Cursed Crown – Chapter 21

Kyuhyun menatap keluar jendela dengan gelisah. Malam purnama dan bulan hanya tertutup oleh awan.

Ia tahu ini pertemuan penting. Jika tidak, Raja mana mungkin memaksa pertemuan saat purnama naik di luar sana. Semua orang tahu saat purnama siapapun punya hak privasi untuk menikmati kebebasan mereka. Tapi masalah datang, dan masalah itu jauh lebih penting dari sekedar kebebasan untuk menikmati purnama.

Pemberontak hampir menguasai garis pertahanan kiri Radourland, beberapa desa habis terbakar dan penduduk selamat mengungsi ke desa tetangga. Gosip dengan cepat menyebar, berita tentang pemberontakan itu jadi pembahasan hangat di mana-mana di jantung kota Radourland. Tentara dan kesatria Raja dianggap tidak becus menangani pemberontak sampai-sampai makin banyak nyawa rakyat melayang.

Tapi Kyuhyun tidak bisa fokus memikirkan hal itu. Untuk sesaat bahkan ia tidak peduli.

Pemuda itu menelan ludah, bergantian menatap keluar jendela dan ke wajah orang yang tengah bicara di dalam pertemuan. Ia berusaha tampak fokus, menunjukkan bahwa ia mendengarkan, meski sulit. Raja menyadari gelagatnya, semua orang menyadari sikap anehnya. Namun hanya Raja yang berani menegurnya saat Kyuhyun makin terang-terangan duduk tegap dan sesekali melongok melirik jendela.

“Kau ingin mengatakan sesuatu, Pangeran?”

Kyuhyun menatap ayahnya, dan menelan ludah. Ia ingin menjawab namun lidahnya terasa kelu untuk sesaat.

“Kau ingin berubah?”

“Tidak. Tapi aku ingin kembali ke ruanganku, Yang Mulia.” Kyuhyun mengatakannya cepat-cepat, takut mendapatkan penolakan. Meski jika Raja menolak izinnya untuk pergi, Kyuhyun bersiap untuk memaksa.

“Atas alasan?”

Mate-ku. Ini purnama. Aku merasa tidak nyaman meninggalkannya.”

Banyak orang sontak menatap Kyuhyun tidak percaya. Mereka memandangnya seakan alasan yang baru saja keluar dari mulutnya adalah lelucon. Bagaimanapun Kyuhyun seorang pangeran, suatu saat ia akan mewarisi tahta Raja. Kyuhyun tahu. Tapi Sungmin sama pentingnya.

“Ada banyak pelayan dan tabib yang mengawasi mate-mu, Pangeran. Mereka menjalankan tugasnya agar kau bisa duduk di sini mengurusi negeri ini dengan pikiran tenang.”

Aku tidak tenang. Kyuhyun mendengus gusar, terus menatap keluar jendela. Perasaannya mengatakan sesuatu terjadi pada mate-nya. Kyuhyun merasa terpanggil sejak saat ia masuk ke ruangan ini dan semakin lama firasatnya membuat telinganya terasa berdengung. Sesuatu terjadi, Kyuhyun tahu.

“Aku harus keluar sekarang, Abeoji.” Tangannya gemetar saat ia meremas pinggiran meja. Sadar hal itu memalukan, Kyuhyun menurunkan tangannya dan berdiri.

“Tidak. Duduk kembali di kursimu, Kyuhyun.”

Kyuhyun tidak mendengarkan. Ia tidak peduli. Pemuda itu berbalik dan melangkah menuju pintu.

“Kyuhyun.”

Dua orang penjaga berdiri menghalanginya.

“Minggir.”

Keduanya menatap raja, ragu. Saat raja menggelengkan kepala, mereka menyilangkan tombak di depan dada. Terang-terangan menghalangi Kyuhyun, membuat pemuda itu mengeram marah.

“MENYINGKIR!” serunya murka, memaksakan jalan. Pupil matanya bergetar, beberapa kali berubah keemasan sebelum kembali hitam. Kyuhyun bersedia mencabik keduanya kalau saja mereka tetap menolak memberinya jalan. Entah apa yang diisyaratkan Raja di balik tubuhnya, tapi dua pengawal itu menarik tombak mereka, membiarkannya melesat keluar tanpa berpikir lagi.

Saat hampir mencapai kamarnya, Kyuhyun bisa mendengar jerit tangis Sungmin dari ujung lorong.

“Sakit!”

Kyuhyun membanting pintu, separuh panik.

“Aku mau hyung…”

Ia bisa melihat kepala Sungmin dan sebagian tubuhnya. Rambutnya basah oleh keringat, pemuda itu menggeliat kesana-kemari.

“AKU MAU HYUNG!” jeritnya frustasi. Saat sudah begitu dekat baru Kyuhyun menyadari, Ratu duduk di atas ranjang Sungmin. Memegangi tangan mate-nya dan sesekali mengusap keringat dari keningnya.

Apa yang kau lakukan disini?‘ Kyuhyun hampir menyuarakan umpatan barusan, namun saat tangannya menyentuh kulit panas Sungmin, perhatian pemuda itu sontak teralih sepenuhnya.

“Ssssh— Ini hyung, Min-ah.” Kyuhyun meraup tubuh mate-nya. Mata pangeran itu terbelalak melihat gerakan bayinya yang tidak lazim dari dalam tubuh Sungmin. “Kenapa dengan perutnya?”

“Ini hal biasa, Yang Mulia.”

“BIASA?” Kyuhyun hampir memaki tabib itu.

“Seperti yang juga terjadi pada mendiang Putri. Karena ini purnama sudah semestinya bayinya bereaksi pada purnama di usia kandungan tua. Dan karena Tuan Muda bukan berasal dari ras kita,” Tabib itu mencoba menjelaskan.

“Ini tidak pernah terjadi pada Bora.” Kyuhyun menjawab. Bora memang selalu demam saat purnama tiba, tapi Bora tidak pernah terlihat semenderita mate-nya saat ini. Terlebih, bukankah reaksi Sungmin seharusnya lebih ringan dibanding mendiang istrinya yang berasal dari ras manusia itu?

“Mu-mungkin karena pangeran Sungmin masih muda, tuan, jadi ia—” Delikan Kyuhyun membuat tabib itu bungkam dan menundukkan wajahnya takut.

“Kyuhyun… Sepertinya ada sesuatu yang berbeda dengan Sungmin…” Suara lirih dan ragu Jungsu yang sedari tadi bungkam tak digubris juga terhenti saat delikan itu beralih padanya.

“Aku tahu. Kalian tidak berguna, tinggalkan kami berdua.” ujar Kyuhyun dingin kepada semua orang yang ada di ruangan itu, khususnya kepada Jungsu. Sungmin mengerang kesakitan seperti mengigau di dalam rengkuhannya.

“Pengawal ada di luar jika kau butuh tabib.” Dengan ragu-ragu dan tatapan cemas, Jungsu akhirnya memerintahkan tabib dan pelayan untuk meninggalkan mereka berdua.

Begitu pintu itu tertutup, Kyuhyun membaringkan mate-nya ke ranjang. Sisa panas dari tubuh snowelf itu masih terasa sampai ke balik pakaian Kyuhyun. Sungmin terlihat seperti orang yang sedang demam keras. Ia menggigil, meringis, wajahnya memerah dan keringatnya mengucur deras.

“Hyung, sakiittt…” Rengeknya lagi antara sadar dan tidak.

“Sebentar lagi sakitnya akan hilang, Min…” Kyuhyun membujuk snowelf itu, ia menggenggam tangan Sungmin sembari menyalurkan energinya kepada mate-nya. Tangannya yang lain mengusap perut buncit mate-nyam berharap bisa menenangkan bayi mereka agar tidak terlalu menyiksa ibunya. Bahkan bau khas direwolf tercium kuat lagi di ruangan itu, seolah bau itu berasal dari Sungmin sendiri.

Setelah beberapa waktu, Kyuhyun menyadari Sungmin jauh lebih tenang dibanding tadi, begitu pula dengan bayi mereka. Kyuhyun tetap menyalurkan energinya, remasan tangannya justru menguat.

Ia menatap wajah mate-nya. Merasa sesaat tadi melihat rambut Sungmin memutih dari ubun-ubunnya, tapi setelah ia mengedipkan matanya beberapa kali rambut Sungmin tetap selegam biasanya. Ia pasti berhalusinasi. Ia mungkin kelelahan karena telah membagikan energinya untuk Sungmin. Kyuhyun mengusap keringat yang tersisa di wajah snowelf itu, memperhatikannya sepanjang malam hingga akhirnya ia ikut tertidur di samping mate-nya.

.

.

.

oOoOoOoOoOo

.

.

.

Nichkhun membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia memangku bayinya di depan dada, merangkulnya dengan sebelah tangan. Kepalanya tertunduk, namun ia menatap jauh ke ujung jari-jari kakinya. Pemuda itu tidak tahu mana yang lebih menjijikan; tatapan penuh napsu Taecyeon, atau suara kecipak mungil bayi monster yang menyesap dadanya.

Ia hampir mati. Nichkhun pernah ditusuk di bawah jantungnya, tapi sakit itu tidak sebanding dengan perjuangannya untuk bertahan hidup disini. Merelakan tubuhnya dicabik dan digagahi. Melahirkan bayi monster yang kini bersandar di depan dadanya, tepat di hadapan jantungnya yang berdegub kencang menahan hasrat untuk mencekik leher kecil makhluk itu.

Dan ia masih hidup. Jika ini harga yang harus dibayarnya demi bisa pulang ke negerinya… Nichkhun membayangkan, betapa mahalnya. Tapi sudah terlalu jauh untuk menyerah. Ia sudah melakukan semuanya. Terlebih dengan kehadiran Zhou Mi…

Nichkhun memejamkan matanya, berusaha tetap tenang. Ia mengenal baik pemuda itu. Harga dirinya berada di atas logika, Zhou Mi akan mencari cara untuk membunuh dirinya sendiri sebelum seorangpun berhasil mempermalukannya. Nichkhun harus mencegahnya. Ia harus menjelaskan situasi mereka dan rencana yang sudah disusunnya begitu lama. Jika harus pulang, Nichkhun tidak akan pulang sendirian. Ia tidak akan meninggalkan sahabatnya di negeri ini.

Tapi…

Nichkhun membuka mata dan bertemu pandang dengan pupil zamrud Taecyeon. Monster itu menyeringai. Nichkhun membalas dengan senyum manis yang sudah lama dilatihnya. Senyum manis, ditambah mata yang mengerjap pelan dan lelah. Biasanya, hal itu akan mengusir Taecyeon. Monster itu akan berpikir Nichkhun terlalu lelah untuk terjaga dan akan memberinya sedikit waktu sendiri. Tapi semenjak kehadiran bayi monster mereka, Taecyeon menolak pergi terlalu lama dan menghabiskan hampir sepanjang waktu di kamarnya.

Jika seperti ini, Nichkhun tidak akan mendapat kesempatan untuk menemui Zhou Mi.

“Khunnie?” Taecyeon menatapnya, sambil pelan-pelan beringsut mendekatinya. Monster itu memandanginya, sorot matanya begitu jahil dengan senyum kekanakan.

Nde, Taec?”

“K-Khunnie— Bolehkah aku?” Taecyeon memandangi dada Nichkhun, tanpa malu ia menyentuhnya. Membuat Nichkun tersentak kaget.

“T-Taecyeon!”

“Kenapa? Aku juga mau! Kau milikku!”

Nichkhun ingin meringis, tangannya gemetaran saat ia berusaha menutupi dadanya. Bayi monster itu seperti mengunyah ujung putingnya. Ia harus menahan diri untuk tidak menghentak bayinya menjauh, dan di saat bersamaan juga Nichkhun memutar otak untuk merayu Taecyeon mengurungkan niatnya. Membayangkan dua kepala monster menyesap dadanya membuatnya gemetar ketakutan.

“K-kalau kau juga mau, nanti baby tidak kebagian.” Nichkhun tidak berharap ucapannya berhasil menggagalkan niat Taecyeon, karena monster itu menatapnya murung seakan siap melampiaskan amarahnya seperti yang biasa dilakukannya. Maka pemuda itu mencoba lagi, kali ini dengan suara lembut, menggunakan nada yang bisa diingatnya sebagaimana ibunya sendiri bicara.

“Kau ayah yang baik, tidak boleh berebut dengan baby, nde?”

Ekspresi Taecyeon mengendur, pria itu tampak berpikir sebentar. Dengan tidak rela, akhirnya ia mengalah. Tapi dengan cepat juga ia kembali bersemangat. “Baiklah. Tapi bagaimana kalau—” Taecyeon menyeringai senang, sebelah tangannya menyusup ke balik gaun putih Nichkhun.

“T-Taec. Kita tidak bisa melakukannya di depan baby.” Nichkhun panik, sontak menahan gaunnya dengan sebelah tangan.

Taecyeon menautkan alisnya, jelas kecewa. “Begitu ya? Kalau begitu aku tunggu sampai baby tidur dan perawat membawanya keluar. Kalau seperti itu boleh?”

Nichkhun tersenyum, semanis mungkin. Tapi sesaat ia sadar dirinya hanya sanggup meringis.

Nde.

.

.

.

.

.

“Anak itu tersenyum sepanjang hari. Aku mulai bosan melihatnya.” Sang raja membuka mulutnya begitu adik bungsunya beranjak meninggalkan ruang pertemuan bersaudara itu. Sekarang hanya tinggal ia dan kakaknya, sang jenderal perang negeri.

Tidak seperti sang raja yang pelit senyum, sang jenderal perang justru sebaliknya. Ia melirik adiknya yang bergumam sebal sambil membaca salah satu gulungan kertas yang berisi laporan dari perbatasan negeri mereka. Seulas senyum tersungging di ujung bibirnya. “Snowelfnya melahirkan anak laki-laki, tentu saja dia bahagia.”

Yesung memutar bola matanya. “Snowelf pasti melahirkan anak laki-laki. Karena mereka semua laki-laki.”

Daniel hanya terkekeh. Bukannya ia tidak tahu hal itu, namun tetap saja tidak mengherankan baginya jika si bungsu Taecyeon terlihat begitu gembira. “Kau sudah menuliskan gelar untuk anaknya? Dan urutan hak tahtanya di bawah garis kita?”

Svarturman bertubuh pendek itu mendengus. “Taecyeon menolaknya. Dia mau putranya jadi kesatria perang seperti dirinya ketimbang mengurusi politik negara.”

“Huh. Keputusan bagus.” Daniel tersenyum lebar hingga gigi-giginya terlihat, yang mana langsung membuat Yesung mendelik tersinggung.

“Apa maksudmu, hah? Maksudmu urusan politik hanya untuk orang pendek yang tidak pantas turun ke medan perang, begitu?”

Daniel tertawa melihat reaksi spontan adiknya. “Kapan aku berkata begitu?”

Yesung tak lagi menanggapi. Ia merutuk di bawah napasnya sambil berusaha fokus dengan laporan yang sedang dibacanya. Sedikit saja ia temukan kesalahan yang ada pada gulungan itu, ia bersumpah akan membuat penulisnya berdarah.

“Adik…” Tawa Daniel mereda. Ia menatap adiknya dengan raut wajah seolah ia benar-benar mengerti sifat dan masalah pada tingkat emosi Yesung. “Ada baiknya kau juga cari snowelf untuk ditiduri. Kau jadi makin temperamen setelah kedatangan Nichkhun dan Zhou Mi. Mereka hanya boneka breeder, kenapa harus se-emosional ini?”

Kata-kata saudaranya itu kembali memancing emosi Yesung. “Buat apa? Agar aku menjadi lembek seperti kalian berdua dan tersenyum-senyum seharian seperti orang bodoh?” Ia mendelik, menantang sang jenderal. “Jangan pernah mengira kalian akan luput dari mataku, Daniel. Kalau sampai tuan putri dari Hviturland itu mengubahmu, akan kukirim tubuhnya ke depan kaki Yunho dan kujadikan kepalanya sebagai hiasan perang.”

Raut wajah Daniel tak berubah, masih dengan senyum tipisnya yang khas. “Ah, Yesung-ah… aku terharu dengan perhatian dan rasa khawatirmu. Kau benar-benar takut kehilangan kakakmu ini, ne?”

Yesung masih memelototinya saat Daniel memutar kursi untuk menatapnya. “Aku sedikit lelah dengan ketegangan perang beberapa waktu lalu. Masa aku tidak boleh santai sedikit dengan mainan baruku?”

“Kau selalu bermain-main dengan penghuni harem-mu, tak peduli sedang perang atau tidak!” Svarturman yang lebih tua itu mendengus. Tak heran lagi, pasti semua yang terjadi di dalam negeri ini akan dilaporkan kepada sang raja, termasuk kebiasaannya yang satu itu.

“Itu beda. Mereka hanya makhluk rendahan yang tak berharga untuk dibunuh. Sedangkan yang satu ini…” Daniel tersenyum miring. “…nenek moyang kita juga tahu bahwa membiarkan mereka mati cepat-cepat itu terlalu ringan bagi dosa mereka.” Daniel membungkuk ke depan meja, mendekatkan wajahnya. Ekspresinya berubah datar. “Aku tidak akan memberinya kematian, apalagi kalau dia yang memintanya. Aku akan membunuhnya nanti, setelah bosan.”

Mereka bertatap-tatapan tajam dalam diam sampai Yesung mendengus remeh dan bersandar ke tempat duduknya. Meskipun tahu bahwa kakaknya adalah orang yang selalu memegang omongannya, Raja Negeri Hitam itu tetap mengancamnya. “Aku akan terus mengawasimu, Daniel…”

.

.

.

.

.

Daniel tahu keputusannya untuk melepas rantai kekang Zhou Mi akan membawa dampak buruk. Ia hanya tidak menyukai ruam merah di pergelangan tangan dan leher snowelf itu setiap kali kekangnya dilepas, hingga ia memutuskan untuk berhenti merantai Zhou Mi di ranjangnya. Pikirnya dengan meninggalkan beberapa pelayan dan seekor troll di depan pintu akan cukup menghalangi pangeran itu, tapi Zhou Mi tidak mengerti. Pemuda itu memanfaatkan kesabarannya dengan membuat kekacauan.

Ia belum menyelesaikan pertemuannya dengan para menteri. Yesung berteriak dan memaki saat ia menghambur keluar begitu saja setelah seorang prajurit melaporkan ulah Zhou Mi malam ini. Rapat kecil itu bisa diatasi oleh kedua adiknya, sekarang yang diinginkan Daniel adalah menghampiri tawanan kecilnya. Meski bukan, bukan amarah yang sekarang menguasai hatinya. Karena sejujurnya ia sudah bisa menduga ulah pangeran snowelf itu. Tapi mendengar sendiri dugaannya jadi kenyataan, membuatnya tidak sabar menyaksikan langsung dan memberi tepuk tangan pada Zhou Mi.

Troll yang ditugasinya berdiri di depan pintu masih berjaga di tempatnya, meski terakhir kali ia meninggalkan ruangan itu, makhluk hijau raksasa itu berdiri memunggungi pintu. Kini troll besar itu berdiri menghadap pintu dan menahan pintu itu kuat-kuat agar tetap tertutup. Sepasang daun pintu besar itu bergetar, menahan hentakan kasar dari dalam. Lalu kegaduhan di dalam sana berhenti, setidaknya untuk sejenak.

Daniel mengisyaratkan makhluk raksasa itu untuk menyingkir, sebelum dibukanya pintu itu perlahan-lahan. Daniel belum sempat berkedip saat tubuh tinggi itu menerjangnya sekuat tenaga, tapi Daniel merentangkan tangan dan merengkuh tubuh ramping itu. Serangan Zhou Mi berakhir membuatnya tampak seakan berpelukan dengan Daniel.

“Whoaa! Whoa!” Daniel mendorong tubuh Zhou Mi dengan mudah, kembali ke dalam kamar. “Kau merindukanku, Princess? Aku suka dipeluk, uh. Lagi, please?”

Pangeran itu menggerung padanya, lalu memaki dalam bahasa peri, berusaha melukainya dan melempar kepalan-kepalan tinjunya. Jarak sedekat itu membuat semua pukulan Zhou Mi tepat sasaran, menghantam wajah Daniel. Tapi Daniel hanya memejamkan mata dan mendengus, memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri mengikuti arah tinju Zhou Mi. Tangan itu hanya menyisakan gatal di kulit wajahnya. Zhou Mi sudah menggunakan kepalan tangannya lebih dari semestinya hari ini, Daniel tahu karena ia bisa merasakan tinju pangeran itu lebih lemah dari biasanya.

Pintu tertutup di belakang tubuh mereka. Setelah Zhou Mi menyerah untuk melukainya dan beralih berusaha membebaskan diri, Daniel menyadari keadaan di sekelilingnya. Ia membebaskan Zhou Mi, lalu memutar pandangan dengan takjub.

Ruangan itu seakan baru diterjang badai. Ranjang Zhou Mi berubah posisi, meski kokoh berdiri, kapas berhamburan dari kasur yang disayat di sana-sini. Meja dan kursi hancur berserakan diantara enam mayat yang bergelimpangan. Dua orcs betina terbujur kaku di dekat ranjang, kepala mereka berputar rotasi dengan mata membelalak terbuka. Satu mayat dengan kondisi yang sama duduk kaku di dekat pintu. Dua mayat lain terbaring di atas genangan darah mereka sendiri dan satu mati dalam keadaan paling mengenaskan, bolamatanya dijebol masuk dan tulang tengkoraknya retak meneteskan sedikit cairan putih kental otaknya.

“Wow.” Daniel ingin tertawa. Tapi ditahannya. “Dengan apa kau membunuh mereka, Princess? Kaki dan tanganmu bahkan belum sembuh.”

Zhou Mi berdiri, memegangi kepalanya seakan menahan sakit yang sesaat menyerangnya. Pemuda itu tidak menjawab, ia mengeram, berjalan balik dengan terpincang seakan kebingungan, sebelum memutuskan untuk berdiri jauh-jauh dari Daniel.

Daniel memperhatikan pemuda itu sebentar. “Kepalamu sakit lagi?” tanyanya, nyaris terdengar khawatir. “Kau tinggal bilang obat apa yang kau gunakan di negerimu, aku akan mencarikannya, Princess. Tapi kau masih ngotot merajuk padaku. Dan aku serius. Kau harus menghentikan permainan berburumu di kamar ini. Yesung akan segera membatasi jumlah orcs untuk melayanimu kalau dia tahu kau membunuhi lima setiap harinya.”

Enam ekor hari ini, Daniel menambahkan dalam hati saat ia memandangi mayat-mayat itu sekali lagi. Ia teringat insiden ini dimulai pertama kali sejak Zhou Mi menunjukkan sikap linglung itu beberapa hari lalu. Hal itu juga yang membuatnya memutuskan untuk melepaskan kekang Zhou Mi, pangeran itu tidak boleh rusak oleh penyakitnya sendiri. Tapi kemudian Zhou Mi mulai melakukan pembantaian ini pada pelayan-pelayan yang ditugasi untuk menjaganya di kamar ini.

“Yesung benar-benar akan mengomel kalau dia sampai tahu…” Daniel mengusapi dagunya, malas membayangkan omelan adiknya. Hingga suara erangan Zhou Mi menarik perhatiannya. Pangeran Snowelf itu berdiri gemetar, sebelum berlutut dan menatap kosong ke lantai.

“Membantai enam orcs membuatmu lelah, eh?” Daniel mendengus, pria itu berbalik menuju pintu. “Tunggu disini kupanggilkan tabib.”

.

.

.

.

.

“Sudah lebih baik?”

Zhou Mi tidak menjawabnya, tapi Daniel tahu Zhou Mi sudah jauh lebih baik hanya lewat delikan mata pangeran snowelf itu padanya.

Mayat-mayat sudah dibereskan, seprai sudah diganti dengan yang baru, serpihan perabotan yang hancur sudah disingkirkan. Meski darah masih pekat mengotori lantai, ruangan itu tampak jauh lebih baik dibanding dua jam lalu.

Zhou Mi duduk di atas ranjangnya, diselimuti hingga ke paha. Ia bertarung pandang dengan Daniel seakan mencari waktu tepat untuk menyerang, sedangkan Daniel bahkan tidak membutuhkan persiapan, kalaupun Zhou Mi berhasil mengumpulkan seluruh energinya kembali, perlawanan pemuda itu hanya akan berakhir sia-sia. Daniel melempar senyum ringan dan berkelakar sesekali.

“Berapa usiamu sebenarnya, Princess?

Zhou Mi menahan diri untuk tidak meremas selimut di bawah kakinya. Pada akhirnya pangeran itu bersandar ke belakang, melemaskan otot-ototnya dan memejamkan mata, menyerah untuk hari ini.

“Kau tidak mau jawab, eh? Merajuk, ya? Apa kau masih kesal soal temanmu? Hidupnya sudah bahagia sekarang, kau malah menyuruhnya mati. Kejam sekali. Yasudah kalau tidak mau menjawabku, biar kutanyakan pada temanmu itu.”

Zhou Mi tidak ingin membuka matanya, tapi degub jantungnya berubah ritme saat Daniel kembali membahas Nichkhun di hadapannya. Mati-matian ia menghapus bayangan memalukan Nichkhun yang dilihatnya seminggu lalu, dan monster ini terus mengungkitnya lagi seakan tahu perkara itu selalu menyakitinya.

“Adikku betah sekali berjam-jam menungguinya setiap hari. Saat kuperiksa kenapa… Ternyata…”

Gigi Zhou Mi gemertak beradu. Ingin menutup telinga dan menulikan diri dari apa yang akan diucapkan Daniel selanjutnya. Ia bisa merasakan riang dalam suara Daniel. Pria itu tahu.

“Kalian bisa menyusui? Ugh, dia membuatku iri. Kalau dia bisa begitu, kau juga bisa, kan?” Daniel mengusap dagunya, matanya lekat menatap dada kokoh Zhou Mi. “Aku tidak sabar… Tapi aku bisa bersabar.” Ujarnya lebih pada diri sendiri.

Zhou Mi menahan napasnya, lalu membuka mata saat ia bisa menghembuskannya dengan tenang. Ditatapnya Daniel dengan sorot sayu. Pria itu juga tengah menatapnya, meski sesekali Daniel melirik ke luar jendela, mengawasi purnama yang tertutup awan. Zhou Mi memperhatikan gelagat pria itu, namun tidak mengatakan apa-apa. Pertanyaan-pertanyaan mulai membanjiri benaknya. Kenapa Daniel terus mengawasi purnama di luar sana? Apa monster-monster ini juga mengubah diri saat purnama tiba, selayaknya werewolf?

Zhou Mi mendengus terakhir kali Daniel menatap keluar jendela terlalu lama, membuat mata Daniel segera kembali padanya.

“Kau ingin berubah ke wujud monstermu dan lari dibawah siraman purnama seperti binatang lainnya?”

Daniel tertawa. Baru mengerti arah pembicaraan Zhou Mi dan menurunkan alisnya. “Kau berpikir aku menunggu purnama itu? Purnama di luar sana hanya kebetulan, sayangku. Aku tidak menunggu bulan itu. Aku menunggumu.” Ia beranjak, dan melangkah mendekati jendela. Dengan sengaja dibukanya jendela itu lebar-lebar, sinar purnama di luar sana dengan segera menyeruak ke dalam ruangan, beradu dengan lentera yang dipasang di atas ranjang Zhou Mi. Ia berbalik, memunggungi jendela, berdiri menghadap pangeran snowelfnya. Kepalanya tepat menutupi bulat purnama di luar sana. Kulit abu-abunya tampak berkilau disirami oleh cahaya bulan.

“Kami bisa berubah kapanpun kami mau.” Ujarnya sembari membungkuk tanpa melepas kontak matanya dari Zhou Mi. Suara derak tulang mengisi ruangan. Tubuh tinggi dan kekar Daniel menggembang lebih besar, bahunya bertumbuh membengkak, diikuti bagian tubuh lainnya yang membesar mengimbangi lengan dan bahunya. Pria itu membungkuk saat tubuh besarnya tidak bisa berdiri tegap di dalam ruangan luas yang seketika tampak kecil. Tengkuknya menyentuh atap. Suara derit ujung tanduknya yang tajam menyentuh langit-langit, menyakiti telinga. Kini pupil emas yang dikelilingi kolera hitam itu berubah pekat sepenuhnya, taringnya menanjang menyentuh bawah bibirnya. Sosok monster Daniel yang sudah begitu familiar bagi Zhou Mi dengan cepat berubah lebih menakutkan.

Zhou Mi ternganga.

“Tidak. Aku tidak ingin merusakmu dengan tubuh ini, jadi…” Daniel mengerang, kesulitan bergerak dengan tubuh sebesar itu di dalam ruangan sependek ini. Ia beringsut mendekati Zhou Mi, sembari perlahan menyusutkan diri, mengembalikan sosoknya yang lebih familiar.

“Kita akan gunakan tubuh yang ini saja.” ujarnya sembari menyeringai tampan.

Zhou Mi terlalu shock untuk merespons. Seakan satu kedipan matanya membuatnya lengah hingga ia berakhir berbaring di bawah kukungan lengan kekar Daniel.

“Kau harum sekali, kau sadar itu Princess? Sudah lama aku menunggu harum ini…” Daniel mengendus wajahnya.

Zhou Mi bergidik, meski dengan cepat ia menguasai dirinya lagi. Tubuhnya berubah kaku saat diremasnya seprai diantara pinggangnya. Ia menahan napas, tetap waspada, namun juga tidak ingin bertindak gegabah.

“Beritahu aku Princess, apa seseorang pernah menyentuhmu sebelumnya?”

Hell No.Ia memang sedang dekat dengan seorang beta dari kerajaan tetangga dan Ratu menyarankannya untuk segera bertunangan. Namun Zhou Mi belum pernah memiliki perasaan khusus pada siapapun sebelumnya, siapapun kecuali Nichkhun. Dan kalaupun ia harus mengikat diri dengan seseorang, he’ll be the one to takenot the one taken.

“Menyingkir dariku sebelum kau menyesali ini, Daniel.”

“Huh? Kau memanggil namaku untuk pertama kalinya, Princess! Kita harus merayakannya!” Daniel terkekeh senang lalu membungkuk bermaksud mengecup kening putih itu tapi Zhou Mi segera menghindar, mengangkat tangan dan menahan leher Daniel tetap jauh darinya. Pemuda itu mengeram, menahan jarak wajah mereka sementara ia berusaha merayap keluar dari kukungan Daniel.

“Bagaimana dengan seks? Yes, definitely sex!

“Menyingkir!” Zhou Mi berseru marah, kesal pada dirinya sendiri yang bahkan terlalu lemas untuk mengangkat kaki. Satu kali ia berhasil menyingkir dari bawah tubuh Daniel dan merayap menjauh, namun pria itu menarik kakinya dan membanting tubuhnya kembali ke posisi mereka semula, mengembalikan Zhou Mi pada situasi memalukan itu lagi.

“Aku tidak berniat main-main malam ini, Princess. Raja hanya memberiku waktu satu bulan, dan aku bersabar hampir dua minggu hanya untuk menunggu masa suburmu.” Daniel mengeram, menahan sebelah tangan Zhou Mi dan mengabaikan tangan kanan pemuda itu yang terus berusaha mendorongnya. Itu tindakan sia-sia.

Dengan kedua kaki lemas, Zhou Mi tidak mampu memberikan banyak perlawanan selain mengeluarkan gerungan marah dan caci maki. Pemuda itu menambah luka di kaki kanannya setelah duel di arena Svarturland lima hari lalu, sementara kaki kirinya belum lagi sembuh dari luka yang dibuat Daniel dulu. Sekarang ditambah efek samping obat yang dicekoki padanya, Zhou Mi hanya sedikit berharap pada kedua tangan dan sebelah kakinya, ditambah gigi jika ia mampu meraih wajah Daniel. Pemuda itu berpaling, separuh panik, berusaha mencari apapun yang bisa membantunya melukai Daniel. Matanya baru saja terpaut pada belati pendek yang menggantung di pinggang monster itu saat suara robekan kain menyela perhatiannya.

Daniel merobek paksa celana tipis panjang yang dikenakannya. Meninggalkan pemuda itu separuh telanjang.

Zhou Mi terkesiap. Belum sempat membalas saat Daniel melakukan hal yang sama pada pakaian atasnya. Pria itu merobek kemejanya, mengekspos dada putih dan perut kokoh Zhou Mi dalam sekejap mata. Kini pemuda itu berbaring telanjang di bawah tubuh Daniel, dengan pakaian rombeng di bawah punggung

Daniel mengusap dada putih itu, menyusuri perut dan turun tepat di atas pinggul Zhou Mi. “Kau pikir otot-otot ini bisa menutupi harum seorang beta? Biar kucuri otot-ototmu agar kau sadar untuk apa kau lahir di dunia ini Princess.” Daniel terkekeh, ia membungkuk lebih rendah, sedikit waspada Zhou Mi akan menggigit hidungnya. Lalu ia berbisik, dengan seringai penuh di wajahnya.

“Kau lahir untuk menghasilkan pangeran-pangeran kecil lain.”

Zhou Mi gemetar, merutuk kedua kakinya yang tiba-tiba mati rasa. Tangannya gemetar kaku untuk sejenak, hingga matanya kembali tepaut pada belati perak yang menggantung di pinggang Daniel. Pria itu hanya merenggangkan ikatan celananya, mengeluarkan kejantanannya yang tegak sempurna dan sukses menambah gemetar di sekujur otot Zhou Mi.

Daniel melebarkan kaki Zhou Mi, mengangkat sebelah kaki jenjang itu ke atas bahunya. Jadilah pelacur yang baik dan lahirkan banyak pangeran untukku.

Tidak sekarang. Zhou Mi merutuki diri, merasakan seluruh tubuhnya bergetar pelan saat lubang betanya berubah hangat dan basah. Kenapa ia harus menghadapi heatnya sekarang?! Dan monster ini bahkan sadar lebih dulu dari dirinya.

Zhou Mi berjengit saat jari-jari kasar Daniel bergerak menjelajahi kejantanannya, berusaha mencari lubang yang tersembunyi itu. Saat telunjuk kasar itu berhenti tepat di rongga basah miliknya, Zhou Mi merasa begitu hina, akal sehatnya tidak lagi berjalan lurus saat secara refleks tangannya meraih pinggang Daniel, menarik belati yang tergantung rapi di pinggang pria itu dan mengayunkan benda tajam itu ke atas. Tidak peduli pada target yang ditujunya atau akibat yang akan diterimanya. Ia hanya ingin Daniel segera menyingkir dari atas tubuhnya, dan harapannya terkabul.

Suara pekikan Daniel diiringi oleh cahaya kebebasan Zhou Mi, tubuh besar pria itu tersentak bangun dan menjauh darinya. Sinar purnama di luar sana masuk menerangi tubuh Zhou Mi di atas ranjang, cahaya keemasan menghasilkan kilau di atas tubuhnya yang dibalut darah hitam dari ujung rambut hingga ke bawah perutnya.

“PERI JALANG!” Daniel berlutut mengangkangi Zhou Mi, sibuk menghentikan darah yang terus menyembur dari luka dalam dan panjang yang melintasi bahu dan turun miring ke bawah perutnya. Wajah keabuannya berubah lebih gelap, matanya mendelik murka. “ARGGGHHHH!” Daniel berteriak, luar biasa marah. Ia menyerah menghentikan aliran darah itu dan menelan mentah-mentah sakit yang sesaat mengusik emosinya.

“Ternyata kau tidak sekebal itu, huh?” Zhou Mi mendengus, suaranya bergetar.

Kilat emas pupil Daniel mengembang berbahaya. Ia menangkap kedua tangan Zhou Mi sebelum pemuda itu sempat mengayunkan sayatan lain ke wajahnya. Direbutnya belati itu dengan paksa, melukai tangannya sendiri dan tangan Zhou Mi tanpa sengaja. Belum sempat pemuda itu bereaksi, Daniel membalik ayunan belatinya turun, menembus bahu pemuda itu hingga ke balik ranjang.

Zhou Mi tersedak, tidak sempat menjerit. Telinganya berdengung, membuatnya tuli sesaat saat tubuhnya menanggung pedih luar biasa ketika belati itu menembus bahu hingga ke kayu tempat tidurnya bagai kail. Bibir pemuda itu gemetar, susah payah ia mengulurkan tangannya untuk meraih belati itu dan mencabutnya saat tusukan lain mengimbangi posisi belati itu tepat di bahu kanannya. Darah merembes hangat, lalu berubah dingin, membasahi bawah tubuhnya, dan sobekan-sobekan rombeng pakaiannya, Zhou Mi bisa merasakannya. Tubuh jangkungnya menegang, pupil matanya bergerak naik saat Zhou Mi berusaha menguasai dirinya sendiri dari rasa sakit yang menjadi itu. Meski gagal. Ia bahkan tidak bisa mengangkat bahunya, separuh tubuhnya terkait ke ranjang dengan dua belati yang ditusuk bagai paku di kedua bahunya.

“Aku masih punya dua kalau tanganmu berulah lagi. Apa aku perlu memaku kedua telapak tangamu juga, Princess?” Daniel mencengkeram dagu pemuda itu, suaranya sedikit bergetar menahan amarah. Pangeran Snowelf itu bahkan tidak mampu menjawab dan tampak akan kehilangan kesadaran kapanpun. Tapi Daniel tidak berniat untuk menunda agendanya lagi. Darah dari luka di tubuhnya tidak lagi menyembur sederas tadi.

Merah pekat darah Zhou Mi yang mengotori selimut putihnya tampak begitu indah, bercampur dengan tetes-tetes hitam darah Daniel.

Zhou Mi masih bisa merasakan kedua kakinya sesaat tadi, tapi kini seluruh kekuatannya seakan dikuras habis dan mengalir keluar bersama darahnya. Daniel membuka selangkangannya dan mengangkat kedua kaki panjangnya. Tubuhnya seakan menolak untuk digerakkan sebesar apapun ia memaksa untuk melawan. Usahanya berakhir membuatnya gemetaran. Dalam keadaan serendah itu, ia tidak bisa melakukan apapun, selain merasakan seluruh perbuatan Daniel dengan tubuhnya, dengan separuh kesadarannya, dari ujung kepalanya hingga ke ujung kakinya.

Monster itu melanjutkan perbuatannya, memposisikan kejantanannya di depan lubang beta Zhou Mi yang terekspos tanpa perlindungan. Tidak berniat menghabiskan waktu, pria itu sontak menghentak masuk ke dalam tubuh Zhou Mi, menembus lubang yang belum pernah dilalui apapun sebelumnya.

“U-GUHK!”

Zhou Mi ingin menjerit, tapi suaranya tertahan oleh darah yang menyembur saat ia terbatuk. Matanya terbelalak, urat-urat lehernya menegang. Pupil ungunya bergerak naik dan pemuda itu merasa nyawanya seakan ditarik paksa dari ubun-ubunnya. Sakit di bawah sana mengalahkan pedih di kedua bahunya.

Daniel benar-benar tidak memberi pemuda itu waktu untuk membiasakan diri. Melihat betapa tersiksa Zhou Mi justru membuatnya bernapsu untuk melakukan semua ini lebih kasar lagi. Ia menghentak, keluar dan masuk dari tubuh snowelf itu dengan kasar dan cepat. Diremasnya kedua lutut putih Zhou Mi hingga kuku-kukunya menancap meninggalkan luka.

Zhou Mi tidak sanggup merespon selain terkesiap setiap kali Daniel menghentak tubuhnya naik. Darah yang menyembur dari mulutnya setiap kali Daniel menghentak masuk sudah cukup menggantikan desahan dan erangan yang seharusnya keluar dari bibirnya. Untuk bernapaspun ia kesulitan.

Hanya Daniel yang menikmati semua itu. Pria itu tidak peduli kalau cairan putih ejakulasinya berubah warna saat bercampur dengan darah dari lubang beta Zhou Mi. Ia terus menghentak dan meremas, sejenak menginginkan pangeran di bawah tubuhnya juga ikut menikmati. Tapi sudah terlambat untuk melakukannya. Zhou Mi tidak mungkin lagi menikmati apapun yang diperbuatnya malam ini.

Daniel tahu pemuda itu masih sadar saat ia meninggalkan tanda kepemilikan di leher putih Zhou Mi. Setelah Zhou Mi jatuh pingsan karena tidak sanggup lagi menahan seluruh rasa sakitnya lebih lama, Daniel masih bergerak, menghentak lubang pemuda itu tanpa ampun. Ia harus memastikan tubuh pangeran Snowelf ini meresap bibitnya baik-baik.

.

.

.

oOoOoOo

TBC

oOoOoOo

.

.

.

A/N:Hai haloooo, maafkan kami berdua yang lama menghilang ditelan bumi XD

Miinalee here. Saya baru saja menyelesaikan skripsi jadi doakan saja bakal rajin update hwkwkwkwk. Dndthecat sibuk nge-vote Shinhwa, supaya Dee rajin update silahkan bantuin nge-vote Shinhwa. (Eak, canda)

Seperti yang kami janjikan, Cursed Crown sudah direwrite ya, kalau masih berminat baca silahkan cek di wattpad Miinalee (usernamenya miinalee). Sudah ada chapter prologue disana dan akan update dalam waktu dekat. Mungkin yang di ffn masih akan dilanjutkan, mungkin… Tapi tidak disarankan menunggu wkwkwk. Dan buat kalian yang suka dengan pair Daniel-Zhou Mi coba cek ff baru di wattpad yah. Terakhir, kami sangat merekomendasikan pengguna android untuk menginstall aplikasi ffn, karena sumpah aplikasi itu praktis banget buat baca-review-subscribe. Ditunggu review cantik kalian! Byeee!

Advertisements

9 thoughts on “Cursed Crown – Chapter 21

  1. huaaaa akhirnya update juga, tumben ga ada notif di line.
    Selamat untuk skripsiannya sun a.k miinalee 🙂
    di kirain ini akan penuh dengan kyumin, soalnya pas awal diceritain keadaan sungmin saat purnama..Berharapnya juga banyak kyuminnya sih hehhe.
    itu sungmin gapapa kan? pas di ceritain kalo sepintas kyuhyun liat rambut sungmin memutih jadi khawatir.
    chapter ini dominan daniel dan zhoumi lagi, daniel kejam banget itu kasian zhouminya.
    daniel pake hati ga sih sama zhoumi? lupa deh zhoumi sakit apa ya? kayaknya pernah di ceritain kalo zhoumi suka minum atau racik obatnya sendiri cuma ga inget di chap berapa.

    di tunggu kitty kitty baby, sama the councubinenya (kalo ga salah penulisan)

  2. akhirnya part yg ditunggu muncul juga~ yeaayy
    Emang ya feeling kyuhyun bener kalo sungmin lagi kenapa-napa 😂 kalo buat couple/? Daniel-zhoumi aku no comment ✌ kasian bgt zhouminya 😭
    Semangat ya kakak2!~ ditunggu part selanjutnya^^

  3. PrincessKyu says:

    Finally update jgaaa. Untung msh cepat recallnya dgn chapter sbelumnya hehehhe
    Sungmin yg kuat yah, ada Aa kyu kok yg selalu dampingin. Sungmin cepet d lahirin dong min bayinya. Ksian lhatnya. Apalgi ngebayangin dia nya yg kecil d ff nih. Sungmin fighting
    Zoumi nih jgn bandel”, tuh kan ujung”nya kmu klah jga. Yaudah sih terima ajah yg penting gak d sakitin sma daniel. Suka banget d bkin bedarah”. #dibunuhzoumi

    Semangat author yg kece badaay halilintar 😄
    Smoga nilai skripsinya nnt A aamiin
    Rjin” update yaaah. Mumpung lbur kuliah jd btuh byk bacaan nih hahaha

  4. Daniel akhirnya jebol Zhoumi juga 😂 /prokprokprok/ aku sebenernya bayangin itu semua hmmm kalau bisa indah2 an kenapa harus darah2 an 😥 kasiannnn.
    Cup cup cup zhoumi.
    Aku kok kasian ke Taecyeon? Kalau Khun pergi dia patah hati kann…. ? Pasti nanti serem ngamuknyaaa hiiiii.

    Tapi tulisan yg jelasin apa tujuannya bangsa Snowelf ditangkap itu bikin sedih juga sih 😦 tega dan kejam.

    Makasih kakak-kakak atas kelanjutan ceritanyaaaaaa :DDDDD

  5. melaa says:

    Huwaaaaaaa akhirnyaaa 🎉🎊🎆🎇 setelah pergantian tahun diupdate juga ff ini 😂 kangen sama minie & kyunie tapi kok partnya dikit banget yah 😭 pisah aja cerita kyumin & danzhou (kaya nama karakter di naruto?) Wkwkwk peace… soalnya jadi salah fokus, kayanya waktu pertama baca ff ini fokus utamanya kyumin, tapi sekarang jadi lebih nonjolin danzhou & sejujurnya lebih bikin penasaran yg danzhounya hehe tapi itu kan terserah Miinalee, mau lanjut seperti ini juga gapapa, tapi yang seimbang ya antar pairingnya… kasian KyuMin 😭 and satu lagi, chap ini pendek ya? Wkwkwk kebiasaan baca yang panjang2 soalnya hehe tapi dimaklumi kok, kan lama nggak nulis jadi mungkin tangan dan pikiran tidak semulus saat masih teratur nulisnya…. anyway pokoknya semangat terus berkarya ya, karena masih banyak yang setia nunggu cerita2 Miinalee termasuk aku… semoga skripsianya lancar & sukses… FIGHTING!!😆😆😆

  6. cassinta says:

    Akhirnya zhoumi di cocol juga..hahah. satu chapter nunggu nya setaun. Hahaha. Baca ff ni,jadi inget drama ice fantasy. ? Meskipun hiatus lama tapi ceritanya masih sinkron. Daebak..

  7. Winda ParkCho says:

    Akhir’y update lagi udah lama banget nunggu. Pangeran dari negeri para monster bener2 gila mereka sadis banget.

  8. Shin Min Rin says:

    Haloo..makasih banyak loh udah update ^^ Zhoumi kasian… gak tega dah diqtuin 😢
    Semoga kalian tetap semangat ya.
    Btw. Gak ada niat fanficnya dibukuin… Light Novel qtu… pengen .

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s