Kitty-Kitty Baby! – Chapter 18

Kibum menyeret satu kursi ke balik etalase cake di dekat meja kasir. Sebenarnya ia cukup tinggi, namun ditambah dengan kursi akan membuat posisinya semakin mudah diperhatikan, dan dengan berdiri di atas kursi di balik etalase, membuatnya cukup aman dari jangkauan banyak orang. Ryeowook berdiri di sisi kanannya, terus memegangi kursi itu ketakutan Kibum akan tersandung dan jatuh. Semua tenaga kerja kecuali dua Chef yang sibuk membuatkan pesanan di dapur, dikerahkan untuk melayani sebanyak-banyaknya pelanggan.

Sejak kafe mereka pindah ke bangunan yang lebih besar ini, Ryeowook mulai membuat aturan waiting-list. Jika meja penuh oleh pelanggan, pelanggan-pelanggan yang baru datang harus menunggu hingga kursi kosong tersedia, yang tentu akan berlangsung berjam-jam karena siapapun bukan datang untuk makan-minum di tempat ini. Kopi dan dessert adalah kebutuhan sampingan, para pelayan di sini… service utamanya.

Hari ini, pintu kafe terbuka lebar tanpa sistem waiting-list, siapapun diizinkan masuk. Jika tidak ada kursi mereka rela berdiri, hingga penampakan kafe lama mereka yang sempit dan padat manusia berebut oksigen terulang kembali.

Ini rencana utamanya. Mengumpulkan sebanyak-banyaknya publik dan simpatisan primer mereka. Pelanggan sekaligus fans Kona Beans jelas akan mendukung propaganda apapun yang diberikan di tempat ini. Kibum menjadi otaknya, karena Kyuhyun yang merupakan kandidat utama menolak sengit untuk ikut campur terang-terangan. Ryeowook bertindak sebagai hakim dan pengamat, dia yang memutuskan segalanya di atas Kibum. Yesung mengawasi dari ruang CCTV, merekam dan menggerakkan kamera demi menghasilkan video sedramatis mungkin.

Jonghyun, Changmin, Taemin, Donghae, dan Eunhyuk melayani puluhan pelanggan yang memenuhi Kona Beans, membangkitkan semangat para pengunjung dengan pelayanan lebih sensual dari biasanya.

Hari ini, satu dua sentuhan (pelecehan?) dari pelanggan tidak membuat para pelayan Kona Beans berteriak tidak terima, sebaliknya mereka malah berbalik dan tersenyum manis, memancing jeritan tidak manusiawi dari para fangirl haus seksual itu.

Rencana tahap pertama berjalan lancar. Ryeowook memanjangkan lehernya dan menghitung pelanggan dengan asal-asalan, ia memperkirakan sekitar tujuh puluh orang berhimpitan di dalam kafe sebesar 20×18 meter itu. Jumlah yang lumayan, mengingat sebagian besar pengunjung adalah wanita sekaligus pengguna media sosial yang aktif. Ryeowook menoel betis adik iparnya, memberi aba-aba untuk memulai kampanye busuk mereka.

“Ehem!” Kibum mendelik, kaget saat sadar ia berdehem melalui pengeras suara. Suara dehemannya yang berat kontan memancing perhatian nyaris dari semua orang. Terlebih posisinya yang berdiri di atas kursi di belakang etalase begitu mencurigakan. “Eh-hem…” ulangnya lagi, semakin grogi.

Gadis-gadis berbisik-bisik, meributkan apakah pemuda yang berdiri di atas kursi itu pelayan baru di Kona Beans, beberapa memutuskan untuk menggeser posisi bias mereka demi pemuda tampan ini.

Kibum gemetaran, tiba-tiba lupa pada kalimat pembuka yang susah payah dihapalkannya. Ia membungkuk, seakan bermaksud turun saat Ryeowook mendesis dan menahannya di tempat.

“Kau pikir mau kemana hah?”

“Mereka semua menatap ke arahku!” Kibum berusaha sembunyi di belakang etalase, tapi masih banyak mata melirik-lirik mencari-cari tubuhnya.

“Tentu saja mereka menatapmu, bodoh! Kau sedang kampanye!” desis Ryeowook dari bawahnya.

“Aku tidak bisa bicara kalau terlalu banyak yang menatapku!”

Ryeowook mengeram makin kesal, ditariknya kerah baju Kibum hingga pemuda itu nyaris terjungkal dari kursi. “Berikan padaku!” ujarnya sembari merebut pengeras suara di tangan Kibum. Ryeowook memanjat kursi itu, sedikit kesal karena posisi berdirinya tidak setinggi Kibum sebelumnya- Tapi jangan salahkan kursinya.

Perhatian orang-orang kembali ke balik etalase, meski tidak sehisteris sebelumnya, banyak gadis-gadis tersenyum melihat sosok mungil familiar Ryeowook di sana.

“Selamat pagi, my dear customers.” My dear money sources. Koreksi pemuda itu dalam hati. Namun senyumnya begitu manis hingga malaikat pun lupa mencatat dosa batinnya barusan. “Aku yakin kalian mengenal wajah ini, nde?”

Ryeowook-sshi aku mencintamu!” seseorang berteriak, dari ujung ruangan di tengah kerumunan kepala. Ryeowook tidak bisa melihatnya, dan ia tidak peduli, tapi senyumnya begitu memikat hingga CCTV bergerak seakan menyorot semua tindak tanduknya -sekedar mengingatkan kembali, Yesung yang menjaga ruang kamera.

“Terima kasih telah datang lagi hari ini setelah kemarin-kemarin-kemarin dan kemarinnya kalian setia mengunjungi kami. Semua minuman kopi bebas biaya untuk hari ini, silahkan dipesan dan dinikmati.” Ryeowook tertawa ramah, menunjuk para pelayan seakan yang ditawarkannya barusan bukan minuman kopi gratis, melainkan pemuda-pemuda tampan nan pasrah itu.

“Dan bolehkan aku meminta perhatian kalian?” Ryeowook melanjutkan.

“KAMI MILIKMU RYEOWOOK-SSHI!” Teriakan itu lagi. Ryeowook menganggapnya sebagai persetujuan untuk memperhatikan.

“Aku bingung harus memulainya dimana. Tapi…” Ryeowook mendesah, melepas kacamata tak berlensa yang dikenakannya, memejamkan mata dan memegangi dadanya sedih. “Kona Beans terancam ditutup.”

Bukan hanya pengunjung, seluruh pelayan terhenyak dan sontak mendelik ke arah Ryeowook. Lalu dalam sekejap mata, jerit frustasi para pelanggan membanjir menolak kenyataan.

“WHYYYYY?????”

“NOOOOO!!!!”

“NO RYEOWOOK-SSHI NOOOOO!”

Ryeowook mengangkat tangannya, meminta perhatian yang dalam sekejap didapatkannya. Kona Beans berubah hening, tegang. Puluhan pengunjung kini berdiri untuk dapat melihat dengan lebih jelas, sebagian besar memasang tampang hampir menangis.

Ryeowok hanya melirik Kibum yang memandanginya tidak percaya seakan ingin menjeritkan, ‘Itu tidak ada di script kita!’

‘Serahkan padaku.’ Ujar Ryeowook tanpa suara. Pengeras suara ditangannya sudah diambil alih oleh Kibum agar ia bisa bergerak lebih leluasa. Saat ia mendongak, dikenakannya lagi kacamatanya. Kali ini Ryeowook memasang wajah serius yang tampak ditegar-tegarkan.

“Kalian pasti tahu kafe ini dikelola oleh empat orang. Aku, Yesung-sshi, Heechul-sshi, dan suaminya. Dan Heechul-sshi…” Ryeowook mengatup mulutnya seakan terlalu pedih untuk melanjutkan. “Heechul-sshi sedang tertimpa bencana yang kemungkinan besar akan berpengaruh pada seluruh kelangsungan hidup Kona Beans. Aku tahu ini berat untuk kita semua, dan untuk seluruh karyawan malang Kona Beans yang sebentar lagi akan menjadi pengangguran…”

Lima orang gadis menangis histeris. Ryeowook menghapus airmata imajiner di pipinya. “Ada satu jalan keluar. Tapi kami membutuhkan dukungan dari pelanggan setia Kona Beans…”

“KAMI AKAN LAKUKAN APAPUN UNTUKMU, RYEOWOOK-SSHHIIIIII!” seseorang menjerit, lalu disusul jeritan gadis-gadis lain. Dalam sekejap Kona Beans seperti tengah mengadakan demonstrasi tertutup.

“KAMI AKAN LAKUKAN APAPUUUUN!”

“APAPUN RYEOWOOK-SSHI! APAPUN!”

Ryeowook tersenyum dan mengangguk-angguk terharu. “Kalau begitu, akan kujelaskan titik permasalahannya…” ujarnya sebelum membungkuk, menyembunyikan raut garangnya dari para pelanggan saat menghadap Eunhyuk. “Hyukkie, nyalakan LCDnya! Anak-anak! Bagikan klippingnya!

Ryeowook membenahi jasnya lagi, sebelum berdiri, lebih serius dibanding sebelumnya. Ia tahu akan mendapatkan banyak dukungan, tapi melihat respon positif puluhan orang di depan matanya membuatnya semakin bersemangat.

“Kita awali penjelasannya dari enam tahun lalu.” Ryeowook memulai…

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Siwon mengerat rahangnya di balik mulut yang terbungkam. Seorang petugas Lembaga Perlindungan Mutan membukakakan pintu untuknya, gerak tangan pria paruh baya itu begitu lamban saat ia memutar kunci-kunci besi tradisional. Siwon mendesah tidak sabar, dalam hati membayangkan tangannya melayang memukul petugas itu dan merebut kunci ditangannya keriputnya. Pengacara Kang dan Woohyuk berdiri di kedua sisinya, memastikan ia tidak melakukan hal-hal yang baru saja melintas dalam benaknya. Tapi Siwon bersumpah sudah akan melakukannya, tangannya mengepal, namun tertahan saat pintu kembar itu terbuka lebar dan suara pekikan Jieun menyambutnya dari dalam.

“Daddy!”

Siwon menahan napas, sontak berlutut melebarkan tangan saat Jieun menghambur dalam pelukannya. Dipeluknya erat tubuh mungil putrinya, disesapnya rambut merah gadis kecil itu lamat-lamat, memastikan berkali-kali ia sudah benar-benar merengkuh Jieun di kehidupan nyata. Baru dua hari, tapi rasanya sudah lama sekali ia tidak mendengar suara mungil ini. Siwon menggendong tubuh Jieun erat-erat, lalu berpindah untuk duduk di kursi sementara pengacaranya mengurus berbagai berkas.

“Aku mau pulang…” Jieun terisak, Siwon mengecup kedua mata basah yang masih bengkak itu lalu mengusapnya menggunakan jari.

“Kita akan pulang. Woohyuk-samchon sedang mengurus surat-surat penting untukmu. Sebentar lagi, ok?” bisiknya sembari tersenyum lembut. Siwon merasa pandangannya nyaris berpendar saat ditatapnya wajah putrinya cukup lama. Dadanya terasa penuh, ia hampir tidak percaya. Berkali-kali dikecupnya pipi hangat Jieun, aroma harum baby powder putrinya yang khas menenangkan perasaannya.

Hanya butuh beberapa menit lagi, dan ia bisa pulang bersama putrinya. Siwon melirik Woohyuk yang berbicara kepada seseorang melalui ponselnya sembari berdiskusi dengan Pengacara Kang. Ia duduk memangku Jieun, memeluk tubuh mungil itu erat-erat sementara Jieun balas memeluknya lebih erat lagi. Sebelah kakinya bergerak-gerak tidak sabar. Saat diskusi Woohyuk dan Pengacara Kang berubah menjadi perdebatan kecil, Siwon menautkan alisnya tidak senang.

“Ada apa?”

Woohyuk tidak langsung menjawab. Wajahnya diliputi kekhawatiran membuat raut Siwon mengeruh kesal. “Ada apa?” ulangnya dengan penekanan. Secara refleks ia memeluk tubuh Jieun lebih protektif. Perasaannya mengatakan sesuatu yang tidak mengenakkan.

“Pihak Heechul mengajukan banding, dan Hakim mengabulkannya.”

Siwon mendelik. “Bagaimana mungkin?” serunya marah. Jieun berjengit dan meremas kemejanya ketakutan. Siwon menggoyang-goyang pangkuannya untuk menenangkan putrinya. Tapi kesabarannya tidak bertahan lama.

“Seperti yang kita duga sebelumnya, mereka mengungkit kasus lamamu, Siwon-sshi.”

“Kau bilang kau bisa berbohong untukku! Itu kejadian enam tahun lalu, kau bisa buat banyak alasan untuk melindungiku. Apa gunamu, hah? Aku membayarmu mahal!”

Keributan yang dibuatnya memancing dua pengawas masuk, seragam gelap mereka berbeda dari penjaga yang membukakakan pintu untuknya. Saat melihat keduanya, Jieun berjengit ketakutan dan berpegang erat-erat pada ayahnya.

“Aku tidak mau kembali kesana, aku mau ikut Daddy!” Jieun mencengkeram kemeja ayahnya erat-erat, matanya berkaca-kaca lagi. Sepasang tangan mungilnya meremas apapun yang bisa diraihnya dari tubuh sang ayah.

“Princess, hus! Hus, kau tidak boleh menangis.” Siwon ingin berbisik selembut-lembutnya, sebesar rasa sayang dan tidak relanya untuk melepaskan Jieun. Namun dua pengawas itu berdiri terlalu dekat dan memberi gestur untuk meraih Jieun darinya.

“Daddy akan kembali, kau dengar itu?” ujarnya meyakinkan, namun Jieun masih menangis dan menolak melepaskan diri, dikeratnya erat-erat kemeja ayahnya hingga katun biru itu teremas kusut. Siwon mengusap punggung Jieun dengan tangan gemetar, ingin balas memeluk putrinya namun ia harus menguasai diri. Tatapan kakak dan pengacaranya seakan menyuruhnya untuk mengontrol emosi. “Hanya dua hari, Princess. Daddy berjanji hanya dua hari.” Siwon berbisik sembari mengecupi tengkuk putrinya. Jarinya gemetar saat ia berusaha melepaskan cengkraman mungil Jieun dari kemejanya.

Melihat tidak ada kemajuan diantara keduanya, Jieun menolak melepaskan diri dan Siwon tidak memberi usaha ekstra untuk melepaskan putrinya, salah seorang pengawas lembaga itu maju dan meraih bahu mungil Jieun, memberi aba-aba akan meraup tubuh Jieun dari Siwon. “Nona Jieun, ayo kemari.”

Jieun memekik, sontak memeluk leher ayahnya dan menangis makin histeris. Suara memekakkan itu begitu dekat dari telinga Siwon hingga pria itu sontak berdiri emosi. Sebelah tangannya memeluk Jieun dan sebelahnya lagi meraih kerah baju petugas itu.

“JAUHKAN TANGANMU, SIALAN!” Siwon berseru, ditariknya kerah petugas itu lebih dekat dari wajahnya. “SENTUH PUTRIKU LAGI DAN KUBUNUH KAU!” desisnya mengancam. Perbedaan tinggi tubuh yang mencolok membuat tubuh petugas itu sedikit terangkat, posisinya membuatnya tercekik.

“Siwon-ah! Lepaskan dia!” Woohyuk berseru panik, berusaha melerai. Siwon hanya menggunakan sebelah tangan, namun Woohyuk dan petugas itu tidak berhasil melepaskan cengkraman tangannya. Pengacara Kang dan dua pria lain harus ikut campur untuk membebaskan petugas malang itu sementara Siwon masih menolak melepaskan Jieun.

“Siwon-sshi…” Pengacara Kang berbisik di sisinya. “Siwon-sshi, disini ada kamera!” desisnya mengingatkan, melirik ke sudut atas ruangan tempat sebuah kamera pengawas diletakkan.

Shit…” Siwon mengumpat dengan suara pelan, berusaha keras menahan emosinya. Ia menunduk menatap wajah putrinya, dahinya berkerut tidak rela, tapi pelan-pelan ia melonggarkan rengkuhannya, membiarkan seseorang mengambil alih Jieun dari gendongannya.

“Daddy!” Jieun memekik kaget dan sontak meremas kerah kemeja ayahnya. Tanpa bantuan Siwon, tangan mungilnya dengan mudah ditarik lepas. Gadis kecil itu menangis di dalam gendongan seorang petugas. Siwon gemetar, ingin meraih putrinya lagi namun satu tangan Woohyuk menjaga perutnya seakan mengingatkannya untuk tidak melakukan itu.

“Daddy menyayangimu, Princess. Kau hanya akan menunggu sebentar lagi, I promise.” Ujarnya sebelum berbalik, suara tangis Jieun mengiringi langkahnya hingga dua pintu tinggi itu kembali ditutup di belakang tubuhnya.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Salju turun di luar jendela. Sungmin menatapnya, menghitung bulir-bulir yang tertangkap oleh matanya, berusaha membunuh waktu, berusaha membunuh perhatiannya dari pria yang duduk erat di sisinya. Ia duduk memunggungi Seunghyun, bersandar dengan sebelah bahu pada sofa, sebentar meremas selimut di atas lutut, lalu berusaha melemaskan gerak tangannya, tidak ingin terlihat tegang. Seunghyun mungkin akan meninggalkannya sendiri jika ia hanya duduk diam.

Seunghyun menaikkan lagi selimut menutupi separuh tubuh mereka, hal yang dilakukannya hampir setiap lima menit. Jika dilihatnya sehelai rambut bergerak turun menutupi kening Sungmin, Seunghyun akan mengangkat telunjuknya untuk mengusap helai rambut itu, apapun dilakukannya agar jari-jarinya diberi kesempatan untuk menyentuh kulit terbuka mutannya. Sungmin pasti bosan terus-terusan beristirahat di kamar mereka, karena itu Seunghyun mengajaknya duduk di ruang keluarga, memandang keluar dari jendela sekalipun tidak ada hal menarik yang bisa dipandang di luar sana kecuali hamparan salju dan jalan kosong.

Seunghyun menatap perut mutannya dan tersenyum, merasakan kehangatan membanjiri hatinya.

“Hyung bilang kalau tidak ada kendala, kau bisa melahirkan dengan normal. Dua atau tiga minggu lagi.” Ia mengusap perut Sungmin di balik selimut, bayi itu seakan membalas usapan tangannya dengan berputar dan menendang, membuatnya terkekeh. Sungmin justru mematung, seakan tidak merasakan apapun, baik usapan tangan Seunghyun maupun tendangan bayinya.

“Jika normal, hyung bilang prosesnya bisa dilakukan di kliniknya, dengan seluruh fasilitas yang lengkap. Tapi di rumah juga tidak jadi masalah, aku bisa sediakan seluruh fasilitasnya, selengkap di klinik! Kau yang memutuskan sayang, terserah padamu.”  ujar Seunghyun, merapatkan kakinya dari kaki Sungmin, diselipkannya sebelah tangan melintasi punggung mutan itu dan ditariknya tubuh Sungmin dalam pelukan.

Mutan itu berjengit, tubuhnya kaku dalam rengkuhan Seunghyun. Pupil cokelatnya mengembang, ekspresinya menegang. Tapi sebentar saja ia mengatur napasnya dan melemaskan tubuhnya. Kembali bertindak bagai patung, diam menatap datar keluar jendela.

“Jadi… Kau ingin di rumah atau di klinik Junsu-hyung?” Seunghyun bertanya lagi, mengecup tengkuk Sungmin. Suaranya selembut yang tak pernah diingat Sungmin.

Sungmin memiringkan kepalanya, lehernya tegang. Tapi ia tidak ingin memancing amarah Seunghyun, jadi ditawarkannya saja leher itu. Tangan Seunghyun pas bagai sabuk di melingkari perutnya. Sungmin menggantungkan tangannya keluar dari rengkuhan kokoh itu, ujung-ujung jarinya gemetar.

“Sungmin-ah? Kau ingin di rumah atau di klinik Junsu-hyung?” Seunghyun mengulanginya lagi, sedikit tidak sabar kali ini. Ia ingin mendengar suara Sungmin. Enam hari sejak saat Sungmin kembali memanggil namanya, mutan itu justru lebih jarang bicara dibanding saat ia tidak bisa bersuara. Seunghyun ingin mendengar suara mutannya lagi.

Sungmin mendengarnya, tapi begitu berat untuk menjawab. Ia menunduk menatap tangan berbalut piyama biru yang melingkari perutnya, lalu teringat akan Kyuhyun. Wajah kakunya berubah sendu. Disentuhnya tangan itu dan diremasnya erat-erat. Dingin. Seperti tangan Kyuhyun. Dingin namun berkeringat.

“Sungmin-ah!” Seunghyun mengguncang tubuh Sungmin. Mutan itu berjengit, dan berpaling padanya dengan mata membulat ketakutan.

“Y-Ya?” cicit mutan itu. Suaranya pelan, nyaris tak terdengar. Tapi Seunghyun cukup puas.

“Kau melamunkan apa, sayang?” Seunghyun mengusap wajah mutannya, menatap lembut.

“A-aku…” Sungmin tergagap. Merasa wajib menjawab pertanyaan Seunghyun meski enggan. Tenggorokannya terasa gatal saat ia berusaha mengeluarkan suara. Seunghyun menungguinya dengan sabar, menatapnya dengan raut sayang yang makin mengingatkannya pada Kyuhyun. Tapi Sungmin menyadari sepenuhnya bahwa bukan Kyuhyun yang duduk di hadapannya. Meski tatapan itu lembut, dengan mata yang berpendar penuh perhatian. Seunghyun tetap bukan Kyuhyun. Berapa ratus kalipun ia mengerjap, sosok di hadapannya tidak memudar. Semakin lama ditatapnya senyum lembut di wajah Seunghyun, semakin ia ingin meloloskan diri dari sana.

Tapi Sungmin tidak mampu beranjak. Tangannya berubah gemetar saat sesaat muncul niatnya untuk mendorong dada Seunghyun. “H-hiks…” Sungmin memejamkan mata dan mulai menangis dalam frustasi.

“Yah!” Seunghyun kaget, ada denyut aneh di dadanya saat melihat tangis Sungmin. Hampir menyerupai rasa pedih, namun disamarkannya sebagai rasa geli. Pria itu tertawa pelan, suara kekehnya nyaris terdengar malang. Diusapnya bahu ringkih Sungmin dan dirangseknya mutan itu dalam pelukan.

“Kenapa menangis mutan cengeng?” Seunghyun mengecup rambut Sungmin, diusapnya sayang sepasang cuping cokelat Sungmin yang merunduk turun. “Baiklah-baiklah, kita bicarakan lagi besok oke?”

Sungmin terisak lebih keras, dua tangannya menahan dada Seunghyun dengan lemah. Ingin sekali didorongnya pria itu menjauh, namun akal sehat menahan Sungmin melakukannya.

“Hus! Cup, Sungmin-ah! Big-foot menculik mutan yang menangis saat turun salju!” Seunghyun menakut-nakuti Sungmin sembari memeluknya erat-erat, berharap mutan itu balas memeluknya meminta perlindungan. Tubuh Sungmin lemas dalam pelukannya, begitu dekat namun terasa lepas dari genggaman.

Sungmin mengatup mulut, menahan sisa-sisa suara tangis. Bukan ancaman Seunghyun yang menakutinya. Monster kasat mata tidak bisa menakutinya saat kini ia harus menahan diri untuk tidak lari dari monster yang jelas tengah memeluknya.

.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

.

Siwon tidak ingin pergi kemanapun hari itu. Ia hanya ingin berdiam di rumah, mendengar semua progress yang dikerjakan oleh pengacaranya untuk merebut Jieun, dan menunggu. Tapi ia mendapatkan telpon sejak pagi buta, memintanya datang ke kantor hanya untuk dihadapkan pada masalah lain yang semakin membakar amarahnya. Koran digital menunggu dengan layar menyala di atas meja kerjanya. Sekilas headline berwarna hitam dengan font besar memenuhi layar 9 inci itu.

‘Pewaris Choi Corp – Choi Siwon Terlibat Kasus Penculikan Anak.’

Siwon mengamuk melihat judul itu. Dihempasnya koran digital itu hingga terbanting hancur. Sekretaris dan pengacaranya hanya mampu berdiri diam di dekat meja, tidak berani menyela untuk sesaat.

“Aku tidak menculik putriku sendiri! Apa kerjamu selama ini? Kau bahkan tidak bisa menangani media kurang ajar ini! Mereka hanya media kecil! Bungkam mereka!”

Keduanya tidak menjawab. Sama-sama tahu mereka memiliki tugas yang sama. Menjaga nama baik Siwon, bagaimanapun caranya. Jika memang hanya media kecil yang mengeluarkan berita negatif atasan mereka, akan sangat mudah untuk mengatasinya. Tapi masih banyak headline penting lain yang belum dilihat oleh Siwon. Semua berasal dari media yang berbeda. Media lokal kecil hingga media nasional.

Sesaat setelah Siwon duduk di kursinya dan bernapas lebih tenang, Sekretaris Choi mendekat, mengulurkan koran digital lain yang dipenuhi judul-judul kecil, semua di bawah sub-kategori Berita-Tentang-Choi-Corp.

‘6 Tahun Insiden Han Heechul’

‘Terlibat Kasus Penculikan Mutan….’

‘Saham Choi Corp Turun Hingga….’

“Total 7 berita negatif dari 4 media berbeda. Terkait kasus Nona Jieun, Tuan Muda.” Sekretaris Choi bicara.

“Kau merasa aku harus melihat semua ini?!” suara Siwon menggelegar di dalam ruang pribadinya. Tangannya gemetar. Tapi pria itu menahan diri untuk tidak merusak apapun lagi. “Bungkam mereka!”

“Kita tidak bisa main dengan cara itu lagi, Tuan Muda.” Pengacara Kang gugup menyela, sembari mengusap keringat di keningnya menggunakan sapu tangan. “Sudah ada 2 petisi dibuat untuk mendukung Heechul mendapatkan hak asuh nona Jieun. Cepat atau lambat, media-media lain akan ikut membuat berita. Mereka mencari pembaca, dan kasus ini akan mengundang banyak perhatian orang. Selain itu, sepertinya pihak Heechul memang mendapatkan bantuan dari media-media ini.”

“Lalu aku harus apa?! Duduk diam melihat pelacur itu merebut putriku?!”

“Kita harus bersikap tenang, Anda harus bersikap tenang. Tindakan gegabah hanya akan mengundang wartawan, mereka akan menjadikan apapun tindakan Anda sebagai berita.” Pengacara Kang menekan kalimatnya, ia berdiri tenang meski jantungnya berdegup kencang melihat ekspresi Siwon tidak kunjung melunak.

Siwon mengeram marah, ingin melemparkan vas bunga ke arah Pengacara Kang.

“Aku mendapat informasi bahwa pihak Han Heechul sedang berusaha menyeret Anda untuk menjalani tes mental.”

“Kau pikir aku apa? Orang gila?!” seru Siwon dengan wajah memerah. Pengacara Kang menunduk, tidak menjawabnya, sesaat sibuk pada digital notes di tangannya.

“Dan akan merepotkan kalau mereka sampai menggunakan kecocokan DNA Jieun dan Heechul.” Sambung pengacara itu.

“Kalau begitu cegah itu terjadi!”

“Tidak mungkin, Tuan Muda. Setelah berhari-hari nona Jieun berada di lembaga itu, mereka pasti sudah mengambil sampel DNA-nya.”

“APA YANG KAU LAKUKAN DISINI? Mengadukan semua kegagalanmu padaku? Ingatkan lagi untuk apa aku menyewamu!” Siwon berdiri murka. Kertas dan map di atas mejanya jatuh berantakan. “BUAT SEOLAH HASILNYA PALSU! Curi sampelnya! Bunuh dokter mereka! Lakukan apapun, aku tidak peduli! Aku ingin putriku kembali!”

Pengacara Kang belum selesai bicara, tapi Siwon menghambur keluar dengan amarah meledak-ledak. Ia tidak ingin mendengar apapun lagi. Sekeras apapun ia berusaha bersikap tenang, ia tidak bisa duduk diam saat terbayang lagi suara tangis putrinya.

Dua pengacaranya dan Woohyuk berusaha memberi wejangan. Siwon berusaha mendengarkan, tapi ucapan mereka dan seluruh jawaban yang didikte untuk diulangnya di hadapan Hakim seakan menguap di atas kepala. Tiga hari terlalu lama untuk menunggu bertemu dengan putrinya, dan terlalu cepat untuk menuju sidang banding yang tidak pernah diharapkannya. Tapi hari itu datang juga.

Bukan dengan kabar baik, rencana-rencana yang dibuat pengacaranya terasa tidak sebanding dengan berita-berita yang terlanjur dibuat untuk menjatuhkan namanya.

Siwon menatap lurus pada hakim paruh baya di hadapannya, duduk di bangku yang tinggi dengan meja menutupi separuh tubuhnya. Siwon berjalan tegap, berusaha mengabaikan ramainya penonton yang memenuhi dua sisi ruang sidang. Persidangan kali ini bahkan mengundang lebih banyak wartawan, aktivis, dan lebih banyak lagi wajah yang menatapnya seperti menatap terdakwa.

Juri duduk di sisi kanan terdepan, mendampingi deretan kursi jaksa. Bangku Han Heechul sudah terisi namun Siwon menolak menatapnya dua kali. Jepretan cahaya berkali-kali menyerang setiap langkahnya, beberapa wartawan berjejal duduk di bawah meja hakim demi mendapatkan foto dengan sudut terbaik.

Pintu masuk utama segera ditutup setelah Siwon masuk bersama pengacaranya, tiga petugas kepolisian berjaga di dalam dan tujuh berjaga di luar. Jumlah yang dipersiapkan untuk mencegah keributan yang mungkin akan terjadi. Seperti enam tahun lalu saat sidang berakhir ricuh. Namun saat itu Han Heechul memenangkan sidangnya. Dan mutan itu pasti berpikir ia akan mengulangi kemenangannya saat itu.

Siwon mengepalkan tangannya sebentar, hingga kilau cahaya kamera menghantamnya membabi buta. Ia berusaha melemaskan tangannya, meski berakhir gemetar dan kaku.

Didampingi dua pengacara, Siwonduduk dengan memasang wajah dingin. Dua jam lalu pengacara Kang memaksanya untuk menelan obat penenang dosis rendah, tapi benda itu tidak membantu. Tangannya gemetar dan Pengacara Jung memegangi pahanya di bawah meja, hanya akal sehatnya yang berhasil menahannya untuk tidak membanting meja itu ke depan.

Heechul duduk di sisi lain, menatap ke depan dengan raut jauh lebih tenang dari sidang sebelumnya. Dua pengacara duduk di sisi kanan dan kirinya, Siwon menolak berpaling pada mutan itu hanya untuk melihatnya duduk dengan kepercayaan diri akan memenangkan sidang ini.

“14 Juni 2307, Han Heechul memenangkan kebebasannya dari Tuan Choi Siwon.”

Siwon menatap pengacara lawan-Pengacara Song, berjalan tenang di depan hakim dan menyebut namanya berkali-kali.

“Saat itu kandunganHan Heechul masih berusia lima bulan,” pengacara itu berjalan maju, membuka sebuah map dan menyusun foto-foto bukti yang disertakan tanggal. “Bayinya belum lahir saat Han Heechul memenangkan kebebasannya.”

“Perkara ini sudah dibicarakan saat sidang sebelumnya Yang Mulia.” Pengacara Kang menyela, tapi Hakim memintanya untuk diam dengan mengangkat tangan.

Pengacara Song mengangguk berterima kasih untuk izinnya berbicara. “Bagaimana bayi yang ikut bebas bersama ibunya bisa tinggal bersama Tuan Choi Siwon enam tahun setelahnya, tentu menjadi pertanyaan bagi kita semua. Terlebih enam tahun lalu tindak kriminal terencana menimpa Tuan Han Heechul.”

“Interupsi, Yang Mulia.” Pengacara Kang berdiri menyela, ia membenahi jasnya hampir dengan raut jengah. “Kami sudah mengajukan bukti sebelumnya, Akta Lahir resmi yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit milik Tuan Hangeng.” Pengacara itu menekan suara saat menyebutkan nama Hangeng. “Atas apapun kejadian yang menimpa Han Heechul setelahnya bukan tanggung jawab dan berada di luar sepengetahuan klien kami.Kita membicarakan anak mutan, bukan anak manusia. Yang sejak lahir hingga seumur hidupnya adalah hak pemiliknya yang manusia untuk merawat, menjaga, dan membiayai hidupnya. Lebih dari itu bukti-bukti sudah menyatakan bahwa Han Heechul secara mental tidak mampu mengayomi nona Jieun secara psikis dan jasmani.”

“Jadi Tuan Choi Siwon mampu mengayomi nona Jieun lebih dibanding Han Heechul secara psikis dan jasmani?” Pengacara Song berbalik, menyela.

Pengacara Kang menatap lawan bicaranya, seakan sudah menduga pertanyaan itu. Matanya melirik gugup, hampir berpaling menatap Siwon namun buru-buru ia membuang muka.

“Tentu.” Ujarnya mantap. Meski sebulir keringat mengalir melewati pelipisnya dan diusapnya segera. “Seluruh bukti visum Nona Jieun dan video footage tindak kekerasan Han Heechul sudah kami berikan pada sidang sebelumnya.”

Pengacara Song tersenyum, setenang awan. Ia berpaling pada Hakim. “Kalau begitu, membahas bukti-bukti yang kami ajukan untuk sidang banding ini…” Pengacara Song membuka map lain, berisi potongan-potongan foto, diperkuat dengan video pendek yang menyala di layar mungil ponselnya. Hakim dan kedua jaksa di sisinya melongok untuk melihat, kilat cahaya kamera beberapa kali menempa wajah mereka yang tengah mengerutkan kening. “…yang menunjukkan kemungkinan besar bahwa Tuan Choi Siwon jauh lebih tidak mampu mengayomi nona Jieun secara psikis dan jasmani. Kami menyertakan video CCTV dari lembaga peduli anak yang menampung nona Jieun selama enam hari terakhir. Di dalam video, Tuan Choi Siwon tertangkap hampir menganiaya petugas lembaga dan mengancam akan membunuhnya—“

“Anda bisa melihat Tuan Choi hanya berusaha melindungi Nona Jieun. Itu tindakan protektif seorang ayah yang ingin melindungi putrinya.” Pengacara Kang menyela, memusatkan diri untuk menatap pengacara lawan dibanding kliennya sendiri.

“Ayah yang terganggu kejiwaannya?” Pengacara Song membalas cepat, lalu tertawa, nyaris tertangkap kamera melempar pandangan mencibir ke arah Siwon. “Maaf Yang Mulia. Kami menghadirkan banyak saksi untuk memperkuat tuduhan kami. Saksi pertama, Tuan Jang Jaehwan, usia 53, bekerja sebagai pegawai Lembaga Perlindungan Mutan. Orang yang sama yang anda lihat di dalam video, Yang Mulia.”

Siwon tahu pengacaranya berusaha, tapi bagaimana Pengacara Kang membalas dengan argumen lemah dan beberapa kali tampak mengalah membuatnya mengepalkan tangan tidak sabar.

“Kalau Yang Mulia memutuskan video itu memang menunjukkan tindakan protektif ayah yang mencoba melindungi putrinya. Masih ada satu video lagi.”

Siwon melirik gelisah. Perasaannya berubah makin kacau saat dilihatnya pengacara Song berdiri di depan mimbar Hakim, mengusap layar ponselnya dengan kepercayaan diri penuh. Apa yang ingin ditunjukkan pengacara itu? Sedang pengacaranya sendiri berdiri kaku, tertangkap olehnya  melangkah mundur beberapa kali.

Hakim itu bergantian memandangi layar ponsel dan wajah Siwon. Keningnya berkerut, ekspresinya berubah keruh.

“Berdasarkan tanggal, video ini direkam tiga bulan sebelum sidang ini, jauh sebelum Han Heechul mengetahui keberadaan Nona Jieun. Tolong sambung ke projektornya,” Pengacara Song berjalan turun melewati belasan wartawan yang duduk meleseh di bawah mimbar hakim, lalu tanpa sengaja bertukar pandang dengan Siwon. Senyumnya memberi desir aneh.

Video yang diputar tidak bersuara, namun kualitas gambar yang tampak membuat apa yang terjadi di dalamnya cukup jelas bahkan tanpa bantuan audio. Belasan wartawan berpindah perhatian, sibuk merekam dan memotret gambar. Juri sibuk mencoret-coret lembar kertas mereka, memberikan opini. Suara bisik dan cibiran membumbung dari arah kursi penonton. Siwon menyaksikan video itu dengan tangan mengepal.

Disana, tampak jelas sosok dirinya, berdiri di depan dua baris pelayan dan penjaga untuk memukul wajah mereka satu per satu. Kejadian yang tidak begitu jelas diingatnya, namun Siwon tahu, kejadian itu berlangsung di rumahnya dan sosok itu memang benar dirinya.

“Itu video palsu.” Bisiknya, suaranya gemetar tidak terdengar diantara suara lain di ruang sidang itu. Ia melirik orang lain, puluhan mata menuding ke arahnya, membuatnya ingin mencongkeli mata itu satu persatu. Tidak ada yang boleh menghakiminya, bahkan di ruang sidang ini. Dan Pengacara Song berdiri beberapa kaki di hadapannya, menatapnya tanpa takut.

“Jadi apa video itu menunjukkan tindakan protektif seorang ayah yang melindungi putrinya, Yang Mulia? Untuk menghindari sanggahan pihak Tuan Choi Siwon tentang keaslian video, kami mengumpulkan lebih banyak bukti. Tujuh dari tiga belas pelayan yang berada di dalam video itu sudah bersedia untuk menjadi saksi. Sekarang, Yang Mulia…” Hakim Song mendogak. “Dengan sikap tempramen itu, bukankah sangat disesalkan Nona Jieun harus hidup bersama tuan Choi Siwon selama ini?”

Siwon mengepalkan tangannya geram. Sebulir keringat dingin mengalir melintasi pelipisnya yang kaku dengan urat menyembul. Pengacara Kang berdiri disana, membungkam mulut dan melipat tangannya di depan dada, membiarkan Pengacara Song menguasai argumentasi mereka.

“Masih ada tujuh saksi lain yang bisa memberikan pernyataan untuk mendukung tuduhan kami. Bahwa Choi Siwon secara kejiwaan tidak pantas mendapatkan hak asuh seorang anak. Kami bisa minta mereka untuk masuk satu per satu.”

Siwon terus menatapi pengacaranya, menunggu pria itu membuka mulut untuk membelanya. Tapi saat pengacara Kang bertemu muka dengannya, pengacara itu segera membuang muka. Siwon mengeram, ia berdiri tidak sabar, hampir menggulingkan meja di hadapannya.

“Katakan sesuatu, damnit!” serunya pada Pengacara Kang. Pengacara itu berdiri seakan tidak mendengarnya. Hakim dan para juri tertegun mendengarnya berseru, meski tidak mengatakan apa-apa. Wartawan mendapatkan kesempatan untuk memotret dan merekam sebanyak mungkin.  Begitu banyak mata sontak tertuju padanya membuat Siwon memaksa membungkam mulut, meski dengan bibir gemetar.

“Ah! Satu hal lagi.” Pengacara Song meletakkan satu map penuh berkas baru di meja Hakim. “Hasil pencocokan DNA Nona Jieun dan Han Heechul, 99,99% menyatakan mereka berhubungan darah.”

Hakim menerima berkas itu dan memeriksa dengan segera, beberapa kali Hakim berdiskusi dengan suara berbisik pada jaksa di kanan dan kirinya. Sekali tatapannya terarah pada Siwon, dan beralih pada Pengacara Kang seakan mengizinkannya untuk melawan.

“Apakah ada yang ingin kau sampaikan? Sesuatu untuk ditunjukkan, Pengacara Kang?”

Siwon menunggu, menghapal sendiri dalam batin argumen yang sudah mereka siapkan bersama sebelum sidang dimulai, berkas-berkas yang sudah mereka palsukan, bahkan dokter-dokter yang mereka sewa untuk dijadikan saksi. Perasaannya membisiki sesuatu yang buruk, tiba-tiba ia teringat perangai aneh Pengacara Kang sejak sehari lalu, namun dirinya terlalu sibuk memikirkan Jieun untuk mencurigai gelagat pengacara muda itu hinggaPengacara Kang berujar cepat, dengan kepala mendongak mantap menatap Hakim.

“Tidak ada sanggahan, Yang Mulia.”

Siwon mendelik, sontak berdiri mendorong meja di hadapannya, hampir saja ia melompat melewati meja itu untuk mencekik pengacara Kang. Namun empat orang dari segala sisi menahannya bersamaan.

“K-kau!BERAPA BANYAK PELACUR ITU MEMBAYARMU, HAH? AKU BISA BAYAR LIMA KALI LIPAT!”

Ruang sidang sontak berubah ricuh. Belasan wartawan mendapat kesempatan untuk berdiri saat polisi yang berjaga menertibkan mereka beralih sibuk menjagal Siwon. Pendukung di barisan pihak Heechul sontak berdiri memasang bahu.

“Tuan Choi, saranku, jangan pukul siapapun disini.” cibir pengacara lawan.

Siwon menghentak marah. Begitu melirik ke sisi, pengacara Jung sudah beringsut menjauhinya, saat itu Siwon sadar dirinya dikhianati. Pria itu meraung, memancing kericuhan lebih dari tadi hingga hakim memukul palu tiga kali, memaksa suasana redam sesaat.

“Tuan dan Nyonya Juri, silahkan mengumpulkan vote dan memberi keputusan.”

Siwon mendelik tidak terima. Para juri bergegas berdiskusi sembari mencuri-curi menatap ke arahnya. Ia memberontak, memaki, namun perbuatannya memancing lebih banyak polisi untuk menjagalnya.

Para juri mengumpulkan kertas suara mereka dan menumpuknya jadi satu. Seharusnya ada jeda istirahat, diantara penghitungan dan pengumuman keputusan. Tapi tumpukan kertas itu langsung dihitung, dan kini sudah berpindah ke meja Hakim.

Siwon berdiri nyaris lemas, kedua kakinya gemetar. Tapi diremasnya kerah dua polisi di kanan dan kirinya untuk menopang diri. Ia tahu, keputusan macam apa yang akan didengarnya.

“Keputusan sidang kali ini, Tuan Choi Siwon dan Han Heechul akan sama-sama menjalani tes mental. Hak asuh atas nona Jieun dijatuhkan pada sidang berikutnya.” Ujar Hakim diiringi ketukan palu, tiga kali mengakhiri sidang. “Sidang ditutup.”

Siwon menggertakkan giginya, ingin meraung. Mata dan dadanya terasa panas. Saat ia berpaling, Heechul juga menatap kearahnya, dengan belasan orang mengelilinginya bagai benteng. Polisi-polisi di sekelilingnya sendiri mencengkeram lebih kuat, menyeretnya ke pintu kanan ruang sidang.

“Kau merasa menang, hm?!” raungnya dari jauh, tidak peduli lagi jika wartawan akan merekam perbuatannya.

Heechul tidak menjawab, mutan itu hanya menatapnya kaku hingga ia diseret keluar ruangan.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Mansion Han terang dan ramai, bahkan tanpa penghuninya. Sebelum sidang selesai, Kibum dan Ryeowook pulang lebih dulu untuk menyiapkan semua ini. Saat keadaan sidang tampak terkendali sesuai dengan prediksi rencana mereka, lebih banyak orang menyusul pulang. Terlebih Heechul dan Hangeng tidak langsung kembali setelah sidang selesai, sidang yang belum menghasilkan keputusan mutlak.

Namun keputusan Hakim mengharuskan Choi Siwon menjalani tes mental, maka kemenangan itu sudah pasti di depan mata.

Ryeowook berinisiatif untuk mengadakan pesta penyambutan kemenangan. Zhou Mi yang mendengarnya langsung mendukung. Yang lain jelas setuju, selama mereka tidak diharuskan mengeluarkan biaya, pesta jadi sangat menyenangkan.

Hampir seluruh karyawan di Kona Beans datang lebih awal untuk membantu. Lebih banyak tenaga, lebih cepat pesiapan diselesaikan. Dalam sekejap halaman samping mansion Han berhasil disulap menjadi lokasi pesta sederhana mereka. Meja panjang dipenuhi makanan, botol-botol sampanye dan anggur bahkan mendapatkan meja sendiri. Kursi sudah disusun. Dan lebih banyak makanan lagi, siap disantap.

Seharusnya keterlambatan Heechul akan membuat resah semua orang. Terutama para pelayan Kona Beans yang sudah tidak sabar ingin menghabiskan makanan di atas meja. Tapi tidak ada yang ingat untuk memprotes hal itu setelah Zhou Mi datang dua puluh menit lalu, bersama seekor mutan yang menyelamatkan Heechul dari protes semua orang.

Mutan itu mendapatkan perhatian. Lebih dua puluh menit, hampir semua mata masih terpaut padanya. Menatap, namun tidak berani mendekat.

Zhou Mi duduk di sofa yang ditarik keluar, lima meter dari pinggir kolam. Mutan itu berdiri di sisinya, melipat tangan di depan dada, berlagak bagai penjaga bagi majikannya, tidak terganggu dengan pandangan orang-orang. Zhou Mi bahkan jengah meski bukan dirinya yang diperhatikan.

Daniel punya besar dan tinggi badan di atas rata-rata, bahkan untuk ukuran seorang pria manusia keturunan kaukasia. Ditambah cuping dan ekor anjing berbulu lebat miliknya, sosok Daniel menjadi pemandangan tidak lazim yang jelas gampang menarik perhatian. Mutan selalu punya tinggi dan besar badan di bawah rata-rata, hanya sedikit yang mendekati ukuran normal manusia. Meski beberapa tahun terakhir negara di Eropa dan Amerika mulai melegalkan perkembangan mutan-mutan penjaga, bodyguard mutant, mutan sebesar dan sekekar Daniel masih sangat langka.

Zhou Mi lebih senang menyuruh Daniel mengenakan topi untuk menutup cupingnya, lalu mengikat ekornya di balik celana. Dengan begitu Daniel tampak seperti bodyguard biasa. Tapi ia tidak sekejam itu untuk menyuruh Daniel melakukannya setiap saat, padahal Daniel pun tidak mengeluh.

“Hyung yakin dia mutan?”

Rasanya ia sudah mendengar pertanyaan itu tadi. Dan sudah dijawabnya. Zhou Mi menghela napas, dan menyesap anggurnya dalam diam.

“Cupingnya bukan tempelan?Ekor bisa dipasang, tahu!” ujar Ryeowook, hampir mengulurkan tangannya untuk meraih cuping Daniel namun segera urung. Entah karena posisi cuping itu terlalu tinggi atau karena tatapan tajam Daniel.

Zhou Mi tertawa, “Kau tahu dari mana, Ryeong-ah? Pernah roleplay dengan Yesung-hyung, ya?”

“Mi.” Yesung di ujung halaman menyahut jengkel.

“Hyung tidak lihat betapa besarnya dia?Dia melihatku seperti ingin menelanku.”

Daniel, smile! You scare him. Come close, lower your head and let him touch it.” Zhou Mi memerintah galak, menutupi desir hatinya saat Daniel memandangnya separuh menantang. Kalau saja mereka berada di rumah, hanya berdua, atau bertiga dengan Nichkhun, Zhou Mi yakin sekali mutannya ini akan membantah, atau lebih parah… menyerangnya. Tapi keramaian ini melindunginya.

Your game, master.” Daniel menyeringai, mematuhi Zhou Mi meski sesaat tatapannya pada sang majikan penuh misteri. Mutan itu membungkukkan tubuhnya agar Ryeowook dapat meraih cupingnya yang meruncing kepangkal.

“Nah. Coba tarik kalau tidak percaya.” Zhou Mi menawarkan.

Ryeowook hanya diam, memeluk tangannya, tidak berani mengulurkan tangan apalagi menyentuh mutan berwajah seram…nan tampan itu.

Please, sir. If my master allow it. You can even cut it off, I’ll be grateful.

Stop being such psycho, Daniel.” Bentak Zhou Mi galak.

“Apa dia tidak bisa bahasa Korea?” Ryeowook bertanya lalu mundur selangkah. Sekalipun ditawari untuk menyentuh cuping itu dan sesungguhnya Ryeowook memang gatal ingin menyentuhnya, pemuda itu terlalu takut untuk mendekat.

Zhou Mi membuka mulut, bermaksud menjelaskan panjang lebar lagi bagaimana dirinya bisa berakhir memelihara seekor mutan yang bahkan tidak berbicara dalam bahasa Korea, tapi Donghae menyelanya dengan merangsek buru-buru, ingin mendapat giliran.

“Aku mau pegang! Aku mau pegang!”serunya bersemangat, hampir menyentuh cuping hitam keabuan milik Daniel saat pemiliknya sontak berdiri tegap dan memasang tangan di depan dada.

You’re not allowed. Back off!” Daniel mendesis garang, membuat Donghae menarik tangannya dan termegap ketakutan. Zhou Mi mencubit pinggangnya namun mutan itu tetap berdiri tegap seakan tak tersentuh.

“Dia bahkan lebih tinggi darimu. Kau yakin dia mutan?” Ryeowook masih kesulitan percaya. Zhou Mi pun sudah tinggi, luar biasa tinggi. Zhou Mi adalah laki-laki dengan tubuh tertinggi yang pernah dikenalnya -setidaknya sampai ia melihat Daniel…

Sekali lagi ditatapnya tubuh Daniel, dari kaki hingga ke ujung cupingnya. Mutan itu mengenakan jaket kulit dan stelan maskulin, cuping dan ekornya benar-benar tidak tampak natural di tubuhnya.

Alaskan Malamute.” Zhou Mi menyahut santai.

Daniel berpaling pada majikannya dan mendengus. “How many time do I have to tell you–

Tell me what? You’re a wolf? Ya ya, funny.

Daniel mendengus, sesungguhnya cukup bersemangat untuk berdebat. Tapi mutan itu mengalah, dan sikap penurutnya hari ini justru tidak membuat Zhou Mi tenang.

Okay, then I’m your dog master.If you want to play it that way. Tambahnya dalam hati.

“Tapi daripada Malamute, Hounds lebih cocok.” sambung Changmin, sejak tadi hanya memperhatikan dari jarak yang aman.

Hounds.” ulang Daniel sembari mendengus mencibir.

“Kudengar mutan anjing punya masa kawin paling parah dari semua mutan?”

Zhou Mi tidak yakin siapa yang bertanya, sepertinya Kibum.

My master take care of it expertly.” Daniel menyahut dengan seringai.

“DANIEL!”Zhou Mi tersedak, hampir menyemburkan wine. Pemuda itu segera meletakkan gelasnya di atas meja sebelum mendorong-dorong Daniel dengan tidak sabar. “Hush you! Go inside and play in my room!

I’m not in heat, but you’re welcome to play with me.

Zhou Mi mendelik. “Go inside or I’ll shock you through collar!

“Geez.” Daniel memutar bola matanya mendengar ancaman itu, tidak takut, meski alih-alih mutan itu berbalik dan masuk ke dalam mansion, meninggalkan orang-orang dan majikannya di halaman luar.

Shock…through collar?” Ryeowook tercengang. “Maksudmu kau ingin menyetrumnya?! Jadi collar metal itu alat penyiksa?”

Zhou Mi mengerang. “Dia mutan petarung, itu cara terbaik untuk mengendalikannya. Kau mengharapkan apa? Aku mengikat collar bulu pink lembut di lehernya? I’ll be dead by now!

“Seperti mahkota kera sakti? Keren!” Eunhyuk yang bersuara.

“Tapi untuk ukuran mutan…. dia agak kurang ajar ya?” Changmin menyambung.

“Mungkin dia sungguhan mutan serigala?” ucapan Jonghyun sontak membuat orang-orang terkesiap. Suasana canggung diantara mereka jadi makin tegang.

“Orang gila mana yang buat peranakan mutan dan serigala?” seru Zhou Mi tidak sabar.Entah kenapa ucapan semua orang terasa seakan memojokkannya, membuatnya bagai majikan yang tidak bertanggung jawab. Kibum dan Changmin tampak berniat menginterogasinya lebih jauh, saat suara klakson dari pintu depan menyela mereka.

“Heechul-hyung datang!” Ryeowook berseru girang, sontak berlari ke ruang depan untuk menyambut Heechul, yang lain mengekor di belakangnya.

“Bravooo!”

Heechul tersenyum tipis pada sambutan itu, Hangeng membukakan pintu mobil untuknya sementara semua orang sudah berkumpul di rumah mereka, merayakan kemenangan yang akan menjelang. Semua orang; Kangin, Dokter Jjong, Ryeowook, Yesung, Kibum, Changmin, Hyukjae, Donghae, Onew, Jonghyun, Taemin, bahkan Zhou Mi yang datang jauh dari Cina untuk mendukungnya. Hanya satu orang yang tidak tampak disana.

Kyuhyun.

“Kyuhyun tidak ada?”

“Kyuhyun sedang mendesain barang baru.” Kibum menjawab cepat sembari menarik Heechul masuk dan menuangkan segelas sampanye untuknya, lalu pemuda itu berbalik, membagi-bagi gelas untuk tamu lain dan menuang sampanye dengan ramah.

Heechul bertatapan dengan suaminya, lalu menunduk memandang gelas dan tersenyum tipis. Kesuksesan mereka hari ini tidak menenangkan hatinya, pikirannya masih terbebani oleh masalah Kyuhyun dan Sungmin. Rasa bersalahnya masih menjadi.

“Hyung, kenapa pasang wajah muram?” Zhou Mi meraih tangannya. Heechul mendongak, melihat wajah adik ipar tersayangnya membuatnya tersenyum lembut. Dibalasnya remasan tangan Zhou Mi dan ditariknya pemuda tinggi itu ke dalam pelukan.

“Mimi.”

“Selangkah lagi menuju kemenangan. Coba gara-gara apa? Hmm… Mungkin karena aku yang desain jasnya?” Zhou Mi menepuk-nepuk bahu jas Heechul. Mutan itu memutar bola matanya.

“Oh bukan ya? Ah…”pemuda tinggi itu mengerling. “Pasti karena aku yang atur medianya. Tunggu dua hari lagi dan seluruh Korea akan memberitakan kegilaan Choi Siwon.” Sambungnya dengan seringai, pupil coklatnya berbinar indah. “Dan pengacara mereka. Dua pengacara yang masih muda dan tampan. Hmmm.”

“Aku belum memenangkan sidangnya, dongsaeng.”

“Tapi satu sidang lagi, dan kau yang menang, hyung!” Zhou Mi berjalan menuntun kakak iparnya menuju taman samping, meninggalkan keramaian pesta di ruang tengah menuju tempat sepi untuk bergosip.

“Terimakasih untukmu, Kibum, dan Kyuhyun. Kau tahu? Kalian bisa buat tim mafia sendiri dengan kemampuan itu. Mengerikan.” Heechul berkomentar, meski sambil tertawa. “Bagaimana bisa kau merayu dua pengacara Choi Siwon untuk berpihak pada kita? Hangeng bahkan tidak bisa melakukannya.”

“Bukan tidak bisa, dia tidak mau tangannya kotor. Aku selalu mengerjakan bagian yang berdosa, dengan caraku,” Zhou Mi menyesap sampanyenya, “Memang agak susah. Kau tahu? Merayu orang yang bekerja pada Choi Siwon, membuatku harus merayu lebih banyak pihak, menelpon mantanku di kepolisian, meminta bantuan dengan dua kancing kemeja terbuka? Lalu membuat kesepakatan, menjanjikan perlindungan untuk dua pengacara malang itu. But goodness!” Zhou Mi mengerang. “He’s still good.Membuatku berpikir untuk balikan lagi dengannya.”

“Siapa?”

“Hyung!” Zhou Mi menyikut bahu kakak iparnya malu-malu. “Mantanku! Kubilang ‘balikan’, kan?Jangan bilang kau berpikir aku tidur dengan pengacara-pengacara malang itu?”

“Mi, kau tidak perlu melakukan ini. Membuatku tidak tahu bagaimana harus membalasmu.” Heechul menautkan alisnya murung.

“Ups, sudah terlanjur. Dan seperti yang kubilang, he’s good, so no regret. Yang penting kau mendapatkan putrimu, hyung! Aku tidak sabar melihatnya, ayo kita jenguk Jieun!”

“Tidak bisa sekarang, Dongsaeng-ah.” Heechul menggerung, ujung ekornya berayun gelisah. Gelasnya masih penuh, ia tidak bersemangat untuk makan dan minum saat terbayang putrinya di lembaga ketiga itu.

“Oh, ya. Kau tidak bawa Nichkhun kemari?” Heechul mengubah obrolan.

“Dia ada tour. Jangan menatapku begitu. Aku majikan bertanggung jawab, tahu? Kutinggalkan dia dengan dua manager dan dua perawat. Setiap malam aku juga menelponnya.”

“Apa kabar dengan Henry?”

“Masih dengan Amber.” Zhou Mi menyesap gelasnya lagi, lalu sadar gelas itu kosong. “Biar aku yang minum kalau kau tidak mau.” ujarnya sembari meraih gelas Heechul. “Dan berhenti menatapku begitu. Henry memilih majikannya sendiri. Jadi aku membebaskannya.”

Heechul berdecih “Andai ada lebih banyak majikan sepertimu, Mi.”

“Kalau itu terjadi, lembaga suamimu akan bangkrut,no case, no money, lalu kau jatuh miskin. Kalau kau jatuh miskin, kau tidak bisa belanja barang mahal lagi, kau tahu itu hyung?”

Heechul terkekeh.

“Kau sudah coba jenguk Kyuhyun?”

“Dia masih marah padaku, Mi.”

“Sepertinya tidak. Hanya merajuk. Sedikit. Dan aku bahkan belum pernah melihat wujud mutannya! Curang! Menghubungiku hanya saat perlu.” Zhou Mi menyipitkan matanya, merasakan alkohol mulai memudarkan fokusnya. “Jadi kapan kita jenguk Jieun?”

“Besok. Kau suka anak-anak, kenapa tidak coba buat sendiri? Dengan Calvin? Masih pacarmu kan?”

“Hyung… aku laki-laki, dia laki-laki. Laki-laki tidak melahirkan. Tau yang lebih parah? Kami sudah putus! Mana mungkin aku berani menggoda mantanku kalau aku masih pacaran dengan Calvin. Kau tahu prinsipku. Tidak boleh ada pria ketiga kalau aku sedang pacaran. Apa saranmu? Tidur dengan perempuan?Surrogate mother?Ew.

“Kau punya Nickhun.Dia bisa memberimu anak.”

Hell no!”Zhou Mi berjengit jijik, “Jangan pernah ucapkan itu lagi, hyung!” Zhou Mi mengangkat gelasnya, lalu berbalik, bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Heechul yang menertawainya dari belakang.

.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

.

‘Aku mau daddy.’ suara kecil itu mencicit berulang-ulang, tubuh mungilnya menyudut di atas kasur. Heechul ingin mendekat, namun nada suara Jieun berubah tinggi dan mengusir setiap kali ia menapak selangkah lebih dekat. Dokter Jjong butuh satu jam non-stop untuk merayu Jieun mengulurkan tangannya, dibantu Ryeowook yang duduk dua jengkal di depan Jieun dan meletakkan tangan di atas paha mungilnya. Hanya sejauh itu yang diijinkan oleh mutan kecil itu.

Hangeng, Zhou Mi,dan Kibum menunggu di luar ruangan, karena dokter Jjong menyarankan ruang renggang dan sepi saat ia memeriksa mutan cilik itu. Meski orang yang mendapat penolakan paling besar dari Jieun adalah Heechul, tidak seorangpun berani memintanya keluar.

“Aku bawa coklat, kau mau?” Ryeowook mengulurkan sebatang coklat untuk mengalihkan pandangan Jieun, memberi kesempatan dokter Jjong untuk menyuntik bahu mungil Jieun tanpa disadari pemiliknya.

“Aku mau Daddy.” ulang mutan itu lagi, matanya berkaca-kaca. Namun tangannya terulur untuk meraih coklat yang ditawarkan Ryeowook. Jieun memeluk coklat itu ke dadanya. Saat berpaling pada dokter di sisi kanannya, gadis itu menarik tangannya jengah, tidak sadar sebatang jarum baru saja menembus kulitnya.

“Seharusnya aku tidak boleh melakukan apapun lebih dari memeriksa.” Dokter Jjong menghela napas dan segera menutup penyuntik berisi sampel darah Jieun. Ia hanya mendapatkan izin untuk mengecek keadaan Jieun tanpa bantuan apapun kecuali stetoskop. “Tapi terima kasih pada adikmu, dia membuat kamera itu tidak berguna.” Dokter itu mendongak ke sudut langit-langit, tempat CCTV diletakkan.

“Kapan hasilnya keluar?” Heechul mengintip dari balik tubuh Dokter Jjong dengan khawatir. Mata mungil itu juga mencuri-curi ke arahnya, meski buru-buru berpaling dengan amarah kecil di raut mungilnya.

“Satu atau dua hari. Hasilnya sudah akan sampai di tanganmu sebelum sidang selanjutnya. Kau bisa menggunakannya untuk melawan Choi Siwon. Dugaan termudah; anakmu bermasalah soal pernapasan. Dan darahnya akan sangat membantu untuk mengecek masalah lain.”

Heechul memeluk dirinya sendiri, membayangkan diri tengah memeluk putrinya di seberang ruangan. Lahir prematur dengan pembedahan paksa, tidak mungkin tidak membawa dampak buruk bagi tubuh kecil itu. Heechul menghela napas berat, keningnya mengerut dalam saat ia merenung.

“Kumohon biarkan aku masuk!”

Suara itu membuat Heechul berpaling. Ryeowook juga mendongak. Sesaat keduanya bertatapan. Bukan hanya mereka yang tahu siapa pemilik suara itu. Bahkan Jieun berjengit kaget mendengarnya.

“OPPA!” Jieun hampir melompat dari atas ranjang. Ryeowook buru-buru memeluk tubuh mungilnya dan menahannya kuat-kuat. Suara jeritannya dari dalam ruangan disambut bantingan pintu. Minho muncul, nyarismasuk namun Kibum dan Hangeng menahan bahunya dan menyeretnya kembali keluar. Heechul sontak memasang tubuh, bermaksud menghalangi Minho namun juga ragu untuk berdiri terlalu dekat dari putrinya.

“Oppa!” Jieun meraung, memberontak dalam jagalan Ryeowook.

“Kumohon biarkan aku menggendongnya, aku tidak akan membawanya pergi!”

“Hyung, lepaskan saja. Dia benar. Dia tidak akan bisa membawa Jieun pergi.” Zhou Mi berusaha melerai. Ditambah suara tangis Jieun, Kibum dan Hangeng mau tidak mau melonggarkan cengkraman mereka.

Minho menghela napas lega, dan menghambur masuk pada Jieun yang juga menyerbunya. Tangis Jieun berubah menjadi isak kecil saat Minho mengecup tengkuknya lembut. Tangan mungilnya melingkar erat-erat di leher pamannya. Minho berdiri menggendongnya. Gadis itu sontak membenamkan wajahnya di leher Minho, menolak melepaskan diri atau dilepaskan.

“Aku membawakan obat-obatan milik Jieun. Indikasi dan aturan minum sudah kucatat disini.” Minho meletakkan tas jinjing ke atas meja, menghindari pandangan curiga Heechul. Hangeng berdiri dekat di belakangnya, seakan berusaha menjagalnya kalau-kalau ia bermaksud membawa Jieun lari dari sana. Tidak mungkin. Sekalipun ingin. Minho sadar ia tidak bisa membawa keponakannya keluar dari ruangan ini.

Heechul meliriknya datar, tangannya meraba tas yang baru saja diletakkan Minho. Ia mengeluarkan botol kecil dari sana.

“Hati-hati dengan yang itu, tidak boleh kena sinar matahari.” Minho mengulurkan tangan, bermaksud mengembalikan botol yang digenggam Heechul ke dalam tas saat Jieun sontak memeluk kedua lengannya, memintanya berdiri diam.

Minho menghela napas, meletakkan tangan di belakang kepala Jieun. “Jieun harus meminumnya setiap malam sebelum tidur. Dia tidak suka beberapa rasanya, dan akan selalu panik setelah meminumnya, jadi kau harus menyiapkan jus jeruk dekat dan cepat untuk diraih.”

Heechul hanya menatap mereka, lalu menutup kembali tas itu.

Selama beberapa saat, suasana canggung menyergap mereka. Ryeowook berpandangan dengan Dokter Jjong dan menyetujui sesuatu hanya dengan anggukan.

“Kami tunggu diluar.” Dokter Jjong melangkah pergi, diikuti Ryeowook di belakangnya.

“Aku juga.” Kibum mengekor.

“Bye hyung.” Zhou Mi yang terakhir keluar, sempat meremas tangan Heechul dan menatapnya seakan memberi dukungan. Lalu pintu ditutup di belakang tubuh jangkungnya, meninggalkan Heechul, Minho, dan Hangeng berempat bersama Jieun di dalam sana.

Suasana lenggang ruangan itu tidak juga menghilangkan kecanggungan yang ada. Hangeng duduk, berusaha tidak ikut campur. Heechul menatap Minho yang menunduk memeluk Jieun, lama kelamaan mata mutan itu basah. Alisnya bertaut saat teringat janji pemuda ini untuk membantunya membebaskan Sungmin.

“Aku tahu apa yang akan kalian lakukan. Semua saksi-saksi itu.” Minho memulai. Bukan saksi yang dibawa pihak Heechul di sidang kemarin yang dimaksudnya, saksi lain… Yang entah bagaimana caranya berhasil dikumpulkan di bawah perlindungan Hangeng.

Pemuda itu menggeleng dengan mata terpejam, tidak ingin membayangkannya tapi ia tahu kakaknya sudah kalah. “Aku berjanji membantumu sebagai ganti janjimu untuk tidak menuntut masalah yang sudah lalu.”

Heechul mendesis. “Perjanjian itu kita buat dengan syarat! Kakakmu tidak mengusikku, dan aku tidak mengusik kalian. Lalu apa yang terjadi?! Dia datang lagi padaku, merusak isi perutku dan mencuri anakku. Dan kau bilang ini ‘masalah yang sudah lalu’?

Jieun tersentak, Minho sontak memeluk lebih erat dan mengusap-usap punggung mungilnya.

“Kita tidak bisa bicarakan ini di depan Jieun.”

“Kenapa?! Biar saja Jieun mendengar apa yang sudah dilakukan Daddy-nya!”

“Hyung.”

“Yeobo…”

Heechul tidak mendengarkan. Ia berjalan lebih dekat, tepat di belakang tubuh Jieun yang gemetaran.

“Enam tahun lalu dia mengancam akan membakar putriku, membakar Jieun.” Heechul tertawa, dan menangis. “Sekarang putriku selamat dari kesintingannya dan kau masih berusaha menghalangiku, Choi Minho?”

“Kenapa kau tidak bertanya bagaimana dia mengubah niatnya?”

“Siapa yang peduli?Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam kepala orang gila itu dan tidak ada yang bisa menjamin dia tidak akan mencoba membunuh putriku. Dan kau baru saja mengakuinya. Mengubah niat? Siwon pernah berusaha membunuhnya, kan?” tuding Heechul. Matanya basah, namun menantang.

“Hyung…”

“Aku mau pulang.” Jieun mencicit, naik lebih tinggi dalam gendongan Minho, lalu kembali menyembunyikan wajah di ceruk leher pamannya.

“Kau sudah pulang Jieunna.” Heechul mengusap siku runcing Jieun, namun gadis kecil itu sontak menarik tangan dan menyembunyikan tangannya ke dalam jaket Minho.

“Kau lupa pada Sungmin? Tidak berniat mengambilnya lagi dari kakakku?”

Heechul terenyak dan mendongak menatap Minho, namun Hangeng yang lebih dulu bertanya.

“Dari mana kau tahu?”

Minho mendengus miris. “Aku bahkan tahu apa yang kalian persiapkan untuk melawan Siwon-hyung. Tanya dari mana.” cibirnya. “Aku hanya tidak tahu cara membantunya. Selain memelas padamu.” Ekspresi pemuda itu melunak, Heechul hampir menangkap basah di matanya.

“Aku yakin kalian sudah tahu keputusan macam apa yang akan dihasilkan sidang selanjutnya. Hasil terburuk akan menjebloskan kakakku ke rumah sakit jiwa, dan dengan mudah dia akan keluar dari sana. Tapi kau akan mendapatkan Jieun, dan dia tidak akan punya kesempatan untuk merebut putrinya kembali. Itu yang jadi mimpi buruknya, lebih mengerikan daripada dijebloskan ke penjara.”

Minho menghela napas panjang, mengerjap berusaha mengusir panas di matanya. “Aku kemari untuk membuat perjanjian…” lanjutnya.

Heechul berdecih skeptis. “Terakhir kali kita buat perjanjian, aku kehilangan anakku.”

Minho membungkam mulutnya, hampir menyerah. Tapi pemuda itu menarik napas panjang dan bersabar.

“Aku akan membantu kalian merebut Sungmin, membebaskannya, dan memastikan Seunghyun-hyung tidak bisa mengusiknya lagi. Seperti yang kubilang saat itu. Aku punya saksi kunci dan semua bukti untuk membebaskan mutan Kyuhyun. Aku punya rencana, dan kau boleh menilainya.”

“Dan kau menginginkan ganti.”Heechul menyela yakin.

Minho melemaskan kerutan di dahinya, ingin tampak setenang mungkin.

“Kau akan punya wewenang, hyung.Untuk membagi hak asuhmu dengan kakakku. Saksi dan bukti-bukti milikku untuk hak asuh yang seimbang atas Jieun, antara kau dan Siwon-hyung. Aku akan bantu sampai semua yang kujanjikan terlaksana. Sungmin bebas, Seunghyun-hyung tidak lagi mengusiknya, dan Siwon-hyung mendapatkan sebagian hak asuh Jieun. See? Semua menang!”

“Jadi kau datang kemari memelas padaku untuk memberi kesempatan orang gila itu membunuh Jieun?”

“For God sake, hyung!” Minho mengerang tidak sabar. “Kalau Siwon-hyung ingin membunuh Jieun, dia tidak akan berada di sini sekarang!Hangeng-hyung, bantu aku meyakinkan istrimu!”

Hangeng menatapnya, lalu mendesah. “Seperti yang kau bilang. Dia yang punya wewenang. Aku juga sulit membayangkan berbagi hak asuh dengan kakakmu.”

“Hyung,” Minho kehabisan kata-kata. Ia menatap Heechul dengan wajah memelas.

Oppaaa.Aku mau pulang.” Jieun merengek, mulai tidak sabar. Gadis kecil itu memanjat lebih tinggi, tubuhnya meringkuk memeluk Minho. “Oppa ayo pulang.Aku mau daddy.” Rengeknya lagi, saat memutar posisi tangannya, Minho menangkap semburat ungu mengitari jari-jari mungil Jieun. Sontak pandangan Minho melunak, pemuda itu mendesah berat.

“Apa tidak ada cara lain?” bisiknya pelan, masih berharap.

Heechul diam, menatapnya. Sikapnya sudah cukup menjadi jawaban.Minho ikut terdiam untuk sesaat, mengusapi lengan mungil Jieun sembari perlahan melonggarkan rengkuhannya.

“Dia sedikit tempramen dan akan gemetaran kalau tidak segera dipegang.” ujarnya tiba-tiba. Minho mencoba memutar posisi keponakannya, menggendongnya menghadap depan dan tidak seerat sebelumnya. “Akan kuajari caranya. Seperti ini, tahan tubuhnya, lembut namun kokoh. Sumpal mulutnya perlahan, dengan kain, kau tidak ingin dia menggigit lidahnya sendiri.”

“Oppaaa!” Jieun merengek kesal, ditampiknya tangan Minho menjauh dari wajahnya.

“Jieun tidur dengan kasur yang dimodifikasi. Dia sering meremas apapun terlalu kuat saat tidur, membuat tangannya biru memar seperti ini. Seperti dipukuli.” ujarnya sembari mendengus sendu. Pemuda itu menunduk, menatap memar-memar matang di punggung tangan Jieun. Perlahan diopernya tubuh Jieun pada Heechul.

“O-Oppa?” Jieun terenyak, namun terlambat saat Minho mundur dan Heechul memeluknya erat.

“Aku akan meninggalkan kontak mebel yang sering disewa hyung.” Bisiknya tanpa mengangkat kepala. Minho melangkah mundur.

“OPPA!” Jieun menjerit, memberontak dalam gendongan Heechul yang hampir menjatuhkannya. Hangeng spontan berdiri untuk melindunginya.

“Jangan pergi! OPPA! Aku mau Daddy!”

Minho berbalik, memejamkan matanya, menahan diri untuk berpaling.

“Aku mau Daddy!”

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Sungmin mendongak gugup, untuk kesekian kalinya mengawasi jam di dinding. Jarum berputar pelan, suara klik-klok samar memenuhi ruangan. Satu jam Seunghyun terlambat dari jadwal pulangnya yang biasa. Seunghyun tidak pernah pulang terlambat, pria itu selalu tepat waktu—setidaknya setelah mereka pindah ke rumah mungil ini.

Mutan itu berpaling, melirik langit malam di luar jendela. Satu jam Seunghyun terlambat, satu jam pula pikirannya berkelana kemana-mana. Salju turun pagi tadi, mengiringi kepergian Seunghyun. Lima hari kerja dalam seminggu, Seunghyun lebih sering membolos untuk menghabiskan waktu seharian bersamanya.Kalaupun pria itu berangkat kerja, ia akan pulang cepat, mengungkapkan kekhawatirannya karena meninggalkan mutannya sendirian di rumah mereka.

Sungmin bukan keberatan. Ia lebih senang berada di rumah ini sendirian, mengingat mansion lama Seunghyun yang tidak pernah sepi dari pelayan dan penjaga, rumah ini seakan memberinya privasi seperti manusia.

Tapi entah kenapa rasanya tetap seperti di penjara.

Tidak perlu ada orang lain. Sungmin mengingat ucapan Seunghyun. Ia menatap keluar makin lama. Jalan di luar sana selalu sepi. Ia lebih sering melihat mobil Seunghyun melintas saat pria itu pergi, jarang ada kendaraan lain.

Tidak ada orang lain. Suara Seunghyun terbayang lagi.

Mungkin, jika ia keluar sebentar saja, tidak akan ada yang melihatnya. Ia hanya perlu menyumpal ekornya ke dalam celana dan mengenakan tudung kepala.

Sungmin bangun dari duduknya, melangkah pelan-pelan, menuju jendela. Makin lama dipandanginya, jalan di luar sana tampak makin lenggang, memanggil-manggilnya…

Mungkin, jika ia pergi, tidak akan ada yang mencegahnya. Ia sudah memikirkan kemungkinan kawasan perumahan ini dilengkapi kamera pengintai. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Ia pernah melakukan ini sebelumnya, mengendap-endap saat gerimis, di bawah bayangan pohon dan bangunan. Malam itu juga sepi, dan takdir mempertemukannya kembali dengan Kyuhyun.

Mungkin juga Kyuhyun menunggunya, sekarang di luar sana, di bawah halte untuk sekali lagi menyelamatkannya.

Sungmin menyentuh pengunci jendela, menariknya dengan sedikit memaksa dan—DREK.Jendela itu terbuka, mengirim angin dingin dari sela yang terbuka lebar.

Seunghyun selalu mengunci pintu dari luar setiap kali ia pergi, mengurung Sungmin di dalam rumah mungil mereka. Tapi anehnya pria itu tidak memasang jeruji, jendela-jendela besar ini bisa dengan mudah dilalui seorang pria dewasa. Sungmin meremang memikirkannya.

Matanya menunduk menatap rumput yang terbenam salju saat ia menyusupkan sebelah kakinya keluar. Tangannya gemetar menahan jendela saat kaki keduanya menyusup, lalu mutan itu melompat pelan, dua kaki berhasil menapak di atas salju. Dingin segera menyergapnya, tapi dingin itu juga yang menyadarkannya. Sungmin buru-buru meninggalkan jendela itu, takut berubah pikiran. Ia menyumpalkan ekornya ke dalam celana dan menaikkan tudung jaketnya, merayap rapat di dinding, melirik kesana kemari dengan ketakutan. Perumahan ini tampak lebih mengerikan dibanding saat ia melihatnya dari dalam rumah.

Rumah di sebrang jalan tampang ganjil, lampu menyala di seluruh ruangan, begitu juga dengan rumah di sisi kirinya, lalu di sisi kanan. Sungmin tidak ingin meliriknya dua kali.

Saat berada di luar, baru disadarinya langit lebih gelap dari yang ia kira. Ini menakutkan, sekaligus menenangkan mengingat pakaian yang digunakannya berwarna gelap. Ia bisa bergerak lebih mudah, pikirnya.

Sungmin menahan bawah perutnya, melangkah lebih cepat, menyebrangi jalan, bermaksud melalui pekarangan belakang rumah tetangganya yang tampak lebih gelap. Ia harus menghindari jalan raya. Sungmin sudah membayangkannya, langkahnya gugup, penerangan yang membantunya hanya cahaya bulan dan remang-remang lampu jalan.

Sungmin sudah memasuki pekarangan tetangga saat darisudut matanya, ia seakan melihat lampu mobil mendekat. Mutan itu melangkah lebih gugup, jantungnya berdegup kencang, tidak ingin berpaling untuk memastikan dan memfokuskan pandangannya. Sedikit lagi ia akan segera tersembunyi di balik bayangan gelap bangunan rumah tetangga.

Sungmin setengah berlari, ingin segera menghilang di balik pekarangan gelap. Pohon-pohon akan melindunginya, begitu pikirnya. Tapi Sungmin tidak pernah mencapai halaman samping yang jelas terlihat itu. Ia menabrak sesuatu dan jatuh terduduk.

Sungmin merintih, memegangi kepalanya yang terantuk. Mungkin ada memar disana, karena keningnya pedih. Tapi Sungmin tidak sempat memikirkannya, jantungnya berpacu cepat, tubuhnya gemetaran. Cahaya mobil berhenti dan terpantul di depannya bagai cermin gelap, membuat mutan itu tercenung.

Ia menyentuh pekarangan di depannya, dan tangannya tertahan. Ia menyentuh sesuatu, dan saat ia menekan tangannya lebih kuat, Sungmin terenyak.

Dinding. Mutan itu menyentuh sisi lain, yang diyakini matanya sebagai pekarangan gelap tetangga. Tapi masih dinding. Di sisi lainnya, kiri, semakin ke kiri, tempat dimana seharusnya pohon berada.

Tetap dinding.

“Sungmin-ah!”

Suara itu berseru dari belakangnya. Sungmin gemetaran, menyeret tubuhnya dengan frustasi, berusaha mencari ruang untuk lari. Tapi kakinya lemas, dan apapun yang disentuhnya hanya dinding. Semuanya. Sungmin mengorek salju di bawah tubuhnya dengan frustasi, airmatanya menetes dan tenggelam di balik tumpukan es lembut itu.

Ia menemukannya, sudut dinding, di bawah timbunan salju.

“Sungmin-ah!”

Tangis Sungmin pecah saat Seunghyun meraup tubuhnya dan menyelimutinya dengan jasnya. Mutan itu merintih memeluk diri. Seunghyun memaksanya berbalik untuk menghapus airmatanya, dan saat itu Sungmin melihatnya; Cahaya bulan itu bukan sungguh-sungguh bulan, harusnya sejak tadi ia menyadarinya. Ada lampu besar di atas langit-langit gelap, memberi sinar temaram jalan-jalan dan rumah ilusi di depan jendela tempatnya biasa menatap. Salju bertiup keluar dari satu cerobong, yang bergerak  seperti mesin mengelilingi atap rumahnya. Kipas-kipas di dinding yang tinggi meniupkan saljunya hingga ke jalan. Hal yang juga baru disadarinya, belasan sosok tinggi berjas berdiri berjaga di belakang rumah mereka.

Sungmin menggigil, tubuhnya tegang dalam pelukan Seunghyun.

“Kau mau kemana, Sungmin-ah?” Seunghyun mengusap pipinya, memertemukan wajah mereka untuk membagi kehangatannya pada mutan itu.

Mutan itu tidak menjawab, hanya merintih, giginya bergemertak dan basah di matanya tertiup angin dingin. Sesaat, pikirannya kosong.

Di tempat ini, ia tidak akan menemukan Kyuhyun menunggunya di bawah halte.

.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

.

A/N:2nd last chapter. Be kind and stop being a silent readers for these last chapters😉

Btw, Seunghyun di Tazza The Hidden Card ganteng ya, T_T #OOT

14 thoughts on “Kitty-Kitty Baby! – Chapter 18

  1. won2 says:

    waaaa mana kyuhyunnya… eh udah mau tamat aja. jujur aku agak gak ngeh dgn jalan ceritanya. apa karena kelamaan updatenya atau bagaimana. seoerti bagian yg terpisah dr kelanjutan ceritanya… terus kyuhyun dimana ????

  2. Aria says:

    Geregetan sama siwon-heechul. Takutnya siwon punya rencana lain, dan heechul kalah .___.
    Heechul kenapa gak nerima tawaran minho aja sih——
    pls thor. Aku kangen kyuhyun :’v
    Cepet-cepet selesain kasus siwon-heechul, lalu jadi fokus ke kyuhyun-sungmin ><

  3. hadnew says:

    bener bgt kata hangeng susah membayangkan berbagi hak asuh sama orang sprt siwon,, jd kasihan sama jieun
    dan lebih kasihan sama sungmin harus terpenjara sama orang sprt seunghyun,,
    selamat berjuang kyu smoga c4 jumpul ama sungmin dan baby dech

    ♡gomawo♡

  4. udah mau tamat???? 😭😭😭😭😭

    sedih aku loh sama chapter ini…. rasanya aku kok malah kasihan sama mereka yg jahat.😥 aku bnr2 ga bisa mengabaikan sisi penuh cinta penjahat2 di sini 😭 bikin bingung mau dukung siapa 😭

    Heechul terlalu banget nih >< kasian Jieun nya😥

    Seunghyun juga…. dia penuh cinta. walaupun pukan cinta sehat. kasian kasian kasian 😭

  5. Sunny says:

    akhirnya update juga \(^.^\)
    setelah sekian lama menunggu.

    sebenernya kasian juga sih sama siwon kalo harus pisah sama jieun. tapi mau gimana ya. aku juga mau heechul yg menang🙂
    hahahahha jadi bingung sendiri kan😀

    bener juga tuh saran minho, berbagi hak asuhnya jieun. nah tapi tau sendiri kan gimana heechul. pasti gak mau lah.

    chapter ini lebih ke masalahnya heechul-siwon ya. semoga cepet kelar deh ^^

    trus lanjut ke kyumin – seunghyun. ya ampun semoga ming cepet bebas. biar kyumin bahagia sama baby nya.

  6. melanjut komin di ffn.
    ini nanti ada sekuel atau epilognya ga?
    kayaknya kalo 1 chapter lagi end, ga cukup deh.
    sungmin aja belum ketemu kyuhyun, anaknya juga belum lahir.

    siwon sama heechul juga belum damai.
    jieun juga belum bisa deket sama heechul.

    sekarang mau ikut komenin TOP di tazza 2.
    dehhh sexy binggo dia di sana.
    Dia tuh ga pernah mau make baju tangan pendek, dan bahkan ga pernah ganti baju barengan member BIGBANG lainnya jadi ga ada yang tau bentuk tubuhnya, eh seklainya syuting langsung telanjang dada haha.

  7. rhaya says:

    Sun, sumpah part ini bikin nyesek baca perseteruan heechul sama siwon nya gak kerasa udah mau end aja cerita ini. Semangat nulis nya sun. Aku selalu nunggu

  8. Zhoumi dipertemukan lg dengan daniel disini hahahahaha dan apakah zhoumi pihak yg dimasuki disini? Wkwkwkwkwkwkw. sayang disini kyuhyun gak diceritain dia sedang asik membuat desain baru wkwkwk tp ko itu sungmin bisa ada ditempat kaya gitu sih udah kaya hunger games catching fire aja hahahahaha xD
    Abis chapter ini dan chapter selanjutnya maka KKB berakhir, semoga aja ada sequel hahahhhaha

  9. balikin aja jiuen ke siwon! huh sebel deh liat mereka yang gak ngerti keinginan jieun.. please jiuen cuma butuh daddynya… dan kenapa umin selalu sial sih? :”( 2nd last chapter? :””””””” serius?????? kak… kkbnya dinovelin aja…

  10. Aerin says:

    Entah kenapa, aku malah lebih tertarik sama serita jieun sama siwon. Gak tega liat jieun nangis, heechul egois.

  11. vyan says:

    haduh… ko jd dilema ya bacanya?
    tercabik antara perasaan sebel ama siwon n ga tega ama jieun..
    kalo ga ama siwon kasian jieunnya.. nangis terus TT^TT
    tapi kl ama siwon n inget dulunya dia kaya apa hmmm… dilema

    ini uminnya bagaimana? so sad.. without kyu
    penasaran.. apa sih yg direncanain ama minho..

    2nd last chap? omona… can’t wait next chappie

  12. ricky says:

    Gila feelnya dapet terus jujur gw kasian sama sunghyun mulai mikir apa sebaikya sungmin ama sunghyun aja kan emang sunghyun yang pertama mengajarkan arti cinta sama sungmin

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s