Cursed Crown – Chapter 17

Cahaya kelabu fajar menyeruak paksa ke balik kelopak matanya ketika gemuruh derap kaki membangunkan Zhoumi dari tidur panjangnya yang letih. Pemuda itu mengerjapkan matanya, hanya untuk merasakan gelapnya pagi menjelang. Meski kamarnya berada jauh di dalam istana utama Hviturland, cahaya matahari pagi tidak seharusnya sekelam ini. Lapisan-lapisan es membuat sinar matahari pagi memantul dan menghasilkan kilau cahaya sumber penerangan kerajaan. Ia bahkan sudah menambahkan sihir di dalam kamarnya, mantra biasa yang mengizinkan cahaya indah itu tetap bertahan meski matahari tenggelam di ufuk barat.

Saat Zhoumi membuka mata bermaksud menyambut atap putih familiar yang diukir indah di atas kepalanya, apa yang dilihatnya justru bongkahan-bongkahan batu gelap yang menempel di atap.

Pemuda itu mendelik dan tersadar.

Ia tidak berada di kamarnya.

Dengan panik, Zhoumi berusaha duduk. Hanya untuk tertahan lagi dan lagi hingga ia menyadari sejak tadi tangannya terantai di atas kepala, mencegahnya untuk duduk apalagi berdiri.

CRANG!

Suara rantai itu beradu dan tertahan saat sekali lagi Zhoumi mencoba menarik diri. Panas dan pedih dengan cepat terasa mengitari pergelangan tangannya. Pemuda itu mencoba menatap keatas, dan mengerang saat melihat kedua tangannya terpasung besi yang dirantai langsung ke kaki-kaki ranjang. Ia menatap sekelilingnya, ruangan asing ini membuatnya meringis. Pedih di pergelangan tangannya membantu ingatan terakhirnya kembali dengan menyakitkan.

Jouvenille, Changmin, dan kematiannya.

Rencana-rencana mereka berjalan sempurna, pada awalnya. Perang di berbatasan Jouvenille itu, Zhoumi datang membawa bala bantuan untuk adiknya. Ia bahkan mengingat selelah apa wajah adiknya, betapa kusut dan berantakannya Changmin. Kedatangannya membawa gelombang semangat bagi pihak mereka, Zhoumi bahkan menyelamatkan adiknya disana, Changmin nyaris terbunuh! Tapi ia berhasil menyelamatkannya.

Lalu, wajah tegang Changmin yang paling terakhir diingatnya, setelah sebilah pedang menusuk dadanya.

Zhoumi mengangkat kepalanya, lehernya kelu dan tangannya gemetar. Ia mencoba melihat apapun yang bisa membantunya berpikir. Ini dimana? Sepasang pintu besar berada lurus di sudut pandang matanya. Tidak mungkin ia berada di wilayah Hviturland. Tidak dengan dirantai seperti binatang.

Apa mungkin…

Pemuda itu menggeleng frustasi. Mengusir bayangan mengerikan yang sejenak tadi berkelebat di otaknya. Tidak mungkin. Ia tidak mungkin berada di sarang musuh. Ini tidak mungkin, kan?

Seharusnya ia sudah mati saat itu. Zhoumi mengingat bagaimana nyawanya seakan terhisap pelan-pelan. Bayangan itu masih segar dalam benaknya. Dinginnya pedang menembus daging dan kulitnya, darah mengalir dari sana, membasahi pakaiannya. Ia bahkan masih bisa mengingat sepanjang apa benda itu menembus melewati dadanya!

Keributan yang dibuatnya sontak membuat pintu besar itu terbuka, Zhoumi dihadapkan pada mimpi buruknya. Sosok pendek monster itu mengintip ke dalam dan saat menyadari Zhoumi menatap balik padanya, makhluk itu sontak menghilang lagi dengan membanting pintu.

ORC!

Zhoumi mendelik saat satu kesimpulan dengan cepat terbentuk di benaknya.

Tidak. Ini…

Ini Svarturland!

Zhoumi menarik-narik papan besi yang memasung kedua tangannya, dalam hati merapalkan mantra. Pemuda itu merapalkan apapun. Saat satu bait gagal menolongnya, ia membisikkan bait lainnya. Apapun, apapun yang bisa membuatnya terbebas dari pasungan ini dan segera menghilang pergi. Seharusnya ia tidak membutuhkan lebih dari lima detik. Besi normal ini tidak seharusnya memaksa Zhoumi menguras energi. Hanya butuh satu bait mantra sihir, atau bahkan satu hentakan biasa, ini hanya besi tipis yang dirantai dengan kekang binatang. Benda ini tidak sekuat yang seharusnya. Benda ini tidak seharusnya menghalangi seorang Pangeran Hviturland! Lebih-lebih seorang wizard selevel dirinya!

Seharusnya…

Seharusnya!

Tapi benda itu menahan Zhoumi tetap di tempatnya. Semua mantra yang dirapalkannya bahkan tidak bisa memunculkan berkas cahaya, lebih-lebih efek sihir.

Zhoumi tidak sadar saat giginya gemertak beradu, napasnya berpacu. Pemuda itu memandang nanar kemana-mana, mencoba memutar otaknya, namun terus saja ia berakhir pada situasi yang sama. Kebingungan dan dilanda kekhawatiran. Kenapa ia tidak bisa menggunakan sihirnya?! Apa mereka melakukan sesuatu pada besi ini? Ya, pasti mereka menggunakan sesuatu. Sesuatu yang bisa menangkal sihirnya.

Ia harus bergerak cepat. Orc tadi pasti akan memanggil lebih banyak monster. Dan Zhoumi ingin dirinya sudah menghilang dari tempat ini sebelum mereka kembali.

Pemuda itu mencoba cara lain. Ia memanjangkan tubuhnya, sadar kakinya yang jenjang mampu meraih pinggiran ranjang di bawah sana. Zhoumi memutar balik telapak kakinya, mencoba menarik dirinya menggunakan otot-otot kakinya. Di atas kepala, ia mencoba meloloskan tangannya melewati lubang pasungan dengan meluruskan telapak tangannya seramping mungkin.

Pemuda itu meringis, tapi ia segera menggigit bibirnya. Tidak ingin bersuara. Ia bisa merasakan basah timbul di pergelangan tangan dan punggung kakinya. Perih itu sudah cukup menyampaikan padanya bahwa kedua kaki dan tangannya mulai terluka, tapi ia belum menyerah. Zhoumi bahkan tidak menyadari saat pintu besar di ujung ruangannya terbuka sekali lagi.

Saat dua sosok asing itu melangkah masuk, barulah konsentrasinya teralihkan. Zhoumi berbaring kaku. Tulang-tulang pergelangan kakinya tidak lagi bergerak menarik. Perhatiannya kini terpusat pada dua sosok berkulit gelap yang berdiri di depan pintu kamar itu.

Satu diantaranya mengenakan mahkota zamrud dan jubah tebal mewah. Kalau bukan anomali warna matanya dan taring kecil yang menyembul di sela bibirnya, sosok itu lebih tampak seperti manusia berkulit cokelat terang. Satu yang lebih tinggi mengenakan zirah perang keemasan, tubuhnya besar dan kekar. Kulitnya mengilap keabuan, membuat Zhoumi berpikir kalau-kalau makhluk ini mengecat tubuhnya sendiri dengan maksud tertentu.

Tidak, Zhoumi segera menyadari. Itu warna kulit aslinya.  Termasuk sepasang tanduk tebal yang sempat dikiranya sebagai atribut perang yang ditempelkan dengan rapi di atas kepala dan rambutnya yang hitam.

Makhluk apa mereka?

Zhoumi tidak berdusta. Ia terkejut melihat keduanya, meski dengan baik ia menyembunyikannya di balik ekspresi kaku wajahnya.

“Tidurmu nyenyak, Pangeran?” sosok yang lebih tinggi diantara keduanya menyapa dengan suara ramah meski senyumnya menyampaikan perasaan yang berbeda.

Zhoumi membalasnya dengan bergantian menatap keduanya.

“Selamat datang di gubuk monster nan barbar Svaturland. Anggap gubuk sendiri, nde, Pangeran Zhoumi dari Negri Suci Hviturland?”

Jadi benar dugaannya. Ini Svarturland. Zhoumi tidak bisa lagi memikirkan negara lain. Meski belum pernah melihat jenis kedua makhluk yang seperti ini, mereka tetap mengingatkannya pada ciri khas mengerikan Negara Hitam. Tidak ada yang pernah tahu—Ternyata penghuni Svarturland tidak berwujud monster saja. Kasta tertingginya ternyata memiliki bentuk sempurna seperti mereka.

Keduanya berjalan mendekat. Zhoumi berusaha untuk tidak berjengit saat wajah-wajah itu tampak makin jelas dari sudut pandangnya. Ia menggerakkan bibirnya sembari mempertahankannya tetap terkatup, tidak ingin dipergoki tengah merapal mantra. Tapi sosok yang lebih besar diantara kedua tamunya memiringkan kepala dan menyipitkan mata, menyadari usaha Zhoumi.

“Oh, kau…” sosok itu terkekeh, tidak percaya. “…mencoba merapal mantra?”

Sosok pendek yang berdiri  disisinya memasang wajah yang tidak lebih ramah, meski suaranya terdengar sama mencibirnya. “Kau lupa ini bukan kampung halamanmu, Pangeran? Tidak ada salju, pepohonan dan ekosistem besar disini, tidak ada sumber sihir.”

“Oh, ya ya… Terima kasih sudah memberitahu, aku jadi ingat sekarang.” Ujar Zhoumi sembari melemaskan tangan, tidak ingin terlihat tegang. Meski mampu menyembunyikan semua emosinya baik-baik di balik wajah datarnya, akan jadi sebuah dusta kalau ia mengatakan tidak merasa khawatir  sekarang.

“Aku Daniel, dan ini…” kata sosok tinggi itu, sebelum merangkul sosok di sisinya. “Yang Mulia Yesung.”

Yang Mulia?

Zhoumi dengan mudah mengatasi rasa terkejutnya. Ia sudah melakukan ini ribuan kali sebelumnya. Tapi tetap saja, semua informasi yang diterimanya sekaligus tak ayal membuatnya harus berpikir keras.

Monster pendek ini anggota kerajaan. Raja? Pangeran? Zhoumi memutar otaknya dalam diam. Ia bergantian memandangi dua sosok itu tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

“Kau.” ujarnya tiba-tiba sembari menatap salah satu tamunya. Perbuatannya direspon oleh Yesung dengan mengangkat kepala seakan mengizinkan Zhoumi bicara sembari menunggu kesempatan untuk memotong lidahnya.

Zhoumi tidak membutuhkan izinnya. Saat kini menyadari dimana ia berada dan siapa yang berdiri di hadapannya, memohon ampunan adalah hal terakhir yang tidak akan pernah dipilihnya.

“Ya, kau. Aku belum pernah melihat monster sependekmu. Bahkan Orc kerdil yang kalian kirim untuk menyerang perbatasan kami tidak ada yang sependekmu.”

Zhoumi mendapatkan respon yang diharapkannya. Sosok pendek itu mendelik, wajahnya yang cokelat terang nyaris menunjukkan semburat merah. Yesung menghentak maju, nyaris melompat naik ke kasur itu. Sayang Daniel cepat tanggap dan merangkul adiknya tetap di tempat.

Zhoumi juga tidak berniat untuk menghentikan perbuatannya. Sembari tersenyum, dengan senang hati ia melanjutkan. “Biar kutebak.” ujarnya, sembari menyipitkan matanya. “Kau raja di tempat ini.”

Zhoumi tahu tebakannya benar saat wajah raja itu berubah keruh.

“Orang Svarturland punya selera humor yang aneh. Tunggu sampai seluruh negara tetangga tahu soal ini.” Zhoumi menggeleng, tertawa geli. Seulas lesung kecil membelah pipi kirinya dengan manis. Zhoumi tahu ekspresinya itu semakin menyulut amarah raja di hadapannya, karena itu ia mempertahankannya. Meski jauh di lubuk hatinya, kekhawatirannya tidak juga lekang. Sosok tinggi itu… Daniel? Kenapa sosok itu malah tersenyum seakan menikmati perbuatannya?

“Kau pikir kau bisa pulang dari tempat ini?”

Zhoumi berpura-pura memperhatikan Yesung saat Raja itu mendesis penuh amarah, di sisi lain matanya mencuri-curi ke arah Daniel, berusaha membaca wajah dan bahasa tubuh makhluk setengah monster itu. Tenang dan misterius, Zhoumi tidak menyukai bagaimana sosok itu memasang tameng yang sama sempurna seperti miliknya. Dan Zhoumi sadar ia tidak bisa membaca Daniel, tidak ada yang lebih menjengkelkan daripada itu.

“Aku tahu aku tidak bisa pulang, tapi kalian pasti akan menawari permintaan terakhir sebelum eksekusiku, kan? Aku ingin mengirim surat terakhir untuk ayahku. Rajaku perlu tahu sekonyol apa Raja Svarturland…yang tingginya hampir sama dengan snowdwarf.” Zhoumi tertawa pelan, suaranya menggema manis di dalam ruangan, tapi ia tahu jelas setiap kata yang diucapkannya memanaskan bara dalam kepala raja di hadapannya. “Kau tahu snowdwarf? Makhluk kerdil di negri kami.”

Yesung mendesis, tapi sebelah tangannya ditahan oleh Daniel yang tahu semua pertunjukan ini justru menyenangkan Pangeran Hviturland mereka.

Zhoumi menyukai bagaimana kata-kata jahat itu keluar dari bibirnya, kata-kata yang seakan menyampaikan jelas apa yang melintas di benaknya. Puluhan tahun ia menggunakan bibir ini hanya untuk mengatakan hal manis. Kini ia akan menggunakan mulutnya sesuai keinginannya, kematian tidak akan terasa lebih manis.

“Oh, aku salah ya? Apa kau Ratunya? Hah, benar juga. Jubahmu lebih mirip gaun. Kalau begitu, Ibunda Ratu, tolong katakan pada Raja aku ingin menemuinya.”

Zhoumi tahu ia berhasil memangkas habis kesabaran raja muda itu. Bahkan ia tidak menyadari sejak kapan sosok itu bergerak. Yesung melesat terlalu cepat dan mengukung tubuhnya dari atas. Raja duduk di atas perutnya, sebelah tangan mencekik dan yang lain memegang sebilah belati menembus kulit bahunya.

“U-UGH!” Zhoumi tersentak, tubuhnya menegang untuk sesaat saat pisau itu terantuk tulang di bahunya. Pedih daging yang koyak dan hangat darah membasahi tengkuk lehernya membuatnya meringis.

“Jaga mulutmu peri sial.” Yesung mendesis, menarik turun belati bertahta zamrud itu untuk membelah lebih banyak daging. Gerak tangannya lambat dan tertahan oleh tulang bahu Zhoumi, Yesung ingin memastikan pangeran kurang ajar ini merasakan setiap inci goresan belatinya.

“Y-ya! Ya! Jangan ngambek, Yesung-ah.” Daniel buru-buru melerai, tidak, ia menarik mundur adiknya, karena sesungguhnya tawanan mereka memiliki kesempatan untuk menendang Yesung dengan kakinya yang panjang tapi tidak melakukannya. Dan Daniel diganggu oleh rasa ingin tahunya yang aneh. “Kau boleh memukulnya, tapi jangan wajahnya dan jangan sampai berdarah. Aku mau dia tetap cantik saat aku mencicipi tubuhnya. Aku lebih suka melihat memar daripada lecet!”

Yesung menampik tangan kakaknya sembari mengeram. Zhoumi di bawah tubuhnya ikut mengerang saat raja itu berbalik menatap Daniel tanpa melepaskan genggaman belatinya.

“Oh, atau kau mau mencicipinya duluan?” Daniel bergurau saat melihat wajah keruh Yesung, ia sudah hidup terlalu lama dengan adiknya dan mengenal betul apa arti ekspresi itu.

Setidaknya Yesung harus membunuh sepuluh orang saat ia keluar dari ruangan ini nanti. Yesung belum pernah melampiaskan amarahnya selepas ini, lebih-lebih mengeram saat menusukkan belati pada seseorang. Ia selalu melakukannya tanpa berkomentar.

“Mencicipi?” Yesung mendengus, lalu mengembalikan perhatiannya pada Zhoumi. Ia menunduk, menatap langsung ke mata itu, mencurahkan seluruh kebencian yang pernah dimilikinya menembus pupil ungu Zhoumi yang berkilauan. Untuk sesaat, Yesung berpikir untuk mencongkel mata serupa berlian itu dan memajangnya di kamar. “Setelah apa yang dilakukannya pada adik kita?! Bukan menidurinya, aku malah terpikir untuk mengawini lubang beta-nya menggunakan pedang sungguhan!”

“Adik?” Zhoumi membulatkan matanya, didominasi oleh rasa sakit namun merasa cukup kuat untuk melanjutkan ejekannya lebih lama lagi. Ia memutar ingatannya kembali ke saat-saat perang terakhir yang dilaluinya di Jouvenille. Lalu semua potongan ingatan itu tersusun rapi dan cepat. Pedang monster yang digunakan untuk melukai Changmin, sama dengan yang digunakan untuk menusuk dadanya…

“Oh? Ogre jelek yang melukai adikku? Ah, aku ingat sekarang.” Zhoumi menggeleng, tertawa. Merasa situasinya begitu konyol sekaligus menyedihkan. Monster yang dibunuhnya saat itu adalah seorang pangeran. Andai saja ia bisa pulang membawa kepala monster itu, ia pasti mendapatkan pujian dari raja. Tapi sekarang, mungkin ayahnya yang akan mendapatkan kiriman berisi potongan kepalanya.

“Aku membunuhnya menggunakan tongkat sihirku. Dimana tongkat sihirku sekarang? Apa kalian mengawetkannya sebagai kenang-kenangan? Hitung-hitung dianggap sebagai mendiang adikmu.” Zhoumi terkikik, sesekali mengaduh saat Yesung membenamkan pisaunya sedikit lebih dalam. Raja itu seakan berusaha menyusun kalimat untuk membalasnya, dan Daniel berdiri di sisi mereka seperti menikmati pemandangan.

“Ohhhh… Aku sangat menyesal. Andai aku tahu dia saudaramu—” Zhoumi berujar dengan suara penuh sesal. Lalu ia mengangkat kepalanya, menatap raja di atas tubuhnya lebih dekat lagi. “Kalau aku tahu lebih awal… Sudah pasti akan kukorek jantungnya dan kutelan di tempat itu.”  Zhoumi berbaring lagi, suara tawanya mengalun memenuhi ruangan, bercampur dengan rintihan kesakitannya sendiri.

Daniel menikmati tawa pedih itu dalam diam, sembari mengawasi adiknya agar tidak membuat kerusakan besar di tubuh Zhoumi. Ia menatap lekat wajah pangeran Hviturland itu. Zhoumi menerawang ke atap, untuk sesaat, Daniel menangkap sorot kosong di kedua pupil ungunya yang indah. Namun anehnya, bibir pangeran itu masih bisa melengkung, tersenyum mencibir sembari berkomentar miring.

“Snowelf percaya, jantung Ogre bisa meningkatkan vitalitas. Kami mengumpulkannya setiap kali menang perang, selagi belum menjadi mayat jantung kalian sehat untuk dikonsumsi.”

“Hati-hati sayangku. Kau bicara seperti seorang alpha, itu berbahaya.” Daniel memperingati, tapi suaranya tetap terdengar menyenangkan, kikikan kecilnya mengimbangi senyum Zhoumi. Seakan di ruangan itu, hanya Yesung yang akan habis dibakar bara amarah.

“Tapi kami benar-benar melakukannya!” Zhoumi menatap Daniel, berpura-pura memasang wajah serius lalu mulai terkekeh lagi.

“Dan kau tahu apa yang kami lakukan pada Snowelf yang belum menjadi mayat saat kami yang memenangkan perangnya?” Yesung akhirnya mendapatkan suaranya lagi, setelah berhasil menguasai seluruh amarahnya kembali. Ia membungkuk, menatap wajah Zhoumi lebih dekat hingga mereka mampu merasakan embusan napas masing-masing.

“Kami membawa mereka pulang. Untuk dijadikan babi ternak penghasil anak sampai tubuh mereka hancur dan tidak bisa lagi melahirkan apapun, bahkan bayi manusia. Dan kau belum tahu sebesar apa ukuran bayi murni ras kami.”

“Kau versi bayi? Aku bisa bayangkan. Bayi snowdwarf pasti lebih besar, hm?”

Zhoumi mendapatkan satu pukulan di pipi untuk komentar itu. Belum lagi gerak belati Yesung yang kini berubah arah, menyamping menuju lehernya.

“Ah!” Zhoumi meringis,  “Ahahahaha.”

Daniel tidak memungkiri perasaan bergidik yang sesaat melingkupinya. Melihat adiknya menyayat tawanan mereka dan Zhoumi tetap tertawa seakan menikmati semua itu. Napasnya memberat, dan urat-uratnya berubah kaku hingga ke bawah sana.

“Biar kuingatkan lagi, Tuan Putri.” Yesung mendesis, merunduk tepat di belahan tengkuk Zhoumi. “Kau sudah pulang bersama kami. Dan hanya menunggu waktu untukmu mendapatkan kandangmu sendiri.” Yesung menghisap belahan luka di leher tawanannya, ia perlu mencicipi rasa darah dan daging makhluk yang akan dihancurkannya ini. Meski tidak sekarang. Ia akan memberikan waktu yang cukup untuk Daniel bersenang-senang.

“Dan kau akan melahirkan banyaaaak babi-babi kecil dengan warna rambut kotormu ini.” Yesung mengerat segenggam rambut pirang Zhoumi kuat-kuat, membuat pangeran itu terpaksa mendongak dan menunjukkan hampir seluruh bagian depan lehernya. “Yah, asal mereka cukup kuat, kami bisa membesarkan mereka menjadi prajurit dan mengirim mereka untuk menyerang pasukan ayahmu. Raja tidak perlu tahu kalau dia memerangi cucu-cucunya sendiri.”

Zhoumi memasang senyum terbaiknya yang terpancar hingga ke matanya, menutupi dengan sempurna rasa tegang di dadanya. Zhoumi tahu dirinya lahir sebagai beta, ia tidak perlu diingatkan seribu kali.

“Yesung-ah, sudah cukup. Kau merusak terlalu banyak.”

Daniel harus menarik Yesung dari ketiaknya, karena raja muda itu bersikeras untuk melanjutkan pekerjaan menggarisnya di atas tubuh Zhoumi.  Sampai Daniel benar-benar berhasil menarik adiknya turun, Yesung meninggalkan garis pendek dan dalam yang melintas di atas dada Zhoumi. Tidak, Daniel tidak menyukai pemandangan itu. Tidak darah. Sekalipun harus berdarah, ia sendiri yang akan memberikannya pada pangeran Hviturland ini.

“Satu bulan Daniel, aku tidak mau kau bermain terlalu lama.” Yesung melirik kakaknya sembari melangkah menuju pintu. Ia sempat berbalik dan menatap Zhoumi, masih dengan besar kebencian yang sama. “Kalau sampai sebulan dia tidak mengandung anakmu, aku akan mengirimi satu demi satu bagian tubuhnya pada raja Hviturland.”

Dan pintu itu ditutup dari luar, meninggalkan Zhoumi berdua bersama Daniel.

Keheningan selama beberapa detik itu pecah setelah Daniel berbalik menghadap ke tawanannya lagi.

“Pertama kali kita bertemu, aku hanya melihat punggungmu.” Daniel tertawa, mengisi kecanggungan di antara mereka. “Ternyata dengan mata terbuka begini, wajahmu jauh lebih cantik, hm?”

Zhoumi hanya memasang ekspresi datar, tidak ingin bergerak dan tidak ingin bicara. Luka di leher dan bahu yang memanjang ke dadanya itu berdenyut perih, darahnya masih mengalir. Ia berusaha membaca sosok di hadapannya, meski gagal lagi dan lagi. Sosok ini berbeda dari Raja tadi. Zhoumi segera menyadari ia tidak akan bisa membuat sosok ini marah hanya dengan kata-kata pedas.

“Kau akan menyesal membiarkanku hidup selama ini.” Zhoumi bersungguh-sungguh. “Aku akan membunuhmu, menggunakan tanganku sendiri.”

“Kau bilang mau membunuhku?” Daniel tertawa geli. “Now, now, baby. Kau yang dirantai di ranjang itu, kenapa kau yang menantangku, hm?” Daniel menggeleng, meski jelas sekali ia menyukai semua ini.

“Itu terlalu sulit, sayangku, tapi aku bisa memberimu kesempatan untuk mencoba. Aku akan mengabulkan keinginanmu.” Daniel melangkah menjauh tapi Zhoumi tahu sosok itu tidak bermaksud untuk keluar.

“Sekarang kita akan bermain. Aku akan membuat peraturan yang mudah untukmu.” Daniel tengah merencanakan sesuatu, Zhoumi bisa membaca satu hal itu. Sosok ini merencanakan sesuatu yang membuatnya bersemangat. Zhoumi mengerat rantai di atas jari-jarinya saat sosok itu berdiri memunggunginya.

Daniel membuka pintu kamar, membiarkan dua ekor orc berwarna hijau masuk. Kulit mereka terlihat lembab dan bergelambir. Tingginya sekitar satu setengah meter dan bertubuh gempal. Keduanya mengenakan pakaian yang menutupi daerah dada dan kemaluan. Mereka langsung berjalan menuju sisi-sisi ranjang Zhoumi lalu berdiri menunggu perintah. Satu diantaranya membawa sebuah jam pasir berukuran mungil. Zhoumi terdiam, benaknya dipenuhi tanda tanya. Namun pangeran itu hanya menatap Daniel dengan ekspresi tidak tertarik.

“Aku akan berdiri disini. Kalau kau berhasil menggeser posisiku, kau boleh keluar dan pulang ke negrimu. Aku sudah memerintahkan seluruh penghuni istana untuk membiarkanmu pergi kalau kau berhasil keluar dari ruangan ini melalui pintu. Kau tidak boleh curang, tidak boleh memukul mata… dan tidak boleh memukul ini.”

Zhoumi mendengus jijik saat Daniel meremas kejantanannya yang terbungkus di balik celana.

Well, selain itu kau boleh melakukan apapun, memukul, mencekik, menendang— APAPUN. Aku menjanjikanmu itu.” Daniel menyeringai.

Zhoumi tidak ingin menunjukkan sikap tegangnya saat Daniel melepaskan zirah emasnya dan memamerkan otot-otot kokohnya dibalik pakaian ketat berlengan panjang dan celana serba hitam yang ia kenakan. Daniel berdiri pongah di depan pintu, melebarkan kedua kakinya dan melipat tangan di depan dada. Tubuh besarnya yang kekar tegak bagai patung penjaga di depan pintu.

“Tapi kalau kau tidak berhasil menggeserku dari posisi ini selama waktu yang sudah kutentukan… Kau tidak diizinkan pulang, Tuan Putri. Dan aku akan membalas setiap pukulan, tendangan, cekikan, apapun yang kau berikan padaku dalam jumlah yang sama.”

Zhoumi menatapnya untuk sesaat, alisnya bertaut. “Apa jaminannya kau tidak akan melanggar janjimu sendiri? Aku tidak percaya padamu.”

“Oh, tidakkah kau pikir setidaknya… sekalipun aku berbohong soal mengizinkanmu pulang, kau bisa memukuliku sepuas hati? Bahkan membunuhku! Ini kesempatanmu. Belum tentu aku akan bermurah hati seperti ini lain kali.” Daniel tersenyum begitu lebar. Belum lima menit mereka mengobrol, ia sudah menyukai pemuda ini.

Daniel sudah tidak sabar untuk mematahkan pangeran Hviturland ini, termasuk harga diri Snowelfnya yang begitu tinggi.

“Aku tidak sabar menunggu hal itu.” Ujarnya sembari mengayun sebelah tangannya. Kedua orc itu segera menangkap maksud Daniel. Mereka membuka pasungan besi yang melingkar di pergelangan tangan Zhoumi. Pangeran itu hanya diam selama budak-budak orc itu bekerja, tatapannya tidak pernah beralih dari Daniel. Dan Daniel dengan senang hati membalas tatapan Pangeran Hviturland itu dengan senyum kelewat manis. Tidak ada ruginya, karena mata itu juga terlalu indah untuk diabaikan.

Suara kelontang rantai besi menggema di dalam ruangan luas itu. Dua orc itu bekerja cepat, meletakkan jam pasir itu di ujung ruangan dekat pintu, membalikknya, dan buru-buru menyingkir keluar ruangan. Mereka menutup pintu dari luar, sekali lagi meninggalkan Zhoumi bersama Jendral Perang Svarturland.

Zhoumi mengusapi pergelangan tangannya yang terluka bergantian, masih tidak berniat beranjak dari tempat tidurnya. Darah merembes dari bahu dan lehernya. Ia duduk sejenak, berusaha meluruskan tulang punggungnya sembari melakukan kalkulasi.

“Permainan sudah dimulai, sayangku. Silahkan maju.”

Zhoumi masih terduduk, mencoba menemukan titik lemah Daniel yang bisa diincarnya. Kulit abu mengilapnya dimulai dari pangkal kening hingga ke bawah kaki. Gumpalan otot lengannya dipamerkan jelas, terlebih dengan melipat tangan erat di depan dada, ototnya semakin menyembul kokoh.

Sosok itu sejengkal lebih tinggi darinya, dan jelas jauh lebih kekar. Dalam sekejap, Zhoumi bisa menduga bahwa mereka bukan lawan seimbang untuk pertarungan tangan kosong. Tapi setidaknya… pasti ada titik lemah. Zhoumi berusaha mencarinya, meski suara Daniel terus mengganggu.

“Oh, kau bahkan boleh menciumku.” ujar Jendral itu pongah. “Aku bisa membalasnya dua kali lipat lebih kuat.”

Zhoumi beringsut turun dari ranjangnya. Luka di tangan dan kakinya bergesekan dengan seprai dan mengotori kain itu.

Zhoumi mendengus, menyeret langkahnya menuju Daniel. Dua minggu tertidur dengan tangan terantai sama sekali tidak menguntungkan untuknya. Ia baru mulai menyadari ia haus dan lapar. Pergelangan tangannya terluka dan memar, kakinya lecet dan berdarah. Ditambah dengan satu bogem dari sang raja di wajahnya. Belum lagi luka panjang di bahunya yang melebar ke dekat leher. Darahnya belum berhenti dan sekarang telah mengotori sebagian pakaiannya. Ia sama sekali tidak dalam kondisi terbaiknya untuk menyerang orang ini. Tentunya itu sudah masuk dalam perhitungan monster brengsek ini.

“Kau mau ciuman?” Zhoumi sadar kondisi fisik mereka tidak seimbang, tapi ia tidak akan menyia-nyiakan sedetikpun kesempatan untuk menghancurkan makhluk Svarturland ini. “Akan kuberikan.” Desisnya sembari mengayunkan tangan, mengarahkan kepalan tinjunya menuju mulut Daniel.

BUGH!

“Akh!”

Zhoumi ingin berpikir suara erangan itu berasal dari Daniel. Tapi sosok di hadapannya masih berdiri sekokoh patung. Wajah Daniel tersentak ke sisi, namun saat posisi wajahnya kembali tegap, sosok itu menyeringai padanya. Tidak ada setitikpun luka berbekas di wajahnya, tidak juga seulas memar.

“Kenapa, sayangku? Gigiku melukai tangan cantikmu?”

Sial. Zhoumi tidak ingin menatap jarinya, tapi ia sadar tangannya terluka. Dan demi setan! Ia yang baru saja mengerang kesakitan!

“Tidak ada peraturan untuk sama-sama membalas menggunakan tangan, kan? Tunggu sampai kubalas yang barusan menggunakan bibirku.” Pria bertanduk itu terkekeh.

Zhoumi mengerat giginya, ditatapnya Daniel penuh kebencian. Ia tidak bisa memastikan lagi kalau dirinya berdiri dengan tegap di hadapan Daniel, sedang makhluk itu tak lepas melempar seringai padanya. Buku-buku tangannya bergetar. Tapi Zhoumi lebih tidak tahan saat melihat bibir kebiruan itu terbuka untuk melemparkan cibiran padanya. Sebelum hal itu terjadi, Zhoumi melayangkan kepalan tangannya lagi, kali ini menuju perut kekar Daniel. Sekekar apapun, daging tetaplah daging, setidaknya itu pemikiran awalnya. Daging bisa dihancurkan.

BUGH!

Zhoumi nyaris menggigit lidahnya, tidak rela membiarkan suara memalukan keluar dari bibirnya lagi. Kepalan tangannya seakan baru menghantam dinding batu, pemuda itu harus menahan napasnya untuk menahan rintihan keluar dari mulutnya. Ia menolak menurunkan tatapannya, ingin terus menunjukkan pada Daniel ia masih sanggup menghancurkan sesuatu. Ia mengepalkan tangannya lagi dan kembali memasang kuda-kuda, bersiap memberikan serangan sekuat tenaga meskipun otot bahunya yang terluka seakan menjerit setiap kali ia menggunakan tinjunya.

BUGH!

Tidak.

BUGH!

Kenapa?

BUGH!

Sial!

BUGH!

Kenapa dia tidak bergerak!

Zhoumi mengerang, berhenti sejenak setelah pukulan terakhirnya melemah. Hanya enam pukulan, ia hanya menggunakan kepalan tangannya enam kali dan ia bersumpah bisa mendengar retak suara tulang-tulang jarinya. Ia berusaha mengepalkan tangannya lagi, tapi telapak tangannya kaku. Jari-jarinya terus gemetar dan saat itu Zhoumi menyadari dirinya tidak bisa lagi memaksa menggunakan kepal tinjunya.

Zhoumi melayangkan kakinya menuju pinggang Daniel, suara gedebuk kuat menggema. Dengan target tak bergerak, tentu serangan itu mendarat tepat sasaran. Jika itu pinggang manusia, tubuh Daniel pasti sudah bengkok dan jatuh ke belakang.  Tapi monster itu tetap berdiri sekokoh sebelumnya. Tidak bergerak sejengkalpun sejak saat ia memulai permainan gila ini.

Zhoumi tidak bisa mempercayainya. Daniel hanya berdiri disana, menerima semua pukulan dan serangan, tapi justru dirinya sendiri yang terluka. Tidak mungkin semua pukulannya selemah itu, kan?! Tubuh snowelf itu bergetar menahan emosi.

“Kau pasti berbuat curang, monster! Apa yang kau gunakan?” Zhoumi memekik frustasi. Untuk sejenak, topeng yang digunakannya seakan retak. Pemuda itu mendorong tubuh Daniel ke belakang, lalu kembali memukuli Daniel dengan membabi-buta hingga napasnya berubah berat tidak beraturan—menghancurkan kepalan tangannya sendiri.

Daniel menyeringai pada sosok yang menyedihkan itu. Ia memang berbuat curang. Tapi Zhoumi tidak perlu tahu bagaimana. Sekarang melihat pemandangan Pangeran Hviturland itu luruh pelan-pelan membuatnya makin tidak sabar melihat wujud Pangeran ini saat seluruh topengnya hancur.

“Mungkin tanganmu diciptakan untuk menggendong bayi, Tuan Putri. Bukan untuk memukuli calon mate-mu.”

‘DIAM!’ Zhoumi menjerit dalam hatinya.

Mate.

Pemuda itu gemetar membayangkannya. Sebelumnya gertakan itu tidak membuatnya takut. Tapi kini berada di situasi terendahnya, dengan tubuh penuh luka dan kehabisan tenaga, Zhoumi menyadari betapa rapuh dirinya. Sekali lagi setelah ratusan kali mengalaminya, Zhoumi merasakan kenyataan itu menamparnya telak. Ia hanya seorang beta. Berada di negri asing dengan ribuan makhluk sekuat ini… Zhoumi tahu ucapan Yesung akan menjadi kenyataan.

‘…Dan kau akan melahirkan banyaaak babi-babi kecil dengan warna rambut kotormu ini.’

Zhoumi mengeram. Tidak. Ia harus mendapatkan kematiannya sebelum semua bencana itu terjadi. Ia tidak bisa membayangkan dirinya harus melalui hal selain kematian di tempat ini, ia tidak bisa mengizinkan dirinya sendiri.

“Baru enam pukulan dan satu tendangan, sayang. Aku tidak menyangka kau akan menyerah secepat ini.” Daniel bahkan tidak menghitung jumlah tinju membabi-buta Zhoumi yang tak bertenaga itu.

Zhoumi menghela napas berat, berpikir keras. Semua bagian telah diserangnya. Rahang, pipi, kepala, perut, dada, lengan, bahkan kaki. Dan bukan Daniel yang mendapatkan imbasnya. Monster ini seakan membuatnya bertarung dengan batu gunung. Batu itu tidak akan retak, justru tinjunyalah yang akan rusak.

Zhoumi tidak bisa berpikir lagi, sedang waktu terus bergulir. Lalu ia teringat pada ucapan Daniel sebelumnya.

Tidak mata… atau kejantanannya.

Zhoumi menelan ludah. Waktunya makin sempit. Sial. Persetan peraturan! Ia hanya perlu menggeser Daniel dan lari sebelum dikejar. Zhoumi mengepalkan tangan kanannya, mati-matian menahan sakit tulang-tulang jarinya yang menyiksa. Tidak ingin tampak ragu dan terbaca, Zhoumi melayangkan kepalannya tanpa berpikir lagi. Menuju mata kiri Daniel.

Kali ini, kepalan tangan itu tidak menyentuh sasaran. Zhoumi merasakan tangannya terhenti di udara, Daniel menangkap pergelangan tangannya dan meremasnya. Ujung jari-jarinya yang berdarah nyaris menyentuh bulu mata monster itu.

“Sudah kubilang. Tidak boleh mata, sayang.”

“L-Lepaskan aku, m-monster!” Zhoumi gemetar, berusaha menarik tanganya namun gagal. Cengkraman itu sekuat baja, bahkan lebih kuat dari pasungan besi yang merantainya tadi.

“Suaramu bergetar.” Daniel menautkan alisnya, tampak khawatir. “Apa aku menakutimu, Tuan Putri?”

Zhoumi menggertakkan giginya, dikuasai amarah dan perasaan terdesak. Ia hampir-hampir bisa mendengar suara pasir yang mengalir lambat menuju penghabisan. Ia tidak bisa berpikir lagi.

“KUBILANG LEPASKAN AKU!” seru Zhoumi seraya melayangkan kaki kanannya menuju selangkangan Daniel.

“HEI!” Daniel berseru, menangkap kaki Zhoumi sebelum tulang panjang pemuda jangkung itu menyentuh titik terlemahnya. Ia menahan sebelah kaki dan tangan pemuda itu hingga tubuh Zhoumi terangkat sejajar darinya.

“Waktumu habis dan kau bermaksud melanggar peraturan, Tuan Putri. Akan ada hukuman untuk itu.”

Zhoumi mengayun kepalanya, ingin membenturkan kepalanya sendiri pada Daniel. Jika kepala itu terbukti sekeras rahangnya, Zhoumi sudah siap untuk mati. Tapi sebelum pemuda itu berhasil melakukannya, tubuhnya sudah terhempas menghantam dinding di atas ranjang.

DUGH!

Zhoumi mengerang pelan dan berguling di atas kasurnya. Punggungnya sakit. Pemuda itu gemetaran saat ia mencoba mengangkat tubuhnya turun dari sana.

“Sekarang giliranku, kan?”

Zhoumi belum sempat turun saat Daniel menghampirinya. Pria itu membalik tubuh Zhoumi hingga ia terbaring paksa di atas ranjang. Daniel menyiapkan tinjunya, sama seperti Zhoumi, namun kepalan tangan Daniel-lah yang berhasil mendarat lebih dulu.

BUGH!

“GHUKH!” tubuh Zhoumi sontak melengkung saat ia tersedak dan memuntahkan darah. Pemuda itu memegangi perutnya dengan tangan gemetar. Saliva yang kental dan lengket berubah merah dan mengaliri sisi pipinya membasahi selimut.

Ah, tidak…” Daniel meringis. “Aku tidak merusak rahimmu, kan? Maaf. Itu kalkulasi awal, biar kukurangi tenagaku.”

Zhoumi tidak menghiraukan suara Daniel yang mengejeknya. Ia masih meringkuk di atas ranjang, untuk sesaat tidak sanggup menggerakkan tubuhnya. Pukulan Daniel yang telak menyerang perutnya seakan memaksa jantungnya melesak naik ke tenggorokan.

“Kau tidak mau turun dari ranjang?” Daniel terkekeh di atas tubuhnya. “Setidak-sabar itu sayang? Aku suka kok main di atas ranjang.”

“Diam, bajingan.” Umpat Zhoumi dengan mulut penuh darah, bibirnya bergetar. Warna merah yang kental itu mengotori separuh wajahnya. Oh, hell. Daniel menyukainya.

“Aku suka sekali kalau kau mengumpat. Rasanya seperti melihat wajah aslimu.” Daniel tertawa senang. “Coba ulangi lagi, please?” Pria itu mencoba mengusap pipi berdarah Zhoumi, namun dengan cepat tangannya ditampik.

“JANGAN SENTUH AKU!” serunya sembari berusaha mendorong Daniel menjauhinya, dengan tangan dan kakinya.

Daniel bangun ke posisi duduk dan tergelak makin kuat, “Loh, ini giliranku. Aku membiarkanmu menyentuhku, sekarang kau harus mau disentuh.”

Pemuda itu memberikan perlawanan, kini dengan tenaga yang kembali sedikit demi sedikit, ia memasang kuda-kuda untuk kembali menyerang Daniel.

“Yah, giliranmu sudah selesai.” Daniel kembali mengukung Zhoumi di bawah tubuhnya. Ia membiarkan pemuda itu memberontak dan menyerangnya dengan kepalan tangannya yang sudah retak, karena seluruh serangan Zhoumi tidak akan ada artinya. Melihat Pangeran itu mengerang frustasi setiap kali sadar usahanya tidak membuahkan hasil untuk sekedar melukai Daniel, membuat Daniel merinding oleh kesenangan yang meluap-luap di dadanya.

Zhoumi kehabisan tenaga dan monster itu sama sekali tidak bergeming di atas tubuhnya.

“Jawab aku. Untuk pukulan pertamamu tadi…” Daniel tersenyum nakal. “Kau ingin dibalas dengan tangan atau dengan bibir?”

Pupil keungunan itu menatap penuh kebencian.

“Gunakan penismu biar kutelan sekalian.” Zhoumi mendesis, Daniel tergelak mendengarnya.

“Jawaban bagus.”

BUGH!

Daniel menghantam rahang pemuda di bawahnya. Sebisa mungkin menggunakan tenaga biasa, ia tidak ingin melukai pangerannya. Namun sepertinya, ia salah perkiraan lagi.

Zhoumi tersedak dan menyemburkan darah lagi dari mulutnya. Ia terbatuk beberapa kali, sebelum meludahkan dua  bulir gigi ke sisi kepalanya.

“Ups.” Daniel meringis. “Masih terlalu kuat, ya? Akan kukurangi lagi tenagaku, ok? Bertahan sedikit lagi ya, sayang.” Daniel mengusapi wajah Zhoumi dengan satu telunjuknya. Hidung panjang Pangeran Hviturland itu hanya sedikit lebih besar dari telunjuk besarnya yang sudah sangat populer di kalangan pelacur istana.

“Hidungmu menggemaskan, ya?” Daniel terkekeh. ‘Membuatku ingin mematahkannya.’

Zhoumi mengangkat kepalanya sedikit, lehernya gemetar. Ia bergeleng kepala dengan mata terpejam, setelah bermenit-menit kehilangan kendali, pemuda itu berhasil menyusun ulang topengnya yang retak.

“Kau pikir kau pantas tidur denganku, monster?” Tidak cukup mengatakannya dengan suara berbisa, Zhoumi meludahi wajah Daniel, sempat membuat jendral di atas tubuhnya berjengit, tidak memperkirakan tindakan itu.

Daniel mengusap ludah bercampur darah yang mengalir dari mata dan mengotori pipinya, “Jaga sikapmu, sayang.” ujarnya pelan.

“Di negri kami, makhluk sepertimu dirantai seperti binatang.” Zhoumi mendengus, “Jangankan untuk tidur denganku, bahkan untuk mencium kakiku masih terlalu cepat seribu tahun.”

Daniel meresponnya dengan tersenyum tipis. Lalu senyum tipis itu menghilang, berganti dengan ekspresi kaku saat ditangkapnya dagu Zhoumi dengan satu tangan. Daniel meremasnya kuat, cukup untuk membuat Zhoumi menatapnya, bukan untuk merusak rahang Pangeran itu yang sudah memar akibat tinjunya.

“Lihat aku.” Bisiknya sembari merunduk, mendekatkan wajah mereka. “Ini wajah yang akan kau lihat sampai kau mati, Pangeran Zhoumi. Jadi bersikap baik-lah. Kalau kau bisa jadi pelacur yang baik, aku akan membiarkanmu hidup.”

Zhoumi tertawa miring. “Kalau begitu berikan kematian padaku.” tantangnya.

“Aku tahu kematian macam apa yang kau inginkan Pangeran. Kau punya selera yang berbeda soal kematian, hmm? Akan kuberikan kematian yang lain untukmu.” Daniel menyeringai. Ia meremas dagu Zhoumi lebih erat saat ia menyusupkan wajahnya sendiri di tengkuk Pangeran itu. Daniel mulai mencium, menghisap, dan menggigit kulit pucat itu saat perlu.

“A-Ah!” Zhoumi menggeliat. Hawa panas napas bercampur saliva melintasi tengkuk hingga ceruk lehernya. Gerak bibir dan gigi Daniel yang menjelajahi lehernya perlahan menuju ke luka terbuka yang dibuat oleh Yesung tadi.

“L-lepas!” rintihnya sembari berusaha mendorong tubuh berat Daniel. Tapi Daniel bahkan tidak bergeming.

“KUBILANG JANGAN SENTUH AKU!” Zhoumi berteriak frustasi, hampir-hampir mendengar suara tangisnya sendiri, namun airmatanya tidak mengalir. Ia berusaha menyerang Daniel, dengan tinjunya yang sudah hancur, juga dengan kakinya.

“Jangan melawan, Tuan Putri. Aku tidak ingin mematahkan sesuatu!” Daniel memperingati, ia tahu kemana kaki pemuda itu bermaksud mendarat. Tapi dengan posisi penuh celah seperti ini, satu kali Zhoumi berhasil menyerang selangkangan Daniel menggunakan kakinya.

“UGH!” Daniel mengerang. Refleks merapatkan kakinya dan meremas kejantanannya yang berdenyut menyakitkan. Wajahnya bersemu muram, urat-urat memenuhi kening dan pelipisnya. Zhoumi ingin menggunakan kesempatan itu untuk lari, namun semua terjadi begitu cepat.

“Kau yang memaksaku, Tuan Putri.” Daniel menggeram. Ia menangkap lutut dan pergelangan kaki snowelf itu, lalu dengan satu remasan kokoh, ia memutar telapak kaki Zhoumi keluar rotasi.

“ARGGGHHHH!” Zhoumi menjerit, suara derak tulang kaki yang berubah arah tenggelam oleh jeritannya sendiri.

Daniel menatap Zhoumi prihatin, ia berpaling dan mengerutkan dahi melihat tulang putih menyembul di dekat mata kaki Zhoumi. Darah merembes dari sana. Memar kebiruan dan merah daging meruam di pergelangan kaki telanjang itu.

“Aku tidak mau merusakmu terlalu cepat, sayangku. Jadi kurasa satu kaki sudah cukup untuk hari ini.” Daniel mendesah kecewa, saat berbalik menatap tawanannya yang jatuh tidak sadarkan diri.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Setelah insiden tidak mengenakkan yang dialaminya malam itu di kamar Yunho, Junsu tidak berpikir dua kali saat pagi datang. Ia menyiapkan pasukannya sendiri dan menaiki kapal pertama yang berlayar hari itu. Ia bahkan tidak berpikir untuk berpamitan dengan anggota komite, lebih-lebih kepada Raja. Lagipula niatnya untuk pergi memang karena ia ingin menghindari suaminya. Kalaupun ia memikirkan kembali soal izin Yunho, perjalanan yang sudah ditempuhnya terlalu jauh untuknya kembali lagi ke tanah Hviturland demi seulas izin.

Satu minggu ia berlayar melewati laut tenang. Junsu berpikir alangkah mudahnya perjalanan ini kalau saja Siwon tidak sedang menjalani hukumannya. Sekali ia mendatangi tanah merah dan baru kali ini ia menyadari betapa jauh jarak yang memisahkan negaranya dari Radourland. Kepala pasukannya telah merayunya untuk melewati tanah Graentland. Menyebrang selat kecil diperbatasan laut negrinya dan negri hijau itu, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat, sebelum menyebrang selat lain yang memisahkan ibukota Graentland dan Radourland.

Tapi Junsu menolak, tentu saja ia menolak. Kehadiran Ratu Hvirturland di negara asing akan disamakan dengan penghinaan jika ia tidak mampir ke kerajaan utama dan memberi salam pada Raja. Apalagi jika harus melewati Ibukota. Dan Junsu belum siap menemui raja manusia itu.

Setidaknya setelah satu minggu perjalanan yang melelahkan dan memuakkan, Junsu berhasil memijakkan kakinya di istana Radourland. Untuk yang kedua kalinya meski sekarang ia hanya ditemani oleh prajurit dan pengawal.

Junsu tidak menyangka berita kedatangannya akan menyebar secepat itu, baru dua puluh menit yang lalu ia sampai di ibukota, ia bahkan belum sempat menemui tuan rumah Raja dan Ratu negri ini saat sosok Sungmin menyambutnya lebih dulu di istana utama.

“YEAAAYYY! EOMMA!”

Junsu hanya tertawa kecil melihat Sungmin menghambur menyambutnya. Ia melirik Pangeran Kyuhyun yang sejak tadi menahan diri untuk tidak menghalangi Sungmin, Junsu tahu Pangeran muda itu khawatir setengah mati melihat matenya yang tengah mengandung berlarian dan berjingkat menyambut Ratu Hviturland.

“Min-ah, kau tidak boleh berjingkat begitu. Nanti perutmu sakit.” Junsu menahan bahu Sungmin sebelum pemuda itu berhasil memeluknya. Sungmin memberengut sementara Junsu memperhatikan keadaan putranya sekali lagi. Gaun hijau selutut yang dikenakan pemuda itu menunjukkan sekilas ukuran perut Sungmin, Junsu tidak ingin memandang terlalu lama, tapi jauh di dalam hatinya ia merasa tubuh ramping Sungmin belum pantas menampung beban itu.

“Kenapa memangnya? Dia mau meledakkan perutku, huh?”

“Meledakkan?” Junsu menautkan alisnya, bingung.

Sungmin menjawab dengan polos sembari menggembungkan pipinya.

“Kata hyung kalau baby marah dia akan meledakkan perutku.”

Junsu terkesiap mendengarnya. Ia melirik Kyuhyun, yang secara tiba-tiba membuang muka dan berpura-pura melihat ke arah lain. Junsu menahan napasnya, mengatur diri untuk tidak meluapkan emosinya di sini saat ini. Saat menghembuskan napas panjang, Junsu meremas bahu putranya dan menatap mata hitam itu tegas. “Tunggu di kamarmu, eomma akan mengunjungimu setelah memberi salam pada Raja, nde?”

Sungmin membuka mulutnya, ingin memprotes saat Junsu bermaksud pergi. Tapi ibunya berpaling padanya dengan wajah serius.

“Dan jangan berjingkat, Sungmin-ah!” serunya memperingati.

Sungmin tergagap. Kehilangan keberanian untuk merengek di hadapan ibunya sendiri.

“O-oke.” cicitnya takut.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

“Selamat siang pangeran.”

Dua orang pelayan membungkuk hormat saat pemuda itu berjalan melewati lorong Aula Raja. Ia menjawabnya dengan mengangguk pelan, lalu melanjutkan langkah tegapnya. Kedua pelayan itu memandangi kepergian pangeran sembari saling melempar senyum sama-sama tahu.

“Hihihiii… Pangeran kelima masih tetap tampan walau jambangan begitu. Tapi dia belum pulih, ya? Dia tidak seceria biasanya.” Snowelf berperawakan mungil berambut coklat itu berbisik cemas. Sedang sosok di sisinya segera menimpali.

“Kau bodoh ya? Mana bisa dia ceria setelah kejadian itu, apalagi ini baru sebulan. Pangeran Changmin pasti merasa bersalah. Tidak heran kalau dia berubah…”

“Aaahhh… Aku sedih sekali. Setelah kematian Pangeran Zhoumi yang tampan dan jangkung itu, aku tidak akan melihat Pangeran Changmin tersenyum lagi saat membalas salamku! Huuh~” keluhnya sembari menghentakkan kaki, ia berjalan cepat berusaha mengimbangi langkah rekannya.

“Sudah jangan berisik! Cepat kerjakan tugasmu!”

Kedua pelayan itu masuk ke ruangan pangeran itu untuk bebersih sementara penghuninya sedang keluar.

Namun Changmin tidak pergi jauh. Ia melangkah menuju ujung lorong itu, lalu berbelok ke sayap barat di lantai ketujuh, menuju kamar kakaknya. Zhoumi.

Dengan merapal mantera kunci yang diberitahukan oleh penjaga sayap barat, sepasang pintu setinggi dua setengah meter itu berderit terbuka. Changmin mengambil satu langkah ke dalam sembari memejamkan matanya—menghirup aroma familiar yang masih melekat di ruangan itu.

Aroma familiar kakaknya, seakan Zhoumi masih berada di dalamnya.

Tapi saat membuka mata, Changmin kembali pada kenyataan pahit. Zhoumi tidak ada disana.

Ruangan itu masih serapi saat pemiliknya meninggalkannya. Changmin memerintahkan agar tidak ada satupun pelayan memindahkan barang-barang Zhoumi sejengkalpun dari tempatnya semula.

Changmin berhenti di atas permadani merah dengan corak-corak hitam. Ia mengerang, bootsnya mengotori karpet indah itu dengan serpihan-serpihan es. Pemuda itu mendesah, mendongak dan berhadapan dengan dinding-dinding luas sewarna cokelat kayu. Tanpa lampu, ruangan ini sangat temaram, dinding-dinding cokelat di sekitarnya seakan memastikan cahaya seterangapapun akan bersinar lembut jika dinyalakan di dalam sini.

Pemuda berambut merah itu menurunkan pandangannya, dan matanya bertemu dengan meja kerja Zhoumi. Lembar-lembar kertas dan gulungan memenuhi meja itu. Tanpa mampu menahan langkahnya, Changmin mendekat kesana. Disentuhnya jubah tidur tipis berwarna ungu muda yang digantungkan di punggung kursi. Changmin mengusapnya menggunakan ujung telunjuknya, lalu disesapnya aroma yang melekat di telunjuknya pelan-pelan.

Changmin menarik kursi itu, berpikir sebentar sebelum memutuskan untuk duduk di sana. Aroma yang tadi tercium samar, kini melingkupnya seperti sebuah pelukan. Changmin menyandarkan kepalanya, membiarkan harum lembut itu menguasai dirinya. Ia menatap kosong ke depan, membayangkan dirinya berada di posisi Zhoumi saat kakaknya masih disini. Sepanjang hari duduk dan mengerjakan laporan-laporan membosankan.

Pemuda itu terkekeh. Lalu otot-otot bibirnya terasa kaku. Senyumnya berubah aneh.

Jendela ruangan tidak pernah lagi dibuka sejak saat Zhoumi menghilang. Tapi saat Changmin menatap ke arah jendela yang tertutup itu, bias cahaya imajiner tercipta di depan matanya. Ia seakan melihat jendela itu terbuka, pepohonan tinggi di taman dalam istana berayun, disinari cahaya indah matahari yang membias menembus dinding-dinding es di atasnya. Mungkin keindahannya cukup menjadi obat untuk penyakit bosan yang tiba-tiba menyerang kakaknya saat ia mengerjakan laporan-laporan, Changmin membayangkan.

Kalau ia adalah Zhoumi, Changmin tersenyum kecil, keindahan macam apapun itu tetap tidak akan cukup membuatnya tahan duduk disini sepanjang hari.

Alpha muda itu menunduk menatap meja, menyadari tiga empat lembar kertas digelar di hadapannya. Zhoumi pasti meninggalkan pekerjaannya karena panggilan yang mendadak, ia meninggalkan mejanya sedikit berantakan.

Changmin membayangkan, kakaknya tengah menulis gulungan-gulungan dan belum sempat menyelesaikannya—‘Laporan mingguan Ketua Ksatria’ tertulis di judulnya, oh betapa membosankan.

Pemuda itu tersenyum simpul saat ia memperhatikan tulisan Zhoumi, disapu dengan rapi di atas kertas-kertas bersih. Bagaimana mungkin kakaknya tidak meninggalkan setitikpun tetesan tinta? Itu tetap menjadi misteri. Changmin bahkan tidak tahan menulis surat pendek laporan keadaan perbatasan untuk ayahnya. Di samping mangkuk tinta dan pena bulu, buku-buku politik disusun rapi. Beberapa diberi pembatas.

Rak buku yang berdiri mengelilingi satu sisi dinding menampung banyak buku-buku, ditata berdasarkan topik dan warnanya. Changmin bisa membayangkan Zhoumi menyusunnya sendiri, dua baris pertama dengan buku-buku sihir, rak ketiga dengan buku-buku pengobatan dan penyembuhan, rak keempat dan kelima diisi oleh buku-buku sejarah Hviturland dan sejarah dunia. Lalu di sudut terbawah rak itu, sebaris buku diletakkan rapi, seakan dengan sengaja mereka disusun disana agar tidak mencolok perhatian.

Changmin mengerutkan dahinya. Moodnya berubah keruh saat menyadari buku-buku macam apa yang mengisi sudut terasing itu.

Catatan Trauma dan Gangguan Mental pada Snowelf? Kepercayaan diri dan… Beta Verse?

Changmin tidak ingin bermain tebak-tebakan dengan dirinya sendiri. Tapi ia tidak bisa mengusir pemikiran aneh yang mulai menghantuinya sejak saat ia menggunakan ruangan ini sebagai tempat persembunyiannya. Tidak mungkin kakaknya bermasalah dengan kepercayaan diri, lebih-lebih masalah mental! Tidak, tidak mungkin kan. Changmin bersikeras saat ia melihat deretan buku itu pertama kali.

Meskipun Zhoumi mengambil jurusan Wizard Petarung, dia sangat berprestasi di kelas Wizard Support. Tidak aneh jika dia mengobati seseorang. Apa dia sedang menolong seseorang yang mengalami gangguan seperti itu? Siapa?

Saat mengingat Zhoumi, Changmin membayangkan sosok yang selama ini dikaguminya. Kepercayaan diri, keteguhan, dan keanggunan Zhoumi. Tidak ada yang lain. Kakaknya itu bahkan tidak pernah menunjukkan emosinya di depan umum.

Tapi Changmin mulai bergulat dengan pemikirannya sendiri. Terlebih saat ia menemukan jurnal pribadi milik kakaknya. Berisi penuh agenda dan jadwal kegiatan Zhoumi selama dua tahun kebelakang. Jurnal itu memang tidak diisi seperti buku harian. Hanya jadwal-jadwal pertemuannya dengan mentri ini dan itu, tabib ini dan itu, hingga daftar janjinya pada teman-teman. Namun Changmin kerap menemukan goresan-goresan pena yang terlihat disapu secara… emosional. Seakan kakaknya bermaksud menulis sesuatu, namun berubah pikiran dan urung melakukannya.

Changmin memang tidak sering bertemu dengan Zhoumi selama ini, lebih-lebih berdiskusi secara akrab. Keduanya lebih sering terdiam saat mereka berada di ruangan yang sama. Dengan karakter mereka yang jauh berbeda, Changmin selalu menemukan dirinya tak mampu memulai obrolan dengan kakaknya.

Tapi sudah seminggu ini Changmin mendatangi kamar kakaknya, memperhatikan seluruh benda yang ada di dalamnya, dan perlahan… Changmin merasa dirinya tengah membayar kerenggangan hubungan yang dijalinnya bersama Zhoumi selama ini. Pelan-pelan, ia mengenali sifat dan kebiasaan kakaknya itu. Ia menyusun dugaan ini dan itu lalu mulai membangun sosok Zhoumi yang belum dikenalnya selama ini.

Kakak tertua kedua ini adalah seseorang yang sangat rapi, tipe yang menjadwalkan semua kegiatannya dengan baik lalu membuat laporan yang dibutuhkan bahkan tanpa diminta. Zhoumi juga maniak kebersihan. Changmin terkekeh, mengingat wajah jijik kakaknya saat ia terpaksa membunuh ogre-ogre tanpa sihir di medan perang.

Di atas semua itu, ada hal yang paling menghantui pemikiran Changmin. Beberapa hari lalu ia menemukan botol-botol kecil bersi tablet-tablet asing yang disembunyikan di laci meja tidur kakaknya. Saat ia membuka botol itu dan membaui aroma herbal, Changmin membawa satu tablet untuk ditanyakannya pada seorang healer. Dan dugaannya benar… Obat itu adalah olahan tanaman illdse, digunakan sebagai obat penenang dosis tinggi. Changmin masih ingat betul ia dicekoki dengan obat itu saat pertama kali mengamuk di ruang ayahnya dan berusaha keluar dari istana.

Tapi… Untuk apa Zhoumi menyimpan benda itu?

Apa untuk orang yang diobatinya?

Changmin bangun dari duduknya dan melangkah mendekati ranjang kakaknya. Ia duduk di tepinya sebelum berbaring merebahkan tubuh, menatap langit-langit terang yang diukir dengan ilustrasi dedaunan dan ranting pohon.

Sudah sebulan berlalu sejak peperangan di Jouvenille itu, namun Changmin belum mendapatkan semangat dan kepercayaan dirinya lagi. Ia bahkan tidak bersemangat untuk mengangkat pedang lagi… Sudah begitu lama ia menghabiskan waktu di sini, di istana. Dulu ia hanya menghabiskan waktu paling lama tiga atau empat hari pulang ke tempat ini sebelum kembali berangkat untuk berjaga di perbatasan.

Satu hari setelah kejadian di ruang rapat itu, Changmin terbangun di ruangannya dan dikuasai oleh amarah yang menjadi. Meski ia bisa lebih menguasai diri dan memutuskan tidak keluar ruangan selama beberapa jam. Ia merutuk semua orang yang membiarkan waktu terbuang sia-sia tanpa usaha untuk menolong kakaknya. Raja bahkan memerintahkan enam alpha dari pasukan elit untuk mengawasinya, memastikan ia tidak memberontak keluar dan menyerbu Negri Hitam sendirian. Belum cukup dengan menggunakan mereka, Raja memerintahkan seorang penyihir untuk memasang mantra di punggungnya—mantra yang membuatnya tidak bisa meninggalkan kerajaan satu langkah pun.

Changmin masih ingat saat dia mati-matian berusaha keluar dari kerajaan, meronta dan menjerit seperti orang gila di pintu depan, namun gagal karena terhalang sesuatu yang tak terlihat. Dia berniat memohon sambil menangis agar mantra itu dihapus darinya… Dan dia ingat saat dirinya berniat untuk membunuh Yunho karena menolak mengabulkan permintaannya. Tapi enam pasang tangan menahannya untuk tidak menyentuh Sang Raja.

“Kau tidak akan kemana-mana sampai akal sehatmu kembali.”

Mengingat ucapan ayahnya saat itu membangkitkan emosi dalam hatinya lagi. Changmin mengepalkan tangannya menahan amarah.

Akal sehat?

Berani sekali orang itu mengingatkannya tentang akal sehat, saat dirinya sendiri sama tidak warasnya sejak ditinggal mati oleh tunangannya dulu. Sekarang saat mendengar berita kematian anak kandungnya dia malah bersikap seolah ini bukan masalah besar?! Changmin yakin sekali ayahnya sudah benar-benar gila.

“Kenapa menatapku seperti itu? Kau mau membunuhku? …Kau?”

Changmin menggertakkan gigi-giginya. Hatinya panas mengingat ayahnya mendengus dan menyeringai dengan tatapan merendahkan kepadanya.

“Melawan satu ogre itu saja kau tidak bisa. Jangan bermimpi kau mau menyerang satu negri seorang diri. Kau sampai harus ditolong dua orang kakakmu. Kau itu lemah.”

Tatapan sinis merendahkan itu benar-benar menghancurkan harga diri Changmin. Tapi—

Apa yang dikatakan ayahnya memang benar. Changmin menyadarinya. Ia tahu tidak mungkin menyerang masuk ke negri asing itu seorang diri. Lalu ia harus bagaimana?

Sementara ia percaya bahwa Zhoumi masih hidup di sana, dan mungkin kakaknya tengah disiksa… Bagaimana mungkin Changmin masih bisa mengabaikannya? Bagaimana mungkin ia bisa menjalani hidupnya seperti biasa—tidur, makan, bekerja, tertawa, seolah tidak terjadi apa-apa?

“Sial…” Bisiknya kesal. Buru-buru ia memejamkan matanya yang terasa panas. Ia mengangkat satu lengannya menyilang menutupi pandangannya.

Bahkan sekarang ia mulai meragukan keselamatan Zhoumi. Apa mungkin kakaknya masih hidup sampai saat ini? Tidak ada tanda-tanda dari Svarturland sama sekali untuk menggunakan Zhoumi sebagai sandera. Bahkan tidak seujung jaripun dikirim pihak lawan untuk mengejek mereka.

…Apa Zhoumi benar-benar sudah mati?

Bukannya Changmin tidak tahu rumor itu—rumor bahwa snowelf-snowelf yang diculik oleh monster Svarturland dijadikan breeder untuk menghasilkan keturunan mereka. Ini hanya berdasarkan pendapat kebanyakan orang, tetap saja tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di dalam negri yang terisolasi itu.

Pemikiran itu didasarkan atas pengamatan para prajurit, dimana lawan mereka hanya menculik beta dan membunuh alpha. Alpha tidak bisa memberikan anak, berbeda dari beta dan omega. Sedangkan tidak ada omega yang diizinkan menjadi prajurit.

Tidak ada yang tahu pasti. Tidak ada orang yang bisa memastikan hal itu karena tidak pernah ada yang masuk dan kembali hidup-hidup dari Svarturland.

Bisa saja lebih mengerikan, kan? Misalnya… Mereka lebih senang memakan daging snowelf beta?

Changmin mencari-cari kemungkinan lain. Dia tak sanggup membayangkan sesuatu seperti itu terjadi pada kakaknya. Lebih baik Zhoumi mati di Jouvenille daripada dijadikan ternak oleh makhluk-makhluk menjijikkan itu!

Tiba-tiba suara ketukan pintu menyadarkan Changmin dari lamunannya.

“Max? Kau di dalam sini?”

Changmin mengenal baik suara itu. Pemuda itu mengangkat tubuhnya dan membuka pintu kamar menggunakan sihirnya.

“Siwon-hyung… Kenapa kau tahu aku di sini?” Tanya pemuda itu saat kakak tertuanya masuk ke ruangan itu.

“Donghae yang bilang padaku. Ia melihatmu ke sini setiap hari.”

“Oh.” Ujarnya singkat. Dia tidak pernah memperhatikan Donghae ada di sekitar sana saat ia datang ke kamar Zhoumi.

Siwon menaikkan alis matanya lalu memandang Changmin. “Kau tidak apa-apa kan?”

Changmin terdiam memandangi lantai. “Siwon-hyung… apa yang harus kulakukan?” Tanyanya sambil mengepal tinjunya kesal.

Siwon menghela napas dan berkacak pinggang, bingung.

“Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa, Max. Bawahan mentri Song Bum-sshi mengikutiku kemana-mana, bahkan ke toilet umum! Selain itu… Ayahanda sepertinya bisa membaca pikiran kita. Kau sudah dengar berita itu kan?” Siwon mendesah kecewa.

Bahkan setelah memohon dengan memalukan di depan umum begitu, Yunho tidak mengabulkan permohonan Siwon.

“Ya… kudengar Seunghyun-hyung yang diangkat menggantikan Zhoumi. ”

Siwon mengangguk lesu sebelum menyadari sesuatu yang aneh.

“…..Zhoumi? Sejak kapan kau memanggilnya seperti itu?”

Changmin menatap kakaknya balik, wajahnya mengerut heran. “Hah? Memangnya tadi aku bilang apa?”

“Kau tidak memanggilnya hyung.”

“Oh ya? Kurasa aku memanggilnya ‘Zhoumi-hyung’ seperti biasanya.”

Siwon menggeleng dan menghela napas. “Lupakan…” Gumamnya, tak berniat melanjutkan perdebatan mereka yang tidak penting itu. Ia memegang kedua bahu Changmin dan menatap adiknya.

“Max. Hanya satu yang bisa kita lakukan.”

Changmin mengerutkan keningnya, menunggu ucapan kakaknya.

“Kita harus mendapatkan kembali kepercayaan Ayahanda.” Bisik Siwon terlalu pelan, seolah takut seseorang akan mendengar obrolan mereka. Kening Changmin mengerut, namun ia masih mendengarkan dengan baik.

“Kau harus hentikan pemberontakanmu. Bersikap normal lah seperti biasa, kuatkan dirimu, Max. Semakin cepat kau mendapatkan kembali kepercayaan Ayah dan orang-orang, kau akan dibebaskan dari mantra itu.”

Pemuda berambut merah itu tidak terdengar senang akan rencana Siwon. Itu berarti ia harus bermain patuh, seolah tidak ada yang terjadi dan ia harus menutupi kembali rasa bencinya pada Raja. Ia menggeleng lalu menggeleng lagi.

“Max! Max!” Siwon menahan wajah Changmin di kedua tangannya, memaksa sang adik menatapnya baik-baik.

“Max, dengarkan aku! Kau tidak bisa melakukan ini sendirian, begitu juga aku. Begitu kita berdua bebas keluar…” Siwon mengerat giginya, geram. Urat-urat di keningnya menyembul tegang. “…lihat apa yang bisa kita lakukan.”

Tatapan penuh janji dari sang kakak membuat Changmin luluh. Pemuda itu berpikir dalam diam beberapa saat, sebelum  mengangguk pelan.

“Baiklah…. Akan kulakukan.”

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Sungmin memberengut sekembalinya ia ke kamar. Ia bahkan belum sempat memeluk ibunya! Hanya menyentuh tangan, mana cukup! Dan sang eomma sudah pergi lagi. Meninggalkannya dengan tampang keruh yang membuat Sungmin yakin setengah mati kalau dia bakal diomeli sebentar lagi. Apa lagi salahnya sekarang? Kenapa hidupnya selalu berotasi pada omelan-omelan orang sejak kehadiran bayi ini? Omelan Kyuhyun, omelan Ratu, omelan Raja, omelan pelayan, sekarang omelan ibunya!

Kyuhyun mengantarkannya hingga ke dalam, namun keduanya belum sempat duduk saat seorang prajurit datang memanggilnya untuk suatu urusan.

“Min-ah, jangan cerita macam-macam pada Ratu Hviturland.” Kyuhyun memperingati, tampak tidak rela untuk pergi. Ia ingin menunggui matenya di ruangan ini dan siap menjelaskan pada Ratu Hviturland jika Sungmin bermaksud menceritakan hal macam-macam yang bisa disalahtafsirkan.

“Cerita macam-macam apa?” Sungmin duduk di kursinya, melipat bibirnya dan bersandar membuang muka. Tapi Kyuhyun tidak menjelaskan, karena ditunggui, Pangeran itu bergegas mengenakan jubah kebesarannya lagi sembari mengingatkan Sungmin terakhir kali.

“Ingat Min-ah, jangan cerita macam-macam!”

“Sudah sana pergi, hush!” usir Sungmin jengkel. Kyuhyun menghela napas melihat matenya, terpaksa pergi dengan perasaan khawatir.

Sungmin ditinggal sendirian di ruangan itu, pemuda itu menolak pelayan yang bermaksud menemaninya di dalam. Ia butuh sendiri saat ini, butuh waktu untuk menyiapkan alasan paling masuk akal yang akan diberikannya pada sang eomma sebelum ia diomeli lebih lanjut.

Sungmin mendesah kuat-kuat, ia berdiri, mulai khawatir karena tidak bisa menemukan jawaban mengapa sang eomma tampak kesal padanya. Tapi satu yang bisa diduganya. Ini pasti karena baby.

Sungmin menatap keluar jendela dengan tangan mengepal.

“Semua gara-gara kau,” desisnya kesal sembari menunduk, menatap perutnya dengan sorot menuding. “Gara-gara kau, aku dimarahi eomma dan dimarahi hyung!” Kalau saja ia bisa meremas perutnya, Sungmin sudah akan melakukannya. Sayangnya, perbuatan itu hanya akan melukai dirinya sendiri, Sungmin tahu itu. Sekarang yang bisa dilakukannya hanya mengomel. Biar saja bayi ini merasakan hal sama yang dirasakan olehnya. Diomeli setiap hari!

Pemuda itu tidak menyadari suara derit pintu terbuka. Junsu melangkah sejengkal ke dalam kamar putranya dan dihadapkan pada pemandangan punggung Sungmin. Ratu muda itu mengernyit, ia tentu bisa mendengar kalimat-kalimat penuh kebencian Sungmin sesaat tadi. Pemuda itu memang memunggunginya, tapi Junsu bisa melihat putranya tengah menunjuk-nunjuk perutnya sendiri.

“Huh, lebih enak kau tidak ada! Aku benci padamu, kuharap kau tidak pernah ada!”

Junsu terkesiap mendengarnya. “Oh, Dewa. Pertama perut meledak, sekarang kau memarahi bayimu sendiri, Sungmin-ah?!” serunya  tidak percaya. Suaranya yang berseru tiba-tiba membuat Sungmin berjengit kaget. Pemuda itu berbalik horror, matanya membulat saat dilihatnya sang eomma berdiri murka di depan pintu.

“Apa yang diceritakan hyungmu itu sampai kau jadi sebodoh ini?”

Sungmin menggigit bibir. Pemuda itu berdiri kaku, kepalan tangannya gemetar. Terakhir kali sang eomma marah padanya sudah berlalu bertahun-tahun, tidak ada seorangpun yang memarahinya sejak saat itu, kecuali Kyuhyun-hyungnya. Sekarang melihat raut keruh ibunya di depan pintu, ia ketakutan setengah mati. Sungmin sudah terbiasa dengan sorot lembut keibuan sosok itu, bukan sorot tegas seorang ratu.

Junsu menghela napas berat, ia menutup pintu di belakangnya. Lalu ia berbalik kembali menatap putranya, menolak melembutkan ekspresinya saat ia berseru cukup lantang,

“Eomma benci padamu, Sungmin-ah!”

Sungmin tergagap. “E-eomma?” Matanya kontan berkaca-kaca.

Junsu hampir mendengus. Antara geli, ingin tertawa, dan merasa iba pada putranya. Tapi di sisi lain Junsu menuntut dirinya untuk bersikap tegas. Ratu muda itu melangkah lalu duduk menyilangkan kaki di pinggir ranjang. Tanpa melepas sorot tegas matanya, ia mendesis kejam. “Eomma berharap kau tidak pernah dilahirkan agar kau tidak menyusahkan eomma seperti ini!”

Sungmin membuka mulutnya, tapi tidak sanggup bersuara. Pemuda itu mengatup mulutnya lagi. Sebulir airmata menetes melintasi pipinya yang gemetar. Junsu nyaris luluh dan menghambur memeluk Sungmin, tapi ia masih bertahan, duduk menatap Sungmin dengan ekspresi penuh kebencian.

“Bagaimana rasanya, hm?”

“H-Huaaaa! E-eommaaaa!” tangis Sungmin pecah saat ia menghambur mencoba memeluk ibunya. Pemuda itu terisak memilukan, lalu kembali menjerit saat Junsu terang-terangan mendorongnya dan menolak pelukannya.

“Jangan peluk, eomma. Eomma benci padamu, Sungmin-ah. Kau tidak dengar, ya?”

Sungmin gemetar, ingin menggigit bibir untuk menahan tangis, tapi suara yang keluar dari mulutnya terdengar lebih menyedihkan. Seperti burung sekarat, kepanasan dan terluka di atas tanah Radourland. Sungmin merasakan hal yang serupa sekarang. Terbuang dan tidak diharapkan. Apa ia melakukan kesalahan tanpa disadarinya? Sungmin merasa dirinya harus segera meminta maaf, tapi ucapan yang terlontar dari bibir ibunya terlanjur menyisakan trauma dalam hatinya.

“Eom… Eomma? M-maafkan Minnie. Minnie tidak bermaksud…” apa yang tidak dimaksudnya? Sungmin bahkan tidak mengerti untuk apa permintaan maafnya. “M-maaf, mmm-hiks.” Pemuda itu mengunyah bibir bawahnya, ia mengulurkan tangannya, ragu namun penuh harap. Ia ingin sang ibu balas meraihnya, tapi Junsu menampik kedua tangannya dan membuat luka di hatinya makin menganga.

“H-huwaaa…” Pemuda itu tersungkur duduk di hadapan ibunya, menangis begitu dramatis. Matanya yang berurai basah berubah sipit karena sembab. Junsu nyaris kehilangan kendali dan ikut berlutut untuk memeluk putranya. Namun ia tetap menahan diri, kini suaranya sedikit melembut. “Jawab, Sungmin-ah. Bagaimana rasanya?”

“Eomma jangan benci aku, hueee!” Sungmin meratap, menutup wajahnya dengan lengan. Kini kulit putih kedua lengannya ikut basah oleh airmata.

“Kau mau lagi?”

“EOMAAAAA! HUAAAAA!”

“Kemari. Duduk disisiku.” Junsu mengulurkan kedua tangannya, tatapannya berubah lembut dan suaranya melirih. Sungmin menatapnya dengan mata merah yang basah, sempat ragu, namun ia meraih uluran tangan ibunya dengan telapak yang gemetar. Ratapannya mereda, selama beberapa detik, lalu pemuda itu menangis lirih saat lengan ibunya merangkulnya erat, membawa mereka duduk dekat bersisi.

Junsu menghela napas berat. Ia merapikan poni hitam Sungmin yang jatuh ke kening dan basah oleh keringat. Lalu dikatupnya wajah anak itu, kini mereka saling bertatapan. Sungmin sekuat tenaga berusaha membalas tatapan ibunya dengan tenang dan dewasa, seperti yang disukai ibunya, meski gagal, karena bulir-bulir airmatanya terus menetes sebesar biji jagung.

“Coba lihat dirimu sekarang. Bagaimana rasanya mendengar eomma membencimu? Kau menyukainya?”

Sungmin menggeleng cepat-cepat, hidung dan dagunya mengerut penuh nestapa. “Eomma jangan benci aku…” cicitnya memohon.

Junsu meraih tangan putranya, diremasnya lalu diletakkannya di atas perut besar Sungmin.  “Kau tidak ingin eomma membencimu. Coba bayangkan, bagaimana perasaan baby saat mendengar eomma-nya membencinya? Dia pasti menangis sepertimu di dalam sini, chagiya.” Junsu menatap putranya dengan sorot sendu.

“T-tapi dia mau meledakkan perutku, hueee! Aku benci baby! Suruh dia lahir dari pohon, jangan dari perutku!”

Junsu nyaris mendengus. Tapi ditahannya. “Dengar, Sungmin-ah.” ujarnya nyaris terdengar jengkel. “Kalau bayi lahir dengan meledakkan perut ibunya, berarti kau lahir dengan meledakkan perut eomma.

Sungmin berkedip. Tetes-tetes airmatanya bergulir lambat. Ia menatap ibunya lama, sebelum mencicit heran. “Jadi perutku tidak akan meledak?”

“Lihat perutmu.” Junsu menunduk menatap perut putranya, memancing Sungmin melakukan hal yang sama.

“Dia ada di dalam sini karena dia membutuhkan Minnie. Sekarang, dia hanya punya jiwa yang dibungkus daging rapuh, tubuhnya belum sempurna.” Junsu mengusap perut Sungmin lembut. Putranya terpaku sembari menunduk, Junsu harus menarik tangannya lagi dan menggiring Sungmin untuk mengusap perutnya sendiri. “Jangankan untuk merobek perutmu, untuk makan pun dia masih membutuhkan Minnie. Kalau Minnie lapar, dia akan lapar. Kalau Minnie sakit, dia akan sakit. Dia yang bergantung pada Minnie, bukan Minnie yang bergantung padanya. Jadi Minnie seharusnya bisa diandalkan. Seperti Minnie mengandalkan eomma saat Minnie ada di perut eomma dulu…” suara Junsu nyaris berubah tak terdengar. Tapi dusta itu mengalir dengan mudah, seakan ia mempersiapkan semua alasan ini sejak lama karena kekhawatirannya jika Sungmin suatu saat mempertanyakan kelahirannya.

“Dia sedang berlindung di dalam sini, karena Minnie kuat, dan dia rapuh.”

Sungmin menggigit bibir, kesulitan menelan semua penjelasan Junsu sekaligus. Meski hal tercepat yang ditangkapnya sudah cukup jelas. Perutnya tidak akan meledak, itu sudah cukup. Tapi keberadaan makhluk lain menumpang di tubuhnya dan menarik perhatian Kyuhyun juga eommanya tetap menjadi sesuatu yang tidak bisa ditolelir olehnya.

‘Rapuh apanya…’ Sungmin membatin jengkel, meski sekuat tenaga pemuda itu berusaha menyembunyikan kejengkelannya.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Suara langkah kakinya sendiri menggema pelan memenuhi lorong sempit itu. Pria itu berhenti sekali, menoleh dengan khawatir, sebelum melanjutkan langkahnya lagi, seakan takut seseorang tengah mengikutinya. Ia mengayun lilin di depan wajahnya, berusaha menerangi pandangan. Pelayan sudah bersikeras menemani dan mengawalnya, namun ia juga lebih bersikeras menolak. Ia mengambil langkah hati-hati, mengitari tangga batu yang berputar naik. Di atas sana, sebuah ruangan gelap tersembunyi dan dijaga ketat oleh empat pasukan terbaiknya. Hanya raja dan tabib yang diperbolehkan masuk ke dalamnya. Dan sekarang, memang raja yang bermaksud untuk masuk ke dalam sana.

Empat pengawal itu mempersilahkannya masuk, Kuixian menyerahkan lilin di tangannya pada mereka. Ia menepuki jubahnya yang basah, sebelum melepas benda itu dan menggantungkannya di belakang pintu.

Wajah kaku Kuixian sesaat tadi meluluh, berganti dengan sorot lembut saat ditatapnya sosok yang tertidur pulas di hadapannya. Sosok itu berbaring tenang di atas ranjang, separuh tubuhnya diselimuti. Shengmin, putri tidur sang penguasa Graentland terbaring di sana. Dikelilingi suasana putih selimut, bantal, hingga ranjangnya. Hanya ada dua sumber penerangan yang dinyalakan di atas kepalanya menggunakan sihir. Dan siraman cahaya itu justru semakin mempercantik wajah pucat Shengmin.

Kuixian melangkah mendekat. Sebulan yang lalu, ia memindahkan matenya ke dalam istana utama. Penyihir yang dipekerjakannya menghilang secara tiba-tiba, dan pengawal yang diletakkannya dekat di beranda kamar itu tidak bisa menceritakan apa-apa. Saat itu Kuixian sadar, tempat teraman bagi matenya adalah istana utama, dekat darinya dimana ia bisa mengunjungi Shengmin kapanpun ia mau.

Saat pengawal di luar menara melaporkan kejadian itu padanya, Kuixian begitu murka. Penyihir itu mungkin menyerah dan memutuskan untuk pergi. Kuixian hampir-hampir mengirim pembunuh bayaran untuk memburunya.

Kuixian berhari-hari tidak tidur tenang memikirkan semuanya. Seolah akan menghadapi perang, ia memperketat penjagaan istana, memasang tabir pelindung di sekitar istana untuk berjaga-jaga dari penyusup. Ia harus mencari penyihir lainnya dari negri manapun untuk membantunya. Namun di satu sisi, ia takut rahasianya terbongkar ke negri lain—terutama Hviturland. Inilah yang membuatnya kesulitan menyembuhkan Shengmin.

Kuixian mengerutkan dahinya, wajahnya kusam dan bayangan hitam terbentuk mengelilingi matanya. Dihantui rasa takut dan kekhawatiran yang menjadi membuatnya tidak bisa tidur berhari-hari. Setiap pagi saat memandang pantulan dirinya di depan cermin, Kuixian menyadari penampilannya seakan bertambah tua, sekalipun penuaan tidak seharusnya menjadi kekhawatiran lagi setelah ia mandi di mata air keabadian itu… bersama Shengmin.

“Sheng…” Panggil Kuixian lirih. Pria itu beringsut memanjat tempat tidur ratunya. Sekejap, harum aroma vanilla menguar dari tubuh pulas itu, menyesakkan dada dan memberatkan napasnya, mengundang napsu Kuixian secepat kedipan mata.

Pria itu segera menanggalkan pakaian atasnya, lalu disibaknya selimut yang melindungi Shengmin. Dengan sabar dilepasnya kaitan gaun yang membalut tubuh ramping Shengmin, ditariknya kain itu dan dilemparnya entah kemana—meninggalkan Shengmin tanpa sehelai benangpun.

Kuixian menyingkirkan beberapa helai rambut pirang Shengmin yang sudah tumbuh begitu panjang dari lehernya. Dikecupnya tengkuk peri itu, disesapnya hingga ruam merah muncul meninggalkan jejak yang tidak akan hilang dua hari ke depan.

Meski ratusan kali patah hati karena tidak mendapatkan respon, Kuixian tetap tidak bisa menolak godaan untuk menyesap bibir Shengmin.

Kuixian sempat tercenung, nyaris menghentikan niat yang sudah dilaksanakannya separuh jalan. Saat menyesapi bibir Shengmin yang tengah koma dengan harapan sang omega akan membalasnya, Kuixian terpaku oleh kesadaran bahwa harapannya hanyalah mimpi semu. Ia berhenti dan menangis sendirian diatas tubuh istrinya. Dikecupnya pelan, dihisapnya bergantian bibir atas dan bawah Shengmin. Lalu dipandanginya wajah cantik yang terlelap tenang itu.

Airmatanya jatuh menetes di atas wajah Shengmin, Kuixian menghapusnya menggunakan ibu jarinya.

“Kau akan terbangun, Sheng. Aku tahu kau akan bangun. Saat itu, kita sudah punya dua anak untuk mengisi kesibukanmu.” Lirihnya sembari berusaha keras memasang senyum. Shengmin selalu bisa merasakan harapannya, Kuixian hanya perlu menunjukkannya lebih lama. Shengmin akan merasakannya.

Kuixian melebarkan kedua kaki Shengmin di antara pahanya, lalu menurunkan celananya sedikit, cukup untuk mengeluarkan kejantanannya yang sudah menegang sejak saat ia masuk ke dalam ruangan ini. Omega itu tidak butuh rangsangan sama sekali. Liang yang tersembunyi di belakang kejantanan kecilnya itu selalu basah, siap untuk digunakan kapan saja oleh mate-nya. Kuixian memposisikan kejantanannya di depan lubang itu dan mendorong masuk dalam satu helaan napas.

Desahan yang menggema di ruangan besar itu hanya suaranya sendiri. Ia tidak peduli jika perbuatan ini akan menyakiti Shengminnya yang sedang koma. Kuixian justru mengharapkannya—mengharapkan suara Shengmin saat berjengit atau berteriak… apapun yang akan membuatnya sadar lagi! Namun tidak…

Liang hangat yang mengelilingi kejantanannya berkedut dan menyempit, menjepitnya di dalam sana. Itu satu-satunya hal yang membuat Kuixian yakin bahwa istrinya masih hidup. Hanya saat melalui percintaan sepihak seperti ini, Kuixian bisa meyakinkan dirinya lagi dan lagi, bahwa Shengmin masih bertahan dan ia akan segera sadar.

Bercinta.

Ini bahkan tidak seperti bercinta sama sekali.

Ia merasa seperti sedang memperkosa Shengmin setiap kali menyentuh istrinya.

Pria itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menghilangkan perasaan bersalah yang menghantuinya dan berkonsentrasi pada pekerjaannya ini. Ia bergerak maju mundur dengan perlahan dan lembut, sebelum gerakan lembut pinggulnya berubah menjadi hentakan kasar saat ia memasuki tubuh snowelf itu. Kuixian mengangkat pinggang Shengmin lebih tinggi untuk memperdekat jarak mereka, ia melesak lebih dalam—seolah mencoba mencari jiwa Shengmin entah di mana.

Pria berambut hitam itu menyesapi dada Shengmin yang membengkak. Sebelumnya, ia tidak pernah tahu kalau Snowelf dirancang untuk dapat menyusui anak mereka setelah melahirkan, sampai putranya lahir setahun lalu. Karena meski hampir seluruhnya berwajah cantik, Kuixian tetap dibuat bingung oleh pembagian gender ras Hviturland yang sulit dibedakan.

Di lain hal, Kuixian merasa bersalah pada bayinya. Sampai sekarang ia tidak mengizinkan pelayan memberi makan putranya langsung dari Shengmin. Ia takut mengizinkan orang lain memasuki ruangan ini. Tidak, hanya dirinya dan penyihir-penyihir yang dipilihnya yang boleh memasuki ruangan ini.

Kuixian mengulum dada Shengmin, merasakan cairan anyir itu memenuhi mulutnya. Napasnya berubah makin tidak beraturan, dan ia tahu sebentar lagi ia akan datang. Gerakan maju mundurnya semakin cepat dan kasar, namun tubuh di bawahnya masih tetap lemas tidak merespon sedikitpun. Peri itu bahkan tidak bersuara, saat Kuixian mengerang, menggigit leher omega itu kasar dan mengeluarkan benihnya di dalam tubuh Shengmin.

Kuixian terdiam kaku, masih di dalam tubuh Shengmin ia berusaha menenangkan napasnya. Keringatnya berjatuhan membasahi tubuh Shengmin. Perlahan penuh harap, ia mendongak menatap wajah Shengmin. Begitu tenang seperti mayat yang diawetkan.

“Uhhh…”

Seluruh perasaan dosa dan bersalah kembali membanjiri pikiran raja itu. Ia meratap, tersedu menangis di leher snowelf yang pernah ia sia-siakan itu.

“Shengmin… Kumohon bangunlah. Maafkan aku… Ampuni aku, Sheng…”

Namun tidak ada suara lain selain isak tangisnya sendiri menggema di ruangan itu.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Suara desah dan erangan menggema di dalam ruangan luas itu, dinding-dinding dipenuhi mozaik dan atap megah bertahta lampu-lampu api selundupan Graentland. Di tengah ruang luas itu menghampar permadani semerah darah, sementara diatasnya seorang pria bertanduk dengan tubuh kekar tengah menggerung bagai banteng, mencumbui wanita ras campuran di bawah tubuhnya. Suara kulit yang saling bertemu mengimbangi suara desah dan gerungan. Percintaan yang telah berlalu beronde-ronde itu sekali lagi diakhiri oleh lenguhan panjang keduanya, menggema mengisi kekosongan ruangan.

Daniel membanting tubuhnya berbaring di sisi pelacurnya. Tubuhnya penuh keringat, napasnya berburu tak beraturan. Ia selalu melakukan hal ini lagi dan lagi sampai ia harus berhenti karena kehabisan napas, dan Daniel hanya kehabisan napas setelah ia mengganti lima pelacur berturut-turut. Entah karena mereka pingsan ditengah-tengah sesi percintaan, atau Daniel tanpa sengaja mencekik salah satunya hingga mati.

Daniel bahkan kerap terlupa, dimana ia pertama menyerang pelacur ini sampai-sampai mereka berbaring berdua di atas permadani. Padahal ada ranjang yang empuk dan nyaman didekatnya. Pasti tanpa sengaja mereka terjatuh dari atasnya, dan keduanya terlalu tenggelam dalam kenikmatan untuk menyadari suasana di sekeliling mereka.

Daniel meraih pinggiran ranjangnya dan menarik tubuhnya separuh berbaring, bersandar di kaki-kaki ranjang. Ia menggeleng dan terkekeh geli saat dilihatnya kejantanannya kembali menegang, napasnya seberantakan ini dan benda itu masih memohon dipuaskan.

“Anggur lagi, Jendral?”

Wanita itu merayap padanya, menyodorkan secangkir anggur sembari bersandar didadanya. Daniel menyeringai, menerima tegukan pertamanya saat tangan lembut wanita itu menggenggam kejantanannya.

“Selesaikan.” Bisiknya sembari mengecup tengkuk wanita itu. Tubuh ramping itu bergerak turun, memastikan daging kenyal dadanya bersentuhan dengan perut Daniel dan turun ke pinggang. Daniel bahkan belum menanggalkan celana panjangnya sepenuhnya, tali celananya yang terbuka longgar hanya cukup mengekspos kejantanan dan sebagian kulit selangkangannya. Lalu mulut kecil itu melahapnya, melingkupinya dalam kehangatan yang basah.

Daniel mengerang pelan. Ia bersandar lebih rileks, membaringkan kepalanya di pinggiran ranjang sembari memejamkan mata, menikmati pelayanan yang diberikan mulut wanita itu padanya.

“Oh, siapa namamu?” tanya Daniel tiba-tiba.

“M-Mik-khaaaa, Jendral.” Wanita itu menjawab dengan mulut penuh. Ia membebaskan junior Daniel dari mulutnya, menghasilkan suara plop pelan. Direngkuhnya benda itu erat ke pipinya saat ia mendongak menatap Daniel dengan tatapan sayang. “Dua bulan lalu kita pernah bercinta. Dan hanya aku yang bertahan memuaskanmu sampai akhir.”

Daniel menyeringai mendengarnya. Tidak ada wanita yang sanggup memuaskan napsunya dari awal sampai akhir.  Ia punya ingatan yang sangat bagus, terutama untuk para pelacurnya. Dua bulan lalu yang disebut-sebut wanita ini bukan ronde pertamanya hari itu. Ia sudah menggarap lebih dari tiga pelacur lain sebelum mengundang wanita ini dan seorang lainnya untuk bertamu.

“Oooh, tentu aku ingat. Dua bulan lalu kita juga bermain disini, bertiga dengan satu temanmu. Sudah enam bulan kalian berdua jadi favoritku. Kemana dia sekarang? Kau tidak mengajaknya?”

Daniel membuka matanya di momen yang tepat, wanita itu tercenung untuk sejenak, sebelum mencoba memasang senyum canggung. Mulutnya mengatup dan terbuka, jelas sekali ia tengah berusaha menyusun jawaban dalam hatinya. Daniel memperhatikan dalam diam, seringai di bibirnya lenyap, rautnya mengendur datar.

“Jawab aku.”

 Mika tergagap. Semakin gugup. Ia memutar otaknya, memilah jawaban terbaik yang mungkin bisa menyelamatkannya, dan temannya.

‘Dia sedang melayani mentri lain.’ Itu bukan jawaban bagus, siapapun tahu tidak ada seekorpun makhluk di tanah Svarturland yang berani mengganggu harem milik Daniel, bahkan seorang menteri sekalipun.

‘Sakit’ juga bukan jawaban bagus.

“Dimana temanmu?”

Mika tidak bisa berpikir lagi. Daniel menangkap wajahnya dalam satu raupan erat. Pria itu bahkan hanya butuh dua jarinya untuk menekan separuh wajah Mika. Semakin lama ia menunggu jawaban, semakin erat ia menekan jempol dan telunjuknya.

Mika merintih, kesakitan dan separuh tercekik, buru-buru dijawabnya pertanyaan Daniel sebelum jari besar Jendral itu merobek mulutnya.

“Akh-a-aku…”

Daniel melonggarkan cengkramannya saat melihat wanita itu mencoba bicara.

“A-aku tidak pernah bertemu lagi dengannya sejak bulan lalu, Yang Mulia.”

“Yang Mulia?” Daniel mengangkat sebelah alisnya.

“J-Jendral!” Mika segera mengoreksi, suaranya bergetar.

“Kau tahu kau favoritku, kan?” Daniel menarik wajah itu mendekat padanya. Ia tersenyum lebar, memamerkan dua taring tajam di bagian terdepan deretan giginya, menunjukkan bahwa ia bisa mencabik wajah di hadapannya ini kapanpun ia mau. “Beritahu aku nama temanmu.”

Daniel hanya menghapal wajah mereka, tidak pernah nama. Nama-nama pelacur ini bahkan tidak akan ditanyakan olehnya di luar situasi seperti ini. Dan Daniel tahu betul kemana semua dugaan buruknya ini tertuju.

“M-Minjun, Jendral. Dia Minjun!” pekik Mika ketakutan. Daniel menghempaskan wajahnya setelah mendapatkan nama itu. Tubuh pelacur itu nyaris terhempas kalau saja ia tidak berpegang pada permadani di bawah tubuhnya. Lalu semua terjadi seperti mimpi buruk, Mika menangis ketakutan saat Daniel memanggil dua orang prajurit yang berjaga di luar kamar, mengira dirinya akan dieksekusi di sana saat itu juga.

Tapi Daniel meraih tubuhnya lagi, dan memeluknya dekat sembari menghisap aroma rambutnya. Wanita itu gemetaran.

“Cari pelacur bernama Minjun. Rambutnya hijau dan kulitnya merah muda. Aku ingin dia ada disini sepuluh menit lagi.”

Mika tergagap mendengar deskripsi sang jendral yang tepat. Ia tidak berani mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Daniel, ia memejamkan matanya berharap keajaiban bisa membawanya pergi dari sana. Wanita itu tahu hal macam apa yang akan terjadi setelah ini. Seluruh ibukota sudah mengenal baik Jendral perang mereka beserta seluruh kebiasaannya. Mika sudah mengingatkan Minjun untuk tidak melakukannya, tapi gadis itu keras kepala. Minjun datang dari desa, dan baru-baru ini menjadi bagian dari harem sang jendral, dengan polosnya ia berpikir bisa menebus perbuatannya dengan emas.

Tidak, ia akan menebusnya dengan nyawa.

Mika tersentak saat suara pintu mendobrak terbuka. Lalu ia mendengar suara tangis yang familiar, suara Minjun. Wanita itu ingin sekali memejamkan matanya sampai semua ini berakhir. Tapi Daniel mengangkat lehernya, menahannya dan memaksanya membuka mata.

Lima meter di hadapan mereka, seorang wanita berdarah campuran berlutut, tangannya terikat ke belakang. Gadis berkulit merah muda itu menangis gemetaran. Rambut hijaunya tergerai berantakan, seorang prajurit menjenggutnya dan memaksanya mengangkat pandangan.

“J-Jendral!” Minjun terisak. Wajahnya berubah lebih merah karena ketakutan. Gadis itu mengenakan jubah besar yang tergerai menutupi hampir seluruh tubuhnya, membuat Daniel mengerutkan keningnya.

“Apa yang kau sembunyikan di balik jubah besar itu sayang?” Daniel bertanya lembut dan tersenyum lembut, ia mengusapi pinggang Mika yang merintih gemetaran dalam pelukannya. Minjun tidak menjawabnya, hingga dua prajurit di atasnya memaksanya menanggalkan jubah itu.

Wanita itu tersungkur disana. Kini tanpa jubahnya, gaun tipis yang dikenakannya menunjukkan dengan jelas sosoknya dengan perut buncit. Daniel tertawa terbahak, kuat sekali membuat Mika merintih dan Minjun menangis makin ketakutan.

“Oooh! Apa itu anakku?” Daniel bertanya dengan nada penasaran. Wajahnya begitu cerah, jelas sekali ia menikmati semua ini.

Minjun tidak menjawab. Wanita itu memeluk dirinya yang gemetar hebat.

“Sayang sekali, Minjun-ah… Aku tidak mau punya anak dari pelacur.” ujar Daniel dengan suara prihatin. Dipeluknya Mika dekat di bawah wajahnya, sebelum ia memerintahkan kedua prajuritnya.

“Keluarkan bayinya.”

Terdengar suara teriakan Minjun, memekik memenuhi ruangan. Wanita itu memberontak mati-matian saat prajurit Daniel mencoba menanggalkan gaunnya.

“Jangan lewat bawah. Lewat perutnya.” Tambah Daniel.

Minjun menjerit, memohon belas kasihan. Mika ingin membuang wajahnya, tidak sanggup menyaksikan saat salah seorang prajurit mengangkat pedang mereka, namun Daniel memaksanya menonton. Tubuh Minjun terhentak saat sebilah pedang panjang menembus dinding tebal perutnya, merobek dan membongkar. Darah menyembur mengotori wajah kedua prajurit itu, dan Mika hanya bisa menggigit bibirnya, tidak ingin menjerit saat menyaksikan pemberontakan temannya terhenti.

Tubuh Minjun mengejang untuk sesaat, sebelum suara rintihan dan gerak tubuhnya berhenti untuk selamanya. Dengan cepat, darah mengalir bersama dengan organ-organ dalam yang ditarik paksa. Suara kecipak darah mengiringi tangis Mika. Gumpalan usus dijatuhkan begitu saja ke atas genangan darah di sekitar mayat Minjun. Dua prajurit itu membongkar isi perut Minjun seperti membongkar harta karun, mereka menyusupkan separuh lengannya masuk dan menarik sesuatu kuat-kuat.

Saat benda itu berhasil ditarik keluar, Mika tidak bisa lagi menahan luapan emosinya, gadis itu menangis ketakutan. Usapan tangan Daniel di pinggulnya justru semakin membuatnya tertekan.

“Kemari, bawa kemari mayat bayinya.”

Mika gemetaran. Gumpalan rahim itu masih sebesar sepasang kepalan tangan orang dewasa. Lapisannya yang transparan menunjukkan jelas sosok mungil yang meringkuk dengan tubuh yang belum tumbuh sempurna. Mika menunduk ketakutan saat salah seorang prajurit menyerahkan benda itu ke tangan Daniel.

Daniel meremasnya, seperti ia tengah meremas sepotong delima merah. Ia merobeknya terbuka, suara kecipak darah menetes mengotori permadani, sebagian tetes-tetes darah itu melayang mengotori wajah Mika yang buru-buru menutup matanya dengan ngeri.

Daniel memaksa wanita itu menyaksikan. Di hadapan Mika, ia melahap ujung kepala janin tidak sempurna itu dan menggigitnya hingga putus.

Suara derak kecil tulang leher mungil terpisah dari tubuh seakan tidak cukup menghisap kewarasan Mika perlahan-lahan, Daniel mengunyah janin itu dengan tampang senang. Suara tulang-tulang rapuh yang koyak di balik taring-taring tajam Daniel lebih buruk dari apapun yang disaksikan wanita itu hari ini. Gigi putih Daniel berubah kotor, pekat oleh darah. Tetesan merah mengalir di ujung bibirnya sesegar saus tomat yang digiling halus.

Mika merintih, gemetaran, ketakutan. Ia ingin menghilang dari sana, tapi wanita itu juga takut untuk mati. Dan mimpi buruknya tidak berakhir semudah itu. Daniel memaksanya membuka mulut, pria itu berkata lembut.

“Makanlah sebagian, sayangku.” Daniel menyodorkan janin tak berkepala itu di depan wajah Mika. Wanita itu nyaris memuntahkan isi perutnya. Otot-otot perutnya mengejang, organ di balik perutnya berubah dingin. Entah dewa mana yang menguatkan dirinya tetap bertahan. Terlebih melihat sorot tajam Daniel, Mika tahu ia tidak punya pilihan selain membuka mulutnya dan menerima potongan tangan mayat janin temannya.

Daniel menyeringai senang, menyaksikan saat Mika susah payah mengunyah benda itu. Saat wanita itu berusaha menelannya, pemandangan berubah lebih menggelikan. Berkali-kali wanita itu mengatup mulutnya, menahan diri untuk tidak memuntahkan apa yang berhasil dikunyahnya. Hingga sebelah lengan janin itu sukses ditelannya masuk hingga ke dalam tenggorokan. Daniel yang menyaksikan sendiri gelenjat itu turun pelan-pelan melintas di balik leher putih Mika.

“Aku berubah pikiran. Kau saja yang habiskan.” Ujarnya sembari meletakkan sisa daging janin itu di atas tangan gemetar Mika. Mika menatapnya memelas, nyaris menangis lagi.

“J-Jendral…”

“Habiskan. Mereka akan menungguimu sampai kau menghabiskannya. Kalau kau tidak bisa menghabiskan daging itu,” Daniel mencengkeram dagu wanita itu dengan dua jarinya. “Aku yang akan menghabiskan seluruh dagingmu.”

Mika merintih, mengangguk gemetaran. Dipegangnya janin tidak utuh itu dengan kedua tangan saat airmatanya kembali berlinangan. Sementara Daniel bangun dari duduknya dan mulai mengenakan pakaiannya kembali.

“Kau tidak ingin bertanya aku akan kemana?” Daniel bertanya dengan nada merajuk, ia tengah mengaitkan tali pinggangnya. Mika mendongak padanya, patuh menuruti keinginannya dan bertanya dengan suara gemetar.

“K-kau ingin kemana, J-Jendral?”

Daniel menyeringai senang, “Mengunjungi calon istriku.”  Jawabnya riang. Ia berjalan melewati mayat Minjun dan menepuk bahu kedua prajuritnya. Sebelum ia benar-benar keluar dari kamar itu, Daniel berbalik menatap Mika. “Oh, jangan berpikir mengulangi kesalahan pelacur ini. Katakan juga pada teman-temanmu. Anakku hanya akan lahir dari rahim istriku. Tidak peduli kalian mempertahankannya hingga lahir atau di dalam perut…” Daniel mendengus saat ditatapnya mayat Minjun terakhir kali. Ekspresi jenakanya berubah kaku saat diliriknya luka menganga di perut mayat itu.

“Aku akan mencabik semuanya. Kalian dan bayi haram itu.”

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

A/N:  Ada yang satu selera sama kami—demen cowok cakep yang kejam kayak karakter Daniel??? Ufufufuuuu… mungkin nggak ada ya hahaha, yaudah deh hmmm.

 

16 thoughts on “Cursed Crown – Chapter 17

  1. WineMing says:

    zhoumi jadi uke???? o.O
    bwakakak
    #ngakak guling2

    tp di chap ini ane malah lebih suka part nya zhoumi ma daniel
    eaaa~~~
    dah bang daniel…cepetan bikin zhoumi bunting
    #plakk
    tapi kok sadis amat yak
    mpe perut ane muel

    gk sabar nunggu part depan
    pa lg pas zhoumi daniel scene
    huwaaaaaa

    tp daniel di sini yg jd sape ye???
    pan dah jelas tuh klo ade nya yesung

    ditunggu chap selanjutnya…

  2. Nana Cho says:

    OMG…..Daniel sadis bngt……
    Ampe merinding bacany…..ngebayangin kl jd mikha gmn ya ???
    Moga2 sungmin bs cpt akur ama baby….agak lucu ngebayangin ada eomma yg cemburu ama babyny sendiri….
    Semoga rencana siwon & max bs berjalan lancar jd mrk bs cpt2 prg nyelamatin zhoumi….
    Apa zhoumi yg akan jd mateny daniel ???

  3. cassinta anaknya teuki says:

    Selamat datang di negri hitam dimana monster nan bar bar tinggal. Kata barbar emang pantes buat negaranya yesung,.haha berarti yesung satu2nya raja yg bogel donk yah #dilindesogre. Daniel psycho bngt yah,baca nya mpe bikin mual berasa kyk nonton parasyte ato corpse party gt.huhuhu semoga zhoumi kagak diapa2in sama daniel.. Nam goongmin juga cocok tuh buat peran sadis2.. Sungmin makin hari makin polos omongan kyu di telen mentah2,bagus junsu dteng jd si umin bs kembali ke jalan lurus.hahaha..

  4. won2 says:

    daniel serem euy..

    baca chapter ini agak gimana gitu,. scene nya bolak balik. dr di svaturland terus hiturvland, terus ke svaturland lagi.. dan cm sepotong2., cm itu sih yg bikin bingung masalah scene dan lokasi aja

  5. Duhhh ngeri bgt adegan zoumi&daniel pas duel.. apalagi pas daniel makan janinnya sendiri smp pengen muntah…
    Semoga junsu ke Radourland minta bala bantuan buat nyelametin zoumi y..
    Ditunggu next chap yaaaaa…😀

  6. Sumpah lah baca scene yg di negeri orc ko horror ya, ngeri bgt itu negeri bar”. Gabisa ngebayangin entar zhoumi bakalan hamil anak orc ih ngeri, semoga aja entar daniel nya berubah jd baik terus mencintai zhoumi sepenuh hati kkkk. Btw buat kuixian sama shengmin itu masalahnya knp? Minta maaf mulu perasaan kuixian nya

  7. Aerin says:

    Aku…aku…aku (tunjuk tangan)
    aku seneng cowok ganteng dan sadis kayak daniel.
    Aku boleh usul ga’….???
    Kalo bisa nanti buat junsu punya anak sama yunho.

  8. Daniel itu yang ada di fb bukan fotonya? Cakep yaa Sun? Mm lebih keliatan ‘jantan’ sih sebenernya. Suka sama Seunghyun sih tetep hahahaha. Eh ga jauh beda deh kayaknya yaa? Yaa pokoknya semacam seme seperti itulah wakakak
    Atuuuhhhh itu Kyuminnya jebaalllll. Lebih banyak cerita diluar wilayah Kyumin, Sunnnnnn~
    Part kyuminnya pendeeekkkkkk😦

  9. komenku gak masuk ya😦 ngenes bgt. minggu kemarin kuota ternyata gak cukup -_-

    aku masih inget gimana kejamnya Daniel -_- sampe aku gak berani bayangin gimana jadinya dia jadi satu sama Zhoumi gilaaaaaa /_\
    aku berharap Siwon dan Changmin gak makan banyak waktu.

    btw kak, kaki nya Zhoumi gimana? itu ga bakal cacat kan? kasian bgt sumpah kalau pincang. sembuhin yaaaaaa.
    entah siapa yang nulis bagian Daniel yang lag liar di ranjang itu 0.0 aku bayanginnya jelas bgt gilaaaaa /-\\\
    dia kuat bgt ya?

    salam buat Sungmin yg bnr2 nyebelinnnnnn

  10. wifeleeteuk says:

    Aku juga suka peran daniel disini,tapi aku mau tanya jadi zhoumi disini jadi Uke???o.O Ohh ya ampun Daniel ><
    Nahlohh si kyuhyun ketauan sama mama mertua :v untung mama mertua nya baik😀 bagian penjelasan junsu bikin senyum2 terharu….
    Emang paling bisalah kalian ngejabarin sampe ditail Untuk chap ini…tetep keren feel nya. Bikin degdegan dan yang pasti tiap chap ga bisa di tebak….di tunggu next chap nya😀

  11. Aku cuma geleng2 kepala pas baca Zhoumi di Svaturland itu… dan dgn banyak facepalm. Astaga Zhoumiiii:/
    Karena sudah tau nasibnya ‘ga akan baik’ jadi dia begitu?:/
    Dikit bnyk skg kita jd tau perangai Yesung sm Daniel ya..
    Aku yg meskipun udah ada hint hint di awal, ga menduga sama Daniel… ugh… Zhoumi TAT

    Hmmm skg junsu ada di radourland… hmmm…

    Zhoumi? Obat? Hm hm hm? Apa itu……
    Perjanjian siwon dan changmin akhirnya dibuat *0* aku ga sabar tau apa yg akan trjd kalau mereka serang Svaturland utk menyelamatkan zhoumi :3

    Cara junsu utk menyadarkan sungmin akan bayinya buat geleng2 kepala beneran tp smoga ampuh haha x’D

    Shengmin kapan sadar?😦

    Astaga daniel
    Yg trkhr buat aku speechless sangat……….
    Zhoumi gimana nanti coba astagaaa TAT

    Menjawab pertanyaan yg di bawah, aku takut sm daniel, meski cakep ttp takut😦

    Kakak2, seperti biasa kutunggu lanjutan dr CC ini yaaa x3 tetap semangaaatt~~

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s