Cursed Crown – Chapter 18

Kyuhyun kembali ke kamarnya dan menemukan Sungmin sudah berendam di ruang mandi. Jelas saja Kyuhyun heran melihat kelakuan matenya. Biasanya ia harus selalu melewati perdebatan panjang tidak berujung hanya untuk meminta Sungmin membersihkan tubuhnya. Dan saat pulang menemukan Sungmin sudah ada di ruang mandi tanpa harus diomeli olehnya, membuat Kyuhyun berdecih heran hingga ia menyadari mata sembab matenya. Kyuhyun ternganga melihatnya, buru-buru ia menanggalkan pakaiannya dan menyusul matenya ke dalam kolam.

Kyuhyun belum sempat bertanya, belum sempat memeluk, saat Sungmin melotot padanya dan menuding. “Dasar hyung tukang bohong.”

Kyuhyun ternganga. “Kau mau mengajakku bertengkar lagi, Sungmin-ah?”

“Kata Junsu-eomma, perutku tidak akan meledak. Kyuhyun-hyung-tukang-bohong!”

Kyuhyun ingin sekali mencubit Sungmin karena jengkel, tapi di satu sisi ia menyadari kesalahannya. Mungkin sekarang saatnya meluruskan semua pemikiran bodoh Sungmin yang terlanjur ditanamkan olehnya.

Kyuhyun menghela napas, dibiarkanya saja saat matenya menggerutu dan berendam jauh-jauh darinya. Lama kelamaan Sungmin kelelahan, dan ekspresinya mengendur berubah datar. Pemuda itu membuang muka saat tatapan Kyuhyun melembut padanya.

Kyuhyun duduk merendam separuh tubuhnya sembari menatap matenya, dari ujung rambut dan turun ke dada. Tubuh Sungmin sudah tampak jauh lebih ranum dibanding tiga tahun lalu saat pemuda itu datang kemari pertama kali. Selama itu pula Kyuhyun menyaksikan tubuh matenya berkembang, sedikit lebih tinggi dan kini jauh lebih berisi dengan nyawa lain menumpang di dalam perutnya. Sepasang dada mudanya membengkak, meski tidak terlihat jelas saat Sungmin mengenakan pakaiannya, Kyuhyun jelas melihat perbedaannya saat mereka hanya berdua tanpa sehelai pakaianpun menghalangi satu sama lain. Kyuhyun selalu memperhatikannya, dan ia yakin matenya juga menyadari. Jadi kalau Sungmin tidak berniat membahas persoalan dada yang membengkak itu padanya, Kyuhyun menangkapnya sebagai isyarat untuk tidak mengungkitnya juga.

“Kemari Sungmin-ah.” Kyuhyun mengangkat tangannya dari dalam air, bulir-bulir hangat menetes di ujung jemari jenjangnya. Ia mengulurkan tangannya pada Sungmin dan memasang ekspresi selembut mungkin. Tapi pemuda itu makin memunggunginya sembari menggerutu. Kyuhyun kembali memanggilnya.

“Min-ah…” godanya dengan suara berayun. Sungmin sontak berbalik jengah dan berseru marah.

“KENAPA? AKU TIDAK MEMPAN DIRAYU LAGI, AKU SUDAH DEWASA!”

“Kau tidak mau itu?” ujung bibir Kyuhyun terangkat, bersorak dalam hati saat ekspresi murka Sungmin tiba-tiba mengendur. Ia tahu pancingannya berhasil.

Mata bulat Sungmin memicing, untuk sesaat meragukan Kyuhyun. Tapi melihat seringai di wajah hyungnya membawa desir aneh dalam hatinya. Bulu kuduknya meremang. Sungmin berenang pelan menuju matenya. Meski memasang wajah curiga, pemuda itu tetap gatal ingin menyentuh dada putih dan bidang hyungnya yang mengilap basah di atas air.

Pemuda itu mengulurkan kedua tangannya, siap meraih leher hyungnya dan mempertemukan bibir mereka secepatnya. Kyuhyun menyambutnya, meraup tubuh Sungmin dan membalas ciuman beringas matenya lalu dengan cepat menguasai situasi. Ia membalik posisi mereka, begitu hati-hati saat disandarkannya Sungmin ke pinggiran kolam yang dibatasi batu-batu besar dan tumpul.

Kyuhyun mengusap pinggul matenya, lalu jarinya beranjak naik, ke pinggul, sisi dada, dan ke bahu. Terakhir Kyuhyun mencapit dagu Sungmin sebelum membungkuk, memanjakan matenya dalam kecupan panjang yang dalam dan basah. Saliva bercampur dengan tetes-tetes air kolam yang membasahi wajah mereka. Sungmin terfokus untuk meladeni ciuman Kyuhyun, tidak menyadari kedua tangan hyungnya beranjak turun ke pinggangnya.

Kyuhyun selalu meminta izin setiap kali mereka akan memulai sesi percintaan, selalu karena takut melukai matenya, Sungmin pun akan selalu menggerung kesal sebagai jawaban lalu memaksanya melanjutkan. Kali ini, Kyuhyun tidak mengatakan apapun saat diangkatnya pinggul Sungmin. Ujung kejantanannya sudah bersiaga di antara dua kaki matenya yang terendam di dalam air. Kyuhyun menahan punggung bawah Sungmin dengan gestur melindungi, tidak ingin bagian terawan tubuh matenya terbentur oleh apapun.

“A-AHHH!”

Sungmin terkesiap kaget saat Kyuhyun melesak memasuki tubuhnya dalam satu hentakan lembut. Pemuda itu menghirup napas dalam-dalam, merentangkan tangannya ke pinggiran kolam untuk berpegang. Ia membiarkan separuh kakinya melayang di dalam air sementara Kyuhyun menguasai nyaris seluruh tubuhnya.

“Hyuuung!” Sungmin nyaris menangis, setengah karena terkejut dan setengah karena ekstasi. Tubuh Kyuhyun melengkung di atas tubuhnya, bergerak menghentak, lembut namun tegas, tanpa pemanasan dan aba-aba terus menumbuk bagian terintimnya di dalam sana.  Hyungnya tidak pernah seagresif ini, Sungmin selalu harus memaksa mendominasi untuk mendapatkan seluruh keseriusan Kyuhyun. Dan sekarang tanpa perlu memelas, Sungmin mendapatkan hal yang paling diinginkannya. Pemuda itu hanya bisa berbaring pasrah, mengerang, memekik, sementara Kyuhyun menghadiahinya dengan ciuman-ciuman dan hentakan-hentakan yang membuat kepala Sungmin segera berkunang-kunang.

Sungmin terlalu tenggelam dalam kenikmatan, tidak sempat mempedulikan kedua tangan Kyuhyun yang jelas-jelas tengah melindungi bayi mereka sekokoh mungkin. Saat hyungnya mengakhiri sesi itu dengan hentakan luwes dan dalam, Sungmin benar-benar menangis, memeluk leher Kyuhyun dan memutuskan itu seks kolam terbaik mereka seumur hidup.

Kyuhyun terengah saat dengan hati-hati digesernya posisi Sungmin kembali ke pangkuannya, ia tidak ingin tampak terang-terangan berusaha memberi ruang untuk perut matenya, atau Sungmin akan mengamuk dan dengan sengaja menekan tubuh mereka rapat-rapat. Saat menunduk dan mengusap turun kakinya diantara selangkangan Sungmin, mata Kyuhyun terpaut pada sepasang dada ranum matenya. Tangannya berubah gatal, ingin sekali disentuhnya gundukan halus yang menggoda itu. Tapi Kyuhyun menahan niatannya, sadar perbuatannya akan membuat matenya mengamuk. Sungmin tidak pernah menyukai perubahan tubuhnya sejak ia mengandung, dan Kyuhyun tidak berniat menambahkan kebencian yang sudah ada di benak pemuda itu pada bayi mereka.

“Sungmin-ah.”

“Hnn…”

“Hyung mau mengaku…”

“Hngggg…”

“Hyung memang bohong… soal perutmu yang akan meledak itu.” Kyuhyun ingat sekali ia pernah mencoba menjelaskan ini pada Sungmin sebelumnya. Tapi sepertinya Sungmin tidak memperhatikannya saat itu. Dan sekarang berdua saja di dalam keheningan dan suara tetes-tetes air pancuran, Kyuhyun mendapatkan perhatian penuh matenya. Sungmin mendongak padanya dengan mata memicing.

“Tuh, kan…” Sungmin berdecih menang.

“Tapi hyung bukan tukang bohong! Aku cuma berbohong satu kali itu saja!”

“Kenapa hyung harus berbohong, hah?”

“Kau selalu minta itu itu itu, dan terlalu sering berbuat itu bisa membuatmu hamil! Lihat sekarang? Kau itu masih kecil, belum seharusnya mengandung.” Kyuhyun jadi kesal sendiri, tidak sadar bahwa baru beberapa detik berlalu… mereka baru saja melakukan itu dan itu.

“AKU BUKAN ANAK KECIL!” Sungmin berteriak marah, matanya mendelik. Ia merasa dewasa dan ia merasa harga dirinya sebagai orang dewasa dilukai.

Kyuhyun mendesah, menyesali emosi sesaatnya dan sadar Sungmin tidak bisa dilawan dengan bentakan. Pemuda itu menarik tubuh tegang Sungmin dan mendekapnya di dada, suaranya melembut. “Dulu, kau masih belum cukup umur chagiya. Sekarang… juga belum sih. Tapi kau sudah bersikap lebih dewasa sekarang, jadi hyung percaya padamu.”

Sungmin mendengus, sebenarnya tersipu tapi malu menunjukkannya.

“Tapi akhir-akhir ini kau melukai kepercayaanku. Aku jadi tidak yakin kau benar-benar sudah dewasa…”

“YAH!” Sungmin kembali mendelik, ia berbalik dan menampik bahu Kyuhyun. Hyungnya malah tertawa dan itu membuat Sungmin lebih kesal lagi.

“Dengar… Harusnya kalau kau sudah dewasa, kau tidak boleh memusuhi baby.”

“TERSERAH AKU DONG!” Sungmin melipat tangannya di atas perut, sedikit tinggi karena tidak ingin menyentuh perutnya sendiri. Sikapnya itu membuat Kyuhyun merasa geli.

“Kenapa kau selalu memusuhi baby, hm? Dia tidak melakukan apa-apa padamu. Dia bahkan belum lagi sebesar kepalamu…”

“Dia merebut perhatian semua orang dariku!”

Kyuhyun selalu tahu itu alasannya, tapi baru kali ini ia mendengarnya langsung terlontar dari bibir matenya.

“Dia bukan merebut perhatian orang-orang darimu, chagiya. Semua bayi membutuhkan perhatian, tanpa harus merebutnya darimu orang-orang sudah semestinya memberi perhatian lebih pada bayi. Karena mereka masih rapuh, mereka bahkan belum bisa duduk sampai berbulan-bulan setelah lahir. Mereka lebih lemah dari anak-anak, dan anak-anak lebih lemah dari orang dewasa. Sekarang katakan padaku, apakah kau bayi, anak-anak, atau orang dewasa?” Kau bayi, Kyuhyun menjawab sendiri dalam hati.

Sungmin menatap Kyuhyun dengan sengit, tidak mau menjawab karena tahu jawaban ingin diutarakannya hanya akan menjebak dirinya sendiri.

“Kau tidak mau menjawab kuanggap kau membenarkan ucapanku, oke?”

“AKU SUDAH DEWASA!” Sungmin akhirnya memekik, tidak terima dianggap abstain.

“Lalu apakah orang dewasa yang melindungi anak-anak atau anak-anak yang harus melindungi orang dewasa?”

“Semua orang harus melindungi satu sama lain!”

Kyuhyun hampir-hampir menggigit lidahnya karena memaksakan menahan tawa, tapi jawaban Sungmin memang luar biasa benar hingga untuk sejenak Kyuhyun bingung harus menimpali apa.

“Lalu bagaimana dengan bayi?” lanjut Kyuhyun pada akhirnya. “Siapa yang harus melindungi bayi?”

“Bayi lahir saja dari pohon! Biar mereka bernaung di bawah pohon!”

Kyuhyun harus menggigit tanda mate mereka yang memerah di bahu Sungmin untuk membekap tawanya dan menenangkan mereka berdua. Sungmin mengerang di bawah gigitannya, melemas tanpa perlawanan meski kakinya masih menendang tidak rela. Kyuhyun mengecup tanda itu terakhir kali, sebelum kecupannya naik ke tengkuk Sungmin.

“Aku bingung bagaimana lagi harus menjelaskannya.”

Sungmin pun… sesungguhnya merasa cukup hanya dengan mengetahui bahwa perutnya tidak akan meledak. Tapi hatinya masih menolak kehadiran baby, yang membuat kasih sayang Kyuhyun padanya harus terbagi.

“Sungmin-ah… baby hadir bukan untuk merebut kasih sayang orang darimu.”

Sungmin merengut dalam pelukan Kyuhyun, tapi tubuh pemuda itu melemas, suara erangannya terdengar lagi saat Kyuhyun mengecup tanda mate di bahunya, memaksanya menurut dan mendengarkan untuk sejenak.

“Baby itu bagian dariku dan darimu, Min-ah. Dia ada karena hyung menyayangi Minnie, dan Minnie menyayangi hyung.” Kyuhyun sadar ucapannya terdengar gombal. Tapi hanya telinga Sungmin yang mendengar ucapannya, jadi ia mengabaikan risih hatinya. Dibimbingnya tangan Sungmin untuk menyentuh perut snowelf belia itu sendiri, pertama kali setelah lima bulan nyawa lain hidup di dalam sana. Untuk pertama kalinya juga, Sungmin tidak berjengit dan memutuskan untuk tidak mengamuk pada sikap Kyuhyun. Snowelf belia itu menautkan alisnya dalam-dalam, ikut menunduk menatap perutnya sendiri yang tampak kasat dalam benaman air.

“Dia itu manifestasi dari hyung dan Minnie di dalam satu nyawa yang baru.”

“Manifestasi?” Sungmin menautkan alisnya, ia berpaling pada Kyuhyun ragu-ragu. “Aku dan hyung?” tanyanya bingung.

“Yaaa.” Kyuhyun tersenyum lebar, senang Sungmin mendengarkan meski ia belum yakin ucapannya benar-benar meresap ke dalam hati matenya. “Jadi, apa Minnie yang sudah dewasa ini bisa melindungi baby?”

Sungmin memberengut lagi, wajahnya polosnya berubah masam. “Kau tanya-tanya terus, meremehkanku terus, aku juga bisa melindungi hyung! Hanya melindungi baby? Hah!” dengusnya menantang. “Kecil.” Sungmin menjentikkan jarinya.

“Ah, masa?” Kyuhyun tertawa.

“Yaaa!” Sungmin mengangkat jempolnya tinggi-tinggi, bibirnya mengerucut meremehkan. Baru saja ia menyusun kata-kata sombong untuk dilontarkan saat denyut menyakitkan menghampiri kepalanya secepat desau angin. “Ahhh!” Sungmin mengerang sembari memegangi kepalanya, tubuhnya oleng miring dalam dekapan Kyuhyun, jelas saja membuat Kyuhyun terhenyak kaget.

“Sungmin-ah?” Kyuhyun membalik tubuh matenya dengan khawatir, siap membopong Sungmin keluar dari sana.

“Kepalaku pusing.” Jawab Sungmin dengan suara berbisik, pemuda itu tidak mengeluh, ia hanya bingung kenapa rasa sakit itu datang dan hilang dengan cepat. Kyuhyun juga menautkan alis sama bingungnya, sesaat tadi ia mengendus bau kental yang kerap menghantuinya akhir-akhir ini. Menguar dari tubuh matenya dan Kyuhyun sempat ingin berpikir ini hanya sisa-sisa persetubuhan mereka… tapi bau ini sudah terlanjur ganjil dalam ingatannya.

“Min-ah… tubuhmu berbau amis?” bisik Kyuhyun latah, ia ingin mengatakan manis. Bau manis Direwolf. Tapi kalimat itu yang terlanjur diucapkannya.

“KAPAN AKU BAU AMIS? YAH! JANGAN MENGATAKAN AKU BAU! AKU TIDAK BAU! HYUNG YANG BAU!”

Ah… Mulai lagi. Kyuhyun mendesah dalam hati.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

 

“Selamat malam.” Suara ramah itu terdengar dari depan pintu ruangan pribadi raja.

Seorang pria paruh baya bertubuh besar yang duduk di dalam ruangan segera mendongak dari gulungan kertas di tangannya. Kangin menggulung kertas itu, tersenyum lalu berdiri, digesernya gulungan-gulunga lain yang memenuhi meja kerjanya. Di atas mejanya sudah tersaji cangkir-cangkir dan botol arak khas Radourland.

“Junsu-sshi, mari silahkan masuk.”

Pelayan yang mengantar ratu negeri putih itu membungkuk hormat lalu meninggalkan ruangan setelah Kangin sendiri yang mengarahkan tamu besarnya ke bantal duduk di hadapannya. Setelah ratu itu duduk dengan anggun, melipat pakaiannya yang panjang dan menyamankan diri pada cara duduk santai diantara meja yang memisahkannya dari Raja Radourland.

“Terima kasih sudah menerima undanganku untuk minum malam ini. Kau pasti lelah dan ingin beristirahat.” ujar sang raja sambil ikut duduk di bantalnya sendiri.

Snowelf muda itu tersenyum. “Bukan. Harusnya aku yang berterima kasih. Seorang raja sepertimu pasti sibuk sekali. Barusan kau juga masih mengecek urusan negaramu kan?” singgungnya sembari melirik gulungan-gulungan yang kini diabaikan di sisi meja.

“Oh? Maaf aku tidak bermaksud memberi kesan seperti itu. Ini hanya rancangan akhir Pelabuhan Elm Deep’s yang sudah selesai dibangun. Silahkan cicipi arak negeri kami ini.” Kangin terkekeh, ia sendiri yang menuangkan arak ke dalam cangkir tamunya.

“Oh? Aku pernah dengar soal Elm Deep’s. Pelabuhan baru di selat sempit Graentland dan Radourland, kan? Bukankah belum diresmikan?”

“Ya. Peresmiannya sekitar dua minggu lagi. Bagaimana kalau kau ikut hadir, Junsu-sshi?” Kangin menyerahkan cangkir itu kepada Junsu yang menyambut ramah.

“Oh, tentu saja. Kedengarannya akan menyenangkan.”

“Tentu saja.” Jawab pria yang lebih tua itu sambil kembali duduk. “Ngomong-ngomong kenapa kau membawa begitu banyak hadiah untuk kami?” Kangin teringat akan pemberian dari keluarga Hviturland saat Junsu tiba kemarin.

“Ya, aku kan sudah merepotkan dengan datang mendadak. Selain itu juga sebagai ucapan terima kasih, karena telah menjaga dan memperlakukan anakku dengan baik. Kulihat dia sehat dan ceria.” Junsu mendesah, sebelum menatap raja di hadapannya dengan kening bertaut. “Walau kalian tetap melanggar janji, Youngwoon-sshi. Putra Mahkota Merah berjanji menunggu tiga sampai lima tahun lagi hingga Sungmin mencapai usia remaja snowelf.” Bahkan dua puluh masih sangat muda. Junsu ingin muram membayangkan Sungmin harus memiliki bayi di usia semuda ini.

“Ahh… Bayi itu rejeki, tidak baik ditolak kan?” Kangin terkekeh canggung.

“Aku harus berbicara dengan Putra Mahkota Merah nanti. Ia harus belajar mengendalikan napsu biologisnya.”

Tawa Kangin pecah mendengar itu, Junsu meliriknya bingung.

“Hahahahahaaa! Maaf—maaf Junsu-sshi.” Kangin berdehem lalu menahan tawanya menjadi senyum. “Karena berdasarkan pengakuan Kyuhyun, Sungmin-lah yang selalu memaksakan untuk… ehh… yah kau taulah.”

Wajah putih Junsu sedikit merona, namun alisnya bertaut tidak percaya. “Kau yakin perkataan putramu itu bisa dipercaya begitu saja?”

Sang raja terkekeh lagi. “Oh, percayalah Junsu-sshi. Aku tahu Kyuhyun sangat mirip dengan eomma-nya! Terkadang mereka terlalu jujur sampai ke hal-hal yang tidak perlu diceritakan.”

“A-aku minta maaf kalau begitu, sudah berpikiran buruk terhadap Kyuhyun.” Junsu tergagap malu, meski dalam hatinya masih berteriak tidak percaya kalau Sungmin kecilnya begitu… lewd.

“Jangan dipikirkan. Sudah seharusnya mate seperti itu, kan? Apalagi mereka masih muda, sangat muda, penuh gairah.” Kangin tertawa, geli sendiri membayangkannya. Tapi tawa pria itu berubah kaku saat ia teringat sesuatu, ditatapnya Junsu dengan raut simpatik. “Oh ya… aku belum sempat mengucapkan belasungkawa kepadamu kemarin. Aku turut berduka cita atas meninggalnya anak kedua Yunho-sshi.”

Pembicaraan itu membuat perut Junsu tidak enak. Ia mengerjap beberapa kali, kembali teringat ombang-ambing masalah keluarga besarnya yang sedang ingin dilupakannya dengan mengunjungi Sungmin ke sini.

“Terima kasih Kangin-sshi. Kiriman belasungkawa dari Radourland sudah kami terima beberapa waktu lalu.” Snowelf itu mendesah. “Rasanya masih seperti mimpi. Aku masih bertemu dengannya waktu makan pagi. Ternyata dia tidak kembali lagi setelah pergi ke perbatasan.”

“Kalian pasti sangat kehilangan.”

Junsu mengangguk, mengusap kedua tangannya di bawah meja. “Zhou Mi adalah orang yang bisa diandalkan.  Mungkin… ini memang sudah takdir.”

“Bagaimana Yunho-sshi menanggapinya? Aku tidak bisa membayangkan jika aku berada di posisinya…” Dan aku hanya memiliki satu putra, Kangin muram. Satu Pangeran Hviturland gugur di medan tempur, tapi Yunho memiliki lima lainnya.

Junsu menatap mata Kangin sambil tertawa. “Oh ya? Kukira kalian sama-sama tidak akan ambil pusing selama bukan putra mahkota kalian yang terbunuh?”

Kangin sedikit terhenyak mendengar sindiran langsung itu, namun tetap membalas tertawa. “Tidak perlu sejujur itu, Junsu-sshi.”

“Maaf. Aku sedikit terbawa emosi.” Junsu menatap cangkir itu lalu menegaknya sampai habis. “Dimana Jungsoo? Kita hanya berdua disini?” Tanya snowelf berambut cokelat terang itu seraya menoleh ke kanan kiri.

Kangin menaikkan sebelah alisnya sambil mengangkat botol arak itu, hendak mengisi gelas Junsu lagi. “Kau tidak mau berdua denganku saja?”

Junsu terdiam sejenak sebelum memaksakan tawa kecil. “T-tidak maksudku bukan begitu.”

Melihat tingkah kaku sang ratu putih, Kangin tertawa. “Hahahahaa! Maaf, aku bercanda. Tadi sore ia ingin ikut, tapi sehabis makan malam tadi ia kelihatan lelah. Ia ketiduran… bukan. Lebih tepatnya kehilangan kesadaran.” Kangin mengenggak arak itu dalam satu teguk lalu mendesah.

“Saat baru sampai disini kemarin, kulihat kondisinya semakin parah. Walau selama ini Jungsoo mengatakan ia baik-baik saja di semua suratnya.” Junsu menenggak cangkir araknya yang ketiga yang ia tuang sendiri.

“Ya. Dia masih sakit. Sejak lima tahun terakhir ia mulai seperti ini dan semakin parah setiap harinya.” Raja merah itu menghela napas panjang. “Junsu-sshi, kau juga seorang healer, kan? Apa dia bisa disembuhkan dengan sihir Hviturland?”

“Tergantung…” Ratu itu memasang wajah datar, ia memutar bola matanya dan menatap Raja Merah dengan miring. “Hukum alam apa yang telah kalian langgar?”

Pertanyaan Junsu membuat mata hitam Kangin membulat, detak jantungnya meningkat. Alisnya bertaut saat ditatapnya Ratu Putih. Begitu terbukanya pembicaraan mereka—Apa karena pengaruh arak? Atau memang Junsu orang yang seperti itu?

Saat Kangin tidak menjawab, Junsu hanya tersenyum. “Aku memang masih muda, Youngwoon-sshi. Ilmuku belum banyak dan aku tidak dapat membaca semua kondisi. Tapi aku jelas merasakan sesuatu yang tidak normal dari Jungsoo-sshi.”

Ruangan itu hening beberapa lama sampai tawa Junsu yang sedikit mabuk memecahnya. “Besok aku akan memeriksanya. Ayo minum lagi, Youngwoon-sshi.” Junsu tersenyum memecah kecanggungan mereka sembari menuang cangkirnya lagi.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

“Yang Mulia Ratu.”

Salah seorang pengawal mengetuk pintu kamar Junsu, Sang Ratu baru saja berpakaian dibantu oleh dua orang pelayan pribadinya. Junsu melirik pintu kamarnya melalui pantulan cermin di hadapannya. “Masuklah.”

Pengawal itu mendekat, lalu membungkuk.

“Ada apa?” tanya Junsu dengan kening bertaut, sembari merapikan sendiri sisa kaitan jubahnya.

“Kami menerima surat yang dibawa elang dari Hviturland. Untuk anda, Yang Mulia.” Pengawal itu menyerahkan lipatan kertas putih polos.

Junsu menerimanya, lalu menunggu sampai kedua pelayannya selesai membantunya sebelum membuka surat itu sendirian. Amplop itu tersegel oleh sihir kerajaan yang hanya bisa dibuka olehnya dan Yunho. Snowelf berambut cokelat terang itu menarik keluar kertas yang sama putihnya dari dalam amplop dan membaca aksara Hviturland rapi yang tertulis diatasnya.

‘Junsu-chagiya. Jangan lupa bahwa kau harus ikut menghadiri acara perkumpulan Wizard sepuluh hari lagi. Segeralah pulang. Aku merindukanmu. Jung Yunho.

Junsu meremas kertas itu dan menggigit bibirnya kesal. Tak puas, Junsu membakarnya menggunakan sihir hingga lembar rapuh itu lenyap tak bersisa. Junsu menghela napas marah sebelum melangkah keluar dari kamar.

Itu adalah surat ketiga yang diterimanya dari Hviturland sejak ia tiba di negri ini lima hari lalu. Isi surat-surat itu selalu sama, Yunho memintanya kembali. Raja Putih bahkan menulis sendiri surat-surat itu untuknya, yang jelas membuatnya jengkel mengingat Raja memiliki Juru Tulis Kerajaan.

Sampai kapan Yunho mau mempermainkan perasaannya?

Setelah menerima surat itu ia merasa kesal dan tidak tenang. Bahkan selama bermain dan menemani Sungmin belajar pun ia tidak bisa berkonsentrasi. Tournya mengelilingi istana bersama Sungmin terasa berlalu begitu saja sebesar apapun Junsu berusaha menikmatinya. Lima hari berlalu dan Yunho belum berhenti mengiriminya surat cinta. Junsu yakin suaminya tidak akan berhenti mengganggunya hingga ia benar-benar kembali ke Hviturland. Surat-surat itu benar-benar menghantuinya, di saat bersamaan membuatnya muak karena merasa dipermainkan dan takut kalau-kalau Yunho akan marah jika ia tetap bersikeras mengabaikan perintah Alpha itu.

Mungkin memang sudah waktunya untuk kembali. Memang hanya lima hari, tapi semakin lama ia mendekam di negri ini, senat dan mentri akan segera mengendus ketidakberesan diantara dirinya dan Yunho.

Junsu menghela napas, keningnya bertaut berat meski kakinya melangkah pasti. Ia akan berpamitan dengan Leeteuk, ia memutuskan untuk segera pulang, sebelum pikiran-pikiran lain menahannya lebih lama tinggal di tempat ini.

“Kau yakin tidak mau tinggal lebih lama lagi? Buru-buru sekali.”

Junsu tersenyum kaku, tahu akan mendapat respon itu setelah ia menemui Leeteuk.

“Tentu saja aku mau. Sayangnya, aku tidak bisa meninggalkan acara perkumpulan keluarga besar Wizard yang akan diadakan kurang dari dua minggu lagi. Yunho sampai harus mengingatkanku melalui suratnya.” Junsu berbohong dengan mulusnya. Tidak ada tekanan apapun yang mengharuskannya pulang dengan segera, kecuali perintah Yunho dan kalimat-kalimat rindunya pada Junsu.

“Maaf aku tidak bisa mengantarkan ke perbatasan. ”

“Oh! Tidak usah repot-repot Jungsoo! Beristirahatlah.”

“Kuharap kau bisa datang lagi lain kali.”

“Tentu saja. Aku juga berharap kondisimu akan membaik dan balas mengunjungiku ke Hviturland.”

Kedua ratu dari kedua negara itu saling mengobrol selama beberapa lama. Menjelang siang, Junsu mengucapkan selamat tinggal dan meninggalkan ratu merah di ruangannya. Ia harus segera berangkat sebentar lagi. Dua orang pengawalnya sudah menunggui di luar ruangan itu, memastikan semua persiapan sudah lengkap agar mereka dapat segera berangkat.

Awalnya, Junsu memperkirakan akan banyak kerabat kerajaan Radourland membantu kepulangannya, menantu, atau anak-anak perempuan Kangin, seperti saat Pangeran-Pangeran Hviturland menyambut kedatangan Radourland beberapa tahun lalu. Tapi tidak ada seorangpun disana, seakan Junsu hanya tamu biasa yang datang dan berlalu begitu saja. Meski merasa ganjil, Junsu tidak keberatan. Ia justru lebih menyukai suasana sepi ini, membuatnya tidak perlu banyak berbasa-basi dengan putri-putri Kangin.

“Junsu-sshi.”

Sang Ratu Putih menoleh dan menemukan Kangin berdiri di ujung koridor sendirian. “Youngwoon-sshi?”

Snowelf itu mengisyaratkan kedua pengawalnya meninggalkan mereka berdua.

“Aku baru saja mau berpamitan.” Ujar Junsu sambil melangkah mendekat.

Kangin mengangguk. “Sangat disayangkan, kau tidak bisa menghadiri peresmian Elm Deep’s.”

“Seperti yang sudah kau dengar, Youngwoon-sshi. Aku salah memilih waktu untuk berkunjung. Aku sama sekali lupa dengan acara penting itu.” Jelasnya sambil sedikit tertawa canggung. Kangin hanya tersenyum kecewa.

“Oh ya, mengenai Jungsoo… Aku sudah mencoba menggunakan sihirku untuk menyembuhkannya. Tapi sepertinya ada sesuatu yang salah.”

“…Salah?” Dahi Kangin berkerut penasaran.

“Ehm… Maksudku, tubuhnya seperti tidak menerima energi yang kuberikan. Mungkin ilmuku masih kurang. Sesampainya di Hviturland nanti, aku akan mengirimkan surat dan menugaskan seorang healer yang lebih hebat untuk datang dan mencoba mengobati Jungsoo.”

Kangin mengangguk dan tersenyum canggung, keningnya bertaut. “Terima kasih banyak, Junsu-sshi.”

Ratu putih terdiam sebentar sebelum menghela napas. Sedikit ragu ia mengatakan, “Youngwoon-sshi… Mengenai pembicaraan kita malam itu… ”

Kangin mendongak, menatapnya.

“Aku mengerti jika kau tidak mau menceritakannya. Tapi apa kau tahu bahwa penyakit Jungsoo kemungkinan besar diakibatkan oleh hal itu? Apa dia tahu?”

Kangin menggeleng ragu—tidak yakin bisa atau ingin menjawabnya.

“Selain itu dia sering stress dan merasa tertekan. Apa ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang di kerajaan ini… seperti… anak-anakmu mungkin?”

Kangin mendesah; dahinya berkerut dan wajahnya muram. “Aku sudah memperingatkan mereka agar tidak melukai Jungsoo.”

“Tekanan mental tidak melulu tentang darah dan luka, Youngwoon-sshi. Aku sendiri sebagai ratu ketiga Yunho, merasa amat beruntung karena anak-anaknya menerimaku.”

“Seandainya anak-anakku menerima Jungsoo juga.”

Junsu menatap Kangin beberapa detik, sebelum mengatakan, “Ya… Tapi aku bisa melihat bahwa mereka tidak menerimanya dengan baik. Terutama putra tunggalmu. Aku masih ingat saat Sungmin keguguran dulu, ia sangat tidak sopan kepada Jungsoo. Mungkin itu yang membuat Jungsoo paling tertekan—merasa tidak ada yang menerimanya disini selain dirimu?”

Kangin menatap Junsu dengan ekspresi campur aduk.

“Hmm, mungkin.” Jawabnya enggan, meski Kangin tahu jelas ucapan Junsu memang benar adanya. Ia mengalihkan pembicaraan itu dengan melirik menantunya yang berdiri dekat dari kereta Junsu. “Minwoo, pastikan penjagaan Ratu Hviturland aman sampai perbatasan.”

“Tentu, Yang Mulia.” Minwoo membungkuk sedikit sebelum berbalik, kembali ke arah pasukan kecil yang sudah menunggui mereka dengan menunggangi kuda miliknya.

Junsu segera mengatup mulutnya melihat keengganan Kangin, ia hanya melirik raja itu dan menyerah saat Kangin jelas menunjukkan tidak ingin melanjutkan obrolan tabu mereka. Ia berbalik, meniti tangga kecil dan masuk ke dalam kereta kuda yang sejak tadi menunggunya. “Kalau begitu aku pamit, Yang Mulia.” Ujarnya sembari tersenyum kaku. Kangin membalas dengan anggukan kecil sebelum seorang pengawal menutup pintu kereta itu.

Minwoo memberikan sedikit pengarahan sebelum pasukannya yang terdiri dari dua puluh orang itu berpencar dengan formasi yang telah ditetapkan, mengelilingi kereta kuda Junsu dengan ketat hingga sampai ke pelabuhan perbatasan.

.

.

.

.

.

.

.

o

oOoOoOo

o

.

.

.

.

.

.

.

“Anda memanggilku, Yang Mulia?”

Snowelf paruh baya itu memasuki ruang pribadi sang raja putih. Baru kali ini, setelah sekian belas tahun lamanya, sang raja memanggil seseorang selain ratunya untuk datang ke ruangan itu.

“Nde, Terragi-sshi. Masuk dan duduklah.” Sang Raja menyahut dari kursinya tanpa menoleh. Menteri Pertahanan Hviturland itu membungkuk lebih dulu, sekalipun raja tidak melirik bungkukan hormatnya, sebelum ia duduk di sebrang meja yang memisahkannya dari raja.

Terragi menatap sang raja yang mempersilahkannya menuang minumannya sendiri. Rambut abu-abu panjang Yunho tergerai berantakan, jubahnya dikenakan asal-asalan. Penampilan raja membuatnya nyaris menautkan alis. Yunho tampak jauh berbeda dibanding dengan penampilannya saat berada di ruang kementrian dan di atas singgasana.

Sang raja bersandar ke kursinya sembari menegak isi gelasnya sendiri. Ia melirik Terragi dan tersenyum samar. “Aku butuh teman minum. Terakhir kali aku minum sendirian, aku hampir memperkosa ratuku.”

“Yang Mulia…” Terragi terkesiap mendengar ucapan Yunho, bingung harus memberikan reaksi apa. Ia memang mendengar rumor bahwa raja dan ratu putih beradu argumen sejak gonjang ganjing kerajaan mereka belakangan ini. Namun ia tidak menyangka sampai separah itu, terlebih mendengar pengakuan langsung dari bibir raja.

“Hentikan ekspresi itu. Aku tahu yang kau dengar bukan berita baru. Semua orang tahu seperti apa hubungan kami.” Yunho melirik isi gelasnya, rasanya ingin tertawa. Meski tidak yakin orang-orang mengetahui bahwa ratu mereka masih suci, Yunho sudah mendengar rumor yang beredar, mengatakan bahwa Ratu Putih mandul— enam belas tahun  dan tetap tidak bisa memberi keturunan untuk Raja.

Terragi tercenung, memutuskan tidak memberikan komentar apapun. Keduanya terdiam untuk sesaat. Mentri itu tidak menyesap araknya sedikitpun dan Yunho juga tidak berniat memaksanya, ia hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ocehannya saat ini. Seseorang yang akan mengerti seperti apa berada di posisinya sekarang, kehilangan seorang putra dan bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk menyentuh mayatnya…

“Bagaimana kabar putra sulungmu?” Yunho memulai pembicaraan lagi.

“Kabarnya sangat baik. Anda mengirimkan hadiah yang sangat berkesan untuk pernikahannya setengah tahun lalu. Terima kasih banyak Yang Mulia. Matenya sudah mengandung sekarang.”

“Kau akan segera mendapatkan cucu.” Yunho tertawa, mengayun gelasnya kearah Terragi seakan meminta sahutan untuk bersulang. Mentri itu menyambutnya, meski tetap tidak meminum isi gelasnya. “Aku ingat kau melamar dua omega… dua orang omega yang seharusnya menikahi putra sulungmu dan putra keduamu di pesta pernikahan yang sama…. kan?”

Terragi menatap gelasnya, pandangannya berubah muram. Saat ia mendongak membalas pandangan raja, dengan sedikit memaksa ia melempar senyum. “Kau masih mengingatnya, Yang Mulia.” sahutnya pendek.

“Maaf. Aku… aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu tapi…” Yunho tertawa sendu. “Aku mengerti rasanya sekarang.”

Menteri itu hanya bisa menautkan keningnya, pandangannya beralih turun meski telinganya mendengarkan dengan seksama. Ia paham maksud perkataan itu dan membiarkan Yunho melanjutkan ceritanya.

“…Zhou Mi anak yang baik. Dia bekerja lebih keras dibanding seluruh saudaranya. Dia selalu berhasil membuatku bangga… Lebih dari Putra Mahkotaku.” Tak biasanya ia memuji anaknya di depan orang seperti ini, Yunho selalu memendam rasa bangganya dalam diam. “…karena itu aku membiarkannya tumbuh dan belajar seperti seorang alpha. Aku bahkan membebankannya posisi ketua ksatria yang harusnya dipikul oleh seorang alpha.”

Terragi tercenung, senyumnya tampak sendu saat ia mengangguk merespon cerita Yunho. “Putra keduaku dulu sering bercerita tentangnya, tentang prestasi-prestasi pangeran Zhou Mi di akademi. Mereka berdua berteman sejak lama. Sejak mereka sama-sama memutuskan untuk menjadi Wizard petarung.”

“Aku tahu mereka dekat. Karena itu aku mengundangmu kemari.”

Keduanya melempar senyum sendu saling mengerti.

Yunho meremas ujung bibirnya, tampak seakan tengah mengatup mulutnya. Ada hasrat yang sesaat melintas di benaknya untuk menggaruk pipinya hingga berdarah. Tangannya tidak gemetar, namun jantungnya berdenyut kuat, nyeri dan sesak di saat bersamaan. Sorot matanya berubah sendu, penuh sesal.

“Baru kali ini aku menyesal tidak pernah memeluknya.”

Mentri itu tercenung, bingung harus menjawab apa. Ia memang pernah merasakan situasi serupa dengan yang dialami raja saat ini. Tapi hubungannya dengan Nichkhun selalu hangat. Putra keduanya itu selalu terbuka padanya, ia pun tidak pernah menutupi rasa sayangnya pada seluruh putra-putranya. Di sisi lain, Raja Yunho dan Pangeran Zhou Mi adalah kasus yang berbeda.

“Dia selalu berusaha menarik perhatianku dengan cara yang berbeda dari seluruh saudaranya. Anak jenius itu…” Yunho mengatup wajahnya dan tertawa. “Tapi aku tidak pernah memberikan perhatian yang diinginkannya. Aku raja negri ini dan ia Pangeran Hviturland, ia ingin menjadi seorang alpha, jadi kuberikan didikan yang sama seperti yang kuberi pada Putra Mahkota.”

Samar Terragi melihat ujung jari-jari raja itu bergetar.

“Tapi kau tidak memberikan perhatian yang sama seperti yang kau berikan pada Putra Mahkota, Yang Mulia.” Mentri itu mengatup mulutnya, tiba-tiba khawatir pada kalimat yang baru saja diucapkannya. Saat diliriknya, Raja justru tertawa sedih. Tidak menunjukkan sedikitpun amarah pada komentar jujurnya.

“Kurasa kau benar…” Yunho meremas keningnya. Efek arak itu mulai mempengaruhinya, ia tahu tengah bercerita terlalu banyak, tapi untuk sesaat Yunho tidak mempedulikannya. “Aku terlalu malu mengakui prestasinya di depan umum. Dia seorang beta.” Yunho merasa alasannya terlalu konyol, tapi kepada alasan itulah selama ini ia menahan hasratnya untuk bersikap jujur pada seluruh putranya. Ia seorang Raja, bukan ayah antah berantah yang bisa terang-terangan melindungi anak-anaknya setiap kali masalah datang.

Mentri Pertahanan Hviturland itu menggigit lidahnya, menahan hasrat kuat untuk menyangkal alasan Raja. Dua putranya seorang beta, dua yang lain adalah omega, namun tidak secuilpun ia menyesali takdir itu. Keempat putranya adalah anugerah baginya. Alasan Raja terdengar terlalu tidak masuk akal baginya, yang hidup sekian lama bergelimang rasa bangga pada prestasi-prestasi kedua putranya yang hanya… seorang beta.

“Kau tahu rumor itu, kan? Makhluk-makhluk terkutuk itu menculik prajurit beta dan menjadikan mereka pelacur penghasil keturunan?” Raja bersuara lagi, ia membenahi duduknya lebih tegap kali ini.

“…Belum ada bukti akurat, Yang Mulia.” Terragi merespon pendek.

“Tidak perlu bukti. Kalau aku jadi mereka, hal itu akan jadi agenda utama kerajaanku.” Yunho mengerutkan keningnya, sebesar apapun orang-orang berusaha menyangkalnya, Yunho yakin rahasia umum ini memang terjadi di negri musuh mereka. “Kuharap laporan Seunghyun benar terjadi.”

Sang raja mengatup bibirnya rapat dan mendengus tidak rela; untuk sejenak ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Aku berharap putraku mendapat kematian yang terhormat seperti putramu. Dulu aku hanya mengucapkan belasungkawa. Sekarang aku mengerti seperti apa rasanya.”

Terragi menatap Raja cukup lama, sebelum merespon, “Aku juga selalu memikirkan hal yang sama, berharap putraku benar-benar meninggal satu tahun yang lalu di atas medan perang. Tidak ada yang lebih kuinginkan dari itu.”

“Bukankah banyak saksi yang mengatakan ia mati di medan perang?”

Menteri kerajaan itu menggeleng. “Kami bahkan belum mendapatkan jasad Nichkhun sampai sekarang. Tidak seujung kukunya. Saksi-saksi yang mengatakan putraku mati tetap tidak menenangkan perasaanku.”

Terbawa suasana pembicaraan mereka, menteri itu akhirnya menuangkan arak untuknya sendiri. “Omega yang kujodohkan dengannya… masih terpukul sampai sekarang. Berita kematian Nichkhun membuatnya nyaris gila, dan aku tidak sanggup membayangkan kalau ternyata putraku masih hidup disana.”

Yunho meletakkan gelasnya untuk diisi lagi. “Kau tahu Terragi-sshi? Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali melihat anakku itu sebelum ia pergi.” Sejujurnya, Yunho cukup menyesali keputusannya mengasingkan diri di tempat ini, menyesal menyia-nyiakan hari-hari lalunya dan mengabaikan keberadaan keenam putranya. Selama ini kesedihannya selalu berpusat pada satu sosok… Jaejoong. Rasanya ia ingin berterima kasih dengan merutuk pada Dewa, untuk menambah satu orang lagi ke dalam mimpi-mimpi buruknya.

Menteri itu tersenyum sendu. “Aku masih teringat tawa terakhir anakku. Dia pergi dengan ekspresi ceria dan semangat sebesar itu, berseru pada seisi rumah bahwa ia akan pulang membawa kemenangan. Hanya calon menantuku yang menunjukkan sikap ganjil. Aku menyesal tidak membantunya memaksakan niat itu pada Nichkhun.”

“Niat?”

“Omega itu memaksa untuk diikat sebagai mate sebelum Nichkhun pergi. Tapi anakku menolaknya. Mungkin karena berpikir janjinya untuk pulang dan menikahi omega itu akan memberinya semangat agar tetap bertahan. Atau mungkin juga… dia sudah berfirasat tidak akan pernah kembali lagi ke rumah. Mengikat diri dengan seseorang lalu pergi mati hanya akan menyiksa ikatan mate itu sendiri.” Tapi siapa yang peduli, Terragi berbisik dalam hatinya. Siapa yang peduli pada apa yang akan terjadi pada omega itu. “Seandainya dulu aku memutuskan untuk percaya pada prasangka omega itu, mungkin sekarang ia sudah mengandung cucuku, tanda terakhir dari putra keduaku.”

Yunho terkekeh sejenak. “Sangat disayangkan. Zhou Mi juga terlalu bangga untuk menikah secepat itu. Ia terlalu sibuk belajar dan bekerja hingga tidak menunjukkan ketertarikan pada siapapun.”

“Anda pasti sudah dengar tentang Putra kedua Jonghun? Aku tidak mengerti, seakan ada yang salah dengan nomor urut itu. Anak kedua kita, hidup menggoreskan rasa bangga lalu direbut kematian…” Terragi menggeleng menatap air bening di gelasnya. “Tapi Yunho-sshi…”

Terragi sesaat ragu untuk melanjutkan kalimatnya, tapi saat Raja terlanjur menatapnya separuh menanti… “Bagaimana kalau Zhou Mi ternyata memang masih hidup?”

Pertanyaan menteri itu membuat Yunho terdiam, terhenyak. Satu putranya hidup di negri hitam adalah hal terakhir yang diinginkannya. Terlebih… Zhou Mi seorang beta.

Yunho menatap wajah mentrinya, ekspresinya kaku lalu seulas senyum paksa terukir di wajahnya. “…Tentu saja aku akan menolongnya, Terragi-sshi…” jawabnya ambigu.

“Menolongnya?” Terragi ingin menanyakan lebih lanjut, apakah jawaban yang dimaksud sang raja adalah berperang dengan negeri hitam? Namun sebelum sempat menyambung pertanyaannya, Yunho memotong kata-katanya.

“Ya, menolongnya. Hanya itu hal terakhir yang bisa kulakukan untuknya.” Yunho menaikkan gelasnya. “Bersulanglah denganku, Terragi-sshi, untuk Jung Zhou Mi dan Nichkhun Hoverjkul—kedua mendiang putra kita yang membanggakan.”

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Pintu kamarnya terbuka. Omega berambut pirang itu tidak mau repot-repot menoleh. Lagipula hanya satu orang saja yang mengetahui mantra kunci kamarnya selain dirinya sendiri. Suara langkah kaki mendekatinya dari belakang sebelum ujung hidung yang lembut menyentuh pucuk kepalanya, menciumnya lembut.

“Calon ratuku masih sibuk belajar selarut ini?” Gumam sosok yang baru datang itu di kepala Jiyong.

Omega itu mendengus cuek. “Berhenti memanggilku begitu dan jangan ganggu aku.” Ia membalik halaman buku politik di tangannya sembari bersandar ke meja dengan bertumpu di kedua bahunya.

“Dingin sekali. Kau marah padaku?”

“Tuan muda alpha yang sok sibuk, pergi saja sana ke pertemuan para menteri atau ke perbatasan atau kemanalah! Aku hanya omega yang tidak penting untuk digubris!”

Seunghyun terkekeh. “Kau marah karena aku sibuk belakangan ini? Karena aku tidak memperhatikanmu? Maaf chagi… Aku baru saja kembali dari tempat pelatihan. Wajar kan Ketua Ksatria sibuk seperti itu?” Bisiknya sambil menggoda cuping kanan Jiyong yang mulai memerah.

Jiyong berbalik dengan alis berkerut, menatap bola mata biru kakaknya separuh curiga. “Katakan padaku, Seunghyun. Apa yang dikatakan Changmin itu benar?”

“Apa?” Tanya Seunghyun polos.

“Dia bilang Zhou Mi-hyung masih hidup waktu itu dan kau membiarkannya mati dengan meninggalkannya. Ada beberapa orang yang membicarakan rumor ini di sekolah sihir kemarin!” Desak Jiyong sembari memutar kursinya, ia berusaha berdiri mengimbangi Seunghyun, namun tinggi tubuhnya tidak akan melebihi dada kakaknya.

“Kau pikir aku akan melakukan hal sekeji itu pada saudara kandungku?” Seunghyun menatap Jiyong. “Kami satu ibu, kau lupa chagi?”

Jiyong mendesah bingung. Ia menelan ludahnya dengan muram. “Jadi hyung benar-benar sudah mati?”

“…Sungguh, kuharap begitu” Alpha berambut biru itu mendesah lelah lalu menoleh ke arah lain. “Dia seorang beta. Aku tidak berani membayangkan apa yang akan dilakukan mahkluk Svarturland kalau Zhou Mi masih hidup disana.” Seunghyun sungguh-sungguh berharap saudaranya telah meninggal, untuk kebaikan kakaknya sendiri. “Dia tertusuk di bagian dada dan aku sama sekali tidak merasakan energi sihirnya lagi. Selain itu monster itu berada tepat dibelakangnya, sedangkan Changmin kehilangan akal dan memberontak dengan buas. Kalau kulepaskan, dia pasti akan menerjang ke arah mereka dan mati dibunuh monster besar itu!” Seunghyun menggerutu kesal, lalu suaranya mengecil berubah mencibir. “Si bodoh itu… baru lulus sekolah prajurit awal saja sudah besar kepala. Dia lupa dua tahun lagi harus kembali kesini dan melanjutkan pendidikannya.”

Jiyong merengut miris. Bibirnya terkatup rapat dan matanya berpendar entah kemana. Seunghyun memandanginya, merasa lucu melihat Jiyong yang biasanya cuek memikirkan masalah ini juga. Memang, tidak pernah ada masalah sebesar ini di Hviturland seumur hidup mereka—mendapatkan berita bahwa salah satu saudara mereka gugur di medan perang membuat banyak orang terpukul.

Itu pun kalau dugaan Seunghyun benar terjadi. Bagaimana kalau Zhou Mi masih hidup di negri hitam? Itu lebih mengerikan dari kematian!

Seunghyun memijat keningnya dengan dua jari, menarik naik surai biru gelapnya yang berantakan di atas dahi. Ia menunduk, pandangannya berubah lembut saat diremasnya bahu mungil Jiyong.  “Sebaiknya kau tidur. Sebentar lagi bulan akan tepat di atas kepala dan aku tidak ingin calon ratuku sakit karena belajar sampai larut malam.”

Jiyong menatap jijik kepada Seunghyun. “Sudah kubilang berhenti memanggilku begitu! Kau bukan putra mahkota—dan kalaupun memang kau, Ayahanda tidak akan mengizinkan kita!”

“Jangan khawatir chagi… Aku akan merebut tahta dari tangan Siwon dan menjadi raja negeri ini.” Seunghyun mengecup lembut punggung tangan Jiyong yang tengah menggerutu padanya.

“Akan kubuat Ayahanda melihat dan mengakui kemampuanku, lebih baik daripada anak kesayangannya itu.”

“Kau harus memiliki mate dulu sebelum bisa menjadi penerusnya.”

“Kalaupun Ayahanda memaksaku mencari mate lain, aku akan segera membuangnya begitu aku naik tahta. Lalu aku akan menjadikanmu ratuku, Jiyong, Ratu Hviturland seperti yang selama ini kau inginkan.” Mata biru itu menatap sang omega dengan penuh arti.

‘…dan memilikimu seutuhnya.’

Tak sabar sekali rasanya Seunghyun menunggu saat itu tiba.

Seunghyun menarik dagu adiknya lalu dikecupnya bibir lembut itu. Sedikit tergesa ia memperdalam ciuman mereka, dan anehnya Jiyong menuruti, seakan terbawa suasana oleh aroma alpha Seunghyun yang menguar khas dan membuat omega itu sedikit pusing.

.

.

.

.

.

.

.

o

oOoOoOo

o

.

.

.

.

.

.

.

Ia memejamkan mata saat dengung itu memenuhi kepalanya lagi. Saat membuka mata, pandangannya penuh oleh goresan tinta hitam dan huruf-huruf kabur. Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya saat ini, sekalipun ia tidak memindahkan pandangannya sejak membuka mata.

Ia tidak ingat sejak kapan ia sampai di sini, duduk di dalam kelas dan menundukkan kepala dalam-dalam menatap bukunya. Mungkin karena rutinitas ini sudah terlalu memuakkannya, ia tidak akan menyadarinya hingga suara anak-anak menjengkelkan itu mengerumuninya.

Seperti biasa, ia selalu berhasil mengabaikan mereka. Selama ini ia selalu mampu mengabaikan mereka.

Ia memang masih lima belas tahun —masih semuda tunas jagung dari Graentland. Seratus tahun pun masih terlalu cepat untuk mengangkat kepala dan bersikap sesombong orang dewasa —semua itu karena ia seorang beta, pikirnya.

Karena ia terlahir sebagai beta, anak kedua di bawah keturunan raja, membuatnya harus membuktikan pada semua orang bahwa takdirnya terlahir sebagai beta tidak lantas menurunkan derajatnya lebih rendah dibanding alpha.

Seharusnya ia memulai kelas pertamanya lima tahun lagi, tapi ia bersikeras memulai lebih awal. Kakaknya bahkan sudah memulai kelas militer pertama, padahal Siwon baru berusia 26 tahun. Mungkin karena Siwon terlahir sebagai alpha dan putra mahkota? Apapun alasannya, semua itu justru semakin menguatkan tekadnya untuk membuktikan kepada raja, bahwa ia juga putra yang bisa dibanggakan. Ia pantas lahir sebagai pangeran.

Lagipula dengan tinggi tubuh di atas rata-rata, seharusnya tidak akan ada yang bertanya. Setidaknya, begitulah ia mengira… Hingga kelas pertamanya dimulai seminggu yang lalu. Baru satu minggu, dan dia menemukan neraka baru di luar tekanan istana Hviturland.

Dia hanya ingin duduk disana, memperhatikan dengan baik saat maester menjelaskan pelajaran demi pelajaran, lalu mempraktekkan apa yang perlu dilakukan. Tapi anak-anak itu tidak memudahkan usahanya. Anak-anak itu bahkan tidak meninggalkannya sendiri. Begitu sang maester meninggalkan ruangan kelas sebentar saja, mereka tidak membuang-buang kesempatan untuk menganggunya.

Mereka tidak menyentuh, tapi juga tidak berhenti bicara. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, semua ejekan dan hinaan yang membuatnya berharap diajari mantra sihir untuk tuli sesaat.

“Halo, tuan putri. Kakimu bertambah panjang lagi hari ini?”

Mulai lagi.

Ia tidak ingin mengangkat pandangan dari bukunya. Tapi rasanya susunan huruf itu tidak lagi terbaca, berapa kalipun mencoba menulikan diri, ia selalu berakhir mendengarkan mereka dalam diam.

“Sayang sekali walaupun lebih tinggi dari kami, kau tetap masih lima belas tahun dan…” terdengar gelak tertahan. “…beta?”

Suasana berubah ramai mengelilinginya. Cahaya matahari terhalau oleh bayang-bayang tubuh anak-anak itu.

“Kin, jangan ganggu dia! Dia anak raja!”

“Anak beta raja? Tuan Putri?”

Lalu semua orang tertawa.

“Kenapa dia tidak masuk ke kelas beta? Kenapa harus memaksakan masuk kelas unggulan? Mentang-mentang anak raja?” Suara tawa semakin membumbung.

Dia mengepalkan tangannya, tubuhnya mulai gemetar. Mati-matian ia berusaha menahan emosi yang membuncah di dadanya.

“Kiiin! Dia marah, tuh!”

“Tidak apa, aku tidak menyentuhnya. Biar saja kalau dia ingin mengadu!” suara berat itu makin mendekat. Ia tidak ingin menoleh, tapi tahu betul satu kursi ditarik kesisinya, dan seseorang duduk begitu dekat, sampai suaranya yang berbisik terdengar jelas. “Apa setelah ini dia akan menangis dan pulang untuk mengadu pada ayahnya? Mengadu pada raja, nde? Uuuh~ menggemaskan! Aku harus bertanya pada Abeoji. Abeoji pasti disana saat dia mengadu! Wajah merahnya yang menangis tersedu pasti tampak cantik! Apa perlu kita buat dia menangis disini?”

Tangannya gemetar di atas meja, dan ia tahu semua orang menyadarinya. Karena suara cekikikan mereka bertahan lama. Lalu ia teringat pada larangan Ratu, ibunya, yang paling pertama menolak permintaannya untuk memulai kelas lebih awal. Tapi semua sudah terjadi. Raja mengizinkannya dengan sekilas raut bangga, membuatnya terlalu malu untuk meminta kelas yang lain—lebih-lebih untuk menghentikan kelasnya dan memulai lagi lima tahun mendatang. Itu tidak akan terjadi. Ia tidak akan mengecewakan raja; ia tidak akan mengecewakan ayahnya.

“Mi… boleh kupanggil begitu kan? Bahkan namamu menggemaskan. Rambutmu juga menggemaskan, seperti rambut omega!”

Seseorang mengacak tatanan rambutnya, surai gelap berayun di depan matanya—rambut gelap yang selalu dibencinya.

Mi menunduk, lebih dalam, berusaha menahan kedutan otot yang kini menyebar ke seluruh tubuhnya.

“Jaga lubang betamu untukku, oke? Beberapa tahun lagi aku akan minta kepada Abeoji agar kita dijodohkan.”

Jantungnya berdegup lebih kuat mendengar kalimat itu, tidak menyukai bagaimana bagian paling memalukan di tubuhnya berkedut memanas saat orang ini membicarakannya.

“Kin, aku juga mau mengawininya! Bukan cuma kau yang anak mentri! Aku juga bisa minta dijodohkan dengannya!”

“Tidak, dia milikku! Menjauh darinya,” Kin tertawa sambil mendorong satu alpha lain yang mendekati Mi. “Lihat pinggul ramping ini. Begitu dia jadi betaku nanti, lima puluh tahun lagi dia akan melahirkan ban

Kin belum selesai bicara, dalam sekejap mata Mi melompat ke sisi, mendorong anak bertubuh besar itu hingga terpelanting dari kursi. Suara cekikikan berganti dengan keheningan dan desah napas tertahan. Mi duduk di atas perut Kinmuak mendengar ocehan sombong bocah alpha itu.

Kin memberontak, ingin menggulingkan posisi mereka. Namun sebelum itu terjadi, Mi melayangkan kepalan tinjunya. Kepalan yang sejak tadi gemetar tertahan kini mendapatkan pelampiasan.

BUGH!

Suara gerungan dan pekikan memenuhi ruangan. Bogem tangannya mendarat tepat di pipi Kin dan menyisakan memar. Mentri Keuangan Hviturland tidak akan menyukai ini, tapi untuk sesaat Mi tidak peduli. Mi tidak lagi menyadari suasana disekitarnya. Suara teriakan dan desah kaget orang-orang berganti menjadi dengung menyakitkan. Satu-satunya kesadaran yang menguasai dirinya adalah keinginan untuk merusak lebih banyak. Ia tidak menyadari apapun lagi. Bahkan saat ia mematahkan hidung anak itu, tinjunya masih mengepal dan melayang berkali-kali sekuat tenaga. Samar, terdengar pekik dan teriakan yang familiar.

“MI!”

Mi terlalu terpana pada merah darah di wajah anak itu

“ZHOU MI-YA!”

.

.

.

Zhou Mi tersentak bangun, otot-otot di seluruh tubuhnya meregang tertahan. Nyeri di kepalanya bertambah dua kali lipat saat ia mencoba membuka mata. Secara refleks ia melayangkan tangannya ke sisi, berguling sampai menyentuh meja samping; berusaha membuka laci teratas meja nakasnya dan mencari botol obatnya. Tapi ia tidak bisa menemukan apapun di lacinya. Zhou Mi membuka matanya susah payah, dikuasai rasa sakit menjadi yang seakan mengoyak otaknya.

“Tiga kali…” suara itu tiba-tiba menyela.

Zhou Mi terpaku, tangannya berhenti menggapai dan membeku di dalam laci. Dadanya berdegup makin kuat dan kepalanya berdenyut makin nyeri. Suara itu menggiringnya pada ingatan lain, dalam sekejap mimpi yang baru saja dialaminya lenyap bagai asap, berganti dengan bayangan lain yang sama buruknya.

“Pelayan melaporkan kalau kau selalu bangun seperti itu—bingung dan menggapai-gapai laci. Apa yang kau cari? Jangan-jangan kau masih berpikir ini kamarmu di Hviturland?”

Zhou Mi mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mengendalikan denging dan denyut di balik tulang tengkoraknya. Ia menarik tangan dan membuka matanya dengan perlahan. Dalam sekejap suasana kamar yang temaram dengan dinding-dinding batu memenuhi pandangannya—berbeda jauh dengan kamarnya yang terang di Hviturland.

Monster bertanduk banteng dan berkulit abu itu duduk tak jauh darinya, semakin menyakiti pemandangan. Ia duduk di samping tempat tidur, mengenakan zirah perang keemasan. Zhou Mi disambut oleh senyum manisnya saat ia menatap wajah tampan monster itu.

Tampan. Zhou Mi merasa harus segera mengusir sakit di kepalanya.

“…Kau tidak membunuhku?” desisnya memicing mata, menahan diri untuk tidak memijat kepala.

“HUH? Membunuhmu?” Daniel tertawa. “Mana ada orang yang mau membuang emas… dan kau lebih berharga dari emas, sayangku. Jadi tidak mungkin aku membunuhmu.”

Zhou Mi berusaha mengabaikan Daniel. Ia menurunkan arah lirikan matanya dengan kepala tetap mendongak lurus. Kedua kepalan tangannya terbalut perban tipis hingga ke pergelangan tangan. Kakinya terbungkus gips dari pergelangan hingga ke ujung jari —simpul perban itu mengingatkannya pada metode pengobatan Graentland, sederhana dengan warna keruh selipan obat-obatan. Tulang dan dagingnya di bawah sana saling mendorong menyakitkan. Namun apapun yang dirasakannya, Zhou Mi menolak menunjukkannya.

“Aku sudah dengar Kau putra kedua Jung Yunho? Itu artinya kau adik Jung Siwon, Putra Mahkota Hviturland. Dan sama artinya…”

Zhou Mi melirik Daniel dengan sorot benci. Ia tahu dimana kalimat itu akan tersambung…

“… Kau beta tertua di bawah keturunan raja.”

Zhou Mi hampir-hampir mendengar suara giginya gemertak beradu. Beta.

“Ugh! Aku merinding membayangkannya. Kau tidak tahu betapa bangganya aku mendapatkanmu—beta dengan kasta tertinggi di seluruh daratan Hviturland… akan menjadi pelacurku disini. Aku tidak sabar menunggu kakimu pulih, sayangku.” Daniel mengerling padanya. “We’re going to have a lot of fun by then.

Daniel bangun dari kursinya, suara tawanya mengiringi langkahnya sendiri, mendekat menuju ranjang Zhou Mi.

“Jangan berpikir untuk mendekat lebih dari itu.”

Zhou Mi mencengkeram seprai di bawah tubuhnya, dan beringsut menjauh, tapi luka di kakinya sama sekali tidak membantu. Ia hanya bisa mengawasi Daniel dengan waspada. Daniel, di sisi lain, bahkan tidak menanggapi ancaman Zhou Mi. Pria itu duduk di pinggir ranjang, awalnya, sebelum merayap naik bermaksud mengukung Zhou Mi ke bawah tubuhnya.

“KAU!” Zhou Mi mengeram marah, jelas memberontak. Ia mengayun kepalan tangannya yang masih berbalut perban menuju wajah Daniel, namun monster itu dengan mudah menangkap tangannya.

“Menyingkir dariku!” Zhou Mi berseru. Suaranya yang penuh emosi justru terdengar menyenangkan bagi Daniel.

Daniel menekan bahu Zhou Mi untuk menahan pemberontakan, separuh memaksa ia menyelipkan wajahnya di antara tengkuk snowelf itu, menyesap sisa luka Zhou Mi yang mulai mengering. Pemuda itu merinding di bawah sentuhannya, mendorong dan memukulnya dengan membabi-buta, tapi Daniel hanya tertawa dan membiarkannya.

Oh, Gosh, I love you already!” Daniel terkikik. Melemaskan tubuhnya mengikuti arah pukulan Zhou Mi. Dan sesuai dugaannya, perbuatannya itu justru membuat pemuda dibawahnya tercekat makin tersinggung.

“Ouch. Itu sakit, Tuan Putri! Tapi aku menyukainya. Pukul lagi, please?”

Zhou Mi mengeram. Bulu kuduknya meremang, napasnya tertahan. Ia bisa merasakan kulit bibir Daniel tersenyum diatas ceruk lehernya.

“Kau bahkan tidak mandi sejak pertama kami membawamu kemari. Tapi aromamu…” Daniel menghisap kulit putih leher pemuda itu dan menyeringai senang saat merasakan tubuh di bawahnya gemetar dan menegang. “…so alluring.

“Kupastikan hidungmu tidak bisa mengendus apapun lagi setelah ini, monster.” Geram Zhou Mi menunjukkan gigi-giginya, wajahnya merona sampai ke telinga.

Daniel terkikik dan melahap cuping runcing itu dengan gemas, tapi Zhou Mi tidak menyukai perbuatannya sedikitpun. Pemuda itu melipat kaki kanannya, sekuat tenaga bermaksud menyerang daerah di tengah selangkangan Daniel lagi—titik lemah monster itu seperti yang ia lakukan sebelumnya. Sayang, kali ini Daniel telah memprediksinya.

Pria itu menangkap lututnya dan menahannya tetap di tempat. Zhou Mi berusaha mendorong naik, namun tulang kakinya justru gemetar karena tidak bisa mengalahkan tenaga Daniel.

“Oh, tidak kaki lagi. Kau akan membutuhkan kakimu, sayang.” bisik Daniel sembari mendorong turun kaki pemuda itu. Ia meninggalkan satu kecupan di bahu Zhou Mi yang terekspos karena pakaiannya yang kebesaran, sebelum turun dari ranjang. Meski tampak diam dan tenang, Daniel tahu pemuda itu berharap bisa memecahkan kepalanya.

“Aku akan menemani tur pertamamu keliling Svarturland, setelah kakimu sembuh.” Daniel menyeringai, bermaksud melangkah keluar saat ia teringat akan sesuatu—Taecyeon.

“Ah!” ujarnya sembari berbalik lagi. “Aku berubah pikiran! Aku mau menghabiskan waktu denganmu hari ini. Jadi kita akan keliling istana hari ini. Kalau kakimu masih terlalu sakit untuk digunakan berdiri, tenang saja sayang, aku kuat menggendong tubuh kurusmu itu.”

Zhou Mi tidak punya kesempatan bahkan untuk mengumpat, Daniel kembali lagi ke sisinya dan tanpa basa-basi meraup tubuhnya ke dalam gendongan. Zhou Mi terhenyak, sontak memberontak dan mendorong dada itu menjauh dari wajahnya. Ia masih bisa mentolelir panggilan Tuan Putri, tapi diperlakukan seperti wanita tidak bisa lagi dikompromi.

“Turunkan aku, sialan!” Zhou Mi menghentakkan tubuhnya, tidak ingin berada di tengah kehangatan kulit monster yang menggendongnya itu. Tapi Daniel tidak bergeming, sekalipun Zhou Mi mendorong dagunya, menamparnya hingga tangannya sendiri memerah pedih. Pemuda itu mengerang marah, napasnya berpacu, saat melihat cuping abu-abu Daniel yang tampak rapuh, ia tidak berpikir dua kali dan langsung menggigitnya sekuat tenaga.

“ARGH!” Daniel memekik, kesakitan. Ia membanting tubuh Zhou Mi sebelum kupingnya putus digigit oleh pemuda itu.

“A-akh…” Zhou Mi mengerang, tidak sanggup berdiri. Hell, ia bahkan belum bisa menggerakkan pergelangan kaki kirinya! Pemuda itu tersungkur di atas lantai. Diusapnya bawah punggungnya yang berdenyut pedih.

“Hah! Kau tidak bisa jalan, kan! Berhentilah memberontak, aku hanya ingin membawamu jalan-jalan! Uh, kalau tulang ekormu terluka, kau tidak bisa memberiku anak! Jangan macam-macam lagi, Tuan Putri!” Daniel berjongkok disisi Zhou Mi, namun belum sempat ia mengangkat tubuh pemuda itu, Zhou Mi mengeram berbahaya.

Pemuda itu menunjukkan giginya dan bermaksud menggigit apapun yang bisa diraihnya dari Daniel.

“Uh~ Lihat kucing galak kita,” Daniel tertawa. Ia memanggil salah seorang orc penjaga yang menunggui mereka di luar ruangan. Monster hijau itu masuk, menunggu perintah dari Jenderal Perang itu.

“Berikan tali yang ada di pingggangmu itu.” Ujarnya sembari menyeringai, ia melirik kaki snowelf di hadapannya, masih kaku terbungkus gips. “Kakinya tidak perlu diikat.” Ujarnya sembari menggenggam tali tebal yang ditelakkan di tangannya.

Sesaat, Zhou Mi dan Daniel berperang pandangan. Meski Daniel masih mampu mempertahankan senyum nakalnya sedang Zhou Mi tidak kuasa menutupi amarahnya. Terlebih melihat dua utas tali di tangan monster itu. Keduanya terpaku seperti seorang pawang dan binatang menunggu kesempatan untuk saling menerkam. Sialnya, Zhou Mi kalah cepat. Rasanya ia baru saja berkedip, dan pria itu menyambar dan merangkul lehernya menggunakan satu lengan, cukup menahan pergolakan Zhou Mi yang memberontak menggunakan seluruh kemampuannya.

“Pertama… tangan nakalmu. UGH!” Daniel mengerang saat Zhou Mi menggigit dagu dan pipi kanannya. Ia berusaha mengikat kedua tangan Zhou Mi menjadi satu sembari menjauhkan wajahnya dari pemuda itu, namun Zhou Mi dengan ngotot memburunya.

“Ugh! Kau ini peri salju atau siluman kucing! Gigit sana gigit sini.” gerutu Daniel.

“Kemarikan wajahmu, bajingan! Biar kuberi ciuman!” Zhou Mi mengeram tertahan. Suaranya bergetar, matanya merah menahan malu dan amarah. Ia menunduk menatap tangannya yang terikat, pemuda itu mengangkat tangannya bermaksud menggigit tali itu saat tiba-tiba tali lain muncul di depan wajahnya dan dengan cepat tersimpul, membekap mulutnya dengan kasar.

“UGHMMM!!! GRRRMMMM!!! MMMHHHHMMM!!!”

Daniel berdecak dan menggeleng senang, tangannya gatal ingin mengusap pipi merah Zhou Mi yang menggembung saat pemuda itu berusaha berteriak dibalik bekapan mulutnya.

“Akan kutagih janji ciuman itu, Tuan Putri.” Daniel berjongkok di sisi Zhou Mi, ia meraup tubuh itu lagi dan menggendongnya erat-erat. Ditariknya kedua lutut pemuda itu merapat, memastikan sebelah kaki sehat Zhou Mi tidak merepotkannya. “Sekarang menurutlah, atau kuretakkan lagi tulang-tulangmu.” ancamanya tidak dihiraukan. Zhou Mi justru tampak lebih murka dibanding tadi. Pemuda itu mendelik padanya, tubuhnya memberontak meski tertahan. Daniel hanya tertawa senang; tahu acaman kematian tidak akan menakuti pangeran snowelfnya. Justru kematian lah yang diharapkan pangeran ini, dan Daniel menolak memberikannya.

“LLMMMHHHHHH!!!”

Daniel terkikik menahan tawa saat ia menunduk dan melihat betapa murkanya pangeran muda itu. Ia mengangkat Zhou Mi keluar, dan berjalan menjauh dari ruangan tadi. Tak berapa lama, pangeran itu sudah kelelahan dan memilih untuk diam menundukkan pandangan.

Zhou Mi mengatur napas, dadanya bergerak naik turun di balik kaus oblong tipis yang dikenakannya. Matanya memerah dan sedikit basah, sesekali dia mendongak melirik Daniel penuh kebencian. Tapi Zhou Mi segera sadar amarahnya hanya menguras energi dan pemuda itu memutuskan untuk mengalihkan perhatian dengan mengawasi tempat-tempat yang mereka lalui.

Di luar kamar, lorong gelap dan panjang menyambut mereka. Lalu langkah Daniel membawanya ke lorong-lorong lain, menurun, berliku, melebar, menyempit. Pemuda itu tercekat dalam hati menyadari penjara macam apa yang digunakan Daniel untuk mengurungnya.

Ini pasti di bawah tanah.

Zhou Mi harus berkonsentrasi mati-matian untuk menghapal jalan yang mereka lalui.

“Ini di bawah tanah,” Daniel seakan mampu membaca pikirannya. Zhou Mi segera berhenti melirik dan memutuskan untuk mengunci pandangannya setelah monster itu berbicara.

“Tapi kamarmu cukup tinggi untuk mendapatkan cahaya matahari. Kudengar bangsa peri butuh cahaya matahari.”

Zhou Mi mengumpat dalam hati.

Setelah berjalan sekian lama, mereka berhenti di hadapan sepasang pintu besar, nyaris serupa dengan pintu kamarnya sendiri. Dari dalam, ia bisa mendengar suara rintihan dan tangis laki-laki.

Snowelf lain?

Zhou Mi menelan ludah, bulu kuduknya berdiri membayangkan seandainya benar seorang snowelf berada di dalam ruangan itu. Suara rintihan dan tangis menyedihkan itu membuat Zhou Mi tidak sanggup membayangkan hal macam apa yang dilalui makhluk itu di dalam sana.

“Kujamin kau akan menyukai ini, Tuan Putri.”

Daniel dengan begitu pengertian menjawab kegelisahan hati Zhou Mi dengan membuka pintu besar itu. Saat terbuka cukup lebar, Zhou Mi diberi pemandangan yang sama seperti kamarnya, namun lebih banyak perabotan. Ranjang besar diletakkan di tengah ruangan, menjadi satu-satunya benda yang akan langsung menarik perhatian dari arah pintu. Seprai dan selimut digelar berantakan, di atasnya, sesosok makhluk menggeliat kesakitan. Kakinya yang gemetaran terlipat dan dilebarkan, sepotong selimut disampirkan untuk menutupi daerah diantara selangkangannya. Zhou Mi tidak bisa melihat lebih jelas kecuali sepasang kaki berkulit pucat yang mengingatkannya pada warna kulitnya sendiri.

Zhou Mi menahan napas, nyaris bisa mendengar suara degup jantungnya sendiri yang berpacu kuat saat dugaan terburuk memenuhi benaknya.

Tiga orang siluman Graentland mondar-mandir di ranjang itu. Sedangkan seekor monster dengan fisik serupa Daniel berdiri di sisi ranjang, memperhatikan pekerjaan tabib-tabib itu dengan tampang serius hingga ia menyadari kehadiran Daniel.

“Hyung?”

“Taekkun, Tuan Putri ingin melihat Snowelfmu. Dia perlu belajar banyak sebelum melahirkan bayinya sendiri.” ujar Daniel sembari menggendong Zhou Mi mendekati ranjang, lebih dekat untuk memastikan seluruh dugaan buruk pemuda itu menjadi kenyataan.

Zhou Mi tercekat. Suara rintih dan tangis yang didengarnya menghilang untuk sesaat. Ia bertemu pandang dengan sosok yang berbaring gemetaran dan kesakitan di atas ranjang.

M-M-Miii?

“Huh, Princess? Kalian saling kenal?” Daniel terkekeh tidak percaya. Hanya butuh sepersekian detik setelah melihat respon Zhou Mi dan snowelf itu untuk menyadari semuanya. Tidak, keduanya bukan sekedar saling mengenal, Daniel bisa merasakan ikatan kasat mata diantara mereka.

Mendengar nama kecil yang berbisik menyakitkan dari bibir berkeringat Snowelf milik adiknya, membuat Daniel dengan cepat menyimpulkan; Mereka pasti akrab. Daniel tidak menyangka hal iseng yang direncanakannya berlipat dua kali lebih menyenangkan. Pangeran di hadapannya tidak merespon, pemuda itu terpaku memandangi sosok di atas ranjang.

Zhou Mi nyaris tidak mengenali suara itu. Tapi ia mengenali wajah itu. Ia mengenali sosok itu. Sekalipun terbaring dengan penampilan asing yang sama sekali tidak diingatnya, Zhou Mi tetap mengenalinya.

Zhou Mi menggeleng, gemetar. Ia menatap wajah dan perut sosok itu bergantian, ingin berpikir kalau pemandangan itu hanya tipuan untuk mengelabuinya.

“A-AAAKHH! AAAAAAHHH!” Sosok itu menangis dan mengerang, meremas pinggul dan melebarkan kedua kakinya saat tubuhnya diserang gelombang menyakitkan. Perut buncitnya berkedut di balik gaun putih tipis yang basah, begitu tipis hingga gaun putih itu seakan membaur dengan kulit pucatnya. Keringat yang membasahi sekujur tubuhnya hanya semakin mempertontonkan tubuhnya seperti telanjang.

Zhou Mi terpaku, matanya membulat besar nyaris menggelinding keluar melihat pemandangan itu.

“Akan kulepaskan asal kau janji tidak menggigit apapun, setuju?” Daniel berbisik sembari menurunkan pemuda itu. Dilepasnya bekapan mulut Zhou Mi perlahan, jejak tali yang kemerahan membekas di kedua pipi pemuda itu. Daniel lalu memeluk perut Zhou Mi dari belakang dan membiarkan pemuda itu bersandar padanya. Zhou Mi bahkan tidak memberontak lagi. Daniel dengan senang hati membantu pemuda itu berdiri dan menyaksikan semuanya lebih jelas lagi.

“Hooo, sudah kuduga snowelf secerdas ini bukan prajurit biasa. Siapa dia, Tuan Putri? Putra Mentri? Keluarga Raja? Sepupumu?” suara Daniel berbisik lembut sembari mengecup tengkuk Zhou Mi. Melihat kepedihan yang terpancar dimata snowelf dalam rengkuhannya membuat jantungnya berdegup kencang, terlalu senang sampai bulu kuduknya meremang.

“N-Nichkhun?” Zhou Mi gemetar, akhirnya menemukan suaranya lagi meski beberapa detik kemudian bibirnya bergetar kelu.

K-Kupikir kau gugur di medan perang…’ Zhou Mi ingin sekali mengatakannya. Namun lidahnya mati rasa. Memori-memori yang dilaluinya bersama sosok itu berlalu bagai kilasan-kilasan menyakitkan. Setahun yang lalu mereka masih menghabiskan waktu bersama, mengeluhkan hal yang sama, menggemari hal yang sama. Sahabatnya sesama beta, sahabatnya berbagi satu meja di akademi, satu-satunya orang di seluruh daratan Hviturland yang mengenalnya lebih dari siapapun…

Zhou Mi masih bisa mendengar suara penuh semangat Nichkhun setahun yang lalu, yang berjanji untuk kembali dan menikahi seorang omega yang dikencaninya dua tahun terakhir, berjanji akan pulang dengan membawa kemenangan…

‘DAN KAU BERAKHIR MENJADI JALANG DI NEGRI MONSTER INI?!’ Zhou Mi menahan napasnya, sekuat tenaga menelan amarahnya yang sudah membumbung di ujung kerongkongan. Ingin sekali Zhou Mi meneriaki Nichkhun, menangis di atas tubuhnya, dan membantunya bunuh diri. Bagaimana mungkin ia sanggup bertahan hidup dengan membiarkan parasit itu tumbuh di dalam perutnya?

“M-Mi… tolong aku, a-argh.”

Zhou Mi gemetar mendengarnya, terpaku tanpa sanggup melakukan apa-apa. Snowelf berambut pirang itu tercenung begitu lama, kesulitan mencerna pemandangan yang diterima matanya dan memori yang diputar otaknya sekaligus.

“Hyung lihat, kan? Beta-ku lebih cantik! Lihat wajah kesakitannya!” Taecyeon duduk di sisi Nichkhun dan dengan bangga mengusap pipi berkeringat beta itu, ia bahkan mengabaikan kata-kata aneh yang diucapkan Nichkhun pada Zhou Mi. Kulit dingin dan suara erang kesakitan Nichkhun justru membuat Taecyeon menyeringai makin senang.

Daniel mendengus, tidak ingin kalah dipamerkannya Zhou Mi sembari dikecupinya bahu pemuda itu. “Hah! Beta-ku lebih cantik. Dia tidak akan merintih seperti wanita saat melahirkan nanti, nde Princess?”

“HYUNG!” Taecyeon menggerutu.

“Aku yakin kau masih ingat rupa sahabatmu sebelum dia berakhir disini.” Daniel ingin sekali tertawa, menyukai bagaimana tubuh Zhou Mi gemetar dalam rengkuhannya. Pemuda itu terpukul, dan Daniel menikmati setiap detiknya.

“Lihat tangannya. Dadanya. Pinggulnya.” Daniel berbisik dari balik tengkuk Zhou Mi, sebelah tangannya mengusap perut kokoh Snowelf itu. Sementara tangan kiri Daniel menunjuk Nichkhun, menunjuk sisa-sisa kekokohan otot seorang prajurit yang berbekas di lengan dan bahunya, kekokohan yang memudar, Zhou Mi pasti tidak akan mengenali sahabatnya jika monster-monster ini memutuskan untuk merusak wajah Nichkhun.

Urat-urat perut Zhou Mi mengencang tegang, entah karena sentuhan Daniel atau karena pemandangan Nichkhun yang terbaring di hadapan mereka.

“Semua bagian itu proporsi yang sempurna, prajurit beta negaramu benar-benar breeder terbaik kami. Wanita dari ras lain tidak akan cukup tangguh untuk menampung seorang bayi Svarturman selama setahun penuh. Sahabatmu berhasil melewati dua belas bulan dengan tubuh tetap utuh. Dia yang terbaik dan hanya kau yang akan mengalahkan prestasinya.” Daniel memeluk Zhou Mi gemas dan bangga, hatinya berbunga-bunga, tidak sabar ingin segera dihancurkannya Pangeran Snowelf dalam rengkuhannya itu. “Kau akan berakhir dengan kondisi yang sama. Ah, tapi mungkin lebih seksi, hm?”

“NICHKHUN LEBIH SEKSI!” Taecyeon berseru tidak terima.  Tacyeon dan Daniel sibuk mendebatkan hal lain. Seakan dua kakak beradik itu berada di dimensi yang berbeda dari Nichkhun dan Zhou Mi.

Kedua beta itu saling bertatapan. Nichkhun terisak, tidak kuat menahan sakit di tubuhnya sekaligus pandangan Zhou Mi yang semakin lama berubah dingin.

“T-Tolong… Mi—”

Zhou Mi membuka mulutnya, untuk sesaat kebingungan menyusun kata-kata. Ia mengatup mulutnya, lalu membukanya lagi, kali itu hanya lirih suara berbisik yang keluar dari bibirnya.

“Hanya kau yang bisa menolong dirimu sendiri, Khun-ah.” Zhou Mi menahan buncahan emosi itu kuat-kuat, matanya memanas. “Kalau kau masih mencintai Hviturland, Nichkhun. Bunuh dirimu sendiri.”

Zhou Mi mengatakannya dengan lirih, namun ucapannya berhasil membuat setiap orang di dalam ruangan itu terkesiap.

“Uhhh Princess?!” seru Daniel kaget, tapi pria itu masih bisa tertawa. Di peluknya Zhou Mi menjauh sebelum Taecyeon yang mendelik di sebrang ranjang bermaksud mengamuk.

“Beraninya kau membiarkan parasit itu hidup di dalam tubuhmu, Khun-ah.” Zhou Mi gemetar, masih berusaha memandang Nichkhun sekalipun Daniel menyeretnya menjauh. Zhou Mi memberontak, berbalik, bermaksud meraih ranjang. Ia harus meraih Nichkhun, ia akan membantu sahabatnya untuk membunuh parasit itu.

“M-Mi.” Nichkhun terpaku. Sakit di sekujur tubuhnya digantikan oleh rasa pedih yang lain saat dilihatnya wajah merah Zhou Mi menatapnya benci. “A-Aku tidak— a-ahng!“ suara Nichkhun terputus oleh erangan. Ia ingin menjelaskan, ia harus menjelaskan rencananya pada Zhou Mi! Tapi rasa sakit di sekujur tubuhnya terus-terusan menyela.

“Nichkhun, kau lupa pada sumpahmu?! Aku mengabdi untuk Hviturland, aku hidup untuk Hviturland.” Zhou Mi nyaris memekik saat mengucapkannya. Jika Nichkhun terlupa, ia bersedia mengingatkannya. Dengan mata basah yang merah ia mengulangi sumpah mereka, sumpah yang mereka ucapkan bersama di bawah singgasana raja, di bawah pandangan ratusan mata bangga.

Darah, daging, tulangku milik Hviturland!” Zhou Mi mengayun kaki kanannya, menendang orc yang berusaha membantu Daniel untuk menjagalnya. Daniel memeluk pemuda itu kuat-kuat, separuh memaksa dihentaknya tubuh pemuda itu hingga terangkat di udara. Kedua kaki panjang itu melayang kesana-kemari, memberontak.

“KAU MILIK HVITURLAND, NICHKHUN! KAU MILIK AYAHKU! B-Beraninya—“ tangis dua orang pecah di ruangan itu. Nichkhun gemetaran memandang sahabatnya, sorot pedih pemuda itu berubah menjadi ketakutan aneh. Ucapan Zhou Mi seakan merasuk ke dalam alam bawah sadarnya, sedang Zhou Mi meraung karena amarah yang meluap di dadanya, hatinya panas, matanya panas, segalanya terasa panas.

Daniel menyesal memutuskan tidak mengikat kedua kaki panjang Zhou Mi. Pemuda itu menghentak dua kali dan nyaris kembali lagi ke ranjang Nichkhun. Sekuat dan secepat itu, seakan luka di ujung kakinya menghilang terbawa angin. Gips yang dikenakannya retak berceceran di lantai, luka di pergelangan kakinya terbuka lagi dan darah mulai menetes. Tapi Zhou Mi seakan tidak merasakannya.

“Masih ada waktu untuk membunuhnya! Bunuh dia, Khun-ah!”

“Oh, hyung! Dia sudah keterlaluan. Bawa dia pergi!” Taecyeon mengerang, sibuk merangkul Nichkhun yang bahkan tidak sanggup lagi bersuara.

“BUNUH DIA, NICHKHUN!” Zhou Mi meraung, suaranya menggema hingga Daniel menyeretnya keluar.

“BUNUH DIRIMU UNTUK HVITURLAND!”

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

A/N: Have a questions? Visit our facebook page or Line account!

22 thoughts on “Cursed Crown – Chapter 18

  1. Masih bingung sama bau yg keluar dari tubuh sungmin, itu pertanda baik atau buruk takut ada apa” sama kehamilannya. Terus yg dimaksud sama junsu itu apa? Apa yg udah dilanggar sama kangin?. Dan sampai skrng masih gabisa ngebayangin zhoumi hamil hahaha xD biasanya henry yg kebagian hamil eh skrng malah zhoumi wkwk. Semoga aja entar daniel nya bisa berubah terus jd cinta sama zhoumi. Dan pada akhirnya seluruh klan bisa bersatu dgn damai. Dan kyumin hidup bahagia selamanya dgn anak mereka kelak. The End. Tamat kkkk

  2. Lian says:

    ceritanya semakin seru deh.. 👍
    duh.. greget banget sama sungmin.. sumpah… polosnya gak ketulungan.
    kalo aku kadi kyuhyun udah aku penyet penyet tuh snowelf mmphhhahaha bercanda2.. kkkkk
    semoga aja daniel beneran cinta sama zhoumi,begitupun sebaliknya.
    terus punya baby,hidup bahagia deh kkkk

    keep writing thor.. cepet update yak…. 😁
    u r the best! fighting!

  3. Mudah2an ga terjadi apa2 sama Mi. Btw, maksud kyu tadi min bau manis? Penasaran sih sama penyakit leeteuk. Pengen liat min jadi dewasa.. Tapi kalau dia ga ngambek2 jadi ga lucu lagi😀
    Thanks for the update.. See you next chap… ^^

  4. Nana Cho says:

    Dimulai dgn kyumin yg so sweet & diakhiri dgn nasib zhoumi & nickhun yg so sad…
    Hukum apa yg udh dilanggar ama kangin ?
    Ampe leeteuk sekarat….Apa leeteuk tau ?
    Curcolny Yunho nyempil ditengah2…kirain yunho tuh berhati es ternyata dia bs sedih jg….
    Berharap bs happy end bt semua cast…

  5. Wow, finally really. Ngga nyangka bakal update cpet. Tapi agak bingung nih sama latar waktunya, kemren kan pas changmin ke kamar zhoumi, dia udah ilang 3 bulan, nah kirain ku zhoumin udh 3 bulan di svaturland (iya kan ?) Tp itu bru 2 hari

  6. Oh my god.. Sumpah sampe kayak masuk di dunia mereka baru sadar pas ada tbc.. Kereeenn bgt sumpah..
    Berharap bgt ini bakal di jadiin buku kalo uda selesai.. Kereeenn bgt.. Kasian nichkhun&zoumi..😦

  7. nadia says:

    ga kuat membayangi dari awal sampai akhir/? keren buat chapt yang ini, ternyata ada nicku-taech couple. ga nyangka klu bakal ada, semangat nulis sampai the end :))

  8. melaa says:

    Hadeeeeh gregetan sama ming = ̄ω ̄= kyu makin mesum aku tambah naksir o(^^o) ada apa dengan kangin dan iteuk???? Penasaran…. apa tujuan nichkhun hamil??? Kapan zhoumi yang iya iya sama daniel? Banyak omong maafkan O(∩_∩)O

  9. Wah nggak bisa bayangin Nikhun hamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiil.. Zhoumi jugaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Tapi, what ever lah. Yang penting Sungmin hamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiil……

  10. cassinta. lg bete sm kangin says:

    Okeyyy w mau berspekulasi disni. #plak! Kyknya si kang in emang scra ngga sadar. Udh melanggar sesuatu dan akhirnya berakibat sm leeteuk,mungkin berhubungan sama sm istri kang in yg dulu.hoho dan anak nya sungmin bisa jadi bukan anak biasascara sungmin jg bukan mahkluk biasa… Negri bar bara ntu terobsesi sm beta,bukan krna mau blas dend tp emang niat mau buat generasi penerus bangsa yg bagus2.. Dan wowo zhoumi cintanegaranya.. Stay strong zhoumi !!! *kibar bendera hviturland

  11. kyume801 says:

    aku suka setiap moment daniel ama zhoumi.. dan merinding tadi pas baca bagian nickhun.. gak bisa bayangin dan gak mau bayangin nasib beta yg ada di negeri itu TT.TT mengerikan.. mimi weeehhh
    .
    hvit sama svat cepetan temu di medan perang gih.. dan kabar negeri biru gmna? gk ada lnjutannya setelh bntu siwon. tu negeri kayaknya aman dari perang ya?? negeri merah juga..
    dan itu tabib svar dari greatland.. jadi svar juga culik warga greatland ya? atau mereka sekelompok? hvit juga bakal perang ama greatland kah pas tau shengmin diculik guixian? lalu radourland mau bela siapa jika tu dua negeri perang?
    asdfjhfsaa
    .
    kyu ama ming tetep otp disini.. ming yg ngambek kalah ama ‘itu’ kkkk
    dan bayi itu direwolf bneran kan? kayak kyu dan kangin.. gak sabar pengin liat baby kyumin.. saudari2 kyu juga kagak nongol lagi…
    kangen keluarga kerajaan negeri merah

  12. Apa bau dri tubuh min itu karna babynya berwujud darewolf sma kya kyu ma kangin…
    Teryata ada sosok lain slain zhou di negri monster… ksian akli nickhun smpai hamil anak monster.. apa nanti klo abis nglahirin nickhun akn mati.. atau mlah jdi ibu dri ank2nya taec… oke sllu smngat buat authournya… amoga sglanya lancar baik reallife atau pun ffnya

  13. Cherrysoo says:

    baru bisa riview TvT huhuhu kyumin moment nya emang selalu wow ><

    ngeri ngebayangin kondisi nickhun yg lagi lahiran TvT dan aku ikut syokkk denger zzhoumi ngomong gitu TvT emakkkk ga taulahhh di chapter ini nano nano TvT ada sweet nya,ada seneng nya ada kesel nya ada ngeri nya…good job author-author nim yg kece badaiii di tunggu next chap yg selalu bikin hati ane nanonano😀

    oh iya aku ganti nick name :v yg td nya wifeleeteuk jdi Cherrysoo :v *gaAda yg nanya* :v Kkkkk

  14. Cherrysoo says:

    baru bisa riview TvT huhuhu kyumin moment nya emang selalu wow ><

    ngeri ngebayangin kondisi nickhun yg lagi lahiran TvT dan aku ikut syokkk denger zzhoumi ngomong gitu TvT emakkkk ga taulahhh di chapter ini nano nano TvT ada sweet nya,ada seneng nya ada kesel nya ada ngeri nya…good job author-author nim yg kece badaiii di tunggu next chap yg selalu bikin hati ane nanonano😀

    oh iya aku ganti nick name :v yg td nya wifeleeteuk jdi Cherrysoo :v krikkrikkrik *gaAda yg nanya* :v Kkkkk

    pokok nya Big love buat duo author kece ini..

  15. Hai author-nim berdua🙂 udah lama nih belum update…kangen sama cerita ini. Btw aku sebenernya udah komen di fanfiction.net tapi mau komen juga disini LOL
    Cerita ini sukses lho bikin aku jadi shipper TaecKhun dan DanMi…hehehe makanya udah kangen banget nih sama mereka😉

    ini ada foto untuk penyemangat author biar semangat nulis lagi~ Fighting!😀
    Ps: jangan bunuh Nichkhun please~ klo bisa pengen lihat TaecKhun punya keluarga bahagia spt gambar di atas LOL

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s