Cursed Crown – Chapter 20

“Makanmu banyak sekali ya? Pantas saja badanmu jadi sebesar itu. Dasar gendut!”

Suara cekikikan dan tawa anak-anak perempuan bergema di dalam otaknya saat ia mengunyah daging dalam mulutnya malas-malasan. Ya, sudah beberapa kali ia bertemu dengan keponakan hyungnya di suatu tempat di kerajaan dan dicaci maki seperti itu. Karena mereka memang tinggal dalam satu bangunan, sudah tentu mereka kerap bertemu.

Anak-anak itu memang tidak berani menghinanya selama di ruang makan, dan Sungmin lebih sering memilih makan di dalam kamarnya daripada bergabung dengan keluarga besar mate-nya. Biasanya ia cuek dan tak peduli, namun belakangan dengan perutnya yang bertambah gendut berkat ulah baby yang hidup dalam tubuhnya, tatapan sinis noona-noona Kyuhyun-hyung semakin jelas dan membuatnya merasa tak nyaman. Belum lagi bisik-bisik bocah-bocah itu.

Ia bahkan mengelak saat Lizzy memanggilnya dan mengajaknya bicara, karena ia takut Lizzy juga akan menanyakan hal yang sama. Padahal makannya tidak banyak, sungguh.

“Min-ah?” Ayunan tangan pemuda berambut ikal di depan wajahnya itu menyadarkannya dari lamunannya. Sungmin menatap orang yang duduk di hadapannya itu.

“Kau sedang memikirkan apa? Daritadi kau berhenti makan.” Tanya pemuda itu sambil mengunyah makanannya.

Sungmin melirik piringnya lalu menjawab. “Sudah mau habis kok.”

Kyuhyun mendengus. “Apanya yang mau habis? Masih ada dagingnya tuh… lalu sayurannya, kau harus makan juga.”

Sungmin menjulurkan lidahnya jijik. Sayuran olahan yang rasanya aneh itu… bahkan sayuran di Hviturland tidak seaneh ini rasanya. “Aku tidak mau lagi.”

TAK!

Sungmin berjengit saat Kyuhyun meletakkan sumpitnya dengan kasar. Pemuda itu mendelik marah padanya. Sudah dua minggu ini Kyuhyun memperhatikan sikap Sungmin, dan bagaimana matenya makan sangat sedikit belakangan ini. Sungmin benar-benar membuat Kyuhyun berpikir bahwa Snowelf itu sedang diet.

Memang terkesan kejam, tapi Sungmin dan calon bayi mereka membutuhkan gizi yang cukup. Sungmin hampir tidak mau makan apapun selain daging sejak ia mengandung kalau tidak karena paksaan Kyuhyun. Yah, sebelumnya juga begitu sih…

“Habiskan Sungmin-ah.” Nada suara Kyuhyun tegas dan dingin.

Dengan mood yang tidak stabil belakangan ini, Sungmin dengan cepat terisak. Matanya berkaca-kaca sambil merengut, menatap piringnya karena takut melihat wajah Kyuhyun.

“Kau harus mengirit airmatamu, karena sia-sia kau meneteskannya untukku. Itu sudah tidak mempan lagi. Angkat sumpitmu. Sekarang.”

Sungmin terisak, tapi juga separuh geram mendengar Kyuhyun berani mengancamnya. Pemuda itu menyentak piring makanannya ke lantai, suara kelontang piring perak terdengar, daging dan potongan sayur mengambur berantakan.

Kyuhyun mendelik, berkedip sekali, tidak percaya Sungmin baru saja melemparkan piring makanan itu.

“Kau—” Kyuhyun mendesis, ingin melontarkan makian namun berhasil ditahannya. Pemuda itu memilih meremas lengan dan menarik Sungmin hingga berdiri, sedikit kasar, namun juga diperhitungkannya baik-baik agar tidak berdampak pada perut Sungmin. Kyuhyun meremas lengan gemuk Sungmin dengan sebelah tangannya, menggunakan tenaga lebih dari yang pernah digunakannya untuk menyentuh Sungmin. Pemuda itu yakin sekali ia akan meninggalkan memar di lengan mate-nya nanti, tapi sekarang hukuman lebih penting.

“SAKIT TAHU!” Sungmin menyentak tangannya marah, meski gagal membebaskan diri. Kyuhyun meremas terlalu kuat. Sungmin merintih, kali ini bukan untuk mendapatkan iba Kyuhyun, tapi sungguh-sungguh karena sakit yang menjalar di lengannya

“Kulepas setelah kau janji membersihkan makanan yang kau hamburkan di lantai dengan tanganmu sendiri.”

Sungmin mendelik mendengarnya. “Kau pikir aku pelayan?!”

Kyuhyun meremas kaki meja dengan tangan kirinya, mengatup bibirnya sebentar, menahan diri menunjukkan ekspresi.

“Memang bukan. Kau Pangeran, dan suatu saat akan jadi Ratu. Kau akan bertanggung jawab untuk kekacauan yang kau timbulkan.” jelasnya kaku.

“LEPAS!” Sungmin berseru. Mendelik dengan mata merah yang basah. “Lepas hiks!”

“Setelah kau berjanji.”

“TIDAK MAU. TARIK TANGANKU SAMPAI PUTUS.” Sungmin membalas sengit, wajahnya merah dari kening hingga ke dagu, masih mendelik dengan wajah berlinang airmata.

“Kau hanya perlu membersihkan lantai itu dan kuanggap selesai.”

“TIDAK MAU!”

“Atau kau mau pilih hukuman yang lain?”

“TIDAK MAU!”

“Jadi membersihkan lantai?”

“COBA PAKSA AKU.” Sungmin menantang.

“Kau ingin membersihkan lantai atau menghabiskan makanan yang ada di piringku. Pilih hukumanmu salah satu.”

“TIDAK MAU!”

“BERSIHKAN LANTAI ATAU MAKAN, SUNGMIN-AH!” Kyuhyun mengguncang Sungmin, cukup kuat hingga tangis pemuda itu pecah.

Sungmin berdiri lemas, ingin berlutut dan meratap semalang mungkin. Tapi Kyuhyun menahannya tetap berdiri, sebesar apapun Sungmin berusaha melemaskan separuh tubuhnya.

“PILIH SALAH SATU!” bentak Kyuhyun membuat Sungmin tersentak dan cepat-cepat menjawab ketakutan. Suara-suara ribut ini mungkin terdengar oleh pelayan dan penjaga di luar sana, tapi putra mahkota itu tidak peduli. Mereka tidak  akan berani masuk dan ikut campur urusannya dan Sungmin.

“A-Aku mau makan! Huaaaaanggggg! Eommaaaa!”

Kyuhyun mendengus, ingin tertawa sekaligus merasa iba. Ia melemaskan remasan tangannya, menurunkan genggamannya sedikit lebih rendah menghindari daerah yang diyakininya sudah memar. Di tariknya Snowelf itu untuk mendekat ke tempat duduknya tadi lalu menarik piring makannya yang masih bersisa.

“Buka mulutmu.” Perintahnya sembari menyodorkan sesuap penuh daging madu. Sungmin terisak, namun menurut, membuka mulutnya ogah-ogahan. “Yang lebar.”

Sungmin sontak mendongak, membuka mulut lebar-lebar. Airmatanya berlinangan dan tatapannya berputar kemana-mana menghindari mata Kyuhyun.

“Aku mau duduk…” bisik Sungmin sembari sesekali terisak. Kakinya terasa lemas, ia mengunyah tanpa energi. Potongan daging itu ada di mulutnya sejak semenit yang lalu dan tidak juga ditelannya.

“Tidak, kau jadi malas kalau duduk. Berdiri tegak, biar makanmu segera selesai.”

“Aku mau duduuuk!” Sungmin merengek, tapi Kyuhyun malah meremas kedua bahunya memerintahkan Sungmin berdiri lebih tegap.

“Berdiri bagus untukmu, Sungmin-ah. Kau terlalu banyak duduk, baby bisa lahir pemalas.”

“BABY TERUS!”

Kyuhyun ingin tertawa, tapi sekali ia kelepasan melakukannya, itu akan memberi aba-aba Sungmin untuk membangkang. Kyuhyun mengangkat lagi sesendok penuh makanan sembari memasang tatapan tegas yang membuat Sungmin mau tidak mau membuka mulutnya, terus berulang-ulang hingga separuh isi piring Kyuhyun tadi berkurang.

Kamar itu berubah sunyi. Suara yang terdengar hanya isak kecil Sungmin dan perintah ‘Aaaa!’ pelan Kyuhyun setiap kali Sungmin mencoba menolak suapan makanannya. Sungmin mengunyah lama, dengan sengaja tentu saja. Pikirnya Kyuhyun akan segera bosan dan kesal, tapi Kyuhyun menunggu dengan sabar, menyuap sendok demi sendok, hingga Sungmin tersentak kaget.

Pemuda itu berdiri membatu, tatapannya membeku, mulutnya masih penuh makanan namun ia berhenti mengunyah. Kyuhyun ikut tertegun, sedikit ragu dan mencurigai ini salah satu trik Sungmin untuk mengerjainya. Tapi saat pemuda itu berpaling horror padanya, tangisnya pecah dan ekspresinya sarat ketakutan.

“H-HUAAAAAANG!”

“Kau kenapa lagi?!” Kyuhyun berseru frustasi, kesulitan percaya bahwa ini bukan akal-akalan mate-nya.

“B-baby!” Sungmin buru-buru mengatup perutnya, ekspresinya dipenuhi terror. Kyuhyun sontak menjatuhkan sendoknya, berubah serius saat Sungmin memegangi perutnya sambil menangis.

“Kenapa? Perutmu sakit? Keram?” Kyuhyun mengecek, menyentuh kesana-kemari.

“B-Baby ingin merobek perutku! H-Hyung-ah- Bagaimana ini!” Sungmin gemetaran. Ia berpegang pada hyungnya dengan tangan dingin berkeringat. “Bagaimana ini. Huaaaa!”

Kyuhyun menyingkap pakaian Snowelf itu lalu menatap perut matenya dengan mulut menganga, sesaat kesulitan mencerna situasi. Tangis histeris Sungmin nyaris membuatnya percaya bahwa bayi mereka tengah mencoba merobek perut ibunya, apalagi mengingat aroma direwolf yang terus mengikuti matenya… lalu hentakan lembut pelan muncul di sisi kanan perut Sungmin

DUG.

Awalnya samar, terlalu lembut. Kemudian kuat, jelas, dan bertubi-tubi. Terasa seakan menembus menyentuh telapak tangannya.

DUGDUGDUGDUG!

Sungmin berjengit tiap satu kali hentakan itu terasa di kulit perutnya.

“T-tuh kan! D-dia sedang merobek perutku dari dalam! H-HYUNG!”

Kyuhyun menahan napas, ingin menangis menyadari ia baru saja merasakan tendangan pertama bayinya. Tapi saat ia mendongak menatap wajah Sungmin yang ketakutan akan hal lain, Kyuhyun tidak bisa lagi menahan diri. Tawanya pecah.

“OH, SUNGMIN-AH. Kau-PPFFFTT. BUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!”

“H-hyung?” Sungmin sesenggukan, airmatanya berlinangan. Melihat Kyuhyun menertawainya membuat tangisnya padam, pemuda itu memandang hyungnya bingung, lalu tawa Kyuhyun mulai menyinggungnya.

”Dia tidak akan merobek perutmu, Min-ah. Jangan panik lagi! Hahahaaa!”

“Jangan tertawa hyung! Aku takut! Rasanya aneh sekali! Hueeeeeeeeeeeeeee!”

“Ini sama sekali tidak aneh, chagiya. Semua baby pasti akan bergerak begini setelah umurnya cukup.”

“Aku tidak suka!”

“Kenapa kau tidak suka? Itu artinya baby sehat, Min-ah.” Lalu sebuah ide nakal muncul dalam benak Kyuhyun. “Atau mungkin dia marah padamu karena kau jarang makan dan dia kelaparan.”

Sungmin mendelik, termangu dengan bibir gemetaran. Pemuda itu mengedipkan mata basahnya berkali-kali.

Kyuhyun mendengus, merasa geli dan iba bersamaan. “Atau dia marah padaku. Karena meremas tangan eommanya.” Suara dan pandangan Kyuhyun melembut. Ia menggulung lengan baju Sungmin lalu menghela napas melihat jejak gelap di lengan pucat itu. “Lihat, gara-gara ulahmu tanganmu jadi memar.”

Sungmin mendelik. “ULAHKU KAU BILANG? Tunggu sampai Kangin Appa tahu soal ini!”

“Oh?! Sejak kapan kau akrab dengan Appa?” Kyuhyun menautkan alisnya dan tertawa kecil.

“A-Akan kuadukan pada Appa!” Sungmin mengangkat sebelah lengannya, menunjuk ruam yang melingkari lengannya sambil terisak-isak. “Lihat! Tanganku memar, hueeee! Hyung kasar padaku, akan kuadukan pada semua orang!”

“Oh, Sungmin-ah.” Putra mahkota itu menghela napas lelah. “Kalau kau menangis terus nanti aku tidak akan membawamu ke festival!”

“Festival???” tangis Snowelf itu spontan terhenti, Sungmin menatap mate-nya dengan mata besar yang masih berkaca-kaca.

‘Aish.’ Kyuhyun hampir saja menepuk jidatnya sendiri. Ia tidak berniat mengajak Sungmin yang dalam keadaan hamil keluar dari lingkungan kerajaan, sedikit jauh ke perbatasan. Bisa-bisanya ia mengutarakan hal itu tanpa sengaja.

“Hyung! Festival apa? Yang dulu itu ya, yang pernah kita datangi? Atau yang lain?” Melihat Kyuhyun tak menjawab deretan pertanyaannya, Sungmin melanjutkan ocehannya kembali. “Hyung aku mauuu! Aku mau pergi ke festival! Aku bosan di sini!”

“…kalau begitu habiskan makananmu.” Gumam pangeran itu setengah berharap agar Sungmin kembali berulah dan tidak mau menghabiskan makanannya agar ia tidak perlu membawa matenya pergi.

Sungmin mengerutkan wajahnya jijik, benar-benar tak berselera melihat isi piring itu. Tapi dia meraih sumpitnya lagi, membuat Kyuhyun cukup percaya. Sungmin menyumpit sejumput sayuran dan menariknya dekat ke mulut, lalu melirik Kyuhyun.

“Iya aku habiskan…” Snowelf itu merengut, namun tetap memakan sayuran tadi, mengunyahnya dengan wajah tak bahagia sambil sesekali menatap Kyuhyun.

“Kapan kita perginya hyung??” Tanyanya penuh harap sambil mengunyah, menggerak-gerakkan kakinya penuh semangat, sama sekali lupa akan terror yang baru saja ia rasakan.

Kyuhyun mengatup bibirnya kaku sebelum menjawab pelan, merasa kalah.

“…Habiskan dulu semuanya.”

.

.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

.

.

 

“Hyung! Hyung!! Apa itu? Waktu kita ke sini tidak ada benda itu!”

Begitu tiba di area festival itu menggunakan kereta kuda kerajaan, Sungmin dengan semangat menarik tangan Kyuhyun sekuat tenaganya menuju suatu bangunan yang menarik perhatiannya. Beberapa pengawal mengikuti mereka sambil menjaga jarak agar tidak terlalu menarik perhatian. Pasangan muda itu melewati keramaian pengunjung festival yang mungkin tidak mengetahui bahwa itu adalah pangeran mahkota Radourland dan mate-nya karena Kyuhyun berusaha sebisanya agar tidak menarik perhatian dengan mengenakan pakaian biasa dan menyembunyikan baunya.

Mereka berhenti di sebuah tanah lapang. Sungmin kegirangan, matanya mendelik penuh semangat. “Aku mau naik ituuu!”

Kyuhyun mendongak ke arah yang ditunjuk oleh mate-nya. Sebuah wahana berukuran besar menyerupai benteng dan monster yang dilengkapi dengan perosotan dan lorong-lorong. Tentu saja hanya ada anak-anak yang bermain di tempat itu. Kyuhyun melirik perut besar Sungmin lalu menjawab dengan tegas.

“Tidak, kau tidak boleh naik wahana itu.”

Sungmin sontak menoleh tajam ke arah Kyuhyun, menatap tak percaya terhadap apa yang barusan ia dengar.“KENAPAAAAAA?”

“Nanti setelah baby lahir, baru boleh naik itu. Hyung akan ajak ke festival lagi, oke Sungmin-ah?”

Sungmin menampik tangan Kyuhyun dari rambutnya. “Tidak mau! Minnie maunya sekarang!”

Kyuhyun melirik kesana kemari, lalu mencoba membujuknya lagi. “Nah kita kesana saja. Kau mau permen kapas kan?”

“Tidak mau permen kapas! Minnie maunya naik itu!” Remaja yang setinggi dadanya itu menghentak-hentakkan kakinya kesal. Kyuhyun langsung menahan bahunya. “Jangan menghentak-hentak kaki, Min!”

Wajah Sungmin memerah kesal. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan membuang muka. “Semua tidak boleh sama hyung!” Omelnya.

Pangeran mahkota itu menghela napas. “Sungmin-ah, maafkan hyung… nanti kalau baby sudah lahir kita akan main apapun yang kau mau. Ya? Ayo kita ke tempat lain saja sekarang.” Ia mencoba mendorong punggung Snowelf itu, namun Sungmin tidak bergeming.

“Kau pangeran bungsu Hviturland, kan? Apa yang akan orang katakan kalau kau memainkan permainan anak-anak seperti ini? Ini lebih pantas dimainkan oleh… bocah-bocah ingusan seperti Maora dan yang lainnya. Bukankah kau bilang kau sudah dewasa?” Kyuhyun mencoba memancing Sungmin dengan nama keponakannya yang tidak disukai Sungmin.

Sungmin makin merengut, memajukan bibirnya dengan ekspresi tak senang. Tapi Kyuhyun tahu ia mendengarkan. Putra bungsu raja negeri merah itu mencoba sekali lagi. “Permainan kesukaan hyung… menangkap ikan hias dari kolam. Kau belum pernah coba kan, Sungmin-ah? Ayo kita main kesana?” Tentu saja itu bohong. Mana mungkin Kyuhyun punya hobi memainkan permainan di tempat umum seperti ini dan dilihat oleh banyak orang.

Namun kali ini Snowelf itu mau melangkahkan kakinya dari tempat itu, tentunya dengan terpaksa. Mereka berpegangan tangan ke belokan stan yang lain, mencari tempat permainan yang diceritakan Kyuhyun tadi.

Kyuhyun memberikan dua keping koin kepada penjaga stan itu yang kemudian meminjamkan dua buah jarring berukuran kecil dan baskom kepada mereka. Pemuda berambut cokelat gelap itu memberikan satunya kepada Sungmin. Ia lalu berjongkok di depan sebuah kolam jernih yang dipenuhi ikan hias sambil menarik pinggang Sungmin agar berdiri di sampingnya.

“Begini cara menangkapnya. Perhatikan baik-baik ya… Hyung akan memberikan contoh.” Kyuhyun lalu menoleh ke arah kolam itu, mempraktekkan cara bermain sambil menjelaskannya dengan detail.

Sungmin memperhatikan, namun untuk waktu yang tidak lama. Ia menoleh ke belakang, melihat begitu banyak orang bergegas menuju ke satu arah. Tanpa sadar, kakinya ikut melangkah. Snowelf itu berlari ke arah kerumunan tadi, meninggalkan Kyuhyun yang masih berbicara sendiri. Begitu ia mengakhiri ceramahnya, ia melirik ke arah Snowelf itu. Kyuhyun menoleh ke kanan kirinya. Senyumnya pudar.  “Sungmin-ah?” Panggilnya.

Ia menoleh ke tiap stan yang ada di dekatnya, berharap Sungmin hanya sedang berdiri di salah satunya, dan mungkin akan merengek untuk dibelikan sesuatu. Namun tidak. Ia tidak dapat menemukan sosok remaja itu di antara kerumunan orang-orang ini.

Napasnya mulai berat, tercekat. Matanya terbelalak. Kyuhyun berputar di tempatnya, mencari penampakan Snowelf itu hingga akhirnya ia mengeraskan suaranya untuk memanggilnya.

“SUNGMIN-AH!”

“Pangeran!” Salah seorang pengawal berlari ke arahnya. Kyuhyun menoleh ke arah suara itu.

“Tu-Tuan Muda Sungmin ada di sana!” Tanpa bertanya lagi, Kyuhyun berlari ke arah yang ditunjuk oleh pengawal itu. Tidak banyak pedagang di area itu. ‘Oh, tidak.’ Desisnya dalam hati. Gang itu mengarah ke halaman di depan kuil yang menjadi tempat pengorbanan hewan ternak, tempat Sungmin trauma tahun lalu. Begitu mencapai tempat itu, banyak siluman yang berkerumun. Kyuhyun menebak mereka sedang menyantap hewan itu, namun tidak. Mereka mengelilingi sesuatu, seseorang. Putra mahkota Radourland itu menembus kerumunan, mencari celah-celah di antara berbagai siluman hingga ia tiba di depan apa yang sedang mereka saksikan.

Seseorang bertubuh kecil mengenakan pakaian cokelat pucat yang familiar di matanya sedang membungkuk di depan hewan korban, memangsa makhluk itu. Tak ada di antara siluman yang berkerumun yang berani mendekatinya. Kyuhyun melangkah mendekatinya perlahan, ragu-ragu antara tidak percaya. Ia tersentak saat orang itu menggeram seperti binatang buas karena ia mencoba mendekatinya.

Kyuhyun berhenti di tempatnya. Ia menelan ludahnya, memberanikan diri untuk memanggil.

“…Sungmin-ah…?”

Sosok itu bergeming, diam sebelum perlahan melepas gigitannya dari hewan itu. Ia berbalik ke arah suara Kyuhyun, menoleh dan menengadah dengan wajah polos.

“…Hyung?”

Mata besar Sungmin melebar, raut wajahnya datar seolah tidak terjadi apa-apa. Mulut, bibir, dan sekeliling dagunya kotor oleh darah yang juga mengotori leher dan pakaiannya. Kyuhyun terbelalak dan membeku di tempatnya berdiri.

‘A-apa dia baru saja—?!’ Kyuhyun mendelik.

‘Sungmin yang seorang Snowelf… bagaimana mungkin ia bisa melakukan hal ini tanpa sadar?’ Lagi-lagi putra mahkota itu berpikir, apakah ini memang pengaruh dari bayi mereka atau hal lain.

“Hyung, Aku tadi—” Sungmin berdiri, hendak mengomeli Kyuhyun yang menghilang di kerumunan orang ramai saat ia melihat kedua tangannya berlumuran darah. Kini remaja itu terkesiap memandangi kedua tangannya. Bau amis darah tercium kuat. Ia gelagapan, menyadari bahwa pakaiannya juga kotor karena darah.

“Ha-ahh!! H-Hyung… I-Ini—”

Melihat Sungmin panik, Kyuhyun tersadar dari lamunannya dan mendatangi mate-nya itu. Ia memeluk Sungmin, bermaksud menenangkannya agar ia tidak berbalik melihat bangkai hewan itu. Kyuhyun bahkan tidak ingin melihatnya. Namun Sungmin malah menjerit merontak di pelukannya. “Shhh… Min-ah tidak apa. Jangan panik, hyung di sini.” Bisiknya lirih.

“Ahhh! Hyuungg! Tangan dan bajuku kotor! Kalau kau memeluk aku seperti ini nanti kau juga jadi ikutan kotor!” Rengeknya, mengagetkan Kyuhyun.

Putra mahkota itu menahan kedua bahu mungil Sungmin, menatapnya bingung. Snowelf itu cemberut kepadanya. “Kenapa tiba-tiba aku bau dan kotor darah begini hyuungg! Aku maluuu! Ayo kita pulaaang!” Rengeknya lagi.

Pangeran itu kebingungan, sekejab menatap orang-orang yang memperhatikan di sekeliling mereka, lalu menatap Sungmin lagi. Ia menangguk. “Y-Ya, kita pulang.”

Telapak tangan Kyuhyun kaku dan dingin saat tangan berlumuran darah Sungmin tanpa ragu menggenggam tangannya, menariknya ke arah jalan pulang seolah tak terjadi apa-apa. Sementara pikiran putra mahkota itu sedang kebingungan akan kejadian yang baru saja ia saksikan.

.

.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

.

.

 

Daniel menepati janjinya, pria itu menemani Zhou Mi mengelilingi seluruh bagian istana secara bergantian. Di mulai dari menara tempatnya disekap, lalu ke bagian belakang istana utama, sayap kanan, sayap kiri, dan balairung depan. Zhou Mi tidak benar-benar mengharapkan tur kecil itu, terlebih setelah pertemuannya dengan Nichkhun. Ia juga tidak lagi berhasrat meladeni seluruh ucapan Daniel, tidak bahkan saat dipaksa dan diancam. Monster itu boleh membunuhnya dan Zhou Mi tidak akan menghalangi. Jadi jika Daniel berniat membiarkannya hidup, Zhou Mi akan dengan senang hati memikirkan cara kabur dari tempat ini.

Ia tahu bahwa Daniel tahu dirinya mulai menghapal setiap lorong dan setiap jalan, mematri lekat di dalam ingatan sementara ia menyusun rencana-rencana. Daniel selalu menjelaskan setiap detail tempat yang mereka lewati. Zhou Mi mendengarkan, ia hanya tidak ingin menunjukkannya. Meski belum benar-benar melihat seluruh bagian di depan balairung istana, ia sudah menghapal seluk beluk lorong menara tempatnya disekap dan sedikit bagian kanan istana bangunan utama. Menara-menara batu mengelilingi istana bagai benteng pertahanan. Dari bentuk benteng yang rapi, tinggi, dan kokoh, Zhou Mi memperkirakan benteng itu adalah pertahanan terluar istana utama Svarturland. Satu lapisan terluar… Zhou Mi membayangkan dengan kecewa.

Andai saja ia masih memiliki sihirnya.

Zhou Mi separuh berharap Daniel akan dengan sombong membawanya melihat-lihat bagian depan istana, menuju jalur masuk utama dari seluruh penjuru istana Svarturland. Meski pemuda itu tidak terlalu yakin, mungkin saja Daniel memilih untuk bersiaga dari kemungkinan terburuk. Nyatanya dugaan awalnya tepat. Daniel lebih memilih untuk memamerkan istananya dibanding mengkhawatirkan kemungkinan tawanannya akan kabur dari tempat ini. Pria itu begitu yakin ia tidak akan bisa pergi kemana-mana, rasa percaya dirinya membuat Zhou Mi muak hingga kepalan tangannya gemetar.

“Kau akan menyukai ini.” Daniel tersenyum manis, tapi Zhou Mi tahu ia tidak akan menyukai apapun yang ingin ditunjukkan pria ini padanya.

Daniel memimpin jalan mereka, melewati lorong panjang  nyaris tak berujung, hingga cahaya terang yang terpantul di depan. Suara sorak di luar sana terdengar hingga ke tempatnya berdiri, sempat membisikkan dugaan buruk hingga prasangkanya benar terjadi.

Langkah Zhou Mi tertahan di pintu itu, tubuhnya berubah kaku meski matanya melirik tempat itu berkali-kali sembari menggertakkan gigi. Mereka berada di lantai yang tinggi, di bawah kakinya tempat duduk berundak-undak puluhan tangga, melingkari sebuah arena luas di bawah sana yang disirami langsung oleh sinar matahari. Tempat ini pasti bisa menampung seribu monster sebesar Daniel, dan sejauh matanya memandang, ratusan monster mengisi ruang penonton, menyoraki pertarungan di bawah sana.

Lima monster melingkari seseorang di atas arena. Dengan memasang wajah kakunya, pangeran itu berharap bukan makhluk rasnya yang sekarat di bawah sana. Zhou Mi ingin berpikir makhluk malang itu tengah disantap hidup-hidup, atau setidaknya dibantai dengan mengenaskan. Itu jauh lebih baik… tapi perkiraan terburuknya yang terjadi di bawah sana.

Satu monster itu beranjak, seakan memberi giliran pada temannya, memberi kesempatan pada Zhou Mi untuk melihat makhluk itu. Tubuh ramping itu terbujur di atas batu besar, kakinya ditarik lebar-lebar dan cairan putih mengalir membasahi selangkangannya, sebelah tangannya bengkok kaku sementara memar, luka, dan bercak merah memenuhi kulit putih tubuhnya. Warna pucat yang begitu kontras hingga dengan cepat Zhou Mi mengenalinya.

Snowelf.

Zhou Mi menahan diri agar tidak menggigit lidahnya, tapi ia juga tidak ingin memekik. Sementara napasnya berubah sesak dalam sekejap.

“Dia hanya prajurit biasa, kau tidak mengenalnya kan?” Daniel bertanya dari sisinya. Zhou Mi tidak menjawab, tidak ingin kehilangan kendalinya. Ia memutuskan untuk mengatur napasnya.

“Ini permainan favorit kami. Temanmu juga pernah diuji disini. Jika petarung kami yang kalah, mereka akan dihukum mati. Tapi kalau kalian yang kalah, monster-monster itu mendapat kesempatan untuk mencicipi tubuh lawan mereka.” Daniel tertawa, suaranya berhembus seperti angin dingin di belakang tengkuk Zhou Mi.

“Temanmu kalah waktu itu, yah… walaupun dia berhasil menumbangkan 6 petarung tangguh kami bergantian, tapi akhirnya dia lelah juga dan kalah di duel terakhir.”

Zhou Mi mendelik, membayangkan Nichkhun dipaksa bertarung dalam duel-duel curang monster-monster ini.

“Dia bisa menang kalau mengalahkan tujuh petarung kami. Tapi dia tumbang. Seharusnya dia diperawani di bawah sana, ditonton ratusan mata rakyat kami.”

Zhou Mi melirik Daniel geram. Mulutnya tetap bungkam, meski matanya membulat tajam. Ia tidak ingin membayangkannya, Nichkhun di bawah sana… ditelanjangi, dipatahkan, dihancurkan dan…

…diperkosa bergantian.

Ia bahkan tidak menyadari kata ‘seharusnya’ dalam kalimat Daniel, imajinasi buruk rupa itu dengan cepat membanjiri otaknya.

“Hmm… sayang adikku terlalu posesif. Dia malah mengamuk dan merusak acaranya.” Daniel mengerutkan keningnya membayangkan kejadian yang sudah hampir setahun berlalu itu. Perilaku adiknya itu menjadi pembicaraan di tengah penghuni istana selama sebulan penuh. Yesung mengamuk, meski Taecyeon mengabaikannya. Daniel bersyukur saat itu ia tidak ikut-ikutan sok bijak dengan menasehati adik mereka. Karena kini ia seakan mengerti pada tindakan Taecyeon. Ada rasa posesif yang menguasai dirinya saat pertama kali melihat pangeran ini dibawa ke negeri mereka. Jika harus dirusak, Daniel memutuskan bahwa dirinya yang akan merusak Zhou Mi, karena hasrat untuk menghancurkan harga diri pangeran itu terkadang datang tiba-tiba dan menggebu-gebu. Seperti saat ini.

Sebelum Zhou Mi datang, Nichkhun adalah tawanan Snowelf paling berharga di seluruh dataran Svarturland. Melalui mata-mata, mereka mengetahui bahwa pemuda itu adalah putra sulung seorang menteri Hviturland. Meski sesama beta, darah bangsawannya membuat harga tubuhnya meningkat ratusan kali dibanding prajurit biasa. Nichkhun pertama kali ditawarkan padanya, namun Daniel dengan mudah membaca perangai beta itu dan menolaknya. Yesung jelas tidak menginginkan Snowelf apapun berbaring di ranjangnya. Dan Joon… Meski Nichkhun memiliki wajah cantik, Joon kurang berminat pada Snowelf bertubuh kekar. Hingga akhirnya beta itu berakhir di ranjang adik bungsu mereka.

Taecyeon menyukai mainan barunya, pangeran bungsu mereka sangat-sangat menyukai Nichkhun hingga hanya butuh satu bulan untuk meruntuhkan seluruh harga diri darah bangsawan Snowelfnya. Dengan mematahkan beberapa tulang, mencabik beberapa daging, meninggalkan beberapa baris luka,  prajurit tangguh itu berubah menjadi pelacur kecil Taecyeon.

Tapi Zhou Mi…

Daniel melirik wajah geram pangeran itu, terpaku ke arah arena. Daniel menyeringai miring. Ia tahu sejak saat pertama melihat Zhou Mi, pangeran ini akan menjadi mainan yang lebih menarik dibanding milik Taecyeon. Jika harga diri Nichkhun terbuat dari perak, Zhou Mi melapisi harga dirinya dengan emas. Daniel tidak sabar untuk segera melelehkannya. Tapi ia tidak akan menggunakan cara kekanakan Taecyeon, ia akan menggunakan cara yang jauh lebih menyenangkan.

Daniel mengangkat jarinya, gatal ingin mengusap tengkuk pucat pangeran di hadapannya. Tapi ditahannya, ia menurunkan tangannya lalu membungkuk dan berbisik.

“Tenang, Princess. Peraturan utama permainan kami; tidak boleh ada Snowelf yang mati kecuali Alpha. Hancur boleh, tapi tidak boleh mati dan tidak boleh rusak. Siapapun yang melanggar akan dijatuhi hukuman. Kami tahu kalian bisa mendapatkan energi dari cahaya matahari. Jadi gladiator ini dirancang dengan atap yang bisa ditutup dan dibuka, tergantung pada kebutuhan pertarungan.”

Wajah Daniel mendekat lebih erat, Zhou Mi bisa merasakan napas monster itu berhembus panas di belakang tengkuknya, tapi ia tidak beraksi, ia tidak ingin kehilangan kendali. Ia sudah melihat sekilas seluruh arsitektur arena ini, atap memang bagian paling mencolok. Sebelum Daniel membawanya masuk ke tempat ini, ia sempat menyadari lubang luas sejauh ratusan kaki dari pintu lorong. Tapi ia tidak mengira, lubang itu adalah atap arena tarung sebesar ini.

“Kau ingin atapnya dibuka atau ditutup?” Daniel bertanya, mencuri-curi mengusap pinggang ramping Zhou Mi saat dua orang pengawal datang ke hadapan mereka, membawa sebilah pedang dan perisai.

Zhou Mi menatap pedang baja itu datar, “Aku butuh dua pedang.” ujarnya, sontak membuat Daniel terkekeh geli. Pemuda itu bahkan tidak bertanya atau memprotes kenapa ia harus bertarung menuruti permainan Svarturland.

“Kau benar-benar menyukai ini, Tuan Putri? Kupinjamkan satu pedangku. Ingat, aku bukan Taecyeon. Setelah menuruni tangga itu, aku tidak akan menyelamatkanmu dari sana apapun yang terjadi.” Daniel menyelipkan pedang hitamnya di lengan Zhou Mi, memberinya kesempatan untuk mengusap tangan halus dan pucat Snowelf itu. “Berjuanglah Princess, keperawananmu milikku. Jangan biarkan makhluk-makhluk itu merebutnya darimu.”

Zhou Mi menoleh pada Daniel lalu mendengus. “Kau pikir aku akan membiarkan itu terjadi?” Sahutnya angkuh. Pemuda itu berbalik dan mulai meniti tangga turun menuju arena di lantai terbawah bangunan itu. Ia mengira Daniel akan membalasnya, pria itu tidak pernah mau kalah dan selalu punya cara untuk membuat Zhou Mi yang memilih bungkam. Tapi kali ini Daniel tidak bersuara lagi. Harga diri Zhou Mi juga terlalu tinggi meski rasa ingin tahu membuatnya gatal untuk berpaling mencari Daniel.

Zhou Mi meniti tangga terakhirnya, memijakkan kakinya di lantai berdebu itu. Saat kakinya menyentuh arena, barulah pemuda itu menyadari betapa luasnya tempat ia berdiri. Diameter arena itu mungkin tiga kali lebih luas dari Clocha Dena Deith, lima puluh petarung bisa berduel bersamaan di tempat ini. Puluhan pintu-pintu tersambung ke lorong-lorong gelap, dibatasi hanya dengan pagar besi yang ditarik naik dan turun. Lima tangga melingkar di segala sisi, satu tangga mewakili satu tribun, mungkin digunakan untuk petarung yang menawarkan diri dari bangku penonton.

Saat Zhou Mi melangkah mendekat ke pusat arena, suasana berubah senyap. Hampir seluruh mata tertuju padanya, bahkan raja, yang duduk dengan bangku paling mencolok dari seluruh tribun yang ada.

Satu gerbang berderak ditarik naik, seekor makhluk merangsek keluar dari sana.

“Apa ini ejekan untukku?” Zhou Mi menatap lawan pertamanya. Seekor Troll, mungkin level lima, terlemah dari seluruh jenis Troll yang pernah dihadapinya. Tingginya tak lebih dari dua meter, jauh di bawah tinggi rata-rata troll pada umumnya. Keheningan yang sejenak melingkupi arena tenggelam lagi oleh riuh sorak penonton, sebagian besar memberi semangat untuk monster di atas arena.

Zhou Mi melemaskan remasan pedangnya. Dua pedang yang semula diangkatnya tinggi kini berantuk  menyentuh tanah. Makhluk itu menyeringai saat mereka bertukar pandang, tapi rautnya berubah murung saat ia menyadari Zhou Mi tengah meremehkannya.

“Jangan somb- GUHKH!“

Zhou Mi menerjang dalam hitungan detik, melompat tinggi dengan menggunakan dada makhluk itu sebagai pijakannya. Ia menyilang pedangnya dan mengeksekusi leher Troll itu tidak lebih dari tiga detik. Makhluk itu bahkan belum sempat mengangkat godamnya.

“Aku tidak punya waktu mendengarkan komentarmu.” Desisnya setelah mendarat di lantai arena itu kembali.

Makhluk-makhluk ini memang berukuran besar, tapi semakin besar tubuh mereka, semakin menguntungkan pertarungan ini baginya. Ia lebih ramping, lebih cepat, dan lebih licik. Dengan dua pedang di tangan, monster berotot tidak bisa mengalahkannya di tengah arena seluas ini. Sesaat tadi suara sorak kembali menghilang, begitu banyak suara-suara terkesiap hingga bergema di dalam ruang tertutup itu.

Zhou Mi menghentak sebelah pijakannya, berusaha tampak kokoh. Meski sebelah kakinya yang terluka berdenyut menyakitkan. Tulang pergelangan kakinya yang patah sudah sembuh, namun memar dan trauma terkadang masih membuatnya berdiri goyah.

Ia bisa bertahan. Selama mereka mengeluarkan satu demi satu lawannya dari pintu-pintu gelap itu. Posisinya di tengah arena memberinya sedikit waktu untuk mengawasi musuh barunya. Dua puluh hasta, jarak itu lebih dari cukup baginya mencari kelemahan mereka.

Suara sorak semakin jarang terdengar saat Zhou Mi menebas leher keempat. Zhou Mi tahu ia mengecewakan para penonton. Empat troll. Belum satupun berhasil menyentuh kulitnya. Ia berdiri cukup lama di arena setelah troll keempat yang dihadapinya. Dua menit berlalu, dan lawan kelimanya tidak juga tampak. Pemuda itu mulai terbiasa dengan bising ratusan orang di lima tribun yang mengelilinginya. Tapi mereka membuatnya menunggu, dan hal itu menimbulkan kekhawatiran aneh di hatinya.

Pemuda itu berputar, sadar ia kehilangan arah dimana tangga tempatnya datang. Kursi yang diduduki Yesung satu-satunya penunjuk arah baginya. Raja yang lebih pendek dari orang-orang kebanyak di sana itu menatap ke arahnya, namun seorang menteri berbisik di sisi kanannya, membuat Zhou Mi menebak-nebak jika obrolan mereka berkaitan dengan penantiannya di tengah arena. Untuk sesaat, semua orang seakan dibuat menunggu, hingga raja mengangguk sekali. Gerakan kepala kerdilnya segera diiringi oleh suara terompet yang memekakkan telinga. Penonton menyambut dengan sorak riuh, sebagian besar berdiri mengangkat tangan dengan penuh semangat, suara seruan mereka bergema di dalam arena.

Zhou Mi memutar kepalanya, kebingungan.

Hingga satu gerbang ditarik naik. Pemuda itu bersiap melihat sosok yang jauh lebih besar dari ketiga lawannya sebelumnya. Meski bukan itu yang terjadi, justru satu gerbang lainnya ditarik terbuka, dan satu dari arah belakangnya.

Tiga gerbang ditarik naik bersamaan.

Zhou Mi mendengus, akhirnya mengerti. “Kalian memutuskan berbuat curang?” pemuda itu menggeleng tidak percaya,  tapi tentu tidak seorangpun mendengar suaranya.

Tiga Troll terakhir masuk ke dalam arena. Proporsi tubuh mereka bahkan lebih besar dibanding empat Troll sebelumnya. Ketiganya melangkah mendekat, mengepung Zhou Mi.

Tidak punya pilihan, Zhou Mi mengangkat kedua pedangnya setinggi dada. Sekeras mungkin memutar otak berusaha mencari celah untuk menumbangkan ketiga troll besar itu dengan cepat dan efisien. Andai saja ia melawan satu demi satu, ukuran bukan masalah. Tapi ketiganya mendekat bagai dinding yang bermaksud menghimpitnya.

Sebelum mereka bergerak mempersempit ruang geraknya, Zhou Mi memutuskan berlari menyerang salah satu, yang terbesar diantara ketiga makhluk itu. Jika prediksi dan serangannya tidak meleset, setidaknya ia akan mengurangi dinding yang terbesar. Pemuda itu menghentak, mengayunkan satu pedangnya mengharapkan makhluk itu terlalu bodoh untuk menebak arah serangannya.

‘TRANG!’

Zhou Mi tersentak, mundur selangkah dan memasang pedang untuk melindungi diri. Bukan hanya menepis serangannya, makhluk itu dengan cepat membalas. Respon tidak terduga itu sesaat mengusik konsentrasi Zhou Mi hingga ia mengayunkan serangan yang baru. Keduanya terlibat adu pedang sengit. Beruntung dua troll lain memutuskan untuk tidak mengganggu mereka, setidaknya untuk sejenak, hingga Zhou Mi menangkap bayangan di atas tanah yang bergerak dari belakang tubuhnya.

Zhou Mi mengangkat kedua pedangnya, memutar tubuh, menangkis dua serangan itu sekaligus dengan tangan gemetar. Kakinya berdenyut menahan efek serangan itu. Bertarung sekaligus masih bisa ditolelirnya. Tapi menyerang dari belakang…

Zhou Mi menggertakkan giginya geram. Di tengah sela waktu dan ruang yang sempit saat kedua musuhnya mencoba kembali menyerang bersamaan, Zhou Mi menarik dirinya, mengerat sebelah tangan gempal musuhnya dan berayun ke balik tubuh besar itu, bermaksud menancapkan pedangnya di tengkuk makhluk itu. Semua orang seakan membaca gerakannya. Meski sesaat situasi sudah cukup menguntungkan Zhou Mi hingga Troll ketiga memutuskan untuk ikut campur.

Makhluk itu menarik tubuh Zhou Mi hingga pemuda itu terpelanting di atas tanah. Zhou Mi mengerang, tidak sempat berdiri saat satu serangan berduyun ke arahnya.

Zhou Mi melindungi dirinya dengan dua pedang yang tersilang. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menahan tekanan di atas tubuhnya sedang makhluk itu hanya menggunakan satu tangan. Tekanan yang saling berlawanan diantara dirinya dan musuh raksasanya sangat tidak seimbang. Zhou Mi menyadari hal itu, terlebih posisinya tidak menguntungkan sama sekali. Saat lamat-lamat ditangkapnya derik pedang baja miliknya menjerit oleh dorongan kuat pedang lawan yang lebih besar, Zhou Mi tahu kesempatannya menyempit.

Ia hanya perlu mendorong pedang musuhnya menyamping. Tapi ia tidak sanggup mengangkat posisi tangannya sedikit lebih tinggi, sementara makhluk itu tanpa kesulitan berarti menatapnya dari atas dengan mata perak berbinar seakan mengangumi sesuatu.

Zhou Mi mengerjap, napasnya yang semula menderu tidak keruan berubah melemah. Dan keadaannya disadari oleh lawan di atas tubuhnya. Saat Zhou Mi melemaskan pertahanannya, makhluk itu juga melemaskan tekanannya.

“Dia kelelahan!” Makhluk di atas tubuh Zhou Mi berteriak pada dua temannya, wajahnya kebingungan. Suara mereka teredam bising sorak penonton. Troll itu menunduk, mereka masih saling menahan pedang. Snowelf di bawah tubuhnya menggenggam pedang dengan gemetaran, padahal ia sudah mengurangi kekuatannya sesaat tadi. Genggaman pemuda itu terjatuh lemas, kedua pupil ungunya mengembang tak fokus lalu kelopak matanya mengatup terpejam.

Pemuda itu jatuh pingsan, dua pedangnya tersilang di atas dada. Dengan situasi selonggar ini tanpa tekanan untuk melindungi diri, makhluk itu baru menyadari aroma tubuh lawannya yang sangat memikat. Ia mengendus leher Zhou Mi dan menyeringai pada dua temannya. Diletakannya begitu saja pedangnya di sisi, dan mendekati calon korbannya.

“Dia harum!” ujarnya sembari menyeringai, tangannya mendekat, gatal ingin merobek pakaian yang membalut kulit pucat itu.

“Jangan rusak dia!” satu troll berteriak tidak rela.

“Aku tidak mau giliran. Kita lakukan bersama.” Sahut troll ketiga.

Troll terbesar itu mendongak menatap kedua temannya, ingin memaksa giliran pertamanya saat dilihatnya dua temannya menatapnya dengan mulut ternganga. Makhluk itu tidak menyadari saat ia mengangkat kepala, tangan Zhou Mi merayap keluar dengan pedang siap menembus sisi kanan dan kiri tulang rusuknya. Sebelum sempat bereaksi pada ekspresi kedua temannya, makhluk itu mendapati jantung dan paru-parunya ditembus dari samping.

“K-Khhhhkh…”

Zhou Mi berguling keluar sebelum makhluk itu melelehkan darah ke wajahnya atau tumbang di atas tubuhnya.

“Satu.” Ujarnya datar sembari mengakhiri pembantaian itu dengan menginjak kepala lawannya menggunakan kaki kanan. Siapapun tidak akan menyangka pemuda itu menahan sakit luar biasa di pergelangan kaki kirinya. Ia memandang dua troll lain yang menatapnya masih dengan mulut menganga. “Kita lakukan bersama, katamu? Tubuh raksasa, otak kerdil. Makhluk rendah seperti kalian memang benar-benar tolol.” Decihnya menghina, menyulut amarah kedua lawannya.

Sementara di lantai tertinggi tribun, mata Daniel mengawasi pertarungan itu dengan jeli. Di sisinya Yesung menonton didampingi Wooyoung yang terus berkomentar. Raja mereka sudah ingin pergi sejak tadi, namun baik dirinya dan Wooyoung bersikeras menahannya tetap duduk. Sejak saat Zhou Mi membunuh empat lawannya di bawah sana, Yesung mulai kehilangan ketertarikannya, ia duduk disana demi menonton pangeran Snowelf itu dihajar dan dipermalukan, bukan membunuhi bangsanya satu demi satu.

“Ayunan pedangnya brutal dan berantakan. Tapi pangeran itu tetap mengerikan.”

Daniel tersenyum menyetujui komentar Wooyoung. “Aku harus berhati-hati dengan apapun yang bisa dijadikannya senjata.” timpalnya, tidak mengalihkan matanya sedetikpun. Dua troll di bawah sana bergantian menyerang Zhou Mi, tahu untuk tidak membiarkan pangeran itu melawan mereka satu per satu. Dan Pangeran Snowelf itu mulai kelelahan. Daniel menyadarinya, meski Zhou Mi menutupi gerak kakinya yang limbung dengan sangat baik.

Satu pedang di genggaman tangan Zhou Mi patah dan jatuh, debu berterbangan disekitar potongan baja itu. Di sela situasi tidak menguntungkan itu, salah satu troll berhasil menjatuhkannya, menginjak perutnya untuk menekan gerakannya. Zhou Mi berusaha mengangkat pedang Daniel saat satu kaki memijak pergelangan tangannya.

Seluruh tribun bersorak senang. Mungkin hanya dua orang yang tidak menyukai situasi itu.

“Mereka memberinya pedang tua?” Daniel menautkan alisnya.

Yesung menjawab tanpa berpaling padanya, “Kita selalu memberi Snowelf pedang tua. Jangan berlagak lupa.”

Daniel mendengarkan jawaban adiknya, tidak berkomentar, tidak juga mengakui bahwa ia memang baru mengetahuinya. Dalam hati pria itu bersyukur ia meminjamkan pedangnya pada Zhou Mi. Pangeran itu bukan apa-apa tanpa senjata dan sihirnya.

“AAARRRGH!” Suara jeritan Zhou Mi bergema lalu tenggelam di tengah riuhnya sorak sorai penonton. Kaki besar di atas tubuhnya menekan lebih kuat, membuat pangeran itu tersedak dan terbatuk oleh darahnya sendiri. Tangan kirinya yang bebas berusaha menggapai dan melukai kaki di atas tubuhnya, meski sia-sia.

Dalam keadaan tertekan, pemuda itu refleks meraih potongan pedang yang tergeletak tidak dipedulikan di dekat pinggulnya. Ia menggenggamnya kuat-kuat dan mengayunnya ke depan sesuai insting, melukai kaki kedua troll itu dan telapak tangannya sendiri, merobek kulit tangannya sendiri sebagai efek sampingnya.

Darah hitam menyembur ke wajahnya dibarengi rasa lega saat beban yang menghimpit dada dan tangannya terangkat. Pemuda itu merayap dengan tergesa, menggenggam pedang Daniel di tangan kanan dan berlari menjauh sembari memegangi dada. Pasir berhamburan di sekitar mereka, mengaburkan pandangan.

Dua troll dibelakangnya berseru, murka dan kesakitan. Tapi kelengahan mereka berlangsung sesaat. Dengan kaki berlumur darah, keduanya beralih untuk mengejar Zhou Mi.

Duel pedang berganti menjadi adegan kucing-tikus berkejaran di bawah sana. Zhou Mi berlari memutari sisi pinggir arena hingga penonton terbawah tribun bisa melihat pemuda itu dengan jelas. Langkah kakinya tampak tidak stabil, banyak mata menyaksikan pemuda itu satu dua kali terpincang.

“Berhenti berlari, Princess. Kau tidak bisa terus berlari dari mereka.” Daniel berkomentar pelan dan memutar kepalanya, mengikuti setiap langkah Zhou Mi.

“Aku tahu dia mau kemana.” Wooyoung berujar. Dia dan raja sama-sama menautkan alis. Bukan hanya mereka yang menyadarinya, banyak suara kesiap lain memikirkan hal sama saat Zhou Mi berlari makin tergesa mendekati secercah sinar matahari yang menyusup menerangi arena.

“Dia ingin menggunakan sihir!” teriak salah seorang penonton, memancing riuh ramai penonton lainnya. Kedua troll itu melambatkan serbuan mereka, tampak khawatir. Keduanya tahu jelas sihir macam apa yang bisa digunakan Snowelf saat berduel. Jika Snowelf ini bisa memunculkan sihir hanya dengan sinar matahari, keduanya memilih untuk lebih waspada dan menjaga jarak dari Zhou Mi.

Desah tegang memenuhi arena saat Zhou Mi merangsek meraih sorot kecil sinar matahari itu, debu-debu pasir berterbangan di sekitarnya saat pemuda itu mendarat menggunakan lututnya. Mata-mata seakan melihatnya menggenggam cahaya menggunakan tangan kiri. Dua troll itu terhenti di tempat mereka berdiri, hanya tiga meter sebelum Zhou Mi, sesaat ragu untuk melangkah lebih dekat.

Zhou Mi berpaling pada keduanya dengan pupil ungu yang melebar licik, membuat keduanya semakin tegang untuk bergerak.

“Dia tidak bisa menggunakan sihir.” Yesung mengerutkan dahinya.

“Kita tidak melarang sihir disana, adik.” Daniel menimpali.

“Maksudku dia tidak akan bisa menggunakan sihir, matahari secuil itu tidak cukup untuk memancing sihir. Bahkan sekedar untuk memanggang semut.”

“Memang. Pangeran itu lebih tahu sihir darimu, adikku.” Daniel menyeringai senang, mampu membaca maksud Pangeran di bawah arena.

Sementara lawannya sibuk mengkhawatirkan sihir, Zhou Mi menggenggam pedang Daniel, bersiaga. Sebelah tangannya terkepal, menyimpan sesuatu di dalamnya. Zhou Mi mendapat banyak waktu untuk mengatur napasnya lagi dan membiasakan sebelah kakinya yang berderak pedih, ia berjongkok memunggungi dua musuhnya, sengaja menunggu hingga mereka yang memutuskan untuk bergerak lebih dulu.

“Dia masih mengumpulkan sihirnya, tidak akan sempat.”

“Kita serang sebelum dia berhasil mengumpulkannya.”

Zhou Mi menyeringai mendengar obrolan kecil itu. Ia berhitung, memprediksi, lalu bergerak saat dua lawannya memutuskan untuk menyerangnya dari belakang. Pemuda itu berbalik tiba-tiba, mengejutkan kedua troll itu saat ia melemparkan sesuatu dari tangannya.

Kedua troll itu tersentak, satu menjerit panik mengira serbuan sihir akan menempa wajah mereka. Namun sebaliknya, debu pasir menutupi pandangan, melukai pengelihatan. Hanya sekian detik, Zhou Mi mendapatkan cukup waktu untuk memberi satu ayunan luas bermaksud menebas leher keduanya. Troll terdekat dari serangannya mati cepat dengan leher nyaris putus. Sedang troll kedua terluka parah di leher, namun masih sanggup mendelik marah dan menyerbu ke arahnya.

Troll itu menggenggam pedang lawannya, tidak peduli jika benda itu melukai tangannya. Sebelah tangannya meraih pergelangan kaki kiri pemuda itu, menariknya hingga terpelanting duduk.

Zhou Mi mengerang, menahan sakit di ujung tulang ekornya saat ia jatuh terduduk. Genggaman tangan monster itu begitu kuat membuatnya tidak dapat menarik pedangnya ke kanan atau ke kiri. Tapi ia bisa mendorong, dan meskipun enggan mengakuinya, pedang yang diberikan Daniel sangat berguna.

“Kau mati bersamaku, peri jalang.” Troll itu berbisik padanya, darah mengalir dari bibir dan potongan luka di lehernya, begitu percaya diri mampu menahan pedang Zhou Mi di detik-detik terakhir nyawanya.

Zhou Mi menertawainya, sembari mendorong pedangnya perlahan, menusuk melewati genggaman tangan hingga tembus ke balik kepala troll itu. Makhluk itu masih sanggup meremas pergelangan kaki Zhou Mi, membuat pangeran itu merintih samar, lalu kepala hijau itu jatuh terkulai dan tidak bergerak lagi.

“Tolol.” Zhou Mi mendorong kepala itu lepas dari pedangnya menggunakan kaki kanan, kaki kirinya bahkan terlalu sakit untuk digerakkan.

“Dia licik. Aku menyukainya.” Daniel tersenyum lebar.

“Dia kelelahan?” Wooyoung mengangkat kepala, dan bukan hanya dirinya yang menyadari gerak limbung Zhou Mi saat pemuda itu mencoba untuk berdiri.

“Pangeran itu kehilangan fokusnya.” Yesung menyahut malas. “Dan aku kehilangan minatku.”

Daniel tidak menyahut, sekalipun tahu cibiran Yesung ditujukan padanya. Perhatiannya terpusat pada Pangeran Snowelf di atas arena. Zhou Mi berputar, mendongak memandangi tribun seakan mencari seseorang, setiap gerakan yang dibuatnya membuat Daniel curiga. Saat Zhou Mi berdiri tepat menghadap tribun tempatnya duduk menonton, Pangeran itu berhenti.

Zhou Mi mendongak berdasarkan instingnya, tidak peduli sekalipun ia salah menebak lokasi Daniel berada. Pandangannya tidak fokus dan pemuda itu tengah menghitung berapa menit lagi ia mampu berdiri disana. Digenggamnya erat pedang milik Daniel yang berhasil membawanya pada kemenangan. Lalu Zhou Mi berdecih, tertawa. Darah mengaliri sudut bibirnya, menetes di bawah dagu.

“Kau memberikan pedang yang bagus untukku.” Ujarnya, cukup kuat, meski tidak yakin akan ada telinga yang bisa mendengarnya. “Dan aku sudah membunuh tujuh petarungmu… kalau kau pikir kenapa aku menuruti keinginanmu untuk melakukan ini? Semuanya semata-mata untuk menunjukkan aku mati bukan karena aku kalah. Aku mati demi negeriku. Kau pikir kau berhasil memilikiku? Kau boleh memiliki mayatku, bajingan.” Pemuda itu membalik arah pedangnya, mengarahkan mata pedang itu tepat ke tengah lehernya.

Daniel berdiri geram, sontak melompat turun dan merebut panah yang dipegang prajurit terdekat olehnya. Setiap tribun dilengkapi oleh prajurit bersenjata untuk melakukan eksekusi dadakan dan melindungi petinggi Svarturland. Daniel menarik anak panah yang ditembaknya jauh ke kanan arena. Pria itu bergerak terlalu cepat bahkan untuk Yesung menyadari kakaknya sudah tidak duduk di sisinya.

“Kita akhiri disini.” Bisik Zhou Mi dingin, merasakan ujung tajam pedang itu menusuk kulit rapuh lehernya.

Ratusan mata menyaksikan kejadian yang berlangsung hanya dalam beberapa detik. Panah melayang jauh, lalu berbelok arah menyerupai bentuk busur raksasa, melesat menerjang ke arah Zhou Mi tanpa disadari oleh pangeran itu sendiri.

Mata pedang itu sudah menusuk kulitnya, menembus nyaris seperdelapan daging tenggorokannya, lalu gerakan tangannya tertahan. Gaya dorong anak panah yang menembus tangannya entah darimana membuat tusukan mata pedang di lehernya terlepas. Zhou Mi jatuh berlutut, lalu terkapar menyamping. Debu berterbangan mengotori wajah dan badannya yang berpeluh darah. Pedangnya terjatuh, busur panah itu masih tertancap di telapak tangannya. Pandangannya makin kabur seiring dengan derasnya darah yang mengalir dari luka di lehernya.

Daniel meremas busur di tangannya dengan geram, ia menunduk menatap sosok Zhou Mi yang tergeletak di atas tanah berdebu.

“Panggil semua healer yang ada di kerajaan, sekarang ke kamar Snowelf-ku.” Perintah Jenderal Negeri Hitam itu kepada prajurit di sampingnya. Daniel berbalik, mengabaikan pandangan datar Yesung dan petinggi-petinggi lain yang turut hadir di tempat itu. Ia melangkah cepat, terlalu geram untuk melirik kemanapun.

 

.

.

.

.

.

oOoOoOo

TBC

.

.

.

Maafkeun lama banget updatenya, huhu. Authornya sibuk skripsi dan kerja. Tapi kami bakal update beruntun untuk beberapa hari ke depan (Cursed Crown, Kitty Kitty Baby, dan beberapa fics oneshot), asal ga banyak silent readers hehehe.

Cek juga Fanfic baru Miinalee (DanielXZhouMi pair) di wattpad~

22 thoughts on “Cursed Crown – Chapter 20

  1. WineMing says:

    yeayyy akhirnya update jg
    #nari hula2 bareng yesung(?)

    entah knpa ane malah nunggu2 daniel zhoumi scene
    kyaaaaaaa~~~
    bikin penasaran…

    ditunggu chap selanjutnya…

  2. melaa says:

    Huwaaaaa finally 🎆🎉🎊🎇🎈🎈🎈 ini ff kyumin tapi aku penasarannya sama danielXzhoumi ya?? ㅋㅋㅋㅋㅋ umin udah gede masih aja polossss 😱 kok kyu rada kejem ya? Main remes tangan anak orang? 😨 ini kandungannya umin udah sampe mana? Umurnya berapa? Sampe berapa lama umur kandungannya umin? 😮 banyak tanya saya… maafken

  3. waaaaahhhh,,,akhirnya updet juga ,,senangnya, soalnya rindu ama ff ini,,sampe2 hrs refresh chap kemarin bacanya spy bs nyambung. .
    kkkk…Min msh aja kolokan ah~ udah mau jd eomma tp msh manjanya nggak ketulungan. kebayang ntar Kyu hrs merawat 2 baby nih…penasaran sm kelanjutan couple danielzhoumi, gimana cara daniel menaklukan zhoumi ya?,,kyknya mustahil gituu

  4. Finally akhirnya update jg wkwkwkwkw gak nyesel udah nunggu lama ternyata hasilnya memuaskan. Tp masih gak bisa ngebayangin kalau snowelf diperkosa, disiksa dll masih terlalu ekstrem hahahaha xD
    Itu scene kyumin yg di festival Itu sungmin nya berubah jd kaya bangsa kyuhyun?? Atau emang jati diri sungmin yg sebenernya Itu tuh dia bukan snowelf asli?:/
    KKB masih selalu akan ditunggu wkwkwkwkw

  5. Nana Cho says:

    KEREN BANGET !!!!!!!!!!!!!
    Ff yg layak bngt ditunggu kelanjutannya
    Kok sungmin berubah jd horor ya?
    Apa pengaruh babyny segitu besarnya ampe sungmin ngk sadar kl udh mkn daging mentah2 & langsung dr tubuh korban ya?
    Partny zhoumi keren hbs…..tdny sih berharap keinginan Zhoumi bt mati terkabul tp ntar danielny ama siapa ya ?
    Hbsny ngk tega ngebayangin apa aja yg bkl dilakuin daniel ampe zhoumi mau menyerah?
    Kira2 bkl Happy ending ngk ya daniel & zhoumi ?
    Tetap semangat & semoga sehat selalu.

  6. esti says:

    Hadduuhhh…. kok udah abis… kurang panjang ini critanya … yg aq slalu nanti2 beberapa bln ini ampe lumutan

  7. udah updet yeyytyy!!!! udah rindu ama kyumin ini plus penasaran ama couple daniel-zhoumi,,,habis jarang2 tuh zhoumi jd uke,,kkkk,,,tp harus refresh dulu soalnya spy nyambung ama chap seblmnya,,,,

  8. Akhirnyaaa update jg kirain bakal terbengkalai&g dilanjut..
    Wah wah sekarang malah ada fict pake pairing daniel&zhoumi… Seru nih keras lawan keras..
    Itu apa2an yang diatas putra mahkota ngeributin matenya yg susah makan ? Pffffttt Hahaha😄
    Kayaknya baby kyumin kuat bgt ya smp ming berubah ganas gt..
    Ditunggu updateannya..😄

  9. ruuko137 says:

    demi apa ff ini update, senengnya kayak liat abs siwon didepan umum🙂
    agak lupa sebenernya sama chapter sebelumnya, jadi harus baca chap kemarin biar mudeng lagi..
    kak fanfic KKB dilanjutin dong, aku sukaaaa banget sama cerita itu, benar baner bikin panasaran
    jangan lama lama kak updatenya yahh..semangat nulis terus

  10. kak. aku ga bisa rnr di ffn. Di sini ga masalah kan?

    huhhhhh haaaaahhhhh huuuuh haaaaah. Kenapa buat bunuh diri aja dijadikan ribet blinet seperti ini. poor you, Zhoumi 😭😭😭😭 udah ya dipanggil Princess. Bunuh diri batal terus. Sumpah kasian banget 😭😭😭😭😭😭 pertarungan di atas aku bacanya ngirisssss banget, udah pincang2 begitu… aku bayanginnya, kalau aku jadi Zhoumi, beneran ga ada daya untuk sekedar ngomong… kasian banget ya tuhan kak.

    aku mulai suka side story Daniel Zhoumi😀 , Bayangin wajahnya sumpah ga pake usaha, langsung cling. Nah bayangin Kakak2 nya Sungmin selain Siwon Donghae bnr2 butuh tenaga dalam.

    Andai aku ditanya cerita fantasi terhebat mana yang pernah kamu baca? aku bakal jawab, semua cerita fantasi kalian berdua kakak2 manis. haha. (aku gak baca Harry Potter)

    Terimakasih update annya 😍😍😍😍 lancar2 ya skripsinya

  11. Asdfghjkl akhirnya updateeeeee…. Huwaaaaa aku seneng banget pas ada notifikasi klo fiksi ini update😀
    Sungmin diet krn dikatain gendut…hahahaha aduh Min-ah kmu bener2 bayi yang udah bisa punya bayi… Baby udah nendang2…iya kali Kyu si baby ga suka ayahnya kasar sama si ibu…berarti baby juga melindungi Min ya? Ah so sweet :-*
    Kyuhyun sabar2 ya sama Min🙂
    Itu Min bisa ga sadar trus makan hewan kurban pasti krn pengaruh bayinya. Uwooowoo kerena ya bayi direwolf….penasaran nanti baby kyumin bakal diperankan sama tokoh siapa…hehehe
    Meskipun cuma tersirat tapi di chap ini ada TaecKhuuuun huhuhu pairing idolaku (gegara baca fiksi ini aku jadi nge-ship TaecKhun) :-* bisa dibayangkan sih gimana posesifnya Taec waktu Khunnie mau diperkaos sama monster lain. Aku aja ga rela apalagi Taec (eeeeh jdi ngelantur). Author2nim mungkin kah akan menulis side story Taeckhun? Hihihi. Kayaknya cuman aku doang ya yg nge-ship Taeckhun diantara pembaca2 lainnya LOL😛 Nichkhun apa kabar? Dy selamat kan abis melahirkan? Bayi svaturman nya gimana? Apa rencana Nichkhun sebenarnya yang dy mau bilang ke Mimi di chap kemarin? Bolehkah aku request TaecKhun dimunculkan lagi di chap depan? Hehehe. Makasih sebelumnya author2nim~😉
    Waaaaa Daniel disini kejam juga ya… Ga kebanyang klo Mimi kalah trus diapa2in sama monster2 dan Daniel cuman nonton. Untunglaaaaah Mimi menaaaang! Mimi keren abiiis, dy pake taktik licik yang briliant! Daebak! Tapi trus Mimi mau bunuh diri… Daniel pasti marah besar. Penasaran apa yang bakal dilakuin Daniel ke Mimi di chap selanjutnya. Ditunggu chap berikutnya ya 2 authornim🙂 chapter ini keren~ Terimakasoh banyak yaudah nulis hehehe. Semangat ya nulis cursed crown ampe selese~ Fighting buat kerja dan skripsinya!!

  12. Min lucu kalo udh menyangkut sama babynya kekeke
    Semoga zhoumi baik2 aja yaa , ko aku ngerasa daniel care ya sama zhoumi… entahlah yaa~ semangat utk part selanjutnya ka!^^

  13. Lyta tan says:

    Pas nnton lg acara suju m, baru nyadar klo zhoumi cocok jg brperan uke….klo am henry mlah mirip hyung saeng atau ibu am anak

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s