Cursed Crown – Chapter 22

Sungmin sudah jauh lebih baik saat ia bangun keesokan harinya. Kyuhyun masih melihat lingkar hitam di mata bulat bocah itu, dengan gundukan membengkak di kantung matanya sisa-sisa tangisnya semalam.

Kyuhyun duduk disisinya sementara bocah itu berbaring, menatapnya dengan mata yang masih basah.

“Aku ingin direwolf-hyung.” Sungmin meminta tiba-tiba. Kyuhyun terperangah. Kalau ini situasi biasa, ia pasti sudah membentak mate-nya dan mengomel panjang lebar. Tapi Sungmin baru saja melalui malam yang panjang. Kyuhyun tidak bertanya dan beranjak mengambil posisi di belakang tubuh mate-nya.

Kyuhyun mengangkat sedikit tubuh Sungmin, mencari ruang untuk dirinya sendiri berbaring di belakang tubuh mate-nya. Sungmin bersandar padanya sedikit kaku, tapi saat tubuh manusia Kyuhyun berubah ke wujud direwolfnya, Sungmin berbaring lebih nyaman, menggeliat dan membenamkan wajahnya di hamparan bulu coklat lembut Kyuhyun.

Bocah itu memeluk leher Kyuhyun sementara Kyuhyun menggelung tubuh panjangnya mengelilingi mate-nya, membungkus Sungmin di dalam tubuhnya.

Kyuhyun memalingkan wajahnya menghadap Sungmin yang terlelap di tengkuknya. Moncongnya berkedut saat ia mengendus wajah mate-nya. Sungmin punya aroma yang bisa membuatnya ingin berlama-lama berada di ruangan ini dan mengabaikan segalanya. Tapi Kyuhyun mampu menangkap bau asing yang tercium samar dari tubuh Sungmin. Bau yang sempat mengusiknya beberapa minggu lalu. Sekejap. Lalu menghilang seperti terhembus angin.

Teringat lagi olehnya tangis Sungmin semalam. Bagaimana mate-nya menggeliat dan menjerit kesakitan. Kyuhyun jelas merasa bersalah. Apa yang dialami mate-nya bukan gejala biasa. Tidak peduli seberapa sering tabib dan orang-orang di sekitarnya berusaha menjelaskan untuk membuatnya tenang, bahkan dengan membanding-bandingkan kondisi Sungmin dengan mendiang istrinya dulu.

Kyuhyun masih menatap wajah mate-nya lewat dua bolamatanya yang besar. Pemuda itu menjilati wajah Sungmin, merasa lega setidaknya Sungmin sudah mampu terlelap dengan nyenyak seperti ini. Tapi Kyuhyun tetap bersumpah akan mencari tahu apa yang terjadi pada mate-nya. Jika ia tidak bisa menemukan jawabannya di negaranya sendiri, Kyuhyun akan mencarinya kemanapun. Bahkan jika ia harus memijakkan kakinya ke wilayah Blarland sekalipun.

.

.

.

.

.

“Aku bisa jalan sendiri.” Sungmin memprotes, untuk kesekian kalinya. Tapi dua pelayan yang memapahnya  di kanan dan kiri seakan tidak mendengarkan. Ia hanya ingin berpindah dari ranjang menuju kursi di depan jendela. Dan dua pelayan itu berlagak seakan Sungmin tidak mampu melakukannya seorang diri. Jadi mereka memapahnya, selangkah demi selangkah seakan jarak sepuluh meter itu sama beratnya seperti menanjak gunung Ruqh. Kakinya memang lemas. Tapi bukan berarti Sungmin harus dipapah seperti bayi! Membayangkannya saja membuatnya jengkel.

“Aku bisa sendiriiiii!” Sungmin mulai merengek. Tidak suka diperlakukan seperti orang lemah, meski pemuda itu sadar keadaannya saat ini memang tidak sekuat hari-hari biasanya. Dua pelayannya terlanjur menuntunnya hingga ke jendela, memastikan Sungmin duduk nyaman di kursinya. Anak itu bersungut-sungut saat selimutnya dibenahi, melindungi pahanya tepat di bawah perutnya yang besar.

“Pergi. Aku mau sendiri.” Perintahnya tiba-tiba.

“Tapi, Yang Mulia—“

Sungmin mendelik. Sudah muak ditentang.

“PERGI.” Paksanya dengan suara mengancam. Ia belajar cara itu dari mate-nya. Dua pelayan itu saling memandang, namun jelas tampak terkejut saat Sungmin membentak mereka. Setelah sesaat, keduanya membungkuk dan keluar. Sungmin yakin mereka tidak benar-benar pergi. Tapi ia cukup lega berada di ruangan ini sendirian. Jika bukan Kyuhyun, ia tidak ingin ditemani.

“Semua gara-gara kau—“ Sungmin menyentuh perutnya, menyalahkan bayi yang ada disana. “Kalau bukan karena kau aku pasti bisa main keluar sekarang.” Gerungnya kesal. Sungmin menunduk, ekspresinya keras saat ia memandang perutnya sendiri.

“Kau juga membuatku sakit dua hari lalu.” Sungmin belum selesai menyalahkan bayinya sendiri. Ia meremas kausnya. Menyiapkan rentetan kekesalannya dalam kata-kata dan bersiap mengutarakannya. Ia tahu bayinya mendengar, ibunya mengatakan bayinya mendengar apapun yang terjadi di sekelilingnya, apapun yang didengarnya, apapun yang dikatakannya. Jadi sebaiknya bayi ini mencamkan ucapannya baik-baik.

“Kau membuatku susah, kau membuatku sakit, dan kau merebut perhatian Kyuhyun-hyung dariku.” Rentetnya. Dadanya terasa sesak saat ia mengatakannya. Tapi setelah kata terakhir terucap dari bibirnya, beban di dadanya seakan terangkat. Sungmin merasa airmatanya menggenang.

“Kau harusnya—“

Kata-kata Sungmin terpotong. Pemuda itu melongo dan refleks memeluk perut dengan kedua tangan. Ia merasakannya lagi, bayinya bergerak. Namun karena sejak tadi ia hanya mendengar suaranya sendiri dan fokus memarahi bayinya, Sungmin bisa merasakannya lebih jelas saat ini. Lalu bayinya bergerak lagi. Berputar. Sungmin yakin sekali tubuh kecil di dalam perutnya berputar, ia bisa melihatnya. Merasakannya. Dan menyentuhnya di bawah tangan.

Begitu lembut. Seakan menyapanya. Bukan menyakitinya seperti beberapa hari lalu. Pemuda itu terdiam, meresapi. Rasanya geli. Namun entah kenapa Sungmin menyukainya. Keningnya bertaut. Jantungnya berdegup kencang. Tiba-tiba ia teringat ucapan Kyuhyun-hyungnya di kolam saat itu. Ini bayi mereka. Manifestasi dirinya dengan Kyuhyun-hyungnya. Separuh darahnya dan separuh darah Kyuhyun-hyungnya. Separuh dagingnya dan separuh daging Kyuhyun-nya. Gabungan mereka berdua. Sungmin mencibir ucapan hyungnya saat itu. Tapi ia teringat lagi kali ini dan memikirkannya dua kali.

“Aku—“ Sambungnya terbata. Tiba-tiba terlupa dengan rentetan emosinya yang sudah dikeluarkannya sebagian. Sungmin menelan ludahnya, mengumpulkan napas, lalu kembali menceramahi bayinya. “Teukkie-eomma bilang kau akan segera lahir. Setelah lahir, kau hanya sebesar tanganku. Kau lemah dan harus makan dari dadaku.” Sungmin tidak sadar suaranya berubah lembut. Pemuda itu juga tidak sadar pintu kamarnya terbuka sesaat tadi dan hampir ditutup kembali, seseorang yang mencoba masuk menahan diri dengan menguping di pintu. Sungmin terlalu tenggelam dengan khotbahnya sendiri sembari menikmati gerak lembut bayi di dalam perutnya.

“Kau akan makan dari dadaku— E-ew.” Saat sadar dengan ucapannya sendiri, Sungmin mengernyit jijik membayangnnya. Bukan berarti ia jijik saat Kyuhyun-hyung yang melakukannya. Tapi— mulut kecil makhluk ini menyesap dadanya— “E-ew.” Ulang pemuda itu lagi. Tidak sanggup membayangkan.

“Kita buat perjanjian. Kau tidak boleh merebut Kyuhyun-hyung-ku. Aku akan membiarkanmu makan dari dadaku. Tiga hari—tidak, saat kau lapar saja. Kau yang butuh aku. Jadi jangan macam-macam padaku.” Ucapnya sembari menunjuk-nunjuk perut, berkompromi sepihak sementara bayinya merespon dengan bergerak dan berputar.

“Kau boleh makan dariku, tapi Kyuhyun-hyung hanya milikku. Bagaimana? Terdengar adil, kan?”

“Sungmin-ah…”

Sungmin hampir tersentak jatuh dari kursinya. Pemuda itu terkejut bukan main, hingga ia refleks memegangi bawah kursinya lalu meracaukan nada lagu yang bisa diingatnya. Apapun, asal hyung-nya tidak menemukannya tengah bernegosiasi dengan makhluk kecil ini.

Bukit jauh di sebrang gunung~” dendangnya tanpa nada sembari berpura-pura menatap jauh keluar jendela. “Kau menungguku di sana, ya kau menungguku di sana.”

“Kau menyanyikan lagu apa, hm?” Kyuhyun berlutut di sisinya, menggigit bibir menahan tawa. Terlalu geli melihat tingkah mate-nya. Ia jelas mendengar Sungmin tadi, tapi sengaja menanyakan hal lain, tidak ingin memancing emosi mate-nya.

“Itu lagu yang sering dinyanyikan maester.”

‘Maester yang mana? Kau malas belajar, aku hampir lupa kau punya maester.’ Kyuhyun ingin sekali menanggapi. Tapi ia membungkam bibirnya. Tidak mau salah bicara.

“Kau harus nyanyikan lagunya untukku kapan-kapan, nde?”

“N-Ndee…” Jawab Sungmin ogah-ogahan.

Sungmin makin lihai berpura-pura. Kyuhyun menyentuh pipi mate-nya, ingin mencubitnya.

“Kau sudah mandi, kan?”

“Tentu saja!” Sungmin menjawab marah. Tidak ingin disuruh mandi lagi.

“Aku hanya bertanya.” Kyuhyun tertawa. “Ayo kenakan jubahmu. Kita makan bersama dengan Raja.” Kyuhyun memapah Sungmin mengenakan jubah biru langitnya. Tidak sadar perlakuan lembutnya membuat Sungmin yang muak sejak tadi kembali kesal.

“Aku bisa kenakan sendiri!” Sungmin menarik jubah itu jengkel, lalu mengenakannya dengan jengkel pula.

Kyuhyun hanya tertawa. Membiarkan matenya merapikan sendiri pakaiannya dan berdiri.

“Kau ingin kugendong, Sungmin-ah?”

“Aku bisa jalan sendiri!”

Kyuhyun hampir tergelak melihat tingkah matenya. Sungmin berjalan begitu lambat sembari memegangi bawah perutnya. Tubuhnya pasti lemas. Tapi harga dirinya lebih kuat hingga pemuda itu memutuskan untuk berjalan sendiri.

“Tumben? Biasanya kau merengek minta digendong.”

“BERISIK!”

.

.

.

.

.

Semua anggota keluarga sudah lengkap ada di aula saat mereka datang. Makanan sudah memenuhi meja, beberapa mentri bahkan ikut duduk disana. Kyuhyun bisa mengenali semua hidung yang tampak olehnya. Semua, dan ia sadar seseorang tidak ada. Kangin duduk di kursinya, kursi dengan punggung yang lebih tinggi dari kursi-kursi lainnya. Kursi disisinya, yang disepuh warna emas dan sedikit lebih pendek dari kursi raja dibiarkan kosong. Itu kursi ratu. Dan Leeteuk tidak ada disana. Pelacur Raja memang seringkali absen saat mereka berkumpul begini. Kyuhyun senang ia tidak harus membuang muka mengingat pelacur raja selalu duduk di sisi ayahnya.

Sungmin berjalan di sisinya memasang wajah murung. Biasanya pemuda itu cukup gembira melihat kemenakan Kyuhyun, Lizzy, yang sudah lama jadi temannya di istana. Tapi kali ini Sungmin hanya melirik dan tersenyum tipis saat Lizzy kecil menyapanya. Mata pemuda itu sedari jauh sudah terpaut ke arah makanan yang tersusun di meja.

“Hyungie aku mau itu.” Sungmin langsung menunjuk makanan yang diinginkannya setelah pelayan merapikan serbet di atas pangkuannya. Meja begitu besar, ada banyak piring-piring besar dan daging-daging disana, sedikit sayur penghias makanan, buah-buahan, dan berbagai nasi.

“Nasi merah?” Kyuhyun tidak yakin pada arah yang ditunjuk mate-nya.  Jari Sungmin menunjuk diantara nasi merah dan piring berisi penuh irisan daging mentah.

“Bukan, di sebelahnya. Yang merah.”

“Itu daging mentah, Sungmin-ah. Kau tidak menyukainya.”

“Aku mau sekarang.” Sungmin ngotot, suaranya merengek memancing perhatian hampir semua orang. Raja menonton keduanya dengan terang-terangan. Kyuhyun bisa melihat dari sudut matanya saat Raja menyeringai, seakan menikmati tingkah Sungmin.

“Geser piringnya ke sebelah Pangeran.”

Pelayan bergerak menuruti perintah raja. Satu orang membawakan piring berisi penuh irisan daging mentah. Ada lima gradasi warna disana, Sungmin terpana saat pelayan menjelaskannya. Ada daging sapi, kerbau, babi, rusa, dan kelinci.

Kelinci.

Kyuhyun sudah membayangkan Sungmin melempar piring itu dengan murka dan mata berkaca-kaca. Tapi sebaliknya, Sungmin tampak tenang selagi memilih. Pemuda itu melahap seiris daging rusa dan mengunyahnya cepat-cepat. Kyuhyun menurunkan sumpitnya, siap menyodorkan tangan jika mate-nya berniat memuntahkan benda yang baru saja masuk ke mulutnya. Tapi setelah beberapa detik, Sungmin masih asik mengunyah, kakinya di bawah meja berayun-ayun, ia memainkan sumpitnya dan mengambil seiris daging lagi. Kali ini daging kerbau.

“Aku mau yang lebih merah.” Sungmin belum menelan daging di mulutnya saat ia memutar pandangan dari ujung meja ke ujung lainnya, mencari makanan yang mungkin terlihat lebih lezat.

“Kau bisa muntah nanti.”  Kyuhyun melirik perut mate-nya, mulai curiga ini efek kehamilan Sungmin. Tapi seingatnya, Bora tidak pernah mengalami hal serupa.

“Aku. Mau. Yang. Lebih. Merah.” Sungmin mengeram, masih sembari mengunyah irisan daging keempatnya. Sungmin menyesap ludahnya sendiri, membayangkan makanan itu dalam benaknya membuat mulutnya berliur. Sebaliknya, Kyuhyun hanya bisa terperangah melihat tingkah Sungmin.

“Kalau perlu yang masih hidup.” sambung Sungmin enteng.

Raja tergelak mendengarnya, tidak bisa menahan diri lagi.

“Putramu pasti lebih mirip kakeknya daripada ayahnya.” Suara raja menggelegar. Tawanya memancing orang-orang untuk ikut tertawa. Bahkan para pelayan. Kyuhyun mendengus kesal, tapi berhasil menahan emosinya.

“Cucuku belum lahir dan aku sudah sangat bersemangat untuk berburu babi hutan dengannya.”

Kyuhyun ingin sekali menyumpal mulut ayahnya dengan kambing panggang utuh. Pemuda itu berbalik pada mate-nya, yang kini sibuk mencicipi semua irisan jantung mentah kuda yang disodorkan padanya, juga beberapa agar-agar darah yang jelas dinikmatinya.

“Kalau kau sakit lagi, aku tidak mau berubah wujud dan jadi tempat tidurmu.” Kyuhyun berbisik mengancam, berharap hal itu menghentikan tindakan Sungmin.

“Ini enak. Hyung tidak mau?” Sungmin menyodorkan sepotong agar-agar darah pada Kyuhyun. Kyuhyun memalingkan wajah, hidungnya mengernyit jijik. Sungmin tidak peduli pada reaksi Kyuhyun, ia kembali sibuk menikmati makan siangnya. Raja sendiri yang memerintahkan pelayan untuk membawakan semua makanan yang ditunjuk Sungmin.

Melihat cara Sungmin mengunyah makanannya dengan sangat lahap, Kyuhyun mau tidak mau memotong daging mentah di dekat piringnya sedikit. Ia mengendus penasaran lalu melahapnya. Kyuhyun tidak menyelesaikan daging itu dan langsung menelannya, tapi ekspresi di wajahnya jelas menunjukkan ia tidak menyukai rasanya. Raja kembali tertawa memergoki perbuatannya, membuat Kyuhyun yang setengah geram kembali mengambil seiris daging mentah lainnya dan mengunyahnya. Kali ini dengan memasang wajah stoiknya.

.

.

.

.

.

“Ayahanda. Kau memanggilku?”

Cahaya menyeruak masuk dari pintu yang terbuka ke dalam ruangan yang hangat dan gelap itu, ruang pribadi Sang Raja. Yunho sedang berdiri menghadap ke perapian dengan segelas anggur di tangannya. Tanpa menoleh, ia menyahut. “Masuk. Tutup pintunya.”

Siwon menelan ludahnya, menerka-nerka perkara apa yang akan dibicarakan oleh Sang Raja padanya yang sedang menjalani masa hukuman. Ia melangkah, hangat perapian itu makin terasa saat ia mendekat.

“Duduklah.” Yunho berkata sebelum menyeruput anggurnya dan berbalik menghadap putra sulungnya itu. Ia duduk di samping meja yang terbuat dari kaca es yang terletak di antara kursinya dan Siwon. Ada keheningan yang kental di antara mereka sebelum Yunho akhirnya mulai bicara.

“Seorang mata-mata melaporkan sesuatu dari Radourland.”

Siwon sedikit terperanjat, jantungnya berdegup kencang. “A-Apa sesuatu terjadi pada Sungmin?!”

Yunho menelan lebih banyak anggur, mencoba mengacuhkan nama yang baru saja disebut Siwon.  “Belakangan ini muncul pemberontakan di daerah perbatasan Radourland dengan Graentland… Di sepanjang Brother’s Bridge, perbatasan teraman selama beberapa ratus tahun terakhir. Tujuan pemberontakan kelompok-kelompok kecil misterius itu belum pasti. Saksi bahkan tidak bisa memastikan mereka berasal dari ras apa.”

Siwon diam, tidak langsung merespon. Mendengar jawaban ayahnya entah kenapa justru membuatnya lega. Tapi Siwon tidak ingin menunjukannya. Pemuda itu mengatur napasnya pelan-pelan. Ternyata mata-mata mereka di Radourland masih hidup? Ah, mungkin ini orang baru yang diselundupkan saat mengantar rombongan Hviturland menjenguk Sungmin terakhir kali. Tapi… masalah politik dan diplomasi antar Negara ini, kenapa ayahnya menceritakan hal ini kepadanya? Tidak mungkin ia lupa kalau ia telah mencopot Siwon dari jabatannya sebagai ketua kesatria kerajaan. Kenapa tidak membahasnya dengan Seunghyun? Apa jangan-jangan Seunghyun sudah tahu lebih dulu, barulah sang ayah memanggilnya? Membayangkannya membuat Siwon sedikit kecewa.

Tapi sudah sewajarnya begitu, kan?

“Bagaimana menurutmu, Siwon-ah?” Raja mengakhiri penjelasan panjangnya dengan pertanyaan itu.

Siwon menoleh. “Aku curiga ada sesuatu antara Radourland dan Graentland. Namun melihat hubungan mereka yang sangat baik selama ratusan tahun, ini memang tidak masuk akal tapi bukan berarti mustahil terjadi.”

Siwon diam, memperhatikan perubahan raut wajah sang raja, namun tidak ada sehingga ia melanjutkan penyampaiannya. “Tidak ada tanda-tanda bahwa hubungan diplomasi anatara Graentland dan Radourland memburuk. Bahkan kita tahu bahwa putera mereka sempat melarikan diri ke sana saat Su—maksudku, beberapa saat yang lalu.” Ia hampir saja membahas masalah Sungmin di hadapan Yunho, namun cukup cepat mengubah penjelasannya. Bukannya ia takut, namun saat ada angin baik seperti ini dari sang ayah, akan lebih bijak jika ia tidak membuatnya kesal dengan membahas adik bungsunya itu. Sudah cukup ia menyebutkan namanya sekali secara tidak sengaja tadi.

“Yang membuatku curiga… dari panjangnya daerah perbatasan antar negeri mereka, kenapa pemberontakan itu harus muncul di Brother’s Bridge? Selat itu terlalu mencolok. Seolah mereka sedang menabuh genderang perang antara keduanya, kan? Terlepas soal siapa dalang di balik pemberontakan itu… Jika mereka benar-benar berperang, kupikir… Hal itu tetap akan memberikan dampak negatif kepada negeri kita secara tidak langsung.” Yunho bersandar santai ke kursinya dan menegak anggurnya lagi.

Siwon menunggu sang raja mengatakan sesuatu. Entah kenapa ia merasa sedikit gugup, namun penuh harap.

“Aku ingin kau membentuk tim khusus untuk memantau hal ini. Pilihlah pajurit kerajaan sebanyak yang kau mau dan awasi perkembangan antara kedua negeri itu.”

Mata abu Siwon mendelik saat mendengarnya. Ia tidak percaya bahwa akhirnya ayahnya kembali mempercayakan suatu misi kepadanya.

“Be-berarti… aku sudah bisa berpergian meninggalkan negeri?”

Yunho mengangguk pelan. “Tapi dengan satu syarat.”

Putera mahkota itu mengerutkan alisnya, menerka-nerka apakah syarat ini ada hubungannya dengan Sungmin atau sesuatu yang lebih berat baginya. Namun imajinasinya tidak sama dengan kenyataan yang diucapkan oleh sang ayah.

“Changmin. Adikmu itu…” Yunho menghela napas, benar-benar tidak seperti dirinya yang biasa. Siwon cukup lega karena ternyata ia cukup cemas akan keadaan anak itu. Ia mengira hati sang ayah sudah benar-benar membatu bahkan terhadap anaknya.

“Lakukan sesuatu. Aku tidak mau dia mati sia-sia karena rasa bersalahnya yang bodoh itu.”

Lalu bagaimana dengan Zhou Mi? Apakah ayah juga menyesali kematiannya? Ia tampak sama tidak pedulinya saat berita kematian anaknya itu diutarakan oleh Seunghyun.

“Aku ingin dia kembali menghadiri pertemuan-pertemuan kerajaan. Siwon. Kau tidak boleh meninggalkan istana sebelum dia menerima kematian Zhou Mi dan berhenti bersedu sedan. Kau mengerti?” Tatapan Yunho dingin. Ada beban tak terlihat yang memberatkan punggung Siwon tiba-tiba. Ia menjilat bibirnya yang kering dan kemudian mengangguk pelan.

“Akan kuusahakan, Ayahanda…”

.

.

.

.

.

Sejak obrolan terakhir mereka, Siwon belum menjumpai Changmin hingga Yunho membebani tanggung jawab terhadap anak itu kepadanya. Beberapa pelayan kerap melaporkan padanya, pemuda itu terus menggunakan kamar Zhou Mi. Ia tidak membawa barang apapun, seakan tidak ingin merusak keadaan kamar Zhou Mi sebelum ditinggalkan oleh pemiliknya. Changmin hanya tidur disana, menghabiskan waktu disana, dan mulai mengasingkan diri dari orang-orang. Hal itu mengkhawatirkan Siwon, tentu saja. Terlepas dari tugas yg diembannya dari sang ayah. Bagaimanapun ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, kehilangan satu adik lainnya karena kelalaiannya.

Siwon menggedor pintu besar di hadapannya.Sepasang pintu es yang dibuat sendiri oleh Zhou Mi. Tidak ada besi pengetuk, atau pahatan bunga-bunga es yang biasa menghiasi pintu kamar di istana mereka. Hanya garis yang membelah diantara kedua pintunya, dan terkadang tidak tampak sama sekali. Mata yang tidak awas hanya akan mengira pintu itu sebagai dinding, sama seperti yang diinginkan Zhou Mi.

Zhou Mi punya dua kamar lainnya. Satu tempatnya bekerja, dan satu sebuah kamar normal yang berada dekat dari kamar-kamar seluruh saudaranya. Tapi ia tahu Zhou Mi lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar yang satu ini, jauh dari semua orang.

Sekarang, Changmin menggunakan kamar itu. Siwon tidak ingin adiknya terlalu larut dalam rasa bersalahnya dan mulai menjauh dari seluruh saudaranya.

“Max, kau di dalam?” suaranya bergema di lorong sepi. Tidak ada jawaban.

“Max?” Siwon memanggil dan menggedor lagi.

Pria itu hampir menyerah dan membalikkan badan, namun suara derit pintu menghentikannya.Pintu es itu terbuka.Sediki, tapi cukup untuknya mengintip ke dalam dan menyelinap masuk. Saat melangkah masuk, nuansa warna di sekelilingnya berubah drastis.Siwon menapak hati-hati di atas karpet merah gelap. Suasana remang membuat matanya menyipit

Changmin duduk di atas tempat tidur Zhou Mi, tersenyum hambar padanya. “Hyung.Maaf, aku tidak mendengarmu tadi. Aku baru akan tidur.”

Siwon membalas senyum Changmin, tapi hatinya sedikit getir melihat penampilan pemuda itu. Dalam balutan katun sederhana berwarna putih, Siwon terpikir betapa muda usia adiknya saat ini. Berapa usianya? 60? 70? Changmin bahkan belum menyentuh usia dewasa seorang Alpha. Hidupnya masih panjang.

“Apa yang kau lakukan disini, Max?” Siwon melirik meja Zhou Mi. Memastikan tidak ada sesuatu disana sebelum ia duduk dan kembali menatap adiknya.

“…aku tidak mau lupa, hyung…” Changmin menatap lantai.Ekspresinya mengeruh. “…berada di sini membuatku tenang, tapi juga menderita di saat yang bersamaan…”

Siwon menghela napas. “Kau masih merasa bersalah? Sudah kubilang, itu bukan—”

“Seratus orang boleh bersumpah dan mengatakan apa yang menimpa Zhou Mi-hyung bukan salahku, aku tetap tidak akan percaya, hyung.” Snowelf berambut merah itu segera menyela, setengah sengit ia memandang kakaknya.

Siwon menatapnya pahit. Matanya sedikit memerah. “…itu salahku, Max… Aku tidak di sana saat kalian membutuhkanku.”

Changmin mendengus dan berpaling. “Hyung. Tidak mungkin kami terus-menerus bergantung kepadamu!”

Ia mendengus lagi lalu menundukkan wajahnya ke telapak tangannya yang bertumpu di atas lututnya. Siwon hanya memandanginya dengan rasa bersalah. Terlebih karena syarat yang diberikan Yunho, ia merasa seolah ia mengkhawatirkan Changmin karena ada maksud di belakangnya.

Mereka terdiam selama beberapa saat. Sebelum Siwon sempat mengucapkan sesuatu, Changmin merogoh sesuatu dari sakunya, mengeluarkan botol kecil berisi tablet dan menunjukkannya kepada Siwon. “Aku menemukannya di kamar ini…”

Siwon tertegun sebentar. Bola matanya bergerak, menatap botol itu, lalu kembali menatap Changmin. Seperti yang dikhawatirkannya, Changmin akan menemukannya.

“Itu hanya obat penenang.” Ucapnya pelan.

“Dosis tinggi. Aku sudah tanyakan pada Maester Wujin. Dan aku menemukan lebih dari sepuluh botol, hyung. Bahkan ada beberapa yang berupa cairan.”

Obat dalam bentuk cairan bekerja jauh lebih cepat daripada tablet. Changmin menatap Siwon dengan penuh rasa penasaran.

“Kau tahu soal ini, hyung? Kenapa dia menyimpan benda ini?”

Awalnya Siwon ingin berdalih, namun ia merasa walaupun Changmin tahu, tidak apa. Karena Zhou Mi sudah tidak di sini lagi. Ia mengangkat alis matanya dan menghela napas.

“Ya… Dia sering menggunakan itu sejak masih remaja.”

Alis Changmin bertaut. “Untuk apa?”

Lagi, Siwon merasa berat untuk menceritakannya. Ia tahu Changmin mengangumi Zhou Mi, dan ia tidak ingin memperkeruh suasana hati adiknya yang masih berkabung. Tapi Changmin juga berhak untuk tahu. Lagipula Zhou Mi pun sudah tiada, meski Changmin tidak perlu mengetahuinya. Dan dari sorot mata yang dilontarkan adiknya, Siwon sadar ia tidak bisa mengelak. Changmin akan menyadarinya jika ia berdusta.

“Zhou Mi… sering kesulitan mengendalikan emosinya.” Jawabnya sedikit enggan.

Changmin mendengus, ekspresinya berubah seakan baru saja mendengar hal terkonyol.

“Aku tahu, ini sulit dipercaya.Kau bahkan belum lahir saat itu. Zhou Mi pernah hampir membunuh seorang Alpha di masa akademi dulu, usianya bahkan belum dua puluh. Alpha itu menyulut emosinya, dan hampir mati dibunuh Zhou Mi dengan tangan kosong. Appa tidak ingin membicarakannya. Jadi tidak ada yang bercerita.”

“Kenapa—bagaimana mungkin?” Changmin terperangah.Tidak percaya. Zhou Mi yang dikenalnya… Tidak. Mungkin Zhou Mi mampu melakukannya, tapi karakternya, sifatnya yang bijak dan jarang bersuara itu?

“Orang-orang tidak menyukainya, Max. Apa yang terjadi saat seorang Beta mengikuti kelas khusus Alpha dan memulai akademi lima tahun lebih cepat dari Alpha pada umumnya? Orang-orang akan membencinya dan berusaha mengucilkannya.” Siwon menatap adiknya, merasa getir untuk menceritakannya. “Sejak insiden itu, aku tahu dia menggunakan obat ini agar tidak mudah tersulut emosi. Tapi… kukira ia sudah berhenti.”

Changmin mendengus. Bagaimana mungkin mereka tidak tahu soal ini sama sekali? Ia menggenggam botol itu kuat-kuat di tangannya. “Apa kita orang asing satu sama lain, hyung? Aku tidak tahu banyak hal soal Zhou Mi-hyung, soal dirimu, soal Seunghyun, Hae, atau Jiyong.”Ujarnya pahit. “Padahal kita bersaudara.”

Siwon tak mampu menyangkal hal itu. “Ini salahku. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga tidak punya waktu untuk memperhatikan adik-adikku sendiri…”

“Sama saja, hyung.Kita semua begitu.” Snowelf berambut merah itu menggeleng. “Kau ingat kita tidak pernah bercanda satu sama lain hingga Sungmin lahir? Berkat dia kita berkomunikasi sedikit lebih banyak dari yang biasanya.” Changmin terkekeh sedih, teringat adik tirinya di seberang negri.

Mendengar nama Sungmin membuat Siwon merasa lebih buruk daripada sebelumnya.

Changmin masih terlihat muram. Dengan cambangnya yang berantakan dan raut sedihnya, ia terlihat lebih tua daripada Siwon.

“Hyung… Menurutmu… Zhou Mi-hyung sedang apa di sana?”

Putera mahkota itu menyimak adiknya, tahu Changmin belum menyelesaikan pertanyaannya.

“Apa dia… masih bisa bertahan? Kenapa mereka tak kunjung datang untuk meminta tebusan nyawa Zhou Mi-hyung?” Changmin meringis membayangkannya. “A-aku khawatir mereka tidak berniat memulangkan dia…”

Siwon menahan napasnya, tidak sanggup menjawab.Untuk pertama kalinya sejak berpuluh-puluh tahun, ia kembali melihat Changmin di hadapannya seperti sosok anak kecil, adik kecilnya. Selama ini Max selalu kuat, satu yang paling sering tertawa dari seluruh saudaranya. Siwon tidak pernah merasa harus menghawatirkannya. Tapi kini, Siwon sadar ia tidak bisa melepas perhatiannya dari Changmin.

Changmin masih berharap—tidak, Changmin masih menganggap Zhou Mi masih hidup.

Siwon sangat bingung. Ia merasa iba pada adiknya. Namun jika Changmin benar, betapa malangnya Zhou Mi berada di tangan monster-monster keparat Svarturland.Saat Siwon memikirkannya lagi, ia tidak ingin harapan Changmin menjadi nyata. Ia lebih memilih Zhou Mi gugur di medan perang. Atau dimanapun. Asal tidak hidup di tanah hitam.

Changmin menatap Siwon, seolah berharap kalau saudaranya itu akan mengeluarkan kata-kata yang dapat menghiburnya, atau membantah perkataannya sebelumnya. Siwon merasakan beban tak terlihat, lidahnya kelu. “Max…”

“…kau masih ingat rencana kita?”

Changmin mengangguk pelan.

“Kalau semua orang melihatmu tetap datang ke ruangan ini, rencana kita untuk mendapatkan kepercayaan Ayahanda akan gagal, Max.” Changmin mendongak cepat.

“Berhenti datang ke tempat ini.” ujar putera mahkota itu tegas, sekaligus mengalihkan pembicaraan dari pertanyaan tadi.

“HYUNG!” Changmin sontak berdiri, tidak terima.

“Max! Kau mau mengulur waktu lebih lama?” Siwon ikut berdiri, menatap gigih Snowelf yang lebih muda itu. “Kaulah yang membuang-buang waktu dengan tenggelam dalam rasa bersalahmu seperti ini! Semakin lama kau mendapatkan kepercayaan Ayahanda kembali, semakin kecil harapan Zhou Mi bertahan hidup di tempat terkutuk itu!”

Snowelf berambut merah itu menggertakkan giginya marah. Namun ia sadar ucapan Siwon memang benar.

“Kau harus tampak kuat, jangan berduka dengan terang-terangan. Kalau kau tidak bisa, lakukanlah di dalam hati agar tidak ada yang melihatmu lemah seperti saat ini!” Snowelf berambut abu-abu itu berbalik, tidak ingin Changmin menyadari arti ekspresi wajahnya. Ia tidak ingin Changmin terus-terusan memikirkan Zhou Mi. Biar bagaimanapun Zhou Mi tidak akan pernah kembali.

Ia berhenti sebentar di balik pintu, “Bersihkan wajahmu. Aku ingin kau hadir besok pagi di ruang pertemuan kerajaan, Max. Jangan menghilang, jangan sembunyi. Datang dan tunjukkan pada Ayahanda bahwa kau bisa dipercaya.” Setelah mengatakannya, Siwon beranjak meninggalkan adiknya sendiri.

Changmin masih berdiri dengan raut kaku, tangannya terkepal. Ia menatapi pintu hingga Siwon menghilang.

.

.

.

.

.

“Tabib menyarankan untuk membekap mulutmu. Takut kau menggigit lidahmu, katanya.”

Zhou Mi berusaha mengabaikan pria itu. Daniel duduk di sebelah ranjangnya. Pria itu bahkan menyediakan kursi khusus untuk dirinya sendiri. Kursinya untuk menjenguk Zhou Mi, sebutnya. Kursi yang digunakannya untuk duduk sembari mengejeknya, memanggilnya tuan Putri, sementara Zhou Mi duduk di atas ranjangnya dengan rantai menggelung pergelangan kaki kirinya. Untuk apa mereka merantainya? Zhou Mi sempat bertanya-tanya. Ia bahkan tidak punya cukup tenaga untuk menapak lantai tanpa bantuan. Pemuda itu melirik kakinya, darah kering menembus balutan perban dan bercak memar masih tampak disana-sini. Pelayan menyiapkan gelang rantai yang cukup luas untuk tidak menekan luka di kaki Zhou Mi, tapi terlalu sempit untuk dilepaskannya melewati kaki. Zhou Mi menyadari panjang rantai itu menjuntai hingga ke lantai, ia menyadarinya sejak lama. Daniel yang meminta rantai sepanjang itu, agar ia bebas bergerak mengelilingi kamarnya sendiri. Tapi tidak cukup untuknya melewati jendela atau pintu.

Bisakah ia mencekik dirinya sendiri menggunakan rantai itu? Talinya cukup panjang dan kokoh.

“Kau tidak bisa bunuh diri menggunakan rantai itu, Tuan Putri.” Daniel menebak sikap diam Zhou Mi dengan tepat. “Paling tidak kau akan meninggalkan memar buruk rupa di leher cantikmu sebelum pelayan menyadari niatmu. Jangan, saranku.”

Entah sejak kapan juga pria itu sudah mengenggam belati mungil dan menguliti sebulir buah persik. Mereka hanya berdua disana. Zhou Mi tidak mengangkat kepalanya, ia hanya melirik sebentar, bahkan tidak ke arah wajah Daniel. Kepalanya gemetar tiap kali ia berusaha menguatkan diri untuk membalas tatapan Daniel. Tapi niat tinggal niat, ia hanya mampu menatap hingga ke dada kekar Daniel yang telanjang. Kulit abu-abu pria itu tampak menjijikan.

“Kau menginginkan pisau ini?” Daniel bertanya sembari mengunyah potongan persiknya. “Untuk memotong lidahmu, hm? Menggorok lehermu sendiri? Atau mengiris nadimu? Cara cantik yang klasik. Tapi jangan, sayangku. Aku suka kau utuh, dan cantik.”

Zhou Mi membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia juga tidak berniat menatap Daniel. Melihat ujung lututnya saja membuatnya kembali teringat pada malam itu. Dada Zhou Mi bergemuruh.

“Tapi memotong lidah, demi Dewa. Tabib Graentland itu sering bertingkah konyol.” Daniel tertawa. “Aku percaya kau tidak akan melakukannya, tuan putri. Aku tahu. Kau menikmatinya, eh? Menjawab semua ucapanku, mengingkarinya, berharap aku tersulut dengan pancinganmu?”

Kali ini Zhou Mi yang tidak tersulut. Ia memalingkan wajahnya dan menatap jendela. Tapi ia bisa merasakan ranjangnya bergerak, Daniel berpindah tempat dan duduk disisinya.

Pemuda itu meremas sepreinya erat-erat. Ia tidak bisa mengangkat tangannya, bahunya masih terluka. Tapi kalau perlu, ia akan membenturkan kepalanya pada Daniel. Meski hal itu tidak akan membunuh Svarturman ini, setidaknya hal ini mungkin akan membunuh dirinya sendiri.

“Tatap aku, Tuan Putri.” Suara Daniel berubah datar. Ia memaksa Zhou Mi berpaling padanya, digenggamnya dagu Zhou Mi dengan pisau di pipi. Baja dingin itu menempel erat di wajah Zhou Mi.

“Kalaupun kau melakukannya, aku bisa menyuruh tabib menyembuhkannya. Dan kalau lidah cantikmu tidak tumbuh lagi, itu hukuman untukmu. Kau tidak akan bisa menjawabku lagi. Kau harus mendengarkanku mengoceh hingga sisa akhir hidup kita. Dan bayangkan, anak-anak kita tidak bisa mendengar suara ibunya. Kau tidak merasa iba?”

Bolamata Zhou Mi sempat gemetar sesaat. Teringat laki-laki ini sudah memperkosanya tiga hari lalu dan menandai tubuhnya seperti binatang. Zhou Mi meludahi wajah Daniel. Lebih refleks daripada sengaja. Tapi ia senang bisa melakukannya.

“Dan beruntung aku masih bisa melakukan ini.” Geramnya gemetaran.

Daniel terkekeh dengan mata tertutup. Ludah Snowelf itu melintasi alisnya, turun melewati mata, dan mengalir di sisi bibirnya. Dengan sengaja ia menjilatnya.

“Menjijikan. Dasar binatang.”

Daniel menyeringai, dilepasnya wajah Zhou Mi.

“Senang bisa membuatmu merasa begitu.”

Beruntung Daniel memutuskan untuk menusuk kedua bahunya malam itu, sehingga tidak ada yang diingatnya selain rasa sakit. Tapi saat pagi datang, Zhou Mi bisa merasakan sisa-sisa benda memasuki organ betanya. Ia tidak punya cukup sihir untuk membantunya mengingkari itu. Setiap kali mengingatnya selalu membuat Zhou Mi gemetaran dan menatap nanar ke sekeliling kamar, berusaha mencari cara untuk mencabut nyawanya sendiri. Ucapan Daniel kini terbayang di benaknya. Apa menggigit lidah bisa membunuhnya? Tidak, Daniel benar. Saat ketahuan, tabib akan menyembuhkannya dengan cepat.

“Lihat tanda cantik di lehermu. Ayolah, lirik sedikit.” Daniel mengusap tanda ungu di leher Zhou Mi, sedikit mendekati bahu. Zhou Mi berjengit dan menampik tangan Daniel, ia melakukannya susah payah mengingat luka di bahunya masih basah. Pemuda itu langsung gemetaran setelah ia mengangkat tangannya, ia bisa merasakan darah melelehi bahu dan turun melintasi ketiaknya.

“Tsk. Lihat? Kau membuka lukamu lagi.” Daniel berdecak.

Dan Zhou Mi sudah melihatnya sejak pagi pertama ia bangun. Setelah malam itu. Daniel meningalkan bekas yang tidak biasa. Zhou Mi merasa otot-otot di perutnya melorot hingga ke kemaluannya saat ia pertama kali melihat tanda itu. Hari ini warnanya masih sangat gelap mengingat Daniel meninggalkannya tiga hari lalu. Dan itu bukan tanda mate. Binatang Svarturland tidak punya ikatan mate. Daniel menandainya seperti binatang, seperti anjing jantan menandai betinanya. Hanya untuk menunjukkan tanda kepemilikan, menunjukan Zhou Mi sebagai budak seksnya sementara pria itu bebas mengibas penisnya seantero istana.

Daniel menatap tanda itu dengan bangga, baginya ia meninggalkan memar sempurna di leher snowelf itu. Bentuknya saat diperhatikan lebih lama, seperti sayap mungil yang dikibas. Luas, megah, dan tegas.

“Kau masih malu mengingat malam itu? Kau bahkan belum merasakan nikmatnya, Tuan Putri. Aku janji setelah ini kau akan menikmatinya.”

“Terkutuklah Dewamu.” Zhou Mi mengumpat, tapi ucapannya hanya membuat Daniel tertawa sembari mengulang ‘Apa kataku?’

Tangannya gemetaran, sepenuh hati ingin membalas seluruh ucapan dan perlakuan Daniel, namun juga tidak tahu bagaimana caranya.

“Oh, ya. Kau tidak merindukan teman baikmu?”

Tidak lagi. Zhou Mi tidak suka saat Daniel berusaha memancingnya menggunakan Nichkhun. Ia tidak suka apapun yang dilakukan pria itu. Ia hanya berharap Daniel segera bosan atau seorang pelayan membawa pesan dari Raja yang menginginkan kehadiran Daniel.

“Kau ingin berbincang dengannya? Waktu itu pertemuan kalian terlalu singkat, kau butuh wejangannya. Kau mengerti? Dia punya pengalaman bermanfaat untukmu.”

Zhou Mi bisa merasakan lirikan Daniel diarahkan ke bawah dadanya, ke perutnya.

Tidak.

Ia harus mati sebelum hal itu terjadi. Bagaimanapun caranya. Ia harus segera menemukan cara untuk mencabut nyawanya sendiri. Semakin lama ia berada di tempat ini semakin besar kemungkinan itu terjadi.

“Aku harus rapat dengan raja dan para menteri, mungkin dia bisa menemanimu agar kau tidak kesepian, hm?” Daniel segera meralat, “Ah, tidak. Kau yang akan menghampirinya karena pelacur Taecyeon tidak bisa kemana-mana. Dia punya bayi yang harus disusui.”

Zhou Mi tahu ia tidak akan bisa menolak. Tidak, ia bisa menolak. Tapi Daniel tetap akan membawanya menemui Nichkhun. Pelayan sudah datang untuk membukakan kekang di pergelangan kakinya.

“Jangan bergerak, Tuan Putri.” Daniel mengancam saat Zhou Mi bermaksud melawan. “Aku bersumpah akan mencabulimu di lorong menara kalau kau menggigit telingaku lagi.” Daniel berkata saat membopongnya. Tangan pemuda itu gemetaran. Ia merasa malu pada dirinya sendiri, jantungnya bergegup terlalu kencang. Daniel pasti merasakannya juga, dada mereka menempel terlalu dekat.

“Aku memberimu kesempatan mengobrol dengan bangsamu, kau pasti muak bertemu dengan orcs dan troll setiap hari.”

Tidak terasa mereka sudah sampai di depan sebuah pintu kayu bergagang kembar. Zhou Mi tahu ruangan ini. Daniel pernah membawanya kemari, saat itu ia tidak begitu cerdik dalam mengendalikan emosi dan berakhir meneriaki Nichkhun. Menyuruhnya untuk mati. Saat mengingatnya lagi, Zhou Mi merasa malu pada dirinya sendiri. Bukan perintahnya agar Nichkhun mencabut nyawanya sendiri, tapi caranya berseru histeris dan menghentak di dalam rengkuhan Daniel—

Ia bisa melakukannya lebih baik lagi.

Mereka tidak punya pilihan lain selain mati. Baik dirinya atau Nichkhun.

“Z-Zhou Mi.”

Zhou Mi sama terkejutnya seperti pemuda yang duduk diatas ranjang itu, dengan seorang Svarturman mengulum bibirnya dan bayi bergelayut di dadanya. Zhou Mi tidak tahu jika ia bisa merasa lebih jijik dari ini.

Hyung!” Taecyeon melepas bibir Nichkhun dan segera bangun, jelas tidak senang aktivitasnya disela. Nichkhun buru-buru memalingkan wajah, mengelap bibirnya yang basah sembari tetap merengkuh bayinya yang menyesap rakus dadanya.

“Kau sudah dicari Raja, cepatlah hampiri dia.” Daniel menurunkan Zhou Mi. Pemuda itu bersikeras berdiri sendiri, tapi Daniel lebih memaksa lagi untuk memeganginya dan membuatnya tampak lemah.

“Raja juga menginginkanmu, hyung.”

“Aku akan menyusul sebentar lagi.” Daniel ingin tetap disana sebelum ia meninggalkan Zhou Mi berdua dengan pelacur adiknya. Mungkin ia bisa dapat kesempatan melihat sedikit drama.

“Kau tidak apa-apa disini sendiri?” Taecyeon membungkuk, tidak rela meninggalkan Nichkhun. Ia mengusap pipi Snowelf cantik itu dan mengecup sebelah matanya. Nichkhun tersenyum manis padanya dan menggeleng lembut.

“Ada banyak pelayan, pergilah.”

Zhou Mi mendengus, cukup keras hingga membuat Daniel tertawa dan Taecyeon melirik benci padanya.

“Kalau snowelf-mu macam-macam pada Nichkhun-ku lagi— aku bersumpah akan memperkosanya, hyung.”

“Kau hanya perlu minta izin untuk melakukannya, adik.” Daniel terkekeh. “Dia milik kita bersama. Tapi jangan pelit saat aku ingin pinjam Nichkhun-mu di ranjangku, nde?”

“Nichkhun milikku!” Taecyeon berseru geram. Pria itu hampir melampiaskan amarahnya dengan melempar meja di sisinya. Tingkah dan amarahnya persis anak-anak, dan Nichkhun sudah mengenalnya seperti ia mengenal telapak tangannya sendiri. Ia meremas jemari besar pria itu dan tersenyum begitu lembut.

“Pergilah, Taecyeon-ah. Sebelum Raja mengirim utusan lain.”

Amarah Taecyeon mereda dengan segera, ekspresinya berubah begitu cepat saat ia berpaling menatap Nichkhun.

“Aku akan segera kembali, Khun-ah.” Pamitnya sembari mengecup bibir Nichkhun. Ia berdiri, tapi wajahnya berubah sendu, jadi ia membungkuk dan mengecup bibir Nichkhun lagi. Setelah mengulanginya tiga kali dan sadar kakaknya menonton dengan seringai, Taecyeon mau tidak mau berbalik dan melangkah gagah keluar pintu.

“Kau mengendalikan adikku dengan baik. Raja tidak akan suka mendengarnya. Seingatku Raja pernah meminta kepalamu satu kali.”

“Adikmu idiot? Membiarkan seorang Snowelf mengendalikannya. Dia pasti idiot.” Zhou Mi menyela. Nichkhun memandangi keduanya, sejak awal tidak berniat meladeni Daniel tapi ia cukup terkejut mendengar Zhou Mi merespon pria itu.

“Dia masih anak-anak. Remaja? Aku lupa usianya. Mungkin sama mudanya dengan satu adikmu yang omega.

Zhou Mi tercekat. Ia membuka mulutnya, dadanya naik saat ia berusaha membalas. Tapi apa? Apa yang harus dijawabnya?

“Kau punya dua adik omega, satu sudah diboyong ke Radourland. Lalu ada seorang beta lainnya. Aku ingat mata-mataku mengatakan mereka begitu cantik. Sayang sekali Raja mengurung mereka di balik istana. Tapi tidak denganmu, hm? Dia membiarkan beta tertuanya berkeliaran di medan perang. Raja tidak beruntung kalau begitu—”

Nichkhun tidak tahan mendengarkannya, ia juga tidak tahan melihat ekspresi Zhou Mi.

“Pelayan—“ panggilnya cepat, memotong ucapan Daniel. Dua orang orcs betina memenuhi panggilannya dan masuk ke ruangannya.

“Bawa dia ke kamarnya.” Nichkhun baru akan mengoper bayinya ke dalam gendongan salah seorang pelayan, saat Daniel menyela sembari menautkan alisnya.

“Dia butuh makan, kau setega itu pada bayimu?”

Nichkhun masih memegangi bayinya, dan pelayan itu juga sudah bersiap mengangkat tubuh bayi yang tertidur itu menggantikannya. Tapi karena Daniel yang menyela, kedua pelayan itu tidak berani melanjutkan niat mereka.

“Dia sudah tidur.“ Nichkhun berusaha memberi alasan. “Dan dia punya kamar sendiri—“

“Monster kecil itu akan kelaparan lagi. Sama seperti ayahnya. Taecyeon selalu begitu saat dia masih bayi. Dia punya lima ibu susu setelah Snowelf yang melahirkannya mati.” Pria itu menyeringai. “Saat kau melahirkan keponakanku, aku sempat bertaruh dengan Raja soal itu, aku yang menang.”

Oh, betapa pria itu menikmatinya. Setelah membuat Zhou Mi tercekat tidak mampu menjawab ucapannya, kini ia dapat kesempatan untuk membuat Snowelf Taecyeon bungkam. Snowelf itu membuka dan mengatup mulutnya kebingungan.

“Kudengar dari Taecyeon kau sangat menyayangi bayi itu— sampai-sampai tidak ada pelayan bisa menyentuhnya saat Taecyeon bermaksud mencabulimu. Kenapa bermaksud menyingkirkannya sekarang? Kau punya waktu lebih banyak untuk bercengkrama dengannya saat tidak ada Taecyeon disini.”

Nichkhun menganga, tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya Snowelf itu mendorong pelayan di sisinya.

“Pergi. Aku yang menjaganya.” Ucapnya pelan. Jawabannya membuat Daniel tersenyum puas.

“Jangan anggap serius ucapan adikku, Princess. Kau hanya milikku.” Daniel berbisik seduktif, napas panasnya berhembus di tengkuk Zhou Mi.

Zhou Mi berniat untuk tetap diam dan tidak bergerak, tapi pria itu mengecup lehernya di hadapan Nichkhun.

“Kau boleh punya mayatku.” Zhou Mi menampik tangan Daniel, bahunya sontak berkedut saat ia melakukannya. Ia yakin sekali darah kembali merembesi tangannya, ia bisa merasakannya dan Nichkhun terbelalak menatap ke arah bahunya.

Tapi ia masih ingin meludahi wajah itu lagi.

“Aku masih ingin bertengkar denganmu tapi Raja sudah menungguku.” Daniel sedikit memaksa mengecup kening Zhou Mi, lalu buru-buru mundur sebelum pangeran itu mengamuk. “Jangan bunuh siapapun, Princess. Tidak temanmu, atau bayinya.” Pesannya sembari tertawa, lalu pria itu menghilang di balik pintu, meninggalkan Zhou Mi yang bernapas tersengal. Bertarung dengan nyeri di bahunya dan rasa geramnya sendiri.

“Kau bisa melawannya. Dia lebih dewasa dari Taecyeon. Saat aku menolak Taecyeon dulu, dia merusak tiga tulang rusukku.”

Zhou Mi berpaling pada Nichkhun dan berdecih.

“Aku menolaknya dan aku mendapatkan dua bilah pisau menembus bahuku. Oh, aku hampir lupa dia meretakkan sebelah pergelangan kakiku dan memanah kedua tanganku dari jauh. Dan monstermu merusak tiga tulang rusukmu? Berusahalah lebih keras.”

“Jadi dia belum menandaimu? Dia belum melakukan apapun padamu?” Nichkhun bertanya, setengah berharap.

Zhou Mi tidak menjawabnya, tapi pemuda itu berdiri dengan gemetaran, Nichkhun melihatnya.

“Duduklah di ranjangku, Mi.”

“Kau memberi makan binatang itu.” Itu bukan pertanyaan, tapi sebuah pernyataan. Dan ia menolak tawaran Nichkhun. Jika ia berada lebih dekat lagi dari monster kecil itu, Zhou Mi mungkin akan mencekiknya. Zhou Mi bahkan tidak sanggup memandang bayi itu lebih lama, makhluk kecil itu berkulit gelap, ia bisa melihat sepasang kecil tanduk tumpul mulai tumbuh di atas kepalanya.

“Kau seharusnya membunuhnya, selagi ada kesempatan.”

“Kau harus hati-hati dengan ucapanmu, Mi. Kau bisa dibunuh jika Taecyeon mendengarmu.”

“Siapa dia? Nama monster yang menjadikanmu pelacur disini? Baguslah, aku tidak perlu memelas untuk dibunuh lagi. Akan kuulangi saat dia datang nanti.”

Zhou Mi merasa begitu marah. Ia tahu sebagian besar karena Daniel, tapi Nichkhun ada disini membuatnya ingin melampiaskan semua amarahnya pada pemuda ini.

Nichkhun ingin sekali menjelaskan, bercerita dengan detail, sejak awal ia berada di sini dan semua rencana-rencananya. Tapi Zhou Mi tidak akan mengerti, tidak dengan sikap seperti itu.

“Kau tidak meminta penjelasan kenapa aku tetap bertahan disini? Kau tidak ingin bertanya?” Nichkhun memulai dengan suara lelah.

“Tidak. Aku yakin setengah kepalamu sudah digerogoti kebiasaan monster-monster itu. Kau melakukan apapun demi bertahan hidup. Kau kehilangan harga dirimu, dan mati adalah pilihan terbaik dan terhormat, sebelum Hviturland mengetahui keadaanmu.”

“Aku tak ingat kau pernah sepahit ini. Zhou Mi-ku selalu tenang, dan menimbang semuanya dengan bijak.”

“Aku juga tak ingat kau pernah semenjijikan ini. Melahirkan dan menyusui monster itu demi tetap hidup disini. Aku sudah menimbang dengan bijak. Kita tidak punya pilihan kecuali mati dengan terhormat. Disini, selagi orang-orang berpikir kita mati di medan perang.”

Nichkhun membuka mulutnya, tapi ia mengatupnya lagi. Pemuda itu memandang sahabatnya sedih. Zhou Mi tidak mengerti.

“Kau pernah mengecek setinggi apa kamar ini? Daniel tidak pernah membiarkanku terlalu dekat dari jendela.” Zhou Mi berbalik, melangkah dengan terpincang dan lemah menuju jendela. Ia melirik keluar dan mendengus kecewa. Kamar ini hanya setinggi dua lantai. Lompat dari sini tidak akan membunuhnya. Dan ia bertukar pandang dengan dua orang penjaga di bawah sana.

Zhou Mi beringsut mendekat dan duduk di sebelah Nickhun, sebelah kakinya masih sakit sekali. Tapi pemuda itu mengabaikannya. Disini selagi Daniel berada jauh, hanya ada dirinya dan Nickhun, ia harus menemukan cara untuk mati. Sekarang di tempat ini.

“Bunuh dia sekarang. Aku akan membantu. Kalau benar mereka akan membunuh kita jika kita membunuh monster kecil ini… kesempatan baik kalau begitu—”

Nichkhun memandanginya lama. Zhou Mi sempat berharap sahabatnya mulai termakan ucapannya. Tapi lalu pemuda itu menautkan alis dan menjauhkan bayinya dari jangkauan Zhou Mi.

“Tapi tidak bisa sekarang. Dia tiketku untuk tetap hidup di tempat ini.”

“Kau tidak mendengarkanku?” Zhou Mi geram. “Kalau kubunuh dia, apa Svarturman itu akan membunuh kita berdua? Kalau ya, biar kulakukan sekarang.” Zhou Mi sudah merangkak, berusaha merebut bayi itu dari Nichkhun.

“M-Mi—“ Nichkhun mulai panik, ia melindungi bayinya dengan sebelah tangan, sementara tangan kanannya menahan Zhou Mi. Bagaimanapun keadaan fisiknya jauh lebih baik daripada Zhou Mi. Pemuda itu melirik, ke arah bahu Zhou Mi yang basah dan merah. Menimbang untuk meremas luka itu agar Zhou Mi menjauh. Ia juga bisa mendorong pemuda itu hingga terjungkal dari ranjangnya. Dua tangan dan kaki Zhou Mi terluka, terlalu mudah bagi Nichkhun untuk menambah luka di tubuh sahabatnya. Tapi tidak, ia tidak sanggup melukai Zhou Mi.

“Pelayan!” serunya. Dua orcs dan seekor troll masuk tergopoh-gopoh ke dalam kamarnya. Melihat posisi canggung antara Nichkhun dan Zhou Mi, pelayan-pelayan itu bergegas memisahkan mereka.

“Tolong jaga Snowelf Jendral berada di luar ranjangku.”

Zhou Mi meradang mendengarnya.

“Jangan sentuh aku! Aku bisa mematahkan lehermu dengan tangan kosong.”

Pelayan itu terpaksa melepaskan Zhou Mi, tapi berada dekat dan berjaga-jaga jika Zhou Mi memutuskan untuk menyerang majikan mereka.

“Kau pikir Hviturland akan tetap menerimamu setelah semua yang kau lakukan disini? Kau mempermalukan darah dan bangsa kita, mereka akan memenggal lehermu sebagai balasannya.”

Nichkhun menatap wajah sahabatnya, lalu bergantian melirik pelayan-pelayan yang menontoni pertengkaran mereka. Ia menimbang. Tidak. Tidak mungkin meladeni ucapan Zhou Mi disini, atau ia akan mengatakan hal yang tidak seharusnya. Hviturland akan menerimanya. Mereka membutuhkan informasi darinya. Ia mengumpulkan segalanya, setelah selama ini berada disini. Hviturland pasti membutuhkannya. Nichkhun berkeras hati.

“Kau masih bisa mati terhormat, dan kau menginginkan sebaliknya. Kau hanya akan mempermalukan ayahmu, saudara-saudaramu, dan Raja-mu. Itu pun kalau kau bisa kabur dari sini. Kalau kau bisa kabur—“ Zhou Mi tertawa mengejek.

Nichkhun tidak akan berdusta, tapi ucapan Zhou Mi menyakiti hatinya.

“Aku penasaran apa yang akan dilakukan omega malang itu? Kau pergi tanpa menghiraukan keinginannya untuk terikat denganmu. Apa reaksinya kalau dia tau kau jadi pelacur disini? Membuka kaki dan membiarkan monster-monster itu menggaulimu—“ Zhou Mi sadar dirinya terdengar sejahat Daniel, tapi untuk sesaat ia tidak peduli.

“Monster.” Nichkhun meralat geram. “Aku hanya mengizinkan satu orang melakukannya.”

“Bukan kau. Siapa namanya? Taecyeon? Kau peliharaannya, dia tidak mengizinkan siapapun menggunakanmu. Saat dia sudah bosan denganmu, mungkin dia akan membiarkan menteri dan monster Svarturland lainnya mencicipimu.”

“Aku bisa membuatnya menunggu Jenderal di luar, jika Tuan menginginkan.” Seorang pelayan menyela, menyadari ketidaknyamanan di wajah Nichkhun.

“Tidak, biarkan dia. Dia akan lelah dengan sendirinya.”

Zhou Mi tertawa miris mendengar ucapan sahabatnya.

Nichkhun menimang-nimang bayinya yang menggeliat, terganggu dengan suara Zhou Mi.

“Kau masih berani berharap kabur dari sini? Apa kau berniat membawa monster kecil itu juga? Tetap menyusuinya saat kau sampai di negeri kita? Tiket kaburmu akan membawamu ke tiang pancung.”

“Oh, ayolah, Tuan Putri. Aku meninggalkan kalian sebentar. Kenapa kalian justru bertengkar?” Daniel muncul tiba-tiba. Suaranya lebih terdengar cerita ketimbang prihatin.

Nichkhun terkejut melihat kedatangan Daniel. Apa pria itu mendengarnya? Ucapan terakhir Zhou Mi tentang tiket pulangnya. Dan pelayan-pelayan ini juga. Saat melihat wajah pria itu sekali lagi, Nichkhun yakin Daniel mendengar pertengkaran mereka. Bukan tidak mungkin pria itu sejak tadi berdiri di luar ruangan berpura-pura pergi.

“Kita pergi sekarang, sebelum kau jadi lebih marah saat Taecyeon datang. Dia pasti benar-benar memperkosamu.” Daniel bermaksud mengangkat tubuh Zhou Mi, tapi pemuda itu mendorongnya. Ia melangkah terkedek menunju pintu.

“Aku bisa jalan sendiri.” Geramnya. Daniel mengikutinya dari belakang.

“Kau cantik saat kau marah sembari pincang, Tuan Putri.” Suara tawa Daniel mengiringi kepergian pemuda itu.

Nichkhun hanya bisa memandangi saat keduanya berlalu, bayi di rengkuhannya terbangun dan mulai menggeliat mencari-cari putingnya. Pemuda itu tidak menghiraukan. Pelayan harus membantu bayi itu menemukan sumber makanannya tanpa mengganggu lamunan Nichkhun.

“Anda butuh sesuatu, Tuan?”

“Pergi.” suara Nichkhun terdengar lemah. “Aku akan menunggu Taecyeon sendiri.”

Pelayan itu keluar tanpa bertanya lagi, meninggalkan Nichkhun bersama bayinya. Pemuda itu merenung membayangkan ucapan Zhou Mi.

Nichkhun memandangi wajah mungil yang ada di bawah dadanya, menyesap makanan darinya. Tubuh makhluk itu terlihat lebih kuat dari bayi pada umumnya, hampir dua kali lebih besar dari bayi Snowelf. Tapi makhluk ini tetap bayi. Nichkhun mengusapi leher mungil bayinya, ia hanya perlu memutarnya berbalik arah. Bayi itu pasti mati.

Begitu mudah. Seperti yang dikatakan Zhou Mi. Ia punya banyak kesempatan untuk melakukannya. Tapi haruskah?

Lalu teringang lagi ucapannya pada Zhou Mi. Saat ia begitu tersinggung sahabatnya sendiri menyebutnya pelacur di tempat ini.

Satu orang. Jawabnya di tengah emosi. Tapi Nichkhun tahu apa yang diucapkannya adalah sebuah kebohongan. Sudah lama ia berada disini, dan sudah banyak hal dilakukannya untuk tetap bertahan hidup. Nichkhun bertanya-tanya apakah Daniel mengetahui aibnya. Pria itu mengetahui banyak hal, namun lebih senang menyimpannya dan bermain teka-teki. Kalaupun dia tahu, dia pasti belum menyampaikannya pada Taecyeon. Karena jika Taecyeon mengetahuinya…

Tiga rusuknya akan patah. Atau lebih.

Nichkhun memegangi rusuknya sendiri, membayangkan sakit yang pernah dialaminya hampir setahun yang lalu.

Pemuda itu bisa mendengar Taecyeon masuk, biasanya dia akan pura-pura terkejut. Lalu menyambut Svarturman itu dengan senyum manis dan ciuman. Tapi kali ini, pemuda itu hanya duduk disana, memandangi wajah bayinya.

“Dia sudah tidur.” Ujarnya tanpa ditanya saat tahu Taecyeon berada di sisinya.

“Biarkan pelayan membawanya keluar.”

Nichkhun selalu berpura-pura mengusap kepala bayinya dan memasang ekspresi berat hati saat pelayan mengambil alih bayinya. Ia akan mengecup kepala mungil monster itu dan berpesan pada pelayan untuk menjaga putranya baik-baik. Tapi kali ini Nichkhun bahkan tidak menatap dua kali. Tangannya lunglai di atas pangkuan saat pelayan mengambil bayinya. Taecyeon melihatnya dan memandang dengan bertanya-tanya.

Kepalan tangan besar dan hangat mengusap rambut yang berantakan dari wajahnya. Nichkhun berkedip, senyum manisnya sedikit tertahan. Jika itu sebulan pertama ia berada di ‘penjara’ ini, ia akan selalu tersentak kaget dengan wajah yang ada tak jauh dari hadapannya itu, membuat pemilik wajah itu murka melihat reaksinya. Namun sekarang, tidak lagi.

Taecyeon mengusap wajah dan rambutnya, dan segera menyadari mata Nichkhun sedikit berkaca-kaca.

“Kenapa kau menangis?” Tanyanya tak senang. “Pelacur Daniel itu melukaimu?”

Pelacur Daniel? Begitukah sebutan Zhou Mi di sini?

Berarti dia juga sudah…

Nichkhun menggeleng lemah. Ia melirik ke dada Taecyeon. Dia pasti langsung kemari setelah menemui Raja. Taecyeon bahkan belum mengganti pakaiannya, masih mengenakan armor dan sepatu bootnya.

“Jangan menyebunyikan apa-apa dariku! Pasti dia mengatakan sesuatu padamu kan? Atau dia melukaimu?!”

Nichkhun merasa geli, menyadari nada kekanakan di dalam suara berat pria itu. Ia ingin mengangkat kepalanya, tapi untuk sesaat perhatiannya tertuju pada belati di pinggang Taecyeon. Benda itu disepuh dengan indah, ada mirah menghiasi ujung pegangannya. Nichkhun membayangkan betapa tajamnya—

Lalu pemuda itu mengangkat kepalanya, membalas tatapan Taecyeon.

“Taecyeon-ah… Apa kau lelah?”

“Hah? Tentu saja tidak. Kena—” Ucapan itu terhenti saat Nichkhun memajukan wajahnya, mempertemukan bibir mereka.

Taecyeon terperangah untuk sesaat. Namun ia mendorong Nichkhun menjauh dan melepas kecupan mereka. “Kau mencoba mengalihkanku, Khunie?! Snowelf itu dalam masalah dan bahkan kau pun tidak dapat mengubah keputusanku.”

“Ssshhh.” Nichkhun menyentuh rambut gelap Taecyeon, ia beranjak mengangkangi tubuh Svarturman itu dan duduk di atas pangkuannya. Tangannya mengusap armor Taecyeon.

“Berhenti membicarakan dia.”

Wajah mereka begitu dekat sampai-sampai Taecyeon dapat merasakan hangat napas Snowelf itu di wajahnya. Taecyeon menyukai bulu mata Nichkhun yang panjang, itu salah satu alasan kenapa ia lebih sering mengecup mata Nichkhun ketimbang bibirnya.

Nichkhun memandangnya dengan tatapan menggoda. “Aku menginginkanmu.” desahnya sebelum mempertemukan bibir mereka.

Taecyeon tidak menyangka Nichkhun akan memulainya pertama. Ada bisikan kecil dalam benaknya yang mengatakan Nichkhun hanya berusaha mengalihkan amarahnya, membuatnya melupakan pelacur Daniel. Tapi siapa peduli? Taecyeon bisa mengurus pelacur itu nanti. Sekarang ia ingin menikmati saat-saat langka dimana Nichkhun yang mengarahkan percintaan mereka.

Ia membantu Nichkhun membuka armornya dan melemparkan benda itu ke lantai. Tangan dingin Snowelf itu meraba-raba lekukan kokoh tubuhnya—dada, perut, paha, membuat Taecyeon merasa lebih bergairah daripada biasanya. Ia menggeram dan memeluk tubuh ramping itu mendekat, tangannya menyusup tak sabar ke bawah pakaian tipis Snowelf itu. Nichkhun mendesah, merespon dengan aktif.

Taecyeon membanting tubuh Snowelf itu kembali ke ranjang dan mengkungnya di bawah kecupan dan lumatan beringas. Nichkhun memang berhasil mengalihkan perhatiannya, hingga Taecyeon tidak menyadari tangan Nichkhun merayapi pinggulnya dan menarik belati yang tersampir di tali pinggangnya.

Taecyeon bahkan mengabaikan suara kelontang kecil saat Nichkhun menjatuhkan pisau itu ke bawah ranjang mereka, mengira suara itu berasal dari salah satu boots besinya yang terlepas.

.

.

.

.

.

Zhou Mi mendadak merasa aneh saat melihat pintu kamarnya terbuka dari jauh. Ia bisa melihat keadaan kamarnya sedikit ramai, tapi bukan dipenuhi oleh pelayan seperti biasanya. Pemuda itu refleks melangkah mundur saat dilihatnya Raja berdiri di sisi tempat tidurnya. Namun dari belakang, Daniel mendorongnya untuk masuk.

“Apa yang dilakukannya disini?”

Saat melangkah masuk, baru disadarinya kamar itu penuh oleh beberapa petinggi. Zhou Mi mengenali pakaian-pakaian mewah yang mereka kenakan dan tampang-tampang arogan itu. Salah satunya, tertawa menanggapi ucapan Zhou Mi.

“Dia Raja. Dia bisa berada dimanapun di Negara ini, dimanapun yang diinginkannya.”

“Kalian bisa pergi sekarang.” Usirnya.

“Ho… dia memerintahmu sekarang, kakak?”

“Kalian mau apa? Memenggal kepalaku di tempat ini?”

Daniel tertawa paling keras saat mendengarnya. “Apa kubilang, adik. Keinginanmu hanya akan menyenangkannya.”

Perasaannya makin tidak enak. Berbagai bayangan buruk terlintas dalam benaknya. Apa mereka bermaksud mengeksekusinya di tempat ini? Kalau benar, syukurlah. Tapi tidak, tidak mungkin. Ia hanya menginginkan kematian. Cepat dan terhormat. Daniel mengetahui itu dengan jelas. Jadi rasanya—

Tidak. Zhou Mi menelan ludah. Makin lama dipandanginya orang-orang itu— Zhou Mi tidak bisa mengusir firasat terburuknya.

“Kau membuatku terpaksa berdebat dengan Raja.” Daniel memulai, memotong adu pandang antara Zhou Mi dan adiknya. “Raja kita ini berpikir aku terlalu serius denganmu. Penjelasanku tidak akan memuaskannya.Tapi mungkin bisa kubuktikan langsung. Disini disaksikan semua orang.” Pria itu maju, menangkap sebelah tangan Zhou Mi dan mendorong pemuda itu ke atas ranjang tanpa basa-basi.

Zhou Mi terlalu terkejut untuk mencegahnya. Tapi saat ia menyadari posisinya, pemuda itu mengumpat dan mulai panik. Ia berusaha membalik tubuhnya, menendang, menampik. Menggunakan semua bagian tubuhnya untuk melawan, sekalipun terasa sakit.

.

.

.

.

.

Haiiii, setelah berabad-abad kami menghilang, ada yang kangen sama kami si author ilang-ilangan? Siapa kemarin yang nanya kami masi idup atau nggak? Masih idup nih makanya jangan lupa RnR loh :’)

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Cursed Crown – Chapter 22

  1. Nana Cho says:

    Yeah, akhirny author udh selesai semedi.
    Sy kita ff ini bkl discountinue.
    Efek kehamilan emang dasar ya? Kok bs ya Sungmin mkn daging mentah2 gitu, pdhl Mak ama babeny kgk doyan.
    Kocak bngt wkt part Sungmin negosiasi ama aegye. Moga2 stlh aegye lahir Sungmin bs tmbh dewasa & bs bnr2 sayang ama baby-nya dgn tulus.
    Hati msh bimbang antara mo dukung Daniel or zhoumi. Tp kl sy yg jd zhoumi emang lbh memilih mati drpd hidup tp dijadikan budak apalagi kl ampe bnr2 hamil ankny Daniel.
    Tp pgn coupleny Daniel & Zhoumi bs happy end. Entah gmn caranya sy serahkan kepada sang penulis.
    Terima kasih udh ttp mo ngelanjutin ff ini.
    Tetap Semangat & sukses selalu.

  2. Akhirnya setelah berabad-abad ff yg ditunggu dilanjut juga 😂, udah kangen sama moment kyumin disini dan kelanjutan cerita zhoumi sama daniel. Ternyata sungmin masih aja envy sama bayinya sendiri 😂 kekeke. Semangat terus ka!^^

  3. Senandung says:

    Engga nyangka dan terhura ff ini ada lanjutannya lagi
    Jujur udah engga mikir siapa castnya lagi karena udah terlanjur jatuh cinta sama ceritanya
    Setelah menunggu lama digantung dan di php-in
    Rasanya lega ff ini udah ada lanjutnnya
    Udah engga mau komen lagi sama ceritanya
    Udah dilanjut aja udah alhamdullilah hahaha
    Tetap semangat ya author-nim
    Semangat….

  4. lyta tan says:

    Apapun itu, aku harap zhoumi gak sama daniel…. Ksian zhoumi…smga dia bsa cpat plang k negerinya…n mninggalkan daniel sndirian…biar tau rasa…

  5. Darkqueen says:

    Finally update juga setelah berabad” menghilang. Makin seru deh cerita nya sumpah. Kasian ama si Mimi yg mungkin akan mengandung anaknya si daniel tpi seneng jga sih soalnya ketahuan daniel itu syang banget ama si Mimi. Nggak niat diterbitin ke wattpad nggak ? Kayaknya banyak peminatnya deh kalau di sana. Keep writing thor 😊😊

  6. Akhirnya balik juga. Hampir lupa aku sam akir ceritanya ff sebelumnya.
    Ekspresi Sungmin pasti lucu ya waktu marah gara2 diperhatiin kaya bayi.. Unch deh waktu ngomong sama babynya

Cium Umin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s