Cursed Crown – Chapter 15

Selagi berdiri dalam udara dingin sebelum fajar, Siwon memandangi Sleipnir yang sibuk mengunyah rumput-rumput di bawah kakinya. Mata pemuda itu berpendar kosong, sementara pikirannya berkelana kemana-mana. Siwon tentu masih ingat niat apa yang membuatnya terjaga di subuh buta, hasrat yang seketika timbul dan menuntun langkah kakinya keluar istana. Tapi setelah berdiri disini lengkap dengan pakaian perangnya, Siwon kembali dirundung keraguan.

Haruskah ia mempercayai ucapan Ratu? Setelah seluruh pengkhianatan yang dilakukan Omega itu padanya, Siwon merasa puluhan kali lebih waspada. Jika semua yang dikatakan Junsu malam itu hanya trik untuk menipunya lagi, Siwon akan merutuk dirinya sendiri karena membuang-buang waktunya keluar tengah malam ke tempat ini.

Tapi di sisi lain, perasaan Siwon berkecamuk. Bagaimana jika yang dikatakan Ratu benar adanya?

Mengenai saudara kembar Jaejoong…. Omega berdarah murni dengan paras dan fisik Sungmin.

Bohong jika Siwon mengaku tidak peduli setelah apa yang diceritakan Ratu padanya malam itu. Meski berkali-kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa Snowelf itu bukan Sungmin, bahwa Snowelf itu adalah makhluk yang berbeda dari Sungmin yang dicintainya— tetap saja ada perasaan menggelitik yang terus merayu lamunannya. Membuatnya berpikir untuk memastikan cerita Ratu dengan mata kepalanya sendiri.

Tapi bagaimana mungkin ia tidak pernah mengetahui keberadaan Snowelf bernama Shengmin? Sedang pelacur Raja dan ratu yang sekarang tidak berusia lebih dari separuh usianya. Lalu apa yang akan dilakukannya setelah memastikan keberadaan Snowelf bernama Shengmin itu? Sejak awal, alasan apa yang harus ia berikan pada dirinya sendiri? Untuk menunggangi Sleipnir di subuh buta begini, untuk terbang di udara yang tidak bersahabat, melewati tanah-tanah asing dan lautan demi mencapai Graentland? Untuk apa?

Siwon kembali dibuat bingung oleh perasaannya sendiri. Pemuda itu meremas tangannya, semakin lama ia berdiri disana, semakin banyak pertanyaan baru muncul untuk menyiksanya. Siwon mengangkat kepalanya saat satu keputusan besar menguasainya. Ia meremas tali kekang Sleipnir, sebelum bisikan lain tiba-tiba melintas dan mengubah keputusannya.

Siwon duduk tegap di atas Sleipnir. Pemuda itu memandang ke depan, pada udara dingin gelap yang menghampar di hadapannya dan keputusannya semakin bulat; Hanya memeriksa untuk memuaskan rasa penasarannya. Ia melakukan ini untuk dirinya sendiri. Tidak perlu ada seorangpun tahu.

Siwon mendongklak pelana di bawah kakinya. Sleipnir mengikik, melangkah pelan sebelum membuka sayapnya dan terbang rendah di atas ladang berumput. Siwon tahu sekalipun ia menuruti keinginan hatinya, ini bukanlah perjalanan yang mudah. Jarak yang memisahkan ibukota Hviturland dan Graentland bukan main jauhnya. Dua samudera dan satu benua, Radourland. Jika dibandingkan dengan jarak ibukota Radourland dan Ibukota Baru Graentland yang sama-sama dekat dari selat dan pelabuhan, Hviturland seakan berada jauh di dunia lain. Negrinya bertetangga dengan secuil daratan Radourland dan sebagian besar Svarturland, dan Hviturland bahkan tidak menjalin aliansi yang lebih baik dengan dua negara tetangganya.

Ibukota Baru Graentland dan Ibukota Radourland memang sangat dekat, sedekat bayi kembar dalam rahim induknya. Tapi kalau perang suatu saat pecah diantara keduanya, Siwon berpikir, alangkah mudahnya dua kota besar itu hancur menjadi puing-puing. Radourland tidak lahir sebagai saudara kandung Graentland, dan Graentland bahkan pernah saling membantai kaumnya sendiri. Perang diantara dua negara itu bukan tidak mungkin terjadi. Graentland pernah mengalami perang saudara tiga ribu tahun lalu yang membuat negri itu masih terseok sampai sekarang, membuat Ibukota Lama hancur dan nyaris-nyaris Negara Ke-enam muncul di dunia.

Kalau perang sampai terjadi, Siwon mendengus, ia akan menyiapkan kursi terbaiknya untuk menonton kehancuran dua negara itu berlangsung. Sama seperti Negrinya, Graentland memang berperang dengan Svarturland. Tapi mereka memerangi tanah sempit di perbatasan. Mereka tidak merasakan dalamnya kehilangan, banyaknya korban, dan luasnya tanah-tanah dihancurkan –Seperti yang dialami negrinya.

Siwon tahu pemikiran-pemikiran ini tidak selayaknya dipendam sekian lama oleh seorang yang kelak akan menjadi raja. Tapi Graentland perlu merasakan pedih yang sama, kehilangan dan kehancuran karena peperangan, dan saat itu terjadi penghuni Negri Hijau akan mengutuk Raja mereka yang terlalu muda. Raja yang bahkan belum pernah tampak di medan pertempuran. Raja yang meninggalkan kesan lemah saat pertama kali Siwon bertemu dengannya…

—Raja yang menyembunyikan seorang Snowelf bangsawan di dalam istananya.

Siwon meremas kekang Sleipnir dengan tangan gemetar. Ia teringat—

Kyuhyun, calon raja dari Radourland, dan Kuixian, Raja muda di Graentland. Keduanya berwajah serupa dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya. Dan mereka memiliki pasangan yang juga berwajah serupa— kalau Ratu tidak berdusta padanya.

Sungmin dan Shengmin.

Siwon menahan amarahnya di ujung bibir, giginya gemerta beradu saat ia melawan panas di dadanya dan dinginnya udara. Jika ini bukan tipuan Junsu, maka Dewa benar-benar memainkan tali takdirnya dengan mahir. Sampai-sampai keinginan untuk meludah di bawah patung Dewa melintas di otaknya.

Apa perlu kulakukan sekarang?

Siwon berdecih saat ia memandang kebawah, yang tampak kasat oleh matanya adalah pemandangan luas dan megahnya kota pelabuhan. Pagi belum lagi dimulai, segelintir orang yang berlalu-lalang di bawah sana hanya kuli-kuli bangunan yang tengah sibuk membangun berhala. Begitu besarnya patung itu membuat Siwon menduga jarak kaki Sleipnir hanya dua puluh meter dari puncaknya.

Lucu sekali. Pikirnya. Karena Radourland membangun benda yang sama di pelabuhan baru mereka. Sebagian besar kerajaan-kerajaan di kedua negara itu memang mulai menyembah Dewa Baru. Tapi mendirikan patung sesembahan di pelabuhan? Apakah kuil-kuil mereka sudah mulai sepi hingga patung itu harus berdiri dekat dari laut?

Siwon mendongklak pelananya lebih kuat, tidak ingin manusia-manusia di bawah sana menyadari kehadirannya di atas langit. Daerah perbatasan Graentland dijaga oleh barrier kasat mata yang mencegah penyusup masuk tanpa diketahui. Tapi barrier ini menggunakan sihir yang tak sebanding dengan kemampuannya, Siwon hanya perlu menggunakan sebelah tangannya untuk menembusnya tanpa jejak. Siwon membisikkan mantra tanpa suara dan membiarkan jarinya menari di sisi telinga Sleipnir. Ia  membawa kuda itu melayang cepat menuju menara tertinggi istana.

Ia perlu menyembunyikan Sleipnir, sebelum ia berkelana membuktikan kebenaran ucapan Ratu.

.

oOoOoOo

.

Perbatasan Jouvenille menghampar panjang membatasi Hviturland dan Svarturland, tanah perbatasan tak bertuan ini hanya diisi oleh bebatuan kasar dan tandus. Di tempat ini, suara angin kencang selalu berhembus sepanjang waktu bagaikan jeritan makhluk tak terlihat. Tidak ada salju turun disini, namun langit selalu mendung, hampir seperti Starvurland yang diselimuti kegelapan sepanjang waktu. Tanah yang selama ratusan tahun terakhir menjadi tempat paling tepat untuk menyaksikan dua ras saling membantai satu sama lain.

Di ujung timur Jouvenille yang penuh dataran tinggi menjorok menuju laut, perang tengah berkecamuk. Setelah sekian lama tak menunjukkan batang hidungnya, Starvurland mulai menyerang kembali. Berusaha menguasai tanah tak bertuan hingga menyentuh wilayah Hviturland. Sejak saat satu kaki monster menyentuh tanah salju Hviturland dua hari lalu, perang berkecamuk dengan sengit. Orc dan Ogre menyerang pasukan perbatasan yang menjorok menuju Hviturland. Walau telah mendapat bantuan dari aliansi kerajaan lain, prajurit Hviturland tetap kewalahan mengalahkan monster-monster yang semakin pintar itu.

Sebagian monster itu menyerang ksatria garis depan, sementara dari belakang mereka menembakkan panah beracun. Secara jumlah dan ukuran fisik, prajurit Snowelf jauh kalah dibanding dengan prajurit Svarturland. Penyihir yang membantu dari barisan belakang bahkan kewalahan, menghadapi ribuan monster yang tidak kunjung surut dan seakan mampu membelah dua setiap kali pihak Putih membunuh seekor diantara mereka. Meski Hviturland lebih unggul dengan sihirnya, ogre dan orc itu tetap berdatangan meskipun ribuan telah berjatuhan. Prajurit garis depan mulai kehabisan energi sihir, sedangkan dari pihak ksatrianya kalah jumlah dan jelas kalah telak jika harus beradu kekuatan fisik.

Kedatangan tiba-tiba para Orc penunggang Balrog dan Ogre tidak selalu bertujuan untuk membunuhi pasukan Hviturland yang berada di garis depan. Satu atau dua serangan dadakan seperti ini selalu terjadi setiap beberapa purnama sekali, ditujukan untuk melumpuhkan beteng pertahanan terluar Hviturland tanpa membunuhi prajurit. Jelas sekali mereka menginginkan prajurit-prajurit Hviturland dalam keadaan hidup untuk dibawa ke dalam perbatasan Svarturland. Monster-monster itu mencari celah untuk melucuti prajurit kerajaan Putih dari senjata, dan jika tidak memungkinkan, pembantaian dilakukan.

Setiap satu batalyon prajurit dipimpin oleh seorang jendral Ogre, ras pilihan dengan volume otak yang lebih besar, berdiri di depan setiap tiga ratus prajurit untuk memimpin mereka, menggiring, dan mengendalikan prajurit-prajurit lainnya.

Serangan terakhir yang dikirim Svarturland mengirim setidaknya lima batalyon prajurit. Tapi sekarang—

Jendral perang Svarturland menghampar di seluruh penjuru, tidak terhitung, mengayunkan pedang dan gada, lalu sesekali berseru.

“TAHAEU EHRAE LHAEHRAE!” Raung suara parau itu. –Bawa atau mati. Seruan singkat jendral perang di tengah deting suara tebasan pedang. Bahasa yang sebagian besar hanya dimengerti oleh mereka sendiri.

Satu seruan serupa datang dari arah selatan, timur, barat, hingga seluruh tanah itu penuh oleh seruan-seruan dalam bahasa Svarturland. Setiap satu seruan disuarakan, teriakan prajurit Snowelf melengking mengiringi. Tubuh-tubuh ramping prajurit terseret di atas tanah, ditarik paksa menuju wilayah Svarturland. Mereka yang lumpuh jauh lebih mudah untuk dibawa, sedang yang masih mampu bertarung mulai kehilangan fokus mereka, dihadapkan pada dilema untuk terus mengayunkan pedang atau menolong teman-temannya.

“Lepaskan aku monster keparat!” Teriak salah seorang snowelf berambut perak yang dibawa seekor ogre ke atas bahunya.

Siapapun yang berhasil dibawa ke tanah itu, selamanya tidak akan kembali. Hviturland sudah menyadari hal itu sejak ratusan tahun sebelum ini. Mungkin sudah berapa ribu prajurit diseret paksa dan dijadikan sandera untuk selamanya. Entah untuk disiksa, digunakan sebagai breeder, budak, atau sekedar untuk mempermalukan Ras Snowelf dengan memperkosa prajurit-prajurit beta..

Beberapa ekor monster itu bahkan cukup brutal untuk menikmati hasil rampasan mereka di medan perang. Sebagian Snowelf memilih bunuh diri di tempat. Sebagian lainnya memohon agar rekannya yang masih bertahan dapat membunuh mereka sebelum dibawa lari oleh monster-monster itu.

Situasi yang terlihat semakin berpihak pada Svartuland. Sebagian prajuritnya sudah mulai lelah, jumlah mereka berkurang setiap sepuluh detik. Changmin menyadarinya, namun ia menolak berhenti mengayunkan pedangnya. Sekarang setelah kehabisan energi untuk mengeluarkan bola sihir, ia hanya mampu mengandalkan kekuatan fisiknya—pedang dan bogem tangannya. Rasanya, setiap satu monster remuk di ujung bogemnya, monster lain bermunculan, semakin banyak tidak peduli meski ia telah menumbangkan ratusan diantara mereka. Dua hari perang ini berlangsung, Changmin hanya mendapatkan dua jam tidurnya, tidak lebih. Tubuhnya mulai merongrong meminta dibaringkan, jika bukan karena tekad dan harga dirinya yang sekeras es, Changmin pasti sudah tergeletak tidur dan tidak sadar sekalipun panah menancap di dadanya.

Dua hari terakhir, ia menyaksikan teman-teman dan puluhan bawahannya diculik satu demi satu. Tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa, membuatnya semakin malu mengingat dirinya seorang alpha. Jendral Alpha yang seharusnya bertanggung jawab atas batalyon yang dipimpinnya.

Jika ia tidak berhasil membawa pulang kemenangan pada perang pendek ini— Changmin membayangkan dengan perasaan muram, apa yang harus diucapkannya pada Raja? Pada ayahnya. Sebagai seorang Alpha, melihat satu persatu prajuritnya terbunuh dan dibawa oleh monster-monster itu sudah cukup melukai harga dirinya. Svarturland hanya menginginkan beta untuk dibawa. Mungkin juga omega. Beruntung kerajaan tidak pernah mengizinkan seorang omega turun ke medan perang. Tapi negri monster itu tidak pernah menginginkan alpha. Alpha tidak bisa digunakan sebagai breeder, dan secara fisik mampu menyaingi kekuatan Ogre. Svarturland tidak menyukai fakta itu.

Bagi Svarturland, Alpha yang ada di medan perang ada untuk dibunuh, atau dipukul mundur dengan tubuh cacat untuk mempermalukan kerajaan. Changmin tidak ingin menjadi salah satu diantara keduanya. Ia akan pulang, membawa kemenangan.

Changmin mengerang kuat, menarik napas sembari mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

CLANG!

Tangannya bergetar menahan serangan palu besar ogre itu dengan pedangnya. Monster-monster ini seakan tahu siapa dirinya— putra raja, seorang pangeran dari kerajaan musuh, Changmin diserang oleh beberapa monster sekaligus dari beberapa sisi dibandingkan prajurit yang lain. Ia menendang yang datang dari arah kanan, lalu memuntir posisi monster didepannya untuk digunakannya sebagai perisai. Changmin melepas pedangnya dari seekor mayat monster dengan tergesa, dua ekor monster lain menyerang temannya sebelum Changmin melompat dan menendang mereka mundur dengan kedua kakinya.

Ia bangkit. Nafasnya tersenggal dan sesak. Gemuruh perang masih terdengar jelas di telinganya. Berdengung dan menyakitkan.

“GROAAAAARRR!”

Seekor orc hijau datang berbondong sembari mengayunkan gada besi. Changmin berdecih, bersiap membalas serangan itu ketika cahaya putih kebiruan menerjang lalu mengkristal hadapannya, melempar mundur monster itu sembelum ia sempat menyentuh Changmin.

Changmin menoleh, hanya sebelah matanya yang terbuka.

“Kau kelihatan kusut, Max… dan bau. Butuh bantuan?” Tawar orang itu, memanggil nama panggilan kecil Changmin.

Snowelf jangkung dengan bermata violet itu tersenyum, ia mengulurkan tangannya. Jubah birunya terhembus angin yang kencang, membuat sosoknya tampak lebih anggun dari biasanya.

Changmin menyeringai. “Aku baru saja akan menghajarnya kalau kau tidak mengganggu.”

“Heh. Yaa, aku bisa lihat itu.” Sindir Zhoumi, kakak tirinya.

“Dan… harusnya kau memakai pakaian yang lebih pantas. Kau tidak tahu kuman apa yang mereka bawa.” Pemuda itu sedikit jijik melihat Changmin yang bertelanjang dada dan kotor karena keringat dan cipratan darah monster.

Heal.” Zhoumi mengangkat tangannya di atas dada adiknya. Cahaya hangat menyelimuti tubuh Changmin, dan hanya dalam waktu beberapa detik, ia bisa merasakan staminanya pulih kembali.

“Terima kasih, hyung. Kenapa kau yang datang kesini?”

“Kau lupa sekarang posisi Jendral tertinggi kerajaan ada di bawah tanggungjawabku? Merepotkan memang, tapi Ayahanda belum mau mengangkat Siwon-hyung lagi.” Jawab Zhoumi sembari menyerang musuh dan menyembuhkan beberapa rekan mereka dari kejauhan, dibantu oleh pasukan bantuan yang baru datang bersamanya. “Dan sekarang ia menghilang entah kemana.”

“Kalau begitu kau harus memberi contoh yang baik sebagai Jendral. Jangan pakai sihir terus. Heyaahh!!!” Sindir Changmin sambil menebas beberapa ogre yang datang.

“Kalau begitu Ayahanda salah perhitungan, mengangkat Wizard menjadi Pemimpin Ksatria Kerajaan.” Zhoumi mengayunkan tongkat panjangnya, sesekali menahan serangan dan sesekali menggunakan sihirnya.

“Ya, mungkin dia salah sebut nama saking marahnya dengan Siwon-hyung!” Sahut Changmin sembari tertawa. Jarak mereka semakin menjauh dari sebelumnya.

Kedatangan pasukan bantuan yang dibawa Zhoumi seakan mengembalikan semangat pasukan Hviturland. Mereka mulai bangkit dan melawan lebih keras, namun entah bagaimana para monster itu berkembang biak, mereka muncul tak habis-habisnya.

Di balik kegelapan Starvurland, sosok besar mengamati dalam diam kedatangan satu pangeran lain dari kerajaan Yunho. Mata awas Zhoumi bahkan tidak menyadari keberadaannya, hingga sosok itu memandang begitu lama seakan menunggu Pangeran Putih membalas tatapannya.

“Max, ini tak akan ada habisnya. Kita harus habisi orang yang mengendalikan mereka.” Zhoumi mulai mengeluh. Tak ada waktu sedetikpun untuk mengumpulkan tenaga dan bernapas lega dengan serangan ini, meskipun banyak mayat orc dan ogre bergelimpangan di tanah.

“Seunhyung akan segera kemari membawa tambahan pasukan jika kita tidak memberi kabar dalam waktu dua jam.” Tambah Zhoumi. Nafasnya sudah mulai memburu, sama seperti waktu mereka yang makin menipis.

“…ya… aku juga sudah mulai bosan melawan mereka! Kita harus mencari dimana pemimpinnya bersembunyi!” Changmin menebas tiga buah anak panah yang diarahkan ke dirinya.

“Jangan mendekati daerah gelap itu, Max!” Snowelf yang lebih tua itu memperingatinya. Wilayah itu menandakan kepemilikan Svarturland. Dan sihir apapun tidak berlaku disana, di tanah yang tandus itu.

“Aku tahu!” Jawab alpha muda itu.

Zhoumi bergerak waspada. Bola mata keunguan itu menyipit tajam, mengamati sekelilingnya. Entah sejak kapan ia terkepung dari seluruh arah. Perlahan para monster itu mendekatinya, bersiap untuk melompat ke arahnya.

“GRAAARRRR!!!” Enam ekor makhluk hijau dan cokelat menerjang.

Pangeran kedua itu menancapkan tongkatnya ke tanah di hadapannya. Lingkaran biru terang muncul dari bawah tanah di sekelilingnya, dengan radius dua meter.

“Ice Blaze.” Bisiknya pelan.

Dalam sekejap, cahaya itu berubah menjadi wujud es padat yang tajam ke segala arah. Monster-monster itu terbunuh, tertusuk ke perangkap sang penyihir. Zhoumi melompat dari lingkaran bangkai yang dapat menghambat geraknya itu. Dengan sigap, ia mengetahui akan orc yang sudah menunggu di balik punggungnya dan menusukkan tongkatnya dari balik sikunya ke belakang, menembus kepala monster itu dari mulutnya.

Cairan hijau dari orc itu mengenai bahunya. Zhoumi mengerutkan alisnya jijik. Makhluk-makhluk ini semakin mendekati pertahanannya, tak memberikannya waktu untuk menghela nafas, tiga monster lain datang menyerang dari depan. Zhoumi mencabut tongkatnya dari belakang dan menebaskannya ke depan. Namun pada saat yang sama dari balik mayat orc di belakangnya, sesuatu bergerak cepat mendekati snowelf yang tak sempat mengelak itu.

“UGGHH—!!”

Pandangan Zhoumi menggelap sesaat begitu sesuatu menghantam belakang lehernya dengan kuat. Ia nyaris pingsan sebelum terlempar ke dataran berbatu itu sekitar tiga meter, terpental lalu jatuh tertelungkup.

Ia merasa beberapa orang memanggilnya saat ia mencoba untuk membuka mata dan memfokuskan pandangannya yang kabur dan tertutup helaian rambut pirangnya yang berantakan.

Sesosok ogre yang belum pernah mereka lihat sebelumnya muncul, berdiri gagah di belakang sosok Zhoumi yang terpuruk. Sekilas saja siapapun akan mampu membedakan monster ini. Tubuhnya penuh otot tanpa lemak. Mengenakan celana yang lebih panjang dibanding Ogre pada umumnya dan armor emas di depan dadanya. Mahluk itu setengah kali lebih besar dan tinggi dibanding prajurit biasa. Kulitnya kebiruan, membedakannya dengan cepat dibanding lautan kulit hijau dan hitam prajurit lainnya.

Saat menyeringai, dua taring pendek muncul di sela bibirnya.

Beberapa ksatria mencoba menyerang makhluk itu namun berakhir buruk. Sepertinya makhluk yang satu ini tidak berniat menculik. Ia membunuh semua yang berani mendekat.

Zhoumi mencoba bangkit perlahan, mencoba mencari tongkatnya yang terpental entah kemana.

Dari belakangnya, ogre besar itu mencoba meraihnya sebelum seorang snowelf berambut merah datang menghalanginya.

CLAANNKKK!!

Pedang hitam dan merah itu mengeluarkan percikan api saat beradu.

“Akhirnya kau keluar juga. Aku sudah mulai bosan menunggumu!” Seringai Changmin antara semangat dan takut. Pemuda itu menghembuskan api ke wajah ogre itu dan membuatnya meraung kaget, lalu menyerang bertubi-tubi ke tubuh keras yang terlindungi itu.

Zhoumi mengambil kesempatan selama Changmin membuat makhluk itu sibuk. Ia berjalan membungkuk menuju tongkatnya yang tergeletak di balik bebatuan di depannya.

“UAAGGHH!” Changmin berteriak kesakitan.

Ia lengah dan pijakannya yang tidak stabil di tumpukan bangkai monster itu membuatnya terjatuh. Begitu terjatuh, pedang hitam itu segera melayang menuju jantungnya. Ia sempat mengelak dan kini benda tajam itu menembus bahunya tanpa belas kasihan ke tanah bebatuan yang keras. Monster itu menggunakan berat badannya untuk menambah tekanan, menahan putra muda Raja Hviturland itu di tempatnya.

Changmin menggertakkan gigi menahan rasa sakit itu. Dari lukanya itu, berdenyut rasa ngilu yang membuatnya lemas—seolah energi sihirnya keluar meninggalkan tubuhnya. Ia mencoba bangkit dari posisi rentan ini, namun makhluk itu sangat berat. Sebelum semua energi sihirnya habis, Changmin mengeluarkan sihir api dan mengerahkannya ke wajah makhluk itu untuk kedua kalinya.

“UGWAAAAAAA!” Ia meraung.

Changmin sempat kaget. Entah sejak kapan tombak kakak tirinya itu menembus leher makhluk itu dan berhenti tak jauh dari wajahnya. Pemuda itu dapat melihat tatapan dingin dan keji dari Zhoumi yang sedang memanjat punggung ogre itu. Darah kehitaman menetes dari tombaknya ke daratan bebatuan di sebelah wajah Changmin.

“Berani sekali kau melukai Changmin.” Desisnya.

Alpha itu tercenung melihat kakaknya menebas leher ogre itu. Darah hitam monster itu menyembur kemana-mana, mengotori mereka berdua.

Changmin ternganga. Zhoumi sungguh kuat dan—

Indah.

Ada kekejaman yang takkan disangka oleh orang lain dibalik keanggunan Zhoumi yang selalu tersenyum tenang itu. Sesuatu yang dibutuhkan di medan perang seperti ini. Memang, Changmin tidak pernah bertarung bersamanya sebelum ini. Belum pernah ia terdesak seperti ini sampai mendapatkan bantuan dari saudaranya yang lain selain Siwon.

Changmin terkesima untuk beberapa saat, hingga ia menyadari kehadiran seekor monster lain— namun terlambat.

“H-HYUNG!!!”

Seekor Ogre muncul dari belakang Zhoumi, sosoknya nyaris serupa dengan monster yang baru saja mereka tumbangkan. Pangeran kedua Hviturland bahkan belum sempat mengangkat tongkatnya saat pedang hitam menusuk menembus dadanya.

Changmin tercekat dan Zhoumi terhenyak. Keduanya sama sama memandang pedang hitam yang menyembul tepat di tengah dada Zhoumi. Pangeran kedua itu bahkan tidak sempat bereaksi, yang tertinggal dalam ingatannya hanya warna gelap pedang itu yang mengilap— dan sosok Changmin yang frustasi mengulurkan tangan kearahnya, berteriak tanpa suara.

Changmin menghentak, berusaha membebaskan diri. Tapi semakin kuat ia berusaha, semakin pula energinya terkuras. Sebilah pedang masih menembus bahunya, dan separuh tubuhnya mati rasa oleh beban mayat yang masih menimpanya.

Waktu seakan bergerak melambat. Alpha muda itu hanya bisa terbelalak menyaksikan darah mengalir dari sisi bibir kakaknya. Zhoumi menatap lurus kepadanya, tatapan yang tidak akan pernah dilupakannya, mata violet itu berkilat oleh sakit yang menyerang sekujur tubuhnya.

Monster itu masih memegang pedangnya dari belakang, mempertahankan posisi duduk Zhoumi cukup lama di hadapan Changmin. Seakan dengan sengaja menunjukkan saat-saat kematian Zhoumi di hadapan adiknya.

“Tidak… Tidak—” Changmin mengulurkan tangannya yang gemetar, suaranya tersendat. Dalam bayangannya, ia mendorong mayat di atas perutnya dan menebas kepala monster itu, lalu memeluk tubuh Zhoumi.

Tapi nyatanya ia masih diam disana, terjebak dalam sakitnya luka di bahunya dan perasaan mati rasa separuh tubuhnya. Changmin hanya bisa terbelalak, membiarkan otaknya merekam dalam-dalam saat perlahan dan pasti cahaya violet di mata kakaknya meredup, lalu kosong—

Monster itu menarik pedangnya. Tubuh Zhoumi terkulai seakan tak bernyawa, terbaring diam di atas tanah tandus itu, di tengah perang yang masih berkecamuk.

ZHOUMIIIIIIIIIII!

.

oOoOoOo

.

Siwon menatap kebawah. Tanah berada jauh dari tempatnya berdiri di atas beranda menara yang tinggi, taman di bawah sana ditumbuhi bunga-bunga subur yang melingkar mengelilingnya. Sementara menara ini berdiri sendiri, dilindungi benteng di sekeliling dan dua menara pos biasa. Di luar dinding benteng yang tinggi Siwon hanya melihat tanah-tanah kosong. Dan jika ia menyipit lebih jauh, istana utama Graentland tampak di tenggara. Tampak sedekat itu, meski Siwon tahu betul butuh waktu ekstra untuk mencapainya yang membuat menara ini seakan-akan bukan bagian dari Istana Graentland.

Ia sudah mengunjungi istana utama Graentland, dan sebentar saja instingnya memutuskan agar ia tidak menghabiskan waktu lebih lama di tempat itu, atau di menara-menara di sekitarnya. Dibantu insting, dan sedikit menguping obrolan pelayan yang mengatakan Raja pergi di subuh buta menuju Menara Sunyi –The Silent Tower. Siwon ragu pada awalnya, tidak ingin mengikuti Raja dari atas langit dengan kekhawatiran bahwa keberadaannya akan terlihat dari mata awas pengawal Raja. Tapi di sisi lain, pemuda itu juga tidak tahu letak The Silent Tower yang disebut-sebut itu. Hingga salah seorang menyebut-nyebut arah tenggara, yang membuatnya refleks menatap jauh ke tenggara.

Di luar istana, di arah yang disebut-sebut itu, menara tinggi berdiri seorang diri. Tampak tua, namun terawat dan dihuni. Setelah itu Siwon memutuskan untuk segera sampai ke tempat itu, lebih dulu dibanding Raja Hijau.

Dan disinilah ia berada sekarang. The Silent Tower. Siwon menggiring Sleipnir untuk mendarat di atas atapnya, sebisa mungkin tanpa suara. Demi menghindari Raja Hijau, ia harus mengitari istana Graentland untuk mencapai tempat ini, lalu kembali memutari menara ini untuk menghindari dua orang prajurit yang sibuk mengobrol sembari berjaga di beranda tertinggi menara.

Pemuda itu berlutut, ia menggiring kudanya untuk melakukan hal yang sama. Raja belum sampai ke tempat ini, tapi tubuh Sleipnir yang tinggi mungkin saja tampak dari tanah di kejauhan sana. Jika Sleipnir membungkuk sedikit, tubuhnya yang besar tersembunyi dengan sempurna di balik batu-batu puncak menara.

Sleipnir menurut, tapi kuda itu menatap bingung majikannya, delapan kakinya terlipat kikuk sementara sayapnya dipaksa mengatup. Siwon mengangkat telunjuknya di depan bibir, diusapnya tengkuk Sleipnir sembari membisiki kuda itu menggunakan sihir agar Sleipnir tidak mengikik tanpa disengaja. Dipergoki memata-matai Raja Graentland adalah hal terakhir yang diinginkannya sekarang.

Setelah yakin Sleipnir menyembunyikan diri dengan sempurna, Siwon melepaskan tangannya. Ia menunduk, menatap lantai batu di bawahnya. Dalam hati pemuda itu mencoba mengingat-ingat, mantra apa yang akan membantunya menguping dari tempat ini. Dipisahkan dinding batu yang tebal dan mungkin terpisah lantai-lantai lain sejauh berhasta-hasta jika dugaannya meleset dan ternyata Raja tidak mengunjungi ruangan tertinggi di menara ini.

Entah apa yang dipikirkan Kuixian, membiarkan Ratunya tinggal jauh dari istana utama. Siwon mengernyitkan dahinya, berpikir keras. Tapi bagaimana jika ternyata Raja Hijau bukan mengunjungi Ratu di tempat ini? Bagaimana jika benar dugaan awalnya, bahwa Ratu Junsu-lah yang berbohong padanya.

Tak jauh dari bawah, dua prajurit yang berjaga itu berhenti mengobrol. Lalu suara-suara lain menghampiri. Suara-suara langkah kaki, dan obrolan pendek kaku yang tidak terdengar jelas.

Siwon memejamkan matanya, menajamkan indra pendengarannya. Ia mengatup lantai di bawah kakinya menggunakan kedua tangan, berusaha menyerap suara-suara yang samar itu dengan lebih jelas.

“Dia belum bangun juga?”

Siwon berusaha mengenali suara itu, yang sementara diduganya sebagai suara Kuixian.

“Sama seperti kemarin, Yang Mulia.”

Siwon membuka matanya setengah terkejut. Itu benar-benar Raja. Raja benar-benar naik hingga ke ruang tertinggi menara ini.

“Tinggalkan kami. Turunlah dua lantai dari tempat ini.”

Tidak ada jawaban, yang terdengar selanjutnya hanya derap-derap langkah kaki menjauh dan suara pintu tertutup. Lalu sunyi sesaat.

“Sheng…”

Siwon menahan napasnya mendengar nama itu dipanggil. Ia tengah menduga-duga. Membayangkan melalui suara-suara yang didengarnya… Raja Hijau berdiri tepat di balik dinding yang disentuhnya ini, berdua dengan Ratunya.

“Kenapa dia belum bangun juga? Kau mengatakan akan membangunkannya dalam dua bulan, penyihir!”

Siwon mendelik. Ada orang lain? Penyihir?

“Hamba sudah mencobanya Yang Mulia! Tapi tidak semua sihir cocok dengan seseorang. Hamba akan mencoba lagi, dan terus, tapi hamba tidak bisa melakukannya sendiri. Butuh lebih banyak penyihir lain, darah, persembahan, dan emas.”

“Emas? Kau berusaha memerasku?”

“Hamba mana berani—“

“Aku mengizinkanmu menggunakan sihir apapun. Undang teman-temanmu, Svarturland, Blarland, Radourland, Hviturland, atau Hantu dari Phantom Island sekalipun! Aku tidak peduli, gunakan apapun untuk membangunkannya! Kalau dia sampai mati, kau harus menghidupkannya kembali. Kalau kau gagal melaksanakannya—“

Sebuah jeda. Siwon hampir-hampir mendengar rintihan memelas penyihir itu saat suara dingin raja melanjutkan—

“Kepalamu yang akan kujadikan persembahan.”

Siwon mengepalkan tangannya. Percakapan pendek itu dengan cepat dicernanya. Bulu kuduknya berdiri membayangkan seorang raja mengizinkan sihir macam apapun diembus di bawah menara ini. Bahkan rasnya yang terkenal lahir bersama sihir, memiliki batasan-batasan ketat mengenai sihir hitam. Untuk sejenak Siwon bahkan terlupa, bahwa ia juga bersedia menggunakan ramuan apa saja untuk memisahkan Sungmin dari mate-nya.

“Aku akan kembali lagi besok, Sheng. Aku tahu kau mendengarku, jadi berhentilah merajuk dan cepat bangun.”

Siwon menghela napas dengan tidak sabar, beruntung suara sendu Raja seakan mengakhiri semuanya. Suara langkah kaki pelan terdengar menjauh menuju pintu, diiringi derit pintu yang terbuka cukup lama. Siwon menahan dirinya terus diam di posisinya, hingga Raja dan belasan pengawalnya berkuda keluar benteng dan menjauh dari menara. Setelah rombongan itu semakin jauh dan menghilang, Siwon berdiri, diintipnya dua pengawal yang kembali berjaga di beranda menara. Separuh tidak sabar, Siwon mengangkat tangannya dan melempar sihir ke arah keduanya. Dua penjaga itu tersentak kaget, sebelum menyadari keberadaan Siwon, keduanya jatuh bergelimpangan.

BRUGH!

Suara itu jelas mengagetkan seseorang yang berjaga di dalam. Terlalu tidak sabar, Siwon bahkan terlupa untuk sesaat bahwa seorang penyihir masih ada di sana. Saat ia mendarat di antara tubuh dua pengawal itu, sebundal api meluncur dan nyaris menyerang pinggangnya. Siwon menghindar gesit saat serangan-serangan lain kembali datang menghujaninya. Siwon menghindar hampir dari semuanya, kecuali satu serangan yang telak mengenai wajahnya.

Pangeran itu mengeram marah, untuk sesaat, kulit wajahnya terbakar hingga mati rasa. Siwon memejamkan matanya separuh mengerang, yakin betul bulu matanya terbakar hingga ia kesulitan membuka mata. Serangan itu tidak cukup melukainya, tapi terlalu besar melukai harga dirinya.

Siwon melangkah kokoh, tanpa indramatanya pun ia dapat merasakan serangan-serangan yang berdatangan itu. Tidak satupun api menyentuhnya kali ini. Siwon melangkah makin dekat dengan tangan terayun bosan, melempar balik setiap serangan penyihir itu ke segala arah.

Penyihir itu ketakutan. Siwon tahu itu, ia bisa merasakannya. Mungkin wanita cantik itu mengenalnya atau ia terkejut melihat Siwon menghindari semua sihirnya dengan mudah. Kini saat mata Siwon terbuka lagi, pemuda itu tampak lebih kejam dari sebelumnya. Memar menghiasi bawah matanya.

“Hentikan mainanmu. Kau bisa melukai Ratu.” Desis Siwon saat langkahnya semakin dekat. Penyihir itu terpojok, ia mengayun tangannya dengan frustasi saat Siwon berdiri satu meter di hadapannya. Tapi tangannya gemetar, mantra apapun yang dirapalnya tidak bisa lagi menghasilkan api. Sedang dari jarak sedekat itu, wanita itu menyadari Siwon berdiri menjulang di hadapannya.

Siwon tidak ingin melukai siapapun, ia tidak ingin meninggalkan jejak. Tapi wanita ini merusak rencananya. Setidaknya, Siwon tidak bisa membiarkan siapapun mengingat bahwa ia pernah datang ke tempat ini. Siwon meremas kepala wanita itu, begitu kuat hingga membuatnya memekik kesakitan.

“YAH! L-lepaskan aku!”

“Kau tidak boleh mengingat apapun.” Siwon mencengkeram kepala penyihir itu menggunakan satu tangannya. Berusaha menyerap ingatan penyihir itu dengan paksa, sihir yang jahat, mungkin akan membuat penyihir ini melupakan kejadian beberapa menit lalu, tapi bukan tidak mungkin juga akan merusak otaknya.

Tapi memikirkan jahat-tidaknya perbuatannya sekarang bukan lagi prioritas.

Wanita itu cukup tangguh, ia terus memberikan perlawanan. Menendang, mencakar, meninju dengan membabi-buta, menyulitkan Siwon hingga pemuda itu harus berkali-kali mengulang mantranya. Sesaat kemudian wanita itu mendapatkan kembali fokusnya dan berhasil melempar sihir terakhirnya tepat di dada Siwon.

“UGH!” Siwon mendelik kaget, bahunya menyentak. Jantungnya berdegup kuat sesaat tadi, dan kini menyisakan denyut menyakitkan yang membuatnya kesulitan bernapas. Pukulan bercampur sihir dari jarak sedekat itu cukup untuk membunuh seorang manusia dalam sekejap, tapi Siwon hanya terguncang sesaat. Ia bahkan menolak melepaskan cengkraman tangannya. Dalam kesakitannya, Siwon menekan tenaganya, kini ia menggunakan kedua tangan untuk mencengkeram kedua sisi kepala wanita itu.

“Jangan paksa aku—“ Siwon mengerang. Semakin gila perlawanan wanita itu, semakin kuat Siwon menekan dahinya hingga tanpa sadar ia meremas terlalu kuat dan—

CRACK.

Perlawanan wanita itu berakhir saat keningnya berderak hancur. Darah dan cairan putih otaknya merembes cepat mengotori wajahnya dan jari-jari Siwon. Kedua jempol Siwon terbenam menembus tulang tengkoraknya. Pemuda itu mengerang. Ditariknya kedua jempolnya dengan rasa jijik.

“Sial.” Umpatnya saat menunduk memandang mayat yang merosot di atas lantai. Rencananya untuk datang diam-diam berantakan sudah. Siwon tidak ingin semakin merusak rencananya saat sebuah ide melintasi benaknya. Pemuda itu berjongkok dan cepat-cepat ditanggalkannya pakaian wanita itu. Ia akan memikirkan cara membereskan semua ini nanti, sekarang yang dibutuhkannya adalah darah wanita itu tidak merembes kemana-mana.

“Ugh.” Siwon mengeryit jijik saat ia terpaksa memandang tubuh telanjang itu. Cepat-cepat disumpalkannya semua kain untuk mengelilingi kepala wanita itu, mencegah darah merembes kemana-mana. Setelah selesai, pemuda itu berdiri dan kembali mengerang melihat keadaan di sekelilingnya. Tidak banyak kerusakan, tapi sisa-sisa api yang menghantam dinding meninggalkan bekas arang.

Teringat bahwa pengawal-pengawal menara berdiri dua lantai di bawah sini, Siwon mengayun tangannya. Mengunci pintu ruangan menggunakan sihirnya. Entah keributan yang sesaat tadi dibuatnya akan terdengar hingga ke bawah sana atau tidak. Tapi sementara waktu pintu itu bisa menghalangi siapapun yang bermaksud masuk. Apapun alasan yang membuat pengawal-pengawal itu tidak datang ke ruangan ini, Siwon mensyukurinya. Ia tidak punya waktu untuk meladeni lebih banyak manusia lagi.

Niat awalnya hanya untuk datang dan mengintip berubah menjadi perang kecil. Siwon mendesah lelah. Pemuda itu berdiri diam untuk sesaat, memandang keluar jendela yang terbuka, dimana puncak istana Graentland terlihat. Lalu pemuda itu menunduk, menatap dua tangannya yang terbasuh darah dengan perasaan berat.

Sejauh ini dia berkunjung ke tempat ini, untuk mencuri nyawa seseorang, pikirnya dengan rasa sesal.

Siwon meremas tangannya. Tidak, ia menolak menyesalinya. Membunuh seorang penyihir manusia yang bermaksud melakukan sihir hitam pada bangsanya— Siwon menolak menganggapnya sebagai sebuah kejahatan.

Pemuda itu berbalik mantap, menatap ranjang tinggi yang menjorok jauh di ujung ruangan. Sosok mungil berbaring diatasnya, diam tak terganggu. Selimut melindungi tubuhnya hingga ke dada. Rambutnya yang terang keemasan tergerai panjang hingga ke bahu, tapi tidak cukup menghalangi Siwon untuk menatap jelas wajahnya. Wajah yang begitu familiar nyaris membuatnya tercekat tidak percaya.

Siwon mendekat, langkahnya berubah pelan dan berat. Semakin tipis jarak diantara mereka, semakin Siwon dibuat menganga. Pemuda itu tidak mampu memalingkan pandangannya. Ia menggeleng, sekali, dua kali, terlalu tidak percaya pada matanya sendiri. Hingga ia berdiri dekat di sisi ranjang, sedekat itu hingga ia bisa mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah itu kapanpun ia mau.

Wajah ovalnya yang sempurna, hidungnya yang bangir mungil, bibir plump yang menatup rapat, dan dua tulang pipi yang nyaris tersembunyi oleh daging gempal di pipinya. Matanya terpejam tenang, membuat Siwon bertanya-tanya apa warna dibalik bulu mata lentik yang mengatup itu. Siwon harus mengakui sosok ini terlalu mirip dengan adiknya. Dari ujung keningnya hingga ke bawah dagunya. Jika bukan gerut usia yang sedikit membedakan keduanya. Wajah yang terlelap ini sama cantiknya, namun menguarkan aura anggun yang dewasa. Menguarkan sesuatu yang berbeda meski Siwon seakan tengah menatap wajah tertidur adiknya.

Ranjang tempat Shengmin berbaring dibuat begitu tinggi, pas di bawah pinggang Siwon. Persis setinggi meja coba di kamarnya tempatnya menjajal sihir-sihir dan meletakkan botol-botol. Dan sosok cantik itu, terbaring disana selayaknya hewan percobaan.

“Kenapa kau sampai ke tempat ini?” Siwon berbisik sendu. Ia ingat betul, Hviturland mendapatkan undangan pernikahan Raja Hijau. Mungkin empat? Ah, bukan. Tiga tahun lalu. Dan pengantinnya seorang gadis keturunan manusia. Zhoumi yang datang saat itu, Ayah mereka yang mengutusnya dan Siwon tahu betul adiknya tidak terlalu senang sesumbar tentang sesuatu. Jadilah kedatangannya hanya sebagai basa-basi aliansi diantara Hviturland dan Graentland. Tapi Siwon yakin betul, saat itu berita yang beredar bahwa Raja Kuixian menikahi gadis dari ras yang sama dengannya. Gadis manusia.

“Apa yang kau lakukan disini? Tertidur begitu lama dan membuat Raja Hijau nyaris gila.” Siwon tidak tahu, apakah Shengmin dapat mendengarnya atau tidak. Tapi berbicara padanya seakan menggiring desau aneh dalam hatinya. Seakan ia tengah berbicara dengan Sungmin, yang tertidur pulas tanpa tahu apa-apa— Tanpa tahu bertahun-tahun lamanya Siwon telah mulai mencintainya.

Siwon mengulurkan tangannya, begitu ingin menyentuh pipi lembut dan putih itu saat sadar tangannya kotor bersimba darah. Jari telunjuk Siwon tertahan di atas wajah Shengmin. Niatnya untuk menyibak rambut panjang itu pun urung, karena tangannya yang kotor dan setidaknya rasa keingintahuannya terjawab sudah. Siwon bisa melihat dari sela-sela helaian rambut emas yang panjang, seujung kulit mencuat, putih dan runcing, tampak seperti ujung cuping peri. Ah, tidak. Itu pasti memang cupingnya. Siwon nyaris bisa mengendus aroma Snowelf di sekujur tubuh makhluk ini. Lebih kental dari milik Sungmin meski Siwon juga menyadari perbedaan aroma Shengmin dan Junsu. Junsu belum terikat, Ratu itu bisa mengundang siapapun masuk ke kamarnya tanpa diketahui raja. Seorang omega yang saling terikat pada dominannya akan menjeritkan aroma mengusir pada dominan lain.

Sedang Shengmin—

Aroma yang terendus samar dari tubuhnya jelas memberitahu Siwon bahwa peri itu telah mengikat diri dengan orang lain yang tidak bisa membalas ikatannya, cinta yang berat sebelah. One-side mate. Sakit fisik yang diterimanya hanya akan ditanggungnya sendiri, dan penderitaan fisik yang dialami pasangan manusianya akan ikut ditanggungnya, lalu penderitaan akan berlipat ganda jika ia mengikat diri pada manusia yang tidak setia.

“Dia pasti Kuixian?” tebak Siwon pada Shengmin, jelas tidak mendapat jawaban. Sudah pasti Kuixian, Siwon tidak mendebat dirinya sendiri tentang hal itu. Siwon teringat, pada perjumpaannya dengan Kuixian dua tahun silam. Saat itu, Kyuhyun bersembunyi disini dan meninggalkan Sungmin sekarat di Istana Merah. Kuixian mengatakan sesuatu padanya, tanpa disadarinya. Siwon tidak menangkap arti ekspresi Raja Hijau kala itu, tapi kini ia mengerti.

“Dia bilang dia mengerti tentang hukum mate— dia mengerti karena pernah melanggarnya? Siluman kelinci, katanya.” Siwon tertawa dan menggeleng tidak percaya. “Kuixian menyembunyikanmu, kan? Dan kau dengan bodohnya mengorbankan kesucianmu untuknya, mengikat diri menjadi matenya, lalu dia mengkhianatimu demi seorang gadis manusia?” tebak Siwon yang mulai merangkai-rangkai dugaannya.

“Omega bodoh.” Siwon tertawa kecil, antara geli dan getir. “Kuixian lebih bodoh lagi. Meninggalkanmu demi seorang anak gadis manusia yang fana.”

Siwon tidak mengerti. Omega ini adalah saudara kembar Jaejoong— pelacur raja. Tapi entah bagaimana ia tidak bisa membangkitkan kebencian yang sama yang dirasakannya pada Jaejoong. Semakin lama ia memandangi wajah Shengmin, semakin berat perasaannya oleh desir aneh.

Siwon mencoba memperhatikan lebih lama, mengukir detil sketsa wajah Shengmin dalam benaknya. Hingga suara debam kaki menapaki tangga terdengar jauh. Pemuda itu mengangkat kepalanya dengan waspada. Ia menatap Shengmin untuk yang terakhir kali sebelum berbalik.

“Kau bukan Sungmin.” Siwon berusaha mengingatkan dirinya sendiri. “Tapi mungkin aku akan kembali lagi.”

Siwon mendesah saat kembali dihadapkan pada situasi berantakan yang dibuatnya di ruangan ini. Separuh tak ingin ia memutuskan, “Ini bisa jadi peringatan untuknya.”

Untuk Kuixian. Putus Siwon dengan berat hati.

Kuixian akan berpikir dua kali untuk menggunakan sihir macam-macam di tempat seperti ini lagi. Tapi kemungkinan juga ia akan menyembunyikan Shengmin di tempat lain, mengirim lebih banyak pengawal, dan memasang lebih banyak penjaga, menyulitkan Siwon jika suatu saat ia bermaksud kembali, bukan tidak mungkin Raja itu berusaha mencari tahu siapa orang yang bisa melakukan kerusakan macam ini—

Siwon mengerang. Ia memutar pandangan, dan menatap ruangan itu sekali lagi. Akhirnya pemuda itu mendesah lelah. Terpaksa menggunakan sihirnya lebih dari biasa, ia akan merasakan dampaknya nanti, tapi setidaknya sekarang— ia harus membersihkan semua ini.

Siwon mengayunkan tangannya dengan lemas. Kursi-kursi yang berjungkir terbalik kembali tersusun rapi, perabotan yang berantakan dikembalikan ke posisi semula, dan sisa hitam arang didinding dihilangkan. Siwon mengembalikan situasi ruangan itu sesempurna yang bisa dibuatnya, tapi ia tidak mampu memperbaiki benda yang terlanjur hancur. Dikumpulkannya serpihan-serpihan batu dan kaca ke satu sudut, lalu dibungkusnya menggunakan kain yang berlumur darah.

“Kau yang paling merepotkan—“ Siwon mengerang saat dengan terpaksa ia berjongkok, menggendong mayat itu dan sebisa mungkin memposisikan bagian kepala jauh darinya.

.

oOoOoOo

.

Kyuhyun lupa sejak kapan mimpi buruk itu dimulai. Meski tidak terjadi setiap hari, setidaknya mimpi buruk itu datang secara pasti setiap satu minggu dan kejadian itu terus terulang hingga Kyuhyun mulai berpikir untuk meminta bantuan tabib atau bahkan mengadukan hal ini pada ayahnya, menyampingkan harga diri dan rasa malunya karena semakin lama perasaannya membisiki sesuatu yang buruk.

Sungmin kerap terbangun tengah malam, setelah cukup lama menangis dalam tidurnya, menggapai-gapai seakan mencari pertolongan dari alam bawah sadarnya. Di malam-malam tertentu ia berteriak, memekik ketakutan. Kakinya mendorong kasar seakan di dalam mimpinya ia tengah berlari dari sesuatu. Tapi setiap malam ia akan menjeritkan hal yang sama—

“T-tidak! J-jangan mendekat! T-tidak!”

Dan Kyuhyun terbangun lagi malam itu, mendengar teriakan jelas dan berulang-ulang dari sisinya.

“Min-ah…” Kyuhyun menguap, tangannya bergetar lelah saat dikatupnya mulutnya sendiri. Ia baru berbaring dua jam lalu dan tersentak bangun karena hal yang sama sejak beberapa minggu lalu. Kyuhyun berbaring miring dan mengusapi pinggul Sungmin, berharap hal itu bisa membawa matenya kembali terlelap tenang. Biasanya usapan lembut itu selalu berhasil menenangkan Sungmin tanpa membangunkannya. Lalu esok paginya pemuda itu sudah akan lupa mimpi buruk macam apa yang dialaminya, membuat Kyuhyun juga ikut melupakannya hingga hal yang sama berulang di malam selanjutnya.

“H-hyung! Kyuhyun-hyung!”

Kyuhyun berpikir Sungmin terbangun karena mendengar suaranya. Pemuda itu menggeliat, dan Kyuhyun merangkulnya makin dekat. Tapi kemudian pekikan frustasi itu berlanjut. Tubuh Sungmin gemetar dalam pelukan Kyuhyun, menyadarkan Kyuhyun bahwa mate-nya masih berada di alam mimpi.

“Tidak! K-Kyuhyun-hyung! Tolong aku! T-tidak! J-jangan mendekat, monster!” Sungmin menggeliat kesana kemari, wajahnya berlinangan airmata, kedua pipinya memerah dan bibirnya gemetar ketakutan. Penampakan mengenaskan Sungmin membangunkan Kyuhyun sepenuhnya, ia beranjak lebih tegap dan menarik kepala Sungmin ke dadanya. Apapun mimpi buruk yang dialami matenya sejak berhari-hari lalu, malam ini yang terparah.

“Sssh, chagi— Hei, Sungmin-ah.” Kyuhyun mulai menepuki pipi Sungmin saat panggilannya tak berhasil membangunkan pemuda itu. “Sungmin-ah? Sssh, hyung disini. Yah, bangun Sungmin-ah.”

Meski tidak lagi berteriak, Sungmin terisak. Lalu perlahan-lahan kedua mata basah itu terbuka, beberapa kali ia mengerjap, membuat tetes-tetes airmatanya makin berlinangan. Sungmin mematung untuk sesaat, matanya yang basah menatap kosong ke atas. Lalu pemuda itu menyadari keberadaan Kyuhyun, setelah bermenit-menit keheningan diantara mereka.

“H-HYUNGG!” Sungmin menghambur memeluk leher Kyuhyun, dan tangisnya kembali pecah. Dengan segenap tenaganya ia berusaha memeluk Kyuhyun, melingkarkan kakinya di pinggang Kyuhyun dan tangannya mengitari dada Kyuhyun, begitu lega dan khawatir di saat yang bersamaan. Sungmin mengintip dari balik dada hyungnya, “H-hyung, hyung bunuh monster itu! M-mana monster itu? M-mana!” Sungmin mengawasi sekeliling ruangan dengan panik, belum sepenuhnya menyadari bahwa ia berada di kamarnya dan hanya ada Kyuhyun bersamanya.

Kyuhyun menatapnya bingung, tapi sebisa mungkin ia tidak bertanya. Dengan lembut dibalasnya pelukan Sungmin, diusapnya punggung matenya sembari berujar lembut. “Tidak ada monster disini, Sungmin-ah.”

Sungmin tidak mendengarkan. Sebesar apapun Kyuhyun berusaha menyakinkannya, pemuda itu berada diantara kesadarannya bahwa seluruh kejadian di dalam mimpinya benar-benar nyata. “M-mana dia? D-Direwolf putih itu! D-dia mau menerkamku, cepat cari dia hyung! Dia pasti sembunyi di ruang mandi, palli hyung!

Kyuhyun membuka mulutnya, tercekat untuk sesaat.

“Direwolf putih?” Kyuhyun tidak sadar telah menyuarakan isi hatinya. Pertanyaan itu berbunyi begitu saja dari mulutnya, memancing semakin banyak rentetan frustasi Sungmin yang meminta diselamatkan dari Direwolf putih khayalannya. “Nde hyung, c-cepat cari dia! Bunuh dia!” Airmata Sungmin kembali deras berlinangan. Wajah serigala besar berbulu putih yang mengeram marah padanya masih terbayang jelas di benaknya.

Kyuhyun mengerutkan dahi, tapi cepat-cepat ia menyembunyikan rasa bingungnya. Dipeluknya Sungmin dan diusap-udapnya punggung itu lagi. “Sssh, Min-ah. Lihat, jendela terkunci, pintu tertutup, dan kau masih mengenakan gaun tidurmu. Itu hanya mimpi buruk. Tidak ada Direwolf disini selain aku, dan kau ingat apa warna bulu hyung-mu?”

Sungmin mendongak dengan mata berkaca-kaca, lama sekali sebelum ia menjawab sembari terisak. “Cokelat.”

“Nah. Kalau begitu tenang. Tidak ada monster disini, kau hanya terlalu banyak main sampai mimpi buruk begitu.” Kyuhyun mengecup kedua mata basah Sungmin lalu naik ke kening, ia bermaksud memeluk pemuda itu lagi saat tiba-tiba ia tersadar—

“Yah, Min-ah! Jangan terlalu erat, kasihan baby-ah!” Kyuhyun memisahkan diri dari Sungmin dengan panik. Sejak tadi mereka menekan bayi kecil di dalam perut Sungmin. Tapi Kyuhyun tidak sadar, sikap protektifnya barusan justru membuat Sungmin memberengut dalam-dalam.

Saat Kyuhyun mengusap-usap perut matenya sayang sembari membisikkan kata maaf, Sungmin bahkan tidak berniat meletakkan tangannya di atas perutnya sendiri. Perbuatan Kyuhyun sudah cukup membuatnya jengkel, dan kontan terlupa dengan mimpi buruk mengerikan yang membuatnya menjerit dan menangis beberapa menit lalu.

“Bajumu basah, biar kucarikan baju yang baru.” Kyuhyun teringat lagi pada mimpi buruk yang dialami Sungmin dan mendesah khawatir. Tentang apapun mimpi buruk itu, Kyuhyun tidak bisa lagi mengabaikannya. Mimpi buruk itu tidak lagi sepele saat matenya berkeringat bagai kehujanan setelah mengalaminya.

“Tidak mau ganti baju!” Sungmin tiba-tiba menolak dengan suara memekik. Pemuda itu duduk di atas ranjangnya dengan bibir terlipat.

“Bajumu basah, kau bisa masuk angin, baby-ah bisa masuk angin.”

“Pokoknya tidak mau!” Sungmin melipat tangannya di depan dada, makin ngotot setelah mendengar alasan Kyuhyun. Selalu saja baby, baby dan baby.

Kyuhyun mendesah, memilih mengalah dan kembali ke ranjangnya. “Yasudah, tidak perlu ganti baju. Kita tidur lagi, arraseo?

Sungmin menjawab dengan rengutan, tapi dalam diam pemuda itu berbaring miring memunggungi Kyuhyun, sebelah tangannya memeluk dada hingga ke punggung. Kyuhyun tertawa kecil melihatnya, jelas mengerti saat Sungmin ingin menunjukkan sikap merajuk tapi juga tetap meminta untuk dipeluk. Kyuhyun tentu dengan senang hati menurutinya, dipeluknya tubuh Sungmin dari belakang. Sungmin menggeser tubuhnya mundur agar bisa berbaring lebih erat dari Kyuhyun.

Kyuhyun mengulurkan tangannya, bermaksud mengusap perut Sungmin. Namun baru dua detik tangannya mendarat di sana, tangan lain yang jauh lebih kecil mendarat di atas punggung tangannya, menarik tangannya dan mengoper posisi tangannya ke atas kepala pemuda itu.

Kyuhyun menggigit bibirnya, perutnya bergetar karena ia tengah mati-matian menahan tawa. Ia menuruti permainan Sungmin. Sebentar, diusapnya kepala pemuda itu hingga Sungmin merasa menang dan menurunkan tangannya sendiri, mengira Kyuhyun akan melanjutkan usapannya tanpa perlu diawasi. Lalu saat matenya lengah, Kyuhyun cepat-cepat menurunkan tangannya dan mengusap perut Sungmin.

Pemuda itu terhenyak marah, menarik tangan Kyuhyun, dan mengembalikan tangan besar itu ke atas kepalanya. “Jangan dipindah lagi!” serunya kesal.

“Pfffttt!” Kyuhyun tertawa tertahan, tangannya gemetaran saat diusap-usapnya kepala Sungmin separuh terpaksa. Sungmin mendengus, tidak peduli. Yang penting tangan Kyuhyun sekarang mengusapinya, bukan mengusapi makhluk itu.

‘Makhluk kecil perebut perhatian Kyuhyun-hyung!’ Sungmin menggerutu dalam hati.

Sungmin hampir terlelap saat gelombang kecil menghantam perutnya dari dalam. Pelan, menyakitkan, masih bisa ditahan namun pemuda itu refleks melenguh, “Ugh.” Sungmin ia buru-buru menggigit bibirnya. Sesaat tadi tangannya hampir meremas perut, tapi Sungmin menariknya lagi dan meletakkan tangannya di atas ranjang, menahan diri untuk tidak meremas selimut dan menahan diri agar Kyuhyun tidak memergokinya yang hampir menyentuh perutnya. Lagipula, ia memang sedang perang dingin dengan makhluk kecil dalam perutnya itu.

Tapi sayang sekali Kyuhyun terlanjur melihatnya.

“Nah, perutmu sakit kan? Biarkan hyung mengelusnya.”

Kyuhyun menurunkan tangannya, tapi Sungmin cepat-cepat menangkapnya dan mengembalikan tangan Kyuhyun ke atas kepalanya. “Sudah tidak sakit! Kepalaku yang sakit! Usap kepala saja, kepala!”

Kyuhyun menggeleng tidak percaya. Ia menyadari sikap kekanakan Sungmin sejak lama, sikap kekanakannya yang memusuhi bayi mereka sendiri— darah daging mereka. Tapi tidak pernah semenggelikan ini. Kyuhyun tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi saat bayi mereka sudah lahir nanti. Bagaimana kalau Sungmin menolak menyusui bayinya, menolak mengasuh bayinya, menolak berbicara dengan bayinya, dan parahnya bagaimana kalau Sungmin— menantang bayinya berpedang???

Kyuhyun menelan ludah horror, tidak bisa berbohong kalau bayangan itu tampak sangat menakutkan dalam benaknya. Tapi biarlah itu menjadi urusannya nanti. Bisa-bisa ia mengalami mimpi buruk seperti Sungmin jika terlalu sering memikirkannya.

“Kenapa tidak bergerak! Cepat usap!”

Kyuhyun tersadar dari lamunannya saat Sungmin menyentaknya. Sembari menggerutu, Kyuhyun menuruti permintaan Sungmin, meski bibirnya bergerak-gerak mengejek di belakang kepala Sungmin. Kalau tidak sedang mengandung, Kyuhyun tidak akan segan mencubit pinggul matenya.

Sebentar saja, Sungmin kembali terlelap dalam mimpinya. Sedang Kyuhyun masih terus menggerakkan tangannya dan mengusap. Pemuda itu mengernyitkan hidungnya, menyadari aroma berbeda dari tubuh Sungmin. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, dan mengendus lebih lama. Sungmin benar-benar menguarkan bau yang berbeda. Bau amis es khas Snowelf tidak tercium sama sekali. Kyuhyun malah mencium aroma lain— aroma khas rasnya sendiri. Aroma serigala. Apa ini ada hubungannya dengan calon putra mereka?

Kyuhyun mengerutkan dahinya dalam-dalam. Tidak mungkin. Gumamnya dalam hati. Meski terasa ganjil, Kyuhyun berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

‘Mungkin karena dia mandi cukup lama sore tadi.’

.

oOoOoOo

.

Siwon berjalan menyusuri pasir tepi pantai Blarland seperti yang dia lakukan seribu kali sebelumnya. Siwon tahu, meski datang tanpa mengabari Heechul lebih dulu, Ratu Biru pasti sudah mengetahui kedatangannya sejak saat ia terbang di atas wilayah Blarland. Ratu itu selalu tahu hampir semua yang terjadi di daerah kekuasaannya, lebih daripada Rajanya.

Pemuda itu berjalan kaku, mengabaikan Nymph rawa yang berterbangan mengerubunginya, ia bahkan meninggalkan Sleipnir tanpa mengaitkan kekangnya kemanapun, berpikir bahwa kudanya tidak akan pergi tanpa izinnya dan semua yang diinginkannya sekarang adalah segera berada di istana Blarland—  Sebelum matahari terbenam, sebelum bayangan dalam benaknya ikut hilang dengan datangnya angin malam.

“Selamat datang Siwon-ah! Bagaimana kabar adikmu dan bakal keponakanmu?”

Siwon tahu ia selalu disambut baik di tempat ini. Tapi Siwon sedang tidak ingin meladeni basa-basi Heechul kali ini. Terlebih jika ia bisa merasakan samar ejekan dalam suara Ratu Biru.

“Kau tahu Sungmin mengandung?”

“Oh, ayolah. Lima negara sudah tahu, bahkan sepertinya Phantom Island juga sudah tahu.” Heechul terkikik-kikik pada candaannya itu, tapi melihat Siwon tidak merespon dan hanya berdiri kaku membuat tawanya terhenti. Heechul berdehem malu.

“Kau tahu berita semacam itu menyebar secepat api membakar rumput kering. Apalagi dengan gosip-gosip yang menggentayangi tahta Youngwoon selama puluhan tahun. Saking terkenalnya bahkan kutukan itu punya julukan— Cursed Crown kata orang-orang. Tahta yang dikutuk! Bayangkan! Enam anaknya perempuan! Bahkan ada yang bilang kalau ayahnya sendiri yang mengutuk tahta Youngwoon, agar dia tidak punya putra selama-lamanya. Ada juga yang bilang dia pakai sihir hitam untuk mendapatkan putra. Oh, aku ingat betul pangeran bungsu yang tampan dan angkuh itu dulunya anak yang sakit-sakitan. Terus dimanja ayahnya sampai ia memutuskan menikahi istri pertamanya di usia yang sangat muda, kau tahu? Istri yang sebelum adikmu?”

Siwon mengerang mendengar adiknya dibawa-bawa dalam gosip Heechul. Ia mengangkat tangannya, berusaha menghentikan ocehan Heechul. “Hyung, kau bahkan belum mendengar alasan aku datang kemari.”

“Diam! Aku sedang ingin cerita!” Heechul membentak garang, lalu dengan cepat ekspresinya berubah ceria, sembari mulutnya melanjutkan cerita. “Saat itu Kyuhyun masih tiga puluh tahun katanya, atau dua lima? Ah, berapapun yang pasti usianya saat itu terlalu muda. Sama mudanya seperti kau dipaksa mengambil mate sekarang, atau anak manusia yang baru mimpi basah dipaksa menetek pada wanita yang bukan ibunya. Oh, aku ingat betul berita kemarahan Youngwoon yang terdengar sampai kemari. Bukan soal kawin terlalu cepat, tapi karena istrinya seorang manusia! Cara terbaik untuk mempermalukan seorang raja dan menolak mewarisi tahta ayahnya. Susah payah Raja Merah mendapatkan putra, dan putranya menolak menjadi suksesinya. Ya, kan? Lima negara tahu itu!” Heechul berusaha mencari dukungan, yang dengan mudah didapatnya dari dayang-dayang disekitarnya. Duyung-duyung muda yang kini duduk menggunakan kaki jelmaan merapat padanya, saling mengangguk dan mendukung kebenaran ucapan Heechul secara absolut. Membuat Ratu itu semakin bersemangat untuk bergosip.

“Hyung—“ Siwon mengerang, tidak tahan mendengarkan celotehan Heechul yang tidak bisa dihentikan.

“Kelahiran Kyuhyun harus dibarengi dengan Ratu yang sakit-sakitan, dan Ratu yang sekarang menunjukkan gejala buruk yang sama seperti ratu sebelumnya. Apa lagi artinya itu kalau bukan kutukan! Sekarang rakyat Radour tengah bersenang hati karena mengira kutukan itu hanya kebohongan setelah adikmu mengandung. Tapi kita tunggu saja, aku tahu kutukan diantara mereka benar-benar ada dan aku tahu hanya aku yang bisa mematahkan kutukan itu. Ya, kan?” Heechul duduk di tahta suaminya sembari bercerita dengan menggebu-gebu. Dayang-dayang disisinya memanas-manasinya untuk melanjutkan. Tapi Siwon mematahkan semangatnya, dengan cara yang dikenalnya dengan baik.

“Kau bermimpi mematahkan kutukan yang turun bergenerasi,” Siwon tertawa, mengejek. “Ramuanmu bahkan tidak berguna.”

“Yah! Maksudmu kau menyalahkan ramuanku? Kau meremehkanku?”

Sesuai harapan Siwon, Heechul berseru tersinggung.

“Aku tidak meremehkan! Itu kenyataan!”

Heechul mengerang. Menahan diri sekuat tenaga untuk tidak membuka mulutnya, sebentar saja. “Kalian keluarlah!” perintahnya galak pada dayang-dayang itu. Heechul tahu pelayannya tidak akan sesumbar menyebarkan apapun yang dikatakannya pada orang di luar kerajaan. Tapi waspada lebih baik. Dinding-dinding balairung ini terlindung sihir, siapapun yang tidak berada di dalamnya tidak bisa mendengar apapun yang terjadi di sini.

Setelah gadis-gadis itu menghilang, amarah Heechul kembali meledak.

“Ramuanku bekerja pada puluhan pasangan sebelumnya! Bahkan mereka mengemis untuk mendapatkan ramuan ajaibku, dan kau disini datang jauh-jauh untuk memfitnahku? Oh, sudah bosan beraliansi denganku rupanya!”

“Oh, aku memfitnahmu?” Siwon mendengus geli. Tidak percaya ia ikut terpancing menjadi sekesal ini. “Aku yakin kau sudah dengar gosip dari mata-matamu, adikku hampir mati! Melindungi matenya setelah kau janji tidak akan terjadi apa-apa padanya!”

Heechul menggerutu. Sebentar amarahnya berubah menjadi rasa jengkel. Ia juga tidak bisa menyalahkan Siwon, karena ia sudah mendengar kabar itu dari mata-matanya, begitu detail hingga Siwon tidak perlu tahu darimana ia mengetahuinya. “Ada yang salah. Pada adikmu, maksudku. Bukan pada ramuanku.”

“Kau menyalahkan Sungmin sekarang?”

Heechul menghentakkan kakinya jengkel. “Tidak mungkin ramuanku yang salah, kalau kau tidak percaya sebut saja satu pasangan mate lain untuk dipisahkan! Pasti ada yang salah. Aku tidak tahu pasti, tapi aku yakin sekali— aku harus memeriksa adikmu secara langsung.”

“Oh, kau berharap setelah ini aku datang dengan ceria ke Radourland, menjalin hubungan persahabatan dengan Kyuhyun agar diizinkan membawa matenya kemari. Kau pikir aku bisa mengatakan padanya ‘Bolehkah aku membawa mate-mu untuk menemui Ratu Blarland supaya aku bisa memisahkanmu dan dia?’ Begitu?” Siwon mencibir mengejek.

Heechul memberengut makin dalam. Tidak senang dipojoki seperti itu. Ia berujar kesal, “Soal bagaimana kau mempertemukan kami itu urusanmu! Pokoknya ada yang salah pada adikmu, bukan ramuanku!”

Siwon duduk di salah satu bangku, sudah lelah melanjutkan perdebatan itu. Heechul juga tidak melanjutkan, mungkin masih merasa malu. Karena mata-matanya sendiri yang mengatakan bahwa ramuannya tidak berefek pada Sungmin. Tetap saja ia tidak bisa menerima kegagalan itu. Ada hal lain, Heechul yakin.

“Kau memintaku menyebutkan satu pasangan untuk dipisahkan?” Siwon berujar tiba-tiba, setelah begitu lama merenungi sesuatu.

“Ya, sebutkan siapapun!” sahut Heechul angkuh. Wajahnya terangkat pongah, yakin pada kemampuannya untuk membuktikan bahwa ramuan buatannya bukan kegagalan. Tapi Siwon tidak menjawab untuk waktu yang lama, pemuda itu memandanginya dengan senyum aneh yang membuat Heechul bergidik dan menyimpulkan sendiri.

“O-omo! K-kau tidak akan menyebutkan namaku dan Geng, kan? Aku tahu aku memang sangat cantik bocah, tapi jangan harap!”

Siwon mendengus, lalu melanjutkan. “Kau tahu Raja muda Graentland dan Ratunya yang sedang koma?”

Mata Heechul memicing. Sebentar saja ia menyesali janjinya. Ia tidak menyangka Siwon akan menyebutkan seorang raja dan ratu sebuah negri sebesar itu sebagai pasangan percobaannya. Tapi ucapan itu sudah keluar dari bibirnya— siapapun, katanya.

Dan melanggar janji adalah sesuatu yang paling Heechul benci.

.

oOoOoOo

.

“Persiapan acara peresmian hari ini mencapai 60%. Para tukang hanya tinggal menghaluskan patung Dewa yang akan berdiri di gerbang Elm’s Deep. Angin laut cukup tenang. Namun jika cuaca mulai diluar kendali, pasukan penyihir kerajaan akan turun sebagian untuk memasang tabir pelindung agar persiapan acara tidak terkendala.”

Kyuhyun mempertahankan dirinya untuk tidak terang-terangan menghela napas terlebih membawa kepalanya menunduk. Alih-alih menyimak dengan seksama saat sekretaris acara peresmian itu menjelaskan progress persiapan mereka, pikirannya melayang kemana-mana. Ada banyak hal yang bisa dia kerjakan selain mengikuti rapat persiapan acara yang membosankan ini—meskipun ujung-ujungnya ia hanya menghabiskan waktu menemani mate-nya bermain.

Pangeran mahkota itu mengamati sekelilingnya, banyak orang yang hadir saat itu. Kebanyakan wajah-wajah tua yang familiar—para menteri, perwakilan dewan, anggota kerajaan di pelabuhan, dan beberapa orang kakak iparnya.

Kyuhyun melirik ke sisi kanannya, Raja Merah tampak fokus mendengarkan sambil sesekali melihat gulungan kertas yang ada di tangannya. Para asistennya, salah satunya Yonghwa, duduk tak jauh di belakangnya.

Ia teringat saat ia dipaksa hadir oleh ayahnya itu pada saat upacara pembukaan peringatan hari besar Radourland yang dirayakan tiap satu dekade. Menteri Pertahanan mereka, Sungyun, pernah berbincang sebentar dengannya.

“Kau benar-benar mirip seperti sang raja waktu muda dulu. Dia juga tidak suka acara formal seperti ini dan sering kabur dari istana.”

Begitu ujar orang tua yang saat ini sedang duduk di ujung meja panjang itu.

‘Sungguh tak bisa dipercaya. Appa sama sekali tidak terlihat terpaksa mendatangi pertemuan-pertemuan membosankan ini setiap harinya. Apa aku akan jadi seperti ini juga jika sudah waktunya?’ Memikirkannya saja membuat pemuda itu malas.

Lalu Sungmin…

Memangnya bisa bocah itu menjadi ratu yang berwibawa?

Dia akan menjadi ratu paling cengeng sejagat raya kalau Kyuhyun benar-benar diangkat menjadi raja nanti. Dan tentunya itu akan sedikit membuat Radourland malu di saat sosoknya dibutuhkan pada acara-acara khusus.

Kyuhyun mendengus. Meskipun cuma dari kalangan rakyat jelata, kekasih ayahnya itu bahkan cukup mampu tampil tanpa membuat malu negri merah. Saat dia sehat dulu tentunya. Mungkin masih ada yharapan untuk Sungmin mendewasakan diri. Lagipula dia memang belum berumur 20 tahun—sangat belia untuk usia ras snowelf yang rentang umurnya lebih panjang dari siluman.

Dan sejujurnya ia masih enggan mewarisi tahta sang ayah. Tapi selagi orang tua ini masih hidup dan sehat, Kyuhyun masih bisa bebas. Mau tidak mau memang ia harus mendoakan ayahnya itu panjang umur untuk menghindari tanggung jawab yang besar ini.

Pikirannya melayang-layang lagi. Ia teringat Sungmin kembali.

Sedang apa Snowelf itu sekarang?

Mungkin dia sedang main ke taman dengan kelinci dan peliharaannya yang lain?

Atau jangan-jangan dia ke tempat orang berlatih pedang.

Tidak… Kyuhyun sudah memperingatkan Hyukjae agar membubarkan pasukannya kalau Sungmin muncul. Hyukjae tidak akan melanggar perintahnya.

Dan mudah-mudahan dia tidak sedang bertengkar dengan baby-ah. Itu mengingatkan dia akan mimpi buruk yang kerap dialami Sungmin belakangan ini. Kyuhyun menunggu pertemuan yang terasa begitu lama itu selesai, lalu mengekori sang raja dari belakang sembari menunggu semua orang bubar dari ruangan dan beberapa orang masih berbicara kepada Kangin sambil berjalan menyusuri aula.

“Yang Mulia, mengenai audiensi besok. Kami sudah menyeleksi sepuluh orang yang berhak berpartisipasi untuk bulan ini.” Pemuda tinggi kurus itu melapor.

“Baik. Jemput aku menjelang waktu audiensi besok pagi. Sekarang pergilah.” Kangin tahu ada sesuatu yang ingin dibicarakan putranya itu.

Biasanya dia langsung menghilang begitu acara selesai, namun sekarang dia mengekor kemana Kangin bergerak dalam diam. Begitu hanya tinggal mereka berdua, Kangin menoleh.

“Ada apa?”

“Appa, aku ingin bertanya. Soal Sungmin.” Ujarnya pelan sambil melangkah mendekat.

“Ikut aku ke ruangan. Tidak baik bicara di tempat umum seperti ini.”

Kedua orang ayah dan anak itu melangkah ke bangunan raja, kemudian duduk berdua di ruangan pribadi raja.

Kangin berpikir sejenak, memandangi wajah serius putranya itu. “Apa yang terjadi dengannya? Kandungannya baik-baik saja kan?”

“Kuharap begitu… Hanya saja, sudah seminggu ini dia selalu mimpi buruk. Dia bilang dia selalu bermimpi diserang oleh seekor… direwolf putih.”

Kangin mengerutkan dahinya. “Direwolf putih? Di sejarah keluarga ini, tidak ada sama sekali keturunan direwolf yang berwarna putih, Kyu. Harusnya kau tahu.”

“Aku mengerti! Maksudku… Apakah itu suatu pertanda, Appa? Aku mengira… Mungkinkah itu adalah sosok bayi yang ada di kandungan Sungmin? Apa mungkin dia mencoba berkomunikasi dengannya?”

Kangin mengerutkan alisnya mendengar imajinasi Kyuhyun itu, lalu tertawa kecil.

“Tidak mungkin, Kyu. Bayi siluman, walaupun keturunan raja sekalipun belum akan ketahuan wujud keduanya sampai ia mencapai usia tertentu. Kau lahir dalam wujud serigala, memang. Tapi sampai usiamu delapan tahun kau tidak pernah berubah lagi. Meskipun masuk akal menyangkut-pautkan warna putih itu dengan ibunya yang seorang snowelf, tapi tidak.” Kangin menggelengkan kepalanya.

Kyuhyun mengerutkan hidungnya, tidak puas dengan jawaban itu. Pertanyaan masih penuh di kepalanya.

“Apa dulu… Eomma juga mengalami hal yang sama? Apa dia pernah mendapat mimpi atau penglihatan seperti itu sewaktu mengandung noona-noona atau aku dulu?”

Kangin terdiam, matanya menatap jauh tak fokus. Kemudian dia melirik kemana-mana dan merapatkan bibirnya ke belakang.

“Sejujurnya, aku tidak tahu Kyu…” Dia melanjutkan. “Saat kau masih dalam kandungan, aku jarang bertemu dengannya. Di tahun-tahun itu, kerajaan sedang bergejolak. Perang sedang berlangsung dan ada konflik dalam kerajaan, banyak pihak-pihak yang mencoba menghalangiku meneruskan tahta.”

Mata Kangin tidak bertemu dengan Kyuhyun. “Aku hanya bisa menemuinya sesekali, namun ia tak pernah bercerita apapun.”

Alis Kyuhyun berkerut kesal. Jadi benar bahwa ayahnya tidak pernah mempedulikan ibunya.

“…Berarti itu hanya mimpi?” Tanya pemuda itu lagi, menghindari komentar kasar yang sebenarnya ingin ia utarakan kepada ayahnya.

“Kuharap, ya. Sungmin tidak punya kemampuan penglihatan masa depan, kan? Akan sangat tidak menyenangkan kalau ternyata direwolf putih itu adalah musuh, mengingat hanya ada dua Direwolf yang tersisa di garis keturunan ini. Akan sangat merepotkan kalau ternyata kita salah hitung selama itu” Kangin menepuk-nepuk bahu Kyuhyun sembari tertawa.

“Bagaimana kalau kau memang salah hitung? Bagaimana kalau kau punya anak haram di kerajaan lain, dan mereka sedang berencana menggempur kerajaan kecil mu ini. Aku tidak ikut-ikutan kalau itu sampai terjadi.”

“Yah… yah… kenapa kau menuduhku seperti itu?”

“Siapa yang tahu? Di sini juga kau punya beberapa orang selir kan? Apa dari mereka tidak ada yang mendapatkan anak darimu?”

Kangin tertawa sombong. “Raja memiliki beberapa selir itu wajar kan? Ryeo Won maupun Leeteuk, tidak akan sanggup ‘mengurusiku’ sendirian, Kyu. Dan tidak, aku tidak pernah menghamili selir.”

“Jangan bangga soal itu! Tsk, dasar orang tua mesum!” Kyuhyun kesal mendengarkan informasi yang tidak penting itu.

“Untunglah aku tidak sepertimu, Appa.” Pemuda itu melotot serius kepada ayahnya.

Kangin hanya meliriknya diam, mendengarkan.

“Aku tidak akan mengambil selir maupun pasangan lain yang akan membuat perasaan dan jiwa mate-ku terluka.” Ia diam sejenak sebelum melanjutkan. “Aku menyesali yang pernah terjadi, namun sekarang… aku tidak akan meninggalkannya lagi selama ia membutuhkanku, selama ia mengandung anakku, apapun yang terjadi aku akan bersamanya. Dan aku akan selalu meluangkan waktu untuk sekedar bermain bersama, dan melihat anakku tumbuh dewasa. Tak peduli anakku itu laki-laki atau perempuan.” Sindirnya terhadap Kangin yang jarang menghabiskan waktu bersama keluarga karena sibuk mengurusi pemerintahan Radourland, dan di saat senggangnya ia malah menghilang… mungkin ke tempat kekasihnya itu. Semua itu tak lekang dari ingatannya sejak ia masih kecil dulu.

Akan tetapi reaksi yang didapatkannya tidak sesuai harapannya.

Kangin menyeringai lalu tertawa sebentar.

“Sudah berapa lama kau memendam isi hatimu ini, Kyu? Kenapa baru kau katakan sekarang?” Tanya raja merah itu sambil tersenyum.

“Kau takut padaku, eh?” Mereka berpandangan, namun sang putra mahkota tidak mengatakan apapun.

Kyuhyun MEMANG takut. Sejak ia kecil dulu, meskipun Kangin mengistimewakannya, mengajaknya main dan keluar kota dengannya… meskipun Kangin sedang menggendongnya, ada sesuatu yang membuatnya takut. Kedua bola mata hitam legam ayahnya itu bagaikan lorong tak berujung. Gelap, dingin, dan kejam.

“Kau benar-benar mirip eomma-mu, terlalu baik hati. Sampai-sampai ia terpedaya oleh orang sepertiku.”

Kyuhyun meremas kepalan tinjunya di balik meja mendengar pengakuan ayahnya yang terang-terangan itu.

“Sayang sekali kau tidak mirip denganku, Kyu… Kau memang terlalu lembek untuk menjadi raja.” Kangin menopang dagunya di sebelah tangannya santai. Namun matanya menantang Kyuhyun untuk bicara.

“Kalau begitu jangan pilih aku menjadi penerusmu!”

“Tidak. Kau tidak bisa menolak. Dari detik pertama kau tumbuh dalam rahim eomma-mu, kau harus menerima takdir bahwa kau AKAN menjadi raja Radourland. Selama aku hidup, aku tidak akan menyerahkan tahta ini kepada pihak selatan.”

“Kalau begitu tidak masalah kalau kau sudah mati.”

“OMO? Kau mau membunuhku???” Kangin duduk lebih tegap, pura-pura kaget.

“Tak usah dibunuh juga nanti akan ada orang lain yang melakukannya. Musuhmu terlalu banyak, Appa.”

“Hati-hati, nak… mungkin mereka akan mencoba menyerang, tapi secara tidak langsung. Bisa saja mereka malah membunuhmu… atau Sungmin-ah?” Kangin mencoba menakuti Kyuhyun, namun Kyuhyun malah balas menyeringai.

“Bisa jadi aku, atau Sungmin-ah.” Kyuhyun mengangguk-angguk mengikuti permainan ayahnya, sebelum seringainya berubah menjadi senyum jijik. “Atau mungkin malah ‘wanita’mu itu.”

Kyuhyun tahu ia berhasil memancing ayahnya. Ekspresi kangin berubah datar untuk sesaat, dan Kyuhyun bingung harus memutuskan apakah dia merasa menang atau khawatir. Pemuda itu memilih untuk berbalik, melangkah pergi dari sana saat Kangin memanggilnya lagi.

“Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun tidak menjawab, namun ia berbalik, tanpa niat melangkah mendekati ayahnya lagi. Ia menatap ayahnya sebentar, menunggu Kangin melanjutkan kalimatnya.

“Tidak mungkin ada direwolf lain. Kau harus mengawasi Sungmin lebih dekat lagi. Tujuh anakku, enam diantaranya Greywolf. Dengan keajaiban dewa, hanya kau yang menurunkan seluruh darahku.” Kangin tersenyum tipis, “Mungkin kau benar. Di suatu tempat di negara kita, ada keturunan murni lain yang mengincar Radourland. Dan akan dimulainya dari mate-mu.”

Kyuhyun memandang ayahnya dengan raut kaku.

“Tetap waspada, Kyuhyun-ah.”

“Kau juga.” Balas Kyuhyun sebelum berbalik, benar-benar pergi kali ini.

.

oOoOoOo

.

Sungmin menaburkan lebih banyak serbuk asam ke dalam piring makannya. Serbuk itu harusnya digunakan sebagai pendamping asinan, bukan daging ayam. Dan ditabur sedikit demi sedikit, bukan dituang selayaknya madu.

Kyuhyun meringis melihat matenya terus menuang serbuk itu hingga warna keemasan ayam panggang di piringnya berubah lebih merah. Tidak kuat lagi, Kyuhyun menahan tangan Sungmin dan merebut botol serbuk itu dari matenya.

“Itu sudah cukup, Min-ah. Nanti perutmu sakit.”

Sungmin menghentakkan kakinya, wajahnya berlipat-lipat kesal. “Aku mau lebih banyak!”

“Sudah cukup, Sungmin-ah. Coba dulu yang itu.”

Sungmin memberengut, memasang wajah ‘nyaris-menangis’nya meski alih-alih diangkatnya sendok di atas piringnya. Sungmin mulai mencicipi cairan yang sudah dicampurnya dengan berbagai rempah-rempah. Saat pemuda itu menjilat genangan di sendoknya, ia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Justru Kyuhyun lah yang meringis jijik seakan ia sendiri yang merasakan asam itu menyayat lidahnya.

“Ini masih kurang!” seru Sungmin menodongkan tangannya, meminta kembali botol serbuk rempahnya.

“Tidak, itu sudah cukup.”

Sungmin tercekat, airmata sudah menggenang di pelupuk matanya. Tapi pemuda itu bersikeras menahannya, karena banyak orang mengatakan ia sudah lebih dewasa sekarang, Sungmin semakin mengirit airmatanya setiap hari. Semenyesakkan apapun situasi yang memojokkannya, kalau baginya hal itu tidak terlalu mendesak, Sungmin lebih memilih mengamuk daripada menangis.

“AKU MAU LEBIH BANYAK! BERIKAN PADAKU!” jeritnya sembari menghentak-hentakkan kaki. Tangannya meremas pinggiran meja, siap menggulingkan meja itu kalau Kyuhyun masih berniat menolak keinginannya.

“YAYAYAYA! JANGAN MENGHENTAK-HENTAK TERUS! KAU BISA MELUKAI BABY!”

Mendengar itu membuat hati Sungmin semakin panas. Ia mengitari meja dengan garang dan meraih jubah Kyuhyun, dipukulnya dada hyungnya dengan membabi-buta. “Berikan! Berikan! Berikan! Berikan!”

Kyuhyun menahan napas sembari mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mengakui dalam hati pukulan Sungmin sudah jauh lebih menyakitkan daripada yang dikenalnya dulu. Kyuhyun memindahkan posisi botol itu kesana-kemari, kemanapun asal Sungmin tidak mampu mencapainya.

“Ya! Aku hanya khawatir padamu, Min-ah. Kau ini seperti Maora saja! Tidak bisa dinasehati!” tepat sasaran. Pukulan Sungmin langsung berhenti saat Kyuhyun menyebutkan nama musuh bebuyutannya. Sungmin mendongak menatapnya benci. Bibirnya gemetaran, antara menahan emosi dan melindungi harga dirinya yang lagi-lagi disamakan dengan Maora.

“Pilih makanan apapun tapi jangan terlalu pedas dan terlalu asam, itu bukan hanya tidak baik untuk baby, tapi juga tidak baik untukmu. Kau tahu sakit perut itu tidak enak, seperti saat di Hutan Peri waktu itu? Kau mau lagi seperti itu?”

Sungmin tidak menjawab, ia menutup mulut rapat-rapat dan dibaliknya gigi-giginya bergemertak. Kyuhyun luluh melihatnya, ia meletakkan botol rempah itu diatas meja dan duduk sembari menarik Sungmin ke atas pangkuannya. “Pilihlah makanan apapun, pelayan akan membuatkannya. Tapi jangan terlalu pedas dan jangan terlalu asam.” Kyuhyun berbisik lembut, meletakkan tangannya di depan pinggang Sungmin, sebisa mungkin tidak terang-terangan menyentuh perut mate-nya atau Sungmin akan mengamuk lagi.

“Apapun?” Mata Sungmin memicing licik, sayang Kyuhyun tidak menangkapnya dengan cepat.

“Apapun.” Sahut Kyuhyun mengangguk-angguk yakin.

Sungmin menarik napas dalam-dalam, lalu berseru di depan wajah Kyuhyun.

“AKU MAU MAKAN DAGING DIREWOLF!”

Kyuhyun mendelik, saking jengkelnya didorongnya Sungmin berdiri. “M-MANA ADA, SUNGMIN-AH!”

“HYUNG KAN DIREWOLF!!”

“Nih! Nih! Kau tega makan aku, hah?”

“Biar saja, dulu juga hyung mau makan aku kan! Gantian!”

“Itu kan hanya candaan, Min-ah! Mana mau aku makan dagingmu, pasti tidak enak iyuh!”

Sungmin mendelik tersinggung. Tameng garang yang sejak tadi dipasangnya runtuh begitu cepat. Sungmin tidak mengerti, tapi menangis terasa menyenangkan untuk dilakukan saat ini.

“KENAPA HYUNG BILANG DAGINGKU TIDAK ENAAAKK! DAGINGKU ENAK TAU, HUEEE! COBA NIH COBA!” Sungmin menampar-nampar wajah hyungnya, sembari dengan paksa menyodorkan pergelangan tangannya di depan mulut Kyuhyun.

“MIN-AH!” Kyuhyun berusaha menahan tangan Sungmin yang menyerangnya beringas. Ia menahan diri sejak tadi, tapi kini merasakan panas di sekujur wajahnya membuatnya refleks meremas tangan Sungmin hingga pemuda itu memekik kesakitan. Kyuhyun buru-buru melepaskan tangannya dan Sungmin jatuh terduduk, terpekur dan menangis penuh nestapa. Kyuhyun kebingungan, ia berusaha memeluk Sungmin namun pemuda itu mendorongnya dengan gestur terluka— yang semakin membuat Kyuhyun merasa serba salah. Lalu Sungmin memeluk dirinya sendiri, Kyuhyun nyaris jatuh pada perangkap itu dan merasa iba.

“Hyung tidak sayang padaku lagi. Hyung lebih sayang baby. Hyung mengejek rasa dagingku, hyung mengatakan aku cengeng, hyung mengatakan aku gendut. Aku benci hyung!”

Kyuhyun tercekat. “K-kapan aku bilang kau gendut?”

“BARUSAN!”

Mulut Kyuhyun mengatup dan terbuka, benar-benar bingung harus merespon apa.

Saat mulai kehabisan alasan dramatis untuk ditangisi, Sungmin menaikkan nada tangisnya, kini dilengkapi dengan kedua kakinya yang menendang-nendang frustasi.

“KENAPA HYUNG BILANG DAGINGKU TIDAK ENAK! HUEEEE!”

“BAIKLAH! BAIKLAH! DAGINGMU ENAK, SINI KUMAKAN KAU!” Kyuhyun mengerang tak sabar, direngkuhnya tubuh Sungmin lalu dipeluknya erat-erat. Daging pertama yang dicicipinya adalah leher pemuda itu, digigitnya lembut dan tegas hingga isak tangis Sungmin berubah menjadi kikikan geli.

“Teheee…” Sungmin menggeliat geli, meski tidak berniat untuk turun dari pangkuan Kyuhyun. Bibir dan gigi Kyuhyun beranjak turun, ke bahunya. Sungmin mengerang, menggeliat, secara refleks menggesek bokongnya di atas pangkuan Kyuhyun. “Hyung, aku tidak mau dimakan.” cicitnya takut.

Kyuhyun menyeringai, ia berdiri mengangkat Sungmin menuju ranjangnya.

“Terlambat, kau sudah memaksaku tadi.”

.

oOoOoOo

TBC

oOoOoOo

.

Haloooo, jangan lupa add Line Account Gelundungan di->>  siniiiii

23 thoughts on “Cursed Crown – Chapter 15

  1. lyta tan says:

    siwon bner2 menyebalkan……hobby nya gangguin mate orang aj……eh, siapa direwolf ptih tu bner2 ank ming…..klo heechul kn g mungkin….dia kn bkan direwolf…oya, ap g bsa thbyi prtma ming hidup lg…hehehe baby nya kn cwok

  2. Ya ampuuuuuuun /_____\ makin penuh teka-teki aja nih. Makin greget speak ke tulang2 deh = < apa itu? Musuhin baby ? 😂
    My god…..

    Aku Baca nya rada was2 juga. Apa yg akan terjadi? Sungmin bakal baik2 aja kan?

  3. siwon maju kena mundur kena
    mau ngerusak hubungan kyumin atau guimin xD
    kak fiqooh terlalu genius nulisnyaaaaaa xD terlalu banyak clue sampe bingung mau review ㅋㅋㅋㅋㅋ
    khawatir sama direwolf, bau umin & janji heechul ke siwon ToT jomi sama eunhyuk semoga gak mati T.T
    malah usil mikir jangan2 yg lahirin kyuhyun itu….
    intinya makasih kak fiqooh udah sharing cerita yg bagus banget 😀
    rasanya otak ini gak kesampean apalagi ngebayangin gimana nanti chap selanjutnya xD
    semangat nulisnya kak
    sukses selalu!!

  4. kyume801 says:

    penasaran ama zhoumi dan chwang.. dan makin benci ama siwon.. dan ntah kenapa jadi kepengen liat hviturland perang.. kyu juga ikutan perang.. ntah perang bela graentland yg karna siwon ganggu kuixian atau kyuhyun perang bntu hviturland melawan svarturland
    ditunggu updatenya lagi Sun.. daebak daebak daebak.. Sun kereenn!!! :*

  5. Ampuuun kak. Nih ff makin dalem aja masalahnya… kapan nih ff end. Aku udah pusing sama masalah nih ff. Tapi penasaraan juga. Pliiis, semangaaat buat endingin nih ff.

  6. won2 says:

    lol, lama2 aky gak simpatik deh sama siwon. sukanya gangguin mate orang lain. dan malah men pergi aja main2. padahal sodara2 nya lagi perang. bantuin changmin ama zhoumi kek, urusan pribadi mulu yg diurusin, begitu dibilang putra mahkota. hahahaha

  7. lovekyu says:

    diri kemarin gagal komen…jadi buyar mo komen apa

    popoknya makasih udah apdet…dan klo bisa banyakin kyu nya….bikin ngakak pas sungmin cemburu sama baby-ah…dasar bocah

  8. cassinta says:

    Siwon gagal move on.. Cinta di tolak dukun bertindak *lirik heechul #digampar elms deep tiba2 mengingatkan gue sm nama jalan yg mau ke rumah uncle freedi *itu elms street .m trus itu zhoumi gugur? Jangandi gugurin donk (?). Di tunggu next chapter nya ya.. Hwaiting

  9. Wah siwon ditolak min skrng ngincernya shenmin .. kan ksian kui nya .. masa bru punya ank msa shenmin nya mau dirbut kan kui udah menyesali perbuatanya.. jngan pisahin kui ma shenmin dong …
    Buat outhernya semangat ya nulisnya .. di tunggu chap depan buat smua ffnya

  10. Wah siwon kasian banget gak bisa move on.. ditolak ma min skarang nyoba ambil shengmin kan ksian kuinya dia bru punya ank tpi shengminnya dah mau diambil ama orang aja.. tpi lucu ma min dia pas hamil jadi mkin kekanakan bangrt msa bertngkar ma baby-ya.. itu zhoumi bnerang gugur di medan prang ?? Ksian mimi..
    Buat outhernya smengat terus buat nulis n jalanin aktivitas sehari2nya.. smaga bisa cpt update chap brikut2nys skalian ff yng lainya. .

  11. hai, fiqoh, sesuai janji, ane coment disini,,😀
    aduhh, ane salut banget dengan siwon yg gak putus asa dgn sungmin, tp sadarlah sungmin itu sudah jd hak milik kyuhnyun😦
    tak adakah yg bisa merebut perhatian siwon dari hal sungmin??
    please jangan menambah kesalahan2 ke yang lain yang mengakibatkan negara lain ikut dapat getahnya >.<

  12. Makin kesini makin banyak misteri diantara mrk wkwkwkw mulai dari siapa shengmin sebenarnya, direwolf putih itu perwujudan dari siapa? Dan knp rasanya takut tau jenis kelamin anaknya kyumin. Tp ya semoga aja semuanya berakhir baik, mungkin faktor hamil jg kali ya makanya sungmin makin manja sama kyuhyun hahahaha

  13. wifeleeteuk says:

    hhuaaaaa long chapter >< chapter depan Nc yahhh???yahhh???yahh???😀 *ketauanMesumNya* aduhhh itu nanggung sumpah Sun…kenapa ga sekalian bagian kyuhyun 'makan' sungmin nya😀 di tunggu next chap nya Sun *kasihKecup*

  14. wifeleeteuk says:

    huaaaaa long chapter >< chapter depan Nc yahhh???yahhh???yahh???😀 *ketauanMesumNya* aduhhh itu nanggung sumpah Sun…kenapa ga sekalian bagian kyuhyun 'makan' sungmin nya😀 di tunggu next chap nya *kasihKecup* semoga ga lama :v

  15. Masih penasaran sama kuixian dan shengmin, gg rela kalo nanti mereka jd bhn percobaannya heechul -,-
    Siwon makin ngeselin!! ><
    Ditunggu next chapter nya ^^
    Semoga sungmin gg cemburuan lg sama baby nya😀

  16. vyan says:

    woaaahhhh.. udah dilanjut.. thank you sun..

    siwon ini ko maunya apa c? kan kemaren-kemaren udah gangguin kyu n min, sekarang mau gangguin kuixian n shengmin? tp ko siwon bisa ada rasa jg ama shengmin ya???

    zhou mi beneran mati di medan perang? ooooo noooooo.. siwon malah sibuk ama cewe sedangkan negaranya lagi krisis..

    min suka mimpi direwolf putih? calon anaknya kah? terus masa min cemburu ama anaknya c.. kan kasian kyu.. jd bulan-bulanan min pas lg hamil..

    i’m waiting for next chap..fighting sun..

  17. Siwonnnn yaampun Siwonnn msh blm mau melepaskan keinginan utk mendapatkan Min😦
    Dan pikiran ttg dua negara itu.. astaga Siwon..

    Kesan perangnya bnrn kerasa di sini skg😡 kasian Snowelf, mereka terlihat kalah TAT
    Aku sedih banget pas … ZHOUMIIII TAT aaaaaaa

    Kembali lg ke Siwon
    Akhirnya pertanyaannya terjawab ya.. meski.. ada bbrp hal yg dia lakukan sblm melihat… Shengmin…

    Direwolf putih? Siapa ya kira2..
    Kyu lho astaga xD Kyu bingung sm baby terus meski Min cemburu ahahaha

    Siwon ke Chullie lg ya.. dan.. ugh, mau mencoba ramuan itu ke Shengmin sekarang? TAT Siwon..

    Satu pertanyaan, kapan ya Kyu bs terima Teukie?

    No comment aku tentang Kyu sm Min yg trkhr itu x’D

  18. Diwerewolf putih???? Apa itu??? Aduhh suka deh konfliknya susah ditebaak. Dan lagi itu tuh si Siwon. Misahin ‘Kyumin’ yg satu lagi kan ==!
    Ada sesuatu yah sama Sungmin atau bayinya???
    Jungsu jangan mati yess??? Aku suka part ada jungsunyaaaa. Gatau gimana Park Jungsu bangettttt

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s