri ya sama sikapnya seunghyun yg bgitu…
    Pertarungan heecul sama siwon jd makin seru…agak2 gak suka sama sikapnya heechul yg gegabah, paham siih perasaan ibu yg akhirnya bsa ketemu anaknya setelah sekian lama dianggap meninggal, tp ya kalo heechul lebih bisa calm do

  5. Nana Cho says:

    Penasaran dech….kira2 vidio apa yg diihat kibum & kyu ampe bs dijadiin jimat penangkal siwon eh salah…mksdny setan.
    Knp nasib minho ngk diceritaiin?
    Apa kbrny stlh dipukulin siwon ?
    Seunghyun udh kyk org gila….sungmin lg ketakutan mlh dikira terharu…bnr2 udh stress berat/

  6. parkhyunmin says:

    kernnnn ska banget ma critanya.. mkin greget.. jdi gk sbr nunggu chap depan.. kyu busa gak yah nemuin ming cma dlam wakru krang dri 1minggu???
    tetep smngat nulianya di tunggu chap depanya heheh

  7. kyume801 says:

    suka suka sukaaaaaa!!!!!
    panjang.. tapi pas baca berasa pendek! jadi ntar panjangin lagi yaaa hihihiii kyuhyunnya yg buanyak juga porsinya😄
    next updatenya dah ditunggu

  8. Sunny says:

    setelah sekian lama akhirnya update juga ^^

    ya ampun masalah dateng bertubi-tubi ya. semoga masalah heechul cepat selesai ya. trus abis itu mereka bisa bantu kyuhyun buat nemuin sungmin.

  9. yeyyy,, fiqoh update😀,,
    aduhh,, makin2 aja ujian yg menimpa kyumin dan hancul😦
    kitty min >0< di rape sama choi, tak relaaaaa,,,,
    kyu~~~ cepat cari kitty min,,, ;0;

  10. Cek email langsung nemu notif ini tuh sesuatu bgt dah……..

    Satu pertanyaan, seunghyun udah gila? Dia emang gatau kalau sungmin hamil bukan anak dia? Terus maksudnya apa beli rumah sama furniturenya mirip sama yg kyu????:/

  11. wifeleeteuk says:

    oh ya ampun ya ampun,chapter ini bener2 menguras emosi >< end finaly kalah!!!siall nyesekkk baca nya T.T

    Bener kata hangeng Dua jenius di satuin menghasilkan yang Wow xD hihihi kerenlah dua orang ini *kasihSeribu*

    Aku ga bakal nanya itu ko Sun,aku cuma mau nanya itu Sungmin nya gimana?kenapa di cut T.T hikssss selamat kan sungmin please T.T

    emang paling bisa dah ini author nyimpen Tbc dimana –'' lagi seru seru baca etdah *tendangTbc*

    Buset ini riview apa cerpen xD ,panjang yh..padahal masih banyak unek2 buat semua cast nya xD Kkkk
    Btw ini Chapter bikin PUAS MAXIMAL…nunggu sekian lama ga nyesel.. Walau ga ada moment sweet nya tapi bikin gereget,pengen gigitin keluarga Choi –''
    Okey ini bikin riview makin panjang –'' semoga sun ga mabok baca riview aku yang puanjang ini xD hihihi
    pokok nya aku Tunggu next chap nya !!!!!! Fighting sun!!!!!!!!!

  12. qq says:

    kerennn kibummmm akkkkkkk jenius bgt dia kyuhyun juga jenius tapi lebih kalem kibum kayaknya yeee,,mungkin udh kelamaan tinggal di detroit jadi kalemnya kayak bule2 yg ada di pilem2 wkwkwkwk…. sering2 nampilin kibum ya qoohhh lop u dahhhhh :DD

  13. finally bisa review jg setelah berhari2 baca dikit2.. Haha #alasan… Seneng kalo update cepet&panjang gini..😀
    Emang duo jenius kalo digabungin mengerikan y kemampuannya.. g sabar kl cari petisi..
    trs mommy ming yg diatas itu dia ber”ihik2″ sama seunghyun donk #nangis brg daddy kyu ㅠ ㅠ
    out of topic kibum ntar couplenya siapa kl siwon dipenjara?😀
    Ditunggu pake banget next updatenya😄

  14. Makin ngeri liat keluarga choi, tp aku harap kerja keras kyuhyun dan kibum gg sia” . Haduh, gg rela banget sungmin balik sama seunghyun😫
    Semoga kyuhyun bs cepet” nemu in sungmin ><
    Fighting for next chapter (^_^)9

  15. Noname says:

    wah chapter ini agak berat isinya wkwkkwkw, tapi bagus. Apa kemungkinan appa cho akan turun tangan untuk membantu kyuhyun, jadi cho vs choi gitu. LAnjut author,

  16. Moonhee says:

    ahh aku berharap siwon kalah dalam persidangan itu,, kalau dipikir2 heechul kasian bgt udah dri pas jieun lahir g pernah lihat anaknya dan skarang disaat dia udah tahu kalau anaknya masih hidup ttp aja dipersulit sama siwon -,-
    aku jdi penasaran sma klnjutan hubngnnya kyumin, moga2 aja kyu cepet nemuin min deh, si seunghyun tu apaan ke pd an dkit2 ngira min rindu dia pdhal kan kenyataannya g,,
    ditunggu next chap nya ya eonni🙂

  17. HilmaKins says:

    uwHaaaaaa … akhirnya gua nemu juga blog nya ,, huhuhu T.T , tapi masih di chapt ini >< yg kyumin gmn kabarnya dong thor yg keceeeh ?? next update di tunggu ^^

  18. ayonrin says:

    aku baca seluruh chapter cerita hari ini and now I want more! hehehe hak asuh jieun jatuh ke tangan heechul ㅠㅠ dan aku berharap kyu bisa secepatnya menemukan min ㅠㅠ

  19. vyan says:

    hadeuhhhh… the choi fam.. bikin ribet seluruh urusan..
    belum juga min diketemuin, ini sudah ada gugatan lagi??? mana kalah lagi..
    gimana ini nasib min? kyu udah mati-matian nyari min..
    chullie juga mau ngerebut jieun walaupun dengan darah??? harusnya chullie juga pikiring hanggeng.. kan kasian hanggeng juga TT^TT

    ditunggu lanjutannya sun…😀 tambah rame aja soalnya hihihihi…
    fighting..

  20. Astaga rasanya udah lama banget ga baca fic dari kakak, maafkan diriku ini :’)

    Meskipun akhirnya Jieun sudah direbut, konsekuensinya parah ya TAT Siwon…😦

    Pertama2 keluarga Choi yg kena.. kasian aku sm Minho. Kedua, keluarga Hangeng.. Di sini yg paling terpuruk pasti Hangeng krn astaga.. karirnya… aku no comment tentang Heechul di sini, serba salah, bagai makan buah simalakama😦

    Lalu Kyuhyun dan Sungminnya-

    Kenapa smua harus terjadi bersamaaannn TAT astaga aku bnrn gatau apa yg akan aku lakukan kalau ada di kondisi seperti itu

    Kasian Min, Minnnn TAT Seunghyun krn cintanya tdk melihat hal yg sbnrnya dr Min, uh.. Semoga Kyu dpt menemukannya dengan cepat!

    Persidangan itu..😦

    Kyu is a genius aaaaaa (dan Kibum tentunya). Astagaa bangga banget aku sm dia beneran

    Semoga masalah Jieun dan Min bs selesai secepatnyaaa

  21. Sun! Aku degdegan. Aku kesel. Aku gemes! Kayak nonton masaaaa. Suka sama penceritaannya yang real~! Keren deh Suunnn!!! :)))
    Sama ceritanya jugaaaa walaupun aku bilang yg wonchul side kemaren aku gasuka tapi disini konflik ereka bikin aku degdegan. Tapi Sun Kyuminnya kuraaanggg. Chap depan pokoknya harus banyakin Kyuminnya gamau tauuuuuuuuuu. Lagi Haus akan kyumin niihhhhhhh. Ayolaahhh cepat cepaattttt. Sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaa deh pokonya¡¡¡¡¡

  22. dessy says:

    long time no readying kitty kitty baby un.. dan pas bca chap 17, ternyata makin seru aja nih ff un.. tpi chap 18nya digembok, pengen minta kuncinya un..

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s