Cursed Crown – Chapter 16

A/N:

Miinalee: Plis banget plis banget yang dibaca jangan bagian Kyuminnya aja. Sedih banget sueeeerrrrr tekewer-kewer. Jadi rada males ngelanjutinnya kalau yang dibaca cuma sebagian sebagian, kayak ga ada niat buat ngerti ceritanya gitu. I don’t even mind if you didn’t want to leave any review. Just… read everything, ok?

Dndthecat: Yaaaa…. kalau bisa sih direview juga. Apalagi sekarang topiknya sedang meluas ke negeri2 tetangga dan pendalaman ke karakter lainnya. Kami kan pengen tau reaksi reader soal kejadian per chapternya juga. *kepo* Anyway here’s an update, earlier than usual. Happy reading!

Miinalee: benerbenerbenerbenerbenerbenerbener. Happy reading! Baca semuanya, awas ya kalo kaga! Chap depan beneran aing kunci kalo bacanya lewat-lewat

.

oOoOoOo

.

 

Dari ujung koridor balairung Hviturland, Jiyong berdiri bersandar ke dinding sendirian. Ia mengamati dari kejauhan dengan kedua tangan dilipat angkuh di depan dadanya. Untaian batu mulia panjang yang menghiasi rambut pirangnya berayun ketika ia menoleh ke kanan kiri dengan gelisah.

Jiyong sengaja menunggu di koridor ini sampai Seunghyun lewat. Ia mendengar berita-berita tak menyenangkan sedari tadi, dan ia ingin memastikan. Ini tidak seperti dirinya yang biasanya cuek. Namun perasaannya tidak enak. Apalagi ini melibatkan hyung seibunya juga—Changmin.

Apa yang terjadi?

Jiyong kontan berdiri tegap begitu sosok tinggi Seunghyun muncul di pintu besar balairung. Dugaannya tidak meleset, Seunghyun pasti akan masuk melalui ruangan ini. Dengan tergesa-gesa dihampirinya sosok tinggi itu. Kegelisahan yang sejak tadi ditahannya membuat Jiyong tidak mampu lagi berbasa-basi.

“Hyung, apa yang terjadi? Mana Changmin-hyung?” Jiyong dengan sengaja memanggil kakaknya tidak seperti biasanya. Ia bahkan tidak pernah memanggil Seunghyun dengan panggilan ‘Hyung’ jika mereka hanya berdua, lebih-lebih Max dengan nama aslinya. Namun Seunghyun tidak sendirian. Beberapa orang pasukan mengikutinya dari belakang.

Jiyong berdiri sekuat tenaga menahan kedua kakinya yang gemetar. Ia menunggu dengan sabar, seulas jawaban Seunghyun yang seharusnya dapat menyembuhkan kegelisahannya. Tapi pria itu hanya tersenyum kecil. Setelah diusapnya sayang kepala Jiyong, Seunghyun berlalu tanpa mengatakan apapun. Pasukan yang lelah dan terluka mengikuti Jendral muda itu dengan wajah-wajah kecut. Mereka berlalu menuju ruang rapat, dimana para pejabat penting telah lama menunggu —termasuk sang raja yang sangat jarang menampakkan batang hidungnya beberapa tahun belakangan ini.

Seandainya tidak di depan umum, Jiyong mungkin sudah menerjang Seunghyun dan menggigit telinga besarnya saking kesalnya!

“Semua orang sama saja!” desis omega itu kesal.

Jiyong selalu menjadi orang yang paling akhir yang mendapatkan informasi! Pemuda itu mendesis, mengutuk darah omeganya. Dikutuknya juga perbedaan gender yang ada di negri ini. Ia tidak akan pernah bisa berada di dalam ruangan itu bersama keluarganya dan petinggi kerajaan lainnya. Tidak, dia tidak akan pernah bisa setara—kecuali dirinya diangkat menjadi ratu.

Sementara itu pintu ruangan tadi tertutup rapat dan dijaga oleh beberapa orang pengawal agar tidak ada orang tak berkepentingan masuk untuk mencuri informasi.

Seunghyun masuk dengan gagah, Pengeran itu berdiri tegap di bawah tangga tempat takhta raja berada sebelum ia berlutut. Di kanan kirinya para mentri telah berbaris rapi mengisi ruang audiensi. Ratu Junsu dan Donghae berdiri dekat si sisi kanan dan kiri Raja, mendampinginya di lantai takhta yang memisahkan mereka dengan Seunghyun sejauh lima tangga.

Seunghyun tahu, kini semua mata tertuju padanya. Tapi Pangeran itu sempat memutar pandangan, berusaha mencari sosok Pangeran sulung Hviturland di antara semua orang. Tapi Siwon tidak ada disana. Posisinya bahkan diisi oleh Donghae, seorang Beta.

“Laporkan hasil ekspedisimu, Pangeran Seunghyun.” Ucap menteri kenegaraan Hviturland.

“Baik!” Jawab alpha itu, lalu berdiri dari posisi berlututnya.

“Korban Jiwa: 317 orang pasukan kesatria, 181 orang pasukan perbatasan, 133 orang pasukan tambahan kedua, 3 orang pasukan tambahan ketiga, dan 35 orang pasukan wizard. Total 352 orang tewas dalam perang kemarin. Selain itu, 47 orang dinyatakan hilang. Di antaranya 30 orang pasukan kesatria dan 17 orang wizard.”

“Mereka menculik Snowelf-snowelf beta lagi, huh? ” Salah satu menteri bersuara. Seunghyun tidak menanggapinya, ia melanjutkan laporannya.

“Sesuai dengan strategi awal kami, aku ditugaskan untuk memimpin serangan ketiga jika Jenderal Pasukan Perbatasan dan Ketua Kesatria tidak kembali atau memberikan kabar dalam dua jam, terhitung sejak Ketua Kesatria pengganti…” Seunghyun menekan kata itu dengan penuh arti. Oh, betapa ia mengharapkan Siwon ada disini untuk mendengarnya menyebutkan itu. “—berangkat bersama pasukan tambahan kedua.”

Pangeran berambut biru itu mulai menceritakan kejadian siang itu tanpa melepas pandangannya dari tatapan kaku Raja. Seunghyun tahu, ayahnya sudah mendapatkan kabar itu.

“Begitu aku sampai disana, pertarungan sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Bahkan kalau boleh kubilang, pasukan kita berada jauh dari kemenangan. Diujung perbatasan Changmin diserang oleh seekor Ogre yang…” Seunghyun memutus laporannya untuk sejenak, alisnya bertaut, berusaha mengingat lebih jelas sosok monster itu sebelum melanjutkan ceritanya. “—sedikit berbeda dari yang biasa kami jumpai. Bentuk tubuhnya lebih sempurna, nyaris mendekati proporsi tubuh siluman, dan berkulit cokelat pucat. Mereka mengenakan armor emas dan biru dongker, juga menggunakan senjata pedang besar berwarna hitam. Senjata dan armor yang sepertinya…” Seunghyun mendengus, lalu tertawa prihatin. “Lebih pantas dimiliki anggota kerajaan mereka.”

Beberapa menteri mulai berbisik-bisik mendengar penjelasan Seunghyun. Sedang Pangeran itu mengabaikan mereka dan melanjutkan cerita itu, menurut sudut pandangnya. “Pangeran Changmin tampak kewalahan menghadapi monster itu. Ia seperti kehilangan fokus akan lingkungan sekitarnya. Saat aku sampai di tempat itu pertama kali, ia terjatuh dan monster besar itu berhasil menyerangnya, meski meleset dan mengenai bahu. Di atas semua itu aku bersyukur Changmin berhasil menghindari luka fatal.”

“Lalu… Zhoumi-hyung—?!” Donghae yang mulai tidak sabar tiba-tiba memotong—suaranya meninggi, seperti menahan tangis.

“Pangeran…” Yunho bersuara, pelan namun dingin. Diliriknya Donghae dengan sorot kaku, sontak membuat Pangeran itu terdiam dan seisi balairung turut menghentikan bisik-bisik mereka.

Banyak diantara mereka yang sudah mendapatkan rumor dari pasukan dan penyihir kerajaan yang pulang dengan selamat. Namun berita resmi tetap akan turun setelah pemimpin resmi —Seunghyun, Zhoumi, dan Changmin—melaporkan berita perang pada raja. Tapi nyatanya hanya satu orang Pangeran yang mampu berdiri di ruang audiensi saat ini. Satu diantaranya diboyong ke menara pengobatan, dan satu lainnya tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Fakta kecil itu semakin memudahkan berita muram ini tersebar ke seluruh penjuru kerajaan secepat kobaran api.

“Pangeran Zhoumi… dia datang menolong Pangeran Changmin yang sedang diserang dan berhasil mengalahkan monster itu dengan menusuk lehernya menggunakan tongkat sihirnya.”

Seperti mendengar kabar kemenangan, beberapa orang yang ada di ruangan itu mulai menghela napas lega. Namun Seunghyun belum selesai.

“Yang Mulia perlu tahu, cerita yang sudah kujelaskan barusan —tidak kusaksikan secara langsung. Saat aku datang, Pangeran Zhoumi sudah menarik kembali tongkat sihirnya dan tampak tidak membutuhkan bantuan. Aku tahu aku ikut bersalah dalam hal ini… Kalau saja aku menyadari serangan yang akan diterima Pangeran Zhoumi setelah itu, kita pasti tidak akan kehilangan Pangeran Zhoumi.”

Ruangan sontak kembali ricuh. Para mentri tidak bisa lagi memasang ekspresi tenang. Beberapa memilih diam dengan muram, sisanya terang-terangan menunjukkan ekspresi bela sungkawa mereka. Seunghyun melirik Ratu yang memejamkan matanya dan sekuat tenaga menahan bobot tubuhnya yang melemas untuk untuk berdiri sembari meremas takhta Raja. Donghae lebih menyedihkan, Pangeran itu berdiri gemetaran, jelas sekali menahan diri untuk tidak lari dari keadaan ini. Tapi airmatanya tidak bisa berdusta, mengalir bebas melintasi bibirnya yang bergetar menahan suara.

Sedangkan Raja, tidak memutuskan pandangan dinginnya pada Seunghyun.

Ini juga hal berat, bagi Seunghyun untuk membantali dan berpura-pura menyalahkan dirinya sendiri, terlebih di bawah sorot mata itu. Terkadang Seunghyun dihantui kekhawatiran kalau-kalau ayahnya benar bisa membaca pikiran orang.

“Karena itu aku membiarkan jarak tetap jauh diantara kami. Dengan pemikiran bahwa, Pangeran Zhoumi mampu menyeret Pangeran Changmin keluar dari sana, sehingga aku memfokuskan diri untuk menyerang pasukan lawan yang ada di sekitarku.”

Seunghyun berusaha menjaga pandangannya tetap tenang di hadapan ayahnya. Detak jantungnya bertambah cepat sesaat tadi, saat ia tanpa sengaja menangkap kilat tidak percaya di mata ayahnya.

“Lalu monster ini muncul. Dengan proporsi tubuh yang jauh lebih sempurna. Monster bertubuh raksasa, bertanduk banteng dan bertaring, tingginya di atas rata-rata, dengan cepat semua mata menyadari kehadirannya, aku belum pernah melihat spesies ini sebelumnya. Pangeran Changmin tentu dengan cepat menyadari kehadirannya, tapi tidak dengan Pangeran Zhoumi yang berdiri memunggungi monster itu. Sebelum Pangeran Zhoumi sempat berbalik, makhluk itu menusukkan pedangnya menembus dadanya. Semua kejadian itu berlangsung terlalu cepat, seakan serangan yang harus diterima Pangeran Zhoumi sudah direncanakan sebelumnya. Aku yakin makhluk itu sudah mengintai Pangeran Zhoumi untuk beberapa saat. Ia bahkan menggunakan pedang yang serupa dengan milik monster yang menyerang bahu Changmin sebelumnya.”

Suara napas tercekat hampir terdengar menggema di ruangan itu. Komentar-komentar membumbung makin tak terkendali. Donghae mengatup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, seolah tidak ingin mendengar kelanjutan cerita itu lagi. Ia bahkan ingin menolak permintaan Ratu yang menyuruhnya menghadiri audiensi ini. Tapi hanya dirinya Pangeran tertua yang tersisa di Istana untuk saat ini. Hanya ada dirinya dan Jiyong, sedangkan seorang Pangeran harus mengisi posisi Siwon yang sekarang tengah melanglang entah kemana.

Donghae menahan diri untuk tetap berada disana. Ia perlu mendengarkan, karena diam-diam hatinya berharap, kalau-kalau pihak Hviturland berhasil menyelamatkan Zhoumi dan membawanya pulang. Atau setidaknya… mayatnya.

Donghae gemetaran memikirkannya. Siwon, Zhoumi, Seunghyun, dan dirinya dilahirkan dari ibu yang sama. Yang membuat Donghae seharusnya memiliki hubungan erat dengan ketiganya. Seperti Changmin dengan adik seibunya, Jiyong. Tapi kenyataan mengatakan hal berbeda. Donghae tidak begitu akrab dengan Pangeran tertua Hviturland, apalagi dengan Seunghyun. Tapi jika harus memilih, Donghae tentu dengan yakin akan menyebutkan Zhoumi sebagai saudara seibu terdekatnya. Mereka mengambil kelas Wizard yang sama—meski berbeda aliran—yang tetap membuat keduanya lebih sering bertemu satu sama lain dibanding dengan saudara mereka yang lainnya. Ia dan Zhoumi memang tidak pernah bersenda gurau akrab seperti Sungmin dengan seluruh Pangeran, namun Donghae tahu hubungan persaudaraan mereka sangat kuat tanpa perlu diucapkan. Zhoumi sering membantunya belajar. Ia selalu menjadi orang pertama yang akan tahu dan memanggilkan tabib saat Donghae sedang sakit, sepeninggal ibunda mereka.

Sejelas apapun arah pembicaraan Seunghyun tentang Zhoumi, Donghae masih bersikeras menolak mengakuinya. Ia tidak bisa menerima kabar kematian kakaknya, tidak seperti ini —di tangan monster barbar Svarturlan yang lebih buruk daripada Radourland!

Di tengah suasana gelisah itu, pintu besar ruang audiensi dibuka paksa. Seorang pemuda tinggi berambut abu-abu menghambur masuk.

Kehadiran putra sulung Raja sontak mengalihkan perhatian semua orang dari Seunghyun.

Raut wajah Siwon begitu keruh, napasnya memburu. Seseorang mengatakan padanya bahwa kehadirannya ditunggu di ruang audiensi, berkaitan dengan satu anggota kerajaan yang tewas di medan perang. Siapa?

Siwon tahu tidak pantas seorang Pangeran yang terlambat menghadiri rapat bersama Raja langsung bertanya tanpa memberikan salam atau sekedar bungkukan hormat.

“Apa yang terjadi pada Max dan Zhoumi?!”

Seunghyun tak perlu berbalik untuk mengetahui siapa yang baru saja datang ke ruangan itu. Ia memang memerintahkan seseorang untuk menunggui kepulangan saudaranya di dekat kandang Sleipnir, Siwon perlu mengetahui kabar ini langsung. Tidak peduli kalau ia harus berbohong dengan mengatakan bahwa ini perintah raja.

Bola mata Yunho beralih untuk sesaat ke arah Siwon, tapi sorot matanya dingin tidak berubah. Ia tidak menjawab dan mengembalikan perhatiannya pada Seunghyun.

“Kau yakin, Seunghyun?”

Siwon tercekat, tidak pernah mengalami hal memalukan seperti ini di depan umum. Sang Raja mengabaikannya di depan seluruh mentri!

Seunghyun menunduk lalu menatap kembali mata sang raja, ayahnya, dengan penuh keyakinan.

“Benar, Yang Mulia. Aku tidak dapat merasakan energinya lagi saat tiba di sana. Zhoumi tewas di perang perbatasan ini dan mayatnya dibawa pergi oleh monster itu ke Svarturland.”

Donghae meringis dan sedikit terisak mendengar berita itu.

Membawa mayat kakaknya?

Untuk apa?

Mereka ingin mempermalukan Hviturland dengan jasad kakaknya?

Sejenak terlintas dalam imajinasi Donghae kalau satu-dua hari nanti, Svarturland akan mengirimkan potongan tubuh Zhoumi satu demi satu ke kerajaan ini…

Donghae menggelengkan kepalanya cepat-cepat, ia menutup bibirnya rapat-rapat, tidak ingin bersuara.

Siwon terkesiap, nyaris lupa menarik napas. Jantungnya berdetak kencang. Apa orang-orang di ruangan ini sedang bekerja sama untuk membohonginya? Untuk mengerjainya agar ia tidak melanglang buana lagi? Siwon menahan napas, tidak percaya.

“Tidak—tidak mungkin. Kau bicara apa, Seunghyun?!”

Seunghyun melirik ke sisinya, namun tidak berniat menatap wajah Siwon sedikitpun. “Seperti yang kau dengar, hyung. Zhoumi-hyung gugur di medan perang.” Jawabnya datar.

“Tidak… Tidak! Ini tidak benar! Zhoumi tidak selemah itu. Lalu Max?! Dia juga ada di sana kan! Di mana dia sekarang?” Siwon kehilangan kendali untuk bersikap tenang dan melangkah ke tengah-tengah ruang rapat itu lalu menoleh kesana kemari mencari-cari.

“Dia diruang penyembuhan dan tidak sadarkan diri karena terluka parah.” Jawab Seunghyun.

Siwon kembali tercekat.

Changmin terluka parah?! Memangnya sudah berubah sekuat apa monster-monster diperbatasan itu sejak ia dicopot dari jabatan lamanya?

“Pangeran Siwon, kau tahu perang sedang berkecamuk di perbatasan Jouvenille, kan? Kau pergi kemana sejak kemarin malam?” Menteri sihir kerajaan angkat bicara.

“Apakah karena kau bukan lagi Ketua Kesatria, sehingga kau merasa bebas pergi kemanapun tanpa memberitahu siapapun? Kami mencari-carimu seharian!” Sekarang Menteri Pertahanan yang ikut menyudutkan pangeran mahkota itu.

“A-aku—” Siwon gelagapan, tak tahu harus mengatakan apa. Ia tidak menyangka semua ini terjadi hari ini. Kenapa harus di hari ini?! Sedangkan di hari-hari lainnya ia tidak pernah meninggalkan kerajaan, dan tidak ada yang mencarinya seperti ini! Tidak ada kejadian seperti ini!

Seunghyun berbalik, ia melangkah mendekati kakaknya. “Hyung. Aku terlambat… Aku hanya mampu menolong Changmin saat monster itu hendak memenggal kepalanya setelah ia membunuh Zhoumi-hyung. Aku tidak sempat menolong Zhoumi-hyung… Aku bahkan tidak sempat mengejar dan menyerang monster itu untuk membawa pulang… paling tidak jasadnya. Maafkan aku.”

Seunghyun melirik, ia bisa melihat saudara tirinya itu cukup terguncang dengan berita kematian Zhoumi, dan dengan senang hati Seunghyun akan memperparahnya.

“Tapi kalau kau, kau pasti bisa Siwon-hyung… Seandainya kau ada di sini siang ini, mungkin kau bisa datang menggunakan kudamu dan menyelamatkan nyawa Zhoumi-hyung.”

Siwon tidak mampu menjawab. Mulutnya terbuka dan tertutup, namun ia tak menemukan satu katapun untuk diucapkan. Ia menatap Seunghyun yang menatapnya balik dengan kesedihan palsu di wajahnya. Tekanan emosi ini baru pertama kali dirasakannya. Terlebih lagi suara menteri-menteri keparat itu yang menyetujui kata-kata Seunghyun.

Zhoumi mati karena salahnya.

Zhoumi mati karena ia tidak ada di Hviturland hari ini.

Zhoumi mati karena ia harus menggantikan posisinya sebagai ketua kesatria.

Siwon menoleh ke arah Donghae yang tak menggubrisnya, tidak berniat membelanya sama sekali. Pemuda itu menatap kosong ke depan dengan mata berkaca-kaca, membuat Siwon terpaksa mengalihkan harapannya pada yang lain. Ia mencoba menatap ratu yang berdiri di sisi raja. Junsu memasang wajah berduka, namun menoleh ke arah lain—menolak menatap Siwon. Putra Mahkota itu mendesah frustasi, harapan tebesarnya adalah ayahnya sendiri. Saat ia menatap raja, pemimpin Hviturland itu juga tengah balik menatapnya. Keduanya beradu pandangan hingga raja menghela napas dan memilih untu menatap Seunghyun. Itu lebih melukai Siwon dibanding kata-kata Seunghyun sebelumnya.

“A-Ayah…” Panggilnya parau.

Siwon berlalu melewati Seunghyun, mendekat ke tangga di bawah kursi sang raja dan berlutut.

“Ayahanda! Kumohon! Tugaskanlah aku kembali menjadi Ketua Kesatria!”

Tentu saja semua yang hadir di sana kaget mendengarnya.

Donghae bahkan menoleh ke arah Siwon tak percaya. Kenapa Siwon semakin merusak reputasinya dengan melakukan hal seperti ini sekarang?

Ini akan membuat semua menteri mengira bahwa beginilah cara Siwon mendapatkan segalanya selama ini! Bukan karena usahanya, tapi karena bujuk rayu anak kesayangan raja ini kepada ayahnya.

Siwon sadar bahwa tidak seharusnya percakapan pribadi antara raja dan Pangeran terjadi di depan umum, karena di depan umum anak-anak raja pun harus memperlakukan raja layaknya pemimpin tertinggi negara. Namun kali ini ia tidak peduli. Biarlah ia dianggap anak manja oleh yang lain dengan mengajukan permintaan ia kepada raja, sebagai anaknya, ia harus mendapatkannya!

Ia harus kehilangan apa lagi sekarang?

Setelah Sungmin, lalu Zhoumi…

Apa nanti Donghae?

Atau yang lain?

Siwon tidak ingin kehilangan lagi. Ia membutuhkan kekuasaan untuk melindungi semuanya. Dan hanya orang di hadapannya ini yang mampu memberikannya. Siwon menarik napas dalam-dalam dan menahan panas di matanya sekuat tenaga. Ia mengerat giginya kuat, berusaha tampak tenang.

Yunho masih duduk dengan kaku di posisinya, ia menunduk, memandang rendah putra sulung yang dulu selalu menjadi tumpuan harapannya itu. Kini, Yunho tidak yakin lagi pada keputusannya. Mental putranya telah dirusak oleh anak haram Jaejoong, anak haram yang terpaksa diangkatnya menjadi putra bungsunya itu. Yunho benar-benar menyesali keputusannya untuk mengangkat Sungmin sebagai darah dagingnya di mata hukum.

“Lalu? Kau mau apa kalau kau jadi Ketua Kesatria lagi? Agar kau bisa leluasa pergi ke perbatasan dan menyerang Svarturland seorang diri, begitu?”

Siwon meringis. Ya. Memang itulah rencana yang tadi melintas di benaknya. Ia akan menjajah negeri hitam dan membunuh semua makhluk yang hidup disana!

Siwon tahu impian sesaatnya terlalu tidak mungkin. Tidak pernah ada seorangpun dari luar Svarturland yang tahu bentuk asli negeri hitam karena tidak pernah ada yang kembali. Semua yang menginjakkan kaki ke sana tidak pernah pulang untuk menceritakan apapun. Siapapun tahu keinginan sesaatnya itu sama dengan bunuh diri. Terlebih… Ia sendirian. Tidak akan ada orang maupun bawahannya yang akan mengikuti perintahnya yang satu ini. Itulah hukum absolut di negri es. Mereka hanya menjaga wilayah mereka di perbatasan, tidak akan menginjakkan kaki ke negri seberang yang satu itu. Tidak jika terpaksa. Dan kini, Siwon merasa kematian adiknya menjadi alasan untuk dijadikan pengecualian.

“Aku… Aku ingin melindungi apa yang tersisa bagiku.” Ia menelan ludahnya susah payah. Suaranya parau. “Aku masih punya Donghae, Changmin, Seunghyun, Jiyong, Kau, Ibunda ratu, dan rakyat Hviturland. Masuk ke Svarturland untuk mencari pembunuh Zhoumi tidak akan membuatnya hidup kembali.” Jawabnya pahit. Ia harus menelan sendiri kata-katanya tadi. Sekarang pemuda itu menundukkan kepalanya, tidak mampu membalas tatapan ayahnya yang semakin menekan Siwon untuk mengakui bahwa semua tragedi ini berawal dari kesalahannya.

“Y-Yang Mulia…”

Beberapa menteri seolah ingin berbicara, memberikan saran agar tidak menuruti anaknya itu, atau mungkin ingin mengatakan hal lain. Namun tidak ada yang berani melanjutkan, melihat Yunho masih memperhatikan putra pertamanya yang berlutut di hadapan takhtanya itu. Tatapan dingin tanpa emosi itu seolah sedang menilainya hingga ke jiwa putranya yang terdalam.

“Jung Siwon.”

“Ya, Yang Mulia.” Siwon menjawab pelan, mengangkat kepalanya saat Raja seakan mengizinkan.

“Akan kupertimbangkan.”

Siwon mengangguk. Lalu bayangan dirinya menghancurkan sendiri negri Svarturland kembali ke benaknya seperti banjir lahar merapi.

.

oOoOoOo

.

Suasana ruang penyembuhan di lantai satu dan dua menara pengobatan sangat sibuk dibandingkan kebanyakan hari dalam setahun. Sudah beberapa tahun perang tidak terjadi, namun dua minggu lalu tidak sama dengan hari-hari tenang yang biasa dilalui Hviturland.

Korban tewas sudah dimakamkan di pemakaman prajurit, di sebuah sisi desa pinggiran Hviturland—Desa Celtridea. Sedangkan korban-korban yang terluka masih berada menara pengobatan itu. Kebanyakan dari mereka sedang menerima kunjungan dari anggota keluarga yang membuat bangunan ini tak lagi sepi seperti biasanya. Para healer dan tabib sudah tak sesibuk tiga hari pertama saat korban-korban itu dibawa ke tempat ini. Sekarang sudah banyak yang pulih bahkan diperbolehkan pulang—berkat sihir penyembuh healer-healer Snowelf yang hebat.

Meskipun begitu, tidak semua penyakit bisa disembuhkan dengan mudahnya menggunakan sihir. Beberapa faktor seperti gangguan mental, depresi, tekanan batin, atau serangan sihir hitam akan menimbulkan berbagai penyakit aneh yang tak bisa disembuhkan dengan cara biasa.

Berbeda dengan suasana di bawahnya, suasana lantai ketiga dari bangunan berlantai empat itu jauh lebih sepi. Lorong masuknya dijaga ketat oleh dua orang pengawal. Tentunya karena lantai itu adalah tempat penyembuhan khusus bagi anggota keluarga raja Hviturland.

Dalam salah satu ruangan yang dipenuhi tirai putih, terdapat tiga buah tempat tidur. Di pembaringan paling ujung, seorang pemuda berambut merah berbaring tak sadarkan diri sejak perang terakhir berakhir. Selama dua minggu ini, setiap hari seseorang datang menjenguknya—teman-teman prajuritnya, dan tentunya anggota keluarganya.

Junsu, Siwon, dan Donghae bergantian menunggunya sadar. Seunghyun pernah datang bersama Jiyong sekali, namun Jiyong lebih sering datang sendiri. Jika ada anggota keluarga lain di dalam ruangan itu, ia akan pulang tanpa membiarkan orang itu tahu bahwa dia ada di sana. Pangeran keenam Hviturland itu memang terkesan tidak peduli kepada siapapun, namun Changmin adalah saudara kandungnya. Ia tahu Changmin sebenarnya ingin dekat dengannya seperti kedekatannya pada Sungmin. Namun Seunghyun tidak pernah membiarkannya mendekati Jiyong. Walau sebenarnya Jiyong bersyukur Changmin tidak akan mengejarnya seperti ia mengejar-ngejar Sungmin—lalu menggosok-gosokkan jambangnya yang belum dicukur ke wajah Jiyong—tindakan semacam itu hanya akan membuat Jiyong tampak kekanakan, seperti Sungmin.

Pagi itu belum ada siapapun yang datang mengunjungi Changmin. Alpha itu membuka matanya untuk pertama kali setelah peperangan terakhir yang diingatnya. Ia menatap langit-langit ruangan selama bermenit-menit sebelum dengan kaku mengangkat tubuhnya untuk duduk. Tatapannya kosong menatap dinding putih di hadapannya. Jambang, kumis, dan janggut halusnya mulai tumbuh. Pikirannya melayang-layang. Ia bingung.

‘Aku haus…’ Pikirnya.

Changmin terbatuk dua kali. Rasa kering di tenggorokannya mulai menggelitik.

‘Apa yang terjadi?’

‘Ini hari apa?’

‘Dimana aku?’

Matahari naik begitu tinggi di luar sana, Changmin bisa melihatnya dari jendela. Ia tidak akan mendapatkan pemandangan yang sama jika saat ini ia berada di Istana Utama Hviturland. Dinding-dinding es istana tidak mengizinkan cahaya matahari masuk secara langsung. Apa ia sedang berada di kamar mess di perbatasaan dan terlambat bangun?

Rasanya ia terduduk lama sekali, lalu Changmin menyadari bau ruangan itu. Bau obat-obatan dan hawa sihir… Changmin memandang kedua tangannya, lalu menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia mengenakan selapis pakaian dan celana panjang berwarna putih polos. Ia meraba dada lalu bahunya, berharap menyentuh atau menemukan bekas luka. Namun tidak ada yang tersisa, semua luka fisik yang ia terima telah disembuhkan tanpa bekas.

Pelan-pelan, ingatannya akan perang di tanah Jouvenille kembali. Monster-monster itu menyerang dengan tiba-tiba, ia memimpin pasukannya berperang. Namun monster itu berdatangan tak ada habisnya, seolah setelah dibunuh mereka hidup kembali dan berlipat ganda. Ia terus berperang sampai seluruh pasukan yang ada di sana maju ke lapangan.

Lalu Zhoumi datang membawa pasukan tambahan dan berperang bersamanya.

Lalu…

Zhoumi-hyung?

Mata Changmin kontan membulat ketika seluruh ingatan itu kembali mengaliri benaknya. Aliran darahnya seakan berubah dingin, pemuda itu meremas dadanya karena sesak yang datang begitu cepat.

“Hahh! Hahhh—”

Changmin melompat dari tempat tidurnya sampai ia nyaris terjatuh menabrak dinding karena pusing. Pemuda itu berjalan sempoyongan, menyibak tirai-tirai putih yang membatasi bilik ranjangnya dengan ranjang lain dengan kasar—berharap menemukan seseorang terbaring di dua tempat tidur lain di sebelahnya. Namun nihil.

‘Seseorang katakan padaku bahwa itu cuma mimpi!’ Jeritnya dalam hati.

Changmin makin panik. Ia menghambur keluar ruangan dengan langkah goyah. Di luar ruangan ia bertemu dua orang healer yang hendak mengecek keadaannya. Mereka kaget melihat Changmin yang panik dan menahan lengannya.

“Pangeran! Tenang! Anda mau kemana?” Melihat keadaannya yang tidak fokus, mereka yakin Changmin masih syok atau berhalusinasi bahwa ia masih berada di medan perang.

“Zho-Zhoumi-hyung! Dimana Zhoumi-hyung?!” Gumamnya terbata-bata sambil mencoba melawan cengkraman kedua orang perawatnya itu.

Keduanya terdiam tak dapat menjawab, sikap mereka malah membuat Changmin makin kalap. Ia memberontak melepaskan pegangan mereka lalu menghentak menuju tangga turun. Di sana ia kembali dihadang lagi oleh dua orang pengawal tempat itu.

“Pangeran Changmin! Anda belum boleh meninggalkan tempat ini.”

Semua orang yang melihat tentunya tahu bahwa Changmin adalah pasien kabur—dengan pakaian dan kondisi berantakan seperti itu.

“MINGGIR!”

Seketika angin panas menerjang ruangan itu—sepanas angin yang ada di dekat api. Aura kemarahan Alpha keturunan raja itu jelas membuat kedua pengawal terpaksa bungkam. Tubuh mereka gemetar, dan perlahan menurunkan tombak yang mereka hadangkan di depan sang pangeran.

Jung Changmin yang dikenal sebagai pangeran paling ramah diantara keenam saudaranya itu marah.

Mereka hanya dapat memandangi saat pemuda itu menuruni tangga terburu-buru sambil sesekali bersandar ke dinding menahan bobot tubuhnya. Ia membuat banyak perhatian orang tertuju kepadanya di kedua lantai di bawah bilik tempatnya dirawat. Namun Changmin mengabaikan semua suara dan orang yang mencoba menahannya. Ia berlari keluar dari ruangan itu, diikuti dari belakang oleh empat orang prajurit yang mengawasinya agar tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. Changmin terus berlari menuju kerajaan utama tanpa berhenti, tanpa menggunakan alas kaki. Prajurit di belakangnya sudah memanggil-manggilnya agar ia berhenti berlari dan diantarkan oleh mereka ke kerajaan, namun suara yang sudah berdengung di kepalanya cukup berisik. Indra pendengaran Changmin tidak punya ruang untuk mendengar suara yang lain.

Changmin sempat berhenti saat memasuki taman depan kerajaan. Semua tanaman berbunga dan pepohonan yang berbuah ditutupi kain hitam. Perut Changmin serasa berputar. Kebiasaan itu adalah tanda bendera setengah tiang di Hviturland. Bibirnya bergetar.

‘Tidak… Tidak. Tidak. Tidak.’ Ucapnya dalam hati seperti mantra.

Pemuda itu melanjutkan langkahnya hingga ia sampai di dalam kerajaan dengan bersimbah keringat. Ia terbatuk-batuk. Tenggorokannya yang makin kering kini semakin menyiksa—menusuk-nusuknya daging kerongkongannya dari dalam. Pandangannya sedikit berkunang-kunang saat ia berhenti berlari dan memilih untuk berjalan cepat di dalam bangunan itu.

Junsu yang hendak menjenguknya datang dari arah aula menuju pintu depan dan melihat si rambut merah itu sempoyongan ke arah sayap kanan kerajaan, masih diikuti oleh empat orang prajurit tadi.

“Ya-Yang Mulia Junsu!” Panggil salah seorang dari pengawal itu, meminta agar sang ratu dapat menghentikan Changmin. Junsu bergegas mengejar langkah cepat pangeran itu dan berdiri di hadapannya, menahannya di tempat.

“Changmin-ah! Kenapa kau ada di sini?!” Junsu masih terlalu kaget dan bingung melihat Changmin yang keluar dari tempat penyembuhan tanpa mengganti pakaian atau merapikan diri, namun ia bisa menebak.

“I-IBUNDA!” Panggilnya parau.

Ia menggenggam kedua lengan Junsu yang menahan bahunya dengan gemetar. “Zhoumi-hyung dimana?”

Walau sudah menduganya, pertanyaan itu tetap membuat Junsu kehilangan kata-kata.

“Naa? Ibunda? Dimana dia?” Changmin mengulangi pertanyaannya, berharap Junsu hanya tidak mendengarnya dengan jelas.

“Ch-changmin-ah. Ayo duduk. Kau harus minum dulu. Kau sudah tidak sadar selama dua minggu. Kau pasti haus kan?” Bujuk Junsu lembut, mencoba untuk tidak memperlihatkan emosinya.

“Dua minggu?!” Bisik Changmin kaget, ia memandang Junsu tak percaya.

Tapi Changmin tidak menuruti bujukan Junsu, ia tidak bisa berhenti untuk sekedar menyembuhkan haus tenggorokannya. Hatinya tidak tenang sebelum ia yakin dan bertemu Snowelf berambut pirang itu. Ia menolak tangan Junsu dan melangkah menuju ruang politik kerajaan.

“Y-yah, Changmin-ah! Kau mau kemana?” Junsu mencoba menahan lengannya, tapi Junsu malah terbawa kuatnya langkah Changmin ke arah koridor itu.

“ZHOUMI-HYUNG!”

Suara Changmin menggema disepanjang lorong kementrian itu, membuat kaget dan penasaran semua orang yang sedang bekerja di dalamnya. Sebagian besar pekerja berdiri dan keluar dari ruangan untuk melihat.

“ZHOUMI!” Teriaknya lagi, berharap akan ada yang menjawab dan memarahinya karena membuat keributan. Zhoumi selalu menyukai ketenangan, keributan macam itu akan memancing amarahnya, terlebih jika Changmin yang melakukannya.

Changmin terseok melangkah di ujung lorong, mendekati tempat Zhoumi biasa bekerja. Empat orang pengawal sedang mencoba menghentikannya atas perintah Junsu yang mencoba menenangkannya dari belakang.

“Lepaskan aku! Aku hanya ingin mencari Zhoumi!” Pemberontakan Changmin mulai melemah.

“ZHOUMI-HYUNG! KAU ADA DI SINI KAN??” Ia berhasil menyeret ke empat prajurit itu sampai ke depan ruangan Zhoumi. Beberapa pekerja yang juga ada di ruangan itu menepi, membiarkan Changmin melihat ke dalam. Ia menoleh kesana-kemari, mencari-cari, namun Changmin tetap tidak menemukan yang ia cari.

“Pangeran Changmin, hentikan ini. Pangeran Zhoumi sudah—”

“AH! YAA! Dia pasti sudah ke ruang rapat kan?! Hahahaa… Aku akan ke sana sekarang.” Changmin tersenyum getir kepada orang itu, lalu berbalik kembali sambil menampik tangan-tangan yang menahannya.

Rekan-rekan kerja Zhoumi hanya bisa memandangi Changmin dengan tatapan cemas sembari melihat pemuda itu melangkah menjauh.

Junsu sendiri terhenyak melihat keadaan putra kelima raja. Ia teringat saat Seunghyun berbicara agar ia melihat keadaan Changmin dan membantu pemulihannya malam itu. Pemuda berambut biru itu sudah menceritakan semuanya.

Junsu terdiam tak percaya. Seunghyun memang tidak pernah bercanda.

 

“Changmin belum tahu berita mengenai Zhoumi. Mengingat anak itu pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri, dia akan sangat terpukul… Changmin tidak membutuhkan bantuan pengobatan untuk fisiknya. Rasa sakit sudah biasa untuknya. Tapi hal seperti ini…

Ibunda harus memfokuskan pengobatan mentalnya, anak itu pasti trauma.” Seunghyun berbalik menghadap sang ratu sekali lagi. “Aku yakin karena Changmin adalah orang yang menyaksikan sendiri kematian Zhoumi dari jarak sedekat itu. Aku pasti akan mengalami trauma yang sama jika hal itu terjadi padaku.”

 

Sekalipun menebak kejadian seperti ini akan terjadi, Junsu tidak menyangka keadaan mental Changmin akan separah ini.

“Biarkan dia.” Perintah Junsu saat keempat prajurit tadi hendak menahan Changmin lagi. Ratu mendesah prihatin, ia melangkah tergesa mengikuti putra tirinya.

Changmin setengah berlari menuju ruang rapat. Setiap pagi semua anggota komite kerajaan pasti ada di sana, termasuk saudara-saudaranya. Ia masuk tanpa permisi, membuat suasana yang sebelumnya penuh diskusi menjadi hening karena kedatangannya. Yunho juga hadir pagi itu. Sejak pasca perang di Jouvenille, ia tidak pernah absen dari pertemuan dan urusan kerajaan. Keadaan masih belum tenang dan ia tidak bisa meninggalkan kepemimpinannya kepada orang lain.

Yunho tidak menunjukkan ekspresi apapun saat melihat putranya yang baru sadar dari koma itu datang.

“Max!” Panggil Siwon kaget. Ia, Seunghyun, dan beberapa orang di sana spontan berdiri.

Changmin tidak memperdulikan sopan santunnya sendiri. Ia menoleh ke kanan kiri dengan panik; namun lagi-lagi tak menemukan orang yang ia cari.

“Mana Zhoumi-hyung? Kenapa dia tidak ada di sini?”

Sesaat Seunghyun mengira adiknya sudah gila. “Kau kenapa, Changmin? Kau belum sadar?”

Ia memandangi penampilan adiknya yang tak pantas itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Pemuda itu kemudian menoleh ke arah Seunghyun penuh harap.

“Hyung! Hyung kau datang kan waktu itu? Kau datang menolong kami, kan?!”

Seunghyun melangkah keluar dari balik mejanya mendekati Changmin.

“Ya, aku datang dan menyeretmu pulang.” Mata biru itu menatap Changmin lekat-lekat.

“Zhoumi-hyung juga kan?! Mana dia? Aku ingin bertemu dengannya!” Changmin tersenyum kaku, berusaha tampak tenang meski siapapun bisa melihat mata terangnya meredup pelan-pelan.

Donghae menggigit bibir bawahnya, emosinya muncul lagi ketika melihat Changmin datang mencari-cari Zhoumi seperti itu.

Seunghyun terdiam memandangi adiknya lalu menarik keluar pedangnya dari sarungnya. “Kau mau bertemu dengannya? Biar kubantu kau menemuinya di alam baka.”

Seisi ruangan tersentak kaget melihat Seunghyun yang hendak menghunus pedang ke adik kandungnya sendiri di depan ayah mereka dan orang banyak.

“Seunghyun!” Hardik Siwon; tidak suka akan cara adiknya menjelaskan suasana. Ia melesat cepat dan menahan pedang Seunghyun tetap di posisi.

“Max, ayolah. Biar kuantar kau kembali ke kamarmu kalau kau tidak mau tinggal di menara penyembuhan lagi.” Siwon mencoba merayu dan merangkul bahu adiknya. Tapi tatapan Changmin tidak tertuju padanya. Pemuda itu memandang lekat Pangeran Keempat Hviturland, dan menggeleng tidak percaya.

Sekelebat memori kembali dalam otaknya. Bayangan di saat-saat terakhir ia menatap pupil ungu Zhoumi yang meredup tepat di hadapannya. Zhoumi bahkan masih mampu berlutut saat itu! Dengan pedang menembus tengah dadanya, posisi yang mungkin meleset melukai jantungnya! Changmin masih bisa membayangkan bibir kakaknya yang gemetar merasakan kehidupan dihisap darinya. Tapi Zhoumi masih hidup! Dan saat Changmin berjuang meraih Zhoumi, seseorang datang ke hadapannya—alpha berambut biru yang ia kenal—menyerang monster itu sekali, sampai mereka berdua saling melompat menjauhi satu sama lain. Seunghyun dengan menyeret Changmin, dan monster itu dengan menyeret Zhoumi.

Monster itu lalu berbalik masuk ke balik pertahanan Svarturland, membawa Zhoumi seperti tropi perang—dan…

…dan orang ini membiarkannya! Changmin ingat dirinya meronta mati-matian dari genggaman besi kakaknya itu, berusaha mengejar dan menggapai Zhoumi yang menghilang dari pandangannya sebelum pukulan tajam menghantam tengkuknya. Kesadarannya hilang, namun ia berharap Seunghyun tetap mengejar Zhoumi setelah itu. Itu harapan terakhirnya, hingga ia terbangun di menara pengobatan, mengetahui dirinya tertidur berminggu-minggu dan dihadapkan pada seisi istana yang mempercayai Zhoumi gugur di medan perang. Changmin terkesiap tidak percaya.

Semudah itukah mereka menerima kematian Zhoumi?

“…Kau… Kau meninggalkannya?! …Kau membiarkan mereka membawa Zhoumi?!”

“Aku tidak punya waktu untuk memikirkan Zhoumi-hyung yang sudah tewas. Kau lebih penting, karena jelas kau yang masih hidup saat itu.”

“Kau punya kesempatan! Aku punya kesempatan! Dan kau menghalangiku waktu itu!”

Aku menyelamatkanmu—yang benar.” Seunghyun mengoreksinya.

“KAU MENGHALANGIKU MENYELAMATKAN ZHOUMI-HYUNG! SEKARANG DIA DISANDERA MUSUH KARENAMU!” Changmin mengerat kerah Seunghyun.

“Pangeran Changmin, tenanglah… Kau pasti masih syok. Ini memang sulit diterima, namun Pangeran Zhoumi sudah gugur dalam perang itu…” Ucap salah seorang mentri.

Changmin menoleh tajam memandangi menteri itu seolah dia baru saja menghina mendiang ibunya.

“Kau tidak dengar yang kukatakan?! Zhoumi-hyung belum mati!” Ia melepaskan genggamannya dari Seunghyun.

“Kalau aku masih hidup, maka dia juga masih hidup! De-dengar! Aku yakin ada yang berbeda dari serangan ogre itu! Saat mereka menyerangku, pedang itu menghisap energi sihirku! Bukan membunuhku!”

“Itu karena kau tidak ditusuk di jantung atau kepalamu. Kau tak lihat Zhoumi ditusuk di jantungnya? Kedua matamu itu cuma hiasan ya?” Seunghyun merespon jengah. Changmin mengabaikannya. Ia berjalan lunglai menuju kursi ayahnya. Tidak seorangpun berusaha menghalangi, kecuali Seunghyun, yang segera berdiri di hadapannya dan menahan bahu adiknya.

“Ayah, aku bersumpah Zhoumi-hyung masih hidup!” Changmin berusaha menatap Raja, melalui sisi kanan bahu Seunghyun, saat Seunghyun menghalangi, ia beralih ke sisi kiri. Kakaknya lebih pendek darinya. Kalau saja Changmin tidak selemas ini, ia sudah pasti akan melawan Seunghyun yang menghalang-halanginya.

“TATAP MATAKU BAIK-BAIK DAN KATAKAN KALAU KAU MEMANG YAKIN DIA MASIH HIDUP!” Seunghyun mengatup wajah adiknya, menatapnya tajam, memastikan seluruh kesadaran Changmin kembali tanpa gangguan efek samping pengobatan atau tidur yang sudah berlangsung berminggu-minggu. Kegilaan Changmin harus dihentikan, atau semua orang akan menganggapnya berbohong—memberikan laporan palsu, atau bahkan sengaja membiarkan Zhoumi mati tanpa berniat menolong saudaranya demi kepentingan pribadi.

Tatapan Changmin berubah fokus, wajahnya mengeruh serius. Mengejutkan seisi ruangan yang merasa melihat Changmin berdiri dengan seluruh kewarasannya.

“YA! ZHOUMI MASIH HIDUP!” Changmin menepis tangan Seunghyun di wajahnya. Tidak ada lagi tubuh yang menghalanginya dari pandangan Raja.

“AYAHANDA! KAU TAKKAN MEMBIARKAN ZHOUMI DISANDERA MEREKA KAN? KITA HARUS MENYELAMATKANNYA! KUMOHON, BERIKAN AKU IZIN UNTUK MELAKUKANNYA! AKU SENDIRI YANG AKAN MEMIMPIN PASUKAN!”

Changmin menahan napas begitu ia selesai mengucapkannya. Raja memejamkan matanya, Changmin begitu berharap sang ayah tengah memikirkan permintaannya. Ia berharap ayahnya sedang menimbang untuk memberinya beberapa batalyon pasukan dan menyerang Svarturland untuk menyelamatkan Zhoumi. Zhoumi yang diyakininya masih hidup di suatu tempat di Tanah Hitam, meskipun sudah dua minggu berlalu sejak saat itu. Tapi semenit kemudian, respon Raja membuatnya tercekat. Harapannya pupus di depan mata.

“Hentikan semua keributan ini, Jung Changmin.” Yunho menatap putranya kejam.

“Keluar dari ruangan ini.”

Changmin terkesiap. Menarik napas dengan hirupan yang menyakitkan. Ia menahan napasnya dan mendesis, tidak percaya.

“Kau… Kau memilih mengabaikannya, anakmu sendiri—?! Apa karena Zhoumi-hyung seorang beta? Ba-bagaimana kalau itu aku? Tidak. Bagaimana kalau itu terjadi pada Siwon-hyung atau Seunghyun-hyung? Apa kau akan mengabaikan putra mahkotamu juga? Alpha-alpha penerusmu?!”

“Aku tidak akan memerintahkan ratusan prajurit kerajaan pergi bunuh diri hanya untuk mencari mayat.”

“Mayat, katamu?!” Changmin mendesis, hal yang belum pernah dilakukannya di hadapan raja. Tapi kini semua yang diucapkan ayahnya hanya menambah panas di hatinya.

“Hentikan sikap tak sopanmu, Changmin!” Seunghyun menghardiknya dari belakang, siap menahan adiknya jika hendak bertindak gegabah.

Changmin menatap ayahnya dengan sorot penuh kebencian. Kebencian yang begitu lama dipendamnya, disembuhkannya, hanya untuk muncul lagi ke permukaan.

“Baik.” Changmin menahan napas beratnya yang bergetar karena amarah. “AKU AKAN PERGI MENYELAMATKANNYA SENDIRIAN!”

Siwon menghela napas, merasa harus turun tangan. Ia meraih bahu Changmin melewati Seunghyun. Dipeluknya Changmin bermaksud menggiring pemuda itu keluar, sebelum adiknya semakin memperparah keributan yang sudah dibuatnya.

Namun Changmin berdiri sekokoh patung, masih dengan wajah pucat dan sorot membara ia memandangi Raja dari sela bahu kakaknya.

“Aku tidak membutuhkan bantuanmu, Yang Mulia! AKU BISA MENYERANG MEREKA SENDIRI! AKU TIDAK MEMBUTUHKANMU!” Teriaknya lagi.

“Hentikan!” Bentak Siwon tidak sabar, Changmin memberontak dan berusaha melewatinya.

BUGH!

“U-ugh.” Changmin membungkuk, kesakitan.

Siwon tidak memiliki pilihan, ia memukul Changmin kuat dan tepat di perutnya. Satu pukulan itu tidak cukup untuk menumbangkan Changmin tapi cukup membuatnya terpaku. Kalau pemuda itu tidak sedang di masa penyembuhannya, Siwon yakin ia akan mendapatkan pukulan balasan dari adiknya.

Changmin menggerung kesakitan, tubuhnya yang terlalu lemah menghalanginya untuk melawan. Ia hanya bisa memandangi kakaknya dengan tatapan tidak percaya. Tangannya mengepal dan gemetaran, seakan ingin mengumpulkan energi untuk membalas Siwon. Ia mampu berdiri, tapi kedua kakinya terlalu lemas. Kalau saja Siwon tidak memeluknya erat-erat, Changmin yakin ia sudah akan berlutut kesakitan, merintih dengan memalukan di hadapan raja dan seluruh mentrinya.

Aku percaya padamu, jadi hentikan.”

Changmin mendengar bisikan pelan penuh arti itu di sisi tengkuknya, sebelum kegelapan menelan kesadarannya yang semakin menipis.

Siwon melirik Seunghyun, berpikir apakah pemuda itu mendengar ucapannya barusan. Tapi melihat ekspresinya, Siwon berharap pemuda itu tidak mendengarnya.

“Biar aku yang membawanya kembali ke kamar.” Siwon tidak membutuhkan persetujuan, ia merangkul tubuh adiknya dan menyeretnya keluar ruangan. Siwon tidak yakin adiknya akan dibebaskan dari hukuman setelah kekacauan yang dibuatnya hari ini, tapi setidaknya, ia berharap ayahnya akan sedikit memberikan pengertian. Changmin belum pulih sepenuhnya, baik mental atau fisiknya. Namun suara yang didengarnya sebelum keluar ruangan membuatnya tidak bisa berharap lebih.

“Song Bum-sshi, awasi dia baik-baik.”

“Ye, Yang Mulia.”

“Masukkan dia ke penjara kalau dia tetap bersikeras pergi ke Svarturland sendirian.”

Siwon menghela napas, tidak ingin mendengar lebih jauh lagi.

.

oOoOoOo

.

Sungmin menggembungkan pipinya, lalu menghembuskan napasnya melalui mulut. Ia benar-benar sedang kesal. Ia berdiri di hadapan jendela dengan niat menghindari tiga pelayan pribadinya ini yang sejak tadi terus memaksanya menghabiskan segala jenis makanan yang mereka sediakan di atas meja. Sungmin benar-benar sudah kenyang meski seperti yang mereka katakan, ia hanya makan beberapa suap. Sejak kehadiran baby di perutnya, tubuhnya jadi kebingungan kapan harus merasa lelah, kapan harus bersemangat, kapan harus lapar, kapan harus kenyang, kapan harus mengantuk…

Intinya, kehadiran baby menghancurkan segalanya. Kyuhyun-hyung bahkan beberapa kali menolak memasuki tubuhnya dengan alasan… terlalu sering melakukannya akan melukai baby. Padahal berkali-kali Sungmin juga sangat menginginkannya sampai tubuhnya gemetaran! Dan semua perdebatan tidak penting Sungmin dan Kyuhyun-hyungnya akan berakhir dengan Kyuhyun mengalah dan Sungmin harus cukup puas hyungnya hanya menggunakan jari-jarinya yang ramping dan panjang.

Tapi tentu saja Sungmin tidak puas! Mana bisa jari-jari super tipis itu dianggap pantas menggantikan milik Kyuhyun-hyungnya!

Sungmin mengangkat sebelah kakinya, ingin menghentakkan kaki itu. Tapi kakinya tertahan di udara, saat ia teringat terakhir kali melakukannya membuat perutnya sakit sekali, ditambah omelan Kyuhyun-hyung sepanjang hari yang tidak ada habis-habisnya. Sungmin menurunkan kakinya pelan-pelan. Lalu menahan bawah perutnya tanpa sadar, tiba-tiba takut diserang sakit itu lagi. Pandanganya kini terarah lurus keluar jendela. Jauh di ujung pandangannya, puluhan tukang bekerja keras membangun sesuatu. Mereka mengangkat batu-batu, tanah liat, dan beragam benda asing lainnya. Beberapa orang berada tinggi di atas gerbang istana, menunggui benda-benda itu dikerek menggunakan katrol. Lalu mereka mulai membangun, sedikit demi sedikit, memalu, menempel, menumpuk.

Sungmin memicingkan matanya, tiba-tiba ingin tahu.

“Apa yang mereka lakukan?”

Satu pelayannya mengusap pipi Sungmin, menghapus noda kecil di ujung bibir pangeran belia itu sembari menjawab lembut. “Mereka membangun garda perang diatas benteng.”

Sungmin menautkan alisnya, lalu berbalik menatap pelayan itu dengan bibir mengerucut. Ketiganya senyum-senyum menahan diri untuk tidak mencubit pipi Sungmin karena gemas. Satu diantaranya memanfaatkan momen itu untuk menyodorkan sesendok penuh nasi dengan potongan daging ke hadapan Sungmin, sesuai perkiraannya, Sungmin membuka mulut dan melahapnya. Selagi mengunyah, pangeran itu menggerutu. “Memangnya kita mau perang? Bukannya benteng utama sudah punya garda?”

“Ya, tapi Raja Yang Bijak menginginkan keamanan untuk kita semua. Garda berlapis di seluruh benteng akan meningkatkan ketahanan Istana. Apalagi setelah serangan di desa dekat Ibukota.” Pelayan itu menghela napas sendu, meski masih mencoba menyuapi Sungmin.

Sungmin makin mengerutkan alisnya, tapi kali ini wajahnya berubah serius. Ekspresi yang sebelumnya sangat jarang ia tunjukkan, pada siapapun. Untuk sesaat ketiga pelayan itu tercenung, dalam diam sama-sama menyadari sorot dewasa yang tampak sekilas di wajah belia Sungmin.

“Serangan? Serangan apa? Siapa yang menyerang? Kenapa desanya diserang? Aku belum dengar.” Sungmin bertanya bertubi-tubi.

“Ah, itu… Kami tidak tahu, Tuan Muda. Hal-hal seperti itu disembunyikan untuk melindungi rakyat kerajaan.” Ucap salah satu diantara mereka penuh sesal.

Sungmin melirik ketiganya untuk memastikan mereka tidak berbohong. Selalu saja ada orang-orang yang menyembunyikan banyak hal darinya hanya karena mereka merasa dirinya belum cukup dewasa untuk diberitahu hal-hal orang dewasa. Sungmin menggerutu, terlebih saat ia tidak menemukan tanda-tanda kebohongan di wajah ketiga pelayannya. Ia sudah menghapal nama mereka. Haseol, Seoyeon, dan Subin. Ketiganya mulai dipekerjakan untuk menjadi perawat dan pelayan pribadi Sungmin sejak kehadiran baby. Sungmin diam-diam menyukai pelayan-pelayan ini, ia diam-diam bahkan sudah menganggap ketiganya sebagai teman. Mereka tampak sebayanya, cerdas, bisa menjawab hampir seluruh pertanyaan aneh Sungmin, dan yang paling penting… mereka tidak terlalu tinggi, Sungmin tidak perlu mendongak untuk berbicara dengan mereka, itu sudah cukup.

Tapi Sungmin terlalu angkuh untuk memanggil mereka menggunakan nama.

Sekali lagi Subin menyodorkan sesendok penuh nasi padanya, Sungmin menggerutu dan menggeser sendok itu pelan menjauh dari wajahnya.

“Nanti kutanyakan pada hyung. Huf, gara-gara hyung selalu memaksaku membaca gulungan ini gulungan itu, sekarang aku jadi ikut-ikutan pusing kalau lihat sesuatu! Sudah-sudah aku tidak kuat makan lagi, kepalaku pusing! Kalian juga kenapa sih, aku bukan kerbau tau! Kenapa makanannya makin banyak tiap hari, aku tidak mungkin menghabiskannya, memangnya aku babi ternak?!”

“Tapi Tuan Muda… Pangeran kecil butuh asupan di dalam perutmu. Kalau kau tidak makan, dia juga tidak dapat makanan…”

Sungmin melotot pada ketiganya. “SUDAH KUBILANG KAN, JANGAN NGOMONGIN BABY-BABY! Anggap dia tidak ada kalau kalian berempat saja denganku, ok!”

Subin dan Haseol menahan diri untuk tidak cekikikan. Kini sikap cemburuan Pangeran Sungmin terhadap jabang bayinya sendiri sudah menyebar ke seluruh penjuru istana. Sedikit orang berpikir negatif dan mulai mencibir tindakan Sungmin, tapi lebih banyak orang memandangnya sebagai tindakan yang menggemaskan. Hampir semua orang tahu, Putra Mahkota mempunyai dua orang bayi. Matenya sendiri, dan calon anaknya ini.

Seoyeon menyerah, ia mengambil mangkuk yang tadi dipegang Subin dan mulai membereskan makanan yang tersisa di atas meja. Diangkutnya piring-piring itu menggunakan satu nampan, lalu Seoyeon mulai bekerja membawa benda-benda itu keluar, meninggalkan Sungmin sendirian bersama dua pelayannya yang lain.

Bermenit-menit kemudian, ketiganya berada dalam keheningan. Haseol menggeret satu kursi dan membujuk Sungmin untuk memandangi pembangunan Garda di luar istana sembari duduk. Subin memijati bahu Pangeran belia itu lembut dan pelan, tahu Tuan Muda mereka menyukainya.

Tubuh muda Sungmin yang tengah menampung nyawa lain kerap membuatnya pegal bahkan untuk berdiri sesaat. Meski begitu, Sungmin tetap ngotot mendapatkan jatah normalnya seperti saat ia belum mengandung. Tidak selalu murni karena keinginan tubuhnya, tapi karena Sungmin ingin Kyuhyun-hyungnya lebih memperhatikan dirinya dibanding bayi ini. Kalau Kyuhyun-hyung melarang atau menolak keinginannya, Sungmin segera menyangkut pautkan penolakan hyungnya dengan sikap pilih kasihnya pada baby.

“Kudengar ada anak bandel di kamar ini? Hmmm, dimana diaaa… Aku siap menghukumnya!” suara itu berasal dari luar pintu. Sungmin mendelik karena tahu siapa pemilik suara itu. Ia berdiri panik dan memegangi tangan dua pelayannya dengan ketakutan. “Y-ya! Pasti Seoyeon mengadu! Sembunyikan aku! Sembunyikan aku!” Sungmin mengitari kursinya dengan kebingungan, rasa-rasanya ia ingin melompat dari jendela dan kabur dari Kyuhyun.

Melihat kebingungan majikan mereka, Subin dan Haseol ikut-ikutan panik. Satu mencoba menarik Sungmin menuju kolong ranjang, sedang yang satu mencoba menggiring Sungmin menuju ruang mandi. Apapun yang terjadi, sekalipun Putra Mahkota berhasil menemukan Tuan Muda mereka, setidaknya keduanya bebas dari amukan Sungmin nanti.

“R-ruang mandi, Tuan Muda. Ruang mandi!”

Sungmin menahan diri untuk tidak memekik mendengar suara Kyuhyun makin mendekat. Ia memutuskan mengikuti giringan Haseol menuju ruang mandi. Tapi belum sempat ia melangkah masuk kesana, pintu kamarnya dibanting terbuka, dan suara horror itu terdengar jauh lebih dekat, tepat di belakang tubuhnya.

“Dimana anak bandel~”

“GYAAAAA!” Sungmin memekik ketakutan. Kyuhyun menangkapnya erat-erat dari belakang.

Sementara pemuda itu memberontak panik, Kyuhyun mengecup tengkuknya gemas. “Kena kau, anak bandel!”

Sungmin hampir menangis, seakan dihadapkan pada situasi menakutkan saat ia dikejar-kejar oleh Changmin-hyung yang jangkung mengelilingi istana tanpa seorangpun berniat membantunya. Tapi setidaknya, Kyuhyun-hyung tidak berjambang. Sungmin tidak perlu menanggung rasa geli saat matenya menggesekkan pipi dan dagu di lehernya.

“Lepaskan aku! Lepaskan aku, hyung! Aku tidak melakukan apapun hari ini! Aku tidak nakal! Aku tidak kabur, kok!”

Kyuhyun tertawa gemas, hampir saja menggigit dan menghisap bibir Sungmin di hadapan dua pelayan matenya. Saat menyadari kehadiran mereka, wajahnya berubah datar menahan malu. Ditatapnya kedua pelayan yang sejak tadi berdiri bengong di sisi meja makannya sembari memerintah kaku “Keluarlah.”

Kyuhyun melepaskan Sungmin, dan kesempatan bebas itu digunakan Sungmin untuk berdiri jauh-jauh dari Kyuhyun.

“A-aku makan dengan lahap! Lihat, bajuku sampai kotor!”

“Uh-um?” Kyuhyun meneguk isi gelas di atas meja yang diduganya milik Sungmin. Lalu ia duduk di salah satu kursinya, dan menarik keranjang buah mungil mendekat ke sikutnya. Ia mengambil sebulir anggur dan melahapnya. Di dalam keranjang itu berisi penuh apel, aprikot, persik, beri, anggur, dan beragam buah-buahan yang bisa dimakan langsung tanpa harus dikupas. Buah-buahan itu disediakan karena Sungmin terlalu malas. Baik untuk mengunyah apalagi mengupas.

“Kemari, Sungmin-ah.” Kyuhyun menepuk-nepuk pahanya, mengundang Sungmin. Tapi mate mudanya berdiri kaku, menolak mendekat.

“Aku tidak mau makan buah! Aku sudah kenyang, kan sudah kubilang!”

Kyuhyun tertawa, geli melihat Sungmin mampu menebak maksudnya.

“Kemari, chagi. Hyung hanya ingin memangkumu.”

Sungmin memandangnya ragu-ragu. Tapi saat Kyuhyun menatapnya lembut sembari menepuk-nepuk pahanya lagi, Sungmin mulai tergoda. Pelan-pelan ia melangkah, lalu mendarat duduk di atas pangkuan Kyuhyun. Hyungnya bahkan tidak berniat basa-basi! Dengan cepat Kyuhyun melingkarkan tangannya di bawah perut Sungmin, menahan pemuda itu bangun, lalu menyodorkan sebulir plum.

“UH-UM!” Sungmin menggeleng dan mendengus kuat, mengatup mulutnya rapat-rapat. Ia siap menginjak kaki Kyuhyun kalau matenya ingin main paksa.

Sungmin ingin berteriak memprotes, tapi jika ia membuka mulutnya, ia akan dipaksa menelan buah itu dan Kyuhyun akan mengatup mulutnya hingga Sungmin terpaksa menghabiskan benda itu, dan siklus berulang sampai Sungmin selesai menelan jumlah buah yang memuaskan Kyuhyun. Taktik licik ini sudah terjadi sebelumnya! Bagaimana mungkin ia terjebak lagi! Sungmin merutuk dalam hati.

“Sungmin-ah, Seoyeon bilang kau hanya makan empat suap. Cepat buka muluuuut!” Kyuhyun bertindak makin anarkis dan menekan-nekan plum itu di belahan bibir Sungmin yang terkatup rapat.

Sungmin menyerah, ia membuka mulutnya karena pegal dan terpaksa mulai menelan buah itu lamat-lamat jika tidak ingin Kyuhyun membekap mulutnya. Sungmin mengunyah buah itu dengan pipi menggembung penuh.

Kyuhyun menyeringai senang. Ia meraih isi keranjang, mengambil sebulir besar anggur, siap menyumpalkan buah itu setelah Sungmin selesai mengunyah yang ada di mulutnya. Dengan sabar ia menunggu, tanpa mengalihkan pandangan dari Sungmin dan tidak sedikitpun melonggarkan jagalannya di bawah pinggang Sungmin.

Sementara Sungmin memutar otaknya, mencari taktik yang bisa membebaskannya dari penjajahan ini. Atau setidaknya, membuatnya impas. Terakhir kali, Sungmin menantang Kyuhyun ‘satu suap untuk satu suap’, Sungmin menginginkan Kyuhyun melahap satu sendok makanan untuk satu sendok yang dilahapnya sendiri, berpikir Kyuhyun akan segera menyerah karena Sungmin tahu Kyuhyun baru saja menghadiri pesta daging dan arak salah satu mentri kerajaan. Dibanding Sungmin yang menolak makan seharian hingga malam, Sungmin sudah yakin akan menang telak atas Kyuhyun, membaskan dirinya setidaknya dengan melahap dua tiga sendok penuh saja dibanding harus menghabiskan sepiring penuh yang dituntut Kyuhyun.

Tapi kenyataan berkata lain. Kyuhyun menghabiskan dua piring penuh makanan dengan seluruh daging madu yang memuakkan, memaksa Sungmin melakukan hal yang sama demi melindungi harga dirinya yang terluka. Perutnya serasa akan meledak saat itu, tapi Sungmin terus memaksa menyuap sendok lain, tidak menginginkan skor Kyuhyun berada diatasnya.

‘Ayolah chagiiii, hyung masih kuat lima piring lagi!’

Kalimat itu sukses melukai harga diri Sungmin. Hingga di awal piring ketiga… Sungmin menyerah dan mulai menangis. Karena malu dan tetap tidak ingin kalah. Kyuhyun iba melihatnya, membiarkan Sungmin menelan seujung kecil suapan terakhirnya dan menang.

Matenya mengatakan mampu makan lima piring lain! Sedangkan Sungmin kehabisan napas saat itu. Sungmin mendapatkan pelajarannya dan lebih waspada lain kali. Ia tidak bisa menantang Kyuhyun dengan tergesa atau ia sendiri yang akan menanggung malu.

Tidak. Kali ini tidak bisa adu makan, apalagi adu kekuatan. Sungmin memutar otaknya makin tergesa saat buah dimulutnya habis sedikit demi sedikit dan Kyuhyun menyeringai sembari mengangkat tinggi-tinggi anggur di tangannya. Sungmin menelan kunyahan terakhir plum di mulutnya, tapi sebelum anggur di tangan Kyuhyun sempat terbang ke dalam mulutnya, Sungmin menahan tangan hyungnya dan memekik.

“Satu buah untuk satu jawaban!”

Kyuhyun menautkan alisnya. “Huh? Permainan lagi? Uh, kalau kau kalah, kau pasti menangis lagi, dan aku terpaksa mengalah lagi. Kau sudah pasti menang curang!”

“Ini bukan main menang-kalah, kok!” Sungmin berjingkat frustasi, menekan naik-turun tubuhnya di atas pangkuan Kyuhyun, membuat Kyuhyun mengerang, dan terpaksa mendengarkan. “Apa yang terjadi di desa dekat ibukota? Desa mana? Itu serangan apa? Siapa yang menyerang? Kenapa penjagaan Istana Utama harus ikut diperkuat?”

“Oh.” Kyuhyun meringis dan membenahi posisi Sungmin untuk melindungi kejantanannya dari hantaman bokong nakal pemuda itu. Ia baru menyadari permainan macam apa yang diinginkan Sungmin, tapi bukan menjawab, ia malah membalas dengan pertanyaan. “Kau dengar darimana?”

“Hyung, jawab!”

“Chagiya, kau bilang satu buah satu pertanyaan. Itu seribu pertanyaan. Mulutmu bisa kepenuhan.”

Sungmin merengut. “Baiklah. Desa mana?”

“Gilead.”

Sungmin membuka mulutnya, sebenarnya untuk mengajukan pertanyaan lain. Tapi Kyuhyun menyumpalkan sebulir anggur ke mulutnya dan Sungmin terpaksa mengunyahnya dulu sebelum kembali bertanya.

“Pelan-pelan. Nanti kau tersedak. Aku akan sabar menjawab seribu pertanyaan, untuk seribu bulir anggur.”

“Itu dimana? Seberapa dekat dari kerajaan? Desa penghasil apa?”

“Satu.” Kyuhyun memperingati.

Sungmin menghela napas, dan menghentakkan kakinya kesal. Tapi ia sendiri yang membuat peraturannya, ia harus menaatinya.

“Seberapa dekat dari kerajaan?”

“Empat mil, tiga jam dari sini.”

Sungmin mulai lelah mengunyah, tapi ia berhasil mengorek informasi yang dibutuhkannya, dengan bayaran harus mengunyah dua anggur, satu plum, satu apel, satu persik, dan tiga beri.

“Desa yang dekat dari pantai, tentara bayaran pemberontak yang menyerang, untuk menjarah hasil pertanian Gilead dan menculik beberapa gadis, sudah tiga desa yang diserang oleh mereka, dan kemungkinan akan menyerang desa lain, bergerak berkelompok berisi dua puluh orang dengan wujud siluman dan tenaga monster Svarturland, belum juga tertangkap karena mereka tidak punya bendera dan suka menyamar bahkan mungkin memasuki Ibukota dengan menyamar.”

Informasi sederhana, tapi Sungmin harus menanggung tekanan di perutnya yang merongrong agar ia berhenti menelan apapun. Kyuhyun cukup puas pada jumlah buah yang ditelan Sungmin. Ia tidak memaksa Sungmin mengajukan pertanyaan lagi, karena tidak tega melihat matenya bernapas berat sembari memegangi bawah perutnya karena kekenyangan.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal mem-bo-san-kan?” Kyuhyun menaikkan alisnya, mengayun kata terakhirnya penuh tekanan. Sungmin selalu mengatakan seluruh pekerjaan Raja dan Putra Mahkota adalah hal membosankan, apalagi pekerjaan yang sering dibawa Kyuhyun kekamar mereka. Meski Sungmin tidak perlu tahu, bahwa Kyuhyun juga merasakan hal yang sama. Membosankan.

Semua serangan, kekerasan, dan peperangan ini membuatnya jenuh. Kalau ada hal-hal dari seorang Raja yang disukainya, hanya strategi di balik layar dan rancangan-rancangan pembangunan. Kyuhyun tahu hobinya dipandang miring banyak orang. Seseorang bahkan mengatakan ia jauh lebih sering menghindari latihan pedang ketimbang ayahnya di masa muda. Jika Kangin pada masa mudanya kabur untuk melanglang buana, mengunjungi banyak desa dan menyamar menjadi rakyat biasa. Kyuhyun menghabiskan masa mudanya untuk mendekam di istana.

Pangeran yang lebih gemar membaca dan menggambar, Kyuhyun sadar dirinya bukan idaman seluruh rakyat. Di sudut-sudut kota hingga ke ujung desa-desa kecil kerajaan lain, banyak orang berkumpul untuk mengolok namanya. Tapi Kyuhyun kerap menghibur dirinya. Bisikan miring yang menyatakan bahwa dirinya tidak pantas menggantikan posisi Raja tidak menyinggungnya, ia hanya takut mengecewakan ayahnya, dan mendiang ibunya… Sejak awal, ia memang tidak pernah menginginkan takhta Raja.

“Tidak, apa. Cuma penasaran kenapa garda baru dibangun di benteng Istana.” Jawaban Sungmin membangunkan Kyuhyun dari lamunannya.

Itu juga hal membosankan lain untuk dipenasari… Kyuhyun menambahkan dalam hati. Sesaat, keduanya terdiam. Kyuhyun mengecupi leher matenya sementara Sungmin memandang keluar jendela.

Kyuhyun mengerutkan ujung hidungnya saat menyadari aroma berbeda menguar dari tengkuk dan sekujur tubuh Sungmin. Ini bukan aroma asing, Kyuhyun pernah mencium aroma ini sekali di tubuh Sungmin. Dulu mengira bahwa apa yang diendusnya hanya sisa-sisa persetubuhan mereka yang melekat di kulit Sungmin. Tapi ini…

“Min-ah, tumben tubuhmu wangi?” Kyuhyun ingin sekali mengucapkannya, tapi sadar hal itu mungkin akan memunculkan amarah Sungmin dengan menambahkan kata ‘Tumben’ di tengahnya. Tapi ia jelas mencium aroma khas tubuhnya sendiri menguar dari tubuh Sungmin, sedangkan mereka belum melakukan hubungan badan selama tiga hari terakhir. Aroma ini… Aroma seekor direwolf.

Apa ini benar-benar bawaan jabang bayinya? Sekuat itu dampaknya?

.

oOoOoOo

.

Walaupun sedang musim hujan, pagi itu matahari bersinar cerah. Leeteuk berdiri sendirian di tengah-tengah kebun miliknya, diantara barisan tanaman cosmos yang pernah ia tanam. Kini bebungaan yang pernah ditanamnya rapi berbaris itu sudah tumbuh bersama semak belukar ke arah yang tak beraturan. Pepohonannya masih berbuah, namun tak ada yang memindahkan anak-anak tanaman yang tumbuh di sekitarnya.

Ya, sang ratu tidak ingin kebun pribadinya diurusi oleh orang lain selain dirinya. Atas permintaannya, Kangin terpaksa tidak menugaskan salah satu dari puluhan tukang kebunnya di taman yang satu ini. Daun-daun kering banyak berguguran di tanah. Sesekali pelayan Leeteuk akan menyapukan daun-daun kering itu ketepian, namun tidak untuk dibawa pergi ataupun dibakar. Dedaunan kering itu bisa diolah menjadi pupuk, kata Ratu sembari melarang siapapun yang bermaksud membuangnya.

Tidak banyak yang perlu dilakukan seorang Ratu di Radourland. Acara yang perlu ia hadiri juga tidak banyak. Kangin tidak membiarkan Leeteuk ikut campur dengan politik. Ia seolah hanya penghias takhta, teman sang raja di kala malam tiba. Tak lebih. Baginya yang selalu sibuk mengurusi kebun ayahnya seorang diri, tidak melakukan apa-apa seperti itu sangat menyiksa. Ia meminta kebun pribadi untuk menghabiskan waktunya di sana. Tak memakan waktu lama, tanah seluas 200 meter persegi yang ada di sebelah kamar pribadi Ratu dibebaskan Raja untuk menjadi kebun pribadi kekasihnya itu.

Saat Leeteuk pertama datang kemari, ia bisa melakukan semuanya sendiri. Namun sekarang berbeda. Ia tidak tahu kenapa keadaan fisiknya menurun drastis. Sejak beberapa waktu lalu, ia mulai sering sakit kepala, cepat merasa lelah, sulit bernapas, sakit di dada, dan sering demam. Selain itu…

Pria berambut cokelat gelap itu menyentuh bagian bawah perutnya di balik jubah tebal berwarna marun yang ia kenakan.

Ia takut kalau ia akan membuat Kangin menjadi lebih cemas lagi terhadap keadaannya.

“Permisi, Yang Mulia.” Suara itu menyadarkannya dari lamunan.

Leeteuk berbalik. Seorang pelayan wanita yang mengenakan pakaian berwarna merah muda berdiri di tepi taman bersama seorang remaja laki-laki yang mengenakan pakaian berkebun berwarna abu-abu. Wajahnya tegang dan kelihatannya ia malu-malu.

“Apakah dia orangnya?”

“Benar Yang Mulia.” Pelayan itu menunduk.

Leeteuk tersenyum dan memanggil pemuda itu. “Kemarilah, nak.”

Pemuda berambut cokelat terang itu melangkah ragu-ragu mendekat, sementara pelayan tadi permisi keluar setelah mengantarkannya. Kini ia berdiri sekitar dua meter dari ratu negrinya—ratu yang pertama kali ia lihat dari dekat. Ia menunduk hormat, takut untuk menatap orang itu lama-lama.

“Menengadahlah, aku ingin melihat wajahmu.”  Pemuda pendek itu perlahan mendongak. Ia memutar bola matanya, bingung harus menatap kemana.

“Siapa namamu?” Tanyanya lembut.

“…Ryeowook, Yang Mulia.”

“Namaku Jungsu.” Balasnya lagi, memperkenalkan diri seolah ia bukanlah ratu dan Ryeowook bukanlah tukang kebun.

Ryeowook mengangguk.

Ia sudah sering melihat Leeteuk dari kejauhan saat acara-acara besar kerajaan, namun baru kali ini ia melihat orang ini dari dekat.

Begitu cantik—Ryeowook sempat tidak percaya saat orang-orang bilang bahwa ia adalah seorang laki-laki. Ia tidak berdandan seperti wanita, tentunya. Cantik yang dimaksud Ryeowook pun berbeda dengan wanita-wanita yang ada di kerajaan, lebih alami dan sulit untuk disangkal bahkan oleh sesama lelaki.

“Jadi kau yang telah mengurusi tanaman-tanaman bibit di kebun belakang? Kau masih muda dan sangat berbakat. Aku bisa merasakan kesungguhanmu mengurusi mereka. Dan bunga chamomile yang kau tanam harum sekali. Aku menggunakannya untuk tehku setiap pagi. Terima kasih.”

Ryeowook hanya tersipu malu dan merucutkan bibirnya. Sang ratu mengucapkan terima kasih padanya?

“Dia seorang lelaki dari rakyat jelata seperti kita! Apa yang raja lihat darinya? Lebih baik ia menikahi putriku saja!”

“Kalian tahu, dia pasti seorang penyihir! Dia pasti telah menyihir Yang Mulia Youngwoon agar mengangkatnya menjadi seorang ratu! Menggelikan!”

“Sebegitu hausnya dia akan takhta sampai-sampai mau menjadi laki-laki pelacur! Yah, mungkin karena Kangin adalah Raja Radourland—sudah pasti karena itu.”

“Katanya sih, mendiang Ratu pertama meninggal karena penyakit kirimannya! Mengerikan sekali.”

“Dasar hina! Ia akan menerima balasan perbuatannya nanti. Kalau bisa pasti aku sudah melemparinya dengan batu!”

“Hentikan! Kau akan dihukum dan disiksa sampai mati oleh sang raja! Ia terlalu mabuk cinta akibat penyihir itu!”

Kata-kata penuh caci maki dan kebencian itu terngiang di benak Ryeowook.

Begitu banyak orang-orang yang membicarakan pria di hadapannya ini di belakang—warga desa maupun pelayan kerajaan. Walau rumor-rumor itu sempat membuat pemuda itu syok dan tak percaya, ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Dan saat ini di hadapannya, Ryeowook tidak melihat seorang penyihir seperti yang orang-orang katakan.

Ryeowook percaya tanaman memiliki perasaan. Dan sekarang ia melihat sendiri kebun pribadi sang ratu. Tidak akan ada orang berhati jahat yang bisa menanami banyak tumbuhan seperti ini—walau berantakan dan tak terurus, bebungaan itu masih mekar dikerubungi kupu-kupu. Pepohonannya masih ditumbuhi buah-buahan yang manis. Ada beberapa binatang kecil yang dibiarkan hidup disana, seperti tupai dan burung-burung—dibiarkan mengambil buah, biji-bijian, dan bunga untuk makanan mereka.

Kalau memang kebun ini diurus sendiri oleh sang ratu, maka Ryeowook sudah dapat melihat orang seperti apa dia sebenarnya.

“Su-suatu kehormatan bagi saya, Yang Mulia.”

“Berapa usiamu?”

“Tiga puluh enam tahun.” Jawab Ryewook bingung. Apa sang ratu repot-repot memanggilnya kemari hanya untuk mengatakan hal itu dan berbasa-basi? Mungkin ia hanya butuh teman ngobrol?

“Nah, Ryeowookie…”

Ryeowook hampir saja mengatakan “EH?!” keras-keras mendengar Leeteuk memanggilnya dengan panggilan akrab seperti itu.

“Sebenarnya aku ingin minta tolong padamu. Kau mungkin tahu, aku mengurusi kebun ini sendirian selama ini. Tapi sepertinya aku membutuhkan bantuan orang lain sekarang. Sebenarnya aku sangat ingin melakukannya sendiri. Tapi mungkin karena faktor umurku… aku sudah beberapa kali pingsan di sini karena memaksakan diri. Hahahaaa… Memalukan sekali ya? Waktu aku masih muda dulu ini tidak pernah terjadi.” Leeteuk tertawa malu.

Benar. Kabar ini juga sudah meluas kemana-mana.

Jungsu sudah lama tidak muncul ke publik dan menghadiri acara-acara formal.

Ada orang-orang yang mengatakan bahwa permaisuri kedua ini terkena karmanya, namun ada juga yang bilang itu karena kutukan kerajaan. Ratu pertama meninggal karena penyakit aneh yang tak sembuh-sembuh… Pangeran satu-satunya Radourland juga tumbuh pesakitan, namun sekarang sepertinya sudah lebih sehat. Sekarang hal yang serupa dengan ratu pertama menimpa ratu kedua ini. Apa dia juga akan meninggal karena penyakit aneh ini?

“Maukah kau membantuku mengurusi kebun ini, Ryeowook?”

“MWO?!” Ryeowook menutup mulutnya dengan kedua tangan seketika. “Ma-maafkan saya. Tapi… saya hanya tukang kebun amatir. Di sini ada banyak yang lebih hebat daripada saya, Yang Mulia.” Mengingat ia baru bekerja di kerajaan selama sepuluh tahun bersama bibinya.

“Tidak, tidak. Aku hanya ingin kau yang membantuku. Aku sangat pemilih lho. Kau boleh menjawab dengan jujur. Aku tidak akan marah ataupun menghukummu jika kau menolak.” Leeteuk mengerutkan alisnya sedih saat mengutarakan kalimat terakhir itu. Ia tidak ingin orang-orang yang membantunya terpaksa karena takut ia akan melaporkan hal itu kepada Kangin.

Ryeowook menggeleng.

“Ah, maksudku… aku tidak menolak, Yang Mulia! Tapi ini mendadak sekali. Saya tidak tahu apa saya mampu—”

“Kau pasti bisa.” Leeteuk memotong ucapan Ryeowook dengan penuh percaya diri. Senyumnya memperlihatkan lesung di pipi kirinya. “Kalau begitu pikirkanlah dulu. Aku akan menunggu sampai kau datang memberikan jawabanmu.”

Ryeowook mengangguk, lalu beranjak pergi. Sesekali melompat kegirangan saat ia keluar dari bangunan raja.

Leeteuk memandangi sampai ia tak terlihat lagi. Tak lama kemudian ia terduduk berlutut di atas tanah, menggigit bibir bawahnya. Napasnya memberat. Dadanya terasa sakit lagi. Sudah mati-matian ia menahannya selama Ryeowook di sana. Entah berapa lama ia terdiam di posisi itu sampai ia bisa berdiri lagi dan kembali ke dalam ruangannya.

Tanpa sepengetahuannya, Tabib Ji Wan melihat hal itu dan memperhatikannya dari kejauhan.

.

oOoOoOo

.

Riuh suara kesatria yang sedang berlatih memenuhi lapangan terbuka yang di kelilingi gudang senjata dan pepohonan cemara. Berada sekitar lima kilometer dari Pusat Kerajaan Hviturland, lima ratus orang anggota kesatria Snowelf sedang berlatih serangan bebas satu sama lain. Meskipun cuaca di Hviturland cenderung selalu dingin, terutama di musim dingin ini, seragam latihan berwarna biru muda mereka basah karena keringat. Di antara setiap lima puluh orang anggota, terdapat satu orang ketua regu dari pangkat yang lebih tinggi, yang tentunya dipimpin lagi oleh beberapa orang atasannya—dimana pemimpin tertinggi untuk para kesatria ini adalah sang Ketua Kesatria, langsung di bawah komando Menteri Pertahanan dan Raja.

Ini adalah pusat pelatihan prajurit Kerajaan di Ibukota, yang mana anggotanya merupakan prajurit-prajurit terbaik pilihan dari seluruh Kerajaan Cabang yang membentang di penjuru Hviturland. Sebagian kecil dari mereka akan dikirim untuk menjadi prajurit penjaga perbatasan, dan sebagian lagi menjadi prajurit Kerajaan Utama.

“SEMUANYA, BERBARIS!!!”

Teriakan lantang dari komandan lapangan menghentikan aktifitas berlatih para prajurit itu seketika.  Mereka berbaris dengan rapi layaknya prajurit berpengalaman, tanpa perlu diatur oleh pimpinan mereka. Pedang-pedang dan senjata lain yang mereka gunakan diletakkan di tanah, tepat di depan kaki masing-masing

Di belakang komandan lapangan, berbaris juga lima puluh orang prajurit berseragam perak dan emas. Seragam yang hanya dikenakan oleh pasukan elit terbaik Hviturland dan hanya diturunkan pada saat genting—hampir semua pasukan yang ada di sana bermimpi untuk menjadi bagian dari pasukan tersebut.

Di antara barisan pasukan elit itu, berdiri seorang pria berambut biru. Ujung jubah putih tebal khas anggota kerajaannya kotor oleh lumpur dan salju. Ia melangkah maju dengan tegap dan angkuh—mengambil alih komando seluruh pasukan.

“Kenalkan. Namaku Jung Seunghyun…” Ucapnya sambil memperhatikan barisan itu dengan pandangan tajam. “…Ketua Kesatria kalian yang baru.”

.

oOoOoOo

.

Yunho baru saja membuka jubah kebesarannya saat Junsu menghambur masuk. Yunho tidak berbalik, ia malah lanjut mempreteli kancing-kancing kemejanya, lalu melempar kain putih itu ke sembarang arah, meninggalkan dirinya separuh telanjang dengan punggung kekarnya menghadap Junsu. Ratu itu begitu tenang, tidak menunjukkan emosi apapun, tapi Yunho tahu apa yang diinginkannya dengan menemui dirinya tengah malam begini.

Sejak awal mereka belum pernah tinggal di kamar yang sama. Tapi Junsu memiliki hak untuk menyusup kapanpun ia mau ke kamar Raja, dan Yunho memiliki hak yang sama pada Ratunya. Terakhir kali saat satu diantara mereka melakukan hal itu, pertengkaran pecah diantara mereka.

“Kau mengangkat Seunghyun menggantikan Zhoumi sebagai Ketua Kesatria?” Junsu langsung mengutarakan maksud kehadirannya malam itu tanpa berbasa-basi.

“Sementara…” Yunho mengoreksi. “Hanya pengganti sementara.” Raja itu akhirnya berbalik, duduk di ranjangnya dan mulai menanggalkan pakaian bawahnya. Sembari duduk ia berganti menggunakan celana tidurnya yang lebih tipis dan nyaman.

“Tetap saja, kau memberi kesempatan pada Seunghyun untuk merebut hak Siwon!”

“Seunghyun… Zhoumi… Changmin… Donghae… Siwon… Mereka semua anakku. Mereka semua punya kesempatan untuk menduduki posisi itu. Selama bukan omega.” Yunho menjawab tenang.

“Ya! Dan aku lebih senang melihat Donghae menduduki posisi Ketua Kesatria sementara kau merajuk pada alpha sulungmu! Kau tahu ambisi apa yang dipendam alpha keduamu atas tahta Hviturland?”

Yunho mendongak, menatap Ratunya. Tatapannya tetap datar, meski diam-diam Raja itu tersenyum di ujung bibirnya. “Aku tahu.”

Junsu menghela napas kesal mendengar tanggapan santai Raja. “Kau masih marah pada Siwon karena dia menemaniku ke Radourland beberapa tahun lalu?” Junsu berharap itu bisa sedikit membangun mood Yunho untuk diajaknya bertengkar. Tapi nyatanya Raja masih menanggapi dengan santai.

“Tentu saja. Kau nyaris merusak aliansi yang baru dimulai dengan Negri Merah, dan Siwon memberi kendaraan untukmu melakukannya. Kalau tidak ada yang mengantarmu malam itu, aku tidak harus menanggung rasa malu ini pada Negri Siluman itu.”

Junsu menahan napasnya, tidak ingin meledak-ledak sendiri sementara Yunho menanggapinya dengan wajah setenang itu. “Demi Dewa, Jung Yunho. Itu salahku! Harusnya kau perpanjang hukumanku, bukan hukuman Siwon! Kau tidak tahu betapa kecewanya dia sekarang!”

Yunho lebih tidak menanggapinya kali ini. Raja itu malah menepuk-nepuk bantalnya, lalu memberi aba-aba bahwa ia siap berbaring dan mengabaikan segala ocehan yang dilontarkan Junsu padanya.

Junsu tidak mengira amarahnya akan membawanya pada situasi memalukan ini. Niat awalnya datang kemari bukan hanya untuk menuntut keputusan Yunho mengangkat Seunghyun sebagai Ketua Kesatria, Junsu juga bermaksud mengorek sesuatu dari suaminya. Raja menyembunyikan sesuatu, dan Junsu mulai meyakini bahwa hal itu jauh lebih penting daripada berita mengenai kenaikan posisi Seunghyun. Pikirnya dengan membangunkan amarah Raja, ia akan dapat mengorek informasi itu lebih mudah lagi. Biar bagaimanapun, ia ketua Komite di bawah kepemimpinan Raja Hviturland. Ia tangan kanan Raja di seluruh daratan es Hviturland! Orang kedua yang seharusnya mengetahui apapun setelah Raja adalah dirinya! Tapi Junsu justru terjebak pada amarahnya sendiri dan melanjutkan ucapannya, Junsu tahu lebih dari siapapun hal apa yang bisa dengan cepat membangunkan emosi Yunho.

Jaejoong.

“Kau seegois ini padanya. Padahal kau sendiri hampir mengabaikan kehormatan kerajaan demi cintamu pada saudaraku.”

Senyum tipis di wajah Yunho menghilang, wajahnya berubah menjadi lebih kaku. Ekspresi dinginnya kembali. Yunho belum sempat menyandarkan kepalanya ke bantal, dan secepat itu sang raja bangkit, kembali duduk di pinggir ranjangnya. Seringainya menunjukkan bahwa kini ia sudah jauh lebih ingin meladeni Junsu… dengan menggunakan cara yang sama.

“Kau semunafik ini pada dosaku. Padahal kau mungkin sudah mengabaikan kehormatanmu sebagai Ratu demi cintamu pada pedagang itu.”

Junsu tercekat, tidak memperkirakan serangan kalimat itu. Dengan terbata-bata, Ratu berusaha menyusun kata-katanya. Ia harus membalas Raja, ia harus membalas ucapan yang dengan kejam membuat degup jantungnya berpacu dua kali lipat. “Kupikir aku harus bertepuk tangan untuknya.” Yunho benar-benar melakukannya, ia bertepuk tangan beberapa kali.

“Hebat sekali seseorang dengan kasta serendah dia merebut perasaan Calon Ratuku—Calon Ratu paling terhormat di lima kerajaan.” Yunho mendengus pada ucapannya sendiri.

“Bahunya pantas disematkan dengan medali kehormatan, walau pada akhirnya kau memilihku… sudah tentu kan? Aku memiliki segala yang kau inginkan. Dan kau mendapatkannya.” Yunho mengangkat kedua tangannya dengan sombong.

“Aku tidak memilihmu!” Desis Junsu marah. Wajahnya memerah menahan emosi.

“Oh, jangan kira aku lupa seperti apa kau memandangku dulu, Su. Tatapan seorang anak penuh cinta, yang belum sadar seberat apa posisi Ratu untuk diemban di bahu rapuh seorang Omega. Aku masih bisa membayangkan kilau matamu saat itu. Senyummu lebih cantik dulu, saat kau masih begitu polos menginginkan tahta Ratu di sisiku. Kau pikir kerajaan penuh dengan gaun dan pesta? Setelah merasakan kenyataannya sekarang kau selalu menggerutu sepanjang hari. Aku merindukan senyum polosmu dulu, Su.” Yunho menyeringai makin senang melihat Junsu berdiri gemetaran di hadapannya. Omega itu tidak akan mampu membalasnya. Jika ia ingin bicara tentang dosa, Yunho akan dengan senang hati mengingatkan ratunya tentang dosanya sendiri.

“Tapi aku tetap penasaran… sejak kapan kau mengagumi dan memimpikan tidur di ranjangku? Di bawah tubuhku? Memimpikan tubuhmu bersemi mengandung keturunan seorang Raja?” Yunho menggeleng, geli memikirkannya. Secepat itu tahun-tahun berlalu mengubah sifat Junsu menjadi sekeras ini.

Sebentar saja, wajah-wajah dari masa lalu itu kembali dalam memorinya. Bukan. Bukan masa lalu. Semua berlangsung dekat, delapan belas tahun ke belakang. Meski Yunho tidak pernah benar-benar mengingat wajah tunangan pertamanya dari keluarga Lee, gambaran sosok Shengmin menguap bagai asap sejak saat pemuda itu menolak lamaran yang diwakilkan anggota Komite untuknya. Yunho belum pernah benar-benar memusingkan wajahnya, sampai Jaejoong melahirkan bayi yang menurunkan kemiripan sempurna dengan sosok tunangan pertamanya. Betapa konyol, pikirnya.

“Apa kau bermimpi jadi ratu… hmm, sebelum Shengmin?”

“Diam…” Junsu merasa jiwanya terhisap pelan-pelan, oleh setiap kata menusuk Yunho, setiap desisan jijiknya. Junsu kembali ke masa lalunya.

Yunho meringis, dengan senang hati melanjutkan seluruh kata-kata jahatnya. “Oh, tidak. Ratu Junsu yang terhormat ingin memakan jantung saudaranya sendiri. Aku bertaruh kau senang melihat Shengmin menghilang entah kemana dan Jaejoong mati setelah melahirkan anak haramnya—meninggalkan keluargamu tanpa apapun selain dirimu untuk dijual padaku. Kau senang, Su?”

Yunho bukan tidak tahu bahwa saat itu Junsu telah berpaling darinya. Junsu ingin menikah dengan saudagar itu. Pemuda ini tidak menginginkan posisi ratu untuk menggantikan saudara-saudaranya, namun pada akhirnya, disinilah ia berada. Dipaksa oleh keluarganya demi kehormatan dan nama baik belaka.

‘Junsu yang malang.’ Ejeknya dalam hati.

Raja tidak berhenti, tidak membiarkan Junsu mendapatkan kesempatan untuk membalas. Sekalipun Junsu memiliki kesempatannya, ia tidak memiliki apapun untuk membalas ucapan Yunho. Semua yang diucapkan Yunho terlalu benar untuk disanggahnya. Satu-satunya perlawanan Junsu pada semua kalimat suaminya, hanya airmatanya yang pelan-pelan menetes.

“Lalu saudagar itu… Ah, siapa namanya? Yoo.. Yoo apalah itu. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia masih hidup? Kurang ajar sekali dia merebut perhatianmu dariku. Kalau dia tidak pernah datang mendekatimu, kau pasti sudah menjadi Ratu penurut dan menghisap baik-baik kejantananku malam ini.”

“Diam.” Junsu gemetaran. “Diam! Diam! Diam!!!” Junsu memekik, semakin gemetaran. Hanya Dewa yang tahu energi macam apa yang menjaganya tetap kukuh berdiri saat ini.

Belasan tahun menjalani hidup penuh beban sebagai ratu yang tidak diinginkan rajanya lantas membuat Junsu terlalu patah hati untuk memikirkan cinta lagi. Ia tahu Yunho mengirim mata-mata untuk mengawasi setiap gerak-geriknya sejak saat ia diajukan untuk menggantikan posisi  kedua saudaranya. Namun raja belum pernah mengungkit masalah ini sebelumnya—membuat Junsu berpikir Yunho mungkin melupakannya juga. Tapi mendengar semua cibiran ini keluar dari bibir raja menyadarkan Junsu bahwa bukan hanya raja, dirinya pun belum sepenuhnya melupakan ingatan itu. Raja seakan menunggunya belasan tahun untuk menggunakan hal ini setelah sekian lama Junsu berpikir ia sudah menang melawan masa lalunya.

Melawan cintanya sendiri.

Nyatanya, hanya mendengar Yunho mengingatkannya tentang orang itu sudah cukup membuat sekujur tubuh Junsu bergetar. Sang raja berdiri di hadapannya, mengejeknya lagi.

“Aku bisa dengan mudah menyuruh seseorang membunuhnya, Su. Bukan untuk merebutmu, hanya untuk membuatmu terluka.”

Junsu tidak mengerti. Cepat sekali tubuhnya bergerak mengalahkan gerak bibirnya.

“DIAM!” suara teriakan Junsu diimbangi oleh tamparan menyakitkan tangannya di pipi Raja. Tangannya terasa panas dan pipi Raja memerah dalam sekejap. Kalau seorang saksi melihat tindakan Junsu, ia mungkin mendapatkan hukuman mati.

Wajah Yunho sontak terhempas ke sisi, namun tubuhnya tak bergeming. Selain tanda merah di pipi, pukulan Junsu tidak meninggalkan apapun. Raja itu menghela napas, lalu memiringkan kepalanya ke sisi sebelum menatap Junsu dengan raut datarnya. Ia mulai bosan dengan permainan ini, dan mulai terpikir oleh ide lain.

“Berapa kali kau membuka kakimu untuknya? Apa itu berlangsung sebelum kita menikah? Atau sesudahnya?”

Junsu tidak tahan, Ratu itu membiarkan airmatanya meleleh. Seluruh ucapan Yunho menyayatnya lebih dari apapun. Ia mengangkat tangannya, tanpa berpikir dua kali diayunkannya lagi, menuju pipi yang sama.

Tapi kali ini, Yunho menahannya. Ia mencengkeram pergelangan tangan Junsu dan menarik Omega itu hingga Junsu terpelanting berbaring di atas ranjangnya, di bawah tubuhnya. Yunho dengan cepat mencengkeram kedua lengan Junsu dan menahan kedua kaki Omega itu menggunakan sebelah betisnya.

“Berapa usia anak haram Jaejoong? Tujuh belas tahun ini, hm?” Yunho tiba-tiba berujar. Deru napasnya terasa panas dan Junsu baru menyadari semu di wajah Raja dari jarak sedekat ini. Jarak terdekatnya dari Yunho selama belasan tahun mereka menjadi pasangan di hadapan hukum. Junsu baru menyadari, betapa rawan posisi ini untuknya. Terlebih Yunho membungkuk, makin mendekatkan wajah mereka dan berbisik parau.

“Aku baru sadar, kau secantik ini.” Yunho mengendus leher Junsu.

Saat itu, Junsu menyadari aroma asing dari hembusan napas Yunho. Aroma arak. Ia mungkin minum arak sendirian di ruangannya tadi, sedikit mabuk, dan Junsu tidak menyadarinya.

“Aku harus memastikan, apakah Omegaku masih perawan… atau seseorang sudah mencuri keperawanannya seperti Omegaku yang sebelumnya.” Yunho mengecup tengkuk Junsu, lalu ditariknya kecupan itu menuju leher Ratu. Sebisa mungkin tidak meninggalkan marking, tidak secepat ini.

Bulu kuduk Junsu berdiri saat bibir dan napas panas Yunho menyentuh kulitnya.

“Mungkin kau memang lebih pintar dari saudara-saudaramu. Bisa saja kau menjajakan tubuhmu sembari menjaga diri untuk tidak mengandung, tidak terikat dengan siapapun agar tidak terendus sebagai pelacur. Tidak seperti…” Yunho mendengus muram. “…Jaejoong.”

“Y-Yun. Yang Mulia! Menjauh dariku.” Junsu memperingati. Tidak sempat tersinggung saat situasi ini jauh lebih menakutkan dibanding menyinggungnya. Ia berusaha menarik-narik kedua tangannya. Ratu itu meringis saat sadar usahanya tidak akan membuahkan hasil. Seorang Alpha terlalu kuat untuk melakukan semua ini, perlawanan apapun dari Junsu tidak akan membuahkan hasil. Terlebih Alpha yang berada di atas tubuhnya kini… adalah Alpha terkuat di seluruh daratan Hviturland. Sang Raja…

Di atas semua itu, ia hanyalah seorang Omega. Saat seorang Alpha dengan sepenuh hasrat menginginkan tubuhnya, Junsu tidak mampu memberikan perlawanan, tubuhnya tidak mengizinkan bentuk perlawanan apapun. Omega didesain untuk memuaskan pasangannya di atas ranjang, terlebih saat dihadapkan pada seorang Alpha. Dan dalam keadaan tidak terikat dengan siapapun, seorang Omega yang hanya dinikahi secara hukum, Junsu dihadapkan pada situasi berbahaya. Yunho memiliki seluruh kesempatan dan tenaga untuk mengikatnya saat ini.

Dan Junsu tidak menginginkan itu.

Tidak lagi.

“Aku tahu kau menggunakan sihir untuk menipu orang-orang, untuk menutupi kenyataan bahwa aku tidak pernah menyentuhmu. Dimana letak harga diri seorang ratu yang tidak disentuh oleh rajanya, hmm? Junsu yang malang. Tapi sekarang kau tak perlu memakai sihir murahan itu lagi. Mulai besok, siapapun akan melihat tandaku di tubuhmu.”

“Aku benci padamu!” Desisnya hampir menangis.

“Aku tahu. Aku juga tahu kau sudah membuang mimpimu untuk memberiku keturunan, mengandung benih Raja Hviturland. Tapi kita bisa membangun kembali mimpi lamamu itu. Ayolah Su, jangan benci aku. Aku suamimu, Raja-mu.” Yunho memaksa sebuah senyum lembut, Junsu meringis melihatnya.

“Kau mabuk, Yang Mulia. Kau akan menyesali hal ini besok pagi.”

“Kau Ratu-ku. Apa yang harus disesali? Justru aku menyesal tidak melakukan ini dari dulu. Karena aku tidak cukup memberikan perhatian padamu, kau mengabaikan kewajibanmu sebagai Pendamping Raja dan mulai menyalahgunakan izinku atas kursimu di Komite Senat, mengambil alih semua kepemimpinan selama ini.”

“Itu karena kau tidak menjalankan tugasmu sebagai raja!”

Yunho menarik kedua tangan Junsu tepat di atas kepalanya, lalu direkatkannya kedua tangan Junsu lebih dekat, hingga ia bisa menggenggam kedua pergelangan tangan ratunya dengan satu tangan.

Alpha itu menahan dagu Junsu. “Tugasmu adalah mengandung, menghasilkan keturunanku. Bukan merusuhi meja politik kerajaanku. Setelah mengandung nanti, kau akan dipaksa berhenti mengurusi politik kerajaan. Itu kabar baik untukku.”

Junsu ingin menangis. Yunho menggunakan sebelah tangannya untuk melepas celananya dan menggunakan kakinya sendiri untuk menahan Junsu agar tidak merapatkan kakinya. Saat dingin menyusup membungkus bagian bawah tubuhnya, airmata Junsu tidak lagi mampu ditahan. Raja hanya menurunkannya sedikit, sekedar menunjukkan bagian terpenting dari dari seorang Omega…

Yunho membungkuk rendah, ia menghisap leher Junsu hati-hati sambil menyusupkan telunjuknya di bawah sana, melewati kejantanan Junsu dan mencari-cari lubang yang tersembunyi diantara batang dan rektumnya. Lubang omega-nya. Setelah menemukannya, Yunho tertawa merasakan betapa basahnya rongga itu. Tanpa berpikir dua kali, ia menyusupkan jarinya. Junsu membutuhkan persiapan, tapi Yunho tidak memberikannya.

AHH—YUN!” Junsu berjengit, kesakitan.

“Kau akan menyukainya, Su.” Yunho menyeringai sembari menekan jarinya lebih dalam, lalu ditariknya jari panjangnya itu, dan dimasukkannya lagi, gerakan itu terus berulang berkali-kali hingga ia merasakan hangat dan aroma anyir familiar.

Yunho menyerang bibir Junsu dalam sebuah ciuman kasar—ciuman pertama mereka. Ia berhati-hati agar Junsu tak menggigitnya, mengingat sifat omeganya ini, bukan tidak mungkin Junsu akan melakukannya.

Yunho meninggalkan bibir Junsu dan melirik ke bawah. Saat melihat darah tipis mengalir pelan dari sela-sela kemaluan Junsu, mengotori jari dan selimut putihnya, Raja itu terkekeh.

“Ah, ternyata tempat ini masih perawan. Kau tidak tahu betapa senangnya aku saat ini, Su.”

Junsu menangis dalam diam, sekujur tubuhnya bergetar menahan rasa sakit asing yang tidak pernah disangkanya akan datang dari tempat itu. Yunho hanya perlu melesakkan kejantanannya sendiri ke dalam sana, dan habislah Junsu… ia akan terikat pada raja gila ini selamanya. Satu-satunya harapannya untuk bebas… sihir. Meski hukum melarang siapapun melakukannya, termasuk Ratu. Junsu mungkin akan dihukum penggal jika berani menggunakan sihir untuk melukai atau memanipulasi raja. Tapi ia tidak bisa berpikir lagi, yang ia inginkan saat ini adalah lari, menghindari Yunho sampai raja itu mendapatkan kewarasannya lagi.

Dengan jarak tangan kanan dan kirinya sedekat itu, Junsu mendapatkan kesempatan lebih. Ia mengatup kedua tangannya. Di balik gertak giginya menyusun mantra-mantra, berusaha mengundang sihir ringan yang setidaknya akan menghempas Yunho menjauh darinya. Gilanya, Yunho menyadari maksud Junsu. Yunho meremas kepalan tangannya, dan dalam sekejap cahaya kebiruan itu lenyap, meninggalkan Junsu sekali lagi dalam situasi rapuhnya.

“Tidak, sayangku. Kau berpikir bisa menggunakan sihir padaku, seorang Raja negri sihir?” Yunho tertawa.

Junsu terisak. Yunho mengatakannya sembari menusuk jarinya dalam-dalam. Junsu berjengit, tersedak.

“Kau masih sangat muda dan kuat, kau akan menghasilkan banyak Alpha untukku. Dan mungkin beberapa beta—menggantikan satu yang hilang di medan perang. Kau juga tidak perlu memusingkan anak haram Jaejoong lagi. Pertama-tama, kau akan punya satu, darah dagingmu sendiri. Lalu lebih banyak… dan banyak… sampai kau tidak punya waktu untuk memikirkan anak orang lain.”

Yunho mengangkat jagalan kakinya di atas paha Junsu, bermaksud membuka celananya sendiri saat Junsu dengan cepat menangkap kesempatan itu, mengabaikan seluruh rasa sakit saat tubuhnya merongrong memaksanya untuk diam dan menerima perlakuan Yunho. Jika Yunho mampu melindungi diri dari sihir Junsu, Junsu hanya perlu menganti targetnya. Ia membisikkan sihir untuk dirinya sendiri. Fisiknya tidak bisa diajak berkompromi saat ini, tapi sihir mampu memaksa tubuhnya untuk bergerak.

“Kau sedang mabuk! Menjauh dariku!” Junsu berseru saat ia memerintahkan melalui mantra pendeknya, dan sebelah kakinya terangkat cepat. Junsu menargetkan lututnya untuk mendarat kuat di antara selangkang Raja. Dengan sihir, Junsu tidak yakin manuver kakinya akan terarah sempurna. Mungkin saja kakinya hanya akan mendarat di sisi dalam paha Yunho, dan jika terjadi, Yunho akan lebih murka dan Junsu sudah memastikan dirinya akan berakhir diperkosa dengan mengenaskan.

Tapi suara pekikan Raja mengisi ruangan, Junsu sadar serangannya menujur target yang tepat. Yunho jatuh melengkungkan tubuh ke sisinya.

“ARGH!” Raja itu memekik kesakitan, meremas organ lunak diantara selangkangannya yang menengang bukan lagi karena napsu birahi, tapi karena sakit yang menyebar ke seluruh tubuh hingga ke kepala.

Junsu menarik celananya naik tanpa berniat untuk mengaitkannya, ia tidak punya waktu. Tidak peduli penampilannya terlalu berantakan untuk dilihat pengawal Raja, Junsu tetap melesat lari keluar dari ruangan.

.

oOoOoOo

.

Kerajaan utama Svarturland berada di tengah-tengah dataran luas negri itu. Berbeda dari ibukota Graentland dan Radourland yang begitu rawan karena letaknya yang berbatasan dengan lautan, Ibukota Svarturland seakan dikelilingi benteng tak tertembus. Belum pernah ada nyawa asing yang ditarik masuk ke dalam wilayahnya mendapat kesempatan untuk kabur keluar sekedar menceritakan keadaan Ibukota Negri Hitam. Wilayah Svarturland terus meluas di bagian Utara dan Selatan sejak beberapa abad terakhir, merebut wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Hviturland dan Graentland, dan jelas melecut perang tanpa akhir dengan dua negara besar itu.

Empat kerajaan lain memiliki sistem pemerintahan yang berbeda, meski sama-sama dipimpin oleh seorang raja. Perbedaan itu tak ayal menimbulkan dugaan-dugaan pada sistem politik yang berlangsung tetutup di dalam negri Svarturland. Sudah banyak dugaan bahwa negri besar ini dipimpin oleh seorang Raja, sama seperti empat kerajaan lainnya. Tapi belum pernah ada saksi mata yang mampu memutuskan seperti apa sosok Raja negri yang belum pernah beraliansi ini—apakah ia pernah terjun ke medan perang dan berdiri diantara sosok-sosok superior yang memimpin pasukan Orcs dan Ogre? Atau bahkan tidak pernah muncul sama sekali di luar perbatasan Negrinya.

Tidak pernah ada yang bisa memastikan dugaan yang benar. Meski satu kebenaran tentang negri Hitam adalah kekejamannya, baik pada negri musuh atau bahkan rakyatnya sendiri.

Istana Utama Svarturland dibangun di Ibukota yang diberi nama yang sama dengan Negrinya, Kota Svartur. Dibangun dengan batu-batu hitam besar dan dinding-dinding kokoh, bangunan Istana utama Svarturland memiliki ratusan menara dan satu kubah besar di tengahnya. Istana itu akan membuat siapapun tidak percaya bangunan seindah itu mampu didirikan di tempat sesuram Svarturland.

Suram.

Satu kata yang dengan cepat didefinisikan sebagai Svarturland. Gunung-gunung berapi, tanah tandus, tanah abu dan bebatuan tajam memang menjadi ciri khasnya. Langitnya selalu mendung tertutup awan gelap. Sinar matahari tidak dapat menembus banyak ke tanah ini. Tidak ada pohon yang tumbuh di kecuali pohon-pohon putih, pohon leluhur penghisap segala macam sihir yang dihembus di atas Svarturland. Pohon-pohon itu kerap digunakan sebagai bahan campuran penyangga pedang, meski jumlahnya yang tak banyak membuat pedang sakti juga berjumlah sedikit di peperangan. Hanya anggota kerajaan dan aristokrat yang bisa memilikinya. Sedangkan kaum aristokrat tidak pernah terjun ke medan perang.

Tapi keadaan Ibukota tidak sesuram dan segelap bayangan negri tetangga yang hanya mampu mengitip keadaan terluar Svarturland. Siang itu, balairung istana ricuh oleh suasana pesta. Gadis-gadis tinggi dan ramping mengayun-ayunkan gaunnya, mencoba menggoda bangsawan dan penguasa. Kulit-kulit kuning dan kecoklatan mereka mengilap cantik di balik balutan gaun warna-warni, gaun mahal yang hanya bisa dikenakan oleh wanita dan istri-istri bangsawan. Bagaimanapun, bahan utama pembuat gaun didapat dari hasil jarahan Svarturland ke negri lain, membuatnya seharga nyawa seorang Orcs di negri ini. Beberapa dihasilkan di ladang ilegal yang ditanam di tanah milik Graentland tanpa sepengetahuan tuan tanah, Raja Negri itu. Sedikit ancaman dan emas bisa membungkam petani-petani di daerah tersembunyi Graentland.

Suasana ceria itu bertambah ricuh saat seorang bangsawan memasuki aula. Nyatanya, sosok itu bukan bangsawan biasa. Pria bertinggi tubuh di bawah rata-rata itu mengenakan pakaian berbahan sutera hijau dan celana cokelat gelap. Jubah peraknya dilengkapi pengait biru tua, jelas ditempeli safir asli. Mahkota bertakhta zamrud menghiasi kepalanya dan membuat pakaian hijaunya semakin tampak sempurna. Tubuhnya ramping, tapi siapapun tahu untuk tidak mengungkit hal itu. Karena Raja Svarturland tidak suka disebut ramping, apalagi pendek, sekalipun pada kenyataannya Raja itu memiliki tinggi di bawah rata-rata. Kulit cokelat pucatnya nyaris sewarna kayu, semakin membuatnya elok dan menimbulkan kericuhan di antara wanita yang mencoba menarik perhatiannya.

Biar bagaimanapun, Raja mereka belum memiliki Ratu yang sah.

Semua orang membungkam bibir mereka saat Raja memberi aba-aba akan berbicara. Raja muda itu tersenyum, menunjukkan raut tampan yang ramah. Pupil matanya yang keemasan dikelilingi oleh sklera coklat tua, di saat tertentu mempertegas penampilannya, dan di saat lain membuatnya tampak menakutkan.

“Terima kasih sudah datang ke pestaku. Silahkan nikmati semuanya. Dan tolong, jangan hentikan lagunya hanya karena aku berbicara.” Semua orang tertawa, saat Raja itu mengerutkan dahinya dengan sedih kearah pemain musik. “Kalian tahu aku mencintai musik lebih dari negriku.”

Itu hanya candaan, tentu saja. Tapi fakta bahwa raja menyukai musik, lagu, dan bernyanyi sudah diketahui hampir semua lapisan Negri Hitam. Hobinya mungkin yang membuat pembawaannya begitu tenang dan ramah, berbeda dengan ketiga saudaranya, satu telah tiada. Banyak kalangan bertanya-tanya seperti apa wujud monster Raja yang mereka junjung. Raja mereka, Kim Yesung, belum pernah menunjukkan sosok penuh monsternya di hadapan publik, belum sekalipun. Karena jika ia pernah melakukannya, beritanya pasti sudah menyebar secepat kobaran api. Bahkan saat marah, Yesung tetap mengendalikan diri untuk berada di wujud mortalnya, sosok pendek berkulit cokelat pucat, dengan warna mata unik, dan taring yang kecil. Berbeda jauh dibanding dengan saudara tuanya dan adik-adiknya.

Tapi keadaan fisik itu tidak membuatnya di pandang rendah. Svarturland dianggap memiliki sistem politik yang sempurna, oleh rakyatnya. Seorang raja dengan pembawaan tenang, cerdik, dan licik, berdiri di balik kerajaan untuk menduduki tahta resmi. Sedang Raja lain berjuang di medan perang, memimpin pasukan dan membunuh musuh. Raja peperangan, kakak dari Raja resmi Svarturland.

Yesung kini memutar tubuh dan pandangannya, berusaha mencari Raja satunya itu –Raja dibalik bayangan— begitulah rakyat menyebut kakaknya dengan sebutan itu. Raja yang melindungi negri di luar Svarturland, saat Yesung melindungi negri ini dari dalam.

Daniel, nama saudara tertua di antara mereka, belum menunjukkan batang hidungnya sejak pagi. Dan ini makin membuatnya kesal. Kalau ia sampai menemukan kakaknya di kamar pelacur itu lagi, Yesung tidak akan segan-segan memakinya di depan komite.

Belum sempat Yesung menemukan kakaknya, suara ricuh-ricuh diantara tamu pesta mengalihkan perhatiannya. Yesung berbalik, dan melihat barisan Orcs yang dipimpin seekor Ogre berjalan tegap ke arahnya.

Suara desas-desus mulai terdengar. Prajurit dari kasta yang berbeda tidak seharusnya mengganggu pesta kerajaan, kecuali mereka membawa pesan penting. Mereka monster-monster yang lahir untuk medan perang. Hanya memiliki satu bentuk wujud fisik dan sebagian besar memiliki volume otak yang kecil. Keberadan tubuh kekar dan besar sosok monster mereka tampak begitu kontras diantara jubah-jubah berkilau, gaun-gaun, dan tubuh ramping.

“Melaporkan keadaan perbatasan Eisley, dua ratus pasukan Hviturland datang dalam serangan mendadak, hanya lima puluh prajurit yang menjaga Eisley, kami dipukul mundur dan terpaksa meninggalkan tanah itu.”

Yesung mengerutkan keningnya. “Eisley?” ulangnya. “Kota yang baru seminggu kita rebut?” tanyanya memastikan.

“Benar, yang mulia.”

Yesung tertawa. Ia menggenggam gelasnya erat sekali. Suasana aula begitu sunyi, tidak ada yang berani mengimbangi tawa Raja. Bahkan membuka mulutpun mereka terlalu takut.

Setelah puas tertawa, Yesung menatap Jendral itu. Tubuhnya besar, jika saja mereka berdiri bersisian, Yesung tidak lebih dari besar sebelah kakinya. Tapi monster itu berlutut gemetar di hadapan raja.

“Jadi intinya. Kau gagal mempertahankan kota seumur jagung?”

“Maafkan aku, Yang Mulia.”

“Apa aku harus menumbalkan nyawa pangeran Svarturland lainnya demi mendapat kemenangan?”

Tidak ada yang berani bersuara menanggapi pertanyaan Raja. Tiga minggu berlalu, dan kematian adik ketiga Raja masih menjadi hal tabu untuk dibicarakan.

Raja menghela napas, lalu berujar pendek. “Baiklah, aku maafkan dengan satu syarat.”

Semua orang menunggu-nunggu sambungan ucapannya, Jendral muda itu bahkan tidak bermimpi untuk diampuni. Ia datang kemari menawarkan suka rela kepalanya untuk dipenggal. Tapi tawaran Raja tak ayal membuatnya berharap…

“Y-ye, Yang Mulia?”

“Bernyanyilah di hadapanku.”

“Y… Ye?” mata bulat monster itu mendelik mendengar permintaan raja.

“Ayo. Aku mau mendengar lagu dari Kastel Zion. Kau dari sana, kan?”

Monster itu mengangguk. “Y-ye, Yang Mulia.”

“Siapa namamu?”

“Yvveg, Yang Mulia.”

“Kalau begtu Yvegg, bernyanyilah di hadapanku. Hibur tamuku dengan suaramu, suara dari Kastel Zion.”

Yvveg melirik kanan-kirinya dengan ragu-ragu. Ia melihat prajuritnya seakan memintanya untuk bungkam saja, dan merelakan nyawanya. Tapi monster itu masih ingin hidup. Karena itu suara serak pelan-pelan mengalir dari bibirnya seperti batu.

Aš bėgu tuščia gatve, Aš bėgu sutikt tave.”
Saat Yvveg memulai lagunya, Yesung menunduk dan memejamkan mata, memasang ekspresi seperti orang yang terluka. Hal itu tak ayal menakuti Jendral Ogre yang tengah melantunkan lagu, suaranya bergetar, makin tidak beraturan.

“A-aš n-no-noriu kartu kvėpuoti, Ši-ir-d-ddim į širdy, Aš bėgu sutikt t-ta-tave…”

Bukan hanya Yesung, sebagian besar penghuni Aula menutupi telinga mereka diam-diam. Suara mengerikan itu terdengar seperti jeritan perang. Yvegg berlutut, berusaha memfokuskan lagu yang mengalir dari bibirnya. Mengabaikan derap lembut kaki Raja yang melangkah menghampirinya.

Tanggannya gemetar, tapi Yesung menahan diri. Ia melangkah mengitari Yvveg, sekali, lalu berhenti dengan berdiri tegap tepat di belakang punggung monster besar itu. Bahkan badan Yvveg yang tengah berlutut tetap jauh lebih tinggi dari Yesung yang tengah berdiri, itu semakin membuat Raja muda Svarturland muak. Ia melirik pasukan yang dibawa Yvveg, memilah-milah pedang yang mereka bawa. Saat dilihatnya satu pedang yang lumayan mengilap dan bersih untuk disentuh tangannya, Yesung menarik benda itu, sebisa mungkin tanpa suara.

A-aš no-nnnnooooriu kartu kvvvvėpuotiiikkki Širrrrrdimmmm.

Yesung meringis, ingin sekali membiarkan lagu itu berakhir sampai ke bait terakhir, ia ingin menghormati jendral ini, tapi telinganya sudah tidak bisa menanggung suara itu lagi. Yesung berdiri, dengan ringisan tidak tertahankan di wajahnya sembari memposisikan pedang itu tepat di belakang tengkuk Yvveg. Semua orang menahan napas, tapi tahu untuk tidak merusak suasana yang ingin dibangun Raja mereka.

“I šir-iiir-dy aaš noriu ka—AKH!” monster besar itu tercekat, suaranya berubah menjadi desisan basah saat pelan-pelan darah membanjiri mulutnya. Saat menunduk, Yvveg mendelik melihat sebilah pedang muncul menembus tengah lehernya. Dengan gemetaran makhluk itu mencoba menghentikan pendarahan yang ditimbulkan oleh pedang itu, tapi saat Yesung memutuskan untuk menarik pedang pinjamannya, darah menyeruak seperti mata air, menggenang di lantai saat sosok Yvveg terkulai meregang nyawa.

“Aku memaafkanmu kesatria, tapi suaramu terlalu buruk untuk dimaafkan.”

Yesung benar-benar berniat mengampuninya, kalau saja suaranya bagus. Sayangnya suara itu justru semakin menambah kekesalan Yesung. Terlebih dengan suara berat lain yang tiba-tiba memanggilnya dari belakang.

“Kau sudah puas bermain, adik kecil?”

Yesung mendelik mendengar kata ‘kecil’ itu. Seisi aula menahan napas, dan benar saja, sesaat kemudian Yesung berseru marah ke seisi aula.

“Keluar! Pestanya dihentikan!” teriaknya menggema, dengan cepat orang-orang menghambur keluar.

Saat Yesung berbalik, kakaknya menyeringai dan berdiri melipat tangan di bawah dadanya. Ekspresi itu membuat Yesung semakin kesal. Daniel bahkan masih mengenakan pakaian perangnya! Setelah undangan resmi dan non-formal yang diberikannya pada kakaknya sendiri!

Hanya mereka berdua yang tersisa di ruangan besar itu. Suara Yesung masih menggelegar penuh amarah. “Kau sudah berniat mengganggu pestaku kan, Daniel? Menghilang sejak pagi dan datang untuk menghinaku?”

“Oh, adik kecil. Aku datang membawa kabar baik.” Daniel mencibir. Yesung memelototinya, menahan diri tidak menarik pedang yang menggantung di sisi pinggang kakaknya dan menusuk Daniel menggunakan pedang itu.

“Aku datang untuk memberitahumu, Putri Tidur kita sudah terbangun.” Daniel menyeringai. Tahu hal itu akan dengan cepat menurunkan amarah Yesung. Tapi dengan jahil ia berniat melanjutkan cibirannya. “Lagipula Raja mana yang berpesta untuk merayakan kematian adiknya?”

“Aku!” seru Yesung tanpa ragu. Wajahnya berubah kaku. “Joon pantas mendapatkan perayaannya sendiri! Joon selalu menyukai pesta dan aku tidak akan membuat pesta duka untuknya. Aku akan merayakan kematiannya setiap tahun, ratusan tahun kedepan selama aku menjadi raja, Joon tidak akan dikenang dalam perasaan berkabung, dia akan dikenang dengan suka cita dalam pesta pora.”

Daniel hanya ingin bercanda, tidak menyangka ejekannya akan memancing kalimat-kalimat lain yang menyakitkan tidak hanya bagi Yesung, tapi juga untuknya. Yesung tidak menyaksikan secara langsung, bagaimana adik mereka terbunuh dengan mengenaskan, dengan memalukan. Sedangkan Daniel berada di sana, menyaksikan segalanya dalam ketidakmampuan untuk menyelamatkan Joon. Ia berdiri disana saat tongkat penyihir itu menusuk menembus leher adiknya. Ia bahkan tidak sempat mendengar bisikan terakhir Joon. Tubuh adiknya tumbang memunggunginya.

“Aku yakin kau membawa pedang besarmu saat itu. Kenapa tidak kau potong saja tubuh kurusnya menggunakan pedang perangmu?!”

Daniel menatap lurus kedepan, bayangan perang itu kembali berputar di benaknya. Bayangan ketika adiknya jatuh gugur dengan tongkat tajam masih menancap di leher. Joon mati tanpa sempat mengubah diri ke wujud fananya. Ia tidak mendapatkan kehormatan untuk mati dengan tubuh sempurna dan wajah tampan yang selalu dibanggakannya. Ia mati sebagai Monster…

“Joon mati menggenggam pedang itu, rasanya paling tepat membalas kematian Joon dengan pedang sejenis.” Daniel menjawab jujur.

“Kalau begitu kenapa tidak kau tancapkan di tempat yang sama?

Death is a mercy for him.

“Kau mengampuninya sejak saat kau memutuskan untuk mengunjunginya setiap hari.”

Daniel terkekeh, saat menatap ke sisi ia menyeringai pada adiknya, pada Raja di seluruh daratan Svarturland. “Kita perlu mengenalnya lebih dulu, sebelum dia mengenal kita, dongsaengi.”

Yesung berdecih, jijik. “Kita? Hah! Terima kasih tapi kau saja!”

“Dan… kau terlalu terbawa emosi, Yesung-ah.” Daniel merangkul Yesung, berusaha membangun kembali mood adiknya. Jika bukan dengan Joon, maka dengan rencana mereka untuk menyiksa Putri Tidur itu. “Membunuh pangeran bukan hal bijak, kau tidak bisa melakukannya dengan gegabah. Kita bisa berhitung dulu, membuat rencana, dan mendapatkan hasil yang mengagumkan seperti biasanya.”

“Kalau aku punya kesempatan turun ke medan perang dan bertemu pandang dengan putra mahkota Hviturland, aku tidak akan berpikir dua kali untuk membunuhnya.” Yesung menggerutu.

“Yang satu ini bukan Putra Mahkota. Dia jauh lebih berharga hidup-hidup ketimbang mayatnya. Hviturland akan membayar mahal selama pangeran mereka hidup disini, mengembalikan mayatnya sama dengan memberi pengampunan.”

Yesung membungkam mulutnya, makin jengkel. Ia tidak berniat meladeni Daniel lagi. Tahu betul jika Daniel menginginkan sesuatu, ia akan punya seribu alasan yang sepertinya masuk akal untuk mendapat persetujuan Yesung.

“Jadi, kau mau mengambilnya atau tidak, dongsaengi?”

Kau bercanda? Yesung ingin sekali memaki kakaknya. Kau tidak lihat sepanjang apa tubuhnya? Bahkan kau monster paling tinggi di negri ini hanya berbeda beberapa inci dari makhluk itu! Namun makian itu berakhir dalam batinnya. Yesung berprinsip bahwa dia tidak akan mau meniduri siapapun yang lebih tinggi darinya. Tapi dia terlalu malu untuk mengutarakannya.

“Kau lupa dia yang sudah membunuh Joon? Saat pertama aku melihat wajahnya, hal yang bakal melintas di kepalaku adalah keinginan untuk menebas lehernya, bukan menidurinya. Mengingat dia membunuh adik kita menggunakan tongkat sihir itu saja sudah membuatku muak. Joon bahkan tidak diberikan kematian yang terhormat. Aku juga tidak akan memberikan kematian baik-baik untuknya.”

Yesung masih melanjutkan gerutuannya sampai mereka melangkah mendekati sepasang pintu besar sebuah kamar yang dijaga empat pengawal.

“Kalau kau berniat menggunakannya untuk menambah penerus kerajaan kita, lakukan saja sendiri. Lagipula, bagi Svarturland kau-lah Rajanya. Bukan aku. Untuk apa kau melepas tahtamu dulu? Sekarang aku yang kena getahnya.”

“Yaaah, jangan menggerutu padaku. Kita akan segera bertemu Putri itu, jadi simpan wajah keruhmu. Dia pasti senang kalau tahu kematian Joon berhasil membuatmu terluka.”

Untuk sejenak, Yesung setuju pada alasan Daniel. Ia segera memasang kembali ekspresi kakunya saat dua pengawal membuka pintu besar itu.

Di dalamnya, mereka bisa melihat ranjang besar diletakkan di tengah ruangan. Ranjang dengan seprai merah darah, cukup berantakan mengingat sosok yang berbaring disana terus menggeliat berusaha membebaskan diri. Kakinya yang panjang nyaris menyentuh ujung ranjang, dua tangannya terikat di atas kepala, begitu kuat hingga menahannya tetap berbaring di sana. Sosok itu terhenyak saat melihat ada yang masuk—untuk sesaat menatap kaku Yesung dan Daniel yang berdiri di depan pintu.

“Tidurmu nyenyak, Pangeran?” Daniel menyapa, tak lupa dengan lesung sinis di pipinya. Pangeran itu mendesis, jelas menunjukkan bahwa ia tidak menyukai sama sekali keberadaannya di sini.

“Selamat datang di gubuk monster nan barbar Svaturland. Anggap gubuk sendiri, nde, Pangeran Zhoumi dari Negri Suci Hviturland?”

.

oOoOoOo

to be continue…

oOoOoOo

.

A/N: check for Daniel Henney face on Gelundungan Facebook Page

Add Gelundungan Line Portal! ^^ here

19 thoughts on “Cursed Crown – Chapter 16

  1. Fiqoh… Boleh minta passwordnya ga? Lagi seru nih padahal ceritanya…. Boleh ya,,, please….

    Dikirim dari Yahoo Mail pada Android

    Dari:”Gelundungan” Tanggal:Jum, 20 Nov 2015 pada 2:59 Judul:[New post] Cursed Crown – Chapter 16

  2. Owowow… Mimi masih hidup ternyata…. Ga nyangka kalau yeye bakal jadi raja svaturland.. Masih penasaran sama babynya sungmin.. Bakal beneran direwolf bukan.. Btw, min itu anak haram jaejoong sama siapa?? Penasaran.. Thanks for the update… Nunggu updatetan berikutnya.. Gregetan nih…

  3. ’37 orang dinyatakan hilang. Di antaranya 30 orang pasukan kesatria dan 17 orang wizard.”
    Mungkin seharusnya 30 diganti 20 orang.hehehe kalau kasi kritikan kayak gini nggk papa kan?

    oh ya aku tadi sempat bingung baca A/N diatas. dikiranya yang bukan part kyumin nggak dibaca ya? padahal baca kok. Mungkin karena dari sekian banyak reviewer nggak ada satupun yang menyinggung tokoh selain Kyumin makanya dikirain nggak baca part lain ya… kalau aku baca kok, mungkin reader yang lain juga. cuma, kalau soal review aku memang suka hanya khusus sama Kyumin, entahlah mungkin karena mereka tokoh utama jadi yang paling berkesan dan yang paling menempel diingatan adalah part Kyumin setelah baca tiap chapter. muungkin itu juga alasan kenapa pas review yang teringat cuma Kyumin. tapi bukan berarti tokoh lain tidak bagus.

  4. lyta tan says:

    bang yeye nongol……bang yeye harusnya am ryeowook, biar mkin ngenes th bang kuda…..ttp dongkol sm bang kuda……..henry ad g????

  5. cassinta anaknya kangteuk says:

    Ehemm.. Jadi negara yg lebih barbar dari radourland itu kepla sukunya si yesung?! Smpet ngga percaya, tp couple daniel yesung cocok,trus yesung emang pantes punya karakter kyk gt. Dan aq ngambil kesimpulan klo seunghyun sengaja ngga nyelametin zhou mi untuk keuntungan pribadi. Plse mreka itu sodara tp rebutan tahta.. Dan lagi,yun ho sama junu sama2 punya dosa setidaknya berkaca lah,kasian sih liat junsu tertekan bgtu.
    kyuhyun sama sungmin juga makin kawai to the max cemburunya min ke si baby itu lucu,moment mereka berdua always bikin senyum setelah baca scene perang2an.. Kasian juga samaemak gue leeteuk yg always disakiti dan tersakiti,dan momen wookteuk ngingetin mereka pas lg jalan ke swis.hehe negara2 ini. Bikin inget negara2 di naruto yg always perang gara2 hal yg sama terjadi sm yesung and daniel.. At least.. Ada typo tp ketutup sm jalan ceritanya yg bagus. Ahhhh di tunggu chapter selanjutnya, ngga nyangnya bakal seruwet dan bikin mikir. Berasa baca lord of the rings.. Hwaiting ya buat authornya..

  6. Ohhhh jadi ini karaktet barunya dan ada yesung jg yg nongol, tp ko kepo ya sama svaturland. Alesan mrk nyulik ksatria es itu buat apa? Apa cuma kesenangan pribadi atau ada maksud lain. Dan perkiraan max tentang zhoumi yg masih hidup itu bener, semoga aja zhoumi gak disiksa.

    Ngomongin anaknya sungmin ko ngerasa ada yg gak beres ya ama kehamilannya, ya semoga aja itu bukan hal yg buruk. Anak haramnya jaejong itu sungmin bukan? Tp ko mirip shengmin???:/

  7. Zhoumi masih hidup 😱 sekarang dia jd…… Tawanan /_\ glek/ ini pst bakal terjadi kisah2 yg baru.
    aku ga nyangka jongwoon baby dapet peran juga akhir nya 😂 yeay. Thank you kalian berdua.

    Aku kasian bgt sama Junsu. Kok…… Bisa sampai segitu teganya raja oh raja ,😭 kata2 nya gak tanggung2 bgt 😢

  8. Knapa siwon ampe gk tau tntang prang itu?? Bknya klo prang direncnain dlu bkan shri langsung terjun?? Itu seunghyun knapa dendam ma kerajaanya sendiri?? Jdi slma ini junau udah gk suka sma yunho tpi jtuh cinta sma soudagar yoo? saudagar yoo itu yoochun kan?? Jdi krna zhoumi itu beta. .mknya dia gk di bnh secara lngsung.. yesung raja?? Apa nanti yesung suka ma wookie yang tukang kebun dri negri redouland??

  9. Dirakyu says:

    Ceritanya makin bingung….
    Nama2-nya jg makin fantasi dan jujur, nih otak agak puyeng kl baca nama2 yg ‘unik’ kek gini orz

    Bang yesung jd orng cool, wkwkwk
    Moga2 aja bakal jodoh ama wooki. Amin…

    Bang mini msh hidup,yay….
    Smg ntr bs ketemu ama henry di negara hitam itu. Lanjut fiqooh… FIGHTING!

  10. weeeh fiqooh gue mah baca dari awal kok sumpeh +_+ soal politik gini mah emang udah makanan gue sehari-hari di kampus :v btw gue lupa dah.. apa kalian pernah nyinggung soal ayah kandungnya sungmin? ini masih jadi misteri nih >< over all alurnya makin menarik, ada unsur politiknya dan gue demen😄 dan jujur gue kaget kalian bisa update secepet ini :p tumben! fiqoh bukannya sibuk nyusun skripsi? semangat yah! lanjutin terus ni ff ampe kelar~ semangat buat kalian semua! :"D

  11. Chie na OrAngeL says:

    HALLO~ biasanya chie bacanya di ffn, berhubung chie gak bisa buka ffn jd chie baca dsni 😁

    Kalo bahas tentang Kyumin dsni. Chie bisa bayangin gmna umin berantem berebut perhatian epil sama aeginya wkwk. Chie abis baca manhwa yg cerita nya nya bgtu. Si suami cuma bisa pasrah pas diperebutin sama dua babynya wkwkwkwk 😂😂

    Chie sebenernya penasaran bgt detail hubungan Yunjae dulu(berhubung chie YJS jg) chie dagdigdug duer pas byangin adegan ranjang Yunsu. Sumfeh.😰😰 untungnya suie kabur 😳😚

    Omaigat pair siapa lagi nih yg muncul?! 😲 ada yeye pulak. —>ni anak suka YWS jg😄.

    Ok sekian dan terimakasih telah membuat saya penasaran di akhir cerita.

    Semangat selalu ya buat lanjutin nya. HAWAITING!!! 😘😘😉

  12. seneng nya yeye sm wooki udah nongol.jadi di sini si yeye jdi raja bar bar ya?terus kapan yewook ketemu nya tor. oh ya tadi pas part y wooki ada Tabib Ji Wan .itu tabib siapa ya kok tiba tiba nongol gitu.

    oh ya tor aku baca seluruh nya ko. ga cuma baca kyumin part nya aja. suwerrr…

  13. wifeleeteuk says:

    Aku bingung mau komen gimana😀 aku ga pernah ngomen kritikan atau saran😀 karena aku ga ngerti sama dua kata itu :v hihihi apa hanya aku yang selama ini ngomen cuman yg berhubungan sama karakter di setiap ff😀 Kkkk
    Chap ini campur aduk,ada terharu nya,mengejutkan,mengesalkan,ngegemesin >< owhhh kyumin moment,dan pikiran sungmin bener2 liar –'' tu anak polos nya ga ilang2 –'' duhhh gemesin …aku suka kata "Cantik yang dimaksud Ryeowook pun berbeda dengan wanita-wanita yang ada di kerajaan, lebih alami dan sulit untuk disangkal bahkan oleh sesama lelaki." itu devinisi yg pas buat *Sungmin,Eunhyuk,ryeowook,leeteuk*
    Ohh jadi yang di pajang di fb tuh ini tohh peran kamu *nunjuk daniel* :v ehh aku penasaran,apa di ff ini bakal ada couple lain?misal Yewook atau Haehyuk?
    Cerita disini mulai berattt,,walau harus mikir keras supaya inget nama2 negara yang susah nya minta ampun *berhubung sayah pelupa tingkat angkutan umum* tapi aku seneng baca nya!!!di jamin ga ada yang aku tinggalin satu katapun :v dan salah satu yg paling aku tunggu itu masa lalu yunjae,yunsheng,🙂 duhh riview aku puanjang sangat yah –'' okeyyy aku ga sabar nunggu next part nya ….fighting!!!!

  14. Aku… bingung..
    Aku bingung sama Yunho sama Junsu. Engga ngerti sama kisah mereka beneraannn. Sama kisah yang Junsu pernah ceritain dicahpter chapter sebelumnya juga tentang mereka dan si cantik Jaejoong. Sulit kupahami ihhh bingungnya Jae itu jadi hamil sama oramg lain?’tapi kenapa yunho mau ngakuin sungmin sbg anaknya dimata hukum dulu?’terus kan yunjae itu pasti saling mencintai yaa kenapa jae bisa hamil anak oramg?????
    Kyuminnya lebih dibanyakin dong~ ini makin meluas dan makin bikin bingung sama orang orangnya u.u
    Aku suka seunhyuuunnnnn disini awalnya. Tappi pas denger(?) Yg diomongin Junsu ke Yunho tentang Seunghyun jadi meragukan….
    Yesung jauh dari Wook yaa?’atau emang sengaja gak dijadiin partner? Dan tujuan zhou dibawa ke negri Yesung dimana Yesung sendiri belum punya ratu itu apa yaa? Aku jadi berfikir pada sesuatu…. apa kita satu fikiran? Engga kan? Gamungkin mereka dipasangin kan???? Aku berfikir keras kalau iya ._.”

  15. Kak Sun dan kak D… sorry banget kalau selama ini aku kurang komentar tentang jalan cerita… biasanya cm kukomen pendek2 krn bingung mau komentar bagaimana, maaf ya.. kuusahain kali ini banyak komen x3

    Penyampaian berita oleh Seunghyun, meskipun aku udah tau dr chapter sebelumnya ttg apa yg trjd dgn Zhoumi dan Changmin, ttp mencekam sekali😡 dari tiga tinggal 1.. apalagi korban banyak sgt dr negara yg hny ada sedikit kelahiran😦
    Aku smcm agak sebal tapi juga kasian sama Siwon.. ugh..
    .
    Okay rasanya dengar Changmin mencari Zhoumi buat aku mau nangis TnT Changmin trlihat… yakin sekali……. Changmin, Siwon percaya.. mgkn kalian berdua bs melakukan sesuatu..
    .
    Kita kembali dengan KyuMin hehehe
    Min min ada aja yang kamu penasarin.. *facepalm* tapi tapiiiii Min keliatan lbh dewasa ya?😄 calon ratu yg baik :3

    Keadaan Leeteuk semakin parah kah? TAT itu.. ada apa dengan perutnya? Uhhh TAT entah kenapa aku kok agak curiga sama tabib Ji Wan? Atau perasaanku aja? Leeteuk mencari pembantu untuk merawat taman ya.. semoga Wookie bs melakukannya dgn baik dan buat Teuk bahagia😦

    Apa info yg mau diketahui Junsu? Yunho…hampir saja… emmm… Junsu……

    WAIT OKE AKU KAGET
    ZHOUMI HIDUP?!?!?! Svaturland ternyata cukup berbeda dari apa yg orang bayangkan. Mereka tidak sepenuhnya monster. Dan… oke aku kaget ahh Dx apa yg akan trjd dgn Zhoumi? DX

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s